NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V1 Chapter 3

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 3

Gadis yang Tsundere Di Zaman Sekarang?

Hari-hari di rumah keluarga Anzai… dimulai dengan sesuatu yang menghangatkan hati sejak pagi.


Aku sendiri selalu memasang alarm agar bisa bangun di awal hari, tapi sering kali alarm itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


Bukan karena jamnya rusak, melainkan karena dihentikan dengan sengaja sebelum sempat berbunyi.


"Bangunlah… bangunlah, Takuya-san."


"Bangun, Takuya-kun… ayolah, cepat bangun."


Suara lembut yang bahkan bisa kuingat meski memejamkan mata… ya.


Yang sengaja mematikan alarm itu adalah Mina dan Reina-san, dan sebagai pengganti bunyi nyaring jam, suara merekalah yang membangunkanku.


"…Yah, tapi setidaknya aku ingin mereka menghentikan kenakalan itu."


Yang terutama melakukan ini adalah Mina… kalau hanya berbisik geli di dekat telingaku sih masih bisa dibilang lembut, tapi kadang-kadang dia bahkan menaruh tanganku di dadanya saat aku sedang tidur… dan karena saat bangun aku biasanya masih setengah sadar, ada kalanya aku malah menggenggamnya sekuat tenaga sambil berpikir itu apa sebenarnya.


"Ahn? …Astaga, Takuya-san ini berani sekali, ya?"


Di atas pakaian… atau di atas pakaian dalam… atau bahkan langsung di kulit… jujur saja, aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan Mina.


"Ngomong-ngomong… kalau dipikir-pikir lagi, menyebut cara bangun seperti ini sebagai kebahagiaan mungkin agak salah… ya, memang salah."


Malah lebih seperti perilaku mesum… bukan?


Tidak, kalau begitu justru Mina yang membiarkanku menyentuh dadanya yang mesum…?


"…Tapi."


Setiap kali hal itu terjadi, dia selalu mengatakan ini.


Bahwa jantung yang berdebar justru adalah obat bagi hati… kalau dia mengatakan begitu, aku tahu dia melakukannya demi diriku, jadi aku tidak bisa benar-benar menolaknya.


Tapi kalau boleh jujur, aku lebih suka kalau dia hanya membangunkanku dengan suara lembut di dekat telingaku… mungkin.


"Ah, bukan saatnya memikirkan hal seperti ini."


Aku mengingat kembali apa yang harus kulakukan dan menghentikan pikiranku sejenak.


Hari ini aku bangun lebih awal dari biasanya, jadi tugasku adalah membangunkan Mina yang masih belum bangun.


"…Mina?"


Aku berdiri di depan pintunya, mengetuk, lalu memanggil namanya.


Tidak ada jawaban dari dalam, bahkan tidak terasa ada tanda-tanda seseorang bergerak, jadi sepertinya dia masih tidur.


Karena ini bukan pertama kalinya aku masuk ke kamar Mina, aku mengetuk sekali lagi sebelum membuka pintunya.


"…Seperti dugaanku, dia masih tidur."


Seperti yang kupikirkan, Mina masih tertidur.


Dia berbaring telentang dengan posisi yang begitu rapi sampai tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda posisi tidurnya berantakan… bahkan lebih dari itu, selimutnya juga terlihat sangat rapi, seolah-olah seseorang sudah merapikannya.


Kalau musim dingin sih mungkin berbeda, tapi di musim seperti sekarang aku hampir setiap hari menendang selimutku sampai terlempar… atau malah melilitkannya di antara kaki sambil memeluknya saat tidur… dulu sih tidak seperti itu, tapi mungkin karena stres, posisi tidurku jadi semakin buruk.


"Mina, sudah pagi."


"Uun…"


Kelopak mata Mina sedikit bergerak mendengar suaraku.


Tapi sepertinya dia masih berada di alam mimpi, jadi sepertinya aku harus memanggilnya sedikit lebih keras.


"Mina, sudah pagi lho."


"…Munya."


Suaraku memang lebih keras dari tadi, tapi Mina masih belum bangun.


Aku juga tidak ingin mengejutkannya dengan suara terlalu keras… kalau begitu, seperti yang biasa dia lakukan padaku, aku akan membangunkannya dengan menggoyangkan bahunya dengan lembut.


Aku mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahu Mina… tepat ketika tanganku hampir menyentuhnya.


Tiba-tiba Mina menendang selimutnya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku.


"Apa…!?"


Namun aku segera mengalihkan pandanganku.


Karena setelah selimutnya tersingkir, penampilan Mina yang muncul dari dalamnya terlalu menggoda.


"Kenapa pakai pakaian seperti itu…!"


Bukan piyama, melainkan pakaian tidur yang tembus pandang.


Bukankah ini yang disebut negligee…? Tentu saja aku belum pernah melihat wanita berpakaian seperti ini di dunia nyata, jadi aku sampai terkejut sampai rasanya seperti ingin melarikan diri dari kenyataan.


"Su… suu…"


"…………"


Kenapa… kenapa dia memakai pakaian seperti ini?


Maksudku, aku sama sekali tidak berniat mengomentari pakaian tidur orang lain… tapi setidaknya tadi malam ketika kami saling mengucapkan selamat malam, dia mengenakan piyama berwarna merah muda.


Memang seperti biasa bagian dadanya terlihat sesak sampai kancingnya hampir terlepas, tapi jelas bukan pakaian yang memperlihatkan kulit secara terang-terangan seperti ini.


"…Serius ini terlalu erotis. Dia sudah cantik dan bertubuh bagus, jadi jelas saja pakaian seperti ini akan cocok padanya."


Tanpa sadar aku mengucapkan kesan jujurku.


Namun aku punya tugas penting untuk membangunkan Mina… kalau Reina-san datang memeriksa karena merasa ada yang aneh, entah apa yang akan dipikirkannya…!


