Chapter 4
Pertempuran
Penentu
"Bagaimana bisa ada aku di dalam diri Elena... Kenapa
ini bisa terjadi?"
Aku—Yurishia—langsung jatuh terduduk di tempat begitu
mendengar kondisi Elena yang ada di depanku saat ini.
"Itu karena kau yang ceroboh sampai mencabut dua helai
rambutmu, tahu."
Elena mengeluh. Ucapannya memang benar, tapi aku tidak
pernah menyangka akan menjadi seperti ini.
Kami berhasil kembali ke Desa Sword Saint dengan selamat
meski dikejar oleh pasukan Raja Iblis, lalu bertemu kembali dengan Kuruto dan
Akuri.
Ditambah lagi, mengetahui Lise yang sempat terpisah ternyata
baik-baik saja adalah kabar bagus, tapi...
Begitu mendengar ada jiwaku di dalam Elena yang kini menamai
dirinya Yuna, rasa lelah luar biasa langsung menyerangku.
"Yurishia-chan, bukannya ini justru kerja bagus? Kudengar kemampuan Elena itu hebat, kan?
Bukankah lebih baik kalau kita punya banyak sekutu?"
""Jangan
bicara seolah ini bukan urusanmu!""
Aku dan Yuna
memprotes Mimiko yang bicara asal-asalan dengan suara yang kompak.
Sial, ini
benar-benar canggung.
Lise juga
mengatakan hal yang sama tadi, tapi saat itu, Kuruto yang mendengarnya justru
berkata...
"Tapi, Elena
itu Golem yang sangat lemah sampai tidak bisa menang melawan Goblin, lho? Ah,
tapi kalau isinya adalah Yurishia-san, mungkin dia jadi kuat, ya."
Dia malah
melontarkan pernyataan yang salah paham.
Sepertinya Kuruto
masih menganggap kalau Elena itu lemah.
Meski
begitu, bukan berarti perasaan Kuruto yang aneh.
Bagi dia
yang memiliki kekuatan mutlak terhadap Golem, skema kekuatan di kepalanya
mungkin seperti ini:
Goblin >> Kuruto >> Golem.
Padahal
kenyataannya, selama tuannya bukan orang dari Desa Haste, Golem yang mereka
ciptakan itu sangat kuat.
Aku sendiri sudah
merasakan kemampuan Elena saat dia masih digunakan oleh Golnova dalam turnamen
bela diri tempo hari.
"Hah... Yah,
memang benar dengan tubuh ini aku tidak akan mati semudah itu."
Yuna berkata
demikian sambil melakukan gerakan peregangan di tempat.
Karena dia memakai baju pelayan, bagian roknya tersingkap dan celana dalamnya hampir saja terlihat.
"Hei,
jangan bergerak seperti itu dengan pakaian seperti itu!"
"Kenapa
tiba-tiba begitu? Aku kan selalu begini."
"Pokoknya
jangan!"
Ada pepatah yang
mengatakan bahwa kita harus belajar dari kesalahan orang lain. Namun, jika
'orang lain' itu adalah dirimu sendiri, rasanya keinginan untuk memperbaiki
diri jadi berlipat ganda.
Apa selama ini
aku memang selalu bersikap sekasar itu? Sepertinya aku harus benar-benar
merenung.
"……Lagipula,
kenapa kau masih memakai baju pelayan itu? Cepat ganti."
"Aku
inginnya begitu, tapi sebagian fungsi Golem-ku sepertinya terpengaruh oleh
kristal sihir di baju ini, jadi tidak bisa dilepas dengan mudah. Ah, ini
pengetahuan sebagai Elena, ya."
Yuna melanjutkan
untuk menenangkanku.
"Tenang
saja. Begitu pertempuran ini berakhir, aku akan minta Kuruto menyegel kembali
ingatan sebagai Yurishia. Aku juga tahu kalau situasi ini tidak baik..."
Yuna menatap
Akuri yang sedang digendong Lise dengan tatapan yang sedikit kesepian.
"……Akuri
juga pasti bingung kalau ada dua Mama Yuri."
Ekspresi Yuna
saat mengatakannya tampak agak sedu.
"…………Au."
Akuri
mengeluarkan suara seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia malah menunduk
karena mungkin kata-katanya tidak kunjung tersusun.
Menurut cerita
dari Lise, Akuri sempat bersikap sangat ketakutan terhadap Yuna. Hal itu wajar,
karena meski ia merasakan keberadaanku, rupa dan suaranya berbeda.
Rasanya seperti
anak kecil yang mengejar sosok yang ia kira ibunya, namun ternyata menyadari
bahwa itu adalah wanita asing. Begitulah Lise menceritakannya dengan nada
nostalgia.
Aku sempat
memprotesnya, karena dia kan seorang putri raja, mana mungkin punya pengalaman
seperti itu. Namun ternyata, saat Ratu Francoise masih hidup, mereka berdua
sering menyelinap keluar kastil untuk bermain ke kota bawah.
Lise
mengaku sudah sering tersesat berkali-kali. Apalagi kabarnya Ratu Francoise itu
sangat aktif, sampai-sampai anak normal pun akan kesulitan mengikutinya.
Lise akhirnya
terbiasa menemukan ibunya sendiri setelah berkali-kali tersesat. Mungkin
pengalaman itulah yang membuatnya memiliki kemampuan hebat dalam mencari Kuruto.
Omong-omong, saat
Ratu Francoise dan Lise menyelinap keluar, pasukan Phantom diam-diam tetap
mengawal mereka. Jadi tidak pernah ada kejadian seperti penculikan.
Bagaimanapun, aku
mengerti perasaan Yuna yang terkejut karena dibenci Akuri. Tapi menurutku,
menyegel kembali ingatannya bukanlah ide yang bagus.
Meski rasanya
aneh memiliki seseorang—bukan, sebuah Golem—yang punya ingatan dan pemikiran
yang sama denganku, tapi karena dia adalah 'aku', rasanya agak rumit jika dia
harus disegel.
"Apa
pembicaraan kalian sudah selesai?"
Hildegard bertanya sambil melemparkan tatapan dingin ke arah
kami.
Apa di matanya, aku dan Yuna hanya terlihat seperti sedang
melakukan komedi tunggal berdua saja?
"Sebenarnya aku ingin mendengar detail informasi yang
kalian dapatkan di masa lalu... Tapi daripada itu, sekarang kita perlu bersiap
menghadapi pasukan musuh."
Hildegard mulai menjelaskan situasi perang.
"Pasukan musuh saat ini bergerak menuju Rapselad dan
Desa Sword Saint secara bersamaan. Pasukan ke arah Rapselad berjumlah lima
puluh ribu, sementara yang ke sini sekitar seratus lima puluh ribu."
Jumlahnya meningkat dari perkiraan, namun jauh berkurang
jika dibanding tiga ratus ribu pasukan di awal.
"Untunglah para Undead sudah musnah. Meski
begitu, sepertinya musuh masih memiliki beberapa Wyvern Zombie yang
tersisa."
"Bagaimana
keadaan di lembah?" tanyaku.
Hildegard
langsung menjawab tanpa ragu.
"Alraid,
para ksatria bawahannya, dan penduduk desa sudah bersiaga. Namun, tugas pasukan
di lembah hanyalah untuk mematahkan serangan pembuka musuh."
"Lembah itu
sempit, jadi setelah mengalahkan musuh dalam jumlah tertentu, mereka bisa
mengulur waktu untuk melarikan diri."
"Sampai
Jenderal sendiri yang turun tangan...?"
"Jika
keadaan mendesak, sisa komando akan diserahkan kepada Wakil Jenderal Generic. Kuruto juga sudah berangkat ke sana
tadi."
""Apa
katanya?!""
"Apa
maksudmu?!"
Aku dan Yuna
berseru bersamaan, ditambah lagi Lise yang ikut berteriak di saat yang sama.
Pantas
saja sedari tadi aku tidak melihat batang hidung Kuruto.
"Sebagai
informasi, Golnova, Golandos, dan juga Marlefiss ikut pergi bersamanya."
Mendengar itu,
perasaanku malah jadi makin tidak enak.
Apalagi Golnova,
dia sepertinya punya dendam pribadi pada Kuruto.
Memang saat ini
sudah ada kesepakatan hukum antara dia dan Lise, jadi kemungkinan dia
berkhianat sangat kecil, tapi tetap saja...
"Mau
bagaimana lagi. Hanya Kuruto yang bisa melakukan Charge pada Magic Gun.
Aku sudah mengatur agar dia tidak maju ke garis depan yang berbahaya, jadi
tenang saja."
"Mimiko juga
sudah menyetujui hal ini. Golnova pun akan mempertaruhkan nyawa untuk
melindungi Kuruto jika terjadi sesuatu," tambah Hildegard.
Mimiko
yang berada di samping Hildegard mengangguk mantap.
Memang
benar, butuh bantuan Kuruto untuk mengisi energi sihir ke dalam Magic Gun.
