NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 3 Prolog

Prolog: Setelah itu, Aku Tidur Nyenyak Sekali


"Ibu..."

Mimpi burukku selalu dimulai dengan hari-hari bahagia bersama Ibu.

Rambut putih murni Ibu yang panjangnya mencapai pinggang terasa sehalus sutra, dan setiap kali aku memeluk punggungnya erat-erat, selalu tercium aroma manis seperti bunga.

"Fufu, Tía manja sekali ya."

Ibu tersenyum lembut, lalu menggendong tubuh kecilku dan mendudukkanku di pangkuannya.

"Sedang buat apa?"

"Belakangan ini udara mulai dingin, kan? Ibu pikir ingin membuatkan syal untuk Lugh."

"Syal untuk Kak Lugh!? Aku juga mau buat!"

"Eh? Bukankah itu masih sulit untuk Tía?"

"Muuu—! Tía juga bisa kok! Tía mau buat syal untuk Kak Lugh!"

"Iya, iya. Kalau begitu, mohon bantuannya ya?"

"Ehm!"

Ibu mengangkat bahunya—gestur yang sering dilakukan Kak Lugh—lalu mengajariku cara membuat syal.

Syal waktu itu, yah... hasilnya jadi seperti potongan kain rombeng, tapi sampai sekarang masih kusimpan sebagai barang kenangan berharga bersama Ibu. Tanpa memberikannya kepada Kak Lugh...

"Uhuk, uhuk."

Di atas kepalaku, Ibu terbatuk. Sejak saat itu kondisi kesehatan Ibu terus memburuk, dan seiring syal itu selesai, penyakitnya pun semakin parah.

Seolah-olah syal itu tumbuh dengan menghisap nyawa Ibu.

Tepat saat itulah, wabah penyakit mulai menyebar di ibu kota kerajaan.

Aku dan Ibu diisolasi dari istana belakang dan dimasukkan ke dalam ruangan kecil di atas menara lancip. Itu karena para selir lain dan kaum bangsawan mulai ribut menuduh Ibu terjangkit wabah tersebut.

Ruangan di menara itu dingin. Suara angin yang menghantam jendela terus terdengar hingga aku tidak bisa tidur di malam hari. Kondisi Ibu memburuk dari hari ke hari, dan meskipun aku yang masih kecil ini berusaha keras merawatnya, aku tidak tahu harus berbuat apa... Aku hanya bisa menggenggam tangan Ibu...

"Tía..."

Suara Ibu yang memanggilku terdengar serak.

Kesadarannya mulai kabur, dan matanya hampir tidak bisa melihat lagi. Ibu menggerakkan tangannya yang sudah seperti ranting kering, meraba-raba untuk memastikan bentuk kepala dan pipiku.

"Lucretia... sayangku... tolong... berbahagialah..."

"Ibu...? Jangan... jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri...!"

Ibu tersenyum tampak bahagia. Setelah itu, beliau tidak bergerak sama sekali dan tubuhnya mulai mendingin. Aku hanya bisa menangis dan berteriak.

"Jangan pergi ke mana pun...! Jangan tinggalkan aku...!"

Berapa kali pun aku mengguncangnya, Ibu tidak bangun. Meski aku berteriak, Ibu tidak memelukku. Tubuh Ibu perlahan-lahan menjadi dingin.

Tidak, Ibu. Jangan mati! Jangan tinggalkan aku sendiri! Ibuuu!

"Lugh!"

Tanpa sadar aku menggenggam tangannya dan memanggil namanya. Jarum pendek jam menunjuk ke arah angka tiga. Aku terbangun di tengah malam karena mendengar suara Lugh yang tidur di ranjangku.

Mimpinya kali ini terlihat lebih buruk daripada yang pernah kusaksikan sebelumnya.

Butiran keringat besar membasahi dahinya, membuat poni rambutnya menempel. Meski begitu, wajahnya pucat pasi seolah darah telah terkuras habis, dan Lugh menggapai-gapaikan kedua tangannya dengan putus asa seolah sedang menderita dalam sesak.

Sepertinya aku harus membangunkan dia.

"Lugh...!"

"—! ...Hugh?"

Aku menyalakan lampu kamar dengan alat sihir. Setelah aku mengguncang bahunya dan memanggil namanya, Lugh membuka mata. Sepasang mata biru tua itu memantulkan wajahku.

"Eh... aku..."

Napas Lugh terengah-engah seperti baru saja melakukan olahraga berat.

Lugh menyibakkan selimut dan perlahan bangkit duduk.

Baju tidur negligee-nya basah oleh keringat dan menempel di kulit, hingga samar-samar memperlihatkan warna kulit di baliknya.

Aku segera memalingkan wajah dan berdiri.

"Aku ambilkan air. Tunggu sebentar."

Aku menuju dapur dan menuangkan air ke gelas dari keran yang dibuat dengan alat sihir.

