Chapter 3
Paus Pollan
dan Raja Iblis
Hari kedua konferensi perdamaian.
Berdasarkan informasi yang sampai ke telingaku—Kuruto
Rockhans—konferensi kemarin berjalan lancar bahkan setelah aku pergi.
Tiga negara yang berbatasan dengan wilayah iblis, yaitu
Homuros, Koskiet, dan Torushen, kini telah berada dalam satu visi yang sama.
Masalah berikutnya hanyalah Kekaisaran Suci Pollan.
Karena itu, suasana menjadi sangat sibuk demi menyambut
kedatangan perwakilan dari Kekaisaran Suci Pollan.
Paus akan tiba di Pegunungan Scene melalui jalur
Kekaisaran Gurumaku.
Mengingat ketegangan antara Kekaisaran dan Gereja Pollan
belakangan ini, ini adalah pertama kalinya Paus mengunjungi Kekaisaran setelah
dua puluh lima tahun.
Bahkan bagi Kerajaan Homuros, ini adalah kunjungan kedua
setelah selang waktu dua puluh sembilan tahun.
Konon, ini juga pertama kalinya beliau meninggalkan
Kekaisaran Suci Pollan di luar jadwal kunjungan musim panas rutinnya selama dua
minggu.
Tak hanya itu.
Agama Pollan, yang menjadi dasar Kekaisaran Suci Pollan,
mungkin tidak terlalu dominan di negara-negara peserta konferensi kali ini,
tetapi di banyak negara timur, agama tersebut telah ditetapkan sebagai agama
negara.
Seandainya pihak Gereja Pollan menyatakan keberatan
terhadap perdamaian ini...
Bukan hanya Kekaisaran Gurumaku yang tegang atau ras
iblis yang dianggap musuh doktrin, tetapi tiga negara peserta lainnya juga akan
dicap sebagai musuh agama.
Dengan kata lain, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa
bagian terpenting dari konferensi ini baru saja akan dimulai.
"—Mereka datang."
Seseorang berseru.
Dari kejauhan, terlihat sebuah rombongan yang berjalan
dalam dua baris.
Mereka adalah Ksatria Gereja yang mengenakan baju zirah
perak mengilap.
Wajar jika mereka semua terlihat sangat kuat. Orang-orang
di sana adalah para elit pilihan di antara para Ksatria Gereja.
"Aku pikir hanya Paus saja yang datang, ternyata ada
dua Cardinal juga yang hadir..."
Malefis-san yang entah sejak kapan sudah berada di
sampingku berkata sambil menyipitkan mata.
Sesuai ucapan Malefis-san, ada dua sosok berpakaian merah
dan hitam di belakang para Ksatria Gereja.
Meski begitu, dari sini wajah salah satu dari mereka
tidak terlihat jelas.
"Apakah itu hal yang langka?"
"Ya, sangat langka. Sampai ada dua orang dari
total empat Cardinal yang datang."
"Terutama salah satu Cardinal yang ikut hari
ini, katanya dia belum pernah menunjukkan batang hidungnya di depan publik
sekali pun."
"Namanya Linoa Sacred. Rumor di balik layar
menyebutkan bahwa dia adalah pemimpin organisasi pembunuhan yang bertugas
membereskan pengkhianat dan musuh gereja."
"Apa tidak apa-apa bicara begitu?"
Gereja punya pembunuh bayaran? Rasanya itu hal yang tidak
boleh diucapkan sembarangan, meskipun itu fakta.
"Tidak masalah. Toh, aku sudah dikucilkan dari agama
Pollan," ujar Malefis-san dengan nada pasrah.
Aku merasa dia bisa kembali ke gereja jika menggunakan
koneksi Mimiko-san, tapi sepertinya Malefis-san memang tidak berniat kembali.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi pasti
ada sesuatu yang membuatnya meninggalkan gereja padahal dulunya dia sangat
taat.
Ngomong-ngomong,
Cardinal Linoa, ya? Pasti dia orang yang sangat hebat.
Salah satunya adalah pria berusia sekitar empat puluh
tahun bernama Cardinal Jess.
Lalu, saat wajah orang yang satunya lagi terlihat—
"——!?"
Aku dan Malefis-san sama-sama terdiam seribu bahasa.
Sebab, Cardinal Linoa itu adalah orang yang sangat kami
kenal.
Awalnya aku mengira itu hanya orang yang mirip. Mana mungkin dia adalah seorang
Cardinal.
Namun,
saat Cardinal Linoa itu menemukan aku dan Malefis-san, dia melambaikan tangan
sambil tersenyum lebar.
Wajah
seperti anak kecil yang sukses menjahili orang itu... tak salah lagi, dia
adalah si Bandana yang kukenal.
Aku dan
Malefis-san pun diajak masuk ke sebuah gubuk terdekat oleh Bandana yang
memisahkan diri dari barisan.
"Kaget, 'kan, Kur, Malefis? Sebenarnya nama Bandana
itu cuma nama samaran."
"Bahkan Kur pun tahu kalau itu nama samaran!
Masalahnya bukan itu, kenapa Anda malah berpura-pura menjadi Cardinal!?"
"Berpura-pura itu kasar banget, lho. Aku ini
memang Cardinal asli sejak dulu, tahu? Aku adalah pelayan mutlak dari Dewa
Pollan."
"Kalau begitu, apakah aku harus memanggilmu
Linoa-sama?"
"Nggak usah, panggil Bandana saja seperti biasa.
Paus juga memanggilku Tuan Bandana, kok."
Ternyata Paus juga memanggilnya begitu.
Mungkin nama Linoa Sacred itu juga nama samaran. Kalau
Linoa mungkin asli, tapi Sacred terdengar sangat mencurigakan.
"Kur, kamu sudah dengar kalau aku ini murid Sang
Sage Agung, 'kan?"
"Aku dengar dari Rugol-san."
Begitu aku menjawab, Bandana melanjutkan bicaranya
dengan santai.
"Aku ini perantara antara Sang Sage Agung dan
Paus. Tapi, biar bisa bebas ketemu Paus itu butuh status sosial, jadi ya
terpaksa aku jadi Cardinal. Aslinya aku nggak hebat-hebat amat, kok. Nggak usah
sungkan."
"Terpaksa, katamu? Apa kamu tahu seberapa tinggi
posisi seorang Cardinal itu?"
"Gajinya
tiga puluh keping emas sebulan."
"Bukan
itu yang aku tanyakan... tapi banyak juga, ya."
Aku bisa mendengar suara Malefis-san menelan ludah.
Apa
Cardinal itu sistemnya digaji? Aku malah memikirkan hal yang tidak
penting.
"Lalu, Bandana-san. Apakah Yang Mulia Paus
benar-benar menentang perdamaian dengan ras iblis?"
"Ya iyalah. Secara doktrin mereka itu musuh.
Singkatnya 'Musuh Doktrin'... ah, istilah itu garing banget ya. Pokoknya, Paus
benar-benar niat buat menentang."
"Aku paham soal itu, tapi apa tidak ada titik tengah
atau semacamnya?"
"Yah, Paus punya alasannya sendiri kenapa dia
menentang. Jadi, kalau alasan itu dihilangkan, mungkin beliau bakal
setuju?"
"Begitu ya—"
"Anda bicara seolah itu solusi hebat, padahal
bukankah itu hal yang sudah jelas?"
Aku hampir saja setuju, tapi benar kata Malefis-san;
kalau tidak ada alasan menolak, ya pasti setuju. Itu hal yang wajar.
Tapi, apa sebenarnya alasan Paus menentang?
Apakah karena ras iblis dianggap jahat dalam doktrin?
Tunggu sebentar. Bagaimana keadaannya di zamanku 1.200
tahun yang lalu?
Hildegard-chan
sekarang disebut ras iblis, tapi di zaman itu, mereka disebut Ras Bertanduk
(Arkanth). Seharusnya nama 'Ras Iblis' itu tidak ada.
Kalau
begitu, jika ditanya apakah 1.200 tahun lalu tidak ada ras iblis, jawabannya
tidak juga.
Istilah
'Ras Iblis' seharusnya memang sudah ada sejak dulu.
"Bandana-san,
apa sebenarnya yang dimaksud dengan ras iblis itu?"
"Kur,
apa yang kamu bicarakan? Ras iblis adalah ras yang tinggal di wilayah iblis,
'kan?"
"Nggak,
Malefis. Sudut pandang Kur ini cukup penting. Apa itu ras iblis? Kenapa
Hildegard yang dulu harusnya disebut Ras Bertanduk, sekarang malah disebut ras
iblis? Itu mengarah pada satu jawaban."
"Apa alasannya?"
"Pikirkan saja sendiri. Aku masih punya pekerjaan
penting."
Setelah mengatakan itu, Bandana keluar dari gubuk tanpa
memberitahu hal penting apa pun.
Dia hanya meninggalkan misteri di kepalaku.
◆◇◆
"Jadi, apa kamu mau memberitahu rahasia itu padaku,
Bandana?"
"Oalah, ternyata ada di sini ya, Yurishia-han."
"Jangan pura-pura, aku tahu kamu sudah sadar."
Aku melotot ke arah Bandana yang baru keluar dari gubuk.
Tak kusangka dia akan muncul sebagai orang dari Gereja
Pollan.
Gereja Pollan—organisasi yang dicurigai sebagai dalang
hancurnya Desa Haste.
Aku pikir Sang Sage Agung berada di pihak Desa Haste,
tapi ternyata di balik layar beliau juga terhubung dengan Gereja Pollan.
Sebenarnya aku ingin meringkus Bandana dan memaksanya
bicara, tapi berurusan dengan orang di posisi Cardinal akan merepotkan
nantinya.
Kuharap dia mau bicara baik-baik.
Saat aku berpikir begitu, suara lonceng terdengar.
"—!"
Aku melihat ke pinggangku.
