NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 7 Bonus Story


Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Catatan Harian Rhyno Morcheto


Petualang bernama Rhyno Morcheto pertama kali bertemu dengan wanita itu pada suatu senja di musim panas yang sangat menyengat.

Saat wanita itu melangkah masuk, Rhyno merasa atmosfer di dalam bar seketika berubah.

Di bar merangkap penginapan bagi para anggota Guild Petualang yang terletak di pinggir jalan raya ini, wanita itu membawa aura yang terasa sedikit asing.

Sulit untuk menjelaskan bagian mana yang terasa aneh secara spesifik.

Dia wanita berkacamata yang membawa seekor anjing putih berukuran sangat besar. Sebenarnya, itu bukan pemandangan langka.

Wajar bagi pemburu yang berkelana sendirian untuk memelihara anjing sebagai pelindung. Namun, Rhyno merasa anjing itu seolah sedang mengintimidasi seisi bar dengan tatapan tajamnya.

Wanita itu melangkah mantap tanpa ragu menuju ke arah Rhyno, lalu berucap dengan lugas.

"Aku ingin mengajukan permintaan."

Wajah wanita itu tampak sangat mengantuk, namun suaranya terdengar begitu jernih.

"Kamu orangnya, kan? Rhyno Morcheto si Crawl Shark."

"Yah, begitulah," jawab Rhyno santai sambil bersandar di kursinya.

Dia mencoba berakting seolah punya banyak wibawa. Di kalangan petualang, namanya memang mulai dikenal secara perlahan.

Satu atau dua prestasi besar lagi, maka dia bisa menjadi tokoh penting di satu Guild, atau bahkan mungkin menjadi ketuanya suatu saat nanti. Rhyno sedang berada di masa keemasan itu.

"Sampai jauh-jauh mencariku untuk memberi tugas, ya?"

Rhyno meneguk gelas di tangannya. Rasa manis yang lengket khas minuman keras murah di daerah ini tertinggal di lidahnya.

"Bayaranku mahal, lho. Bagaimanapun juga, aku ini Tuan Rhyno si Crawl Shark."

"Aku sudah mendengar namamu. Katanya, kamulah orang paling hebat di Guild ini sekarang," ucap si wanita kacamata dengan nada datar.

Nyali yang cukup besar, pikir Rhyno. Jika wanita ini tahu namanya, seharusnya dia juga tahu kalau Rhyno bukan tipe orang yang bekerja dengan cara yang terpuji.

Menelikung rekan sendiri adalah makanan sehari-hari, dan menipu klien yang bodoh pun sering dia lakukan. Bahkan ada rumor dia membunuh sesama petualang—dan beberapa di antaranya memang benar.

Lagi pula, di industri petualang ini, seseorang tidak akan bisa bertahan hidup tanpa kelicikan semacam itu.

Setahu Rhyno, para petualang yang memercayai rekan dan tulus kepada klien, semuanya sekarang sudah berada di bawah tanah atau di dasar laut.

"Aku ingin meminta pengawalan menuju reruntuhan."

"Kedengarannya menarik. Berapa yang bisa kau bayar? ——Oi, hentikan, Gothel, Fecta."

Rhyno mengibaskan tangannya. Dia bermaksud menghentikan dua anak buahnya yang mencoba mengendap-endap di belakang wanita berkacamata itu.

Si pemuda bertubuh besar namanya Gothel, dan yang bertubuh kecil dengan pipi cekung namanya Fecta. Keduanya adalah petualang yang dulunya mantan pembunuh dan perampok.

Dua orang ini memang punya penyakit tangan jahil.

Mereka sering mencoba mencuri barang milik orang lain, padahal kemampuan mencopet mereka sama sekali tidak becus.

"Dia ini klien berharga. Jangan menyentuh barang bawaannya."

"Baik..."

"......Maaf."

Gothel menjawab dengan ragu, sementara Fecta menunduk dengan muram.

Tampaknya mereka berdua tidak mengerti kenapa mereka dihentikan.

Rhyno rasanya ingin berdecak kesal.

(Dasar amatiran. Kalau kalian benar-benar mengincar dompet wanita itu—)

Mungkin pergelangan tangan mereka sudah putus sekarang.

Sebab, anjing putih besar di samping wanita itu terus mengawasi pergerakan Gothel hanya dengan matanya, tanpa mengeluarkan geraman sedikit pun.

Rhyno merasa muak dengan kebodohan anak buahnya yang tidak menyadari hal itu.

