Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Catatan Harian Rhyno
Morcheto
Petualang bernama Rhyno Morcheto pertama kali bertemu dengan
wanita itu pada suatu senja di musim panas yang sangat menyengat.
Saat wanita itu melangkah masuk, Rhyno merasa atmosfer di
dalam bar seketika berubah.
Di bar merangkap penginapan bagi para anggota Guild
Petualang yang terletak di pinggir jalan raya ini, wanita itu membawa aura yang
terasa sedikit asing.
Sulit untuk menjelaskan bagian mana yang terasa aneh secara
spesifik.
Dia wanita berkacamata yang membawa seekor anjing putih
berukuran sangat besar. Sebenarnya, itu bukan pemandangan langka.
Wajar bagi pemburu yang berkelana sendirian untuk memelihara
anjing sebagai pelindung. Namun, Rhyno merasa anjing itu seolah sedang
mengintimidasi seisi bar dengan tatapan tajamnya.
Wanita itu melangkah mantap tanpa ragu menuju ke arah Rhyno,
lalu berucap dengan lugas.
"Aku ingin mengajukan permintaan."
Wajah wanita itu tampak sangat mengantuk, namun suaranya
terdengar begitu jernih.
"Kamu orangnya, kan? Rhyno Morcheto si Crawl Shark."
"Yah, begitulah," jawab Rhyno santai sambil
bersandar di kursinya.
Dia mencoba berakting seolah punya banyak wibawa. Di
kalangan petualang, namanya memang mulai dikenal secara perlahan.
Satu atau dua prestasi besar lagi, maka dia bisa menjadi
tokoh penting di satu Guild, atau bahkan mungkin menjadi ketuanya suatu saat
nanti. Rhyno sedang berada di masa keemasan itu.
"Sampai jauh-jauh mencariku untuk memberi tugas,
ya?"
Rhyno
meneguk gelas di tangannya. Rasa manis yang lengket khas minuman keras murah di
daerah ini tertinggal di lidahnya.
"Bayaranku
mahal, lho. Bagaimanapun juga, aku ini Tuan Rhyno si Crawl Shark."
"Aku
sudah mendengar namamu. Katanya, kamulah orang paling hebat di Guild ini
sekarang," ucap si wanita kacamata dengan nada datar.
Nyali
yang cukup besar, pikir Rhyno. Jika wanita ini tahu namanya, seharusnya dia
juga tahu kalau Rhyno bukan tipe orang yang bekerja dengan cara yang terpuji.
Menelikung
rekan sendiri adalah makanan sehari-hari, dan menipu klien yang bodoh pun
sering dia lakukan. Bahkan ada rumor dia membunuh sesama petualang—dan beberapa
di antaranya memang benar.
Lagi
pula, di industri petualang ini, seseorang tidak akan bisa bertahan hidup tanpa
kelicikan semacam itu.
Setahu Rhyno,
para petualang yang memercayai rekan dan tulus kepada klien, semuanya sekarang
sudah berada di bawah tanah atau di dasar laut.
"Aku ingin
meminta pengawalan menuju reruntuhan."
"Kedengarannya
menarik. Berapa yang bisa kau bayar? ——Oi, hentikan, Gothel, Fecta."
Rhyno mengibaskan
tangannya. Dia bermaksud menghentikan dua anak buahnya yang mencoba
mengendap-endap di belakang wanita berkacamata itu.
Si pemuda
bertubuh besar namanya Gothel, dan yang bertubuh kecil dengan pipi cekung
namanya Fecta. Keduanya adalah petualang yang dulunya mantan pembunuh dan
perampok.
Dua orang ini
memang punya penyakit tangan jahil.
Mereka sering
mencoba mencuri barang milik orang lain, padahal kemampuan mencopet mereka sama
sekali tidak becus.
"Dia
ini klien berharga. Jangan menyentuh barang bawaannya."
"Baik..."
"......Maaf."
Gothel
menjawab dengan ragu, sementara Fecta menunduk dengan muram.
Tampaknya
mereka berdua tidak mengerti kenapa mereka dihentikan.
Rhyno rasanya ingin berdecak kesal.
(Dasar
amatiran. Kalau kalian benar-benar mengincar dompet wanita itu—)
Mungkin
pergelangan tangan mereka sudah putus sekarang.
Sebab, anjing
putih besar di samping wanita itu terus mengawasi pergerakan Gothel hanya
dengan matanya, tanpa mengeluarkan geraman sedikit pun.
Rhyno merasa muak
dengan kebodohan anak buahnya yang tidak menyadari hal itu.
