NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 1 Chapter 7

Chapter 7

Pertukaran Informasi


Kekuasaan Gereja Suci yang bertahta sebagai salah satu dari Tiga Pilar Kekuatan.

Di halaman belakang katedral yang menjadi tempat ibadah bagi para penganutnya──.

"Hei, hentikan. Jangan sentuh wajahku."

"……Jadi ini adalah Kakak, ya."

"Memangnya selama ini aku terlihat seperti siapa di matamu……"

Nina Qualie Ansarage, penerus garis keturunan ini, mengenakan pakaian biarawati berwarna hitam dan putih. Ia sedang menyentuh pipi mulus sang kakak, Marie, yang mengenakan pakaian serupa.

"Lagi pula, sudah berapa kali kita melakukan interaksi seperti ini?"

"Anu…… seingatku ini yang ketujuh kalinya."

"Itu sih kamu sengaja!"

"Mana ada hal seperti itu."

Rambut putih yang indah seputih kapas. Nina, yang memiliki mata bulat berwarna merah muda, dulunya buta, namun kini ia telah mendapatkan penglihatannya kembali sepenuhnya berkat Elixir itu.

Akan tetapi, kebiasaan masa lalunya yang selalu meraba situasi sekitar menggunakan indra pendengaran dan peraba masih belum hilang sepenuhnya──bahkan sekarang, saat matanya sudah bisa melihat, ia masih sering melakukannya.




"Ngomong-ngomong Kak, mulutmu itu kasar sekali, lho. Jangan menyilangkan kaki juga. Penampilanmu yang cantik jadi sia-sia."

"Begini saja tidak apa-apa kali~. Memang bakal gawat kalau ketahuan orang luar, tapi──"

Marie, yang wajah rupawannya berubah jadi ekspresi 'malas banget', berdeham sekali.

Lalu seolah menekan tombol saklar, ia mengubah gaya bicara, nada suara, dan ekspresinya dalam sekejap.

"──Wata-shi punya teknik untuk bersandiwara seperti ini, lho."

Setelah menunjukkan sosok yang bisa dibilang seperti orang berbeda itu, ia segera kembali ke dirinya yang biasa.

"──Begitu, lho."

"Bukannya 'begitu, lho'."

"Aduh, sejak bisa melihat lagi, kamu malah makin jadi anak teladan ya."

"Aku cuma mengatakan hal yang sewajarnya, kok!"

"Sesekali santai itu tidak salah, tahu."

"Kalau dalam kasus Kakak, bukannya itu setiap hari?"

Nina menaruh kedua tangan di pinggang sambil menyipitkan mata merah mudanya.

Gaya bicaranya sopan, namun gerak-gerik yang ia perlihatkan menunjukkan sisi yang sesuai dengan usianya.

"Bukan setiap hari, tahu."

"Tidak, setiap hari."

"Tidak juga."

"Bukannya tidak juga."

Keduanya menunjukkan aksi saling serang yang tak mau kalah, namun tidak sampai menjadi pertengkaran hebat.

Malah Marie, sang kakak, memberikan tatapan yang lembut.

Sejak bisa melihat lagi, Nina menjadi jauh lebih ceria dibanding siapa pun dan tampak menikmati setiap harinya. Sosok seperti ini tidak pernah terlihat sebelumnya.

Jika ditanya berkat siapa, tidak ada orang lain selain sosok itu.

"Tapi ya, benar-benar keren banget ya apa yang dia lakukan. Si Hitam itu. Selain menyelamatkan Ni-ne sendirian, dia juga memberikan Elixir secara cuma-cuma, kan?"

"Iya. Lagipula, jumlahnya tiga buah."

"Luar biasa."

Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Marie.

"Wajah maupun hatinya sangat mengagumkan. Sepertinya beliau tipe yang bakal Kakak sukai."

"Artinya itu tipe yang Ni-ne sukai, kan?"

"A-aku kan baru saja bisa melihat. Aku belum punya selera soal penampilan."

"Masa, sih?"

Marie tersenyum lebar melihat Nina yang terang-terangan memalingkan wajah, lalu ia melancarkan serangan susulan.

"Yah, karena Ni-ne masih seumur itu, mending berhenti mengincar Tuan Hitam. Fakta bahwa dia bisa memberikan obat itu secara cuma-cuma berarti dia pasti anggota Veltal, dan sainganmu pasti ada ratusan orang."

"Tidak, justru karena umur segini mungkin ada peluang."

"Katanya tidak punya selera, tapi malah ngotot."

"──!"

Nina, yang terpancing masuk ke dalam jebakan kakaknya seolah sedang dipermainkan di atas telapak tangan, kembali memalingkan wajahnya.

Tepat saat itulah.

Terdengar suara ketukan dan pintu halaman belakang terbuka.

"Nona Marie, Nona Nina, mohon segera melakukan serah terima tugas."

"──Baik. Serahkan pada kami. Kalau begitu mari kita pergi, Nina."

"I-iya…… Kakak."

Marie, yang menjawab dengan sikap seperti orang yang berbeda, menunjukkan wajah menggoda sejenak kepada adiknya.

Nina pun membalas dengan tatapan mata yang menyipit.

Setelah keluarga Duke menyelesaikan urusan mereka dengan Si Hitam, berikutnya adalah giliran keluarga Ansarage.

Karena kesepakatan ini telah dibuat di antara tiga keluarga, kakak-beradik itu pun menjalankan pelayanan mereka sambil menunggu hari itu tiba dengan penuh semangat.

Tiga hari kemudian.

"~Uwaaa~. Capeknya~."

Wanita yang menggumamkan suara manja sambil duduk di kursi dan meregangkan tubuh itu adalah Marie Qualie Ansarage.

Meskipun ia biasanya bersantai di halaman belakang katedral seperti biasa sambil mengenakan pakaian biarawati hitam-putih dengan sempurna, waktu sendirinya ini tiba-tiba berakhir.

"──Lihat, malas-malasan lagi."

"O-oh!? Suara itu, Lify!? Lagipula ini bukan malas-malasan. Ini istirahat."

Marie, yang bisa menebak orangnya hanya dari suara, berbalik setelah membalas ucapan tersebut.

Di sana ada Lifia dari keluarga Duke yang membuka pintu sedikit dan mengintip dengan setengah wajahnya.

"Lama tidak jumpa~. Eh, tapi hari ini tidak ada jadwal kunjungan, kan?"

"Kalau tidak mengikuti prosedur resmi, aku tidak akan bisa masuk sampai ke halaman belakang, tahu?"

"Yah, benar juga. Ah, maaf. Pokoknya duduklah di sini."

"Terima kasih."

Alasan Marie sama sekali tidak panik meski terlihat seperti ini adalah karena sisi aslinya sudah diketahui oleh beberapa orang tertentu.

Ia hanya menunjukkan jati dirinya kepada orang-orang yang ia percayai.

"Ngomong-ngomong, si kecil Karen tidak ikut? Cuma Lify sendirian?"

"Tidak, dia sedang mengobrol dengan Nina yang tadi sedang membersihkan area luar."

"Oalah."

Hanya dengan percakapan singkat itu, intuisi Marie langsung bekerja.

Meskipun dalam kehidupan pribadi ia selalu sembrono, ia memiliki ketajaman insting kelas satu.

"Fakta bahwa kalian berdua datang kemari, berarti keluarga Duke sudah berhasil memberikan imbalan kepada orang itu, kan?"

"Iya, baru saja aku mengantarkan surat dari Ayah untuk orang tuamu, Marie. Jadi, berikutnya giliran kalian."

"Akhirnya ya."

Marie mengucapkan kata-kata yang telah ia nanti-nantikan itu sambil menunjukkan senyum kecut.

"Sejujurnya ya, adikku itu setiap hari berisik sekali bilang 'ingin bertemu, ingin bertemu'. Dia benar-benar menyukai orang itu."

"Fufu, Karen juga sama, kok. Sepertinya dia menemukan orang selain aku yang bisa tempatnya bermanja."

"Hooo. Si Karen yang nempel terus sama Lify itu?"

