Hukuman
Pencegahan Pembunuhan Lyuphen Kaulon 2
Pesisir utara
Valligarhi tengah diguyur hujan lebat.
Akhir-akhir ini,
hujan turun hampir setiap hari. Rasanya sudah berhari-hari aku tidak melihat
celah langit cerah sejak ditugaskan ke wilayah utara setelah menyeberangi
selat. Malam ini pun, curah hujan masih tetap deras.
(Aku benci
musim begini.)
Ryufen Kaulon
mengenakan jas hujan dan mengikat tali sepatu botnya dengan perasaan masygul.
(Mana suhu
udaranya makin tinggi, rasanya jadi pengap dan panas……)
Bukan sekadar
tidak nyaman, cuaca seperti ini juga memengaruhi pengawetan logistik. Di
kampung halamannya di wilayah Barat, tepatnya di tanah Won Daoran, iklim
seperti ini sangat langka. Di wilayah pusat pun jarang terjadi.
(Menyebalkan,
terlalu banyak hal yang harus kupikirkan.)
Prioritas
utamanya saat ini adalah mengatur lalu lintas pengangkutan logistik. Dia harus
merapikan jadwal kereta kuda agar tidak terjadi kemacetan atau salah jalur yang
hanya akan membuang tenaga. Meski merepotkan, sudah jelas jika tidak dilakukan
sekarang, dia akan menghadapi situasi yang jauh lebih pelik nantinya.
Karena alasan
itulah, Ryufen tidak tidur di Benteng Brock Numea, melainkan di sebuah
"Stasiun" sementara yang didirikan di sebelah utara, di antara
benteng dan Nophan. Itu adalah markas untuk menimbun barang agar bisa segera
dimuat ke kereta kuda. Keberadaan tempat seperti ini otomatis menarik perhatian
para pedagang──sebuah desa kecil bahkan mulai terbentuk di sekitarnya.
(Benar juga.
Apa aku bisa meminjam tenaga para pedagang untuk transportasi logistik, ya?
Kalau berhasil, pekerjaanku bisa lebih ringan.)
Saat sedang
bersiap-siap untuk berangkat, sebuah suara menyapanya dari belakang.
"Tuan
Muda."
Sosok yang
memanggil Ryufen dengan sebutan itu adalah seorang pria paruh baya bernama
Jiaosu. Dia sudah seperti kepala pelayan bagi keluarga Kaulon dan telah
mendampingi Ryufen sejak kecil. Bahkan setelah Ryufen menjadi Ksatria Suci, dia
tetap setia mengikutinya dan bekerja dalam posisi yang menyerupai wakil
komandan.
"Anda
mau pergi sekarang? Di jam selarut ini?"
"Iya. Aku
akan kembali sebelum subuh."
Ryufen
berdiri sambil menenteng lentera tipe Segel Suci. Cahaya biru pucat berpendar
samar dari sana.
"Mari saya
siapkan pengawal. Mohon tunggu sebentar."
"Eh? Tidak
usah. Cuma sampai sana, kok."
"Kalau
begitu, setidaknya ajaklah Nona Nivrenne."
"Kalau
dibangunkan, dia pasti bakal merengut. Malah repot urusannya nanti."
"Kalau
begitu, saya yang akan mendampingi Anda."
Sepertinya
pria itu memang sudah siap untuk berangkat sejak tadi.
"Jika
terjadi sesuatu pada Tuan Muda, saya tidak akan punya muka untuk menghadap Tuan
Besar."
Jiaosu melangkah
maju sambil mengenakan jas hujannya. Di pinggangnya tersampit sebilah pedang
dan sebuah Thunder Staff.
(Dia ini
terlalu protektif, sih.)
Pikir Ryufen. Di
mata pria itu, mungkin Ryufen masih tetap dianggap sebagai anak kecil berusia
sepuluh tahun.
"Cuma sampai
sana, kok. Ke gedung stasiun. Aku harus segera menyesuaikan jadwal kereta
kuda."
Mereka mulai
berjalan menembus hujan. Gedung stasiun berada tepat di depan mata.
