Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 1
Kembalinya Pangeran Sisa
Bagian 1
Setahun kemudian.
Kekaisaran dan Kerajaan menandatangani gencatan senjata, dan benua itu menikmati ketenangan sementara.
Sejak saat itu, tidak ada lagi perang yang pecah, dan setiap negara pun mencurahkan tenaga mereka pada urusan dalam negeri.
Dan...
Hal itu tidak terkecuali bagi Negara Bagian ini.
“Count Arthurs, kamu ditahan.”
“A-Apa alasannya!? Yang Mulia Kanselir!!”
Seorang pria paruh baya yang benar-benar biasa saja. Itulah Count Arthurs.
Aku mendatangi kediamannya dan memerintahkan para prajurit untuk menahannya.
Count itu memang bukan bangsawan Negara Bagian yang menonjol.
“Pada masa raja sebelumnya, kamu menyuap para pejabat tinggi agar putramu bisa naik pangkat. Bahkan sampai memperluas wilayah kekuasaanmu. Jika ini bukan korupsi, lalu apa namanya?”
“Pada masa raja sebelumnya, itu hal yang biasa! Jika tidak melakukan itu, putraku takkan bisa naik jabatan, dan wilayah kami akan tetap sempit! Jika tetap kecil, kami tidak akan sanggup menghidupi rakyat!”
“Bagaimanapun juga, korupsi tidak bisa dibiarkan. Raja saat ini menargetkan Negara Bagian yang bersih dan jujur. Kotoran dari masa raja sebelumnya harus disingkirkan. Itulah tugasku.”
Setelah berkata demikian, aku memerintahkan penangkapan bukan hanya Count itu, tetapi juga keluarganya.
“Keluargaku tidak ada hubungannya dengan ini!”
“Pernahkah kamu memikirkan betapa menderitanya rakyat di Negara Bagian ini? Jika itu keluarga bangsawan yang korup, maka mereka bersalah bersama.”
“Omong kosong! Di Negara Bagian ini, tidak ada bangsawan yang benar-benar tanpa cela! Semua orang menekan hati nurani mereka dan ikut arus! Lalu kamu mencari-cari cela para bangsawan dan sampai menangkap keluarga mereka juga!?”
“Korupsi tetaplah korupsi. Harus diluruskan.”
“Sialan kamu! Kamu sama sekali tidak memiliki satu pun kebajikan adikmu! Kanselir tidak berguna!! Hanya karena kamu adik Paduka, kamu mengibarkan kekuasaan seenaknya! Apa yang kamu lakukan tidak ada bedanya dengan raja sebelumnya dan para pejabat tinggi yang membusukkan negara ini! Ini adalah tirani!”
“Itu saja yang ingin kamu katakan? Bawa dia pergi.”
Dengan senyum mengejek, aku memberi perintah.
Menurut hasil penyelidikan, ada harta tersembunyi di kediaman ini. Padahal Kakak Trau sudah meminta para bangsawan untuk memberikan bantuan semaksimal mungkin demi membangun kembali Negara Bagian.
Yah, mungkin ada berbagai alasan, demi rakyat wilayahnya, demi menghadapi keadaan darurat yang tidak terduga.
Namun pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu hal. Mereka tidak sepenuhnya mempercayai Kakak Trau.
Marianne terlalu lama menjadi sandera Persatuan Kerajaan, sehingga dia belum mendapatkan kesetiaan para bangsawan.
Dan Kakak Trau, sebagai pendampingnya sekaligus raja yang naik takhta dengan mengandalkan wibawa Kekaisaran, juga belum sepenuhnya memenangkan kesetiaan para bangsawan.
Masalah yang rumit.
Tidak ada cara lain selain menanganinya secara perlahan dan tekun.
“Yang Mulia! Kami menemukan harta tersembunyi!”
“Angkut semuanya! Target berikutnya sudah menunggu! Cepat!”
Sambil memberi perintah dengan nada angkuh, aku menelusuri dokumen yang ada di tanganku.
Di sana tercantum nama-nama bangsawan Negara Bagian.
Para bangsawan yang bekerja sama dengan politik korup pada masa raja sebelumnya.
Para bangsawan yang hingga kini tidak secara aktif mendukung Kakak Trau.
Menangkap mereka dan mengirimkannya ke ibu kota Negara Bagian, Kohr, itulah pekerjaanku saat ini.
Meski aku ini seorang kanselir, yang mengelola negara adalah Kakak Trau. Aku berada di posisi pendamping, tetapi Kakak Trau sejak awal sudah mengelilingi dirinya dengan orang-orang dari Negara Bagian ini.
Merekalah yang akan membangun negara bersama Kakak Trau. Aku hanyalah kanselir sementara. Begitu sistem pemerintahan tertata, aku akan kembali ke Kekaisaran.
Kakak Trau bukan orang bodoh yang akan membangun organisasi yang bergantung padaku.
Berkat itu, aku bisa bergerak dengan bebas.
Saat ini, satu-satunya tempat di mana Kakak Trau dapat menunjukkan kekuatan mutlaknya hanyalah ibu kota kerajaan.
Dia belum sepenuhnya menguasai para bangsawan di daerah-daerah.
Karena itulah aku berkeliling seperti ini.
Semuanya demi Kakak Trau.
“Baik, berangkat!”
* * *
Seminggu kemudian.
Setelah mengirim banyak bangsawan ke ibu kota kerajaan, aku kembali ke istana dengan penuh semangat.
Namun, yang menantiku justru laporan di luar dugaan.
“Semuanya dibebaskan!?”
“Y-Ya... Paduka Raja yang memutuskan demikian...”
“Lagi-lagi!?”
Ini bukan kali pertama.
Sebelumnya pun, Kakak Trau telah mengambil keputusan sendiri dan membebaskan para bangsawan yang kutangkap.
Sungguh...
Jengkel, aku menuju tempat Kakak Trau berada.
Saat aku memasuki ruang takhta, Kakak Trau sedang berbincang dengan seorang pria muda.
Seorang pejabat sipil berkacamata.
Di balik kacamata itu, matanya memancarkan ketajaman yang khas. Namanya Brad von Olcott.
Seorang pria yang mewarisi gelar Count Olcott.
Count Olcott adalah pejabat tinggi pada masa raja sebelumnya. Brad adalah putranya.
Alasan mengapa orang seperti itu berada di sisi Kakak Trau adalah karena pria ini menentang ayahnya sendiri.
Dia menolak pemerintahan tirani dan bergerak untuk mengubah Negara Bagian ini. Itulah sosok Brad.
Tentu saja, upayanya tidak berhasil, dan Brad menjalani masa-masa sulit. Namun kemudian Negara Bagian diduduki Kekaisaran dan rajanya berganti.
Kakak Trau mencari generasi muda yang memiliki masa depan, dan Brad pun menjadi yang terdepan di antara mereka.
Saat ini, dia menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dan membantu Kakak Trau.
Begitu melihatku, Brad langsung mengerutkan alisnya secara terang-terangan.
“Kakak Trau, jangan sembarangan membebaskan para bangsawan. Masih banyak hal yang ingin kutanyakan pada mereka.”
“Kanselir Arnold. Sekalipun kalian bersaudara, Paduka adalah raja, dan Anda adalah bawahannya. Mohon mengerti posisi Anda.”
“Aku bahkan memanggil Paduka Kaisar dengan sebutan ‘Ayahanda’. Jangan ikut campur.”
Sambil berkata demikian, aku mengalihkan pandanganku ke arah Kakak Trau.
Kakak Trau yang duduk di atas takhta memperlihatkan ekspresi serba salah.
“Pemeriksaan telah selesai. Tidak ada masalah pada mereka.”
“Padahal ada suap, bahkan harta tersembunyi?”
“Itu pun termasuk kelalaianku sendiri. Aku sudah meminta mereka untuk mulai sekarang membantu, lalu mengizinkan mereka kembali ke wilayah masing-masing.”
“Penanganan selunak itu hanya akan membuat para bangsawan Negara Bagian semakin besar kepala.”
“Aku ini Raja Negara Bagian. Aku berada di posisi untuk percaya pada mereka.”
“Kalau sampai terjadi apa-apa, tinggal diganti saja. Jika ditawari wilayah Negara Bagian, banyak bangsawan Kekaisaran yang akan senang. Putra kedua atau ketiga tidak bisa mewarisi tanah, bukan?”
“Kanselir Arnold! Itu keterlaluan!”
Brad meninggikan suara.
Namun aku menatapnya dengan dingin.
“Kalau kamu merasa itu keterlaluan, cepat buat para bangsawan Negara Bagian bertekuk lutut. Masih ada bangsawan yang bahkan belum datang memberi salam pada Kakak Trau, tahu? Jangan lupa, alasan aku berkeliling ke berbagai daerah tidak lain karena kamu gagal meyakinkan para bangsawan.”
“Saya akui kegagalan saya. Saya juga mengakui ketidaksopanan para bangsawan itu. Namun! Meski begitu, tolong hindari pernyataan yang meremehkan mereka!”
“Kalau tidak mau diremehkan, tunjukkan kekuatan kalian. Pertahanan Negara Bagian, biaya pemulihan dalam negeri, semuanya dilakukan oleh Kekaisaran. Bahkan tidak mampu membangun kembali negaranya sendiri, tapi tidak ingin diremehkan? Jangan membuatku tertawa. Akan kukatakan dengan jelas. Karena bangsawan-bangsawan seperti itulah Negara Bagain ini membusuk. Nanah harus dikeluarkan selagi bisa.”
“...”
Brad terdiam.
Karena apa yang kukatakan memang tidak salah.
Aku mengalihkan pandanganku dari Brad ke Kakak Trau.
“Untuk kali ini, tidak apa. Tapi tolong jangan lagi terbawa perasaan. Bersikap lunak tidak akan membawa keuntungan.”
“Baik, Arnold. Aku mengerti.”
“Kalau begitu, permisi.”
Dengan itu, aku meninggalkan ruang takhta.
Sambil menghela napas dan berjalan menyusuri istana, beberapa bangsawan menyapaku.
“Sungguh berat, ya, Kanselir Arnold.”
“Padahal tidak ada seorang pun yang memikirkan Negara Bagian ini sebesar Anda.”
“Paduka Raja masih terlalu lembut.”
Mereka adalah keluarga para pejabat tinggi pada masa raja sebelumnya.
Dengan fondasi kekuasaan Kakak Trau yang masih lemah di Negara Bagian ini, dia tidak bisa membersihkan hingga ke akar keluarga para pejabat tinggi itu.
Dia memberi mereka jabatan dan memanfaatkan kekuatan mereka.
Bagi orang-orang seperti mereka, kebangkitan kekuatan muda jelas tidak menyenangkan.
Karena itu, mereka mencoba menjilatku, yang berada di posisi berseberangan.
“Yang Mulia, hari ini kami mengadakan jamuan di kediaman kami. Bagaimana kalau Yang Mulia berkenan hadir?”
“Jamuan, ya. Tidak buruk. Aku akan datang.”
“Terima kasih banyak! Sungguh suatu kehormatan!”
Melihat mereka berkali-kali membungkuk, aku pun tersenyum puas.
Bagian 2
“Kanselir Arnold, mohon kerja samanya ke depan.”
Sambil berkata demikian, bangsawan yang menggelar jamuan itu menyerahkan sebuah kotak kepadaku.
Saat kubuka dan memeriksanya, di dalamnya terdapat sejumlah besar koin emas.
Aku mengangguk-angguk berlebihan beberapa kali, lalu berkata, “Niat yang bagus. Aku tidaklah sebersih dan setegas Leo. Aku juga tahu, untuk mempertahankan negara, dibutuhkan bangsawan-bangsawan yang kuat. Selama kalian menghormati pihak kami dengan semestinya, aku tidak akan memperlakukan kalian dengan buruk.”
Dengan itu, aku menerima kotak tersebut dari bangsawan itu.
Apa yang sedang kulakukan sekarang adalah memberantas para bangsawan.
Tentu saja, orang-orang yang ada di sini pun termasuk sasaran.
Mereka adalah orang-orang yang jika diguncang, debu akan berjatuhan. Dan jumlahnya jelas berbeda dibandingkan bangsawan di wilayah perbatasan.
Jika aku memelototi mereka, tamatlah sudah. Karena itulah mereka menjilat dan merendahkan diri di hadapanku.
Mereka memang terampil dalam menilai siapa yang kuat.
Dan mereka juga tidak pernah lalai dalam menjaga diri mereka sendiri.
Sambil memikirkan hal-hal itu, aku menenggak minumanku.
* * *
Setelah perjamuan yang menyenangkan itu berakhir, aku kembali ke istana dengan kereta kuda.
Lalu, di kamar yang sudah disediakan untukku, aku menghela napas panjang.
“Sepertinya Anda cukup lelah.”
“Tidak. Hanya saja, minum bersama mereka itu rasanya tidak tertahankan.”
Suara itu terdengar dari tempat yang tampaknya kosong.
Saat aku menoleh, entah sejak kapan Sebas sudah berdiri di sana.
“Cukupkanlah sampai di situ. Menahan diri terlalu lama juga racun bagi tubuh, tahu?”
“Tinggal sedikit lagi. Lagipula, hanya dengan menghadiri jamuan, kas negara bisa terisi. Tidak ada alasan untuk tidak melakukannya, bukan?”
“Jika Anda sendiri mengatakan itu tidak masalah, tentu saja saya tidak keberatan... tetapi Tuan Traugott pasti akan sedih.”
“Seseorang harus melakukannya. Kalau aku memang akan selamanya berada di Negara Bagian ini, mungkin lain cerita. Tapi cepat atau lambat aku harus kembali ke ibu kota Kekaisaran. Cara tercepat untuk mengokohkan kekuasaan raja adalah dengan menciptakan musuh. Jika seorang raja berhasil menyingkirkan musuh besar, para bangsawan pun akan mengakui Kakak Trau. Jika dalam proses itu nanahnya juga bisa dikeluarkan semua, Negara Bagian ini akan menjadi sedikit lebih baik.”
“Tidakkah itu berarti Anda hanya menarik undian sial?”
“Bukannya sudah terlambat untuk memikirkan itu? Lagipula, membuat masalah di Negara Bagian lalu dipulangkan ke Kekaisaran, itulah cara tercepat untuk kembali. Aku tidak bisa berlama-lama menjabat sebagai kanselir di sini. Akhir-akhir ini, pergerakan Kerajaan Perlan semakin aktif.”
“Jadi Anda memilih cepat pulang dengan mengorbankan reputasi? Apakah seorang kakak yang pulang dengan membawa noda dan aib masih bisa membantu adiknya?”
“Selalu ada cara. Lagi pula, reputasiku sudah terlalu baik. Sudah saatnya diturunkan sedikit.”
Sambil tertawa, aku menerima dokumen yang disodorkan Sebas dengan sigap.
Isinya berupa laporan mengenai pertemuan para bangsawan yang pernah kutangkap.