"Sampai-sampai tempat favoritnya itu sudah jadi di atas pangkuan Tuan Hitam, lho. Meskipun sudah diperingatkan, bahkan meski pantatnya sakit, dia tetap duduk di sana terus."

"Heh……"

Marie, yang menunjukkan deretan gigi putihnya sambil tersenyum lebar seolah mendengar hal yang menarik, menanyakan sesuatu yang mengganjal kepada Lifia.

"Apakah Tuan Hitam itu punya sesuatu yang sangat menarik orang?"

"Itu benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Beliau adalah orang paling mengagumkan yang pernah kutemui sampai sekarang."

"Sampai seyakin itu?"

"Marie juga akan segera paham kalau sudah bertemu nanti."

"…………Jarang-jarang, nih."

Marie menggumam pelan melihat sahabatnya yang tersenyum tulus seolah ingin menyampaikan bahwa ia benar-benar berpikir demikian tanpa maksud bercanda.

"Jadi, saat pertemuan itu, kalian memberikan imbalan yang besar?"

"Wah, kira-kira bagaimana ya?"

"Beritahu dong buat referensi. Begini saja pelit amat."

Keluarga Ansarage belum memutuskan isi imbalan mereka. Informasi dari keluarga Duke yang sudah menyelesaikannya sangatlah berharga.

Jika skala imbalannya disesuaikan dengan keluarga Duke, maka mereka pasti tidak akan dianggap tidak sopan.

"Ja-jangan bilang siapa-siapa, ya? Kalau sampai bocor, aku akan kasih tahu orang-orang tentang sifat aslimu, Marie."

"Iya, aku tahu."

Setelah melontarkan ancaman kecil yang imut, Lifia memberitahunya.

"Maaf suaraku agak pelan, tapi kami memberikan tiga hal: sebuah vila, uang imbalan, dan segel lambang keluarga kami."

"……A-apa?"

Marie menunjukkan ekspresi mengerutkan dahi seolah berkata, 'Kamu bicara apa sih?'.

"Cuma segitu? Padahal nyawa kalian sudah diselamatkan? Padahal sudah pakai obat legendaris itu juga? Rasanya itu agak keterlaluan……"

"A-aku pun berpikir begitu. Tapi mau bagaimana lagi."

"Bukannya mau bagaimana lagi."

"Benar-benar mau bagaimana lagi…… Karena Tuan Hitam sama sekali tidak menuntut imbalan, bahkan imbalan yang kami tawarkan pun beliau tidak mau menerimanya."

"Bentar, bentar…… HAH!?"

Ini tentu saja reaksi yang wajar.

Karena itu sama saja dengan mengatakan 'meskipun sudah memberikan pelayanan yang luar biasa, beliau tidak meminta imbalan apa pun'.

"Bercandanya keterlaluan. Mana mungkin ada manusia seperti itu."

"……"

"……"

"…………"

Terhadap kata-kata Marie yang merupakan seorang biarawati, yang kembali dari Lifia hanyalah wajah serius dan keheningan.

Tekanan ini membuatnya tersadar.

"Se-serius?"

"M-makanya kan dari awal sudah kubilang? Bahwa beliau adalah 'orang paling luar biasa yang pernah kutemui'……"

Lifia menunduk dengan wajah yang memerah.

"Kalau ujung-ujungnya malu begitu, mending jangan dibilang."

"Habisnya Marie yang memaksaku bicara begitu……"

"Iya, iya. Maaf deh."

Bagi Lifia yang selama ini selalu didekati oleh lawan jenis, ia tidak punya kekebalan jika harus…… bergerak sendiri. Jadi wajar saja kalau ia merasa malu.

"Ngomong-ngomong, Tuan Hitam itu tipe yang sulit ditebak ya. Aku terus-menerus dibuat terkejut."

"Ayah pun sempat bilang kalau 'beliau bukan lawan yang sepadan bagi kita'."

"Papanya Lify sampai bilang begitu?"

"Fufu, belakangan ini Ayah sedang pusing memikirkan berbagai strategi. Untuk berjaga-jaga jika ada kesempatan bertemu lagi."

Lifia mengatakannya dengan ringan, namun Marie menangkap maksudnya dengan serius.

"Ja-jadi, kita harus menyiapkan persiapan sampai sejauh itu agar bisa setara saat berbicara dengannya…… ya."

"Karena Ayah tidak pernah tertawa sedikit pun saat topik Tuan Hitam muncul, aku rasa ada sesuatu yang beliau rasakan dengan sangat kuat."

"Kalau sampai Papa-nya Lify merasa begitu, dia benar-benar monster ya……"

Awalnya Marie merasa senang karena gilirannya memberikan imbalan akan segera tiba, namun semakin ia mendengar hal semacam ini, ia semakin waspada.

"……Benar-benar ya, kita berdua sama-sama berhutang nyawa adik kita pada orang yang luar biasa."

"Justru karena beliau orang yang seperti itulah, bisa dibilang beliau mampu menyelamatkan mereka, kan?"

"Benar juga."

Keduanya tersenyum tipis.

Yang terpancar di mata mereka berdua adalah rasa syukur kepada orang tersebut.

"──Jadi, menurut Lify, apakah Tuan Hitam itu beneran anggota Veltal? Kamu pasti punya pemikiran sendiri, kan? Ayolah."

"Entahlah ya."

"Jangan menyembunyikannya dariku sampai segitunya dong……"

"……Ini perintah Ayah. 'Jangan pernah melakukan tindakan yang bisa membuatnya menjadi musuh'."

"Karena Lify juga ingin terus berhubungan dengannya, makanya tidak bisa melakukan hal yang bisa membuatnya jadi musuh, ya."

"……"

'Itu karena perintah, kan?' Terhadap sindiran yang telak itu, Lifia hanya bisa memalingkan wajah.

Entah kebetulan macam apa, dia punya kebiasaan yang sama dengan adiknya, Nina.

"Jadi pas ketemu, rasanya emang 'begitu', ya?"

"……"

"Hooo. Jadi mau tutup mulut sampai mati ya."

Lifia membuat tanda silang dengan kedua jari telunjuknya dan menempelkannya di bibir, namun melihat sikapnya itu, jawabannya sudah sangat jelas.

"…………"

"Yah, kalau dia anggota Veltal, itu memang jadi masalah di satu sisi."

"Maksudmu dalam hal isi imbalan?"

"Iya, benar. Dia punya kekuasaan yang lebih kuat dari kita, kan? Aku tidak tahu bagaimana organisasinya berjalan, tapi hal-hal yang dia inginkan pasti pada dasarnya mudah didapat."

"Tapi Tuan Hitam sepertinya lebih senang menerima uang daripada segel lambang keluarga kami, lho?"

"Eh, kalau itu aku tidak paham maksudnya……"

Uang adalah sesuatu yang bisa didapat jika bekerja, tapi segel lambang keluarga Duke tidak bisa didapatkan seberapa keras pun orang bekerja.

Selama keluarga Duke masih ada, itu akan menjadi perlindungan permanen. Itu akan menjadi sosok kuat yang bisa dimintai bantuan saat mengalami kesulitan.

Jika keluarga Duke mendapatkan imbalan tertentu, mereka juga akan mendapatkan hadiah mahal. Mereka juga bisa ikut pesta dan membangun berbagai relasi.

Jika dilihat dari jangka panjang, segel lambang keluarga itu jelas jauh lebih menarik.

"……Ah, tapi kalau dia anggota Veltal, karena ada dukungan dari Kaisar, mungkin wajar saja kalau dia senang menerima uang."

"Aku rasa bukan hanya itu saja."

"Maksudnya?"

"Aku rasa beliau senang karena kemungkinan untuk membantu orang yang kesulitan, termasuk anak yatim piatu, jadi bertambah."

"Hah?"

Terhadap tatapan ragu Marie yang seolah berkata 'mana ada orang sebaik itu?', Lifia memberikan penjelasan yang masuk akal.

"Habisnya, kalau dia orang yang kesulitan uang, dia pasti senang menerima vila, lalu dia tidak mungkin punya senjata dan zirah yang begitu hebat, dan karena dia bisa mengasuh Karen dengan baik, dia pasti penyuka anak-anak."

