Prolog
Pasukan
Raja Iblis yang dipimpin oleh Director terus merangsek mendekati Desa
Sword Saint.
Beruntung,
aliansi antara Kuruto, bengkelnya, Kaisar Tua Hildegard, Desa Sword Saint, dan
Kerajaan Homuros berhasil memukul mundur mereka.
Namun,
tepat setelah kemenangan itu, Lapselad yang merupakan titik pertahanan Kaisar
Tua Hildegard runtuh.
Satu
sosok Raja Iblis saja sudah cukup untuk menghancurkan benteng tersebut.
Kabar itu membuat semua orang meramalkan bahwa
pertempuran akan semakin memanas.
Namun, tak disangka, sang Raja Iblis justru menghilang
tanpa jejak setelahnya.
Pasukan Raja Iblis yang kehilangan pemimpin absolutnya
hancur dari dalam layaknya bangunan yang kehilangan pilar penyangga.
Mereka tak lagi mampu mempertahankan struktur organisasi,
apalagi melanjutkan peperangan.
Akhirnya, dalam pertemuan para raja iblis yang disebut Walpurgisnacht,
perwakilan Kerajaan Raja Iblis resmi menyatakan menyerah.
Wilayah mereka pun dibagi-bagi kepada para pemenang
perang.
Sebagian jatuh ke tangan Beast King dan Magic Dragon
Emperor.
Namun, wilayah yang paling luas jatuh ke tangan Kaisar
Tua Hildegard.
Hildegard yang kini memiliki pengaruh besar kemudian
mengusulkan perdamaian dengan umat manusia.
Usulan itu memicu berbagai reaksi dari para penguasa
iblis lainnya.
Magic Dragon Emperor memilih abstain demi menjaga posisi
netralnya.
Sementara itu, Beast King yang haus darah terpaksa setuju
karena merasa berutang budi pada Hildegard.
Hasilnya, negosiasi perdamaian antara kaum iblis dan
manusia pun mulai bergerak maju.
Enam bulan telah berlalu sejak jatuhnya Lapselad—saat ini
aku berada di dalam Ruang Paus.
Tempat ini adalah ruang suci bagi Paus untuk berdoa dan
menerima wahyu dari Tuhan.
Seharusnya, para Kardinal sekalipun tidak diizinkan masuk
ke sini.
Namun, di sinilah aku berdiri sekarang.
Di hadapanku, tampak punggung sang pemilik ruangan ini
sekaligus orang yang harus kulindungi.
Wibawa sang Paus saat ini nyaris tidak terasa sama
sekali.
Sebaliknya, ia terlihat begitu lemah akibat stres yang
luar biasa.
Rasanya aku ingin meresepkan obat lambung untuk meredakan
rasa sakitnya.
Meski usianya baru enam puluh tahun, ia terlihat sudah
menua hingga tampak seperti kakek tujuh puluh tahun.
Dan di depan Paus, berdiri satu sosok yang sangat
tidak pantas berada di tempat suci ini.
Sebenarnya, aku yang memakai pakaian petualang pun
sudah dianggap tidak tahu adat.
Tetapi, orang di depan Paus itu sudah melampaui batas
kewajaran.
Atmosfernya terasa sangat kontras dengan kesucian
ruangan ini.
Sosok itu memancarkan aura kegelapan yang mengerikan
dari sekujur tubuhnya.
Melihat itu, aku merasakan perasaan aneh yang sulit
dijelaskan.
Tak ada yang mengira pemimpin Gereja Poran akan bertemu
sosok seperti ini di ruangan paling suci.
Sebelum tertangkap basah, aku segera mengalihkan
pandanganku dari pria itu.
Ia mungkin sadar aku memperhatikannya, tapi ia sama
sekali tidak peduli.
Mungkin baginya, aku tak lebih dari sekadar batu di
pinggir jalan.
Sebab, sosok di hadapannya itu adalah pria berzirah hitam
legam—sang Raja Iblis.
Meski Raja Iblis yang menghilang setengah tahun lalu itu
ada di depanku, aku tidak merasa takut.
Perasaan takut akan kematian sudah lama hilang dari
hatiku.
Itulah alasanku bisa tetap berdiri tenang sebagai
pengawal di tempat ini.
Lalu, Paus pun mulai melontarkan pertanyaan kepada sang
Raja Iblis.
"Raja Iblis. Apakah kau sudah melupakan peran kaum
iblis?"
"Aku
tidak lupa. Tidak, justru aku harus memenuhi peran itu."
"…………Haa……
Tidak bisakah kau berhenti?"
