Interlude 2
Malam kian larut,
menyelimuti kediaman dalam keheningan yang mendalam.
"Aku sudah
selesai mandi. Terima kasih tumpangannya," ucap Layla.
"A-ah,
iya."
Layla muncul di
aula tempat Kai sedang membaca, hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit
tubuhnya. Meski penampilannya sangat berani, ia tetap bersikap tenang dan
percaya diri seperti biasanya.
"Eh, di mana
dia?"
"Kalau
maksudmu Pak Residen, dia sedang pergi menyemangati para penjaga yang
kelelahan. Gara-gara seseorang mengamuk tanpa ampun tadi."
"Oh, begitu.
Karena aku tidak merasa mengamuk, sepertinya itu bukan salahku, ya."
"……"
Kai tidak
sanggup menatap Layla secara langsung dalam kondisi begitu.
Saat ia
memberanikan diri mencuri pandang, ia menangkap seringai tipis di wajah Layla
yang menunjukkan bahwa wanita itu sadar sedang menggodanya.
"Pokoknya,
malam ini aku pasti menginap di sini. Beda topik, sih."
"Yah…… selama kamu bisa bersikap tenang seperti
sekarang, aku tidak keberatan kamu melakukan apa pun."
"Kepatuhanmu
yang tiba-tiba ini malah terasa menjijikkan. Jangan-jangan, kamu terpesona
melihat penampilanku sekarang?"
"Tentu saja
tidak."
Bagi kebanyakan
orang, sosok Layla yang cantik dengan lekuk tubuh sempurna dalam balutan handuk
pasti akan mencuri perhatian.
Namun bagi Kai,
Layla adalah musuh alami; ia tidak punya cukup keberanian untuk memikirkan
hal-hal mesum.
"Hee, kalau
bukan karena itu, lalu kenapa?"
"Meski aku
bilang 'tidak', kamu pasti akan memaksa tinggal. Itulah sifatmu. Aku hanya
menyerah."
"Hah? Kalau
diusir dengan kekuatan fisik, aku pasti pulang, kok."
"Sudah
kuduga akan berakhir begitu."
Layla memang
tidak berubah, selalu mencari celah untuk memancing perkelahian dengan alasan
apa pun.
"……Boleh aku
bicara jujur sekarang?"
"Silakan."
"Kalau sudah
selesai mandi, cepat pakai bajumu. Aku bingung harus melihat ke mana."
"Mengatakan
itu sambil tetap khusyuk membaca? Kamu tidak terlihat bingung sama sekali,
tuh."
"Justru
karena bingung makanya aku mengatakannya."
"Padahal
kamu pasti sudah bosan melihat pemandangan seperti ini."
"Kenapa
logikanya jadi begitu……?"
Seandainya Layla
berpakaian sopan, Kai pasti bisa bicara sambil menatap wajahnya.
Melihat sikap
Layla yang acuh tak acuh, Kai merasa hanya dirinyalah yang harus repot-repot
menjaga pandangan.
"Kenapa? Ya
karena biasanya pria dengan reputasi besar sepertimu pasti sering didekati,
kan? Bahkan hubungan satu malam saja pasti akan disambut dengan gembira."
"Aku bukan
tipe pria seperti itu."
"Ara,
wajahmu terlihat seperti pemain, tapi ternyata prinsipmu teguh juga ya. Tak
disangka."
"Aku juga
tidak menyangka. Ternyata kamu tipe yang menikmati hubungan satu malam."
Dulu, saat masih
bermain game, Kai tidak pernah melakukan percakapan semacam ini dengan Layla.
Sekarang, ia
terus menemukan sisi-sisi baru dari karakter tersebut.
"Jangan
salah paham, ya. Prinsipku ini sangat teguh. Buktinya, sampai sekarang aku
belum pernah melakukannya sekali pun."
"…………Begitu
ya."
Layla
mengatakannya dengan tegas sambil menyisir rambut dengan tangannya. Kai tidak
tahu respons apa yang benar, namun setidaknya suasana tidak berubah menjadi
canggung.
