Chapter 6
Hanya Berdua Saja
Bagian 2
"Waaa~! Waaaa~!"
Di area di mana bunga merah dan merah jambu mekar dalam
harmoni, membentangkan permadani alami dari kelopak bunga yang berguguran.
Kai melirik ke arah Nina yang mengeluarkan seruan kagum
dengan mata yang berkaca-kaca.
"Benar-benar indah, ya."
"Iya, indah sekali. Ehehe..."
Nina menyipitkan mata sambil menekuk lututnya, mengagumi
bunga-bunga itu dengan lembut saat seekor kupu-kupu kuning mendekat ke arahnya.
Kai memandangi
pemandangan indah yang tampak seperti lukisan itu.
Meski baru
sebentar sejak mereka memasuki Taman Pelangi—
(Syukurlah dia
tampak menikmatinya),
batin Kai.
(Kunjungan ke
sini tidak sia-sia).
"Nina, boleh
aku di sebelahmu?"
"Tentu
saja!"
"Terima
kasih."
Setelah meminta
izin, Kai ikut menekuk lututnya seperti Nina untuk mengamati bunga-bunga dari
jarak dekat. Ia juga sesekali menikmati ekspresi Nina yang tampak bersinar.
"Kalau
begini terus, rasanya waktu sebanyak apa pun tidak akan cukup... Masih banyak
area dengan jenis bunga lain."
"Aku iri
pada Kakak yang bisa melihat pemandangan sehebat ini dua kali..."
"Haha, kalau
begitu kita harus mengejar ketertinggalan itu mulai sekarang."
Karena ada
batasan waktu 'harus pulang sebelum senja', Nina sepertinya mulai menyadari
sesuatu.
Bahwa mereka
tidak akan bisa mengelilingi semuanya hari ini jika terus dikejar waktu.
"...Nina,
aku sudah siap dimarahi, tahu? Tidak apa-apa kalau kita melanggar batas waktu
sedikit."
Mereka sudah
menempuh perjalanan satu jam untuk sampai ke sini.
Kai ingin membuat
Nina bersenang-senang semaksimal mungkin.
Kata-kata yang
biasanya tak pernah ia ucapkan itu pun meluncur begitu saja.
"Fufu,
terima kasih. Tapi, perasaan Anda saja sudah cukup bagiku."
"Begitu
ya."
Meski Kai
memberikan tawaran yang menggiurkan, Nina tidak goyah.
Ia hanya memiringkan kepalanya, menyandarkan
berat tubuhnya pada Kai sambil mengucap terima kasih sekaligus menolak secara
halus.
"Nina benar-benar dewasa, ya... Kalau aku di posisimu,
aku pasti langsung bermanja-manja."
"Sejujurnya
aku ingin bermanja-manja. Seperti sekarang, saat aku bisa bersandar pada
Shikkoku-sama secara diam-diam."
"Bukankah
aku pernah bilang, 'Anak-anak tidak perlu sungkan'?"
"Ada satu
hal... yang ingin kuminta dari Shikkoku-sama... Jika aku meminta hal itu
sekaligus merepotkan Anda dengan masalah waktu, aku akan jadi orang yang sangat
tidak tahu malu."
"Hoo..."
Nina memang
memiliki pemikiran yang sangat matang. Jika dianalisis, itu berarti ada
'permintaan' yang jauh lebih ia prioritaskan daripada 'menambah waktu di Taman
Pelangi'.
"Bisa
katakan sekarang? Aku jadi sangat penasaran."
"Kalau sekarang, mungkin sulit... Jika Shikkoku-sama
menolak permintaanku, aku tidak akan bisa menikmati jalan-jalan ini lagi karena
sedih..."
"Begitu ya. Padahal kalau permintaannya tidak berkaitan
dengan jalan hidupmu, biasanya aku akan langsung setuju."
Kai tidak bisa sembarangan memberi jawaban jika menyangkut
masa depan seseorang. Hal seperti
itu butuh waktu untuk dipikirkan.
