Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Omake
Cerita ini mundur ke hari setelah Satoru memeluk dan menemani Kusuri tidur agar ia bisa beristirahat.
Kembali ke laboratorium, Kusuri memutar bahunya hingga terdengar bunyi gemeretak sendi. Ia duduk di kursinya, tepat di depan komputer. Berkat tidur selama 10 menit, otaknya terasa sangat segar. Tanpa perlu memikirkan harus mulai dari mana, langkah selanjutnya muncul secara alami di benaknya.
"Ternyata, menjalani hidup yang teratur jauh lebih logis dan efisien daripada memaksakan diri begadang ya..."
Ia bergumam sambil mencela diri sendiri. Padahal itu hal yang sangat jelas, namun belakangan ini pandangannya begitu sempit sampai-sampai ia melupakan dasar tersebut.
(Mulai sekarang, aku harus memastikan untuk beristirahat dengan benar.)
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu jemarinya mulai menari di atas keyboard. Ia memulai kembali penelitian ramuan peremaja itu.
......Yah, sampai di situ semuanya berjalan lancar. Namun...
"Oi! Kau sama sekali tidak berubah, kan!?"
Pukul satu dini hari, Satoru datang membentak setelah melihat lampu laboratorium yang tak kunjung padam. Namun, Kusuri tidak bereaksi. Ia tetap memunggungi Satoru, terdiam menghadap layar komputer.
"......Oi, Kusuri?"
Satoru yang menyadari ada yang aneh dengan Kusuri, menghampirinya.
Kusuri mengetik di keyboard dengan ekspresi datar, memasukkan rumus perhitungan yang rumit tanpa sepatah kata pun. Gerakan jarinya sangat presisi dan tanpa cela, persis seperti mesin. Bahkan saat dipanggil, ia sama sekali tidak menoleh.
"Kusuri? Woi? Hei?"
Dipanggil dan dilambaikan tangan tepat di depan wajahnya pun tidak ada respon. Satoru mulai merasa cemas. Setelah bimbang, ia memutuskan untuk memeluknya dari belakang.
"............"
Masih tidak ada respon selama beberapa saat. Namun, saat tatapan matanya sedikit bergerak, memeriksa lengan yang memeluknya, lalu melihat wajah Satoru di belakangnya, saat itulah kesadarannya kembali dan wajahnya seketika berubah merah padam.
"Se-, Sensei!? Ke-, kenapa, apa yang terjadi!?"
"Harusnya aku yang bertanya begitu. Kau tahu sekarang jam berapa?"
"Eh? Masih sekitar siang, kan... Jam satu dini hari!?"
Kusuri benar-benar terkejut saat melihat jam. Ia bangkit berdiri secara refleks—mungkin karena rasa lelah yang tertahan selama ini muncul, keseimbangan tubuhnya hilang dan ia nyaris terjatuh. Satoru segera menangkapnya.
"A-, ada apa...? Tadi aku tidak merasakan apa pun, tapi tiba-tiba tubuhku..."
"Kau terlalu fokus bekerja. Duduk dan tunggulah sebentar, aku akan beli minuman di mesin penjual otomatis."
Satoru menyuruh Kusuri duduk dan berlari membeli minuman. Saat ia memberikan minuman olahraga, Kusuri meminumnya dengan lahap. Mungkin dia bahkan tidak minum air sama sekali selama ini. Botol plastiknya kosong dalam sekejap.
"Ini benar-benar di luar dugaan..."
Zone atau kondisi fokus tingkat tinggi—mungkin istilah itu yang umum digunakan orang-orang. Kondisi di mana semua gangguan pikiran lenyap dan seseorang bisa mengeluarkan 100% kemampuannya.Namun, itu tidak selalu membawa dampak positif. Seseorang yang masuk ke dalam zone sering kali tidak menyadari tanda-tanda nyeri atau kelelahan pada tubuhnya sendiri karena fokus yang terlalu tinggi.
Ini bukan hal yang sepele. Sering dilaporkan kasus peneliti, penulis, atau seniman yang kelelahan hingga meninggal dunia karena mereka terlalu asyik bekerja sampai melampaui batas tubuhnya.
Jika dibiarkan terus seperti ini, Kusuri dalam bahaya. Satoru pun mengambil sebuah keputusan.
"......Kusuri, mulai hari ini kau harus tinggal di rumahku."
"Eh?"
Kusuri memiringkan kepalanya, mungkin dia tidak mengerti maksud ucapan tersebut.
"Mulai hari ini kau tinggal bersamaku untuk sementara, dan aku yang akan mengatur pola hidupmu."
"......Hah!?"
Setelah melapor kepada ketua yayasan bahwa ia akan merawat Kusuri di rumah, permintaannya langsung disetujui dengan mudah.
...Suara di telepon terdengar sangat jahil dan berkata, "Saya menantikan kabar baiknya." Dia mungkin bermaksud jahil dalam berbagai hal, tapi Satoru memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu dalam. Bagaimanapun juga, Satoru membawa Kusuri pulang ke apartemennya.
