NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 11 Chapter 3

Chapter  3

Ritual Mire


Tiga hari telah berlalu sejak aku──Kuruto, tiba di Togenkyo.

Aku belum bisa bertemu dengan Nona Mire karena beliau sedang mempersiapkan diri untuk ritual.

Namun, aku masih bisa berkomunikasi dengannya melalui surat.

Nona Mire mendengar dari Tuan Danzo tentang kemungkinan asal-usulnya ada di desa ini, lalu meminta bantuan Tuan Danzo untuk membawanya ke sini.

Dalam suratnya, ia menuliskan permintaan maaf karena telah bertindak semaunya, tapi aku benar-benar lega mengetahui Nona Mire baik-baik saja.

Karena tidak ada kerjaan selama menunggu, aku dan Nona Yurishia memutuskan untuk belajar tentang teknik-teknik yang dikuasai para ninja.

Kami dilarang mempelajari ninjutsu, tapi sepertinya tidak masalah kalau hanya teknik bela diri atau ilmu senjata.

Selain pedang yang diajarkan Tuan Danzo, mereka juga menggunakan senjata seperti pisau pendek yang disebut kunai, serta senjata lempar bernama shuriken.

Ngomong-ngomong, Nona Lise sudah pergi bersama Nona Kaede sejak pagi tadi.

"Cara pegang bo-shuriken itu begini, lalu lempar seperti ini!"

Laita-chan yang mengenakan pakaian anak laki-laki melemparkan sesuatu yang tampak seperti batang besi biasa—disebut bo-shuriken—dan tepat mengenai batang kayu di depannya.

"Kalian berdua coba juga, dong."

Laita-chan berkata begitu sambil meminjamkan bo-shuriken kepadaku dan Nona Yurishia.

Nona Yurishia melempar satu.

Bo-shuriken itu menancap di sisi target yang digambar pada batang kayu.

"Ini sulit juga, ya."

"Wah, Kakak hebat banget. Padahal melempar bo-shuriken supaya bisa terbang lurus saja itu susah, lho. Kak Kuruto juga ayo coba."

"Iya……"

Setidaknya aku harus bisa melemparnya ke depan.

"Hiat!"

Aku melemparkan bo-shuriken itu sekuat tenaga.

Eh, lho?

Kok tidak kena target?

Ke mana perginya, ya? Ini barang pinjaman, gawat kalau sampai hilang.

"Kuruto, kau sepertinya sedang mencari dengan panik, tapi coba lihat ke bawah kakimu."

"Eh?"

Bo-shuriken itu tergeletak di atas tanah.

Benda itu tidak terbang ke depan, apalagi menancap.

"Kak Kuruto nggak punya bakat, ya. Pokoknya, mending berhenti memejamkan mata pas melempar, deh."

"Tapi, kalau kena mata kan sakit."

"Nggak mungkinlah melempar ke depan tapi kena mata sendiri."

"Tapi aku pernah kena mata pas latihan melempar pisau."

"Eh?! Memangnya nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa, kok. Kan ada obat tetes mata untuk saat-saat seperti itu."

"Kurasa obat tetes mata bukan diciptakan untuk mengobati luka kena pisau, deh."

Lho? Harusnya obat tetes mata bisa menyembuhkan luka atau penyakit mata selama tidak terlalu parah, tapi apa karena negaranya berbeda jadi budayanya juga beda, ya?

"Tapi, bo-shuriken ini daya rusaknya kurang memuaskan kalau lawannya monster."

"Yah, karena kami para ninja bertarungnya melawan manusia. Anu, di negara Kakak disebut apa ya? A-sa……"

"Assassin, ya. Memang kalau mata pencahariannya adalah intelijen atau pembunuhan, bo-shuriken ini sepertinya sangat praktis."

"Benar. Lagipula ini bisa digunakan sebagai tusuk konde."

Begitu mengatakannya, dalam sekejap Laita-chan membalikkan kimono yang dikenakannya.

Sisi dalamnya bermotif pakaian wanita, dan saat selesai berganti, tatanan rambutnya sudah berubah menjadi gaya rambut perempuan.

"Gimana, Kak? Aku versi cewek manis juga, kan? Jatuh cinta, nggak?"

"Kalau tidak berhenti bercanda, kau bakal benar-benar dimarahi Lise, lho."

Nona Yurishia menegur saat Laita-chan mulai menggoda.

"Maaf, ya. Aku sudah punya kekasih soalnya."

"Ooh, begitu. Tapi laki-laki itu, meski sudah punya orang yang disukai, terkadang ingin main-sama orang lain juga, kan? Kalau cuma jadi teman main semalam saja──Aduh!"

"Kalau tidak berhenti, aku yang akan marah."

"Ini mah sudah marah, tahu! Eh, jangan-jangan pacar Kak Kuruto itu bukan Kak Lise tapi Kak Yurishia? Wah, maaf. Cuma bercanda, kok."

Laita-chan meminta maaf.

Padahal aku menyukai mereka berdua di tingkat yang sama.

"Kakak dimarahi Kak Yurishia, tuh."

Saat Nona Yurishia sedang menceramahi Laita-chan, Futu-kun datang sambil membawa keranjang punggung.

"Futa, ayo bantu minta maaf!"

"Nggak mau. Aku nggak salah, kok. Pasti Kakak bicara yang aneh-aneh lagi, kan?"

"Pelit!"

Kakak beradik yang sangat akrab.

"Futa-kun, ada pekerjaan?"

"Aku mau pergi mencari ranting yang bisa jadi kayu bakar di pinggir hutan."

"Begitu ya, aku bantu juga."

"Jangan, Kak Kuruto. Di dalam hutan itu banyak Jinmenju (Pohon Berwajah Manusia) yang berkeliaran, lho. Kalau Futa sih bisa lari secepat angin, tapi kalau Kak Kuruto yang lamban, pasti langsung tertangkap."

"Jangan mengejek Kak Kuruto. Aku nggak bakal masuk sampai ke dalam hutan, kok. Kak, temani aku, yuk."

"Pacaran sesama cowok?!"

"Laita, jangan bicara yang aneh-aneh!"

Laita-chan berlagak terkejut dengan berlebihan, lalu ditegur lagi oleh Nona Yurishia.

Kenapa dia terus bicara aneh padahal tahu bakal dimarahi, ya?

Meski begitu, Laita-chan dan Futa-kun benar-benar akrab.

