NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 5 Chapter 2

Chapter 2

Identitas yang Terbongkar


Aku, Yurishia, sedang dilanda kebingungan.

Kenapa Purple menyelamatkan Kurumi?

Tepat saat Pembersih Kotoran Semburan Api Anti-Goblin milik Maid Bertopeng ditembakkan ke arah Kurumi, Purple berdiri tegak menghadang api itu seolah menjadi tameng.

Gerakannya sama sekali tidak menunjukkan keraguan.

Seolah-olah melindungi Kurumi adalah misinya—bukan, seolah itu adalah alasan hidupnya.

"Konfirmasi penurunan aktivitas vital pada partner Kuruto. Mengubah dari Mode Demonstrasi ke Mode Darurat."

Eh? Barusan dia bilang apa—"Partner Kuruto"?

Pada saat itu, kewaspadaanku pun mengendur.

Tubuh Maid Bertopeng tiba-tiba menendang kepala yang sedang kudekap untuk merebutnya kembali.

Dampak tendangan itu membuat topengnya terlepas, menampakkan wajah aslinya yang manis.

Setelah memungut pergelangan tangan yang jatuh di lantai, dia memapah Purple yang pingsan karena luka bakar hebat, lalu melompat tinggi—melarikan diri begitu saja ke luar arena.

Sepertinya, pertandingan sudah berakhir.

Banyak pertanyaan yang berkecamuk, namun aku melihat Kurumi yang terduduk lemas di tengah pemandangan tragis di depan matanya.

Padahal aku sudah bilang akan melindunginya, tapi karena aku menyudutkan Maid Bertopeng, aku malah membuatnya mengalami hal yang menakutkan.

"Kurumi, kamu baik-baik saja?"

"I-iya. Aku baik-baik saja. Maaf, banyak hal yang terjadi sampai aku jadi begini."

"Wajar saja, kok."

Yang terguncang bukan hanya Kurumi.

Kegelisahan juga menyebar di antara penonton sejak pergelangan tangan Maid Bertopeng terbang, dan saat dia tetap bergerak meski kepalanya lepas, mereka benar-benar tidak paham lagi apa yang sedang terjadi.

Bukan cuma penonton, wasit juga—begitu ya.

"Wasit, bagaimana hasil pertandingannya?" tanyaku.

"M-mohon maaf atas keterlambatannya! Karena pasangan Purple-Maid Bertopeng keluar dari arena, pemenangnya adalah pasangan Yura-Kurumi!"

Seiring pengumuman yang menggema ke seluruh penjuru arena, tepuk tangan meriah pun terdengar dari bangku penonton yang tadinya sempat tegang.

Fuuh, sepertinya rintangan tersulit sudah terlewati.

Mari terus berjuang untuk meraih gelar juara.

Tepat saat aku memantapkan tekad, saat itulah hal itu terjadi.

"Saya punya keberatan atas hasil sidang tersebut, de aru!"

Suara dengan logat bicara yang unik bergema di arena, dan sesaat kemudian, seorang wanita naik ke atas panggung.

Kak Loretta.

Di tangannya tergenggam alat sihir pengeras suara.

"Loretta-sama, apa maksud Anda dengan keberatan? Maid Bertopeng kemungkinan besar bukan manusia biasa dan perlu diselidiki, tapi bagaimanapun juga, mereka kalah karena keluar arena—"

"Secara aturan, tidak ada poin yang melarang non-manusia untuk ikut bertanding, de aru. Masalahnya justru ada pada Anda, Yura-dono."

Kak Loretta menunjuk ke arahku, lalu berkata.

"Kamu ini perempuan, kan, de aru?"

—Gawat, sudah ketahuan.

Aku tahu alasannya.

Drain Sword yang kugunakan tadi. Teknik itu aslinya adalah jurus rahasia bernama Mahogiri (Pemotong Sihir), dan orang yang mengajarkannya padaku adalah Kak Loretta sendiri.

Tentu saja pasti ketahuan.

Namun, saat itu aku tidak melihat celah kemenangan lain selain menggunakan jurus tersebut.

"Apa maksudmu?"

Aku mencoba berpura-pura bodoh, tapi sebelum kusadari, Kak Loretta sudah melemparkan pisau.

Gerakan tangannya sama sekali tidak terlihat. Kak Loretta jugalah yang mengajariku cara melempar pisau, tapi kemampuannya jauh melampauiku.

Pisau yang dilempar hampir tanpa gerakan awalan itu menghancurkan pengait pelindung dadaku.

"Itulah buktinya, de aru."

Begitu dia berkata demikian—pada saat itu juga, dadaku yang selama ini tertahan oleh pelindung dada pun terbebas.

Gawat, sepertinya perban yang melilit dadaku juga ikut terputus dalam pertarungan tadi. Yah, karena dari awal itu bukan perban yang sangat kuat, mau bagaimana lagi.

"Eh? ……Yura-san, seorang perempuan?" ucap Kurumi dengan wajah melongo.

"Maaf ya, Kurumi," sahutku pelan sambil menundukkan kepala.

Sepertinya aku sudah tidak bisa mengelak lagi.

Aku menyerah dan melepas alat sihir pengubah suara dari leherku.

Ah, andai saja ukurannya sekecil milik Liese, mungkin aku masih bisa berkilah.

Tepat saat aku memikirkan hal itu, saat itulah terjadi lagi.

"Saya punya keberatan atas keberatan tersebut!"

Dari kursi VIP di tengah arena, seorang wanita melompat dari ketinggian belasan meter, berputar dan memuntir di udara sebelum mendarat dengan anggun.

—Liese.

Tentu saja Liese tidak mungkin bisa melakukan gerakan akrobatik seperti itu, jadi ini 100% adalah Kochou—ilusi dari pedang sihir buatan Kuruto.

Namun berkat gerakan itu, suasana mencekam di arena tadi mendadak sirna dan berganti dengan gemuruh tepuk tangan.

Hebat juga dia, bisa mengubah suasana hanya dengan kemunculannya.

Tapi, kenapa anak ini malah keluar?

"Loretta-sama, meskipun peserta Yura adalah seorang perempuan, itu tidak akan membuatnya kalah karena pelanggaran."

Liese sepertinya juga membawa alat sihir pengeras suara yang sama, suaranya menggema ke seluruh arena.

"Secara aturan, dilarang mendaftar dengan memalsukan jenis kelamin, de aru. Mana mungkin itu tidak dianggap pelanggaran, de aru?"

"Loretta-sama, tolong jangan mengubah aturan seenaknya. Mendaftar dengan memalsukan jenis kelamin itu tidak dilarang. Secara aturan, peserta hanya diwajibkan mendaftar sebagai pasangan pria dan wanita, tahu?"

"Bukankah itu sama saja? Faktanya, mereka berdua adalah pasangan sesama perempuan, jadi mereka kalah karena pelanggaran!"

"Memang benar, dia yang ada di sana—Yurishia-san, telah memalsukan namanya sebagai Yura."

Liese bahkan sengaja membongkar namaku.

Kenapa dia sampai harus bicara sejauh itu? Dari awal aku sudah pasrah akan ketahuan, tapi dengan ini aku benar-benar habis.

"Yura-san adalah Yurishia-san!?"

Kurumi terkejut dan berteriak. Entah kenapa, dia jauh lebih kaget dibandingkan saat tahu kalau aku perempuan.

Melihat keguncanganku dan Kurumi dari sudut matanya, Liese tersenyum.

"Namun, yang memalsukan jenis kelamin dan nama bukan hanya Yurishia-san saja—bukan begitu, Kurumi-san?"

Kurumi mengangguk seolah setuju dengan perkataan Liese, lalu memegang kepalanya.

Tepat setelah itu—rambutnya terlepas.

Bukan, sepertinya itu adalah wig.

Gadis cantik berambut panjang berubah menjadi gadis cantik berambut pendek—gadis cantik—tunggu, rambut itu—

"Kuruto!? Kamu, jangan-jangan kamu itu Kuruto!?"

"Iya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Yura-san ternyata adalah Yurishia-san."




"Aku pun begitu. Tapi, eh? Kenapa?"

Aku sempat berpikir kalau aku tidak mengenalinya hanya karena gaya rambut yang berbeda—tapi ini tetap saja aneh.

Sebab, Kurumi—bukan, Kuruto—tampak sama sekali tidak menyadari kalau kemampuannya itu di luar nalar.

Padahal kukira kesalahpahaman tentang kekuatan Kuruto sudah lurus.

"Benar sekali, nama asli peserta Kurumi adalah Kuruto Rockhans. Dia seorang laki-laki!"

Gumam keramaian dari bangku penonton terdengar lebih riuh dibanding saat identitasku terbongkar tadi.

Ada suara jeritan, tapi entah kenapa ada juga suara sorak-sorai yang membahana.

"Oleh karena itu, pasangan pria dan wanita tetap sah. Mereka tidak didiskualifikasi!"

Liese memproklamirkan hal itu dengan nada kemenangan.

"Tunggu dulu, de aru. Peserta Kurumi—bukan, Kuruto-dono—mendaftar pada hari terakhir babak penyisihan. Pada hari itu, pendaftaran untuk peserta laki-laki sudah ditutup, de aru."

"Ara? Bukankah Anda sendiri yang mengatakannya? 'Pendaftaran pria memang sudah tutup, tapi aku akan memberikan izin khusus,' begitu, kan?"

"Anda juga bilang, 'Kalau ingin dia ikut bertanding, katakan saja kapan pun.' Dan aku menjawab, 'Kalau begitu, mohon bantuannya.' Karena itulah Kuruto-sama bisa ikut bertanding, tahu?"

"……Memang benar aku pernah bilang begitu, de aru."

Kak Loretta tertunduk lesu.

Wanita ini memang penuh siasat, tapi dia tidak pernah berbohong.

Akhirnya, nasibku dan Kuruto diputuskan akan didiskusikan oleh dewan juri, sehingga pertandingan dihentikan sementara secara formal.

Aku dan Kuruto dipindahkan ke ruang pribadi Liese untuk menunggu selama masa peninjauan.

Liese khawatir jika kami dikembalikan ke ruang tunggu biasa, hal itu mungkin akan memicu keributan.

Namun, kemungkinan besar dia sengaja memberi ruang agar aku dan Kuruto bisa bicara berdua.

"Yurishia-san, Yurishia-san, Yurishia-saaan!"

Begitu hanya tinggal berdua, Kuruto langsung mendekatiku sambil menangis.

"Wah, Kuruto, tenanglah! Jangan mendekat!"

Aku mendorong Kuruto yang tampak ingin memelukku erat.

Kuruto yang terdorong menatapku dengan mata yang sedikit sedih.

Sejujurnya, aku pun ingin memeluknya.

Tapi, keadaan tidak memungkinkan karena perban pembebat dadaku sudah putus.

Aku tidak mungkin berpelukan dengan Kuruto dalam kondisi begini.

"Sana ganti baju dulu."

"Ah, benar juga."