"Mina…? Mina~…? Bisa bangun tidak~?"


"…………"


Tidak berhasil, sama sekali tidak ada tanda-tanda dia akan bangun.


Apa yang harus kulakukan…? Tidak, mungkin lebih cepat kalau aku meminta bantuan Reina-san saja…?


"…Ya, sepertinya begitu saja."


Kalau begitu sebaiknya aku segera meminta bantuan.


Aku langsung berbalik untuk pergi, tapi di saat itulah sesuatu yang tidak terduga terjadi… tiba-tiba pergelangan tanganku ditangkap oleh Mina yang seharusnya sedang tidur.


"Tunggu—"


Mina… kamu ternyata sudah bangun!?


Tentu saja aku bahkan tidak sempat berteriak kaget, karena dia menarikku dengan kuat sehingga aku langsung jatuh ke atas tempat tidur… tepatnya jatuh menimpa tubuh Mina.


Lebih buruk lagi, posisi jatuhku sangat berbahaya—wajahku tepat berada di antara dada Mina.


"Tunggu sebentar, Mina…!?"


"Yah♪ Kalau bicara di dalam dada seperti itu, getarannya jadi terasa geli, lho?"


"…………"


Kalau begitu aku diam saja… tapi kalau begitu aku akan terus seperti ini!


Selain posisi ini sudah berbahaya dalam banyak arti, aku juga khawatir karena seluruh berat badanku menekan Mina… apa dia tidak merasa berat?


"Beratnya tidak terlalu terasa kok? Malah, kalau seperti ini aku bisa memelukmu erat supaya kamu tidak bisa kabur♪"


"!?"


Dia bukan hanya memeluk kepalaku dengan kedua lengannya, tapi juga melilitkan kakinya.


Kalau sudah seperti ini, tubuhku dan tubuh Mina benar-benar menempel tanpa celah, sampai-sampai aku bisa merasakan suhu tubuhnya melalui tubuhku, bahkan suara detak jantungnya yang berdetak di balik dada kirinya pun terdengar jelas.


"Maaf ya, Takuya-san. Sebenarnya aku sudah bangun dari awal… dan aku menunggu karena kupikir kamu pasti akan datang membangunkanku."


"Kalau begitu… Reina-san juga tahu?"


"Tidak, Ibu tidak tahu kok. Jadi kalau Ibu yang datang membangunkanku, rencana ini pasti gagal, tapi ternyata berhasil seperti ini♪"


"…Jadi walaupun aku yang datang, rencana jahatmu tetap tercapai, ya."


"Memang rencana jahat sih, tapi… apakah itu hal yang buruk untukmu, Takuya-san?"


"…………"


Aku benar-benar ingin dia berhenti menanyakan pertanyaan yang sulit dijawab seperti itu.


Melihatku terdiam, Mina tertawa kecil dengan senang… atau lebih tepatnya, karena aku tidak bisa menggerakkan wajahku, ada sesuatu yang terus masuk dalam pandanganku.


Itu adalah ujung dada Mina yang terlihat justru karena pakaian itu tembus pandang.


Begitu melihat bagian yang sedikit menonjol dengan warna pink itu, aku refleks memejamkan mata, tapi sudah terlambat… karena pemandangan itu sudah sepenuhnya terukir di ingatanku.


"Ara, Takuya-san? Tubuhmu semakin panas, lho?"


"!?"


"Jangan-jangan… kamu melihat sesuatu?"


Dengan pertanyaan yang seolah penuh keyakinan itu, tentu saja aku tidak menjawab apa pun… aku memang tidak bisa menjawab.


Tidak diragukan lagi aku sangat panik dalam situasi ini, tapi sebagai seorang pria, aku juga tidak bisa memungkiri bahwa ada bagian dari diriku yang sedikit merasa senang dengan keadaan ini….


Nah… kalau terus begini, wajar saja waktu berlalu begitu saja.


Dan karena percakapan ini sudah berlangsung cukup lama, akhirnya situasi yang kutakuti pun benar-benar terjadi.


"Takuya-kun? Mina… ah."


"Ah… Ibu."


"…………"


Seandainya tanganku bebas, aku pasti sudah menaruh tangan di dahi sambil menundukkan kepala.


Setelah itu, akhirnya aku berhasil dibebaskan.


Saat menunggu Mina turun ke ruang tamu untuk berganti pakaian, aku terus penasaran kata-kata apa yang akan Reina-san ucapkan padaku, tapi….


"Apakah aku mengganggu?"


"…Tidak, justru aku tertolong."


Sepanjang waktu dia memandangiku dengan senyum menyeringai seolah merasa geli… perasaanku memang agak campur aduk, tapi mungkin lebih baik begitu daripada dia salah paham.


"Ngomong-ngomong, Takuya-kun, menurutmu kalau aku yang memakai pakaian seperti itu juga akan cocok?"


"Eh? Itu pasti sangat cocok, maksudku malah terlihat sangat… seksi— ah."


"Ufufu♪"


Kalau boleh memberi alasan, sejak pagi aku sudah sangat lelah.


Itulah sebabnya aku menjawab sebelum pikiranku sempat menyusunnya dengan benar… dan tentang senyum Reina-san yang penuh makna saat itu, aku akhirnya tetap tidak memahaminya pada saat itu.


▼▽


Setelah melewati kejadian pagi tadi… sebuah kecelakaan yang bagi seorang pria bisa dibilang cukup menguntungkan, belakangan ini suasana hatiku benar-benar baik, mungkin yang terbaik dalam hidupku.


"…Hehe."


Lihat saja, kalau lengah sedikit saja aku langsung menyeringai seperti ini.


Supaya tidak terjadi salah paham, bukan karena kejadian erotis seperti pagi tadi, tapi karena aku mulai merasa bahwa sedikit demi sedikit aku bisa membalas kebaikan Mina dan Reina-san.


