Chapter
9
Konfrontasi
Tak Sengaja
Kereta kuda keluarga Ansarage melaju membelah jalanan
pulang, dikelilingi oleh para pengawal di keempat sisinya.
"Hei, hei, Ni-chan dengar tidak? Kamu dengar,
kan!? Katanya aku lebih baik jadi diriku yang apa adanya! Aduh, ini
pertama kalinya ada laki-laki yang bicara begitu padaku!"
"Kakak, kecilkan suaramu sedikit. Nanti orang-orang
di sekitar bisa dengar, lho."
"Ah, tidak apa-apa!"
Marie tampak sangat kegirangan sampai
menghentak-hentakkan kakinya, sementara Nina hanya bisa menatapnya dengan wajah
lelah.
"……Padahal sebelum bertemu Tuan Shikkoku, Kakak
gemetaran hebat seperti itu."
"Hoo? Aku tidak mau dengar itu dari orang yang tadi
asyik memutar-mutar kunci gerbang kediaman itu dengan wajah saking
senangnya."
"──!"
Kakak beradik itu mulai beradu mulut, benar-benar
mewujudkan pepatah 'semakin sering bertengkar, semakin akrab'.
"Sudah, sini. Berikan kuncinya padaku. Biar aku yang simpan."
"Ti-tidak mau!"
"Ini bukan waktunya bilang tidak mau."
"I-ini adalah pemberian Tuan Shikkoku untukku!"
Nina menggenggam erat kunci kediaman itu dengan kedua
tangannya, menunjukkan tekad bulat untuk melindunginya. Alasan Nina memang
benar, tapi Marie pun tidak membujuknya tanpa alasan.
"Haaah……
Kalau begitu, kalau kuncinya hilang, kamu harus tanggung jawab penuh ya,
Ni-chan? Biarpun kelihatan teguh, kamu itu kan punya sisi ceroboh."
"……"
Perlawanan
Nina langsung runtuh karena ia merasa tersindir.
"Nah, begitu. Kalau ini sampai hilang, urusannya
bisa gawat."
Sambil cemberut, Nina menyerahkan kunci itu dengan kedua
tangannya, yang kemudian diterima dengan mantap oleh Marie.
Setelah menunjukkan aksinya sebagai seorang kakak, Marie
langsung mengalihkan topik kembali ke Shikkoku.
"……Tapi kalau dipikir-pikir lagi, orang itu
benar-benar hebat ya. Dia bisa melihat jati diriku yang sebenarnya hanya dalam
sekejap. Padahal aku yakin tidak akan ketahuan, tapi kemampuan observasi apa
itu……"
"Bukankah Ayah juga sudah bilang? 'Kalau beliau yang
melihatnya, tidak heran jika rahasiamu terbongkar'."
"Memang sih, tapi awalnya aku setengah percaya.
Kalau bukan karena perintah 'patuhi semua arahannya', aku pasti sudah merusak
citra keluarga Ansarage."
Awalnya Marie berniat untuk terus berpura-pura karena
berpikir 'tidak mungkin ketahuan'.
"Sekadar bertanya, apa ada hal yang membuatku tampak
mencurigakan?"
"Menurutku Kakak sudah bersikap dengan sangat
sempurna."
"Kan? Benar-benar misterius……"
Ucapan 'santai saja' mungkin terdengar seperti
basa-basi sosial, tapi jika diulangi berkali-kali, maknanya jadi berbeda.
Itu berarti: 'Aku sudah tahu, jadi tidak perlu
berpura-pura'.
──Seandainya aku tidak mematuhi kata 'santai saja'
yang mengandung makna tersirat itu, beliau pasti akan merasa terganggu. Citraku
pasti akan jadi negatif.
Jika sampai membuat penyelamat yang jasanya tak
terukur itu berpikir demikian, maka harga diri keluarga Ansarage akan jatuh.
"Lagi pula, tidakkah kamu merasa dia tahu persis
informasi tentang organisasi agama baru itu?"
"Aku juga berpikir begitu."
"Jangan-jangan, dia memegang semua informasi di
kota ini? Orang itu."
"……Mungkin saja, orang yang membocorkan
informasi organisasi agama baru itu adalah Tuan Shikkoku sendiri," ujar
Nina dengan senyum yakin.
"Orang itu menggunakan nama anonim dengan alasan
'tidak bisa bertanggung jawab jika informasinya salah', tapi sepertinya itu
memang beliau."
"Fakta bahwa dia menyembunyikan wajahnya dengan
zirah juga sangat mencurigakan, kan?"
"Aku rasa Ayah juga berpikir begitu, makanya
hari ini Ayah menggunakan taktik memancing musuh. Bagi orang yang memegang
informasi sedalam itu, peringatan 'jangan biarkan orang tua datang' pasti punya
maksud yang jelas."
"Logikanya memang masuk akal, tapi rasanya tidak
mungkin kejadiannya tepat hari ini."
Marie merasa merinding saat menyadari benang-benang
informasi itu mulai terhubung, namun ia mencoba menepis kemungkinan tersebut.
"Kalau dia tahu seakurat itu, berarti dia punya
mata-mata di dalam, kan? Dan itu dilakukan oleh orang yang baru sebentar di
kota ini. Secara teknis itu tidak mungkin."
"Tapi bukankah beliau juga melakukan hal serupa saat
menyelamatkanku?"
"……"
Sanggahan yang seharusnya 100% masuk akal itu langsung
hancur oleh bukti nyata di masa lalu.
"I-iya sih, tapi rasanya dia tidak punya kewajiban
untuk bergerak sejauh itu, kan? Dia sendiri kelihatannya sibuk."
Marie mulai beralih ke argumen emosional.
"Kalau dia bergerak sejauh itu, dia benar-benar
orang suci, kan? Dengan usaha sebesar itu, seharusnya dia menerima pusaka
keluarga ini."
"Tapi Tuan Shikkoku bukan tipe orang yang mau
menerima imbalan, kan?"