Aku menggiring Kuruto ke ruang ganti di sebelah, sementara aku bergegas mengambil barang dari tas bawaanku—

"Ah, Yurishia-san, sebelum itu apa pedang Sekka tidak perlu dirawat?"

"Tidak apa-apa! Cepat sana ganti baju!"

"Baik."

Bahaya—hampir saja aku melepas baju.

Tidak ada yang melihat, kan?

Aku segera mengenakan pakaian dalam dan merasa lega.

Lalu, aku menatap cermin rias besar di ruangan VIP tersebut.

Terpampang sosokku dengan rambut pendek.

……Dulu rambutku memang selalu pendek, ya.

"Sejak kapan, ya…… aku mulai memanjangkan rambut?"

Seingatku, waktu kecil rambutku pendek, lalu karena suatu alasan aku memanjangkannya.

Aku sudah tidak ingat alasannya, tapi melihat rambutku menjadi pendek lagi, ada perasaan tidak enak di hatiku.

"Haa……"

"Yurishia-san, aku sudah selesai ganti baju."

"Oh, begitu ya."

Nah, kalau begitu apa kita pelukan saja…… ah, suasananya sudah tidak mendukung.

Aku bergumam lalu berbalik badan, namun Kuruto ternyata sedang membelakangiku.

Ada apa dengannya?

"Yurishia-san, tolong pakai bajumu."

"Eh?"

Aku menatap tubuhku sekali lagi.

Ya, aku memang sudah memakai pakaian dalam—bukan telanjang dada, jadi tidak masa—

"Masalah besar, tahu!"

Aku terlalu lega karena sudah memakai pakaian dalam sampai lupa memakai baju luarnya.

Aku membelakangi Kuruto dan terburu-buru mengenakan baju.

"Ah, sudahlah. Kuruto selalu saja melihat sisi memalukanku."

"Sama sekali tidak begitu!"

Di balik cermin, Kuruto membalas dengan suara lantang meski masih membelakangiku.

"Aku memang merasa tertarik pada Yura-san, ada perasaan nyaman saat bersamanya."

"Padahal itu pertemuan pertama kami, jadi terasa sedikit aneh. Tapi sekarang aku mengerti alasannya."

"Perasaan yang kumiliki terhadap Yura-san ternyata sama persis dengan perasaanku pada Yurishia-san."

"Kuruto……"

Aku pun merasakan hal yang sama.

Perasaanku terhadap Kurumi; menganggapnya aneh, lugu, manis, ingin menjadikannya istri, hingga keinginan untuk berjuang demi dia.

Semua itu ternyata adalah perasaan yang kutujukan untuk Kuruto.

"……Hm? Eh, kalau dengar kata-katamu barusan, bukannya itu berarti aku ini tomboi sekali?"

"A-aku tidak bilang begitu, kok."

Punggungnya yang gemetar menunjukkan kalau dia sedang panik.

"Kuruto, sudah boleh berbalik."

"Baik—ah, benar juga. Yurishia-san, ini untukmu."

"Apa ini? Obat luka?"

Kebetulan sekali, bagian yang dipukul Maid Bertopeng tadi memang terasa agak sakit.

Aku menerima botol obat dari Kuruto dan hendak meminumnya.

Namun, Kuruto buru-buru menghentikanku.

"Ah, itu bukan obat luka. Itu obat penumbuh rambut."

"Penumbuh rambut?"

"Iya. Kamu memotong rambut untuk menyamar, kan? Pakai ini, rambutmu akan tumbuh lagi."

Kalau orang lain yang bilang, aku pasti akan ragu.

Namun, jika Kuruto yang mengatakannya, sudah pasti benar.

"Apa aku tinggal menuangkannya ke kepala?"

"Iya. Mau aku bantu?"

"Umm, tolong ya. Sepertinya sulit kalau diatur sendiri."

"Kalau begitu, Yurishia-san, silakan duduk di sana."

Aku duduk di kursi depan cermin.

Kuruto berdiri di belakangku, menuangkan cairan ke telapak tangannya, lalu memijat kulit kepalaku dengan lembut.

Rasanya sangat nyaman sampai aku hampir tertidur.

Efek obatnya muncul seketika.

Hanya dalam hitungan detik, rambutku tumbuh dengan sangat cepat.

Sebelum kusadari, rambutku sudah memanjang hingga menyentuh lantai.

"Oi, Kuruto! Ini terlalu panjang, kan!? Apa tidak apa-apa?"

"Tenang saja. Ini cairan obat umum yang dipakai di rumah tangga mana pun, kok. Sekarang, biar aku rapikan."

Kuruto mengeluarkan gunting dan mulai memotong rambutku dengan lincah.

Suara gunting yang renyah terdengar saat dia menyamakan panjang rambutku.

Haa, Kuruto benar-benar tidak berubah.

"Kuruto, berhentilah bicara hal yang menyesatkan. Mana ada obat sehebat ini dibilang umum?"

"Kamu lupa ya dengan Ranking Aptitude ramuanmu sendiri?"

"Aku tidak lupa, kok. Mimiko-san sudah memberitahuku kalau kemampuan bertarungku semuanya G-Rank."

Kuruto berkata dengan senyum polos.

"Tapi Cleaning, Cooking, dan Mining milikku B-Rank, sisanya C-Rank."

"—Hah!? Kuruto, apa kamu tidak mengecek ulang rank-mu? Tidak mungkin kemampuanmu cuma B atau C!"

"Muu."

Kuruto menggembungkan pipinya dengan kesal, wajah marahnya pun terlihat sangat imut.

"Yurishia-san, aku sendiri juga merasa Rank B atau C itu terlalu tinggi untukku. Tapi Mimiko-san sudah mengukurnya dengan benar."

"Bukan itu maksudku—sebelum aku pergi, bukankah aku sudah meluruskan semua kesalahpahaman itu?"

"Eh? Kesalahpahaman? Maksudnya apa?"

Kuruto bertanya setelah selesai merapikan rambutku.

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Yura-san, bisa bicara sebentar?"

Liese muncul dari ruangan dalam, sepertinya proses peninjauan sudah selesai.

……Ngomong-ngomong, kenapa dia tidak masuk lewat pintu depan?

Jangan-jangan dia mengintip Kuruto ganti baju tadi.

"Kuruto, terima kasih ya."

"Sama-sama. Apa ada bagian yang terasa kurang pas?"

"Tidak, ini pas sekali. Rasanya kepalaku jadi jauh lebih ringan."

Aku berterima kasih pada Kuruto lalu masuk ke ruangan dalam untuk mendengar penjelasan Liese.

Aku langsung menyudutkannya dengan pertanyaan.

"Apa yang terjadi? Bukankah kesalahpahaman Kuruto sudah beres?"

"Benar. Kuruto-sama memang sempat menyadari kekuatannya meski tidak sepenuhnya akurat. Namun—"

Liese mulai menceritakan kejadian aneh yang menimpa Kuruto setelah aku pergi.

Mendengar penjelasan Liese, aku ingin memegangi kepalaku karena pusing.

Siapa sangka setelah aku pergi, Kuruto mengalami koma dan kehilangan ingatannya.

Kukira dia tidak menyadari kekuatannya karena saking tidak pekanya, ternyata ada rahasia semacam itu.

Artinya, aku dan Liese harus tetap bertindak agar Kuruto tidak menyadari kekuatannya sendiri.

"Apa kata Ophilia-sama atau Mimiko soal gejala Kuruto?"

"Entahlah. Kemungkinan besar itu semacam segel—"

"Masuk akal. Kalau segel biasa, Kuruto pasti bisa melepasnya sendiri, tapi kalau tidak bisa, berarti itu bukan segel normal."

Umm, mungkinkah orang-orang dari Desa Haste yang memasang segel itu?

Jika mereka orang-orang dari desa Kuruto, tidak aneh jika mereka punya teknik segel misterius yang tidak diketahui Mimiko.

"Selain itu, masalahnya adalah jenis kelamin kalian berdua. Aku khawatir akan terjadi kerusuhan karena kalian punya banyak penggemar."

"……Ah…… itu memang mengkhawatirkan."

Penggemarku mungkin tidak masalah, tapi bagaimana dengan penggemar Kuruto?

Mereka semua menganggap Kuruto sebagai gadis cantik yang luar biasa. Perasaan dikhianati mereka pasti sangat besar.

Yah, setelah turnamen selesai, aku tinggal kabur saja dari negara ini.

Tepat saat aku memikirkan hal itu, Kuruto masuk ke ruangan.

"Liese-san, ada tamu."

"Tamu? Untukku?"

"Iya. Katanya utusan dari Penguasa Pulau Macca, Uss Itoosh-sama."

"……Ah…… utusan Uss-san ya…… aku tidak bisa mengabaikannya. Yurishia-san, Kuruto-sama, aku pergi dulu."

Liese menghela napas lalu keluar ruangan.

Aku dan Kuruto kembali berdua saja.

Setelah keheningan singkat, kami berdua tertawa teringat akan kesalahpahaman selama ini.

"Jadi, apa rencana Yurishia-san sekarang? Bukankah kamu ikut turnamen ini agar tidak jadi menikah?"

"Kenapa kamu tahu—ah, begitu ya."

Sebelum babak pertama, Kuruto bilang padaku kalau orang berharganya ikut turnamen dan dia tidak bisa bertarung serius jika harus melawannya.

Ternyata orang itu adalah aku.

Kalau tidak salah, Kuruto bilang orang itu adalah—

'Orang yang kusukai.'

"Yurishia-san!? Ada apa? Wajahmu merah sekali seperti tomat matang!"

"T-tidak apa-apa, kok. Aku baik-baik saja."

Gawat, tenanglah. Kuruto pasti bilang 'suka' dalam artian teman baik atau orang yang berharga.

"Ah, soal Maid Bertopeng tadi, menurutku dia itu—"

"Kuruto, bisa bicara sebentar? Ada yang ingin kubicarakan berdua."

—!?

Tiba-tiba seorang wanita dengan sorban di kepalanya sudah berdiri di depan pintu.

Siapa wanita ini? Berani-beraninya menyapa Kuruto dengan akrab.

Apa dia penggemar Kuruto?

"Ah, Cicci-san! Ada apa?"

"Kuruto, kamu kenal dia?"

"Iya, dia pernah membantuku sebelumnya."

"Hmph, pergilah. Tapi kita harus tetap menunggu di sini, jadi bicaralah di ruangan sebelah saja."

Wanita bernama Cicci itu memberikan anggukan hormat padaku.

"Terima kasih. Viscount-sama, syukurlah orang yang kamu cari sudah ketemu."

"Iya, terima kasih banyak."

Kuruto berterima kasih pada Cicci lalu mereka masuk ke ruangan sebelah.

Sesaat kemudian, pintu ruangan kembali diketuk.

Banyak sekali tamu hari ini.

Kukira Liese kembali membawa hasil keputusan, jadi aku membuka pintu.

"............"

"............"

