Epilog
Langkah Pertama Menuju Impian
Seluruh Ancient
Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk muda berbaris, duduk bersimpuh di atas tanah.
Awalnya mereka
masing-masing menunjukkan perlawanan, tetapi setelah dikalahkan berkali-kali,
mereka tampaknya menyadari celah kekuatan di antara kami, dan sekarang mereka
cukup penurut.
"A-Aku
belum... selesai..."
"Aku juga...
masih bisa... bertarung..."
Yah, itu
pengecualian untuk pemimpin mereka masing-masing.
"Mana
sudi Ancient Dragonfolk yang bangga sepertiku... kalah dari... orang asing
ini..."
"O Leluhur Fierce Ogre yang agung... Pinjamkan aku
kekuatanmu..."
Keduanya seharusnya terluka cukup parah, tetapi melihat
mereka terbaring di tanah sambil melotot ke arahku memberikan pemandangan yang
cukup intens. Terlepas dari kondisi
mereka, aku merasa mereka sedikit menyeramkan.
"Hei,
Tailtiu, apa kamu tahu nama mereka?" tanyaku.
"Ini Gram,
dan itu Gyes," jawabnya.
"Begitu ya,
jadi Gram dari Ancient Dragonfolk dan Gyes dari Fierce Ogrefolk."
Meskipun
sepertinya mereka tidak akan bisa bangkit dalam waktu dekat, dengan besarnya
kekuatan yang mereka miliki, masuk akal jika mereka menjadi pemimpin kelompok
masing-masing.
Mereka pasti
masih dalam tahap pertumbuhan, tapi suatu hari nanti mereka mungkin akan
menjadi sekuat Elga.
"Omong-omong,
kenapa kalian berdua bertarung?" tanyaku.
Masih
terbaring di tanah, mereka saling melotot dalam diam sejenak sebelum
memalingkan muka.
Sepertinya
mereka tidak sedang dalam suasana hati untuk menjawabku.
Aku
sempat berpikir untuk bertanya kepada yang lain, tetapi kemudian Tailtiu
menarik ujung kemejaku.
"Orang
dewasa Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk sama-sama menyuruh mereka
bertarung agar menjadi lebih kuat," katanya.
"Begitu
ya..."
Aku
dengar dari Elga kalau hubungan mereka buruk, tapi ternyata mereka awalnya
mulai bertarung karena disuruh oleh orang dewasa?
"Biar
kutebak: Begitu mereka benar-benar mulai bertarung, mereka jadi sungguhan
saling membenci?"
"Benar..."
"Hei!
Tailtiu, dasar pengkhianat!" potong Gram.
"P-Pengkhianat?!
Kalian bahkan tidak membiarkanku ikut bertarung bersama!"
"Kamu
sudah tahu siapa Leluhurmu, jadi ini tidak ada hubungannya denganmu!"
"B-Benar,
sih... tapi... aku tetap ingin ikut..."
Dengan lesu,
Tailtiu menundukkan kepalanya.
Kenyataan bahwa
dia tidak membalas ucapan itu seolah menyiratkan ada alasan mengapa mereka
mengecualikannya.
Aku sempat
mengira itu hanya karena dia terlalu kuat dan membuat pertarungan jadi tidak
adil, tapi rupanya bukan itu saja.
"Hei, apa
maksudnya dengan 'tahu Leluhurmu'?" tanyaku.
"Kamu tahu
kan kalau aku adalah Ancient Dragonfolk yang Leluhurnya adalah Bahamut,
Sayang?"
"Iya,
lagipula kamu selalu mengatakannya."
Saat pertama kali
kami bertemu, dia mengatakan sesuatu seperti, "Namaku Tailtiu! Leluhurku
adalah Divine Dragon Bahamut, dan aku adalah Naga Kuno terkuat di pulau
ini!" Penduduk pulau ini umumnya menyebutkan keturunan siapa mereka saat
memperkenalkan diri.
"Kalau untuk
Divine Beastfolk, Leluhur Elga adalah Fenrir, Livia adalah Leviathan, dan Gaius
adalah Behemoth, kan?" kataku.
"Benar... Kamu mungkin tidak tahu ini karena kamu lebih
sering bertemu orang dewasa, tapi mereka yang belum bangkit kekuatannya
sebenarnya tidak tahu mereka keturunan siapa."