Namun tetap saja—
"Aku
juga sudah menjelaskan pada Alraid bahwa tujuan utamanya adalah membawa Kuruto
kembali ke desa ini dengan selamat," kata Hildegard lagi.
"……"
"Yuna,
dengan kecepatan kakimu—"
"Ya, aku
akan menyusul—"
"Tidak boleh, Yurishia-chan, Yuna-chan."
Aku yang tanpa kata baru saja hendak mencengkeram tengkuk
Lise yang ingin mengejar Kuruto, langsung memerintah Yuna untuk pergi menyusul.
Namun, Mimiko
segera menghentikan kami.
"Ksatria,
penduduk desa, dan lebih dari setengah pasukan Phantom sudah menuju lembah. Di
saat pertahanan di sini sedang tipis, kekuatan Yurishia-chan dan terutama
Yuna-chan sangat dibutuhkan."
"Kalian
harus tetap di sini."
"Tapi—"
"Tujuan kali
ini hanya mematahkan serangan awal. Bahayanya sangat minim."
Meskipun dia
bilang begitu, masalahnya yang kita bicarakan ini adalah Kuruto.
Semoga
saja dia tidak terlibat masalah yang aneh-aneh lagi.
◆◇◆
Di dalam
kereta kuda yang mengangkut logistik, aku—Kuruto—merasa sedikit bersemangat.
Sebab, di
dalam kereta yang sama, ada Tuan Golnova dan Nona Marlefiss yang duduk
berdampingan.
"Tapi,
aku tidak menyangka Marlefiss juga ada di desa. Hei, apa saja yang kau lakukan selama aku tidak
ada, hah?"
"Banyak hal
yang terjadi. Bukankah Anda sendiri yang lebih menderita, Pemimpin? Kudengar
dari Nona Mimiko, Anda sampai jadi buronan dan menyatukan organisasi kriminal.
Lingkungan yang sangat gelap, bukan?"
"Hmph, kalau
aku yang turun tangan, kesulitan semacam itu bukan apa-apa. Lagipula apa tadi?
Nona Mimiko? Sejak kapan kau jadi anjing bangsawan?"
"Aku bukan
anjing siapa-siapa. Dia bilang sangat membutuhkan kekuatanku, jadi aku hanya
sekadar memberikan bantuan."
Suasananya terasa
sangat kaku.
"Kuru,
buatkan teh."
"Kuru, bisa
tolong buatkan teh untukku?"
"Kakak, Nona
Marlefiss. Kalian berdua itu pengawal Tuan Kuruto, jadi berhentilah
memperbudaknya. Lagipula, pengawal seharusnya berada di luar kereta, jadi
kalian berdua jalan kaki saja sana."
Dari kursi kusir,
Tuan Golandos melontarkan keluhannya.
"Tidak
apa-apa, Tuan Golandos. Aku sudah terbiasa, dan begini malah membuatku lebih
tenang."
Tidak mungkin aku
membiarkan mereka berdua berjalan kaki sementara aku enak-enakan di dalam
kereta sendirian.
Lagipula, aku
diberikan pekerjaan ini hanya sebagai perwakilan Tuan Ricto, bukan berarti
statusku jadi lebih tinggi.
Aku
menuangkan teh ke dalam cangkir yang disodorkan.
"Ah, Kuru.
Aku juga minta, ya."
"Baik,
dimengerti."
Saat menuangkan
teh ke cangkir ketiga—aku baru menyadarinya.
Ada satu lagi
penumpang yang seharusnya tidak ada di sini sejak awal.
"Tuan
Bandana!?"
"Bandana!?"
"Bandana,
sialan, kenapa kau ada di sini!"
Aku dan Nona Marlefiss
berseru kaget, sementara Tuan Golnova langsung mencengkeram kerah baju Tuan
Bandana dengan marah.
Namun,
Tuan Bandana tetap tenang dan berkata sambil tertawa.
"Nah,
nah, tenanglah Pemimpin. Jarang-jarang anggota 'Dragon Fang of Flame' berkumpul
lengkap seperti ini. Senyum dong, senyum."
"Jangan
bercanda! Gara-gara kau, aku jadi harus—"
"Bukankah
berkat bertemu Elena, kau bisa menempuh perjalanan sampai ke sini?"
"Itu tidak
ada hubungannya! Aku tidak bisa memaafkanmu karena sudah menipuku!"
"Sudah,
sudah, semuanya. Silakan minum tehnya dulu."
Mungkin karena
aku membuat teh yang memberikan efek relaksasi, setelah mereka bertiga
meminumnya, suasana tegang yang seolah bisa meledak kapan saja itu sedikit
mereda.
"Jadi,
kenapa Tuan Bandana bisa ada di sini?"
"Begini,
tugasku sebagai murid Sang Sage Agung adalah mengawasi Kuru yang merupakan
warga Desa Haste sampai dia bertemu Pemimpin dari balik layar. Setelah bertemu
Pemimpin, aku masuk ke party yang sama untuk memberi dukungan, lalu pada saat
yang tepat, aku membuat diriku diusir dari party agar bisa mempertemukan kalian
dengan Nona Yurishia. Begitulah pekerjaanku, paham?"
"Begitu
rupanya!?"
"Jadi begitu
ceritanya!?"
"Benarkah
begitu!?"
Rasanya dia baru
saja membocorkan rahasia yang luar biasa gila dengan nada yang sangat santai.
Lagipula, baik
Tuan Rugol maupun Sang Sage Agung, kenapa mereka begitu peduli pada Desa Haste?
Padahal itu kan
hanya desa terpencil biasa yang bisa ditemukan di mana saja.
"(Bandana,
sebenarnya kau juga punya tugas untuk memastikan kami tidak mengetahui
kemampuan asli Kuru, kan?)"
"(Marlefiss,
ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi rahasia. Ah, atau istilahnya
'keindahan dalam misteri'?)"
"(Terserah kau sajalah... Dasar kau ini.)"
Nona Marlefiss
dan Tuan Bandana tampak berbisik-bisik rahasia.
Saat aku merasa
heran, Tuan Bandana melemparkan senyum ke arahku.
"Pokoknya,
saat ini aku sedang tidak punya pekerjaan, jadi bosannya minta ampun. Di saat
seperti itu, kudengar 'Dragon Fang of Flame' dibentuk kembali! Mana mungkin aku
bisa tinggal diam."
"Aku
mengerti! Membayangkan 'Dragon Fang of Flame' bangkit kembali membuatku
bersemangat! Ah, tapi karena aku punya tugas sebagai asisten Atelier Meister,
aku tidak bisa kembali ke party..."
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kebangkitan ini hanya untuk satu hari saja?"
Tuan Bandana
memberikan usulan yang luar biasa.
Kebangkitan hanya
untuk satu hari.
Entah kenapa, aku
merasa sangat senang.
"Oi, jangan
putuskan sendiri! Itu adalah hal yang harus diputuskan oleh aku sebagai
Pemimpin!"
Tuan
Golnova berkata demikian sambil berdiri tegak meski kereta sedang berguncang.
"Tuh kan,
kau sendiri bilang kalau kau itu Pemimpin. Bukankah itu artinya kita sudah
resmi terbentuk kembali?"
Tuan Bandana juga
ikut berdiri sambil memegang pisaunya.
"Mau
bagaimana lagi. Lagipula, jika tidak menunjukkan performa hebat di sini, aku
dan Golnova akan menghadapi banyak masalah nantinya."
Nona Marlefiss
menumpukan tongkat tanduk Unicorn miliknya, lalu akhirnya ikut berdiri.
Luar biasa,
semuanya tampak sangat bersemangat!
Tepat saat aku
berpikir begitu—
"Hei,
hentikan keretanya."
"Benar,
hentikan keretanya."
"Eh!? Apa
yang Kakak katakan!? Terus, wanita itu siapa!?"
Tuan Golnova dan
Tuan Bandana berseru kepada Tuan Golandos, lalu melompat keluar dari kereta
secara bersamaan.
"Ini adalah
perang. Tentu saja akan ada pengecut yang mencoba mengincar unit suplai dari
jalan setapak. Lagipula, Bandana. Jangan-jangan kau yang dikuntit?"
"Mana
mungkin aku melakukan kesalahan seperti itu. Aku rasa mereka sudah menunggu di
sini sejak lama."
Selagi aku masih
bingung dengan maksud percakapan mereka, segerombolan Lizardman muncul dari
dalam hutan di pinggir jalan.
"Tidak
mungkin!? Dari mana mereka datang!?"
Tuan
Golandos berseru kaget.
Dia pasti tidak
menyangka akan ada pasukan musuh di tempat seperti ini.
Wajar saja,
posisi ini lebih dekat ke desa daripada ke lembah.
"Di balik
hutan ini ada rawa yang merupakan wilayah asli para Lizardman. Lalu, monster
bawahan Raja Iblis yang ukurannya sangat besar itu menghajar Lizardman di sana
dan mengambil alih kelompok mereka. Karena mereka bergerak sendirian lewat air,
mereka jadi sulit dideteksi. Yah, sepertinya koordinasi mereka kurang bagus,
jadi mereka tidak bisa melakukan taktik jepitan."
