Bab 10: Aku Senang Telah Mencintaimu
Tepat setelah raungan memekakkan telinga
terdengar dari arah Labirin Besar Drefon, persiapan pasukan dimulai dengan
terburu-buru di halaman kediaman keluarga Drefon.
Victim, yang mengawasi situasi tersebut
dari ruang kerja di lantai tiga, berbalik ke arah sosok yang duduk di sofa di
belakangnya.
"Benarkah Drefon telah bangkit
kembali...!?"
"Tentu saja. Kamu juga dengar raungan
raksasa tadi, kan? Itu adalah tanda kebangkitan Drefon. Saat ini, sepertinya
dia baru menetas dari telurnya dan sedang merasa sangat lapar."
"Kukuku. Aku merasa kasihan pada para
murid Akademi Kerajaan, tapi biarlah mereka menjadi pengisi perut Drefon."
Victim membuka matanya lebar-lebar dengan
senyum yang menyeringai kaku.
Melihat hal itu, pria berjubah itu tertawa
mengejek di dalam hatinya.
(Bodoh
sekali, benar-benar. Mau seberapa semangat pun kamu memakai zirah lengkap
begitu, mana mungkin kamu bisa mengalahkan Drefon.)
Baik Victim maupun para prajurit keluarga
Drefon yang sedang bersiap di halaman, sama sekali tidak terlihat memiliki
perlengkapan yang sanggup membasmi Drefon. Sepertinya mereka berniat membasmi
Drefon hanya dengan pedang dan busur.
(Mustahil,
mustahil. Dia itu terbang di langit, lho?)
Dulu saat Drefon terbang menyerang,
Kerajaan Leese di masa lalu tidak bisa menemukan cara menyerang yang efektif
dan hanya bisa pasrah diinjak-injak secara sepihak.
Pedang tidak bisa menjangkau Drefon yang
terbang tinggi, dan anak panah terpental oleh sisiknya yang keras. Banyak
prajurit dan petualang yang dengan berani menghadapi Drefon, namun semuanya
tewas tanpa bisa berbuat apa-apa.
Petualang yang menjadi leluhur keluarga
Drefon, dalam hal itu, mungkin adalah seorang pengecut. Dia tidak menghadapi Drefon secara
langsung, melainkan terus meneliti ekosistem Drefon secara mendalam. Lalu ia
menemukan sarang Drefon, dan memasang banyak jebakan saat naga itu sedang
pergi.
Hal itu memang tidak sampai melenyapkan
Drefon sepenuhnya, namun memberikan luka fatal yang membuat naga itu
membutuhkan waktu istirahat selama ratusan tahun.
(Tapi,
itu tidak sampai membunuh Drefon.)
Di arah pandangan pria itu, di atas
meja tamu, terletak sebuah bola yang memancarkan cahaya redup seperti bola
kristal. Gumpalan daging lembek yang berdenyut layaknya detak jantung di
dalamnya adalah Jantung Drefon. Selama jantung ini tidak hancur, Drefon akan
bangkit kembali berkali-kali. Memang begitulah ia diciptakan.
(Sebenarnya
aku ingin membiarkannya matang selama lima tahun lagi, tapi ya sudahlah. Mari
kita nantikan pertumbuhannya mulai sekarang.)
Membayangkan bencana yang akan dibawa
Drefon ke Kerajaan Leese dan seluruh benua, pria itu tersenyum puas. Sejak
awal, ia sama sekali tidak berniat membantu Victim.
Tanpa mengetahui hal itu, Victim terus
menanti-nanti momen di mana ia akan membasmi Drefon dan menjadi pahlawan baru
keluarga Drefon. Pria
berjubah itu terus menatap sosok malang yang konyol tersebut sambil
menyeringai.
...Saat itulah.
--- Pishh.
Sebuah suara asing terdengar di telinga
kedua pria itu. Pandangan mereka mengikuti sumber suara dan terpusat pada
Jantung Drefon yang terletak di meja.
Terlihat cangkang luar Jantung Drefon
mulai retak.
"…… Hah?"
Melihat pemandangan yang belum pernah
ia lihat, pria berjubah itu mengeluarkan suara kebingungan. Jantung Drefon yang
selama ratusan tahun sejak ia dapatkan tidak pernah tergores sedikit pun meski
diperlakukan kasar, kini pecah.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Tepat setelah keraguan itu muncul,
perubahan lebih lanjut terjadi. Retakan pada Jantung Drefon melebar dalam
sekejap, pecah menjadi dua, dan memperlihatkan gumpalan daging di dalamnya.
Gumpalan daging itu kemudian menghentikan detak jantung yang tadinya berdenyut
secara teratur, lalu mulai meleleh dan menghilang menjadi partikel cahaya.
"Hah……?"
Pria berjubah maupun Victim hanya bisa
terpaku melihat Jantung Drefon yang menghilang menjadi cahaya beserta
cangkangnya. Tak lama kemudian, Jantung Drefon musnah sepenuhnya.
"Apa yang... sedang
terjadi...?"
Pria berjubah tidak bisa menjawab pertanyaan Victim.
(Itu
kalimatku! Eh? Apa-apaan ini? Jantungnya
ke mana? Bohong kan...? Masa dia mati? Naga Hitam Drefon mati!?)
Naga Hitam Drefon tidak akan mati
selama jantungnya tidak hancur. Dengan musnahnya jantung yang krusial itu,
berarti itulah yang terjadi. Namun, hal ini benar-benar tidak masuk akal.
(Di
Kerajaan Leese saat ini tidak ada orang yang sanggup membunuh Drefon...