“Isinya penuh keluhan, ya.”
“Sesuai dengan rencana. Tampaknya mereka sedang mencari cara untuk menyingkirkan Anda.”
“Alurnya bagus. Mereka ingin menyingkirkanku, tapi aku adalah pangeran Kekaisaran sekaligus kanselir. Selama bayang-bayang Kekaisaran masih ada, orang Negara Bagian tidak bisa menyentuhku. Jika sampai memancing amarah Kekaisaran, tamatlah mereka. Karena itu, dibutuhkan raja yang bisa mengabaikan hal tersebut. Satu-satunya yang bisa menyingkirkanku hanyalah Kakak Trau. Para bangsawan Negara Bagian tidak punya pilihan selain bergantung padanya.”
“Bagi Tuan Traugott pun, mengabaikan kehendak Kekaisaran adalah sebuah risiko. Para bangsawan Negara Bagian juga memahami hal itu. Maka, jika Tuan Traugott tetap bergerak demi Negara Bagian, beliau akan mendapatkan kepercayaan dan dukungan. Begitulah alur ceritanya, bukan?”
“Setelah itu, kita jatuhkan bangsawan besar yang hanya punya kekuatan. Mereka tidak bisa mengelak. Ada urusan mereka denganku. Begitu mereka bekerja sama denganku, nasib mereka sebenarnya sudah ditentukan.”
Saat aku tertawa puas, tiba-tiba suara lain menggema di ruangan itu.
“Lagi-lagi senyum seperti penjahat!”
“Bukan ‘seperti’. Memang penjahat.”
Sambil berkata begitu, aku mengalihkan pandanganku ke tamu baru.
Sepertinya dia masuk lewat jendela.
Jendela yang seharusnya tertutup tadi kini terbuka lebar.
Masuk ala bandit dermawan.
“Kerja bagus untuk pengintaianmu, Mia.”
Aku menghibur gadis yang mengernyitkan alis itu, Mia.
Seperti halnya Sebas yang kusuruh menyelidiki bangsawan-bangsawan yang memusuhiku, Mia juga kuberi tugas penyelidikan tertentu.
“Sebenarnya aku tidak terlalu ingin melakukannya, tapi ini daftarnya.”
“Ini juga demi Negara Bagian. Bersabarlah.”
Sambil berkata demikian, aku mulai menelusuri daftar itu.
Yang kusuruh Mia selidiki adalah para bangsawan yang hingga kini masih belum mengakui Kakak Trau.
Penyelewengan mereka di masa raja sebelumnya, serta harta tersembunyi yang mereka miliki.
Bagi Mia, yang pada masa raja sebelumnya sering membidik bangsawan-bangsawan busuk, menyelidiki hal semacam ini adalah perkara mudah.
“Sudah berkali-kali kukatakan, sebagian besar dari mereka melakukan pelanggaran karena terpaksa. Kalau tidak begitu, mereka tidak bisa melindungi diri sendiri dan wilayah mereka...”
“Aku tahu. Bahkan jika ditangkap, Kakak Trau akan membebaskan mereka. Tidak akan menjadi masalah besar.”
“Tapi, menangkap sampai anggota keluarga mereka...”
“Itu supaya mereka merasa berutang budi pada Kakak Trau. Bangsawan Negara Bagian, mungkin karena sisa-sisa kebiasaan masa raja sebelumnya, kebanyakan individualistis. Mereka tidak punya rasa kebersamaan atau rasa berutang budi. Jadi, kita paksa mereka untuk merasa berutang pada Kakak Trau, dan bersatu menghadapi musuh bersama. Aku memang merasa tidak enak, tapi kami tidak punya banyak waktu.”
“Aku mengerti... Pangeranlah yang paling menarik undian sial...”
Dengan wajah murung, Mia menundukkan pandangannya.
Jika punya cukup waktu, pasti ada cara yang lebih baik.
Namun, tidak semua orang memiliki kemewahan waktu itu.
“Negara Bagian ini akan membaik. Ada bakat-bakat yang selama ini terpendam. Jika kita jadikan negara ini tempat di mana mereka bisa bergerak bebas, perubahan akan terjadi dengan sendirinya. Caranya memang kasar, tapi kita akan membangun sistemnya. Jika demi itu aku harus menarik undian sial, itu bukan masalah. Ini juga demi melindungi kakakku. Jadi jangan dipikirkan.”
Setelah mengatakan itu pada Mia, aku mulai memberi tanda pada daftar tersebut.
Tidak sembarang orang boleh dipilih.
Bangsawan yang benar-benar memikirkan rakyat wilayahnya.
Bangsawan yang cakap, meski tidak terlibat di pusat kekuasaan.
Merekalah yang harus dibuat merasa berutang budi.
Kelak, saat aku meninggalkan negara ini.
Orang-orang seperti merekalah yang akan menopang Kakak Trau.
“Baiklah, kalau begitu kita berangkat besok saja. Waktu kita sudah tidak banyak.”
“Benar. Para pengikut dekat mereka tampaknya sudah mencapai batas kesabaran. Mereka mulai menjalin kerja sama dengan bangsawan-bangsawan di berbagai daerah.”
“Itu baru bagus. Mia, pengintaian terhadap bangsawan perbatasan sudah cukup. Selidiki pergerakan para pengikut di ibu kota. Sebas, kamu tetap jadi pengawalku. Bisa saja ada orang yang bertindak gegabah.”
“Pihak sana tentu paham bahwa menyerang seorang pangeran Kekaisaran hanya akan membuat mereka dimusuhi Kekaisaran.”
“Di kepala mungkin mereka paham, tapi emosi tidak selalu bisa mengikuti. Dendam itu menakutkan. Ia bisa merampas cara kita untuk berpikir jernih.”
Karena itu, kewaspadaan tidak pernah berlebihan.
Sambil berkata demikian, aku pun menyunggingkan senyum tipis.
Bagian 3
Dalam perjalanan menuju kediaman bangsawan perbatasan.
Aku disergap.
Lebih tepatnya, aku menemukan pasukan penyergap, begitulah seharusnya.
“Ya ampun, rupanya memang ada orang-orang yang lebih mengutamakan emosi.”
“Apa yang akan Anda lakukan?”
Orang-orang yang merencanakan penyeranganku lebih dulu ditemukan dan dilumpuhkan oleh Sebas.
Sebagai kanselir, tentu saja selalu ada pasukan pengawal di sekitarku.
Jika sampai diketahui oleh mereka, urusannya bisa menjadi besar.
“Kurung mereka di suatu tempat. Ini pasti keputusan sepihak sebagian orang saja. Aku tidak mau gara-gara mereka, Brad dan yang lain harus menerima tekanan dari para bangsawan.”
Sebas memberi hormat singkat, seolah telah memahami segalanya, lalu meninggalkan tempat itu.
Para pengikut dekat Kakak Trau harus tampil sebagai pihak yang menang. Untuk itu, mereka tidak boleh diberi celah sedikit pun.
Mereka adalah orang-orang yang sangat peka dalam menjatuhkan lawan.
Bahkan fakta bahwa aku sempat menjadi target saja bisa dijadikan alasan untuk menyerang Brad dan kelompoknya.
Jika sampai terjadi benturan di sana, penyelesaiannya akan berlarut-larut.
Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu.
“Ayo! Kita lanjutkan perjalanan! Jangan lamban!”
Sambil mendesak rombongan agar bergerak cepat, aku bergegas menuju kediaman bangsawan perbatasan.
Aku berpikir mungkin ini akan menjadi perjalanan terakhirku ke daerah perbatasan.
* * *
Seminggu kemudian.
Setelah kembali menangkap bangsawan-bangsawan perbatasan, aku pun kembali ke ibu kota kerajaan.
Kali ini, tampaknya tidak ada pembebasan sepihak atas keputusan Kakak Trau.
Sebagai gantinya, ketidakpuasan pasti menumpuk semakin dalam.
Aku yakin, banyak surat permohonan sudah berdatangan ke hadapan Kakak Trau.
“Menjadi raja itu berat, ya. Selalu dipaksa membuat keputusan.”
“Aku rasa itu bukan kata-kata yang pantas diucapkan oleh orang yang justru mendorongnya ke situasi seperti itu...”
Di sebuah ruangan di istana.
Mia tampak benar-benar tercengang mendengar ucapanku.
Kalau baru segini saja sudah kaget, berarti masih jauh.
Sementara itu, Fine tersenyum dan berpura-pura tidak mendengar ucapanku, lalu menyodorkan secangkir teh.
“Silakan, Tuan Al.”
“Ah, terima kasih. Bagaimana para putri bangsawan Negara Bagian itu, Fine?”
“Sejujurnya, sepertinya masih perlu waktu.”
Fine datang ke Negara Bagian bersamaku, tetapi sebenarnya tidak ada tugas khusus yang harus ia lakukan di sini.
Aku pun tidak berniat memaksanya melakukan apa pun, namun Fine secara alami menjadi akrab dengan para putri bangsawan Negara Bagian.
Lalu, ketika dia mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terbentuklah sesuatu seperti kelas Fine.
Sebuah kelas di mana Fine mengajarkan sejarah singkat berbagai negara dan tata krama.
Hal itu segera menjadi bahan pembicaraan, dan banyak putri bangsawan ikut serta.
Namun, harus diakui, para putri bangsawan Negara Bagian itu jauh dari kata berpendidikan.
Karena mereka tidak pernah keluar dari Negara Bagian.
Di bawah pemerintahan raja sebelumnya, pendidikan minimal saja sudah dianggap cukup.
Namun, mulai sekarang Negara Bagian akan menjalin hubungan dengan berbagai negara. Dengan Kekaisaran Adrasia tentu saja, juga dengan Persatuan Kerajaan Egret.
Jika situasi di benua stabil, mungkin juga dengan negara-negara lainnya.
Kualitas para pelaku politik memang penting, tetapi di saat yang sama, hubungan antar putri bangsawan juga bisa berguna dalam politik.
Di Kekaisaran, Permaisuri menjaga hubungan yang sangat erat dengan keluarga kerajaan berbagai negara.
Dengan cara seperti itulah, pendidikan para putri bangsawan menjadi aset bagi negara.
Dan untuk menumbuhkan itu semua, Fine telah bekerja keras.
“Pendidikan dan budaya memang tidak bisa dibangun dengan mudah. Untuk urusan ini, biarkan waktu yang bekerja.”
“Ya. Akhir-akhir ini, Putri Marianne juga mulai datang, jadi sangat membantu. Katanya, setelah saya pergi, Putri Marianne yang akan melanjutkannya.”
“Ratu memang lama hidup di Persatuan Kerajaan.”
Di Negara Bagian, dia adalah sosok yang tergolong langka.
Sebisa mungkin, Fine akan mewariskan pengetahuannya, lalu sisanya entah diserahkan pada Marianne, atau meminjam tenaga dari Kekaisaran.
“Haa... meskipun suasananya terlihat santai, gerakan untuk menyingkirkanmu justru semakin cepat, tahu?”
“Kalau mau menyingkirkanku, silakan saja. Bukannya sudah kubilang, itulah tujuannya?”
“Apa kamu sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri? Kamu hampir diserang belum lama ini, ingat? Kamu sendiri yang bilang, dendam itu menakutkan.”
“Kelompok garis keras sudah ditangkap. Dengan adanya kejadian itu, Brad pasti sedang memperketat kendali.”
“Lalu, dari mana kamu begitu yakin Menteri Dalam Negeri itu tidak akan bertindak gegabah karena dendam?”
“Dia tidak akan melakukannya. Karena sejak awal, dia tahu segalanya.”
“...Hah?”
Mia terdiam sesaat.
Fine, sebaliknya, tidak terlalu terkejut.
Belakangan ini, aku dan Brad memang terus terlihat bertentangan.
Semua orang mengira ujung tombak anti-kanselir adalah Brad.
Namun, kenyataannya.
“Sejak dia diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri, aku sudah menceritakan rencana besar ini padanya.”
“Sejak diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri... itu hampir bersamaan dengan saat kita baru tiba di Negara Bagian, bukan!? Jadi sejak saat itu kamu sudah memikirkan semua perkembangan ini!? Bahkan sejak itu kalian sudah satu tim!? Lalu, apa gunanya aku disuruh menyelidiki berkali-kali!?”
“Sebelum datang ke Negara Bagian pun, aku sudah mengerti masalah para bangsawannya. Terbiasa melakukan kecurangan adalah masalah, dan fakta bahwa sebagian bangsawan memiliki kekuasaan terlalu besar juga masalah. Untuk menyelesaikannya, dibutuhkan satu orang yang menindak dengan keras dan menyeluruh. Aku, yang pada akhirnya akan kembali ke Kekaisaran, adalah orang yang paling tepat. Tapi jika begitu, harus ada seseorang yang menyerukan penyingkiranku. Karena itu, setelah berdiskusi dengan Kakak Trau, peran itu kami serahkan pada Brad. Kanselir berikutnya adalah Brad. Kalau dia tidak bisa memainkan intrik sebesar itu, justru akan jadi masalah.”
“Itu tidak menjawab pertanyaanku! Kenapa aku harus disuruh menyelidiki berkali-kali!?”
“Kalau tidak ada penyelidikan, bukannya akan mencurigakan? Jika orang-orangku terlihat menyelidiki sekeliling Brad, justru Brad tidak akan dicurigai. Akan jadi masalah besar kalau sampai terbongkar bahwa musuh dan konflik ini hanyalah sandiwara yang sudah disiapkan dari awal.”
Fakta bahwa kelompok garis keras akan bertindak gegabah dan melancarkan serangan pun, sebenarnya aku ketahui dari laporan Brad.
Bahkan bagi Sebas sekalipun, sambil mengawal diriku, akan sulit untuk menemukan pasukan yang bersiap menyerang sebelum serangan itu terjadi.
Karena lokasi mereka sudah diketahui, barulah penindakan bisa dilakukan.
“Tidak terkejut ya, Fine?”
“Mungkin karena saya hanya merasa bahwa kemungkinan itu ada. Orang-orang yang menentang Tuan Al biasanya gemar menggunakan istilah ‘Kanselir Sisa’, tetapi saya belum pernah melihat beliau menggunakan ungkapan itu.”
“Hal seperti itu sama sekali tidak kupikirkan... Jadi, pertengkaran kalian selama ini juga hanya sandiwara?”
“Bukan sandiwara. Kami hanya berdebat tentang hal-hal yang memang tidak masalah untuk saling dikritik. Seperti caraku memanggil Kakak Trau, atau kegagalan Brad. Kami saling beradu argumen pada bagian-bagian yang memang sama-sama punya kesalahan.”
Bukan saling mencaci, melainkan sekadar adu mulut.
Itu tidak pernah berkembang menjadi sesuatu yang serius.
Karena banyak orang menilai Brad tahu batas, tidak perlu melakukan sesuatu yang lebih dari itu.