Namun melihat tamu yang tak terduga itu, aku membeku dalam diam.

Aku mencoba menutup pintu perlahan, tapi kakinya langsung menahan pintu tersebut.

"Kenapa ditutup, Yurishia?"

"……Tidak, hanya perasaan saja…… Kak Loretta."

Aku mencoba tersenyum, tapi yang terjadi hanyalah sudut bibirku yang gemetar.

Aku tidak bisa mengusirnya begitu saja, jadi aku membiarkan Kak Loretta masuk.

Aku menghela napas lalu menyajikan teh untuknya.

Kak Loretta meminum tehnya tanpa suara.

Aku yang tidak tahan dengan keheningan ini pun ikut meminum teh bersamanya.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak menyeduh teh sendiri.

Mungkin karena lidahku sudah terbiasa dengan teh buatan Kuruto, teh ini terasa jauh di bawah standar.

"Aneh ya. Padahal aku sudah mengajarimu cara menyeduh teh, Yurishia."

Itu kan kejadian saat kami masih kecil dulu.

"Ini benar-benar merusak rasa daun tehnya. Rasanya seperti—"

"Seperti air selokan, ya?"

"Aku tidak bilang sampai separah itu, de aru."

"Maaf. Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan."

"Apa kamu benar-benar berpikir begitu!?"

Kak Loretta meninggikan suaranya, sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Dulu aku sangat menyayanginya seperti kakak kandung sendiri.

Kenapa hubungan kami jadi serumit ini sekarang?

"Melamun saat menjamu tamu, kamu terlihat sangat santai ya."

Kak Loretta menatapku tajam, dan aku membalas tatapannya.

"Kak Loretta, ada urusan apa?"

"Aku datang untuk menyampaikan hasil keputusan. Dewan juri memutuskan kemenangan kalian sah, pasangan Yura dan Kurumi lanjut ke babak ketiga."

Aku merasa sedikit lega mendengarnya.

Kukira mereka akan menggunakan kekuasaan untuk mendiskualifikasi kami.

"Tadi ada usul untuk mendiskualifikasi kalian dan meloloskan Champ serta Ion ke semifinal, tapi mereka berdua justru meminta kalian tetap maju."

"Champ dan Ion…… begitu ya."

Sejujurnya, aku sudah siap jika mereka membenciku karena aku menyamar.

Namun ternyata mereka justru mengakui kami dan membantunya. Bibirku yang tadi gemetar kini tersenyum alami.

"Yurishia, apa kamu tidak berniat untuk mundur sekarang?"

"Aku tidak akan mundur. Aku akan bertarung bersama Kurumi—tidak, bersama Kuruto sampai akhir."

"Begitu ya. Lalu, apa kamu akan menikah dengan Viscount Rockhans?"

"Kenapa jadi begitu!?"

"Bukankah sudah kubilang? Pemenang wanita akan dinikahkan dengan pemenang pria. Jika kamu juara, otomatis kamu akan menikah dengannya."

"Hah!?"

Sial, aku lupa!

Tujuanku ikut turnamen untuk membatalkan pernikahan itu jika aku menang sebagai pria.

Tapi jika aku menang sekarang, aku justru harus menikah dengan Kuruto—tunggu, itu tidak buruk sih—tapi kebebasan Kuruto akan hilang!

"Kak Loretta! Liese tidak akan tinggal diam! Kamu pasti tahu identitas aslinya, kan?"

"Tentu saja, tapi Tuan Putri Ketiga tidak akan bisa berbuat apa-apa."

"Kamu meremehkannya. Liese punya koneksi dengan Mimiko sang Royal Magician, Ophilia sang Atelier Meister, dan Margrave Tycoon."

"Liese bisa saja merebut tahta Kerajaan Homuros hanya untuk menyatakan perang pada negara ini demi mengambil kembali Kuruto!"

"Berhentilah bercanda, de aru."

Aku tidak bercanda. Liese adalah tipe wanita yang akan melakukan hal-hal gila jika sudah bertekad.

"Ini adalah perintah."

"Aku menolak. Lagipula, kalian sendiri yang mengusirku dan Ibu dari klan! Kenapa baru sekarang—"

Aku menghentikan kata-kataku karena tahu itu sia-sia.

"……Baiklah, aku mengerti."

"Bagus. Ingat, syarat utama kamu bisa menikah dengannya adalah kalian harus menjadi juara."

Kak Loretta keluar dari ruangan.

Aku sudah mengerti semuanya. Dia hanya mengikuti perintah klan.

Maka aku harus menghadapi klan itu secara langsung dan membebaskannya dari perintah tersebut.

Aku tidak akan membiarkan mereka merampas hidupku.

"Kuruto, apa bicaranya sudah selesai?"

Aku menarik napas dalam untuk menenangkan diri lalu mengetuk pintu ruangan sebelah.

Namun tidak ada jawaban.

Bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di dalam.

Aku membuka pintu, namun Kuruto dan Cicci sudah tidak ada di sana. Ruangan itu kosong melompati.

◆◇◆

"Viscount-sama, aku minta kuenya ya."

Begitu masuk ke dalam, Cicci-san langsung mengambil manisan di atas meja dan memakannya tanpa menunggu izinku.

Sebenarnya aku ingin tahu bagaimana keadaan Golnova-san, tapi karena dia menghilang, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Untuk sekarang, aku akan mendengarkan pembicaraan Cicci-san.

Karena dia terlihat sulit menelan kuenya, aku menuangkan air ke gelas dan memberikannya.

"Terima kasih. Rasanya hebat sekali dilayani oleh seorang Viscount."

"Viscount itu cuma gelar saja, kok. Itu semua karena kebaikan Rikuto-sama."

"Hoo, Rikuto-sama ya."

Cicci-san menjilat gula di jarinya sambil tersenyum tipis seperti kucing yang menemukan mainan baru.

Apa dia tertarik pada Rikuto-sama?

Rikuto-sama jarang ada di bengkel, aku tidak ingin merepotkannya lebih jauh lagi.

"Viscount-sama, ada yang ingin kuminta tolong, boleh?"

Akhirnya datang juga! Aku langsung bersiap.

"I-iya, apa itu?"

"Bisa bantu aku mengantar barang? Aku butuh bantuan tenaga untuk membawanya."

Eh? Ternyata bukan soal perkenalan dengan Rikuto-sama.

"Maaf, tapi aku harus menunggu di sini sampai hasil keputusan keluar."

"Soal itu tidak masalah. Kita akan bertemu dengan pihak panitia, Element Clan dari Ishisema. Aku sudah dapat izin untuk membawamu."

"Element Clan!?"

Itu adalah nama keluarga Kak Loretta dan Yurishia-san. Mereka adalah orang-orang yang ingin menjodohkan Yurishia-san.

Mungkin jika aku bertemu mereka, aku bisa memohon agar Yurishia-san tidak perlu menikah.

"Ingat ya, kita cuma mengantar barang. Jangan lakukan hal aneh-aneh."

"……Baiklah."

Cicci-san benar, aku tidak boleh membuat masalah untuknya.

"Jadi, apa yang harus kubawa?"

"Barangnya ada di luar—"

Cicci-san menyusun kembali buku di rak dan memasukkan tangannya ke celah yang ada.

Tiba-tiba rak buku itu bergeser. Ternyata itu pintu rahasia.

Pantas saja Liese-san bisa muncul tiba-tiba tadi.

"Aku harus berpamitan pada Yurishia-san dulu."

"Jangan, di sebelah sedang ada tamu. Nanti kamu malah mengganggu mereka."

Aku memutuskan untuk meninggalkan surat di atas meja saja.

Kami melewati lorong rahasia menuju sebuah gudang.

"Nah, ini dia. Tolong bawakan ya."

Di sana ada beberapa karung pasir. Sepertinya aku pernah melihat karung ini.

"Apa kamu kuat membawanya?"

"Iya, kalau cuma segini."

Begitu aku mengangkatnya, rasanya mana milikku tersedot ke dalam karung itu.

Dan ini sangat berat!

Aku ingat sekarang, ini adalah karung pasir yang dipakai Kirshell-san untuk menguji kekuatanku dulu.

"Viscount-sama, kamu tidak apa-apa? Lenganmu gemetar hebat."

"T-tidak apa-apa."

"Kalau begitu, ayo ikuti aku."

Kami berjalan menuju ruang bawah tanah arena pertarungan.

Tempat ini sangat gelap, aku harus berhati-hati agar tidak jatuh karena beban berat ini.

"Tinggal sedikit lagi, Viscount-sama."

"Iya."

Aku ingin istirahat, tapi kalau karung ini diletakkan, akan sulit untuk mengangkatnya lagi.

Besok aku pasti akan pegal-pegal jika tidak segera minum obat.

Bicara soal obat, aku jadi teringat daun Trent yang kubuang saat babak penyisihan kemarin. Sayang sekali, padahal itu bahan yang bagus.

Cicci-san menoleh ke arahku karena aku mendadak diam.

"Apa yang kamu pikirkan?"

"Ah, aku cuma berpikir kalau ada daun Trent, aku bisa membuat banyak ramuan."

"Begitu ya. Nanti kalau aku melihatnya, akan kukumpulkan untukmu."

"Terima kasih. Tapi daun itu harus segera dipakai atau direndam cairan pengawet agar tetap segar."

Aku tertawa kecil. Aku tidak enak hati bilang kalau tanpa kesegaran yang terjaga, ramuan itu hanya akan jadi obat kualitas rendah yang cuma bisa menyembuhkan patah tulang dalam satu jam.

"Segar ya. Baiklah, akan kupikirkan nanti."

Kami sampai di depan sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang pria kuat.

Setelah Cicci-san menunjukkan tanda pengenal, pintu pun dibuka.

Ruangan itu sangat luas. Di tengahnya terdapat gundukan tanah yang dikelilingi oleh dua belas orang tua—mungkin anggota klan.

"Para tetua klan, aku membawakan tanah yang kalian minta."

Salah satu tetua mengangguk dan menunjuk ke arah meja batu yang terlihat mahal.

"Taruh di sana."

"Tapi, apa benar di sini?" tanyaku ragu.

"Jangan banyak tanya! Cepat taruh!"

"B-baik!"

Aku meletakkan karung pasir itu di atas meja batu.

Seketika, meja batu itu hancur terbelah dua karena berat beban yang kutaruh.

"M-maafkan aku!"

Aku segera membungkuk minta maaf. Para tetua dan Cicci-san menatapku dengan wajah terpana.

◆◇◆

—Muu?

Di dalam ruangan tempat aku dipanggil oleh Uss-sama, aku, Liselotte, mengerutkan dahi.

Insting Kuruto-sama Sensor milikku memberitahu bahwa saat ini Kuruto-sama sedang berduaan secara akrab dengan wanita lain selain Yuli-san atau Akuri.

Apa yang dilakukan Yuli-san sampai membiarkan hal ini terjadi?

Padahal aku saja jarang punya waktu berduaan dengannya.