Lifia berbicara dengan fasih sambil matanya berbinar dan kedua tangannya menangkup gelisah. Marie belum pernah melihat sahabatnya seperti ini sebelumnya.

"O-begitu ya. Kalau begitu untuk sementara kita siapkan uang yang agak banyak saja……"

Terhadap Marie yang tanpa sadar merasa terdesak, Lifia berdehem 'ehem'.

"Dengar ya, Marie pasti akan menyukai tipe seperti Tuan Hitam."

"Ha-hah? Apa-apaan tiba-tiba begitu…… Nina juga bilang hal yang sama padaku tadi……"

"Fufu, benar-benar Nina ya."

"Te-tepatnya, Lify tidak dalam posisi bisa menggodaku, tahu. Kamu sendiri mengeluarkan aura 'suka' yang begitu kuat."

"……A-apa maksudmu ya."

"Kalau pura-pura bodoh, aku akan adukan ke Tuan Hitam. 'Lify sepertinya sangat suka pada Anda', gitu."

"Apa!"

Dua orang yang sedang berada di usia sensitif soal cinta. Wajar saja jika interaksi semacam ini muncul dengan bumbu candaan.

Di saat para kakak sedang mengobrol, para adik pun sedang asyik berbincang.

◆◇◆

"Aku pun akhirnya bisa bertemu dengannya…… Aku sangat menantikannya……"

"Awalnya panik banget, kan? Karena sama sekali tidak ketemu."

"Benar-benar…… Padahal beliau memakai perlengkapan yang mencolok, tapi sama sekali tidak ketemu."

Nina menangkupkan kedua tangan seolah berdoa dengan berbagai perasaan yang tersirat, sementara Karen mengangguk setuju.

Fakta bahwa ketiga pilar kekuatan pun tidak mendapatkan kemajuan meskipun sudah mengerahkan pencarian adalah sesuatu yang tidak diduga oleh siapa pun.

"Ja-jangan-jangan beliau dimarahi karena menggunakan Elixir legendaris itu…… Misalnya diskors……"

Nina melontarkan kemungkinan yang masuk akal, namun Karen memberikan gestur melambaikan tangan 'tidak-tidak'.

"Kalau kamu merasa bersalah begitu, dia bakal capek mendengarnya, lho. Orang itu bahkan bilang padaku, 'Daripada memikirkanku, aku akan lebih senang jika kamu menikmati hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan atau hal-hal yang kamu tahan selama ini sepuasnya'."

"……Be-begitu ya. Terima kasih Karen. Aku dengar hal yang sangat bagus."

"Ngomong-ngomong dia juga bilang begini dengan santai: 'Kalaupun dimarahi, aku tidak melakukan pilihan yang membuatku menyesal'. Malah dia sepertinya agak tidak puas karena sampai dimarahi."

"Eh, ee-eh……"

Justru karena mereka berada di garis keturunan yang bertahta di puncak perebutan kekuasaan, mereka tahu betapa beratnya melawan atasan. Wajar jika suara Nina bergetar.

"Mungkin dia tahu kalau cuma bakal dimarahi saja? Aku tidak tahu detailnya, tapi dia sepertinya punya banyak prestasi, dan organisasi itu pasti tidak mau kehilangan dia."

"Mungkin memang 'begitu' sifat beliau ya……?"

"Sepertinya dia tidak akan mengubah apa yang menurutnya benar meskipun dipaksa."

"Fufufu."

Itu adalah tawa setuju. Nina adalah tipe yang perasaannya mudah berubah jadi gembira.

Mereka berdua menghabiskan waktu bersamanya sampai kembali ke kota ini.

Karena mereka tahu kemampuan pengambilan keputusan dan kewaspadaannya yang kuat, saat rumor bahwa dia anggota Veltal muncul, mereka langsung merasa paham.

"Hei, Karen. Apa kamu tahu sampai kapan beliau akan ada di kota ini……?"

"Dia memang agak menutup-nutupi, tapi katanya ada hal yang harus dia lakukan di kota ini, jadi dia bilang masih akan tinggal untuk sementara."

"……Huft."

Suara napas lega terdengar. Saat mendengar hal ini, Karen pun merasakan hal yang sama.

"Tapi sepertinya dia benar-benar sibuk. Di hari kami memberi imbalan, Kakak mengajak beliau makan malam di kediaman kami, tapi beliau menolak karena ada urusan."

"Apa beliau sedang menolong orang ya……?"

"Mungkin beliau sedang melakukan patroli kota? Kalau malam hari, perlengkapan hitam kan tidak mencolok."

"……Keren banget ya."

Nina bergumam pelan dengan mata menyipit penuh kekaguman.

"Ah! Mumpung ingat, aku kasih tahu satu hal bagus buat Nina."

"Hal bagus?"

"Orang itu sepertinya sering makan siang di penginapan bernama Erdi."

"Penginapan Erdi?"

"Iya. Katanya dia suka masakan rakyat jelata."

"Makan siang…… Erdi…… Penginapan……"

Ia bergumam kembali seolah sedang mengukirnya di dalam kepala.

"Eh? Jangan-jangan kamu berniat pergi ke sana!?"

"Ma-mana mungkin……! Ini kan sebelum kita memberikan imbalan!"

Karen menatap curiga pada Nina yang buru-buru membantah sambil matanya melirik ke sana kemari tanpa alasan yang jelas.

Keesokan harinya di waktu makan siang.

Kai, yang berada di dalam vila pemberian sambil mengenakan zirah Hitam dan membawa pedang di pinggangnya, sedang menuju penginapan yang memiliki tempat makan itu sambil melihat pemandangan kota yang indah.

Lalu, karena dikendalikan oleh perut yang lapar, ia mempercepat langkah dan sampai di penginapan yang menebarkan aroma menggugah selera itu. Saat ia hendak masuk dengan langkah cepat, terdengar suara dari dalam.

"Tuan pemilik kedai, jam berapa biasanya orang itu menggunakan tempat ini?"

"……A, anu, begini…… anu, itu……"

"──Mohon maaf, tapi saya minta tolong berikan informasinya."

"Ba-baik! Biasanya beliau menggunakan tempat ini di jam-jam sekitar sekarang……!"

Terdengar dua suara wanita dan suara pemilik kedai yang seolah sedang terdesak.

(Waduh, waduh…… Padahal aku sudah capek-capek datang buat makan……)

Interaksi yang menunjukkan kalau sedang diganggu.

Pria yang menguping diam-diam dari pintu masuk itu memasang ekspresi masam.

"Di kursi mana biasanya orang itu duduk?"

"Anu, itu…… begini, soal itu……"

"Mohon informasinya."

"D-di sini tempatnya!"

Percakapan sempat terhenti sebentar, lalu dimulai lagi.

"Menu apa yang biasanya dimakan oleh orang itu?"

"A-anu tidak tentu, beliau makan apa saja sesukanya……!"

"Sesukanya? Kalau begitu apa yang terakhir dimakan?"

"I-ini yang dimakan kemarin!!"

"Kalau begitu tolong siapkan menu yang sama."

"B-baik!"

(Tuan pemilik kedai, ternyata Anda bisa mengeluarkan suara melengking begitu ya……)

Kai yang mencoba objektif tetap mematung tanpa masuk ke dalam penginapan.

(D-duh, bagaimana ini…… Apa sebaiknya hari ini aku mengalah saja?)

Tentu saja ada keinginan untuk menolong, tapi sebaliknya ia tidak mau ikut diganggu. Ia tidak ingin memperumit situasi jika sampai ikut campur.

(Ta-tapi mengabaikannya juga rasanya agak gimana gitu sebagai manusia…… Dia kan orang yang sudah membantuku……)

Meskipun pengecut, nuraninya tetap merasa sakit.

(Po-pokoknya masuk sajalah…… Mungkin keadaan bakal tenang kalau ada pelanggan yang masuk……)

Sambil membawa harapan itu, ia pun masuk dengan enggan. Sambil memuji diri sendiri kalau ini adalah hal maksimal yang bisa ia lakukan.

Begitu masuk, pemandangan itu langsung menyergap matanya.

