Hukuman
Infiltrasi Pasukan Fenomena Demon Lord Pegunungan
Kazit 3
Strategi pertama
yang terpikirkan olehku dan Dotta saat mulai melarikan diri adalah bergabung
dengan suku Yamanobe.
Jumlah mereka
banyak, dan mereka sedang unggul.
Meski komandan
barisan depan mereka telah gugur di tangan Mata Dua, pasukan Mata Dua sendiri
kini beralih mengejar aku dan Dotta.
Akibatnya,
momentum serangan yang sempat terhenti kini mulai pulih kembali. Markas di
pinggir sungai ini pada dasarnya adalah medan yang sulit dipertahankan.
Begitu pasukan
lawan menyebar di lereng kedua sisi, pihak bertahan akan menanggung kerugian
besar.
Ditambah lagi,
sepertinya pasukan Yamanobe telah menyiapkan sebuah siasat.
"Baguuus!"
Kami
mendengar sebuah suara yang agak bernada seret bergema. Itu suara dari pihak Yamanobe.
"Hancurkan
saja sekarang! Jebol tanggulnyaaa!"
Suara ledakan
dahsyat berdentum membelah udara, disusul kepulan asap dari arah hulu. Air
mulai mengalir deras.
Ternyata mereka
membendungnya. Air yang bercampur lumpur, kerikil, dan potongan kayu meluap
dengan hebatnya.
Meski tidak
sampai seperti tsunami, terjangan itu cukup untuk menelan, menjatuhkan, atau
bahkan menenggelamkan sekumpulan Fairy dan prajurit yang mencoba
menghadang dengan menyeberangi sungai.
Permukaan sungai
yang tadinya hanya setinggi lutut, dalam sekejap mata meluap tinggi.
Tentu saja, pada
saat debit air mencapai puncaknya, orang-orang Yamanobe sudah menjauh dari tepi
sungai.
(Serangan
yang direncanakan dengan sangat matang……!)
Agar
tidak disadari oleh orang-orang di sini, mereka menjaga debit air sungai tetap
normal sambil mengalihkan aliran air dari sumber lain atau membendungnya──aku
rasa mereka melakukan trik semacam itu.
Berkat
hal ini, serangan Yamanobe mulai miring ke arah keunggulan mutlak.
Lagipula,
manusia di sini memang spesialis dukungan logistik. Mereka tidak punya kesiapan
mental untuk menghadapi pertempuran langsung.
"Apa ini
sudah diputuskan……? Jangan-jangan, mereka bakal menang."
"Uwa! Xylo,
depan, depan!"
Dotta tiba-tiba
berteriak kencang.
Di lereng jalan
depan kami, muncul para Fairy. Mereka berdiri menghadang, menutup celah
di antara pepohonan. Semuanya berbentuk manusia.
Dua ekor spesies
yang disebut Goblin, dengan kulit mengilap licin seperti reptil. Melihat
keduanya menggenggam pedang pendek, mereka pasti anak buah si Mata Dua.
(Sudah berhasil memutar ya. Cepat sekali. Jadi mereka unit semacam itu.)
Unit 7110. Mereka
pasti kelompok yang ahli dalam mobilitas lincah. Tapi hebat juga mereka bisa
melatih Fairy sampai sejauh ini. Mereka menyerang tanpa mengeluarkan
suara raungan sedikit pun.
Itu adalah
serangan terkoordinasi yang membagi diri ke kiri dan kanan.
"Mau
bagaimana lagi──"
Jika tidak
mendaki lereng ini, harapan untuk bergabung dengan suku Yamanobe akan sirna.
"Kita
terjang! Dotta, pinjam pedangnya!"
Pedang
yang dicuri dari Mata Dua. Begitu Dotta melemparkannya, aku menangkap dan
langsung mencabutnya dalam satu gerakan.
Aku
menahan lawan di sebelah kanan dengan pedang itu. Di celah itu, lawan di
sebelah kiri mencoba menusuk pinggangku. Benar-benar kerja sama yang rapi.
Sayangnya,
rencana mereka gagal.
Begitu
bilah pedangku menerima serangan lawan di sebelah kanan, dia terpental hebat.
Suara getaran biing bergema dari mata pedang.
Jika
menyalahgunakan Skill Explore Seal: Load dengan tepat, hal seperti ini
bisa dilakukan.
Lalu aku
menyambut lawan di sebelah kiri. Pertukaran tebasan terjadi. Aku hanya
menangkis satu serangan, dan tidak meladeni serangan kedua.
Proses
infiltrasi Explosion Seal: Zatte Finde sudah selesai. Pedang curian dari
Mata Dua ini punya ketajaman yang lumayan, tapi aku tidak bisa merasa sayang di
sini.
Cukup
dengan mengaitkan ujung pedang ke bahu lawan saat menebas. Semuanya berakhir.
"Gubakh!"
Terdengar
jeritan. Atau lebih tepatnya, suara ledakan. Ledakan yang meletup dari bahu si
Goblin melumat habis kepalanya.
Jika
sudah begini, satu ekor yang tersisa tidak punya peluang menang.
Pada
dasarnya, Fairy jenis Goblin itu lemah. Di antara Fairy berbentuk
manusia lainnya, mereka tidak sekokoh Knocker yang tubuhnya tertutup bijih besi
atau Dunnie yang tertutup sisik. Keunggulan mereka hanyalah ketangkasan dan
kemampuan menggunakan senjata.
Selama
bukan pertempuran kelompok, mereka bukan tandingan──karena itu, membereskan
satu ekor sisanya hanya butuh sekejap mata.
(Sedikit
lagi. Situasinya lebih baik dari dugaanku.)
Sedikit
lagi. Seharusnya begitu. Suku Yamanobe mulai mendapatkan keunggulan yang
menentukan. Mereka memanah musuh yang kakinya tertahan luapan air sungai.
Mereka
mengepung dan menghancurkan Fairy yang terpecah belah. Bahkan si Mata
Dua yang menunjukkan kehebatan ilmu pedang tadi pun kini tampak kesulitan dan
tidak bisa bergerak bebas.
Mungkin
saja kemenangan bisa diraih dengan mudah secara tak terduga. Jika bisa membuat
mereka kocar-kacir, aku bisa berkoordinasi dengan orang-orang Yamanobe.
"Dotta,
siapkan mentalmu. Kita melompat! Berpeganganlah!"
"I-iya!
Tapi!"
Dotta menunjuk ke
arah hulu sungai. Di atas tebing curam yang tampak seperti air terjun karena
luapan air.
"Itu!
Rasanya ada yang gawat! Itu
bukan Fairy, kan?"
"Ah……?"
Aku pun
melihatnya.
Itu
adalah cangkang kerang yang sangat besar. Lebih besar dari kuda. Sebuah siput
laut mengerikan dengan warna yang tampak seperti campuran lumpur dan darah.
Makhluk itu bergerak merayap perlahan. Sepertinya dia punya kaki semu.
Itu bukan
Fairy. Secara intuitif aku langsung berpikir begitu. Karena di
sekeliling siput raksasa itu, para Fairy berukuran besar berkumpul
melindunginya.
Dipimpin
oleh Troll, individu-individu yang tampak sangat kokoh membentengi makhluk itu.
Keberadaannya benar-benar seperti pengawal.
Demon
Lord Phenomenon
yang sangat mirip siput. Aku mengaduk ingatanku. Seharusnya laporan tentang
fenomena seperti ini pernah masuk.
Ya, benar──Demon Lord Phenomenon No. 24. Gwythion.
(Jadi itu si
'Tuan Gwythion', ya!)
Ini
informasi yang sangat berharga. Jika itu adalah penguasa dari para fenomena di
Pegunungan Kazit ini, dengan membunuhnya, setidaknya aku bisa menjatuhkan para Fairy
ke dalam kekacauan.
Aku
mencondongkan tubuh, mencoba mengamati gerakannya. Pada saat itu.
"U-wah!"
Dotta
mengeluarkan suara ketakutan.
Asap merah
menyembur keluar. Sesuatu yang dimuntahkan dari cangkang Gwythion. Asap merah
yang pekat itu sepertinya lebih berat daripada udara, dan dalam sekejap
menyelimuti area bawah lereng.
Pandangan
langsung memburuk──tapi, esensi dari asap itu bukan sekadar penghalang
pandangan.
"Apa……"
Dotta menunjuk ke
arah sana dengan jari yang gemetar.
"Apa itu!
Semuanya, apa yang mereka lakukan?"
Aku pun
kehilangan kata-kata.