"Sulit
memercayai ucapan itu jika melihat pakaianmu sekarang. Normalnya, orang tidak akan
berpenampilan begini di depan orang yang baru dikenal."
"Kalaupun
aku diserang, aku tidak mungkin kalah. Lagi pula, aku benci berkeringat tepat
setelah mandi."
"Aku
paham perasaan itu, tapi tidak perlu keluar dengan pakaian begitu juga,
kan."
"Daripada
menunggu tubuh mendingin sendirian, lebih baik mengobrol dengan seseorang.
Lagipula aku cukup percaya diri dengan tubuhku untuk tidak merasa malu."
Sambil
bicara lancar, Layla melangkah mendekat dan tiba-tiba menjulurkan lengannya.
Kulit putih mulusnya menyeruak masuk ke dalam jarak pandang Kai yang sedang
membaca.
"Karena
pekerjaanku, ada beberapa bekas luka…… tapi tidakkah menurutmu kulitku tetap
cantik?"
"Yah, memang
cantik. Itu bukti kerja kerasmu, dan menurutku bekas luka bukan hal yang
buruk."
"!……Entah
kenapa, rasanya jadi memalukan mendengarnya. ──Jangan lihat ke sini!"
Saat Layla menarik kembali lengannya dan Kai mencoba menatap wajahnya, Layla justru melontarkan larangan yang bertolak belakang dengan sikap sebelumnya.
Layla menarik
handuknya, berusaha sedikit mengurangi area kulit yang terekspos.
"Kalau sudah
merasa malu, cepat pakai bajumu. ...Ah, apa karena tidak ada baju ganti makanya
kamu berpenampilan begitu?"
"Kan sudah
kujelaskan kalau aku tidak mau berkeringat. Aku bisa pakai sihir pembersih,
jadi baju lamaku masih bisa dipakai, kok."
"Syukurlah.
Kalau begitu, mulai sekarang aku akan terus memandangi sembari memujimu."
"A-apa-apaan
deklarasi mesum itu?"
"Aku sampai
pada kesimpulan bahwa ini cara terbaik agar kamu mau memakai baju."
Mumpung dia
sedang malu, inilah kesempatannya. Jika melewatkan momen ini, entah kapan dia
akan berpakaian lengkap.
Kai benar-benar
ingin menghindari situasi di mana ia terus-menerus bingung harus membuang muka
ke mana.
"Karena
itulah—"
"—I-iya, aku
mengerti! Aku akan segera pakai baju. Dasar mesum!"
"Iya, iya.
Tolong, ya."
Begitu Kai
menjawab dengan nada mengusir, Layla membalikkan badan dan melangkah keluar
aula. Akhirnya, ruangan itu menjadi sunyi.
"Berani
sekali dia bicara begitu kepada pemilik rumah."
Kai bergumam
lirih, lalu—
"Maaf ya
kalau aku tidak tahu sopan santun."
"Guh."
Layla menyahut
dari lorong yang menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, ia pun kembali ke
aula.
"Nah, karena
sudah waktunya janji, aku pergi dulu ya."
"Hm?
Jangan-jangan... kamu mau duel lagi dengan para penjaga?"
"Rencananya
aku akan lanjut sampai pagi. Lagipula masih ada 20 orang yang mengantre."
"Begitu
ya..."
Para
penjaga itu pasti tidak sedang 'mengantre'. Mereka hanya dipaksa untuk meladeni wanita ini.
Meski akan
menjadi waktu yang berat bagi mereka, Kai berharap mereka bisa bertahan.
"Yah, karena
aku dan Pak Residen harus segera tidur, silakan lakukan sesukamu."
"Oke."
"Pokoknya,
kuucapkan 'selamat menikmati duelnya'."
"Sip!"
Dia benar-benar
suka menggerakkan tubuh. Layla menjawab dengan senyum lebar yang merekah.
Hanya pada saat inilah, Kai merasa Layla tampak manis, bukan 'mengerikan'.



Post a Comment