NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 11 Epilog & Interlude III

Epilog


Mengenai kapal yang masih bersandar di Nasagaki, kami memutuskan untuk menyerahkannya kepada para ninja untuk diambil kembali, lalu kami pun pulang ke Desa Haste.

Meskipun perjalanan menuju Desa Ninja di Shangri-La memakan waktu yang sangat lama, perjalanan pulang terasa sekejap mata berkat kemampuan transfer Akuri yang memanfaatkan garis bumi milik Nietzsche-sama.

Sesaat setelah tiba, Bandana-san langsung kembali ke Menara Penyihir.

Meski menara itu tetap beroperasi tanpa ada siapa pun di dalamnya, sepertinya membiarkannya kosong terlalu lama tetap bukan ide yang bagus.

"Hei, Kak! Jangan habiskan makanan awetan buatan Kuruto sendirian!"

"Biarkan saja, stoknya masih banyak begini."

"Nanti aku yang dikira terlalu banyak makan, tahu!"

Terdengar suara Kans-san dan Sina-san dari dalam bengkel.

Syukurlah, ternyata mereka sudah pulang lebih dulu.

Saat kami berjalan menuju pintu masuk bengkel, hanya Danzo-san yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Kami menoleh ke arahnya.

Namun, tak ada satu pun dari kami yang memanggilnya.

Tanpa perlu dikatakan pun, jika itu Danzo-san, dia pasti tahu apa yang ingin dia lakukan dan apa yang harus dia perbuat.

Danzo-san mendongak, lalu melangkahkan kakinya ke depan.

Dia melewati kami semua, lalu membuka pintu depan bengkel.

"Danzo!" seru mereka berdua serempak.

Kans-san segera menghampirinya.

Sina-san berlari dan langsung memeluk Danzo-san erat-erat.

"Kans, Sina. Maafkan saya karena telah pergi tanpa pamit," ucap Danzo-san.

"Sudahlah, itu tidak penting lagi. Aku benar-benar bahagia karena Danzo sudah pulang."

Sina-san menangis di pelukan Danzo-san saking bahagianya.

"Selamat datang kembali, Danzo. Jadi, apakah tugasmu sudah selesai?"

Kans-san bertanya sambil tersenyum ramah.

"Benar. Saya secara resmi telah ditugaskan oleh Desa Ninja untuk menjadi pengawal bengkel ini dan juga Tuan Kuruto."

"Pengawal Kuruto? Kenapa bisa jadi begitu?"

"Sepertinya, dulu sekali Desa Ninja pernah berutang budi kepada penduduk Desa Haste."

Ternyata memang begitu kenyataannya.

Soalnya saat aku terbangun, Hiiragi-san dan para ninja lainnya mendadak menggunakan bahasa formal kepadaku.

Padahal aku bukan orang hebat, tapi dihormati seperti itu malah membuatku merasa malu.

Tapi, ada hal baik yang kupelajari dari kejadian kali ini.

Yaitu tentang para Pohon Wajah Manusia.

Kini kami tahu bahwa Pohon Wajah Manusia bisa menyerap miasma—atau Evil Element di Dunia Lama.

Artinya, mereka bisa mengurangi konsentrasi zat berbahaya tersebut.

Memang mustahil jika harus memurnikan miasma di seluruh dunia sekaligus.

Namun, jika mereka ditanam di sepanjang jalan raya, aku yakin manusia akan bisa berjalan di sana tanpa perlu menggunakan masker penyerap Evil Element lagi.

Tentu saja, jika aku asal menanam mereka, penduduk Dunia Lama pasti akan marah, jadi untuk sementara aku meminta para Pohon Wajah Manusia untuk menunggu di sekitar Menara Penyihir.

Begitu aku mendapat izin dari kepala pemukiman, aku berencana memindahkan mereka ke sepanjang jalan raya.

Untuk saat ini, aku akan meminta izin kepada Diner-san, kepala Pemukiman No.257, dan Harrel-san, kepala Pemukiman No.536, agar pohon-pohon itu bisa ditempatkan di jalan yang menghubungkan kedua pemukiman tersebut.

Lalu, hal yang baru kuketahui adalah ternyata Pohon Wajah Manusia berbunga empat kali dalam setahun dan menghasilkan berbagai macam buah-buahan.

Pohon-pohon itu berjanji akan memberikan buah mereka kepada manusia, dengan syarat manusia mau membantu menanam benih mereka di sepanjang jalan.