Di bawah lereng.
Situasi medan perang yang diselimuti asap merah itu berubah total.
Orang-orang
Yamanobe yang jelas-jelas sedang unggul──kini mulai saling bantai dengan sesama
teman mereka sendiri.
Ada yang
menghantamkan kapak ke kawan di sebelahnya, ada yang menebas dengan parang.
Kekacauan yang
mengerikan.
Para pemanah di
atas lereng pun saling melepaskan anak panah, atau membuang busur mereka dan
mencoba melarikan diri.
Bahkan
ada yang mencabut belati dan menyerang kawan sendiri.
Di celah
yang tercipta itulah, para Fairy kembali bangkit.
Mereka
mendaki lereng dan mulai menyerang para pemanah.
(Apa yang
terjadi? Pengkhianatan? Bukan. Apa karena tabir asap merah tadi?)
Ada beberapa
orang yang selamat dari aksi saling bantai dalam kondisi panik itu.
Mereka adalah
orang-orang yang berada jauh dari hulu sungai.
Sekarang mereka
pun tidak punya pilihan selain melarikan diri.
(Memang, ini
bukan saatnya memikirkan hal lain.)
Pikirkan nanti
saja. Situasi sudah memburuk sampai tidak bisa diperbaiki lagi. Pihak Yamanobe
sudah mulai terdesak.
Karena mereka
sudah mulai bertempur dengan sesama kawan, segalanya jadi tidak masuk akal.
Bagian atas lereng pun mulai dikuasai. Aku harus bergegas.
"Dotta!
Lebih cepat lagi, sayangnya kita harus merelakan logistiknya. Kita kabur lewat
sisi selatan!"
"Tunggu
sebentar! Tunggu dulu, barusan ada──ah!"
"……To-long!"
Suara mirip jeritan terdengar. Meski harusnya jangan, secara
refleks aku menoleh ke arah sumber suara.
Di bagian bawah lereng. Ada sesosok bayangan yang
terhuyung-huyung mendaki dengan raut wajah putus asa. Tidak, ada dua.
Sosok yang lebih besar tampak sedang menggendong sosok yang
lebih kecil. Pasti orang Yamanobe.
Yang besar memakai tudung babi hutan, dan yang kecil memakai
tudung serigala.
"To-long! Tolong kami!"
Tepat saat si tudung babi hutan berteriak, dia tersandung.
Itu adalah jatuh yang fatal──dia ditindih oleh Fuath yang melompat dari
belakang. Si kecil bertudung serigala pun terlempar ke tanah.
Mungkin dia sudah tidak sadar, karena dia tidak bereaksi
meski terguling di tanah.
(Mustahil. Tidak bisa ditolong.)
Dipikir bagaimanapun, tidak ada gunanya.
Si tudung babi hutan
lehernya sudah digigit. Fairy lainnya pun sekarang sedang asyik memangsa
si tudung babi hutan yang bertubuh besar, tapi sebentar lagi mereka akan
menyadari si kecil bertudung serigala──setelah itu, sisanya adalah──aku mencoba
mencari alasan mengapa aku tidak bisa menolong mereka.
Tepat saat
itulah, Dotta tiba-tiba mencengkeram lenganku.
"Xylo!"
Aku membayangkan
apa yang akan dikatakan Dotta setelah ini. Sudah sangat jelas. Misalnya 'kita
harus membiarkannya', atau 'ayo cepat kabur'. Atau mungkin 'kenapa kamu malah
bengong berdiri di situ'.
Semua bayanganku
meleset.
"Kita harus
menolongnya."
"Hah?"
"Ki-kita
harus menolong…… orang itu bisa mati……!"
"……Kamu ini
ya."
Bagi seorang pria
yang biasanya santai mencuri barang orang lain dan bahkan bisa membunuh demi
hal itu, seharusnya kata-kata tersebut tidak pantas keluar dari mulutnya.
Kenapa dia bisa bicara begitu? Tidak logis. Tidak benar. Aku ingin bilang
'setidaknya jadilah konsisten'.
Kalau kamu adalah
sampah yang santai mencuri, aku ingin kamu tetap menjadi sampah dalam setiap
tindakanmu tanpa terkecuali.
Aku ingin
memukulnya, ingin meneriakinya. Fakta bahwa aku tidak bisa melakukannya adalah
bukti dari kebodohanku sendiri. Seharusnya usul untuk 'menolong' itu adalah
sesuatu yang keluar dariku. Sialnya, Teoritta di dalam kepalaku pun menyetujui
hal itu.
Bukan, saat itu
kurasa bukan hanya Teoritta. Ada satu orang lagi. Sosok Goddess di dalam
kepalaku mengatakannya dengan senyum yang samar.
"Ksatria-ku.
Bagimu itu mudah, kan?"
──Beraninya
memaksakan harapan sepihak padaku. Hal yang sama juga berlaku untuk Dotta ini.
"Anu…… kalau Xylo, pasti bisa melakukan sesuatu……
kan?"
Dengan
wajah ketakutan, dia mengajukan usul yang mengandalkan orang lain. Benar-benar
manja. Orang seperti ini tidak akan bisa mengeluh jika dibunuh di dalam militer
yang waras.
Namun,
kami memang tidak waras. Kami bukan kelompok yang terhormat seperti itu.
"Kamu,
kalau mau membuat orang lain mengambil risiko berbahaya, kamu sudah punya
tekad, kan?"
Aku menatap tajam
ke arah Dotta.
"A-ada. Apa
yang harus kulakukan? Dukungan?"
"Tidak
perlu. Lakukan hal yang paling kamu kuasai. Aku akan menolong mereka dan
memancing perhatian musuh. Selama itu, curilah logistik sebanyak mungkin yang
bisa kamu bawa! Makanan, Batu Akumulasi Cahaya, Cat Akumulasi Cahaya, Base
Disk! Apa saja!"
Lalu aku
mencengkeram bahu Dotta.
"Dengar ya.
Cuma kali ini saja. Mulai besok, kalau ada orang yang ingin kamu tolong,
tolonglah dengan kekuatanmu sendiri!"
Aku akan repot
kalau dia tidak paham soal ini. Aku menatap Dotta dengan serius. Rasanya ingin
membunuhnya saja.
"Kalau sudah
paham, pergi sana!"
"I-iya!"
Sambil
mengangguk gemetaran, Dotta mulai bergerak. Gerakannya sangat lincah sampai membuatku heran
dari mana dia menyembunyikan kekuatan semacam itu. Dia melompat ringan,
menendang dahan pohon untuk mendaki, lalu menghilang.
Dan aku pun
melesat di atas tanah.
Si tudung babi
hutan sudah tewas. Si
kecil bertudung serigala belum. Para Fairy bersiap menyerang sosok yang
tumbang tak bergerak itu.
Kekuatan
utama gerombolan itu adalah Fuath, dengan sedikit campuran Goblin yang
memimpin. Ada berapa puluh
ekor jumlahnya?
(Berapa pun
jumlahnya, sama saja. Lakukan apa yang harus dilakukan.)
Pertama, aku akan
menghentikan langkah mereka. Aku memastikan senjata yang kubawa.
Ini
adalah barang-barang milik prajurit yang bajunya kurampas tadi. Dua
bilah pisau. Satu pedang pendek mirip parang. Dan, Thunder Staff.
(Ini tipe 'Hilke', ya. Empat tembakan beruntun. Model
lama, tapi tidak ada modifikasi aneh.)
Aku bisa. Aku membidikkannya, lalu mengaktifkannya tanpa
ragu.
Kilat
petir menembus tubuh Fuath yang baru saja melompat hendak menerkam si tudung
serigala. Satu tembakan lagi──aku menembak tepat di kepala Fuath yang lain.
Sudah lama aku tidak menembak, tapi aku masih bisa melakukan setidaknya
sebanyak ini.
"Kalau
tidak mau mati, berhenti di situ!"
Gertakan
yang tidak ada gunanya bagi para Fairy. Namun, dengan berteriak,
perhatian mereka teralih padaku.
(Banyak
juga.)
Hanya
dari yang terlihat saja, ada sepuluh Fuath dan tiga Goblin. Ditambah lagi ada
berapa banyak di barisan belakang?
(Tapi,
akan kuhadapi.)
Flight
Seal: Sakara. Aku
mengaktifkannya dan mengambil posisi di atas kepala musuh. Dari sana, aku
melepaskan dua tembakan Thunder Staff.
Dengan
ini, 'Hilke' sudah kehabisan amunisi. Aku melemparkannya untuk membuat mereka
gentar, lalu menendang batang pohon untuk melompat lagi. Flight Seal.