Paus berucap sembari menghela napas panjang, namun
kakinya tampak gemetar.
Ia ternyata belum bisa membuang rasa takut akan kematian
dari jiwanya.
"Tidak bisa. Aku hanya mengikuti perjanjian
kuno."
"Bisakah kau memberi kami waktu? Umat manusia masih
memiliki kemungkinan—"
"Kau paham betul bahwa menghentikanku adalah
tindakan sia-sia, bukan?"
"…………"
Paus terdiam membisu menanggapi pernyataan itu.
Keheningan itu adalah sebuah bentuk pembenaran atas
ucapan sang Raja Iblis.
"Aku hanyalah sebuah sistem. Keberadaanku di depanmu
sekarang pun masih dalam lingkup itu."
Seketika, sosok Raja Iblis menghilang bersama hawa
keberadaannya.
Hanya tersisa sebuah permata hitam legam yang memancarkan
aura mengerikan di lantai.
Paus menghela napas berat, lalu memungut permata itu.
"Seharusnya aku tidak usah menjadi Paus……"
Itu adalah kalimat yang diucapkan oleh hampir semua Paus
yang pernah kulihat.
Siapa pun yang menjadi Paus memang akan diberitahu
rahasia dunia yang pahit.
"Bicaralah sesuatu."
Mungkin merasa bodoh bicara sendirian, Paus akhirnya
menegurku.
Aku pun memasang wajah santai dan menjawab dengan nada
bercanda.
"Yah, tadinya aku ragu apa boleh bicara lancang pada
Yang Mulia Paus, jadi aku pilih diam saja."
"Anda masih tidak berubah ya, umm, kalau tidak salah
nama Anda saat ini Tuan Bandana?"
Paus tersenyum seolah sudah menyerah pada keadaan, lalu
menyapaku.
Ia seolah sedang bernostalgia tentang pertemuan pertama
kami.
"Tiga puluh tahun lalu pun Anda muncul dengan sikap
acuh tak acuh seperti itu dan menghancurkan segalanya."
Paus berucap seolah merindukan masa lalu yang sangat
jauh.
Bagiku itu memori baru, tapi baginya itu adalah separuh
dari masa hidupnya.
"Ngomong-ngomong,
ada apa dengan gaya bicaramu itu?"
"Ah,
ini gaya bicara agar aku bisa membaur dengan kelompok petualang kemarin. Tapi
malah jadi kebiasaan."
"Begitu
ya. Tidak, menurutku itu cocok untukmu."
"Makasih banyak. Yah, untuk sementara aku akan tetap
begini. Kalau suasana hatiku lagi enak, mungkin bakal kubalikkan ke
semula."
"Kalau suasana hati sedang enak…… ya. Menurutmu,
apakah dunia ini akan tetap aman sampai saat itu?"
Paus melontarkan pertanyaan yang sangat berat kepadaku.
Seharusnya dia tahu bahwa jawabanku tidak akan mengubah
takdir apa pun.
"Hahaha, mana aku tahu soal begituan. Terus, Yang
Mulia mau gimana? Apa Yang Mulia jadi pergi ke tempat itu?"
"Aku harus pergi. Meski ada risiko kematian, aku
punya kewajiban untuk melakukannya. Bandana, aku mohon bantuanmu untuk
mengawalku."
"Sip, sip, serahkan saja padaku."
Paus menghela napas, lalu melangkah mantap menuju pintu
keluar.
"Mari kita berangkat. Kita harus menyaksikan sendiri
perdamaian dengan kaum iblis ini."
◆◇◆
Setengah tahun telah berlalu sejak kami mengalahkan
pasukan Raja Iblis.
Selama itu, aku—Kuruto Rockhans—mendirikan sebuah
perusahaan dagang di ibu kota.
Aku menjual anggur serta berbagai barang kebutuhan
sehari-hari di sana.
Meskipun sedikit, aku berhasil meraup keuntungan yang
lumayan.
Bahkan, aku menerima pujian langsung dari Yang Mulia
Raja.
Aku mulai merasa sedikit percaya diri sebagai perwakilan Atelier
Meister.
Yurishia-san juga telah menceritakan banyak rahasia
tentang dunia ini kepadaku.
Bahwa dunia ini aslinya adalah "Dunia Kedua"
yang diciptakan oleh orang kuno.
Lalu, dunia pertama telah hancur oleh eksistensi yang
disebut Monster Terlarang.
Menara Sage adalah jembatan yang menghubungkan kedua
dunia tersebut.
Yurishia-san ternyata juga telah membuat kontrak dan
menjadi murid Sang Sage Agung.