"Maaf soal itu. Mereka anak buahku. Sampah-sampah yang tangannya tidak bisa diam."

"Yah, Kakak, kok begitu..."

"Diam kau."

Gothel mencoba memprotes, tapi Rhyno membungkamnya dengan satu pelototan tajam.

"Jadi, Nona. Ke mana kau ingin pergi?"

"Reruntuhan. Tempat yang disebut 'Lubang Yavik' di sisi utara gunung ini."

Area pegunungan ini disebut Pegunungan Lissekart. Memang benar ada beberapa reruntuhan kuno di sisi utara.

Namun bagi para petualang, tempat itu bukan tempat kerja yang menguntungkan.

Semuanya sudah dikorek habis, tidak ada lagi barang berharga yang tersisa di sana.

Reruntuhan yang disebut 'Lubang Yavik' adalah salah satunya.

Sesuai namanya, itu hanyalah reruntuhan yang memiliki banyak lubang. Lubang besar yang cukup untuk menampung beberapa orang dewasa di dalamnya.

Tempat itu dianggap sebagai tempat pembuangan sampah atau lubang kuburan.

Konon pernah ditemukan ukiran batu lapuk atau kepingan logam, tapi semuanya sudah habis dijarah pencuri, menyisakan puing-puing saja.

Sekarang, hampir tidak ada orang yang berkunjung ke sana. Namun, tetap saja, ada kalanya tempat itu bisa menghasilkan uang.

Misalnya, saat ada pelanggan seperti wanita ini.

"Aku ingin menyelidiki reruntuhan itu."

"Begitu ya. Jadi kau ini sarjana dari kuil?"

Rhyno memang sudah menduga hal itu. Untuk ukuran orang yang menampakkan diri di tempat seperti ini, penampilannya terlalu rapi.

Pelanggan seperti ini biasanya adalah sumber uang yang bagus.

"Boleh saja. Jadi, siapa namamu, Klien?"

"Panggil saja aku Salya."

Wanita berkacamata itu tersenyum tipis.

Pasti nama palsu, pikir Rhyno sambil menandaskan sisa minuman keras di gelasnya.

"——Sebenarnya, tempat ini cukup berbahaya, lho."

Rhyno berjalan di depan. Langkahnya terasa ringan.

Tentu saja, tugas membawa barang bawaan jatuh kepada Gothel dan Fecta.

Kuda tidak bisa digunakan karena jalannya tidak terawat dan memiliki perbedaan ketinggian yang ekstrem.

"Pilihan tepat memintaku, Klien. Tidak banyak orang yang tahu jalan ini."

Itu adalah jalan setapak tua yang melewati celah-celah gunung.

Mengetahui jalan seperti ini adalah salah satu bukti kemampuan sebagai petualang.

Ini penting untuk melarikan diri dari kejaran Biro Investigasi Yudisial di saat darurat.

"Meski sarang Abnormal Fairy di area ini sudah berkurang, tempat ini tetap berbahaya."

"Begitu ya..."

Salya mengangguk sambil terus mengikuti dengan baik. Mungkin dia punya latar belakang sebagai Pendeta Bersenjata.

Dibandingkan dengan Gothel dan Fecta yang jelas-jelas kelelahan, wajahnya tetap tampak tenang.

"Ksatria Suci Divisi Lima... lalu Divisi Sebelas. Kedua komandan itu benar-benar kasar, ya. Gara-gara itu, pasukan di belakang mereka jadi kesulitan membereskan sisanya."

"Kau malah mengeluh. Begitukah?"

"Ah. Iya... aku melihatnya di berbagai desa. Pasukan logistik di belakang tampak bekerja dengan sangat sibuk."

Divisi Lima dan Divisi Sebelas. Rhyno tahu nama kedua komandannya.

Xylo Forbartz dan Vieux Wintier. Keduanya bisa dibilang adalah pahlawan bagi umat manusia.

Setiap kali mendengar pencapaian mereka, Rhyno merasa dadanya sesak. Mungkin karena dia pernah melihat mereka secara langsung.

Waktu itu di Kota Industri Rokka. Saat kawanan besar Abnormal Fairy mendekat, mereka berdua berhasil memukul mundur musuh hanya dengan pasukan mereka sendiri.

Mereka melindungi kota sepenuhnya dan melakukan parade kemenangan yang meriah. Meski begitu, kedua komandan yang menjadi pahlawan itu sama sekali tidak tampak senang.