"Aku
sudah membuat jadwalnya. Kita harus meminimalkan jumlah kereta kuda yang
berjalan dalam keadaan kosong……"
Gudang-gudang
darurat, perumahan, dan toko-toko yang berjejer tampak basah kuyup tersiram
hujan. Jumlahnya memang belum banyak, tapi suatu saat nanti tempat ini mungkin
akan berkembang menjadi kota besar.
"Targetku
adalah sistem tiga jadwal; pagi, siang, dan malam. Untuk itu, kurasa pemukiman
yang berada di tengah-tengah antara sini dan Nophan bisa dimanfaatkan. Keluarga
Kurdel yang berjaga di sana sudah menguasainya. Kalau bisa memakai itu,
semuanya akan jadi lebih mudah."
Dari
ujung rambut sampai ujung kaki, isi kepala Ryufen hanyalah cara untuk
bersantai. Baginya, sedikit bersusah-payah di awal demi kemudahan di masa depan
adalah hal yang wajar.
"Meski
ancaman Demon Lord Phenomenon masih ada di utara, jadi kita belum bisa
melakukan transportasi skala besar."
"Kudengar
para Fairy sedang berkumpul di Pegunungan Kazit," gumam Jiaosu
pelan.
Ryufen tersenyum
pahit. Dia tahu apa yang ingin dikatakan pelayannya itu.
"Maksudmu
soal Xylo dan yang lain, kan? Aku tahu. Aku dengar mereka dikirim ke sana untuk
misi pembasmian sebagai bentuk hukuman. 'Operasi Pemusnahan', ya? Istilah yang
hebat."
"Tuan Muda,
apakah Anda tidak ingin pergi menolong mereka?"
"Hmm…… ya, begitulah."
"Nona
Nivrenne juga sempat mengeluh, kenapa kita tidak pergi membantu."
"Yah, mau
bagaimana lagi."
Nivrenne memang
tampak sangat kesal, tapi gadis itu sendiri pasti paham kalau permintaan itu
mustahil. Dalam kondisi begini, mereka hanya bisa menjaga jarak satu sama lain.
Itu juga alasan kenapa Ryufen sulit mengajaknya pergi keluar seperti ini.
"Aku sudah
menyiapkan bantuan, tapi itu hanya bersifat sementara. Bagaimanapun juga,
menyembunyikan Demon Lord Phenomenon adalah tindakan yang tidak bisa
dibela. Bagaimana bisa Rhyno bergabung dengan Prajurit Hukuman, ya……"
Hal itulah yang
mengganjal di pikirannya. Siapa sebenarnya yang memutuskan untuk memasukkan Demon
Lord Phenomenon ke dalam Pasukan Prajurit Hukuman? Apakah orang yang
bertanggung jawab itu juga ditipu oleh orang bernama Rhyno itu?
Untuk menyelidiki
hal itu, dia butuh kekuatan keluarganya. Meski berisiko, kemampuan agen
intelijen wilayah Barat sangatlah mumpuni. Jika dia bisa meminjam kekuatan
itu──
"Tuan
Muda."
Tiba-tiba, Jiaosu
mencengkeram lengan Ryufen. Suaranya terdengar tajam.
"Mohon waspada. Sepertinya ada penyusup."
"Ah…… jadi mereka benar-benar datang. Merepotkan saja."
Ryufen pun
menyadarinya. Di balik tirai hujan yang tipis, tampak enam bayangan manusia.
Mereka berdiri diam, seolah-olah sedang mengadang jalan.
"Tapi, ini
mengejutkan. Jangan-jangan mereka Fairy?"
Bayangan-bayangan
itu jelas merupakan Fairy. Jenis yang disebut Knocker. Tubuh mereka
seolah dilapisi oleh bijih mineral, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka
dulunya adalah manusia.
"Apa Fairy
sekarang menyerang manusia dengan cara seperti ini?"
Bagi Ryufen, ini
adalah hal yang mengejutkan sekaligus ancaman. Mereka menyelinap ke pemukiman
manusia dan mengincar target untuk dibunuh. Benar-benar mirip pembunuh bayaran
manusia.
Terlebih
lagi, mereka menggenggam senjata di tangan. Pedang pendek.
"Tuan
Muda, mohon mundur."