Yurishia-san dan Lise-san sempat heran, mereka bertanya apa pohon-pohon itu tidak keberatan jika buah mereka dimakan.

Padahal alasan buah terasa lezat itu agar dimakan oleh burung atau hewan lain, sehingga bijinya bisa terbawa ke tempat yang jauh.

Sebaliknya, pohon-pohon itu justru senang karena biji mereka bisa diantarkan ke tempat yang tepat tanpa mereka harus berjalan sendiri.

Aku memang bukan petani jadi tidak bisa berbicara dengan mereka, tapi setidaknya aku bisa memahami perasaan mereka.

Lagi pula, jika aku mendapat surat rekomendasi dari Diner-san dan Harrel-san, gelarku bukan lagi sekadar pedagang keliling, melainkan pengelana yang membawa teknologi baru berupa benih Pohon Wajah Manusia.

Kalau hanya mengaku sebagai pedagang keliling, aku harus meluangkan waktu untuk berjualan di pemukiman agar tidak dicurigai, dan itu membuatku sulit fokus mencari teman-temanku.

Tanpa kusadari, Lise-san sudah tersenyum di sampingku.

"Setelah istirahat sejenak, kita akan melanjutkan perjalanan ke Dunia Lama lagi. Kuruto-sama, mari kita manfaatkan hari ini untuk saling memulihkan lelah perjalanan kita berdua."

"Eh, maaf, Lise-san. Sebelum beristirahat, aku harus melakukan pekerjaanku sebagai Wakil Atelier Meister. Ini adalah tugas penting yang dipercayakan oleh Tuan Rikuto!"

Lagipula, aku sudah terlalu sering meninggalkan bengkel.

Bukan cuma soal teknis, aku juga harus melakukan tugas sebagai pesuruh bengkel.

Alasan Tuan Rikuto mengakuiku sebagai Wakil Atelier Meister adalah karena dia menghargai kerja kerasku sebagai pesuruh.

Baiklah, aku akan berjuang!

"Memang benar-benar Kuruto-sama! Kalau begitu, izinkan saya membantu Anda!"

"Terima kasih. Mari kita berjuang bersama-sama."

Pertama-tama, mungkin sebaiknya aku membuat makanan awetan lagi seperti yang dikatakan Kans-san tadi?

Katanya kan 'perut lapar tidak bisa diajak berperang'.

"Ah, Kuruto. Maaf kalau aku harus merusak suasana semangatmu ini, tapi—"

"Apa sih, Yuri-san. Kalau sudah tahu bakal merusak suasana, tidak perlu bicara yang aneh-aneh."

Lise-san memeluk lenganku sambil menyela ucapan Yurishia-san.

"Aku sih tidak masalah, tapi apa kau yakin, Lise?"

"Yakin soal apa?"

"Tadi para Phantom pergi dengan terburu-buru untuk menjemput Mimiko. Bukankah dia akan melakukan apa pun untuk menghalangimu pergi ke Dunia Lama? Jika dia sudah serius, aku pun tidak bisa menghentikannya."

"Aku juga sepertinya tidak bisa menghentikan Kak Mimiko," tambah Akuri.

Yurishia-san dan Akuri berkata demikian.

Jika Mimiko-san kembali, sudah pasti Lise-san akan disuruh menjaga rumah.

Terakhir kali Mimiko-san benar-benar marah besar, sih.

Memang sulit untuk membuang status sebagai seorang putri begitu saja.

"Hah?! Itu tidak boleh terjadi! Kuruto-sama, ayo cepat kita berangkat ke Dunia Lama!"

"Eh? Tapi pekerjaanku—"

"Tidak apa-apa. Kalau tidak salah, Tuan Rikuto akan pulang besok! Katanya beliau yang akan mengerjakan semua tugasnya."

Eh? Tuan Rikuto akan pulang?

Kapan Lise-san mengetahuinya?

Padahal sejak pulang tadi kami terus bersama.

Kalau diingat-ingat, Tuan Rikuto pernah bilang kalau dia adalah anak selir raja, berarti dia adalah kakak tiri Lise-san, kan?

Apa mungkin karena hubungan itu?

Jika aku menikah dengan Lise-san, apakah itu berarti Tuan Rikuto akan menjadi kakak iparku?

Kalau benar begitu, aku merasa sedikit senang.

Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi sejak pertama kali bertemu Tuan Rikuto, entah kenapa aku merasa dia bukan orang asing bagiku.

"(Woi! Rikuto itu kan kau sendiri!)"

"(Tenang saja. Selama aku pergi, Guru Ophilia dan Mimiko akan mengurus sisanya.)"