Apa rasanya punya saudara itu seperti ini, ya?

Di Desa Haust, anak-anak jarang ada, jadi hampir tidak ada saudara yang usianya cukup dekat sampai bisa bertengkar seperti itu.

Ibuku dan Paman Urano juga terpaut usia cukup jauh, jadi mereka tidak pernah bertengkar seperti ini.

Aku dan Futa-kun pun menuju ke arah hutan.

"Kak Kuruto, abaikan saja kalau Kakakku bicara sembarangan. Lagipula Kakak tidak mungkin bisa menikah dengan orang dari negara lain."

"Kenapa begitu?"

"Ninja dengan bakat ninjutsu yang tinggi tidak diizinkan keluar negeri atau menikah dengan orang asing agar rahasia ninjutsu tidak terbongkar. Ah, tapi Kak Kaede itu pengecualian. Kak Kaede itu ninja tingkat tinggi yang sudah menguasai teknik rahasia di usia sepuluh tahun. Tugasnya adalah mengoordinasi agen yang beraktivitas di luar desa dan membawa pulang informasi."

"Kalau Tuan Danzo?"

"Aku tidak terlalu kenal orang bernama Danzo itu, tapi kemampuan fisiknya memang hebat. Tapi, dia itu kan agen lapangan di sana? Orang-orang seperti itu biasanya tidak punya bakat ninjutsu sehebat orang di desa."

Begitu, ya.

Aku yang sama sekali tidak punya bakat bertarung merasa sedikit akrab dengan Tuan Danzo.

Meski begitu, Tuan Danzo setidaknya punya bakat ilmu pedang peringkat B, jadi rasanya tidak sopan kalau aku menyamakannya denganku.

"Lalu, sebenarnya sekarang aku ini sedang mengawasimu, lho, Kak Kuruto."

"Eh?"

"Ternyata kau benar-benar tidak sadar, ya. Kak Yurishia saja sadar kalau Kakakku itu pengawasnya. Dia bahkan terus waspada untuk memastikan apa ada pengawas lain di sekitar."

"Jadi begitu…… tapi, karena kami tidak akan melakukan hal buruk, kurasa tidak ada bedanya diawasi atau tidak, kan?"

"……Haa, Kak Lise saja sekarang sedang berkeliling desa untuk mengumpulkan informasi sekecil apa pun, tapi Kak Kuruto santai sekali. Apa kau tidak berpikir kalau Tuan Hiiragi mungkin sedang berbohong?"

"Eh? Berbohong soal apa?"

"……Aku ini memang elite tapi masih bawahan, jadi tidak diberi tahu informasi yang sebenarnya. Aku tidak tahu ritual apa yang sedang dilakukan Nona Mire, dan aku tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan Hiiragi. Kak Lise sepertinya mengkhawatirkan hal itu, jadi dia mengumpulkan informasi dengan jarak yang pas agar tidak memusuhi kami."

Begitu, ya. Aku sama sekali tidak menyadarinya.

"Karena Kak Kuruto bukan orang jahat, aku sendiri tidak ingin terlalu merepotkanmu. Secara pribadi, aku ingin kita bisa berteman baik."

"Begitu ya. Terima kasih, Futa-kun."

"Nggak perlu berterima kasih. Lebih baik kita mulai kumpulkan ranting…… di daerah sini Jinmenju tidak akan muncul."

"Iya. Tapi apa boleh kalau aku memotong pohon tumbang itu?"

Ada sebuah pohon besar yang tumbang. Semalam terdengar suara petir, mungkin pohon itu patah saat itu.

Dengan ukuran sebesar itu, rasanya tidak hanya bisa jadi kayu bakar, tapi juga bahan bangunan.

"Mustahil. Pohon itu keras, tidak akan mempan dipotong pakai kunai."

"Nggak apa-apa. Aku bawa pisau, kok."

"Bukan begitu, pakai pisau juga──"

Aku menyentuh pohon tumbang itu.

Sip, kalau kekerasannya segini sih gampang dipotong.

Aku mengayunkan pisauku.

"Segini cukup?"

"Haah?! Dalam sekejap pohonnya berubah jadi kayu bahan bangunan yang siap pakai?!"

Nggak dalam sekejap juga, sih.

Butuh waktu sekitar lima detik. Kalau memejamkan mata selama lima detik, itu sudah tidak bisa dibilang berkedip lagi.

"Terus, kenapa kayunya sudah kering begini?"

"Eh? Kalau tidak kering kan tidak cocok dipakai sebagai bahan bangunan?"

"Bukan itu maksudku……"

"Kalau begitu ayo kita bawa pulang ke desa."

"Hei, beratnya ini berapa ton, tahu? Tidak mungkin bisa kita bawa pulang berdua saja."

"Memang sih, aku pun mustahil mengangkat ini──tapi kalau begini dan begitu──"

Aku membuat kereta dorong dengan memasangkan poros dari dahan pohon dan roda dari potongan melintang batang pohon ke atas papan kayu yang sudah kupotong panjang.

Sip, kalau begini kekuatanku pun──

"Oke, bergerak! Dengan ini kita bisa membawanya pulang ke desa."

Aku menumpuk potongan kayu yang dihasilkan saat pengolahan tadi ke atas kereta dorong.

Dengan sebanyak ini, kayu bakarnya juga akan lebih dari cukup.

Mungkin nanti aku buat tungku tanah saja untuk dijadikan arang supaya lebih mudah dipakai?

"……Sebenarnya kau ini siapa sih, Kak Kuruto?"

"Begini-begini aku ini seorang Atelier Meister──anu, aku adalah wakil dari orang hebat yang diakui Raja karena keahlian membuat barang. Jadi aku memang ahli dalam pertukangan."

"……Pertukangan katanya. Terus, itu baru wakilnya. Apa Atelier Meister yang aslinya jauh lebih hebat lagi?"

"Iya, dia orang yang sangat luar biasa."

Tuan Rikuto, aku sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengannya, tapi beliau pasti sedang bekerja keras sekarang.

Tiba-tiba, saat itu terjadi.

Dari dalam hutan, burung-burung terbang menjauh secara bersamaan.

Sesuatu sedang terjadi.

"Kak Kuruto, mundur!"

"Eh?"

Mendengar suara panik Futa-kun, aku menoleh dan melihat seekor babi hutan besar sedang berlari ke arah kami dengan kecepatan luar biasa.

