NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Di Tengah Kota


"Benar-benar mirip seperti di dalam gim... atau lebih tepatnya, memang sama persis."

Sebuah air mancur besar berdiri tepat setelah melewati gerbang kota.

Jalanan tertata rapi dengan susunan batu alam.

Deretan rumah kayu dengan atap yang seragam berwarna jingga, serta dinding warna-warni bernuansa pastel.

Sambil berjalan menyusuri Kota Aldia yang terlindungi oleh tembok raksasa, seorang pria menggumamkan kekaguman karena pemandangan itu sesuai dengan ingatannya.

(Ah, gedung itu masih punya aura yang sama seperti dulu...)

Bahkan dari sini pun terlihat jelas. Markas besar Asosiasi Treasure Hunter yang menjulang tinggi di pusat kota.

Saat masih bermain gim, gedung itu adalah tempat yang ia datangi hampir setiap hari. Namun, saat melihatnya secara langsung seperti ini, ada sedikit perasaan asing yang mengganjal.

(Sebenarnya aku ingin berkeliling melihat-lihat, tapi staminaku sudah mencapai batas. Dan lagi—)

Ia sudah merasakannya sejak melangkah masuk ke kota.

Tumpukan tatapan yang tidak biasa.

Pandangan orang-orang tidak langsung beralih, melainkan menyapu dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Begitu ia menoleh seolah bertanya, "Ada apa?", orang-orang itu langsung membuang muka, seakan-akan ia adalah sosok yang tidak boleh diajak bertukar pandang.

(Apa karena ini item langka, jadi aku kelihatan mencolok...? Padahal kalau ke pusat kota, harusnya ada banyak orang yang memakai armor juga.)

Demi mengantar ketiga gadis itu dengan selamat, meningkatkan kekuatan tempur meski hanya sedikit, dan yang terpenting demi keamanan, ia memakai perlengkapan dari rumah pohon itu.

Namun, menjadi pusat perhatian seperti ini malah terasa merepotkan.

"Haa. Lebih baik aku segera ke penginapan..."

Sambil menepuk kantong uangnya untuk memastikan isinya, pria itu melangkah menuju arah barat laut, tempat deretan penginapan berada.

Namun, tepat saat itu.

"Waaa! Hebaaat!"

"──!"

Belum sempat ia menyadari asal suara ceria itu, sebuah benturan kecil terasa di kakinya.

Secara refleks ia menunduk dan melihat seorang anak perempuan kecil sedang memeluk kaki kanannya. Tentu saja, ia tidak mengenal anak ini.

"Eh?"

Ia mengedarkan pandangan, tapi tidak menemukan sosok yang tampak seperti orang tuanya.

Pria itu tampak goyah, namun karena wajahnya tertutup pelindung kepala, orang-orang di sekitar tidak menyadari kegugupannya.

"Kakak! Kakak ini Treasure Hunter, ya!?"

"E-eh... yah, bisa dibilang begitu. Iya..."

Anak perempuan yang bicaranya masih cadel itu bertanya dengan mata berbinar-binar.

Pria ini memang bukan Treasure Hunter sungguhan, tapi karena ia mengenakan armor lengkap, ia terpaksa mengakuinya agar tidak terlihat seperti orang asing yang mencurigakan.

"Sudah kuduga! Papaku juga dulu Treasure Hunter, lho! Katanya dulu Papa terkenal!"

"Ooh..."

"Tapi sekarang Papa kerja di sana! Mama juga kerja di sana!"

"Begitu ya..."

Jari kecil anak itu menunjuk ke gedung yang menjulang di pusat kota—Asosiasi Treasure Hunter. Tentu saja, diberi tahu hal seperti ini hanya membuatnya bingung. Sambil memberikan balasan seadanya, ia kembali mencari orang tuanya, namun tetap nihil. Tapi, ia menyadari satu hal lain.

Para penduduk yang melihat interaksi ini wajahnya berubah pucat pasi.

(Padahal aku tidak marah hanya karena hal begini...)

Mungkin karena wajahnya tidak kelihatan, mereka tidak bisa membaca emosinya.

Ditambah lagi dengan senjata yang ia bawa, sepertinya orang-orang menganggapnya sebagai sosok yang 'berbahaya jika dibuat marah'.