"Ka-kalau
begitu... untuk sementara! Seandainya saja! Boleh aku menyampaikannya sebagai
perumpamaan...?"
"Haha, ide
bagus."
Melihat Nina yang
begitu berhati-hati, Kai tahu bahwa apa yang akan diucapkan gadis itu adalah
permintaan intinya.
"Jadi,
permintaan apa itu?"
Saat Kai bertanya
sambil menatap wajah Nina di sampingnya, gadis itu menunduk dan menyentuh bunga
dengan lembut sebelum menjawab.
"Sa-saat
acara pembagian makanan di Katedral tempo hari, Shikkoku-sama memberitahukan
namamu kepadaku... Jadi, ke depannya... bolehkah aku memanggil Shikkoku-sama
dengan nama Kai-sama...?"
"Eh?"
"Te-te-te-tentu
saja hanya saat kita sedang berdua saja!"
Nina sepertinya
sudah lupa soal 'sementara' atau 'seandainya'.
Ia
menyampaikannya sambil memejamkan mata rapat-rapat seolah sedang mengumpulkan
keberanian, sementara Kai hanya bisa melongo mendengarnya.
"Tunggu
sebentar, jadi itu permintaanmu? Permintaan yang lebih penting daripada
menambah waktu kunjungan di sini?"
"Ba-bagi
saya, itu adalah permintaan yang luar biasa besar!"
"O-oh... Jadi begitu..."
Kai sempat terdesak oleh semangat dan wajah cantik Nina yang
tiba-tiba mendekat, namun jawabannya sudah pasti.
"Yah, soal nama, panggil saja dengan santai. Tidak
perlu peduli sedang berdua atau tidak."
"Be-benarkah!?"
"Kalau
memang keberatan, aku tidak akan bilang begini."
Selama
ini Kai tidak pernah mengungkitnya, tapi sebenarnya ia merasa malu dipanggil
'Shikkoku-sama'.
Jika
disuruh memilih, tentu ia lebih suka dipanggil 'Kai'.
"Sejujurnya,
tidak perlu pakai embel-embel '-sama' juga tidak apa-apa."
"Ti-tidak!
Hanya itu yang tidak bisa kutawar!"
"Be-begitu
ya..."
Nina
menggelengkan kepala dengan kuat, lalu mengangguk berkali-kali dengan cepat.
Sepertinya
ada masalah posisi atau status yang membuatnya bersikeras tidak mau melepaskan
panggilan hormat itu.
"Baiklah,
jadi Nina akan memanggil namaku."
"I-iya. Mulai sekarang... Ka-Kai-sama..."
"Mohon
bantuannya."
"Mo-mohon
bimbingannya... Kai-sama..."
Mata mereka
bertemu saat Nina memanggil namanya.
Seketika Nina
menyembunyikan wajah di balik rambutnya dan bergeser menjauh, namun sudut
matanya tampak melengkung bahagia. Ada rasa senang di balik rasa malunya.
Melihat reaksi
Nina yang sehebat itu hanya karena perubahan panggilan nama membuat Kai ikut
merasa senang.
"Ah, kalau
begitu, boleh aku juga minta Nina mengabulkan satu permintaanku?"
"Eh!?"
Ini adalah
sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya.
Kai berkata pada
Nina yang tampak terkejut, seolah menekankan bahwa 'karena permintaannya sudah
dikabulkan, ia harus membalasnya'.
"Bersediakah
kamu menemaniku meski kita akan pulang sedikit terlambat? Aku pribadi ingin berkeliling di
sini lebih lama lagi."
"Ah!
Bukankah permintaan itu demi
kepentinganku...?"
"Aku
yang bilang ingin berkeliling, kan."
"Fufu,
baiklah. Kalau begitu aku akan mengabulkan permintaan Kai-sama dan
menemanimu."
"Terima
kasih."
Tentu saja Kai
merasa bersalah jika harus merepotkan orang lain.
Namun, Nina
sampai menitikkan air mata karena terharu melihat tempat ini.
