Epilog
Mengenai kapal yang masih bersandar di Nasagaki, kami
memutuskan untuk menyerahkannya kepada para ninja untuk diambil kembali, lalu
kami pun pulang ke Desa Haste.
Meskipun perjalanan menuju Desa Ninja di Shangri-La
memakan waktu yang sangat lama, perjalanan pulang terasa sekejap mata berkat
kemampuan transfer Akuri yang memanfaatkan garis bumi milik Nietzsche-sama.
Sesaat setelah tiba, Bandana-san langsung kembali ke
Menara Penyihir.
Meski menara itu tetap beroperasi tanpa ada siapa pun
di dalamnya, sepertinya membiarkannya kosong terlalu lama tetap bukan ide yang
bagus.
"Hei, Kak! Jangan habiskan makanan awetan buatan Kuruto
sendirian!"
"Biarkan saja, stoknya masih banyak begini."
"Nanti aku yang dikira terlalu banyak makan,
tahu!"
Terdengar suara Kans-san dan Sina-san dari dalam
bengkel.
Syukurlah, ternyata mereka sudah pulang lebih dulu.
Saat kami berjalan menuju pintu masuk bengkel, hanya
Danzo-san yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Kami menoleh ke arahnya.
Namun, tak ada satu pun dari kami yang memanggilnya.
Tanpa perlu dikatakan pun, jika itu Danzo-san, dia pasti
tahu apa yang ingin dia lakukan dan apa yang harus dia perbuat.
Danzo-san mendongak, lalu melangkahkan kakinya ke depan.
Dia melewati kami semua, lalu membuka pintu depan
bengkel.
"Danzo!" seru mereka berdua serempak.
Kans-san segera menghampirinya.
Sina-san berlari dan langsung memeluk Danzo-san
erat-erat.
"Kans, Sina. Maafkan saya karena telah pergi tanpa
pamit," ucap Danzo-san.
"Sudahlah, itu tidak penting lagi. Aku benar-benar
bahagia karena Danzo sudah pulang."
Sina-san menangis di pelukan Danzo-san saking bahagianya.
"Selamat datang kembali, Danzo. Jadi, apakah tugasmu
sudah selesai?"
Kans-san bertanya sambil tersenyum ramah.
"Benar. Saya secara resmi telah ditugaskan oleh Desa
Ninja untuk menjadi pengawal bengkel ini dan juga Tuan Kuruto."
"Pengawal Kuruto? Kenapa bisa jadi begitu?"
"Sepertinya, dulu sekali Desa Ninja pernah berutang
budi kepada penduduk Desa Haste."
Ternyata memang begitu kenyataannya.
Soalnya saat aku terbangun, Hiiragi-san dan para ninja
lainnya mendadak menggunakan bahasa formal kepadaku.
Padahal aku bukan orang hebat, tapi dihormati seperti itu
malah membuatku merasa malu.
Tapi, ada hal baik yang kupelajari dari kejadian kali
ini.
Yaitu tentang para Pohon Wajah Manusia.
Kini kami tahu bahwa Pohon Wajah Manusia bisa menyerap
miasma—atau Evil Element di Dunia Lama.
Artinya, mereka bisa mengurangi konsentrasi zat
berbahaya tersebut.
Memang mustahil jika harus memurnikan miasma di seluruh
dunia sekaligus.
Namun, jika mereka ditanam di sepanjang jalan raya, aku
yakin manusia akan bisa berjalan di sana tanpa perlu menggunakan masker
penyerap Evil Element lagi.
Tentu saja, jika aku asal menanam mereka, penduduk Dunia
Lama pasti akan marah, jadi untuk sementara aku meminta para Pohon Wajah
Manusia untuk menunggu di sekitar Menara Penyihir.
Begitu aku mendapat izin dari kepala pemukiman, aku
berencana memindahkan mereka ke sepanjang jalan raya.
Untuk saat ini, aku akan meminta izin kepada Diner-san,
kepala Pemukiman No.257, dan Harrel-san, kepala Pemukiman No.536, agar
pohon-pohon itu bisa ditempatkan di jalan yang menghubungkan kedua pemukiman
tersebut.
Lalu, hal yang baru kuketahui adalah ternyata Pohon Wajah
Manusia berbunga empat kali dalam setahun dan menghasilkan berbagai macam
buah-buahan.
Pohon-pohon itu berjanji akan memberikan buah mereka
kepada manusia, dengan syarat manusia mau membantu menanam benih mereka di
sepanjang jalan.
Yurishia-san dan Lise-san sempat heran, mereka bertanya
apa pohon-pohon itu tidak keberatan jika buah mereka dimakan.