Lonceng Petapa yang tergantung di sana berbunyi. Itu
adalah sinyal panggilan dari Sang Sage Agung.
Bukan hanya milikku, lonceng yang dibawa Bandana pun
berbunyi secara bersamaan.
"Wah, harus segera pergi nih."
"Tunggu dulu. Konferensi perdamaian baru akan
dimulai. Aku punya posisi yang harus dijaga, kamu juga begitu, 'kan!?"
"Panggilan Sang Sage Agung adalah prioritas
utama di atas segalanya. Itulah tugas murid beliau. Kamu sudah siap dengan
konsekuensi ini sejak jadi muridnya, 'kan?"
Aku memang sudah siap.
Bahkan jika harus mengotori tanganku dengan pekerjaan
yang tidak kusukai seperti pembunuhan, aku sudah menyiapkan mental.
Meski begitu, aku mengira akan dipanggil setiap hari
untuk mengurus hal-hal remeh, tapi kenyatannya ini adalah pertama kalinya aku
dipanggil.
Kenapa harus di saat seperti ini—pikirku, tapi mungkin
justru karena saat inilah aku dibutuhkan.
"Hah, baiklah. Aku akan menjelaskan situasinya pada
Kak Loretta dulu, tunggu sebentar."
"Tolong secepatnya ya."
Bandana melambai sambil tertawa.
Kak Loretta sempat keberatan karena aku tidak bisa
mendampinginya di rapat, tapi setelah melihat mataku, sepertinya beliau
merasakan sesuatu dan mengizinkanku pergi.
Aku pun bergabung kembali dengan Bandana.
Dia sudah tidak mengenakan pakaian Cardinal,
melainkan kembali ke setelan petualang Ranger biasanya.
"Ayo berangkat."
"Ya. Ngomong-ngomong, dari mana kita menuju ke
Menara Petapa?"
"Ada alat teleportasi di bagian dalam Taman Noah,
kita lewat sana."
Ternyata dia juga sudah tahu soal Taman Noah.
Di depan gua yang menuju ke Taman Noah, para ksatria
Kerajaan Homuros sedang berjaga. Karena mereka mengenalku, aku diizinkan lewat
dengan mudah.
Karena Bandana juga memakai perlengkapan Ranger,
mereka pasti mengira kami sedang melakukan penyelidikan reruntuhan.
Seandainya dia masih memakai baju Cardinal, masuk ke sini
pasti tidak akan semudah ini.
Saat melewati pabrik Dungeon Core, aku bertanya apakah
dugaan Yuna dan Mimiko tentang alasan pabrik ini ada adalah benar.
"Ya, tepat sekali. Dungeon Core memang alat untuk
menghasilkan sumber daya. Saat dunia ini diciptakan, terjadi kekurangan
logistik yang sangat parah."
"Lalu, kenapa pabrik Dungeon Core ini masih
beroperasi sampai sekarang?"
"Karena tidak ada pilihan lain. Kamu lihat proses
pembuatannya tadi, 'kan? Cairan hitam yang disemprotkan ke bola kaca bakal
Dungeon Core itu. Cairan itu adalah gumpalan mana (Miasma). Di ujung pabrik
ini, ada alat teleportasi kecil yang memiliki celah dimensi tipis."
"Mana dari Monster Terlarang terus merembes keluar
dari sana. Kami mencairkannya dan menyimpannya, tapi kalau dibiarkan begitu
saja, akan jadi gawat. Kalau sampai terminum hewan secara tidak sengaja, mereka
akan berubah jadi monster yang ganas."
"Kalau cuma jadi monster sih masih mending, tapi
kalau terlalu banyak terminum, urusannya bakal panjang. Makanya, kami harus
mengonsumsinya meskipun itu dengan cara membuat Dungeon Core."
Begitu ya, jadi itulah alasan kenapa pabrik ini masih
terus beroperasi.
Dulu saat Kuruto membangun kota dalam semalam menggunakan
Dungeon Core, aku sempat kagum betapa praktisnya benda itu.
Bagi orang kuno, itu pasti hal yang sama. Tindakan
menciptakan materi dari mana di udara—Miasma—adalah hal yang dilakukan
sehari-hari.
Namun, aku mendengar dari Urano-kun bahwa mana yang
dimiliki orang kuno itu sangat sedikit 1.200 tahun yang lalu.
Untuk menutupi kekurangan mana itulah, tercipta monster
yang bahkan tidak bisa dikendalikan oleh orang kuno sendiri—Monster
Terlarang—dan hal itu menyebabkan dunia hancur.
Kemudian, Bandana menceritakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Sejauh yang aku tahu, sebelum Monster Terlarang
diciptakan, dunia ini memang dihuni hewan biasa, tapi makhluk buas yang disebut
monster itu tidak ada.
Monster yang ada di permukaan bumi saat ini konon adalah
hewan yang bermutasi setelah menyerap mana yang meluap dan berubah menjadi hawa
jahat.
Itu juga alasan kenapa tidak ada satu pun monster di
dalam Taman Noah. Benar-benar memperlihatkan betapa dalamnya dosa umat manusia.
Namun, ada sisi ironisnya; tanpa mana atau Dungeon Core
tersebut, dunia saat ini tidak akan bisa bangkit kembali karena kekurangan
sumber daya.
"Manusia kuno hebat ya. Meski demi sumber daya,
mereka sampai menciptakan dan memanfaatkan monster dari Dungeon Core. Katanya
mana mereka sedikit, tapi apa kemampuan tempur mereka tinggi?"
"Nggak, kekuatan orang kuno itu lebih lemah dari
manusia sekarang. Karena mereka hidup di tempat yang aman, mayoritas dari
mereka bahkan nggak pernah pegang pedang seumur hidup. Orang-orang begitu mana
mungkin bisa bertarung lawan monster."
"Lalu, bagaimana cara mereka menjadikannya sumber
daya? Ah, apa mereka punya senjata yang sangat hebat?"
"Itu juga salah. Sepertinya memang ada senjata
hebat, tapi hampir nggak pernah dipakai. Pasti mereka takut senjata itu bakal
diarahkan ke diri mereka sendiri. Lagipula negara orang kuno itu negara
bersatu, jadi nggak ada perang."
"Terus, jawaban yang benarnya apa?"
"Ya karena teknologi mereka hebat. Mereka pasti bisa
menciptakan manusia yang sanggup melawan monster, kan? Manusia yang cuma bisa
mengalahkan monster sumber daya, tapi jinak dan 'nyaman' bagi dunia."
Manusia yang diciptakan hanya untuk mengalahkan monster
sumber daya, ya. Apa memang ada manusia yang "senyaman" itu?
"—!"
Aku tersentak dan menoleh ke belakang. Siapa yang
mengalahkan penjaga yang melindungi pabrik ini?
Siapa sosok yang bisa dengan mudah menghancurkan
monster sumber daya seperti Golem atau Treant—yang menghasilkan batu, logam,
dan kayu—tapi hampir tidak berdaya melawan monster biasa seperti Slime atau
Goblin, apalagi dalam pertarungan antarmanusia?
"……Bandana, jangan-jangan—"
"Obrolannya sampai di sini saja. Aku jadi kebanyakan
bicara. Jangan sampai membuat Sang Sage Agung menunggu. Ayo cepat."
Bandana berujar singkat lalu mulai melangkah pergi dengan
cepat. Mau diakhiri atau tidak, intinya memang begitu, kan?
Di bagian yang lebih dalam lagi dari lorong tersembunyi
di Taman Noah, terdapat alat teleportasi yang mirip dengan yang kulihat di
Reruntuhan Valha Barat maupun gua dekat Kota Samael.
Katanya, alat ini adalah perangkat teleportasi sub-ruang.
Alat yang diciptakan untuk berpindah dari dunia tempat tinggal manusia kuno
menuju dunia ini.
Alat ini tersebar di seluruh dunia, dan sampai sekarang
beberapa murid Petapa Agung masih menggunakannya untuk bepergian—informasi
sepenting itu dia lemparkan begitu saja seperti sedang bergosip.
Saat aku dan Bandana menyentuh alat itu, Lonceng Petapa
memancarkan cahaya redup.
Dan sebelum kusadari, kami sudah berada di dalam Menara
Petapa.
"Petapa Agung, aku membawa Yurishia ke sini!"
teriak Bandana dengan suara keras, memanggil sosok yang kemungkinan ada di
lantai atas.
Gaya bicaranya sangat berbeda dengan nada sopan 1.200
tahun lalu, tapi ada beberapa gestur yang membuatku yakin mereka adalah orang
yang sama.
Sosok ini pun penuh misteri. Sebenarnya berapa usianya?
Saat aku memikirkan itu, lonceng berbunyi sekali lagi. Sepertinya itu tanda agar kami naik ke atas.
Dugaanku benar. Bandana menaiki tangga di dekat situ,
dan aku mengikutinya hingga kami sampai di sebuah ruangan.
Dulu saat aku ke sini, hanya ada kursi yang disiapkan.
Namun kali ini, seolah ingin menjamu, sudah tersedia kursi, meja, bahkan teh.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Bandana. Yurishia-san,
terima kasih juga sudah datang."
Gadis berambut emas yang mirip Lise—Sang Sage
Agung—menyambut dengan senyum ramah.
Aku sudah dengar 1.200 tahun lalu kalau dia adalah
proyeksi (halusinasi) dan bisa mengubah wujudnya sesuka hati, tapi repot juga
kalau wujudnya berubah-ubah terus.
"Kenapa setiap kali bertemu wujudmu selalu
berubah?"
"Ini sengaja kulakukan. Agar aku tidak kehilangan
jati diri dari wujud asliku."
"Apa maksudnya?"
Karena aku tidak paham, aku pun bertanya.
Katanya, jika dia terus-menerus memproyeksikan wujud yang
sama, ada kalanya dia tidak bisa membedakan apakah wujudnya saat ini adalah
proyeksi atau wujud aslinya yang nyata.