"……"
Lagi-lagi sanggahannya patah, karena apa yang dikatakan
Nina memang benar. Bahkan setengah dari uang yang disiapkan pun dikembalikan
dengan alasan agar digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.
Secara sederhana, itu berarti 'gunakan untuk membantu
panti asuhan'.
"Haaah. Dia benar-benar keren."
Jika diingat kembali—kata-kata itu diucapkan oleh
Shikkoku yang tidak punya cela sedikit pun.
'Di kediaman ini tidak perlu sungkan pada apa pun.
Silakan bersantai saja, aku pun lebih menyukai sosokmu yang seperti itu.'
"……"
Padahal dia adalah sosok yang wajahnya tidak diketahui
dan hanya kepribadiannya yang nampak, tapi pipi Marie entah kenapa terasa
panas.
"Benar-benar……
kamu diselamatkan oleh orang yang hebat ya, Ni-chan."
"Fufu, aku sudah bilang begitu berkali-kali,
kan?"
"Ya, ya, aku cuma baru menyadarinya lagi."
Kedua kakak beradik itu saling melempar senyum dalam
percakapan yang damai. Waktu berlalu puluhan menit di dalam kereta kuda, hingga
tiba-tiba……
"Eh? Tu-tunggu, bukankah itu gawat?"
Di depan gerbang katedral, banyak prajurit penjaga
berkumpul seolah sedang dalam status siaga satu.
"Apa yang terjadi……"
"Ka-Kakak. Aku takut……"
"Tenanglah. Jangan khawatir."
Marie memeluk Nina dengan erat sambil memperhatikan salah
satu pengawal yang pergi mencari tahu situasi. Kemudian, mereka mendengarnya.
"──Mengenai masalah itu, berkat taktik yang
sempurna, masalah berhasil diatasi tanpa adanya penyebaran rumor palsu!"
"──!!"
Kata-kata yang seketika memberikan rasa lega.
"Saat ini, kami sudah sampai pada tahap mengumpulkan
informasi dalang dari para pelaku demonstrasi untuk menuntut mereka atas
tuduhan pencemaran nama baik!"
Kata-kata yang menghancurkan akar kejahatan, yang bisa
dibilang merupakan hasil dari permainan bidak di telapak tangan Shikkoku.
Beberapa saat setelah kakak beradik itu kembali ke
katedral.
"Ke-kenapa kamu malah membawa pulang barang
imbalannya!? Kenapa sampai membawa pulang kunci cadangan segala!?"
"Marie, kamu ini……"
"Iya, aku sangat mengerti perasaan Ayah dan Ibu……
Kita sudah melakukan simulasi berkali-kali, dan berkat saran orang itu,
reputasi kita dalam kasus organisasi agama baru tidak tercoreng, jadi kita
harus memberikan ucapan terima kasih yang sempurna, kan!?"
Marie, yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai
perwakilan keluarga Ansarage, mulai berdebat dengan orang tuanya. Ia sengaja
tidak menyertakan Nina dalam pembicaraan ini.
Agar Nina tidak berpikir bahwa 'keluarga jadi bertengkar
karena dia telah diselamatkan'.
"Tapi, ini benar-benar tidak bisa
dihindari!"
Marie memberikan penjelasan tanpa mundur selangkah pun,
menyampaikan perasaannya secara blak-blakan.
"Dengar ya—terserah kalau mau dianggap alasan, tapi
itu benar-benar mustahil. Kepura-puraanku langsung ketahuan, aku terus-menerus
dipermainkan di telapak tangannya. Mustahil bisa menang bicara melawan orang
yang seolah-olah menguasai segalanya."
"……"
"……"
Marie melambaikan tangan dan menggelengkan kepalanya.
Kedua orang tuanya terdiam melihat putri mereka menyerah, namun setelah jeda
sejenak, sang Uskup Agung—ayahnya—membuka suara.
"Ma-maafkan Ayah. Jika Marie sampai bicara
begitu, berarti memang begitulah kenyataannya……"
Meski Marie aslinya agak nakal, dia sangat cerdas.
Kemampuannya dalam berdiplomasi tidak kalah dari siapa pun. Jika
putri mereka sampai berkata tidak sanggup menanganinya, mereka pun cepat
menjadi tenang.
"Ayah bukannya tidak menduga hal ini, tapi apakah
beliau memang menguasai situasi sampai sejauh itu……"
"Sudah pasti. Buktinya, setelah mendengar laporanku
pun, Ayah dan Ibu masih berniat berkunjung untuk berterima kasih, kan?"
"Tentu saja."
Sang Ibu mengangguk menyetujui perkataan Ayah.
"Beliau sudah memprediksi hal itu dan menegaskannya
lagi, tahu? 'Tidak perlu meminta orang tua datang'. Katanya, 'Karena aku tidak
berniat menerima imbalan lebih, datang ke rumah ini hanya akan membuang-buang
waktu'."
Seseorang tidak akan bisa bicara seperti itu jika tidak
memahami sifat mereka berdua. Padahal seharusnya mereka tidak punya kaitan apa
pun. Bahkan bagaimana beliau bisa tahu pun tidak terbayangkan.
"Hei, apa beliau benar-benar mengatakan hal seperti
itu?"
"Aku berani sumpah demi Tuhan."
"Ta-tapi……
biarpun buang-buang waktu, bukankah kita harus menunjukkan ketulusan?"
"Katanya,
'Ada hal lain yang harus dilakukan, kan?'"
Marie
yang cerdik mengingat kembali isi percakapan mereka dan menyampaikan kata-kata
Shikkoku apa adanya.
"Katanya,
'Daripada melakukan hal yang membuang-buang waktu, aku ingin mereka menggunakan
waktu itu untuk hal-hal yang lebih berguna bagi kota ini'. Lalu,
dia juga bilang sesuatu seperti 'jika kalian menjadi lebih kuat'."