"Melakukan sesuatu untuk seseorang… aku tidak bisa terus bergantung pada mereka saja."


Meski begitu, Mina dan yang lain masih sangat memanjakanku seperti biasa.


Kebaikan itu sama sekali tidak terasa tidak menyenangkan, malah sangat nyaman sampai membuatku ingin terus berada di dalamnya… bahkan sampai membuat perasaan bahwa suatu hari aku harus keluar dari rumah ini menjadi sedikit tumpul.


"…Yah, untuk sementara aku tidak perlu memikirkan itu."


Aku menenangkan diri dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan di depan mataku.


Yang sedang kulakukan sekarang adalah mencabut rumput liar di halaman, dan ternyata pekerjaan ini cukup dalam… meskipun aku berkeringat banyak di tengah panas dan terasa melelahkan, pekerjaan ini cocok dengan sifatku yang tidak bisa diam.


"Katanya meskipun dipotong terus, rumput liar akan tetap tumbuh lagi… mungkin ini juga salah satu pemandangan khas pedesaan."


Musuhnya memang banyak dan keras kepala, tapi justru karena itu rasanya ada tantangan tersendiri.


Biasanya Reina-san juga yang melakukan ini, tapi pekerjaan seperti ini seharusnya diserahkan saja pada aku yang masih muda.


"Ini juga bagian dari membalas kebaikan mereka."


Lagipula Reina-san tadi terlihat benar-benar memperhatikan pinggangnya.


Meskipun penampilannya terlihat seperti kakak mahasiswa, usia sebenarnya memang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.


"…Aku barusan memikirkan hal yang agak tidak sopan ya?"


Tidak boleh tidak boleh! Fokus pada pekerjaan!


Aku menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran yang mengganggu, lalu tepat saat aku bersemangat untuk membasmi rumput liar di depanku—


"…?"


Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki, lalu mengalihkan pandanganku ke arah itu.


Tanpa kusadari, seorang wanita cantik sudah berdiri di sana.


Soal usia, ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya dia seumuran dengan Mina… kalau begitu mungkin dia lebih muda dariku.


Dan yang paling menarik perhatian adalah penampilannya.


Rambut cokelat kemerahan, kulit yang sedikit kecokelatan, gaun mini hitam yang memperlihatkan belahan dadanya yang dalam… benar-benar seperti seorang gyaru, atau lebih cocok berada di kota.


Dia juga memiliki tubuh yang tidak kalah, bahkan mungkin lebih dari Mina, dan karena bagian dadanya terbuka, belahan dadanya yang penuh pun terlihat… sampai-sampai tanpa sadar mata orang bisa tertarik ke sana.


(…Cantik sekali.)


Tanpa sadar aku menatapnya cukup lama, tapi ternyata dia juga melakukan hal yang sama.


Kalaupun dia punya urusan, seharusnya bukan denganku… tapi kenapa orang ini terus menatapku?


"…Maaf?"


Aku memberanikan diri menyapanya, tapi dia tidak menjawab pertanyaanku.


Bahkan tatapan yang dia arahkan padaku terasa tajam… atau lebih tepatnya, kenapa terlihat seperti sedang menatapku dengan marah?


Keheningan yang terasa menyakitkan itu berlangsung beberapa saat, sampai akhirnya dia membuka mulut.


"Kamu yang disebut Mina sebagai pria yang datang dari kota itu?"


Nada suaranya sama kuatnya dengan tatapannya yang tajam.


Suara yang kuat, berbeda dari Mina… tentu saja suaranya tetap indah, tapi aku tidak bisa menyembunyikan kebingunganku terhadap permusuhan yang terkandung di dalamnya.


"Pria yang datang dari kota… yah, mungkin itu aku."


Mengingat Mina, sepertinya dia tidak menyampaikannya dengan cara seperti itu… tapi tetap saja orang yang dimaksud pasti aku, jadi aku mengiyakan.


Setelah itu, tatapannya padaku menjadi semakin tajam.


"Kamu… menjauhlah dari Mina."


"Eh?"


"Pria seperti kamu pasti orang yang sampah dan menyebalkan."


"…………"


Karena dia menyebut nama Mina, jelas dia adalah kenalan Mina.


Kalau begitu mungkin Reina-san juga mengenalnya… tapi menyapa orang yang baru pertama kali ditemui dengan cara seperti ini benar-benar kasar….


"Dengar baik-baik. Ini peringatan… kalau kamu melakukan sesuatu pada Mina… kalau kamu menyakitinya, aku tidak akan pernah memaafkanmu."


"T-tunggu seb—"


Seolah sudah mengatakan semua yang ingin dia katakan, wanita itu berbalik dan berjalan pergi.


Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh dengan tercengang, tapi tiba-tiba dia berhenti dan kembali menoleh ke arahku.


"…Eh? Kenapa dia kembali lagi…?"


Dia entah kenapa kembali… kenapa?


Aku sempat takut kalau dia masih ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya ternyata tidak terduga.


"…Mungkin aku tadi sedikit keterlaluan, padahal ini pertama kali kita bertemu."


"Eh?"


"Tapi peringatan tetap peringatan! Kalau kamu melakukan sesuatu pada Mina, aku tidak akan memaafkanmu!"


Setelah mengatakan itu, dia kembali membelakangiku dan kali ini benar-benar pergi.


Aku sempat bersiap kalau-kalau dia akan kembali lagi, tapi pada akhirnya dia tidak pernah kembali.


"…Apa sebenarnya itu tadi?"


Rasanya seperti baru saja diterpa badai kecil yang muncul tiba-tiba.


"Tapi… sepertinya dia bukan orang yang jahat."


Sebelum dia kembali tadi, aku sama sekali tidak punya kesan baik tentangnya, tapi setelah melihatnya kembali untuk mengatakan bahwa dia mungkin terlalu keterlaluan, aku merasa bahwa sebenarnya dia bukan orang yang jahat.