Padahal alasan buah terasa lezat itu agar dimakan oleh
burung atau hewan lain, sehingga bijinya bisa terbawa ke tempat yang jauh.
Sebaliknya, pohon-pohon itu justru senang karena biji
mereka bisa diantarkan ke tempat yang tepat tanpa mereka harus berjalan
sendiri.
Aku memang bukan petani jadi tidak bisa berbicara dengan
mereka, tapi setidaknya aku bisa memahami perasaan mereka.
Lagi pula, jika aku mendapat surat rekomendasi dari
Diner-san dan Harrel-san, gelarku bukan lagi sekadar pedagang keliling,
melainkan pengelana yang membawa teknologi baru berupa benih Pohon Wajah
Manusia.
Kalau hanya mengaku sebagai pedagang keliling, aku harus
meluangkan waktu untuk berjualan di pemukiman agar tidak dicurigai, dan itu
membuatku sulit fokus mencari teman-temanku.
Tanpa kusadari, Lise-san sudah tersenyum di sampingku.
"Setelah istirahat sejenak, kita akan melanjutkan
perjalanan ke Dunia Lama lagi. Kuruto-sama, mari kita manfaatkan hari ini untuk
saling memulihkan lelah perjalanan kita berdua."
"Eh, maaf, Lise-san. Sebelum beristirahat, aku harus
melakukan pekerjaanku sebagai Wakil Atelier Meister. Ini adalah tugas
penting yang dipercayakan oleh Tuan Rikuto!"
Lagipula, aku sudah terlalu sering meninggalkan bengkel.
Bukan cuma soal teknis, aku juga harus melakukan tugas
sebagai pesuruh bengkel.
Alasan Tuan Rikuto mengakuiku sebagai Wakil Atelier
Meister adalah karena dia menghargai kerja kerasku sebagai pesuruh.
Baiklah, aku akan berjuang!
"Memang benar-benar Kuruto-sama! Kalau
begitu, izinkan saya membantu Anda!"
"Terima kasih. Mari kita berjuang
bersama-sama."
Pertama-tama, mungkin sebaiknya aku membuat makanan
awetan lagi seperti yang dikatakan Kans-san tadi?
Katanya kan 'perut lapar tidak bisa diajak
berperang'.
"Ah, Kuruto. Maaf kalau aku harus merusak suasana
semangatmu ini, tapi—"
"Apa sih, Yuri-san. Kalau sudah tahu bakal merusak
suasana, tidak perlu bicara yang aneh-aneh."
Lise-san memeluk lenganku sambil menyela ucapan Yurishia-san.
"Aku sih tidak masalah, tapi apa kau yakin, Lise?"
"Yakin soal apa?"
"Tadi para Phantom pergi dengan terburu-buru untuk
menjemput Mimiko. Bukankah dia akan melakukan apa pun untuk menghalangimu pergi
ke Dunia Lama? Jika dia sudah serius, aku pun tidak bisa menghentikannya."
"Aku juga sepertinya tidak bisa menghentikan Kak
Mimiko," tambah Akuri.
Yurishia-san dan Akuri berkata demikian.
Jika Mimiko-san kembali, sudah pasti Lise-san akan
disuruh menjaga rumah.
Terakhir kali Mimiko-san benar-benar marah besar,
sih.
Memang sulit untuk membuang status sebagai seorang
putri begitu saja.
"Hah?! Itu tidak boleh terjadi! Kuruto-sama,
ayo cepat kita berangkat ke Dunia Lama!"
"Eh? Tapi pekerjaanku—"
"Tidak apa-apa. Kalau tidak salah, Tuan Rikuto akan
pulang besok! Katanya beliau yang akan mengerjakan semua tugasnya."
Eh? Tuan Rikuto akan pulang?
Kapan Lise-san mengetahuinya?
Padahal sejak pulang tadi kami terus bersama.
Kalau diingat-ingat, Tuan Rikuto pernah bilang kalau dia
adalah anak selir raja, berarti dia adalah kakak tiri Lise-san, kan?
Apa mungkin karena hubungan itu?
Jika aku menikah dengan Lise-san, apakah itu berarti Tuan
Rikuto akan menjadi kakak iparku?
Kalau benar begitu, aku merasa sedikit senang.
Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi sejak pertama
kali bertemu Tuan Rikuto, entah kenapa aku merasa dia bukan orang asing bagiku.
"(Woi! Rikuto itu kan kau sendiri!)"
"(Tenang saja. Selama aku pergi, Guru Ophilia dan
Mimiko akan mengurus sisanya.)"