Aku bisa mentoleransi Yuli-san, tapi wanita lain tidak akan kubiarkan.

Uss-sama yang sedang memberikan laporan menatapku dengan bingung melihat reaksiku.

"Apa yang terjadi? Liese-dono?"

"Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya sedang menyusun rencana untuk melenyapkan seseorang."

"Begitu ya, syukurlah kalau be—tunggu, itu tidak bagus sama sekali, tahu!?"

"Tenanglah, sungguh. Meskipun kusebut orang, dia hanyalah sejenis hama. Aku pun belum tahu siapa dan di mana dia berada."

Mendengar kata-kataku, Uss-sama tampak kebingungan hingga matanya mengerjap-ngerjap.

"Aku benar-benar tidak paham di bagian mana aku harus merasa tenang, saat Anda menyebut seseorang yang identitasnya saja tidak diketahui sebagai hama."

"Kalau begitu, mari kita kembali ke topik utama."

"Padahal aku belum merasa tenang, tapi Anda malah mengalihkan pembicaraan—ah, sudahlah, mari kita lanjut."

Sepertinya dia sudah memahami maksudku. Hanya dengan sedikit tatapan tajam yang memberikan tekanan dariku.

"—Jadi, apakah pengecekan Orc Lord sudah selesai?"

Orc Lord yang kami hadapi di Pulau Macca. Aku meminta Uss-sama untuk menyelidiki penyebab kemunculannya dan situasi di sekitarnya.

"Iya. Entah kenapa, Atelier Meister dari Bengkel Bonball sangat kooperatif. Biasanya dia tipe orang yang menyerahkan urusan merepotkan seperti laporan kepada bawahannya, tapi mungkin karena ini insiden yang melibatkan Atelier Meister dari negara lain—ah, maaf. Langsung ke intinya saja."

"Pertama soal Orc, berdasarkan penyelidikan Adventurer Guild, tidak ditemukan Orc di sekitar gua yang diduga menjadi tempat munculnya Orc Lord. Namun, jejak keberadaan mereka ditemukan di lokasi yang agak jauh, jadi sepertinya mereka belum sepenuhnya punah."

"Selain itu, berkurangnya jumlah Orc membuat pergerakan Goblin menjadi lebih aktif, tapi saat ini hal itu belum berkembang menjadi masalah besar."

Nah, apa maksudnya ini?

Sejauh yang kudengar, sepertinya tidak ada masalah berarti terkait Orc Lord.

Itu hal yang bagus, tapi apakah dia sengaja memanggilku hanya untuk melaporkan hal semacam itu?

Jika hanya itu, cara bicaranya sejak tadi terasa terlalu berbelit-belit.

Gerakan matanya seolah sedang menyelidiki sesuatu—atau lebih tepatnya, dia terlihat mencurigakan.

Aku memang menyembunyikan statusku sebagai putri raja... tapi tidak mungkin dia menyadari identitas asliku, kan?

Jika iya, dia tidak akan memanggilku, melainkan akan menampakkan diri langsung di hadapanku.

Untuk berjaga-jaga, aku memberikan isyarat dengan tangan di belakang punggung, memberi tanda waspada kepada Kakaloa-san yang seharusnya sedang bersembunyi di ruangan ini.

"Sepertinya tidak ada masalah khusus, ya. Kalau begitu, aku—"

"A... tidak, itu... ada satu masalah, atau lebih tepatnya, sesuatu yang mengganjal di hatiku."

"Apa itu?"

"……Aku bingung harus mengatakannya bagaimana. Aku menyelidiki orang-orang yang memasuki Pulau Macca, dan di antaranya ada……"

Lagi-lagi Uss-sama terdiam.

Begitu rupanya. Sepertinya nama orang yang mencurigakan itu sudah muncul, tapi karena tidak ada bukti kuat dan orang tersebut memiliki posisi yang sulit untuk disinggung, dia jadi ragu untuk bicara.

Namun, dia juga tidak punya cukup keberanian untuk memendam fakta itu sendirian, dan berharap aku bisa berbagi rahasia dengannya.

Tapi, jika aku bilang 'aku tidak akan membocorkan rahasia di sini'—orang tipe seperti ini malah mungkin akan semakin waspada.

Aku pun memilih kata-kataku dengan hati-hati.

"Apakah orang itu sebegitu pentingnya? Jika rahasia yang kudengar di sini bocor ke luar, aku pun harus ikut bertanggung jawab... tapi aku sudah siap untuk itu. Silakan katakan saja."

Orang yang sebenarnya sangat ingin membocorkan rahasia akan langsung luluh begitu tahu ada orang lain yang mau berbagi tanggung jawab.

"……Sebenarnya, orang-orang dari klan di Pulau Ishisema datang berkunjung."

"……Itu sosok yang jauh lebih besar dari dugaanku, ya."

Jika bicara soal Element Clan dari Pulau Ishisema, mereka adalah pemegang kekuasaan yang sangat besar di dalam Koskeet (Federasi Kota Kepulauan).

Klan tersebut terdiri dari para penguasa pulau terdahulu dan sebagian kerabat mereka. Meskipun secara lahiriah mereka mendukung penguasa pulau, kekuasaan mereka bahkan melampaui Loretta-sama sang penguasa pulau itu sendiri.

Meski begitu, jika mereka termasuk dalam Federasi Kota Kepulauan, melakukan inspeksi bukanlah hal yang aneh.

"Itu hanya inspeksi biasa, kan?"

"Iya. Namun, cakupan inspeksi mereka mencakup hutan tempat munculnya Orc Lord, dan ada satu hal lagi yang mengganggu pikiranku……"

Sekali lagi Uss-sama bicara terbata-bata.

Memberikan informasi sedikit demi sedikit seperti ini benar-benar membuat stres.

Rasanya aku ingin kembali ke kamar, mengeluarkan sepuluh bayangan Kuruto-sama untuk menyembuhkan diri—tidak, hari ini aku ingin Kuruto-sama yang asli menyeduhkan teh untukku.

Tentu saja, mencari tahu wanita misterius yang konon bersama Kuruto-sama adalah prioritas utama.

"Itu…… ada masalah dengan orang yang datang bersama Liese-dono—"

"Apakah ada masalah dengan Kuruto-sama?"

"Hie!? B-bukan. Bukan orang itu."

Bukan dia?

Aku pun menarik kembali haus darah dan amarah yang sempat keluar secara refleks.

Eh? Kalau begitu, siapa orang yang datang bersamaku?

Yura-san dan Kakaloa-san memang ikut ke Pulau Paos, tapi harusnya tidak ada masalah. Berarti, yang saat itu bersama kami adalah—

"Sebenarnya, seorang wanita bernama Cicci yang memandu pihak klan. Karena Liese-dono bersamanya waktu itu, aku berpikir mungkin Anda mendengar sesuatu darinya? Atau mungkin Anda tahu sesuatu tentangnya—begitu maksudku."

Cicci? Memang dia terasa mencurigakan, tapi……

"Tidak, saya juga langsung berpisah dengannya begitu tiba di pulau ini, jadi tidak tahu apa-apa…… Ara, sudah jam segini ya. Saya pamit undur diri."

Aku mengatakan itu, mengucapkan terima kasih atas informasinya, lalu keluar dari ruangan.

Sekarang, selain mencari wanita misterius yang bersama Kuruto-sama, aku juga perlu mencari Cicci.

Sebenarnya, siapa dia?

Sambil memikirkan hal itu, aku berjalan cepat menuju kamar pribadi yang disediakan.

Saat itulah, pintu terbuka dengan keras dan Yuli-san muncul dari sana.

"Yuli-san, kebetulan sekali. Aku dan Kuruto-sama akan—"

"Liese, gawat! Kuruto menghilang bersama wanita bernama Cicci itu!"

"──!? Apa maksudmu!?"

Menurut cerita Yuli-san, Cicci datang berkunjung dan berbicara berdua dengan Kuruto-sama di ruangan dalam. Lalu, saat Yuli-san membuka pintu, mereka berdua sudah lenyap.

Ternyata firasat keenam yang kurasakan saat bertemu Penguasa Pulau Uss adalah tentang Kuruto-sama yang sedang bersama Cicci.

Tapi, meskipun itu Kuruto-sama, mungkinkah dia bisa meloloskan diri dari ruang tertutup tanpa kekuatan Akuri—ah, benar juga, ada jalan rahasia yang kugunakan tadi.

Di kamar pribadi untuk bangsawan, biasanya terdapat jalan rahasia untuk pertemuan tersembunyi dengan orang yang tidak bisa ditemui secara terang-terangan.

Meski begitu, kunci jalan itu aku yang pegang, dan kunci cadangannya seharusnya disimpan dengan sangat ketat. Itu bukan kunci dengan struktur sederhana yang bisa dimasuki sembarangan.

Jika kemampuan Cicci sebagai Ranger melampaui dugaanku, mungkin saja dia bisa membobolnya…… tapi, ah!

Kalau diingat-ingat, aku benar-benar lupa menguncinya tadi.

Benar-benar kecerobohan yang fatal.

Seberapa pun aku terpesona saat mengintip Kuruto-sama ganti baju, bagaimana bisa aku sampai lupa mengunci pintunya.

"Bukankah kamu bersamanya?"

Saat aku mengatakan itu, Yulail-san muncul di belakangku.

"Mohon maaf, Tuan Putri."

"Aku meninggalkanmu sebagai pengawal agar kejadian seperti ini tidak terjadi, tahu."

"Jangan bicara sembarangan, Liese. Kuruto dan Cicci pergi ke ruangan dalam berdua saja. Tanpa bayangan dari kupu-kupu milikmu, apalagi tanpa kerja sama dari orang yang harus dilindungi, hampir mustahil untuk masuk ke ruangan itu."

Memang benar seperti kata Yuli-san.

Meskipun dia adalah seorang Phantom yang ahli menyembunyikan keberadaan dan hawa pembunuh, sulit untuk menyelinap ke ruangan sempit dengan pintu masuk yang terbatas.

Membuka pintu saja pasti akan menimbulkan suara.

Setidaknya—

"Aku tahu! Aku tahu, tapi…… maaf, akulah penyebab semua ini karena lupa mengunci pintu belakang."

"Aku juga salah karena terlalu lama meladeni tamu. Daripada itu, sekarang lebih baik kita mencari Kuruto—"

"Eh? Ada apa dengan aku?"

““────!?””

Saat kami berbalik, di sana berdiri Kuruto-sama sendirian dengan wajah bingung.

Ini bukan bayangan kupu-kupu…… Ini Kuruto-sama yang asli.

"Kuruto-sama, Anda selamat? Apa wanita bernama Cicci itu melakukan sesuatu pada Anda?"

"Ahaha, dia tidak melakukan apa-apa, kok. Aku hanya membantunya mengantar barang."

Hanya membantu mengantar barang?

"Iya, aku mengantarkan barang ke tempat orang-orang klan."

““Pihak klan!?””

