Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Epilogue
Pada Hari itu, Gadis-gadis itu pun......
Waktu berputar kembali ke saat Sara dan Yuna pergi menjemput Rin. Tepatnya, ini adalah kisah setelah kejadian emosional di rumah orang tua Rin. Mereka bertiga akhirnya mengadakan kembali acara menginap bersama.
Ketiganya berbaring sejajar, sesekali terdengar suara gemerisik kain di dalam ruangan. Cahaya bulan merayap masuk melalui celah tirai, memberikan rona warna pada kamar yang bernuansa merah muda pucat tersebut.
Yuna, Sara, dan Rin.
Tak satu pun dari mereka tidur di atas ranjang; mereka menggelar kasur lantai dan tidur berhimpitan. Ruangan itu terasa agak sempit, dan di musim panas seperti ini, suhu tubuh orang lain seharusnya menjadi musuh utama. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang memasang wajah kesal. Sebaliknya, mereka sepertinya memang ingin saling menempel.
“───Bagian mana dari Akasaki-kun yang membuatmu jatuh cinta?”
Setelah obrolan santai tentang kosmetik terbaik hingga drama terbaru mereda, Yuna langsung masuk ke topik utama. Rin sempat menahan napas sejenak, namun sepertinya ia sudah membulatkan tekad. Ia mengangguk imut sebelum menjawab.
“Aku... aku jatuh cinta padanya karena dia menerima kelemahanku……”
Jika diingat kembali, semuanya bermuara pada satu hal itu. Haruya mengafirmasi bagian dari dirinya yang ia anggap buruk. Haruya bilang tidak apa-apa menjadi dirinya yang apa adanya. Tapi, bukan hanya itu saja...pasti laki-laki lain juga akan mengatakan hal yang sama. Pasti ada orang lain yang akan mengulurkan tangan meski tahu kelemahannya. Sosok yang menerima kelemahan bukan hanya dia seorang.
Tapi, saat Festival Eiga waktu itu───hanya dialah yang berlari mengejarku. Dialah yang berani melangkah masuk ke dalam hatiku. Dialah yang menemukanku saat aku melarikan diri ke sudut perpustakaan. Dia memberiku keberanian untuk menghadapi Sarachin dan Yunarin. Dia mengucapkan kata-kata yang ingin kudengar, tepat di saat aku membutuhkannya……
Saat mengonfirmasi kembali perasaannya, debaran jantung Rin tidak mau berhenti.
“Fufu…… tapi benar-benar aneh, ya.”
“Apanya yang aneh?”
Yuna bertanya, sementara Sara mengangguk dalam diam meminta Rin melanjutkan. Rin yakin mereka berdua pasti akan mengerti.
“Padahal sampai sekarang aku tidak pernah menganggapnya keren sama sekali, tapi tiba-tiba saja semuanya jadi terlihat keren. ……Maksudku, tentang Akasaki-kun……”
Begitu nama itu meluncur dari bibirnya, rasa malu kembali menyerang. Rin langsung menarik selimut untuk menutupi mulutnya.
“Sudah terlambat untuk malu, Rin.”
“Benar sekali!!”
Tiba-tiba kedua tangan Rin digenggam erat oleh mereka berdua. Rin yang berada di posisi tengah, terhimpit seperti sandwich di antara Yuna dan Sara, tidak bisa berkutik.
“Hei. Seperti kami berdua,” Yuna memberi isyarat mata kepada Sara. Sara pun menyambung kata-kata Yuna.
“Seperti kami yang memiliki pertemuan spesial dengan Akasaki-san, jangan-jangan Rin-san juga merasa 'Onii-san' di kafe itu───”
“Tidak mungkin───”
Rin tersentak.
Ia bahkan tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan itu. Selama ini ia hanya memikirkan Akasaki-kun sampai tidak memperhatikan sekelilingnya. Tapi kalau dipikir-pikir, kebaikan Haruya memang mirip dengan "Onii-san" di kafe... senyumnya juga entah kenapa...begitu ia mencoba menyadarinya, wajah mereka berdua langsung terasa cocok satu sama lain di dalam kepalanya.
Sret!
Secara refleks Rin menenggelamkan diri di balik selimut.
“Eh, reaksi ini…… jangan-jangan?”
“Ayo ceritakan, Rin! Curang tahu kalau cuma kami yang cerita!”
“Kami tidak akan membiarkan Rin-san tidur sampai sesi curhat cinta ini selesai!”
“Ja-jangan lihat wajahku sekaranggg………!”
(Bagaimana ini…… padahal aku sudah membulatkan tekad untuk menemui Akasaki-kun, tapi sekarang fokusku malah buyar……)
Rin mulai menyadari bahwa "Onii-san" di kafe itu adalah Haruya.
Jantungnya berdegup kencang tak karuan, bahkan sebelum ia menunjukkan batang hidungnya di depan Haruya.
Afterword
Salam kenal bagi Anda yang baru pertama kali membaca, dan salam jumpa kembali bagi pembaca setia. Saya penulisnya, Wakioka Konatsu. Pertama-tama, terima kasih banyak karena telah memilih dan membaca volume kelima dari karya ini. Berkat dukungan Anda sekalian, saya berhasil merilis volume kelima dengan selamat.
Bisa dibilang, pengerjaan volume kali ini sangatlah berat. Selain karena isinya sendiri, penyebab utamanya tidak lain adalah perubahan dalam kehidupan pribadi saya sejak bulan April tahun ini. Saya telah bertransisi dari seorang mahasiswa menjadi seorang pekerja kantoran (social member), sehingga waktu untuk berhadapan dengan karya ini menjadi sulit untuk diamankan. Saya benar-benar merasakan betapa hebatnya para penulis lain yang bekerja sambil menulis. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa segera menyusul kegigihan mereka.
Meskipun kata penutup kali ini lebih singkat dari biasanya, izinkan saya beralih ke bagian ucapan terima kasih.
Kepada para pembaca yang selalu mendukung karya ini, terima kasih yang sebesar-besarnya.
Kepada magako-sama yang terus menangani ilustrasi luar biasa untuk karya ini, terima kasih atas ilustrasi indahnya kali ini pun.
Kepada editor penanggung jawab, terima kasih telah memberikan saran-saran yang tepat kepada saya yang masih belum berpengalaman ini. Mohon bantuannya juga untuk ke depannya.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait melalui kesempatan ini. Akhir kata, saya berdoa agar kita dapat berjumpa kembali di volume keenam.



Post a Comment