Sambil
mencabut pisau, aku menerjang ke tengah-tengah gerombolan musuh.
(Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini……
menghadapi banyak lawan sendirian……!)
Aku memanfaatkan
pepohonan di sekitar sini. Mereka adalah perisai, pijakan, dan juga bisa
menjadi senjata.
(Buat sudut,
sambil mengarahkan serangan musuh.)
Dari pohon ke
pohon. Aku melompat-lompat untuk mengacaukan mereka. Para Fairy mencoba
mengepungku.
(……Saat
menyerang, lakukan sekaligus. Jangan ragu!)
Dari
gerakan menghindar, tiba-tiba aku berbalik menyerang.
Aku
menghindar dari serbuan Fuath yang melompat dari kiri dan kanan, lalu
menancapkan pisau ke kepala musuh di sebelah kanan.
Suara ledakan.
Daya rusak Explosion Seal: Zatte Finde sudah cukup
memadai. Setelah menerbangkannya, aku beralih ke kiri. Menendangnya dengan
sekuat tenaga.
"Guubuu──"
Suara rintihan yang menggantung. Fuath yang menjadi mangsa Flight
Seal: Sakara hancur total oleh satu serangan itu.
Aku mencoba melarikan diri ke udara lagi──tapi trik yang
sama tidak akan berhasil berkali-kali. Lidah salah satu Fuath memanjang.
Makhluk itu menangkap pergelangan kakiku, menghalangi
lompatanku. Aku hampir terjatuh. Dalam posisi itu, aku mencabut pisau terakhir
untuk merespons.
Begitu aku menebas lidah yang mencengkeram pergelangan
kakiku, jeritan menyakitkan kembali terdengar.
Sambil menyeburkan darah dalam jumlah banyak, Fuath itu
terguling jatuh ke lereng. Aku pun ikut terjatuh karena momentum yang terlalu
besar.
(Belum selesai. Bergeraklah lebih cepat. Pergerakanmu
masih amatir. Sadarlah……!)
Sambil tersungkur dan merasakan lumpur di pipiku, aku memaki
diriku sendiri.
Aku bisa
melihat para Fuath yang menyerbu. Mereka tidak akan membiarkanku bangkit dengan
mudah.
(Jumlahnya
banyak. Bala bantuan masih terus berdatangan.)
Aku tidak
punya pilihan selain berguling untuk menghadapinya, tapi dengan begitu aku
tidak bisa membalas serangan.
Sebagai
perlawanan terakhir, aku mencabut pedang pendek mirip parang itu dan
mengayunkannya.
Pedang
itu terpental tanpa memberikan perlawanan berarti.
Suara
dentingan logam yang nyaring. Aku ditindih. Kepala Fuath mendekat tepat di
depan mataku. Taring. Bau busuk yang menyengat.
(Mana
sudi aku mati di tangan kroco seperti ini……! Aku bakal ditertawakan oleh
Esgain!)
Tangan
kananku meraba tanah hampir secara tidak sadar, dan ujung jariku menyentuh batu
lalu menggenggamnya.
Aku menyusupkan Explosion Seal: Zatte Finde.
Agak kasar, tapi
akan kutunjukkan bahwa aku bisa membalikkan keadaan bahkan dari posisi ini.
Tepat saat aku
memantapkan tekad, tiba-tiba beban di tubuhku menghilang. Fuath yang menindihku
terpental ke samping.
"Guuu──Uuuakhkhkhkh!"
Aku melihat
tudung serigala. Si
kecil yang tadinya pingsan.
Dia
melompat, menabrak Fuath hingga terjatuh, lalu menindihnya──apa dia serius?
Aku hampir tidak
percaya pada mataku sendiri. Aku tidak menyangka ada yang bisa menahan Fairy
hanya dengan kekuatan tangan kosong.
Bahkan,
dia menggigit tenggorokan Fuath itu. Aku bisa melihat taringnya yang tajam.
(Siapa
sih anak ini?)
Meski
terpana, aku tidak melepaskan batu yang kupungut. Terhadap musuh yang
berkerumun, trik ini sangat efektif.
"Hei,
tiarap!"
Sambil
berteriak pada si tudung serigala, aku melemparkan batu itu lurus-lurus.
"Akan
kuledakkan!"
Explosion Seal yang sudah disusupkan dengan cukup pun
aktif.
Kilatan cahaya
dan suara ledakan. Itu melibatkan beberapa Fuath, tapi sasaran utamaku
sebenarnya adalah pohon besar di samping mereka.
Pohon itu miring
tajam, lalu perlahan-lahan tumbang──kecepatan jatuhnya yang lambat justru
bagus. Para Fairy berteriak dan memprioritaskan diri untuk menghindar.
Itulah celah untuk melarikan diri.
"Kita lari,
ikuti aku!"
Aku mengajak si
tudung serigala──tapi reaksinya di luar dugaanku.
"Kuaavuruu"
Sambil
mengeluarkan geraman aneh, si tudung serigala mengangkat wajahnya dengan penuh
semangat. Di saat itulah aku bisa melihat kepala di balik tudungnya.
Wajah yang masih
menyisakan kesan kekanak-kanakan. Darah Fuath yang menetes dari taring tajamnya
membasahi sekitar mulutnya. Penampilan yang sangat mengerikan.
Namun, hal yang
benar-benar harus diperhatikan adalah bagian kepalanya. Di sekitar sisi
kepalanya, aku melihatnya. Sepasang tanduk kecil tumbuh dari kiri dan kanan.
Tanduk yang berkilau putih.
(Jangan-jangan.
Ini asli?)
Dikatakan bahwa
Yaki Selatan menyembunyikan tanduk di dalam rambut berwarna besi mereka. Pasti
ada sesuatu yang menjadi dasar mitos itu──begitu kata Ayahanda Frensy.
Mungkinkah suku Yamanobe itu seperti ini?
Tapi tentu saja,
saat ini hal itu tidak penting.
"Ayo!"
Aku
mencengkeram bahu si tudung serigala. Mencoba menariknya bangkit.
"Sekarang
kita harus buru-buru ka──uoh"
"Kuaaa"
Suara
seperti melolong. Si tudung serigala justru menerjangku. Dia dalam kondisi
sangat emosional. Kekuatannya luar biasa. Jika ini orang dewasa, mungkin akan
gawat bagiku.
"Jangan
mengamuk, bodoh!"
Meskipun
lenganku digigit, aku mencengkeram kerah lehernya. Aku menamparnya dengan keras, tapi dia masih belum
berhenti. Dalam
keadaan emosional, dia mencoba menggigitku hingga putus.
"Ber──ber-tar-tar-tar-tarung!"
Si tudung
serigala berteriak. Dia marah. Dan aku tahu dia sedang menangis.
"Bertarung!
Menolong semuanya! Mana sudi aku kabur……"
Si tudung
serigala menatap ke bawah lereng. Sudah terlambat, dipikir bagaimanapun
juga.
Meski begitu, si tudung serigala menarik napas dalam-dalam,
lalu meronta di dalam pelukanku.
"Tidak mau lari…… bunuh! Akan kubunuh para Fairy
itu!"
"Begitu ya. Aku paham."
Tiba-tiba aku
merasa sangat malas. Aku memberikan satu pukulan ke perut si tudung serigala.
Aku pikir dia
tidak terbiasa dengan teknik bela diri seperti ini, dan dugaanku benar. Saat si
tudung serigala membelalakkan mata dan napasnya terhenti sesaat, aku
melemparkannya.
Saat dia
terhempas ke tanah, tangan kiriku mendarat di kepalanya. Penggunaan yang
salah dari Explore Seal: Load akan memberikan getaran sesaat ke otak.
Itu cara yang cukup berbahaya, tapi mau bagaimana lagi. Si tudung serigala pun jatuh
pingsan dengan mata mendelik putih.
"Berani-beraninya
ya."
Aku
bergumam, lalu memanggul si tudung serigala dan mulai berlari. Karena tubuhnya
cukup besar, ini melelahkan juga.
Setelah
mengambil risiko berbahaya, malah diserang oleh orang yang ditolong. Harusnya
jangan kulakukan, dan aku tidak ingin melakukannya lagi. Sungguh. Aku
merasakannya dari dasar hati.
──Sepertinya
dua ribu lebih pejuang Yamanobe memang berniat melakukan pertempuran penentuan
saat menyerang markas itu.