"Kakak! Gendong!"

Tanpa mempedulikan suasana sekitar, anak perempuan itu merentangkan tangan mungilnya dan mengajukan permintaan tiba-tiba.

"Gendong!"

"A-ah, iya..."

Mungkin karena kedua orang tuanya bekerja di Asosiasi Treasure Hunter, ia sudah terbiasa minta dimanja oleh orang-orang seprofesi.

Ia pun menggendong anak itu untuk memenuhi permintaannya, dan akhirnya berhasil mengambil kendali percakapan.

"Mama atau Papamu... di mana?"

"Di sana!"

Jari anak itu beralih menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang berbelanja di kios kaki lima.

Tak perlu menebak lagi, pasti anak ini keluyuran saat ibunya lengah. Pria itu pun berjalan menghampiri sang ibu sambil tetap menggendong si kecil.

"Anu, permisi. Anak Anda..."

"Hiiie!? ...Eh!"

Sang ibu tampak terkejut bukan main saat seseorang berbaju zirah lengkap tiba-tiba menyapanya. Namun, ia segera menyadari anak yang berada dalam gendongan pria itu.

"Mama! Aku digendong sama Kakak ini!"

"Se-sejak kapan kamu... Hei! Kan Mama sudah bilang berkali-kali jangan menjauh!? Cepat turun! Kamu merepotkan orang, tahu!? Anu, saya benar-benar minta maaf!"

Pria itu menggeleng kecil menanggapi permintaan maaf sang ibu, lalu menurunkan anak itu.

"Pokoknya, kamu harus dengar apa kata Mamamu, ya."

"Siiaap!"

Ia bicara sambil menekuk lutut agar sejajar dengan mata si anak, meski hanya dijawab dengan santai.

Sepertinya anak itu tidak benar-benar paham, tapi mungkin anak kecil memang lebih baik sedikit nakal seperti ini.

"Terima kasih banyak untuk bantuan Anda. Biasanya saya selalu berhati-hati, tapi..."

"Yah... tidak terjadi apa-apa, kok. Kalau begitu, saya permisi karena ada urusan."

"A-anu! Setidaknya beri tahu nama Anda! Anda seorang Treasure Hunter, kan!?"

"Namaku... ah, aku tidak melakukan hal yang istimewa. Permisi, aku sedang terburu-buru."

"Dadah, Kakak! Terima kasih gendongannya!"

Anak perempuan itu melambai kencang, dan ia pun membalasnya tipis sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

(Ngomong-ngomong, sampai sekarang aku belum pernah menyebutkan namaku pada siapa pun... Pakai nama asli, atau asal buat saja ya...)

Karena memiliki situasi yang rumit, pria itu tidak bisa langsung memutuskan. Ia pun melanjutkan langkah menuju penginapan sambil terus memutar otak.

◆◇◆

Tepat setelah pria itu sampai di penginapan dan tertidur lelap seperti batang kayu.

"Syukurlah... Syukurlah..."

"Su-sudah, Ayah tidak perlu menangis sampai segitu juga, kan... Ya ampun, sampai kapan Ayah mau menangis terus?"

Di dalam kediaman dengan interior yang megah dan mewah—Karen tampak sedikit jengah menghadapi ayahnya, Duke Digort.

Namun, Karen tidak menepis tangan yang diletakkan di kedua pundaknya. Ia hanya mengerutkan dahi dan berkata.

"Wibawa Ayah bisa hilang, lho? Kalau sampai dilihat oleh para pelayan."

"Biarlah untuk saat ini saja... Ayah benar-benar mengkhawatirkanmu."

"Padahal aku sangat menghormati Ayah yang selalu terlihat gagah dalam situasi apa pun."

"Ma-maaf. Kamu benar... Ayah mengerti..."

Sang Duke menyeka air mata dengan tangannya yang mulai berkeriput, lalu berdehem keras dan duduk di kursinya.

Meski matanya masih kemerahan, sikapnya sudah kembali normal seperti biasa.

Melihat ayahnya yang mahir berpura-pura tenang, Karen tersenyum tipis dan ikut duduk di kursi.

"Jadi... kakimu benar-benar sembuh."