Banyak hal yang sulit dipercaya, tapi aku yakin Yurishia-san
tidak berbohong.
"Benar-benar banyak hal yang terjadi ya…… Eh? Yurishia-san? Lise-san?"
Saat ini kami berada di atas geladak sebuah kapal
yang sedang berlayar.
Aku melihat Yurishia-san dan Lise-san sedang berbisik
serius di sudut geladak.
Di lengan Yurishia-san, Akuri sedang tertidur lelap
karena kelelahan bermain.
Sepertinya mereka berdua sedang membaca dokumen
keuangan dari perusahaan dagangku.
"(Bagaimana ini, Lise? Perusahaan Kuruto
menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mengelola satu kota besar!)"
"(Yah, anggur buatan Tuan Kuruto sekarang disebut
sebagai Nectar dan harganya selangit.)"
"(Beberapa bangsawan bahkan sampai menjadi boneka
perusahaan kita karena tak mampu membayar.)"
"(Bangsawan jadi boneka!? Kenapa jadi begitu,
padahal ini cuma buat Kuruto percaya diri!)"
Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang sangat
rumit dan berat.
Aku memutuskan untuk pura-pura tidak dengar dan
membiarkan mereka berdua.
Tiba-tiba, teman masa kecilku datang menghampiriku.
Ia adalah Hildegard-chan, sang Kaisar Tua yang
merupakan salah satu raja iblis.
"Ah,
Hildegard-chan. Bagaimana? Tidak mabuk laut, kan?"
"Tenang saja. Kapalnya hampir tidak bergoyang,
jadi aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Seperti yang diharapkan dari Atelier
Meister Bonbor."
Kapal ini adalah model terbaru yang dibuat oleh
maestro dari Federasi Kota Kepulauan Coskeet.
Tentu saja, aku juga memberikan sedikit bantuan dalam
pengerjaannya.
"Tapi, aku tidak menyangka pertemuan itu akan
diadakan di Pegunungan Scene."
Awalnya, konferensi perdamaian umat manusia dan kaum
iblis dijadwalkan di Desa Elf.
Namun, banyak negara besar yang tiba-tiba menyatakan
ingin ikut serta.
Kekaisaran Suci Poran bahkan menuntut agar pertemuan
diadakan di wilayah pegunungan.
Semua pihak akhirnya sepakat untuk memindahkan lokasi
pertemuan ke sana.
Karena delegasi lain lewat darat, kapal ini hanya berisi
perwakilan Homuros dan kepulauan.
Serta tentu saja perwakilan dari pihak kaum iblis dan
pengawal mereka.
Selain
Hildegard-chan, ada juga Solflare-san dan Chicchi-san di kapal ini.
Bahkan
sang Beast King yang berwujud manusia binatang juga ikut bersama kami.
Entah kenapa aku juga diminta ikut sebagai perwakilan
dari Rikuto-sama.
Jujur saja, aku merasa sangat salah tempat berada di
antara orang-orang hebat ini.
"……Perasaan tenang, ya."
"Ada apa, Kuruto?"
"Tidak, aku cuma berpikir sudah hampir setahun sejak
aku diusir dari kelompok Golnova-san."
"Ternyata sekarang aku punya banyak kenalan yang
luar biasa hebat."
Yurishia-san adalah sepupu penguasa pulau, dan
Hildegard-chan adalah pimpinan kaum iblis.
Akuri pun sebenarnya adalah Roh Agung yang seharusnya
dipuja oleh banyak orang.
Lise-san pun pasti seorang bangsawan tinggi meski dia
menyembunyikannya.
Aku tetap bisa merasakan aura kewibawaannya yang kuat.
"Ara, Kuruto juga cukup hebat, kok."
"Aku senang kalau kamu berpikir begitu,
Hildegard-chan."
"Iya. Setidaknya kamu sudah jarang merendahkan
diri sendiri sekarang."
"Apa itu termasuk hal yang hebat!?"
Aku menyadari kalau Hildegard-chan sedang menggodaku
dan langsung cemberut.
Tapi tentu saja aku tidak benar-benar marah padanya.
Aku sendiri merasa memang sudah sedikit lebih percaya
diri dibanding dulu.
Apalagi aku berhasil meraih hasil bagus di turnamen
bela diri kemarin.
Jika dibandingkan saat aku baru diusir, aku merasa
sudah tumbuh berkembang.
Meskipun kemampuanku dalam bertarung memang tetap nol
besar.
"Wakil Atelier Meister Kuruto! Akhirnya
saya menemukan Anda!"
