NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 3 Epilog

Epilog: Tolong Jangan Bermesraan di Depan Kuburanku


Dua hari setelah insiden di Labirin Besar Drefon, di suatu siang yang tenang.

Aku dan Lucretia sedang berguncang di dalam kereta kuda menuju suatu tempat. Tempat itu sepertinya berada di tengah gunung yang agak tinggi, karena kereta kuda kami bergerak perlahan menyusuri jalan setapak pegunungan yang sempit.

Saat melewati bagian jalan yang katanya sempat longsor beberapa waktu lalu, kereta berguncang hebat.

"Kyaa!"

Akibat guncangan itu, Lucretia jatuh bersandar ke arahku.

"Kau tidak apa-apa?"

Saat aku merengkuh tubuh rampingnya yang dibalut gaun itu, Lucretia bergumam "Terima kasih" sambil tersenyum. Senyumannya tidak hanya memancarkan keimutan, tapi juga aura kebangsawanan yang tinggi.

Benar, sosoknya saat ini bukanlah Lugh.

Ia duduk di sampingku sebagai Putri Ketujuh Kerajaan Leese, Lucretia von Leese.

Ah... dia pakai gaun pun cantik sekali ya.

Gaun dominan warna putih itu terakhir kali kulihat saat aku dipanggil Pangeran Lucas ke istana sehari setelah upacara penerimaan siswa baru. Keanggunan yang jarang kulihat ini terasa sangat segar hingga aku tanpa sadar terpana menatapnya.

Sadar-sadar, aku dan Tía sudah saling menatap. Suasananya seolah-olah kami bisa saja saling menyatukan bibir saat itu juga.

"Tuan Putri dan Pahlawan Pembantai Naga. Pasangan yang sangat serasi desu...!"

Suara yang membuyarkan suasana itu adalah Merry yang duduk di hadapan kami.

Gadis berpakaian pelayan yang wajahnya sangat mirip Tía itu menggenggam erat dua kuncir rambut abu-abunya dengan kedua tangan, menatapku dan Tía dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat sangat antusias.

Di sampingnya, Pangeran Lucas memasang ekspresi jengah yang terlihat jelas meski ia memakai penutup mata.

"Aku tidak melarang kalian bermesraan, tapi tolong jaga sopan santun ya?"

""Ma-maafkan kami...""

Melihat kami yang menunduk meminta maaf, Pangeran Lucas hanya menghela napas panjang, "Benar-benar deh...".

"Yah, aku tidak berniat mempermasalahkan hubungan kalian sekarang. Apalagi Hugh sudah memberikan jasa yang sepadan dengan itu."

"Apakah Naga Hitam yang kukalahkan itu benar-benar Drefon?"

"Jika memercayai catatan harian Paman, sepertinya memang begitu."

Di tangan Pangeran Lucas terdapat sebuah buku catatan. Di dalamnya tertulis rencana gila untuk membangkitkan dan membasmi Naga Hitam Drefon demi membangun kembali kejayaan keluarga Drefon.

Itu adalah rencana yang terlalu besar, sulit dibayangkan jika melihat kesan dari kota Balread maupun sosok Viscount Drefon saat jamuan makan siang lalu. Pangeran Lucas tidak mengatakannya, tapi aku curiga ada seseorang yang mengendalikan ini dari balik layar... atau mungkin itu hanya perasaanku saja?

"Pembasmian Naga Hitam adalah pencapaian luar biasa sejak leluhur pihak ibu kami, kepala keluarga pertama Drefon. Mengingat preseden di mana seorang petualang rakyat jelata dianugerahi nama keluarga dan gelar Earl, sewajarnya kau sebagai seorang bangsawan layak mendapatkan status Margrave dan hubungan darah dengan keluarga kerajaan."

Artinya, aku bisa menikah dengan Lucretia secara terang-terangan dan terhormat.

...Tapi, sepertinya urusannya tidak semudah itu.

"Itu kalau dipikirkan secara 'sewajarnya', kan...?"

Saat aku bertanya balik untuk memastikan, Pangeran Lucas mengangguk puas.

"Tepat sekali. Masalah terbesarnya adalah satu-satunya bukti pencapaianmu hanyalah catatan harian ini. Yang melihat sosok Naga Hitam pun hanya kalian berdua. Mencegah bencana sebelum terjadi memang terdengar bagus, tapi jika tidak bisa dibuktikan, itu tidak akan dianggap sebagai jasa."

"Ceritanya akan berbeda jika Naga Hitam Drefon sempat bangkit dan menghancurkan dua atau tiga kota," ujar Pangeran Lucas sambil mengangkat bahu.

Jika seandainya kami tidak bertemu Naga Hitam dan naga itu sempat keluar ke permukaan, entah tragedi sebesar apa yang akan terjadi... Rasanya bukan hanya dua atau tiga kota yang akan hancur. Mengingat hal itu, meskipun tidak dianggap sebagai jasa, aku merasa sangat beruntung bisa mengalahkan naga itu tepat pada waktunya. ...Yah, sedikit disayangkan sih, tapi mau bagaimana lagi.

"Muuu. Padahal kupikir aku sudah bisa menikah dengan Hugh..."

Lucretia menggembungkan pipinya dengan wajah tidak puas.

"Yah, itu tergantung bagaimana Ayahanda memutuskan setelah melihat catatan harian ini. Tergantung situasinya, bukan tidak mungkin Hugh akan tetap diangkat sebagai Pahlawan Pembantai Naga."

"Kalau bisa tolong jangan lakukan itu..."

Menikah dengan Lucretia tentu membuatku senang, tapi aku ingin menghindari dijadikan alat politik sebagai pahlawan. Idealku tetaplah menjalani slow life di pedalaman yang tenang bersama Tía dan yang lainnya.