"Iya, Ayah terkejut, kan? Ayah mengira aku pulang dengan selamat saja sudah syukur, tapi ternyata kakiku yang dulu tidak bisa digerakkan ini pun ikut sembuh."

Karen menggerakkan kaki kanannya tanpa hambatan, lalu memutar rambut merahnya dengan telunjuk dengan wajah sedikit tersipu.

"Jadi kamu diberikan Elixir itu... Obat yang bahkan tidak bisa Ayah temukan meski sudah mengerahkan seluruh kekuasaan selama bertahun-tahun..."

"Benar. Karena aku tahu soal itu, aku pun jadi sulit memahaminya. Dia mengeluarkan Elixir itu dengan wajah biasa saja, seolah itu barang recehan. Tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun."

Karen menceritakan kejadian saat itu dengan jelas kepada ayahnya yang tampak terhanyut dalam pikiran.

"Bukan itu saja. Dia tidak meminta imbalan apa pun. Bahkan saat aku bilang ingin membalas jasanya, dia malah bilang 'balas saja kapan-kapan'. Padahal mustahil dia tidak tahu kalau aku putri seorang Duke. Benar-benar di luar nalar."

"Begitu ya... Manusia yang memiliki integritas dan kekuatan sebesar itu mungkin tidak akan pernah kita temui lagi di masa depan."

"A-aku tidak membantahnya."

Duke Digort tidak tahu. Karen pun terutama, tidak tahu.

Bahwa saat mereka sedang menangis karena kesembuhan kaki itu, pria tersebut sempat bergumam santai, "Imbalan seperti apa ya yang bakal kudapatkan kalau mereka selamat."

Bahwa alasannya bilang 'balas saja kapan-kapan' hanyalah karena ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.

Dan bahwa pria itu bahkan tidak tahu kalau mereka berasal dari keluarga Duke.

"Ayah ingin memastikan sekali lagi, pria yang menyelamatkanmu itu mengaku sebagai seorang mata-mata?"

"Dia bukan orang yang ceroboh bicara, lho. Dia mengungkapkan identitasnya demi membuat kami tenang. Aku dengar darinya, Ayah yang mengirim bantuan, kan?"

"Tentu saja Ayah sudah mengirim bantuan... tapi jika orang itu memang memiliki koneksi dengan Ayah, harusnya Ayah tidak akan dilanda kecemasan separah ini, dan Elixir itu pun pasti sudah didapatkan lebih awal."

"──!"

Mendengar kata-kata bermakna dalam dari ayahnya, Karen tersadar. Bahwa tidak ada hubungan apa pun antara ayahnya dengan pria itu.

"Ta-tapi! Pria itu bilang 'berterimakasihlah pada orang tua kalian'..."

"Ini hanya dugaanku, tapi itu pasti dilakukannya agar kalian memiliki pegangan mental untuk bisa kembali. Bukankah perasaanmu jadi jauh lebih tenang setelah mendengar kata-kata itu?"

"……"

Itu adalah argumen yang sangat masuk akal sampai Karen tidak bisa membantahnya. Kenyataannya, rasa aman yang besar memang ia rasakan saat ia percaya bahwa pria itu adalah orang suruhan ayahnya.

"La-lalu bagaimana dia bisa menyelamatkan kami...? Nina dan Remy juga sepertinya tidak tahu apa-apa."

"Melihat profesinya sebagai mata-mata, kemungkinan besar dia sudah mengantongi informasi tentang organisasi kriminal Red Fried lebih dulu... Namun, belum jelas apakah tugas utamanya adalah menangkap Red Fried atau menyelamatkan kalian..."

"Eh? Ja-jadi kalau seandainya tugasnya adalah menangkap mereka..."

"Ayah hanya bisa berharap bahwa bukan itu tugasnya."

"Jangan cuma berharap, Ayah harus mengirim surat ucapan terima kasih ke organisasi tempatnya bernaung! Aku juga akan melakukan apa yang aku bisa!"

Sampai tiba kembali di kota ini, pria itu selalu mendampingi mereka.

Artinya, dia memprioritaskan penyelamatan di atas misi yang diberikan—dan tentu saja, hukuman akan menantinya.

Metode yang dikatakan Karen adalah cara untuk meringankan hukuman itu, namun Duke Digort menggelengkan kepala.