"(...Kau bakal dimarahi Mimiko lagi, lho.)"

"(Kalau begitu, mari kita dimarahi bersama-sama.)"

Yurishia-san dan Lise-san sedang membicarakan sesuatu, tapi seperti biasa, suara bisikan mereka tidak terdengar jelas.

Lagipula, jika Tuan Rikuto akan pulang, aku harus menyiapkan hidangan istimewa—

"Ayo, Kuruto-sama! Mari kita berangkat! Saya tahu Kuruto-sama pasti sedang memikirkan persiapan makan untuk Tuan Rikuto, tapi urusan makanan sudah diatur untuk dipesan dari kedai minum, jadi semua akan baik-baik saja!"

"Begitu ya? Luar biasa Lise-san sudah menyiapkan sampai sejauh itu! Padahal sejak pulang, aku baru sempat membersihkan bengkel saja."

"Eh? Membersihkan bengkel?!"

"Pantas saja, sepertinya seluruh bengkel ini jadi lebih berkilau dari sebelumnya—kapan kau melakukannya?!"

Sina-san dan Kans-san berpura-pura terkejut secara berlebihan.

Duh, padahal aku membersihkannya tepat di depan mata mereka semua, masih saja bilang 'kapan melakukannya'.

Aku pun berbalik menghadap Danzo-san, Kans-san, dan Sina-san.

"Kalau begitu, aku berangkat! Jika ada waktu luang, aku akan kembali untuk memasak. Jika Tuan Rikuto sudah datang, tolong sampaikan permohonan maafku karena telah meninggalkan bengkel."

Aku membungkukkan badan untuk meminta tolong.

"Ya, pergilah."

"Semangat ya, Kuruto."

Kans-san dan Sina-san melepas kepergianku dengan senyum, dan kemudian—

"Urusan menjaga rumah, serahkan saja pada saya."




Danzo-san menatap kami dan berucap dengan lantang.

Rasanya sangat menenangkan mengetahui ada orang-orang yang bisa diandalkan untuk menjaga bengkel tetap tinggal di sini.

Karena itu, aku pun membalas mereka dengan senyuman lebar.

"Iya, aku berangkat!"

◆◇◆

"Kira-kira, apa yang sedang dilakukan Kuruto sekarang, ya?"

Aku—Mire—sedang berjalan melintasi negeri yang asing bagi keduaku bersama Hiiragi-san dan Kaede-san.

Hiiragi-san memutuskan untuk pensiun dari jabatannya sebagai pemimpin ninja dan menyerahkannya kepada penerusnya, agar dia bisa menemaniku menjelajahi Dunia Lama.

"Kakak, meski disebut Dunia Lama, ternyata tidak jauh berbeda dengan dunia kita, ya."

"Kecuali udaranya yang sedikit lebih dingin dan tanamannya yang lebih sedikit. Tapi, jangan lengah."

Ya, aku pun baru menyadarinya setelah pergi ke dunia sana, ternyata dunia yang ini memang sedikit lebih dingin.

"Ngomong-ngomong, teknik ninja yang kalian gunakan itu di dunia ini disebut Skill. Sebenarnya siapa yang mengajarkannya kepada kalian? Apa itu rahasia?"

"Tidak, jika itu Misuzu-sama sang penerus Kaisar, maka tidak masalah. Dalam legenda kami tercatat bahwa teknik ninja kami berasal dari penuturan seorang misionaris asing, jauh sebelum kami bertemu orang-orang Desa Hasu."

"Misionaris asing?"

"Benar. Namun, karena itu adalah kisah dari masa yang sangat lampau, tidak ada informasi lebih lanjut yang diketahui. Meski begitu, ternyata di dunia ini sudah ada teknik yang serupa dengan ninja kami sejak lama sekali, ya."

"Iya. Di sini pun tidak ada informasi yang pasti, tapi sepertinya sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tepatnya sekitar waktu pemukiman-pemukiman mulai dibangun... Ada apa?"

"Klan kami dari Negeri Yamato dikatakan berpindah tempat demi mencari Negeri Matahari Terbit di masa lalu... Namun kenyataannya, tidak diketahui sama sekali dari negara mana kami berasal. Bisa dibilang, kami adalah orang-orang yang tiba-tiba muncul dalam sejarah. Terlebih lagi, muncul bersama seluruh pulau kami."

"Bersama seluruh pulau?!"

Karena tidak paham maksudnya, aku tanpa sadar membeo.