Kalaupun ada kemungkinan, paling hanya si "Sword Master", tapi dia
kan tidak ada di samping Lucas. Bukannya dia ditinggal di ibu kota?)
Mungkinkah Lucas benar-benar sudah
memprediksi kebangkitan Drefon dan datang kemari? Menjadikan dirinya sendiri
sebagai umpan untuk mengelabui mata pihak lawan, lalu secara rahasia mengirim
si "Sword Master" Roan Ashblade ke Labirin Besar Drefon untuk
membasmi Drefon tepat setelah bangkit...?
(Tidak,
mana mungkin hal seperti itu terjadi. Lagipula, Drefon lenyap sepenuhnya?
Seberapa kuat pun si "Sword Master" bisa mengalahkan Drefon,
jantungnya tidak akan ikut musnah sekaligus.)
"Hei! Aku bertanya apa yang sedang
terjadi! Jawab, apa yang terjadi dengan Naga Hitam Drefon!?"
"Bisik sekali. Bukankah lebih baik
kamu minum ini dan tenang sedikit?"
Pria berjubah mengambil sebuah botol
kecil dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah Victim. Victim menerimanya
dan tanpa ragu sedikit pun meminum habis cairan berwarna merah muda di dalam
botol tersebut.
Sesaat kemudian, pria berjubah menghela
napas sambil menatap Victim yang berguling-guling kesakitan.
"…… Tidak seru."
Entah apa alasannya, Naga Hitam Drefon
telah benar-benar musnah dari dunia ini. Bagaikan anak kecil yang mainan
favoritnya direbut, pria berjubah itu merengut gusar, bangkit dari sofa, lalu
dengan kesal menendang gumpalan daging (Victim) yang menggeliat di bawah
kakinya.
"Sialan, serius. Akhir-akhir ini
semuanya tidak ada yang berjalan lancar."
Jika ditelusuri kembali, apakah bermula
dari hancurnya organisasi perdagangan manusia yang ia gunakan untuk
mengumpulkan tumbal kebangkitan Drefon? Greed Lechery yang ia manfaatkan pun
berakhir dibereskan setelah ekornya tertangkap oleh Lucas.
Kardinal Malicious dan Orang Suci
Rosalie yang ia jadikan hiburan di waktu luang pun diganggu tepat di saat-saat
seru, sehingga ia tidak bisa melihat wajah putus asa si kakek tua yang karena
delusinya sendiri malah mengubah gadis yang ia sayangi seperti cucunya menjadi
monster.
Mengingat kembali urutan kejadiannya,
belakangan ini semuanya telah digagalkan oleh Lucas.
"…… Pangeran Ketiga Kerajaan Leese,
ya."
Ia tahu reputasi Lucas sebagai orang yang
cerdik, namun ia tidak menyangka hiburannya akan diganggu sejauh ini.
"Tadinya aku berniat mengajaknya
bermain nanti-nanti. Tapi ini malah jadi waktu yang tepat."
Memanipulasi orang lain, menyiksa mereka,
dan menikmati saat mereka terjerumus dalam keputusasaan.
Pria yang menjadikan hal itu sebagai
kegembiraan tertingginya itu membayangkan raut wajah Lucas yang diwarnai
keputusasaan, lalu menyeringai lebar dari balik tudungnya.
***
Sesaat setelah raungan terdengar dari arah
Labirin Besar Drefon, Lucas segera bertindak.
Ia menginstruksikan separuh dari pasukan
Ksatria Kerajaan yang dibawa sebagai pengawal untuk menuju Labirin Besar Drefon
demi memahami situasi dan memberikan bantuan, sementara ia sendiri memimpin
separuh sisanya menuju kediaman keluarga Drefon.
Dari dalam kereta kuda, Lucas mengamati
kediaman keluarga Drefon di kejauhan melalui penutup matanya dengan tenang.
(Api unggun penjagaan dinyalakan. Jumlah
prajurit yang berkumpul sekitar dua ratus orang...)
Jumlahnya terlalu lengkap untuk ukuran
pasukan yang baru dikumpulkan setelah raungan tadi terdengar. Keadaan ini
menunjukkan persiapan yang sangat matang, seolah-olah mereka telah disiagakan
sebelumnya untuk menghadapi sesuatu.
(Aku ingin percaya tidak terjadi hal buruk
pada Paman.)
Lucas memberikan penilaian tinggi terhadap
pamannya, Victim. Keluarga dan wilayah Drefon menderita kerusakan yang sangat
parah sebagai sumber awal wabah penyakit. Meskipun wilayah mereka dikurangi
drastis dan gelarnya diturunkan menjadi Viscount, Victim tetap mampu
mempertahankan eksistensi keluarga dan wilayah Drefon meski memikul aib yang
hampir menyerupai fitnah, dan itu ia lakukan dalam statusnya sebagai menantu
angkat.
Kemampuan politik dan kecakapannya dalam
pengelolaan wilayah benar-benar patut dipuji. Kedatangan Lucas ke wilayah
Drefon tanpa pemberitahuan sebelumnya adalah karena ia ingin melihat kondisi
wilayah Drefon yang sebenarnya dengan matanya sendiri. Ekspresi wajah penduduk,
pakaian yang mereka kenakan, serta tingkah laku mereka akan langsung
menunjukkan seberapa baik kepemimpinan penguasanya.
Ekspresi orang-orang di wilayah Drefon
tampak cerah. Pakaian mereka bersih, dan hampir tidak ada tunawisma di dalam
kota. Meskipun populasinya merosot tajam dan sebagian besar kota sempat hancur,
terlihat jelas bahwa bagian pusat kota telah mendapatkan kembali vitalitasnya,
dan kota tersebut sedang dalam proses dibangun kembali secara bertahap dari
pusat menuju pinggiran.