“Berarti pengintaian yang kulakukan sia-sia saja...”
“Ada pepatah bilang, untuk menipu musuh, mulailah dari menipu kawan sendiri. Yang tahu hanya Kakak Trau, aku, dan Brad. Para bangsawan tidak mungkin menyadarinya.”
“Lalu kenapa kamu sampai menyiapkan musuh sendiri...?”
“Rangkaian peristiwa untuk menyingkirkanku akan menentukan masa depan Negara Bagian ini. Itu juga berarti menentukan masa depan Kakak Trau. Hal sepenting itu tidak bisa dibagi dengan musuh yang tidak benar-benar kami kenal. Kalau ada musuh yang cakap dan bisa dipercaya setara dengan sekutu, mungkin lain cerita. Tapi kalau tidak ada, lebih baik dilakukan oleh pihak kita sendiri.”
Penyingkiranku adalah kartu yang hanya bisa dipakai sekali.
Kegagalan tidak boleh terjadi.
Karena sekaligus menyingkirkan orang-orang merepotkan bersamaku, jika gagal, kami akan menanggung dendam mereka. Itu akan menjadi bara masalah di masa depan.
Kalau harus melakukannya, maka harus tuntas, dan sekali jalan mengakhiri semuanya.
Yang dibutuhkan adalah ketepatan dan kecepatan.
Membangun fondasi dengan begitu matang sampai aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, lalu bergerak dalam sekejap.
Saat aku memikirkan hal-hal itu, terdengar ketukan di pintu.
“Silakan.”
“Permisi. Kanselir Arnold, Paduka Raja memanggil Anda.”
Yang menampakkan diri adalah Brad.
Di belakangnya, berdiri banyak prajurit.
Menanggapi itu, aku tersenyum.
“Nanti saja aku ke sana.”
“Ini titah dari Paduka Raja. Anda diminta datang sekarang juga.”
“Apa?”
“Balasan surat dari Paduka Kaisar Kekaisaran telah tiba. Sepertinya urusannya terkait hal itu.”
“Tidak ada yang memberitahuku soal ini.”
“Memang tidak saya sampaikan.”
Sambil berkata begitu, Brad mengangkat tangannya sedikit.
Sekejap kemudian, para prajurit berbondong-bondong masuk ke dalam ruangan.
Mia refleks bersiaga, tetapi aku menahannya sambil mengangkat kedua tanganku.
“Begitu rupanya... jadi aku tidak diberi kesempatan melakukan apa pun.”
“Benar. Mohon ikut bersama kami. Kalian yang lain, periksa ruangan ini.”
Mereka bahkan tidak memberiku kesempatan untuk memusnahkan bukti.
Karena ini melibatkan Ayahanda, aku pun tidak bisa menolak.
“Nanti kamu akan menyesalinya, ingat itu.”
“Tenang saja. Tidak akan ada ‘nanti’ untuk Anda.”
Dengan kata-kata itu, Brad pun mulai menggiringku pergi.
Bagian 4
Aku dibawa ke ruang takhta dan berhadapan langsung dengan Kakak Trau.
“Apa maksudnya ini, Kakak Trau?”
“...Arnold. Aku sungguh menyesal.”
Sesaat, ekspresi pahit terlintas di wajah Kakak Trau.
Hal tersulit dalam rencana ini adalah satu hal, meyakinkan Kakak Trau.
Dia bukan orang yang bisa menerima kebijakan yang mengorbankan adiknya sendiri.
Karena itu, kami berdiskusi berkali-kali.
Aku menjelaskan bahwa ini adalah cara tercepat bagiku untuk kembali ke Kekaisaran, sekaligus meminimalkan korban seminimal mungkin.
Pada akhirnya, Kakak Trau menerima usulanku.
“Menyesal dalam hal apa?”
“Arnold. Aku adalah raja Cornix. Aku harus selalu berpihak pada negara. Karena itu, Arnold, adikku, aku tidak bisa membiarkan tingkahmu yang seenaknya.”
“Tingkah seenaknya? Maksudmu penangkapan para bangsawan? Fakta bahwa mereka melakukan korupsi itu nyata. Apa itu sesuatu yang salah?”
“Perlukah sampai menangkap keluarga mereka juga? Itu sudah berlebihan. Negara Bagian punya caranya sendiri.”
“Membiarkan korupsi begitu saja? Kalau begitu, kebiasaan buruk negeri ini tidak akan pernah hilang.”
“Begitu rupanya...”
Kakak Trau menghela napas panjang, lalu melirik ke arah Brad.
Brad pun memberi isyarat, dan para prajurit masuk ke ruang takhta.
Mereka membawa sebuah kotak besar.
Kotak itu dipenuhi sihir, sihir yang hanya bisa dibuka oleh orang dengan garis keturunan tertentu.
“Kalau kamu bilang tidak menolerir korupsi, lalu bagaimana dengan korupsimu sendiri?”
Sambil berkata begitu, Kakak Trau membuka kotak tersebut.
Kotak itu hanya bisa dibuka oleh Keluarga Ardler.
Di Negara Bagian ini, hanya aku dan Kakak Trau yang bisa membukanya.
Di dalamnya tersimpan rapi seluruh interaksiku dengan para bangsawan.
“Menerima suap, bukankah itu korupsi, Arnold?”
“...Negara tidak bisa diperintah jika tetap bersih sepenuhnya. Cepat atau lambat, mereka juga akan kutangkap.”
“Itulah sebabnya kamu menyimpan bukti. Memang masuk akal. Namun, tetap saja ada orang-orang yang tidak bisa menerima hal itu.”
“Perlu diterima? Ini demi membenahi Negara Bagian.”
“Itulah pemikiran yang menjadi masalah. Kamu memandang rendah Negara Bagian dan mengabaikan para bangsawan. Tidak ada orang yang mau mengikuti seseorang yang tidak dipercaya.”
“Aku tidak mencari kepercayaan dari bangsawan. Kalau mereka tidak puas, bawa saja bangsawan Kekaisaran. Negara ini pada akhirnya hanyalah negara yang kalah perang.”
“Arnold... justru karena ada orang-orang Kekaisaran yang berpikir seperti itu, dan demi mencegah Negara Bagian ditindas, aku berdiri di sini. Mulai saat ini, Arnold Lakes Ardler dicopot dari jabatannya sebagai Kanselir Negara Bagian.”
Kakak Trau mengumumkannya dengan tegas.
Namun aku hanya mendengus kecil.
“Sayang sekali, tapi keberadaanku di Negara Bagian ini juga merupakan kehendak Paduka Kaisar. Memang Kakak Trau yang membawaku ke sini, tapi Ayahanda yang memberi izin itu. Kakak pikir pencopotan sepihak diperbolehkan?”
“Tidak masalah. Aku sudah menerima balasan melalui surat. Semuanya diserahkan kepadaku.”
Sambil berkata begitu, Kakak Trau melemparkan sebuah surat ke arahku.
Aku memungutnya dan mataku membelalak.
Benar-benar tulisan tangan Ayahanda, yang menyatakan bahwa segalanya diserahkan kepada Kakak Trau.
Meski aku memang tidak berniat menyelidiki secara serius, aku sama sekali tidak tahu soal surat ini.
Cara Kakak Trau bergerak tanpa terdeteksi menunjukkan bahwa dia juga sungguh-sungguh dalam menipu sekelilingnya.
“...Benar, ini tulisan tangan Ayahanda.”
“Kembalilah ke Kekaisaran, Arnold. Tidak ada lagi tempat bagimu di sini.”
“...Kalau ada satu hal yang ingin kukatakan, semua ini kulakukan demi Kakak.”
“Aku tahu. Karena itu, aku tidak akan menghukummu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya.”
Kakak Trau berkata demikian sambil mengembuskan napas panjang.
Dengan menyingkirkanku, Kakak Trau akan memperoleh kepercayaan para bangsawan.
Dan dengan bukti-bukti yang kumiliki, para bangsawan di sekelilingku akan terdesak ke sudut.
Bagaimana menanganinya selanjutnya tergantung pada Brad dan Kakak Trau.
Ini adalah serangan kejutan yang sempurna. Seberapa lihainya pun para bangsawan busuk itu melarikan diri, mereka takkan mampu melawan.
Satu-satunya langkah balasan adalah menyerangku, dan itu pun sudah ditutup rapat.
Saat ini, pasukan Brad mungkin sudah mengevakuasi mereka.
“Kepada Kekaisaran akan disampaikan bahwa kamu dicopot karena reputasimu yang buruk. Pelanggaran yang kamu lakukan akan diabaikan.”
“...Di Kekaisaran, ada banyak orang sepertiku, yang memandang rendah Negara Bagian dan berpikir bahwa cukup hanya dengan memasukkan bangsawan Kekaisaran. Kakak akan berhadapan dengan pemikiran seperti itu.”
“Itulah yang kuinginkan. Aku adalah raja. Urusan negara ini akan diputuskan oleh orang-orang Negara Bagian sendiri.”
Mendengar deklarasi Kakak Trau, aku tersenyum kecil dan membungkuk hormat.
Peranku sudah selesai.
“Begitu rupanya. Kalau itu apa yang Kakak pikirkan, wajar kalau caraku tidak bisa diterima. Baiklah. Aku akan mematuhi titah raja.”
Tanpa mengatakan hal yang tidak perlu, aku memberi hormat sekali lagi dan membalikkan badan.
Akhirnya aku terbebas dari jabatan Kanselir.
Saat memikirkan itu, suara Kakak Trau terdengar dari belakang.
“Arnold... meski singkat, terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan.”
“...Jaga diri baik-baik.”
Aku mengucapkan satu kalimat itu dan mulai melangkah pergi.
Mulai sekarang, aku adalah penjahat di Negara Bagian ini.
Dan kemungkinan besar, aku pun takkan bisa lagi datang menemui Kakak Trau.
Namun ini bukan perpisahan seumur hidup.
Namun, kami pasti tidak akan pernah bekerja bersama lagi.
Kalau kupikirkan sekarang, setahun itu cukup menyenangkan.
Sepanjang waktu, aku hanya memikirkan bagaimana menopang Kakak Trau.
Tahun yang tidak buruk.
Saat memikirkan hal-hal itu, aku berpapasan dengan para bangsawan yang telah ditangkap.
“K-Kanselir Arnold! Tolonglah kami!”
“Kami mohon!”
“Apa pun akan kami lakukan!”
Semua dari mereka menangis dan meraihku dengan putus asa, tetapi aku menggelengkan kepala.
“Seperti yang kalian lihat, aku juga akan dikirim kembali ke Kekaisaran. Aku bukan lagi Kanselir. Maaf, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk kalian.”
“Dikirim kembali...? Apa maksudnya itu!?”
“Sesuai arti harfiahnya.”
“Kembali menjadi pangeran Kekaisaran!? Padahal Anda berada di pihak yang memberantas korupsi, namun juga terlibat di dalamnya! Tidak ada hukuman sama sekali, apa maksudnya itu!?”
“Aku dicopot dari jabatan Kanselir. Itu bukan tanpa hukuman.”
“Mana mungkin ada cerita sebodoh itu! Kami dihukum, tapi akar dari segala kejahatan justru tidak!? ”
“Ini tidak adil!”
“Ini sewenang-wenang! Paduka! Kami tidak bisa menerimanya!”
Mereka berteriak-teriak dengan marah, tetapi merekalah yang sebelumnya berada di pihak yang berbuat sewenang-wenang.
Jika kini mereka mengalami ketidakadilan, itu hanyalah buah dari perbuatan mereka sendiri.
Termasuk untuk bagianku juga, terimalah hukuman yang berat.
* * *
Beberapa hari kemudian.
Persiapan untuk pengawalan ke Kekaisaran telah rampung, dan aku pun harus meninggalkan istana.
Pencopotanku dilaporkan ke Kekaisaran sebagai akibat dari penentangan para bangsawan Negara Bagian. Itu memang sebuah kegagalan, tetapi dianggap bukan sebuah kejahatan.
Berkat itu, aku tidak akan dituding dengan jari, dan Fine yang datang ke Negara Bagian bersamaku pun tidak akan ikut terkena dampaknya.
Dengan perasaan lega akan hal itu, aku berjalan menuju kereta.
Di tengah jalan, Brad datang berjalan dari arah berlawanan.
Kami tidak saling menatap.
Namun...
“Sepanjang hidup saya, budi ini tidak akan saya lupakan.”
“Lupakan saja. Sebagai Kanselir, jagalah kakakku.”
“...Saya akan menjadikan mantan Kanselir sebagai teladan, dan mengabdi untuk Paduka Raja.”
Sambil berkata begitu, Brad pun berlalu.
Orang yang sungguh teratur dan beretika.
Pasti dia datang ke sini hanya untuk mengucapkan itu.
“Jika dia dipuji, artinya Tuan Al sebagai panutan juga ikut dipuji. Kurang lebih seperti itu maksudnya, ya.”
“Aku tidak butuh pujian. Yang kuinginkan hanyalah hasil. Selama dia membantu Kakak Trau, aku tidak mengharapkan yang lain.”
Sambil berbincang demikian, aku dan Fine naik ke dalam kereta.
Namun, di sana sudah ada penumpang lebih dulu.
“Kenapa kamu ada di sini?”
“Keterlaluan sekali! Memangnya aku tidak boleh ikut!?”
Di sana, Mia sudah duduk dengan membawa perlengkapan perjalanan.
Sejak awal, Mia adalah orang Negara Bagian.
Demi Negara Bagian, dia bahkan pernah menjadi bandit dermawa.
Kini, keadaan Negara Bagian mulai membaik.
Seharusnya tidak ada alasan baginya untuk pergi.
“Aku mau menjenguk adikku yang berada di bawah perlindungan Duke Reinfeld!”
“Wah! Kalau begitu, ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.”
“Nona Fine memang baik hati sekali.”
Mia memeluk Fine sambil bergumam, “Tidak seperti seseorang,” dengan suara pelan.
Sempat terpikir untuk meninggalkannya begitu saja, tetapi itu terlalu kekanak-kanakan, jadi kuurungkan.
Sebagai gantinya, aku menyampaikan sesuatu pada Sebas.
“Tidak perlu menyiapkan tambahan perbekalan. Dia bukan tamu.”
“Yang benar saja!? Kejam sekali!”
“Baik. Persediaan makanan kami lebih dari cukup untuk jumlah orang yang ada, jadi silakan tenang, Nona Mia.”
“Seperti biasa, Sebas memang hebat!”
“Cih...”
“Barusan aku seperti mendengar decakan lidah...”
“Perasaanmu saja.”
Aku memalingkan wajah, lalu memandang istana Negara Bagian dari kereta yang mulai bergerak.
Di balkon istana itu.
Kakak Trau terlihat bersama Marianne.
Melihat mereka berdiri berdampingan, aku merasa lega.
Kakak Trau memiliki seseorang yang menopangnya.