...Seorang guru laki-laki membawa siswi SMA ke rumahnya tengah malam seperti ini jelas merupakan tindakan yang bisa dilaporkan polisi, tapi Satoru memilih untuk tidak memedulikannya.
"Pe-, permisi..."
Kusuri mengikuti Satoru masuk ke dalam ruangan. Suaranya terdengar sangat kaku, dan saat Satoru menoleh, Kusuri tampak tegang bukan main.
"Kau kan sudah sering ke sini, tidak perlu setegang itu."
"I, ini pasti tegang lah! Soalnya..."
Kusuri menggantung kalimatnya dan bersikap gelisah. Wajahnya merona, matanya tak tentu arah, lalu ia bergumam dengan suara kecil.
"Karena aku menginap di rumah pria yang kusukai..."
Mendengar kata-kata itu, Satoru sempat terdiam saat melepas sepatunya. Namun, ia segera melanjutkan aktivitasnya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa pun."
"......Padahal aku ingin kau melakukan sesuatu."
Pletuk, Satoru mengetuk kepala Kusuri pelan. Sambil berpura-pura tenang agar tidak terlihat gugup, ia memarahi Kusuri yang tertawa malu-malu karena godaannya.
"Ah, bolehkah aku pinjam kamar mandinya dulu?"
"Ya, silakan."
"......Mau mandi bersama?"
"Ya mana mungkin lah!"
"Ya, aku tahu itu..."
Kusuri mungkin sudah tahu dia akan ditolak. Tanpa merasa terlalu kecewa, ia langsung menuju kamar mandi.
Setelah sosok Kusuri menghilang, Satoru menghela napas lega.
(...Kenapa aku jadi gelisah begini?)
Namun, detak jantungnya tetap berdegup kencang.
Dulu, dia mungkin bisa menganggap enteng hal semacam itu. Tapi, beberapa hari yang lalu ia sendiri telah menyatakan, "Kalau kau sudah dewasa, aku akan memperlakukanmu sebagai seorang wanita."
Singkatnya, dia telah mengakui bahwa di masa depan ada kemungkinan ke arah sana. Pengakuan itu ternyata memberi dampak yang lebih besar pada hatinya daripada yang ia duga.
Kusuri tetaplah murid yang berharga, itu tidak berubah. Namun, pada saat yang sama, ia harus mengakui bahwa dirinya mulai memandang Kusuri sebagai lawan jenis.
──Untuk saat ini, mari tenang dulu.
Setidaknya dia harus membeli barang-barang yang diperlukan. Meski nanti bisa saja Kusuri kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barang lainnya, setidaknya sikat gigi dan perlengkapan mandi wanita harus ada. Bahan makanan di rumah pun tidak banyak. Ia ingin membelikan sesuatu yang lebih bergizi untuknya.
Untungnya, ada minimarket 24 jam tak jauh dari sana.
"Kusuri, aku pergi ke minimarket sebentar untuk membeli barang yang perlu."
"Iya~"
Begitulah, Satoru keluar dari ruangan.
"......Apa yang dilakukan anak ini?"
Setelah selesai belanja dan kembali ke apartemen, ia mendapati Kusuri tertidur di tempat tidur sambil memeluk bantal.
Itu saja sebenarnya tidak masalah, tapi entah mengapa, dia hanya mengenakan kemeja putih milik Satoru. Bagian dadanya terbuka longgar, memperlihatkan tulang selangka yang ramping di sela-selanya. Lengan kemeja itu jauh lebih panjang, membuatnya tampak kedodoran seperti anak kecil yang meminjam baju orang dewasa.
Namun, saat melirik ke bagian bawah, ujung kemeja itu hanya sampai di pertengahan paha. Kaki yang putih dan tampak lembut terpampang dengan bebas.
......Jika dia sedikit saja berguling, ada banyak hal yang bisa terlihat.
"......Di mana dia belajar soal kemeja pacar seperti ini?"
Sambil menghela napas, ia menyadari suara mesin cuci yang berputar.
Sepertinya dia langsung melemparkan semua pakaiannya ke dalam mesin cuci. Ini juga kesalahannya karena tidak menyiapkan piyama, tapi...
(Tetap saja, ini terlalu terbuka.)
Seorang gadis tidur di tempat tidur pria, hanya dengan kemeja kebesaran. Ini sama saja dengan meminta untuk "diserang".......Atau mungkinkah dia sengaja menggoda? Pikiran itu sempat terlintas di sudut kepala, tapi segera ia tepis.
Apa pun itu, melihat ini lebih lama hanya akan jadi racun bagi matanya. Agar tidak terbangun, ia perlahan menyelimuti Kusuri. Kusuri tersenyum tipis dalam tidurnya.
"Ehehe... Senseeei... munyu-munyu..."
Entah mimpi apa yang sedang ia alami, ia membenamkan wajahnya ke bantal sambil mengigau dengan bahagia.
"Ah... ja-, jangan begitu, Sensei, di sekolah..."
──Beneran mimpi apa sih dia ini.
Sambil tersenyum kecut, Satoru menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Kusuri.
