NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 3 Interlude III

Interlude 3


Di bawah langit malam yang dihiasi rembulan merah dan biru.

Satu jam telah berlalu sejak mereka menghabiskan waktu di dalam kereta kuda.

"Dengar ya—bukannya aku marah karena Nina pulang terlambat. Lagipula ada Shikkoku-sama bersamamu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"I-iya!"

"Masalahnya, aku juga ingin pergi bersama Shikkoku-sama! Apa tidak bisa kalian menungguku sampai pekerjaanku selesai dulu!?"

"A-a-a-anu! Ini, hadiah bunga untuk Kakak!"

"Terima kasih. Nah, sekarang kembali ke topik tadi!"

"Uuu…… Maafkan aku, Kakak……."

Di halaman kediaman tempat Kai tinggal, Nina yang mencoba strategi pengalihan isu dengan hadiah justru berakhir disudutkan oleh kakaknya, Marie.

Sementara itu, sang pemilik rumah sendiri—.

"Remy sudah menunggu lama."

"Maaf soal itu."

"Mohon maaf atas kunjungan mendadak ini. Kebetulan ada urusan bisnis di dekat sini, dan Remy bersikeras ingin mampir karena sudah terlanjur dekat……."

"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Aku senang kalian datang."

"Kakak sama sekali tidak menghentikan Remy."

"He-hei! Kamu tidak perlu mengatakan bagian itu!"

Mereka adalah kakak beradik dari keluarga Albrela yang memimpin organisasi perdagangan.

Remy, si adik, menempel erat di punggung Kai sementara Polka, sang kakak, berseru dengan suara panik.

Layla dan sang Residen berdiri memperhatikan pemandangan ramai di sisi kanan dan kiri mereka dengan tatapan tenang.

"L-luar biasa juga ya. Cara mereka menempel padanya seperti itu."

"Pertemuan mereka memang terjadi dalam situasi yang unik. Apalagi Shikkoku-sama menolong tanpa mengharapkan imbalan apa pun, jadi wajar jika mereka tertarik pada kepribadiannya."

"Tetap saja, lihat itu."

Wajar jika Layla ingin melontarkan komentar sarkas.

"Lain kali, pergi jalan-jalan dengan Remy juga. Janji."

"I-iya, aku mengerti. Aku janji, jadi tolong turunlah dari punggungku."

"Gak mau."

Polka terus menatap Remy yang menempel di tubuh Kai dengan tatapan iri, lalu ia sendiri mulai menyentuh tubuh Shikkoku dengan gerakan natural.

Marie yang mengenakan pakaian biarawati juga masih terus mengeluh pada Nina karena 'ingin ikut pergi jalan-jalan'.

Ini adalah pertama kalinya Layla melihat para nona muda dari Tiga Puncak bertingkah seperti ini.

"Yah, aku akui sifatnya yang tidak pamrih itu patut dipuji, tapi apa dia semenarik itu? Dia bahkan selalu lari tiap kali aku mengajak duel."

"Mengenai hal itu, bukankah karena hasil di antara kalian berdua sudah diputuskan?"

"Ha-hah?"

Sang Residen memang tidak mendengar informasi bahwa Shikkoku dan Layla pernah berduel, namun ia memiliki cukup bukti untuk menarik kesimpulan tersebut.

"Terakhir kali, Layla-sama meminta saran kepada Shikkoku-sama, bukan?"

"Memang begitu…… tapi apa hubungannya?"

"Rumor mengatakan Layla-sama hanya meminta saran kepada orang yang diakui lebih kuat dari dirinya sendiri."

"Ugh…… Akui akui aku pernah kalah sekali darinya, tapi itu kan karena aku kalah berdebat……. Kalau duel fisik, aku yakin pasti menang lain kali……."

Layla bergumam penuh keluhan, lalu menyipitkan mata menatap sang Residen.

"Lalu, apa kamu juga sudah berada di pihaknya?"

"Habisnya, beliau adalah orang yang bersedia melakukan hal seperti ini."

Sang Residen mengulurkan tangan dan memamerkan buket berisi 24 tangkai bunga cantik yang baru saja dihadiahkan kepadanya kepada Layla.

"Bukankah di dalam hati, Layla-sama sendiri sudah mengakui Shikkoku-sama?"

"Ti-tidak juga?"

"Kupikir itulah alasan kenapa Anda merasa 'nyaman' berada di sini."

"Aku merasa nyaman karena ada kamu. Dia itu cuma bonus."

"Akan kuanggap ucapanmu itu hanya setengah benar."

"Nanti akan kulaporkan pada Shikkoku kalau kamu sudah menjahiliku."

"Fufu, jadi Anda ingin menggunakan alasan dijahili itu sebagai pembenaran agar bisa menginap malam ini, ya?"

"Hari ini aku pasti pulang, kok. Yah, kalau aku sedang ingin……."

Suara Layla yang melemah karena rahasianya terbongkar tiba-tiba tenggelam oleh suara lain—.

"—K-Kakak! Tolong ampuni aku……!"

"Kalau begitu ayo! Kita pulang sekarang. Kita tidak boleh merepotkan Shikkoku-sama lebih lama lagi!"

"—Tu-tunggu, Polka-san. Bukankah kamu bilang mau melepaskan Remy dari punggungku!?"

Itu adalah suara Nina, Marie, dan Kai.

Malam yang benar-benar riuh pun tiba, dan suasana penuh energi itu mulai mereda saat keluarga Ansarage berpamitan untuk pulang.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close