"Oh, begitu. Jadi itu sebabnya Luna tidak menyebutkan
siapa Leluhurnya."
Dengan pengetahuan video game-ku, aku berasumsi dia adalah
rubah ekor sembilan atau semacamnya, tapi rupanya dia sendiri memang belum
tahu.
"Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk sangat
menghargai kekuatan, jadi sudah menjadi tradisi bagi mereka untuk berulang kali
bertarung seperti ini agar menjadi lebih kuat dan mewarisi nama Leluhur mereka,
tapi..."
"Itulah sebabnya tidak benar bagimu untuk ikut campur
dalam pertarungan kami, karena kamu sudah bangkit dan mewarisi nama Leluhurmu
sebelum kami!" kata Gram.
"Benar.
Kami tidak hanya bertarung untuk bersenang-senang," tambah Gyes.
"Hmm..."
gumamku.
Bagaimanapun,
sekarang aku mengerti situasinya.
Mereka
bertarung untuk membangkitkan dan mempelajari nama Leluhur mereka, jadi
kehadiran Tailtiu yang sudah bangkit jelas membuat mereka tidak nyaman.
Mereka
tidak sekadar bertarung untuk kesenangan.
Ternyata ada
alasan sah untuk mengecualikan Tailtiu selain karena dia terlalu kuat.
"Tapi kamu
ingin bergabung, kan, Tailtiu?" kataku.
"Iya... Aku
tidak suka dikucilkan oleh semua orang dan disebut penyendiri..."
Aku berjongkok,
agar garis mataku sejajar dengan dua orang yang merayap di tanah itu.
"Kalian
dengar dia, kan? Bagaimana kalau kalian membiarkannya ikut?"
"Apa kamu
mendengarkan tadi?! Kukatakan ini bukan urusannya!"
"Jika kami
membiarkannya ikut, itu hanya akan berakhir dengan dia menghancurkan kami
semua. Membangkitkan dan mewarisi nama Leluhur itu terlalu signifikan..."
"Hah? Tapi,
tahu tidak..."
Aku merendahkan
suaraku hingga tidak terdengar oleh Tailtiu dan yang lainnya yang duduk di
dekat situ, lalu berbisik, "Bukankah kalian berdua sebenarnya sudah tahu
nama Leluhur kalian?"
Gram dan Gyes
menatapku dengan ekspresi kaku, begitu terkejut hingga mereka kehilangan
kata-kata. Aku tersenyum lebar pada mereka.
"Aku tidak
tahu alasan kalian, tapi apa kalian benar-benar yakin apa yang kalian lakukan
ini baik-baik saja?"
"Ah, uh, apa..."
"Ngh, hng..."
"Dengar, aku teman Tailtiu, jadi aku ingin melihat
senyum di wajahnya."
Dia sudah seperti adik perempuan yang menggemaskan, menempel
padaku sejak pertama kali kami bertemu.
Dia bersikeras bahwa dia adalah istriku, tapi yah, itu tidak
penting sekarang.
Melihatnya selalu ceria dan penuh energi membuatku bahagia
juga. Jadi, aku tidak ingin membiarkannya merasa kesepian.
"Sayang?" panggil Tailtiu.
"Kami bertiga akan mengobrol sebentar, jadi tunggu
sebentar, ya? Oh, dan kalian semua boleh duduk santai."
Aku mencengkeram bahu Gram dan Gyes, lalu mengangkat mereka
untuk menjauh dari yang lain.
Penduduk pulau ini memiliki segala macam kemampuan luar
biasa, jadi aku bergegas menuju tempat yang kupastikan kami tidak akan
terdengar.
"Nah sekarang, kenapa kalian tidak memberitahuku apa
yang sebenarnya terjadi?"
"Ngh?!" mereka mendengus serempak.
"Aku akan menegaskan ini dulu: Jangan berbohong, oke?
Jika aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu... aku akan memberitahu rahasia
kalian kepada semua orang."
"A-Aku
mengerti! Aku sudah mengerti!" kata Gram.
"Jangan
beritahu mereka, aku mohon padamu!" seru Gyes.
Lalu, saat aku
mendesak mereka, ternyata itu bukan masalah besar sama sekali.
Rupanya, mereka
melihat bagaimana yang lain memperlakukan Tailtiu, tetapi mereka masih ingin
bertarung dan takut akan diusir juga jika rahasia mereka ketahuan.
"Jadi begitu
ceritanya..."