(Aduh…… beneran diganggu……)

Seorang gadis kecil berpakaian biarawati duduk di ujung konter. Dan di depannya ada seorang pendekar pedang wanita berbaju zirah yang mungkin adalah pengawalnya, yang sedang berhadapan dengan pemilik kedai.

Biasanya pemilik kedai akan langsung menyapa begitu ia masuk, tapi sekarang sepertinya beliau tidak punya kelonggaran untuk itu. Bahkan menyadari kehadiranku pun tidak. Wajahnya pucat pasi dan keringat dingin bercucuran.

(Ya-yah, anggap saja ada kawan yang datang dan berjuanglah…… iya. Aku juga sudah berjuang buat masuk, kok.)

Dua pelanggan yang masih terus berinteraksi dengan pemilik kedai.

Sambil menyemangati di dalam hati, aku berusaha agar tidak bertatap mata sama sekali dan duduk di kursi konter yang paling jauh dari kedua pelanggan tersebut. Tepat pada saat itu.

"……"

"……"

"……"

Percakapan ketiga orang itu langsung terhenti.

Entah kenapa keheningan tercipta──dan aku bisa merasakan tatapan ketiga orang itu yang seolah sedang mengamatiku.

(Hm?)

Situasi yang entah kenapa terasa jadi tiga lawan satu.

Seolah hukuman karena sempat ingin lari tadi datang menyerang, rasa canggung yang luar biasa melanda.

Namun, aku tidak membalas tatapan mereka. Jika aku menatap mereka, mungkin mereka bakal mengira aku menantang berkelahi. Anggap saja lawan itu adalah binatang buas, itulah respons terbaik.

Sambil asyik bermain jari sendirian seolah tidak tahu apa-apa agar tidak memancing mereka, terdengar suara.

"──Mohon siaga di sana."

"Dimengerti."

Setelah itu, hawa keberadaan pelanggan yang tadi mengganggu semakin mendekat.

(……O-oi Tuan pemilik kedai. Tolonglah aku…… Aku kan berjuang masuk buat nolongin Anda, tahu!?)

Fakta bahwa gangguan terhadap pemilik kedai sudah hilang adalah berkat aku yang masuk ke tempat makan ini.

Sebagai gantinya, sekarang akulah yang menjadi sasaran.

Saat aku mencoba meminta penjelasan lewat tatapan mata, pemilik kedai malah tampak lega dan masuk ke bagian belakang.

Tanpa mengambil pesananku, beliau malah mulai menyiapkan masakan seolah berkata 'sisanya kuserahkan padamu'.

(Oi oi oi oi oi.)

Sambil menahan pemilik kedai di dalam hati, hawa keberadaan yang mendekat itu akhirnya tepat berada di sampingku.

"──A-anu!"

"──Tolong pesanannya."

Suara seorang gadis yang diselimuti rasa haru dan suara seorang pria yang sangat-sangat panik beradu di saat yang bersamaan.

"Hm? Eh, apa?"

Suara yang entah kenapa terasa akrab.

Begitu aku menoleh ke samping secara refleks, seorang gadis yang pernah kutemui berdiri di sana.

Pakaian biarawati hitam-putih dengan rambut putih indah yang tersembunyi di balik kerudung.

Lalu, sebuah gelang dengan lambang Gereja Suci yang pernah kulihat di buku pengaturan game, dan kalung yang diukir dengan sesuatu seperti segel lambang keluarga Duke yang ia kenakan──Nina-apa-gitu-namanya.

Menyadari fakta bahwa orang yang mengganggu pemilik kedai tadi ternyata kenalanku, rasa tegangku pun langsung mengendur.

"A-apakah Anda…… masih mengingat saya?"

"Tentu saja. Syukurlah kamu terlihat sehat."

"Anda pun terlihat sehat, saya sangat senang!!"

Nina yang matanya berbinar menjawab dengan suara yang ceria.

Di sini Kai mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang sepertinya adalah pengawal yang bersiaga di belakang.

"Anu…… pokoknya, Tuan Pengawal? Aku tahu mungkin ada masalah pandangan publik atau kedudukan, tapi akulah yang tadi menekan pemilik kedai. Tolong maklumi kejadian tadi."

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya telah bersikap tidak sopan."

"Tidak, tidak, jangan dipikirkan! Justru terima kasih atas kemurahhatiannya."

Terhadap pengawal yang menundukkan kepala kepada mereka berdua, suara pemilik kedai langsung terdengar dari bagian dalam dapur.

Aku tidak paham maksud dari 'kemurahhatian' itu, tapi mungkin maksudnya adalah aku hanya minta informasinya saja dan tidak memberikan ancaman berupa hukuman.

Meskipun kupikirkan, aku tidak akan menemukan jawabannya. Aku segera mengganti topik.

"Ngomong-ngomong, kamu terlihat sangat berbeda dari saat itu, ya. Dari pakaiannya juga. Sampai-sampai awalnya aku tidak menyadarinya."

"Fufu, apakah cocok untuk saya?"

"……Nanti kalau sudah dewasa pasti akan makin cocok."

"Terima kasih banyak!"

Memuji secara jujur itu memalukan. Aku pun mengatakannya dengan cara yang tidak langsung, namun Nina tetap terlihat senang.

"Ngomong-ngomong, aku tidak tahu kalau kamu ternyata orang dari Gereja Suci."

Lalu, yang kembali sebagai jawaban dari kalimat ini bukanlah kata-kata, melainkan wajahnya yang tersenyum lebar dengan mata menyipit.

(……)

Di tengah pemandangan yang menghangatkan hati itu, yang terlihat di belakang Nina adalah pengawal yang berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun.

Bahkan orang awam pun bisa melihat kalau dia tidak punya celah, yang memberikan kesan sebagai orang kuat. Terus-menerus diperhatikan oleh orang seperti itu membuatku merasa sulit untuk bertindak.

"A-ah benar juga. Bagaimana dengan matamu setelah itu?"

"Iya! Berkat Anda, mataku jadi seperti ini."

"……Tidak, meskipun didekatkan begitu juga aku tidak tahu."

Saat Nina mendekatkan wajah cantiknya seolah berkata 'lihatlah mata ini', aku memegang bahu kecilnya dan menjauhkannya.

Kalau tidak dihentikan, wajahnya pasti sudah hampir menempel di depan mataku.

"Ngomong-ngomong ini angka berapa?"

"Karena jari telunjuk dan jari tengahnya berdiri, jadi angka dua."

"Kalau ini."

"Angka lima."

"……Sepertinya benar-benar sudah tidak apa-apa ya. Syukurlah."

Bukannya aku tidak percaya pada Elixir legendaris itu, tapi sembuh total secara tiba-tiba adalah hal yang tidak mungkin terjadi di luar dunia game. Perasaan ini benar-benar tidak bisa hilang.

"Sekarang saya percaya diri bahwa saya sedang menjalani hari-hari yang jauh lebih menyenangkan dari siapa pun! Karena saya sudah bertahun-tahun tidak bisa melihat wajah keluarga tercinta saya."

"Oi, oi. Jangan mengatakan hal-hal yang terlalu emosional begitu dong."

"Mo-mohon maaf!"

"Pokoknya angkat kepalamu. Pengawalmu itu melihatku dengan tatapan seolah ingin membunuhku."

Aku mencoba bercanda untuk mencairkan suasana, tapi sepertinya aku gagal.

Ada pengawal yang menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah merasa bingung.

"Ya-yah, pokoknya teruslah hidup dengan senang ke depannya. Kalau tidak, tidak ada gunanya aku menggunakan obat itu, kan?"

"Saya akan berusaha sebaik mungkin!"

"Baguslah kalau begitu."

Mungkin ini bukan hal yang pantas dikatakan, tapi Karen yang menggunakan Elixir yang sama pun mengkhawatirkan hal ini.

Aku pikir akan lebih baik memberitahunya agar perasaannya jadi lebih tenang.

"Ah, ngomong-ngomong kenapa hari ini kamu ada di tempat seperti ini?"

Tepat saat aku bertanya.

"Terima kasih telah menunggu."

"Terima kasih."

"Terima kasih banyak."

Sepertinya masakannya sudah disiapkan sebelumnya, pemilik kedai memberikan sajian makanan dengan cepat kepada Nina dan pengawalnya.