"Bandana.
Kenapa kau bisa tahu sedetail itu?"
"Kebetulan
saja kok."
Menerima tatapan
tajam Tuan Golnova, Tuan Bandana tertawa lepas dengan nada bicara yang santai.
Aku bisa
merasakan bahwa dia pasti telah menyelidiki banyak hal demi kami.
Sejak kami masih
berada di party yang sama, dia selalu mendukung kami dari balik layar seperti
ini.
"Cih, dasar
tidak bisa dipercaya. Jangan coba-coba lari, ya. Begitu pertempuran
selesai, kau harus menjelaskan semuanya, termasuk soal Sage di Menara. Kuru,
kau hanya akan jadi penghambat! Meringkuk saja di dalam kereta sana!"
"B-baik."
Tuan Golnova membentakku saat aku hendak turun mengikuti
Nona Marlefiss.
"Nah, lima puluh Lizardman. Tingkat kesulitan membasmi
satu Lizardman bersenjata lengkap adalah Rank C, tapi dengan jumlah
sebanyak ini, tingkat kesulitannya naik menjadi Rank B Plus."
"Pemimpin,
apa Anda merasa takut?"
"Jangan
bicara bodoh, Marlefiss. Kita bahkan sudah menghancurkan Fenrir yang tingkat
kesulitannya Rank S. Ini sih tidak ada apa-apanya bagi kita. Golandos,
bawa Kuru menuju lembah!"
"Dimengerti.
Kakak, semoga keberuntungan menyertaimu."
Tuan Golandos
berkata demikian, lalu meninggalkan Tuan Golnova, Nona Marlefiss, dan Tuan
Bandana di tempat itu, sambil memacu kereta kuda ke arah utara bersamaku.
Kereta yang
membawaku tidak diserang monster lain setelah itu, dan akhirnya kami sampai di
barisan terdepan yang didirikan di lembah utara.
"Kuruto-kun,
aku sudah menunggumu. Tapi, peranmu baru dimulai setelah musuh terlihat.
Beristirahatlah dulu di dalam kereta."
Begitu tiba, Tuan
Alraid langsung menyambutku.
"Anu, di
jalan selatan, Tuan Golnova dan yang lainnya diserang Lizardman! Tolong kirim
bantuan segera—"
"Tuan
Alraid, kami diserang lima puluh Lizardman di titik tiga kilometer ke selatan,
tapi tidak butuh bantuan. Kakak sedang menanganinya. Jika dikirim bantuan untuk
masalah sekecil itu, Kakak justru akan marah."
Tuan
Golandos menjelaskan dengan tenang di sampingku yang sedang panik.
Benar
juga, aku sempat berpikir harus melakukan sesuatu, tapi lawan selevel itu tidak
akan bisa mengalahkan mereka bertiga. Justru tanpa aku yang menjadi beban,
mereka bisa bertarung dengan lebih leluasa.
"Begitu,
terima kasih informasinya. Aku akan instruksikan bawahanku untuk waspada
terhadap serangan jepitan sebagai antisipasi. Tuan Golandos, ada pesan
dari Tuan Rugol bahwa kau harus bergabung dengan unit garis depan."
"Baik,
saya mengerti. Anggap saja ini sebagai penebus dosa."
Tuan
Golandos mengangguk, lalu berjalan menuju unit garis depan.
"Kuruto-kun,
peranmu adalah mengisi ulang energi sihir pada Magic Gun. Di pasukan ksatria,
hanya sedikit orang yang memiliki energi sihir. Tapi saat ini pengisian sudah
selesai. Beristirahatlah sampai pertempuran dimulai."
"Tidak, saya
juga ingin membantu. Apa ada yang bisa saya lakukan? Ah, ini Magic Gun titipan
dari Nona Mimiko."
Tanyaku sambil
menyerahkan dua pucuk Magic Gun kepada Tuan Alraid.
"Sesuatu
yang bisa dibantu Kuruto-kun, ya..."
"Kalau
begitu, Tuan Kuruto. Maukah Anda membuatkan masakan untuk meningkatkan moral
bertarung semua orang?"
Yang mengatakan
itu adalah Nona Kakaloa.
Aku tidak tahu
bagaimana ceritanya, tapi dia yang sudah menjadi akrab denganku sejak di
Coskeeto, ikut berpartisipasi dalam pertempuran ini bersama Tuan Yurail.
Ngomong-ngomong,
memasak, ya.
Itu memang salah
satu dari sedikit bidang keahlianku.
Saat berkelana
bersama "Dragon Fang of Flame", aku sering memasak saat berkemah,
jadi aku sudah terbiasa memasak di tempat seperti ini.
"Baik! Saya
akan buatkan makanannya!"
Aku berkata
demikian dan segera menuju ke dapur lapangan.
Lalu, dua jam
setelah selesai membagikan makanan dan semua orang selesai makan.
Pertempuran
pertama pun dimulai.
◆◇◆
"Tidak bisa
dimaafkan... Tidak bisa dimaafkan, tidak dimaafkan, tidak dimaafkan!"
Wanita yang
berani menghina aku, sang Director, benar-benar tidak bisa dimaafkan.
Aku bahkan sudah
tidak punya tenaga lagi untuk berpura-pura menggunakan nada bicara yang sopan.
Memang benar, aku
kehilangan tubuh bagian atasku karena alat sihir aneh milik wanita itu.
Namun alasan aku
masih bisa memimpin pasukan adalah berkat alat sihir yang diberikan oleh Raja
Iblis.
Alat sihir itu
adalah tubuh buatan untuk memindahkan jiwa yang seharusnya musnah dari dunia
ini.
Tubuh ini hampir
sama dengan tubuhku yang sebelumnya, namun perbedaannya adalah energi yang
terkandung di dalamnya sangatlah besar.
Dan aku memiliki
intuisi.
Energi itu
dihasilkan dengan menggunakan jiwaku sendiri sebagai bahan bakar.
Artinya, wadah
ini adalah makhluk hidup yang terus bergerak dengan mengonsumsi jiwaku.
Mungkin batas
waktunya hanya tiga hari.
Setelah itu,
jiwaku akan musnah sepenuhnya, dan masa depan yang lebih mengerikan daripada
kematian telah menantiku.
Raja Iblis
memberikan alat sihir ini meski tahu akhir seperti apa yang akan menimpaku.
Itu artinya, aku
hanyalah pion yang bisa dibuang.
Dengan kata lain—
× Pertempuran ini
adalah kisah perang demi aku yang dipercaya sepenuhnya oleh Yang Mulia Raja
Iblis. ○ Pertempuran ini adalah kisah perang demi aku yang telah dijadikan pion
buang oleh Raja Iblis.
Tentu saja
kesetiaanku pada Raja Iblis sudah hancur berkeping-keping, tapi aku tidak
menaruh dendam.
Karena dengan
begini, aku mendapatkan kesempatan untuk membalas dendam pada wanita-wanita
itu.
"Seluruh
pasukan, maju! Bantai semua manusia!"
Arahan untuk
drama yang akan dimulai ini sudah diputuskan.
Tidak butuh
properti khusus atau naskah, ini hanyalah sebuah pertunjukan pembantaian.
Musuh yang
menunggu di lembah sebelah utara Desa Sword Saint sebagian besar adalah
pendekar pedang, dan tampaknya mereka memiliki kemampuan kelas satu di antara
manusia.
Bahkan seekor
Ogre pun mungkin akan kalah jika bertarung satu lawan satu, tapi... jumlah kami
berbeda.
Ditambah lagi,
manusia memiliki rasa lelah.
Hebat apa pun
seorang pendekar pedang, jika terus bertarung dengan serius, napasnya akan
memburu, konsentrasinya akan buyar, bahunya akan kaku, dan akhirnya mereka
tidak akan bisa bergerak.
Satu-satunya yang
aku takuti adalah alat sihir aneh yang digunakan wanita itu.
Daya ledaknya
memang mengerikan, tapi aku sudah mengetahui kelemahannya.
Yaitu, alat sihir
itu sepertinya tidak bisa digunakan secara terus-menerus.
Kenyataannya,
wanita itu membawa dua buah alat sihir, dan dia hanya menggunakannya satu kali
padaku, dan satu kali lagi saat melarikan diri, total hanya dua kali.
Aku tidak tahu
apakah alat itu butuh waktu lama untuk bisa digunakan lagi, ataukah itu alat
sihir sekali pakai.
Tapi bagaimanapun
juga, selama kami tidak berkumpul di satu titik dan membentuk formasi
mengepung, tidak akan ada masalah meski formasi kami ditembus oleh alat sihir
itu, asalkan kami segera menyusun kembali barisan tanpa merasa takut.
Kemungkinan
target musuh adalah membasmi pasukan garis depan kami sampai batas tertentu,
lalu mundur sebelum mereka menerima banyak kerusakan... tapi aku tidak akan
memberikan celah seperti itu.