"Ngomong-ngomong… bukankah dulu Mina pernah bilang? Tentang temannya yang punya pengalaman buruk di kota… jangan-jangan itu dia?"


Ya… entah kenapa rasanya memang seperti itu.


Sejujurnya dari sudut pandangku ini terasa tidak masuk akal, tapi rasanya tidak mungkin dia bersikap seperti itu tanpa alasan… kalau dipikir bahwa dia sangat memikirkan Mina, wajar saja kalau dia sampai menunjukkan permusuhan sebesar itu.


"Lagipula, kalau dibandingkan dengan pengalaman berurusan dengan orang-orang di perusahaan lamaku, yang tadi itu masih tergolong lucu."


Untuk sementara aku memutuskan menunda memikirkan gadis itu, dan mungkin saat makan siang nanti aku akan bertanya pada Reina-san.


Setelah itu aku melupakan wanita tadi dan kembali sibuk memotong rumput… dan tanpa sadar satu jam telah berlalu.


"Uahhhh! Pinggangku sakiiittt!"


Seperti yang diduga, harga dari terlalu tenggelam dalam pekerjaan adalah rasa sakit di pinggang… bukan hanya pinggang, lengan dan kaki juga terasa sangat lelah.


"Ini juga akibat terlalu lama cuma kerja di depan meja."


Baik di kantor maupun di rumah, aku hampir tidak pernah terkena sinar matahari.


Aku juga tidak pernah jogging atau pergi ke gym, bahkan untuk sementara waktu pun tidak… jadi kelelahan ini memang harus kuterima.


Meski begitu, ini bukan rasa lelah atau sakit yang tidak menyenangkan.


Aku tidak merasa diriku seorang masokis, tapi entah kenapa kelelahan ini terasa cukup nyaman.


"Wah, lumayan juga bersihnya ya?"


Meskipun masih ada beberapa rumput liar yang tersisa, tapi sudah jauh lebih rapi.


Mina-san dan Reina-san juga bilang agar aku tidak terlalu memaksakan diri, jadi untuk pekerjaan memotong rumput sepertinya cukup sampai di sini dulu.


"Meski begitu, walaupun capek aku malah merasa ingin menggerakkan tubuh lagi… Mina sedang di sekolah dan Reina-san sedang keluar, jadi mungkin aku jalan-jalan lagi sebentar."


Rasanya hobiku sekarang jadi seperti berjalan-jalan… tapi sejak datang ke desa ini aku memang jadi menyukainya.


"Aku pergi sebentar."


Memang tidak ada yang menjawab, tapi ini seperti kebiasaan saja.


Saat keluar rumah, aku melewati ladang tempat biasanya Shiraishi-san berada, tapi hari ini aku memutuskan berjalan ke arah sebaliknya.


Mau ke kanan atau ke kiri sebenarnya pemandangannya hampir sama, tapi justru karena memilih jalan yang biasanya tidak kulewati seperti ini, aku mendapatkan sebuah pertemuan.


"Eh… itu nenek yang tidak kukenal."


Di depan sana ada seorang nenek yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Karena dia membawa kantong belanja di tangannya, kupikir dia sedang dalam perjalanan pulang dari berbelanja, tapi tiba-tiba nenek itu tersandung sesuatu dan jatuh.


"Apa!?"


Saat itu juga aku langsung berlari.


Apa dia baik-baik saja… semoga tidak terjadi sesuatu yang serius… sambil berdoa seperti itu dalam hati, aku berlari menghampirinya.


"Nenek! Apakah Anda baik-baik saja!?"


"Aduh…!"


Sayuran dari kantong belanjanya berserakan di tanah, tapi yang lebih penting adalah nenek itu sendiri.


"Oh… siapa kamu?"


"Tidak usah memikirkan aku dulu, Anda tidak apa-apa? Apa perlu kupanggil ambulans?"


"Tidak perlu sampai begitu. Aku cuma keseleo sedikit."


Bagi orang tua, keseleo saja bisa jadi cedera serius…


Aku masih khawatir apakah dia benar-benar baik-baik saja, tapi melihat kondisinya sepertinya tidak apa-apa… mungkin?


Namun karena yang keseleo adalah pergelangan kaki, sepertinya dia tidak bisa langsung berjalan pulang.


"Benar-benar merepotkan ya. Kalau sudah tua, hal kecil saja bisa jadi masalah besar."


"Itu memang tidak bisa dihindari. Tapi aku lega karena Anda jatuh bukan karena sakit tiba-tiba."


"Terima kasih. Memang cuma keseleo… tapi sekarang kupikir-pikir, wajahmu belum pernah kulihat sebelumnya ya?"


Walaupun situasinya seperti ini, kami pun saling memperkenalkan diri secara singkat.


Sepertinya dia tidak langsung mengenali namaku, tapi ketika aku mengatakan bahwa aku sedang tinggal di rumah keluarga Anzai, nenek itu langsung terlihat mengerti.


"Kalau di desa seperti ini… kabarnya cepat menyebar ya?"


"Begitulah. Aku sendiri dengar tentangmu dari Micchan, tapi jadi kamu orangnya."


"Micchan…?"


"Micchan dari keluarga Shiraishi. Bukannya kalian sering bicara?"


"Oh, Shiraishi-san."


Jadi Shiraishi-san yang menceritakan tentangku.


"Namaku Yame. Ditulis dengan kanji ‘delapan’ dan ‘wanita’, dibaca ‘Yame’. Nama keluarga yang cukup jarang, kan?"


"Memang jarang kudengar… Yame-san ya. Senang berkenalan."


Begitulah aku akhirnya berkenalan dengan seorang nenek bernama Yame.


Kami sudah selesai saling memperkenalkan diri, tapi pergelangan kaki Yame-san masih sakit sehingga dia kesulitan berjalan.