Jiaosu
menghunus pedang lengkung dan Thunder Staff-nya. Dia melangkah
maju──bersiap menyambut serangan para Fairy tersebut.
"Mungkin ini
akan sedikit sulit."
Sesaat kemudian,
kata-katanya terbukti. Para Knocker merangsek maju. Pedang pendek mereka
sepertinya dilapisi tinta hitam untuk menghilangkan kilau, membuatnya sangat
sulit dilihat.
Jiaosu segera membalas serangan mereka. Pertama, dengan Thunder
Staff. Satu tembakan jarak dekat menghancurkan kepala salah satu Knocker.
Setelah itu, pertempuran jarak dekat yang sengit pun pecah. Dia menghindar, menangkis, dan menyerang balik
di antara lima bilah pedang yang mengayun. Teknik tempa dari Barat memang unik;
ketajamannya konon sanggup membelah besi sekalipun.
Tentu
saja, Ryufen tidak bisa hanya berdiri diam. Dia menangani Knocker yang berhasil
lolos dari pertahanan Jiaosu dan mengincar dirinya. Dia mencabut pedang
lengkungnya dan mulai beradu bilah.
(Untung aku bawa pedang…… tapi, makhluk ini……)
Lengannya terasa
kebas saat menahan serangan.
(Kuat sekali.
Apa dia menggunakan teknik pedang?)
Bukan sekadar
memiliki kekuatan fisik yang besar, tapi dia jelas sudah terlatih menggunakan
senjata. Sejauh yang Ryufen tahu, meski itu adalah Fairy tipe manusia,
mereka paling-paling hanya mengayunkan benda yang mereka genggam secara asal.
Namun, makhluk ini bahkan sanggup melakukan serangan tipuan untuk memancing
lawan.
Ryufen
merasakan bulu kuduknya meremang. Mungkin ada sesuatu yang sedang berubah di
antara para Demon Lord Phenomenon.
Meski
begitu, dia masih bisa menanganinya. Teknik pedang Ryufen adalah ajaran dari
Jiaosu. Walau dia bukan murid yang teladan, dia tidak boleh mempermalukan
dirinya sendiri di depan gurunya. Ryufen menangkis bilah lawan lalu menebas ke
bawah──dengan satu sabetan itu, lawannya tumbang.
Terasa mantap,
namun di saat yang sama, ada kejanggalan yang sangat kuat.
(Terlalu
gampang. Bahkan aku saja bisa mengalahkannya. Apa mereka hanya menyerang dengan
kekuatan seadanya begini?)
Ryufen
tiba-tiba merasakan firasat buruk.
"Jiaosu!
Ada yang aneh dengan mereka!"
Jiaosu
baru saja hendak menghujamkan bilahnya ke leher musuh terakhir. Pada saat itu, sekelebat kilat menyambar.
Itu bukan kilatan
petir alami dari awan mendung. Terdengar suara kering dari kejauhan. Kilat itu
menembus kaki Jiaosu, membuatnya jatuh tersungkur. Knocker yang tersisa sudah
habis dihabisi──tapi ternyata masih ada yang lain. Penembak jitu. Jiaosu terkapar sambil
mengerang.
Ryufen
refleks hendak berlari menghampiri.
"Hei!
Tadi itu──"
"Jangan
bergerak……!"
Jiaosu
berteriak lantang. Dia tidak bisa berdiri. Kakinya tertembak tembus──musuh
sengaja melukainya seperti itu. Tujuannya adalah untuk menembak siapa pun yang
bergerak untuk menolongnya.
"Target
mereka adalah Tuan Muda. Mereka menunggu Anda bergerak. Tolong…… jangan beranjak dari
sana."
Ryufen
menyandarkan punggungnya ke dinding. Kalau dia bergerak, dia akan ditembak.
(Sial.
Ini lebih gawat dari dugaanku.)
Siapa
sangka Fairy bisa bergerak secara terencana seperti ini. Mereka bahkan menempatkan penembak jitu.
(Aku harus
minta tolong. Kalau ada Nivrenne……!)
Ryufen menoleh ke
arah asrama sementaranya. Nivrenne. Kalau ada gadis itu, semuanya pasti beres.
