NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 1 Chapter 9

Chapter 9

Konfrontasi Tak Sengaja


Kereta kuda keluarga Ansarage melaju membelah jalanan pulang, dikelilingi oleh para pengawal di keempat sisinya.

"Hei, hei, Ni-chan dengar tidak? Kamu dengar, kan!? Katanya aku lebih baik jadi diriku yang apa adanya! Aduh, ini pertama kalinya ada laki-laki yang bicara begitu padaku!"

"Kakak, kecilkan suaramu sedikit. Nanti orang-orang di sekitar bisa dengar, lho."

"Ah, tidak apa-apa!"

Marie tampak sangat kegirangan sampai menghentak-hentakkan kakinya, sementara Nina hanya bisa menatapnya dengan wajah lelah.

"……Padahal sebelum bertemu Tuan Shikkoku, Kakak gemetaran hebat seperti itu."

"Hoo? Aku tidak mau dengar itu dari orang yang tadi asyik memutar-mutar kunci gerbang kediaman itu dengan wajah saking senangnya."

"──!"

Kakak beradik itu mulai beradu mulut, benar-benar mewujudkan pepatah 'semakin sering bertengkar, semakin akrab'.

"Sudah, sini. Berikan kuncinya padaku. Biar aku yang simpan."

"Ti-tidak mau!"

"Ini bukan waktunya bilang tidak mau."

"I-ini adalah pemberian Tuan Shikkoku untukku!"

Nina menggenggam erat kunci kediaman itu dengan kedua tangannya, menunjukkan tekad bulat untuk melindunginya. Alasan Nina memang benar, tapi Marie pun tidak membujuknya tanpa alasan.

"Haaah…… Kalau begitu, kalau kuncinya hilang, kamu harus tanggung jawab penuh ya, Ni-chan? Biarpun kelihatan teguh, kamu itu kan punya sisi ceroboh."

"……"

Perlawanan Nina langsung runtuh karena ia merasa tersindir.

"Nah, begitu. Kalau ini sampai hilang, urusannya bisa gawat."

Sambil cemberut, Nina menyerahkan kunci itu dengan kedua tangannya, yang kemudian diterima dengan mantap oleh Marie.

Setelah menunjukkan aksinya sebagai seorang kakak, Marie langsung mengalihkan topik kembali ke Shikkoku.

"……Tapi kalau dipikir-pikir lagi, orang itu benar-benar hebat ya. Dia bisa melihat jati diriku yang sebenarnya hanya dalam sekejap. Padahal aku yakin tidak akan ketahuan, tapi kemampuan observasi apa itu……"

"Bukankah Ayah juga sudah bilang? 'Kalau beliau yang melihatnya, tidak heran jika rahasiamu terbongkar'."

"Memang sih, tapi awalnya aku setengah percaya. Kalau bukan karena perintah 'patuhi semua arahannya', aku pasti sudah merusak citra keluarga Ansarage."

Awalnya Marie berniat untuk terus berpura-pura karena berpikir 'tidak mungkin ketahuan'.

"Sekadar bertanya, apa ada hal yang membuatku tampak mencurigakan?"

"Menurutku Kakak sudah bersikap dengan sangat sempurna."

"Kan? Benar-benar misterius……"

Ucapan 'santai saja' mungkin terdengar seperti basa-basi sosial, tapi jika diulangi berkali-kali, maknanya jadi berbeda.

Itu berarti: 'Aku sudah tahu, jadi tidak perlu berpura-pura'.

──Seandainya aku tidak mematuhi kata 'santai saja' yang mengandung makna tersirat itu, beliau pasti akan merasa terganggu. Citraku pasti akan jadi negatif.

Jika sampai membuat penyelamat yang jasanya tak terukur itu berpikir demikian, maka harga diri keluarga Ansarage akan jatuh.

"Lagi pula, tidakkah kamu merasa dia tahu persis informasi tentang organisasi agama baru itu?"

"Aku juga berpikir begitu."

"Jangan-jangan, dia memegang semua informasi di kota ini? Orang itu."

"……Mungkin saja, orang yang membocorkan informasi organisasi agama baru itu adalah Tuan Shikkoku sendiri," ujar Nina dengan senyum yakin.

"Orang itu menggunakan nama anonim dengan alasan 'tidak bisa bertanggung jawab jika informasinya salah', tapi sepertinya itu memang beliau."

"Fakta bahwa dia menyembunyikan wajahnya dengan zirah juga sangat mencurigakan, kan?"

"Aku rasa Ayah juga berpikir begitu, makanya hari ini Ayah menggunakan taktik memancing musuh. Bagi orang yang memegang informasi sedalam itu, peringatan 'jangan biarkan orang tua datang' pasti punya maksud yang jelas."

"Logikanya memang masuk akal, tapi rasanya tidak mungkin kejadiannya tepat hari ini."

Marie merasa merinding saat menyadari benang-benang informasi itu mulai terhubung, namun ia mencoba menepis kemungkinan tersebut.

"Kalau dia tahu seakurat itu, berarti dia punya mata-mata di dalam, kan? Dan itu dilakukan oleh orang yang baru sebentar di kota ini. Secara teknis itu tidak mungkin."

"Tapi bukankah beliau juga melakukan hal serupa saat menyelamatkanku?"

"……"

Sanggahan yang seharusnya 100% masuk akal itu langsung hancur oleh bukti nyata di masa lalu.

"I-iya sih, tapi rasanya dia tidak punya kewajiban untuk bergerak sejauh itu, kan? Dia sendiri kelihatannya sibuk."

Marie mulai beralih ke argumen emosional.

"Kalau dia bergerak sejauh itu, dia benar-benar orang suci, kan? Dengan usaha sebesar itu, seharusnya dia menerima pusaka keluarga ini."