Apa pun yang terjadi, mereka pasti akan saling menggenggam tangan dan menyelesaikannya bersama.
Karena itulah.
“Baiklah, kita pulang. Ke Kekaisaran.”
Sambil mengucapkannya, aku pun menyeringai tipis.
Bagian 5
Wilayah pusat Kekaisaran.
Sebuah kota menengah bernama Rix, terletak tidak jauh dari ibu kota Kekaisaran.
Di sana berdiri sebuah kediaman raksasa.
Bangunan yang jelas jauh lebih besar daripada rumah seorang bangsawan wilayah itu adalah milik salah satu keluarga bangsawan tertua di Kekaisaran, keluarga Duke Altenburg.
Di salah satu ruangan di kediaman itu, Eric berada.
Namun, ruangan itu bukanlah kamarnya.
Ruangan yang nyaris tanpa barang tidak perlu itu terasa amat sederhana untuk ukuran kamar seorang bangsawan besar.
Hampir tidak ada hiasan yang bisa disebut dekorasi, satu-satunya yang memberi warna pada ruangan hanyalah bunga-bunga yang dipajang.
Namun, itu sudah lebih dari cukup.
Karena pemilik ruangan ini memiliki kepekaan untuk menikmati kesederhanaan tersebut.
Pemilik ruangan itu adalah seorang wanita.
Rambut biru muda sebening air, dengan mata berwarna senada.
Seorang wanita yang memancarkan aura lembut dan tampak penuh kasih.
“Kamu sedang sibuk dengan urusan pemerintahan. Tidak perlu memaksakan diri datang menjengukku, Eric.”
“Tidak bisa begitu. Sebagai suami, setidaknya aku harus memperlihatkan wajahku pada istriku.”
Sambil berkata demikian, Eric tersenyum tenang, memotong buah, lalu menyodorkannya kepada wanita yang terbaring di atas ranjang.
Di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
Para pelayan yang biasanya berjaga telah disuruh mundur.
Itu adalah kehendak Eric sendiri.
Nama perempuan itu adalah Rhea Lakes Ardler.
Sebagai istri Pangeran Kedua, seharusnya dia tinggal di istana.
Rhea merupakan istri Eric yang seusia dengannya, sekaligus putri keluarga Altenburg dan teman masa kecilnya.
Dulu, dia adalah gadis ceria yang sering menyeret Eric yang pemalu ke mana-mana.
Namun kini, dia terbaring sakit dan menjalani perawatan di tempat ini.
“Eric... hari ini aku merasa agak lebih baik. Bolehkah aku menghirup angin sebentar?”
“...Jika itu yang kamu inginkan.”
Eric membantu Rhea bangun dan menuntunnya hingga ke balkon.
Saat menggenggam tangan Rhea yang kurus, wajah Eric sedikit terdistorsi.
Penyakit Rhea tidak diketahui penyebabnya.
Bahkan tabib terbaik di seluruh benua pun tidak mengetahui cara menyembuhkannya.
Rhea yang dahulu pernah menggenggam pedang dan bercita-cita menjadi petualang kini hanya semakin melemah.
Sosok Rhea kecil yang dulu menarik tangan Eric ke mana-mana sudah tidak tersisa lagi.
“Ugh... ughuk...”
“Kita kembali ke dalam saja...”
“Sedikit lagi... biarkan aku menikmati anginnya...”
“Baiklah...”
Seolah tidak tahu harus berbuat apa, Eric memeluk Rhea erat-erat.
Meski tahu hal itu nyaris tidak berarti apa-apa, dia tidak sanggup berdiam diri tanpa melakukan apa pun.
“Eric...”
“Ada apa?”
“Aku dengar... Arnold akan kembali...”
“Ya, benar.”
“...Apa kamu masih berniat memperebutkan takhta dengan Leonard?”
Eric tidak menjawab.
Menganggap diam itu sebagai jawaban, Rhea berbisik lirih.
“Wilhelm... Gordon... Zandra... semuanya sudah pergi... Traugott pergi ke Negara Bagian, Lize ke perbatasan... keluarga kita semakin tercerai-berai... meski begitu, kamu masih akan melanjutkannya...?”
“Takhta kekaisaran diwariskan pada yang terkuat. Itu sudah ketentuannya.”
“Benarkah hanya itu alasannya? Hanya karena aturan itu, kamu sampai bertikai dengan adik-adikmu...? Aku tidak berpikir begitu.”
“Aku akan menjadi kaisar. Aku sudah memutuskannya.”
“...Jika itu demi diriku...”
“Bukan. Jika demi dirimu... aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu bersedih. Ini demi diriku sendiri. Aku yang memutuskan untuk menjadi kaisar dan melangkah maju. Aku tidak bisa berhenti lagi.”
Rhea tidak menatap wajah Eric.
Dia sudah tahu seperti apa ekspresi itu, bahkan tanpa melihatnya.
“Membangun Kekaisaran yang baik. Negeri yang damai... tempat setiap orang bisa hidup tenang bersama orang yang mereka cintai.”
“...”
Rhea tidak mengatakan apa-apa.
Dia tidak bisa membayangkan dunia seperti itu menanti di balik raut wajah Eric yang penuh penderitaan.
Dari balkon, mereka kembali ke ranjang, dan Rhea pun berbaring.
Kedatangan Eric membuatnya terlalu bersemangat.
Rasa lelah menyerang tubuhnya, dan rasa kantuk pun datang.
“Eric... kumohon...”
“Ada apa?”
“...Jangan memaksakan dirimu terlalu jauh...”
Sambil berkata demikian, Rhea tertidur.
Mendengar napas tidurnya yang teratur, Eric berdiri.
Dia telah memaksakan diri meluangkan waktu, dan masih banyak hal yang harus dia lakukan.
Setelah menatap wajah istrinya sekali lagi dan tersenyum lembut, Eric pun mengenakan topeng bernama kekejaman.
Topeng yang dengan nyaman menyembunyikan kelemahannya.
“Kembali ke ibu kota kekaisaran. Begitu Arnold kembali, Leonard pasti akan bergerak. Kali ini, kita yang melangkah lebih dulu.”
Setelah memberi perintah pada para pengawal dekatnya, Eric menuju kereta.
Namun, di dalam kereta itu sudah ada penumpang lain.
“Yang Mulia.”
“Hambat perjalanan rombongan Arnold. Selama itu, lakukan semua persiapan yang memungkinkan.”
Orang yang ada di dalam kereta adalah seorang pembunuh berbusana pelayan, Xiaomei.
Dia mengangguk pelan mendengar perintah Eric.
“Kamu paham, bukan? Jangan bertindak terlalu keras. Cukup hambat mereka.”
“Siap.”
“Gairah untuk perang ulang dengan Kerajaan Perlan sedang meningkat. Aku tidak bisa membiarkan Leonard menuju perang penentuan melawan Kerajaan. Sampaikan itu juga pada Ibu.”
“Dimengerti.”
Dengan itu, Xiaomei menghilang.
Sendirian, Eric menghela napas panjang.
Selama ini, dia berada di posisi menunggu tanpa bergerak.
Namun kini, setelah lawannya semakin jelas, dia tidak bisa terus menunggu.
“Menyerahlah, Leonard, Arnold... aku tidak akan mundur.”
Mengirimkan peringatan yang tidak mungkin terdengar, Eric menatap kejauhan.
Bagian 6
Kekaisaran bagian utara.
Malam hari.
Kami singgah di kediaman keluarga Marquis Zweig, tempat yang sebenarnya tidak termasuk dalam rencana perjalanan.
“Maafkan aku, Sharl.”
“Tidak apa-apa. Tapi tetap saja, kenapa kamu mengubah rencana?”
Charlotte von Zweig, perwakilan para bangsawan utara.
Menerima sambutan darinya, aku berada di kediaman Marquis Zweig.
Sudah lama aku tidak bertemu Sharl.
Negara Bagian dan wilayah utara Kekaisaran berdekatan. Setiap kali sesuatu terjadi, kami hampir selalu bertemu.
“Ada jebakan yang terlalu kentara. Jadi aku memutuskan sedikit lebih waspada.”
“Jebakan yang terlalu kentara?”
“Jembatan di rute yang seharusnya kami lewati runtuh. Kalau memutar, masih bisa menyeberang, tapi kalau ingin cepat, kami harus melewati hutan. Dan di dalam hutan itu, ada banyak jejak kaki.”
“Pasukan penyergap?”
“Mungkin. Terlalu mencolok sampai-sampai aku malah tidak mengerti apa tujuan mereka. Jadi untuk sementara, aku memilih pindah ke tempat yang paling aman. Yah, kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin tujuannya memang hanya untuk menahan langkah kita.”
“Menahan langkahmu, Al? Apa ada sesuatu yang terjadi di ibu kota?”
“Seharusnya tidak ada keadaan darurat. Tapi bagaimanapun, tidak banyak orang yang senang kalau aku bisa kembali dengan cepat.”
“Yang Mulia Eric menahanmu agar punya waktu menyusun langkah?”
Pemahamannya cepat sekali.
Tanpa berkata apa-apa, aku mengangguk.
Begitu aku kembali, keseimbangan yang selama ini terjaga antara Leo dan Eric pasti akan berubah.
Mungkin dia hanya ingin waktu untuk bergerak lebih dulu.
“Terus terang, aku justru agak lega.”
“Maksudmu?”
“Sepertinya dia memang berniat serius bertarung dalam perebutan takhta.”
“Apa maksudmu?”
“Selama ini Eric tidak bergerak. Karena dia memegang kekuatan terbesar, dia enggan gegabah dan memberi kesempatan pihak ketiga mengambil keuntungan. Tapi mustahil naik takhta tanpa berkonflik dengan siapa pun. Yang aku khawatirkan adalah kemungkinan Eric sebenarnya tidak tertarik pada singgasana.”
Sharl memasang ekspresi seolah berkata, mana mungkin.
Dan memang benar.
Kalau tidak tertarik pada singgasana, dia tidak akan ikut dalam perebutan takhta.
Namun entah kenapa, dari Eric aku tidak merasakan hasrat yang membara untuk menjadi kaisar.
Baginya, itu hanya salah satu bagian dari tujuan.
Setidaknya, begitulah yang kurasakan.
“Kalau kekhawatiranku salah, itu justru bagus. Masalahnya bukan di sana, tapi pada kenyataan bahwa Eric mulai bergerak.”
“Karena dia pemilik kekuatan terbesar...”
“Bukan hanya itu. Kekuatan terbesar tidak akan berkumpul pada orang yang tidak cakap. Banyak orang yakin Eric akan menang, itulah sebabnya kekuatan terbesar berkumpul di bawahnya. Dia adalah otak tajam yang selama ini menopang Putra Mahkota. Dalam urusan politik, dia menunjukkan keunggulannya lewat negosiasi; di medan perang, dia berubah menjadi seorang ahli strategi. Setengah dari kemenangan Putra Mahkota adalah hasil kerja Eric. Putra Mahkota sendiri yang mengatakannya.”
Sejak kecil, mereka selalu bersama.
Bahkan pertempuran pertama pun mereka jalani bersama.
Meski lebih muda, Eric diizinkan maju berperang bersama Putra Mahkota.
Anak-anak kebanggaan Kaisar.
Begitulah julukan yang diberikan negara-negara lain pada dua sosok yang bergerak tanpa henti itu.
Sejak keduanya mulai turun ke garis depan, Ayahanda yang sebelumnya kerap berperang melawan negara lain pun memilih tetap tinggal di ibu kota.
Karena jika dua orang itu bersama, mereka sudah cukup untuk menggantikannya.
Begitulah penilaiannya.
Dalam hal kecerdasan, Eric bahkan melampaui Putra Mahkota.
Penilaian itu muncul dari sana, dan tidak keliru.
“Kerajaan sedang bergejolak. Dalam setahun terakhir, mereka memperkuat militernya secara besar-besaran. Mereka menekan negara-negara kecil di sekitarnya agar memasok logistik. Tujuannya tidak perlu dipikirkan lagi.”
“Perang ulang melawan Kekaisaran, ya? Tapi kenapa mereka begitu terburu-buru?”
“Karena begitu perebutan takhta selesai, mereka akan sadar tidak ada peluang menang. Hal seperti ini sudah pernah terjadi. Lagi pula, Kekaisaran belum sepenuhnya pulih. Bagaimanapun, baru setahun berlalu.”
Aku menatap langit berbintang dari balik jendela.
Banyak peristiwa terjadi, dan pada akhirnya berujung pada perang saudara.
Di wilayah utara ini pun, darah telah tumpah.
Mengingat mereka yang telah pergi, melemahnya Kekaisaran terasa tidak terelakkan.
Namun...
Ada yang gugur, tapi ada pula yang bangkit.
“Ngomong-ngomong, sepertinya Kesatria Pengawal baru saja direorganisasi.”
Begitu aku mengangkat topik itu, wajah Sharl langsung berkerut jelas.
Lalu dia bergumam.
“Aku tetap saja tidak suka Paduka Kaisar.”
Mendengar kata-kata yang sangat khas dirinya itu, aku pun tertawa.
* * *
Keesokan harinya, kami berangkat meninggalkan wilayah Marquis Zweig dengan diantar oleh Sharl.
Begitu keluar dari wilayah kekuasaan itu, aku menyuruh kereta kuda berhenti.
Aku mendengar suara yang khas.
Saat menatap ke langit, seekor wyvern putih tengah berputar-putar di atas kami.
Begitu dia menyadari keberadaanku, makhluk itu langsung menuruni ketinggian dengan perlahan.
Di punggungnya duduk seorang kesatria, dan di punggung sang kesatria berkibar sebuah mantel putih.
“Terima kasih atas penyambutannya, Finn.”
“Ya, Yang Mulia Arnold. Karena Yang Mulia tidak berada di titik yang dijadwalkan, saya menduga Anda berada di wilayah Marquis Zweig, jadi saya datang menjemput.”
Sambil berkata demikian, Finn menampilkan senyum lembut yang tidak berubah sedikit pun dari setahun lalu.
Seperti biasa, dia benar-benar berbeda dibandingkan saat bertarung di udara.
Namun, kemampuannya telah diakui.
“Kapten Kesatria Pengawal Regu Kedelapan, Finn Brost. Mulai sekarang, saya akan bertugas sebagai pengawal Yang Mulia.”
“Aku mengandalkanmu, Kapten Finn.”
Meski disebut kapten, tidak ada satu pun bawahan di sekitar Finn.
Karena dia mampu menunjukkan performa setara satu kesatuan Kesatria Pengawal seorang diri, secara luar biasa dia diangkat sebagai kapten kesatria pengawal tanpa anak buah.
Untuk ditugaskan pada seorang penguasa wilayah saja, kekuatannya sudah berlebihan.
Saat aku masih berada di sini, dia bergerak langsung di bawah otoritas Wakil Penguasa Wilayah Utara. Setelah aku pergi, Sharl memanfaatkannya sebagai kekuatan militer bagi seluruh wilayah utara.