"I-itu……
apakah maksudnya lencana segel itu…… perlindungan kita tidak ada gunanya bagi
beliau?"
"Ki-kita ambil sisi positifnya saja, ya? Anggap saja
beliau menilai bahwa nantinya kita bisa menjadi kekuatan bagi beliau……"
"Waktu mendengar itu, aku juga berpikir 'serius
nih?'."
Kedua orang tuanya bergidik ngeri. Normalnya hal itu
tidak mungkin terjadi. Perlindungan dari keluarga Ansarage, salah satu dari
tiga kekuatan besar, dianggap tidak berguna.
Belum pernah ada yang berani bicara seperti itu. Tentu
saja, orang bodoh sekalipun tidak akan mengatakannya. Jika orang bodoh saja
tidak mengatakannya, berarti itulah kenyataannya.
"Benar-benar aneh, kan? Padahal aku cuma mengulangi
apa yang dikatakan beliau saat bertemu tadi, tapi itu bisa dipakai untuk
meyakinkan Ayah dan Ibu. Dia benar-benar bisa melihat masa
depan sampai ke tahap yang mengerikan."
Dengan mengingat kembali, Marie kembali merasakan
betapa "monster"-nya sosok itu.
"Lalu, imbalan yang dikembalikan ini katanya
harus digunakan untuk kepentingan kota. Soal pusaka keluarga, karena tidak bisa
dipakai untuk kepentingan kota, sepertinya beliau ingin kita menjaganya
baik-baik."
"Jadi
soal uang itu…… maksudnya begitu?"
"Beliau bilang 'gunakan untuk hal yang
bermanfaat'. Aku benar-benar menghormatinya karena beliau bisa bilang begitu di
depan uang sebanyak itu," ujar Marie dengan senyum tipis.
"……Begitu ya. Tampaknya kita baru bisa bertemu
beliau setelah kita melakukan hal itu dengan benar."
"Rasanya beliau seperti berpesan, 'Jika kalian
punya tekad untuk menunjukkan ketulusan, hal sekecil ini pasti mudah',
ya."
"Makanya, biarpun imbalannya tidak bisa
diberikan semua, kita sudah berterima kasih dalam bentuk yang saling
disepakati."
"Baiklah. Kerja bagus."
"Kerja bagus, Marie."
"Ah……"
Mendengar kata-kata penghargaan itu, Marie teringat hal
yang paling penting.
"Tiba-tiba aku merinding…… Beliau menitipkan pesan
untuk Ayah dan Ibu, katanya 'Terima kasih atas berbagai kerja kerasnya'."
"…………"
"…………"
"Ja-jadi……
ini maksudnya soal itu ya……"
Seketika, kesunyian menyelimuti ruangan saat mereka
bertiga saling pandang. Tidak perlu penjelasan panjang lebar.
Ini sudah pasti merupakan penghargaan atas penanganan
masalah organisasi agama baru. Beliau tidak mungkin bisa mengatakan itu jika
tidak tahu bahwa hari ini akan ada pergerakan.
Terlintas di benak sang Ayah yang seorang Uskup Agung
dan Ibu yang seorang Suster.
Ekspresi Shikkoku yang seolah pamer dan berkata, 'Aku
memulangkan mereka tepat saat masalah itu selesai, lho'.
"Benar-benar sosok yang sangat bisa diandalkan
sampai ke tahap yang menakutkan……"
"Ki-kita benar-benar tidak boleh menjadikannya
musuh……"
"Yah, orang sehebat itu pasti anggota Vertall. Apalagi dengan kedudukan yang sangat tinggi."
Tidak ada yang membantah. Dari bukti-bukti situasi
yang ada, memang hanya itu kesimpulan yang masuk akal.
"Ah, ngomong-ngomong! Apa informasi tentang
dalang utamanya sudah terkumpul?"
Menanyakan hal ini terlalu dalam sebenarnya dilarang.
Marie yang segera menyadarinya buru-buru mengganti topik, dan ibunya langsung
menanggapi.
"Anu, karena kami sudah menyebarkan informasi
sebanyak mungkin ke kota, mereka pasti akan mencoba melarikan diri."
"Hah? Tidak ditangkap!?"
"Bukannya kami tidak bergerak, tapi karena ada
kekhawatiran para pengikutnya atau mereka akan membalas dendam dengan nekat
kepada Tuan Shikkoku, menutup jalan pelarian mereka sepenuhnya bukanlah taktik
yang bijak."
"Haaah……
Padahal mereka sudah melakukan hal yang penuh niat jahat begitu……"
Marie
terkulai lemas, namun ia menilai bahwa keputusan itu memang langkah yang paling
tepat untuk mengakhiri masalah.
Waktu sudah menunjukkan larut malam.
"……Kamu ini, apa tidak ada toko lain yang bisa
dikunjungi? Pasti ada, kan? Toko mewah atau semacamnya."
"Di sini sudah bagus. Toko mewah itu mahal."
Ini adalah kunjungan kedua Shikkoku ke penginapan Eldy
hari ini, dan ia langsung menyantap hidangan yang dipesannya.
"Kalau aku yang bilang sih wajar, tapi apa pantas
orang sekaya kamu bicara begitu?"
"Sense keuangan-ku tidak kacau, tahu?"
"……Ah, dipikir-pikir benar juga."
"Ternyata kamu percaya bagian itu……"
"Dalam kasusmu, kamu tipe orang yang lebih suka
menggunakan uang untuk orang lain daripada untuk bermewah-mewah sendiri, kan?
Buktinya kamu memberiku uang sebanyak itu."
"Tidak, itu memang uang yang harus kuberikan. Itu
kan imbalan karena sudah menyembunyikanku."
Intinya, dia sebenarnya pelit. Karena tidak bekerja, dia
hidup dari uang imbalan jasa. Karena tidak punya penghasilan tetap, dia tidak
punya kemewahan untuk menggunakan uang demi orang lain.
"Hebat juga ya. Tapi aku punya keluhan
untukmu."