"Tapi Tuan Shikkoku bukan tipe orang yang mau menerima imbalan, kan?"

"……"

Lagi-lagi sanggahannya patah, karena apa yang dikatakan Nina memang benar. Bahkan setengah dari uang yang disiapkan pun dikembalikan dengan alasan agar digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.

Secara sederhana, itu berarti 'gunakan untuk membantu panti asuhan'.

"Haaah. Dia benar-benar keren."

Jika diingat kembali—kata-kata itu diucapkan oleh Shikkoku yang tidak punya cela sedikit pun.

'Di kediaman ini tidak perlu sungkan pada apa pun. Silakan bersantai saja, aku pun lebih menyukai sosokmu yang seperti itu.'

"……"

Padahal dia adalah sosok yang wajahnya tidak diketahui dan hanya kepribadiannya yang nampak, tapi pipi Marie entah kenapa terasa panas.

"Benar-benar…… kamu diselamatkan oleh orang yang hebat ya, Ni-chan."

"Fufu, aku sudah bilang begitu berkali-kali, kan?"

"Ya, ya, aku cuma baru menyadarinya lagi."

Kedua kakak beradik itu saling melempar senyum dalam percakapan yang damai. Waktu berlalu puluhan menit di dalam kereta kuda, hingga tiba-tiba……

"Eh? Tu-tunggu, bukankah itu gawat?"

Di depan gerbang katedral, banyak prajurit penjaga berkumpul seolah sedang dalam status siaga satu.

"Apa yang terjadi……"

"Ka-Kakak. Aku takut……"

"Tenanglah. Jangan khawatir."

Marie memeluk Nina dengan erat sambil memperhatikan salah satu pengawal yang pergi mencari tahu situasi. Kemudian, mereka mendengarnya.

"──Mengenai masalah itu, berkat taktik yang sempurna, masalah berhasil diatasi tanpa adanya penyebaran rumor palsu!"

"──!!"

Kata-kata yang seketika memberikan rasa lega.

"Saat ini, kami sudah sampai pada tahap mengumpulkan informasi dalang dari para pelaku demonstrasi untuk menuntut mereka atas tuduhan pencemaran nama baik!"

Kata-kata yang menghancurkan akar kejahatan, yang bisa dibilang merupakan hasil dari permainan bidak di telapak tangan Shikkoku.

Beberapa saat setelah kakak beradik itu kembali ke katedral.

"Ke-kenapa kamu malah membawa pulang barang imbalannya!? Kenapa sampai membawa pulang kunci cadangan segala!?"

"Marie, kamu ini……"

"Iya, aku sangat mengerti perasaan Ayah dan Ibu…… Kita sudah melakukan simulasi berkali-kali, dan berkat saran orang itu, reputasi kita dalam kasus organisasi agama baru tidak tercoreng, jadi kita harus memberikan ucapan terima kasih yang sempurna, kan!?"

Marie, yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai perwakilan keluarga Ansarage, mulai berdebat dengan orang tuanya. Ia sengaja tidak menyertakan Nina dalam pembicaraan ini.

Agar Nina tidak berpikir bahwa 'keluarga jadi bertengkar karena dia telah diselamatkan'.

"Tapi, ini benar-benar tidak bisa dihindari!"

Marie memberikan penjelasan tanpa mundur selangkah pun, menyampaikan perasaannya secara blak-blakan.

"Dengar ya—terserah kalau mau dianggap alasan, tapi itu benar-benar mustahil. Kepura-puraanku langsung ketahuan, aku terus-menerus dipermainkan di telapak tangannya. Mustahil bisa menang bicara melawan orang yang seolah-olah menguasai segalanya."

"……"

"……"

Marie melambaikan tangan dan menggelengkan kepalanya. Kedua orang tuanya terdiam melihat putri mereka menyerah, namun setelah jeda sejenak, sang Uskup Agung—ayahnya—membuka suara.

"Ma-maafkan Ayah. Jika Marie sampai bicara begitu, berarti memang begitulah kenyataannya……"

Meski Marie aslinya agak nakal, dia sangat cerdas. Kemampuannya dalam berdiplomasi tidak kalah dari siapa pun. Jika putri mereka sampai berkata tidak sanggup menanganinya, mereka pun cepat menjadi tenang.

"Ayah bukannya tidak menduga hal ini, tapi apakah beliau memang menguasai situasi sampai sejauh itu……"

"Sudah pasti. Buktinya, setelah mendengar laporanku pun, Ayah dan Ibu masih berniat berkunjung untuk berterima kasih, kan?"

"Tentu saja."

Sang Ibu mengangguk menyetujui perkataan Ayah.

"Beliau sudah memprediksi hal itu dan menegaskannya lagi, tahu? 'Tidak perlu meminta orang tua datang'. Katanya, 'Karena aku tidak berniat menerima imbalan lebih, datang ke rumah ini hanya akan membuang-buang waktu'."

Seseorang tidak akan bisa bicara seperti itu jika tidak memahami sifat mereka berdua. Padahal seharusnya mereka tidak punya kaitan apa pun. Bahkan bagaimana beliau bisa tahu pun tidak terbayangkan.

"Hei, apa beliau benar-benar mengatakan hal seperti itu?"

"Aku berani sumpah demi Tuhan."

"Ta-tapi…… biarpun buang-buang waktu, bukankah kita harus menunjukkan ketulusan?"

"Katanya, 'Ada hal lain yang harus dilakukan, kan?'"

Marie yang cerdik mengingat kembali isi percakapan mereka dan menyampaikan kata-kata Shikkoku apa adanya.

"Katanya, 'Daripada melakukan hal yang membuang-buang waktu, aku ingin mereka menggunakan waktu itu untuk hal-hal yang lebih berguna bagi kota ini'. Lalu, dia juga bilang sesuatu seperti 'jika kalian menjadi lebih kuat'."