Aku dan Yuli-san berseru bersamaan.

Informasi bahwa Element Clan berada di kota ini memang sudah kami dapatkan, tapi kami belum tahu lokasi pastinya.

Ternyata, mereka berada di dalam arena pertarungan ini.

Tanpa kusadari, Yulail-san dan Kakaloa-san yang tadi ada di sini sudah menghilang. Entah kapan mereka bersembunyi.

Mungkin mereka bersembunyi sebelum terlihat oleh Kuruto-sama, tapi harusnya mereka memberitahuku sepatah kata pun.

Daripada itu, soal pihak klan.

Kenapa Kuruto-sama bisa berhubungan dengan Element Clan…… tidak, ini pasti karena keterlibatan Cicci-san.

"Kuruto, apa yang kamu bawa?"

"Hanya karung pasir biasa, kok. Tapi memang agak berat."

Saat Yuli-san bertanya, Kuruto-sama menjawab dengan malu-malu.

Jika dia bilang agak berat, itu berarti dia mengangkut ratusan karung pasir.

Namun, aku sama sekali tidak paham kenapa pihak klan membutuhkan karung pasir.

Kuruto-sama pun sepertinya tidak tahu.

"Orang-orang klan itu sepertinya bukan orang jahat. Yurishia-san, ayo ikut aku membujuk mereka—"

Saat itulah.

Yuli-san tiba-tiba memeluk Kuruto-sama dengan erat.

Seluruh bulu kudukku berdiri.

Apa-apaan yang dilakukan orang ini tiba-tiba!?

"Yu, Yuli-san."

"Kuruto, aku khawatir sekali saat kamu tiba-tiba menghilang!"

Kuruto-sama menjawab dengan wajah bingung.

"Yurishia-san, kudengar kamu sedang bicara dengan tamu, jadi kupikir aku akan mengganggu kalau—"

"Pihak klan bisa mengeksekusi rakyat jelata hanya dengan satu kata. Meskipun kamu bangsawan dari Kerajaan Homuros, dengan gelar Knight terendahmu itu, kamu tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika menyinggung perasaan mereka. Kamu bilang mereka tidak terlihat seperti orang jahat, tapi penjahat yang paling buruk justru sering kali terlihat seperti orang baik. Kumohon, jangan bertindak nekat."

"……Maafkan aku."

Melihat Kuruto-sama yang meminta maaf, aku pun menghela napas.

Benar seperti kata Yuli-san, sebaiknya jangan terlibat lebih jauh dengan pihak klan untuk saat ini.

Hubungan Cicci dengan mereka masih misterius, dan akan gawat jika mereka mulai tertarik pada Kuruto-sama.

"Yuli-san, cukup sampai di situ. Kalau kamu bilang khawatir karena dia menghilang tiba-tiba, bukankah seharusnya Kuruto-sama yang mengatakan itu padamu?"

Mendengar kata-kataku, Yuli-san melepaskan pelukannya dari Kuruto-sama.

"……Benar juga. Maaf, Kuruto."

"Tidak, aku juga yang bertindak gegabah."

Karena Kuruto-sama sudah merenungi perbuatannya, pembicaraan ini selesai.

Selain itu, dari cerita Kuruto-sama, kami tahu bahwa pihak klan berada di bawah tanah arena ini.

Masih misterius kenapa mereka ada di tempat seperti itu, tapi menyelidikinya lebih jauh terlalu berbahaya.

Daripada itu, sekarang pencarian Cicci-san menjadi prioritas.

Aku memberikan isyarat tangan di belakang punggung, memerintahkan Yulail-san untuk mencari Cicci-san.

Karena dia berpisah dengan Kuruto-sama di dekat ruangan ini, mungkin dia bisa segera ditemukan jika bergegas.

Lalu tiba-tiba—

"Ah! Ketemu juga, peserta Kurumi, peserta Yura!"

Seorang wanita yang tadi bertugas sebagai wasit muncul di hadapan kami.

Dia seolah menyadari kesalahannya lalu berseru "Ah!?".

"Maaf, pendaftarannya sudah diubah menjadi peserta Kuruto dan peserta Yurishia. Diskualifikasi kalian dibatalkan, dan kalian diputuskan maju ke semifinal. Di semifinal nanti, kombinasi pertandingan akan ditentukan lewat undian lagi, jadi segeralah menuju panggung. Saya akan memanggil peserta lainnya, jadi saya permisi dulu!"

Setelah mengatakan itu, wasit wanita tersebut berlari menuju tempat lain.

"Kalau begitu, selamat berjuang, Kuruto-sama. Saya akan mendukung dari ruang VIP."

"Iya! Ah, tapi hari ini sepertinya hanya undian saja lalu pertandingan selesai, jadi mohon dukungannya untuk besok ya."

"Kalau begitu, saya berdoa agar Anda mendapatkan hasil undian yang bagus."

Aku mengatakan itu, lalu pergi menuju ruang VIP sambil mendoakan keselamatan Kuruto-sama dan hasil undiannya.

◆◇◆

Aku dan Yurishia-san, diiringi doa dari Liese-san, berjalan cepat menuju arena.

Di tengah jalan, Yurishia-san tampak sedikit cemas.

"Yurishia-san, ada apa?"

Apakah dia khawatir tidak bisa menang di semifinal dan final karena berpartner denganku?

Ta-tapi, meski kemenangan atas Golnova-san dan timnya adalah berkat kebaikan hati mereka, kami menang atas favorit juara Champ dan Ion berkat kekuatan kami. Yurishia-san pasti bisa menang.

Tapi ternyata, hal yang dikhawatirkan Yurishia-san berbeda dari dugaanku.

"Bukan itu…… lihat, waktu aku dan kamu masih menyamar jadi lawan jenis, penggemar kita banyak sekali, kan?"

"Yurishia-san memang sangat populer ya."

"Kamu jauh lebih hebat, tahu. Tapi, aku jadi berpikir apa yang akan mereka katakan saat tahu jenis kelamin kita ternyata terbalik."

"Ah!?"

Aku baru menyadari hal itu setelah Yurishia-san mengatakannya.

Benar katanya.

Aku dan Yurishia-san telah menipu seluruh penonton saat mengikuti turnamen ini.

Penggemar-penggemarku percaya kalau aku ini seorang gadis. Bagaimana perasaan mereka saat tahu kalau aku sebenarnya laki-laki?

Jawabannya mudah—pasti mereka akan dendam.

"Yurishia-san. Kita berdua telah melakukan kesalahan sebesar itu…… aku sudah siap jika nanti dimaki-maki."

"Aku tahu. Tapi Kuruto…… jangan terlalu dekat dengan pinggir panggung ya. Nanti kamu tidak bisa menghindar atau menangkis kalau dilempari barang."

"……Mungkin, aku akan kena lempar."

Dilempari telur busuk adalah risiko yang akan kuterima dengan lapang dada.

Tapi aku khawatir jika kena lempar batu dan pingsan, itu akan merepotkan semua orang meski hari ini tidak ada pertandingan lagi.

Benar kata Yurishia-san, begitu sampai di arena, sebaiknya aku berdiri di tengah panggung saja.

Lorong menuju arena terasa sangat panjang.

Meski begitu, selangkah demi selangkah mendekati arena, suara sorak-sorai mulai terdengar di telingaku.

"Peserta Kuruto, peserta Yurishia, tolong cepat. Semuanya sudah menunggu kalian."

Didorong oleh wasit wanita, kami semakin mempercepat langkah.

Dan saat kami tiba di arena.

Sorakan yang luar biasa membahana menyambut kami.

"Kurumi-chaaaaann! Aku tetap menyukaimu meski kamu laki-laki!"

"Kuruto-kyun, imut sekali, Kuruto-kyun!"

Suara orang yang selalu mendukungku di barisan paling depan terdengar paling keras, dan di sampingnya ada seorang wanita yang melambai padaku.

"Yura Onee-sama! Anda keren sekali!"

"Neng, penampilanmu yang sekarang lebih cocok buatmu!"

Seorang wanita yang masih memanggil Yurishia-san dengan nama Yura tetap memberikan dukungan, dan ada seorang bapak-bapak yang tampak sedang mabuk berteriak sambil tertawa.

Suara kebencian yang kubayangkan sama sekali tidak ada.

Malah, sorakan dukungan untuk kami semakin meningkat.

Saat aku masih menjadi Kurumi, hanya ada dukungan dari laki-laki, tapi sekarang ada suara wanita juga di antara para penggemar.

Penggemar Yurishia-san pun tidak hanya wanita, tapi jumlah laki-laki juga bertambah.

"Yo, si populer sudah datang."

Yang menyapa kami di pintu masuk adalah Champ-san. Kudengar dia membela kami saat penyamaran jenis kelamin kami terbongkar tadi.

Yurishia-san melangkah maju untuk meminta maaf kepada Champ-san.

"Soal kejadian tadi—"

"Oop, tidak perlu minta maaf. Kekuatanmu itu asli. Aku hanya kurang selangkah darimu. Kalau kamu minta maaf, aku jadi tidak enak hati. Malah kalau aku tahu kamu perempuan sejak awal, aku mungkin akan menahan diri secara tidak sadar dan malah kalah dengan memalukan."

Champ-san berkata begitu, lalu kali ini dia menatapku.

"Tapi, meski berhenti berpakaian wanita, wajahmu memang imut sekali ya. Bagaimana? Apa tidak mau tetap hidup sebagai wanita saja?"

"Hei, Champ."

Saat aku memasang wajah bingung tidak tahu harus menjawab apa, Ion-san menegur Champ-san.

"Kuruto-kyun itu imut justru karena dia laki-laki. Sayang sekali kalau dijadikan perempuan."

Lagi-lagi, aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Sejak tadi aku mendengar kata 'kyun', sebenarnya itu apa ya? Aku malah memikirkan hal yang tidak penting itu.

Tiba-tiba, wasit wanita mendesak kami.

"Peserta Kuruto, peserta Yurishia, kita benar-benar kehabisan waktu, silakan naik ke atas panggung."

"Baiklah. Ayo, Kuruto."

"Ah, iya, baik."

Ditarik oleh tangan Yurishia-san, kami naik ke atas panggung.

Saat aku menoleh ke belakang, Champ dan Ion-san sedang melambai sambil tersenyum.

Rasa cemas tadi, serta rasa bersalah karena memalsukan jenis kelamin selama turnamen ini, seketika sirna.

Bisa didukung oleh begitu banyak orang adalah kebahagiaan yang luar biasa.

Undian turnamen akhirnya dimulai.

Aku melihat ke sekeliling peserta lain di atas panggung.

Pertama yang kulihat adalah pasangan pria berpakaian seperti badut dan gadis kecil seperti boneka yang duduk di bahunya. Mereka adalah peserta Torquoir sang pesulap dan Pico.

Aku sudah melihat pertandingannya, Torquoir-san bertarung sendirian.

Gaya bertarungnya yang berubah-ubah seolah menarik alur pertandingan ke dalam genggamannya dan menguasai arena.