Kalau ditabrak makhluk sebesar itu, entah berapa tulang rusukku yang akan patah.

Meski bisa disembuhkan dengan obat, pasti rasanya sangat sakit.

"Futa-kun, ayo lari!"

"Tenang saja, Wind Style!"

Futa-kun berseru dan melemparkan bo-shuriken yang sama dengan yang kami gunakan tadi, lalu benda itu menancap di bawah kaki si babi hutan.

Awalnya kupikir lemparannya meleset, tapi tiba-tiba dari tempat menancapnya shuriken itu muncul angin puting beliung yang menghempaskan babi hutan itu ke langit.

Berbeda dengan sihir yang menciptakan angin secara langsung, teknik ini melepaskan kekuatan yang sudah tersimpan di dalam alat.

Sangat mirip, apakah ninjutsu itu sebenarnya adalah Skill dari Dunia Lama?

Futa-kun menusuk leher babi hutan yang jatuh terbalik itu dengan kunai.

"Sip, satu beres! Beruntung banget ya, mau cari kayu bakar malah dapat babi hutan. Kak Kuruto, bantu bawa ini ke sungai untuk mengeluarkan darahnya, ya."

"Oke."

Aku mengangkat babi hutan itu.

"Kak Kuruto ternyata kuat banget, ya."

"Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan kasar seperti angkut barang."

Karena sungainya dekat, kurasa aku akan membawanya bersama kayu-kayu tadi.

Tepat saat aku berpikir begitu.

"Hei, lari!!"

Beberapa ninja berlari keluar dari dalam hutan.

"Ada apa?!"

"Kami sedang memancing keluar para Jinmenju! Kami akan menghabisi mereka di luar hutan!"

"Hah?! Bukannya biasanya pembersihan Jinmenju dilakukan di lapangan seberang hutan?!"

"Di sana dilarang masuk karena Nona Mire sedang menyiapkan ritual!"

Di tengah perdebatan Futa-kun dan para ninja, terdengar suara sesuatu yang mendekat.

Pohon-pohon besar sedang bergerak.

Mirip seperti monster Treant, tapi sedikit berbeda.

Apakah ini spesies endemik yang hanya ada di Negeri Yamato?

Di negara kepulauan seperti ini, apalagi di tempat sempit yang dikelilingi jurang, tidak heran kalau tumbuhannya berevolusi secara unik.

"Kak Kuruto, kenapa melamun! Cepat──"

"Benar juga. Kalau begitu."

Aku berlari ke arah Jinmenju yang berada di barisan paling depan.

Jinmenju itu menyadari keberadaanku dan mulai memanjangkan dahan-dahannya.

"Kak Kuruto?!"

Pertama-tama, dahan yang mengganggu akan kupotong dulu.

Aku memotong dahan yang memanjang ke arahku sambil berputar, lalu berdiri di atas dahan besar si Jinmenju dan menariknya sekuat tenaga.

"Lewat sini lebih praktis."

Karena ditarik secara paksa, Jinmenju itu mengubah arah larinya.

Sip, Jinmenju lainnya juga sepertinya ikut ke sini.

Aku melompat turun menyesuaikan gerakan si Jinmenju yang mengamuk, lalu mulai berlari.

Para Jinmenju yang tadinya mengejar para ninja kini mengikutiku.

"Hei! Ke sana itu arah pemukiman!"

"Iya! Memang sengaja supaya tidak repot mengangkutnya nanti!"

"Supaya tidak repot──"

Para ninja itu meneriakkan sesuatu, tapi suaranya tenggelam oleh suara derap langkah para Jinmenju yang mengejarku.

Mungkin mereka mau bilang kalau aku sebagai tamu tidak perlu repot-repot mencari kayu?

Tapi, karena sudah menumpang di sini, setidaknya aku harus membantu pekerjaan penebangan sederhana seperti ini.

Jaraknya sudah cukup dekat dengan area bangunan.

Kalau lebih jauh lagi tanahnya bisa rusak, jadi di sini saja.

Aku memutar tubuhku.

Kalau pakai pisau sih agak repot, ya.

Aku mengikatkan pisauku ke ujung dahan pohon yang kupotong tadi, membuat tombak darurat, lalu mengayunkannya.

Sip, pada dasarnya sama saja dengan menebang Treant. Memotong dahan-dahan yang mengganggu itu mudah sekali.

Malah karena mereka punya wajah, mereka jadi terlalu bergantung pada penglihatan untuk mendapatkan informasi, sehingga punya banyak titik buta.

Kalau Treant biasanya merasakan sekeliling dengan seluruh dahan dan daunnya, jadi kurasa dalam hal itu Jinmenju malah mengalami kemunduran evolusi.

Sambil memikirkan hal itu, aku sudah memangkas semua dahannya.

Nah, sekarang tinggal batangnya.

Tapi menebang batangnya dengan tombak ini agak malas, sih.

"Kuruto!"

Nona Yurishia yang menyadari keributan itu berlari ke arahku bersama Laita-chan.

"Nona Yurishia! Kebetulan sekali! Maaf, bolehkah aku meminjam Sekka?"

"……Ah, jadi kau mau menghadapi Jinmenju itu."

Entah kenapa Nona Yurishia memandang ke arah lain.

"Baiklah, semangat ya menebangnya."

"Iya, terima kasih banyak."

Aku meminjam pedang dari Nona Yurishia.

Aku memang tidak pandai ilmu pedang, tapi kalau cuma memotong kayu, aku sudah melakukannya sejak kecil untuk membantu pekerjaan rumah!

Aku mengayunkan pedang sambil berlari menyelinap di antara para Jinmenju.

Seketika itu juga para Jinmenju berhenti bergerak, lalu mereka tumbang dan hanya menyisakan tunggulnya saja.

"Penebangan selesai. Maaf, aku ingin mengangkut pohon tumbang yang kutinggalkan di hutan, jadi apa sisanya boleh kuserahkan pada kalian?"

"Ah, Kuruto! Karena kita sudah menebangnya, biarkan sisa pekerjaannya dilakukan oleh para ninja."

"Eh? Tapi──"

"Sudahlah, tidak enak kan kalau kita merebut pekerjaan para ninja."

"Benar juga. Kalau begitu, aku permisi."

Aku mengembalikan Sekka kepada Nona Yurishia, lalu kami kembali ke kediaman tempat kami menginap.