"Melakukan hal itu justru malah akan menjerat lehernya. Hukumannya malah bisa jadi lebih berat... Karena bagi seorang mata-mata, identitas mereka tidak boleh terbongkar oleh siapa pun."

"Itu..."

Karena otaknya memahami logika itu dengan sangat baik, tidak ada kata bantahan yang keluar.

Karen memasang wajah masam, namun tiba-tiba matanya terbelalak karena tersadar akan sesuatu.

"Tu-tunggu! Dari cara bicara Ayah tadi, apa Ayah tahu organisasi tempat dia bernaung!?"

"……Dua hari yang lalu, sebuah laporan sampai kepadaku. Seluruh anggota Red Fried yang menculik kalian telah ditangkap di sekitar Kota Waeha."

"Di-sekitar Kota Waeha...?"

Saat itu juga, kata-kata pria yang menyelamatkannya terlintas di benak Karen.

'Ini cuma dugaanku, tapi musuh pasti sedang mengawasi di sekitar Kota Waeha.' 'Makanya, kita akan mengambil jalan memutar. Kita tidak ke utara ke Waeha, tapi ke selatan hutan melewati pemukiman.'

"Pria itu... dia tahu kalau para penjahat ada di sana... Dia tahu, makanya dia mengambil jalan memutar!"

"……Begitu ya. Jadi dugaanku soal asal-usulnya tidak salah."

"Eh?"

"Ini belum bisa dipastikan sepenuhnya—bukan, informasi tentang mereka memang tidak akan bocor sampai bisa dipastikan—tapi kabarnya, yang menangkap Red Fried adalah unit Veltal, yang berafiliasi langsung dengan Kekaisaran."

"──! Veltal yang itu!?"

"Ya. Organisasi yang paling ditakuti oleh seluruh sindikat kriminal di dunia ini."

Veltal.

Nama itu dikenal oleh siapa pun di dunia ini sebagai organisasi rahasia di bawah komando langsung Kekaisaran dengan tujuan menjaga stabilitas keamanan.

Rumornya, mereka adalah kelompok elit dari yang paling elit, yang sebagian besar anggotanya terdiri dari Treasure Hunter tingkat tertinggi.

"Semua faktanya sudah sinkron. Kamu paham kan maksudnya?"

"Jadi dia adalah... anggota Veltal. I-itu sebabnya dia punya Elixir juga!?"

"Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal."

"……"

"Dan yang harus kita ingat baik-baik, ada kemungkinan dia memegang posisi komando di dalam Veltal sampai-sampai diizinkan beraksi sendirian... Jika benar begitu, menyinggung perasaannya saja bisa membuat kita dilenyapkan dalam sekejap... Bagaimanapun, kota ini juga berada di bawah komando Kekaisaran. Tidak perlu ditanya lagi, antara kita dan sosok yang bisa disebut sebagai pilar Veltal, siapa yang lebih sulit digantikan."

Duke Digort bicara dengan suara bergetar sambil menautkan jemarinya. Wajahnya sangat serius tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Dengar, Karen. Jangan ungkap identitasnya pada siapa pun. Alasan dia mengaku sebagai mata-mata hanyalah untuk menenangkanmu agar bisa menyelamatkanmu. Jangan pernah mengkhianati niat baiknya itu."

"A-aku mengerti."

Karen tanpa sadar menegangkan bahunya karena mendengar nada peringatan yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

"……Fuu. Sudah sewajarnya kita memberikan imbalan semaksimal mungkin... Karen, siapa nama pria itu?"

"……Maaf, Ayah. Dia selalu mengalihkan pembicaraan sehingga aku tidak sempat bertanya."

"Tidak, Ayah yang seharusnya minta maaf. Karena dia anggota Veltal, wajar saja dia begitu..."

Sang Duke merasa maklum dengan kerahasiaan tersebut.

"Yang pasti dia sedang berada di kota ini. Mau tidak mau kita harus melacak keberadaannya melalui perlengkapan hitam legamnya itu..."

Meski katanya pria itu bilang 'balas saja kapan-kapan', Duke tidak boleh terlena dengan kata-kata itu. Ia harus menemukannya demi menunjukkan ketulusan hatinya.