Apa mungkin hal seperti itu terjadi?
Tapi aku teringat kalau belati yang dia bawa awalnya
adalah "Pedang Kebimbangan" buatan Kuruto.
Jika mengingat belati itu dibuat berdasarkan kisah
tentang seseorang yang bermimpi menjadi kupu-kupu atau kupu-kupu yang bermimpi
menjadi manusia... rasanya kemungkinan itu tidak bisa dibilang mustahil.
"Si Lise itu... dia memakai pedang berbahaya seperti
itu ya. Apa dia baik-baik saja?"
"Ya, apa yang Liselotte-sama ciptakan dengan belati
itu pada dasarnya hanyalah wujud dirinya sendiri atau proyeksi Kuruto-sama.
Saat memproyeksikan Kuruto-sama pun, beliau tidak menggantikan wujud aslinya,
jadi tidak perlu khawatir."
"Begitukah? Kalau dia terus-terusan membuat proyeksi
Kuruto yang mencintainya, apa dia tidak akan bimbang apakah Kuruto yang
mencintainya itu cuma ilusi atau nyata?"
"Tidak perlu bimbang. Kuruto-sama sangat menyayangi Lise-sama.
Tentu saja, termasuk dirimu juga, Yurishia-san."
Serangan balik tiba-tiba dari Sang Sage Agung membuat
wajahku terasa panas.
"Kamu memanggilku bukan untuk menggodaku, kan? Apa
keperluanmu?"
"Tentu saja ini urusan penting. Tapi sebelumnya,
mari minum teh dulu."
Sang Sage Agung menuangkan teh ke dalam cangkir.
...Sejujurnya, selain buatan Kuruto, belum ada teh
yang terasa enak bagiku.
Tapi tidak mungkin aku menolaknya sekarang.
Aku mencoba meminum teh itu dengan melipat lidah ke
dalam agar indra perasaku mati seminimal mungkin, sampai hampir tersedak
panas... tapi.
"Eh? Tidak buruk."
Memang tidak Sinak buatan Kuruto, tapi setidaknya ini
tidak bisa dibilang tidak enak. Ya, lumayan enak.
"Hebat juga ya, Petapa Agung."
"Jadi itu yang kau puji? Yah, aku sudah berlatih
selama lebih dari empat ribu tahun."
Empat ribu tahun... secara harfiah jam terbangnya
berbeda.
Sebaliknya, fakta bahwa Kuruto berada di posisi yang
tidak bisa dikejar meski sudah latihan empat ribu tahun itu juga luar biasa.
Walau aku tidak akan terkejut sih.
Namun, aku tidak meninggalkan konferensi perdamaian
dan datang ke sini hanya untuk minum teh.
Jika dia tidak mau mulai bicara, maka aku yang akan
bertanya.
"Petapa Agung, apa kamu ini musuh? Atau kawan?"
"……Aku hanyalah seorang Pengelola. Namun, aku tidak
berniat menjadi musuhmu. Jika memang keadaan memaksa begitu, aku tidak
keberatan untuk melepaskan tanggung jawabku sebagai Pengelola."
"Apa maksudnya? Kedengarannya seolah kamu rela
membuang segalanya demi aku?"
"Ya, itulah yang kukatakan."
……Apa-apaan ini?
Aku pikir dia hanya menganggap muridnya sebagai pion,
tapi apa dia menganggap muridnya lebih berharga daripada nyawanya sendiri?
Saat aku sedang berpikir begitu—
"Cih."
Di sampingku, Bandana berdecak kesal. Ini
mungkin pertama kalinya sosok yang biasanya santai ini menunjukkan rasa muak
secara terang-terangan.
"—Bandana."
"Nggak, nggak ada apa-apa, Petapa Agung. Tapi
tolong, hargailah nyawa Anda sendiri."
Saat Petapa Agung mencoba menenangkannya, Bandana
membalas dengan senyum santainya yang biasa, seolah mengkhawatirkan keselamatan
Sang Sage.
"Bandana, aku selalu terbantu olehmu dan aku
berterima kasih. Tapi—"
"Ah, aku tahu apa yang ingin Anda katakan. Ini
salahku."
Bandana bertepuk tangan, menandakan obrolan itu berakhir.
"Maaf ya, aku mau istirahat dulu. Aku nggak mau
umurku makin pendek."
Setelah berkata begitu, Bandana menghabiskan tehnya dalam
sekali teguk, menyambar tiga keping biskuit, lalu naik ke lantai atas.
Aku tidak tahu ada apa di lantai atas, tapi apa itu kamar
tidurnya?
"Di lantai atas ada Batu Segel Kosong yang
dibuat dari kristal sihir. Sama seperti yang ada di Taman Noah."
"Batu Segel Kosong?"
"Iya. Jika pekerjaannya selesai, Bandana akan
tidur di sana. Itulah alasan kenapa dia yang tidak memiliki keabadian
bisa terus mendampingiku selama ribuan tahun."
Jadi Bandana disegel saat tidak ada pekerjaan, ya.
Ngomong-ngomong, di luar masa penyegelan itu, katanya
usia aktif Bandana sudah mencapai seratus tahun.
Dia sama sekali tidak terlihat seperti nenek-nenek,
tapi aku tidak kaget.
Mungkin karena selain Hildegard yang abadi, aku punya
Mimiko di dekatku, si jenius dalam hal awet muda.
"Berarti, biasanya Anda hanya sendirian di
sini?"
"Tidak, aku tinggal berdua dengan ibuku."
Fakta bahwa Sang Sage Agung punya ibu adalah kejutan
terbesar bagiku hari ini.
Maksudku, ibunya Sang Sage Agung itu bukan Dewi, kan?
Minimal, menurutku dia bukan manusia biasa.
"Lalu, Petapa Agung. Apa alasan Anda
memanggilku?"
"Aku dengar Kuruto-sama telah membawa keluar gadis
yang tersegel dalam kristal sihir."
"Apa itu tindakan yang salah?"
"Tidak, aku justru ingin kalian melepaskan
segelnya."
"Bagaimana caranya?"
"Itu mungkin dilakukan dengan kekuatan Akuri. Kuruto-sama
pasti sudah menyadari kemungkinan itu, jadi silakan berkonsultasi
dengannya."
Kekuatan teleportasi Akuri, ya. Aku tidak ingin
memaksakan kehendak pada anak itu, tapi kalau lewat Kuruto, harusnya aman. Kuruto
tidak mungkin memilih cara yang membebani Akuri.
"Baiklah. Tapi, sebenarnya siapa gadis itu?"
"Penyintas dari kaum kuno. Putri tunggal dari Paus
pertama Gereja Pollan."
◆◇◆
Konferensi perdamaian yang melibatkan Gereja Pollan pun
dimulai.
Selain para pemimpin yang hadir kemarin, hari ini Paus
dan Cardinal Jess ikut serta, didampingi tiga Ksatria Gereja yang berjaga di
belakang mereka.
Di aula ini sudah ada para ksatria dari berbagai negara
termasuk pengawal pribadi Kerajaan Homuros, jadi keamanan bukan masalah.
Masalahnya adalah, begitu diskusi dimulai, Paus langsung
menyatakan hal ini:
"Gereja Pollan berniat menetapkan negara mana pun
yang menyetujui konferensi perdamaian ini sebagai musuh agama."
Aku—Liselotte—merasa pening seketika. Aku tahu mereka
akan menentang, tapi aku tidak menyangka mereka akan menyatakannya setegas itu
sejak awal.
"Wahai Paus. Dengan sikap seperti itu, bukankah
kehadiranmu di sini menjadi sia-sia? Ini adalah tempat untuk berdiskusi, bukan
tempat untuk memaksakan pendapat secara sepihak."
Kakek angkat bicara kepada Paus.
"Lagi pula, kenapa Anda terlihat begitu
terburu-buru? Ini tidak seperti Anda yang biasanya."
Terburu-buru—benar, aku pun merasakannya.
Paus Gereja Pollan yang kukenal adalah sosok yang
pandai melakukan negosiasi dengan cara menutup jalur pelarian lawan secara
perlahan.
Jangan-jangan ini Paus palsu—ah, tidak mungkin.
"Aku tidak terburu-buru. Dalam doktrin Gereja, ras
iblis adalah musuh umat manusia. Perdamaian itu mustahil. Sesederhana
itu."
Paus berkata demikian. Benar-benar tidak ada celah untuk
bernegosiasi.
Aku harus menemukan jalan keluar untuk pembicaraan ini.
Saat itulah...
"Anu, kenapa Dewa Pollan menetapkan ras iblis
sebagai musuh?"
Suara itu berasal dari Kuruto-sama. Mengapa Kuruto-sama
bisa berada di sini? Alasannya bermula tepat sebelum konferensi ini dimulai.
"Akuri, ini adalah logam paduan Orichalcum dan
Mithril. Lihat, kalau digabung jadi cantik, kan?"
"Cantik!"
Orichalcum yang disebut sebagai logam para dewa, dan
Mithril yang memiliki kekuatan pengusir kejahatan.
Aku belum pernah mendengar logam paduan dari
keduanya.
Saat aku sedang menyaksikan pencapaian luar biasa Kuruto-sama
yang membuat logam legendaris tersebut hanya dengan panci masak biasa, tamu tak
diundang datang ke kediaman kami.
"Kuruto, ada tamu—Beast King ingin bertemu
denganmu."
Shina-san mengantar Beast King Keltos masuk.
"Aku datang untuk menemui Kuruto, tapi ternyata Liselo—"
"Lise. Aku adalah perwakilan dari penguasa Valha.
Aku berpartisipasi sebagai penasihat dalam konferensi perdamaian ini mewakili
kota yang paling dekat dengan wilayah iblis."
"Umu, jadi Lise juga ada di sini ya."