◆◇◆

Aku──Lise, tidak melihat langsung perjuangan Tuan Kuruto, tapi kabar itu sudah sampai ke telingaku bahkan sebelum Nona Yuli memberitahuku.

Namanya juga desa mata-mata. Kaede-san yang bersamaku pun langsung menerima informasi tersebut.

Karena merasa harus bertindak cepat, aku pun menuju ke kediaman Tuan Hiiragi.

Jika para ninja pergi menginterogasi Tuan Kuruto dan beliau menyadari kemampuannya sendiri, beliau akan pingsan selama sehari penuh.

Sepertinya Kaede-san juga sudah menyelidiki Tuan Kuruto sampai batas tertentu──yah, mengingat ia adalah anggota klub penggemar Kurumi-chan dan tahu bahwa Kurumi-chan adalah Tuan Kuruto, itu wajar saja──tapi, katanya ia tidak tahu kalau Tuan Kuruto bisa membasmi sekawanan Jinmenju sendirian dengan begitu mudah.

Sesampainya di kediaman Tuan Hiiragi, aku langsung dipersilakan masuk ke dalam ruangan.

"Kaede, apa kau benar-benar tidak tahu kekuatannya?"

"Tuan Kuruto yang kulihat itu bahkan kalah dan ditindih oleh seekor anjing kecil yang ia titipkan."

Begitu jawaban Kaede-san kepada Tuan Hiiragi. Ah, kejadian itu memang pernah ada, ya.

Kejadian itu terjadi di luar bengkel, jadi pasti ia melihatnya.

Setelah itu, anjing kecil tersebut sudah kudidik dengan baik agar ia mengerti betapa kerasnya dunia ini.

"……Artinya, Tuan Kuruto menyadari bahwa ia sedang diawasi oleh Kaede, atau mungkin karena ia tahu lingkungan sekitarnya selalu penuh dengan mata pengawas, ia berpura-pura lemah untuk menipu semua orang?"

"Tidak, bukan begitu. Tuan Kuruto itu memang benar-benar lemah. Hanya saja, beliau memiliki kekuatan yang luar biasa hanya terhadap monster khusus seperti Treant atau Golem. Bagi Tuan Kuruto, Treant maupun Golem tidak dianggap sebagai monster, melainkan kayu dan bijih mineral berkualitas tinggi──mungkin begitu."

"……Ketua."

Futa-kun yang melihat seluruh kejadian itu mengangkat tangan, lalu Tuan Hiiragi mengangguk memberinya izin bicara.

"Kurasa apa yang dikatakan Nona Lise itu benar. Tuan Kuruto terlihat gemetar dan ingin lari saat babi hutan muncul, tapi saat Jinmenju muncul, ia berbeda. Matanya saat itu bukan mata seorang pemburu, melainkan seperti mata seseorang yang melihat buah matang dalam jangkauan tangannya lalu ingin memetik dan memakannya. Kurasa Tuan Kuruto sama sekali tidak menganggap menebang Jinmenju itu sebagai sebuah pertarungan."

Kepada Tuan Hiiragi yang tampak masih sulit percaya, aku menambahkan permohonanku.

"Lalu, tolong jangan sampaikan hal ini kepada Tuan Kuruto. Beliau tidak tahu kalau kekuatannya itu istimewa."

"Boleh aku tahu alasannya?"

"Aku tidak bisa mengatakannya. Namun, ini semua demi kebaikan Tuan Kuruto."

Bagi Tuan Kuruto, kehilangan kesadaran dan ingatan saat menyadari kemampuannya adalah kelemahan yang sangat besar.

Kuharap ini cukup untuk meyakinkannya.

"……Kekuatan istimewa, dan ia tidak menyadarinya."

Tuan Hiiragi bergumam seolah bertanya pada diri sendiri, lalu menunduk.

"Masashige. Bagaimana persiapan ritual Nona Mire?"

Ia segera mengangkat wajahnya dan memanggil salah satu ninja di ruangan itu.

"Tinggal proses penyucian diri saja."

"Begitu ya. Kalau begitu tidak masalah. Aku akan pergi ke kuil tempat Nona Mire berada sekarang. Nona Lise, aku mengizinkan Nona Yurishia, Tuan Kuruto, dan para pengawal kalian untuk ikut serta."

"Ketua! Apa Anda akan membawa orang selain ninja ke tempat suci?!"

"Ya. Mereka tidak akan jadi masalah."

Ada angin apa ini?

Rasanya ini bukan sekadar niat baik biasa.

Jelas sekali keputusan ini diambil setelah mendengar cerita tentang Tuan Kuruto. Apa jangan-jangan beliau berniat menyuruh Tuan Kuruto melakukan sesuatu?

"Bolehkah kami meminta Tuan Danzo untuk memandu jalan?"

Jika bersama Tuan Danzo, setidaknya aku tidak perlu khawatir akan dibawa ke tempat aneh dengan alasan menuju tempat Nona Mire.

"Tidak masalah. Masashige, panggil Danzo ke sini."

"Siap."

Masashige-san menyahut lalu menghilang seperti hantu.

Apa dia pindah ke langit-langit?

Setelah itu, aku kembali ke kediaman tempat kami menginap untuk berbicara dengan Tuan Kuruto dan yang lainnya.

"Apa kita bisa bertemu Nona Mire?!"

"Bukannya katanya tidak bisa bertemu sampai ritualnya selesai? Negosiasi nekat macam apa yang kau lakukan?"

Berbeda dengan Tuan Kuruto yang murni merasa senang, Nona Yuli malah menaruh curiga padaku.

Namun, aku sendiri pun tidak tahu alasan Tuan Hiiragi mengizinkan pertemuan ini.

Hanya saja, ada sesuatu yang membuatku penasaran.

Jika dugaanku benar──ah tidak, masih belum ada bukti apa pun.

Daripada menduga-duga, lebih baik sekarang aku waspada terhadap kemungkinan adanya jebakan.

Setelah makan siang lebih awal, kami bersama Phantom menuju ke pintu masuk hutan.

Meski masih jauh dari waktu yang dijanjikan, Tuan Hiiragi, Kaede-san, Tuan Danzo, dan beberapa ninja lainnya sudah menunggu di sana.

Para ninja selain Tuan Hiiragi dan Kaede-san melihat ke arah kami dengan pandangan seolah sedang menilai.