"Karen, tolong panggilkan Lifia ke sini."

"Kakak?"

"Ya. Ayah juga akan memberitahu Lifia soal ini. Saat dia ditemukan nanti, Ayah ingin kalian berdua yang menyambutnya."

"Ba-baik."

Setelah pembicaraan selesai, Karen keluar ruangan untuk memanggil kakaknya.

Sesaat kemudian, di dalam ruangan yang sunyi itu...

"Aku harap dia tidak menerima teguran karena telah menyelamatkan putriku... Sebenarnya ini bukan sesuatu yang patut didoakan, tapi kuharap dia memang sosok yang setara dengan pilar organisasi..."

Jika dia berada di posisi komando, kekuatannya di dalam organisasi harusnya besar sehingga teguran yang diterima akan minim.

Namun, jika dia sekuat itu, bahkan dengan kekuatan seorang Duke pun, mereka tidak akan bisa berdiri sejajar dengannya.

Duke Digort bergumam pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa terjepit dalam situasi pelik, namun rasa ingin menyelamatkan diri sendiri jauh lebih kecil daripada rasa tanggung jawabnya.

Jika—keputusannya menggunakan Elixir legendaris itu adalah keputusan sepihak darinya.

Jika dia memutuskan menggunakan Elixir karena menganggap itu satu-satunya cara agar mereka semua bisa pulang dengan selamat.

Jika alasannya menunda imbalan adalah karena ia harus segera melaporkan kejadian ini kepada atasannya.

Dan jika dia harus menanggung sendiri tanggung jawab karena telah menggunakan item legendaris yang tak ternilai harganya itu.

Integritas pria itu sangat terpancar jelas, sehingga bukan tidak mungkin dia akan menanggung semuanya sendirian.

"Hutang nyawa karena telah menyelamatkan putriku... Biarpun butuh puluhan tahun, pasti akan kubalas."

Duke Digort merasa yakin bahwa keluarga Ansarage dan keluarga Albrela pun pasti akan mencapai kesimpulan yang sama.

◆◇◆

Keesokan harinya, setelah tidur sangat lelap sampai pinggangnya terasa sakit.

Saat waktu sudah hampir menunjukkan tengah hari.

"Le-lezat sekali..."

"Gahahaha! Senang mendengarnya, Dik."

Pria yang memesan kamar dengan nama aslinya, 'Kai', sedang menyantap masakan di kedai yang menyatu dengan penginapan.

"Aku tahu ini mungkin pertanyaan yang tidak sopan, tapi... apa Adik ini pelanggan yang kemarin memakai zirah hitam itu?"

"Ah, iya."

Suara yang menyapanya dari dapur adalah milik pemilik penginapan ini.

Kai tidak menyangka gumaman pelannya di kursi bar akan terdengar, sehingga ia menjawab sambil mengangguk dengan kegagapan komunikasinya yang biasa.

"Oalah, benar ya! Aku merasa suaranya mirip!"

"O-oh, begitu."

Padahal ia mengira tidak akan ketahuan karena kemarin memakai armor lengkap, tapi dugaannya meleset telat.

Sejak bereinkarnasi ke dunia ini, ada satu hal yang sering ia pikirkan.

Bahwa orang-orang di sini sangat mahir berkomunikasi. Tentu saja, ia bersyukur karena mereka yang memimpin pembicaraan.

"Lagipula, kesan Adik saat tidak pakai zirah beda jauh, ya. Waktu pertama lihat, aku sempat gemetaran, lho."

"Masa?"

"Tekanannya itu lho, bukan main. Lagi pula perlengkapan itu pasti barang yang sangat luar biasa, kan? Barang sebagus itu jarang sekali bisa dilihat. Sudah jelas kalau Adik ini Treasure Hunter yang sangat hebat."

Karena kemarin ia mendaftar di resepsionis sambil memakai perlengkapan itu, profesinya pun disalahpahami, tapi ia tidak berniat mengoreksinya. Mengaku 'pengangguran' hanya akan merugikan dirinya sendiri.

"Adik datang dari luar kota, ya?"

"Yah... dari tempat yang cukup jauh."

"Pantas saja Adik sopan sekali. Treasure Hunter di kota ini banyak yang sombong... Gara-gara itu sering sekali ada keributan."

