Interlude 2
Golnova dan Golandos
Kenapa
seranganku—serangan sang Golnova yang hebat ini—sama sekali tidak kena?
Karena
lawanku adalah adikku sendiri, aku menerima tantangan duel menggunakan pedang
kayu. Namun, semua seranganku berhasil ia hindari setipis kertas.
Jika aku
menggunakan pedang api, aku bisa memberi kerusakan melalui sisa hawa panasnya. Tapi tentu saja, pedang kayu tidak
memiliki kekuatan seperti itu.
Dulu saat aku
meninggalkan desa, aku bisa mengalahkan Golandos dalam waktu kurang dari satu
menit. Sekarang, aku sudah mengayunkan pedang kayu ini selama lebih dari lima
menit.
"……Kakak,
kamu jadi lebih lemah, ya."
Mendengar ucapan
tiba-tiba dari Golandos, amarahku langsung mencapai puncaknya.
Sontak aku
melempar pedang kayuku dan berniat mencabut pedang api di pinggangku—namun
tanganku keburu dipukul oleh tusukan pedang Golandos.
"Ugh!"
"Menurutku,
penyebab Kakak melemah adalah pedang itu. Pedang api yang disesuaikan oleh Tuan
Kuruto memang luar biasa."
"Tapi,
karena Kakak terlalu bergantung pada pedang itu, Kakak jadi tidak bisa
mengeluarkan kemampuan asli Kakak sama sekali."
……Aku
memang sempat terpikir soal itu.
Sejak aku
mengusir Kuruto dari partai, intensitas api yang keluar dari pedangku memang
melemah.
Seketika
itu juga, partai kami bahkan tidak bisa mengalahkan musuh yang biasanya sanggup
kami habisi dengan mudah.
Aku
sempat berpikir bahwa penyebabnya adalah penyihir baru yang namanya saja aku
lupa, atau karena Bandana yang kehilangan ketajamannya.
Aku juga
menyalahkan Malefice yang tidak becus selain menyembuhkan, dan tentu saja,
karena kekuatan pedangku yang menurun.
Namun,
ketajaman pedang itu sebenarnya tidak berubah dari sebelumnya. Hanya kekuatan
apinya saja yang berkurang.
Seharusnya
dengan kemampuanku yang asli, meskipun kekuatan apinya menurun atau bahkan
tidak keluar sama sekali, aku masih bisa menebas musuh-musuh itu.
"Apa yang
tahu soal aku, hah?!"
"Aku tahu.
Karena selama ini aku selalu memperhatikan Kakak. Aku selalu mengejar
punggungmu."
Dia bicara
seolah-olah dia itu Kuruto.
Ah…… benar juga.
Saat pertama kali
bertemu Kuruto, aku merasa matanya mirip dengan mata anak ini.
Itulah alasannya
aku memutuskan untuk menjadikan Kuruto sebagai rekan.
Tapi, aku malah
bergantung sepenuhnya pada pedang api dan tidak menyadari bahwa ilmu pedangku
sendiri mulai tumpul.
Meskipun begitu,
aku tetap saja mengandalkan pedang itu dan melalaikan latihan untuk mengasah
kemampuanku.
Lalu tanpa
kusadari, aku mulai merasa takut dengan tatapan Kuruto.
Aku merasa
seolah-olah adikku sedang melihat sosok diriku yang sudah menjadi menyedihkan
seperti ini.
Karena itulah,
aku mulai bersikap sombong dan menekan Kuruto.
Aku ingin merasa
bahwa aku lebih tinggi darinya, bahwa aku berada di atas adikku sendiri.
Aku terus
berusaha menanamkan pikiran itu.
Aku sudah
melakukan hal buruk pada Kuruto.
Jika sekarang,
aku harus meminta maaf dengan jujur padanya—
"—Mana
mungkin kulakukan, brengsek! Intinya, alasan aku jadi selemah ini karena dia
yang selama ini menyetel pedangku, kan!"
Aku
mencabut pedang api itu sambil berteriak.
"Ya, aku
mengakuinya. Aku memang melampiaskan kekesalanku pada Kuruto. Aku melakukan hal
yang salah. Terus kenapa?"
"Faktanya
tidak berubah bahwa penyebab aku melemah juga ada pada Kuruto. Kalau aku
melemah karena perbuatanku sendiri, itu urusanku dan aku tidak bersalah. Tapi
aku tidak bisa memaafkan kalau aku melemah karena Kuruto!"
"Tunggu,
Kak! Apa yang sebenarnya Kakak bicarakan?!"
"Maaf,
Golandos. Aku sudah sadar sekarang. Masa bodoh dengan duel. Masa bodoh dengan
sportivitas."
"Aku sudah
tidak bisa mundur lagi. Sejak hari itu saat aku menantang Ayah berduel—tidak,
sejak saat kamu terpilih menjadi calon kepala suku berikutnya!"
Benar, di saat
itulah, aku kehilangan segalanya.