Pasti mereka waspada karena ada orang selain ninja yang pergi ke seberang hutan.

Sepertinya Kaede-san lebih terlihat bingung daripada waspada.

Apakah ini berarti hanya Tuan Hiiragi yang tahu maksud sebenarnya?

"Tuan Danzo, apa Nona Mire baik-baik saja?"

"Umu. Beliau sangat menantikan pertemuan dengan Tuan Kuruto, degozaru."

Mendengar itu, Tuan Kuruto tampak lega.

Kami semua pun berjalan menembus hutan.

Jalannya sangat bergelombang, ya. Ada bekas seperti sesuatu yang baru saja bergerak.

"Ini jalan yang dilewati para Jinmenju tadi. Karena mereka bergerak sampai ke akar-akarnya, tanahnya jadi terangkat seperti ini."

"Begitu ya. Sepertinya praktis kalau dipakai untuk membajak sawah."

"Masa sih? Kurasa pakai cangkul saja sudah cukup kalau untuk membajak sawah."

Bagi Tuan Kuruto atau penduduk Desa Haust mungkin memang begitu.

Karena hanya dengan satu hantaman cangkul ke tanah, sawah pun langsung jadi.

"Eh?"

Tuan Kuruto mengeluarkan suara penuh keheranan.

"Ada apa?"

"Ternyata Jinmenju di sekitar sini tidak bergerak, ya."

"──?!"

Aku, Nona Yuli, dan kedua orang Phantom segera waspada terhadap sekeliling.

Aku tidak merasakan hawa keberadaan Jinmenju, tapi apa mereka ada di sini?

"Firasat Tuan Kuruto sangat tajam. Benar, Jinmenju di sekitar sini sudah berakar sepenuhnya dan menyatu dengan tanah."

"Ternyata benar, ya. Berarti tanah di sini sangat bagus."

"Kuruto, apa maksudnya?"

Nona Yurishia bertanya.

"Aku pernah dengar dari Ayah. Alasan pohon bergerak seperti Treant berjalan atau menyerang hewan adalah untuk mencari tempat tinggal yang nyaman dan untuk mendapatkan energi untuk berpindah tempat. Karena itu, jika mereka menemukan tanah yang cocok, mereka akan berakar sepenuhnya di sana dan tidak akan bergerak lagi sama sekali. Namun, hawa keberadaan Treant-nya akan tetap tersisa, sehingga monster tingkat tinggi yang bisa merasakan hawa keberadaan monster lain tidak akan mau mendekat. Aku dengar saat Ayah masih kecil, mereka sering digunakan sebagai pengganti pengusir monster."

Tuan Kuruto mengatakannya dengan santai, tapi saat itu, dugaanku sebelumnya berubah menjadi keyakinan.

"Lalu, apakah mereka berbeda dengan Jinmenju yang Tuan Kuruto tebang tadi?"

"Tidak, kalau kulihat jenisnya sama, kok. Yang kutebang tadi itu jenis muda yang sedang mencari tempat baru. Meski tanahnya cocok, Jinmenju juga punya rasa teritorial dan berkelompok. Sebagian besar Jinmenju yang sudah tumbuh besar akan mengusir anggota kelompoknya."

"Diusir? Bukannya Jinmenju yang tua tidak bisa bergerak? Bukankah yang muda tinggal mengalahkan mereka saja?"

"Meski tidak bisa bergerak, mereka tetap bisa mencuri nutrisi, dan yang paling penting, Jinmenju yang sudah tua sepertinya kulit pohonnya jadi sangat keras. Jinmenju muda pasti tidak akan berkutik──jangankan tangan atau kaki, dahan atau akar pun tidak akan mempan."

Apa dia bisa tahu kekerasan kulit pohon hanya dengan melihatnya saja?

Lagipula, aku sendiri tidak bisa membedakan mana yang Jinmenju dan mana yang pohon biasa.

Aku sudah mencoba merasakan hawa keberadaan monster, tapi jangankan Nona Yuli, Phantom yang bertugas sebagai pengintai saja tidak menyadarinya. Jadi mana mungkin aku bisa tahu.

"Apa yang dikatakan Tuan Kuruto benar sekali. Karena Jinmenju muda sudah habis dalam pembersihan tadi, sekarang kita tidak perlu khawatir diserang."

Mungkinkah pembersihan Jinmenju hari ini dilakukan karena sudah memperhitungkan waktu berakhirnya ritual Nona Mire?

Sambil memikirkan hal itu, aku merasakan hawa yang aneh.

Bukan hawa keberadaan Jinmenju.

"Udaranya aneh. Berat dan sedikit sesak."

Nona Yurishia sepertinya juga merasakannya, ia menutupi mulut dan hidungnya dengan tangan.

"Di depan sana banyak Miasma. Berlama-lama di sana akan memengaruhi kesehatan, jadi mari kita sedikit bergegas."

Miasma──maksudnya adalah energi sihir yang tercemar.

Di Dunia Lama, itu juga disebut sebagai energi jahat, zat yang dihasilkan dari monster terlarang.

Di dunia ini pun, tempat-tempat dengan banyak Miasma seperti itu ada di berbagai lokasi termasuk dalam Dungeon, tapi keberadaan Miasma di dekat tempat yang disebut suci…… rasanya agak aneh.

"Apa Nona Mire baik-baik saja kalau terus berada di tempat dengan banyak Miasma?"

"Ya. Kuil tempat Nona Mire berada sudah dipasangi penghalang yang mencegah masuknya Miasma, jadi tidak ada masalah."

"……Penghalang, ya."

Penelitian tentang Miasma belum terlalu maju, dan di Kerajaan Homuros pun tidak ada penghalang yang bisa menahan Miasma.

Namun, di area pemukiman Dunia Lama, terdapat penghalang yang bisa menahan energi jahat.

Katanya penghalang itu juga berasal dari masa lalu yang sangat jauh, dan jika rusak tidak akan bisa dibuat ulang.

Mulai dari Skill hingga penghalang, banyak sekali persamaannya.

Begitu keluar dari hutan, Miasma terasa semakin kuat.

Apakah penyebab Miasma ini adalah gua yang terlihat di kejauhan sana?

Namun, kami tidak menuju ke arah gua tersebut, melainkan ke bangunan di arah yang berbeda.

Begitu melewati gerbang lengkung yang disebut Torii, perasaan tidak enak yang menyelimuti tubuh tadi seketika menghilang.