Bahaya. Padahal aku belum berniat memberitahu Kuruto-sama
bahwa aku adalah Liselotte.
"Hmm? Kuruto, logam apa itu? Aku belum pernah
melihatnya."
"Ah, ini logam paduan Orichalcum dan Mithril."
"Paduan Orichalcum dan Mithril? Begitu ya, jika
menempa senjata dengan ini, maka akan didapat kekuatan maksimal dan kemampuan
pengusir hawa jahat. Apa bisa mengungguli Excalibur?"
"Itu tidak mungkin. Dengan kemampuanku sekarang, aku
belum bisa membuat Excalibur."
"Belum—berarti suatu saat nanti bisa, ya. Aku suka.
Maukah kau menempa satu untukku?"
"Tentu saja."
"Tunggu sebentar! Beast King, apa tujuan Anda datang
ke sini!?"
Jangan bilang Anda jauh-jauh ke sini hanya untuk minta
dibuatkan pedang!?
"Ooh, benar juga. Aku hampir lupa urusan utamaku. Kuruto,
dalam konferensi ini, setiap raja diizinkan membawa satu asisten. Kau sudah
tahu itu?"
"Ya."
Ayahanda membawa aku sebagai pengganti perdana menteri,
Loretta-sama membawa Yuri-san, Hildegard-san membawa Chitchi-san. Pemimpin
Torushen dan Kakek juga membawa asisten masing-masing.
Tapi kalau dipikir-pikir, Beast King memang datang
sendirian.
Dia bilang dia akan mengikuti pendapat Hildegard-san
sehingga tidak butuh asisten, tapi—
"Bagaimana kalau kau ikut sebagai asistenku?"
"Eh? Saya?"
"Umu, aku sudah sangat menyukaimu. Tentu saja,
gajinya akan besar. Oh iya, bagaimana dengan suraiku? Sura milik Beastman ras
iblis yang mengandung banyak mana konon bisa dijual mahal di kalangan
manusia."
Apa-apaan orang ini!
Meski begitu, keberadaan Kuruto-sama di konferensi
kemarin sudah menjadi pusat perhatian.
Kedok Rikuto-sama sebagai Atelier Meister mulai
kehilangan fungsinya.
Semakin banyak pelindung yang dimiliki Kuruto-sama saat
kemampuannya terungkap, itu akan semakin baik.
"Beast King, Kuruto-sama adalah rakyat Kerajaan
Homuros kami. Kami tidak berniat menyerahkannya ke negara lain."
"Aku tahu. Kaisar tua itu juga sudah memperingatiku.
Yang kuinginkan hanyalah 'kejutan' yang mungkin akan dilemparkan Kuruto dalam
rapat nanti."
Ternyata
Hildegard-san juga sudah setuju, ya. Kalau begitu, aku tidak punya alasan
untuk menolak.
"Anu, saya tidak terlalu mengerti, tapi apakah
maksudnya pendapat orang biasa seperti saya dibutuhkan dalam pembicaraan para
raja?"
Orang seperti Kuruto-sama mana mungkin bisa disebut orang
biasa, tapi biarlah beliau menganggapnya begitu. Akhirnya Kuruto-sama ikut
dalam konferensi...
"Pemuda kemarin ya."
"Eh? Kakek kemarin... eeeeh!? Jadi Anda ini
Kaisar!?"
Aku sedikit pusing saat melihat Kuruto-sama ketakutan
karena mengira telah berbuat tidak sopan pada Kakek kemarin.
Jika aku membongkar identitasku, apa beliau akan bereaksi
seperti itu juga?
Selagi aku memikirkan itu, rapat dimulai.
Dan sekarang, kembali ke situasi saat ini.
"Anu, kenapa Dewa Pollan menetapkan ras iblis
sebagai musuh?"
Benar kata Beast King, satu pertanyaan Kuruto-sama
langsung melempar "kejutan" besar.
"Itu karena ras iblis adalah keberadaan yang
diciptakan oleh iblis yang memusuhi para dewa."
"Tapi sepertinya kemungkinan besar ras iblis itu
diciptakan oleh manusia."
"Memang benar ada ajaran yang menyebut kekuatan
jahat manusia menjadi landasan ras iblis—"
"Bukan begitu. Mana yang kuat akan menjadi hawa
jahat, dan hewan yang menyerapnya akan menjadi monster. Lalu, ras iblis
diciptakan agar sanggup bertahan hidup di tengah hawa jahat tersebut."
……Bukannya melempar batu kejutan, beliau malah melempar
bongkahan batu raksasa.
"Baronet Kuruto Rockhans, tolong jelaskan lebih
rinci."
Atas permintaan Loretta-sama, Kuruto-sama mengangguk.
"Tadi saya sempat berbincang dengan
Bandana-san—maksud saya Cardinal Linoa. Beliau bilang padaku, penting untuk
mengetahui apa itu sebenarnya ras iblis. Lalu saya teringat isi penelitian
Paman Urano... tentang dunia asal kita."
Kemudian, Kuruto-sama menceritakan tentang asal-usul
dunia yang dulu pernah aku dan Yuri-san dengar dari Paman Urano.
"Namun, saat dunia ini diciptakan, ras iblis itu
belum ada. Berdasarkan penelitian Paman, hewan-hewan yang menyerap mana Monster
Terlarang yang merembes ke dunia inilah yang kemudian disebut monster."
"Kalau begitu, apa maksudmu ras iblis adalah manusia
yang menyerap mana lalu berubah jadi monster?" tanya Ayahanda.
"Bukan, tubuh manusia kemungkinan besar tidak
sanggup menahan mana yang pekat."
"Apa yang dikatakan Baronet Rockhans benar. Mana
memiliki kekuatan yang bisa merusak kewarasan, dan ada data penelitian yang
menunjukkan manusia akan mati jika menyerap mana dalam konsentrasi
tinggi," sahut Loretta-sama yang memang sudah lama meneliti tentang
Monster Terlarang.
"Karena itulah, ras iblis diciptakan agar
sanggup menahan mana tersebut. Hildegard-chan—maksud saya Kaisar Tua—sudah
hidup selama 1.200 tahun tanpa menua, tapi selama itu pula kedua tanduknya
terus tumbuh. Tanduk itulah yang meningkatkan mananya hingga beliau dijuluki
Kaisar Tua. Saya rasa itu hasil dari terus-menerus menyerap mana di
udara. Kemungkinan ras iblis adalah ras manusia yang diciptakan agar bisa
bertahan hidup di wilayah dengan mana yang pekat."
"Kuruto, apa kau punya bukti untuk bicara sejauh
itu?" tanya Beast King yang duduk di sebelahnya.
"Saya punya pamflet yang saya temukan di reruntuhan
dekat sini."
Kuruto-sama menjajajkan pamflet reruntuhan yang beliau
temukan kemarin.
"Tadi saat Cardinal Linoa bertanya apa itu ras
iblis, saya mencoba mencari tahu apakah orang kuno meninggalkan catatan.
Ternyata di pamflet ini ada artikel bertajuk 'Fitur Kesehatan: Cara Membangun
Tubuh Sehat agar Bisa Bertahan di Tengah Mana'. Di sana dijelaskan tentang
organ penyerap mana, dan bentuknya sangat mirip dengan tanduk Kaisar Tua maupun
surai Beast King."
Di sana
memang ada ilustrasi tanduk Hildegard-san, surai Beast King, dan Inti Naga
(Dragon Core).
Aku
teringat pernah dengar kalau Inti Naga mengandung mana dalam jumlah sangat
besar.
Bahkan
organ penyerap mana itu juga tertulis akan masuk ke dalam informasi genetik.
Jika
sesama pemilik organ itu menikah, anak mereka akan lahir dengan organ
tersebut—alias lahir dengan tanduk atau surai.
Aku
tidak tahu ada pamflet yang menuliskan hal seperti itu. Kenapa beliau tidak
memberitahuku?
Ah,
mungkin karena beliau sudah menyerahkannya pada Mimiko-san, beliau mengira
Mimiko-san sudah membagikan informasinya pada semua orang.
Mengingat
Mimiko-san juga sudah mulai bisa membaca huruf kuno sedikit-sedikit.
"Ras
iblis adalah manusia yang justru memanfaatkan mana dari Monster Terlarang dan
mengubah tubuh mereka sendiri untuk melawan monster tersebut. Jadi, harusnya
ras iblis bukanlah musuh Dewa Pollan."
"Jangan
membual!" teriak sang Cardinal.
"Kami
tidak datang jauh-jauh ke sini untuk mendengar bualan seorang bocah. Dunia
diciptakan manusia empat ribu tahun lalu? Monster Terlarang? Semua itu
menentang ajaran Dewa Pollan—"
"Hentikan."
Paus yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Semua yang dia katakan adalah fakta. Dunia ini
memang diciptakan oleh kaum kuno sekitar 4.300 tahun yang lalu."
"Yang Mulia Paus! Apa yang Anda katakan!?"
"Dunia asal kita dulu hancur oleh monster penghasil
mana yang diciptakan ras manusia sendiri, sesuatu yang pemuda itu sebut
'Monster Terlarang'. Dunia ini diciptakan sebagai tempat pelarian dari
mereka."
"Paus, itu berbeda dengan ajaran Gereja
Pollan!"
"Hei!"
Beast
King hanya mengucapkan satu kata pada Cardinal Jess yang mencoba membantah.
"—Diam."
Niat
membunuh yang terpancar membuat Cardinal Jess melotot dan mulutnya berbusa.
Aku
merasakan tekanan yang bahkan lebih besar daripada saat Kuruto-sama pingsan
akibat intimidasi dari peserta turnamen bela diri dulu.
"Maafkan dia, dia orang yang agak kaku," Paus
meminta maaf lalu mulai bercerita.
Beliau menceritakan asal-usul dunia ini lebih rinci
daripada penjelasan Kuruto-sama.