"(...Kau bakal dimarahi Mimiko lagi, lho.)"
"(Kalau begitu, mari kita dimarahi
bersama-sama.)"
Yurishia-san dan Lise-san sedang membicarakan sesuatu,
tapi seperti biasa, suara bisikan mereka tidak terdengar jelas.
Lagipula, jika Tuan Rikuto akan pulang, aku harus
menyiapkan hidangan istimewa—
"Ayo, Kuruto-sama! Mari kita berangkat! Saya tahu Kuruto-sama
pasti sedang memikirkan persiapan makan untuk Tuan Rikuto, tapi urusan makanan
sudah diatur untuk dipesan dari kedai minum, jadi semua akan baik-baik
saja!"
"Begitu ya? Luar biasa Lise-san sudah menyiapkan
sampai sejauh itu! Padahal sejak pulang, aku baru sempat membersihkan bengkel
saja."
"Eh? Membersihkan bengkel?!"
"Pantas saja, sepertinya seluruh bengkel ini jadi
lebih berkilau dari sebelumnya—kapan kau melakukannya?!"
Sina-san dan Kans-san berpura-pura terkejut secara
berlebihan.
Duh, padahal aku membersihkannya tepat di depan mata
mereka semua, masih saja bilang 'kapan melakukannya'.
Aku pun berbalik menghadap Danzo-san, Kans-san, dan Sina-san.
"Kalau begitu, aku berangkat! Jika ada waktu
luang, aku akan kembali untuk memasak. Jika Tuan Rikuto sudah datang, tolong
sampaikan permohonan maafku karena telah meninggalkan bengkel."
Aku membungkukkan badan untuk meminta tolong.
"Ya, pergilah."
"Semangat ya, Kuruto."
Kans-san dan Sina-san melepas kepergianku dengan senyum,
dan kemudian—
"Urusan menjaga rumah, serahkan saja pada
saya."
Danzo-san
menatap kami dan berucap dengan lantang.
Rasanya sangat menenangkan mengetahui ada orang-orang
yang bisa diandalkan untuk menjaga bengkel tetap tinggal di sini.
Karena itu, aku pun membalas mereka dengan senyuman
lebar.
"Iya, aku berangkat!"
◆◇◆
"Kira-kira, apa yang sedang dilakukan Kuruto
sekarang, ya?"
Aku—Mire—sedang berjalan melintasi negeri yang asing bagi
keduaku bersama Hiiragi-san dan Kaede-san.
Hiiragi-san memutuskan untuk pensiun dari jabatannya
sebagai pemimpin ninja dan menyerahkannya kepada penerusnya, agar dia bisa
menemaniku menjelajahi Dunia Lama.
"Kakak, meski disebut Dunia Lama, ternyata tidak
jauh berbeda dengan dunia kita, ya."
"Kecuali udaranya yang sedikit lebih dingin dan
tanamannya yang lebih sedikit. Tapi, jangan lengah."
Ya, aku pun baru menyadarinya setelah pergi ke dunia
sana, ternyata dunia yang ini memang sedikit lebih dingin.
"Ngomong-ngomong, teknik ninja yang kalian gunakan
itu di dunia ini disebut Skill. Sebenarnya siapa yang mengajarkannya
kepada kalian? Apa itu rahasia?"
"Tidak, jika itu Misuzu-sama sang penerus Kaisar,
maka tidak masalah. Dalam legenda kami tercatat bahwa teknik ninja kami berasal
dari penuturan seorang misionaris asing, jauh sebelum kami bertemu orang-orang
Desa Hasu."
"Misionaris asing?"
"Benar. Namun, karena itu adalah kisah dari masa
yang sangat lampau, tidak ada informasi lebih lanjut yang diketahui. Meski
begitu, ternyata di dunia ini sudah ada teknik yang serupa dengan ninja kami
sejak lama sekali, ya."
"Iya. Di sini pun tidak ada informasi yang pasti,
tapi sepertinya sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tepatnya sekitar waktu
pemukiman-pemukiman mulai dibangun... Ada apa?"
"Klan kami dari Negeri Yamato dikatakan berpindah
tempat demi mencari Negeri Matahari Terbit di masa lalu... Namun kenyataannya,
tidak diketahui sama sekali dari negara mana kami berasal. Bisa dibilang, kami
adalah orang-orang yang tiba-tiba muncul dalam sejarah. Terlebih lagi, muncul
bersama seluruh pulau kami."
"Bersama seluruh pulau?!"
Karena tidak paham maksudnya, aku tanpa sadar membeo.