Hasilnya
hampir musnah total. Aku baru tahu jauh di kemudian hari bahwa yang selamat
hanya puluhan orang saja.
◆
Ada beberapa hal
yang disesali oleh Dotta Luzulas.
Bukan soal
kebiasaan mencurinya.
Dia berusaha
untuk tidak berpikiran menghukum diri sendiri, atau lebih tepatnya, dia memang
tidak cocok dengan itu.
Karena itu akan
membuat perasaannya murung, dia tidak sampai pada pemikiran seperti itu.
(Untuk apa
sengaja memikirkan hal-hal yang membuat murung?)
Itulah dasar
pemikiran Dotta, dan objek penyesalannya selalu hal lain.
(Yang paling
utama adalah soal Xylo……)
Xylo Forbartz.
Pria buas itu. Binatang buas kekerasan yang datang dari negara kekerasan.
(Ini salah Xylo
karena dia ada di sini.)
Ya. Segalanya
karena pria itu ada, dia jadi harus melakukan hal-hal nekat seperti ini.
Dia malah sampai
mengucapkan kata-kata seperti menanyakan apakah bisa menolong suku Yamanobe
yang melarikan diri. Semuanya salah Xylo.
Jika hanya
dirinya sendiri, dia pasti akan menilai itu mustahil dan sudah kabur dari tadi.
(Kalau Xylo
pasti bisa. Sepertinya bisa. Mungkin bisa……)
Pria itu yang
harus bertanggung jawab karena telah membuatnya berpikir seperti itu.
Fakta bahwa
dirinya menyelinap ke markas musuh seperti sebuah kesepakatan ini pun, adalah
salah Xylo Forbartz. Dia akan dibunuh kalau pulang dengan tangan hampa.
Andai saja Xylo
terkejar oleh gerombolan Fairy itu dan dibantai dengan sadis──tapi dia
merasa kemungkinan itu hampir nol. Benar-benar pria yang luar biasa.
Dalam segala hal,
Dotta merasa Xylo adalah pembawa sial baginya.
(Benar-benar
begitu.)
Sambil
berlari di balik bayangan tenda, Dotta berpikir demikian. Meskipun berpikir,
tubuhnya tetap bergerak.
(Aku
selalu tertimpa sial.)
Pada
akhirnya, di bawah sebuah tenda, dia menemukan apa yang dicarinya. Hal ini
hanya bisa dilakukan karena situasi yang sedang kacau. Dia segera menyibak
penutupnya. Ada sebuah perahu
kecil di sana.
Dia yakin pasti
ada. Di markas yang
terletak di medan seperti ini, bohong kalau tidak ada perahu.
(Sudah
waktunya kabur. Pencapaian ini sudah cukup, kan……)
Dia mulai
menaikkan barang-barang yang dikumpulkannya ke perahu kecil itu.
Dengan melakukan
pekerjaan ini secara terang-terangan, dia mungkin terlihat seperti pasukan zeni
yang mencoba menghindari kekacauan dan memindahkan logistik ke tempat yang
aman.
Lagipula, para
prajurit di sekitar sini semuanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
(Sip.)
Terakhir, jika
menaruhnya di atas lintasan yang menuju permukaan sungai, maka sempurna. Ada
fasilitas peluncuran perahu tipe Segel Suci.
Sungai sedang
meluap dan sedikit berbahaya, tapi itu lebih baik daripada membawanya dengan
berjalan kaki. Dia juga sudah menemukan tempat untuk menurunkan muatan di
hilir.
(Ayo cepat
pergi. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Xylo nanti──)
Tepat saat Dotta
meluncurkan perahu ke sungai.
"Hei…… tunggu sebentar."
Tiba-tiba, sebuah suara memanggil dari belakang. Saat dia menoleh, tampak wajah dengan
kantung mata yang tebal.
Ada senyum tipis
di bibirnya, tapi matanya tidak memiliki cahaya, seperti sebongkah besi yang
berkarat.
"Kamu mau
pergi ke mana? Sampai
mengumpulkan banyak barang begitu……"
Pria yang
dipanggil Yukihito. Hanya satu orang, tapi begitu melihat sosoknya, Dotta
merasakan bulu kuduk di punggungnya merinding.
(Gawat.)
Kesadarannya
membunyikan alarm peringatan. Sayangnya, firasat semacam ini sering kali benar.
"Hei…… kamu Dotta Luzulas, kan? Ternyata wajahmu seperti itu ya. Masih
anak-anak?"
Namanya
dipanggil. Pria itu memperpendek jarak satu langkah.
(Ternyata
ketahuan. Kenapa, bagaimana caranya? Apa sudah tahu dari awal?)
Dotta tahu tidak
ada gunanya memikirkan hal itu. Dia menelan ludah, lalu menggerakkan tangan ke
belakang punggungnya.
"Kalau soal
makanan, kalau kamu lapar sih akan kuberikan."
Begitu kata Yukihito.
"Tapi…… ada barang yang kamu curi dariku yang
benar-benar ingin kuminta kembali. Kalung. Hanya itu saja yang tidak bisa
kuberikan. Kamu mungkin tidak akan mengerti……"
Lengan
hitam di sebelah kanan yang tampak seperti baja itu bergerak. Terdengar suara
derit yang retak.
"Hei,
itu bukan barang yang kamu butuhkan, kan…… bisa kembalikan padaku?"
Suara
yang dibuat-buat agar terdengar lembut. Dotta sering mendengar suara seperti
itu. Terutama dari orang-orang yang mencoba menangkapnya.
"Aku
merasa tidak percaya…… meski
sudah hidup selama ini, aku harus dibuat merasa seperti ini oleh pencuri kelas
teri sepertimu. Aku angkat topi atas kemampuanmu itu. Hei? Aku benar-benar
merasa kamu hebat……"
"Ugh."
Sambil mengerang,
Dotta mencabut Thunder Staff dari balik punggungnya. Gagang tongkat yang
pendek. Dia tahu cara menggunakan ini.
"Uu-waa!"
Dia
mengaktifkannya sambil melompat mundur. Bunga api memercik.
Nama produknya,
kalau tidak salah adalah 'Quady'──bukan?
Menggunakan
sistem yang disebut tipe cahaya sebar, yang melepaskan kilat petir secara
menyebar.
Bagi kemampuan
Dotta yang tidak bisa membidik dengan benar, cara ini lebih efektif. Semakin
dekat jaraknya, semakin besar dayanya.
Faktanya, kilat
petir yang dilepaskan Dotta seolah menelan seluruh bagian atas tubuh Yukihito.
Suara
guntur yang teredam terdengar. Namun, itu tidak sampai melukai tubuh Yukihito.
"Tiba-tiba
menembak ya. Sudah mencuri, malah mencoba membunuh lagi……"
Yukihito tertawa
seolah merasa lelah. Benar-benar tanpa luka sedikit pun.
"Benar-benar
sampah yang memuakkan."
Sarung
tangan di lengan kanannya itu──terlihat seperti permen panas yang meleleh.
Atau
mungkin makhluk bertubuh lunak yang memiliki sifat seperti itu.
Mengeluarkan
suara seperti mendidih yang berbuih, berubah menjadi tentakel tak terhitung
jumlahnya yang menggeliat.
Apakah
tentakel-tentakel ini yang menahan kilat petir tadi?
"Aku memang lemah…… tapi yang tadi itu jelas tidak
mempan."
Detik berikutnya, tentakel yang tak terhitung jumlahnya itu
menyatu dan berubah menjadi tombak ramping.
(Apa-apaan
itu.)
Dotta merasakan
firasat akan kematiannya sendiri.
Dia tidak
merasa bisa menang melawan siapa pun dalam pertarungan terbuka.
Begitu
serangan pertamanya berhasil ditahan, bisa dikatakan peluang menangnya sudah
hampir hilang.
Dia
mundur selangkah.
Dua
langkah. Jika dia melompat ke
perahu dan kabur begitu saja.
"Hei.
Kenapa?"
Yukihito
melangkah mendekat dengan santai.
"Kenapa kamu
mencuri milik orang lain? Apa kamu merasa tidak bersalah?"
"Anu, itu,
soal itu."
Dotta hampir
tidak bisa memahami maksud pertanyaan itu. Apa merasa tidak bersalah? Bukankah
itu sudah sewajarnya.
"Aku
tidak merasa bersalah, tuh……?"
"Ah.
Begitu ya, Prajurit Hukuman. Ternyata orang seperti itu ya."
Begitu
dia mengatakannya, tiba-tiba senyum menghilang dari wajah Yukihito.