"Benar. Ada catatan yang menyebutkan bahwa di masa lampau, lokasi tempat Negeri Yamato berada dulunya hanyalah lautan luas. Dan konon, dulu seluruh penduduk Negeri Yamato memiliki teknik ninja. Namun, karena tempat penambangan batu baru yang diperlukan untuk teknik ninja tidak ditemukan, teknik itu perlahan-lahan mulai punah."

"Lalu, bagaimana dengan teknik ninja kalian?"

"Di tanah tempat Desa Ninja kami berada, terdapat batu yang diperlukan untuk mengaktifkan teknik ninja. Kemungkinan itu adalah pengaruh dari adanya alat yang mengumpulkan miasma."

"Alat pengumpul miasma? Apa sudah ada sejak dulu?"

"Begitulah katanya. Akibat tinggal di tanah dengan miasma yang pekat, usia harapan hidup para ninja konon hanya sekitar tiga puluh tahun. Namun hal itu membaik setelah penduduk Desa Hasu memasang Barrier untuk kami."

Miasma—atau Evil Element—memang menggerogoti tubuh.

Masker penyerap Evil Element memang mencegah zat itu masuk ke dalam tubuh, tapi itu hanya sebatas menyerapnya saja.

Berbeda dengan kalung pencegah Evil Element yang kudapatkan dari Kuruto, masker tidak bisa mencegah masuknya zat itu secara total.

Oleh karena itu, konon usia harapan hidup para Hunter jauh lebih pendek dibanding orang biasa.

Jika rencana peredaman Evil Element di jalan raya menggunakan Pohon Wajah Manusia berjalan lancar, mungkin usia para Hunter juga bisa sedikit lebih panjang.

Mungkin leluhurku lahir di dunia sana, tapi bagiku, dunia inilah duniaku yang sebenarnya.

Jika dunia ini bisa menjadi tempat yang sedikit lebih nyaman untuk ditinggali, aku rasa itu adalah hal yang sangat membahagiakan.

Semua ini berkat pertemuanku dengan Kuruto.

"............"

Aku menengadah menatap langit.

"Apakah tidak apa-apa?" tanya Kaede-san.

"Apanya?"

"Sebenarnya Anda ingin bepergian bersama Kurumi-cha... maksud saya, Tuan Kuruto, kan? Jika Misuzu-sama menginginkannya, saya bisa menyampaikan pesan melalui Nietzsche-sama agar kita bisa bergabung dengan mereka. Pasti lebih menyenangkan jika ada banyak orang."

Aku merasa bisa mendengar suara hati Kaede-san yang berkata, 'Akan jauh lebih baik kalau kita pergi bersama Kurumi-chan.'

Entah kenapa, sepertinya Kaede-san sangat menyukai sosok Kuruto saat sedang berpakaian perempuan.

"Tidak, tidak perlu. Lagipula... apakah Kaede-san menyukai sesama perempuan?"

Di pemukiman dunia ini, hubungan sesama jenis dilarang demi manajemen populasi, tapi aku tahu ada orang-orang yang memiliki pemikiran seperti itu.

Kupikir Kaede-san juga begitu, tapi—

"Aku normal kok, aku suka laki-laki."

"Lalu, apa alasanmu menyukai Kurumi-chan?"

"Bukankah melihat anak laki-laki imut berpakaian perempuan itu sangat bagus? Inilah yang disebut budaya permukaan."

Mendengar itu, aku benar-benar tidak paham maksudnya.

Tapi aku pernah dengar kalau Kuruto versi perempuan punya perkumpulan penggemar, di mana Lise-san menjabat sebagai ketua dan Yurishia-san sebagai anggota kehormatan, jadi mungkin pemikiran seperti itu memang normal di dunia sana.

"Anu, Misuzu-sama, kalau dari sekarang pun—"

"Tidak, maaf ya Kaede-san, tapi aku berniat mengambil jalan yang berbeda dengan Kuruto."

Kuruto harus melakukan perjalanan untuk mencari teman-temannya.

Kalau begitu, aku ingin mengambil jalan berbeda agar bisa mencari asal-usulku sendiri.

—Dan ada satu alasan lagi.

"Aku ingin mencari asal-usulku sendiri. Tapi, aku belum ingin Yurishia-san dan Lise-san mengetahuinya."

Isi hati Kuruto yang sebenarnya, yang tidak diketahui oleh Yurishia-san maupun Lise-san, dan hanya aku yang tahu.

Kuruto pasti sudah lupa kalau dia pernah membicarakan hal itu kepadaku.