"Benar. Ada catatan yang menyebutkan bahwa di masa
lampau, lokasi tempat Negeri Yamato berada dulunya hanyalah lautan luas. Dan
konon, dulu seluruh penduduk Negeri Yamato memiliki teknik ninja. Namun, karena
tempat penambangan batu baru yang diperlukan untuk teknik ninja tidak
ditemukan, teknik itu perlahan-lahan mulai punah."
"Lalu, bagaimana dengan teknik ninja kalian?"
"Di tanah tempat Desa Ninja kami berada, terdapat
batu yang diperlukan untuk mengaktifkan teknik ninja. Kemungkinan itu adalah
pengaruh dari adanya alat yang mengumpulkan miasma."
"Alat pengumpul miasma? Apa sudah ada sejak
dulu?"
"Begitulah katanya. Akibat tinggal di tanah dengan
miasma yang pekat, usia harapan hidup para ninja konon hanya sekitar tiga puluh
tahun. Namun hal itu membaik setelah penduduk Desa Hasu memasang Barrier
untuk kami."
Miasma—atau Evil Element—memang menggerogoti
tubuh.
Masker penyerap Evil Element memang mencegah zat
itu masuk ke dalam tubuh, tapi itu hanya sebatas menyerapnya saja.
Berbeda dengan kalung pencegah Evil Element yang
kudapatkan dari Kuruto, masker tidak bisa mencegah masuknya zat itu secara
total.
Oleh karena itu, konon usia harapan hidup para Hunter
jauh lebih pendek dibanding orang biasa.
Jika rencana peredaman Evil Element di jalan raya
menggunakan Pohon Wajah Manusia berjalan lancar, mungkin usia para Hunter juga
bisa sedikit lebih panjang.
Mungkin leluhurku lahir di dunia sana, tapi bagiku, dunia
inilah duniaku yang sebenarnya.
Jika dunia ini bisa menjadi tempat yang sedikit lebih
nyaman untuk ditinggali, aku rasa itu adalah hal yang sangat membahagiakan.
Semua ini berkat pertemuanku dengan Kuruto.
"............"
Aku menengadah menatap langit.
"Apakah tidak apa-apa?" tanya Kaede-san.
"Apanya?"
"Sebenarnya Anda ingin bepergian bersama
Kurumi-cha... maksud saya, Tuan Kuruto, kan? Jika Misuzu-sama menginginkannya,
saya bisa menyampaikan pesan melalui Nietzsche-sama agar kita bisa bergabung
dengan mereka. Pasti lebih menyenangkan jika ada banyak orang."
Aku merasa bisa mendengar suara hati Kaede-san yang
berkata, 'Akan jauh lebih baik kalau kita pergi bersama Kurumi-chan.'
Entah kenapa, sepertinya Kaede-san sangat menyukai sosok Kuruto
saat sedang berpakaian perempuan.
"Tidak, tidak perlu. Lagipula... apakah Kaede-san
menyukai sesama perempuan?"
Di pemukiman dunia ini, hubungan sesama jenis dilarang
demi manajemen populasi, tapi aku tahu ada orang-orang yang memiliki pemikiran
seperti itu.
Kupikir Kaede-san juga begitu, tapi—
"Aku normal kok, aku suka laki-laki."
"Lalu, apa alasanmu menyukai Kurumi-chan?"
"Bukankah melihat anak laki-laki imut berpakaian
perempuan itu sangat bagus? Inilah yang disebut budaya permukaan."
Mendengar itu, aku benar-benar tidak paham maksudnya.
Tapi aku pernah dengar kalau Kuruto versi perempuan punya
perkumpulan penggemar, di mana Lise-san menjabat sebagai ketua dan Yurishia-san
sebagai anggota kehormatan, jadi mungkin pemikiran seperti itu memang normal di
dunia sana.
"Anu, Misuzu-sama, kalau dari sekarang pun—"
"Tidak, maaf ya Kaede-san, tapi aku berniat
mengambil jalan yang berbeda dengan Kuruto."
Kuruto harus melakukan perjalanan untuk mencari
teman-temannya.
Kalau begitu, aku ingin mengambil jalan berbeda agar bisa
mencari asal-usulku sendiri.
—Dan ada satu alasan lagi.
"Aku ingin mencari asal-usulku sendiri. Tapi, aku
belum ingin Yurishia-san dan Lise-san mengetahuinya."
Isi hati Kuruto yang sebenarnya, yang tidak diketahui
oleh Yurishia-san maupun Lise-san, dan hanya aku yang tahu.
Kuruto pasti sudah lupa kalau dia pernah membicarakan hal
itu kepadaku.