Meski begitu, bagian ini adalah sesuatu yang aku dan
Ayahanda sudah tahu.
Melihat Loretta-sama yang diam saja, dia pasti juga sudah
dengar dari Yurishia-san. Kakek juga tidak menunjukkan keberatan.
Lebih lanjut, Paus menjelaskan alasan mengapa ras iblis
tinggal di sisi barat benua.
Dalam ajaran Gereja, dikatakan bahwa Dewa Pollan mengusir
ras iblis ke barat dan menciptakan hutan lebat, gurun kematian, serta laut
ganas untuk melindungi umat manusia. Namun nyatanya—
"Mana di udara jika dibiarkan akan mengubah hewan
menjadi monster yang mengerikan. Untuk menghilangkannya, kita harus
memanfaatkan Dungeon untuk mengubah mana menjadi monster, atau menciptakan
Dungeon Core itu sendiri. Namun, jika jumlah Dungeon Core ditambah tanpa
kendali, pengelolaannya akan sangat sulit. Sebaliknya, jika membiarkan mana
begitu saja, wilayah dengan mana pekat akan melahirkan monster yang terlalu
kuat. Karena itulah, keberadaan ras iblis yang sanggup menyerap mana dan
mengubahnya menjadi kekuatan sendiri adalah hal yang krusial. Itulah alasan
sebenarnya kenapa ras iblis tinggal di sisi barat yang kaya akan mana."
"Wahai Paus. Jika begitu, kenapa Anda menentang
perdamaian dengan ras iblis? Berdasarkan penjelasan tadi, harusnya ras iblis
adalah keberadaan yang berguna bagi manusia maupun dunia. Bukankah lebih baik
kita hidup bekerja sama tanpa perlu berperang?"
Pertanyaan Ayahanda sangat masuk akal. Namun—
"Karena
ras iblis dan umat manusia tidak boleh bercampur," sahut Chitchi-san.
Dia kemudian melepas sorban yang dikenakannya. Di
dahinya, terlihat sebuah tanduk kecil yang patah.
"Anak blasteran antara ras iblis dan manusia
memiliki kemampuan yang lemah dalam mengubah mana di tanduk menjadi kekuatan
sendiri. Karena itulah, tidak ada jalan hidup selain mematahkan tanduk seperti
diriku. Jika interaksi antar-ras terus berlanjut dan darah mereka semakin
tipis, maka pemurnian mana tidak akan bisa dilakukan lagi."
"Memang benar, pertikaian antara manusia dan ras
iblis sudah berlangsung lama, tapi anehnya tidak pernah ada perang yang sampai
memusnahkan salah satu pihak."
"Dalam sejarah panjang kita, lima ratus tahun lalu
pernah terjadi perang dahsyat di mana Paus memimpin umat manusia di tengah
jalan. Namun Paus tersebut dibunuh oleh orang dekatnya, sehingga perang sulit
dilanjutkan dan berakhir dengan gencatan senjata."
Atas perkataan Ayahanda, Paus menggelengkan kepalanya.
"Itu bukan pembunuhan, melainkan bunuh diri. Setelah
menempatkan diri sebagai pemimpin perang, beliau memilih mati untuk
menghentikan perang tersebut."
Demi menghentikan perang, beliau rela membuang
nyawanya sendiri. Begitulah penjelasan Paus. Ternyata Paus yang seharusnya
menjadi pemimpin kubu anti-perdamaian adalah orang yang paling anti-perang.
Jika dipikirkan, ini menjelaskan mengapa iman kepada
Dewa Pollan sangat kuat di negara-negara timur, namun penganutnya sedikit di
negara-negara barat yang dekat dengan wilayah iblis.
Merasa terganggu jika tidak ada rasa permusuhan
terhadap ras iblis memang masuk akal, tapi di sisi lain, terlalu memusuhi
mereka juga bisa memicu peperangan.
"Anu, kalau begitu, apakah alasan ras iblis
tidak menyerang manusia juga sama? Lagipula, di wilayah iblis juga ada manusia
yang tinggal, kan?"
Kuruto-sama bertanya. Memang benar, jika itu campur
tangan terhadap umat manusia, Paus bisa melakukannya dengan mudah. Namun,
mustahil baginya untuk mencampuri pihak ras iblis.
Apalagi, manusia memang hidup di wilayah iblis.
"Kuruto, poin yang bagus."
Hildegard-san mengangguk pada ucapan Kuruto-sama,
namun tatapannya tetap tertuju tajam pada Paus.
"Raja Iblis juga sama seperti Paus, dia tahu
segalanya, kan? ……Tidak, mungkin sedikit berbeda."
Dia berbicara seolah telah menyadari segalanya.
"Paus, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa itu?"
"Di antara para Paus terdahulu, apakah tidak ada
seorang pun yang tak tahan memikul tanggung jawab berat ini, lalu mencoba
mengumumkan apa yang diketahuinya kepada dunia? Buktinya, sekarang Anda
menceritakan semuanya kepada kami, kan?"
"…………"
Paus tetap bungkam menanggapi kata-kata Hildegard-san.
Gadis itu melanjutkan lagi.
"Bagi Gereja Pollan, informasi tadi justru kebenaran
yang tidak menguntungkan. Pasti banyak yang ingin menguburnya dalam kegelapan
sejarah. Seperti Cardinal tadi. Tapi, kenapa fakta-fakta ini bisa
tersampaikan dengan begitu akurat? Lalu, tiba-tiba aku teringat
sesuatu."
"…………Apa yang ingin Anda katakan?"
"Aku dengar dari Kuruto, ada manusia bernama
Witukind yang memindahkan jiwanya ke tubuh anaknya sendiri dan mengambil alih
raga tersebut."
"Hildegard-chan,
jangan-jangan... tubuh Paus-sama juga diambil alih seperti Witukind-san!?"
Kuruto-sama
berseru kaget.
"Baronet
Rockhans, apakah Witukind yang dimaksud adalah Tuan Witukind sang Atelier
Meister? Beliau baru saja wafat kemarin."
Kepala
suku Torushen yang tidak tahu apa-apa bertanya, namun Loretta-sama yang duduk
di sampingnya langsung menimpali.
"Soal itu akan kujelaskan nanti, jadi biarkan
pembicaraan ini berlanjut."
Repot juga ya kalau benar-benar tidak tahu apa-apa. Tapi
yah, selama ini mereka hidup lebih tenang karena ketidaktahuan itu.
"Mungkin sedikit berbeda. Yang mewarisi takhta Paus
adalah para Cardinal. Tentu mereka punya banyak kesempatan berinteraksi dengan
orang lain. Jika Paus mengambil alih tubuh, pasti akan ada orang yang menyadari
kejanggalan sebelum dan sesudah pengambilalihan itu. Jadi, alih-alih mengambil
alih tubuh, mungkinkah ini simbiosis jiwa?"
Hildegard-san menyipitkan matanya.
"Mari ganti topik. Saat menyelidiki kastil Raja
Iblis, aku menemukan sesuatu yang menarik. Tebak apa? Ah, tidak perlu dijawab
pun kau pasti tahu. Benar, Batu Teleportasi—bukan, mungkin lebih dekat ke alat
teleportasi buatan kaum kuno? Aku tidak bisa menggunakannya jadi aku tidak tahu
tujuannya ke mana."
"Namun, setelah menyiksa—maksudku, menginterogasi
ras iblis bawahan Raja Iblis, kabarnya Raja Iblis menghabiskan sebagian besar
waktunya di lokasi tujuan teleportasi itu. Terkadang dia tidak menampakkan diri
selama berminggu-minggu. Terutama pada periode tertentu di musim panas, dia
pasti menghilang."
Hildegard-san menjeda kalimatnya sejenak, lalu berkata
dengan penuh penekanan.
"Periode itu tepat sekali dengan waktu di mana Paus
sedang pergi melakukan kunjungan luar negeri di musim panas."
Entah berapa banyak orang di sini yang menyadari makna di
balik kata-kata Hildegard-san.
Tidak, para pemimpin di sini semuanya rubah tua,
kemungkinan besar sebagian besar dari mereka paham apa yang ingin dia
sampaikan.
Meski kedengarannya sangat di luar nalar. Kemudian, Paus
angkat bicara sambil mengulas senyum.
"Jumlah ras iblis sangatlah sedikit. Keberadaan
budak manusia sangat krusial untuk memerintah wilayah iblis yang luas.
Gara-gara itu, lahirlah anak campuran seperti Chitchi-dono di sana.
Ngomong-ngomong, aku dengar di negara Kaisar Tua, belakangan ini lahir ribuan
anak campuran. Di negara Beast King yang memuja kekuatan, hal seperti itu tidak
terjadi, ya."
"Kami para Beastman memang sulit memiliki keturunan
dengan manusia. Lagipula, anak campuran akan lebih lemah dari Beastman murni.
Hukum kami melarangnya dengan keras."
Di samping Beast King yang menjawab, Hildegard-san
mendelik ke arah Paus.
"Tadi Anda bilang 'mendengar' ya? Dari
siapa?"
"Mari ganti topik lagi—ah, karena Kaisar Tua juga
mengganti topik, jadi kita impas ya. Sebenarnya, ada pusaka sihir yang
diwariskan turun-temurun kepada Paus."
Saat itu juga, aku merasakan aliran mana yang sangat
dahsyat. Sepertinya bukan cuma aku yang menyadarinya.
Beberapa orang, termasuk aku dan Loretta-sama,
melihat ke luar jendela.
"Penghalang (Barrier)—kuat sekali."
Dunia luar benar-benar terputus sepenuhnya.
Namun, penghalang ini terasa bukan untuk melindungi
dari serangan luar, melainkan untuk mencegah siapa pun dari dalam agar tidak
bisa keluar.
Apa-apaan itu?