Wajar jika Kai
ingin membiarkannya tinggal sedikit lebih lama.
"...Tapi,
kali ini mari kita dimarahi bersama. Jangan hanya Kai-sama yang
menanggungnya."
"Oh? Kalau
Nina sudah siap, aku tidak keberatan."
"Kalau
begitu, biarkan aku melakukannya!"
"Dimengerti."
Tadinya Kai
berniat membuat alasan 'aku mengabaikan ajakan Nina untuk pulang', tapi
sepertinya niatnya sudah terbaca.
Hal itu membuat
Kai merasa sedikit malu.
"Kalau
begitu, alasan kepulangan kita terlambat adalah 'Taman Pelangi terlalu indah
sampai kami lupa waktu', setuju?"
"Setuju!"
"Setelah
itu, aku akan minta maaf dengan tulus karena 'gagal menjalankan tugas sebagai
pelindung', lalu Nina harus menyalahkanku habis-habisan dengan bilang 'ini
semua salah Kai-sama'."
"A-aku harus
menyalahkan Kai-sama!?"
"Tenang
saja. Soalnya setelah itu, semua amarah mereka pasti akan beralih ke
Nina."
"Itu namanya
curang, Kai-sama!"
"Haha."
Karena Nina
mendengarkan dengan serius, ia langsung menyadari kalau sedang dikerjai. Nina
memukuli zirah Kai berkali-kali, namun tentu saja kerusakannya nol.
◆◇◆
Waktu berlalu,
langit siang telah berubah menjadi warna jingga kemerahan. Seharusnya mereka
sudah berada di dalam kereta menuju jalan pulang.
"Kai-sama,
Kai-sama."
"Ada
apa?"
"Ehehe,
terima kasih banyak untuk hari ini. Aku sangat senang."
Setelah
mengelilingi banyak area taman, melihat pemandangan dari bukit, dan melewati
terowongan bunga yang menjadi area terakhir, Nina menggenggam erat tangan Kai
yang bertaut demi keamanan sambil mengucap syukur.
"Syukurlah
kalau Nina senang. Karena satu jam lagi waktu neraka akan tiba."
"Ah...!"
(Benar juga,
aku lupa...)
Perasaan hangat
dan bahagia Nina seketika membeku mendengar kata-kata Kai.
"Berani juga
kamu sampai bisa melupakan hal itu, Nina."
"Ha-habisnya
tadi sangat menyenangkan, jadi mau bagaimana lagi. Justru bagiku masalahnya
adalah Kai-sama tidak melupakan hal itu."
"Maksudmu,
kamu khawatir aku tidak menikmati waktu ini sepertimu?"
"Benar
sekali."
"Menikmati
waktu sehebat apa pun tapi tetap tidak bisa lepas dari pikiran soal masalah
seperti itu, itulah artinya menjadi orang dewasa."
"Aku juga
sudah dewasa..."
"Dilihat
dari usiamu, itu agak mustahil."
"Muu."
Nina merasa kesal
karena dianggap anak kecil, namun saat ia mengulang kalimat 'Menikmati waktu
sehebat apa pun' di dalam kepalanya, perasaannya kembali ceria.
(Syukurlah
bukan hanya aku yang bersenang-senang...)
Karena ia
sadar telah bersikap sangat antusias sendirian, ia merasa lega setelah
mendengar pengakuan langsung dari mulut Kai.
"Ngomong-ngomong,
bukankah ada sesuatu yang mengganjal? Apa Nina baik-baik saja?"
"Eh,
sesuatu yang mengganjal?"
"Ingat
soal warna kesukaan Nina yang kita bicarakan di bukit tadi? Bunga berwarna
hitam sama sekali tidak terlihat, kan? Padahal aku ingin kamu melihat bunga
dengan warna kesukaanmu."
"Fufu, tidak
apa-apa kok."
(Kai-sama
benar-benar sangat baik...)
Nina berpikir
hanya sedikit orang yang bisa memberikan perhatian sedetail itu. Ia secara
tulus ingin menjadi orang dewasa yang bisa memberikan perhatian kecil seperti
Kai suatu saat nanti.