"I-itu…… apakah maksudnya lencana segel itu…… perlindungan kita tidak ada gunanya bagi beliau?"

"Ki-kita ambil sisi positifnya saja, ya? Anggap saja beliau menilai bahwa nantinya kita bisa menjadi kekuatan bagi beliau……"

"Waktu mendengar itu, aku juga berpikir 'serius nih?'."

Kedua orang tuanya bergidik ngeri. Normalnya hal itu tidak mungkin terjadi. Perlindungan dari keluarga Ansarage, salah satu dari tiga kekuatan besar, dianggap tidak berguna.

Belum pernah ada yang berani bicara seperti itu. Tentu saja, orang bodoh sekalipun tidak akan mengatakannya. Jika orang bodoh saja tidak mengatakannya, berarti itulah kenyataannya.

"Benar-benar aneh, kan? Padahal aku cuma mengulangi apa yang dikatakan beliau saat bertemu tadi, tapi itu bisa dipakai untuk meyakinkan Ayah dan Ibu. Dia benar-benar bisa melihat masa depan sampai ke tahap yang mengerikan."

Dengan mengingat kembali, Marie kembali merasakan betapa "monster"-nya sosok itu.

"Lalu, imbalan yang dikembalikan ini katanya harus digunakan untuk kepentingan kota. Soal pusaka keluarga, karena tidak bisa dipakai untuk kepentingan kota, sepertinya beliau ingin kita menjaganya baik-baik."

"Jadi soal uang itu…… maksudnya begitu?"

"Beliau bilang 'gunakan untuk hal yang bermanfaat'. Aku benar-benar menghormatinya karena beliau bisa bilang begitu di depan uang sebanyak itu," ujar Marie dengan senyum tipis.

"……Begitu ya. Tampaknya kita baru bisa bertemu beliau setelah kita melakukan hal itu dengan benar."

"Rasanya beliau seperti berpesan, 'Jika kalian punya tekad untuk menunjukkan ketulusan, hal sekecil ini pasti mudah', ya."

"Makanya, biarpun imbalannya tidak bisa diberikan semua, kita sudah berterima kasih dalam bentuk yang saling disepakati."

"Baiklah. Kerja bagus."

"Kerja bagus, Marie."

"Ah……"

Mendengar kata-kata penghargaan itu, Marie teringat hal yang paling penting.

"Tiba-tiba aku merinding…… Beliau menitipkan pesan untuk Ayah dan Ibu, katanya 'Terima kasih atas berbagai kerja kerasnya'."

"…………"

"…………"

"Ja-jadi…… ini maksudnya soal itu ya……"

Seketika, kesunyian menyelimuti ruangan saat mereka bertiga saling pandang. Tidak perlu penjelasan panjang lebar.

Ini sudah pasti merupakan penghargaan atas penanganan masalah organisasi agama baru. Beliau tidak mungkin bisa mengatakan itu jika tidak tahu bahwa hari ini akan ada pergerakan.

Terlintas di benak sang Ayah yang seorang Uskup Agung dan Ibu yang seorang Suster.

Ekspresi Shikkoku yang seolah pamer dan berkata, 'Aku memulangkan mereka tepat saat masalah itu selesai, lho'.

"Benar-benar sosok yang sangat bisa diandalkan sampai ke tahap yang menakutkan……"

"Ki-kita benar-benar tidak boleh menjadikannya musuh……"

"Yah, orang sehebat itu pasti anggota Vertall. Apalagi dengan kedudukan yang sangat tinggi."

Tidak ada yang membantah. Dari bukti-bukti situasi yang ada, memang hanya itu kesimpulan yang masuk akal.

"Ah, ngomong-ngomong! Apa informasi tentang dalang utamanya sudah terkumpul?"

Menanyakan hal ini terlalu dalam sebenarnya dilarang. Marie yang segera menyadarinya buru-buru mengganti topik, dan ibunya langsung menanggapi.

"Anu, karena kami sudah menyebarkan informasi sebanyak mungkin ke kota, mereka pasti akan mencoba melarikan diri."

"Hah? Tidak ditangkap!?"

"Bukannya kami tidak bergerak, tapi karena ada kekhawatiran para pengikutnya atau mereka akan membalas dendam dengan nekat kepada Tuan Shikkoku, menutup jalan pelarian mereka sepenuhnya bukanlah taktik yang bijak."

"Haaah…… Padahal mereka sudah melakukan hal yang penuh niat jahat begitu……"

Marie terkulai lemas, namun ia menilai bahwa keputusan itu memang langkah yang paling tepat untuk mengakhiri masalah.

Waktu sudah menunjukkan larut malam.

"……Kamu ini, apa tidak ada toko lain yang bisa dikunjungi? Pasti ada, kan? Toko mewah atau semacamnya."

"Di sini sudah bagus. Toko mewah itu mahal."

Ini adalah kunjungan kedua Shikkoku ke penginapan Eldy hari ini, dan ia langsung menyantap hidangan yang dipesannya.

"Kalau aku yang bilang sih wajar, tapi apa pantas orang sekaya kamu bicara begitu?"

"Sense keuangan-ku tidak kacau, tahu?"

"……Ah, dipikir-pikir benar juga."

"Ternyata kamu percaya bagian itu……"

"Dalam kasusmu, kamu tipe orang yang lebih suka menggunakan uang untuk orang lain daripada untuk bermewah-mewah sendiri, kan? Buktinya kamu memberiku uang sebanyak itu."

"Tidak, itu memang uang yang harus kuberikan. Itu kan imbalan karena sudah menyembunyikanku."

Intinya, dia sebenarnya pelit. Karena tidak bekerja, dia hidup dari uang imbalan jasa. Karena tidak punya penghasilan tetap, dia tidak punya kemewahan untuk menggunakan uang demi orang lain.