Segala sesuatu
yang telah aku bangun selama ini.
Aku tidak akan
pernah bisa memaafkannya.
Ayah yang
membuangku, adikku yang merampas posisiku, orang-orang desa yang kolot dengan
tradisi aneh, hingga Bijak Menara yang menjadi penyebab semua ini, semuanya!
"Ayah tidak
memilihku."
Namun Golandos
melontarkan kalimat yang sama sekali tidak terduga.
"Ayah tidak
memilihku sebagai calon kepala suku berikutnya."
"Hah? Jangan
bercanda. Kamu itu asisten kepala suku, itu artinya kamu calon penerusnya,
kan?"
"Kakak sudah
salah paham. Ayah memang memanggilku dan memerintahkanku menjadi asisten kepala
suku. Tapi, di saat yang sama beliau berkata begini."
"Aku
menjabat sebagai asisten kepala suku hanya sampai Kakak menyelesaikan tugas
Kakak dan kembali ke desa ini."
Menjadi asisten
tapi tidak menjadi calon penerus?
Sampai aku
menyelesaikan tugasku dan kembali ke desa?
"Sepertinya
Bijak Menara pernah bicara pada Ayah. Bahwa suatu saat nanti, Kakak akan
meninggalkan desa atas keinginan sendiri. Itu adalah takdir, sekaligus
perjalanan untuk menunaikan tugas."
"Beliau
bilang, Kakak tidak boleh dijadikan kepala suku sampai tugas itu selesai.
Menurutku, tugas Kakak adalah bertemu dengan Tuan Kuruto, dan
melindunginya."
"Jadi Ayah memikirkanku…… sebagai calon kepala
suku."
Aku tidak tahu.
Mana mungkin aku terpikir bahwa Ayah merencanakan hal
seperti itu.
"Lagipula,
kenapa kamu diam saja soal ini?"
Mungkin sebelum
aku pergi, Ayah melarangnya bicara. Tapi sekarang, seperti saat ini, ada banyak
waktu untuk bicara setelah aku kembali.
"Habisnya,
saat aku mau bicara, Golem yang bersamamu itu malah bilang begini."
"'Golnova
datang ke sini untuk menikah dengan Kuruto. Menurut penyelidikanku, Kuruto
sangat menyukai pekerjaannya yang sekarang dan tidak berniat tinggal di desa
ini, jadi Golnova juga akan segera pergi lagi'."
"Karena dia
bilang begitu, aku pikir Kakak sudah tidak tertarik dengan jabatan kepala
suku…… Aku tidak ingin membuat Kakak bingung."
"Bodoh! Kuruto
itu laki-laki dan aku juga laki-laki! Mana mungkin begitu!"
"Aku pikir
Kakak sudah tertular selera kota besar."
Cih, si Elena
itu, berani-beraninya dia melakukan hal yang tidak perlu.
Meski begitu,
rasanya aneh.
Rasa kesal yang
selama ini kupendam mendadak hilang seperti mimpi.
Kalau
dipikir-pikir, perasaan ini mirip seperti saat aku masih giat berlatih demi
menjadi kepala suku di desa ini.
Aku memasukkan
kembali pedang api ke dalam sarungnya, lalu mengulurkan tangan.
"Maafkan
aku, Golandos. Aku akan menemui Ayah. Dan sebagai calon kepala suku, aku
berniat memimpin desa ini."
"Kakak…… akhirnya kamu mengerti."
Golandos mengusap keringat di telapak tangannya ke celana,
lalu menjabat tanganku.
Dan kemudian—
"Setelah menculik Tuan Kuruto, kamu pikir bisa
dimaafkan begitu saja, dasar putra bodoh? Lagipula, aku dengar Golnova jadi
buronan di Kerajaan Homuros. Apa kamu serius berpikir pria seperti itu bisa
jadi kepala suku?"
—Begitu aku menunjukkan muka di depan orang tua itu, si ayah
sialan langsung menyemprotku dengan kata-kata pedas.
"Golandos,
aku mencopot jabatanmu sebagai asisten kepala suku. Sebenarnya aku ingin
mengusir kalian berdua dari desa, tapi sepertinya kalian sudah menyesal, dan
situasinya sedang mendesak."
"Nona Mimiko
bilang, jika kalian berdua menunjukkan hasil dalam pertempuran melawan pasukan
Raja Iblis, kalian diizinkan tinggal di desa. Selain itu, status buronan
Golnova di Kerajaan Homuros juga akan dicabut."
Sialan,
jadi aku disuruh menjadi tameng di garis depan perang?
Jangan
bercanda, ini semua gara-gara Kuruto.
Untuk saat ini,
aku akan meminjamkan tenagaku demi menghapus status buronan itu, tapi suatu
saat aku pasti akan membunuhnya……
Tidak, itu bakal
merepotkan karena aku jadi tidak bisa makan masakannya lagi. Jadi, akan
kujadikan dia budakku dan kuperas tenaganya habis-habisan!



Post a Comment