Lalu, aku juga sempat menguping pembicaraannya dengan
Bandana-san mengenai petunjuk untuk mengetahui asal-usul tersebut.
Jika aku mengatakannya kepada Kuruto, dia pasti akan
memprioritaskan mencari teman-temannya dan mengesampingkan urusannya sendiri.
Kalau begitu, akulah yang akan menyelidikinya sebagai
ganti dirinya.
Tentang penyebab gejala yang disebut sebagai penyakit
endemik penduduk Desa Haste.
[×] Ini adalah kisah perjalananku yang tanpa ingatan demi
mencari asal-usulku.
[○] Ini adalah kisah perjalananku yang tanpa ingatan demi
mencari asal-usul diriku dan sahabat berhargaku.
Inilah wujud balas budi terbaikku dariku untuknya, sosok
yang telah mengajarkanku cara untuk hidup.
Interlude 3
Presiden
Bank, Kirschel
"Aku ingin resign dari pekerjaan ini."
Aku—Kirschel—bergumam sambil memegangi kepala.
Sampai beberapa waktu lalu, aku hanyalah resepsionis
biasa di Hello-Hello Workstation, tapi sekarang aku malah menjadi presiden bank
yang mengelola uang paling banyak di negeri ini.
"Haaah... Aku ingin jadi resepsionis lagi... Padahal
bagiku, menjadi resepsionis cantik di Hello-Hello Workstation adalah pekerjaan
impian."
Semuanya bermula pada hari itu, hari ketika aku ditunjuk
sebagai penanggung jawab Kuruto-kun di Samaera.
Yurishia-san yang merupakan petualang langsung di bawah
naungan keluarga kerajaan, dan Mimiko-sama sang Penyihir Istana Ketiga mulai
memperhatikanku, hingga tanpa sadar aku diangkat menjadi kepala cabang
Hello-Hello Workstation yang baru didirikan di Valha.
Di sana, aku diberi tugas yang buruk bagi kesehatan
jantung, yaitu mengelola uang Kuruto-kun.
Karena jumlahnya menjadi terlalu besar, sebuah bank pun
didirikan dengan uang tersebut sebagai modalnya.
Kupikir aku akhirnya akan terbebas dari tugas mengelola
uang dalam jumlah besar ini, tapi nyatanya, kali ini aku malah terpilih menjadi
presiden bank tersebut.
Aku sama sekali tidak punya hak untuk menolak.
"Ugh... Lambungku sakit... Rasanya mual."
Sebenarnya tadi sakit lambungku memang parah, tapi begitu
minum obat persediaan yang ada di ruang presiden (obat buatan tangan Kuruto-kun),
sakitnya langsung sembuh seketika.
Jadi, ini cuma suasana hatiku saja yang merasa sakit
lambung, aslinya sih tidak sakit sama sekali.
Alasan kenapa aku merasa sakit lambung adalah karena
setelah ini aku harus melayani seorang Viscount yang mengajukan
pinjaman.
Seharusnya, yang mendengarkan konsultasi pinjaman
bukanlah aku melainkan staf ahli, tapi entah kenapa—benar-benar entah
kenapa—jika lawannya adalah bangsawan, akulah yang harus maju menghadapinya.
Benar-benar nasib yang malang.
Apalagi, permohonan pinjaman dari para bangsawan itu
sangatlah banyak.
Awalnya bagiku, bangsawan adalah sosok yang berada di
atas awan dan kubayangkan mereka semua kaya raya, tapi kenyataannya, sekitar
tiga puluh persen bangsawan sepertinya sedang kesulitan uang.
"Presiden, Viscount Kanenai sudah
datang."
Rob-san, mantan rentenir yang kini menjadi asistenku,
datang ke ruang presiden dan menyampaikan hal itu padaku.
Waktu perjanjian sudah lewat, tapi karena bangsawan
jarang sekali bergerak tepat waktu, ini justru bisa dibilang sesuai jadwal.
Aku pun berpindah ke ruang layanan VIP.
"Cepat, keluarkan uangnya!"
Begitu Viscount Kanenai masuk ke ruangan
bersama para pengikutnya, itulah kata-kata yang langsung diucapkannya.
"Seharusnya kau yang rakyat jelata mendatangi
tempatku, tapi aku yang seorang bangsawan malah sudi datang sendiri ke sini.
Jangan lambat begitu."
"Pertama-tama, kami butuh melakukan pemeriksaan.
Mohon serahkan formulir pengajuan pinjaman, laporan keuangan, neraca saldo,
rincian penggunaan dana, rencana bisnis, dan tabel arus kas."
"Apa katamu! Kau yang rakyat jelata berani
memeriksaku?!"