"Ho-hou? Apa itu?"
"Sekarang, rumor bahwa aku setara denganmu mulai
menyebar di kota…… Akibatnya, aku dianggap sebagai informan khusus Shikkoku
atau semacamnya. Aku harus bagaimana coba?"
"Hahaha, mari kita berjuang bersama-sama menghadapi
kesulitan ini."
"Heh, tidak lucu tahu."
Kai menyadari bahwa pemilik penginapan itu juga mengalami
kesalahpahaman yang sama dengannya. Merasakan kemiripan nasib membuatnya merasa
semakin senang.
"Hei, apa kamu tidak sedang merencanakan sesuatu?
Apa kamu tidak memprediksi hal ini dan menggerakkan sesuatu di balik
layar?"
"Mana
mungkin."
"Entahlah
ya…… Haaah. Aku bisa mati karena sakit perut. Karena ini kamu, pasti
kamu sedang bergerak di bawah permukaan. Entah bakal jadi apa nanti."
Pemilik penginapan itu tidak tampak bercanda; dia
terlihat benar-benar cemas dengan alis yang mengkerut. Kai memang tidak
merencanakan apa pun atau bergerak di bawah permukaan, tapi ia jadi merasa
khawatir.
"Ah, kalau obat sih aku punya di rumah. Obat yang
ampuh untuk apa saja. Kalau untuk Paman, aku bisa berikan satu."
"……Hm? Am-ampuh untuk…… apa saja?"
"Iya."
Saat ia merebut kantong kain berisi uang dari para
penjahat yang menculik Nina dan yang lainnya, ia memasukkan barang sebanyak
mungkin. Yaitu ramuan universal yang ada di dalam rumah pohon.
Sekarang ada 7 buah di kediamannya, dan 10 buah di rumah
pohon.
"Itu obat yang kugunakan untuk Nina yang
penglihatannya buruk, jadi khasiatnya terjamin."
"……Tunggu sebentar. Anu ya. Aku tidak tahu apakah
itu obat yang sama dengan bayanganku, tapi jika itu memang ramuan universal
yang kupikirkan…… bagaimanapun dipikirkan, itu bukan obat untuk sakit perut,
kan? Pasti begitu, kan?"
"Itulah bentuk rasa terima kasihku."
"Kalau begitu, jangan terlalu berterima kasih
padaku!"
"Kenapa?"
"Aku jadi takut padamu!"
"Kenapa coba?"
Beginilah jadinya jika ia mencoba berbuat baik. Dan
sepertinya kata 'takut' itu memang tulus dari lubuk hatinya.
"Kenapa kamu masih punya obat itu…… Lagipula, apa
kamu serius memilikinya……?"
Pemilik penginapan bergumam dengan wajah pucat dan
mencoba menjauh secara terang-terangan.
"Ah, benar juga. Terakhir, ada yang ingin kuberikan
pada Paman."
"Malah aku yang mohon! Tidak usah!"
"Jangan bilang begitu."
Alasannya datang ke sini hari ini juga untuk memberikan
ini. Ia ingin terus menjalin hubungan baik dengan pemilik penginapan. Karena
itulah ada etika yang ingin ia penuhi.
Ia melepas tali yang melilit pedangnya, lalu meletakkan
kantong kain berisi uang di atas konter.
BRAKK!
"Hei, barusan itu suara yang sangat berat,
kan……?"
"Karena ucapan terima kasihku belum selesai
sepenuhnya. Jadi ini kuberikan lebih."
"……"
"Ngomong-ngomong, aku tidak memaksakan diri, kok.
Aku baru saja dapat penghasilan tambahan. Jadi, dengan ini akhirnya aku bisa
membalas budi."
Isinya adalah 2 juta dan 30 ribu Regil sebagai biaya
tambahan.
Kai ingat bahwa yang meminta informasi adalah Tiga
Kekuatan Besar, dan imbalannya masing-masing adalah 1 juta Regil, total 3 juta
Regil. Artinya, kali ini ia sudah melunasi semuanya.
"Hmm. Maaf ya…… tapi
aku benar-benar tidak bisa menerima ini. Ini sudah lebih dari cukup. Kamu sudah
membalas hutang budimu berkali-kali lipat."
"Aku sangat mengerti perasaan itu."
Kai mengangguk-angguk sambil mengerutkan dahi.
Pemilik penginapan mengucapkan kata-kata yang hampir sama dengan yang dikatakan
Marie dan Nina hari ini. Wajar jika ia merasa sangat bersimpati.
Namun, karena ia adalah pria yang pernah mengalami
posisi serupa, ia tahu cara membuat orang lain menerima ucapan terima kasih
dalam situasi seperti ini.
"Paman. Kalau Paman tidak menerima ini, tahu tidak
apa yang akan terjadi?"
"……A-apa yang akan terjadi?"
"Aku tidak bisa mengatakannya."
"──!!"
Mendengar hal yang tidak jelas justru membuatnya takut.
Dia jadi tidak punya pilihan selain menerima.
Kai merasa bersalah karena menakut-nakutinya, padahal ia
hanya bicara asal-asalan. Ia berharap paman itu memaafkannya.
"……Yah, kalau benar-benar tidak bisa diterima untuk
diri sendiri, jangan masukkan ke kantong pribadi, tapi gunakan untuk kedai ini.
Misalnya, coba buat tarif khusus anak-anak untuk menarik pelanggan, atau……
pembagian makanan gratis untuk promosi kedai. Aku rasa itu bisa jadi win-win
solution."
"Ba-baiklah. Kalau tidak kuterima rasanya
menakutkan……"
"Sangat membantu."
Dengan ini, bisa dibilang ia akhirnya sudah membalas
hutang budinya.
Mungkin karena ingin memindahkan kantong itu, sang
pemilik memegangnya dan merasakan beratnya. Tangannya gemetar…… dan entah
kenapa ia mengembalikannya ke tempat semula.
"……Kamu ini."