"Kalau
begitu, aku tidak akan segan-segan."
Bukan kemarahan,
melainkan ekspresi yang datar. Dotta merasa dirinya telah salah memilih opsi
yang sangat serius.
"Sampah yang tidak punya filosofi maupun moral, dari
sudut pandangku…… hal semacam itu sama saja dengan serangga. Serangga yang
hanya berbentuk manusia."
"Anu. Soal itu, kalau menurutku sih tolong jangan
disamakan ya……"
"Kamu hanya
peka terhadap rasa sakitmu sendiri. Tidak peduli apa yang terjadi pada
orang lain. Hal seperti itu…… tidak baik ya…… padahal sudah mencuri milik
orang──"
Tubuh Yukihito terguncang.
"Ga, rakh?"
Tombak yang seharusnya menusuk Dotta, kembali terurai
menjadi tentakel tak terhitung jumlahnya.
Di permukaan
tentakel itu, tampak kilat petir tajam meletup. Tentu saja, itu bukan yang
dilepaskan oleh Dotta. Tembakan jitu yang lebih akurat dan kuat──dari mana
asalnya?
Dotta hanya tahu
satu orang yang bisa melakukan keahlian semacam ini.
"Cepat kabur
sana, Dotta-san."
Suara Tsav
terdengar dari punggungnya. Oh iya, dia membawa papan komunikasi tipe Segel
Suci.
"Situasi di sana sebenarnya hampir tidak terlihat
olehku…… kalau bisa bergerak, cepatlah."
Tembakan jitu kedua. Kilat petir meledak, Yukihito kembali
menahannya dengan lengan kanan, tapi kali ini dia terjatuh karena dampaknya.
Dotta berlari sekuat tenaga. Dia mendorong perahu ke sungai
dan melompat ke atasnya.
"──Tunggu."
Tangan kanan Yukihito kini berubah bentuk menjadi seperti
busur silang.
Tentakel
hitam yang halus menggeliat. Lengan kanan itu mungkin punya fungsi yang sangat
beragam.
Namun,
busur silang itu tidak pernah ditembakkan.
"Hmm? Anu,
kalau begitu──begini saja."
Tembakan ketiga Tsav
mendarat tepat di kaki Yukihito dan menghancurkannya.
Dengan sangat
dahsyat. Lumpur dan kerikil berhamburan seolah meledak, menghantam wajah
Yukihito.
Secara refleks
dia menutupi wajahnya dengan tangan, dan karena itu, dia jatuh tersungkur.
"Bohong,
kan……"
Yukihito
mengerang. Kesan santai yang tadi ada padanya kini lenyap.
"Ada
penembak jitu seperti ini? Apa-apaan, ini seperti ■■■ saja………!"
Dalam gumaman
Yukihito, sepertinya ada kata yang tidak bisa dipahami.
Namun, seperti
yang dikatakannya──Dotta tahu bahwa Tsav berada di tingkat yang luar biasa
sebagai penembak jitu.
Ternyata ada cara
seperti ini. Dotta mengaguminya sambil semakin merendahkan tubuhnya.
"Dotta Luzulas. Kamu akan…… menyesal."
Mata Yukihito
yang menggeram rendah terasa sangat menakutkan. Tidak disangka suara seperti
itu keluar dari pria berwajah melankolis dan kelelahan itu.
"Itu adalah
satu-satunya milikku……!"
Teriakan itu.
Dotta menenggelamkan dirinya di pinggiran perahu, bersembunyi agar wajah pria
itu tidak terlihat.
Wajah itu. Mata
yang kurang tidur itu memerah.
Wajah seperti
binatang buas. Ternyata dia orang yang bisa memasang wajah seperti itu.
Atau lebih
tepatnya──apakah dia benar-benar manusia?
"Bagus!"
Tanpa tahu rasa
takut di hati Dotta, suara ceria Tsav bergema.
"Cepatlah
pulang bersama makanan yang enak ya! Bakal bagus kalau ada minuman keras."
"Anu…… Tsav."
Sambil
bersembunyi di perahu, Dotta melihat sekeliling.
"Kamu
melihat dari mana? Bagaimana caranya kamu menembak?"
"Kan
sudah kubilang aku tidak melihat. Ini berkat Kak Trishiel. Sepertinya dia bisa
melihat posisi dan situasimu, kalau sudah tahu itu sih bagiku gampang sekali!
Keren, kan?"
"Ah,
begitu ya……"
Faktanya,
itu memang hal yang hebat. Dia
tidak merasa mereka adalah manusia yang sama. Dotta membaringkan tubuhnya di
dasar perahu.
Jika ada dukungan
Tsav, dia bisa merasa tenang. Bisa dianggap dia berhasil melarikan diri dengan selamat.
Di balik
jubahnya, Dotta meremas liontin emas itu.
(Orang itu,
apa dia sangat ingin barang ini kembali…… kalau begitu, aku bakal dibunuh kalau
bertemu dengannya lagi……)
Dotta tidak punya
konsep untuk mengembalikan barang yang sudah dicurinya. Dia juga tidak
membenarkannya.
Dia hanya
berpikir bahwa di dunia ini ada sangat banyak orang yang tidak menoleransi
pencurian. Konsep baik dan buruk tidak akrab bagi Dotta.
Apa yang baik dan
apa yang buruk ditentukan oleh 'semua orang'. Dia tahu itu.
Hanya saja, dia
merasa dirinya tidak termasuk di dalam 'semua orang' itu.
(Rasanya dia
orang yang menyebalkan ya. Aku benci orang seperti itu……)
Dotta
merasa tidak nyaman dan meringkuk di dalam perahu.
Hukuman
Infiltrasi Pasukan Fenomena Demon Lord
Pegunungan Kazit 4
Dan
akhirnya, aku terpaksa menggunakan titik temu yang paling jauh.
Lorong
bawah tanah yang kami lalui kali ini sepertinya harus segera dihancurkan.
Sampai sejauh ini, kami sudah menghabiskan empat lorong bawah tanah beserta
pintu keluar-masuknya. Fasilitas seperti ini bukanlah sesuatu yang boleh
digunakan dua atau tiga kali.
"Xylo!"
Teoritta sudah
menunggu di sana. Dia berlari dari ujung lorong bawah tanah dan langsung
menghambur memelukku.
Aku basah kuyup
karena hujan dan berlumuran lumpur, tapi Teoritta tidak peduli. Karena tubuhku
sudah mendingin, suhu tubuh Teoritta terasa sangat hangat. Hal ini
mengingatkanku pada anjing pemburu yang dipelihara oleh ayahanda Frensy.
"Anda
selamat! Tentu saja, kan saya yang sudah memberkati Anda!"
Bertolak
belakang dengan ucapannya, matanya tampak sedikit berkaca-kaca. Dan aku sendiri
sudah tidak punya tenaga bahkan untuk menahan beban tubuh Teoritta. Aku
bersandar ke dinding akibat dorongan pelukannya.
Namun,
aku harus tetap memasang tampang tangguh──sama seperti yang dilakukan Teoritta.
"Maaf
membuatmu menunggu. Aku pulang terlambat karena tadi jalan-jalan
sebentar."
"Jangan-jangan,
Anda menolong seseorang? Anak
itu siapa?"
Teoritta melirik
ke arah belakangku.
Sesosok anak
bertudung serigala yang tampak jauh lebih lelah dariku dan berlumuran darah
sedang terduduk lemas. Dia mendongak menatap Teoritta dengan mata yang penuh
kewaspadaan, amarah, dan permusuhan.
"Sebenarnya
aku malas, tapi ini gara-gara Dotta."
"Itu……
sungguh luar biasa, ksatria-ku. ……Anda sudah melakukannya dengan baik. Dotta
pun sesekali bisa melakukan hal yang benar, ya."
Teoritta tampak
ragu seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya dia membusungkan dada dan
menatap si tudung serigala.
"Ayo!
Sekarang sudah aman. Ini adalah benteng kami."
Ekspresi anak itu
tampak bingung. Si tudung serigala ini sangat pendiam dan penuh kewaspadaan.
Sampai membawanya ke sini, entah bagaimana dia sudah keluar dari kondisi
mengamuk seperti binatang buas tadi, tapi dia hampir tidak bicara. Ditambah
lagi, dia terus mengarahkan tatapan penuh permusuhan padaku. Yah, aku bisa
mengerti perasaannya, sih.
Meski
begitu, Teoritta tetap memberikan senyum lebar dan merentangkan kedua tangannya
pada si tudung serigala.