"Hebat juga ya. Tapi aku punya keluhan untukmu."

"Ho-hou? Apa itu?"

"Sekarang, rumor bahwa aku setara denganmu mulai menyebar di kota…… Akibatnya, aku dianggap sebagai informan khusus Shikkoku atau semacamnya. Aku harus bagaimana coba?"

"Hahaha, mari kita berjuang bersama-sama menghadapi kesulitan ini."

"Heh, tidak lucu tahu."

Kai menyadari bahwa pemilik penginapan itu juga mengalami kesalahpahaman yang sama dengannya. Merasakan kemiripan nasib membuatnya merasa semakin senang.

"Hei, apa kamu tidak sedang merencanakan sesuatu? Apa kamu tidak memprediksi hal ini dan menggerakkan sesuatu di balik layar?"

"Mana mungkin."

"Entahlah ya…… Haaah. Aku bisa mati karena sakit perut. Karena ini kamu, pasti kamu sedang bergerak di bawah permukaan. Entah bakal jadi apa nanti."

Pemilik penginapan itu tidak tampak bercanda; dia terlihat benar-benar cemas dengan alis yang mengkerut. Kai memang tidak merencanakan apa pun atau bergerak di bawah permukaan, tapi ia jadi merasa khawatir.

"Ah, kalau obat sih aku punya di rumah. Obat yang ampuh untuk apa saja. Kalau untuk Paman, aku bisa berikan satu."

"……Hm? Am-ampuh untuk…… apa saja?"

"Iya."

Saat ia merebut kantong kain berisi uang dari para penjahat yang menculik Nina dan yang lainnya, ia memasukkan barang sebanyak mungkin. Yaitu ramuan universal yang ada di dalam rumah pohon.

Sekarang ada 7 buah di kediamannya, dan 10 buah di rumah pohon.

"Itu obat yang kugunakan untuk Nina yang penglihatannya buruk, jadi khasiatnya terjamin."

"……Tunggu sebentar. Anu ya. Aku tidak tahu apakah itu obat yang sama dengan bayanganku, tapi jika itu memang ramuan universal yang kupikirkan…… bagaimanapun dipikirkan, itu bukan obat untuk sakit perut, kan? Pasti begitu, kan?"

"Itulah bentuk rasa terima kasihku."

"Kalau begitu, jangan terlalu berterima kasih padaku!"

"Kenapa?"

"Aku jadi takut padamu!"

"Kenapa coba?"

Beginilah jadinya jika ia mencoba berbuat baik. Dan sepertinya kata 'takut' itu memang tulus dari lubuk hatinya.

"Kenapa kamu masih punya obat itu…… Lagipula, apa kamu serius memilikinya……?"

Pemilik penginapan bergumam dengan wajah pucat dan mencoba menjauh secara terang-terangan.

"Ah, benar juga. Terakhir, ada yang ingin kuberikan pada Paman."

"Malah aku yang mohon! Tidak usah!"

"Jangan bilang begitu."

Alasannya datang ke sini hari ini juga untuk memberikan ini. Ia ingin terus menjalin hubungan baik dengan pemilik penginapan. Karena itulah ada etika yang ingin ia penuhi.

Ia melepas tali yang melilit pedangnya, lalu meletakkan kantong kain berisi uang di atas konter.

BRAKK!

"Hei, barusan itu suara yang sangat berat, kan……?"

"Karena ucapan terima kasihku belum selesai sepenuhnya. Jadi ini kuberikan lebih."

"……"

"Ngomong-ngomong, aku tidak memaksakan diri, kok. Aku baru saja dapat penghasilan tambahan. Jadi, dengan ini akhirnya aku bisa membalas budi."

Isinya adalah 2 juta dan 30 ribu Regil sebagai biaya tambahan.

Kai ingat bahwa yang meminta informasi adalah Tiga Kekuatan Besar, dan imbalannya masing-masing adalah 1 juta Regil, total 3 juta Regil. Artinya, kali ini ia sudah melunasi semuanya.

"Hmm. Maaf ya…… tapi aku benar-benar tidak bisa menerima ini. Ini sudah lebih dari cukup. Kamu sudah membalas hutang budimu berkali-kali lipat."

"Aku sangat mengerti perasaan itu."

Kai mengangguk-angguk sambil mengerutkan dahi. Pemilik penginapan mengucapkan kata-kata yang hampir sama dengan yang dikatakan Marie dan Nina hari ini. Wajar jika ia merasa sangat bersimpati.

Namun, karena ia adalah pria yang pernah mengalami posisi serupa, ia tahu cara membuat orang lain menerima ucapan terima kasih dalam situasi seperti ini.

"Paman. Kalau Paman tidak menerima ini, tahu tidak apa yang akan terjadi?"

"……A-apa yang akan terjadi?"

"Aku tidak bisa mengatakannya."

"──!!"

Mendengar hal yang tidak jelas justru membuatnya takut. Dia jadi tidak punya pilihan selain menerima.

Kai merasa bersalah karena menakut-nakutinya, padahal ia hanya bicara asal-asalan. Ia berharap paman itu memaafkannya.

"……Yah, kalau benar-benar tidak bisa diterima untuk diri sendiri, jangan masukkan ke kantong pribadi, tapi gunakan untuk kedai ini. Misalnya, coba buat tarif khusus anak-anak untuk menarik pelanggan, atau…… pembagian makanan gratis untuk promosi kedai. Aku rasa itu bisa jadi win-win solution."

"Ba-baiklah. Kalau tidak kuterima rasanya menakutkan……"

"Sangat membantu."

Dengan ini, bisa dibilang ia akhirnya sudah membalas hutang budinya.

