Interlude
2
Penginapan
Mewah dan Pasukan Pelindung Kuruto
Namaku Brucke.
Aku bekerja sebagai staf di restoran yang menyatu
dengan penginapan mewah.
Saat ini, Turnamen Bela Diri sedang berlangsung di
Pulau Paos, sehingga orang-orang dari seluruh penjuru benua datang berkunjung.
Bahkan, ada selebritas yang namanya dikenal oleh anak kecil yang belum bisa
membaca koran sekalipun.
Restoran tempatku bekerja ini memiliki daya tarik
utama berupa pajangan tanda tangan para pesohor di atas kertas shikishi.
Di Pulau Paos, mungkin hanya restoran ini yang
memajang tanda tangan orang-orang terkenal.
Awalnya aku berpikir ini adalah ide yang aneh, tapi
ternyata reputasinya cukup bagus.
Tadi, aku baru saja mendapatkan tanda tangan dari
orang paling terkenal di turnamen ini, Kuruto Rockhans dan Yurishia, jadi aku
segera memajangnya.
Lalu, entah dari mana mereka mendengar kabar tentang
tanda tangan itu, sekelompok pria tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam restoran.
Anehnya, mereka semua mengenakan pakaian kain tipis
bermotif sama yang disebut happi.
Di punggung mereka tertulis kata-kata "Kurumi
Love", jadi hanya dengan sekali lihat pun aku sudah tahu organisasi macam
apa mereka ini.
Mereka adalah anggota Pasukan Pelindung Kurumi.
Di depan tanda tangan Kuruto Rockhans, mereka melakukan
ritual dua kali membungkuk, dua kali tepuk tangan, dan satu kali membungkuk,
baru kemudian duduk di kursi masing-masing.
Aku tidak tahu apa makna dari gerakan barusan, dan
sejujurnya, aku pun tidak mau tahu.
"Pertemuan dimulai! Topiknya adalah mengenai fakta
bahwa Tuhan kita, Kurumi-sama, ternyata seorang laki-laki!"
Begitu memesan menu course, mereka langsung
memulai rapat yang entah apa tujuannya.
Suara mereka sangat keras hingga mencapai telingaku yang
sedang meneruskan pesanan ke dapur.
Untungnya, jam sibuk makan malam sudah lewat dan tidak
ada pelanggan lain, jadi aku tidak perlu menegur mereka sampai ada tamu baru
yang datang.
"Tapi, siapa sangka Kurumi-sama ternyata laki-laki.
Anehnya, aku sama sekali tidak merasa jijik."
"Tentu saja, Pemimpin. Karena Kurumi-chan adalah
malaikat. Menurut kitab suci, malaikat adalah eksistensi yang bukan laki-laki
maupun perempuan. Artinya, mau Kurumi-chan laki-laki atau perempuan, itu
hanyalah wujud sementara, jadi tidak masalah!"
Logika macam apa itu! Aku ingin sekali menyela, tapi
tentu saja seorang karyawan tidak boleh bicara begitu kepada pelanggan.
"Hamba justru merasa tercerahkan. Penyair pengelana,
O-Takuro, pernah meninggalkan kutipan begini: 'Tidak mungkin anak seimut ini
adalah seorang perempuan'. Artinya, rahasia kecantikan Kurumi-sama terletak
pada fakta bahwa dia adalah laki-laki."
“““Oooooooooh!”””
Seluruh anggota tampak kagum, padahal aku sama sekali
tidak mengerti maksudnya.
Apa sebenarnya yang dipikirkan para pelanggan ini?
Yah, mungkin mereka memang memikirkan apa yang mereka
katakan secara harfiah.
Begitu hidangan pembuka diantarkan, mereka berhenti
bicara sejenak dan mulai makan.
Namun di tengah makan, pembicaraan mereka semakin meluas.
"Pemimpin, apakah tidak apa-apa jika kita tetap
memanggilnya Kurumi-sama?"
"Benar juga, mungkin sebaiknya kita mulai
memanggilnya Kuruto-sama."