"Benar. Ini adalah prosedur yang kami lakukan kepada
semua orang. Jika Anda tidak menyiapkan dokumen yang diperlukan, maka
permohonan pinjaman kali ini terpaksa kami tolak."
"Tunggu—hei!"
Begitu Viscount Kanenai memberi perintah, salah
satu pengikutnya meletakkan tumpukan dokumen yang ditulis di atas perkamen ke
atas meja.
Kalau memang tidak punya uang, pakai saja kertas tumbuhan
yang murah—perkamen itu memakan tempat, jadi malah merepotkan, tahu.
Sambil membatin begitu, aku menerima dokumen tersebut
dengan senyuman.
Aku memeriksa dokumennya... Yang menulis ini pasti
para pengikutnya.
Formatnya memang rapi, tapi—
"Laporan ini tidak bisa lolos pemeriksaan."
"Apa katamu?!"
"Pertama, saya sudah melihat rencana bisnisnya.
Mengenai pendapatan dalam rencana ini, perhitungan pendapatan pajak wilayah Viscount
Kanenai tidak dihitung berdasarkan nilai rata-rata lima tahun, melainkan hanya
berdasarkan pendapatan pajak tahun lalu."
"Mau rata-rata atau hasil tahun lalu, bukankah sama
saja!"
"Tidak, sama sekali berbeda. Tahun lalu, sebagai
hasil dari pajak yang berat, pendapatan pajak memang meningkat, tapi akibatnya
muncul korban kelaparan dan banyak petani yang meninggalkan desa untuk pindah
ke wilayah lain. Dalam situasi seperti itu, tidak mungkin pendapatan pajak
tahun ini akan sama dengan tahun lalu. Terlebih lagi, laporan keuangan tahun
berjalan yang terbaru ini—ada pemalsuan di dalamnya."
"Kau berani menghina keluarga kami?!"
"Tidak, saya bicara begini karena buktinya ada di
sini."
Aku mengatakan itu sambil menyerahkan dokumen hasil
investigasi kepada Viscount Kanenai.
Normalnya, investigasi seperti ini dilakukan setelah
menerima formulir pengajuan pinjaman, tapi karena aku sudah yakin dia pasti
akan langsung menuntut uang, aku sudah menyelidikinya terlebih dahulu.
Viscount Kanenai tampak tidak bisa memahami apa
yang tertulis di dokumen itu meski sudah melihatnya, lalu menyerahkannya kepada
sang pengikut.
Seketika itu juga, wajah sang pengikut langsung pucat
pasi.
Mungkin saja sang Viscount benar-benar tidak tahu
soal pemalsuan laporan keuangan tersebut, dan pengikut itulah yang melakukannya
atas inisiatif sendiri.
Aku ragu Viscount ini punya pengetahuan untuk
membuat laporan keuangan yang sekilas terlihat benar.
Lalu, sang pengikut membisikkan sesuatu ke telinga sang Viscount.
Seketika, wajah sang Viscount memerah padam—
"Sudahlah, cepat keluarkan uangnya! Apa kau pikir
bisa selamat setelah menjadikan keluarga Viscount Kanenai sebagai
musuhmu?"
"Mau selamat atau tidak, saya hanyalah presiden
sewaan di sini. Namun, jika Anda berniat menjadikan bank ini sebagai musuh,
mohon jangan lupa bahwa setidaknya Anda juga akan berhadapan dengan Penyihir
Istana Ketiga Mimiko-sama, Atelier Meister Ophilia-sama dan Rikuto-sama,
serta Marquess Tycoon yang memberikan dukungan besar bagi bank
kami."
Poin pentingnya adalah, aku hanyalah presiden sewaan.
Orang yang bisa menggantikanku itu ada banyak, jadi tidak
ada gunanya mencelakaiku.
Tolong, jangan bunuh aku.
Sambil memendam perasaan itu, aku bicara dengan nada
bicara yang tegas.
"……Apa tidak bisa diusahakan?"
Sepertinya dia benar-benar tidak ingin mencari masalah
dengan Marquess maupun Penyihir Istana, karena kini Viscount
Kanenai bicara dengan suara yang tertahan.
"Mengenai batu rubi milik Viscount Kanenai
yang bernama 'Darah Minotaur', bukan? Jika Anda bersedia menjadikannya sebagai
jaminan, kami bisa mencairkan pinjaman sesuai jumlah yang Anda inginkan."
