Epilog
"Aku tidak menyangka akan datang hari yang bahkan lebih
ramai daripada kemarin."
"Itu
benar.... Tapi, kurasa tidak perlu sampai mengadakan pesta teh di sini juga,
ya."
Di bawah langit biru yang cerah dan membentang luas.
Ada Karen dan Lifia dari keluarga Duke.
Nina dan Marie dari keluarga Ansarage.
Remy dan Polka dari keluarga Albrela.
Serta Layla, sang penakluk dungeon lantai 7.
Kai bertukar sapa dengan sang Residen sembari memandangi
ketujuh orang itu berkumpul di dalam kediaman untuk menikmati pesta teh.
"Pak Residen, apa kamu tidak ikut bergabung dalam pesta
teh itu?"
"Tidak. Dibandingkan ikut serta, saya lebih suka
sekadar memandangi saja."
"Kedengarannya
dewasa sekali, ya. Alasannya."
"Lalu
Shikkoku-sama sendiri, apakah tidak apa-apa jika tidak bergabung?"
"Aku kurang
mahir menghadapi suasana seperti itu."
"Begitu
rupanya. Namun, saya rasa alasan 'kurang mahir' tidak akan mempan bagi
mereka."
"Sebaiknya
Anda segera memantapkan tekad Anda."
"Eh?"
Tepat
setelah Kai mendengar kata-kata bernada firasat buruk dari sang Residen.
Enam dari
tujuh orang yang sedang menikmati pesta teh—semuanya kecuali Layla—memalingkan
wajah ke arah sini.
"Hei!"
"Nn?"
Karen-lah yang
memanggil dari kejauhan.
"Apa benar
kamu akan pergi meninggalkan kota ini!? Aku baru saja mendengar kabar itu dari
Layla-sama!!"
"Ah—yah,
tidak dalam waktu dekat, sih. Tapi rencananya aku akan segera pergi."
"Syukurlah,
berkat bantuan kalian, aku sudah bisa berkeliling melihat-lihat kota ini."
"Lalu, ke
mana tujuanmu selanjutnya!"
"Belum
pasti, tapi aku ingin menuju Ibukota Kekaisaran."
"Bodoh!"
"Ha, haah?
Ada apa tiba-tiba...."
Kata-kata Kai
tidak lagi digubris.
Seolah
membuktikan hal itu, percakapan ketujuh orang tersebut pun berlanjut kembali.
"Saya tahu
hari di mana Shikkoku-sama meninggalkan kota ini akan tiba, tapi saat
merasakannya benar-benar datang, rasanya sepi juga."
"Haha,
aku tidak menyangka akan mendengar hal itu dari Pak Residen. Padahal aku hanya
terus merepotkanmu saja."
"Sama
sekali tidak."
"Saat
aku meninggalkan kota ini nanti, kamu boleh mengambil waktu istirahat atau cuti
dengan bebas."
"Bahkan
jika kamu ingin mengundang temanmu ke rumah ini untuk bermain atau menginap,
tidak masalah bagiku."
"Terima
kasih atas perhatian Anda. Mengenai saat Shikkoku-sama pergi dalam waktu lama,
saya berencana meminta pengiriman penjaga."
"Jika
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, akan sulit bagi saya untuk menanganinya
sendirian dengan sempurna."
"Dimengerti.
Serahkan saja hal itu padamu dengan bebas."
Tepat saat ia
selesai menyusun rencana masa depan bersama sang Residen.
"!"
Terdengar suara
seperti angin yang berdesing di dekat telinga—tiba-tiba saja, perasaan
tangannya dicengkeram menyerang pergelangan tangan kanan.
Saat ia
mengalihkan pandangan ke sana, Layla sudah berdiri sambil mencengkeram
pergelangan tangannya.
"Maaf
mendadak, tapi boleh kupinjam orang ini sebentar? Teman-teman di sana
menyuruhku membawanya."
"Tentu
saja. Selamat bersenang-senang, Shikkoku-sama."
"Ti—tidak,
tidak. Kan sudah kubilang aku tidak mahir dengan pesta teh...."
"Jangan
menggerutu terus. Ayo ikut."
"Ah,
tung—"
Tanpa memedulikan
perlawanan Kai, Layla menyeretnya dan memaksanya duduk di kursi yang kosong.
"...."
Tak lama setelah
itu.
Sang Residen
menatap sosok enam wanita bangsawan yang mencoba menikmati waktu saat ini
semaksimal mungkin.
Seolah agar tidak
ada penyesalan kapan pun perpisahan itu tiba.
Sementara itu, Layla yang tampak meregangkan tubuh seakan baru menyelesaikan tugas, tanpa sadar sudah berdiri di samping sang Residen dengan ekspresi serupa.



Post a Comment