Jika harus bertarung dengannya, pasti akan sangat sulit.

Selanjutnya adalah pria bertelanjang dada dengan pedang besar di punggungnya—Gluld sang gladiator, dan wanita pendek yang membawa tongkat—Kalina sang penyihir.

Si pria memiliki tato keren di punggungnya. Berbeda dengan Torquoir-san, pasangan ini bertarung dengan gaya yang sangat ortodoks.

Gluld-san bertarung di baris depan, dan Kalina-san memberikan dukungan sebagai penyihir, kekuatan mereka sepertinya asli.

Pasangan ketiga adalah kakak beradik manusia kucing (Beastman), sang kakak bernama Lee dan adiknya Chi. Meskipun terlihat muda, sepertinya umur mereka tidak jauh beda dariku.

Beastman jarang terlihat di Kerajaan Homuros, tapi di Koskeet mereka hidup berkelompok di Pulau Zoopark. Ciri khas mereka adalah telinga berbentuk hewan dan memiliki ekor, kabarnya kemampuan fisik mereka jauh melampaui manusia.

Ketiga pasangan tersebut semuanya terlihat sangat kuat.

Di antara mereka, rasanya hanya aku dan Pico-san yang terlihat tidak pada tempatnya.

Dan akhirnya, undian penentu takdir dimulai.

Pertama, Torquoir-san mengambil undian.

Saat dia berdiri di depan kotak undian, dia mengarahkan tangannya ke atas kotak tersebut. Sesaat kemudian, selembar kertas melayang keluar dari kotak dan mendarat di tangannya.

Selanjutnya Yurishia-san mengambil undian, lalu Gluld-san, dan kertas terakhir diambil oleh Lee-san.

Hasilnya, lawan kami adalah pasangan petarung kakak beradik Lee dan Chi.

Besok pagi akan diadakan semifinal dan perebutan juara ketiga, lalu siang harinya babak final.

"Kuruto, apa ada rencana setelah ini?"

Yurishia-san bertanya padaku saat kami meninggalkan arena.

"Iya. Aku berencana pergi ke gunung sebentar untuk mengumpulkan kayu bakar. Sepertinya masalah kekurangan kayu bakar belum terselesaikan."

"Begitu ya—umm, aku akan bantu."

"Kalau begitu, mari kita pergi bertiga."

Tanpa kusadari Liese-san sudah berdiri di antara aku dan Yurishia-san.

"Jangan coba-coba mencuri start ya, Yuli-san."

"Aku tahu. Lagipula, terima kasih untuk banyak hal ya."

Yurishia-san tersenyum manis kepada Liese-san.

Persahabatan antar wanita itu memang indah, ya.

"—Tapi, Kuruto benar-benar melakukan hal yang luar biasa ya."

"Iya…… tidak kusangka dia mengumpulkan kayu bakar dengan cara seperti ini."

Kami sedang mengumpulkan kayu bakar di dalam gunung yang digunakan untuk babak pertama.

Entah kenapa Yurishia-san dan Liese-san memasang wajah heran sekaligus takjub.

"Ah, di Kerajaan Homuros memang tidak banyak Trent, ya. Di gunung dekat Desa Haste banyak sekali Trent, jadi aku mengumpulkan kayu bakar seperti ini."

Sambil berkata begitu, aku meniup seruling seperti tadi.

Mengikuti nada seruling, seekor Trent langka yang memiliki bola rumput besar di atas kepalanya bergerak mengumpulkan dahan-dahan yang jatuh.

Tentu saja, meminta tolong kepada Trent jauh lebih efisien daripada tenaga manusia.

Sebab Trent itu sangat kuat, bahkan tunggul pohon yang tertanam di tanah pun bisa dicabut dengan mudah.

Apalagi di sekitar tempat ada Trent biasanya banyak sekali dahan kayu.

Aku membelah tunggul pohon yang baru saja dicabut Trent menggunakan kapak agar ukurannya pas untuk kayu bakar, lalu mengikatnya dengan tali.

"Anu, Kuruto-sama. Kenapa Trent itu bergerak mengikuti nada seruling?"

"Lihat, Liese-san juga kalau dengar musik yang menyenangkan pasti ingin menari, kan? Sama saja seperti itu."

"Apakah sama…… kalau begitu ya apa boleh buat……"

Liese-san sepertinya sudah paham.

"Tapi tetap saja, aku tidak menyangka ada begitu banyak Trent yang tidak terkontaminasi Hikari-kabi (Jamur Cahaya) di sini. Saat penyisihan aku tidak sadar sama sekali."

"Iya, banyak ya."

Benar kata Yurishia-san, saat ini ada lebih dari tiga puluh Trent yang membantuku mengumpulkan dahan dan tunggul pohon.

Kukira jumlah mereka berkurang drastis karena insiden jamur saat penyisihan…… tapi dengan Trent sebanyak ini, mengumpulkan kayu bakar jadi terasa ringan.

Di sampingku yang sedang meniup seruling, Liese-san bicara kepada Yurishia-san.

"Yuli-san, Trent di sini adalah monster yang keluar dari Dungeon, kan?"

"Katanya sih begitu, memangnya kenapa?"

"Tidak…… dulu Kuruto-sama pernah memproduksi massal Iron Golem secara sengaja dari Dungeon Core untuk membangun kota. Bukankah ada kemungkinan seseorang memproduksi massal Trent ini secara sengaja juga?"

"Memproduksi massal Trent? Untuk tujuan apa?"

"Entahlah, tapi……"

Liese-san dan Yurishia-san sedang membicarakan hal yang membuat penasaran.

Alasan memproduksi massal Trent, ya.

"Mungkin panitia turnamen yang mengkhawatirkan kekurangan kayu bakar di kota ini yang memproduksinya untuk kita."

Saat aku mengatakan itu, Yurishia-san dan Liese-san memasang senyum lembut.

““Itu tidak mungkin.””

Mereka mengatakannya serempak.

◆◇◆

"Kalau begitu, Yurishia-san, Liese-san. Aku akan mengantarkan kayu bakar ini ke bar, kalian kembalilah ke penginapan duluan."

Kuruto pergi mengantarkan kayu bakar ke bar yang menyatu dengan Adventurer Guild.

Tadinya kami ingin ikut, tapi Liese bilang ada yang ingin dia bicarakan, jadi kami berdua kembali ke penginapan lebih dulu.

Karena ada tamu-tamu VIP yang datang melihat turnamen ini menginap di sini, penjagaannya terlihat sangat ketat.

"Hari ini menginaplah di kamarku. Masih ada banyak ruang bahkan untuk sepuluh orang sepertimu, Yuli-san."

"Dasar kamu ini, pasti kamu sudah memastikan kamar itu cukup luas untuk sepuluh bayangan Kuruto, kan?"

"Hohohohoho."

Dia bahkan tidak membantahnya. Memang benar kasur yang ditiduri Liese ukurannya setara dengan lima kasur di penginapan murah. Kalau dipaksakan, mungkin sepuluh orang memang bisa tidur di sana.




"Jangan bilang kamu sekamar dengan Kuruto."

"Tadinya aku ingin begitu, tapi Margrave Tycoon malah repot-repot menyiapkan kamar terpisah... benar-benar mencampuri urusan orang saja."

Liese mengatakannya dengan nada penuh dendam. Namun, aku tahu jika dipaksakan sekamar, Kuruto yang naif itu pasti akan bilang, "Aku akan tidur di lorong saja."

Dulu saja, saat harus berbagi tenda denganku, dia malah memilih tidur sendirian di luar. Menurutku, keputusan Margrave Tycoon sudah sangat tepat.

Aku melihat sekeliling ruangan yang ditunjukkan Liese, lalu bergumam pelan.

"Tapi, kamar ini rasanya tidak cocok untuk Kuruto."

"Kuruto-sama menggunakan kamar pelayan yang ada di sebelah."

"Kenapa begitu... hah!?"

Aku baru sadar, kamar pelayan biasanya terhubung langsung dengan kamar majikan lewat pintu dalam.

Jangan-jangan, dia berencana untuk menyelinap di malam hari...

"Apa Anda sedang membayangkan sesuatu yang tidak sopan? Alasannya sederhana, hanya kamar pelayan itu yang memiliki oven seperti permintaan Kuruto-sama."

"Begitu ya, masuk akal. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan? Kalau kamu bicara saat Kuruto tidak ada, berarti ini masalah merepotkan, kan?"

"Jangan terlalu ketus begitu. Aku merasa kita perlu berbagi informasi. Soalnya, aku mencium aroma masalah yang sangat menyengat di sini."

Setelah pembukaan itu, Liese menceritakan padaku tentang insiden Orc Lord di Pulau Macca, seorang Ranger bernama Cicci, dan klan yang menghubungkan keduanya.

Benar-benar sajian masalah yang melimpah.

"Jadi, aku ingin bertanya pada Yuri-san. Element Clan—tadinya kupikir mereka hanyalah petinggi dari Gereja Roh dan perkumpulan keluarga penguasa Pulau Ishisema. Aku tahu mereka organisasi dengan wewenang besar di Federasi Kota Koskeet, tapi selain itu, apa ada hal lain yang Anda ketahui?"

Mendengar pertanyaan Liese, aku menggelengkan kepala.

"Mungkin kamu juga sudah menyelidikinya, tapi Ibuku adalah orang yang meninggalkan klan. Sejak resmi diasingkan sepuluh tahun lalu, kami hampir tidak pernah berhubungan lagi... tapi, klan itu memiliki dua ambisi besar."

"Ambisi? Salah satunya adalah menitiskan Roh ke dalam keturunan War Maiden... begitu kan?"

"Kamu sudah tahu?"

Aku mengangguk, sedikit terkejut dengan pertanyaan Liese. Aku tidak menyangka dia tahu soal War Maiden. Apa Phantom miliknya yang menyelidiki hal itu?

War Maiden adalah wanita yang bertarung dengan menitiskan Roh ke dalam tubuh mereka, dan konon dulu mereka benar-benar eksis.

Namun, saat ini tidak ada lagi wanita yang lahir dengan kemampuan tersebut.

Orang-orang dari Element Clan di Pulau Ishisema, yang merupakan keturunan War Maiden, turun-temurun mengambil darah orang kuat demi melahirkan penguasa pulau yang memiliki fisik dan mental tangguh.

Aku sadar, keberhasilanku menjadi petualang langsung di bawah naungan kerajaan bukan hanya karena usaha, tapi juga karena bakat dari berkah darah ini.

"Dan satu lagi, hal yang berkaitan dengan itu... adalah mendapatkan Roh yang kuat."

"Roh yang kuat?"

"Ya. Di alam semesta ini, Roh ada di mana-mana. Di laut dan sungai ada Roh Air. Di tanah ada Roh Bumi. Saat menyalakan api, Roh Api akan berkumpul, dan di langit ada Roh Angin yang menari. Mereka disebut Roh Mikro, dan menjadi penggerak utama Spirit Magic... kamu pasti paham itu, kan?"