Orang dewasa tahu
betapa hebatnya kekuatan mereka, jadi mereka memastikan untuk tidak
menggunakannya secara sembarangan.
Di sisi lain,
anak-anak akan mengusir mereka berdua karena dianggap berbeda.
Gram dan Gyes
memiliki kekuatan yang melimpah dan mereka ingin terus menggunakannya, tetapi
mereka tidak mau kehilangan kesempatan itu selamanya.
Pada akhirnya,
mereka tetaplah anak-anak.
"Jadi,
kalian merahasiakan bahwa kalian sudah bangkit, dan kalian menekan kekuatan
kalian saat bertarung bersama yang lain, begitu?"
Mereka diam.
Aku bisa memahami
perasaan mereka, walau hanya sedikit. Jika seorang siswa tiba-tiba menjadi
orang dewasa yang bekerja keesokan harinya, tidak akan mudah bagi mereka untuk
melepaskan semua yang mereka nikmati hingga saat itu.
Mereka berdua
pasti tidak sanggup menerima kenyataan harus meninggalkan teman-teman mereka.
"Tapi saat
kamu menutupi kebohongan dengan lebih banyak kebohongan, kamu akan kehilangan
jati dirimu yang sebenarnya," kataku.
Gram akhirnya
berkata, "Aku sudah tahu."
"Ya... Dan
kami sadar bahwa hal ini tidak bisa berlanjut selamanya," tambah Gyes.
Mereka
berdua mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Mereka
pasti tidak menyangka bahwa perlakuan mereka terhadap Tailtiu akan berbalik
merugikan mereka.
Itulah
sebabnya mereka begitu bimbang sekarang.
Namun
menilai dari betapa menyesalnya mereka, aku tahu bahwa, seperti Tailtiu, mereka
tidak bermaksud jahat.
"Baiklah!
Gram, Gyes, ayo kita lakukan!"
◇
Beberapa hari
kemudian. Cahaya berkilat, bumi terbelah, dan langit bergetar. Membangkitkan
kekuatan Leluhur berarti berada di kelas tersendiri, di atas semua makhluk
tingkat Calamity lainnya di pulau ini.
"Namaku Gram, dan Leluhurku adalah Fafnir! Terimalah
iniiii!"
Gram dalam wujud naganya menembakkan seberkas cahaya, yang
melesat ke arahku saat aku melayang di langit.
Kekuatannya berada di tingkat yang sama sekali berbeda
dibandingkan dengan tembakan lain yang pernah mengenaiku sebelumnya; kupikir
itu mungkin akan terasa sedikit sakit jika aku diam saja dan menerimanya
mentah-mentah.
Jadi aku menjulurkan tangan ke depan dan menangkapnya, dan
lenganku sedikit terdorong ke belakang.
"Oh? Tidak
sekuat Gaius, tapi kurasa ini masih cukup intens?" kataku.
"Itulah yang
kukatakan! Kenapa kamu bisa menghentikannya hanya dengan mengangkat tangan?!
Kamu kuatnya nggak ngotak, Bro!"
"Yah,
beginilah aku..."
Sayangnya, aku
mulai mengerti mengapa semua orang akhir-akhir ini sering berkata, "Yah,
namanya juga Arata." Itu adalah kalimat yang cukup praktis.
"Hnnnoooaahhhh!
Nama Leluhur agungku adalah Hecatoncheir! Ingatlah dalam ingatanmu kekuatan
Raksasa Bertangan Seratus!" raung Gyes, cukup keras hingga membuat langit
bergema.
Gyes berada dalam
wujud raksasanya, yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, dan lengan yang
tak terhitung jumlahnya sekarang tumbuh dari punggungnya.
Dia
bersiap melemparkan bongkahan batu besar ke arahku.
"Padahal,
sebenarnya, itu lebih cocok disebut gunung," kataku.
Itu
adalah bongkahan batu yang sangat masif, sepertinya dipanggil dengan sihir.
Saat dia
melemparkan puluhan batu itu ke arahku, aku menangkap salah satunya.
"Bagaimana
kamu bisa menangkapnya dengan mudah begitu, Kak?!"
"Oh, jangan
khawatirkan itu. Nih, kukembalikan padamu!"
Aku melemparkan
kembali batu itu ke arah Gyes di tanah.
Dia
berhasil menangkapnya, meski sambil berteriak.