Mungkin karena ingin memindahkan kantong itu, sang pemilik memegangnya dan merasakan beratnya. Tangannya gemetar…… dan entah kenapa ia mengembalikannya ke tempat semula.

"……Kamu ini."

"Ya?"

"Hati-hatilah dengan masalah itu. Karena aku merasa kamu sering membawa-bawa uang sebanyak ini……"

"Eh?"

"Ah, maaf. Dalam kasusmu, kamu pasti akan memukul balik mereka semua, ya."

"……Hm?"

Mungkin ini balasan dari yang tadi, tapi Kai tidak mengerti maksud kata-katanya.

Meski tidak paham, ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Karena takut, ia memutuskan untuk tidak menyentuh topik yang berbahaya.

Sepuluh menit kemudian, Kai meninggalkan kedai.

Tepat setelah Kai pergi, sang pemilik penginapan jatuh lemas karena terkejut setelah melihat isi kantong kain tersebut.

Seberapa besar pun kontribusi seseorang terhadap kota ini, seberapa banyak pun perbuatan baik yang dilakukan, dan seberapa besar pun kepercayaan yang dikumpulkan, tidak semua orang akan memiliki perasaan yang baik.

Hanya karena memiliki wibawa atau kekuasaan, hanya karena memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, atau hanya karena dihormati──seseorang bisa menciptakan musuh. Bahkan bisa menjadi sasaran kebencian yang salah sasaran.

Gara-gara organisasi agama bernama 'Gereja Seisei' yang memperluas pengaruhnya, gara-gara keluarga Ansarage yang mendirikannya, agama lain yang dibangun oleh nenek moyang orang lain bisa hancur.

Mereka yang kalah dalam persaingan terkadang melampiaskan kebencian kepada sang pemenang.

"──APA!? Rencana itu gagal!? Padahal itu informasi dari Redfreed, kan!?"

"I-itu…… sepertinya semuanya sudah bocor. Si Uskup Agung dan Suster itu sudah bersiaga di belakang katedral…… Singkatnya, kami benar-benar terpancing masuk ke jebakan……"

"Kita benar-benar kalah telak. Kita pasti sedang dicari, dan pion-pion yang kita kumpulkan dengan uang juga sudah diambil."

"Ini situasi yang paling kutakuti……"

Kelompok yang menyimpan dendam pada keluarga Ansarage──kelompok yang menjalin hubungan saling menguntungkan dengan organisasi kriminal Redfreed untuk mencoreng nama Gereja Seisei dan menghancurkannya. Empat orang pria dan wanita yang terlibat berkumpul di sebuah ruang bawah tanah.

"Di mana sebenarnya rencana kita mulai kacau…… Aku tidak menyangka orang-orang Ansarage itu bisa melakukan hal seperti itu dengan mudah……"

Pria sang pemimpin melipat tangan sambil mengerutkan dahi.

Mengingat posisi keluarga Ansarage, mereka tidak mungkin melakukan tindakan yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan pengikutnya──seperti 'bersiaga' secara diam-diam.

Mereka tidak seharusnya melakukan tindakan 'berjudi' seperti itu.

"Anu, sebenarnya, katanya dalam masalah ini ada anggota Vertall bernama Shikkoku yang membantu mereka……"

"Ver, Ver…… Hah!? Orang yang menghancurkan rencana penculikan Redfreed itu!?"

"I-iya. Makanya Redfreed juga dendam pada pria itu, dan mereka memberi kita berbagai informasi untuk menghancurkan Ansarage yang punya hubungan dengannya, tapi sepertinya mereka tidak menduga hasil ini……"

"Ugh. Mereka juga terhubung dengan orang-orang itu? Benar-benar menyebalkan."

Informasi yang semakin memperdalam dendam pribadi mereka. Namun, salah satu dari mereka menyadari hal yang aneh.

"……Hei, apa kalian tidak merasa janggal? Fakta bahwa kita terpancing keluar berarti dia tahu rencana yang sudah disesuaikan dengan informasi dari Redfreed, kan? Jangan-jangan ada mata-mata Shikkoku di antara kita."

"Tunggu! Kamu terlalu paranoid. Tidak ada orang seperti itu di antara kita."

"Be-benar. Kita kan berkumpul untuk menghancurkan musuh bersama, Ansarage……"

"Heee, menurutku kamu yang bicara begitu untuk memecah belah kitalah yang paling mencurigakan."

"Apa katamu!?"

"Te-tenanglah. Tenang. Jangan sampai kita dipecah belah oleh Shikkoku."

Sang pemimpin bertepuk tangan sekali untuk menenangkan suasana. Sekarang bukan waktunya bertengkar di dalam. Mereka harus bekerja sama untuk meninggalkan kota ini. ──Agar tidak tertangkap.

"Anu, aku tidak punya bukti pasti…… tapi menurutku, yang paling menghalangi kita dalam masalah ini adalah informan yang punya hubungan dengan Shikkoku……"

"Informan, katamu?"

"Sebenarnya hari ini aku mendengar kabar selentingan…… Pemilik penginapan bernama Eldy punya hubungan sangat dekat dengan Shikkoku, dan ada informasi bahwa dia menerima barang imbalan…… Jadi, kemungkinan besar Shikkoku menerima informasi dari informan itu lalu menyarankan taktik kepada keluarga Ansarage."

Begitu mendengar kata-kata ini, tatapan mata ketiga orang lainnya berubah.

"Hee, jadi pemilik penginapan itulah penyebab semuanya. Orang yang menghancurkan rencana kita."

"……Itu namanya meremehkan kita."

Sang pemimpin menangkap perasaan dua orang lainnya. Rencana yang disusun bertahun-tahun dan berjalan lancar, hancur dalam sekejap. Ia sangat mengerti perasaan mereka.

Dan jika memikirkan kemungkinan tertangkap, mereka tidak bisa lama-lama di kota ini. Tentu saja, bukan hanya kelompok ini yang menyadari hal itu.