Sepertinya kami sudah masuk ke dalam penghalang.

Di sana terdapat taman yang indah, dan sebuah bangunan dengan suasana yang khidmat.

Bangunan itu memancarkan aura yang mirip seperti sebuah kuil suci.

Dari dalam bangunan itu, muncul seorang wanita.

Itu adalah Nona Mire.

Rambutnya masih dihiasi hiasan lonceng yang khas, rambutnya disanggul dengan tusuk konde, ia mengenakan kain lilit pinggang berbentuk rok dengan berbagai motif, serta kalung dengan hiasan Magatama. Pakaiannya mengingatkanku pada bangsawan di negara ini.

"Kuruto! Semuanya!"

Nona Mire berlari menghampiri sambil memegangi ujung kain pinggangnya.

"Benar-benar maaf! Padahal niatku mau segera pulang, tapi malah jadi masalah besar begini!"

"Tidak, yang salah adalah Sessha, degozaru."

"Tidak, Tuan Danzo tidak salah. Aku sendiri yang memaksanya membawaku ke sini."

"Keduanya tidak salah! Adalah hal wajar jika Nona Mire ingin tahu asal-usulnya, dan Tuan Danzo hanya menjalankan aturan di desa ini, kok."

Tuan Kuruto berkata seperti itu kepada Nona Mire dan Tuan Danzo seolah itu adalah hal yang lumrah.

Lalu, Tuan Kuruto menatap Nona Mire dan tersenyum lembut.

"Nona Mire, syukurlah Anda baik-baik saja."

"……Terima kasih, Kuruto."

"Lalu, apa Nona Mire sudah tahu asal-usul Anda?"

"Iya, mungkin saja, tapi katanya nenek atau ayah dari buyutku adalah Kaisar negeri ini, dan sepertinya aku mewarisi darah itu. Lihat, lonceng ini──sama dengan punyaku, kan?"

Nona Mire menunjukkan lonceng di rambutnya.

Lonceng yang tadinya hanya ada satu, sekarang sudah ada dua.




"Leluhurku itu menghilang di tengah ritual desa ini, katanya beliau pergi sambil meninggalkan salah satu lonceng ini."

"Pasti masa-masa yang sulit, ya."

Apa yang dikatakan Kuruto-sama memang benar adanya.

Aku bisa membayangkannya meski tidak berada di sana secara langsung.

Mengingat ia adalah putri Kaisar, wanita itu pastilah seorang putri kerajaan.

Jika seorang putri tiba-tiba menghilang begitu saja──saat aku pergi ke Dunia Lama saja, Mimiko-san sudah sangat gempar.

Apalagi jika tidak tahu ke mana perginya, atau apakah masih hidup atau tidak. Tentu saja hal itu pasti memicu keributan besar.

"Kalau begitu, apakah Mire-san akan tetap tinggal di desa ini? Atau akan menetap di ibu kota negara ini──maksudku, di distrik pusat?"

"Enggak, seperti yang kubilang tadi, aku berniat kembali ke bengkel. Soal ritual kali ini pun, aku melakukannya hanya karena diminta.

Kalau aku pulang tanpa melakukan apa-apa, itu hanya akan merepotkan Danzo-san."

"Begitu, ya?"

"Iya. Tapi, kenapa leluhurku yang ada di negara ini bisa menghilang dan sampai ke dunia sana, itu masih menjadi misteri besar."

Mire-san berkata dengan wajah bingung.

Hanya saja, ada sesuatu yang membuatku penasaran.

Jika semua ini benar, mengapa para ninja sampai mengirimkan agen ke negara lain, bahkan sampai ke Kerajaan Homuros untuk mencarinya?

Logikanya, pencarian hanya akan dilakukan di dalam negeri, atau paling jauh di negara tetangga.

Sebenarnya apa tujuan mereka?

"Ngomong-ngomong, Tuan Hiiragi. Aku senang bisa bertemu Kuruto dan yang lain, tapi kenapa tiba-tiba begini? Bukannya katanya kami baru bisa bertemu setelah ritual selesai?"

"Keadaan telah berubah. Aku berniat membiarkan Tuan Kuruto dan yang lainnya ikut mendampingi ritual Nona Mire."

Hiiragi-san berkata dengan nada bicara yang sopan.

"Kau mau memperlihatkan bagian dalam gua kepada Kuruto dan yang lainnya? Padahal kau bilang itu adalah rahasia terbesar negara ini."

Mire-san menatap Hiiragi-san dengan mata penuh selidik.

Sepertinya ia memang sudah mengetahui rahasia tersebut.

"Keadaan telah berubah."

"……Begitu ya. Yah, kalau Kuruto dan yang lainnya sih tidak masalah. Malah mungkin saja kalau ada masalah, mereka bisa menyelesaikannya."

"Anda sangat memercayai mereka, ya."

"Tentu saja."

Mire-san mengangguk mantap.

Yah, memang benar jika masalahnya masih dalam batas wajar, Kuruto-sama pasti bisa menyelesaikannya.

"Jadi, kita berangkat sekarang?"

"Jika Nona Mire dan semuanya bersedia."

"Sebelum pergi, bisakah kau beri tahu ritual apa ini sebenarnya? Aku memang terbiasa terlibat masalah merepotkan, tapi aku tetap butuh persiapan mental."

Di tengah pembicaraan yang mengalir cepat, Yurishia-san menyela.

Tentu saja, kami pun butuh persiapan.

Meski begitu, aku sudah bisa membayangkannya.

"Ada sesuatu di dalam gua itu, kan? Sesuatu yang menjadi sumber dari Miasma tersebut."

Mendengar perkataanku, Hiiragi-san mengangguk.

"Benar. Di dalam gua itu terdapat dua penghalang dan tiga alat sihir kuno.

Salah satu penghalangnya berfungsi untuk mencegah penyusup dari luar. Satu lagi berfungsi untuk menahan agar Miasma yang berasal dari tempat tertentu tidak bocor ke luar.

Lalu soal alat sihirnya, masing-masing digunakan untuk memasang kembali penghalang tersebut, dan ada satu lagi yang kegunaannya tidak diketahui.

Untuk memulihkan penghalang itu, dibutuhkan seseorang dengan garis keturunan Kaisar dan juga sebuah kunci."

"Kuncinya adalah lonceng yang dibawa oleh Nona Mire."

Kaede-san menyambung penjelasan tersebut.