"Pegunungan Scene ini adalah tanah awal mula dunia
ini. Daratan pertama yang dibangun kaum kuno yang melarikan diri dari Monster
Terlarang, sekaligus pangkalan teleportasi. Jika seandainya Monster Terlarang
muncul melalui alat teleportasi, dibutuhkan perangkat untuk mengurungnya di
dalam. Itulah penghalang tadi, dan bola permata ini adalah
alat pengendalinya."
Paus mengeluarkan sebuah bola permata putih bersih
dari balik bajunya. Pada saat yang sama, tangan satunya menggenggam bola
permata hitam pekat.
Bola permata hitam itu berubah wujud dalam sekejap,
menyelimuti tubuhnya menjadi baju zirah berwarna senada.
"Ini
adalah pusaka sihir bernama Armor of Souls. Mana yang dilepaskan Monster
Terlarang adalah racun bagi manusia. Meskipun ras iblis bisa menyerap mana dan
mengubahnya jadi kekuatan, tetap ada batasnya. Karena itu, kaum kuno
memindahkan setengah jiwa mereka ke zirah ini untuk melawan Monster Terlarang.
Yah, katanya mereka tetap bukan tandingannya, sih."
Tepat
setelah Paus berkata demikian, Armor of Souls itu bergerak sendiri.
Seolah
meledak, zirah itu melilit tubuh Paus yang ekspresinya berubah drastis dari
tersenyum menjadi muram.
Seketika itu juga, lantai bergetar hebat.
Tanpa disadari, Beast King sudah menerjang Paus
dengan cakar panjang yang setajam pedang.
Kejadiannya begitu mendadak, namun cakar itu tidak
menyentuh Paus. Pedang
Paus yang entah kapan sudah terhunus, memotong ujung cakar Beast King.
"—Raja
Iblis! Kau...!"
Begitu
Beast King berteriak, para pengawal menghunus pedang dan mengepung Paus—bukan,
mengepung Raja Iblis.
"Jadi Raja Iblis itu bukan ras iblis melainkan
manusia, ya. Terlebih lagi, kau merasuki para Paus dari generasi ke generasi
dalam wujud jiwa saja."
『Sejak kapan kau menyadari hubungan antara aku dan Paus?』
"Yah, ada banyak petunjuk. Misalnya, saat mendengar
bahwa Iblis Tingkat Tinggi (Greater Demon) yang mengincar nyawa Tuan Putri Liselotte
identik dengan yang dipanggil oleh Scripter dan Director bawahan
Raja Iblis. Sejak itu aku menyelidiki hubungan antara Raja Iblis dan Gereja
secara pribadi. Tapi, baru saat konferensi ini dimulai aku sadar kalau jiwa
Raja Iblis ada di dalam tubuh Paus."
Hildegard-san
berbicara sambil mencari celah pada Raja Iblis.
"Alasanmu mengincar nyawa Tuan Putri Liselotte bukan
demi melindungi Kekaisaran Pollan, tapi untuk mencegah persatuan umat manusia,
kan? Karena jika manusia bersatu, kemungkinan mereka menyerang ras iblis akan
meningkat."
"Kalau begitu, tujuanmu menumbuhkan Pohon Raksasa
Kegelapan di turnamen bela diri negaraku adalah untuk mengisolasi Federasi Kota
Kepulauan Koskiet dari negara lain dengan membunuh para pejabat penting di
sana, begitu kah?"
『Apa yang dikatakan Kaisar Tua itu benar, tapi Pohon
Raksasa Kegelapan di Koskiet itu berbeda.』
Raja Iblis kemudian menjulurkan jarinya.
Melihat gerakan mencurigakan itu, Beast King dan para
ksatria yang bersiaga langsung menyerang serentak, namun mereka tiba-tiba
tumbang di tempat.
Mereka tidak mati, tapi kami tidak mengerti apa yang baru
saja terjadi.
『Aku akan repot jika kau tetap terjaga, Rakyat Pertama
(First People).』
Begitu Raja Iblis berkata demikian, cahaya di mata Kuruto-sama
menghilang. Dia jatuh pingsan bersandar di meja.
"Kuruto-sama!"
Aku tidak bisa menahan diri lagi dan menghunus Kocho
(Butterfly).
Seketika, puluhan bayanganku muncul. Dengan kemampuanku
sekarang, mengendalikan lima puluh bayangan adalah hal mudah.
Sosok asliku menghilang, lalu merangsek maju bersama lima
puluh bayangan lainnya.
『Lumayan juga, Tuan Putri Homuros—untuk ukuran manusia,
kau mahir sekali menggunakan pedang ilusi. Inilah kenapa manusia itu menarik.』
Namun Raja Iblis menembus halusinasiku dan menahan
belatiku hanya dengan ujung jarinya.
Mustahil, dia menahan pedang yang ditempa oleh Kuruto-sama
begitu saja.
Sesaat kemudian, tubuhku terlempar dan menghantam dinding
di seberang ruangan.
"Gah...!"
"Lise!"
Ayahanda berlari menghampiriku dan meminumkan ramuan
sihir.
...Rasanya jauh lebih pahit dan kurang manjur dibanding
buatan Kuruto-sama, tapi rasa sakitnya sedikit berkurang.
『Hmph, sepertinya yang lebih hebat darinya adalah kau,
Kaisar Gurumaku. Mengambil celah saat aku menyerang dan berhasil menggores
leherku.』
Di saat aku terlempar tadi, Kakek telah menyelimuti Excalibur
dengan cahaya dan menebasnya. Namun—
『—Tapi, bukankah kau kekurangan mana?』
Bilah pedang itu hanya membuat retakan kecil pada zirah
tanpa luka tambahan.
Cahaya pada Excalibur meredup hingga kembali
menjadi pedang biasa, dan di saat yang sama, tubuh Kakek ikut terlempar.
"Maximum Thunder Ball!"
Seolah telah menunggu saat itu, bola petir raksasa dari
telapak tangan Hildegard-san menelan Raja Iblis.
Itu
adalah sihir serius dari Hildegard-san. Aku baru pertama kali melihatnya, dan
kekuatannya luar biasa.
Benar-benar layak menyandang gelar sebagai salah satu
penguasa ras iblis. Jika terkena serangan itu secara telak, meski dia Raja
Iblis sekalipun—
『Sepertinya tidak mempan.』
"Oh? Apa Paus di dalam zirah itu bisa tetap selamat?
Atau jangan-jangan tidak masalah kalau Paus mati?"
『Tidak, jika Paus mati, aku tidak akan bisa bergerak
sampai Paus baru diangkat.』
Artinya Paus di dalam sana masih selamat. Itu juga
berarti jika kita mengalahkan Paus, Raja Iblis pun akan kalah.
Tapi kenapa Raja Iblis membeberkan kelemahannya semudah
itu?
Apa dia berbohong?
Namun, entah itu benar atau tidak, jika kami semua
menyerang bersama, mungkin ada jalan.
Aku juga bisa membantu dengan Kocho.
Saat aku hendak bangkit—tiba-tiba tubuhku terasa
sangat berat hingga aku tak bisa berdiri.
Ini... manipulasi gravitasi milik Director!?
『Nah, mari lanjutkan pembicaraan kita. Alasan menumbuhkan
Pohon Raksasa Kegelapan adalah untuk menguji Rakyat Pertama—Kaum Pencipta yang
menghilang selama 1.200 tahun.』
Rakyat Pertama?
『Tugas Paus adalah mengendalikan manusia dengan dogma dewa
palsu saat manusia dan ras iblis berebut supremasi. Tugasku adalah
mengendalikan ras iblis dengan rasa takut dan kekuatan. Dan saat manusia serta
ras iblis hendak berdamai, tugasku dan Paus adalah memeriksa apakah manusia
punya kekuatan untuk memurnikan mana yang telah menjadi hawa jahat.』
Raja Iblis berkata sejauh itu, lalu melirik Kuruto-sama.
『Rakyat Pertama turun ke dunia ini sebagai perwujudan
potensi umat manusia. Namun, bahkan Rakyat Pertama pun pada akhirnya tidak
punya cara lain selain menyegel mana yang menjadi hawa jahat tersebut.』
"Apa Anda sedang membicarakan tentang penyegelan
Bola Permata Kegelapan? Jika begitu, Rakyat Pertama yang dimaksud adalah
Baronet Kuruto Rockhans, ya."
Loretta-sama merujuk pada insiden yang terjadi di
Iseshima.
Namun Raja Iblis mengabaikannya dan melanjutkan.
『Karena kekuatan Rakyat Pertama belum cukup, aku perlu
menguji manusia dan ras iblis. Ini adalah hukum yang ditetapkan kaum kuno. Aku
akan beri kalian waktu penangguhan. Cobalah kalahkan aku. Jika tidak, aku akan
melenyapkan kedamaian antara manusia dan ras iblis beserta nyawa kalian.
Persiapan untuk itu sudah hampir selesai.』
Begitu Raja Iblis berkata demikian, sosoknya menghilang.
Efek manipulasi gravitasi lenyap dan tubuhku kembali
ringan.
Pintu ruang rapat terbuka lebar, dan banyak ksatria
merangsek masuk.
"Liselotte-sama! Anda tidak apa-apa!? Muncul
penghalang di luar, dan pintu tidak bisa dibuka dari luar meski kami sudah
berteriak, jadi kami sangat khawatir."
"Ya, aku tidak apa-apa. Tolong Kuruto-sama lebih
dulu—"
"Tenang saja, dia cuma tidur, kok."
Hildegard-san yang sedang memeriksa keadaan Kuruto-sama
berujar. Tapi, kenapa Raja Iblis menidurkan Kuruto-sama?
Sudah tidak diragukan lagi kalau Rakyat Pertama itu
adalah Kuruto-sama.
Kalau begitu, apakah dia menidurkannya agar Kuruto-sama
tidak tahu bahwa dirinya adalah Rakyat Pertama?