"Wa-wah…… Benar-benar besar……"

"Nina, apa kamu tidak memesan porsi jumbo?"

"I-iya. Saya memesan porsi jumbo."

"Porsi jumbo itu kan untuk orang dewasa…… ya setidaknya begitulah."

Entah harus dibilang kurang pengalaman atau bagaimana, tapi untuk usia Nina, menghabiskan porsi jumbo adalah hal yang langka. Tidak, biasanya sih mustahil.

"A-anu…… menjawab pertanyaan Anda tadi, saya ingin mencoba memakan hal yang sama dengan Anda…… Jadi hari ini saya datang kemari."

"Hoo……? Ternyata ada juga ya perasaan ingin seperti itu."

"……I-iya."

Ia tampak sedikit malu-malu, namun di hadapan porsi jumbo yang pasti tidak akan bisa dihabiskan Nina sendirian, aku tidak bisa berkonsentrasi pada pembicaraan.

"Yah, kalau tidak habis, nanti aku dan pengawalmu yang akan menghabiskannya, jadi jangan dipikirkan. Iya."

"──!"

"Te-terima kasih banyak."

Jumlah itu saja sudah membuat perutku kenyang.

Lalu, pengawal itu menunjukkan ekspresi terkejut seolah tidak menyangka akan ada perkembangan seperti ini. Namun, aku sengaja pura-pura tidak sadar.

Sayang sekali kalau sisa. Tapi, aku tidak ingin merasa tersiksa karena kekenyangan. Kalau begitu, kita harus seret kawan.

"Lagipula ayolah, jangan menunggu masakanku, duduk dan makanlah. Jam kunjunganmu pasti sudah ditentukan, dan sayang kalau makanan yang baru matang jadi dingin."

Aku tidak bisa mengatakan hal semacam ini kepada pengawal yang baru kutemui hari ini. Tapi kalau mengatakannya kepada Nina yang sudah punya hubungan, itu adalah hal yang benar.

Nina duduk sambil memberikan instruksi kepada pengawalnya agar duduk di sampingnya, lalu mereka mulai makan bersama.

"Ah…… Rasanya sangat enak."

"Iya, benar sekali."

"Kan? Makanan di sini memang enak."

"──Kenapa malah kamu yang pamer sih. Nih."

Tepat saat itu. Pemilik kedai yang bersikap nekat memberikan air minum.

"Tunggu dulu. Kenapa cara menaruh gelasku kasar sekali?"

"Maafkan aku khusus hari ini saja. Gara-gara kamu, aku jadi merasa takut, tahu."

"Ka-kan sudah kubilang pada pengawal itu kalau aku yang salah……"

Aku paham perasaannya. Aku juga merasa bersalah, tapi menyampaikan hal itu kepada pengawal juga butuh keberanian yang besar. Jadi setidaknya aku akan membalas ucapannya.

Melihat kejadian itu, Nina yang entah kenapa tampak iri membuka suara.

"Anda dan Tuan pemilik kedai sangat akrab ya."

"Yah, bisa dibilang akrab…… kan?"

"……Habisnya kamu tidak pernah bilang apa pun soal relasi atau identitasmu. Kalau aku tahu dari awal, aku pasti bakal jaga jarak. Serius."

"Fufu, sifat penuh rahasia itu memang merepotkan ya."

"Bener banget ya. ……Maksud saya, Anda benar sekali!!"

"Aduh……"

Barusan dia bicara santai secara alami.

Padahal tadinya dia sangat hormat kepada Nina, yang jelas-jelas punya kedudukan tinggi, tapi dia malah bicara santai.

Ngomong-ngomong, aku sangat paham rasa paniknya itu.

"Anu, pokoknya Tuan Pengawal. Bisakah kali ini saja dimaafkan?"

"Selama Nona Nina tidak merasa keberatan, saya akan memaafkannya berulang kali."

"Saya tidak merasa keberatan, jadi silakan bicara dengan santai saja seperti Tuan Hitam."

"U-untuk yang satu itu tolong ampuni saya……"

"Lucu ya melihat Tuan pemilik kedai jadi sehormat itu. Baru pertama kali aku melihatnya."

"Biasanya memang begini, tahu! Kamu saja yang aneh!"

Fakta bahwa dia baru saja menginjak ranjau bisa terlihat dari betapa cepatnya dia mengubah gaya bicaranya kembali.

"Aku punya akal sehat yang umum, tahu. Cuma ya memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi."

"Ngomong apa sih kamu ini. Hah…… Apa pesananmu disamakan dengan Nona Nina?"

"Tolong ya."

"Baik……"

Sepertinya dia sudah menggunakan semua energi di dalam tubuhnya, pemilik kedai berjalan lunglai masuk ke bagian belakang dapur.

(Aku juga kalau dari awal tahu kedudukan Nina dan yang lainnya tidak akan bicara santai begitu……)

Setelah tahu kedudukan mereka, aku berniat memperbaiki sikapku, namun saat bertemu kembali dengan Karen, dia malah memberikan teguran seperti biasanya.

Sejujurnya aku ingin sekali mengubah gaya bicaraku, tapi kenyataannya hal itu sudah tidak mungkin lagi dilakukan.

"A-anu, maaf jika ini tiba-tiba, tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada Anda."

"Hm?"

Saat aku mengulurkan tangan ke arah gelas dengan pikiran yang masih semrawut, Nina bertanya dengan nada ragu-ragu.

"Kembali ke pembicaraan tadi, seperti yang sudah saya sampaikan, waktu kunjungan saya juga sudah ditentukan…… Jadi, saya ingin mendiskusikan tanggal dan waktu yang tepat bagi kami untuk berkunjung dan menyampaikan berbagai ucapan terima kasih."

"……"

Begitu dia mengatakan itu, rasa tegang membuatku mendadak tidak bisa meminum airku lagi.

"Tu-tunggu. Aku yang harus datang? Ke katedral atau semacamnya?"

"Tidak! Tentu saja kami yang akan datang berkunjung ke kediaman Anda."

"……Kalian sudah berhasil mendapatkan informasi itu, ya."

"──! Jika itu membuat Anda tidak nyaman, kami mohon maaf sebesar-besarnya dan──"

"Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma kagum saja. Ya……"

(Padahal urusan vila pemberian itu baru saja terjadi belum lama ini…… Bagaimana bisa mereka sudah punya informasinya……)

Apakah ini yang dinamakan kekuatan orang-orang berkuasa? Benar-benar mengerikan.

"……Yah, kalau mau bertamu, aku harap dilakukan pada hari libur saja. Soalnya kalau hari biasa, aku punya sedikit urusan."

Utamanya urusan persiapan mental.

"Kami mengerti Anda sangat sibuk. Kalau begitu, bagaimana jika hari Minggu depan, sekitar waktu makan siang?"

"…………Baiklah."

Keputusan diambil dengan begitu mudahnya. Waktu neraka yang akan menguras sarafku sudah ditetapkan.

"Ngomong-ngomong…… siapa saja yang berencana datang?"

"Ayah, Ibu, Kakak, saya sendiri, dan sepertinya akan ada beberapa pengawal yang mendampingi selama perjalanan dengan kereta kuda."

"……"

(T-tolong, kalau yang itu benar-benar ampuni aku……)

Mungkin wajar jika seluruh anggota keluarga datang, tapi dari reaksi pemilik kedai tadi, sudah jelas bahwa Nina memiliki status sosial yang luar biasa tinggi.

Aku harus memikirkan cara agar beban yang kupikul tidak terlalu berat.

"……Aku mau tanya satu hal. Bolehkah aku menentukan siapa saja yang datang ke kediamanku?"

"Maksud Anda……?"

"Menurutku tidak baik jika orang tua Nina sampai harus datang."

"Eh!? Ta-tapi……"

Aku ingin sekali memaksanya dengan bilang 'Tidak ada tapi-tapian!', tapi kurasa dia tidak akan setuju begitu saja.

"Aku tidak mengharapkan sambutan yang terlalu formal. Aku juga tidak suka menjadi pusat perhatian."