"Wasit juga sudah meralat namanya menjadi Kuruto dan
Yurishia, dan secara resmi namanya memang Kuruto-sama, jadi kurasa itu sudah
benar, kan?"
Pembicaraan yang ini terdengar sedikit lebih waras.
Tidak ada yang mengajukan keberatan.
"Kalau begitu, nama klub penggemar akan kita
ubah dari Pasukan Pelindung Kurumi menjadi Pasukan Pelindung Kuruto. Bagian
logistik! Segera ganti nama semua merchandise Kurumi-sama! Mulai babak
final besok, kita akan mengubah nama barang-barang yang dijual!"
"Tunggu dulu, Pemimpin! Produknya sudah selesai
diproduksi, dan saat ini pabrik sudah tutup. Kita tidak akan sempat
menyelesaikannya sebelum final besok!"
"Tenang saja, aku punya rencana."
Pria yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
Dilihat dari urutan tempat duduknya, dia sepertinya
berada di posisi paling bawah.
"Semuanya. Aku adalah Penguasa Pulau Paos ini!
Memang saat ini keberadaanku tertutup oleh kehadiran Loretta-sama dari Pulau
Ishisema dan para tetua Element Clan, tapi wewenangku sebagai penguasa pulau
tetap nyata. Aktifkan kembali pabriknya! Tidak berlebihan jika kukatakan bahwa
tujuanku menjadi penguasa pulau adalah untuk menyelesaikan merchandise Kuruto-sama
pada hari ini!"
Kuharap itu sangat berlebihan.
Atau lebih tepatnya, aku sampai tidak sadar karena
kehadirannya yang begitu tipis, tapi organisasi macam apa ini sampai penguasa
pulau duduk di kursi paling rendah?
"Baiklah, kalau begitu urusan pabrik kuserahkan
padamu. Siapkan minimal tiga ratus set kipas, ikat kepala, dan happi
sebelum pertandingan besok dimulai. Kalau bisa, aku mau lima ratus set."
"Dimengerti!"
Ekspresi penguasa pulau itu tampak sangat bersinar.
Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan?
Apa bagusnya si Kuruto itu?
Bagiku, dia hanyalah pelanggan yang merepotkan.
"Oi, Brucke, manajer memanggilmu."
"……Ah, soal itu ya."
Aku menghela napas dan keluar dari dapur.
Penyebabnya adalah Kuruto Rockhans yang telah
membengkokkan garpu perak murni milik restoran.
Aku sudah melaporkan kepada atasan mengenai hidangan yang
diberikan sebagai permintaan maaf, set garpu, pisau, dan sendok pengganti,
serta bros buatan tangan yang kuterima... tapi atasan bilang manajer mungkin
tidak akan terima.
Fakta bahwa aku dipanggil seperti ini berarti dia
memang tidak terima.
Begitu sampai di ruang manajer, aku diminta
menjelaskan kronologinya.
Tapi, aku hanya bisa menyampaikan apa yang kudengar
dari Kuruto, dan akhirnya aku malah berakhir diceramahi oleh manajer.
"Kamu
tahu tidak berapa harga garpu perak itu…… demi mencegah peracunan tamu VIP,
kita tidak bisa menggunakan peralatan makan selain dari perak!"
Itu sudah ketujuh kalinya dia mengatakan hal yang sama.
Aku ingin segera mengakhiri ini.
"Lalu, bagaimana dengan peralatan makan yang
diberikan sebagai penggantinya ini?"
"Barang yang tidak bisa dipakai tidak ada gunanya
disimpan. Jual
saja. Tapi omong-omong, ini indah sekali ya. Sepertinya bukan perak……
mungkinkah ini platina?"
Manajer
sepertinya terlalu marah karena garpunya rusak sampai-sampai belum melihat set
peralatan itu dengan saksama.
Dia
baru mengatakannya setelah memegang garpu itu kembali.
"Bukan, anak itu bilang ini adalah Mithril……? Nama logamnya."
"Begitu,
Mithril ya. Pantas saja aku belum pernah melihatnya…… MITHRIL KATAMU!?"