"Hnwaaaahhh?!
Kamu monsteeeeerrr!"
"'Monster'
itu kejam sekali..."
Tetap saja,
mungkin itu bisa dimengerti melihat kehancuran saat ini.
Semua Ancient
Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk selain Gram dan Gyes sudah terkapar di tanah dan
tidak berdaya.
Bahkan dua orang
yang tersisa pun belum berhasil memberikan kerusakan padaku.
Di mata mereka,
aku adalah monster sejati.
"Tapi tetap
saja..."
"Sayang!"
teriak Tailtiu. "Terimalah iniiii!"
"Aku senang
kamu merasa lebih baik, Tailtiu."
Dalam wujud
naganya, Tailtiu sedang mengisi semacam bola energi hitam di mulutnya.
Kekuatannya jauh
lebih besar daripada serangan Gram atau Ancient Dragonfolk lainnya, dan di
dalamnya aku merasakan ancaman yang sama seperti yang kurasakan dari Mina atau
Suzaku.
"Haruskah
aku menghindar?" tanyaku pada diri sendiri.
Tapi jika aku
melakukannya, dia mungkin akan menangis dan berkata, "Kenapa cuma punyaku
yang tidak kamu tangkap?"
Saat aku
memikirkan itu, Tailtiu sepertinya selesai mengisi energi, dan langit yang
cerah tertelan oleh kilatan cahaya hitam.
Pandanganku
menjadi gelap gulita, dan kulitku terasa perih; ini adalah kekuatan yang belum
pernah kurasakan hingga sekarang.
"Yah,
setelah semua itu, aku tidak terluka."
"Sayang,
kamu benar-benar nggak adiiiilll!"
Aku
seketika mendekati Tailtiu yang baru saja selesai menembakkan serangannya, lalu
memegang ekornya dan membantingnya ke tanah dengan lemparan bahu satu tangan.
◇
Sepuluh
menit kemudian, aku menjemput Gram dan Gyes yang sempat kukubur di dalam tanah
dengan seranganku, dan kami melakukan evaluasi.
"Ada
apa sih dengan orang ini?!"
"Apa
menurutmu dia mungkin lebih kuat dari para tetua?!"
"Apa memang
perlu sampai menguburku di tanah?!"
"Iya,
Sayangku memang luar biasa!"
"Luar
biasa? Lebih tepatnya abnormal. Ada yang salah dengan kepalanya, belum lagi
tubuhnya..."
Aku
merasa lebih banyak dari mereka yang meluapkan amarah atas betapa tidak masuk
akalnya aku daripada melakukan evaluasi, tapi yah, itu tidak terlalu penting.
Baik
Ancient Dragonfolk maupun Fierce Ogrefolk kini mengesampingkan perbedaan mereka
dan bersatu, menganalisis cara melawan lawan yang tidak adil—yaitu aku—di masa
depan.
Tailtiu
juga ada dalam lingkaran itu, dan melihatnya aktif memberikan pendapat
membuatku merasa seperti orang tua yang melihat anaknya di dalam kelas.
"Semuanya
berjalan dengan sangat lancar ya?"
Tailtiu
telah dikucilkan oleh yang lain karena dia terlalu kuat dan sudah membangkitkan
kekuatannya.
Gram dan
Gyes kemudian menyembunyikan kekuatan mereka karena tidak ingin berakhir
seperti dia. Saranku kepada mereka adalah: Lawan saja seseorang yang jauh lebih
kuat.
"Lagipula
akan sia-sia jika aku tidak menggunakan tubuh ini untuk sesuatu."
Mereka awalnya
bertarung untuk membangkitkan kekuatan Leluhur dan menjadi dewasa.
Itu berarti tidak
ada kebutuhan khusus bagi lawan mereka untuk menjadi Ancient Dragonfolk atau
Fierce Ogrefolk secara spesifik.
Beruntung,
seorang dewa memberiku tubuh yang sepertinya kebal ini, jadi mereka bisa
menggunakan kekuatan mereka padaku sesuka hati.
Awalnya, kedua
kelompok itu ragu-ragu untuk mengerahkan segalanya pada seseorang yang bahkan
bukan rival mereka, tetapi setelah membiarkan mereka menyerangku berkali-kali,
mereka mulai mengerti: Oh, tidak peduli seberapa banyak kita memukulnya,
kita tetap tidak bisa berbuat apa-apa...