"Anu, Redfreed memberikan satu permintaan…… Sebelum meninggalkan kota, mereka ingin kita menghancurkan setidaknya satu orang yang berhubungan dengan Shikkoku untuk memberikan tekanan. Alihkan perhatian Shikkoku. Mereka bilang hutang budi itu akan dibayar dengan menghancurkan keluarga Ansarage nanti."

Shikkoku yang menghancurkan rencana mereka telah menjadi musuh bersama.

Sambil mematuhi perintah, mereka juga bisa melampiaskan kekesalan.

Mereka bisa memberi hutang budi agar Redfreed menghancurkan keluarga Ansarage untuk mereka.

Pria sang pemimpin tersenyum menyeringai. Melawan Shikkoku mungkin tidak akan menang. Bahkan jika menang, mereka pasti akan terluka parah.

Kalau begitu, mengincar rekannya──orang yang lemah, adalah hal yang lumrah.

"Ta-tapi aku punya firasat buruk…… Sebaiknya kita lari saja……"

"Tidak apa-apa, cuma mengganggu sedikit. Biarpun informasi tentang kita menyebar, wajah kita belum teridentifikasi. Apalagi ini malam hari. Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Setuju, setuju. Lagipula kita harus kabur, jadi hancurkan saja dulu sebelum pergi."

"Aku sudah bisa membayangkan wajah tangisannya."

"…………"

Wanita itu mengamati tiga rekannya yang haus darah dengan diam. Entah kenapa ia merasa seolah sedang diarahkan, keringat dingin mengucur…… tapi ia menggelengkan kepala seolah itu hanya kekhawatiran yang berlebihan.

Mendengar informasi tentang Eldy adalah sebuah kebetulan. Merencanakan hal ini baru saja dilakukan.

Di sini adalah ruang bawah tanah. Informasi tidak akan bocor.

──Tidak mungkin mereka sedang terpancing keluar.

Keinginan untuk membalas dendam sama dengan yang lain.

Karena rencana yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dihancurkan begitu saja.

Ia mengepalkan tangan seolah berkata 'aku akan melakukannya'.

"Baiklah, tidak ada waktu untuk berleha-leha. Ayo pergi."

Mengikuti instruksi pemimpin, mereka semua mengenakan jubah untuk menyembunyikan wajah.

Rencana terbesar memang gagal, tapi setidaknya mereka bisa melampiaskan kekesalan untuk sementara.

Jika mereka memberi hutang budi pada Redfreed, organisasi itu akan meneruskan keinginan kelompok ini. Mereka akan menghancurkan keluarga Ansarage sebagai penggantinya──.

"Ada apa sih sebenarnya…… Serius deh."

Setelah mengisi perut di tempat makan di dalam penginapan, Shikkoku yang telah keluar dari kedai sedang berjalan pulang dengan tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian maksimal.

──Percakapan dengan pemilik penginapan tadi terus terngiang di benaknya.

'Hati-hatilah dengan masalah itu. Karena aku merasa kamu sering membawa-bawa uang sebanyak ini……'

'Eh?'

'Ah, maaf. Dalam kasusmu, kamu pasti akan memukul balik mereka semua, ya.'

'……Hm?'

Semakin lama waktu berlalu, ia semakin berpikir.

Seharusnya ia tadi menanyakan detailnya.

Ia tidak seharusnya berpikir 'karena takut, aku tidak akan menyentuh topik yang berbahaya'.

"Apa maksudnya pukul balik itu…… Apa itu berarti aku sedang diincar……?"

Ia tidak punya petunjuk apa pun.

Ia tidak melakukan hal yang memalukan dan menjalani hidup dengan normal.

Ia tidak pernah menyerang siapa pun atau melakukan sesuatu yang membuatnya layak diserang. Ia benar-benar tidak mengerti sama sekali.

"Haaah…… Kalau aku dengar cerita begitu, aku tidak akan keluyuran jam segini……"

Waktu sudah sangat larut malam. Saat ia menengadah ke langit, dua bulan menggantung dengan tenang.

"Sampaikan dong informasi begitu lebih awal…… Lagian kenapa juga harus ada urusan pukul balik segala……"

Sambil membayangkan wajah pemilik penginapan, ia mengeluh secara tidak adil, tapi ini sudah terjadi.

Semakin ia berpikir, semakin jalan pulang yang remang-remang ini terasa menakutkan. Semakin ia menuju rumahnya, lampu-lampu kota pun semakin berkurang.

"Harusnya tadi aku menginap di penginapan itu saja…… Utamakan keselamatan……"

Sekarang ia baru menyadari ide cemerlang itu. Ia berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, tapi kembali sekarang rasanya memalukan.

Sudah sampai sejauh ini, rasanya juga merepotkan.

"Ya-yah, tidak mungkin hal seperti diserang itu terjadi begitu mudah…… kan?"

Itulah kesimpulan yang ia ambil. Namun, ia tetap berjaga-jaga.

Ia menggenggam gagang di pinggangnya, menarik bilah pedang yang panjang perlahan, lalu mengarahkan ujung pedangnya ke tanah, menyelesaikan persiapan tempur sekadarnya.

Ia mencabut senjata di tengah kota. Jika warga melihatnya, mereka pasti akan melapor, tapi di jalan yang sepi ini, perlengkapan hitam legamnya yang menyatu dengan kegelapan malam tidak akan mencolok.

Seandainya dilaporkan pun, ia tinggal menjelaskan situasinya dengan benar.

(Anggap saja kalau ada orang jahat, mereka akan mengabaikanku setelah melihat penampilan ini……)

Karena ia sangat sadar bahwa penampilannya terlihat kuat, ia tidak ingin menghilangkan kelebihan itu.