Namun kemudian, Ayahanda yang tengah tergesa-gesa merombak Kesatria Pengawal mengangkatnya menjadi kapten kesatria pengawal.
Yah, cepat atau lambat hal itu memang akan terjadi.
Finn memang sekuat itu, dan juga orang yang istimewa.
Itulah alasan Sharl berkata bahwa dia tidak menyukai Ayahanda. Tentu saja, mungkin dia tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
“Baiklah, dengan begini tidak akan ada lagi orang yang berani menggangguku. Mari kita segera menuju ibu kota.”
“Benar. Paduka Kaisar sedang menunggu.”
“Untuk memarahiku?”
“Siapa tahu?”
Sambil tertawa, aku kembali naik ke kereta kuda, sementara Finn kembali terbang ke langit.
Bagian 7
Siang hari.
Tidak ada seorang pun yang menyambut kedatanganku saat aku tiba di ibu kota.
Kereta kuda melaju dengan anggun menyusuri jalan utama.
Rakyat menjalani kehidupan mereka seperti biasa.
Ini bukan arak-arakan kemenangan. Aku dipulangkan karena gagal, jadi tidak ada alasan untuk mengabarkannya kepada rakyat.
Bagi mereka, mungkin hanya terasa bahwa sebuah kereta bangsawan sedang lewat.
“Sepertinya ibu kota jauh lebih ramai dibanding sebelumnya.”
“Wajar saja. Dalam setahun, pemulihan pasti berjalan. Ini ‘kan pusat kekuasaan Kaisar.”
“Kalau begitu, apakah daerah lain belum sepenuhnya pulih?”
“Mungkin pemulihan secara lahiriah sudah dilakukan. Tapi untuk benar-benar kembali seperti semula, masih butuh waktu. Hanya karena bangunannya sudah berdiri lagi, bukan berarti sudah bisa disebut pulih.”
Sebuah tempat baru bisa disebut benar-benar pulih ketika gairah hidup kembali, arus manusia kembali ramai, luka di hati mulai sembuh, dan berbagai hal lain berhasil dilewati.
Pemulihan ibu kota berlangsung cepat karena lalu lintas manusia sangat aktif. Jika terus menunduk dalam kesedihan dan penderitaan lalu berhenti melangkah, kamu akan tertinggal.
Itulah sebabnya orang-orang di sini tangguh dan cepat bangkit.
Hari-hari yang sibuk membuat mereka melupakan duka.
“Hanya dengan melihat bangunannya saja sudah terasa pulih. Kekaisaran memang luar biasa.”
“Benar. Di Negara Bagian, bahkan bangunannya saja belum sepenuhnya terkejar. Yah, penyebabnya bukan semata kerusakan akibat perang, tapi lebih pada kerusakan akibat penindasan.”
“Hal-hal yang dibangun terlalu cepat, saat runtuh pun akan hancur dalam sekejap. Tanpa tergesa-gesa dan tanpa panik, Negara Bagian akan dibangun kembali perlahan di bawah pemerintahan Paduak Raja Traugott. Tidak ada gunanya membandingkannya dengan kekaisaran.”
Mendengar kata-kata Fine, aku dan Mia mengangguk.
Negara Bagian memiliki ritmenya sendiri.
Masalahnya adalah apakah negara itu bisa berdiri mandiri sebagai sebuah bangsa selama masa pemerintahan Kakak Trau.
Tentu saja, Kekaisaran akan memberikan dukungan.
Selama ada Negara Bagian di sisi utara, Kekaisaran Suci dan Kerajaan tidak punya pilihan selain waspada.
Cukup dengan berdiri di pihak Kekaisaran saja sudah menjadi tekanan.
Jika berpikir bahwa pasukan Kekaisaran mungkin akan menyerbu melalui wilayah Negara Bagian, maka pertahanan mereka harus diperluas.
Saat aku tenggelam dalam pikiran itu, kereta akhirnya tiba di istana.
Begitu turun, tidak ada seorang pun di sekitar.
“Hei, hei, tidak ada penyambutan sama sekali? Kurang ajar benar dia...”
“Mungkin kabarnya belum sampai?”
“Mana mungkin? Bahkan Finn ikut datang, masa Leo tidak diberi tahu?”
Saat hendak melanjutkan, aku memutus kalimatku.
Seorang kesatria pengawal berlari ke arah kami.
“Yang Mulia Arnold. Paduka Kaisar memanggil Anda.”
“Cepat sekali...”
Jadi ini alasan tidak adanya penyambutan.
Langsung memanggilku untuk dimarahi, seleranya benar-benar aneh.
Sambil berpikir begitu, aku berpisah dengan Fine dan Mia, lalu menuju ruang takhta.
* * *
Dipandu oleh seorang kesatria pengawal, aku melangkah menuju ruang takhta.
Tidak ada yang berubah dari Istana Pedang Kaisar yang kutinggalkan setahun lalu.
Sesaat sebelum mencapai jalan lurus satu-satunya yang mengarah ke ruang takhta, kesatria pengawal itu berhenti.
“Ada apa?”
“Pengawalan saya sampai di sini saja. Selanjutnya, Yang Mulia harus berjalan sendiri.”
“Hah? Aku belum pernah dengar pengawalan berakhir di tempat seperti ini.”
“Hari ini bersifat khusus.”
Usai berkata demikian, kesatria pengawal itu pergi.
Entah apa yang sedang terjadi.
Sambil menghela napas, aku melanjutkan langkah menyusuri jalan lurus itu.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami alasan mengapa kesatria tadi berhenti mengawal.
“Ya ampun...”
Aku bergumam sambil terus berjalan.
Di hadapanku berdiri para kesatria berjubah putih.
Berbeda dari kesatria pengawal sebelumnya, jubah mereka dihiasi lambang khusus.
Jubah semacam itu hanya boleh dikenakan oleh para kapten dalam Kesatria Pengawal Kekaisaran.
Dan jumlah mereka ada tiga belas orang.
Mereka berdiri terbelah ke kiri dan ke kanan.
“Semua kapten kesatria pengawal berkumpul lengkap. Apa Ayahanda berniat memimpin pasukan sendiri?”
Tidak seorang pun menjawab pertanyaanku.
Tidak ada pilihan lain, aku melangkah maju satu langkah.
Saat itulah, kesatria pengawal yang berdiri paling dalam dari sudut pandangku, Komandan Kesatria Pengawal Alida berkata, “Seluruh pasukan, cabut pedang kalian.”
Serentak, semua pedang terhunus.
Ujung-ujungnya ditekan ke lantai, lalu ketigabelas kesatria itu berlutut.
Barulah aku memahami maknanya, dan mataku terbelalak.
Ini sebuah upacara.
Dan bukan sembarang upacara, ini adalah ritual tertinggi yang hanya dilakukan oleh para kapten kesatria pengawal.
Para kapten hampir tidak pernah berlutut.
Karena mereka adalah kesatria yang berada langsung di bawah perintah Kaisar.
Namun, ada satu ritual di mana para kapten kesatria pengawal berlutut sambil memegang pedang mereka.
Upacara Pedang Kesatria Pengawal.
Sebuah ritual yang hanya diberikan kepada pahlawan yang telah menyelamatkan negara.
“Selamat atas kepulangan Yang Mulia.”
Ketigabelasnya mengucapkan kalimat itu serempak.
Entah siapa dalangnya.
Karena tidak kunjung jelas, aku pun melangkah menembus barisan para kapten kesatria pengawal.
Dan ketika hampir sampai di ujung, aku berkata, “Ini ulahmu, bukan?”
“Sudah pasti bukan aku, ‘kan?”
Untuk percakapan pertama setelah setahun berlalu, jawabannya terasa sangat singkat dan hambar.
Elna, yang masih berlutut, menghela napas dengan ekspresi jengah.
Ya, memang benar. Seberapa pun Elna memintanya, izin seperti itu jelas takkan pernah turun.
“Bisa kamu jelaskan, Komandan Alida? Siapa yang menyiapkan upacara tidak nyaman seperti ini?”
Setelah melewati lorong yang dibentuk para kapten kesatria pengawal, aku menanyai Alida yang telah berdiri.
Sambil menyarungkan pedangnya, Alida meraih pegangan pintu ruang takhta.
Tindakan yang sebenarnya bukan tugas Komandan Kesatria Pengawal.
Karena biasanya, sudah ada kesatria pengawal khusus yang berjaga di pintu.
Semua ini benar-benar perlakuan tingkat tertinggi.
Ada apa sebenarnya?
“Kami menerima surat pribadi dari Paduka Raja Traugott.”
“Dari Kakak Trau?”
“Pangeran Ketujuh Arnold, telah meraih pencapaian luar biasa di Negara Bagian dan menunaikan tugasnya sebagai Kanselir secara maksimal. Prestasi ini akan membawa manfaat bagi Kekaisaran hingga jauh ke masa depan. Oleh karena itu, sebagai Raja Negara Bagian, beliau meminta agar penyambutan tingkat tertinggi diberikan.”
“Orang itu benar-benar...”
Melihatku bergumam, Alida tersenyum tipis.
Lalu...
“Paduka Kaisar telah menunggu.”
Sambil berkata demikian, pintu pun terbuka.
Ruang takhta.
Di bagian terdalamnya, Ayahanda duduk di atas singgasana.
Di sisi beliau berdiri Kanselir Franz.
Dan di bagian depan, dua pangeran berdiri berdampingan, menatap ke arahku.
“Kerja bagus atas tugasmu. Selamat datang kembali, Arnold.”
Dari atas singgasana, Ayahanda mengucapkannya.
Lalu, beliau menyeringai lebar.
Bagian 8
Melakukan hal yang dibenci orang lain tampaknya benar-benar menyenangkan baginya.
Senyuman itu jelas menunjukkan hal tersebut.
Meski dia ayahku sendiri, sungguh sifat yang menjengkelkan.
Sambil menggerutu dalam hati, aku melangkah maju.
Di tengah jalan, Leo menyapaku dengan senyum sambil mengucapkan kata-kata penghiburan.
“Selamat datang kembali, Kakak. Sepertinya cukup berat, ya?”
“Aku pulang. Tapi justru setelah kembali inilah yang terasa lebih berat.”
Sambil mengangkat bahu, aku melirik ke belakang.
Tidak pernah terlintas di benakku akan menerima penghormatan dari para kapten kesatria pengawal.
Terlalu di luar dugaan, sampai membuatku tertegun.
Mungkin karena Kakak Trau yang memintanya. Tapi di saat yang sama, Ayahanda pasti mengizinkannya karena tahu aku akan merasa tidak nyaman.
Sepertinya dia tidak suka melihatku pulang setelah menyelesaikan tugas dengan rapi, sesuai rencana.
Benar-benar jahat.
“Kerja kerasmu patut dihargai, Arnold.”
“Tidak juga. Yah, sebenarnya aku ingin pulang sedikit lebih cepat.”
Aku menjawab perkataan Eric dengan nada menyiratkan makna.
Kalau saja tidak ada seseorang entah siapa yang sengaja menahanku. Namun Eric bersikap seolah angin lalu.
“Jika melihat pencapaianmu, seharusnya kamu disambut secara besar-besaran. Namun secara resmi, kamu dianggap gagal. Jika kebenaran ini diketahui orang-orang Negara Bagian, Traugott akan berada dalam posisi sulit. Karena itu, hanya segelintir orang yang mengetahui kenyataannya. Maafkan kami.”
“Memang dari awal itu rencananya. Tidak ada cara lain. Selama Kakak Trau bisa memerintah Negara Bagian dengan aman, reputasiku yang buruk bukan masalah besar.”
“Kakak seharusnya sedikit lebih peduli dengan penilaian orang lain, lho.”
Dari belakang, Leo menyelipkan teguran kecil.
Aku berpura-pura tidak mendengarnya dan melanjutkan pembicaraan.
“Lalu? Kita tidak berkumpul hanya untuk menyambutku, bukan?”
“Bagaimana kalau kukatakan memang untuk menyambutmu?”
“Kalau begitu aku hanya akan berpikir betapa damainya keadaan ini. Tapi kenyataannya tidak sedamai itu, ‘kan?”
Mendengar ucapanku, Ayahanda tersenyum kecil.
Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kanselir.
“Franz.”
“Baik. Saat ini, Kerajaan Perlan tengah memberi tekanan kepada aliansi negara kecil di bagian barat benua, Aliansi Lechusa, dan dengan cepat memperkuat militernya.”
Di bagian barat benua terdapat banyak negara kecil.
Ada negara kaum demi-human, ada pula negara manusia. Untuk melawan Kerajaan Perlan yang merupakan negara besar, mereka membentuk sebuah aliansi. Itulah Aliansi Lechusa.
Namun, meskipun negara-negara kecil bersatu, sikap negara besar tidak akan berubah.
Mereka tetap pihak yang bisa dihancurkan kapan saja, hanya sedikit lebih merepotkan saja.
Perlakuannya jadi sedikit lebih layak, namun yang lemah tetaplah lemah.
Bagi Aliansi Lechusa sendiri, mereka tidak berniat benar-benar berperang melawan Kerajaan. Mereka hanya ingin memaksa kerajaan itu duduk di meja perundingan.
Dan hasil dari perundingan itu, Aliansi Lechusa justru membantu perluasan militer Kerajaan.
Mereka menyediakan logistik, mengirimkan tenaga, dan memberikan dana.
Dengan tangan mereka sendiri, mereka memperbesar ancaman terhadap diri mereka sendiri.
Aku mengerti maksudnya.
Karena mereka tahu, jika bertindak sejauh itu, Kekaisaran takkan tinggal diam.
“Penguatan militer ini sudah lama menjadi masalah. Baru-baru ini, para menteri dan bangsawan menyarankan bahwa jika dibiarkan, Kerajaan itu pada akhirnya akan mengarahkan taringnya ke Kekaisaran. Memang masuk akal.”
“Bagaimanapun cara mereka berdalih, jelas itu ditujukan melawan Kekaisaran.”
Jadi, laporan dan usulan itu sudah sampai ke Ayahanda.
Karena inilah Eric menahanku, rupanya.
Di pihak sana, mereka sudah mulai bergerak.
Pasti mereka juga sudah melakukan lobi dan persiapan.
“Semangat untuk menundukkan Kerajaan semakin menguat. Arnold, bagaimana pendapatmu?”
“Cepat atau lambat, kita memang harus menyelesaikannya. Hanya soal waktu. Kalau bisa menang, menurutku tidak masalah untuk melakukannya.”
“Kalau begitu, aku akan mengubah pertanyaannya. Jika kita melakukannya sekarang, menurutmu kita bisa menang?”