Meski begitu,
tidak ada dari mereka yang menyerah, dan mereka terus mencari cara untuk
melawanku. Aku berasumsi itu adalah sifat rasial khusus milik mereka.
Namun begitu
mereka mengerti betapa mustahilnya aku, mereka semua mulai bekerja sama untuk
melawanku.
Sementara itu,
Gram dan Gyes berpura-pura baru saja bangkit di tengah semua kekacauan itu.
"Dan
anak-anak itu tidak bisa melakukannya sendirian, jadi Tailtiu ikut bergabung
dalam pertarungan juga..."
Bahkan dengan
adanya Tailtiu di sisi mereka, mereka tetap tidak bisa menjatuhkanku, tetapi
sepertinya semua perasaan buruk di antara mereka telah sirna.
Dia tampak
bahagia saat menyahut dengan lantang bersama semua orang; aku tidak bisa
membayangkan ada orang yang memanggilnya penyendiri lagi.
Reina dan Luna
kemudian muncul dari kedalaman hutan. Aku menyuruh Reina pergi untuk
menghindari terkena penyakit mana selama pertarungan besar tadi.
"Apa kalian
sudah selesai, Arata?" tanya Reina.
"Iya. Mereka
sedang rapat sekarang," jawabku.
Dia terdiam
sejenak, lalu berkata, "Kedengarannya lebih seperti keluhan tentang betapa
konyolnya dirimu daripada sebuah rapat."
"Apa mereka
membencimu?" tanya Luna.
"Tidak,
mereka hanya sedang melakukan percakapan konstruktif bersama tentang cara
mengalahkan musuh yang kuat."
Aku lebih suka
kalau kamu tidak mengatakan hal-hal yang menyakitkan seperti itu. Tubuhku
mungkin kebal, tapi hatiku terbuat dari kaca.
Tapi saat
aku mengulanginya dengan lantang, mereka berdua tampak jengkel.
"Sepertinya
tidak serapuh itu menurutku," kata Reina.
"Iya, kamu
cukup tidak tahu malu, Tuan Arata," kata Luna.
Aku terdiam.
"Aneh sekali..."
Mungkin rapat
lain dengan mereka perlu dilakukan. Agendanya adalah memperjelas apa sebenarnya
definisi dari "Yah, namanya juga Arata."
"Lagipula,
lupakan semua hal tidak penting itu," kata Reina.
"Tidak
penting?!"
"Ayo makan
sekarang. Yang lain di sana pasti lapar juga. Bisa tolong panggil mereka,
Luna?"
"Okeeey."
Sama sekali
mengabaikanku, Reina mulai mengeluarkan berbagai peralatan dan perkakas dari
sihir Storage miliknya.
Saat dia
menyiapkan apa yang di kehidupanku dulu disebut sebagai pemanggang barbeku, dia
tampak tak berbeda dari seorang mahasiswa yang sedang bersenang-senang di luar
ruangan.
"Umm, ada
sebelas orang dari mereka, lalu ada aku, Arata, Luna, dan Elga... Dan Merlyn
serta Zelos mungkin juga akan datang, jadi..."
Menghitung jumlah
orang dengan jarinya, dia dengan sigap menyiapkan segalanya, lalu tiba-tiba
menoleh padaku seolah baru saja teringat sesuatu.
"Siapkan
dagingnya, Arata."
"Ah,
mengerti."
Seseorang
dilarang membangkang Reina saat sedang memasak.
Aku
melakukan apa yang dia katakan, membuka sihir Storage-ku dan
mengeluarkan monster yang telah diburu Luna dan Tailtiu, lalu menyiapkannya
agar lebih mudah untuk dia masak.
"Aku
sudah benar-benar terbiasa dengan ini, ya?" gumamku pada diri sendiri.
Sekadar
menguliti hewan dulunya adalah pekerjaan yang berat, tetapi setelah belajar
banyak dari semua orang, aku sekarang bisa membedah mereka dengan mudah.
Ini juga
merupakan pertumbuhan,
pikirku.
Di saat yang
sama, Luna membawa semua orang kemari.
"Halo,
Arata," kata Elga. "Sepertinya kalian benar-benar beraksi
habis-habisan lagi."
"Ya, ini
olahraga yang cukup bagus," jawabku.
"Heh heh
heh," Elga terkekeh sambil melihat tanah yang gersang.
