NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V5 Bonus E-Book

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Bonus E-book

Cerita Pendek Khusus

『Gadis-Gadis yang Bersemangat』

Bulan Agustus, di tengah-tengah liburan musim panas.


Hari itu, suara tonggeret terdengar nyaring, dan matahari bersinar terik—suasana puncak musim panas yang sesungguhnya.


Di dalam kamar Rin, Sara, Yuna, dan Rin sedang duduk berkumpul. Dilihat sekilas, mereka yang duduk mengelilingi satu meja tampak seperti sedang tekun belajar. Karena ini musim liburan, mengerjakan tugas sekolah bersama teman adalah agenda yang lumrah. Namun, mereka bertiga adalah murid teladan yang sudah menyelesaikan PR sejak jauh-jauh hari. Lantas, apa yang sebenarnya mereka lakukan sambil mengelilingi meja?


Jawabannya adalah────.


Mereka sedang menuangkan ide ke atas kertas gambar, merancang ke mana tujuan mereka selanjutnya untuk bermain bersama. Sebagai bagian dari liburan musim panas yang berharga, sangat wajar jika mereka ingin mengadakan acara menyenangkan lagi bersama-sama.


“Kalau tujuannya agar semua orang bisa menikmati—termasuk Akasaki-kun—mungkin taman hiburan bagus juga ya?”


Rin membuka suara terlebih dahulu sambil memperhatikan reaksi kedua temannya.


“……Boleh juga. Atau mungkin ke kebun binatang?”


“Ke museum, atau pergi ke festival musim panas lagi juga seru ya!”

Menyusul Yuna, semangat Sara pun ikut naik. Membayangkan berbagai pilihan ini saja sudah membuat suasana menjadi meriah.


“Tapi,”


“Benar juga ya.”


Sara dan Yuna saling berpandangan, lalu menatap Rin bersamaan. Sepertinya mereka berbagi pemikiran yang sama.


“……Kami serahkan padamu, Rin.”


“Iya. Aku juga akan ikut pilihan Rin-san.”


“Eh, kenapa?”


Rin membelalakkan matanya dan bertanya. Menghadapi tatapan hangat kedua temannya, Rin menggelengkan kepalanya pelan.


“Terima kasih, kalian berdua.”


Ia ingin menebus kejadian di akuarium sebelumnya. Bukan hanya kepada Akasaki-kun, tapi juga kepada Sarachin, Yunarin…… dan Kazamiya-kun. Fakta bahwa ia telah membuat semua orang merasa tidak nyaman tidaklah berubah. Meskipun semua orang bilang tidak masalah, Rin tetap merasa mengganjal di hatinya. Pastinya, Sara dan Yuna memahami perasaan Rin tersebut.


Di bawah tatapan tulus keduanya, Rin melanjutkan.


“Aku ingin pergi ke taman hiburan.”


“Bagus juga.”


“Aku juga ingin ke sana.”

Sara dan Yuna tersenyum setuju.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Rin melanjutkan.


“Ini acara agar kita semua bisa bersenang-senang bersama. Tapi, kalau ada Akasaki-kun, aku yakin aku pasti akan jadi kegirangan sendiri.”


“Itu juga berlaku untukku, Rin-san.”


“Yah…… aku pun sama.”


Yuna mengangguk meski masih ada sisa rasa malu di wajahnya.


“Karena itu, mari kita semua melancarkan pendekatan kita masing-masing pada Akasaki-kun.”


“Iya! Tapi aku akan menahan diri jika di depan Kazamiya-san.”


“Aku setuju dengan Sara.”


“Eh, aku juga tidak akan melakukannya kalau ada Kazamiya-kun, kok!”


Sara dan Yuna pun terkekeh geli. Rin berdehem keras dengan sengaja dan melanjutkan.


“……Pokoknya, kita sudah sepakat untuk tetap melakukan pendekatan, ya.”


“Kalau begitu, aku ingin duduk di sebelah Akasaki-san saat naik roller coaster.”