"Sudah kuduga kau akan bilang begitu, Hugh. Mari kita bahas detailnya setelah kembali ke ibu kota. Sepertinya kita sudah sampai."

Kereta berhenti dan pintunya dibuka.

Tempat itu adalah dataran tinggi yang terbuka di tengah gunung. Di tempat yang bisa memandang rendah wilayah Drefon dan kota Balread itu, berjajar empat buah batu nisan. Di depan masing-masing nisan, diletakkan bunga berwarna putih.

Sepertinya itu adalah makam kakek-nenek, bibi, dan ibu dari Tía serta Pangeran Lucas. Bunga yang diletakkan terlihat masih baru, dan area di sekitar makam pun dirawat dengan sangat baik. Pasti penduduk Balread rajin datang berkunjung ke sini. Ini adalah bukti bahwa keluarga Drefon sangat dicintai oleh rakyatnya.

Pangeran Lucas dan Lucretia secara bergantian meletakkan bunga di depan nisan dan memanjatkan doa di bawah pengawasan para Ksatria Kerajaan yang mengawal. Lalu di depan nisan terakhir, keduanya berlutut tanpa peduli pakaian mereka menjadi kotor. Mereka menangkupkan kedua tangan di depan dada, memejamkan mata, dan menundukkan kepala.

Nama yang terukir di nisan itu adalah 'Lutiana'. Makam ibu dari Tía dan Pangeran Lucas.

Berdiri di belakang mereka yang sedang berdoa, aku memutuskan untuk ikut memanjatkan doa mengikuti cara mereka. Di sampingku, entah kenapa Merry juga ikut berdoa dengan cara yang sama. Yah, kurasa tidak perlu dikomentari.

Aku menangkupkan tangan dan memejamkan mata.

Kira-kira seperti apa sosok ibu Tía dulu? Anehnya, bayangan sosok wanita berambut putih panjang muncul di kepalaku. Beliau pasti wanita yang mungil dan menggemaskan seperti Tía, namun juga memiliki kecerdasan seperti Pangeran Lucas.

--- Salam kenal, Nyonya Lutiana. Nama saya Hugh Pnosis, putra dari Mike Pnosis, penguasa wilayah Pnosis. Saya bertemu Tía di Akademi Kerajaan, dan karena berbagai alasan, kami menjadi teman sekamar di asrama. Saya mencintai senyum cerianya, tingkah lakunya yang menggemaskan, dan yang terpenting, kebaikan hatinya yang telah menerima diriku apa adanya. Aku berjanji akan membuat Tía bahagia. Jadi, mohon tetaplah mengawasi Tía selamanya.

Saat aku membuka mata, Lucretia dan Pangeran Lucas baru saja berdiri dan berbalik.

Dalam perjalanan kembali menuju kereta kuda, Lucretia berjalan tepat di sisi kiriku sambil mendongak menatapku dengan senyuman.

"Terima kasih sudah menyapa Ibu, Hugh."

"Tidak, aku yang berterima kasih. Aku senang bisa memberi salam padanya."

Tía-lah yang membujuk Pangeran Lucas agar mengizinkanku ikut, padahal secara teknis aku adalah orang luar. Jika bukan karena kesempatan ini, aku mungkin tidak akan pernah bisa berdoa di depan makam Nyonya Lutiana. Meskipun hanya sepihak, aku lega bisa bersumpah untuk membahagiakan Lucretia di depannya.

"Aku juga sudah mengenalkan Hugh ke Ibu, lho. Mau dengar bagaimana cara aku mengenalkannya?"

Tía melongok menatap wajahku dengan senyum jahil di wajahnya. Jika aku mengiyakan, dia pasti akan menceritakan hal memalukan yang bakal membuat wajahku merah padam.

"Se-setidaknya katakan padaku saat kita cuma berdua saja..."

"Fufu. Baiklah, nanti kalau sudah kembali ke akademi akan kuberitahu, ya?"

Tía tersenyum puas, lalu secara sembunyi-sembunyi menumpukkan tangan kanannya di atas tangan kiriku.

Kami saling mengaitkan jari, melakukan lover's hand-holding agar tidak disadari orang-orang di sekitar.

Tepat setelah itu, embusan angin kencang bertiup melewati kami.

--- Heii!

"Kyaa!"

"Uwah!"




Refleks karena embusan angin kencang, kami pun membungkuk dan melepaskan genggaman tangan satu sama lain.

Saat aku menoleh ke arah angin berlalu, ke arah belakang... aku merasa seolah melihat seorang wanita berambut putih panjang berdiri di sana sambil berkacak pinggang.

I-itu tadi apa...?

Sepertinya Tía juga melihatnya, karena mata biru tuanya terbelalak lebar.

"Ibu...?"

Ia bergumam lirih. Ternyata yang barusan terlihat memang ibu Lucretia...

Beliau benar-benar wanita mungil dan jelita yang sangat mirip dengan Lucretia. Wajahnya yang menggembungkan pipi persis sekali dengan ekspresi yang biasa dibuat Tía. Karena terlihat begitu jelas, rasanya itu bukan sekadar ilusi.

...Beliau kelihatan marah ya, Nyonya Lutiana.

Jika benar begitu, embusan angin tadi mungkin saja untuk menegur tindakan gegabah kami.

"Oooii! Kalian berdua sedang apa desu ka—? Kereta kudanya mau berangkat desu yo—?"

Merry memanggil kami dari dekat kereta. Aku dan Lucretia saling bertatapan, menundukkan kepala sekali lagi ke arah makam, lalu melangkah menuju kereta.

Tak perlu dikatakan lagi, karena merasa sungkan, kami tidak bergandengan tangan lagi kali ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close