“Setahun lalu, pasukan Kerajaan Perlan yang berhasil dipukul mundur oleh Leo tidak memiliki jenderal terkenal. Itu karena para jenderal berpengalaman yang pernah bertempur bersama Santa Leticia enggan turun ke garis depan. Namun sekarang Kerajaan Perlan bergerak memperkuat militernya. Mungkin tidak semuanya, tapi mereka pasti bisa mengerahkan jenderal-jenderal yang cukup mumpuni. Dalam kondisi itu, kita tidak bisa menghindari pertempuran berat.”
“Begitu ya, itu memang jawaban khasmu. Kalau begitu, dengan asumsi pertempuran berat tidak terhindarkan, siapa yang harus turun agar kita menang?”
Mendengar pertanyaan Ayahanda, aku terdiam sejenak untuk berpikir.
Tidak ada perang yang bisa dimenangkan seratus persen.
Bahkan pasukan besar pun bisa dikalahkan oleh jumlah kecil, itu bukan hal langka.
Kalau begitu, yang perlu dipikirkan adalah cara paling mendekati kemenangan.
Jika melihat perang-perang melawan Kerajaan di masa lalu, jawabannya hanya satu.
“Aku tidak tahu siapa yang harus turun, tapi ada satu hal yang seharusnya kita lakukan.”
“Apa itu?”
“Kita harus mengirim utusan ke Kadipaten Albatro. Di masa lalu, alasan kita gagal menaklukkan Kerajaan Perlan adalah karena dukungan laut dari Kadipaten Albatro. Kita harus memutus itu terlebih dahulu.”
“Pendapatmu sama dengan Eric.”
Ayahanda dan Franz saling bertukar pandang.
Aku melirik Eric yang berdiri di sampingku.
Ekspresinya tetap dingin seperti biasa, sulit dibaca.
Namun aku mengerti maksudnya.
Untuk membujuk Kadipaten Albatro, orang yang punya hubungan akan lebih efektif.
Entah aku atau Leo.
Bagaimanapun, itu berarti bisa menyingkirkan salah satu dari kami dari ibu kota.
Persiapan ini memang diperlukan untuk berperang melawan Kerajaan, dan dari segi pemilihan orang, tidak ada yang terasa janggal.
Benar-benar perhitungan yang matang.
“Sejak insiden naga laut, Kadipaten Albatro cenderung berpihak pada Kekaisaran. Jika Pangeran Arnold atau Pangeran Leonard yang pergi, pembujukan seharusnya mudah.”
“Itu benar. Tapi Arnold baru saja kembali. Leonard, bisakah kamu pergi?”
“Jika itu perintah, ke mana pun saya akan pergi.”
Leo menunduk dan menjawab.
Tidak ada pilihan lain selain berkata demikian.
Nah, sekarang bagaimana?
Haruskah aku yang mengajukan diri?
Namun jika begitu, aku harus kembali meninggalkan ibu kota.
Menahan Leo agar tetap tinggal di ibu kota pun tidak ada artinya jika dia akhirnya dikeluarkan dari perang melawan Kerajaan.
Sebenarnya aku ingin menghancurkan diskusi ini sejak awal, tapi saat ini aku berada di telapak tangan mereka.
Apa pun yang kulakukan mungkin takkan berarti.
Saat aku masih berpikir, pintu ruang takhta terbuka.
Yang membukanya adalah seorang kesatria pengawal.
Dan sosok yang masuk melalui pintu itu adalah...
“Ah, syukurlah, syukurlah. Tepat waktu.”
Seorang pria bertubuh agak gemuk.
Dengan senyum ramah yang mudah disenangi orang, dia berlutut di tempat.
“Duke Jurgen von Reinfeld, menghadap Paduka Kaisar serta para Yang Mulia Pangeran. Saya membawa sepucuk surat pribadi dari Marsekal Lizelotte, yang memimpin Pasukan Pertahanan Perbatasan Timur.”
Sambil berkata demikian, Jurgen semakin memperlebar senyumnya.
Sesaat, pandangan Leo dan Jurgen saling beradu.
Begitu rupanya. Tampaknya Leo juga tidak tinggal diam.
Bagian 9
Kemunculan Jurgen yang tiba-tiba.
Seharusnya situasi menjadi kacau, tetapi pernyataannya bahwa dia membawa surat pribadi dari Kak Lize langsung membenarkan segalanya.
Yang sedang dibicarakan sekarang adalah perang.
Dan dalam urusan perang, tidak ada seorang pun yang lebih mengerti selain Kak Lize.
“Surat pribadi dari Lizelotte? Perlihatkan.”
“Baik.”
Jurgen menyerahkan surat itu kepada seorang kesatria pengawal dekat yang menghampiri.
Lalu surat itu berpindah ke tangan Ayahanda.
Setelah membacanya dengan ekspresi penuh minat, Ayahanda tersenyum sambil memperlihatkan surat itu kepada Franz.
“Hal yang menarik juga ya, Franz?”
“Entah menarik atau tidak, yang jelas ini sesuatu yang sangat jarang terjadi.”
“Apa kata Kak Lize?”
Menanggapi pertanyaan Leo, Franz menjawab singkat sambil tersenyum pahit.
“Dia bilang akan turun tangan sendiri untuk menaklukkan Kerajaan Perlan.”
“Lalu bagaimana rencananya dengan pertahanan Perbatasan Timur...”
Sudah kuduga akan begini, tapi karena terlalu sesuai perkiraan, tenagaku justru terasa lepas.
Namun, tidak bisa disangkal bahwa arus pembicaraan telah berubah.
“Rincian lebih lanjut bisa kutanyakan langsung padamu, Duke Reinfeld?”
“Baik. Izinkan saya menjelaskan. Marsekal Lizelotte berpendapat bahwa perlu dilakukan perubahan penempatan pasukan. Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman dari Kekaisaran Suci menurun, sementara ancaman dari Kerajaan justru meningkat. Karena itu, beliau menilai bahwa kekuatan utama Pasukan Pertahanan Perbatasan Timur seharusnya dipindahkan ke Perbatasan Barat.”
“Mudah saja mengatakannya. Tapi memindahkan pasukan, apalagi pasukan perbatasan, adalah pekerjaan yang sangat sulit. Dari timur ke barat, lalu dari barat ke timur. Menurutmu, berapa bulan waktu yang dibutuhkan hanya untuk memindahkan mereka?”
Eric mengernyitkan wajahnya melontarkan keberatan.
Pendapat yang wajar.
Sangat wajar, terlalu masuk akal sampai-sampai tidak ada celah untuk membantahnya.
“Untuk urusan itu, Marsekal Lizelotte mengatakan semuanya diserahkan kepada Pangeran Eric. Jika disampaikan apa adanya, katanya, ‘Aku beri kamu jasanya, jadi lakukan saja bagaimana pun caranya.’”
“Wanita itu...”
Eric tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
Jika aku berada di posisi Eric, mungkin aku juga akan terdiam.
Pasti kepalaku terasa sakit bukan main.
“Begitulah Lizelotte. Franz, bagaimana menurutmu usulan ini?”
“Yang terburuk, jika saya berbicara dari sudut pandang pejabat sipil.”
Tampaknya Franz sependapat dengan Eric.
Tuntutan mustahil dari seorang jenderal lapangan.
Bagi para pejabat sipil, ini usulan yang cukup untuk membuat emosi memuncak.
Ini bukan masalah yang selesai hanya dengan memindahkan prajurit.
Dibutuhkan uang, perbekalan, dan waktu.
“Namun, apa yang dikatakannya masuk akal. Tidak bisa dipungkiri bahwa Lizelotte dan Pasukan Perbatasan Timur memang menjadi kekuatan yang berlebih.”
“Dengan segala hormat... ancaman dari Kekaisaran Suci menurun justru karena Lizelotte berada di Timur. Saya, sebagai Menteri Luar Negeri, bisa menahan Kekaisaran Suci juga karena adanya benteng mutlak bernama Lizelotte. Jika dia dipindahkan, bukan tidak mungkin Kekaisaran Suci akan sungguh-sungguh memusatkan perhatian untuk melawan Kekaisaran kita. Sebagai Menteri Luar Negeri, dan sebagai anggota keluarga kekaisaran, saya sama sekali tidak bisa menyetujui hal ini.”
Dengan kata-kata itu, Eric menepis tuntutan Kak Lize.
Franz pun mengangguk setuju pada pernyataan Eric.
Ya, tentu saja begitu.
Sudah pasti pembicaraan akan mengarah ke sini.
Dan mustahil Kak Lize tidak dapat memperkirakannya.
Permintaan seperti ini pasti diajukan dengan sengaja.
Aku melirik Jurgen sekilas.
Sang duke juga mengangguk sependapat dengan Eric. Tampaknya dia pun memahami bahwa ini memang tuntutan yang keterlaluan.
“Duke Reinfeld, Kak Lize hanya mengatakan itu saja?”
“Tidak. Beliau juga telah memikirkan rencana jika usulan tersebut ditolak. Jika perubahan penempatan pasukan tidak memungkinkan, maka sebaiknya menggunakan bidak lain yang menganggur selain dirinya.”
“Bidak lain yang menganggur selain Lizelotte? Siapa yang kamu maksud?”
Pandangan Jurgen beralih ke arah Eric.
Eric menerima tatapan itu tanpa mengubah ekspresinya.
“Beliau menyarankan agar Pangeran Eric, mantan ahli strategi Putra Mahkota yang telah wafat, kembali ke garis depan. Kekaisaran Suci akan beliau kendalikan sendiri, jadi tidak ada masalah.”
“Menyuruhku kembali ke garis depan?”
“Marsekal Lizelotte berpendapat bahwa jika Pangeran Leonard dan Pangeran Eric bekerja sama menaklukkan Kerajaan Perlan, peluang kalah hampir tidak ada. Bagaimana jika kecerdikan dan strategi yang dulu menopang Putra Mahkota sekali lagi dimanfaatkan di garis depan?”
Sejenak, keheningan menyelimuti ruangan.
Memang, itu adalah susunan yang nyaris sempurna.
Namun, ada satu masalah.
“Apakah maksudnya aku harus... mendampingi Leonard?”
“Saya hanya menyampaikan pemikiran Marsekal Lizelotte.”
Jurgen melangkah mundur satu langkah.
Tekanan yang dipancarkan Eric begitu berat.
Eric bukan tipe yang turun langsung ke garis depan. Dia murni seorang perencana, ahli strategi.
Karena itu, kemampuannya baru benar-benar hidup jika ada orang lain yang berdiri di garis depan.
Tipe pendukung, begitulah dia.
Jika berpasangan dengan Leo, maka secara alami dia akan menjadi pendukung Leo.
Seperti saat dia dulu bekerja sama dengan Putra Mahkota.
“Orang yang akan kudampingi... hanyalah Wilhelm. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya.”
Dengan tenang Eric menyatakan hal itu.
Itu berarti dia menolak untuk maju berperang berdua.
Dengan demikian, pembicaraan memang kembali ke titik awal, tetapi tidak semuanya kembali seperti semula.
Topik saat ini adalah bagaimana menghadapi perang melawan Kerajaan Perlan.
Menahan Kadipaten Albatro adalah kesepahaman bersama.
Masalahnya adalah bagaimana benar-benar bertempur melawan pasukan Kerajaan Perlan.
Ada dua maksud di balik alur yang dibentuk Eric.
Pertama, dia ingin memisahkanku dari Leo.
Kedua, dia ingin mengamankan posisi penting dalam perang melawan Kerajaan Perlan.
Namun kini, dia telah menyatakan bahwa dirinya tidak akan turun ke garis depan.
Ini pasti menjadi situasi yang merepotkan bagi Eric.
“Aku bisa mengerti perasaan Eric. Kita tidak bisa memaksanya.”
“Kalau begitu, kandidatnya tinggal Pangeran Leonard saja. Lawan kita adalah pasukan Kerajaan yang kini semakin kuat. Jenderal biasa tidak akan mampu menghadapinya.”
Mendengar kata-kata Ayahanda dan Franz, Eric sedikit mengerutkan alisnya.
Mungkin dalam rencana awalnya, dia berniat turun ke garis depan bersama para jenderal binaannya sendiri.
Jika mengenal Eric pada masa dia mengamuk di medan perang bersama Putra Mahkota, usulan itu mungkin akan terlihat sebagai pilihan yang tidak buruk.
Namun, begitu Leo ikut terlibat, rencana itu pun kandas.
Mungkin memang tidak mungkin untuk diterima.
Sebesar apa pun, peran pendamping tetaplah pendamping.
Alasan nama besar Eric tidak pernah bergema luas adalah karena dia selalu berada sebagai pendukung Putra Mahkota.
Kali ini pun hasilnya akan sama.
Selama tidak ada keuntungan baginya, menerima usulan itu sama saja dengan tamat.
Yah, mungkin ada cara menolak yang lebih halus.
Cara barusan bukanlah gaya Eric.
Kata-kata yang keluar terlalu emosional.
Atau justru karena yang mengajukan adalah Kak Lize, orang yang paling mengenal Eric.
“Kalau begitu, untuk perang melawan Kerajaan, kita akan menjadikan Leonard sebagai poros utama. Tidak ada keberatan?”
“Tidak ada.”
Eric menjawab lebih cepat daripada siapa pun.
Barangkali dia menilai bahwa dari titik ini, keputusan itu sudah tidak mungkin dibalikkan.
Penilaian yang khas Eric.
Namun.
“Paduka... jika seandainya Leonard gagal... saya yang akan turun ke garis depan.”
“Bukannya kamu bilang tidak akan mendampingi siapa pun selain Wilhelm?”
“Melindungi Kekaisaran adalah prioritas. Jika Leonard bisa menang sendiri, tentu itu yang terbaik. Saya pun bisa memusatkan perhatian pada urusan diplomasi.”
“Begitu rupanya. Kalau begitu, kami serahkan padamu jika sampai terjadi hal terburuk.”
“Baik.”
Dengan menyerahkan kesempatan utama kepada Leo, dia memastikan giliran berikutnya menjadi miliknya.
Tampaknya dia menilai peluang menang masih cukup besar.
Bagaimanapun juga, lawannya adalah para jenderal yang telah melalui pertempuran demi pertempuran bersama Sang Santa.
Bukan hal aneh jika mereka akan menyulitkan.
Tolok ukur kegagalan berbeda-beda bagi setiap orang.
Jika tidak berhati-hati, bisa saja hanya hasil manisnya yang direnggut orang lain.
“Kalau begitu, berarti Arnold yang akan pergi ke Kadipaten Albatro?”
“Tidak ada pilihan lain.”
“Hmm. Beristirahatlah sebentar di ibu kota sebelum berangkat. Kerajaan pasti sedang memantau gerak-gerikmu. Jika kamu langsung menuju Kadipaten, mereka akan segera menyadari pergerakan kita.”
“Baik, aku mengerti.”
Dengan demikian, garis besar kebijakan perang melawan Kerajaan pun ditetapkan.
Bagian 10
Setelah pembahasan di ruang takhta berakhir, aku berpisah dengan Leo dan menuju ke istana harem.
Tujuannya untuk menyampaikan salam kepulangan.