Dia bilang kalau istirahat sebentar pasti akan baik-baik saja, tapi entah kenapa aku tidak ingin pergi begitu saja.


"Ngomong-ngomong, rumah Yame-san di mana?"


"Rumah yang terlihat di sana."


Di arah yang dia tunjuk ada sebuah rumah bergaya Jepang yang terlihat sudah cukup tua.


Begitu ya… tidak terlalu jauh juga, jadi aku memutuskan untuk membantu mengantarnya pulang.


"Aku akan menggendong Anda. Jaraknya tidak terlalu jauh."


"Oh? Boleh begitu?"


"Tentu saja. Aku tidak enak kalau pergi begitu saja… jadi tolong izinkan aku sedikit terlihat keren, ya? Nenek Yame?"


"…ahaha, menurutku kamu sudah terlihat seperti pria tampan. Baiklah, bolehkah aku memintamu?"


"Tentu!"


Aku berjongkok, menggendong nenek itu di punggungku, lalu berdiri dengan hati-hati dan mulai berjalan.


"Kalau aku minta, apakah kamu juga mau menggendongku seperti putri?"


"Oh, kalau itu yang diinginkan, tentu saja."


"Ahahaha! Aku memang penasaran, tapi itu terlalu memalukan."


Kalau dia benar-benar menginginkannya, sebenarnya aku memang berniat melakukannya.


Tapi saat menggendong orang tua seperti ini, aku jadi teringat saat dulu mencoba menggendong nenekku ketika masih kecil.


Waktu itu aku masih anak kecil dan tidak bisa menggendongnya… aku bilang nanti saat sudah dewasa aku akan melakukannya, tapi sebelum itu terjadi nenekku sudah meninggal.


"…Dari cara kamu memperlakukanku saja sudah terlihat. Takuya-kun, kamu anak yang baik."


"…Terima kasih."


"Kalau aku bertemu denganmu saat masih muda dulu, aku pasti tidak akan membiarkanmu begitu saja."


"Serius? Wah, itu suatu kehormatan."


"Kamu tidak benar-benar memikirkannya ya… hehehe!"


Wah, Yame-san ini memang orang yang suka tertawa ya.


Kami terus mengobrol sepanjang jalan, dan akhirnya aku berhasil mengantarnya pulang dengan selamat.


Pada saat itu rasa sakit di kakinya juga sepertinya sudah berkurang, jadi aku pun lega.


"Kalau begitu, aku pamit dulu."


"Eh, tidak mungkin aku membiarkanmu pulang begitu saja. Kamu juga sudah berkeringat banyak, jadi biarkan aku mentraktirmu jus dingin."


"…Baiklah. Terima kasih."


"Seharusnya aku yang berterima kasih. Ayo, masuklah."


Aku diajak masuk ke ruang tamu dan disuguhi jus dingin.


Bahkan aku tidak hanya duduk di beranda, tapi benar-benar diajak masuk ke rumah. Mungkin itu berarti Yame-san sudah cukup percaya padaku.


"Enak?"


"Sangat enak. Rasanya menyegarkan untuk tubuh yang panas."


"Begitu ya. Kalau mau tambah juga tidak apa-apa."


Oh, kalau begitu mungkin aku akan menambah satu gelas lagi…


Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba terdengar suara yang terasa familiar dari arah lorong.


"Nenek sudah pulang?"


Aneh juga mendengar suara yang terasa familiar di rumah seseorang yang baru saja kukenal… tapi tunggu dulu.


Suara ini bukan sekadar terasa familiar… ini suara wanita yang tadi datang ke rumah keluarga Anzai!


"Aku sudah pulang. Tapi tadi sedikit keseleo."


"Hah!? Tunggu, maksudnya apa!?"


Suara dari sana terdengar panik dan berlari ke arah sini.


Ah… sekarang sudah pasti, pikirku sambil menunggu.


Dan benar saja, wanita yang muncul di ruang tamu adalah wanita yang sama seperti tadi.


"!?"


Namun saat melihatnya, aku langsung membeku.


Karena dia sepertinya baru selesai mandi, dan muncul hanya dengan handuk mandi yang melilit tubuhnya.


"Nenek! Sebenarnya apa yang— eh?"


Lalu pandangannya menangkap keberadaanku… benar-benar menangkapku.


Di antara kami muncul keheningan yang menakutkan… beberapa detik kami saling menatap dalam suasana seperti neraka, lalu wajahnya memerah dan dia berteriak.


"Ke-kenapa kamu ada di sini!?"


"Bukan begitu! Ini salah paham—"


"Me-mesum!!"


Dia bahkan menunjukku dengan tajam sebelum langsung berbalik.


Sepertinya dia ingin kabur dari tempat ini, tapi jari kelingking kakinya malah menabrak lemari dan dia langsung membungkuk sambil menahan sakit.


"Aduh… itu pasti sakit sekali."


Eh, kenapa reaksi Yame-san santai sekali!?


"Yua, kamu tidak apa-apa?"


"Sakiiiiittt!!"


"…………"


Apa… sebenarnya yang terjadi inj?


"Sebentar ya, aku ambilkan handuk yang sudah didinginkan, jadi tunggu di sini."


Setelah berkata begitu, Yame-san meninggalkan kami berdua.


"…Ah."


Aku masih tercengang oleh rangkaian kejadian tanpa jeda itu, tapi saat itulah aku menyadari sebuah hiasan di atas lemari hampir jatuh.


Mungkin itu bergerak karena aku tadi menabrak kaki lemari, tapi sekarang terlihat seperti akan segera jatuh tepat ke arah gadis yang berada di bawahnya… tunggu, ini gawat!?


"Bahaya!"


"Eh?"


Begitu aku menyadari hiasan itu akan jatuh, aku langsung berlari ke arahnya.