Siapa juga yang bakal percaya dengan omongan orang yang memakai perlengkapan mencolok begitu……

Sepertinya aku mendengar suara seperti itu dari arah dapur, tapi pasti itu cuma perasaanku saja……. Aku segera menepisnya dan terus memutar otak.

"Selain itu, aku ingin orang tua Nina mengutamakan pekerjaan mereka. Agar jika terjadi masalah saat mereka sedang tidak ada, masalah itu bisa diselesaikan dengan lancar."

"Ta-tapi, kalau begitu……"

"Meskipun orang tua kalian tidak ada, ucapan terima kasih itu sendiri tetap bisa dilakukan, kan? Aku juga tidak bilang kamu harus datang sendirian."

Pokoknya, yang paling kutakuti adalah orang tua Nina yang kemungkinan besar punya kekuasaan besar. Jika mereka berdua tidak datang, perasaanku akan jauh lebih tenang.

"A-ah…… Atau jangan-jangan, menurutmu kakakmu saja tidak bisa diandalkan?"

"Sama sekali tidak begitu!"

"Kalau begitu sudah diputuskan. Tuan Pengawal, tolong sampaikan hal ini kepada atasanmu."

"Memang itu niat saya sejak awal."

"……Terima kasih."

Aku tidak tahu kalau dia memang berniat begitu, tapi aku mencoba berlagak kuat seolah-olah aku sudah tahu.

Setelah itu──.

(Bagus, bagus, bagus! Sepertinya kali ini berjalan dengan cukup lancar, kan!?)

Aku menopang dagu, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaan senangk yang meluap-luap karena keberhasilan ini.

◆◇◆

Setelah itu, karena waktu istirahat Nina dan pengawalnya sudah habis, mereka selesai makan dan meninggalkan kedai lebih dulu.

"Haaah……"

"Bukannya salah jika kamu yang merasa lelah?"

"Tidak, bertemu dengan orang-orang seperti tadi jelas melelahkan, kan……"

"Beraninya orang yang bicara santai kepada Nona Nina bilang begitu…… Akulah yang paling lelah di sini."

"Ah…… terima kasih atas kerja kerasmu."

"Itu jelas karena aku dikelilingi orang-orang hebat, tahu!?"

Begitu Nina dan pengawalnya pergi, pemilik kedai langsung kembali ke watak aslinya.

"Aku sudah menduga kamu bukan orang sembarangan, tapi aku tidak menyangka kamu punya status yang bisa bersaing dengan Gereja Suci itu……"

"Kalau memang bisa bersaing, alangkah tenangnya hidupku……"

"Du-duh, tatapan matamu jauh sekali…… Lagipula, sudah hentikan aktingmu itu……"

Ini bukan akting yang bagus, tapi kualitas yang muncul karena aku benar-benar berpikir demikian.

"……Ah, aku baru sadar. Meskipun kamu berpikir begitu, kamu tetap tidak mengubah sikapmu padaku, ya."

"Habisnya, bersikap seperti biasa itu lebih menguntungkan buatmu, kan?"

"Benar-benar sangat membantu."

"Sebagai gantinya, jangan tuntut aku nanti, ya? Dengan alasan tidak sopan atau semacamnya."

"Aku tidak akan melakukan itu. Lagipula, aku tidak dalam posisi untuk bisa bilang hal seperti tidak sopan."

Pemikiran pemilik kedai sudah benar-benar terkunci. Sepertinya hampir mustahil untuk meluruskan kesalahpahaman orang yang sudah percaya sejauh ini.

"Lalu, pengawal tadi, bukannya dia menakutkan ya……? Dia pasti tipe yang sangat kompeten dalam pekerjaannya."

"Ya iyalah, kalau bicara soal pengawal Gereja Suci, mereka semua itu kaum elite."

"A-ah, pantas saja mereka bisa bertugas di sana."

Kai dan pemilik kedai. Keduanya terus mengembangkan pembicaraan tentang kejadian tadi.

"Yah, hari ini aku mendapat pengalaman bagus. Berkat itu, rasanya mentalku jadi lebih kuat."

"Padahal tadi kamu terlihat seperti orang dalam bahaya."

"Sejujurnya aku merasa seperti mau mati tadi."

"Haha…… pasti begitu ya."

Jika aku berada di posisi beliau──aku pasti akan merasa lebih menderita daripada pemilik kedai. Aku bisa membayangkan kakiku gemetar seperti anak rusa dengan mudah.

"Anu, tadi aku cuma dengar garis besarnya saja, tapi…… kamu boleh memberitahukan informasiku, kok. Sekarang aku sudah tidak merasa keberatan lagi."

"Kenapa tidak bilang dari tadi!"

"Ma-maaf banget……"

Aku tidak menyangka akan ada tindakan secepat ini. Aku tidak punya pilihan lain selain menundukkan kepala.

"……Yah, seperti yang kamu dengar sendiri, aku sudah diberi kemurahhatian. Kali ini kumaafkan secara khusus."

"Ah, soal kemurahhatian itu?"

"Karena aku sama sekali tidak diancam, justru mereka cuma minta tolong terus. Malah sebenarnya, di tengah waktu keluar mereka yang terbatas, aku justru melakukan hal yang membuang-buang waktu berharga itu. Bagi pengawal yang harus memastikan Nona Nina punya waktu makan, sikap tegas tadi adalah hal yang benar. Kalau tidak begitu, dia tidak bisa menunjukkan kesetiaannya."

"……Begitu ya. Jadi semacam kesulitan manajer tingkat menengah, ya. Terjepit di antara dua kepentingan."

"Kurang lebih seperti itu. Posisi itu pasti punya banyak penderitaan tersendiri. Karena mereka harus berani melakukan hal-hal yang membuat mereka dibenci. Eh, tapi bukannya kamu yang paling paham soal itu? Aku dengar sendiri kamu bilang hal yang simpatik kepada pengawal itu seperti, 'Aku tahu mungkin ada masalah pandangan publik atau kedudukan'."

"Itu cuma karena aku ingin mengatakan sesuatu yang terdengar meyakinkan saja. Sebenarnya aku tidak paham."

"Ka-kalau kamu tidak paham, itu berarti kamu berada di posisi yang tidak perlu memedulikan hal-hal seperti itu, kan? Eh, jangan-jangan kamu…… punya kedudukan yang lebih tinggi dari orang Gereja Suci itu?"

"Bukan, justru sebaliknya. Karena kedudukanku terlalu rendah, makanya aku tidak paham."

"Sudahlah. Berhenti, berhenti."

"Hei, setidaknya dengarkanlah penjelasanku sedikit lagi……"

Aku sudah bicara jujur, tapi inilah hasil dari roda gigi yang saling bertaut dengan terlalu pas. Tanpa sengaja pria ini kembali mempercepat kesalahpahaman, tapi ternyata bukan hanya pemilik kedai saja yang salah paham.

◆◇◆

"Baguslah Anda bisa bertemu dengan beliau, Nona Nina."

"Iya, padahal saya tadinya hanya berpikir ingin memakan hal yang sama dengan Tuan Hitam, jadi ini benar-benar keberuntungan……"

Sementara Kai dan pemilik kedai sedang bercengkerama di kedai makan.

Nina yang naik kereta kuda jemputan menuju katedral, dan pengawal yang tangannya menyentuh pedang, sedang melakukan interaksi ini sambil saling memandang.

"Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana menurut Anda? Kesan Anda terhadap Tuan Hitam."

"Kesan…… ya."

Pria itu adalah sosok favorit Nina. Justru karena ia menyukai orang tersebut, ia tertarik dengan pendapat orang di sekitarnya.

"Tidak diragukan lagi, beliau adalah orang kuat."

"Eh? Cuma kesan seperti itu? Bagaimana dengan bagian dalamnya……"

Nina menjelaskan dengan gerak tangan seolah sedang menggambar lingkaran, namun pengawal itu menggelengkan kepala.

"Mohon maaf. Karena saya terus-menerus diawasi oleh beliau, saya tidak punya kelonggaran untuk itu."

"Di-diawasi……?"

Nina yang sama sekali tidak menyadari hal itu mengeluarkan suara kaget.