Jika kami
menyerang dengan kekuatan penuh, kemenangan kami sudah pasti.
"—Lapor,
Tuan Director."
Seorang iblis
bawahan datang melapor kepadaku yang berada di barisan belakang.
"Ada apa?
Apa musuh sudah musnah? Rasanya sedikit terlalu cepat."
Padahal baru satu
jam berlalu sejak pasukan garis depan bentrok dengan musuh.
Kupikir inilah
saatnya gejala kelelahan mulai terlihat pada musuh, tapi—
"Pasukan
musuh sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Malah sebaliknya,
meski ditebas dengan pedang, luka mereka langsung menutup. Di antara para
prajurit muncul kegelisahan, mereka berbisik, 'Apa mereka benar-benar manusia!?
Jangan-jangan mereka iblis tingkat tinggi yang menyamar!?' Jumlah monster yang
tewas di lembah sudah melampaui lima ribu, jika terus begini lembah akan
dipenuhi oleh mayat."
"Apa
katamu!?"
Pendekar pedang
yang tidak kenal lelah dan lukanya langsung menutup meski ditebas!?
Apa yang
sebenarnya terjadi di luar skenario arahanku!?
◆◇◆
Namaku Jemini.
Aku adalah
seorang ksatria di bawah komando Jenderal Alraid.
Lahir sebagai
putra kelima dari keluarga Count, aku memilih jalan menjadi ksatria karena
bakat pedangku diakui. Karena gelar keluarga akan diwarisi oleh kakakku, aku
yang merupakan putra kelima tetap harus keluar dari rumah suatu saat nanti.
Jika aku bilang
aku tidak merasa muak bekerja di bawah Jenderal Alraid yang berasal dari
kalangan rakyat jelata, itu bohong. Namun, Jenderal telah menyelamatkan nyawaku
berkali-kali dalam situasi berbahaya.
Sekarang, dia
adalah Jenderal yang aku hormati dan ingin kuikuti seumur hidupku.
Meski
begitu, jujur saja aku tidak terlalu bersemangat dalam perang ini.
Memang
benar, melindungi Desa Sword Saint berarti melindungi Kerajaan Homuros.
Aku paham
itu.
Tapi,
penduduk Desa Sword Saint adalah keturunan dari Kaisar pertama Kekaisaran
Gurumaku.
Sampai beberapa
puluh tahun lalu, Kekaisaran Gurumaku dan Kerajaan Homuros adalah musuh
bebuyutan.
Aku memang tidak
ikut serta secara langsung dalam perang melawan Kekaisaran Gurumaku, tapi
banyak ksatria senior yang kehilangan rekan berharga mereka dalam perang itu.
Tidak peduli
perang sudah usai, atau Desa Sword Saint sekarang tidak ada hubungannya dengan
Kekaisaran Gurumaku, perasaan ini tidak bisa dihilangkan begitu saja dengan
mudah.
Apalagi, perang
ini juga merupakan perang antara Kaisar Tua Hildegard melawan Raja Iblis.
Artinya, kami
bertempur sebagai pasukan sekutu bagi Kaisar Tua Hildegard.
...Bisa kau
percaya itu?
Ksatria yang
bertugas melindungi Valha seharusnya berjaga-jaga terhadap invasi iblis, tapi
sekarang kami justru bertarung bersama dengan kaum iblis?
Yah, penampilan
Kaisar Tua Hildegard hampir seperti anak kecil, dan yang paling penting, dia
adalah teman Tuan Sub-Baron Kuruto, jadi rasa muakku tidak sebesar yang
kubayangkan.
Lagipula, jika
bukan karena orang-orang dari bengkel Tuan Sub-Baron Kuruto, kami mungkin sudah
kehilangan nyawa saat kota diserang oleh gerombolan Skeleton dan Imp.
Meski begitu,
wajar saja jika moral pasukan menurun.
Seharusnya memang
begitu, tapi—
"Hal-hal
seperti itu sudah tidak penting lagi! Bantai saja musuh di depan mata kalian! Jangan biarkan satu prajurit pun
lewat!"
Suara-suara
bersahutan dari unit yang mempertahankan garis tempur, seolah menanggapi
teriakanku.
Kondisiku sangat
prima setelah memakan masakan Tuan Sub-Baron Kuruto.
Aku sudah
mengayunkan pedang selama hampir satu jam, tapi sama sekali tidak ada
tanda-tanda kelelahan.
Bahkan, rasanya
semakin sering aku mengayunkan pedang, otot-ototku seolah langsung diperkuat
saat itu juga.
Lalu, pedang ini
juga terasa sangat pas. Aku sudah memakainya beberapa kali dalam latihan, tapi
ini pertama kalinya kugunakan dalam pertempuran sungguhan.
Pedang yang
dipegang oleh seluruh anggota unit ini adalah pemberian dari Tuan Sub-Baron Kuruto
melalui perantara Nona Madya-Baron Yurishia, mantan petualang yang bernaung di
bawah keluarga kerajaan.
Katanya, pedang
ini ditempa oleh empu legendaris yang bahkan aku pun mengenalnya, si Sage
Senjata—entah kenapa sekarang dia menjadi instruktur pandai besi di Kota Rikurt—dan
merupakan sebuah karya agung.
Tentu saja,
pedang ini tidak akan kalah dari pedang murahan yang dibawa oleh para Goblin
Rider yang merangsek di depanku.
Haha, siapa yang
menyangka pertempuran ini akan jadi sepihak begini?
"Hei, jangan
lengah!"
Tepat setelah
mendengar teriakan rekanku, seorang Goblin Rider yang menunggangi serigala
melompat untuk menebasku.
Aku menangkis
pedang itu dengan Buckler yang terpasang di lengan kiriku—saat itulah.
Tiba-tiba, aku
merasakan sakit di lengan kananku.
Saat
kulihat, seekor serigala sedang menggigit lenganku.
"Gugyagya!"
Si Goblin
Rider tertawa senang, tapi aku dengan tenang memindahkan pedang ke tangan kiri,
lalu mengayunkan lengan kananku untuk menghantamkan serigala itu ke arah si
Goblin.
Dampak
dari hantaman itu membuat taring serigala terlepas, dan ia terpental bersama si
Goblin.
Seketika, salah
satu rekanku berlari mendekat.
"Hei, kau
tidak apa-apa?"
"Aku tidak
apa-apa. Aku memang merasakan sakit, tapi tidak ada rasa menderita."
Aneh sekali.
Biasanya, saat
merasakan sakit, hal itu akan menjadi penderitaan yang menumpulkan pikiran.
Tapi sekarang, tidak ada rasa menderita sama sekali.
Hanya informasi
bahwa 'aku sedang merasa sakit' yang masuk ke otakku, tanpa mengganggu
konsentrasi.
Mungkin karena
aku sedang sangat bersemangat sehingga rasa sakit sulit terasa.
Tapi di saat yang
sama, aku yang tenang juga tetap berada di sana.
Terlebih lagi—
"Lukanya
sudah tertutup."
Tadi itu gigitan
serigala yang cukup dalam. Luka parah yang seharusnya membuat jari-jariku tidak
bisa digerakkan lagi.
Meskipun begitu,
luka itu sudah tertutup rapat sepenuhnya.
"Luar biasa... Dengan begini aku tidak merasa akan
kalah."
"Tentu saja. Kalau kalah dalam kondisi seuntung ini,
kita akan ditertawakan oleh Wakil Jenderal Generic yang sedang menjaga
markas."
"Itu sih ogah. Daripada ditertawakan orang itu, aku
lebih memilih untuk menghabisi seluruh pasukan musuh di sini."
Aku tertawa
setelah mengatakan itu.
Aku tidak tahu
ada berapa puluh ribu lagi jumlah musuh, tapi aku merasa sanggup bertarung
selama dua puluh empat jam lagi dengan mudah.
Tepat saat
berpikir begitu, tiba-tiba terlihat bayangan raksasa yang melompat dari balik
gerombolan monster.
—Akhirnya muncul juga, Wyvern Zombie.
Sesaat setelah aku mengonfirmasinya, mungkin petugas
penyampai pesan sudah melapor menggunakan alat komunikasi, sebuah balon udara
membumbung tinggi di barisan belakang dan terbang menuju Wyvern Zombie.
Wyvern Zombie menganggap balon udara itu sebagai
musuh dan mencoba mencengkeramnya dengan taring tajamnya.
Dilihat dari mekanismenya, jika balon itu sampai bocor,
udara akan keluar dan balon itu akan jatuh... tapi ini adalah balon udara
buatan Tuan Sub-Baron Kuruto. Cakar busuk Wyvern Zombie tidak akan bisa
memberikan luka sedikit pun.
Tapi omong-omong, orang-orang di balon udara itu terlalu
berani mendekat meski balonnya kuat.
Padahal mereka seharusnya hanya perlu menembak dengan Magic
Gun dari jauh... eh, jadi begitu maksudnya.
Orang-orang
di balon udara itu sengaja mendekati Wyvern Zombie.