Karena aku juga panik, yang bisa kulakukan hanyalah melindunginya dengan mendorongnya sampai terjatuh… tapi berkat itu titik jatuh hiasan itu berubah menjadi punggungku, dan masalahnya selesai hanya dengan rasa sakit tumpul yang kuterima.


"Kamu… nggak apa-apa?"


"I-iya…"


Gadis yang kulindungi menatapku dengan linglung, pipinya sedikit memerah.


Hanya karena dia tidak lagi menatapku dengan ekspresi tajam seperti sebelumnya, kesannya sudah terasa sangat berbeda… tapi tak lama kemudian aku memiringkan kepala karena sensasi yang terasa di telapak tanganku.


"…Ah."


"??"


Saat itulah aku menyadarinya.


Handuk mandi yang melilit tubuhnya terlepas saat aku mendorongnya jatuh, dan tanganku kini benar-benar bertumpu tepat di atas dadanya yang besar… dan dia juga menyadarinya, lalu wajahnya memerah jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.


"Maaf—"


"Tidakkkkk!!"


Mendengar teriakan yang menggema itu, aku sampai merasa seperti semuanya sudah berakhir.


Dia langsung lari ke dalam rumah seperti melarikan diri, dan seolah bergantian, Yame-san kembali.


"…Maaf, tapi bolehkah kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"


Aku sebenarnya enggan, tapi akhirnya aku menceritakan semuanya dengan jujur.


Walaupun aku hanya mencoba menolongnya, tetap saja aku melakukan hal yang tidak pantas, jadi aku menundukkan kepala untuk meminta maaf, tapi Yame-san malah tertawa terbahak-bahak dengan gembira.


"Aku tahu sebenarnya tidak boleh tertawa, tapi ini benar-benar nasib sial buatmu ya?"


"Ah, iya… aku benar-benar minta maaf sudah membuatnya mengalami hal memalukan."


"Tapi itu kan kecelakaan, dan Takuya-kun juga melindungi Yua, bukan? Kalau begitu tidak perlu sampai menundukkan kepala begitu."


Aku senang dia mengatakan itu, tapi tetap saja… aku sudah menyentuh bagian… dadanya, dan membuatnya merasa malu.


"Meski begitu aku tetap membuatnya merasa malu, jadi kalau bisa aku ingin meminta maaf secara langsung…"


"Karena dia cucuku, aku tahu dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Nanti aku juga akan menjelaskannya dengan baik padanya."


"…Terima kasih, itu sangat membantu."


Kalau Yame-san mengatakan begitu, rasanya sangat menolong.


Tapi karena aku sudah bertemu gadis itu, ada satu hal yang ingin kutanyakan pada Yame-san.


"Dia… Yua-san, ya? Apa mungkin dia mengenal Mina?"


Mendengar pertanyaanku, Yame-san langsung mengangguk.


"Benar sekali. Yua dan Mina-chan sudah akrab sejak kecil, bahkan dari SD sampai SMA mereka selalu bersama."


"Jadi mereka seperti teman masa kecil, ya."


"Ya, begitulah."


Begitu ya… sekarang semuanya terasa terhubung.


"Oh? Tapi apakah Yua pernah membicarakan Mina-chan padamu?"


"Hmm… dulu Mina pernah menyebutkannya secara samar. Dia bilang punya sahabat yang sangat dekat, jadi aku berpikir mungkin itu dia."


"Ah, begitu rupanya."


Kalau soal kejadian yang baru saja terjadi… memang lebih baik tidak dibicarakan.


Tapi soal itu sendiri sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya, malah mengetahui bahwa ada gadis seperti itu di dekat Mina justru membuatku merasa agak tenang.


"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang."


"Sudah waktunya, ya… ah, aku jadi ingin terus mengobrol dengan Takuya-kun lebih lama lagi."


"Haha, aku merasa terhormat mendengarnya."


Aku senang mendengar kata-kata Yame-san dan merasa agak berat untuk pergi, tapi hari ini sampai di sini saja.


Setelah itu Yame-san mengantarku sampai ke pintu depan, tapi seperti yang kuduga gadis itu tidak menampakkan diri.


"Tenang saja. Aku akan menyampaikan semuanya pada Yua."


"Terima kasih banyak."


Dengan begitu, aku pun meninggalkan rumah keluarga Yame.


Setelah itu, aku sempat berbicara dengan Mina tentang kejadian hari ini… tentang pertemuanku dengan Yua-san dan juga tentang Yame-san.


Itu terjadi setelah makan malam, saat aku dipanggil ke kamar Mina dan kami sedang bersantai.


"Jadi ada kejadian seperti itu, ya."


"Iya."


Aku menceritakan tentang Yua-san pada Mina.


Tentu saja aku menyembunyikan bagian tentang menyentuh dadanya… tapi untuk yang satu itu memang sulit untuk diceritakan.


"Yua ternyata libur hari ini ya. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalian bisa saling mengenal tanpa sepengetahuanku."


"Pertemuan pertama kami memang cukup… penuh dampak."


"Ahaha…"


Mina tertawa canggung, lalu mulai menceritakan tentang Yua.


"Dia sebenarnya bukan gadis yang buruk. Hanya saja… saat dia pergi ke Tokyo, sepertinya dia bertemu dengan seorang pria yang sangat buruk."


"Hmm… bolehkah aku mendengar cerita itu?"


"Aku dan Yua sangat dekat, dan kalau kamu tahu ceritanya, kamu mungkin akan lebih mudah memahami sikapnya."


"Ya… benar juga."


Aku sempat ragu, tapi akhirnya memutuskan untuk mendengarkannya dari Mina.


"Yua sangat mengagumi Tokyo, jadi setelah lulus dari sekolah kejuruan dia pergi ke sana. Di sana ada seorang pria yang awalnya sangat baik padanya… tapi pria itu ternyata… bisa dibilang sampah yang luar biasa."


"Kalau sampai Mina menyebutnya sampah, berarti dia benar-benar parah."