"Ya?"
"Hati-hatilah dengan masalah itu. Karena aku
merasa kamu sering membawa-bawa uang sebanyak ini……"
"Eh?"
"Ah, maaf. Dalam kasusmu, kamu pasti akan memukul
balik mereka semua, ya."
"……Hm?"
Mungkin ini balasan dari yang tadi, tapi Kai tidak
mengerti maksud kata-katanya.
Meski tidak paham, ia memutuskan untuk tidak bertanya
lebih lanjut.
Karena takut, ia memutuskan untuk tidak menyentuh topik
yang berbahaya.
Sepuluh menit kemudian, Kai meninggalkan kedai.
Tepat setelah Kai pergi, sang pemilik penginapan jatuh
lemas karena terkejut setelah melihat isi kantong kain tersebut.
Seberapa besar pun kontribusi seseorang terhadap kota
ini, seberapa banyak pun perbuatan baik yang dilakukan, dan seberapa besar pun
kepercayaan yang dikumpulkan, tidak semua orang akan memiliki perasaan yang
baik.
Hanya karena memiliki wibawa atau kekuasaan, hanya karena
memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, atau hanya karena
dihormati──seseorang bisa menciptakan musuh. Bahkan bisa menjadi sasaran
kebencian yang salah sasaran.
Gara-gara organisasi agama bernama 'Gereja Seisei' yang
memperluas pengaruhnya, gara-gara keluarga Ansarage yang mendirikannya, agama
lain yang dibangun oleh nenek moyang orang lain bisa hancur.
Mereka yang kalah dalam persaingan terkadang melampiaskan
kebencian kepada sang pemenang.
"──APA!? Rencana itu gagal!? Padahal itu informasi
dari Redfreed, kan!?"
"I-itu……
sepertinya semuanya sudah bocor. Si Uskup Agung dan Suster itu sudah bersiaga
di belakang katedral…… Singkatnya, kami benar-benar terpancing masuk ke
jebakan……"
"Kita benar-benar kalah telak. Kita pasti sedang
dicari, dan pion-pion yang kita kumpulkan dengan uang juga sudah diambil."
"Ini situasi yang paling kutakuti……"
Kelompok yang menyimpan dendam pada keluarga
Ansarage──kelompok yang menjalin hubungan saling menguntungkan dengan
organisasi kriminal Redfreed untuk mencoreng nama Gereja Seisei dan
menghancurkannya. Empat orang pria dan wanita yang terlibat berkumpul di sebuah
ruang bawah tanah.
"Di mana sebenarnya rencana kita mulai kacau……
Aku tidak menyangka orang-orang Ansarage itu bisa melakukan hal seperti itu
dengan mudah……"
Pria sang pemimpin melipat tangan sambil mengerutkan
dahi.
Mengingat posisi keluarga Ansarage, mereka tidak
mungkin melakukan tindakan yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan
pengikutnya──seperti 'bersiaga' secara diam-diam.
Mereka tidak seharusnya melakukan tindakan 'berjudi'
seperti itu.
"Anu, sebenarnya, katanya dalam masalah ini ada
anggota Vertall bernama Shikkoku yang membantu mereka……"
"Ver,
Ver…… Hah!? Orang yang menghancurkan rencana penculikan Redfreed itu!?"
"I-iya.
Makanya Redfreed juga dendam pada pria itu, dan mereka memberi kita berbagai
informasi untuk menghancurkan Ansarage yang punya hubungan dengannya, tapi
sepertinya mereka tidak menduga hasil ini……"
"Ugh. Mereka juga terhubung dengan orang-orang
itu? Benar-benar menyebalkan."
Informasi yang semakin memperdalam dendam pribadi
mereka. Namun, salah satu dari mereka menyadari hal yang aneh.
"……Hei, apa kalian tidak merasa janggal? Fakta bahwa
kita terpancing keluar berarti dia tahu rencana yang sudah disesuaikan dengan
informasi dari Redfreed, kan? Jangan-jangan ada mata-mata Shikkoku di antara
kita."
"Tunggu! Kamu terlalu paranoid. Tidak ada orang
seperti itu di antara kita."
"Be-benar. Kita kan berkumpul untuk menghancurkan
musuh bersama, Ansarage……"
"Heee, menurutku kamu yang bicara begitu untuk
memecah belah kitalah yang paling mencurigakan."
"Apa katamu!?"
"Te-tenanglah. Tenang. Jangan sampai kita dipecah
belah oleh Shikkoku."
Sang pemimpin bertepuk tangan sekali untuk menenangkan
suasana. Sekarang bukan waktunya bertengkar di dalam. Mereka harus bekerja sama
untuk meninggalkan kota ini. ──Agar tidak tertangkap.
"Anu, aku tidak punya bukti pasti…… tapi menurutku,
yang paling menghalangi kita dalam masalah ini adalah informan yang punya
hubungan dengan Shikkoku……"
"Informan, katamu?"
"Sebenarnya hari ini aku mendengar kabar
selentingan…… Pemilik penginapan bernama Eldy punya hubungan sangat dekat
dengan Shikkoku, dan ada informasi bahwa dia menerima barang imbalan…… Jadi,
kemungkinan besar Shikkoku menerima informasi dari informan itu lalu
menyarankan taktik kepada keluarga Ansarage."
Begitu mendengar kata-kata ini, tatapan mata ketiga orang
lainnya berubah.
"Hee, jadi pemilik penginapan itulah penyebab
semuanya. Orang yang menghancurkan rencana kita."
"……Itu namanya meremehkan kita."
Sang pemimpin menangkap perasaan dua orang lainnya.
Rencana yang disusun bertahun-tahun dan berjalan lancar, hancur dalam sekejap.
Ia sangat mengerti perasaan mereka.
Dan jika memikirkan kemungkinan tertangkap, mereka tidak
bisa lama-lama di kota ini. Tentu saja, bukan hanya kelompok ini yang menyadari
hal itu.