Setelah sekitar 10 menit berjalan dengan penuh wibawa semaksimal mungkin……

"……Hm?"

Tepat saat ia hendak menyeberangi jembatan batu di atas sungai kecil.

──Suara langkah kaki beberapa orang terdengar dari arah depan.

Biasanya ia tidak akan memedulikannya, tapi sekarang setelah kata-kata pemilik penginapan tertanam di benaknya, ia merasa merinding.

Dalam kondisi itu, hawa keberadaan tersebut semakin mendekat.

Tepat saat ia tanpa sadar berhenti melangkah dengan wajah tegang, ia pun bertemu dengan mereka.

Empat orang berjubah yang menyembunyikan identitas mereka seperti pembunuh bayaran.

"……"

"……"

"……"

"……"

"……"

Begitu tatapan mereka bertemu, kesunyian menyelimuti tempat itu.

Ia bisa merasakan bahwa pihak lawan juga berhenti melangkah dan masuk ke posisi siaga.

Instingnya mengatakan bahwa mereka adalah orang yang ahli.

Terlebih lagi, instingnya juga memberitahu bahwa merekalah 'orang-orang yang akan mencari masalah' yang dikatakan pemilik penginapan.

(D-duh, gawat nih…… Ini benar-benar gawat……)

Suasana saat ini tidak mungkin dianggap sebagai salah paham semata.

──Situasi di mana tidak ada yang bisa dimintai tolong.

Formasi 1 lawan 4 yang terlalu tidak menguntungkan.

Ketegangan, kecemasan, ketakutan. Berbagai emosi bercampur jadi satu.

Seolah membuktikan nasib buruknya itu, pria sang pemimpin angkat bicara.

"──!! Shi-shi-shi-shikkoku!?"

Reaksi ini muncul karena memang dialah targetnya.

"……"

Jika ia tidak membalas sepatah kata pun, mereka mungkin menganggapnya sebagai provokasi.

Ada kemungkinan mereka akan menyerang karena merasa unggul jumlah. Jika itu terjadi, yang menantinya adalah yang terburuk──kematian.

Bahkan jika diampuni, ia pasti akan dipukuli habis-habisan dan dirampok.

Di tempat ini, ia harus mengatakan sesuatu yang membuat mereka semakin waspada, sesuatu yang memancarkan kekuatan.

Setelah memutar otak sekuat tenaga, ia tidak punya pilihan selain menggerakkan mulutnya.

"……Akhirnya muncul juga. Kalian yang memikirkan hal-hal berbahaya itu, ya."

Ia berusaha mengubah suaranya yang gemetar menjadi suara yang berat dan dalam, mengucapkan kalimat yang bisa menunjukkan kekuatannya.

Sambil menahan kakinya yang nyaris bergetar seperti anak rusa, ia tertawa meremehkan untuk menunjukkan ketenangannya, memperlihatkan aura layaknya orang kuat.

"Hanya berempat untuk menghadapiku…… Benar-benar meremehkanku ya."

"Bre-brengsek…… Beraninya kamu meremehkan kami……"

Kelompok empat orang itu membentuk formasi satu di depan dan tiga di belakang. Tiga orang di belakang tampak sibuk berbicara dengan panik, tapi suaranya tidak terdengar.

"Brengsek, brengsek, brengsek!! Gara-gara kamu, rencana kami jadi kacau balau!!"

"……Tidak, itu salah paham."

"Jangan bicara omong kosong!"

"Ah……"

Kai mengeluarkan suara aslinya yang memalukan saat melihat pria sang pemimpin membentak dan tiba-tiba mencabut pedangnya.

"Maaf ya kalian…… Aku terpancing keluar lagi oleh si Shikkoku itu…… Kalian larilah sekarang. Aku yang akan menahannya di sini."

(Eh?)

"Jangan sok pahlawan begitu…… Kalau sudah sampai sini, kita hadapi sampai akhir."

"Aku…… juga."

"Setuju. Lagipula tidak ada jalan lari lagi selain mengalahkan pria itu."

Mungkin karena sang pemimpin berteriak, tiga orang lainnya pun mengikuti.

Mungkin karena sudah memantapkan tekad bertempur, gumpalan niat jahat ditujukan kepadanya.

(Tu-tunggu……)

Sampai tadi ia masih berharap mereka akan mundur, tapi harapan itu sirna.

Pedang, pisau, tongkat sihir. Semua mengeluarkan senjata, dan ia yakin bahwa ia akan segera diserang──.

"Tu-tunggu dulu."

Ia menjulurkan satu tangan, mencoba menenangkan suasana untuk mencegah pertikaian.

"Pertama-tama, mari kita bicara baik-baik. Ada sesuatu yang pasti kalian salah pahami."

"Gampang sekali bicara begitu sambil menggenggam senjata, Shikkoku……! Bukankah kamu yang duluan mengambil posisi tempur tadi!"

"……"

Namun, ia diberikan argumen yang sangat tepat hingga tidak bisa membantah.

Mereka sudah tidak mau mendengarkannya lagi. Semakin ia membuka mulut, suasana semakin berubah menjadi berat.

(Be-benar-benar gawat nih…… Tidak ada jalan keluar……)

Meski mencoba membujuk, ia sudah dihadapi dengan permusuhan yang tak bisa ditarik kembali.

"Kenapa sih aku harus terlibat masalah begini……"

Kalau ia membalikkan badan, nyawanya pasti akan tamat……

(A-aku akan melakukannya…… Aku harus melakukannya…… Bisakah aku melakukannya seperti di dalam game……?)

Meski kata-kata keraguan muncul di dalam hatinya, di dalam kepalanya ia sudah tahu. Bahwa untuk bertahan hidup, ia harus──melakukannya.