Serius, bagi Mina sampai berkata sejauh itu adalah hal yang luar biasa.


Dibandingkan daerah pedesaan, kota besar… apalagi Tokyo yang populasinya paling padat di Jepang… pasti ada berbagai macam orang.


Contohnya saja, atasan menyebalkan yang dulu selalu kulihat… ya.


"Sepertinya mereka hampir mulai berpacaran, tapi ternyata pria itu menjalin hubungan dengan banyak wanita sekaligus. Saat Yua memprotesnya, dia malah mengejek Yua sebagai gadis kampungan, dan berkata bahwa seharusnya dia bisa menerima kalau tidak menjadi yang nomor satu… ya, kira-kira seperti itulah yang terjadi. Sejak saat itu, Yua benar-benar memiliki prasangka buruk terhadap pria dari Tokyo."


"Yah… kalau mengalami hal seperti itu, memang tidak aneh."


Tapi sekarang aku jadi mengerti kenapa dia mengatakan hal-hal seperti itu padaku sebelumnya.


Sebagai pihak yang menerima imbasnya, sebenarnya aku hanya jadi korban salah sasaran… tapi setidaknya sekarang aku tahu alasannya.


"Setelah kembali ke sini, Yua memang banyak mengeluh dan menggerutu, tapi dia bahkan bisa tertawa sambil mengatakan bahwa untung saja dia belum sempat memiliki hubungan fisik dengan pria itu. Jadi meskipun dia punya banyak perasaan tentang itu, sepertinya dia tidak terlalu bersedih."


"Begitu ya…"


"Tapi aku juga akan menghubungi Yua. Setidaknya aku akan memberitahunya bahwa Takuya-san adalah orang yang bisa dipercaya… orang yang sangat baik dan juga pria yang luar biasa♪"


"O-oh… terima kasih, Mina."


"Iya♪"


"Aku bersyukur kalau kamu mau menyampaikannya, tapi cara menyampaikannya yang memalukan begitu agak membuatku malu juga… tapi jangan-jangan sebaliknya, Yua-san malah menafsirkannya seperti aku memaksamu mengatakan itu? Ah, mungkin aku terlalu banyak berpikir."


"…………"


Namun kemudian… aku perlahan mengalihkan pandanganku dari Mina yang sedang tersenyum.


Aku sudah berusaha keras untuk tidak menyadarinya, tapi setiap kali melihatnya, entah kenapa aku teringat lagi pada penampilannya dengan negligee yang cukup berani pagi tadi.


"Ada apa?"


"Tidak, tidak apa-apa."


"Fufu♪ Jangan-jangan kamu sedang mengingat kejadian pagi tadi?"


"Hah!?"


Ah, dasar aku bodoh… begitu kupikirkan, semuanya sudah terlambat, dan senyum Mina pun semakin melebar.


"Takuya-san mesum♪"


Dia membisikkan itu di dekat telingaku, membuatku refleks menundukkan wajah karena malu.


Tapi itu lebih merupakan kecelakaan… atau lebih tepatnya Mina memang melakukannya dengan sengaja, jadi sebenarnya aku tidak bersalah… tidak bersalah, jadi aku harus bersikap percaya diri!


"Aku merasa aku tidak bersalah dalam hal itu."


"Benar juga. Karena aku memang sengaja melakukannya, yang salah itu aku♪"


"…………"


Aku sudah berusaha bersikap percaya diri, tapi Mina jauh lebih percaya diri dariku.


Dia bilang yang salah adalah dirinya, tapi bukannya terlihat merasa bersalah sedikitpun, dia malah mulai menusuk-nusuk bahuku dengan jarinya.


Aku tahu mengatakan apa pun dalam situasi ini tidak akan ada gunanya, dan yang menyebalkan… sebenarnya aku juga tidak terlalu keberatan. 


Jadi aku menerima saja serangan tusuk-tusuk Mina sampai dia bosan. Tapi ketika dia akhirnya berhenti, rasa kantuk yang kuat tiba-tiba menyerangku.


"…Fuwaah."


Tanpa sadar aku menguap lebar, sampai hampir lupa bahwa Mina ada di dekatku.


"Kamu terlihat sangat mengantuk ya?"


"Yah… akhir-akhir ini memang selalu begini."


Meski begitu sekarang baru pukul sembilan malam, jadi tidak aneh kalau mulai mengantuk.


Tapi rasa kantuk yang terasa sangat berat ini mungkin karena akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan tenaga untuk memotong rumput dan hal semacamnya, serta menjalani hidup yang lebih teratur dengan cukup terkena sinar matahari.


"Menggerakkan tubuh, terkena sinar matahari, makan makanan enak, dan menjalani waktu yang menenangkan… karena menjalani kebiasaan hidup yang teratur seperti itu."


"Seharusnya itu hal yang baik, tapi Takuya-san benar-benar sudah bekerja keras ya."


Ah… perhatian Mina benar-benar terasa menenangkan.


Walaupun mengantuk, aku ingin sedikit lebih lama lagi berbicara dengannya, jadi aku meregangkan tanganku kuat-kuat untuk mengusir rasa kantuk.


Tapi karena aku benar-benar lengah, gerakan itu malah jadi masalah.


"Ugh!?"


Tiba-tiba rasa sakit yang tajam menjalar di tubuhku, membuatku langsung meringis.


"Takuya-san!?"


"Ah… tidak apa-apa, Mina. Cuma pegal otot."


Ini hanya pegal otot biasa.


Selama ini aku tidak pernah melakukan pekerjaan seperti memotong rumput, jadi ini akibat dari terus melakukan posisi tubuh yang tidak biasa saat bekerja.


"Hanya karena kurang olahraga saja."


Saat aku memijat bagian tubuhku yang terasa sakit, Mina menunjuk ke arah futon.


"Takuya-san, tolong berbaring di futon."