"Maaf soal
itu. Mereka anak buahku. Sampah-sampah yang tangannya tidak bisa diam."
"Yah,
Kakak, kok begitu..."
"Diam
kau."
Gothel
mencoba memprotes, tapi Rhyno membungkamnya dengan satu pelototan tajam.
"Jadi,
Nona. Ke mana kau ingin
pergi?"
"Reruntuhan.
Tempat yang disebut 'Lubang Yavik' di sisi utara gunung ini."
Area pegunungan
ini disebut Pegunungan Lissekart. Memang benar ada beberapa reruntuhan kuno di
sisi utara.
Namun bagi para
petualang, tempat itu bukan tempat kerja yang menguntungkan.
Semuanya sudah
dikorek habis, tidak ada lagi barang berharga yang tersisa di sana.
Reruntuhan yang
disebut 'Lubang Yavik' adalah salah satunya.
Sesuai namanya,
itu hanyalah reruntuhan yang memiliki banyak lubang. Lubang besar yang cukup
untuk menampung beberapa orang dewasa di dalamnya.
Tempat itu
dianggap sebagai tempat pembuangan sampah atau lubang kuburan.
Konon pernah
ditemukan ukiran batu lapuk atau kepingan logam, tapi semuanya sudah habis
dijarah pencuri, menyisakan puing-puing saja.
Sekarang,
hampir tidak ada orang yang berkunjung ke sana. Namun, tetap saja, ada kalanya tempat itu bisa
menghasilkan uang.
Misalnya, saat
ada pelanggan seperti wanita ini.
"Aku ingin
menyelidiki reruntuhan itu."
"Begitu ya.
Jadi kau ini sarjana dari kuil?"
Rhyno memang sudah menduga hal itu. Untuk ukuran orang yang
menampakkan diri di tempat seperti ini, penampilannya terlalu rapi.
Pelanggan seperti ini biasanya adalah sumber uang yang
bagus.
"Boleh saja.
Jadi, siapa namamu, Klien?"
"Panggil
saja aku Salya."
Wanita
berkacamata itu tersenyum tipis.
Pasti nama palsu,
pikir Rhyno sambil menandaskan sisa minuman keras di gelasnya.
◆
"——Sebenarnya,
tempat ini cukup berbahaya, lho."
Rhyno berjalan di
depan. Langkahnya terasa ringan.
Tentu saja, tugas
membawa barang bawaan jatuh kepada Gothel dan Fecta.
Kuda tidak bisa
digunakan karena jalannya tidak terawat dan memiliki perbedaan ketinggian yang
ekstrem.
"Pilihan
tepat memintaku, Klien. Tidak banyak orang yang tahu jalan ini."
Itu adalah jalan
setapak tua yang melewati celah-celah gunung.
Mengetahui jalan
seperti ini adalah salah satu bukti kemampuan sebagai petualang.
Ini penting untuk
melarikan diri dari kejaran Biro Investigasi Yudisial di saat darurat.
"Meski
sarang Abnormal Fairy di area ini sudah berkurang, tempat ini tetap
berbahaya."
"Begitu
ya..."
Salya
mengangguk sambil terus mengikuti dengan baik. Mungkin dia punya latar belakang
sebagai Pendeta Bersenjata.
Dibandingkan
dengan Gothel dan Fecta yang jelas-jelas kelelahan, wajahnya tetap tampak
tenang.
"Ksatria
Suci Divisi Lima... lalu Divisi Sebelas. Kedua komandan itu benar-benar kasar,
ya. Gara-gara itu, pasukan di belakang mereka jadi kesulitan membereskan
sisanya."
"Kau malah
mengeluh. Begitukah?"
"Ah. Iya...
aku melihatnya di berbagai desa. Pasukan logistik di belakang tampak bekerja dengan sangat sibuk."
Divisi Lima dan
Divisi Sebelas. Rhyno tahu nama kedua komandannya.
Xylo Forbartz dan
Vieux Wintier. Keduanya bisa dibilang adalah pahlawan bagi umat manusia.
Setiap kali
mendengar pencapaian mereka, Rhyno merasa dadanya sesak. Mungkin karena dia
pernah melihat mereka secara langsung.
Waktu itu di Kota
Industri Rokka. Saat kawanan besar Abnormal Fairy mendekat, mereka
berdua berhasil memukul mundur musuh hanya dengan pasukan mereka sendiri.
Mereka melindungi
kota sepenuhnya dan melakukan parade kemenangan yang meriah. Meski begitu,
kedua komandan yang menjadi pahlawan itu sama sekali tidak tampak senang.