"Iya. Aku memang tidak bisa menggunakan Spirit Magic, tapi sebagai pengetahuan—"

Liese memiringkan kepalanya, bingung apa hubungannya.

"Hanya saja, di dunia ini ada Roh dengan kekuatan raksasa yang berbeda dari Roh Mikro tersebut—yaitu Great Spirit."

"Great Spirit... maksud Anda empat Roh Agung yang ada dalam legenda?"

"Yah, sederhananya begitu."

Empat Roh Agung terdiri dari Salamander Api, Undine Air, Sylph Angin, dan Gnome Bumi.

Meski begitu, mereka adalah legenda di atas legenda, bahkan keberadaannya pun belum pasti. Aku menghela napas dan melanjutkan kata-kataku.

"Selain mereka, sebenarnya masih banyak lagi."

"Topik yang sangat besar ya..."

"Entahlah, aku benar-benar tidak paham untuk apa mereka berusaha mendapatkan makhluk-makhluk itu... hm?"

"Ada apa?"

"Tidak... rasanya ada sesuatu yang hampir kuingat."

'—Kakak akan membacakan buku cerita untukmu, de aru.'

—!?

Barusan, sekilas ingatan yang muncul... itu suara Kak Loretta? Kenapa tiba-tiba teringat soal buku cerita?

"Coret-coret..."

"Ada apa?"

Saat aku bergumam, Liese menatapku dengan wajah heran.

"Tidak, sepertinya dulu ada buku cerita yang penuh coretan... maaf, mungkin cuma perasaanku saja. Maaf ya, soal klan, aku sendiri tidak terlalu tahu detailnya."

"Tidak apa-apa, itu cukup membantu. Kalau begitu, mari kita bicarakan hal yang paling penting hari ini."

"Hal paling penting?"

Melihat ekspresi serius Liese, aku pun ikut menegang.

"Iya. Ini soal kejadian saat penyisihan turnamen. Yurishia-san tega-teganya melakukan survival berdua saja dengan Kuruto-sama di dalam gunung. Aku sudah menerima laporan dari Yulail-san, tapi aku ingin mendengar detailnya langsung dari mulut Anda sendiri."

"B-bodoh! Waktu itu aku benar-benar percaya kalau Kuruto itu perempuan! Mana mungkin terjadi hal yang aneh-aneh!"

"Benarkah? Apa tidak pernah sekali pun Anda merasa punya niat terselubung?"

"Tentu sa—tidak."

Kalau dipikir-pikir, dulu aku sempat berpikir daripada dinikahkan dengan pria aneh, lebih baik menikah dengan Kurumi saja.

Aku bahkan ingin menjadikannya istri... yah, sampai sekarang pun aku masih ingin menjadikan Kuruto sebagai istriku.

Melihatku menghentikan kata-kata, Liese menatapku dengan mata setengah tertutup yang penuh curiga.

"Anda melakukan sesuatu yang mesum, kan!?"

"Sudah kubilang aku tidak melakukan apa-apa!"

Sepertinya interogasi ini akan berlanjut sampai Kuruto pulang.

Dasar Kuruto, dia cuma mengantar kayu bakar, tapi kenapa lama sekali sih.

◆◇◆

"Terima kasih ya, Kurumi-chan... eh bukan, maksudku Kuruto-kun."

Seorang senior di bar yang menyatu dengan Adventurer Guild tersenyum padaku saat aku mengantarkan kayu bakar.

Karena penyerahannya di belakang toko, aku tidak masuk ke dalam, tapi sepertinya berita bahwa aku laki-laki sudah tersebar luas di antara para pelanggan.

Katanya, karena hal itu pelanggan pria berkurang tiga puluh persen, tapi sebagai gantinya pelanggan wanita malah bertambah.

Ternyata benar-benar tidak ada yang sadar kalau aku laki-laki. Padahal saat bekerja di sini, aku bahkan tidak memakai riasan wajah.

Aku diminta untuk terus bekerja sebagai pelayan, tapi rencananya setelah pertandingan besok selesai, aku ingin pulang ke Valha tempat bengkelku berada.

Pekerjaan di toko ini menyenangkan, terlepas dari bagian harus berpakaian wanitanya.

Tapi bagiku, Yurishia-san, Liese-san, Akuri, dan teman-teman di "Sakura"—bengkelku jauh lebih berharga.

Jadi, aku menolaknya, tapi senior itu tidak marah dan malah tertawa.

"Begitu ya. Kalau begitu, setelah pertandingan besok selesai, kita akan sewa seluruh toko untuk pesta kemenangan!"

"Tu-tunggu dulu. Belum pasti kami akan menang, kan?"

"Tenang saja. Lagipula kamu sudah mengalahkan pasangan Champ dan Ion. Sekarang, siapa pun pasti melihat kalian sebagai kandidat juara terkuat."

"Yang menang itu Yurishia-san, bukan aku..."

"Kalau kalah pun tidak apa-apa. Selamat juara dua, selamat juara tiga, selamat juara empat, apa pun boleh. Intinya kita semua ingin bersenang-senang untuk merayakan perpisahanmu. Kamu benar-benar membantu selama beberapa hari bekerja di sini. Pemilik toko juga sangat berterima kasih."

Senior itu tersenyum hangat padaku.

"Jika begitu alasannya—baiklah! Besok setelah pertandingan selesai, aku pasti akan ikut."

Aku mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan toko. Nah, sekarang waktunya menyiapkan makan malam. Karena sudah lama tidak makan bersama Yurishia-san, mungkin aku akan membuat masakan yang agak rumit?

Tepat saat aku mulai menyusun menu makan malam, tiba-tiba...

"Knight Rockhans."

"Iya...?"

Aku refleks menyahut saat namaku dipanggil. Itu suara yang tidak kukenal, tapi saat berbalik, aku melihat seorang wanita berusia sekitar dua puluh tahun yang tampak familier.

"Umm, Kalina-san... kan?"

Wanita berpakaian seperti penyihir—Kalina-san. Dia adalah peserta di semifinal. Seharusnya pasangannya adalah Gluld-san sang gladiator, tapi sepertinya dia sedang sendirian.

"Ada yang ingin aku bicarakan sedikit, apa kamu punya waktu?"

"Tentu saja."

Aku langsung menyetujuinya. Aku tidak tahu seberapa lama 'sedikit' itu, tapi firasatku bilang ini tidak akan selesai dalam lima atau sepuluh menit.

Sambil berpikir bahwa menu makan malam tadi mungkin harus diubah, kami masuk ke sebuah kafe dengan ruangan privat yang menyatu dengan penginapan terdekat. Sepertinya ini tempat yang sering digunakan bangsawan karena pelayannya berpakaian sangat rapi.

Kalina-san memesan teh ungu, jadi aku memesan hal yang sama. Kami duduk berhadapan di dalam ruangan privat itu.

"—Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?"

"Maaf, karena aku tidak ingin ada yang mendengar, boleh kita tunggu sampai pesanannya datang?"

"……Baiklah."

Uuh, berduaan dengan wanita yang baru pertama kali ditemui membuatku gugup. Karena pembicaraan baru dimulai setelah teh datang, rasanya tidak enak kalau mau berbasa-basi.

"Anu—"

"I-IYA!"

Suaraku refleks meninggi karena kaget diajak bicara tiba-tiba.

"Bukan apa-apa, aku baru saja memanggang kue kering, silakan dicicipi. Di sini diperbolehkan membawa makanan dari luar."

Kalina-san mengeluarkan kue kering yang bentuknya agak tidak beraturan dari bungkusan sapu tangan, lalu mengambil satu dan memakannya.

"Ah... terima kasih banyak."

Aku berterima kasih lalu mengambil satu kue dan memakannya. Hmm, enak. Sepertinya dia membuat banyak, apa aku boleh minta satu lagi ya?

"……Ternyata Knight-sama orang yang sangat baik ya."

"Eh? Kenapa begitu?"

Saat aku kebingungan, dia menatapku seolah melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

"Biasanya orang akan waspada, kan? Memberikan camilan kepada lawan yang akan bertanding besok, padahal tidak tahu apa isinya. Tadinya aku berencana memakannya duluan agar kamu tenang... apa kamu tidak berpikir ada racun di dalamnya?"

"Aku sama sekali tidak terpikir ke sana. Ah, tapi aku sudah minum obat supaya tidak sakit perut karena gugup sebelum pertandingan, jadi tidak apa-apa."

"Kurasa obat sakit perut tidak bisa mencegah racun, tahu?"

Eh? Obat sakit perut?

Ah, benar juga. Dulu aku pernah dengar di kota, orang-orang meracik obat sesuai dengan gejala penyakitnya satu per satu. Karena desaku di pelosok, kami mengobati semuanya dengan Panacea (Obat Segala Penyakit).

Begitu ya, obat sakit perut tidak bisa mencegah racun. Aku belajar hal baru hari ini. Mungkin nanti aku harus meneliti soal obat sakit perut.

"Tapi, lihatlah, kue seenak ini tidak mungkin berisi racun, kan."

Tepat setelah aku mengatakannya, teh ungu pun diantarkan. Sebelum mulai bicara, aku dan Kalina-san meminum teh itu. Pantas saja harganya mahal, rasanya memang sangat nikmat.

"……Rasa yang melegakan."

Kalina-san tersenyum. Senyumnya terasa lembut, mirip seperti Yurishia-san atau Liese-san saat mereka melihat Akuri. Setelah keteganganku sedikit mereda, Kalina-san menatap mataku dengan lurus.

"Sebenarnya, ada permintaan untuk Knight Rockhans."

Dengan ekspresi yang sangat serius, dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

"Untuk pertandingan besok—bisakah Anda mengalah?"

Umm, itu berarti... dia memintaku untuk main sabun, kan. Tapi, ada hal yang harus kupastikan dulu.

"Anu, lawan Kalina-san besok kan bukan aku?"

"Aku sudah melihat pertandingan Kurumi-sa... maksudku Kuruto-san dan Yurishia-san di babak pertama dan kedua. Dengan kekuatan kalian, kalian tidak akan kalah melawan pasangan Beastman Lee dan Chi. Jika kami menang di pertandingan besok, kami pasti akan bertemu kalian di final... Tentu saja, aku tidak meminta ini secara cuma-cuma. Seluruh hadiah uang yang kami dapatkan, biaya seminar setelah menjadi juara, dan semuanya akan kami berikan kepada Kuruto-san dan Yurishia-san. Jika Kuruto-san mau—"

Dia berdiri, lalu duduk di sampingku sambil memeluk lenganku dan berbisik pelan.

"……Aku tidak keberatan menyerahkan seluruh tubuhku padamu."

"Ke... kenapa Anda mengatakannya padaku? Meskipun aku mengaku kalah, tidak akan ada perbedaan besar dalam kekuatan tempur kami. Yurishia-san bahkan bilang aku boleh langsung menyerah dan turun panggung begitu pertandingan dimulai."