Atau mungkinkah jika Kuruto-sama menyadari asal-usulnya
dan tahu bahwa dirinya adalah keberadaan yang spesial, Kuruto-sama akan
kehilangan ingatannya seiring dengan kesadarannya, sehingga Raja Iblis mencegah
hal itu?
Ah, ada begitu banyak hal yang membuatku penasaran, tapi
di saat seperti ini Yuri-san entah pergi ke mana. Menurut Loretta-sama, dia
pergi karena urusan mendadak.
Nanti kalau dia kembali akan kumarahi... tapi sebelum
itu, aku harus minum obat buatan Kuruto-sama dulu. Tubuhku masih terasa sakit.
◆◇◆
"……Jadi hal semacam itu terjadi saat aku tidak ada,
ya."
Aku—Yurishia—yang baru kembali dari Menara Petapa,
mendengar segala kejadian di konferensi perdamaian dari Lise yang tampak
kelelahan.
Saat ini, Mimiko beserta para ahli sihir dari berbagai
negara sedang menyelidiki penghalang tersebut. Di saat yang sama, Jenderal
Sunova dan yang lainnya sedang menyisir area sekitar untuk melacak keberadaan
Raja Iblis.
"Apa Anda tidak menyadari situasi darurat karena
adanya penghalang itu?"
"Nggak, aku sadar ada penghalang yang muncul, tapi
kukira itu karena Kuruto melakukan sesuatu yang aneh lagi."
Penghalang itu muncul tepat setelah aku keluar dari gua
reruntuhan. Seandainya pintu masuk gua berada di luar penghalang, aku tidak
akan bisa kembali.
"Sembarangan sekali... aku ingin bilang begitu, tapi
mungkin aku juga akan berpikir hal yang sama jika berada di posisi
Yuri-san."
Kebiasaan menyerah untuk berpikir dan langsung
menyimpulkan "pasti gara-gara Kuruto" saat terjadi sesuatu yang tak
masuk akal ternyata berakibat buruk.
Meskipun kalau dipikirkan pun, mana mungkin aku
membayangkan ada Raja Iblis di dalam tubuh Paus.
"Jadi, apa Kuruto baik-baik saja?"
"Ya, sepertinya tidak ada reaksi mana yang aneh.
Sekarang Shina-san dan Akuri sedang menemaninya. Aku juga ingin menunggunya
bangun di sampingnya, tapi situasinya tidak memungkinkan. Oh iya, tolong
khawatirkan aku juga sedikit. Rasanya sakit tahu."
"Kamu cuma patah tulang kan? Dan sudah minum obat Kuruto
juga, jadi pasti aman. Daripada itu, apa Kuruto tidak perlu diberi obat?"
"Semua orang yang kesadarannya direnggut oleh Raja
Iblis hanya tertidur saja. Beberapa sudah bangun dengan sendirinya. Menurut
Mimiko-sama, tidak perlu memaksa mereka bangun."
Kalau Mimiko bilang begitu, berarti aman.
"Saat ada kejadian besar begini, sebenarnya apa
yang Anda lakukan, Yuri-san?"
"Ah, aku dipanggil Sang Sage Agung sebentar.
Sekalian dengar cerita dari Bandana tentang hal-hal yang berkaitan dengan
Rakyat Pertama."
Aku menceritakan apa yang kudengar dari Bandana kepada Lise.
Tentang penggunaan monster dari Dungeon Core untuk
pengadaan material dan pembangunan peradaban saat penciptaan dunia.
Serta tentang bagaimana mereka merenggut kekuatan
bertarung bahkan kesadaran akan kemampuan tersebut agar tidak terjadi amuk
akibat kekuatan yang terlalu tinggi.
"Apakah fakta bahwa penduduk Desa Haste sulit
memiliki keturunan juga untuk menekan jumlah manusia dengan kemampuan seperti
itu?"
"Mungkin saja. Peradaban kaum kuno hancur justru
karena kemajuan peradaban mereka sendiri. Mereka pasti tidak ingin mengulangi
kesalahan yang sama."
Jika Kuruto menyadari kekuatannya lalu berniat
menghancurkan dunia? Memikirkannya saja sudah mengerikan.
"Lalu, apa kata Sang Sage Agung soal masalah
ini?"
"Dia menyuruhku membebaskan gadis yang tersegel di
kristal sihir yang ditemukan Kuruto. Katanya itu bisa dilakukan kalau ada Kuruto
dan Akuri. Tapi cuma itu saja."
Apakah Sang Sage Agung tahu hubungan antara Paus dan Raja
Iblis, atau apa yang akan dilakukan Raja Iblis selanjutnya?
Jika Raja Iblis adalah ciptaan kaum kuno, ada kemungkinan
Sang Sage Agung adalah sekutu Raja Iblis.
Kalau begitu, apa tidak apa-apa jika kami terus mengikuti
perkataan Sang Sage Agung?
……Yah, lagipula kami tidak bisa bergerak sebelum Kuruto
bangun.
Saat aku berpikir demikian—
"Semuanya, Kuruto sudah bangun."
Shina yang menjaga Kuruto masuk ke ruangan dan memberi
tahu kami.
◆◇◆
Aku—Kuruto—sepertinya tertidur selama satu jam. Aku ingat
jelas saat Raja Iblis membuatku tertidur.
Melihatku
sudah bangun, Shina-san pergi memanggil Yurishia-san dan Lise-san.
"Kamu tidak apa-apa, Kuruto? Ingatanmu masih
jelas?"
"Kuruto-sama, apa ada ingatan yang hilang?"
"Aku baik-baik saja. Sepertinya aku cuma tidur
sebentar. Lagipula, manusia tidak akan kehilangan ingatan semudah itu... ah,
tapi di Desa Haste, kadang ada penyakit endemik misterius yang menyebabkan
hilangnya ingatan bersamaan dengan hilangnya kesadaran, jadi aku tidak bisa
bilang mustahil juga."
Begitu aku berkata demikian, Yurishia-san dan Lise-san
tampak lega, meski wajah mereka sedikit berkedut.
Yurishia-san kemudian menceritakan apa yang didengarnya
dari Sang Sage Agung saat dia absen dari rapat. Katanya, kami harus melepaskan
segel anak yang terkurung di kristal sihir menggunakan kekuatan Akuri.
Yurishia-san tampak tidak terlalu mempercayai Sang Sage
Agung, tapi beliau adalah orang yang diakui sebagai guru oleh Bandana-san dan
ayah Hildegard-chan, jadi menurutku beliau bukan orang jahat.
Akhirnya kami bersama Akuri pergi ke laboratorium
Mimiko-san. Mimiko-san sedang pergi menyelidiki penghalang, tapi kristal
sihirnya masih ada di sana.
"Akuri, apa kamu bisa mengeluarkan dia dari
sini?"
"Anak ini?"
"Iya. Aku rasa kekuatan Akuri bisa
mengeluarkannya."
"Aku coba."
Akuri menjulurkan tangannya ke arah kristal sihir tempat
gadis itu tersegel. Sesaat kemudian, gadis itu berpindah ke sisi lain ruangan.
Tapi, dia pindah bersama kristal sihirnya—artinya segelnya belum lepas.
"Emm, sulit."
"Mungkin karena ini pertama kalinya bagi Akuri harus
menentukan target di balik dimensi lain lalu memindahkannya, jadi terasa
sulit."
Aku melepas tas peralatan yang tergantung di ikat
pinggangku.
Lalu aku mengeluarkan sepuluh bola warna-warni yang
kusiapkan sebagai mainan, lalu memasukkannya kembali.
"Baiklah Akuri, pertama coba ambil bola merah dari
dalam tas ini—"
"Tunggu
dulu, Kuruto!"
Yurishia-san
berseru. Eh? Apa cara ini salah? Apa ada yang gagal?
"Sepuluh bola itu jelas tidak mungkin muat di dalam
tas itu! Bagaimana bisa!?"
Yurishia-san memasukkan tangannya ke dalam tasku. Lalu
dia mengeluarkan—
"Hah, kenapa malah pedang besar yang keluar!?" teriak Yurishia-san sambil
memegang pedang besar.
"Ah,
itu pedang pesanan Beast King. Sudah selesai jadi mau kubawa
nanti."
"Bukan itu masalahnya! Ini nggak muat—maksudku, di
mana bolanya?"
Yurishia-san mengaduk-aduk isi tasku. Yang keluar adalah
batu asah, perkakas, dan lain-lain.
"……Hah, hah, Kuruto! Tas ini aneh!"
"Eh? Ini kan Magic Bag biasa?"
"Magic Bag?"
"Iya, tas yang bisa menampung barang lebih banyak
dari kapasitas aslinya sekaligus meringankan bebannya dengan menghubungkan
bagian dalam tas ke sub-ruang sederhana."
"Nggak ada! Tas kayak gitu nggak ada di
mana-mana!"
"Eh? Di desaku semua orang memakainya, kok."
Lise-san tampak bingung dan memiringkan kepalanya.
"Anu, Kuruto-sama. Jika ada barang sepraktis itu,
kenapa selama ini Anda tidak memakainya?"
"Benar juga! Kamu membawa Iron Golem, Mithril Golem,
dan semua hasil buruanmu tanpa memasukkannya ke tas, kan!?"
"Karena ini tas perkakas, jadi aku tidak memasukkan
barang selain perkakas. Alat di tas alat, uang di dompet,
tanaman obat di keranjang. Bukankah itu hal yang normal?"
Kali ini aku memasukkan pedang besar karena bingung
mau ditaruh di mana, tapi itu pengecualian.
"Normal, tapi tidak normal!"
……Eh? Teka-teki?
"Lho? Tapi aku pernah memakainya di depan Lise-san,
kan?"
"Eh? Memangnya pernah?"
Eh? Apa Lise-san lupa?