Dan
tujuannya adalah—
Sinar
dari Magic Gun dilepaskan dari balon udara, melubangi perut Wyvern Zombie
yang mendekat, dan bahkan tembakannya menembus hingga menjatuhkan Wyvern
Zombie lain yang ada di belakangnya.
Ya,
mereka tidak berniat menjatuhkan satu Wyvern Zombie dengan satu
tembakan, melainkan melakukan manuver nekat demi menghabisi dua ekor atau lebih
dalam sekali tembak.
Aku
merasa pertempuranku sudah cukup berani, tapi orang-orang yang bertarung di
langit itu jauh lebih nekat lagi.
"Hei, satu
monster raksasa jatuh ke sini!"
Wyvern Zombie yang jatuh ke tanah mulai merangkak
mendekati kami sambil menebarkan bau busuk.
Meski
tidak terbang, monster itu tetaplah makhluk yang merepotkan.
Tapi,
kami pun memang sedang ingin bertarung dengan musuh yang sepadan.
"Unit
pertama, serang! Kita buat bendungan di lembah ini dengan mayat monster!"
Bersamaan
dengan komando Jenderal Alraid, atau mungkin bahkan lebih cepat, kami mulai
berlari menerjang ke arah Wyvern Zombie yang jatuh ke tanah.
◆◇◆
Satu jam
telah berlalu sejak pertempuran dimulai.
Aku—Kuruto—melihat
perjuangan semua orang dari kejauhan.
Di bagian lembah
yang sempit, unit Tuan Alraid dan yang lainnya sedang bertempur dengan gigih.
Meski tidak
terlihat jelas dari sini, sepertinya semua orang baik-baik saja.
Lalu, sebuah
suara memanggilku dari belakang.
"Hei, Kuru.
Apa yang sebenarnya terjadi!? Ini benar-benar berbeda dari rencana."
Ah, Tuan
Golnova. Syukurlah Anda baik-baik saja.
Tuan Bandana dan Nona Marlefiss juga bersamanya.
"Benar lho,
Kuru. Pertempuran kali ini kan tujuannya hanya untuk mematahkan serangan awal.
Rencananya kita cuma akan menghajar para Goblin Rider yang menyerang terpisah
dari pasukan utama, lalu memberi kerusakan pada pasukan musuh dengan Magic
Gun—kalau beruntung, kita bakal menjatuhkan Wyvern Zombie yang
merepotkan itu pakai Magic Gun. Begitu kan pembicaraannya?"
"Kenapa
Bandana yang seharusnya tidak tahu soal taktik bisa tahu sedetail itu?"
Nona Marlefiss bertanya menanggapi ucapan Tuan Bandana.
Benar juga,
bagaimana dia bisa tahu?
...Yah sudahlah,
yang penting aku harus menjelaskan situasinya.
"Itu dia,
entah kenapa semuanya tiba-tiba jadi sangat bersemangat. Mereka bilang kalau
sekarang mereka bisa membasmi seluruh pasukan musuh dengan mudah, lalu mereka
langsung menyerang begitu saja. Bahkan Magic Gun yang seharusnya digunakan di
awal perang, mereka bilang tidak perlu digunakan sampai Wyvern Zombie
muncul."
"Makanya,
aku bertanya kenapa bisa jadi begitu! Golandos pun ikut menerjang ke sana. Apa
kau melakukan sesuatu?"
"Aku
benar-benar tidak tahu. Yang kulakukan hanyalah menuruti permintaan Nona
Kakaloa untuk membuat masakan penambah semangat. Aku berpikir sekalian saja
kumasukkan ekstrak tanaman obat yang bisa mempercepat penyembuhan luka dan
menghilangkan rasa lelah ke dalam supnya, tentu saja dalam takaran yang tidak
merusak rasa dan kesehatan. Hanya itu saja kok."
Mendengar
penjelasanku—
"Begitu
rupanya."
"Aku sudah
sangat paham sekarang."
"Wah, kau
melakukannya lagi ya."
Tuan Golnova,
Nona Marlefiss, dan Tuan Bandana menyadari sesuatu yang tidak kupahami. Setelah
tampak maklum, mereka mulai berbisik-bisik.
"(Oi, apa
ini kekuatan Kuru!?)"
"(Kuru
sepertinya melakukannya secara alami, tapi memang begitulah
kenyataannya.)"
"(Kenapa
saat kita makan masakan Kuru tidak sampai jadi seheboh ini!?)"
"(Itu
pasti karena si Bandana ini diam-diam mengarahkan Kuru di balik layar.)"
"(Benar
sekali. Jujur saja, susah lho menyembunyikan kemampuan Kuru dari kalian berdua.
Aku harus memastikan masakannya tidak punya khasiat yang aneh-aneh.)"
"(...Dilihat
dari sisi mana pun, kita ini terlihat seperti orang bodoh ya... Aku harus
benar-benar menjadikannya koki pribadiku.)"
"(Tidak
mungkin. Aku sudah mengajaknya masuk ke party saja dia menolak. Tekad Kuru itu
sangat kuat.)"
"(Kau berani
mencuri start begitu... cih, kalau begitu aku harus memaksanya.)"
"(Kalau kau
sampai menculik Kuru, Putri Ketiga itu tidak akan tinggal diam. Urusannya tidak
akan selesai hanya dengan status buronan. Lebih baik kita manfaatkan Kuru dan
nikmati keuntungannya sebisa mungkin.)"
Tuan Golnova,
Nona Marlefiss, dan Tuan Bandana sepertinya sedang menyusun rencana sesuatu.
Aku dipecat dari
"Dragon Fang of Flame", Tuan Bandana juga diusir, Nona Marlefiss
ditangkap karena kasus vandalisme, dan Tuan Golnova melarikan diri sebagai
buronan.
Meski party ini
sempat hancur berantakan, dalam pertarungan melawan Lizardman tadi sepertinya
mereka bertiga sudah kembali kompak.
Saat aku
sedang merasa senang sendiri, Tuan Golnova menoleh ke arahku dan mengangguk.
"Yah,
pokoknya aku sudah mengerti garis besarnya. Di lembah sempit ini, jika pasukan
elit yang tidak kenal lelah menutup jalan, musuh sebanyak berapa puluh ribu pun
akan bisa ditahan dengan mudah."
"Tapi ini
kan lembah—meskipun sisi kanan dan kirinya jurang yang curam, tingginya masih
bisa dipanjat. Kalau mereka memutar dari atas lembah—"
"Ah... soal
itu, tenang saja."
Tepat setelah
Tuan Bandana berkata demikian, seekor serigala dan Goblin jatuh dari atas
tebing di sebelah kiri... tapi mereka sudah mati.
Melihat luka
sayatannya, mereka bukan mati karena benturan saat jatuh, melainkan sudah
ditebas di atas tebing.
"Kuru, yang
memakan masakanmu cuma para ksatria dan pendekar dari desa saja?"
"Tidak, Tuan
Yurail dan Nona Kakaloa, serta rekan-rekan mereka juga ikut makan. Setelah
selesai makan, entah kenapa mereka semua langsung memanjat tebing itu untuk
menjaga bagian atas."
Begitu rupanya,
Tuan Yurail dan yang lainnya sedang bertarung di atas tebing.
"Artinya,
pertahanan di atas tebing pun sudah sempurna, ya."
Nona Marlefiss
bergumam demikian, lalu menyuruhku membuatkan teh dengan gula yang sangat
banyak.
◆◇◆
—Benar,
seharusnya aku melakukan ini sejak awal.
Sepuluh Wyvern
Zombie yang tidak ikut musnah bersamaan dengan lenyapnya sang iblis karena
kukendalikan secara langsung—kini semuanya telah habis tak bersisa, membuat
pasukanku jatuh ke dalam kekacauan.
Dalam kondisi
seperti ini, kekuatan utamaku, kemampuan sugesti, menjadi sulit untuk bekerja.
Benar-benar
memalukan.
Pasukanku bukan
hanya berisi monster kelas rendah seperti Goblin atau Orc.
Aku bahkan sudah
menempatkan kaum iblis yang mengaku sebagai elit, tapi ternyata mereka tidak
bisa memberikan hasil apa pun saat melawan pasukan manusia.
Di tengah
rasa muakku, seorang bawahan datang melapor.
"Tuan
Director, gawat! Pasukan kejutan yang menuju ke atas tebing berpapasan
dengan pasukan musuh dan musnah—"
"Cukup."
"Ta-tapi!"
"Aku
sudah bosan mendengar laporanmu. Tersungkurlah ke tanah dan jangan katakan apa pun lagi."
Begitu aku
mengatakannya, bawahan tidak berguna yang datang melapor itu langsung menekuk
lututnya, tersungkur di tempat, dan tidak bisa bergerak lagi.
Ini adalah
kemampuan yang kudapatkan setelah memiliki tubuh ini.
Membuat tubuh
lawan di dalam jangkauan tertentu menjadi berat.
Semakin banyak
energi sihir yang kukeluarkan, semakin luas jangkauannya, dan semakin dekat
jaraknya, semakin luar biasa beratnya.