Namun, saat
menoleh, pemandangan yang dilihatnya adalah──
Asap dan
warna merah yang berkobar. Asrama tempatnya bernaung kini dilahap si jago
merah──pemandangan itu membuat Ryufen merasa pening.
"Bohong,
kan……!"
Di tengah
kegelapan malam, api membumbung dengan terangnya. Di asrama itu ada sekitar
sepuluh personel dari Orde Ksatria Suci Keenam. Selain itu, seharusnya ada sang Goddess,
Nivrenne.
(Sampai sejauh
ini, ya?)
Pergerakan musuh
sangat terperinci dan tanpa celah. Apa tidak ada jalan keluar?
Saat Ryufen
mengedarkan pandangannya mencari celah, tiba-tiba──
"──Komandan
Ksatria Suci Ryufen Kaulon!"
Seorang pria
bermata merah muncul. Ryufen merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Dengan
rambut perak yang basah kuyup karena hujan, pria itu melompat keluar dari gang
belakang──lalu tersungkur di hadapannya.
"Sepertinya…… aku sempat, ya."
Gumamnya
sambil tersenyum. Bibirnya pucat pasi. Dia tampak sangat letih, namun karena itulah senyumnya terasa begitu
mengerikan. Pakaiannya berlumuran lumpur dan juga darah.
Selagi Ryufen
ragu harus menjawab apa, pria berambut perak itu memperkenalkan dirinya.
"Namaku Vanetim Leopold. Salam kenal."
(Begitu ya.
Prajurit Hukuman……!)
Pantas saja
Ryufen merasa tidak asing. Pria ini adalah komandan Pasukan Prajurit Hukuman
9004, tim tempat Xylo bernaung. Belum sempat Ryufen bertanya kenapa dia ada di
sini, Vanetim melebarkan senyumnya. Sebuah senyum yang mencampurkan rasa rendah
diri dan ejekan terhadap diri sendiri.
"Aku datang
untuk meminta tolong──Komandan Kaulon."
Setelah menarik
napas sejenak, kata-kata itu terucap.
"Tolong
selamatkan aku."
Ryufen melongo,
benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Stasiun ini
sudah dikepung. Ini di luar perhitunganku. Semua pembunuh bayaran yang kusewa
sudah dipukul balik. Padahal saat Pemilihan Suci trik ini berhasil……
ternyata menggunakan cara yang sama adalah sebuah kesalahan……"
"Tunggu…… apa? Barusan kau bilang apa? Pembunuh bayaran
yang kau sewa?"
"Iya. Anu, sebenarnya aku menyewa puluhan pembunuh
bayaran untuk membunuh Anda. Tapi,
aku tidak menyangka faksi lain akan bergerak di saat yang bersamaan."
Ryufen
benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan pria ini. Ini sudah benar-benar
melampaui akal sehat.
"Kita
harus segera kabur kalau tidak mau celaka──hanya Anda harapanku satu-satunya.
Kumohon, tolong selamatkan aku. Ya, benar-benar sekarang──guekh."
"Ketangkap!"
Ucapan Vanetim
berubah menjadi erangan kesakitan. Itu gara-gara sebuah bayangan kecil yang
melompat ke punggungnya. Seorang gadis lincah dengan rambut dikuncir satu.
Tentu saja Ryufen mengenalnya. Sang Goddess, Nivrenne.
"Hehe,
percuma saja! Aku tidak akan melepaskanmu, dasar penjahat! Kau pikir aku lengah karena aku tidak bisa
melukai manusia? Sayang sekali, kalau cuma segini──ah."
Di saat itulah
Nivrenne baru menyadari keberadaan Ryufen. Dia tersenyum ceria sambil
melambaikan tangan.
"Ryufen!
Lihat, aku menangkap penjahatnya! Dialah yang membawa orang-orang jahat itu dan
membakar asrama kita! Lagipula setelah itu ada serangan Fairy juga…… ah,
Ryufen, kau dengar tidak? Kenapa kau tertawa? Hei!"
"Haha.
……Hahahaha!"
Ryufen tidak bisa
menahan tawa. Tawa yang lama-kelamaan menjadi gelak tawa yang meledak.
"Aku
benar-benar tidak paham lagi! Hebat sekali, ya, komandan timnya Xylo itu!"



Post a Comment