"Tenanglah
dan beristirahatlah. Di sini kamu bisa beristirahat dengan aman!"
"Ya. Untuk sekarang istirahatlah…… setelah itu,
putuskan mau lari atau tetap di sini."
Aku melontarkan
kata-kata kejam padanya tanpa ampun.
"Kalau mau
tetap di sini, kamu harus bertarung bersama kami. Kalau tidak, pergilah. Kami
tidak punya kemewahan untuk bertarung sambil mengurus beban."
"Xylo
bilang kalau dia mengkhawatirkanmu!"
Teoritta
menerjemahkan kata-kataku dengan interpretasi yang melenceng jauh.
"Opsi
mana pun yang kamu pilih, ksatria-ku pasti bersumpah akan melindungimu!"
Aku tidak
berniat bersumpah. Tapi percuma saja mendebat Teoritta soal itu. Dibandingkan
hal itu, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku. Ada sesuatu yang harus
kukorek darinya.
"Oi."
Begitu
aku memanggil, bahu si tudung serigala bergetar. Dia menatapku dengan mata yang tajam.
"Gwythion.
Si Kerang sialan itu. Dia menyemburkan asap merah──apa yang terjadi saat
itu?"
"……Aku."
Si tudung
serigala mengerang. Sambil mengerang, dia memukul dinding. Suara dentuman keras
bergema.
"A-aku
akan kembali. Aku harus kembali dan bertarung……!"
"Pembicaraan
kita sama sekali tidak nyambung. Aku tanya apa yang terjadi, lho."
Meski begitu,
entah kenapa aku sudah menduga akan mendapat reaksi seperti itu. Sikap bocah
bertudung serigala ini sangat keras kepala, seolah menolak keberadaan orang
lain.
Wajar
saja. Dia dibawa meninggalkan medan perang dalam kondisi digendong. Mungkin
alasannya karena dia yang paling muda atau semacamnya, tapi dia bertahan hidup
dengan cara melarikan diri. Terlepas
dari faktanya, dia sendiri meyakini hal itu.
"Hanya aku
yang selamat. Ini memalukan……! Aku benar-benar tidak mau!"
"Jadi
maksudmu, kamu ingin mati?"
"Ini bukan
soal hidup atau mati! Bukan itu maksudku……"
Si tudung
serigala berteriak sambil berdiri. Meski langkahnya masih limbung, dia
mencengkeram jubahku.
"Aku
harus bertarung! Dan kamu menghalangiku!"
"Memang."
Aku
mengerti. Pasukan yang musnah total. Hanya satu orang yang selamat, hal itu
tentu terasa tidak masuk akal baginya. Jika semua orang bertarung dan mati, dia
akan merasa dirinya seperti sampah yang tidak berguna.
"Tentu saja
kamu ingin kembali. Tapi itu mustahil."
Aku tidak akan
memberinya ampun. Aku menyapu kaki si tudung serigala yang baru saja berdiri
hingga dia jatuh tersungkur kembali.
"Itu karena
kamu lemah."
"Xylo!"
Teoritta
menatapku dengan pandangan mencela, sementara si tudung serigala kembali
mengeluarkan geraman seolah hendak menerkamku lagi.
Tetap saja, itu
sia-sia.
"Apa
kamu berniat bertarung hanya untuk mati? Apa orang-orang Yamanobe sepenakut
itu?"
"……Kau!"
Si tudung
serigala tiba-tiba melompat. Dia menerjang lurus ke arahku. Gerakannya memang terlihat sangat cepat,
tidak terbayangkan dari penampilannya, tapi aku sudah terbiasa dan bisa
menebaknya. Sekali lagi aku menjegal kakinya hingga dia jatuh.
"Bukannya
kamu bertarung untuk menang? Oi. Karena semua orang sudah mati, apa kamu pikir
semuanya tidak penting lagi? Bukan begitu, kan. Kamu merasa tidak bisa berakhir seperti ini
saja."
Aku
mencengkeram kerah bajunya. Teoritta tidak lagi menghentikanku. Mungkin karena
dia melihat si tudung serigala menatapku dengan wajah yang hampir menangis.
"Kamu ingin
menangis? Karena sedih? Itu juga salah. Kamu marah, kan."
Aku merasa sedang
menggunakan cara yang licik. Aku memanfaatkan perasaannya yang ingin
mengalihkan segalanya menjadi amarah. Saat semua kawan mati dan hanya diri
sendiri yang selamat, amarah adalah cara terbaik untuk memalsukan dorongan
ingin mati. Setidaknya, bagiku begitu.
Teruslah marah.
Ingin membantai semua musuh. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa rasa tidak
nyaman yang luar biasa ini adalah akibat dari kemarahan yang meluap. Jika
tidak, rasanya terlalu menyedihkan.
(Apa yang
sedang kulakukan?)
Di mata si tudung
serigala yang mengerang sambil meneteskan air mata, ada bayanganku terpantul di
sana. Bodoh sekali.
Dan aku akan mengatakan hal yang lebih bodoh lagi.
"Dengar──kamu
itu marah. Kamu bohong kalau tidak marah. Kawan-kawanmu sudah dibunuh,
kan."
"……A-ah, benar. Aku marah……!"
Si tudung serigala sepertinya memutuskan untuk ikut dalam
penipuan ini. Mungkin dia mulai sadar bahwa dia tidak akan sanggup menahannya
jika tidak melakukan itu.
"Aku marah! Mereka…… mereka akan kubantai semua!"
"Kalau
begitu tujuan kita sama. Aku juga ingin membantai semua Fairy itu. Itu
pekerjaanku."
Napas si tudung
serigala masih memburu, tapi aku tahu dia mulai sedikit tenang. Kerutan di
keningnya pun sedikit mengendur.
"……Kalian
ini sebenarnya siapa? Orang-orang
Nophan?"
"Tidak
penting siapa kami, kan? Manfaatkanlah kami untuk membunuh para Fairy
itu. Kami juga membutuhkanmu. Terutama informasimu."
"Informasi…… apa yang ingin kau dengar?"
"Tentang
apa yang sebenarnya terjadi."
Itulah
yang paling penting. Kami tidak bisa bertarung tanpa memecahkan misteri itu.
"Demon
Lord Phenomenon 'Gwythion'. Kemampuan apa yang dia miliki? Kenapa
kalian──para pejuang Yamanobe yang sekuat itu──bisa hancur berantakan karena
saling bantai?"
Gwythion. Aku
tahu nama dan wilayah aktivitasnya, tapi hampir tidak ada catatan pertempuran
dengannya. Medan
perang tempat dia muncul selalu berakhir dengan kekacauan hebat. Ditambah lagi
wilayah aktivitasnya hampir selalu di bagian Barat, sehingga informasi akurat
sulit dikumpulkan.
Meski
begitu, departemen analisis Galtuill dan lembaga investigasi kuil pernah
membuat sebuah hipotesis──dan sepertinya saatnya telah tiba untuk memastikan
jawaban itu.
"Katakan.
Soal asap merah itu. Apa
yang terjadi?"
"……Aku
melihatnya. Ada Fairy…… tepat di depanku."
Si tudung serigala menunduk. Kenangan itu pasti sangat
menyakitkan.
"Aku bersama kakak-kakakku ditugaskan di barisan depan.
Aku adalah orang kedua setelah kakakku. Sambil mengejar punggung kakakku, aku
membunuhi mereka. Seharusnya kami menang."
Dia bilang kakak, tapi mungkin bukan saudara sedarah.
Kudengar suku Yamanobe punya kebiasaan memanggil orang yang tinggal bersama
mereka dengan sebutan kakak atau ayah.
"Tapi asap itu…… asap merah. Benda itu mengalir ke arah kami."
Aku juga
melihatnya. Asap yang dimuntahkan dari Gwythion.
"Lalu,
tiba-tiba di depanku muncul Fairy──itu adalah Troll. Dengan tubuh
besarnya, dia menatapku dari atas. Benar…… aku…… aku menghantamkan
kapakku padanya. Tepat di perutnya. Di tengah-tengah perutnya……"
"Begitu ya."
Aku mulai mengerti garis besarnya. Saat dia mengejar
punggung kakaknya, tiba-tiba musuh muncul di depan mata. Arti dari hal itu selaras dengan spekulasi
kemampuan Gwythion yang selama ini diprediksi oleh Kerajaan Serikat.
"Sosok yang
kamu serang itu bukanlah Fairy."
"……Benar……!
Kapakku. Kapakku menancap di perut kakakku……"
Terdengar suara
gemeletuk. Suara yang sudah biasa kudengar. Suara gigi yang beradu karena
gemetar.