"Karena
warna kesukaanku sudah terlihat jelas di depan mataku sejak tadi."
"Eh? Kamu
bisa membayangkan warnanya hanya dengan melihat ini?"
"Bagi saya
ini sudah cukup!"
"Kalau
kamu bilang begitu, syukurlah..."
Nina
mengangguk mantap ke arah Kai yang menunjuk senjatanya sendiri. Baginya itu
sudah lebih dari cukup. Meskipun ia bilang 'hitam' itu spesial dan tidak
mungkin ada pada bunga, ia tidak merasa kecewa.
Bisa
mengunjungi taman bunga ini bersama orang yang menyembuhkan matanya, dan bisa
memanggil namanya saja sudah membuat Nina sangat puas.
"—Tapi
kalau dipikir-pikir, aneh juga ya Nina suka warna hitam. Bukankah jarang ada
pemuka agama yang suka warna itu? Karena dianggap membawa sial atau
semacamnya."
"Mungkin
memang sedikit. Tapi... aku menyukainya karena itu adalah warna Sang Juru
Selamat (Hero)."
"Eh?
Bukannya secara umum hitam itu warna penjahat?"
"A-ada warna hitam yang seperti itu."
"Begitu ya..."
"Iya."
(Dia bahkan tidak mencoba menuntut balas budi, bahkan
lupa kalau dia yang sudah menyembuhkan mataku. Benar-benar orang yang luar biasa. Tidak heran
kalau dia tidak sadar).
Tapi karena dia
orang yang seperti itulah, Nina ingin memanggil namanya.
Hanya dengan bisa
memanggil nama Kai, ia sudah merasa bahagia. Sampai-sampai ia memanggil
'Kai-sama' lima kali tanpa ada keperluan apa pun.
Sampai Kai bilang
'aku akan melepaskan tanganmu' jika ia memanggil tanpa keperluan lagi.
Sekarang, di
tengah rasa sesal karena terlalu sering memanggil, Nina menyadari Kai sedang
menatap tajam ke arah pintu keluar Taman Pelangi.
"Anu... ada
apa?"
"Tidak, aku
baru sadar sekarang, ternyata pengunjungnya memang pasangan semua, ya."
Mendengar itu,
Nina menoleh ke arah yang sama.
Di pintu masuk
dan keluar, pasangan pria dan wanita silih berganti lewat.
Pemandangan itu
membuatnya merasakannya kembali.
"Ehehe,
mungkin di mata pengunjung lain, kita juga terlihat seperti pasangan kekasih,
ya?"
"Yah, meski
ada perbedaan usia, mungkin saja ada yang salah paham."
"!! Benar
juga, ya!!"
(Nina, kau
berhasil...!), batinnya
bersorak.
Jika hubungan
mereka tidak baik, orang lain tidak akan salah paham mengira mereka kekasih.
Dengan kata lain,
Kai menganggap hubungan mereka 'cukup dekat' untuk disalahpahami. Perasaan Nina
melambung tinggi.
"Melihat
reaksimu, sepertinya Nina tertarik pada masalah asmara, ya?"
"Te-tentu
saja! Aku ingin menghabiskan waktu menyenangkan bersama, menginap bersama, dan
melakukan banyak hal dengan orang yang kusukai."
(Setelah hari
ini, perasaan itu jadi semakin kuat...)
Meskipun ia sudah
pasti akan dimarahi, Nina tetap merasa waktu yang ia habiskan bersama Kai masih
belum cukup.
"Di usiamu
mungkin belum terpikirkan, tapi pastikan kamu memilih pasangan yang benar-benar
menghargaimu, ya. Hidup itu harus dinikmati."
"Aku tahu
satu orang yang sangat menghargaiku."
"Hoo, kalau
begitu kamu harus berjuang agar tidak melepaskannya."
"Itu bukan
hal yang mudah, tahu? Orangnya itu..."
(Benar-benar
bukan hal yang mudah...),
keluh Nina dalam hati sambil menatap mata Kai.