Entah ada berapa banyak bangsawan yang
mampu mengelola wilayahnya dengan sangat baik seperti ini. Lucas merasakan rasa hormat yang murni dan
tulus terhadap Victim. Ia berharap Victim bisa menggunakan kemampuannya di
panggung pemerintahan nasional sebagai tangan kanannya.
Keluarga asal ibunya—yang disebut sebagai
kerabat dari pihak ibu—dan terutama kepala keluarga Drefon yang telah dicap
buruk karena wabah. Mengangkat sosok seperti itu pasti akan mengundang kritik
keras. Tidak hanya dari kubu lawan, bahkan para bangsawan yang saat ini
mendukungnya mungkin akan berbalik memunggunginya.
Namun, Lucas benar-benar berpikir bahwa
Victim memiliki nilai yang sangat berharga untuk diberikan kepercayaan besar.
Lucas teringat ekspresi Victim yang tampak serba salah saat ia menyampaikan hal
tersebut pada jamuan makan siang beberapa hari lalu.
Apakah pada saat itu Victim sudah
memprediksi sesuatu yang sedang terjadi saat ini?
Saat Lucas sedang tenggelam dalam
pikirannya, pintu kereta kuda diketuk dari luar. Merry yang berada di dalam
kereta bersamanya membuka jendela, lalu ksatria pendamping memberikan laporan.
"Sepertinya terjadi keributan di
kediaman. Kami telah mengirim beberapa orang lebih dulu untuk menyelidiki
situasi."
"...Baiklah. Mari kita juga
bergegas."
Merasakan firasat buruk yang aneh, Lucas
memerintahkan untuk menambah kecepatan kereta kuda.
Tak lama kemudian, mereka tiba di kediaman
keluarga Drefon yang sedang dalam keadaan kacau. Para prajurit keluarga Drefon
berkumpul dengan raut wajah bingung, mengelilingi satu sudut di halaman tengah.
Begitu menyadari kedatangan Lucas, mereka membagi diri ke kiri dan ke kanan,
lalu berlutut sambil menundukkan kepala.
Di ujung jalan yang terbentuk dari barisan
prajurit itu, terlihat noda merah kehitaman yang melebar di atas rumput.
Pemandangan itu adalah sesuatu yang tidak asing bagi Lucas.
"Bisakah kau jelaskan
situasinya?"
Mendengar
pertanyaan Lucas, ksatria dengan skill Appraisal (Penilaian) yang berada di dekatnya memberi
hormat dan menjawab.
"Siap! Tampaknya seekor monster yang
menyerupai monyet tiba-tiba muncul dari dalam kediaman. Jumlahnya satu ekor.
Monster tersebut telah dibasmi, dan mayatnya lenyap seperti meleleh."
"............Begitu ya."
Lucas mendongak dan melihat sebuah lubang
besar menganga pada dinding di lantai tiga kediaman tersebut. Kemungkinan besar
monster itu muncul dari sana.
(Monster... entahlah apakah tepat
menyebutnya begitu.)
Mayat monster biasa tidak akan meleleh
menjadi noda seperti itu. Itu adalah fenomena yang bisa terjadi jika seseorang
berubah menjadi monster akibat obat tersebut. Fakta bahwa noda itu ada di depan
matanya berarti ada seseorang di dalam kediaman yang dipaksa meminum obat
berwarna merah muda tersebut oleh pihak tertentu.
Siapa yang meminumnya, dan siapa yang
memaksanya?
"...Di mana Paman?"
"Menurut laporan, beliau sedang berada
di dalam kediaman untuk mempersiapkan keberangkatan pasukan."
"...Baiklah. Perintahkan para prajurit
untuk memperketat penjagaan di sekitar kediaman. Katakan pada mereka untuk
tidak melepaskan siapa pun yang terlihat mencurigakan."
"Siap!"
Instruksi Lucas segera dilaksanakan
dengan cepat. Para prajurit yang dikumpulkan oleh Victim mulai bertindak
mengikuti komando Ksatria Kerajaan. Dari kepatuhan mereka, Lucas menyimpulkan
bahwa setidaknya para prajurit ini tidak dikumpulkan untuk mengincarnya.
Lucas memasuki kediaman dengan
didampingi beberapa ksatria. Di dalam rumah, para pelayan berlarian dengan
wajah pucat sambil meneriakkan nama Victim. Lucas menghentikan salah satu dari
mereka untuk bertanya, dan ternyata monster itu muncul di ruang kerja Victim.
Saat para pelayan bergegas ke sana, sosok Victim sudah tidak ada, dan mereka
sedang mencarinya dengan dugaan bahwa beliau mungkin bersembunyi di suatu
tempat di dalam kediaman.
Lucas memerintahkan para pelayan untuk
keluar dari kediaman, sementara ia sendiri menuju ruang kerja Victim bersama
para ksatria dan Merry.
Kondisi di dalam ruang kerja tampak
mengerikan; sofa-sofa tercabik, rak dan meja terguling berantakan. Untungnya
alat sihir digunakan sebagai pencahayaan sehingga tidak terjadi kebakaran.
Melalui lubang besar di dinding, pemandangan ke arah luar terlihat jelas.
Setelah diperiksa oleh para ksatria, sosok Victim tidak ditemukan di mana pun
di dalam ruangan. Beliau juga tidak tertimbun di bawah rak yang tumbang.
"Menurut pelayan, Viscount Drefon
sedang menemui seorang tamu di ruangan ini tepat sebelum monster itu
muncul."
"Apakah ciri-ciri tamu tersebut
diketahui?"