"Kalau
begitu, saya akan pergi menjualnya ke toko barang bekas ya."
Manajer
tampak terkejut, tapi aku hanya ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Bodoh!
Kita harus menilainya dulu! Jika ini benar-benar peralatan makan dari Mithril
asli, menjualnya ke toko barang bekas adalah tindakan gila! Ini adalah barang
yang bisa dijual kepada bangsawan, bahkan keluarga kerajaan!"
"Hah……
anak itu bilang nilainya tidak seberapa…… memangnya Mithril itu berharga?"
"Dasar
bodoh! Jika kamu bodoh, anak itu juga bodoh!"
Manajer
membentakku.
"Jangan
terus memanggilku bodoh, Manajer. Ini namanya kekerasan verbal."
"Kekerasan verbal pun tak masalah! Cepat lakukan
penilaian!"
"Anu, jam kerja saya sudah habis. Saya tidak mau
lembur──ini kan zaman reformasi gaya kerja."
"Mana mungkin bisa bekerja di industri jasa kalau
tidak mau lembur! Cepat! Eh, tunggu! Terlalu berbahaya kalau dibawa keluar!
Panggil tukang penilai ke sini!"
Akhirnya, aku tidak bisa melawan manajer dan memanggil
tukang penilai.
Meski manajer harus membayar biaya kunjungan yang tidak
murah, hasilnya menunjukkan bahwa itu adalah Mithril asli, dan wajah manajer
langsung berseri-seri.
Bahkan, dia memberiku bonus khusus berupa sepuluh keping
perak dan tiket menonton pertandingan turnamen besok.
Berkat Kuruto yang tadi kusebut pelanggan merepotkan,
keberuntungan tak terduga datang kepadaku.
Lalu, tibalah saatnya bagi kami, karyawan rendahan, untuk
makan secara bergiliran.
Biasanya makanan kami hanyalah sisa-sisa, tapi hari ini
kami memakan masakan yang diberikan oleh Kuruto.
Jauh lebih baik daripada sisa makanan…… tidak, melihat
penampilannya saja sudah membuat liurku menetes.
"Selamat makan."
Begitu mencicipi satu suapan, aku merasa seolah terbang
ke langit.
Aku belum pernah memakan masakan seenak ini.
Rasa ini seolah menerbangkan seluruh rasa lelah hari
ini…… tidak, rasa lelah yang telah terakumulasi sejak aku mulai bekerja sebagai
buruh.
Di saat yang sama, aku teringat pada diriku yang
sebenarnya.
Awalnya, alasanku bekerja di tempat ini adalah karena aku
ingin belajar memasak.
Meskipun bekerja di restoran, aku terus dipaksa menjadi
pelayan hanya karena wajahku lumayan bagus, sehingga aku tidak diberi
kesempatan memasak atau bahkan melakukan persiapan bahan.
Tapi, setelah melihat potensi masakan seperti ini di
depan mataku, aku kembali bermimpi.
Aku ingin menjadi koki.
"Aku akan berhenti dari toko ini."
Tanpa sadar, aku mengatakannya kepada rekan kerja yang
duduk di sebelahku.
Tukang penilai tadi memberitahuku secara rahasia bahwa
bros Mithril yang kuterima dari Kuruto bernilai tiga puluh keping emas.
Jika aku menggunakan ini sebagai modal, mungkin aku bisa
membuka toko sendiri.
Tapi, sebelum itu──
Aku melepas seragam pelayan, berganti dengan pakaian
biasa, lalu menuju ke arah para pelanggan yang masih asyik berdiskusi di kursi
mereka.
Dan aku
memohon.
"Anu……
tolong masukkan aku menjadi anggota Pasukan Pelindung Kuruto! Aku mohon!"
Begitulah,
aku pun mulai melangkah di jalan yang baru.
Kelak, aku akan berguru kepada Geerhark yang merupakan murid dari Kuruto, dan memulai pelatihan resmi sebagai koki, tapi itu adalah cerita untuk lain waktu.



Post a Comment