Epilog: Tolong Jangan Bermesraan di Depan Kuburanku
Dua hari setelah insiden di Labirin
Besar Drefon, di suatu siang yang tenang.
Aku dan Lucretia sedang berguncang di
dalam kereta kuda menuju suatu tempat. Tempat itu sepertinya berada di tengah
gunung yang agak tinggi, karena kereta kuda kami bergerak perlahan menyusuri
jalan setapak pegunungan yang sempit.
Saat melewati bagian jalan yang katanya
sempat longsor beberapa waktu lalu, kereta berguncang hebat.
"Kyaa!"
Akibat guncangan itu, Lucretia jatuh
bersandar ke arahku.
"Kau tidak apa-apa?"
Saat aku merengkuh tubuh rampingnya
yang dibalut gaun itu, Lucretia bergumam "Terima kasih" sambil
tersenyum. Senyumannya tidak hanya memancarkan keimutan, tapi juga aura
kebangsawanan yang tinggi.
Benar, sosoknya saat ini bukanlah Lugh.
Ia duduk di sampingku sebagai Putri Ketujuh
Kerajaan Leese, Lucretia von Leese.
Ah... dia
pakai gaun pun cantik sekali ya.
Gaun dominan warna putih itu terakhir kali
kulihat saat aku dipanggil Pangeran Lucas ke istana sehari setelah upacara
penerimaan siswa baru. Keanggunan yang jarang kulihat ini terasa sangat segar
hingga aku tanpa sadar terpana menatapnya.
Sadar-sadar, aku dan TÃa sudah saling
menatap. Suasananya
seolah-olah kami bisa saja saling menyatukan bibir saat itu juga.
"Tuan Putri dan Pahlawan Pembantai
Naga. Pasangan
yang sangat serasi desu...!"
Suara yang membuyarkan suasana itu
adalah Merry yang duduk di hadapan kami.
Gadis berpakaian pelayan yang wajahnya
sangat mirip TÃa itu menggenggam erat dua kuncir rambut abu-abunya dengan kedua
tangan, menatapku dan TÃa dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat sangat
antusias.
Di sampingnya, Pangeran Lucas memasang
ekspresi jengah yang terlihat jelas meski ia memakai penutup mata.
"Aku tidak melarang kalian
bermesraan, tapi tolong jaga sopan santun ya?"
""Ma-maafkan
kami...""
Melihat kami yang menunduk meminta
maaf, Pangeran Lucas hanya menghela napas panjang, "Benar-benar
deh...".
"Yah, aku tidak berniat
mempermasalahkan hubungan kalian sekarang. Apalagi Hugh sudah memberikan jasa
yang sepadan dengan itu."
"Apakah Naga Hitam yang kukalahkan
itu benar-benar Drefon?"
"Jika memercayai catatan harian Paman,
sepertinya memang begitu."
Di tangan Pangeran Lucas terdapat sebuah
buku catatan. Di dalamnya tertulis rencana gila untuk membangkitkan dan
membasmi Naga Hitam Drefon demi membangun kembali kejayaan keluarga Drefon.
Itu adalah rencana yang terlalu besar,
sulit dibayangkan jika melihat kesan dari kota Balread maupun sosok Viscount
Drefon saat jamuan makan siang lalu. Pangeran Lucas tidak mengatakannya, tapi
aku curiga ada seseorang yang mengendalikan ini dari balik layar... atau
mungkin itu hanya perasaanku saja?
"Pembasmian Naga Hitam adalah
pencapaian luar biasa sejak leluhur pihak ibu kami, kepala keluarga pertama
Drefon. Mengingat preseden di mana seorang petualang rakyat jelata dianugerahi
nama keluarga dan gelar Earl, sewajarnya kau sebagai seorang bangsawan layak
mendapatkan status Margrave dan hubungan darah dengan keluarga kerajaan."
Artinya, aku bisa menikah dengan Lucretia
secara terang-terangan dan terhormat.