Lalu, aku juga sempat menguping pembicaraannya dengan Bandana-san mengenai petunjuk untuk mengetahui asal-usul tersebut.

Jika aku mengatakannya kepada Kuruto, dia pasti akan memprioritaskan mencari teman-temannya dan mengesampingkan urusannya sendiri.

Kalau begitu, akulah yang akan menyelidikinya sebagai ganti dirinya.

Tentang penyebab gejala yang disebut sebagai penyakit endemik penduduk Desa Haste.

[×] Ini adalah kisah perjalananku yang tanpa ingatan demi mencari asal-usulku.  

[○] Ini adalah kisah perjalananku yang tanpa ingatan demi mencari asal-usul diriku dan sahabat berhargaku.

Inilah wujud balas budi terbaikku dariku untuknya, sosok yang telah mengajarkanku cara untuk hidup.


Interlude 3

Presiden Bank, Kirschel

"Aku ingin resign dari pekerjaan ini."

Aku—Kirschel—bergumam sambil memegangi kepala.

Sampai beberapa waktu lalu, aku hanyalah resepsionis biasa di Hello-Hello Workstation, tapi sekarang aku malah menjadi presiden bank yang mengelola uang paling banyak di negeri ini.

"Haaah... Aku ingin jadi resepsionis lagi... Padahal bagiku, menjadi resepsionis cantik di Hello-Hello Workstation adalah pekerjaan impian."

Semuanya bermula pada hari itu, hari ketika aku ditunjuk sebagai penanggung jawab Kuruto-kun di Samaera.

Yurishia-san yang merupakan petualang langsung di bawah naungan keluarga kerajaan, dan Mimiko-sama sang Penyihir Istana Ketiga mulai memperhatikanku, hingga tanpa sadar aku diangkat menjadi kepala cabang Hello-Hello Workstation yang baru didirikan di Valha.

Di sana, aku diberi tugas yang buruk bagi kesehatan jantung, yaitu mengelola uang Kuruto-kun.

Karena jumlahnya menjadi terlalu besar, sebuah bank pun didirikan dengan uang tersebut sebagai modalnya.

Kupikir aku akhirnya akan terbebas dari tugas mengelola uang dalam jumlah besar ini, tapi nyatanya, kali ini aku malah terpilih menjadi presiden bank tersebut.

Aku sama sekali tidak punya hak untuk menolak.

"Ugh... Lambungku sakit... Rasanya mual."

Sebenarnya tadi sakit lambungku memang parah, tapi begitu minum obat persediaan yang ada di ruang presiden (obat buatan tangan Kuruto-kun), sakitnya langsung sembuh seketika.

Jadi, ini cuma suasana hatiku saja yang merasa sakit lambung, aslinya sih tidak sakit sama sekali.

Alasan kenapa aku merasa sakit lambung adalah karena setelah ini aku harus melayani seorang Viscount yang mengajukan pinjaman.

Seharusnya, yang mendengarkan konsultasi pinjaman bukanlah aku melainkan staf ahli, tapi entah kenapa—benar-benar entah kenapa—jika lawannya adalah bangsawan, akulah yang harus maju menghadapinya.

Benar-benar nasib yang malang.

Apalagi, permohonan pinjaman dari para bangsawan itu sangatlah banyak.

Awalnya bagiku, bangsawan adalah sosok yang berada di atas awan dan kubayangkan mereka semua kaya raya, tapi kenyataannya, sekitar tiga puluh persen bangsawan sepertinya sedang kesulitan uang.

"Presiden, Viscount Kanenai sudah datang."

Rob-san, mantan rentenir yang kini menjadi asistenku, datang ke ruang presiden dan menyampaikan hal itu padaku.

Waktu perjanjian sudah lewat, tapi karena bangsawan jarang sekali bergerak tepat waktu, ini justru bisa dibilang sesuai jadwal.

Aku pun berpindah ke ruang layanan VIP.

"Cepat, keluarkan uangnya!"

Begitu Viscount Kanenai masuk ke ruangan bersama para pengikutnya, itulah kata-kata yang langsung diucapkannya.

"Seharusnya kau yang rakyat jelata mendatangi tempatku, tapi aku yang seorang bangsawan malah sudi datang sendiri ke sini. Jangan lambat begitu."

"Pertama-tama, kami butuh melakukan pemeriksaan. Mohon serahkan formulir pengajuan pinjaman, laporan keuangan, neraca saldo, rincian penggunaan dana, rencana bisnis, dan tabel arus kas."