"Iya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat makan, kewaspadaan akan melemah. Jadi, beliau pasti sedang memastikan apakah kewaspadaan saya mengendur atau tidak. ……Mengingat unit pengawal kami telah melakukan kelalaian besar hingga Nona Nina sempat diculik."

Pengawal itu mengepalkan tinjunya seolah menyiratkan rasa penyesalan, lalu melanjutkan kata-katanya.

"……Dan, fakta bahwa saya tidak menyadari hawa keberadaan beliau…… adalah sebuah kecerobohan."

Kejadian itu terjadi di awal sekali. Saat Si Hitam duduk di konter dengan begitu alaminya. Nina pun tidak menyadarinya dan menjadi salah satu orang yang terkejut.

"Beliau memang sedang berinteraksi dengan pemilik kedai, namun saya tidak merasa bahwa kewaspadaan beliau mengendur."

"A-apakah mungkin hawa keberadaan Tuan Hitam itu tipis……?"

"Terima kasih atas perhatian Anda. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi. Ini murni karena perbedaan kekuatan."

Akan lebih mudah bagi Nina untuk menelan mentah-mentah apa yang dikatakan pengawal itu, tapi ia tidak merasa begitu.

"Bukan hanya itu saja…… Beliau bahkan mungkin sudah menduga bahwa saya dan pemilik kedai akan bersitegang. Dari segi waktu maupun keadaan, ini terlalu sempurna untuk disebut sebagai kebetulan."

"……"

"Antara beliau sudah mendapatkan informasi terlebih dahulu bahwa kita akan menuju penginapan itu, atau beliau memiliki ketajaman mata yang luar biasa, salah satu dari keduanya."

Lebih baik dipikirkan terlebih dahulu. Justru karena di sudut pikirannya tidak ada kata 'kebetulan', ia merasakan firasat buruk yang sangat kuat.

"Pernyataan beliau tadi…… kira-kira apa maknanya ya. Tentu saja, saya akan membicarakannya juga dengan Tuan Ayahanda……"

"Soal imbalan itu……?"

"Ternyata Nona Nina juga merasakannya ya."

Nina mengangguk kecil. Mereka saling mengerti tanpa perlu mengatakannya. Sebesar itulah keanehan yang mereka rasakan. Terutama pada kata-kata Si Hitam yang bilang 'Menurutku tidak baik jika orang tua Nina sampai harus datang'.

"Beliau tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk membangun hubungan dengan Tuan Ayahanda. Apalagi di posisi beliau yang sudah memberikan budi terlebih dahulu…… Beliau beralasan tidak suka menjadi perhatian, tapi fakta bahwa Nona Nina atau Nona Marie berkunjung saja sudah pasti akan menarik perhatian."

"Artinya, itu hanyalah sebuah alasan, kan."

Percakapan yang terus berlanjut tadi terhenti di sini. Pengawal itu menaruh tangan di dagu sambil memutar otak, sementara Nina menaruh tangan di pipi sambil melakukan hal yang sama.

"Memang ada anggapan umum bahwa orang berkuasa itu sulit dihadapi…… tapi beliau yang bersikap begitu alami kepada Nona Nina tidak bisa dibilang termasuk dalam golongan itu. Apalagi sudah ada rumor beliau anggota Veltal, jadi beliau pasti sudah ahli dalam menangani hal semacam itu."

"……"

"……"

Keheningan kembali melanda.

"Aku tidak ingin memikirkannya, tapi mungkinkah akan terjadi masalah di katedral yang hanya bisa diselesaikan oleh Ayah atau Ibuku……?"

"Saya pun tidak tahu soal itu. Tapi…… ini adalah tentang beliau. Pasti ada makna yang penting. Beliau tidak mungkin mengatakan hal seperti itu hanya karena alasan sepele."

Seberapa pun mereka berpikir, mereka tidak bisa menemukan jawabannya. Mereka tidak bisa menandingi sang pemilik ketajaman mata yang luar biasa itu.

"Kita butuh diskusi secepat mungkin. Nona Nina, mohon maaf, bolehkah saya meminta kusir untuk mempercepat kereta kudanya?"

"Iya. Tolonglah."

"Terima kasih banyak."

──Keduanya berinteraksi dengan ekspresi serius.

Dia adalah orang yang seperti itu. Tidak mungkin dia memikirkan segala sesuatu hanya demi kepentingannya sendiri. Itulah kesimpulan yang mereka capai karena pemikiran tersebut.

◆◇◆

Lalu, saat matahari mulai terbenam, pengawal tersebut melaporkan kejadian hari ini kepada ayah Nina yang merupakan Uskup Agung Gereja Suci, dan ibunya yang merupakan seorang Uskup.

Ketiganya sedang memutar otak sambil mendalami pembicaraan ini.

"Sekali lagi aku ingin memastikan. Apakah Tuan Hitam benar-benar berkata demikian?"

"Benar sekali. Beliau bilang tidak baik jika Anda berdua datang. Beliau bilang kalau hanya ucapan terima kasih, Nona Nina dan Nona Marie berdua saja sudah cukup. Saya mendengarnya sendiri."

"Semakin kudengar, semakin terasa seperti ucapan yang sudah melihat segalanya. Benar-benar……"

Seperti yang dikatakan sang Uskup, sampai di sini semuanya memiliki pendapat yang sama. Namun, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal mendasar tentang 'apa sebenarnya yang sudah beliau lihat'.

"……Bagaimana sebaiknya? Karena beliau berkata 'tidak baik', sepertinya beliau tidak bermaksud membatasi tindakan Anda berdua."

"Sebenarnya…… surat yang kuterima dari Duke Degote tertulis begini: 'Setiap gerak-gerik beliau memiliki maksud tersembunyi. Pastikan kalian ekstra waspada'."

"Artinya, kejadian kali ini mungkin ada sesuatu di baliknya?"

"Sepertinya kita harus berkesimpulan demikian……"

Uskup Agung mengatakannya dengan berat, namun tidak ada sedikit pun rasa percaya diri yang terpancar. Itu wajar saja. Rasanya seperti sedang diberikan soal yang tidak bisa dijawab.

Fakta bahwa mereka bertiga berkumpul dan tidak bisa melihat niat beliau meski sudah menghabiskan waktu puluhan menit, benar-benar bisa dibilang sebagai waktu yang aneh dan menakutkan.

"──Ini hanya usul, tapi bagaimana jika kita mengubah cara berpikirnya? Secara sederhana mencari alasan kenapa beliau mengucapkan kata 'tidak baik'."

Pengawal itu memutuskan bahwa jika mereka terus memutar otak seperti ini, mereka tidak akan mencapai jawaban, jadi dia mendorong agar pembicaraan bisa sedikit maju.

"Memang masuk akal, tapi……"

"Itu juga sulit ya……"

Keduanya memasang ekspresi tegang seolah sedang sehati. Si Hitam adalah pihak yang telah memberikan budi kepada mereka. Meskipun begitu, beliau seolah tidak berusaha menjalin hubungan. Hal semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya, ini adalah yang pertama kali.

'Jadi ini yang dimaksud oleh Duke Degote……'

Gumam Uskup Agung di dalam hati. Di dalam surat dari sang Duke, tertulis juga hal seperti ini. Detail tentang 'kemungkinan kalian akan diuji dengan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya'.

"……Mohon maaf. Aku tahu ini beban yang berat, tapi bisakah aku mendengar pendapatmu, Pengawal……? Hanya kamulah satu-satunya orang yang berinteraksi dengan Tuan Hitam dan mendapatkan informasi langsung."

Dari Uskup Agung kepada pengawal.

"Saya tidak punya kepercayaan diri atau kepastian apa pun, tapi bolehkah saya berbicara jujur?"

"Tidak apa-apa. Justru aku ingin kamu bicara apa adanya."

"Terima kasih atas pengertiannya."

Ini adalah hal yang menyangkut masa depan Gereja Suci. Begitu disampaikan bahwa 'tidak ada hal yang perlu disyukuri', pengawal itu sedikit melonggarkan ekspresinya dan mengutarakan pemikirannya apa adanya.

"……Jika saya jadi Anda, saya akan menerima kata-kata beliau mentah-mentah."

"Maksudmu kita tidak perlu pergi ke tempat pemberian imbalan, dan menyerahkan semuanya kepada Marie dan Nina?"