“Aku pulang dengan selamat.”
“Kamu terlihat sehat, itu sudah lebih dari cukup, Al.”
Ibu mengatakan itu dengan sikap tenang yang sama seperti setahun lalu.
Terlihat sehat, katanya.
Kalimat itu justru ingin kuucapkan padanya.
Penyakitnya tampaknya masih muncul sesekali dan belum memburuk.
Merasa lega akan hal itu, aku meraih kue yang sudah ibu siapkan.
Saat itulah mataku ditutup dari belakang.
“Siapa ini?”
“Menurutmu siapa...?”
Suara yang sudah lama tidak kudengar, namun mustahil untuk salah.
Aku menjawab tanpa ragu.
“Sepertinya kamu tidak berubah, ya, Christa.”
“Aku berubah. Tinggiku bertambah sedikit. Selamat datang kembali, Kak Al.”
Tangan itu dilepaskan, dan ketika aku menoleh ke belakang, Christa berdiri di sana.
Memang, sedikit saja, benar-benar sedikit, tingginya mungkin bertambah.
Nyaris tidak terlihat perbedaannya, tapi bagi dirinya sendiri, itu pasti sebuah kemajuan besar.
Saat aku mengusap kepalanya, seorang gadis di belakang Christa melambaikan tangan.
“Selamat datang, Kak Al!”
Apa dia kini lebih tinggi dari Christa?
Rita, sahabat Christa sekaligus calon kesatria.
Namun, di punggungnya terpasang mantel putih.
Melihat itu, aku tersenyum kecil, dan Rita tampak terkejut lalu berlutut.
“Calon kesatria pengawal kekaisaran, Rita! Menghadap Yang Mulia Arnold!”
“Calon kesatria pengawal?”
“Elna bilang dia akan melatihnya sendiri, lalu menariknya masuk sebagai bawahan secara paksa. Prestasinya sudah cukup, jadi diberi pengecualian. Meski begitu, tidak ada pengawal kekaisaran yang tidak melalui ujian seleksi, jadi statusnya masih magang. Untuk sekarang, dia menjadi pengawal pribadi Christa.”
“Begitu ya. Jadi, pada dasarnya tidak berubah dari sebelumnya?”
“Iya, aku akan selalu bersama Rita.”
Sambil berkata begitu, Christa menjauh dariku dan menggandeng tangan Rita sambil tersenyum.
Rita sendiri tampak kebingungan, tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Sebagai calon pengawal kekaisaran, tentu ada tata krama yang harus dipelajari.
Namun.
“Tidak perlu kaku. Elna juga bersikap santai di hadapanku, ‘kan? Semua tergantung waktu dan situasi. Sekarang, bersikaplah biasa saja.”
“Ooh! Seperti yang diharapkan dari Kak Al! Mudah dipahami!”
Rita mengangguk-angguk berkali-kali dengan senyum ceria.
Dengan sikap Elna sendiri yang seperti itu, dia pasti tidak bisa memarahi Rita.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.”
Sambil mengambil sepotong kue dan memasukkannya ke mulut, aku berdiri dari tempat dudukku.
Ibu pun tersenyum kecut melihatnya.
“Tidak bisakah kamu tinggal sedikit lebih lama?”
“Nanti aku datang lagi. Setidaknya, aku ingin menyelesaikan semua salam kepulangan hari ini.”
“Kalau begitu, akan kusiapkan makan malam setelah sekian lama.”
“Masakan buatan Ibu, aku senang sekali.”
“Baiklah, jangan pulang terlalu larut.”
Sambil mengangkat bahu, aku pun meninggalkan tempat itu.
* * *
Lapisan terluar ibu kota kekaisaran.
Di sana berdiri sebuah dojo kecil.
Aku mengintip ke dalamnya dengan diam-diam.
Di dalam, seorang pria sedang melakukan ayunan pedang latihan.
“...Akhirnya tidak ada satu pun murid yang tersisa, ya.”
“Ini hari libur!”
Begitu aku bergumam pelan, pria itu langsung membantah dengan keras.
Lalu dia menoleh, dan mata kami bertemu.
“Hei, sudah lama tidak bertemu.”
“Kamu ini... setidaknya ucapkan itu dulu, dong...”
Sambil mengernyitkan dahi, Guy menghela napas.
Namun tidak lama kemudian, dia menyeringai lebar.
“Yah, sudahlah. Selamat kembali, Al.”
“Ya. Akhirnya aku terbebas juga dari jabatan Kanselir yang merepotkan itu.”
“Kedengarannya kamu berulah cukup heboh, ya? Katanya kamu membabat habis semua bangsawan yang ada.”
“Tidak separah itu. Yah, kurang lebih sih.”
“Rumornya sampai ke ibu kota. Reputasimu hancur total, tahu? Katanya kamu melampiaskan dendam Putra Mahkota kepada para bangsawan.”
“Bukan begitu. Aku hanya menjalankan tugas, sesederhana itu.”
“Kamu rajin? Jangan bercanda. Pasti itu bagian dari rencana licikmu, ‘kan?”
Begitulah teman masa kecil.
Dia benar-benar paham.
Saat aku mengangkat bahu, Guy tidak melanjutkan interogasinya dan mengganti topik.
“Ngomong-ngomong, dalam setahun ini banyak hal berubah di Kekaisaran. Kamu datang ke sini untuk mendengarnya, ‘kan?”
“Peka sekali, sangat membantu. Aku bisa saja bertanya pada Leo, tapi sudut pandangnya terlalu ‘halus’. Mendengarnya darimu jauh lebih mudah dipahami.”
Sudut pandang dari atas memang penting, tapi sudut pandang dari bawah juga tidak kalah penting.
Ada hal-hal yang tidak terlihat dari atas, dan ada informasi yang kadang tidak pernah sampai ke sana.
“Yah, aku sendiri cuma tahu sebatas rumor. Tapi setidaknya, akan kuceritakan apa yang aku tahu. Untuk sementara, perebutan takhta masih dalam keadaan buntu. Para bangsawan berpangkat tinggi di sekitar ibu kota hampir semuanya mendukung Pangeran Eric, sementara bangsawan daerah perbatasan tampaknya mendukung Leo.”
“Itu sesuai dugaan. Dari awal, sebagian besar bangsawan memang berada di pihak Eric. Mau tidak mau harus diterima.”
“Kebanyakan menteri juga condong ke Pangeran Eric. Meski begitu, kekuatannya tetap seimbang, karena Duke Kleinert dari barat, Marquis Zweig dari utara, dan Count Zimmel dari selatan, atau sekarang sudah Marquis juga. Tiga keluarga itu terang-terangan mendukung Leo. Dalam beberapa waktu terakhir, kalau bicara soal bangsawan yang benar-benar mencatat prestasi nyata, ya tiga keluarga itu. Bangsawan besar yang terkenal berpihak pada Eric, sementara bangsawan yang benar-benar berisi memilih Leo. Begitulah perebutan takhta jika dilihat dari sudut pandang rakyat jelata.”
Dengan itu, Guy mengakhiri penjelasannya tentang perebutan takhta.
Kurang lebih sesuai dengan dugaanku.
Guy hanyalah orang biasa yang tidak tahu detailnya, tapi pada dasarnya kenyataannya pun tidak jauh berbeda.
Bangsawan yang membenci perubahan berpihak pada Eric, sementara yang menginginkan perubahan memilih Leo.
Alasan mayoritas bangsawan mendukung Eric adalah karena, pada titik ini, berpihak pada Leo tidak lagi memberi banyak keuntungan.
Justru mereka yang membantu saat berada di posisi lemah itulah yang layak dipercaya.
Kini perebutan takhta telah mengerucut menjadi pilihan antara dua pihak.
Tidak memilih berarti tidak punya hari esok.
Mereka yang memiliki jabatan, meski sedikit, takut pada Leo.
Jika Leo menjadi kaisar, mereka yang sekarang tidak punya kedudukan akan naik ke posisi penting.
Saat itu, seseorang pasti harus menyerahkan tempatnya.
Pada Eric, hal itu tidak akan terjadi.
Status quo dijamin, karena Eric memang bergerak dengan cara seperti itu.
Mempertahankan atau berubah.
Keduanya punya keuntungan dan kerugiannya masing-masing.
“Lalu ada juga kabar dari Guild Petualang... markas besar mulai mengumpulkan petualang berperingkat tinggi ke pusat, dan menempatkan mereka di sekitar wilayah Kerajaan. Sepertinya mereka benar-benar waspada sejak insiden iblis setahun lalu.”
“Wajar. Kerusakannya terlalu besar.”
Awalnya, penaklukan iblis tidak diumumkan ke publik.
Namun, jumlah korban terlalu banyak untuk ditutupi.
Versi resmi guild adalah: iblis muncul di Kerajaan Peerlan dan berhasil ditaklukkan oleh petualang peringkat SS.
Namun, mungkin rakyat biasa akan menerimanya begitu saja, para petualang tidak.
Kemunculan iblis adalah insiden besar. Dalam kondisi normal, para petualang di wilayah sekitar seharusnya dimobilisasi.
Fakta bahwa beberapa petualang peringkat SS sampai dikerahkan berarti itu adalah gerakan yang telah direncanakan.
Secara alami, hal itu menumbuhkan ketidakpercayaan terhadap Kerajaan, yang menjadi panggung peristiwa tersebut.
Dan keputusan markas besar kali ini semakin memperkuat kesan itu.
Tampaknya mereka telah memutuskan bahwa tidak masalah lagi bagaimana Kerajaan memandang mereka.
“Oh ya, katanya Kekaisaran juga akan menambah jumlah petualang peringkat S. Anak-anak di cabang ibu kota akhir-akhir ini cemas, takut bakal terjadi keributan dengan Silver.”
“Tidak mungkin dia bertingkah kekanak-kanakan seperti itu.”
“Kamu bisa berkata begitu karena tidak mengenal Silver. Isi kepalanya itu anak kecil, tahu? Sama seperti Elna.”
Mendengar ucapan Guy, aku tersenyum lalu membeku.
Tidak kusangka Elna disamakan dengan Silver.
Sungguh mengecewakan.
Sambil menekan keinginan untuk membantah, aku terus menyimak cerita Guy.
Bagian 11
Setelah menyelesaikan rangkaian kunjungan salam, kembali ke istana dan makan bersama Ibu serta yang lainnya, aku sekali lagi berada di ruang takhta.
Yang berkumpul ada empat orang.
Kaisar, Kanselir, dan Pahlawan.
Hanya aku yang terasa tidak pada tempatnya, tetapi keempat orang ini memiliki satu rencana tersembunyi yang sama.
Penyelidikan atas kematian Putra Mahkota.
“Baiklah, mari kita dengarkan secara rinci.”
Ayahanda membuka pembicaraan demikian.
Alasannya sederhana.
Aku melakukan penyelidikan besar-besaran atas kematian Putra Mahkota, tetapi tidak memperoleh satu pun informasi berarti.
“Kami telah melakukan penyelidikan menyeluruh dari pihak Negara Bagian, namun tidak ditemukan hal yang mencurigakan. Tidak ada unsur perencanaan sama sekali. Saat itu, pihak Negara Bagian menjelaskan kejadian tersebut sebagai ulah bangsawan yang bertindak di luar kendali, dan memang begitulah kesimpulan penyelidikan kami. Bangsawan di wilayah perbatasan tahu adanya inspeksi Putra Mahkota dan mengincar kepalanya. Itulah hasil akhirnya.”
“Ini jadi masalah,” gumam Pahlawan, yang secara langsung memintaku melakukan penyelidikan ini.
Seharusnya, penyelidikan ini menarik perhatian ke arahku.
Namun aku tidak menemukan apa pun.
Jika begitu, semuanya jadi sia-sia.
“Meski dilakukan penyelidikan besar-besaran, tidak ada seorang pun yang bergerak. Bukannya itu berarti tidak ada hal yang perlu mereka takutkan untuk diperiksa?”
“Jadi kematian Putra Mahkota benar-benar hanya karena anak panah nyasar? Bahwa Wilhelm bisa tewas hanya karena itu?”
“Bukti situasional menunjukkan demikian,” jawab Franz atas perkataan Ayahanda.
Jika menyingkirkan perasaan pribadi, itulah satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil.
Namun.
“Kami juga sudah memeriksa para bangsawan di wilayah terpencil, tetapi tidak memperoleh informasi yang berguna. Kejadiannya sudah empat tahun lalu, jadi tidak ada bukti yang bisa disebut bukti.”
“Artinya, ada kemungkinan kita memang terlambat menyelidikinya...”
Pahlawan menyentuh dagunya, tenggelam dalam pemikiran.
Perhitungan kami meleset.
Namun, ada salah perhitungan yang buruk, dan ada pula yang justru menguntungkan.
“Meski begitu, tidak ada pergerakan dari Yang Mulia Eric. Saat Yang Mulia Leonard dan Yang Mulia Arnold terpisah, seharusnya itu kesempatan untuk menghancurkan mereka satu per satu, namun dia tidak melakukan apa pun. Selama setahun ini kami terus memantau Yang Mulia Eric, tetapi tidak ditemukan gerakan mencurigakan sedikit pun. Mungkin dia tidak terpengaruh seperti Yang Mulia Zandra dan Yang Mulia Gordon?”
“Kemungkinan itu ada, tetapi kemungkinan sebaliknya juga tetap ada. Kecurigaan tidak serta-merta hilang. Jika benar anak-anak berubah karena pengaruh dari para selir, maka di antara anak-anak yang sekarang, yang masih aman mungkin hanya Leonard dan Arnold saja.”
Ayahanda menggelengkan kepala dengan wajah tegang.
Pahlawan mengangguk setuju pada perkataan itu.
“Jika ada sedikit saja kecurigaan, percaya padanya merupakan tindakan berbahaya. Lagi pula, masalah utama kali ini bukan di sana. Ada dua alasan mengapa kami meminta Al melakukan penyelidikan. Pertama, sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian dari Leo. Dan yang kedua, jika Putra Mahkota benar-benar dibunuh, kita harus tahu penyebabnya. Perebutan takhta kini telah mengerucut menjadi pilihan antara dua pihak. Jika salah satu menang... lalu penerusnya kembali dibunuh, Kekaisaran akan runtuh.”
Mendengar kata-kata Pahlawan, Ayahanda dan Kanselir terdiam.
Benar.
Mengalihkan perhatian ke arahku masih bisa dilakukan kapan saja.
Namun tanpa tahu apa penyebab kematian Putra Mahkota, tidak mungkin menyusun langkah pencegahan.
Baik penyelidikan dari pihak Kekaisaran maupun dari pihak Negara Bagian, tidak ditemukan kejanggalan dalam kematian Putra Mahkota.
Kemungkinan besar...
Itu benar-benar kematian karena nasib sial.
Namun, jika itu rupanya pembunuhan yang disamarkan sebagai kecelakaan...