Terlepas dari soal kunci itu, semua ini terdengar seperti──

"Terdengar seperti pemulihan alat penghalang di area pemukiman, kan?"

Mire-san menyuarakan apa yang sedang kupikirkan.

"Alat penghalang di pemukiman, ya. Aku pernah melihat yang seperti itu, jadi kalau alat sihirnya serupa, aku mungkin bisa membantu memperbaikinya jika rusak.

Ah, tapi sebelum itu, jika Miasma-nya pekat──maksudku energi sihir──di tempat Mire-san dulu disebutnya energi jahat, aku punya perlengkapan yang bisa menyerap dan menetralkannya untuk sementara.

Ayo kita pakai ini. Aku bawa beberapa cadangan, jadi silakan dipakai semuanya."

Kuruto-sama berkata begitu sambil membagikan kalung kepada semuanya, namun──

"Ah, tapi sepertinya Mire-san tidak butuh, ya."

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Aksesori yang dipakai Mire-san itu punya efek yang sama dengan kalung buatanku."

Begitu Kuruto-sama menyadarinya, para ninja di sekitar menunjukkan ekspresi terkejut yang nyata.

Mungkin itu adalah rahasia klan mereka.

"Mengejutkan sekali…… tak kusangka ada perlengkapan yang setara dengan kalung buatan Kuruto."

"……Iya."

Alih-alih terkejut, aku merasa dugaanku semakin mendekati kebenaran.

"Kuruto memang hebat, ya. Iya, kudengar kalung ini fungsinya sama dengan milik kalian.

Persiapan ritual itu sebenarnya adalah proses pembersihan energi jahat yang terkumpul di kalung ini.

Tanpa kalung ini, kita tidak bisa mencapai tempat alat penghalang di dalam gua. Tapi alat pembersih di ruangan ini pun hanya aku yang bisa menggunakannya……"

"Ah, bagian itu memang punya prosedur yang lumayan merepotkan, ya."

Kuruto-sama berkata dengan nada seolah sedang membicarakan "menghilangkan noda saus di baju itu merepotkan, ya".

Padahal bagi Kuruto-sama, menghilangkan noda saus pun pasti bisa selesai dalam sekejap.

Namun, jika persiapan ritual hanyalah soal pembersihan energi jahat, harusnya itu bisa selesai saat itu juga jika diserahkan kepada Kuruto-sama sejak awal.

Meski begitu, aku tidak bisa menyalahkan mereka.

Jika fakta bahwa ada sumber Miasma di dalam negeri sampai tersebar luas, penduduk kota dan desa di sekitar pasti akan merasa cemas.

Begitulah betapa merepotkannya urusan Miasma ini.

"…………"

Lho?

Kuruto-sama sepertinya sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.

Ekspresi itu──tampak sangat gagah dan menawan, tapi aku punya firasat buruk.

◆◇◆

Aku──Kuruto Rockhans, merasa ada sesuatu yang mengganjal sejak tadi.

Selain rasa bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Mire-san, ada juga soal aksesori yang dipakainya.

Serta soal Man-Eater Tree. Sesuatu terasa mengabur di pikiranku.

Dengan perasaan mengganjal itu, kami tiba di depan gua.

"Lonceng pertama adalah untuk melepaskan penghalang yang mencegah penyusup dari luar. Nona Mire, silakan letakkan lonceng kanan di sini dan letakkan tangan Anda di atasnya."

"Baik."

Mire-san melepas lonceng dari kepalanya dan memasangnya pada alat penghalang.

Lonceng itu terkunci di tempatnya, dan penghalang yang menutupi pintu masuk pun menghilang.

Bagian dalam gua tampak terawat, namun udaranya terasa pengap.

Bukan karena Miasma, tapi kurasa karena sudah lama terputus dari dunia luar.

Namun, saat penghalang dilepaskan, aku merasakan aliran udara yang mendadak.

Mungkin gua ini adalah buatan manusia, dan dirancang agar udara luar yang segar bisa masuk sehingga orang yang di dalam bisa bernapas dengan aman.

Walaupun sepertinya sistem ini tidak bisa menyingkirkan Miasma.

"Kalung pemberian Kuruto-sama ini luar biasa, ya. Meski Miasma-nya sepekat ini, aku sama sekali tidak merasa sesak."

"Dulu, saat terjadi insiden serupa, tercatat bahwa beberapa orang langsung tersedak dan tidak bisa bergerak meski energi jahatnya lebih tipis dari ini.

Jujur saja, kami tadi sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk."

Para ninja menyampaikan rasa terima kasih kepadaku.

Aku sendiri tidak akan bisa membuat kalung sebanyak ini jika tidak punya stok Dungeon Core kosong dalam jumlah besar.

Sepertinya di Negeri Yamato tidak ada yang namanya Dungeon Core, ya.

Lalu saat kami sampai di persimpangan jalan──

"Aku merasakan hawa keberadaan sesuatu! Nona Mire, bersembunyilah di belakang kami!"

Hiiragi-san tiba-tiba berseru lantang.

Aku sendiri sama sekali tidak mengerti, tapi apakah ada monster di depan?

"Apa maksudnya? Bukannya tidak ada yang bisa masuk karena penghalang itu?!"

"Aku tidak tahu. Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Chube, lakukan pengintaian──"

"Siap."

Ninja yang dipanggil Chube itu berlari ke depan, namun segera kembali dengan cepat.

"Ketua, ada monster! Di aula depan ada naga berkepala delapan!"

"Apa katamu?!"

"Sepertinya aman selama kita melihatnya dari jauh. Mari ikut saya."

Kami mengikuti panduan Chube-san menuju aula tersebut.

Tempat itu adalah ruang yang sangat luas.

"Kita sedang berada di dalam gunung, kan? Luar biasa ada ruang seluas ini tanpa terjadi reruntuhan."

"Katanya kubah ini dibuat dengan menyusun batu-batu sedemikian rupa untuk menahan langit-langit.

Mereka saling menyangga untuk mencegah reruntuhan. Prinsipnya sama dengan struktur lengkung pada jembatan. Tapi daripada itu──"

"Ya, aku sudah melihatnya. Naga berkepala delapan yang merepotkan."

Di antara monster yang pernah kami lihat, ini adalah naga hitam berkepala delapan yang ukurannya menempati urutan kedua setelah Monster Terlarang.