"Anu, Redfreed memberikan satu permintaan…… Sebelum
meninggalkan kota, mereka ingin kita menghancurkan setidaknya satu orang yang
berhubungan dengan Shikkoku untuk memberikan tekanan. Alihkan perhatian
Shikkoku. Mereka bilang hutang budi itu akan dibayar dengan menghancurkan
keluarga Ansarage nanti."
Shikkoku yang menghancurkan rencana mereka telah menjadi
musuh bersama.
Sambil mematuhi perintah, mereka juga bisa melampiaskan
kekesalan.
Mereka bisa memberi hutang budi agar Redfreed
menghancurkan keluarga Ansarage untuk mereka.
Pria sang pemimpin tersenyum menyeringai. Melawan
Shikkoku mungkin tidak akan menang. Bahkan jika menang, mereka pasti akan
terluka parah.
Kalau begitu, mengincar rekannya──orang yang lemah,
adalah hal yang lumrah.
"Ta-tapi aku punya firasat buruk…… Sebaiknya
kita lari saja……"
"Tidak apa-apa, cuma mengganggu sedikit. Biarpun
informasi tentang kita menyebar, wajah kita belum teridentifikasi. Apalagi ini
malam hari. Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Setuju, setuju. Lagipula kita harus kabur, jadi
hancurkan saja dulu sebelum pergi."
"Aku sudah bisa membayangkan wajah
tangisannya."
"…………"
Wanita itu mengamati tiga rekannya yang haus darah dengan
diam. Entah kenapa ia merasa seolah sedang diarahkan, keringat dingin
mengucur…… tapi ia menggelengkan kepala seolah itu hanya kekhawatiran yang
berlebihan.
Mendengar informasi tentang Eldy adalah sebuah
kebetulan. Merencanakan hal ini baru saja dilakukan.
Di sini adalah ruang bawah tanah. Informasi tidak akan
bocor.
──Tidak mungkin mereka sedang terpancing keluar.
Keinginan
untuk membalas dendam sama dengan yang lain.
Karena
rencana yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dihancurkan begitu saja.
Ia mengepalkan tangan seolah berkata 'aku akan
melakukannya'.
"Baiklah, tidak ada waktu untuk berleha-leha. Ayo
pergi."
Mengikuti instruksi pemimpin, mereka semua mengenakan
jubah untuk menyembunyikan wajah.
Rencana terbesar memang gagal, tapi setidaknya mereka
bisa melampiaskan kekesalan untuk sementara.
Jika mereka memberi hutang budi pada Redfreed, organisasi
itu akan meneruskan keinginan kelompok ini. Mereka akan menghancurkan keluarga
Ansarage sebagai penggantinya──.
"Ada apa sih sebenarnya…… Serius deh."
Setelah mengisi perut di tempat makan di dalam
penginapan, Shikkoku yang telah keluar dari kedai sedang berjalan pulang dengan
tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian maksimal.
──Percakapan dengan pemilik penginapan tadi terus
terngiang di benaknya.
'Hati-hatilah dengan masalah itu. Karena aku
merasa kamu sering membawa-bawa uang sebanyak ini……'
'Eh?'
'Ah, maaf. Dalam kasusmu, kamu pasti akan memukul balik
mereka semua, ya.'
'……Hm?'
Semakin lama waktu berlalu, ia semakin berpikir.
Seharusnya ia tadi menanyakan detailnya.
Ia tidak seharusnya berpikir 'karena takut, aku tidak
akan menyentuh topik yang berbahaya'.
"Apa maksudnya pukul balik itu…… Apa itu berarti aku
sedang diincar……?"
Ia tidak punya petunjuk apa pun.
Ia tidak melakukan hal yang memalukan dan menjalani
hidup dengan normal.
Ia tidak pernah menyerang siapa pun atau melakukan
sesuatu yang membuatnya layak diserang. Ia benar-benar tidak mengerti sama sekali.
"Haaah……
Kalau aku dengar cerita begitu, aku tidak akan keluyuran jam segini……"
Waktu sudah sangat larut malam. Saat ia
menengadah ke langit, dua bulan menggantung dengan tenang.
"Sampaikan dong informasi begitu lebih awal…… Lagian
kenapa juga harus ada urusan pukul balik segala……"
Sambil membayangkan wajah pemilik penginapan, ia mengeluh
secara tidak adil, tapi ini sudah terjadi.
Semakin ia berpikir, semakin jalan pulang yang
remang-remang ini terasa menakutkan. Semakin ia menuju rumahnya, lampu-lampu
kota pun semakin berkurang.
"Harusnya tadi aku menginap di penginapan itu saja……
Utamakan keselamatan……"
Sekarang ia baru menyadari ide cemerlang itu. Ia berhenti
melangkah dan menoleh ke belakang, tapi kembali sekarang rasanya memalukan.
Sudah sampai sejauh ini, rasanya juga merepotkan.
"Ya-yah, tidak mungkin hal seperti diserang itu
terjadi begitu mudah…… kan?"
Itulah kesimpulan yang ia ambil. Namun, ia tetap
berjaga-jaga.
Ia menggenggam gagang di pinggangnya, menarik bilah
pedang yang panjang perlahan, lalu mengarahkan ujung pedangnya ke tanah,
menyelesaikan persiapan tempur sekadarnya.
Ia mencabut senjata di tengah kota. Jika warga
melihatnya, mereka pasti akan melapor, tapi di jalan yang sepi ini,
perlengkapan hitam legamnya yang menyatu dengan kegelapan malam tidak akan
mencolok.
Seandainya dilaporkan pun, ia tinggal menjelaskan
situasinya dengan benar.
(Anggap saja kalau ada orang jahat, mereka akan
mengabaikanku setelah melihat penampilan ini……)
Karena ia sangat sadar bahwa penampilannya terlihat kuat,
ia tidak ingin menghilangkan kelebihan itu.