"Saya paham bahwa Anda merasa khawatir jika hanya membiarkan kedua putri Anda yang menangani ini. Namun, tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah orang yang patut dipercaya. Uskup Agung dan Uskup bisa menyampaikan ucapan terima kasih secara terpisah nanti, kurasa itu tetap sopan."

Justru karena ia sempat berinteraksi hari ini, ia bisa bilang bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Surat yang ditulis oleh Tuan Degote pun kurasa ditulis berdasarkan perasaan beliau yang sebenarnya. Tuan Hitam itu bukan orang sembarangan. Tanpa keraguan sedikit pun."

Bisa dibilang, baru pertama kali ini mereka mendengar pengawal itu bicara setegas ini. Keduanya menelan ludah dan mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.

"Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa beliau telah meramalkan akan terjadi masalah yang tidak bisa diselesaikan jika Uskup Agung dan Uskup tidak berada di tempat ini, sehingga beliau berkata 'tidak baik'…… itulah jawaban saya meskipun mungkin terdengar seperti keyakinan buta."

"……Apakah kamu melihat ketajaman matanya sampai sejauh itu?"

"Iya."

Pengawal itu menjawab pertanyaan Uskup Agung dengan seketika.

"Kejadian beberapa hari ke depan, apakah bisa diketahui dengan sejelas itu……? Tuan Hitam……"

"Normalnya memang tidak bisa dipercaya, tapi jika itu beliau, kurasa itu bukan hal yang aneh. Selain itu, berdasarkan insting saya, saya tidak merasa beliau adalah tipe orang yang suka bicara asal bunyi."

Ia menjawab pertanyaan sang Uskup dengan cara yang sama.

"Begitu ya…… Jika kamu sampai berkata demikian, maka mari kita bersiap dengan segala kemungkinan……"

"Iya…… benar."

Keduanya gemetar menghadapi situasi yang tidak pasti ini. Dan sang pengawal mengepalkan tinjunya, bertekad tidak ingin menunjukkan kegagalan lagi.

Lalu, tepat di saat pembicaraan itu menemui kesepakatan.

"Laporan mendesak! Baru saja organisasi keagamaan baru itu melakukan gerakan mencurigakan terhadap penganut kita──!!"

Entah kebetulan atau bukan, ketiganya mendengar suara itu.

◆◇◆

Di kediaman setelah kembali dari katedral.

"Aduh, tapi ya…… Tuan Hitam punya selera yang bagus juga ya sampai menunjukku langsung."

"Kakak, suaramu gemetar, lho. Kakimu juga gemetar hebat."

Nina melontarkan sindiran tajam kepada kakaknya, Marie, yang gemetar hebat seolah sedang terjadi gempa bumi di sana.

"Ha-habisnya, karena orang tua kita tidak ikut pergi memberi imbalan, perasaan 'tolong jangan sampai gagal ya!' itu tersampaikan dengan sangat kuat…… Tekanan yang mereka berikan juga tidak main-main……"

Kedua saudara itu mendengar hal yang sama. Kebijakan dari orang tua mereka──bahwa hari Minggu nanti Marie dan Nina berdua saja yang akan bertemu dengan Si Hitam untuk memberikan imbalan. Dan saat itu, Marie-lah yang akan memimpin.

"Aku tahu alasannya karena beliau anggota Veltal atau semacamnya, tapi melihat kegigihan orang tua kita……"

Marie mengerutkan dahi sambil perutnya melilit karena tegang, namun ia memang pemilik wajah yang rupawan. Kesannya tetap berakhir pada tingkat ketenangan yang luar biasa.

"Tidak apa-apa, Kak. Beliau benar-benar orang yang mengagumkan, kok."

"Dia itu orang yang murah hati, kan? Kalau tidak salah."

"Beliau adalah orang yang sama murah hatinya dengan Kakak."

"Ho-hooo. Kalau begitu, tidak apa-apa juga ya kalau aku pergi memberi imbalan dengan sifat asliku."

"Kurasa sama sekali tidak masalah!"

"Ni-ne mau aku mati ya."

Nina tersenyum manis menerima candaan itu apa adanya. Marie pun mendekat sambil menarik pipi adiknya itu.

"Kalau Tuan Hitam, saya rasa beliau benar-benar tidak akan mempermasalahkannya!"

"Hmm. Memang lebih nyaman dengan sifat asli, tapi kesan yang bagus itu kan kalau pakai sifat buatan? Orang yang populer juga biasanya yang kedua itu, kan."

"Aku suka Kakak yang apa adanya."

"Aku terima perasaanmu itu."

Wajar jika ia lebih senang dipuji apa adanya daripada dipuji karena sifat buatannya.

Marie yang tampak gembira meregangkan tubuhnya sambil berdiri dan menatap pemandangan dari jendela.

"Tapi ya, orang itu benar-benar luar biasa ya…… Dia bisa menyadari gerakan mencurigakan dari organisasi keagamaan baru itu lebih cepat dari siapa pun dan membunyikan alarm. Dari cerita Ni-ne dia kelihatannya sibuk, jadi pasti dia memang sedang menyelidiki berbagai hal."

"Bagaimana cara beliau mendapatkan informasi itu ya……?"

"Soal itu, lebih baik kita tidak usah peduli, serius. Itu pasti rahasia paling tinggi."

Itu adalah rahasia negara paling tinggi yang tidak boleh bocor ke pihak luar. Sesuatu yang bisa dibilang sangat rahasia. Menunjukkan ketertarikan pada hal ini saja sudah bisa membuat mereka dicurigai.

Artinya──.

"Di saat kita mencoba menggalinya lebih dalam, ada kemungkinan kita akan dianggap musuh, kan? Paling buruknya, kita akan ditinggalkan dan tidak bisa berhubungan lagi dengannya."

"A-aku akan segera melupakannya!"

"Nah, begitu dong."

Kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa, jaringan informasi yang tidak tertandingi, bahkan pengawal bilang dia adalah pemilik ketajaman mata yang luar biasa.

Semua informasi yang terkumpul menunjukkan bahwa dia adalah lawan yang mengerikan sampai-sampai mereka hanya bisa tersenyum kecut.

Meskipun harus mempertaruhkan kelangsungan hidup keluarga, mereka tidak mungkin melakukan tindakan yang membuatnya menjadi musuh.

Dan bagi Nina, dia adalah orang yang ingin ia terus jalin hubungannya.

"Lagipula, mau didengar dari mana pun dia itu monster, jadi ada kemungkinan percakapan ini juga terdengar olehnya."

"Fufu, Kakak ada-ada saja. Di pintu masuk ada penjaga yang sedang bertugas, hal seperti itu tidak mungkin──"

"──Tidak mungkin terjadi ya! Mana mungkin!"

Tepat saat Marie menimpali kata-kata adiknya seolah setuju dan mereka saling berpandangan.

──Tap tap tap tap

"──!"

"──!!"

Entah bagaimana waktunya bisa sepas ini.

Di langit-langit…… bukan, suara langkah kaki seperti sesuatu yang berlari di atas atap bergema di ruangan ini.

Dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga keheningan segera menyusul.

"Eh?"

"Ka-ka-ka-ka-kakak……"

"Ti-tidak…… itu pasti cuma hewan, kan……? Dulu kan pernah ada kejadian hewan naik ke atap, kan? Kali ini juga pasti begitu."

Keduanya memasang ekspresi tegang pada wajah mereka yang tertata rapi seperti boneka.

Meskipun di dalam kepala mereka tahu itu tidak mungkin, namun suara langkah kaki yang gesit seperti hewan itu terasa sangat pas jika dikaitkan dengan Si Hitam yang "monster" itu…….

"Te-tetapi…… Tuan Hitam itu benar-benar baik sekali ya…… Sampai-sampai beliau melakukan penjagaan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu……"

"Tu-Tuan Hitam memang orang yang baik!"

Di gerbang utama ada prajurit penjaga.

Tidak mungkin ada orang yang bisa menyusup, namun ini adalah tindakan waspada yang ekstra.

Meskipun sudah terlambat, kakak-beradik itu tetap melakukan sandiwara untuk menenangkan diri.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close