"Mereka
masih anak-anak, tapi mereka adalah Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk.
Kamu mungkin satu-satunya orang yang bisa bermain dengan mereka tanpa
terluka."
Bagi pejuang
Divine Beastfolk agung sepertinya, pertarungan mereka tidak diragukan lagi
hanyalah permainan anak-anak.
"Tapi
kudengar dulu kamu juga nakal seperti mereka," kataku.
Dia terdiam. "Siapa yang memberitahumu itu?"
"Suzaku."
"Nenek pengganggu itu! Dia pergi berkeliling
menyebarkan cerita memalukan di belakang punggungku?!"
Mungkin yang terbaik adalah aku tidak menyebutkan bahwa dia
telah mengungkapkan semuanya dengan riang.
Sebagai ibu angkatnya, dia sangat bersemangat menceritakan
segala macam kisah tentang masa lalu Elga, termasuk awal mula cintanya dengan
Livia.
Pasti mengerikan jika orang tuamu tahu begitu banyak
tentang apa yang kamu lakukan dengan pasanganmu...
Jaringan
informasi pedesaan adalah hal yang menakutkan.
"Oke, dengan
ini, persiapan kita sudah selesai," kataku.
Termasuk
tenda-tendanya, barang-barang Reina memang ditujukan untuk digunakan oleh
tentara, artinya ada cukup tempat untuk menampung semua orang.
Di bawah
kisi-kisi panggangan, aku bisa melihat arang merah yang mengeluarkan bau sedap
yang sangat kontras dengan tanah tandus di sekitar kami. Daging apa pun yang
ditaruh di sana pasti akan terasa lezat.
Reina
mengangkat sendok sayur dan wajan lalu membenturkannya. "Semuanya!
Waktunya makan!"
"Yeeeaaahhhh!"
Ancient
Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk berdiri dan mendekat sambil berteriak.
Mereka
bertingkah hampir seperti tim bisbol sekolah menengah yang lapar setelah
latihan. Luna juga bergegas mendekat bersama mereka.
Dengan
senyum tipis yang tak sadar tersungging, aku berdiri di samping Reina.
"Dagingnya
ada di sini!" kata Reina. "Masak porsi kalian sendiri, dan jangan berkelahi! Jika kalian tidak bisa mengikuti aturan
ini, kalian tidak akan dapat jatah! Mengerti?"
"Siap,
Kak!" kata Gram.
"Tentu
saja, Kakak!" sahut Gyes.
"Baiklah... Kalau begitu, selamat makan!"
"Yeeeaaaaaahhhhh!"
teriak mereka semua lagi.
Sebagai tanda
hormat, para Ancient Dragonfolk memanggilku "Bro," hampir seperti aku
adalah atasan yakuza, sementara Fierce Ogrefolk menggunakan panggilan kuno
"Kakak," seolah-olah mereka adalah samurai.
Dan mereka
memanggil Reina seperti yang baru saja mereka lakukan.
Mereka mulai
memanggilku begitu setelah aku menunjukkan celah kekuatan kami, sedangkan untuk
Reina, itu sepenuhnya karena dia memberi mereka makanan lezat.
"Tuan Arata,
ini Shantak yang aku buru," kata Luna sambil menunjuk ke piringnya untuk
memamerkan hasil buruannya. Mungkin ini adalah perilaku alami miliknya.
Itu adalah
sepotong daging ayam panggang merata yang tampak lezat, dan menurut Luna, itu
adalah daging berkualitas tinggi. Aku mengambil sepotong dan memakannya.
"Mmmm."
Daging itu
dibumbui dengan banyak garam dan merica, dan saat aku menggigitnya, sensasi
rasa yang kuat menyebar di mulutku.
Kulitnya renyah
sementara bagian dalamnya padat dan kenyal, dan lemaknya pecah di dalam
mulutku.
Apa aku takut
wajahku kotor?
Tidak, aku tidak
punya waktu untuk mengkhawatirkan hal itu!
Rasanya lebih
enak daripada ayam mana pun yang pernah kumakan di Jepang, dan aku secara
naluriah meraih minumanku untuk meneguknya dalam jumlah besar.
"Mmmm!"
"Aha ha ha,
ada sisa kulit di sekitar mulutmu!" kata Luna. Mulutnya mungkin sama
berantakannya dengan mulutku, jadi kami saling menertawakan.
"Aduh,
kalian berdua jorok sekali," kata Reina.