"Katanya seorang pria jangkung yang
mengenakan jubah berwarna hijau tua. Apakah kami harus melakukan
pencarian?"
"...Tidak, sudah terlambat."
Pria berjubah itu hampir pasti adalah orang
yang sama dengan yang melakukan kontak dengan Lechery dan Malicious.
Berdasarkan pola tindakan sebelumnya, ia pasti sudah melarikan diri dari
kediaman di tengah kekacauan yang disebabkan oleh monster tersebut. Melakukan
pencarian dengan personel yang ada sekarang hanya akan membuang-buang waktu.
Namun, ia tidak bisa lagi membiarkan hal
ini terus berlanjut.
(Kemungkinan besar Paman telah diubah
menjadi monster oleh obat tersebut. Membalaskan dendam Paman... bukanlah
gayaku. Tapi, setidaknya biarlah ia menerima ganjaran karena telah mengganggu
urusanku.)
Lucas mengepalkan tinjunya perlahan, lalu
memerintahkan para ksatria dan Merry untuk menggeledah ruang kerja tersebut.
Tujuannya adalah mencari petunjuk mengenai alasan pria berjubah itu atau Victim
mengumpulkan pasukan.
Dan petunjuk itu ditemukan lebih cepat dari
perkiraan.
Sebuah laci rahasia yang tersembunyi pada
meja kerja yang terguling. Sepertinya mekanisme rahasianya rusak akibat
guncangan saat meja itu jatuh, sehingga memperlihatkan sebuah buku yang
tersembunyi di dalamnya.
"Sepertinya ini buku harian
desu?" tanya Merry sambil menyerahkan buku itu kepada Lucas.
Lucas membalik halamannya dan mengangguk,
"Tampaknya begitu."
Bagian awal buku itu berisi catatan harian
biasa yang tidak ada yang istimewa. Catatan itu dimulai sejak tahun lalu,
mencatat rincian pekerjaan harian, interaksi kecil dengan pelayan kediaman,
serta komunikasi dengan penduduk wilayah.
Perubahan mulai terlihat pada catatan
sekitar setengah tahun yang lalu. Dimulai dari catatan tentang kunjungan
seorang pedagang berjubah hijau tua, isi buku harian itu berubah drastis
seolah-olah ditulis oleh orang yang berbeda.
Sejak saat itu, catatan tersebut dipenuhi
oleh dendam terhadap keluarga kerajaan yang tertulis layaknya sebuah kutukan.
Mungkin itu adalah gejolak emosi yang selama ini dipendam oleh Victim di dalam
hatinya tanpa pernah ia tuliskan bahkan dalam catatan pribadi.
Kemarahan terhadap ketidakadilan wabah yang
tidak terelakkan, serta rasa kecewa dan putus asa karena permintaannya akan
bantuan kepada keluarga kerajaan diabaikan dan malah dibebani tanggung jawab.
Penderitaan harian karena terus-menerus dicemooh dengan sebutan Kutukan Drefon
dan dicap buruk.
Perasaan yang seharusnya mampu ditekan oleh
Victim meledak tanpa kendali seiring dengan kemunculan pria berjubah tersebut.
Pada akhirnya, hal itu berkembang menjadi rencana mengerikan untuk menculik
orang-orang tidak berdosa di ibu kota demi mengumpulkan darah segar untuk
membangkitkan Naga Hitam Drefon.
"...Paman."
Victim telah dimanfaatkan oleh pria
berjubah itu. Dalam rencana tersebut tertulis bahwa Naga Hitam akan dibasmi
oleh Victim dengan cara menghancurkan jantungnya sebagai sandiwara, namun tidak
ada jaminan pria berjubah itu akan bertindak sesuai rencana. Sebaliknya, harus
diasumsikan bahwa tujuan pria itu adalah benar-benar membangkitkan Naga Hitam.
Victim kemungkinan besar menyadari hal
itu. Meskipun ia
menyadarinya, ia tidak mampu melawan.
'Aku
kemungkinan besar akan mati. Catatan
ini adalah bentuk perlawanan terakhirku.'
Kalimat terakhir yang tertulis dalam
catatan tersebut menceritakan jati diri seorang Victim Drefon yang sebenarnya.
(Aku tidak akan membiarkan kematianmu
sia-sia, Paman.)
Lucas menutup catatan tersebut dan
menyimpannya baik-baik di balik bajunya, lalu memberikan instruksi kepada
ksatria di sekitarnya dan Merry.
"Kita menuju Labirin Besar Drefon.
Kumpulkan para prajurit."
Jika seluruh isi buku harian itu benar,
maka raungan yang terdengar tadi pastilah milik Naga Hitam Drefon yang telah
bangkit kembali.
(Jika Naga Hitam yang melegenda itu
benar-benar bangkit, Kerajaan Leese tidak akan bisa menghindari kerusakan
besar. Sekarang, aku hanya bisa berdoa semoga Hugh bisa membereskan ini...)
Lucas menatap pegunungan di balik
lubang besar tersebut dengan perasaan pasrah. Di langit malam yang tanpa awan,
bulan bulat menggantung dengan tenang, sementara bintang-bintang kecil
berkilauan layaknya taburan gula halus.
***
Tindakan Alyssa sangat cepat begitu
mendengar raungan yang bergema dari dalam Labirin Besar Drefon.
Ia
segera mengumpulkan seluruh murid Kelas 1-A Akademi Kerajaan yang sedang
berkemah dan mengevakuasi mereka ke atas tebing di pintu masuk dungeon. Sementara itu, ia sendiri bersama asisten
pengajar sekaligus juniornya, Cicely, serta para petualang pendamping, menyusun
formasi pertahanan tepat di depan mulut gua.
