NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 3 Interlude II

Interlude 2


Malam kian larut, menyelimuti kediaman dalam keheningan yang mendalam.

"Aku sudah selesai mandi. Terima kasih tumpangannya," ucap Layla.

"A-ah, iya."

Layla muncul di aula tempat Kai sedang membaca, hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit tubuhnya. Meski penampilannya sangat berani, ia tetap bersikap tenang dan percaya diri seperti biasanya.

"Eh, di mana dia?"

"Kalau maksudmu Pak Residen, dia sedang pergi menyemangati para penjaga yang kelelahan. Gara-gara seseorang mengamuk tanpa ampun tadi."

"Oh, begitu. Karena aku tidak merasa mengamuk, sepertinya itu bukan salahku, ya."

"……"

Kai tidak sanggup menatap Layla secara langsung dalam kondisi begitu.

Saat ia memberanikan diri mencuri pandang, ia menangkap seringai tipis di wajah Layla yang menunjukkan bahwa wanita itu sadar sedang menggodanya.

"Pokoknya, malam ini aku pasti menginap di sini. Beda topik, sih."

"Yah…… selama kamu bisa bersikap tenang seperti sekarang, aku tidak keberatan kamu melakukan apa pun."

"Kepatuhanmu yang tiba-tiba ini malah terasa menjijikkan. Jangan-jangan, kamu terpesona melihat penampilanku sekarang?"

"Tentu saja tidak."

Bagi kebanyakan orang, sosok Layla yang cantik dengan lekuk tubuh sempurna dalam balutan handuk pasti akan mencuri perhatian.

Namun bagi Kai, Layla adalah musuh alami; ia tidak punya cukup keberanian untuk memikirkan hal-hal mesum.

"Hee, kalau bukan karena itu, lalu kenapa?"

"Meski aku bilang 'tidak', kamu pasti akan memaksa tinggal. Itulah sifatmu. Aku hanya menyerah."

"Hah? Kalau diusir dengan kekuatan fisik, aku pasti pulang, kok."

"Sudah kuduga akan berakhir begitu."

Layla memang tidak berubah, selalu mencari celah untuk memancing perkelahian dengan alasan apa pun.

"……Boleh aku bicara jujur sekarang?"

"Silakan."

"Kalau sudah selesai mandi, cepat pakai bajumu. Aku bingung harus melihat ke mana."

"Mengatakan itu sambil tetap khusyuk membaca? Kamu tidak terlihat bingung sama sekali, tuh."

"Justru karena bingung makanya aku mengatakannya."

"Padahal kamu pasti sudah bosan melihat pemandangan seperti ini."

"Kenapa logikanya jadi begitu……?"

Seandainya Layla berpakaian sopan, Kai pasti bisa bicara sambil menatap wajahnya.

Melihat sikap Layla yang acuh tak acuh, Kai merasa hanya dirinyalah yang harus repot-repot menjaga pandangan.

"Kenapa? Ya karena biasanya pria dengan reputasi besar sepertimu pasti sering didekati, kan? Bahkan hubungan satu malam saja pasti akan disambut dengan gembira."

"Aku bukan tipe pria seperti itu."

"Ara, wajahmu terlihat seperti pemain, tapi ternyata prinsipmu teguh juga ya. Tak disangka."

"Aku juga tidak menyangka. Ternyata kamu tipe yang menikmati hubungan satu malam."

Dulu, saat masih bermain game, Kai tidak pernah melakukan percakapan semacam ini dengan Layla.

Sekarang, ia terus menemukan sisi-sisi baru dari karakter tersebut.

"Jangan salah paham, ya. Prinsipku ini sangat teguh. Buktinya, sampai sekarang aku belum pernah melakukannya sekali pun."

"…………Begitu ya."

Layla mengatakannya dengan tegas sambil menyisir rambut dengan tangannya. Kai tidak tahu respons apa yang benar, namun setidaknya suasana tidak berubah menjadi canggung.