Jika terus berada
di sekitarku dalam waktu lama, organ dalam mereka akan hancur dan mereka akan
mati.
Kemampuan ini
tidak bisa membedakan kawan atau lawan. Ia hanya melipatgandakan berat dari segala
sesuatu yang memiliki energi sihir.
Jika ada
pemisahan, itu hanyalah antara diriku atau selain diriku.
Hanya itu saja.
Kekurangannya,
karena ini mengonsumsi energi sihir, semakin sering kugunakan, maka kecepatan
jiwaku untuk lenyap akan semakin meningkat.
—Tapi, aku sudah
tidak peduli lagi soal itu.
Kalau aku memang
harus mati, lebih baik semuanya mati bersamaku.
◆◇◆
Situasi
pertempuran di lembah sampai ke telingaku—Yurishia—melalui alat komunikasi
milik Kuruto.
Rencana telah
berubah drastis, dan garis pertahanan kini dipertahankan dalam situasi di mana
pihak kami unggul mutlak.
"Menurut
laporan Tuan Yurail, korban di pihak kita nol, dan musuh kabarnya sudah
kehilangan lebih dari sepuluh ribu—ah, tunggu sebentar... Sepuluh Wyvern
Zombie muncul dari pasukan musuh, tapi berhasil dipukul mundur dengan Magic
Gun."
"Tunggu, Kuruto.
Magic Gun kan cuma ada lima pucuk! Bagaimana caranya mengalahkan sepuluh Wyvern
Zombie dengan itu!?"
"Eeeh,
sepertinya mereka bergerak ke posisi di mana para Wyvern itu berbaris lurus,
lalu menjatuhkan dua Wyvern Zombie sekaligus dalam satu tembakan. Ada
satu yang hanya sayapnya saja yang tertembak, tapi sepertinya sudah dihabisi
oleh para ksatria yang berjaga di bawahnya."
Mendengar laporan
Kuruto, aku memijat pelipisku.
Aku tahu
peribahasa sekali dayung dua pulau terlampau, tapi aku belum pernah dengar
sekali tembak dua Wyvern Zombie terlampau.
"Maaf,
sepertinya aku harus mengisi ulang energi sihir ke Magic Gun, jadi aku akhiri
dulu komunikasinya."
"Ah,
baiklah."
Komunikasi
terputus.
"Keadaannya
jadi luar biasa, ya."
"Entah harus
bilang 'seperti yang diharapkan dari Kuruto-chan' atau bagaimana, tapi aku
belum pernah dengar ada perang yang seperti ini."
Hildegard dan
Mimiko sama-sama merasa takjub.
Aku bahkan mulai
berpikir kalau pertempuran ini mungkin akan selesai begitu saja di lembah.
"……Ngomong-ngomong,
Lise pergi ke mana? Biasanya di saat seperti ini, dia pasti akan mengatakan hal
aneh yang membuat suasana jadi rumit."
Yuna bertanya
padaku.
Kalau
dipikir-pikir, sosok Lise memang tidak terlihat.
Padahal ini
komunikasi dari Kuruto, aneh kalau Lise tidak ada di sini.
Mimiko maupun
Hildegard pun tidak tahu dia di mana.
Lalu, ke mana dia
sebenarnya?
"Yuri-san,
ini penemuan besar!"
Panjang umur,
yang dibicarakan muncul juga dengan suara berisiknya.
Lise kembali dari
luar bersama Akuri.
"Penemuan
besar apa maksudmu?"
"Lihat
ini!"
Benda
yang dibentangkan Lise tidak terlihat seperti apa pun selain celemek bayi.
Apa dia
membelinya untuk Akuri?
"Ini adalah
celemek bayi yang digunakan Tuan Kuruto saat dia masih kecil!"
……Hah?
Kenapa benda
seperti itu ada di sini?
"Paman Urano
menyimpannya untuk kenang-kenangan! Selain ini, ada juga empeng dan gambar
sketsa wajah Paman Urano yang sepertinya digambar oleh Tuan Kuruto."
Pada gambar yang
ditunjukkan Lise, terlihat sosok Urano-kun yang sudah sedikit tumbuh besar,
kira-kira seumuran dengan kami. Gambarnya dibuat sangat realistis, seolah
memotret kenyataan ke atas kertas.
Di latar
belakangnya, ruangan tanpa gravitasi yang waktu itu juga ikut tergambar.
"Laboratorium
Paman Urano masih tersisa sama seperti dulu, dan benda-benda ini diletakkan di
sana. Sepertinya, meski Paman Urano kehilangan ingatannya, beliau tetap menjaga
janjinya padaku!"
"Dia
ingat hal-hal yang tidak penting juga, ya... Dasar orang yang kaku...
Lagipula, bagaimana kau bisa masuk ke dalam? Bukankah tombolnya rumit?"
Seingatku ada tiga tonjolan, dan harus ditekan tujuh kali
dengan urutan tertentu untuk bisa masuk.
Kalau mencoba menekan tombolnya secara acak, ada sekitar dua
ribu kombinasi.
"Tentu saja,
aku sudah menghafalnya karena menduga hal seperti ini akan terjadi."
"Aku angkat
topi padamu."
Aku berkata
demikian sambil menekan dahi dengan jari, alih-alih benar-benar melepas topi.
Sedari tadi aku
sudah memegang pelipis, dahi, dan berbagai tempat lainnya. Rasanya sebentar
lagi aku akan kehabisan tempat untuk dipegang karena saking pusingnya.
"Yurishia-san,
bisa dengar? Yurishia-san!"
Suara Kuruto
terdengar dari alat komunikasi.
"Aku dengar.
Ada apa!"
Aku berteriak ke
arah lubang suara.
"Ada sihir
aneh yang membuat tubuh jadi berat... Semuanya masih hidup, tapi kalau terus
begini—"
Sampai di situ,
tiba-tiba suara Kuruto menghilang dari alat komunikasi.
Sudah pasti
sesuatu yang gila sedang terjadi.
"Aku
pergi!"
Yang mengatakan
itu adalah Yuna. Tangannya menahan lengan Lise yang baru saja hendak melesat
pergi.
"Aku tidak
tahu apa yang terjadi, tapi kalau aku, aku bisa mengatasi apa pun."
Yuna berkata
demikian, lalu melemparkan Lise yang tadi dipegangnya ke arahku.
"Bisa
kupercayakan padamu?"
"Yah, aku
pasti akan sangat sibuk menyelamatkan Kuruto nanti."
Setelah berkata
begitu, Yuna berlari menuju medan perang dengan kecepatan yang tidak masuk akal
bagi manusia biasa.
" Yuri -san,
lepaskan aku! Aku juga harus pergi ke tempat Tuan Kuruto!"
"Akuri juga
mau bantuin Papa."
"Akuri tidak
boleh ikut."
Akuri mulai
terpengaruh dampak buruk Lise dan ikut-ikutan bilang mau menyelamatkan Kuruto.
Mana mungkin aku
membawa anak kecil ke tempat berbahaya seperti itu.
"Tidak,
Akuri juga harus ikut!"
"Hei, Lise!
Apa yang kau katakan? Membawa Akuri ke medan perang itu..."
"Siapa
yang bilang mau ke medan perang? Yuri -san, Hildegard-san, Mimiko-san,
semuanya harus ikut. Dan tolong
panggil Nona Ophelia juga. Sudah saatnya senjata rahasia kita beraksi!"
Lise menyeringai
penuh percaya diri.
Kalau dia
tersenyum seperti ini, biasanya dia baru saja memikirkan sesuatu yang tidak
beres.
◆◇◆
Tubuhku—Kuruto—yang
sedang mengisi energi sihir ke Magic Gun mendadak menjadi seberat besi.
Awalnya aku masih
bisa bergerak sedikit, tapi sekarang untuk berdiri saja sudah sangat sulit.
Sepertinya,
gravitasi di sekitar area ini meningkat karena faktor tertentu, sehingga tubuh
terasa sangat berat.
Aku harus segera
menjauh dari tempat ini, tapi...
"Sial...
apa-apaan ini..."
"……Tubuhku……
tidak bisa bergerak."
"Ahaha…… kalau aku tidak minum teh sehat buatan Kuru,
organ dalamku pasti sudah hancur."
"Bukannya
ini saatnya tertawa... lakukan sesuatu, Bandana."
"Jangan
minta yang mustahil dong. Aku tidak bisa melakukan apa pun, makanya cuma bisa
tertawa. Mengertilah sedikit."
Bukan hanya aku,
tapi siapa pun yang ada di lembah ini, baik kawan maupun lawan, semuanya jatuh
tersungkur.
—Kecuali satu
orang.
Sebuah bayangan
berjalan mendekat sambil mengetukkan tongkat seolah tidak terjadi apa-apa.
Sosok yang
wajahnya rata berwarna hitam, mengenakan tuksedo dan topi tinggi, sampai-sampai
tidak jelas apakah itu laki-laki atau perempuan.