...Tapi, sepertinya urusannya tidak semudah
itu.
"Itu kalau dipikirkan secara
'sewajarnya', kan...?"
Saat aku bertanya balik untuk memastikan,
Pangeran Lucas mengangguk puas.
"Tepat sekali. Masalah terbesarnya
adalah satu-satunya bukti pencapaianmu hanyalah catatan harian ini. Yang
melihat sosok Naga Hitam pun hanya kalian berdua. Mencegah bencana sebelum
terjadi memang terdengar bagus, tapi jika tidak bisa dibuktikan, itu tidak akan
dianggap sebagai jasa."
"Ceritanya akan berbeda jika Naga
Hitam Drefon sempat bangkit dan menghancurkan dua atau tiga kota," ujar
Pangeran Lucas sambil mengangkat bahu.
Jika seandainya kami tidak bertemu Naga
Hitam dan naga itu sempat keluar ke permukaan, entah tragedi sebesar apa yang
akan terjadi... Rasanya bukan hanya dua atau tiga kota yang akan hancur.
Mengingat hal itu, meskipun tidak dianggap sebagai jasa, aku merasa sangat
beruntung bisa mengalahkan naga itu tepat pada waktunya. ...Yah, sedikit
disayangkan sih, tapi mau bagaimana lagi.
"Muuu. Padahal kupikir aku sudah bisa
menikah dengan Hugh..."
Lucretia menggembungkan pipinya dengan
wajah tidak puas.
"Yah, itu tergantung bagaimana
Ayahanda memutuskan setelah melihat catatan harian ini. Tergantung situasinya,
bukan tidak mungkin Hugh akan tetap diangkat sebagai Pahlawan Pembantai
Naga."
"Kalau bisa tolong jangan lakukan
itu..."
Menikah
dengan Lucretia tentu membuatku senang, tapi aku ingin menghindari dijadikan
alat politik sebagai pahlawan. Idealku tetaplah menjalani slow life di pedalaman yang tenang bersama TÃa dan yang
lainnya.
"Sudah kuduga kau akan bilang begitu,
Hugh. Mari kita bahas detailnya setelah kembali ke ibu kota. Sepertinya kita
sudah sampai."
Kereta berhenti dan pintunya dibuka.
Tempat itu adalah dataran tinggi yang
terbuka di tengah gunung. Di tempat yang bisa memandang rendah wilayah Drefon
dan kota Balread itu, berjajar empat buah batu nisan. Di depan masing-masing
nisan, diletakkan bunga berwarna putih.
Sepertinya itu adalah makam kakek-nenek,
bibi, dan ibu dari TÃa serta Pangeran Lucas. Bunga yang diletakkan terlihat
masih baru, dan area di sekitar makam pun dirawat dengan sangat baik. Pasti
penduduk Balread rajin datang berkunjung ke sini. Ini adalah bukti bahwa
keluarga Drefon sangat dicintai oleh rakyatnya.
Pangeran Lucas dan Lucretia secara
bergantian meletakkan bunga di depan nisan dan memanjatkan doa di bawah
pengawasan para Ksatria Kerajaan yang mengawal. Lalu di depan nisan terakhir,
keduanya berlutut tanpa peduli pakaian mereka menjadi kotor. Mereka menangkupkan
kedua tangan di depan dada, memejamkan mata, dan menundukkan kepala.
Nama yang terukir di nisan itu adalah
'Lutiana'. Makam ibu dari TÃa dan Pangeran Lucas.
Berdiri di belakang mereka yang sedang
berdoa, aku memutuskan untuk ikut memanjatkan doa mengikuti cara mereka. Di
sampingku, entah kenapa Merry juga ikut berdoa dengan cara yang sama. Yah,
kurasa tidak perlu dikomentari.
Aku menangkupkan tangan dan memejamkan
mata.
Kira-kira seperti apa sosok ibu TÃa dulu?
Anehnya, bayangan sosok wanita berambut putih panjang muncul di kepalaku.