"Yah...
kalau orang itu sampai disukai Nina, pasti dia populer. Tapi kalau Nina saja
tidak bisa mendapatkannya, rasanya tidak akan ada orang lain yang bisa."
"Kai-sama
berpikir begitu!?"
"Tentu saja.
Kamu punya wajah cantik, sifat baik, dan latar belakang keluarga yang
diinginkan banyak orang. Sayang sekali kalau tidak dikejar habis-habisan."
"Te-terima
kasih banyak! Kalau begitu, ke depannya aku akan berjuang lebih keras!"
"Begitulah
semangatnya."
(Kalau
begitu... bersiap-siaplah, Kai-sama...).
Kai-lah yang
menyulut api semangatnya. Kai-lah yang mendukungnya. Demi menjawab ekspektasi
itu, Nina harus bertindak.
"Lalu Nina,
terakhir, mau beli bunga di toko itu? Keluargamu pasti senang kalau diberi
hadiah. Aku yang bayar."
"Aku bawa
uang sendiri jadi tidak apa-apa! Dan kebetulan aku baru saja mau mengajak
Kai-sama ke sana."
"Haha,
syukurlah."
Tepat setelah
pembicaraan itu selesai.
"..........Ah,
harusnya tadi aku tanya Pak Residen suka bunga apa."
Nina mendengar
gumaman pelan Kai.
(Aku jadi iri
pada Pak Residen...).
Api cemburu
sempat menyala sejenak, namun Nina segera mengubah suasana hatinya begitu
memasuki toko. Ia memilih buket bunga dengan serius agar keluarganya senang.
"──Buket
yang itu satu, yang di sebelahnya satu, lalu bunga kuning ini satu tangkai,
ya!"
"──Buket isi
24 tangkai itu satu, dan bunga warna langit itu satu tangkai. Itu saja."
Mereka membayar
belanjaan masing-masing.
Nina keluar toko
sambil mendekap banyak bunga.
Saat mereka
berjalan menuju kereta kuda—
"Ini, Nina.
Hadiah dariku."
"Eh!?"
"Terima
kasih untuk hari ini. Berkatmu aku bisa menghabiskan waktu yang luar
biasa."
Bersama ucapan
terima kasih, Kai menyerahkan satu tangkai bunga.
"Te-terima
kasih banyak..."
Nina tidak
menyangka Kai memikirkan hal yang sama.
Ia mengira Kai
hanya memilih bunga untuk dirinya sendiri.
"Arti
bunganya ada di label itu, tapi jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya memilih
bunga yang sepertinya Nina sukai. Ya."
"......"
Kai berkata
begitu, namun Nina tahu.
Kai sudah
memilihkan arti bunganya dengan saksama. Saat Nina membalik label yang melilit
tangkai bunga, di sana tertulis empat kata.
"Fufu..."
Nina hanya bisa
tertawa saking bahagianya.
'Ikatan Abadi'.
Bagi Nina yang
baru saja bertekad untuk berjuang, itu adalah arti bunga yang paling membuatnya
bahagia.
Sambil
menahan dadanya yang berdebar, Nina menatap Kai.
"Kalau
begitu, dariku juga ada hadiah bunga ini. Aku juga sudah memilih arti bunganya,
silakan diperiksa."
"!! Nina
juga memilihkan untukku?"
"Iya..."
"Terima
kasih! Aku terima dengan senang hati."
Nina menyerahkan
bunga itu kepada Kai yang tampak senang, lalu segera memalingkan wajah.
Beberapa detik kemudian—
"──!?"
Mendengar suara
terkejut Kai, Nina langsung menyembunyikan wajahnya di balik buket bunga.
Ia berusaha
menahan rasa malunya.
(I-ini adalah serangan pertamaku... Aku akan berjuang!)
'Selamanya Milikmu'.
Nina yang telah berhasil menyampaikan perasaannya saat ini, menyandarkan bahunya sedikit lebih dekat ke arah Kai.



Post a Comment