"Itu adalah pusaka keluarga kami! Mana mungkin aku
menjualnya—"
"Bukan menjualnya. Kami akan mengembalikannya
setelah Anda melunasi pinjaman sesuai rencana pembayaran. Jika Anda
membutuhkannya untuk pesta atau acara lainnya, Anda bisa meminjamnya dari bank
kami, dan percakapan di sini tidak akan bocor ke luar."
"……Akan aku bawa pulang dan kupikirkan dulu."
Setelah mengatakan itu, Viscount Kanenai pun
pergi.
Aku yang tertinggal di ruangan itu langsung
menyandarkan tubuh ke meja.
"Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini—"
Lalu, Rob-san yang sedari tadi menunggu di pojok ruangan
angkat bicara.
"Wah, wah, kau tadi keren sekali, Presiden. Hebat juga kau bisa membentak bangsawan dengan seberani itu. Apa kau
tidak merasa takut?"
"Tentu saja aku takut. Tapi, aku jauh lebih
takut jika harus menyerah dan menyetujui pinjaman tanpa prospek pelunasan yang
jelas hingga merugikan bank. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan
Mimiko-sama nanti."
"Begitu
ya?"
"Memang
begitu. Ah, benar juga, Rob-san. Gunakan orang-orangmu untuk mengawasi
pergerakan Viscount Kanenai. Dia pasti akan mencoba membuat replika
'Darah Minotaur' untuk mengelabui kita."
"Begitu,
ya. Jadi aku tinggal mencegahnya?"
"Kebalikannya. Kalau kau tahu dia mencoba
menggunakan replika, sarankan dia secara diam-diam untuk menggunakan jasa
pengrajin permata Maruna. Toko itu adalah salah satu debitur kami. Teknik
mereka kelas satu tapi mereka tidak punya insting bisnis. Sekalian saja biarkan
mereka berbisnis dengan bangsawan agar bisa meraup untung besar. Saat ini, kita
bisa memeras mereka hingga tiga kali lipat dari harga pasar."
"Kau memang benar-benar berbakat di pekerjaan
ini."
Rob-san meninggalkan ruangan setelah mengucapkan
kata-kata yang tidak menyenangkan itu.
Mana mungkin aku berbakat jadi presiden bank padahal
lambungku terus-terusan perih (rasanya begitu).
Kalau sudah begini, aku akan menyerahkan surat
pengunduran diri!
Aku akan segera menulis surat resign dan
menyerahkannya!
Dengan semangat membara, aku menuju ke ruang
presiden.
Namun—
"Presiden, mengenai pinjaman untuk Kamar Dagang
Daisangen—"
"Aku sudah melihat rencana pengurangan pegawai
Kamar Dagang Daisangen. Untuk tempat penyaluran pegawainya, tolong
rekomendasikan Kamar Dagang Ukeeire. Mereka bukan kompetitor Daisangen dan
sedang mencari tenaga siap pakai untuk memperluas jalur pemasaran. Mereka
pasti akan menerimanya."
"Presiden, dari Restoran Iiyan—"
"Tempat itu harusnya ke pemasok—"
"Presiden—"
"Mengenai hal itu—"
Di tengah jalan, aku dihujani pertanyaan oleh para staf
bank. Rencana untuk segera sampai di ruang presiden malah memakan waktu yang
cukup lama.
Meski begitu, aku akhirnya sampai di depan ruangan.
Baiklah, sekarang saatnya menulis surat resign—begitu aku membuka pintu...
"Mimiko-sama?!"
"Yoo, Kirschel-chan."
Di sana sudah ada Penyihir Istana peringkat ketiga,
Mimiko-sama.
Kenapa Mimiko-sama ada di sini?!
Jangan-jangan, dia menyadari kalau aku ingin berhenti dan
datang untuk membujukku?
Tidak bisa. Saat ini tekadku sudah sekeras Orichalcum.
Malah, aku akan menulis surat resign di depannya dan
membantingnya ke meja.
"Mimiko-sama, anu—"
"Kirschel-chan, sepertinya kau bekerja keras, ya. Aku sudah dengar
ceritanya."
"Tidak,
saya sebenarnya—"
"Untuk
Kirschel-chan yang rajin, aku membawakan hadiah untukmu."
Tanpa
mendengarkan ucapanku, Mimiko-sama menyerahkan sebuah kotak kayu yang terlihat
mahal.
Instingku berteriak bahwa kotak ini berbahaya jika
diterima.
"Mimiko-sama, tolong dengarkan perkataan saya
dulu—"
"Aku akan mendengarkanmu setelah kau menerima kotak
ini dan melihat isinya."
Mimiko-sama bicara dengan senyum yang berseri-seri.
Aku tidak bisa menolaknya.
Aku menerima kotak itu dan melihat ke dalamnya.