"Ha, haha..."

Memang benar Treasure Hunter terkenal dengan sifat mereka yang temperamental.

Kai menyuapkan makanan ke mulutnya dengan senyum getir, bertekad dalam hati tidak ingin terlibat masalah dengan mereka.

Ia melanjutkan obrolan ringan dengan pemilik penginapan sampai makanannya hampir habis. Tiba-tiba...

Pintu ayun kayu yang menjadi pintu masuk penginapan terbuka.

"Permisi. Ada yang ingin saya tanyakan──"

Pemilik penginapan dan Kai menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.

Yang masuk adalah seseorang yang mengenakan zirah dengan ukiran lambang emas.

"──Apakah ada seseorang yang mengenakan perlengkapan hitam legam berkunjung ke penginapan ini?"

"……"

"……"

"Saya ulangi sekali lagi. Apakah ada seseorang yang mengenakan perlengkapan hitam legam berkunjung ke penginapan ini?"

"…………Pak, itu bukan aku."

"Aduh Dik, itu sih mustahil..."

Setelah ditanya untuk kedua kalinya, mereka berdua berbisik-bisik.

"……Tolong. Sembunyikan aku."

"Jangan minta yang mustahil! Itu kan orang dari keluarga Duke..."

"Eh, Du-Duke itu!? Anu, kalau terjadi apa-apa, aku akan bilang kalau aku yang memerintahkanmu begitu, jadi tolonglah."

Menyadari permohonan tulus dari lubuk hati Kai, sang pemilik penginapan pun menjawab. 'Sayangnya, orang itu tidak datang ke sini.'

Lima menit kemudian.

"Permisi, saya ingin bertanya, apakah ada seseorang yang mengenakan zirah hitam yang datang ke penginapan ini?"

Pintu ayun terbuka lagi, dan seorang wanita dengan gaun mirip pakaian biarawati dengan lambang salib masuk.

"……Pak, tolong."

"Tu-tunggu dulu. Itu kan orang dari Gereja Seisei..."

"Po-pokoknya kalau terjadi apa-apa aku yang akan tanggung jawab..."

Meski tidak gila bermain gim pun, ia pernah mendengar nama itu. Menyadari permohonan tulus dari lubuk hati Kai, sang pemilik penginapan pun menjawab lagi. 'Sayangnya...'

Lima menit setelah itu.

"Maaf mengganggu kesibukan Anda. Apakah ada orang yang mengenakan zirah hitam yang mampir ke sini?"

Pintu ayun terbuka, dan seseorang dengan zirah berlambang perak masuk.

"Pak..."

"Su-sudah tidak mungkin lagi, Dik... Itu dari Organisasi Perdagangan..."

"Kalau ada apa-apa aku yang akan tanggung jawab..."

Menyadari permohonan tulus dari lubuk hati Kai, sang pemilik penginapan pun menjawab sekali lagi. Sekali lagi, 'Sayangnya...'

Setelah 15 menit berlalu dan tiga bahaya itu pergi──.

"He-hei, kamu ini..."

Sang pemilik penginapan, yang kini seolah menaikkan level kewaspadaannya dan mengubah panggilannya dari 'Adik' menjadi 'Kamu', berkata dengan sudut bibir yang berkedut.

"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan...? Tiga penguasa besar yang disebut 'Tiga Terkuat' mencari-carimu secara bersamaan..."

"A-aku tidak tahu... Kalau aku tahu alasan mereka mencariku, aku sudah menyerahkan diri dari tadi."

Justru karena ia tidak tahu alasannya, ia jadi (takut) dan tidak berani muncul. Ia sempat terpikir soal penyelamatan ketiga gadis itu, tapi ia kan sudah bilang langsung kalau 'imbalannya kapan-kapan'. Tidak mungkin mereka bergerak seaktif ini tepat sehari setelah kejadian.

"He-hei. Kamu tidak sedang mencari masalah dengan Tiga Terkuat, kan...?"

"Itu pun... aku tidak tahu. Mungkin saja aku melakukannya tanpa sadar..."

"Itu sih bukan bahan candaan tahu!?"

Melihat sang pemilik penginapan yang wajahnya pucat pasi, Kai pun mulai memegangi kepalanya dan mencoba melarikan diri dari kenyataan.

