Interlude 3
Di bawah langit malam yang dihiasi rembulan merah dan biru.
Satu jam telah berlalu sejak mereka menghabiskan waktu di
dalam kereta kuda.
"Dengar ya—bukannya aku marah karena Nina pulang
terlambat. Lagipula ada Shikkoku-sama bersamamu, jadi tidak ada yang perlu
dikhawatirkan."
"I-iya!"
"Masalahnya,
aku juga ingin pergi bersama Shikkoku-sama! Apa tidak bisa kalian menungguku
sampai pekerjaanku selesai dulu!?"
"A-a-a-anu! Ini, hadiah bunga untuk Kakak!"
"Terima
kasih. Nah, sekarang kembali ke topik tadi!"
"Uuu…… Maafkan aku, Kakak……."
Di halaman kediaman tempat Kai tinggal, Nina yang mencoba
strategi pengalihan isu dengan hadiah justru berakhir disudutkan oleh kakaknya,
Marie.
Sementara itu,
sang pemilik rumah sendiri—.
"Remy sudah
menunggu lama."
"Maaf soal
itu."
"Mohon maaf
atas kunjungan mendadak ini. Kebetulan ada urusan bisnis di dekat sini, dan
Remy bersikeras ingin mampir karena sudah terlanjur dekat……."
"Tidak
apa-apa, jangan dipikirkan. Aku senang kalian datang."
"Kakak
sama sekali tidak menghentikan Remy."
"He-hei!
Kamu tidak perlu mengatakan bagian itu!"
Mereka adalah
kakak beradik dari keluarga Albrela yang memimpin organisasi perdagangan.
Remy, si
adik, menempel erat di punggung Kai sementara Polka, sang kakak, berseru dengan
suara panik.
Layla dan
sang Residen berdiri memperhatikan pemandangan ramai di sisi kanan dan kiri
mereka dengan tatapan tenang.
"L-luar
biasa juga ya. Cara mereka
menempel padanya seperti itu."
"Pertemuan
mereka memang terjadi dalam situasi yang unik. Apalagi Shikkoku-sama menolong
tanpa mengharapkan imbalan apa pun, jadi wajar jika mereka tertarik pada
kepribadiannya."
"Tetap saja,
lihat itu."
Wajar jika Layla
ingin melontarkan komentar sarkas.
"Lain kali,
pergi jalan-jalan dengan Remy juga. Janji."
"I-iya,
aku mengerti. Aku janji, jadi
tolong turunlah dari punggungku."
"Gak
mau."
Polka terus
menatap Remy yang menempel di tubuh Kai dengan tatapan iri, lalu ia sendiri
mulai menyentuh tubuh Shikkoku dengan gerakan natural.
Marie yang
mengenakan pakaian biarawati juga masih terus mengeluh pada Nina karena 'ingin
ikut pergi jalan-jalan'.
Ini adalah
pertama kalinya Layla melihat para nona muda dari Tiga Puncak bertingkah
seperti ini.
"Yah, aku
akui sifatnya yang tidak pamrih itu patut dipuji, tapi apa dia semenarik itu?
Dia bahkan selalu lari tiap kali aku mengajak duel."
"Mengenai
hal itu, bukankah karena hasil di antara kalian berdua sudah diputuskan?"
"Ha-hah?"
Sang Residen
memang tidak mendengar informasi bahwa Shikkoku dan Layla pernah berduel, namun
ia memiliki cukup bukti untuk menarik kesimpulan tersebut.
"Terakhir
kali, Layla-sama meminta saran kepada Shikkoku-sama, bukan?"
"Memang begitu…… tapi apa hubungannya?"
"Rumor mengatakan Layla-sama hanya meminta saran kepada
orang yang diakui lebih kuat dari dirinya sendiri."
"Ugh…… Akui akui aku pernah kalah sekali darinya, tapi
itu kan karena aku kalah berdebat……. Kalau duel fisik, aku yakin pasti menang lain kali……."
Layla bergumam
penuh keluhan, lalu menyipitkan mata menatap sang Residen.
"Lalu, apa
kamu juga sudah berada di pihaknya?"
"Habisnya,
beliau adalah orang yang bersedia melakukan hal seperti ini."
Sang Residen
mengulurkan tangan dan memamerkan buket berisi 24 tangkai bunga cantik yang
baru saja dihadiahkan kepadanya kepada Layla.
"Bukankah di
dalam hati, Layla-sama sendiri sudah mengakui Shikkoku-sama?"
"Ti-tidak
juga?"
"Kupikir
itulah alasan kenapa Anda merasa 'nyaman' berada di sini."
"Aku merasa
nyaman karena ada kamu. Dia itu cuma bonus."
"Akan
kuanggap ucapanmu itu hanya setengah benar."
"Nanti akan
kulaporkan pada Shikkoku kalau kamu sudah menjahiliku."
"Fufu, jadi
Anda ingin menggunakan alasan dijahili itu sebagai pembenaran agar bisa
menginap malam ini, ya?"
"Hari ini
aku pasti pulang, kok. Yah, kalau aku sedang ingin……."
Suara Layla yang
melemah karena rahasianya terbongkar tiba-tiba tenggelam oleh suara lain—.
"—K-Kakak!
Tolong ampuni aku……!"
"Kalau
begitu ayo! Kita pulang sekarang. Kita tidak boleh merepotkan Shikkoku-sama
lebih lama lagi!"
"—Tu-tunggu,
Polka-san. Bukankah kamu bilang mau melepaskan Remy dari punggungku!?"
Itu adalah suara
Nina, Marie, dan Kai.
Malam yang benar-benar riuh pun tiba, dan suasana penuh energi itu mulai mereda saat keluarga Ansarage berpamitan untuk pulang.



Post a Comment