Setelah sekitar 10 menit berjalan dengan penuh wibawa
semaksimal mungkin……
"……Hm?"
Tepat saat ia hendak menyeberangi jembatan batu di atas
sungai kecil.
──Suara langkah kaki beberapa orang terdengar dari
arah depan.
Biasanya ia tidak akan memedulikannya, tapi sekarang
setelah kata-kata pemilik penginapan tertanam di benaknya, ia merasa merinding.
Dalam kondisi itu, hawa keberadaan tersebut semakin
mendekat.
Tepat saat ia tanpa sadar berhenti melangkah dengan wajah
tegang, ia pun bertemu dengan mereka.
Empat orang berjubah yang menyembunyikan identitas mereka
seperti pembunuh bayaran.
"……"
"……"
"……"
"……"
"……"
Begitu tatapan mereka bertemu, kesunyian menyelimuti
tempat itu.
Ia bisa merasakan bahwa pihak lawan juga berhenti
melangkah dan masuk ke posisi siaga.
Instingnya mengatakan bahwa mereka adalah orang yang
ahli.
Terlebih lagi, instingnya juga memberitahu bahwa
merekalah 'orang-orang yang akan mencari masalah' yang dikatakan pemilik
penginapan.
(D-duh,
gawat nih…… Ini benar-benar gawat……)
Suasana saat ini tidak mungkin dianggap sebagai salah
paham semata.
──Situasi di mana tidak ada yang bisa dimintai tolong.
Formasi 1 lawan 4 yang terlalu tidak menguntungkan.
Ketegangan, kecemasan, ketakutan. Berbagai emosi
bercampur jadi satu.
Seolah membuktikan nasib buruknya itu, pria sang
pemimpin angkat bicara.
"──!! Shi-shi-shi-shikkoku!?"
Reaksi ini muncul karena memang dialah targetnya.
"……"
Jika ia tidak membalas sepatah kata pun, mereka mungkin
menganggapnya sebagai provokasi.
Ada kemungkinan mereka akan menyerang karena merasa
unggul jumlah. Jika itu terjadi, yang menantinya adalah yang
terburuk──kematian.
Bahkan jika diampuni, ia pasti akan dipukuli
habis-habisan dan dirampok.
Di tempat ini, ia harus mengatakan sesuatu yang membuat
mereka semakin waspada, sesuatu yang memancarkan kekuatan.
Setelah memutar otak sekuat tenaga, ia tidak punya
pilihan selain menggerakkan mulutnya.
"……Akhirnya muncul juga. Kalian yang memikirkan
hal-hal berbahaya itu, ya."
Ia berusaha mengubah suaranya yang gemetar menjadi suara
yang berat dan dalam, mengucapkan kalimat yang bisa menunjukkan kekuatannya.
Sambil menahan kakinya yang nyaris bergetar seperti anak
rusa, ia tertawa meremehkan untuk menunjukkan ketenangannya, memperlihatkan
aura layaknya orang kuat.
"Hanya
berempat untuk menghadapiku…… Benar-benar meremehkanku ya."
"Bre-brengsek……
Beraninya kamu meremehkan kami……"
Kelompok
empat orang itu membentuk formasi satu di depan dan tiga di belakang. Tiga
orang di belakang tampak sibuk berbicara dengan panik, tapi suaranya tidak
terdengar.
"Brengsek, brengsek, brengsek!! Gara-gara kamu,
rencana kami jadi kacau balau!!"
"……Tidak, itu salah paham."
"Jangan bicara omong kosong!"
"Ah……"
Kai mengeluarkan suara aslinya yang memalukan saat
melihat pria sang pemimpin membentak dan tiba-tiba mencabut pedangnya.
"Maaf
ya kalian…… Aku terpancing keluar lagi oleh si Shikkoku itu…… Kalian larilah
sekarang. Aku yang akan menahannya di sini."
(Eh?)
"Jangan
sok pahlawan begitu…… Kalau sudah sampai sini, kita hadapi sampai akhir."
"Aku……
juga."
"Setuju. Lagipula tidak ada jalan lari lagi selain
mengalahkan pria itu."
Mungkin karena sang pemimpin berteriak, tiga orang
lainnya pun mengikuti.
Mungkin karena sudah memantapkan tekad bertempur,
gumpalan niat jahat ditujukan kepadanya.
(Tu-tunggu……)
Sampai tadi ia masih berharap mereka akan mundur, tapi
harapan itu sirna.
Pedang, pisau, tongkat sihir. Semua mengeluarkan senjata,
dan ia yakin bahwa ia akan segera diserang──.
"Tu-tunggu dulu."
Ia menjulurkan satu tangan, mencoba menenangkan suasana
untuk mencegah pertikaian.
"Pertama-tama, mari kita bicara baik-baik. Ada
sesuatu yang pasti kalian salah pahami."
"Gampang sekali bicara begitu sambil menggenggam
senjata, Shikkoku……! Bukankah kamu yang duluan mengambil posisi tempur
tadi!"
"……"
Namun, ia diberikan argumen yang sangat tepat hingga
tidak bisa membantah.
Mereka sudah tidak mau mendengarkannya lagi. Semakin ia
membuka mulut, suasana semakin berubah menjadi berat.
(Be-benar-benar
gawat nih…… Tidak ada jalan keluar……)
Meski
mencoba membujuk, ia sudah dihadapi dengan permusuhan yang tak bisa ditarik
kembali.
"Kenapa sih aku harus terlibat masalah
begini……"
Kalau ia membalikkan badan, nyawanya pasti akan tamat……
(A-aku
akan melakukannya…… Aku harus melakukannya…… Bisakah aku melakukannya seperti
di dalam game……?)
Meski
kata-kata keraguan muncul di dalam hatinya, di dalam kepalanya ia sudah tahu.
Bahwa untuk bertahan hidup, ia harus──melakukannya.
"Fuuu……"
Ketakutan,
kegembiraan, ketegangan. Ia menekan perasaan yang campur aduk itu, menarik napas
sambil memantapkan tekad bertempur.