Justru karena ia dianggap sebagai bagian dari Veltal, kelompok elit penjaga keamanan di bawah komando Kekaisaran, identitasnya jadi makin sulit dilacak. Kesalahpahaman itu pun semakin menjadi-jadi.

◆◇◆

Malam keesokan harinya.

"Kakak, sudah cukup, kan? Aku tidak memaksakan diri, kok."

"Benar tidak memaksakan diri? Apa benar-benar tidak ada rasa sakit?"

"Aduh..."

Tepat setelah Karen selesai mandi dan duduk di tempat tidur kamarnya.

Kedua telapak kaki dan betisnya sedang dipegang tanpa perlawanan oleh Lifia, kakaknya yang memiliki rambut merah yang sama namun dengan mata sayu yang lembut.

Ini adalah hari kedua sejak kepulangannya ke kota.

Dan selama dua hari itu pula, Karen diperlakukan seperti ini oleh kakaknya yang memasang wajah cemas—karena selama bertahun-tahun, Lifia tidak pernah absen membantu Karen melakukan peregangan setiap hari untuk mencegah kondisi kakinya memburuk.

"Seperti yang kubilang kemarin, aku benar-benar sudah tidak apa-apa."

"Ah..."

Karen memberikan tenaga pada kakinya yang semula pasrah, menggerakkannya dengan lincah hingga pegangan tangan kakaknya terlepas.

Karen pun tersenyum lebar sembari menunjukkan bahwa ia sudah bisa melakukan hal yang dulu mustahil dilakukan saat kakinya masih lumpuh.

"Terima kasih sekali lagi, Kakak. Aku tidak akan pernah melupakan bantuan Kakak selama ini."

"Muu. Aku senang kaki Karen sudah sembuh, tapi aku jadi sedikit sedih karena rutinitas harian kita jadi hilang. Padahal aku sangat menyukai waktu-waktu ini."




"Mau bagaimana lagi, kan? Lagipula, aku sudah tidak butuh bantuan Kakak lagi."

Karen menggerakkan jari-jari kakinya, membuka dan mengepal seolah sedang pamer, sekali lagi membuktikan bahwa ia telah sembuh total.

"Ya, yah... kalau Kakak memaksa, mulai sekarang di jam-jam seperti ini, aku mau deh main kejar-kejaran dengan Kakak."

"Fufufu, jangan salahkan Kakak ya kalau nanti Ibu memarahi kita?"

"Sekarang Ibu pasti masih akan memaklumi kita, kok!"

Karen membalas dengan ekspresi cerah, sementara Lifia hanya menutup mulutnya sambil tertawa anggun.

Kaki Karen memang baru saja sembuh. Mengingat situasinya, ada benarnya jika ia tidak akan dimarahi meski sedikit bertingkah laku ceria; ia bahkan berpikir bahwa menggerakkan kaki dan menikmati hidup adalah salah satu cara untuk membalas budi.

"Tapi, lupakan soal itu──"

Tiba-tiba, ekspresi Karen berubah menjadi cemberut.

"Kenapa ya, padahal penampilannya sangat mencolok, tapi tidak ada informasi yang bisa melacak keberadaannya sama sekali……. Padahal informasi soal dia yang menggendong anak kecil saja bisa terkumpul secepat itu……. Kalau begini, aku jadi tidak bisa memberikan imbalan apa pun."

"Dia benar-benar orang yang sangat baik ya. Masih sempat mengasuh anak di tengah kesibukannya."

"Itu memang benar, tapi…… pokoknya aku kesal. Dia pasti sengaja bersembunyi agar lokasi keberadaannya tidak ketahuan oleh kita."

Ia ingin bertemu secepat mungkin untuk berterima kasih. Keluhan itu muncul justru karena perasaan tersebut terus menumpuk.

Terlebih lagi, karena ia memiliki pemikiran seperti ini, perasaannya jadi semakin meluap.

"Kak, apa menurutmu…… dia akan disalahkan oleh orang-orang di sekitarnya karena menggunakan Elixir itu? Apa dia akan diminta pertanggungjawaban……?"

"Kakak sangat mengerti perasaanmu, Karen. Tapi, tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa agar semuanya diselesaikan secara damai."