"Aku tidak
tahu apa yang terjadi. Kakak mencengkeramku mencoba menghentikanku, tapi aku
malah mengamuk…… itu aneh. Hal seperti itu seharusnya tidak mungkin! Saat itu
aku, aku…… hal yang seharusnya kulakukan adalah……"
"Cukup.
Sudah jelas."
Artinya Gwythion
membuat mereka salah mengenali kawan sebagai musuh dan saling menyerang. Pemicu
saling bantai. Itulah kemampuannya.
"Sekarang
aku paham. Kesimpulannya, Demon Lord Phenomenon 'Gwythion' memiliki
kemampuan untuk memberikan halusinasi."
Kesimpulan ini
selaras dengan hipotesis yang dibuat Galtuill dan kuil.
"Dalam kasus
ini, kawan-kawanmu terlihat seperti Fairy. Karena kami tidak melihat apa
pun, itu bukan mekanisme pembiasan cahaya atau semacamnya. Mungkin itu bekerja
langsung pada otak."
Saat aku menunjuk
kepalaku sendiri, entah kenapa Teoritta meniru gerakan itu.
"Begitu
ya! Benar-benar musuh yang jahat! Licik sekali!"
"Ya.
Dan──kalau begitu masalahnya, kita punya cara untuk melawannya."
Aku meletakkan
tanganku di atas kepala Teoritta. Aku bisa melihat matanya berbinar.
"Mumu! Saya
paham. Pasti dengan memanggil──"
"Bukan. Sama
seperti saat di Terowongan Tambang Zewan-Gun. Ksatria Suci yang terikat kontrak dengan Goddess
bisa meringankan pengaruh pada mental. Mekanismenya sama dengan Segel Suci
pelindung yang digunakan militer. Norugayu bisa membuatnya dengan mudah."
Peralatan
Segel Suci semacam ini disebut 'Amulet'.
Alat ini
memiliki resistansi terhadap korosi Demon Lord Phenomenon dan mencegah
manusia berubah menjadi Fairy.
Amulet ini juga
bisa menahan serangan pada otak sampai batas tertentu. Dalam kasus kami, para
Prajurit Hukuman, Segel Suci di leherlah yang menggantikan peran itu.
"Kalau
begitu! Kita mungkin bisa menang, ya, ksatria-ku!"
"Yah,
menyelinap di antara ribuan Fairy untuk membunuh Gwythion tetap saja
rencana yang nekat, sih."
Lagipula,
membunuhnya dengan memaksakan diri pun tidak terlalu berguna. Fairy yang
dikendalikannya mungkin akan kacau, tapi tidak akan musnah total.
Rencana ini baru
akan berarti jika kami bisa mengamankan bala bantuan.
"Gwythion
mungkin punya kartu as lain selain halusinasi, dan mungkin bukan dia
satu-satunya Demon Lord Phenomenon di sana…… Tidak, tunggu……
rasanya ada yang aneh……"
Kenapa harus Gwythion?
Dia adalah individu dengan kemampuan yang tidak terlalu
menguntungkan jika melawan pasukan militer yang sudah membentengi diri dengan
Amulet.
Apalagi dia lamban dan gerakannya lambat. Kalau begitu, kenapa dia muncul di garis depan
ini?
Mari pikirkan
tujuan mereka. Gertakan terhadap Benteng Brock Numea? Atau kekacauan di barisan
belakang?
Seharusnya
keduanya bukan tujuan utamanya. Aku teringat bahwa ada target yang jauh lebih
jelas.
(──Begitu ya.)
Kota Artileri
Nophan. Keberadaan
yang seperti bisul menyebalkan bagi para Demon Lord Phenomenon.
"Penaklukan
Nophan. Jika itu tujuan mereka, maka Gwythion adalah masalah besar……!"
Bukan
mengincar militer, melainkan warga sipil. Dalam hal itu, kemampuan Gwythion
akan memberikan dampak luar biasa.
Pertahanan
tidak akan bisa dilakukan tanpa mengorbankan warga sipil yang kacau──bahkan
jika berhasil bertahan, kota itu tidak akan bisa menjalankan fungsinya sebagai
basis logistik barisan belakang.
Begitu
pengintaian kekuatan militer Kota Nophan dan pembangunan markas selesai,
Gwythion akan menjalankan tujuannya.
Itu tidak akan
memakan waktu sepuluh hari. Tidak ada cara untuk menyampaikan situasi ini
kepada militer Nophan. Jaraknya terlalu jauh untuk berkomunikasi.
"Targetnya
adalah warga sipil. Cukup dengan mendekat saja. Jika Gwythion mendekati Nophan
sampai dalam jarak jangkauan kemampuannya, akan terjadi kekacauan besar."
"Apa-apaan……!
Xylo!"
Teoritta bereaksi
keras terhadap hal ini. Sudah kuduga.
"Kita harus
menghentikannya bagaimanapun caranya!"
"Sudah
kuduga kamu akan bilang begitu. Tapi, asal kamu tahu ya."
Aku menatap mata
Teoritta yang berapi-api tepat dari depan.
"Gwythion
akan menyerang Nophan. Bagi kita, ini adalah kesempatan menang. Kita bisa
memaksa pasukan Esgain keluar. Mereka juga akan terpaksa memusnahkan musuh
dengan mati-matian."
"Saya
mengerti. Namun──"
"Kamu
tidak mengerti. Jika membuang
kesempatan menang itu, sama saja dengan bunuh diri."
"Saya
juga mengerti hal itu."
"Kamu
benar-benar mengerti betapa bodohnya hal ini, kan? Kamu berniat menjadi umpan di sini untuk menarik
perhatian Gwythion? Hanya
demi melindungi orang-orang Nophan, termasuk orang bodoh seperti Esgain?"
"……Iya."
Setelah
wajahnya sempat berkerut sesaat karena menahan pedih, Teoritta mengangguk
dengan tenang.
"Jika saya
menjadi umpan, mereka tidak akan bisa mengabaikan kita."
Matanya tampak
berapi-api.
Untuk sesaat, aku
ragu.
(Nyawa
Teoritta akan berada dalam bahaya yang tidak sebanding dengan sebelumnya.)
Sampai saat ini
pun ini adalah pertempuran yang terisolasi, tapi jika hanya untuk melarikan
Teoritta ke Nophan, masih banyak cara.
Prajurit Hukuman
mungkin akan dibunuh begitu keluar dari wilayah operasi Pegunungan Kazit, tapi
Trishiel dan "Pasukan Forbartz" berbeda.
Atau jika aku
bisa menerima kematian karena desersi, sebagai cara terakhir, aku bisa
memanggulnya turun gunung.
Teoritta pasti
akan menolak, tapi jika aku siap untuk tidak diajak bicara lagi selamanya, hal
itu bisa dilakukan.
Namun, jika aku
memberitahu posisi kami kepada pasukan Demon Lord Phenomenon dan
terkepung, bahkan opsi itu pun akan menjadi sangat sulit.
(Meski begitu…… pada akhirnya, anak ini selalu dan selalu
mengulangi hal yang sama.)
Aku hanya ragu selama beberapa detik. Sudah terlambat untuk
menanyakan kembali tekad Teoritta.
(Bukan. Aku
juga sama. Aku pun akan mengulanginya berkali-kali.)
Aku bahkan merasa
seolah sudah mengulang percakapan seperti ini ratusan kali. Mungkin, aku memang
benar-benar sudah mengulangnya ratusan kali──hanya saja aku tidak bisa
mengingatnya.
"Kita
lakukan, Teoritta?"
Saat aku
bertanya, Teoritta justru tampak lega dan wajahnya melunak.
"Jika itu
bisa menyelamatkan semua orang, dengan senang hati. Saya adalah Goddess
Pedang, Teoritta……!"
Teoritta
menggenggam pergelangan tanganku dengan kuat. Kilatan bunga api kecil memercik.
"Saya
akan membawakan akhir bagi semua Demon Lord Phenomenon. Kita harus mengalahkan Gwythion
bagaimanapun caranya."
Sayangnya,
rencana sudah diputuskan.
Dengan menjadi
umpan di sini, kami akan menarik perhatian para Demon Lord Phenomenon.
Terutama keberadaan Teoritta tidak akan bisa diabaikan.
Kesempatan untuk
menghabisi Teoritta di sini. Jika kami menggantungkan kemungkinan itu di depan
mata para monster itu, pasukan kami yang sangat sedikit ini bisa dijadikan
umpan.