"Mungkinkah ini Yamata no Orochi yang ada dalam legenda? Kenapa harus di tempat seperti ini──"

Hiiragi-san berkata dengan ekspresi pahit.

Naga itu sedang tertidur menutupi lorong di ujung aula.

"Jangan-jangan, di balik sana itu adalah……"

"Benar. Menurut catatan, itu adalah ruangan tempat alat untuk memulihkan penghalang berada."

Kaede-san menjelaskan.

Naga itu seolah-olah sedang menjaga lorong tersebut.

"Ketua, mari kita menyelinap selagi naga itu tidur."

"Benar juga. Chube, pergilah ke ruangan dalam terlebih dahulu dan pastikan keamanannya."

"Siap."

Chube-san menghilangkan hawa keberadaan dan suara langkahnya, lalu berlari agar tidak membangunkan naga itu.

Namun tiba-tiba naga itu terbangun dan melepaskan raungan dahsyat.

"Tak ada pilihan lain. Semuanya, ambil posisi!"

Hiiragi-san berseru sambil maju ke depan──

"Water Style──Ice Prison!"

Ia melemparkan kunai. Seketika itu juga, Yamata no Orochi ditelan oleh es raksasa yang sangat besar.

Luar biasa…… benar-benar seperti sihir legendaris.

"Bahkan sihir tingkat tertinggi pun tidak bisa melakukan hal seperti itu."

"Inilah puncak dari kemampuan ninjutsu…… tapi,"

Yurishia-san menunjukkan wajah serius.

Kupikir naga itu sudah dikalahkan, tapi es yang menyelimutinya mulai mencair.

Naga itu mengeluarkan api dari kedelapan kepalanya.

Padahal saat tertutup es tidak ada oksigen…… pasti itu juga sejenis sihir.

Dan saat esnya mulai rapuh, naga itu menghancurkannya berkeping-keping.

Semua itu terjadi hanya dalam hitungan puluhan detik.

Sepertinya mustahil untuk melewatinya selagi ia membeku.

Setelah itu para ninja mencoba melawan dengan ninjutsu andalan mereka, namun naga itu tidak bisa dikalahkan, sehingga kami terpaksa mundur kembali ke persimpangan jalan tadi.

Naga itu memang sepertinya hanya menjaga bagian dalam lorong. Ia tidak mengejar kami.

Yah, kalaupun mengejar, dengan ukurannya itu ia tidak akan bisa keluar dari aula tersebut.

"Makhluk sebesar itu, masuknya lewat mana, sih?"

"Mungkin ia tidak masuk dalam keadaan besar, melainkan menyelinap saat masih kecil lalu tumbuh besar di sana dengan menyerap Miasma."

"Pantas saja warnanya hitam."

Mendengar dugaanku, Yurishia-san menghela napas.

Bagaimana ini?

Naga sebesar itu, tidak mungkin kami bisa menang.

"……Hei, apa tidak ada jalan lain? Misalnya jalan yang ini."

Mire-san menunjuk ke jalan samping, namun Kaede-san menggelengkan kepala.

"Tidak, di sana hanya ada alat yang kegunaannya tidak diketahui──"

"Bukankah alat itu mungkin disiapkan untuk saat-saat seperti ini? Untuk membasmi monster yang masuk ke aula. Boleh aku pergi melihatnya?"

"Sepertinya itu terlalu optimis──tidak, mari kita lihat saja. Kakak, tidak keberatan, kan?"

"……Umu."

Mungkin karena sudah putus asa.

Hiiragi-san mengangguk menyetujui usul Kaede-san, dan kami pun menuju bagian dalam gua melalui jalan samping.

Di sana, seperti kata Kaede-san, terdapat sebuah mesin.

"Benar-benar alat yang tidak jelas. Sebenarnya ini apa, ya?"

Mire-san bergumam, tapi alat ini──

"Aku seperti pernah melihatnya."

"Iya, mirip dengan yang itu."

Yurishia-san dan Lise-san sepertinya juga menyadarinya.

"Kalian mengetahuinya?"

Mendengar pertanyaan Hiiragi-san, aku mengangguk.

"Iya. Di negara kami ada peninggalan peradaban kuno yang disebut Situs Peradaban Laplace, dan ini mirip dengan alat pemindah yang ada di ruang rahasia di sana."

"Teleportation Device! Artinya kalau ada ini, kita bisa pergi ke tempat lain, bahkan lebih jauh dari ruangan naga tadi, kan?!"

"Entahlah. Hanya saja, karena di desa ini kegunaannya tidak diwariskan, ada kemungkinan alat ini sudah rusak……"

Kaede-san menimpali perkataan Mire-san, tapi──

"Tidak, alat ini tidak rusak. Hanya sedang dalam status Safety Lock."

"Safety Lock?"

"Iya. Sistemnya mengharuskan kita mengirim sinyal ke alat tujuan, lalu pihak di sana harus membukanya barulah kita bisa berpindah.

Rasanya seperti menekan bel pintu rumah, lalu kunci dibuka dari dalam. Sepertinya ini adalah alat yang dibuat dengan meniru Teleportation Device dari Situs Peradaban Laplace."

"Meniru?! Bukannya Kuruto pun tidak bisa membuat Teleportation Device?!"

Yurishia-san sangat terkejut, tapi aku pun sama kagetnya.

"Iya, aku tidak bisa membuatnya. Tapi──oke, dengan ini aku sudah mengirim sinyal ke sisi seberang.

Sepertinya ada banyak tujuan, tapi kurasa akan ada jawaban dari tempat yang baru saja ditambahkan baru-baru ini."

"Mengirim sinyal ke seberang? Tapi kalau di sana tidak ada orang, tidak akan ada yang membuka kuncinya──tunggu, baru saja ditambahkan?"

Tepat saat Yurishia-san mengatakannya, Teleportation Device itu mulai beroperasi.

Dan kemudian──

"Seseorang datang!"

Di tengah kewaspadaan Yurishia-san, seseorang muncul melalui Teleportation Device tersebut.

"Lho? Kupikir siapa, ternyata Kuruto toh."

Itu adalah suara laki-laki yang sangat familier di telingaku.

Dan juga, suara dari orang yang sudah kuprediksi sebelumnya.

"Ternyata dugaanku benar, yang membuat alat pemindah ini adalah Ayah."

Orang yang muncul dari alat pemindah itu adalah ayahku, Nicholas Rockhans.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close