"Fuuu……"

Ketakutan, kegembiraan, ketegangan. Ia menekan perasaan yang campur aduk itu, menarik napas sambil memantapkan tekad bertempur.

Pada saat itu, dari zirah hitam dan pedangnya, aura hitam yang meluap-luap keluar dengan dahsyat.

Skill Perlengkapan── Critical in a Pinch.

"──!! Semuanya, bersiaplah menghadapi serangan!"

"Magic Protection! Magic Enhancement!"

"Physical Boost, Physical Full Boost!"

Selagi dua penyihir merapal mantra, dua prajurit maju ke depan untuk bertahan.

Dengan kerja sama yang sempurna, ia melihat tubuh musuh diselimuti aura biru dan merah, tanda bahwa sihir penguat telah diberikan.

"……"

Pemandangan yang persis sama dengan saat ia bermain game. Seharusnya ini menjadi momen yang mengharukan, tapi ini adalah situasi hidup dan mati.

Kai mengambil posisi kuda-kuda yang ia pelajari dari melihat, persis seperti saat menggunakan senjata ini.

Ia memberi tenaga pada gagang yang digenggamnya, mulai melakukan charge. Sebagai salah satu skill senjata, pedang hitam Dullahand ini membutuhkan charge selama 15 detik.

"……Bahkan dari sekarang pun, tidak mau mendengarkan penjelasanku?"

"Jangan bicara hal yang tidak ada dalam hatimu!"

Bujukan terakhir sekaligus upaya mengulur waktu selama 15 detik yang tanpa pertahanan. Ia melakukan keduanya.

"Begitu ya……"

Namun, upaya mengulur waktu itu justru menjadi stimulan bagi musuh yang sedang bersemangat.

"……Benar-benar ya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti……"

"Semuanya, serang──!!"

"Eh……"

Segera setelah aba-aba diberikan, dua prajurit memperpendek jarak dalam sekejap, dan penyihir mengembangkan lingkaran sihir.

Saat itu, tepat 15 detik berlalu, tangan yang menggenggam gagang merasakan sensasi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

"Tunggu, ce-cepat──"

Tiba-tiba, ajal mendekat di depan mata. Saat hatinya mendingin dan kepalanya menjadi putih bersih, hanya satu hal yang bisa ia lakukan.

"──!!"

Sambil memejamkan mata, ia mengayunkan tebasan sekuat tenaga. Tebasan yang memanfaatkan ketajaman senjata ini, yang mampu menembus segala benda── Hazan (Crushing Slash).

"Eh?"

"A-apa!?"

"Ugh!?"

"──!?"

Yang terdengar di telinga Kai hanyalah suara logam berdenting nyaring dari pedangnya.

Tebasan itu melepaskan tekanan yang mampu menghentikan gerakan musuh, sambil membelah jembatan batu hingga tiang penyangganya, bahkan air sungai yang mengalir di bawahnya pun terbelah menjadi dua. Angin kencang pun menari-nari.




Detik berikutnya, suara gemuruh rendah yang seolah-olah meruntuhkan gunung bergema di seluruh area.

Begitu dahsyatnya getaran itu, seakan gempa bumi mendadak menyerang titik tersebut hingga membuat kuda-kuda menyerang musuh hancur berantakan.

BAGIK!

Retakan besar menjalar ke seluruh bagian jembatan batu. Bongkahan-bongkahan batu berjatuhan ke sungai satu demi satu, diiringi debu batu yang beterbangan.

Tepat saat dentuman yang lebih keras menggelegar, Kai menyaksikan pemandangan yang menyentak akal sehatnya.

"""" A—AAAAAAAAAAAAAAAH!! """"

Jembatan batu itu runtuh total, dan keempat orang yang berada di atasnya jatuh terperosok dengan tragis.

"Eh……"

Kai terpaku dalam diam, menatap pemandangan yang terasa tidak nyata itu, sebelum akhirnya ia tersadar kembali.

Ia melihat ke bawah reruntuhan jembatan, dan beruntung, tidak ada pemandangan yang mengerikan di sana.

Mungkin berkat efek sihir penguat fisik, mereka tidak tampak mengalami luka serius, meski kini mereka basah kuyup dan terduduk lemas karena syok berat.

Tak lama setelah kebisingan itu pecah, para penjaga dan penduduk sekitar mulai berdatangan ke lokasi.

Kai, sang Shikkoku, akhirnya diminta untuk pulang sementara ke kediamannya.

◆◇◆

Beberapa hari kemudian, sebuah laporan tertulis mencatat detail kejadian tersebut.

Mereka didakwa atas pasal pencemaran nama baik keluarga Ansarage dan Gereja Seisei, pasal penghalangan tugas, serta berbagai tindak kriminal lainnya.

Keempat orang yang ditahan itu tidak punya pilihan selain menjawab jujur karena penggunaan item pendeteksi kebohongan.

Mereka mengaku, "Saat kami hendak menyerang pemilik penginapan yang berhubungan dengan Shikkoku, kami justru dihadang di jembatan batu."

Lalu mereka menambahkan, "Hanya dengan satu serangan dari Shikkoku, jembatan batu itu hancur berkeping-keping."

"Kami sama sekali tidak berdaya melawannya."

Dan terakhir, "Kami menjalin hubungan dengan Redfreed, organisasi yang menculik Nina."

"Kami bekerja sama untuk merampas kekuasaan keluarga Ansarage."

Petugas yang melakukan interogasi terhadap keempat orang itu hanya bisa meringis tegang setiap kali mendengar detail situasinya.

Ia menyadari bahwa jika Shikkoku sudah menentukan targetnya, ia akan menghancurkan mereka tanpa pandang bulu.

Insiden ini pun segera tersebar ke seluruh penjuru kota.

Nama Shikkoku kini dikenal luas sebagai "sosok yang mutlak tidak boleh dibuat marah".




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close