Mereka menyambut gerombolan monster
yang berhamburan keluar karena terkejut oleh raungan itu dengan kesiapan penuh.
Serangan pertama yang menghantam
monster-monster yang meluap keluar adalah hujan batu dari arah atas. Alyssa
telah menginstruksikan para murid di atas tebing untuk mengumpulkan batu dan
melemparkannya ke bawah. Bahkan siswi yang biasanya tidak pernah memegang
pedang pun bisa menjadi kekuatan tempur yang lumayan hanya dengan menjatuhkan
batu dari ketinggian tertentu. Terlebih lagi, mereka adalah elit yang lulus
dengan nilai tinggi di Akademi Kerajaan dan sudah memiliki pengalaman bertarung
selama kompetisi antar kelas maupun latihan ini.
Bukan
hanya lemparan batu, berbagai skill seperti api
dan air pun menghujani dari atas, efektif mengurangi jumlah musuh. Namun,
jumlah monster yang keluar dari dungeon benar-benar
tidak wajar. Monster tipe raptor yang berhasil
menembus barisan lemparan batu dan tembakan skill mulai menyerbu
ke arah Alyssa dan timnya.
"Astaga. Tolong hargai posisiku
yang harus membereskan kekacauan ini—ssu, benar-benar deh."
"Membereskan kekacauan?"
tanya Cicely.
"Cuma bicara sendiri—ssu,
Cicely-chan. Lebih penting lagi, kau sudah jadi Ksatria Suci yang lembek, tapi
kemampuanmu tidak tumpul, kan—ssu?"
"Tentu saja. Ilmu pedang yang Anda
tanamkan padaku tidak akan berkarat semudah itu, Senior."
"Begitu ya. Kata-katamu cukup
menyenangkan untuk didengar—ssu."
Alyssa tersenyum lebar sambil dengan
lincah menghindari terjangan monster, lalu menebas lehernya dalam satu gerakan
saat mereka berpapasan. Cicely pun, dengan postur pedang yang sangat mirip
dengan Alyssa, menghabisi monster yang datang menyerbu dengan pasti.
(Senior benar-benar luar biasa...!)
Cicely menahan napas kagum melihat
Alyssa yang mengayunkan pedang seolah-olah sedang menari di sudut matanya.
Teknik pedang Alyssa yang ia lihat setelah sekian lama ternyata jauh lebih
tajam dibandingkan saat mereka masih di Akademi Kerajaan dulu. Kekuatan Alyssa
terletak pada ilmu pedang yang bebas dan tak terduga, namun di sisi lain
memiliki gerakan yang sangat halus. Meski terlihat mengayunkan pedang secara
asal, gerakan itu sebenarnya adalah hasil dari latihan pengulangan yang tak
terhitung jumlahnya.
Di antara para Ksatria Suci memang
banyak pendekar pedang yang kuat. Namun, Cicely berani menjamin bahwa Alyssa
adalah pendekar pedang terkuat yang pernah ia temui. Ia pun menjaga jarak agar
tidak menghalangi Alyssa, dan beralih ke gerakan untuk memastikan monster yang
terlewat oleh seniornya itu benar-benar tewas.
Petualang
lainnya pun mengubah cara bertarung mereka mengikuti irama Cicely. Alyssa yang
bertarung bagaikan singa yang mengamuk, didukung oleh Cicely dan para
petualang, membuat jumlah monster yang meluap keluar dari dungeon berkurang secara stabil.
Tepat saat tumpukan mayat monster mulai
meninggi di beberapa titik, tiba-tiba jumlah monster yang keluar berkurang
drastis. Alyssa, sambil menyeka darah di pedangnya, memiringkan kepala dengan
heran.
"Aneh—ssu ya. Rasanya mustahil kalau cuma segini
saja."
Monster yang keluar paling hanya
sekitar seratus ekor. Mengingat skala Labirin Besar Drefon, tidak aneh jika
masih ada lima kali lipat jumlah itu yang tersisa.
Mendengar perkataan Alyssa yang
mengisyaratkan serangan lanjutan, Cicely dan para petualang memasang wajah
pucat seolah ingin muntah. Namun, Alyssa justru menengadah ke langit dengan
wajah segar tanpa terlihat lelah sedikit pun. Langit malam yang cerah tanpa
awan dengan bulan dan bintang yang bersinar indah terlihat begitu damai.
"Cicely-chan, raungan yang tadi
itu tidak terdengar lagi sejak saat itu, kan—ssu?"
"I-iya. Seharusnya begitu."
"...Kalau begitu, mungkinkah
terjadi sesuatu yang luar biasa—ssu?"
Alyssa
tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke pintu masuk dungeon. Saat itulah, terlihat bayangan yang bergerak
dari dalam kegelapan labirin.
Alyssa
memberi isyarat tangan agar Cicely dan para petualang menurunkan senjata
mereka. Yang keluar dari dungeon ternyata
adalah Idiot, Lily, dan yang lainnya. Wajah mereka semua tampak sangat kuyu dan
lelah, bahkan Lily memiliki mata yang bengkak dan merah karena menangis.
"Lecty! Nona Lily dan Tuan Muda
Idiot juga! Syukurlah kalian selamat desu wa!"
Rosalie yang sedang mengungsi di atas
tebing berseru senang melihat mereka. Namun tak
lama kemudian, ekspresinya menegang saat ia bertanya pada Idiot dan yang lain.
"Apakah Tuan Muda Lugh dan Hugh-sama
tidak bersama kalian...?"