Di dalamnya terdapat sebuah bros berbentuk perisai dan
sebilah belati.
Benda itu sangat indah, tapi—rasanya aku pernah
melihatnya di suatu tempat.
"Anu, Mimiko-sama, ini—"
"Itu adalah bukti silsilah keluarga Count."
"Keluarga Count? Milik Mimiko-sama?"
"Bukan, itu bukan milikku."
Tentu saja begitu, ya.
Penyihir Istana memang memiliki kedudukan dan kekuasaan
setara Count, tapi bukan berarti mereka memiliki gelar Count itu
sendiri.
Lalu, ini sebenarnya milik siapa—
"Sudah sejak lama ini menjadi masalah. 'Apa pantas
petinggi bank yang meminjamkan uang kepada bangsawan adalah rakyat jelata?',
'Bukankah ini akan membalikkan posisi antara bangsawan dan rakyat jelata?'
begitu katanya."
Aku mengangguk mendengar penjelasan Mimiko-sama.
"Itu masalah besar! Karena itu, sebaiknya
presidennya diganti saja oleh seorang bangsawan, bukan saya—"
"Begitu aku menyampaikannya, Yang Mulia Raja pun
bicara. Kalau begitu, buat saja presiden banknya menjadi
seorang bangsawan."
"……Eh?"
"Makanya, Kirschel-chan! Mulai hari ini, kau
adalah seorang Countess! Kau belum punya nama keluarga, kan? Coba
pikirkan nanti, ya!"
"Tu-tunggu sebentar! Saya jadi bangsawan?!
Apalagi gelar Count?"
"Iya, dan ini bukan cuma gelar kehormatan, tapi
gelar Count sungguhan yang bisa diwariskan. Selamat ya, Kirschel-chan! Wah,
kau benar-benar sukses besar!"
Mimiko-sama menggodaku dengan riang.
"Rakyat jelata sepertiku mendadak jadi bangsawan,
aku hanya bisa mencium bau-bau masalah besar di sini."
"Benar juga ya, bangsawan itu memang punya harga
diri yang kelewat tinggi jika dibanding rakyat jelata."
"Benar. Salah sedikit, aku bisa dibunuh—"
"Tapi, bagi bangsawan, uang itu jauh lebih penting.
Menjadikan Kirschel-chan sebagai musuh itu sama saja dengan memusuhi ekonomi
negara ini, jadi tenang saja. Aku juga akan menempatkan Phantom sebagai
pengawalmu."
Situasi di mana aku harus dikawal oleh Phantom itu
sendiri sudah membuktikan kalau ini berbahaya, kan?
Padahal dulu aku cuma seorang resepsionis.
Kenapa sekarang aku berada di posisi seperti tokoh
penting negara begini?
"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi kalau aku
menolaknya?"
"Kau mau menolaknya?"
"Jika memungkinkan—"
"Gelar ini diberikan langsung oleh Yang Mulia
Raja, lho. Jika kau menolaknya, itu akan dianggap sebagai penghinaan terhadap
sistem kebangsawanan, atau mungkin penghinaan terhadap Raja? Paling
parah bisa dianggap pengkhianatan negara. Hukuman mati? Tapi, karena kita sudah
akrab—"
"Apa Mimiko-sama mau membantu menolaknya
untukku?!"
"Anggap saja aku tidak mendengar ucapanmu
tadi."
Mimiko-sama mengatakannya dengan senyum terbaiknya hari
ini.
Artinya, aku tidak boleh menolak.
"Nah, karena Kirschel-chan sudah menepati janji
untuk melihat isi kotaknya, sekarang aku akan mendengarkan perkataanmu. Ada
apa?"
"……Mimiko-sama, apa boleh saya minta tolong
diberikan sedikit minuman keras yang enak?"
Aku memohon sambil meneteskan air mata.
"Tentu saja boleh. Kalau anggur buatan Kuruto-kun,
karena peredarannya di pasar sedang dibatasi, stoknya jadi menumpuk. Aku akan
kirim satu tong penuh ke rumahmu, ya. Anggur itu tidak akan membuatmu mabuk
berat, jadi kurasa cocok untukmu."
Satu tong anggur buatan Kuruto-kun—kalau dijual di pasar,
nilainya pasti berpuluh-puluh kali lipat dari jumlah pinjaman yang diminta Viscount
tadi—tapi itu sudah tidak penting lagi.
Toh, anggur itu juga tidak bisa diedarkan ke pasar. Hari ini, aku akan melampiaskan
rasa frustrasiku dengan meminum alkohol mahal sepuasnya.



Post a Comment