Pendekatan di taman hiburan. Membayangkan saat bersama Haruya, sepertinya Sara ingin duduk bersandingan di wahana yang memacu adrenalin itu.

Sara melanjutkan sambil membayangkannya dalam-dalam.


“……Kalau di roller coaster, aku pasti ingin menggandeng tangannya. Kurasa aku bisa melakukannya dengan alasan takut.”


Rasa takut akan membuat aksi menggandeng tangan terasa alami. Sara berpikir ia bisa mengajukan usul itu melalui alur yang spontan.


“Ide bagus.”


“Aku iri padamu, Sarachin……!”


Keduanya tersenyum membayangkan hal itu. Khusus untuk Rin, padahal kejadiannya belum terjadi, tapi ia sudah merasa iri duluan.


“Aku…… mungkin pilih wahana coffee cup.”


Ucap Yuna sambil memalingkan wajah. Wahana cangkir yang berputar. Atraksi di mana mereka bisa tertawa bersama sambil memutar kemudinya. Di manga shoujo favorit Yuna, ada adegan manis di mana sepasang kekasih naik wahana tersebut—sebuah kisah cinta manis antara pahlawan wanita dan pemuda tampan. Kebetulan, itu juga karya yang disukai Haruya.


“Cangkir putar juga tidak kalah menarik ya.”


“Ugh…… aku iri juga pada Yunarin!”


Meski alasan utama Yuna adalah agar bisa mengobrol soal karya favorit, hal itu tetap terdengar manis. Kemudian, kendali pembicaraan beralih kembali ke Rin. Di bawah tatapan Sara dan Yuna, Rin membuka mulutnya.


“……Aku pilih bianglala.”


Sambil mengucapkannya, imajinasinya mulai meliar. Mengobrol santai di dalam bianglala, lalu saat mencapai titik tertinggi, suasana berubah menjadi romantis, jarak mereka semakin dekat, dan────.


“Ri-Rin-san?”


“Rin?”


Sara dan Yuna mengintip wajah Rin dengan cemas. Tanpa sadar, Rin sudah menundukkan wajahnya dengan pipi yang terasa sangat panas.


“Ti-tidak kok? Bukan apa-apa……”


Baru saja ingin mengelak, ia langsung diprotes.


“Mana mungkin bukan apa-apa!”


“Curang sekali, Rin-san!”


Sepertinya saat ia mengangkat wajah, rahasianya langsung terbongkar. Mereka berdua menyadari bahwa Rin sedang memikirkan sesuatu yang memalukan. Tatapan mereka seolah mengunci Rin agar tidak bisa melarikan diri.


“E-eeeh.”


“Apa yang kamu bayangkan, Rin?”


“Rin-san! Aku juga ingin dengar.”


“Ah, haha.”


Tawa kering keluar dari mulutnya. Mana mungkin ia bisa bilang. Bahwa ia membayangkan berciuman di dalam bianglala. Rasa malu itu terasa tak tertahankan jika harus diucapkan sendiri. Namun, Rin merasa pembicaraan ini akan semakin seru jika dibagikan, maka ia pun membulatkan tekad.


“Aku───”


***


Setelah selesai berbagi pandangan cinta masing-masing, mereka bertiga menemukan gantungan kunci beruang yang sangat mirip dengan Haruya dan membelinya bersama sebagai barang kembaran.


Gantungan kunci beruang itu pasti bisa digunakan sebagai sarana pendekatan kepada Haruya. Begitulah pikir mereka bertiga. Tidak akan membiarkan Haruya lepas.


Dengan nuansa seperti itu, mereka bertiga memasang gantungan kunci beruang tersebut di tas masing-masing. Di antara mereka, Rin menyentil gantungan kunci beruangnya dengan jari sambil tersenyum jahil.


(……Pastinya, lain kali aku akan membuatmu menyadariku.)


Previous Chapter | ToC | 

0

Post a Comment

close