Lifia telah mendapatkan penjelasan lengkap mengenai spekulasi ini dari ayah mereka.

Jika pria itu memang anggota Veltal, masuk akal jika ia memiliki beberapa botol obat tersebut.

Namun, tidak mungkin ada atasan yang akan memberikan izin untuk menggunakan tiga botol Elixir yang nilainya bahkan tidak bisa diukur dengan uang.

"Benar-benar, dia sudah mengerjai aku……. Cara bicaranya yang kasar untuk memperpendek jarak, tindakannya mengeluarkan Elixir dengan wajah tanpa dosa, kalau dipikirkan sekarang, itu pasti agar aku mengira obat itu 'milik pribadinya' sehingga aku tidak sungkan menggunakannya……"

Ditambah dengan situasi genting saat itu, Karen sama sekali tidak punya ruang untuk menyadarinya.

Sekarang setelah ia bisa berpikir jernih, ia hanya bisa merenungi 'kenapa aku tidak sadar' dan merasa telah 'dimainkan dalam genggamannya'.

"Mengingat sosok pria itu, mungkin dia juga punya tujuan untuk menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah anggota organisasi."

"……Haah. Aku mohon, semoga dia tidak dijatuhi hukuman yang berat……"

Karen menghela napas sambil bergumam, namun tidak ada raut rasa bersalah di wajahnya. ──Bukan, ia sengaja memposisikan dirinya agar tidak merasa bersalah.

Pria itu pasti sudah siap menanggung tanggung jawab apa pun, dan ia membantu mereka sedemikian rupa agar mereka tidak menyadari beban tersebut.

Jika Karen malah meratapi nasib dengan berpikir 'ini semua salahku……', itu justru berarti ia tidak benar-benar menghargai niat baik pria itu dengan maksimal.

"Jarang sekali melihat Karen jadi selemah ini."

"B-berisik, Kak……"

Karen langsung membalas, meski tatapan matanya berubah menjadi sedikit sayu.

"Dia itu orang yang datang menyelamatkan kami sendirian, jadi wajar saja kan kalau aku jadi begini……"

"Fufu, Kakak tidak bilang itu hal yang buruk, kan?"

"S-sudah, ah!"

Mungkin untuk mengubah suasana, Karen yang mendadak memerah karena godaan tiba-tiba itu menggembungkan pipinya untuk menutupi rasa malu.

Di sisi lain, tatapan Lifia melembut saat ia mulai bicara lagi.

"Mary dan Polka juga bilang hal yang sama, dia benar-benar pria yang memikat. Dia rela mempertaruhkan nyawa untuk menolong meski ada bahaya, dan sudah siap menanggung tanggung jawab dari organisasinya sendiri……. Sebagai keluarga, rasa terima kasih ini tidak akan pernah cukup."

"Eh? Kakak bertemu mereka hari ini?"

"Hanya sekitar satu jam."

Nama-nama yang disebutkan Lifia.

Mary adalah kakak dari Nina, sedangkan Polka adalah kakak dari Remy.

Ya, mereka adalah kakak-kakak dari dua gadis lain yang telah diselamatkan pria itu.

"Ini cerita yang kudengar tadi, tapi sepertinya Nina-chan dan Remy-chan juga mengatakan hal yang serupa."

"Hal yang serupa?"

"Bahwa mereka ingin segera menyampaikan rasa terima kasih. Bahwa mereka ingin segera bertemu dengannya. Sepertinya apa yang mereka pikirkan memang sama denganmu."

"H-hmm…… Begitu ya. Tapi tetap saja, akulah yang paling memikirkannya."

"Jangan malah jadi keras kepala begitu."

"Aku tidak sedang keras kepala, kok……"

Lifia Dior Ardi.

Mary Quarie Ansarage.

Polka Traria Albrela.

Ketiga kakak dari 'Tiga Terkuat' yang dianggap sebagai 'Bunga di Puncak Gunung' dan telah menerima banyak lamaran karena kecantikan mereka yang dewasa.

Mungkin tidak akan pernah ada lagi sosok pria yang bisa membuat mereka semua berpikir sedalam itu, bahkan sampai membuat mereka secara sukarela ingin bertemu dengannya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close