"Apa katamu! Kau yang rakyat jelata berani memeriksaku?!"

"Benar. Ini adalah prosedur yang kami lakukan kepada semua orang. Jika Anda tidak menyiapkan dokumen yang diperlukan, maka permohonan pinjaman kali ini terpaksa kami tolak."

"Tunggu—hei!"

Begitu Viscount Kanenai memberi perintah, salah satu pengikutnya meletakkan tumpukan dokumen yang ditulis di atas perkamen ke atas meja.

Kalau memang tidak punya uang, pakai saja kertas tumbuhan yang murah—perkamen itu memakan tempat, jadi malah merepotkan, tahu.

Sambil membatin begitu, aku menerima dokumen tersebut dengan senyuman.

Aku memeriksa dokumennya... Yang menulis ini pasti para pengikutnya.

Formatnya memang rapi, tapi—

"Laporan ini tidak bisa lolos pemeriksaan."

"Apa katamu?!"

"Pertama, saya sudah melihat rencana bisnisnya. Mengenai pendapatan dalam rencana ini, perhitungan pendapatan pajak wilayah Viscount Kanenai tidak dihitung berdasarkan nilai rata-rata lima tahun, melainkan hanya berdasarkan pendapatan pajak tahun lalu."

"Mau rata-rata atau hasil tahun lalu, bukankah sama saja!"

"Tidak, sama sekali berbeda. Tahun lalu, sebagai hasil dari pajak yang berat, pendapatan pajak memang meningkat, tapi akibatnya muncul korban kelaparan dan banyak petani yang meninggalkan desa untuk pindah ke wilayah lain. Dalam situasi seperti itu, tidak mungkin pendapatan pajak tahun ini akan sama dengan tahun lalu. Terlebih lagi, laporan keuangan tahun berjalan yang terbaru ini—ada pemalsuan di dalamnya."

"Kau berani menghina keluarga kami?!"

"Tidak, saya bicara begini karena buktinya ada di sini."

Aku mengatakan itu sambil menyerahkan dokumen hasil investigasi kepada Viscount Kanenai.

Normalnya, investigasi seperti ini dilakukan setelah menerima formulir pengajuan pinjaman, tapi karena aku sudah yakin dia pasti akan langsung menuntut uang, aku sudah menyelidikinya terlebih dahulu.

Viscount Kanenai tampak tidak bisa memahami apa yang tertulis di dokumen itu meski sudah melihatnya, lalu menyerahkannya kepada sang pengikut.

Seketika itu juga, wajah sang pengikut langsung pucat pasi.

Mungkin saja sang Viscount benar-benar tidak tahu soal pemalsuan laporan keuangan tersebut, dan pengikut itulah yang melakukannya atas inisiatif sendiri.

Aku ragu Viscount ini punya pengetahuan untuk membuat laporan keuangan yang sekilas terlihat benar.

Lalu, sang pengikut membisikkan sesuatu ke telinga sang Viscount.

Seketika, wajah sang Viscount memerah padam—

"Sudahlah, cepat keluarkan uangnya! Apa kau pikir bisa selamat setelah menjadikan keluarga Viscount Kanenai sebagai musuhmu?"

"Mau selamat atau tidak, saya hanyalah presiden sewaan di sini. Namun, jika Anda berniat menjadikan bank ini sebagai musuh, mohon jangan lupa bahwa setidaknya Anda juga akan berhadapan dengan Penyihir Istana Ketiga Mimiko-sama, Atelier Meister Ophilia-sama dan Rikuto-sama, serta Marquess Tycoon yang memberikan dukungan besar bagi bank kami."

Poin pentingnya adalah, aku hanyalah presiden sewaan.

Orang yang bisa menggantikanku itu ada banyak, jadi tidak ada gunanya mencelakaiku.

Tolong, jangan bunuh aku.

Sambil memendam perasaan itu, aku bicara dengan nada bicara yang tegas.

"……Apa tidak bisa diusahakan?"

Sepertinya dia benar-benar tidak ingin mencari masalah dengan Marquess maupun Penyihir Istana, karena kini Viscount Kanenai bicara dengan suara yang tertahan.

"Mengenai batu rubi milik Viscount Kanenai yang bernama 'Darah Minotaur', bukan? Jika Anda bersedia menjadikannya sebagai jaminan, kami bisa mencairkan pinjaman sesuai jumlah yang Anda inginkan."