Sosok Hugh
dan Lugh yang seharusnya ikut masuk ke dalam dungeon tidak ada di
sana. Menanggapi pertanyaan Rosalie, mereka tidak bisa langsung menjawab.
Mereka tertunduk dan menggigit bibir rapat-rapat. Di tengah suasana itu, Lily berlari dan
memegang erat baju Alyssa sambil meneteskan air mata.
"Alyssa-sensei! Hugh dan...
Lugh!"
Dengan suara
yang terputus-putis karena terguncang, Lily melaporkan kejadian di dalam dungeon kepada Alyssa. Tentang bagaimana saat mereka
berkemah di lantai lima, raungan dahsyat meruntuhkan lubang raksasa dan
menyeret Hugh serta Lugh jatuh ke bawah. Juga tentang kekhawatiran akan
munculnya monster kuat di kedalaman yang bisa memicu Monster
Parade.
Alyssa melirik ke arah Ryuu dan Tina.
Mereka berdua memasang ekspresi putus asa seolah dunia akan berakhir.
(Aah... sepertinya ini benar-benar di luar
dugaan mereka—ssu...)
Berdasarkan
cerita yang ia dengar dari mereka sebelumnya, rencana mereka adalah memandu
Hugh menuju bagian terdalam dungeon tempat Naga
Hitam Drefon tertidur untuk membasminya sebelum naga itu bangkit kembali dan
menghancurkan Kerajaan Leese beberapa tahun ke depan.
(Sepertinya Drefon bangkit lebih cepat dari
sejarah yang mereka ketahui—ssu ya.)
Setelah memahami situasinya, Alyssa
bertanya pada Lily yang memohon agar mereka segera menyelamatkan keduanya.
"Kalau begitu, pertama-tama kita harus
memastikan keselamatan mereka dulu, kan—ssu, Nona Lily?"
"I-itu..."
"Kau tidak akan bilang 'takut' dan
merengek seperti anak kecil, kan—ssu? Kalau posisinya tidak diketahui, kita
tidak bisa pergi menolong Tuan Muda Hugh dan Tuan Muda Lugh, lho—ssu?"
"...Kh."
Lily membelalak dan terbungkam. Alyssa sadar ia bicara dengan nada yang
keras. Namun, ia tidak bisa membiarkan timnya berlarian membabi buta di Labirin
Besar Drefon yang luas demi mencari orang yang belum jelas nasibnya.
Terlebih lagi, Alyssa adalah ksatria milik
Lucas. Meskipun adik dari tuannya sedang dalam bahaya, nyawa Lucas adalah
prioritas utama yang harus dilindungi. Walaupun ia mungkin akan memikul
tanggung jawab berat nantinya, ia harus mengutamakan kepulangan Lucas dengan
selamat ke ibu kota.
(Aku benar-benar mengandalkanmu—ssu,
Nak...!)
Karena Alyssa sendiri tidak ingin mati
demi mempertanggungjawabkan kegagalan ini, di dalam hati ia berdoa sekuat
tenaga agar Hugh berhasil melindungi Lucretia.
Lily
tampak ragu dan takut untuk menggunakan skill-nya. Ia
berjongkok dan memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar. Melihat itu, Lecty segera
menghampiri dan memeluk erat tubuh Lily.
"Tidak apa-apa, Lily-chan."
"Lecty...?"
"Seperti saat dia menolong kita,
Hugh-san pasti akan menyelamatkan Lugh-san! Jadi, mari kita percaya pada
Hugh-san!"
Mendapat dukungan dari Lecty, tubuh Lily
yang kaku perlahan mulai rileks dan ia menyandarkan diri pada Lecty.
"...Iya, kau benar. Terima kasih,
Lecty."
Sambil menempelkan dahi pada dahi Lecty,
Lily memejamkan mata dan mengaktifkan kemampuannya.
"Skill:
[Strategist] (Ahli Strategi)."
Di bawah
pengawasan Alyssa, Lecty, dan yang lainnya, Lily mencari sinyal keberadaan Hugh
dan Lugh melalui skill-nya. Beberapa detik kemudian,
Lily membuka matanya dengan terkejut.
"Ketemu. Mereka berdua selamat!"
Semua orang yang sedari tadi menahan napas
langsung mengembuskan napas lega. Idiot mengepalkan tinjunya dengan tenang,
sementara Lecty berseru "Syukurlah...!" dengan air mata yang mulai
mengalir dari mata ungunya.
"Bagaimana dengan Naga Hitam!?"
Di tengah kegembiraan itu, suara Ryuu
terdengar lantang.
"Apakah tidak ada respons dari Naga
Hitam!?"
"Naga Hitam...? Tidak, aku tidak merasakan respons apa
pun yang seperti itu..."
"...Kh! Begitu ya, dia berhasil
melakukannya...! Dengan ini semua orang juga...!"
"Kak Lugh...!"
Ryuu menutupi wajahnya dengan kedua
tangan, berlutut, dan bahunya bergetar pelan. Tina segera mendekat dan memeluk
kakaknya itu dengan lembut.
Di tengah haru itu, Alyssa bertepuk tangan
dengan keras sekali.
"Ya—,
perhatian semuanya. Masih terlalu dini untuk merayakannya, tahu—ssu? Tuan Muda
Hugh dan Tuan Muda Lugh masih berada jauh di kedalaman dungeon, lho—ssu? Situasinya masih belum bisa dibilang
aman sepenuhnya—ssu."
"Mu... Benar juga. Mari kita segera
pergi menolong mereka!"
Atas
seruan Idiot, Lecty dan Ryuu mengangguk dan hendak berdiri. Alyssa pun
bermaksud menyerahkan penjagaan di tempat ini kepada Cicely dan bersiap masuk
ke dalam dungeon, namun...