Xylo Forbartz berkata dengan bosan, "Kami hanya mengusir mereka. Ini bukan berarti kita makin dekat dengan kemenangan."

Sementara Vieux Wintier menegaskan, "Ini hasil yang wajar, tidak ada yang perlu diributkan."

Sikap itulah yang membuat Rhyno kesal. Mungkin.

Kalian sudah menang, kalian sedang dirayakan, jadi tunjukkanlah wajah yang lebih senang. Itulah yang dia rasakan.

Rhyno juga mendaftar sebagai pasukan pertahanan sebagai petualang saat itu, jadi mungkin perasaan itu terasa lebih kuat baginya.

Karena itulah dia membenci mereka berdua—dan setiap kali mereka berprestasi, dadanya terasa sesak.

"——Apakah di sini tempatnya?"

Tanpa sadar, mereka tampaknya sudah sampai. Salya menghentikan langkahnya.

Itu adalah reruntuhan gersang yang hanya terdiri dari beberapa lubang besar. Rhyno pernah melihatnya sekali, dan seperti biasa, tidak ada hal yang menarik untuk dilihat.

Rhyno menggelengkan kepala pelan lalu memberi instruksi kepada kedua anak buahnya.

"Gothel, Fecta, kalian boleh istirahat. Klien bilang sampai di sini saja sudah cukup."

Tampaknya mereka sudah mencapai batasnya.

Dengan wajah lega, mereka menurunkan barang bawaan dan jatuh terduduk di sana. Rhyno melirik mereka sebentar, lalu menoleh ke arah Salya.

"Kau yakin di sini tempatnya? Apa serunya menyelidiki tempat seperti ini?"

"Ini seru, lho. Aku ingin mencoba datang ke sini sekali saja. Sejak zaman sekolah. Dua temanku dulu sering bolos sekolah untuk pergi ke berbagai reruntuhan... aku iri. Perjalanan seperti ini adalah impianku."

"Heh. Sarjana memang aneh. Kau tidak akan mengerti apa pun meski melihat tempat seperti ini."

"Ada banyak hal yang bisa dimengerti."

Salya menurunkan tasnya dan mulai mengeluarkan beberapa peralatan.

Sepertinya persiapan untuk penyelidikan. Dia merentangkan tongkat lipat dan menjajajkan beberapa botol obat.

"Misalnya, ruangan ini..."

"Ruangan?"

Salya menunjuk ke salah satu lubang besar, membuat Rhyno ikut melihat ke arah sana. Meski melongok ke dalam, itu tetap terlihat seperti lubang biasa baginya.

"Ini ruangan?"

"Ini ruangan."

"Manusia zaman dulu tinggal di lubang seperti ini? Sempit sekali."

Meski lubangnya besar, rasanya sulit bahkan bagi satu orang dewasa untuk berbaring di sana.

"Manusia? Aku tidak tahu apakah mereka harus disebut begitu."

Salya mengukur radius lubang dan menyinari dasarnya dengan lentera tipe Holy Seal. Hanya ada serpihan batu yang berserakan, tapi wanita itu tampak sangat tertarik.

"Sepertinya ruangan ini ditinggali oleh keluarga yang terdiri dari tiga individu. Mereka tampaknya tidur berjejer secara vertikal. Menggunakan tempat tidur tingkat tiga... di dasar lubang ada jejak bekas dapur."

"Oi, oi. Tidur vertikal? Bagaimana caranya?"

Salya mengucapkannya seolah itu hal biasa, tapi Rhyno tidak mengerti maksudnya.

"Itu sih seperti laba-laba."

"Mirip, memang. Mereka adalah organisme tipe laba-laba. Diperkirakan tinggi tubuh mereka sekitar lima puluh Kang. Mereka cukup cerdas dan seharusnya membangun peradaban dengan bentuk yang berbeda dari manusia."

"......Aku tidak paham. Jadi dulu monster seperti itu yang menguasai dunia ini?"

"Entahlah. Sampai ke sana aku tidak tahu. Aku tidak tahu bagaimana persaingan bertahan hidup terjadi sampai manusia tersebar di seluruh dunia seperti sekarang. Organisme bentuk apa yang dulu mendominasi..."

Meski nadanya tetap datar dan mengantuk, Salya tampak sedikit bersemangat.

"Menyelidiki hal itu adalah hobi saya. Sebenarnya, saya ingin menjadikannya pekerjaan tetap."

Sambil berbicara, Salya mengeluarkan tangga tali. Tampaknya dia berniat turun ke dasar lubang.