Aku sadar bahwa
itu adalah Director yang pernah diceritakan.
Tapi, seharusnya Director
sudah dikalahkan oleh Nona Mimiko.
Jangan-jangan,
yang dikalahkan waktu itu hanyalah umpan atau tubuh pengganti.
Director sepertinya menyadari keberadaanku dan
berjalan lurus ke arah sini.
"Hmm? Masih
ada manusia yang bisa berdiri? Ini cukup mengejutkan... Tapi, aku tidak bisa
memaafkannya. Beraninya kau tidak bersujud di depanku... hmm?"
Director menyadari sesuatu dan berhenti
melangkah.
"Benda
yang ada di tanganmu itu... Begitu ya, jadi kau yang sudah menghabisi Wyvern
Zombie-ku..."
Melihat
Magic Gun yang kupegang, Director berteriak dengan penuh kemarahan.
Sepertinya
dia salah paham dan mengira akulah yang menembak para Wyvern Zombie.
"Bukan—"
"Aku
tidak akan membiarkanmu hidup. Orang-orang lain yang tersungkur itu akan mati
dengan sendirinya—tapi kau, aku sendiri yang akan membunuhmu."
Memotong
kata-kataku yang hendak menyangkal, Director menarik pedang tipis dari
dalam tongkatnya.
Dalam
situasi seperti ini, aku tidak bisa menghindar ataupun lari.
Tepat
saat aku berpikir begitu—tiba-tiba api menelan sosok Director.
"Heh,
rasakan itu. Biar tubuhku tidak bisa bergerak, kalau cuma mengeluarkan api sih
aku masih bisa."
Tuan
Golnova yang mengatakan itu sedang menggenggam pedang api sambil tetap
telungkup di tanah.
"Ini
benar-benar prestasi besarku. Kursi kepala suku berikutnya akan menjadi milik..."
Tuan Golnova
berseru kaget.
Sebab, Director
muncul dari balik api sambil berjalan dengan santai.
"Begitu ya,
tubuh pemberian Raja Iblis ini tidak buruk juga. Api selevel ini tidak akan
bisa melukaiku sedikit pun."
Setelah berkata
begitu, Director menusukkan pedang tipisnya ke lengan Tuan Golnova.
"Gyaaaaaaa!"
"Jeritan
yang bagus! Berteriaklah lebih keras. Aku mengubah urutan pertunjukannya, dan
aku sendiri yang menusukmu secara langsung. Merasalah terhormat."
Kalau begini
terus, Tuan Golnova akan terbunuh.
Aku berusaha
menggerakkan tubuhku sekuat tenaga, tapi tubuh ini tetap tidak mau bergerak
sesuai keinginan.
Director menusuk punggung tangan, lalu beralih ke
lengan satunya dan punggung tangan lainnya secara berurutan.
"Sudah
cukup. Sekarang matilah kau."
Pedang tipis itu
diarahkan ke dada Tuan Golnova—
"Jangan
harap!"
Seseorang
menerjang masuk sambil berteriak, membuat Director terpental jauh.
"Nona
Yuna!?"
"Kuruto,
maaf membuatmu menunggu. Jadi makhluk ini musuhnya...?"
Di ujung tatapan
Nona Yuna, terlihat Director yang sedang terpaku kaget.
"Kenapa?
Kenapa kau bisa bergerak sebebas itu di tempat ini?"
"Terbalik,
justru aku cuma bisa bergerak segini. Padahal tadinya aku bisa sampai ke sini
hanya dalam sekejap. Sial, berat apa-apaan ini. Berat badanku apa sudah tembus
satu ton, ya?"
Berat badan Nona
Yuna biasanya lebih dari seratus kilogram.
Di sini
sepertinya beratnya meningkat sekitar enam kali lipat, jadi meski belum sampai
satu ton, kurasa beratnya sudah mendekati itu.
Dalam kondisi
seperti itu, tentu saja Nona Yuna pun tidak bisa mengeluarkan kemampuan
aslinya.
"Tipe anti-Goblin—ah, merepotkan. Makanlah api ini!"
Nona Yuna
melepaskan pergelangan tangan kanannya, lalu melancarkan serangan menggunakan
penyembur api dari sana, tapi—
"Tidak
mempan!"
Sepertinya api tidak berpengaruh pada Director. Dia menerobos kobaran api itu dan balas menyerang Nona Yuna.
Yuna-san
juga membalas dengan pedangnya, tapi—
"Sial,
karena ini bukan Yukihana, jadi sulit sekali dikendalikan!"
Pedang yang
dibawa Yuna-san hanyalah pedang besi biasa.
Terlebih lagi,
sepertinya kekuatan Director juga memengaruhi pedang itu, membuatnya
terlihat sangat kepayahan saat mengayunkannya.
Pedang yang
aslinya berbobot belasan kilogram itu kini beratnya menjadi hampir seratus
kilogram.
Memang kekuatan
tebasannya pasti meningkat, tapi serangan itu tidak ada yang mengenai sasaran.
Dan seiring
pertarungan berlanjut, gerakan Yuna-san perlahan-lahan mulai melambat.
Begitu ya,
pasokan energi sihir yang menjadi daya penggerak Golem tidak bisa mengejar
kebutuhannya.
Sepertinya medan
gravitasi ini melenyapkan energi sihir di sekitarnya.
Kalau begini
terus, Yuna-san akan...!
"Permainan
sudah berakhir."
Tepat saat Director
mengatakan itu—
"Jangan
bergerak!"
Aku sudah
terlanjur berteriak.
Sambil
menodongkan Magic Gun.
"Keparat
kau!"
Director terkejut dan menoleh ke arahku.
"Menjauhlah
dari Yuna-san!"
Aku menodongkan
Magic Gun lurus-lurus.
Jujur saja,
karena berat lengan dan Magic Gun ini, aku ingin segera menurunkan tanganku
sekarang juga.
Namun, jika aku
melakukannya, Yuna-san pasti akan terbunuh.
"Kau berniat
menggunakan itu!? Apa kau memang bisa menggunakannya!?"
"Pokoknya
menjauhlah dari Yuna-san."
Aku berteriak
kepada Director yang tampak terguncang.
Sejujurnya, aku
tidak percaya diri bisa menembak dengan benar.
Ini cuma
gertakan.
Tapi, setidaknya
jika aku bisa mengulur waktu agar Yuna-san bisa lari.
Begitu dia keluar
dari medan gravitasi ini, dia pasti bisa mengisi ulang energi sihirnya.
"Heh...
hehehehe."
Namun tiba-tiba, Director
mulai tertawa.
"A... Apa yang lucu?"
"Suaramu gemetar, lho... Sepertinya kau juga sadar. Memang kekuatan alat sihir itu sangat
dahsyat, tapi—bagaimana kalau aku menghindar? Tubuhmu tidak akan bisa mengikuti
gerakanku!"
Sambil berkata
begitu, Director bergerak ke samping.
Padahal, tidak
peduli seberapa banyak dia bergerak, sekali target terkunci, tembakannya akan
terus mengejar ke mana pun.
Tepat
saat aku berpikir begitu, tiba-tiba gerakan Director terhenti.
"Bagaimana
rasa salah satu dari tujuh alat rahasiaku, kawat dari Mithril? Ini barang
mahakarya yang bahkan bisa menangkap Fenrir, lho."
Tuan Bandana yang
mengatakannya.
Luar biasa,
bahkan dalam kondisi tersungkur pun, dia masih bisa memasang jebakan.
"Kuru,
sekarang! Hajar pakai Magic Gun itu!"
"Eh!?
Tapi!"
"Sudah,
cepat lakukan saja!"
"B-baik!"
Aku merespons
suara Tuan Bandana dan mengarahkan Magic Gun ke arah Director.
"Hentikaaan!"
Di tengah
teriakan Director, aku menarik pelatuknya.
Jika momen itu
digambarkan dengan suara, kira-kira akan terdengar seperti ini.
—Pop.
Benda yang
meluncur dari Magic Gun yang kupegang hanyalah bola cahaya kecil.
Sama seperti saat
aku menggunakannya melawan Goblin dulu, bola cahaya yang tidak berbahaya itu
terbang melayang.
"Ha...
hahahahaha! Ternyata dugaanku benar. Alat sihir itu—Magic Gun, ya—itu adalah
senjata yang tidak bisa digunakan secara beruntun."
Bukan, alasan
kekuatan Magic Gun menjadi seperti ini hanya karena aku tidak punya bakat
bertarung.
Benar-benar
memalukan.
Padahal semua
orang sudah mempersiapkan jalannya untukku, tapi aku tetap tidak bisa
bertarung.
"Kuruto,
kerja bagus."
Namun, yang
mengatakan itu justru Yuna-san.
Yuna-san
menangkap bola cahaya yang kutembakkan dengan tangannya.
"Kau juga
perancangnya, jadi kau pasti tahu, kan? Tubuhku ini bisa mengubah energi sihir
yang tidak berbahaya menjadi energiku sendiri. Kekuatan yang kau lepaskan,
sudah kuterima dengan baik."