"Mhmm."
Dia menyeka mulut
Luna persis seperti seorang ibu. Setelah bersih, Luna pergi mengejar potongan
daging berikutnya, berdesakan di samping Gram, Gyes, dan yang lainnya.
Mereka sepertinya
menerimanya, mungkin karena dia masih anak-anak, atau mungkin karena mereka
luluh oleh penampilannya yang polos.
"Pemandangan
yang manis," kataku. Benar-benar luar biasa melihat anak sepertinya
menyeberangi batasan ras untuk mencari teman, pikirku.
Reina mencoba
menyeka wajahku dengan handuk, berkata, "Kamu juga, Arata."
"A-Aku bisa
melakukannya sendiri!"
"Bisa?"
Seperti yang bisa
kalian duga, akan sangat memalukan jika seorang wanita seusianya menyeka
mulutku untukku.
Aku membersihkan
diri dengan handuk yang diberikan Reina, lalu menoleh kembali ke arah semua
orang yang sedang bersenang-senang.
"Jika
dilihat seperti ini, perbedaan spesies sama sekali tidak menjadi
masalah..."
"Iya,"
kata Reina.
Kami pernah
mengadakan pesta dengan Divine Beastfolk sebelumnya, dan meskipun Tailtiu juga
ikut bergabung, aku hampir belum pernah melihat jumlah ras yang berbeda
sebanyak ini makan dan minum bersama. Tapi sekarang...
"Divine Beastfolk, Ancient Dragonfolk, Fierce
Ogrefolk... Dan kita manusia juga, kurasa," kataku.
"Ini mungkin karena Luna masih anak-anak, tapi saat aku
melihatnya bersenang-senang, itu membuatku berpikir bahwa impianmu mungkin saja
terwujud," kata Reina.
"Ya..."
Sejak
bereinkarnasi di sini, mengadakan pesta dengan semua ras di pulau ini telah
menjadi impian sekaligus tujuanku.
"Kudengar
beberapa dari mereka tidak terlalu menyukai satu sama lain, sih..."
Divine Beastfolk
dan Alfar adalah salah satu contohnya, dan Ancient Dragonfolk serta Fierce
Ogrefolk sekarang adalah contoh lainnya.
Tapi semua itu
pasti akan terselesaikan setelah mereka saling mengenal lebih baik.
"Lagipula,
sepertinya porsiku akan habis jika terus begini, jadi aku akan mengambil
beberapa," kata Reina.
"Benar.
Mungkin aku juga akan—"
Ambil sedikit
lagi, pikirku, tapi Reina
memberi isyarat agar aku berhenti.
"Kamu harus
menjaga dia, Arata."
"Hah?"
"Sayang-kuuu!
Aku telah tibaaa!"
"Oof."
Itu adalah
tubrukan dengan kekuatan penuh, setara dengan kekuatan Gaius. Jika aku adalah
salah satu dari Ancient Dragonfolk, aku pasti sudah terpental jauh.
"Sayang,
Sayang, Sayang-kuuu!" Dia memeluk pinggangku sekuat tenaga dan
menggosokkan kepalanya padaku. Melepaskannya akan mudah, tapi dia mungkin akan
menangis, jadi akhir-akhir ini aku membiarkannya melakukan apa yang dia suka.
"Kamu benar-benar luar biasa, Sayang!"
"Iya,
makasih. Tapi, kenapa begitu?"
"Lihat ke
sana!"
Tailtiu menunjuk
ke tempat yang telah kuamati sejak tadi, di mana semua orang sedang makan
daging. Dia baru saja
berada di lingkaran yang sama dengan mereka.
"Aku
sedang sangat bersenang-senang sekarang!" Dia menyeringai, memamerkan taringnya yang
memiliki sisa kulit kecil yang menempel. "Maksudku, tidak ada lagi yang
memanggilku penyendiri dan meninggalkanku!"
"Begitu
ya."
Lahir di pulau
ini, dia telah memperoleh kekuatan yang jauh melampaui orang lain seusianya.
Tapi secara mental dia masih anak-anak, jadi dia lebih menginginkan teman dan
kawan daripada kekuatan.
"Ini semua
berkat kamu, Sayang!" katanya.
"Sama sekali
bukan, Tailtiu. Itu karena kerja kerasmu sendiri."
Dia tampak
bingung. "Padahal aku tidak melakukan apa-apa."