......Masa muda itu hal yang luar biasa. Masa depannya memiliki kemungkinan yang tak terbatas. Tugasnya sebagai guru adalah memastikan murid-muridnya bisa merentangkan sayap dan terbang sejauh yang mereka inginkan....Bukan untuk membelenggunya dengan rantai atau mengurungnya di dalam sangkar burung.
Kepala yayasan telah menyediakan lingkungan bagi mereka untuk bebas terbang. Walaupun banyak hal yang ingin ia protes, setidaknya untuk poin itu ia sangat berterima kasih.
Tiba-tiba, ia teringat masa lalunya sendiri dan tersenyum kecut.
"Baiklah, aku juga harus melakukan apa yang bisa kulakukan."
Ia duduk di depan komputer dan mengakses server sekolah. Memanggil data penelitian Kusuri.
......Yah, sudah bisa ditebak, berantakan sekali.
Nama filenya tidak beraturan tanpa kesatuan. Tidak ada folder yang rapi sama sekali. Kusuri biasanya cukup teratur, tapi jika sudah tenggelam dalam penelitian, kerapian menjadi nomor dua.
Satoru melihat isinya. Hanya sekitar 10% yang ia pahami. Lebih tepatnya, ada jawaban yang ditulis langsung tanpa langkah pengerjaan, atau tulisan yang tampak seperti kode rahasia.
Mungkin tidak ada orang lain selain Kusuri yang bisa memahaminya dengan sempurna. Namun, ia berusaha menguraikannya, mengubah nama file agar sesuai, dan memilahnya ke dalam folder yang rapi.
Kusuri adalah seorang jenius. Sebagai orang awam, hanya ini yang bisa ia lakukan, tapi ia ingin membantu dengan apa pun yang ia bisa.
Sambil sesekali melirik Kusuri yang tidur dengan napas teratur, ia terus merapikan file dan melampirkan data terkait.
Satoru terus melakukan pekerjaan itu hingga langit mulai memutih.
†
Pagi hari. Sambil mengernyitkan wajah karena cahaya yang masuk melalui jendela, Kusuri perlahan bangkit.
Saat ia menggosok matanya yang mengantuk dan mengedarkan pandangan, hal pertama yang terlihat adalah sosok Satoru yang tertidur di sofa. Sepertinya dia sangat lelah sampai tertidur pulas. Lalu, di atas meja, terdapat sarapan sederhana yang ditutup plastic wrap beserta secarik catatan.
"Data sudah kususun. Materi yang kelihatannya perlu sudah kulampirkan."
Deretan daftar perubahan yang ia buat. Kusuri mengerjapkan mata dan menyalakan komputer. Data penelitian yang tadinya berserakan kini tertata rapi dalam folder-folder. Bahkan materi terkait sudah ditautkan dengan rapi, ini benar-benar sangat membantunya.
"...Sensei sering bilang aku ini jenius, tapi Sensei juga luar biasa, ya."
Ia tersenyum kecil dan bergumam. Dia sadar bahwa dirinya adalah seorang jenius yang berbeda dari orang lain. Namun, Satoru bisa membantunya meski bukan jurusan farmasi. Mungkin karena di Akademi Reimei semuanya adalah anak jenius, Satoru jadi tidak sadar, tapi Satoru pun sebenarnya setara dengan mereka.
Saat ia melihat waktu pembaruan terakhir di layar, angka satu jam yang lalu terpampang di sana. Sarapan yang disiapkan pun masih hangat, jadi Sensei baru saja berhenti bekerja.
"Astaga... padahal bilang jangan memaksakan diri, tapi Sensei sendiri yang terlalu memaksakan diri?"
Sambil menghela napas antara kesal dan sayang, Kusuri berjongkok di depan sofa tempat Satoru tidur. Ia menusuk-nusuk pipinya dengan ujung jari.......Tidak ada respon. Dia pasti tidur sangat nyenyak sampai alisnya pun tidak bergerak.
"............"
──Mungkinkah ini kesempatan emas?
Tiba-tiba ide itu muncul di benaknya.
(Ka-, kalau sekarang, mungkin aku bisa... berciuman...)
Sambil merasakan pipinya memanas, Kusuri perlahan mendekatkan wajahnya. Jarak di mana napas Satoru bisa terasa di pipinya. Dengan jantung yang berdebar kencang, Kusuri perlahan memejamkan mata. Namun, sesaat sebelum bibir mereka bersentuhan—ia tersenyum tipis dan mencium dahi Satoru saja.
"Ciuman pertamanya... aku simpan sampai ramuan peremajanya selesai nanti ya."
Bisiknya sambil menjauhkan wajah.
Dia dan Satoru akan menghabiskan masa muda terbaik mereka. Sayang sekali jika ciuman pertamanya dihabiskan dengan cara seperti ini. Lagi pula, karena ia sudah berhasil membuat Satoru mengakui bahwa "ada kemungkinan menikah di masa depan," ia ingin Satoru sendiri yang memintanya kelak.
Sambil tetap menyembunyikan wajahnya yang tersenyum geli, ia menyantap sarapan yang telah disiapkan hingga habis. Ia melakukan sedikit peregangan, lalu duduk di depan komputer.
"Baiklah, mari kita mulai."



Post a Comment