Director tertawa meremehkan mendengar ucapan itu.
"Omong
kosong, apa yang bisa dilakukan oleh makhluk yang tadi hampir mati
sepertimu?"
"Yah, kalau
energi sihirnya sudah cukup seperti sekarang, aku bisa melakukan hal seperti
ini."
Yuna-san berkata
demikian, lalu mengarahkan pandangannya pada Director.
Itu adalah—
"Anti-Gob...
ah, merepotkan, Laser dari mata!"
Sinar penghancur anti-Goblin yang dilepaskan dari mata
Yuna-san menembus dada Director.
"A-apa... Tubuh terkuatku ini... hanya dengan serangan
seperti itu..."
Sambil
bergumam, Director ambruk di tempat.
Dan di
saat yang sama, tekanan berat yang kurasakan selama ini tiba-tiba menghilang.
"Kalau
mau menangkis laserku, bawalah kacamata hitam lain kali."
Yuna-san
mendengus, lalu berlari menghampiriku.
"Kuruto, kau
tidak apa-apa!? Ayo cepat menjauh dari sini. Nanti keadaanmu akan
membaik."
"Yuna-san,
aku tidak apa-apa, jadi tolong obati Tuan Golnova dulu."
Beliau kehilangan
kesadaran karena rasa sakit dan pengaruh medan gravitasi.
Kalau dibiarkan,
ada risiko beliau mati karena kehabisan darah.
"Ah,
sebenarnya aku ingin mengabaikan orang itu, tapi mau bagaimana lagi ya. Dia
sudah membantuku menyelamatkan Kuruto tadi."
Tepat saat
Yuna-san berkata begitu, tiba-tiba beban yang lebih berat dari sebelumnya
menekan kami.
Tadi aku masih
bisa berdiri, tapi sekarang bahkan untuk itu pun aku sudah tidak sanggup.
"A... pa..."
Bukan
hanya aku, Yuna-san pun tidak bisa bergerak.
Namun
kondisinya berbeda denganku yang tidak bisa berdiri.
Yuna-san
menjadi terlalu berat hingga kakinya amblas ke dalam tanah.
"Hahaha, aku
akan menyerahkan seluruh jiwaku. Matilah kalian di sini! Terlebih lagi, setelah
sihir gravitasi ini berakhir, kekuatan pamungkas akan menyerang kalian!"
Meskipun dadanya sudah tertembus, Director ternyata
masih hidup.
Dia masih terkapar, tapi tertawa dengan nada yang entah
kenapa terdengar riang.
Terlebih lagi, jika ucapannya benar, dia telah mengubah
jiwanya menjadi energi sihir untuk meningkatkan gravitasi lebih jauh lagi.
Kalau begini
terus—tapi, eh?
Entah kenapa, aku
merasa tubuhku perlahan-lahan menjadi ringan.
Apa yang
sebenarnya terjadi—
Tepat saat aku
berpikir begitu, sebuah suara terdengar dari atas kepala.
"Lise,
Mimiko, Hildegard! Alirkan energi sihir lagi! Masih berat! Kalau begini terus,
balon udaranya akan jatuh!"
"Kami sedang
melakukannya! Yuri-san sendiri, alirkan energi sihir lebih banyak!"
"Yurishia
itu pendekar pedang, jadi dia tidak punya energi sihir. Bagian itu biarlah kami
yang menanggungnya."
"Aduh, Yurishia-chan
benar-benar payah ya."
Saat mendongak,
ada balon udara yang melayang di sana, dan aku bisa mendengar suara Yurishia-san,
Lise-san, Hildegard-chan, dan Mimiko-san.
Bagaimana caranya
mereka bisa ada di tengah medan gravitasi seperti ini!?
Saat balon udara
itu mendarat perlahan, tubuhku sudah terasa jauh lebih ringan.
Benar saja, empat
orang pemilik suara tadi berada di atas balon udara itu.
Dan ada satu alat
sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Semuanya,
alat sihir apa itu?"
"Ini adalah
alat penghasil anti-gravitasi buatan Paman Urano. Karena ukurannya besar, kami
tidak bisa membawanya keluar dari laboratorium, tapi aku minta bantuan Akuri
untuk mengeluarkannya dengan Teleport."
"Gara-gara
itu Akuri jadi masuk waktu tidur siang, sih. Tapi jangan khawatir, dia sudah
dititipkan pada Sina."
"Benda ini
menghasilkan anti-gravitasi di sekitar sini untuk meredakan gravitasi yang ada.
Ini semua adalah ide Lise."
Setelah
penjelasan Lise-san dan Yurishia-san, Hildegard-chan tertawa geli.
Aku tidak tahu
kalau ada alat sihir seperti itu.
Mungkin mereka
menemukannya saat menyelidik di masa lalu tadi.
Di tengah
keterkejutanku, Mimiko-san memanggilku.
"Kuruto-chan,
kau baik-baik saja?"
"Iya, aku
baik-baik saja. Daripada itu, tolong Tuan Golnova—"
"Syukurlah
kalau Kuruto-chan selamat, aku benar-benar lega."
Maksudku, aku
ingin beliau mengobati Tuan Golnova.
Bisa saja
tulang-tulangnya patah karena medan gravitasi yang kuat tadi.
"Suara
itu... Kalian!"
Director terbangun setelah bereaksi terhadap suara Yurishia-san
dan Mimiko-san.
Meskipun tubuhnya sudah di ambang kematian, dia tetap
menyerang tanpa memedulikannya.
"Yurishia-san, bahaya!"
Aku berteriak.
Pedang tipis Director menembus dada Yurishia-san.
Aku terkesiap, tapi—
"Ah, aku lupa mengatakannya—yang di sana itu cuma
bayangan, lho."
Bersamaan dengan suara itu, Lise-san, Mimiko-san, Yurishia-san,
dan Hildegard-chan muncul di dekatku bersama balon udara.
Begitu ya, yang tadi itu hanyalah ilusi suara dan rupa dari Butterfly.
Dan bagi Director yang sudah menguras habis kekuatan
jiwanya, serangan tadi benar-benar menjadi serangan terakhirnya. Dia pun ambruk tak berdaya di
tempat itu.
"Dengan
ini, semuanya berakhir."
"—Belum, ini
belum berakhir!"
Tepat saat
Lise-san merasa lega, tubuhku terasa menjadi semakin ringan.
Melayang!?
Begitu
ya, Director telah melenyapkan medan gravitasinya.
"Yurishia-san,
cepat matikan anti-gravitasinya!"
"Dimengerti!"
Yurishia-san
berkata demikian sambil memegang alat anti-gravitasi itu.
"Matilaaaah!"
Pada saat
itu, sebuah batu raksasa yang diciptakan Director dengan sihir meluncur
terbang ke arah Yurishia-san.
Bahkan bagi Yurishia-san
pun, batu raksasa sebesar itu—
"Aduh, kalau
soal senjata jarak jauh, aku jauh lebih ahli, lho."
Lise-san berkata
demikian, lalu menarik busur yang berbeda dari biasanya dan melepaskan anak
panah.
Anak panah itu
melesat dengan kecepatan yang bahkan tidak memberikan waktu untuk berkedip—dan
menghancurkan batu itu berkeping-keping.
"A-apa... Hanya dengan anak panah, kau menghancurkan
batuku?"
"Duh, kalau cuma menghancurkan batu dengan anak panah
sih sudah biasa."
"Mana
mungkin... hal biasa seperti itu... ada..."
Kekalahan Director
sudah mutlak.
Sekarang, aku
sama sekali tidak merasakan energi sihir darinya.
"Nah, Tuan Kuruto.
Mari kita lakukan kerja sama cinta berdua."
Lise-san berkata
demikian, lalu mengambil tanganku seolah memelukku dari belakang, dan
mengarahkan Magic Gun ke arah Director.
"Lise-sama,
waktu cooldown-nya belum lewat, jadi kalau digunakan berurutan alatnya
bisa rusak. Kenapa Anda tidak menyerang dengan busur itu saja?"
"Aduh, kan
ini yang terakhir, jadi tidak apa-apa, kan? Busurnya memang kuat, tapi karena
aku tidak membawa banyak anak panah, jadi aku akan menyerang dengan ini
saja."
Lise-san membalas
perkataan Mimiko-san, lalu meletakkan tangannya di atas jariku yang berada di
pelatuk.
"Benar juga,
Director. Ada satu hal yang lupa kukatakan padamu."
Tiba-tiba, Hildegard-chan teringat sesuatu dan mengatakannya
pada Director.
Aku tidak tahu apakah kata-kata itu benar-benar sampai ke
telinga Director atau tidak. Namun, Hildegard-chan tetap melanjutkan
bicaranya tanpa peduli.
"Teh yang kau sajikan saat Walpurgisnacht dulu. Rasanya tidak enak, seperti
lumpur."
Garis
cahaya yang dilepaskan dari Magic Gun pun menelan sosok Director
sepenuhnya.



Post a Comment