"Tunggu dulu. Aku tidak mengerti. Monster yang tinggal di sini, sebenarnya kenapa mereka——"

Rhyno hendak melongok ke dasar lubang, tapi dia berhenti. Sesuatu menyentuh instingnya.

Rasa perih yang menggelitik di tengkuk, atau mungkin rasa gatal. Rhyno sudah memutuskan untuk tidak pernah mengabaikan firasat seperti ini.

"Oi."

Dia menoleh, lalu mengernyitkan wajah. Gothel jatuh tersungkur sambil memegang lehernya.

Darah mengalir dari sela-sela jarinya. Lehernya terkoyak dalam——oleh cakar. Darah memercik.

Sesosok bayangan kecil mengeluarkan suara seperti teriakan.

(Abnormal Fairy! ......Goblin?!)

Mungkin sisa-sisa yang bersembunyi di gunung ini. Rhyno menatap ke atas lereng.

Masih ada beberapa lagi——lebih dari sepuluh. Fecta berteriak dan mulai berlari melarikan diri, mencoba kembali ke jalan semula.

"Jangan lari, bodoh!" teriak Rhyno.

"Kau akan mati!"

Ancaman yang diperingatkan oleh teriakan itu segera menjadi kenyataan.

Kawanan Goblin mengerumuni Fecta. Satu melompat ke punggungnya, satu lagi menerjang lengan Fecta yang mencoba mengibas. Goblin ketiga menjatuhkannya ke tanah. Suara teriakannya pun terputus dengan suara parau.

"Sial......!"

Mereka mulai terkepung. Namun, kenapa jumlahnya bisa sebanyak ini? Seolah-olah mereka berkumpul di sini untuk mengincar sesuatu.

(Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus meninggalkan wanita ini dan lari? Tapi——ada caranya untuk lari.)

Dia tidak bisa lari dengan menunjukkan punggung seperti Fecta. Ini adalah pertaruhan.

Dia harus membunuh individu yang tampak paling kuat tanpa mempedulikan cara, lalu menerobos kepungan saat mereka lengah.

Apakah itu pilihan terbaik? Haruskah dia menjadikan sarjana wanita ini sebagai umpan?

Atau——.

"......Mau bagaimana lagi ya."

Sebuah suara datang dari belakang. Salya menampakkan wajahnya dari lubang. Ekspresinya tampak santai——Rhyno berdecak kesal.

"Bodoh. Buat apa kau memunculkan kepala?"

"Aku akan membereskannya."

"Bagaimana caranya?!"

"Aku, dan dia."

"——Apa?"

Rhyno tidak percaya pada matanya sendiri. Dia merasa melihat percikan api muncul dari anjing putih di sampingnya. Kemudian, sebuah raungan meledak.

"Fimlinde. Tolong ya."

Seolah menjawab bisikan Salya, teriakan menderita terdengar dari atas lereng.

Sesuatu sedang menyerang para Goblin itu.

Itu adalah——ular.

Mereka melompat dari celah pepohonan atau dari atas dahan.

Rhyno sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi.

"Kau..."

"Aku ingin mencoba berwisata seperti Xylo-kun dan Lufen-kun saat terpisah sedikit dari pasukan... tapi sepertinya tidak berjalan lancar."

Salya merangkak keluar dari lubang sambil memegang Thunder Staff.

Terlebih lagi, itu adalah model terbaru dengan jangkauan jarak jauh.

Di mana dia menyembunyikannya selama ini?

"Ayo pergi, Fimlinde. Ini juga bagian dari tugas membereskan sisa-sisa pasukan garis depan."

Anjing putih itu melolong panjang. Rhyno juga tahu nama itu. Nama sang Goddess. Sang Dewi Binatang, Fimlinde. Jangan-jangan, anjing putih ini adalah...

Setelah itu, tidak butuh waktu lama sampai semua Goblin dibantai habis.

Beberapa waktu kemudian, Rhyno Morcheto akhirnya mengetahui identitas asli wanita itu.

Sigria Parcilact. Komandan Ksatria Suci Divisi Tujuh. Kontraktor dari sang Dewi Binatang. Tampaknya, dia adalah rekan sejawat dari Xylo Forbartz.

Setelah mengetahui hal itu, Rhyno menyadari bahwa perasaannya terhadap Xylo Forbartz menjadi semakin rumit.



Previous Chapter | ToC

Post a Comment

Post a Comment

close