Xylo Forbartz
berkata dengan bosan, "Kami hanya mengusir mereka. Ini bukan berarti kita
makin dekat dengan kemenangan."
Sementara
Vieux Wintier menegaskan, "Ini hasil yang wajar, tidak ada yang perlu
diributkan."
Sikap
itulah yang membuat Rhyno kesal. Mungkin.
Kalian
sudah menang, kalian sedang dirayakan, jadi tunjukkanlah wajah yang lebih
senang. Itulah yang dia rasakan.
Rhyno
juga mendaftar sebagai pasukan pertahanan sebagai petualang saat itu, jadi
mungkin perasaan itu terasa lebih kuat baginya.
Karena
itulah dia membenci mereka berdua—dan setiap kali mereka berprestasi, dadanya
terasa sesak.
"——Apakah di
sini tempatnya?"
Tanpa sadar,
mereka tampaknya sudah sampai. Salya menghentikan langkahnya.
Itu adalah
reruntuhan gersang yang hanya terdiri dari beberapa lubang besar. Rhyno pernah
melihatnya sekali, dan seperti biasa, tidak ada hal yang menarik untuk dilihat.
Rhyno
menggelengkan kepala pelan lalu memberi instruksi kepada kedua anak buahnya.
"Gothel,
Fecta, kalian boleh istirahat. Klien bilang sampai di sini saja sudah
cukup."
Tampaknya mereka
sudah mencapai batasnya.
Dengan wajah
lega, mereka menurunkan barang bawaan dan jatuh terduduk di sana. Rhyno melirik
mereka sebentar, lalu menoleh ke arah Salya.
"Kau yakin
di sini tempatnya? Apa serunya menyelidiki tempat seperti ini?"
"Ini seru,
lho. Aku ingin mencoba datang ke sini sekali saja. Sejak zaman sekolah. Dua
temanku dulu sering bolos sekolah untuk pergi ke berbagai reruntuhan... aku
iri. Perjalanan seperti ini adalah impianku."
"Heh.
Sarjana memang aneh. Kau tidak akan mengerti apa pun meski melihat tempat
seperti ini."
"Ada
banyak hal yang bisa dimengerti."
Salya menurunkan
tasnya dan mulai mengeluarkan beberapa peralatan.
Sepertinya
persiapan untuk penyelidikan. Dia merentangkan tongkat lipat dan menjajajkan
beberapa botol obat.
"Misalnya,
ruangan ini..."
"Ruangan?"
Salya menunjuk ke
salah satu lubang besar, membuat Rhyno ikut melihat ke arah sana. Meski
melongok ke dalam, itu tetap terlihat seperti lubang biasa baginya.
"Ini
ruangan?"
"Ini
ruangan."
"Manusia
zaman dulu tinggal di lubang seperti ini? Sempit sekali."
Meski lubangnya
besar, rasanya sulit bahkan bagi satu orang dewasa untuk berbaring di sana.
"Manusia?
Aku tidak tahu apakah mereka harus disebut begitu."
Salya mengukur
radius lubang dan menyinari dasarnya dengan lentera tipe Holy Seal.
Hanya ada serpihan batu yang berserakan, tapi wanita itu tampak sangat
tertarik.
"Sepertinya
ruangan ini ditinggali oleh keluarga yang terdiri dari tiga individu. Mereka
tampaknya tidur berjejer secara vertikal. Menggunakan tempat tidur tingkat
tiga... di dasar lubang ada jejak bekas dapur."
"Oi, oi.
Tidur vertikal? Bagaimana caranya?"
Salya
mengucapkannya seolah itu hal biasa, tapi Rhyno tidak mengerti maksudnya.
"Itu sih seperti laba-laba."
"Mirip, memang. Mereka adalah organisme tipe laba-laba.
Diperkirakan tinggi tubuh mereka sekitar lima puluh Kang. Mereka cukup
cerdas dan seharusnya membangun peradaban dengan bentuk yang berbeda dari
manusia."
"......Aku tidak paham. Jadi dulu monster seperti itu
yang menguasai dunia ini?"
"Entahlah.
Sampai ke sana aku tidak tahu. Aku tidak tahu bagaimana persaingan bertahan
hidup terjadi sampai manusia tersebar di seluruh dunia seperti sekarang.
Organisme bentuk apa yang dulu mendominasi..."
Meski nadanya
tetap datar dan mengantuk, Salya tampak sedikit bersemangat.
"Menyelidiki
hal itu adalah hobi saya. Sebenarnya, saya ingin menjadikannya pekerjaan
tetap."
Sambil berbicara,
Salya mengeluarkan tangga tali. Tampaknya dia berniat turun ke dasar lubang.