Pada saat itu, dari zirah hitam dan pedangnya, aura hitam
yang meluap-luap keluar dengan dahsyat.
Skill
Perlengkapan── Critical in a Pinch.
"──!!
Semuanya, bersiaplah menghadapi serangan!"
"Magic
Protection! Magic Enhancement!"
"Physical
Boost, Physical Full Boost!"
Selagi
dua penyihir merapal mantra, dua prajurit maju ke depan untuk bertahan.
Dengan
kerja sama yang sempurna, ia melihat tubuh musuh diselimuti aura biru dan
merah, tanda bahwa sihir penguat telah diberikan.
"……"
Pemandangan
yang persis sama dengan saat ia bermain game. Seharusnya ini menjadi momen yang
mengharukan, tapi ini adalah situasi hidup dan mati.
Kai mengambil posisi kuda-kuda yang ia pelajari dari
melihat, persis seperti saat menggunakan senjata ini.
Ia memberi tenaga pada gagang yang digenggamnya, mulai
melakukan charge. Sebagai salah satu skill senjata, pedang hitam
Dullahand ini membutuhkan charge selama 15 detik.
"……Bahkan dari sekarang pun, tidak mau mendengarkan
penjelasanku?"
"Jangan bicara hal yang tidak ada dalam
hatimu!"
Bujukan terakhir sekaligus upaya mengulur waktu selama 15
detik yang tanpa pertahanan. Ia melakukan keduanya.
"Begitu ya……"
Namun, upaya mengulur waktu itu justru menjadi stimulan
bagi musuh yang sedang bersemangat.
"……Benar-benar ya, aku tidak tahu apa yang akan
terjadi nanti……"
"Semuanya, serang──!!"
"Eh……"
Segera setelah aba-aba diberikan, dua prajurit
memperpendek jarak dalam sekejap, dan penyihir mengembangkan lingkaran sihir.
Saat itu, tepat 15 detik berlalu, tangan yang menggenggam
gagang merasakan sensasi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
"Tunggu, ce-cepat──"
Tiba-tiba, ajal mendekat di depan mata. Saat hatinya
mendingin dan kepalanya menjadi putih bersih, hanya satu hal yang bisa ia
lakukan.
"──!!"
Sambil memejamkan mata, ia mengayunkan tebasan sekuat
tenaga. Tebasan yang memanfaatkan ketajaman senjata ini, yang mampu menembus
segala benda── Hazan (Crushing Slash).
"Eh?"
"A-apa!?"
"Ugh!?"
"──!?"
Yang terdengar di telinga Kai hanyalah suara logam
berdenting nyaring dari pedangnya.
Tebasan itu melepaskan tekanan yang mampu menghentikan gerakan musuh, sambil membelah jembatan batu hingga tiang penyangganya, bahkan air sungai yang mengalir di bawahnya pun terbelah menjadi dua. Angin kencang pun menari-nari.
Detik berikutnya,
suara gemuruh rendah yang seolah-olah meruntuhkan gunung bergema di seluruh
area.
Begitu dahsyatnya getaran itu, seakan gempa bumi mendadak
menyerang titik tersebut hingga membuat kuda-kuda menyerang musuh hancur
berantakan.
BAGIK!
Retakan besar menjalar ke seluruh bagian jembatan
batu. Bongkahan-bongkahan batu berjatuhan ke sungai satu demi satu, diiringi
debu batu yang beterbangan.
Tepat saat dentuman yang lebih keras menggelegar, Kai
menyaksikan pemandangan yang menyentak akal sehatnya.
""""
A—AAAAAAAAAAAAAAAH!! """"
Jembatan
batu itu runtuh total, dan keempat orang yang berada di atasnya jatuh
terperosok dengan tragis.
"Eh……"
Kai
terpaku dalam diam, menatap pemandangan yang terasa tidak nyata itu, sebelum
akhirnya ia tersadar kembali.
Ia melihat
ke bawah reruntuhan jembatan, dan beruntung, tidak ada pemandangan yang
mengerikan di sana.
Mungkin
berkat efek sihir penguat fisik, mereka tidak tampak mengalami luka serius,
meski kini mereka basah kuyup dan terduduk lemas karena syok berat.
Tak
lama setelah kebisingan itu pecah, para penjaga dan penduduk sekitar mulai
berdatangan ke lokasi.
Kai, sang Shikkoku, akhirnya diminta untuk pulang
sementara ke kediamannya.
◆◇◆
Beberapa hari kemudian, sebuah laporan tertulis mencatat
detail kejadian tersebut.
Mereka didakwa atas pasal pencemaran nama baik keluarga
Ansarage dan Gereja Seisei, pasal penghalangan tugas, serta berbagai tindak
kriminal lainnya.
Keempat orang yang ditahan itu tidak punya pilihan selain
menjawab jujur karena penggunaan item pendeteksi kebohongan.
Mereka mengaku, "Saat kami hendak menyerang pemilik
penginapan yang berhubungan dengan Shikkoku, kami justru dihadang di jembatan
batu."
Lalu mereka menambahkan, "Hanya dengan satu serangan
dari Shikkoku, jembatan batu itu hancur berkeping-keping."
"Kami sama sekali tidak berdaya melawannya."
Dan terakhir, "Kami menjalin hubungan dengan
Redfreed, organisasi yang menculik Nina."
"Kami bekerja sama untuk merampas kekuasaan keluarga
Ansarage."
Petugas yang melakukan interogasi terhadap keempat orang
itu hanya bisa meringis tegang setiap kali mendengar detail situasinya.
Ia menyadari bahwa jika Shikkoku sudah menentukan
targetnya, ia akan menghancurkan mereka tanpa pandang bulu.
Insiden ini pun segera tersebar ke seluruh penjuru kota.
Nama Shikkoku kini dikenal luas sebagai "sosok yang mutlak tidak boleh dibuat marah".



Post a Comment