"Tidak... sepertinya itu tidak
perlu dilakukan."
Lily tersenyum sambil menyeka sisa air
matanya.
Di arah pandangannya, nun jauh di
langit malam, bulan bulat yang sempurna memancarkan cahaya pucat yang begitu
tenang.
***
"Hugh Pnosis. Skill-mu adalah [Saint] (Orang
Suci)."
Aku menatap kristal ungu muda
yang ditemukan TÃa dari kedalaman gua. Sambil memandangi pantulan wajahku di
sana, aku mengaktifkan skill [Brainwashing]. Begitu merasakan sensasi kekuatanku
berganti, aku mengembuskan napas lega.
A-aman... Untunglah sempat sebelum aku
kehilangan kesadaran karena terlalu banyak pendarahan.
"[Heal]."
Sambil merapal mantra untuk menyembuhkan
luka-lukaku, aku teringat kejadian setelah Naga Hitam itu lenyap.
Tadi aku
memang berhasil membatalkan [Brainwashing]
dengan melihat pantulan diriku di mata TÃa, tapi ketika aku mencoba menggunakan
cara yang sama untuk memasang skill baru ke diriku
sendiri, ternyata tidak berhasil. Sepertinya sistem skill
[Brainwashing] menganggap itu sebagai kontak mata
dengan TÃa, sehingga sesering apa pun aku mencoba, malah TÃa yang terkena
"cuci otak", bukan aku.
Padahal akan
sangat praktis jika aku bisa mengganti skill orang lain
sesuka hati, tapi eksperimenku pada Lily dan Rosalie membuktikan itu mustahil. Skill [Brainwashing]-ku
ini benar-benar tidak fleksibel di saat-saat darurat.
Karena sudah tidak bisa melakukan
apa-apa sendirian, aku meminta TÃa bertaruh pada keberuntungan untuk mencari
benda apa pun yang bisa menggantikan cermin. Menemukan kristal ini benar-benar
sebuah mukjizat... Jika tidak, aku pasti sudah mati mengenaskan di sini.
"Hugh!"
TÃa, yang sedari tadi memperhatikan
lukaku sembuh, langsung menerjang dan memelukku karena tidak tahan lagi.
"Syukurlah! Syukurlah, ya
ampun!"
"Guekh... Ma-maaf sudah membuatmu cemas, TÃa."
Bahuku masih terasa sangat sakit
karena proses penyembuhan belum selesai sepenuhnya, tapi aku memaksakan diri
untuk mendekap tubuh mungil TÃa. Aroma manis yang mirip bunga Kinmokusei dan kehangatannya yang lembut seolah
membalut jiwa dan ragaku.
TÃa sampai hampir menangis melihat lukaku
saat ia pergi mencari pengganti cermin tadi. Melihatku sembuh, ia pasti merasa
lega sekaligus tidak bisa lagi membendung emosinya.
"Terima kasih, TÃa."
"Aku yang seharusnya berterima kasih
karena Hugh sudah melindungiku."
Selama proses penyembuhan, kami terus
berpelukan seolah ingin memastikan kehangatan satu sama lain. Aku tidak bisa
menahan diri untuk berharap agar kebahagiaan ini bertahan selamanya.
...Tapi yah,
kami tidak bisa terus-menerus bersantai menikmati kebahagiaan di dasar dungeon yang gelap ini. Meski Naga Hitam sudah lenyap,
tidak ada jaminan monster lain tidak akan menyerang.
Setelah memastikan luka-lukaku sembuh dan
lengan kanan serta kaki kiriku bisa digerakkan kembali, aku berdiri perlahan
dengan bantuan TÃa.
"Bisa berdiri?"
"Iya, tidak masalah."
Kepalaku sedikit pening, mungkin karena
kehilangan banyak darah, tapi masih dalam batas wajar. Rasa sakit di mataku
sudah hampir hilang, dan nyeri di bahu serta kaki sudah lenyap sepenuhnya.
"Hebat
ya, skill Hugh. Bisa menyembuhkan luka seperti Lecty."
"Yah,
karena aku menggantinya ke skill yang sama
dengan Lecty. Tapi, skill [Brainwashing] itu
sendiri tetaplah kekuatan yang berbahaya."
Kekuatan
curang yang bisa mengganti skill sesuka hati
ditambah kemampuan mendominasi dan mengendalikan orang lain sesuai keinginan. Meski penggunaannya agak merepotkan,
kekuatan ini bisa disalahgunakan sepuasnya jika mau. Kekuatan seperti ini
seharusnya memang tidak boleh ada di dunia.
Mendengar perkataanku, TÃa menggembungkan
pipinya dengan wajah tidak senang.
Anu... apa aku salah bicara?
"Sudah kubilang aku tidak akan
memaafkanmu!"
"Eh, bukannya itu karena aku berbohong
tadi?"
"Itu
juga, tapi aku rasa Hugh harus lebih memercayai diri sendiri! Mungkin skill [Brainwashing] itu
berbahaya, tapi bukankah itu berlaku untuk semua skill?"
"Itu tidak mungkin..."
"Semua
tergantung cara pakainya! [Pyrokinesis] bisa
dipakai untuk membakar orang atau membakar rumah, dan [Strategist] bisa dipakai untuk jadi penguntit
sepuasnya."
"Benar-benar tergantung cara pakainya
ya..."
Kalau Lily
dengar, dia pasti akan marah dan bilang, "Mana mungkin aku
memakainya untuk hal seperti itu!?". Aku pun mungkin akan
tersinggung jika itu bukan perumpamaan dari TÃa.