"Itu adalah pusaka keluarga kami! Mana mungkin aku menjualnya—"

"Bukan menjualnya. Kami akan mengembalikannya setelah Anda melunasi pinjaman sesuai rencana pembayaran. Jika Anda membutuhkannya untuk pesta atau acara lainnya, Anda bisa meminjamnya dari bank kami, dan percakapan di sini tidak akan bocor ke luar."

"……Akan aku bawa pulang dan kupikirkan dulu."

Setelah mengatakan itu, Viscount Kanenai pun pergi.

Aku yang tertinggal di ruangan itu langsung menyandarkan tubuh ke meja.

"Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini—"

Lalu, Rob-san yang sedari tadi menunggu di pojok ruangan angkat bicara.

"Wah, wah, kau tadi keren sekali, Presiden. Hebat juga kau bisa membentak bangsawan dengan seberani itu. Apa kau tidak merasa takut?"

"Tentu saja aku takut. Tapi, aku jauh lebih takut jika harus menyerah dan menyetujui pinjaman tanpa prospek pelunasan yang jelas hingga merugikan bank. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Mimiko-sama nanti."

"Begitu ya?"

"Memang begitu. Ah, benar juga, Rob-san. Gunakan orang-orangmu untuk mengawasi pergerakan Viscount Kanenai. Dia pasti akan mencoba membuat replika 'Darah Minotaur' untuk mengelabui kita."

"Begitu, ya. Jadi aku tinggal mencegahnya?"

"Kebalikannya. Kalau kau tahu dia mencoba menggunakan replika, sarankan dia secara diam-diam untuk menggunakan jasa pengrajin permata Maruna. Toko itu adalah salah satu debitur kami. Teknik mereka kelas satu tapi mereka tidak punya insting bisnis. Sekalian saja biarkan mereka berbisnis dengan bangsawan agar bisa meraup untung besar. Saat ini, kita bisa memeras mereka hingga tiga kali lipat dari harga pasar."

"Kau memang benar-benar berbakat di pekerjaan ini."

Rob-san meninggalkan ruangan setelah mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan itu.

Mana mungkin aku berbakat jadi presiden bank padahal lambungku terus-terusan perih (rasanya begitu).

Kalau sudah begini, aku akan menyerahkan surat pengunduran diri!

Aku akan segera menulis surat resign dan menyerahkannya!

Dengan semangat membara, aku menuju ke ruang presiden.

Namun—

"Presiden, mengenai pinjaman untuk Kamar Dagang Daisangen—"

"Aku sudah melihat rencana pengurangan pegawai Kamar Dagang Daisangen. Untuk tempat penyaluran pegawainya, tolong rekomendasikan Kamar Dagang Ukeeire. Mereka bukan kompetitor Daisangen dan sedang mencari tenaga siap pakai untuk memperluas jalur pemasaran. Mereka pasti akan menerimanya."

"Presiden, dari Restoran Iiyan—"

"Tempat itu harusnya ke pemasok—"

"Presiden—"

"Mengenai hal itu—"

Di tengah jalan, aku dihujani pertanyaan oleh para staf bank. Rencana untuk segera sampai di ruang presiden malah memakan waktu yang cukup lama.

Meski begitu, aku akhirnya sampai di depan ruangan. Baiklah, sekarang saatnya menulis surat resign—begitu aku membuka pintu...

"Mimiko-sama?!"

"Yoo, Kirschel-chan."

Di sana sudah ada Penyihir Istana peringkat ketiga, Mimiko-sama.

Kenapa Mimiko-sama ada di sini?!

Jangan-jangan, dia menyadari kalau aku ingin berhenti dan datang untuk membujukku?

Tidak bisa. Saat ini tekadku sudah sekeras Orichalcum.

Malah, aku akan menulis surat resign di depannya dan membantingnya ke meja.

"Mimiko-sama, anu—"

"Kirschel-chan, sepertinya kau bekerja keras, ya. Aku sudah dengar ceritanya."

"Tidak, saya sebenarnya—"

"Untuk Kirschel-chan yang rajin, aku membawakan hadiah untukmu."

Tanpa mendengarkan ucapanku, Mimiko-sama menyerahkan sebuah kotak kayu yang terlihat mahal.

Instingku berteriak bahwa kotak ini berbahaya jika diterima.

"Mimiko-sama, tolong dengarkan perkataan saya dulu—"

"Aku akan mendengarkanmu setelah kau menerima kotak ini dan melihat isinya."

Mimiko-sama bicara dengan senyum yang berseri-seri.

Aku tidak bisa menolaknya.