──Masalahnya
adalah, kami terpaksa mengambil strategi bertahan di benteng. Kami perlu
mengubah cara bertarung dari yang tadinya serangan mendadak atau serbuan
berulang-ulang.
(Apa
yang akan dikatakan Norugayu dan orang-orang 'Pasukan Forbartz' ya.)
Norugayu mungkin
tidak akan keberatan. Soal 'Pasukan Forbartz', itu yang lebih memberatkan
pikiranku. Aku merasa mereka justru akan dengan senang hati ikut dalam misi
bunuh diri ini.
(Pertempuran
bertahan di benteng yang sesungguhnya, ya. Maknanya berbeda dengan saat di
Myurid.)
Musuhnya
adalah Gwythion. Berbeda dengan Iblis yang menerjang hanya mengandalkan
keabadiannya. Gwythion membiarkan dirinya dikelilingi oleh para Fairy.
Sikap yang hati-hati.
Sepertinya dia punya kecerdasan yang cukup
tinggi. Syukurlah kalau dia cukup bodoh untuk maju ke garis depan sendirian,
tapi kemungkinan besar tidak begitu.
"……Oi."
Aku
menoleh ke arah si tudung serigala yang tadi meringkuk. Anak itu masih
menatapku dengan wajah penuh kewaspadaan.
"Kamu,
siapa namamu?"
"Saritaff."
Si tudung
serigala mengatakannya sambil mengerang.
"Saritaff
dari Zakuro……"
"Saritaff.
Ayo kita bentuk aliansi."
Aku mengulurkan tangan pada Saritaff. Dia menatapku dengan wajah heran.
"Aliansi?"
"Aliansi
antara kami, Prajurit Hukuman, denganmu. Sampai si brengsek Gwythion dan para Fairy
itu habis kita bantai dan kita tendang keluar dari gunung ini."
"Kita pasti
bisa saling membantu. Bagaimana? Kamu mau?"
Untuk sesaat,
Saritaff hanya terdiam. Dia mengernyit, tenggorokannya mengeluarkan suara
geraman pelan.
Kira-kira butuh
waktu satu menit sampai akhirnya dia mengulurkan tangan. Teoritta tampak lega,
senyum cerah terkembang di wajahnya.
Bagaimanapun
juga, dengan tambahan enam Prajurit Hukuman dan tiga puluh tiga personel
"Pasukan Forbartz", bergabungnya Saritaff membuat total jumlah kami
genap empat puluh orang. Jumlah yang rasanya ingin membuatku menangis.
Aku merasa ini
benar-benar putus asa──menghadapi tentara yang jumlahnya hampir sepuluh ribu
hanya dengan personel segini.
Aku jadi sangat
merindukan Benteng Myurid, tempat di mana kami masih memiliki fasilitas
pertahanan dan dukungan dari Orde Ksatria Suci.
◆
"──Gaborgh!"
Vanetim berlutut
di pasir pantai, memuntahkan air laut dengan derasnya.
"Hah, hah…… hyuuu……"
Dia menghirup
napas berkali-kali, rakus akan udara. Rasanya mengerikan. Seluruh tubuhnya dingin
dan gemetaran.
"Kamu
baik-baik saja, Vanetim-kun?"
Sebuah
suara bernada seret terdengar dari belakang. Vanetim menoleh, menatap sosok itu
dengan pandangan yang masih kabur.
Ada
seekor makhluk serupa paus yang sangat besar. Makhluk itu terdampar di pantai,
menatapnya dengan mata yang aneh dan mengerikan.
"Kelihatannya
kamu sangat menderita."
"T-tentu
saja begitu……!"
Vanetim menjawab
sambil masih terbatuk-batuk.
"Habisnya,
saya tiba-tiba dilemparkan begitu saja……!"
"Hahaha.
Agak lucu juga."
Paus itu tertawa,
mengguncangkan tubuh raksasanya.
Kudengar
identitas aslinya adalah seorang Goddess. Goddess Binatang,
Fimulinde.
Rasanya
sulit dipercayai, tapi Vanetim tidak tahu ada paus bicara lain yang sebesar
ini. Inilah 'sarana transportasi khusus' yang disiapkan Kafzen untuk mengantar Vanetim
ke pesisir utara Valligarhi.
Dia
dimasukkan ke dalam perahu bobrok mirip tong, diseret oleh paus ini──atau
terkadang disimpan di dalam mulutnya──dan mencapai pesisir utara dengan
kecepatan yang luar biasa.
Di
depannya, tampak sebuah tanjung kecil dan mercusuar.
(Jadi begitu. Ternyata yang dimaksud unit transportasi
cepat Orde Ksatria Suci Ketujuh itu…… seperti ini……)
Jauh lebih kasar dari bayangannya. Terlalu kasar.
Dia tidak menyangka di saat-saat terakhir, dia akan
dilemparkan dengan alasan 'sulit berenang di dangkalan, jadi silakan urus
dirimu sendiri'.
"Kamu
ternyata tidak pandai berenang ya. Tapi, bukankah ini olahraga yang
bagus?"
"……Boro-boro olahraga…… tenaga saya sudah terkuras
habis, saya jadi cemas dengan apa yang menanti di depan."
"Itu tidak baik. Bagaimana kalau kamu berpikir
positif?"
"Perasaan saya tidak sedang dalam kondisi bisa berpikir
positif, tahu……"
Itu adalah kejujuran dari dasar hatinya. Perasaannya terasa
berat saat memikirkan tugas yang harus dilakukannya.
Di tangannya, ada
satu papan komunikasi pemberian Kafzen. Hanya itu satu-satunya bekal perpisahan
darinya.
"Anu…… apa kalian semua tidak menaruh harapan yang
terlalu besar? Apa kalian benar-benar berpikir saya bisa melakukannya?"
"Hmm, kamu tanya pendapat pribadiku? Kalau begitu, aku sama sekali tidak berpikir itu
mungkin dilakukan."
Si
paus──Fimulinde menjawab dengan santai.
"Aku
menilai probabilitas misimu gagal berada di atas 90%. Pandangan ksatria-ku juga kurang lebih sama."
"Lalu
menurutmu, kenapa kami tetap memberimu pekerjaan ini?"
"Saya sama
sekali tidak tahu."
"Karena kamu
tidak berharga jika hilang. Kalau mati pun bisa dihidupkan lagi."
Goddess bernama Fimulinde ini──pikir Vanetim──sepertinya
punya kepribadian yang sangat berbeda dengan Goddess yang dia kenal
selama ini. Dia sangat sinis, pesimis, dan kata-katanya pedas.
"Kalau kamu
itu Jace Partilact, aku pasti akan mengoperasikannya dengan sedikit lebih
hati-hati."
"Tega
sekali. Bukankah itu diskriminasi yang parah?"
"Tentu saja,
kan? Dia itu sosok spesial bagi Ratu Naga──omong-omong, apa waktumu aman?"
"Kalau
berlama-lama mengobrol di sini, musuh mungkin akan mendekat."
"I-iya,
saya tahu……!"
Vanetim
bangkit berdiri sambil menggigil. Meski pesisir utara Valligarhi sudah
dikuasai, masih banyak gua yang belum diselidiki di antara karang-karang ini.
Ada kemungkinan
sisa-sisa Fairy bersembunyi di sana. Ditambah lagi, yang harus ditakuti Vanetim
bukan hanya Fairy.
"Kalau
sampai terkejar oleh Kakak, saya pasti akan dibunuh lagi……"
"Ya. Itu
sudah pasti."
Fimulinde pun
membenarkan hal itu tanpa ragu.
"Aku sudah dengar soal rencana itu. Hebat juga ya, kamu
bisa menyebarkan fitnah sekejam itu."
"Itu adalah bidang keahlian saya."
"Ngomong-ngomong, yang barusan itu sama sekali bukan
pujian, lho."
"Saya tahu……"
Vanetim mulai merasa muak mengobrol dengan paus ini.
Mentalnya benar-benar terkuras habis.
"Saya pergi sekarang. Semuanya sudah menunggu."
"Semoga saja begitu. Kalau begitu, wahai Prajurit,
berjuanglah!"
Vanetim menarik napas dalam-dalam, lalu membenarkan posisi
tasnya. Meski basah kuyup, isinya seharusnya aman.
Di dalamnya ada papan komunikasi dari Kafzen dan beberapa
koin perak sebagai dana militer. Dia mulai melangkah, memutar untuk menghindari
Benteng Brock Numea──menuju ke arah utara.



Post a Comment