"Itu lho, di reruntuhan barat Valha, saat
Marlefice-san sedang mencorat-coret. Kita menggali lubang bawah tanah menuju
reruntuhan. Karena saat itu darurat, semua tanah galiannya aku masukkan ke tas
ini. Sebenarnya bisa saja aku padatkan, tapi lebih praktis dimasukkan tas kalau
mau menutup lubangnya nanti."
Setelah aku bicara begitu, Yurishia-san dan Lise-san
mulai berbisik-bisik.
"(Oi Lise, apa maksudnya ini?)"
"(A-Anu, saat itu gerakan Kuruto-sama terlalu
cepat... aku memang sadar tanahnya menghilang, tapi kukira itu sihir atau
semacamnya)"
"(Benar juga, kalau dipikirkan satu per satu,
keanehan Kuruto memang nggak ada habisnya...)"
Entah apa yang mereka sepakati, Yurishia-san mengangguk
dan bertanya padaku.
"Terus, buat apa memasukkan bola-bola itu?"
"Ah, Magic Bag ini butuh pemindaian ke sisi
dimensi lain untuk mengeluarkan barang yang diinginkan."
"Memang benar, Yuri-san tadi tidak bisa mengeluarkan
bolanya," ujar Lise-san sambil melihat perkakas yang dikeluarkan Yurishia-san.
"Makanya, kalau Akuri berlatih mengambil bola merah
saja dari sini, dia akan mendapatkan feeling untuk melakukan teleportasi
dari balik dimensi."
"Aku mau coba!"
Karena Akuri semangat, aku mengeluarkan alat-alat
berbahaya dari tas lalu memasukkan sisanya. Akuri mencoba mengambil barang dari
tas—tapi yang keluar adalah bola putih, bukan merah.
"Salah..."
"Nggak apa-apa, bisa mengeluarkan bola di percobaan
pertama saja sudah hebat. Benar-benar anak kita."
"Yuri-san bahkan nggak bisa mengeluarkan satu bola
pun tadi."
Mungkin karena senang dipuji Yurishia-san, Akuri terus
mencoba dan berhasil mengeluarkan bola merah di percobaan ketiga.
Aku memasukkan semua bola lagi lalu memintanya mencoba
sekali lagi. Kali ini butuh empat kali percobaan untuk bola merah.
Dia mencoba beberapa kali lagi tapi tetap sulit
melakukannya dalam sekali ambil.
"Muu."
Akuri menggembungkan pipinya, lalu sesaat kemudian
berubah ke wujud dewasa.
"Kalau begini, pasti langsung kena!"
Dengan suara yang lebih mantap, Akuri berulang kali
memasukkan dan mengeluarkan bola merah dengan tepat.
Sepertinya kekuatan teleportasi ruang-waktunya meningkat
saat dia dalam wujud dewasa.
Hal itu membuat Yurishia-san menyadari sesuatu dan
bertanya.
"Akuri, dengan wujud itu, apa kamu bisa berpindah ke
balik penghalang?"
"Emm, nggak bisa. Rasanya seperti ada dinding
besar yang menghalangi."
"Begitu ya..."
Berarti untuk menghancurkan penghalang, kami memang
harus mencari Raja Iblis.
"Kuruto-chan! Syukurlah kamu sudah bangun."
Mimiko-san kembali.
"Ah, Mimiko-san. Maaf sudah merepotkan."
"Nggak apa-apa, yang penting Kuruto-chan
selamat."
"Mimiko-san,
bagaimana dengan penghalangnya?"
"Aku sudah menyelidikinya bersama para ahli dari
negara lain, sepertinya sulit untuk dilepaskan. Kecuali kalau Kuruto-chan
sendiri yang turun tangan... eh, Akuri-chan jadi besar lagi ya."
"Iya, Tante Mimiko."
"Tan—!?"
Mimiko-san mematung.
"Nggak boleh gitu Akuri. Harusnya panggil Kak
Mimiko."
"Eh? Tapi kan Tante Mimiko sudah tiga—"
"Waaaah! Akuri-chan setop! Jangan teruskan kata-kata
itu!"
Mimiko-san dengan kecepatan luar biasa membungkam mulut Akuri.
"(Lise, aku tahu Mimiko memalsukan umurnya cukup
jauh, tapi sebenarnya berapa usianya?)"
"(Entahlah, tapi katanya setahun sebelum Ibu
menikah, beliau sudah jadi pemimpin Grim Reaper)"
"(Hah? Bukannya Françoise-sama menikah sekitar
delapan belas tahun lalu?)"
Lise-san dan yang lainnya sedang berbisik-bisik, tapi
sebaiknya aku tidak dengar saja.
Di desaku, topik usia wanita adalah hal tabu.
Kadang orang yang kukira kakak-kakak ternyata adalah
buyut temanku.
"Akuri, bisa?"
"Bisa."
Akuri menjulurkan tangan ke arah kristal sihir.
Kristal itu memancarkan cahaya silau seolah bereaksi
terhadap kekuatan Akuri.
Cahayanya semakin terang lalu tiba-tiba padam, dan gadis
di dalamnya muncul dalam posisi digendong oleh Akuri.
Berhasil.
"……Ngh."
Gadis itu perlahan membuka mata dan menatap Akuri.
"Dewi……?"
Dia bergumam sambil terus menatap wajah Akuri.
"Aku Dewi?"
"Bukan?"
"Bukan. Aku Akuri. Siapa namamu?"
"Non-chan……
siapa ya namanya?"
……Eh?
"Non-chan
tidak ingat apa-apa. Sepertinya amnesia."
Dia
memiringkan kepalanya dengan heran.
Aku
pikir orang tidak akan kehilangan ingatan semudah itu, tapi tak disangka orang
seperti itu muncul di hadapanku.
Meski amnesia, Non-chan ini tampak sangat tenang.
"Apa mungkin bagi kaum kuno, amnesia itu hal yang
biasa terjadi sehari-hari?"
"Tidak
mungkin," jawab Lise-san, Yurishia-san, dan Mimiko-san serempak.
"……Tapi
tidak bisa dibilang mustahil juga," lanjut mereka sambil menatapku.
Yah,
mungkin ingatan Non-chan hilang karena efek penyegelan yang terlalu lama.
"Kuruto-sama,
ada obat bernama Amnesia Drug yang bisa menghapus ingatan beberapa jam, apa
mungkin dia meminum yang seperti itu?"
"Sepertinya
bukan karena pengaruh obat."
Menurut
pemeriksaanku, fisiknya tidak ada yang bermasalah. Ingatannya
pasti kembali jika ada pemicunya.
"Petapa Agung, apa benar ini yang kau
inginkan?"
Yurishia-san menatap lantai—mungkin menatap ke arah
Menara Petapa di bawah sana—dan bergumam demikian.
◆◇◆
Menara Sang Sage, fasilitas yang ada untuk mengelola
dunia lama.
Bagiku yang terus mengawasinya, pemandangan ini tidak
pernah berubah.
Namun sekarang, dunia ini mulai berubah drastis secara
tiba-tiba.
Kegelapan yang menutupi langit—sesuatu yang orang-orang
berhargaku sebut Monster Terlarang atau Rakuga Kinki—kini mulai bergerak
perlahan, secepat langkah manusia.
Bagiku yang telah kehilangan identitas diri dan hanya
berperan sebagai Petapa Agung yang mengikuti arus, rasanya menyesakkan karena
hanya bisa menonton saja.
"Tugasku akan segera berakhir. Aku sanggup menahan
ribuan tahun yang terasa abadi ini karena aku tahu saatnya akan tiba... aku
akan bisa kembali menjadi diriku sendiri."
『Kembali untuk apa?』
Saat aku menoleh, ada sosok mengenakan zirah hitam pekat
di sana.
Pria yang dijuluki Raja Iblis itu memegang Lonceng Petapa
yang dulu kuberikan kepada pedagang ras iblis—ayah dari Kaisar Tua Hildegard.
Lonceng itu adalah kunci untuk memasuki ruang ini. Dan
seharusnya, meskipun memegang kuncinya, dia tidak bisa masuk tanpa izinku...
kecuali bagi dia yang memiliki otoritas setara denganku.
"Entahlah. Justru karena tidak tahu, aku
menantikannya."
『Apa menurutmu ada tempat bagiku di masa depan itu?』
"Tidak. Masa depan di mana kau tidak ada, itulah
masa depan yang kunantikan."
『Itu menyedihkan.』
"Apa sistem sepertimu bisa merasa sedih?"
『Entahlah. Namun aku, yang menghabiskan waktu bersama
orang-orang yang memiliki waktu terbatas, adalah sosok yang paling dalam
bersentuhan dengan emosi bernama kesedihan.』
"'Orang-orang yang hidup'…… bukankah maksudmu
'orang-orang yang kau bunuh'?"
『Petapa Agung, kau tidak akan mengerti. Kau yang
menuntun menuju takdir yang benar dengan membiarkan mereka hidup, tidak akan
paham perasaanku yang memutus takdir yang salah dengan membunuh—tidak, aku
tidak punya perasaan. Yang ada hanyalah pertanyaan, apa yang akan dipikirkan
manusia jika mereka berada di posisiku.』
"Kepastian tidak bisa diharapkan dari sistem yang
memiliki keraguan, Raja Iblis. Kau cukup jalankan peranmu saja. Kau memberikan
nama-nama seperti Scripter dan Director kepada bawahanmu yang
bisa memengaruhi jalannya sandiwara, tapi sadarilah bahwa kau sendiri harus
tetap menjadi pemeran belaka."
『Aku mengerti.』
Raja Iblis berkata demikian lalu melangkah maju dan
terjun dari menara. Begitu dia melompat, kegelapan yang melayang di
langit langsung menelannya.
"……Aku pun pasti tidak akan bisa kembali ke masa itu
lagi. Tapi, aku ingin kembali ke sisi mereka."
Aku bergumam sendiri, lalu perlahan menutup kelopak mata
yang tercipta dari ilusi ini.



Post a Comment