Dia
sendiri tidak menyadarinya, ya? Aku hanya mengelus
kepalanya, dan dia tampak bahagia.
"Tahu tidak,
Tailtiu, kamu memastikan untuk menekan kekuatanmu saat bersama para penyihir,
kan?" kataku.
"Hrm? Tapi
bukankah itu wajar? Lemah seperti Zelos akan muntah jika aku tidak
melakukannya."
"Aha ha ha... Bicara soal Zelos, kamu juga mulai
menubruknya, kan?"
Mungkin karena kami menyebut namanya, Zelos sedang menatap
kami dari jarak dekat sambil makan.
Tapi dia sepertinya lebih memprioritaskan makanannya pada
akhirnya, karena dia tidak mendekat.
"Kamu bisa bersama semua orang sekarang karena kamu
belajar untuk tenggang rasa kepada orang-orang seperti Zelos," jelasku.
"Aku tidak terlalu mengerti."
"Yah, mungkin itu tidak masalah untuk saat ini."
Dia menekan kekuatannya agar mereka tidak sakit karena
mananya, dan dia menahan diri cukup banyak saat menubruk mereka agar mereka
tidak terluka.
Dia selalu menggunakan seluruh kekuatannya padaku, tapi dia
telah tumbuh menjadi seseorang yang sekarang bisa memberikan toleransi kepada
orang lain.
"Jadi, semua
ini hanyalah sebuah kesempatan," kataku.
"Begitukah?"
"Ya, benar.
Semua orang menerimamu karena kamu sudah cukup tumbuh untuk memanfaatkan
kesempatan itu sebaik-baiknya."
Tailtiu terdiam
sejenak. "Meskipun begitu..."
"Ya?"
"Kamulah
yang memberiku kesempatan itu! Jadi... aku mencintaimu, Sayang!" Dia
melompat dan mencium pipiku.
Aku terdiam.
"I-Ini agak
memalukan..." katanya.
Meskipun wajahnya
sedikit merah, dia tersenyum lembut padaku. Aku hanya menatapnya dengan tercengang.
"A-Aku
mau ambil daging lagi!"
Karena
aku tidak mengatakan apa-apa, dia pergi menuju semua orang di sekitar
panggangan barbeku.
"Dia
menciumku..."
"Hei,
dasar penakluk wanita."
Seseorang
dengan mantap merangkul bahuku—itu Zelos, yang baru saja melahap daging
beberapa saat yang lalu.
"Oh,
halo, Zelos," kataku.
"Berhati-hatilah
agar popularitasmu tidak membuatmu ditikam karena cemburu suatu hari
nanti," katanya.
"Jangan
katakan sesuatu yang menyeramkan begitu!"
"Merlyn
telah memberinya beberapa ide, jadi dia mungkin mulai mencoba beberapa trik
padamu."
Dengan
itu, Zelos pergi untuk makan daging lagi.
"Itu
tidak jauh lebih baik dari apa yang kamu katakan tadi..."
Ditinggal
sendirian di sana, aku menatap Reina saat dia memberikan ceramah kepada
anak-anak yang sepertinya bertengkar memperebutkan daging.
Luna
berada di tempat lain, bermain dengan para Fierce Ogrefolk.
Dan
Tailtiu sedang tertawa bersama Ancient Dragonfolk lainnya. Ini adalah
pemandangan yang kuharapkan.
Tidak
jauh dari situ, Elga dan Livia juga sedang mengamati, mungkin bertindak sebagai
pelindung.
Zelos dan
Merlyn menjaga jarak yang sempurna dari anak-anak, mungkin karena mereka akan
mati jika mendekat dengan sembarangan.
Aku ingin
memperluas lingkaran ini lebih jauh lagi dan mengadakan pesta besar dengan
semua orang suatu hari nanti, tanpa memandang spesies, usia, jenis kelamin,
atau apa pun.
Menatap
langit yang diterangi oleh matahari yang cerah, aku mengajukan pertanyaan
kepada dewa yang telah membiarkanku bereinkarnasi di dunia ini.
Tuhan,
apa yang akan terjadi selanjutnya dalam hidupku di pulau ini?
Tentu
saja, tidak ada tanda-tanda jawaban, tapi...
Aku
akan menantikannya.
Aku
merasa seolah-olah mendengar suara yang menyenangkan dan ceria.



Post a Comment