Beliau pasti wanita yang mungil dan menggemaskan seperti TÃa, namun juga
memiliki kecerdasan seperti Pangeran Lucas.
--- Salam kenal, Nyonya Lutiana. Nama saya Hugh Pnosis, putra dari
Mike Pnosis, penguasa wilayah Pnosis. Saya bertemu TÃa di Akademi Kerajaan, dan
karena berbagai alasan, kami menjadi teman sekamar di asrama. Saya mencintai
senyum cerianya, tingkah lakunya yang menggemaskan, dan yang terpenting,
kebaikan hatinya yang telah menerima diriku apa adanya. Aku berjanji akan
membuat TÃa bahagia. Jadi, mohon tetaplah mengawasi TÃa selamanya.
Saat aku membuka mata, Lucretia dan
Pangeran Lucas baru saja berdiri dan berbalik.
Dalam perjalanan kembali menuju kereta
kuda, Lucretia berjalan tepat di sisi kiriku sambil mendongak menatapku dengan
senyuman.
"Terima kasih sudah menyapa Ibu,
Hugh."
"Tidak, aku yang berterima kasih.
Aku senang bisa memberi salam padanya."
TÃa-lah yang membujuk Pangeran Lucas
agar mengizinkanku ikut, padahal secara teknis aku adalah orang luar. Jika bukan karena kesempatan ini, aku
mungkin tidak akan pernah bisa berdoa di depan makam Nyonya Lutiana. Meskipun
hanya sepihak, aku lega bisa bersumpah untuk membahagiakan Lucretia di
depannya.
"Aku juga sudah mengenalkan Hugh ke
Ibu, lho. Mau dengar bagaimana cara aku mengenalkannya?"
TÃa melongok menatap wajahku dengan senyum
jahil di wajahnya. Jika aku mengiyakan, dia pasti akan menceritakan hal
memalukan yang bakal membuat wajahku merah padam.
"Se-setidaknya katakan padaku saat
kita cuma berdua saja..."
"Fufu. Baiklah, nanti kalau sudah
kembali ke akademi akan kuberitahu, ya?"
TÃa tersenyum puas, lalu secara sembunyi-sembunyi menumpukkan tangan kanannya di atas tangan kiriku.
Kami
saling mengaitkan jari, melakukan lover's hand-holding
agar tidak disadari orang-orang di sekitar.
Tepat setelah itu, embusan angin kencang bertiup melewati kami.
--- Heii!
"Kyaa!"
"Uwah!"
Refleks karena embusan angin kencang, kami
pun membungkuk dan melepaskan genggaman tangan satu sama lain.
Saat aku menoleh ke arah angin berlalu, ke
arah belakang... aku merasa seolah melihat seorang wanita berambut putih
panjang berdiri di sana sambil berkacak pinggang.
I-itu tadi apa...?
Sepertinya TÃa juga melihatnya, karena mata
biru tuanya terbelalak lebar.
"Ibu...?"
Ia bergumam lirih. Ternyata yang barusan
terlihat memang ibu Lucretia...
Beliau benar-benar wanita mungil dan jelita
yang sangat mirip dengan Lucretia. Wajahnya yang menggembungkan pipi persis
sekali dengan ekspresi yang biasa dibuat TÃa. Karena terlihat begitu jelas,
rasanya itu bukan sekadar ilusi.
...Beliau kelihatan marah ya, Nyonya
Lutiana.
Jika benar begitu, embusan angin tadi
mungkin saja untuk menegur tindakan gegabah kami.
"Oooii! Kalian berdua sedang apa desu
ka—? Kereta kudanya mau berangkat desu yo—?"
Merry memanggil kami dari dekat kereta.
Aku dan Lucretia saling bertatapan, menundukkan kepala sekali lagi ke arah
makam, lalu melangkah menuju kereta.
Tak perlu dikatakan lagi, karena merasa
sungkan, kami tidak bergandengan tangan lagi kali ini.



Post a Comment