"Sulit memercayai ucapan itu jika melihat pakaianmu sekarang. Normalnya, orang tidak akan berpenampilan begini di depan orang yang baru dikenal."

"Kalaupun aku diserang, aku tidak mungkin kalah. Lagi pula, aku benci berkeringat tepat setelah mandi."

"Aku paham perasaan itu, tapi tidak perlu keluar dengan pakaian begitu juga, kan."

"Daripada menunggu tubuh mendingin sendirian, lebih baik mengobrol dengan seseorang. Lagipula aku cukup percaya diri dengan tubuhku untuk tidak merasa malu."

Sambil bicara lancar, Layla melangkah mendekat dan tiba-tiba menjulurkan lengannya. Kulit putih mulusnya menyeruak masuk ke dalam jarak pandang Kai yang sedang membaca.

"Karena pekerjaanku, ada beberapa bekas luka…… tapi tidakkah menurutmu kulitku tetap cantik?"

"Yah, memang cantik. Itu bukti kerja kerasmu, dan menurutku bekas luka bukan hal yang buruk."

"!……Entah kenapa, rasanya jadi memalukan mendengarnya. ──Jangan lihat ke sini!"

Saat Layla menarik kembali lengannya dan Kai mencoba menatap wajahnya, Layla justru melontarkan larangan yang bertolak belakang dengan sikap sebelumnya.




Layla menarik handuknya, berusaha sedikit mengurangi area kulit yang terekspos.

"Kalau sudah merasa malu, cepat pakai bajumu. ...Ah, apa karena tidak ada baju ganti makanya kamu berpenampilan begitu?"

"Kan sudah kujelaskan kalau aku tidak mau berkeringat. Aku bisa pakai sihir pembersih, jadi baju lamaku masih bisa dipakai, kok."

"Syukurlah. Kalau begitu, mulai sekarang aku akan terus memandangi sembari memujimu."

"A-apa-apaan deklarasi mesum itu?"

"Aku sampai pada kesimpulan bahwa ini cara terbaik agar kamu mau memakai baju."

Mumpung dia sedang malu, inilah kesempatannya. Jika melewatkan momen ini, entah kapan dia akan berpakaian lengkap.

Kai benar-benar ingin menghindari situasi di mana ia terus-menerus bingung harus membuang muka ke mana.

"Karena itulah—"

"—I-iya, aku mengerti! Aku akan segera pakai baju. Dasar mesum!"

"Iya, iya. Tolong, ya."

Begitu Kai menjawab dengan nada mengusir, Layla membalikkan badan dan melangkah keluar aula. Akhirnya, ruangan itu menjadi sunyi.

"Berani sekali dia bicara begitu kepada pemilik rumah."

Kai bergumam lirih, lalu—

"Maaf ya kalau aku tidak tahu sopan santun."

"Guh."

Layla menyahut dari lorong yang menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, ia pun kembali ke aula.

"Nah, karena sudah waktunya janji, aku pergi dulu ya."

"Hm? Jangan-jangan... kamu mau duel lagi dengan para penjaga?"

"Rencananya aku akan lanjut sampai pagi. Lagipula masih ada 20 orang yang mengantre."

"Begitu ya..."

Para penjaga itu pasti tidak sedang 'mengantre'. Mereka hanya dipaksa untuk meladeni wanita ini.

Meski akan menjadi waktu yang berat bagi mereka, Kai berharap mereka bisa bertahan.

"Yah, karena aku dan Pak Residen harus segera tidur, silakan lakukan sesukamu."

"Oke."

"Pokoknya, kuucapkan 'selamat menikmati duelnya'."

"Sip!"

Dia benar-benar suka menggerakkan tubuh. Layla menjawab dengan senyum lebar yang merekah.

Hanya pada saat inilah, Kai merasa Layla tampak manis, bukan 'mengerikan'.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close