Aku menerima kotak itu dan melihat ke dalamnya.

Di dalamnya terdapat sebuah bros berbentuk perisai dan sebilah belati.

Benda itu sangat indah, tapi—rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat.

"Anu, Mimiko-sama, ini—"

"Itu adalah bukti silsilah keluarga Count."

"Keluarga Count? Milik Mimiko-sama?"

"Bukan, itu bukan milikku."

Tentu saja begitu, ya.

Penyihir Istana memang memiliki kedudukan dan kekuasaan setara Count, tapi bukan berarti mereka memiliki gelar Count itu sendiri.

Lalu, ini sebenarnya milik siapa—

"Sudah sejak lama ini menjadi masalah. 'Apa pantas petinggi bank yang meminjamkan uang kepada bangsawan adalah rakyat jelata?', 'Bukankah ini akan membalikkan posisi antara bangsawan dan rakyat jelata?' begitu katanya."

Aku mengangguk mendengar penjelasan Mimiko-sama.

"Itu masalah besar! Karena itu, sebaiknya presidennya diganti saja oleh seorang bangsawan, bukan saya—"

"Begitu aku menyampaikannya, Yang Mulia Raja pun bicara. Kalau begitu, buat saja presiden banknya menjadi seorang bangsawan."

"……Eh?"

"Makanya, Kirschel-chan! Mulai hari ini, kau adalah seorang Countess! Kau belum punya nama keluarga, kan? Coba pikirkan nanti, ya!"

"Tu-tunggu sebentar! Saya jadi bangsawan?! Apalagi gelar Count?"

"Iya, dan ini bukan cuma gelar kehormatan, tapi gelar Count sungguhan yang bisa diwariskan. Selamat ya, Kirschel-chan! Wah, kau benar-benar sukses besar!"

Mimiko-sama menggodaku dengan riang.

"Rakyat jelata sepertiku mendadak jadi bangsawan, aku hanya bisa mencium bau-bau masalah besar di sini."

"Benar juga ya, bangsawan itu memang punya harga diri yang kelewat tinggi jika dibanding rakyat jelata."

"Benar. Salah sedikit, aku bisa dibunuh—"

"Tapi, bagi bangsawan, uang itu jauh lebih penting. Menjadikan Kirschel-chan sebagai musuh itu sama saja dengan memusuhi ekonomi negara ini, jadi tenang saja. Aku juga akan menempatkan Phantom sebagai pengawalmu."

Situasi di mana aku harus dikawal oleh Phantom itu sendiri sudah membuktikan kalau ini berbahaya, kan?

Padahal dulu aku cuma seorang resepsionis.

Kenapa sekarang aku berada di posisi seperti tokoh penting negara begini?

"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi kalau aku menolaknya?"

"Kau mau menolaknya?"

"Jika memungkinkan—"

"Gelar ini diberikan langsung oleh Yang Mulia Raja, lho. Jika kau menolaknya, itu akan dianggap sebagai penghinaan terhadap sistem kebangsawanan, atau mungkin penghinaan terhadap Raja? Paling parah bisa dianggap pengkhianatan negara. Hukuman mati? Tapi, karena kita sudah akrab—"

"Apa Mimiko-sama mau membantu menolaknya untukku?!"

"Anggap saja aku tidak mendengar ucapanmu tadi."

Mimiko-sama mengatakannya dengan senyum terbaiknya hari ini.

Artinya, aku tidak boleh menolak.

"Nah, karena Kirschel-chan sudah menepati janji untuk melihat isi kotaknya, sekarang aku akan mendengarkan perkataanmu. Ada apa?"

"……Mimiko-sama, apa boleh saya minta tolong diberikan sedikit minuman keras yang enak?"

Aku memohon sambil meneteskan air mata.

"Tentu saja boleh. Kalau anggur buatan Kuruto-kun, karena peredarannya di pasar sedang dibatasi, stoknya jadi menumpuk. Aku akan kirim satu tong penuh ke rumahmu, ya. Anggur itu tidak akan membuatmu mabuk berat, jadi kurasa cocok untukmu."

Satu tong anggur buatan Kuruto-kun—kalau dijual di pasar, nilainya pasti berpuluh-puluh kali lipat dari jumlah pinjaman yang diminta Viscount tadi—tapi itu sudah tidak penting lagi.

Toh, anggur itu juga tidak bisa diedarkan ke pasar. Hari ini, aku akan melampiaskan rasa frustrasiku dengan meminum alkohol mahal sepuasnya.



Previous Chapter | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close