"Tunggu
dulu. Aku tidak
mengerti. Monster yang tinggal di sini, sebenarnya kenapa mereka——"
Rhyno
hendak melongok ke dasar lubang, tapi dia berhenti. Sesuatu menyentuh
instingnya.
Rasa
perih yang menggelitik di tengkuk, atau mungkin rasa gatal. Rhyno sudah memutuskan untuk tidak pernah
mengabaikan firasat seperti ini.
"Oi."
Dia menoleh, lalu
mengernyitkan wajah. Gothel jatuh tersungkur sambil memegang lehernya.
Darah mengalir
dari sela-sela jarinya. Lehernya terkoyak dalam——oleh cakar. Darah
memercik.
Sesosok bayangan kecil mengeluarkan suara seperti teriakan.
(Abnormal Fairy! ......Goblin?!)
Mungkin sisa-sisa yang bersembunyi di gunung ini. Rhyno menatap ke atas lereng.
Masih ada
beberapa lagi——lebih dari sepuluh. Fecta berteriak dan mulai berlari melarikan
diri, mencoba kembali ke jalan semula.
"Jangan
lari, bodoh!" teriak Rhyno.
"Kau akan
mati!"
Ancaman yang
diperingatkan oleh teriakan itu segera menjadi kenyataan.
Kawanan Goblin
mengerumuni Fecta. Satu melompat ke punggungnya, satu lagi menerjang lengan
Fecta yang mencoba mengibas. Goblin ketiga menjatuhkannya ke tanah. Suara
teriakannya pun terputus dengan suara parau.
"Sial......!"
Mereka mulai
terkepung. Namun, kenapa jumlahnya bisa sebanyak ini? Seolah-olah mereka
berkumpul di sini untuk mengincar sesuatu.
(Apa yang
harus kulakukan? Apa aku harus meninggalkan wanita ini dan lari? Tapi——ada
caranya untuk lari.)
Dia tidak bisa
lari dengan menunjukkan punggung seperti Fecta. Ini adalah pertaruhan.
Dia harus
membunuh individu yang tampak paling kuat tanpa mempedulikan cara, lalu
menerobos kepungan saat mereka lengah.
Apakah itu
pilihan terbaik? Haruskah dia menjadikan sarjana wanita ini sebagai umpan?
Atau——.
"......Mau
bagaimana lagi ya."
Sebuah
suara datang dari belakang. Salya
menampakkan wajahnya dari lubang. Ekspresinya tampak santai——Rhyno berdecak
kesal.
"Bodoh. Buat
apa kau memunculkan kepala?"
"Aku akan membereskannya."
"Bagaimana caranya?!"
"Aku, dan
dia."
"——Apa?"
Rhyno tidak
percaya pada matanya sendiri. Dia merasa melihat percikan api muncul dari
anjing putih di sampingnya. Kemudian, sebuah raungan meledak.
"Fimlinde.
Tolong ya."
Seolah menjawab
bisikan Salya, teriakan menderita terdengar dari atas lereng.
Sesuatu
sedang menyerang para Goblin itu.
Itu
adalah——ular.
Mereka
melompat dari celah pepohonan atau dari atas dahan.
Rhyno sama sekali
tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Kau..."
"Aku ingin
mencoba berwisata seperti Xylo-kun dan Lufen-kun saat terpisah sedikit dari
pasukan... tapi sepertinya tidak berjalan lancar."
Salya
merangkak keluar dari lubang sambil memegang Thunder Staff.
Terlebih
lagi, itu adalah model terbaru dengan jangkauan jarak jauh.
Di mana dia
menyembunyikannya selama ini?
"Ayo pergi,
Fimlinde. Ini juga bagian dari tugas membereskan sisa-sisa pasukan garis
depan."
Anjing putih itu melolong panjang. Rhyno juga tahu nama itu. Nama sang Goddess. Sang
Dewi Binatang, Fimlinde. Jangan-jangan, anjing putih ini adalah...
Setelah
itu, tidak butuh waktu lama sampai semua Goblin dibantai habis.
Beberapa
waktu kemudian, Rhyno Morcheto akhirnya mengetahui identitas asli wanita itu.
Sigria Parcilact.
Komandan Ksatria Suci Divisi Tujuh. Kontraktor dari sang Dewi Binatang. Tampaknya, dia adalah rekan sejawat
dari Xylo Forbartz.
Setelah
mengetahui hal itu, Rhyno menyadari bahwa perasaannya terhadap Xylo Forbartz
menjadi semakin rumit.



Post a Comment