Seorang pria bertubuh subur berlari menghampiriku
sembari menyeka keringat.
Ia adalah Atelier Meister Bonbor, sang pembuat
kapal ini.
"Ah, Atelier Meister Bonbor! Maaf jika
saya mengganggu kesibukan Anda."
"Mengganggu? Tidak mungkin itu terjadi, Tuan Kuruto!"
Bonbor menyangkal perkataanku dengan suara yang
sangat lantang.
Sepertinya dia sangat bersemangat saat melihatku
berada di geladak.
"Tuan Kuruto telah memberikan bantuan besar
dalam desain kapal yang luar biasa ini."
"Saya
tidak pernah membayangkan bisa membangun sebuah Airship."
Airship—benar, kapal yang kami tumpangi
ini sebenarnya sedang terbang di angkasa.
Dulu di
Desa Haste, aku hanya terpikir menggunakan balon udara untuk terbang.
"Benar sekali. Anda memang luar biasa, Atelier
Meister Bonbor."
"Tidak, sungguh, saya hanya mengikuti arahan
teknis dari Anda saja."
Bonbor berucap dengan nada yang sangat merendah
kepadaku.
Pertemuan kami bermula saat ia mengunjungi Kota Valha
empat bulan lalu.
Ia ingin meninjau bengkel Rikuto-sama karena khawatir
soal perkembangan balon udara.
Ia takut permintaan akan kapal laut akan hilang karena
penemuanku itu.
Setelah kujelaskan bahwa kapal laut tetap dibutuhkan, ia
pun merasa lega.
Saat itulah kami mulai mendiskusikan konsep kapal terbang
yang lebih canggih.
"Namun,
Airship ini benar-benar revolusioner."
"Tentu saja, karena ini adalah hasil kerja keras
kita berdua."
Bonbor tampak ingin mengatakan sesuatu yang tertahan di
tenggorokannya.
Ia sepertinya sedikit terbebani dengan pengumuman
penemuan bersama ini.
"(Sebenarnya aku ingin menuliskan nama Tuan Kuruto
di urutan pertama saat pengumuman.)"
"(Tapi kenapa Putri Liselotte malah menyuruhku
mengakui ini sebagai prestasiku?)"
Bonbor bergumam sendirian dengan wajah yang sedikit
pucat.
Sepertinya dia sedang memikirkan masalah politik yang
tidak kupahami.
"Anda benar-benar baik-baik saja, Atelier
Meister Bonbor?"
"E-eh, ya, saya benar-benar baik-baik saja.
Permisi!"
Bonbor segera memberi salam dan pergi dengan langkah
kaki yang terburu-buru.
Hildegard-chan hanya bisa geleng-geleng kepala
melihat tingkah laku pria itu.
"Benar-benar ya, Kuruto. Kau ini membawa berkah
atau bencana bagi orang lain?"
"Jahat
sekali, Hildegard-chan. Tapi aku memang merasa bersalah soal keabadianmu."
"Menjadi
abadi memang kemalangan, tapi sekarang aku sedikit bahagia."
Hildegard-chan
tersenyum tipis yang membuat hatiku terasa jauh lebih tenang.
Aku pun
menyadari sesuatu yang berbeda dari penampilan fisiknya hari ini.
"Ngomong-ngomong,
Hildegard-chan. Bukannya tinggi badanmu sedikit bertambah?"
"Wajar saja, ini masa pertumbuhan pertamaku setelah
seribu dua ratus tahun."
"Sebentar lagi aku akan melampaui tinggimu, lihat
saja nanti."
"Aku juga tumbuh sedikit tahu, jadi tidak akan
terlampaui semudah itu."
Setelah perang usai, aku berhasil meracik obat agar
Hildegard-chan bisa menua kembali.
Ternyata dia sangat menikmati pertumbuhannya dan sering
mencatatnya di tiang kamar.
"Kuruto, kenapa kamu tertawa?"
"Tidak, bukan apa-apa. Aku cuma merasa sedikit
bahagia melihatmu sekarang."
"Papaaaa! Aku habis petualangan sama Kakak Sina!"
Akuri berteriak riang sembari berlari menghampiriku
di geladak kapal.
Sina-san yang menemaninya tampak sedikit kelelahan namun
tetap tersenyum.
"Baguslah. Sudah bilang terima kasih pada Kakak Sina?"
"Sudah!"
Aku menggendong Akuri dan mengajaknya melihat pemandangan
dari atas kapal.
Di kejauhan, Pegunungan Scene yang merupakan kampung halamanku mulai terlihat.



Post a Comment