"Benar. Tapi bagaimana kalau kamu tidak muncul di pertandingan? Misalnya, jika dalam sepuluh menit sejak pertandingan dimulai Kuruto-san tidak muncul, kami akan menang WO (Walk Out)."

"……Kenapa Anda sampai ingin menang segitunya? Kalau melihat tawaran tadi, sepertinya uang bukan tujuan Anda, kan."

Jangan-jangan dia tahu kalau pemenangnya bisa menikah dengan Yurishia-san, dan dia ingin menikahkan Gluld-san dengannya. Aku memang tidak berniat menerima tawaran main sabun sejak awal, tapi kalau alasannya itu, aku semakin tidak bisa menerimanya.

Namun, kenyataannya berbeda. Ekspresi Kalina-san menjadi jauh lebih serius dari sebelumnya.

"Itu... karena Gluld adalah seorang Gladiator Slave (Budak Gladiator)."

"Gladiator Slave? Tapi kudengar sistem perbudakan sudah dihapuskan di negara ini."

"Benar, budak biasa memang sudah dibebaskan. Tapi, budak gladiator di pulau ini adalah pengecualian. Pertarungan hidup mati antara gladiator dan monster sangat populer di kalangan bangsawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Agar pertandingan itu bisa terus dinikmati, hanya budak gladiator yang dikecualikan dari pembebasan budak. Di pulau ini, setidaknya ada seratus lima puluh budak gladiator, dan jumlah itu terus dijaga agar tetap stabil."

"…………!?"

Aku tidak tahu soal itu. Saat pertama kali datang ke sini, kupikir ini adalah pulau yang damai dan hangat meski berada di wilayah utara, dan penduduknya pun ramah.

Tapi, ternyata ada seratus lima puluh orang yang dipaksa bertarung mempertaruhkan nyawa sebagai budak. Dan dia bilang jumlahnya dijaga agar tetap stabil.

Artinya, jika jumlahnya bertambah, berarti ada budak gladiator baru, dan jika berkurang—berarti mereka dibebaskan dari perbudakan. Tapi melihat wajah wanita ini, sepertinya mereka tidak dibebaskan dalam keadaan hidup.

"Gluld menjadi budak gladiator demi membeli obat untuk menyembuhkan penyakit seorang wanita. Dia dipaksa bertarung sampai mati. Tapi, jika dia menjuarai turnamen ini, dia dijanjikan akan mendapat perlakuan setara bangsawan dan tidak perlu lagi bertarung sebagai budak gladiator."

Dia menatap mataku.

"Kuruto-san, kumohon. Berjanjilah padaku. Saat bertarung dengan kami di final nanti—"

"Hentikan."

Seorang pria masuk ke dalam ruangan, memotong kata-kata Kalina-san. Pria itu adalah Gluld-san. Kalina-san terbelalak melihat kedatangan yang tak terduga itu.

"……Gluld. Kenapa kamu tahu aku di sini?"

"Ada yang melihatmu masuk ke toko ini, orang itu yang memberitahuku."

Lalu, Gluld-san menggelengkan kepala dan menasihati Kalina-san.

"Aku hanya bisa bertarung. Itu alasanku menjadi budak gladiator, dan itu juga kebanggaanku."

Kemudian, Gluld-san menatapku dengan tajam.

"Kuruto, lupakan apa yang dikatakan partnerku. Jika kamu berani melakukan tindakan yang menodai pertarungan suci seperti sengaja tidak muncul, maka aku sebagai seorang prajurit tidak akan memaafkanmu."

Gluld-san meninggalkan koin perak di meja lalu membawa Kalina-san keluar dari toko.

Aku yang ditinggal sendirian, menatap koin perak yang jumlahnya agak terlalu banyak untuk membayar teh ungu tadi sambil merenung.

Dalam turnamen ini, aku berniat berjuang sekuat tenaga demi mencegah pernikahan yang tidak diinginkan Yurishia-san, dan kupikir itu adalah hal yang benar.

Tapi setelah mendengar cerita tadi, aku jadi benar-benar tidak tahu apakah kemenanganku adalah hal yang benar.

'Kalau kamu bersimpati pada Haile di sini, kamu tidak akan bisa bertahan di turnamen bela diri.'

Aku teringat kata-kata Cicci-san saat aku mendengar cerita Haile-san, mantan budak di Bengkel Bonball. Sungguh, apa yang harus kulakukan?

Setelah membeli sayuran dan daging lalu kembali ke penginapan, aku menyelesaikan cucian dan bersih-bersih, kemudian mulai memasak makan malam. Aku meminjam bumbu yang kurang dari restoran penginapan.

Selama itu pun, aku terus memikirkan Kalina-san dan Gluld-san. Entah kenapa, semua orang bilang aku ini orang yang tidak peka. Tapi, orang sepertiku pun paham.

Wanita yang disembuhkan penyakitnya oleh Gluld-san sampai dia rela menjadi budak—pasti wanita itu adalah Kalina-san. Gluld-san menjadi budak demi Kalina-san. Kalina-san yang rela menyerahkan segalanya demi Gluld-san agar dia mengalah dalam pertandingan.

Jika aku berada di posisi Kalina-san, atau di posisi Gluld-san, tindakan apa yang akan kuambil?

"Jika aku jadi Gluld-san..."

"Kuruto dan Gluld... memang terdengar mirip sih."

"Yurishia-san!?"

Tanpa kusadari, Yurishia-san sudah berdiri di belakangku.

"Kuruto, jangan berbalik sambil memegang pisau—omong-omong, jumlahnya banyak sekali ya. Kita bertiga tidak akan sanggup menghabiskan ini."

"Eh? —Ah."

Gawat. Karena memasak sambil melamun, aku jadi membuat masakan jauh lebih banyak dari biasanya.

"Maaf, tadi aku sedang melamun sedikit."

"Aku paham kalau melamun bisa membuat porsi masakan bertambah, tapi kenapa jenis masakannya juga bertambah? Ini ada seratus macam jenis masakan, tahu... apa melamun sampai membuat jenis masakan sebanyak ini adalah hal yang lumrah di desamu?"

"Tidak, di desaku juga jarang terjadi..."

Aku sendiri pun baru pertama kali memasak sebanyak ini. Tanpa sadar, aku tidak hanya memakai bahan yang kubeli, tapi juga bahan-bahan yang disediakan penginapan untuk digunakan secara bebas oleh tamu.

"Yah, yang tidak habis kita berikan saja pada pegawai penginapan, kan? Karena ada tamu VIP, jumlah pegawainya jadi banyak sekali."

"……Benar juga. Nanti aku pindahkan ke wadah yang mudah dibawa."

Aku mengangguk, lalu menyisihkan beberapa masakan yang sekiranya disukai Yurishia-san dan Liese-san, sisanya kupindahkan ke piring dalam agar tidak tumpah saat dibawa. Di tengah pekerjaan itu, aku tiba-tiba terpikir untuk bertanya.

"Yurishia-san…… bagaimana kalau besok kita kalah?"

"Yah, kita pikirkan saat itu terjadi nanti."

Yurishia-san menjawab dengan nada santai. Karena reaksinya di luar dugaan, aku pun melanjutkan kata-kataku.

"Tapi, kalau itu terjadi—"

"Aku akan dipaksa menikah oleh Kak Loretta. Karena itulah aku ikut turnamen ini."

Yurishia-san berdiri di sampingku sambil mencicipi masakan di penggorengan menggunakan garpu.

"Tapi ya, pada akhirnya itu hanya caraku melarikan diri."

"Melarikan diri…… maksudnya?"

Apa maksudnya?

"Ya. Aku pikir dengan memenangkan turnamen, aku tidak perlu menikah. Kupikir itu adalah bentuk perlawanan pada Kak Loretta... bentuk tantangan dariku. Tapi sebenarnya, aku hanya lari dari pertarungan yang sesungguhnya. Tentu saja, sebagai petualang aku tahu lari bukan berarti hal yang buruk. Tapi terkadang, ada situasi di mana kita benar-benar harus bertarung, kan?"

"Situasi di mana kita benar-benar harus bertarung?"

"Benar. Aku harus menghadapi Kak Loretta secara langsung dan bertarung dengannya."

Saat Yurishia-san mengepalkan tangannya, gagang garpu yang dia pegang sampai bengkok.

Apa karena garpu perak murni jadi mudah bengkok ya?

Padahal perak suci—Mithril harusnya lebih sulit patah, kenapa mereka pakai perak murni?

Aku akan memberikan set sendok dan garpu Mithril pada orang penginapan nanti untuk menggantinya—pikirku di dalam hati sambil terus mendengarkan cerita Yurishia-san.

"Kak Loretta selalu menuruti kata klan, dia tidak akan mau mendengarkan bicaraku. Tadinya kupikir begitu. Saat identitasku terbongkar, aku sudah pasrah dan merasa tidak akan bisa menang darinya. Tapi, tindakan anehmu dan Liese—yaitu kamu yang berpakaian wanita—telah melindungiku dari Kak Loretta. Berkatmu, aku bisa membalas perbuatan Kak Loretta sedikit."

"Berkatku? Tapi itu kan sebagian besar karena Liese-san yang bernegosiasi—"

"Tidak, ini berkatmu."

Yurishia-san melihat garpu di tangannya, menggumam "Aduh," lalu berusaha keras mengembalikannya ke bentuk semula.

"Yah, begitulah. Jadi Kuruto, jangan terlalu terbebani dengan pertandingan besok dan lusa. Bertarunglah sekuat tenaga, kalau kalah, ya sudah."

"Bagaimana kalau…… aku tidak bertarung sekuat tenaga?"

"Aku yang akan bertarung menggantikan bagianmu."

Yurishia-san berkata, "Karena itulah peranku, kan?" lalu meletakkan garpu yang akhirnya tidak kembali ke bentuk semula itu di atas meja.

"Kamu tidak perlu mengeluarkan seluruh tenagamu dalam pertarungan. Ada hal lain yang menjadi tempatmu mencurahkan seluruh tenaga, kan?"

"Hal lain? Hal lain... ya. Terima kasih! Sepertinya aku mulai paham. Ah, Yurishia-san. Boleh aku titip dapur sebentar?"

"Tentu, masakannya sudah jadi, aku tinggal memindahkannya saja. Memangnya kamu mau apa?"

"Iya! Aku mau pergi menambang batu sisa... eh maksudku, Mithril sebentar."

Yurishia-san terlihat bingung, tapi dia langsung mengangguk.

"Baiklah. Pulang sebelum makan malam ya."

"Siap!"

Setelah itu, aku menambang Mithril, lalu mengolahnya dengan cepat di dapur untuk membuat set sendok, garpu, dan pisau.

Lalu aku menyerahkannya kepada pegawai penginapan bersama masakan yang sudah agak dingin tadi sambil meminta maaf.

Soal merusak satu garpu perak tadi, untungnya mereka memaafkanku.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close