Yang berikutnya pun tidak akan bisa dihentikan.
“Justru karena ada kemungkinan perubahan sifat itulah Kakak Eric tidak bisa dipercaya. Jika begitu ceritanya, selama masih ada kemungkinan pembunuhan, kematian Putra Mahkota tidak bisa begitu saja dianggap sebagai nasib buruk. Dalam penyelidikan, kami tentu membawa serta para penyihir. Namun tidak ditemukan keanehan apa pun. Meski sudah empat tahun berlalu, jika sampai tidak ada jejak sama sekali... mau tidak mau kita harus menganggap itu dilakukan dengan cara di luar pengetahuan manusia.”
“Saya juga sependapat. Apalagi, belakangan ini makhluk-makhluk yang berada di luar nalar manusia mulai muncul di benua ini.”
“...Iblis.”
Ayahanda bergumam dengan nada lelah.
Jika kematian Putra Mahkota melibatkan iblis, maka itu adalah konspirasi yang sangat dalam.
Sebagai kaisar, pasti ada penyesalan karena merasa seharusnya dia menyadarinya lebih awal. Mungkin dia menyalahkan diri sendiri karena membiarkan Putra Mahkota mati begitu saja.
Namun, beliau tidak mungkin terus larut dalam keterpurukan.
“Jika iblis terlibat, maka segalanya menjadi mungkin...” gumam Kanselir.
Semua orang mengangguk setuju.
Memikirkannya memang terasa sia-sia.
Mereka bertarung dengan Otoritas bawaan sejak lahir.
Otoritas itu berbeda dari sihir.
Aku tahu itu karena pernah benar-benar bertarung melawan iblis. Jika mereka memiliki Otoritas yang cocok untuk pembunuhan, maka membunuh Putra Mahkota tanpa meninggalkan bukti pun bukan hal mustahil.
Itu menjelaskan mengapa penyelidikan tidak menghasilkan apa pun.
“Jika dikatakan bahwa kutukan melalui para selir juga ulah iblis, itu pun masuk akal. Hanya saja, caranya berbeda dari iblis lima ratus tahun yang lalu, dan itu yang mengganggu,” kata Pahlawan sambil menunjukkan ekspresi berpikir.
Pada dasarnya, iblis meremehkan manusia. Dan memang, mereka memiliki kekuatan untuk itu.
Namun, apakah mereka benar-benar akan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk perlahan meruntuhkan segalanya, itu masih dipertanyakan.
“Tidak ada gunanya memikirkannya lebih jauh. Faktanya, baik dari pihak Kekaisaran maupun Negara Bagian, tidak ditemukan bukti pembunuhan Putra Mahkota. Karena itu, mari kita putuskan langkah selanjutnya. Apakah rencana untuk memusatkan perhatian pada Yang Mulia Arnold akan dilanjutkan?”
Jika lawannya manusia, mungkin mengalihkan perhatian ke arahku masih ada artinya.
Namun jika lawannya iblis, itu tidak berarti apa-apa.
Jika dianggap mengganggu, mereka bisa saja membunuh kami berdua. Jika mereka mampu membunuh Putra Mahkota tanpa meninggalkan bukti, hal itu pun mungkin saja.
“Tidak ada gunanya.”
“Al hanya akan terekspos bahaya.”
Mendengar kata-kataku dan Pahlawan, Ayahanda mengangguk.
Lalu dia berkata, “Kalau begitu, kebijakan kita satu. Guild Petualang masih mencari sisa-sisa iblis dan tidak menganggap mereka telah sepenuhnya dimusnahkan. Kekaisaran akan mendukung itu dan bekerja sama sepenuhnya. Jika bertahan saja tidak cukup, maka kita akan menyerang. Kita akan mengusir iblis-iblis itu dari benua ini.”
Dengan demikian, Ayahanda menetapkan arah kebijakan.
Sekilas, itu mungkin tampak tidak jauh berbeda dari sebelumnya.
Jika ada iblis, maka dimusnahkan. Bekerja sama dengan guild.
Itu sama seperti selama ini.
Namun, tekadnya berbeda.
“Jika diperlukan, aku sendiri akan turun tangan. Aku pun tidak akan ragu menggunakan ‘Pedang Kekaisaran’.”
Dengan tenang, aku, Pahlawan, dan Kanselir menundukkan kepala.
Kaisar turun ke medan perang, itu memang memiliki makna yang sangat besar.
Namun, dalam kasus ini, yang terpenting bukanlah soal itu.
Peralatan sihir khusus keluarga kekaisaran seperti Panji Kekaisaran pada dasarnya merupakan peninggalan dari era sihir kuno.
Benda-benda berbahaya yang diaktifkan melalui kontrak darah.
Namun, Pedang Kekaisaran berada di tingkat yang sama sekali berbeda.
Yang mengembangkannya adalah seorang kaisar yang dijuluki Kaisar Penemu.
Kaisar itu adalah seorang jenius langka yang membangun Istana Pedang Kaisar. Terutama dalam hal pembuatan alat sihir, tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya. Dia memodifikasi peninggalan dari era sihir kuno yang tersimpan di perbendaharaan, lalu menciptakan senjata pemusnah yang dikhususkan bagi kaisar.
Karena tingkat bahayanya, senjata itu terus disegel, sama seperti Pedang Suci.
Dan kini, Ayahanda menyatakan dengan tegas akan menggunakannya.
Di dalam keputusan itu terkandung tekad untuk tidak mengizinkan keberadaan iblis di benua ini.
Bagian 12
Pagi di Istana Pedang Kaisar selalu dimulai lebih awal.
Itu karena Ayahanda bekerja sejak dini hari.
Jika sudah begitu, semua orang pun ikut bergerak lebih cepat.
Benar-benar merepotkan.
“Sudah pagi, Tuan Arnold.”
“Hari ini hari bermalas-malasan... jangan bangunkan aku...”
Sambil menyelimuti diri dengan selimut di atas ranjang, aku menjawab demikian.
Dari samping terdengar helaan napas Sebas, tetapi kalau kupedulikan hal semacam itu, aku tidak akan bisa menikmati kemalasan.
Di Negara Bagian, bagaimanapun juga aku pernah menjabat sebagai Kanselir. Karena tidak boleh dipandang remeh, aku berusaha menjalani hidup yang teratur dan disiplin. Namun, begitu kembali ke istana, tidak ada lagi keharusan untuk mempertahankannya.
Hari ini aku akan bermalas-malasan sepuasnya.
Dengan tekad itu, tadi malam aku masuk ke tempat tidur.
Sebagai seorang pangeran, tidak mungkin aku berubah pikiran begitu saja dari kemarin ke hari ini. Sekali memutuskan, harus kutegakkan sampai akhir.
“Kalau begitu, kira-kira kapan saya harus membangunkan Anda?”
“Saat aku bangun...”
“Begitu rupanya. Kata-kata yang sungguh mengajak berpikir.”
Dengan ekspresi tercengang, Sebas berkata demikian lalu menjauh dari ranjang.
Akhirnya, aku bisa tidur dengan tenang.
Sambil memikirkan itu, aku pun kembali tenggelam dalam kemalasan.
* * *
Sudah berapa lama waktu berlalu sejak saat itu?
Di dalam kegelapan yang dalam, aku mengambang.
Seperti berada di laut terdalam, aku hanyut perlahan di tengah kegelapan.
Saat aku menyerahkan diri pada kenyamanan itu, tiba-tiba seberkas cahaya menembus kedalaman.
Siapa!? Siapa yang berani mengganggu tidurku!?
Ketika aku membuka mata sedikit, tirai ternyata telah disingkap.
Cahaya menyilaukan pun masuk ke dalam kamar.
“Sebas... jangan buka tirainya...”
“Sayangnya, Sebas tidak ada di sini.”
Sebuah suara menggema di telingaku.
Suara yang sudah terlalu sering kudengar, dan entah kenapa terasa begitu akrab.
Sebagai perlawanan terakhir, aku menarik selimut menutupi kepala.
“Hari ini... aku mau tidur...”
“Sudah siang, lho? Cukup, ‘kan?”
“Masih siang...”
“Setengah hari sudah berlalu, tahu?”
“Masih ada setengahnya...”
“Perbedaan nilai hidup, ya.”
“Iya juga,” gumamku pelan, dan selimutku langsung ditarik paksa.
“Ah...”
“Jangan mengeluarkan suara menyedihkan begitu, cepat bangun dan sadar!”
Yang membentakku adalah Elna.
Kenapa dia ada di kamarku?
Tidak perlu dipikir panjang.
Dia datang khusus untuk membangunkanku.
Dasar iblis.
“Aku sudah menjalani hidup teratur hampir setahun, tahu...”
“Oh ya? Hebat juga. Itu kemajuan, lho.”
“Makanya hari ini kutetapkan sebagai hari bermalas-malasan...”
“Kamu sudah bermalas-malasan cukup lama. Bangun.”
Sambil berkata begitu, Elna mengarahkan ujung jarinya ke arahku, lalu membasahi wajahku dengan sihir air.
Dingin itu membuat kepalaku langsung terjaga.
“...Handuk.”
“Ini.”
Begitu aku berkata singkat, Elna melemparkan handuk ke arahku.
Setelah mengusap wajah, aku menarik napas dan menatap Elna tajam.
“Kebangkitan terburuk. Tahu kenapa?”
“Karena kamu bangun di jam seperti ini. Mulai sekarang biasakan bangun pagi.”
“Manusia itu paling benar tidur saat ingin tidur! Kenapa hal sesederhana itu tidak kamu mengerti!?”
“Aku tidak mau mengerti. Kalau begitu, kamu tidak beda dengan binatang.”
Tanpa menoleh ke arahku, Elna berkata begitu sambil membuka tirai satu per satu.
Cahaya menyilaukan memenuhi ruangan.
Terang sekali.
Mataku seperti terbakar...
“Aku sudah terluka sejak pagi... tidak bisa bergerak lagi.”
“Sudah siang. Cepat ganti pakaian.”
“Aku akan ganti baju, jadi keluar.”
“Memang itu niatku. Tapi kalau kamu tidur lagi, mulai besok aku akan datang membangunkanmu setiap hari.”
Dengan ancaman mengerikan itu, Elna keluar dari kamar.
Mengerikan sekali orang itu.
Sama sekali tidak terasa seperti manusia.
Entah dididik bagaimana sampai bisa jadi seperti itu.
Dengan pasrah aku mengganti pakaian, dan tepat pada waktunya terdengar ketukan di pintu.
Saat aku mempersilakan masuk, Elna dan Fine pun masuk.
Di tangan Fine ada nampan berisi makanan ringan.
“Selamat pagi, Tuan Al. Silakan.”
“Ah, terima kasih.”
Sambil mengucapkan terima kasih, aku langsung menghabiskan makanan ringan itu.
Lalu aku mengalihkan pandangan ke Elna yang duduk di sofa dengan sikap seenaknya.
“Aku sudah bangun. Pergilah.”
“Tidak bisa begitu. Aku ke sini memang ada urusan.”
“Kalau begitu cepat sampaikan urusannya.”
“Sebelumnya, aku akan menyampaikan soal Kesatria Pengawal. Ada dua pasukan yang dibangun kembali. Kesatria Pengawal Regu Kedelapan saat ini ditangani Finn seorang diri. Dan satu lagi, Kesatria Pengawal Regu Kesepuluh juga sudah memiliki kapten baru.”
“Yang itu sudah kutahu. Kemarin kulihat sekilas, wajahnya asing.”
“Namanya Burkhardt. Finn memang jadi kapten secara istimewa, tapi Burkhardt lolos seleksi dan diangkat sebagai kapten. Keputusan langsung di ujian tahap pertama, yang pertama sejak aku.”
Seleksi Kapten Kesatria Pengawal.
Tahap pertamanya selalu sama.
Semua peserta dimasukkan ke dalam satu arena besar dan harus bertahan tanpa masalah sampai waktu tertentu atau sampai jumlah peserta tersisa mencapai batas tertentu.
Semua orang di sekeliling adalah rival.
Masalahnya, mereka yang ada di sana adalah kesatria pengawal aktif atau orang-orang dengan kekuatan setara.
Yang dibutuhkan bukan hanya kekuatan.
Kecerdikan untuk menahan diri dan tidak menjadi sasaran kelompok juga sangat penting.
Begitu dianggap berbahaya, para rival bisa langsung bersekutu.
Ya, memang ujian semacam itu.
Namun, kadang ada orang yang menyelesaikan semuanya dengan kekuatan murni.
Bukan hanya mencapai jumlah tertentu, dia menjatuhkan semua peserta lain dalam sekejap, membuat ujian berikutnya tidak diperlukan.
“Bagus kalau kapten kesatria pengawal itu orang kuat. Lalu? Siapa yang mengirim monster seperti itu?”
“Perekomendasinya adalah Yang Mulia Eric. Nama lengkapnya Burkhardt von Altenburg. Katanya dia anak luar nikah dari keluarga Duke Altenburg.”
“Ya ampun...”
Keluarga Altenburg rupanya juga menyiapkan kartu tersembunyi yang bukan main.
Di situasi seperti ini, mereka menyusupkan anak luar nikah yang unggul dalam seni bela diri ke Kesatria Pengawal.
“Kalau kamu melawannya, bagaimana hasilnya?”
“Aku yang menang. Jelas. Tapi kalau selain aku, aku tidak tahu.”
“Separah itu?”
“Selain aku” maksudnya adalah para petarung kuat di sekelilingnya.
Direkomendasikan Eric, anak luar nikah keluarga Altenburg.
Jika konflik semakin memanas, bentrokan bisa saja terjadi.
Tentu saja, kapten Kesatria Pengawal hanya bergerak atas perintah kaisar, tetapi kami tidak bisa menyoroti hal itu secara terbuka.
Karena Elna bekerja sama dengan kami.
Meskipun tidak sepenuhnya, kerja samanya nyata. Jika kami memanfaatkannya untuk membatasi gerak pihak lawan, justru kami sendiri yang akan dirugikan.
“Benar-benar merepotkan.”
“Yah, itu cuma tambahan saja. Alasan aku datang hari ini adalah sebagai perantara.”
“Sebagai perantara?”
“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu secara pribadi. Bagaimana?”
Mendengar pertanyaan Elna, aku kembali menghela napas.
Pewaris Keluarga Pahlawan, Kapten Kesatria Pengawal Regu Ketiga, pemanggil Pedang Suci.
Semua gelar Elna itu luar biasa.
Jika orang yang meminta perantara melalui Elna adalah pihaknya, berarti orang itu juga bukan sosok sembarangan.
“Langsung masalah lagi, ya.”
“Itu aku tidak tahu.”
Dengan sikap tidak bertanggung jawab, Elna menjawab begitu.
Namun, Elna pasti tidak akan memperkenalkan orang yang tidak bisa dipercaya.
Dengan pertimbangan itu, aku pun mengangguk pelan.




Post a Comment