"…Eh?"


"Tolong berbaring di futon."


"Tidak, tapi…"


"Tolong berbaring di futon."


Terdesak oleh Mina yang mengulang kata yang sama seperti robot, akhirnya aku menyerah dan berbaring di futon.


"Kalau bisa, sebaiknya tengkurap."


"Tengkurap?"


"Tidak apa-apa kalau dagumu diletakkan di atas bantal."


"…Baiklah."


Aku melakukan seperti yang dia katakan dan menaruh daguku di atas bantal.


Aroma Mina yang biasa menggunakan bantal ini menyeruak kuat ke hidungku. Walaupun aku berusaha untuk tidak menyadarinya, aku tetap harus bernapas, jadi mau tidak mau aku merasakan aroma Mina.


"Sebenarnya kamu mau melakukan apa?"


"Pijat."


"Pijat?"


Mina juga naik ke atas futon dan duduk mengangkang di sekitar pinggangku.


Kalau saja aku telentang, apa yang akan terjadi… pikiran mesum seperti itu sempat terlintas, tapi yang kurasakan justru sensasi yang sangat nyaman.


"Ohoh…"


Tangan Mina mulai memijat tubuhku, melonggarkan rasa sakit di otot-ototku.


"Enak?"


"Iya… enak sekali."


Kalau tidak enak, tentu aku tidak akan sampai mengeluarkan suara seperti "ohoh".


Karena terlalu nyaman, rasa kantuk yang sempat hilang akibat rasa sakit mulai kembali… dan aku kembali menguap lebih besar dari sebelumnya.


"Nggak apa-apa kalau kamu tidur."


"Tidak, aku nggak akan tidur… aku akan berusaha."


"Dengan suara yang tidak bersemangat seperti itu… tapi lucu juga♪"


Aku benar-benar berjuang untuk tetap membuka mata dan melawan rasa kantuk.


Awalnya suara Mina terdengar seperti lagu pengantar tidur, tapi karena aku terus menanggapi pertanyaannya, untungnya rasa kantuk itu perlahan menghilang lagi.


"Takuya-san akhir-akhir ini benar-benar bekerja keras ya. Kamu membuat situs penjualan untuk ibu, lalu juga membantu hal-hal lain."


"Yah, karena aku ingin membantu."


"Bukan hanya untuk ibu. Aku juga mirip ibu, tidak terlalu pandai dengan komputer, tapi setiap kali aku bertanya, Takuya-san selalu mengajariku."


"Mengajari saja kan mudah."


"Itu saja sudah cukup, tapi kamu juga sampai memotong rumput… kamu tidak perlu sampai membuat tubuhmu pegal seperti ini."


Suara Mina benar-benar penuh perhatian.


Seolah mengatakan bahwa sebenarnya aku tidak perlu melakukan semua itu, cukup tinggal di sini dan menerima perhatian saja… walaupun agak aneh kalau aku sendiri yang berpikir seperti itu, tapi setelah mengenal Mina dan Reina-san, aku bisa merasakan bahwa mereka berdua memang memikirkan hal seperti itu.


"Jangan bilang begitu. Bagaimana ya… kalau aku tidak melakukan sesuatu, rasanya tidak tenang. Apalagi Mina dan Reina-san sudah sangat baik padaku, jadi aku selalu mencari apa yang bisa kulakukan untuk membantu sedikit saja."


Ini adalah bagian dari diriku yang tidak bisa kuabaikan.


"Mina dan Reina-san membuatku bisa bergantung pada kalian… memang benar aku merasa nyaman dengan itu, tapi justru karena Mina dan yang lain seperti itu, aku jadi ingin melakukan sesuatu untuk kalian."


"Eh?"


"Kalau hanya menerima bantuan saja aku tidak akan merasa puas… tapi aku bisa berpikir seperti itu karena aku ingin membantu Mina dan yang lain. Selain nenekku waktu kecil dulu, kalianlah orang pertama yang membuatku merasa seperti itu."


"…………"


Mungkin itu kalimat yang agak memalukan.


Tapi dari sudut ini Mina tidak akan bisa melihat wajahku yang mungkin memerah, jadi aku merasa lega… tapi tanpa sadar aku malah menenggelamkan wajahku ke bantal.


Baru ketika seluruh wajahku tertutup aroma Mina aku tersadar bahwa ini adalah bantal miliknya… aku buru-buru mengangkat wajahku, tapi Mina tidak menunjukkan reaksi apa pun.


"…Mina?"


Saat kupanggil namanya pelan, akhirnya dia sedikit bereaksi.


Tangannya yang sempat berhenti kembali bergerak, dan pijatan lembut namun terasa pas itu kembali berlanjut.


"Takuya-san…"


"Ya?"


"Kamu benar-benar… orang yang sangat baik."


"Apa yang kamu katakan, sih. Ada orang yang jauh lebih baik dariku tepat di dekat sini."


"…………"


"Serius, ada orang seperti dewi tepat di sana—"


"T-tolong berhenti! Aku jadi terlalu malu sampai rasanya aneh!"


Oh? Reaksi Mina yang seperti ini cukup jarang.


Biasanya aku yang dibuat memerah olehnya, jadi sekarang aku jadi ingin sekali melihat wajah Mina yang malu. Aku mencoba membalikkan tubuh untuk melihatnya, tapi…


"Tidak boleh melihat!"


"Ugh!?"


Dia memijatku dengan cukup kuat sehingga keinginanku itu tidak terwujud.


Mina… itu tadi benar-benar cukup sakit.


"Sebagai hukuman, kamu akan dipijat sedikit lebih lama… aku akan membuatnya sedikit lebih kuat."


"T-tunggu Mina-san? Aku tidak melakukan apa-apa yang salah—"


Selama menerima pijatan setelah itu, aku pun berpikir bahwa ternyata aku benar-benar tidak boleh menggoda Mina.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close