...Ah, begitu ya. Jadi karena itu TÃa
marah.
"Hugh
yang sangat kucintai tidak akan mungkin menyalahgunakan skill [Brainwashing]!"
Yang
terpancar dari TÃa adalah kepercayaan murni seratus persen. Baginya, aku tidak
akan pernah berbuat jahat dengan kekuatan itu. Karena itu, menghina skill [Brainwashing] sama
saja dengan menghinaku di mata TÃa.
...Begitu
rupanya. Begitu juga dengan yang lain. Lily, Lecty, bahkan Idiot. Mereka bukan
menerima skill [Brainwashing]-ku,
tapi mereka menerima diriku sebagai manusia.
Sejak
menerima skill ini dari Tuhan, aku hanya merasa kebingungan.
Sejujurnya, bukan berarti aku tidak pernah terpikir untuk menyalahgunakannya.
Tapi setiap kali dorongan itu muncul, aku menekannya dengan akal sehat. Aku
terus meyakinkan diri bahwa karena aku memiliki kekuatan sejahat ini, aku harus
hidup dengan lebih jujur dan tulus.
Lewat
kata-kata TÃa, usaha itu rasanya terbayar lunas. Aku merasa baru sekarang aku
bisa menerima keberadaanku sendiri sebagai pemilik skill [Brainwashing].
"Terima kasih, TÃa."
Tanpa sadar, air mata mulai menetes
membasahi pipiku. Duh, payah sekali aku, malah menangis di depan gadis yang
kusukai...!
"Ehe-he. Sama-sama!"
TÃa tersenyum lembut melihatku menyeka air
mata dengan lengan baju. Ia mencoba mengusap kepalaku, tapi karena tidak
sampai, ia berjinjit. Aku pun bertekuk lutut agar ia bisa melakukannya dengan
mudah.
Di jari
manis tangan kanan TÃa yang sedang mengusap kepalaku dengan lembut, melingkar
cincin bertahtakan batu iolite kecil. Aku
benar-benar terlihat tidak keren dan memalukan ya. Tapi, TÃa yang menerima
diriku yang seperti ini benar-benar terasa sangat berharga dan kucintai. Aku
harus menahan sekuat tenaga keinginan untuk memeluk dan menciumnya sekarang.
Pria yang merengek minta cium sambil menangis itu pasti terlihat sangat
menjijikkan.
Setelah
ditenangkan oleh TÃa selama beberapa saat dan kembali tenang, aku memutuskan
untuk kembali ke lubang raksasa tempat kami jatuh tadi. Karena lubang itu
gelap, aku mengganti skill menjadi [Levitate] lebih dulu. Tadi memang mustahil dengan satu
kaki, tapi dengan dua kaki dan lompatan penuh, aku pasti bisa mencapai
ketinggian tempat kami jatuh meski sambil menggendong TÃa.
Aku
menggendong TÃa ala bridal style, lalu menendang tanah
sekuat tenaga untuk melompat. Tubuh kami melambung ringan ke udara, terus naik
ke atas. Seiring dengan naiknya kami dari dasar lubang yang gelap gulita,
suasana di sekitar perlahan mulai terang.
Awalnya kupikir kami akan kembali ke tempat
berkemah tadi, tapi karena tubuh kami terus naik perlahan seperti balon helium,
sepertinya kami akan melampaui ketinggian tebing tempat perkemahan itu.
"Hei, Hugh. Bagaimana kalau kita
langsung keluar saja?"
"Ke luar?"
"Aku ingin melihat apakah bulannya
terlihat indah dari luar. ...Boleh?"
Mana mungkin aku bisa menolak permintaan
TÃa yang memiringkan kepalanya dengan imut begitu.
"Pegang erat-erat, ya?"
"Ehm!"
TÃa
mencengkeram erat kemejaku dan menyandarkan kepalanya di leherku. Rambut
peraknya yang halus menyentuh pipiku, terasa menggelitik. Aroma manis mirip
bunga Kinmokusei membuat kepalaku terasa pening karena
bahagia. Aku mendekap tubuh mungilnya erat-erat agar tidak terjatuh sambil
terus membubung ke atas. Karena momentum kenaikannya sudah melambat, begitu
keluar dari lubang, kami pasti akan mulai turun lagi.
Udara dingin
yang menyesakkan dari dalam dungeon berubah
menjadi udara malam musim panas yang hangat dan nyaman. Di bawah siraman cahaya
bulan, kami melambung tinggi menuju langit yang penuh bintang.
"Wah...!"
Bulan besar yang menggantung di langit
malam terasa sangat dekat, seolah bisa disentuh jika menjulurkan tangan. TÃa
berseru kagum sambil menjulurkan tangannya, mata biru tuanya berkilau indah
memantulkan cahaya bulan.
Saat aku terpaku menatap profil wajahnya,
TÃa menoleh dan tersenyum padaku karena menyadari tatapanku.
"Indah sekali ya, Hugh!"
"Iya, benar."
Tadinya aku
ingin bilang, "Kau jauh lebih indah", tapi aku menahannya.
Kalimat itu terasa terlalu memalukan dan berlebihan. Tapi, aku sangat ingin
mengungkapkan perasaan yang meluap-luap ini ke dalam kata-kata.
"TÃa, aku mencintaimu. Aku benar-benar
bersyukur bisa bertemu denganmu."
"Fufu. Aku juga! Aku merasa sangat
bahagia sekarang karena bisa bertemu Hugh!"
Kami saling mendekatkan wajah secara alami,
lalu perlahan menyatukan bibir kami di bawah naungan cahaya bulan.



Post a Comment