Setelah kembali dan menyerahkannya pada Lugh, dia meminumnya perlahan. Saat air di gelas habis, napas Lugh sudah stabil dan rona wajahnya sedikit membaik.

"Sudah tenang?"

"Iya. Terima kasih, Hugh. Maaf ya, itu... aku membangunkanmu, kan...?"

"Tidak. Aku juga baru saja bangun karena mimpi buruk."

Sebenarnya aku bangun karena suara igauan Lugh, tapi tidak bohong kalau aku juga bermimpi buruk.

Sudah lama aku tidak bermimpi tentang masa laluku saat masih menjadi budak korporat yang gila kerja.

Waktu kecil aku sering mengigau karena mimpi itu hingga membuat ibuku khawatir. Seharusnya aku tidak pernah memimpikannya lagi sejak masuk Akademi Kerajaan... yah, urusanku tidak penting.

Bagi Lugh, kematian ibunya adalah kejadian yang terukir begitu dalam di hatinya hingga terus muncul sebagai mimpi buruk. Apa sebenarnya yang terjadi ya...

Pangeran Lucas atau Lily yang berteman dengannya sejak kecil mungkin tahu sesuatu, tapi aku tidak ingin melakukan hal yang tidak sopan seperti mengorek masa lalunya tanpa izin dari Lugh sendiri.

Untuk urusan ini, aku hanya bisa menunggu sampai Lugh mau bercerita sendiri.

Lebih dari itu.

"Ah—anu... apa kamu bisa tidur sendiri?"

Saat aku bertanya, Lugh menggelengkan kepalanya pelan. Biasanya Lugh akan menyelinap ke ranjangku diam-diam di tengah malam, tapi hari ini aku sudah terlanjur bangun. Taktik diam-diam tidak akan berlaku.

Lugh mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menatapku dengan mata yang mendongak.

...Yah, aku mengerti apa yang ingin dia sampaikan.

"Anu... mau tidur bersama?"

"Boleh?"

"I-iya. Tentu saja. Kalau Lugh tidak keberatan."

"Ehm!"

Kami memang sudah sering tidur di ranjang yang sama setiap hari, tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya tidak pernah sekalipun berdasarkan kesepakatan bersama. Memikirkan hal itu membuatku sedikit gugup... Tentu saja aku tidak berniat melakukan hal mesum, jadi tidak perlu waspada berlebihan.

"Ah, tapi aku sekarang mungkin agak bau keringat... Bolehkah aku mandi sebentar?"

"...! I-iya. Boleh saja, kan."

"? Kalau begitu aku pergi dulu ya."

Sambil memiringkan kepala karena jawabanku yang terbata-bata, Lugh menyiapkan baju ganti dan handuk lalu menuju ruang ganti. Tak lama kemudian, terdengar suara samar air pancuran.

Ke-kenapa aku jadi gugup begini...! Kan cuma tidur bersama seperti biasanya!

...Meskipun begitu, antara Lugh yang menyelinap sendiri ke tempat tidur dengan aku yang mengajaknya dan melakukannya dengan persetujuan, maknanya memang berbeda, ya...

Ada pepatah di kehidupanku sebelumnya yang bilang kalau laki-laki tidak mengambil kesempatan itu memalukan, apakah di dunia ini ada pepatah serupa?

Selagi aku duduk di ranjang dan melamunkan hal-hal tidak penting itu, Lugh kembali.

"Ma-maaf membuatmu menunggu, Hugh."

Lugh yang mengenakan negligee merah muda pucat berdiri di depanku, menangkupkan kedua tangan di depan dada. Pipinya yang tampak merona pasti karena dia baru saja mandi.

Aroma manis yang mirip bunga Kinmokusei (Osmanthus) tercium lebih kuat dari biasanya dari tubuh Lugh yang baru selesai mandi.

Glek, tanpa sadar aku menelan ludah dan segera masuk ke dalam selimut untuk menutupi kegugupanku.

"Ka-kalau begitu, ayo tidur."

"I-iya. Permisi..."

Dengan gerakan yang kaku dan formal, Lugh masuk ke ranjangku.

Aku menggeser tubuhku hingga ke pinggir tembok untuk memberi ruang bagi Lugh.

"Hugh, apa tidak sempit?"

"Lugh sendiri, apa tidak apa-apa di pinggir begitu? Nanti jatuh..."

Di antara aku dan Lugh sekarang ada celah yang cukup untuk satu orang lagi tidur. Aku buru-buru membuang khayalan tentang tidur bersama anak di tengah membentuk huruf "" (sungai). Itu masih terlalu jauh.

"Kalau begitu... hap!"

Lugh memutar tubuhnya setengah lingkaran dan mendekat ke arahku.

Hasilnya, punggung Lugh menempel erat di dadaku.

"He-hei. Kali ini terlalu dekat, kan...!?"

"Ma-masa sih...?"

Tidak, tingkat kelekatan ini jelas tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya...

Lugh yang dengan santainya menjadikan lengan kiriku sebagai bantal, mematikan lampu kamar dengan alat sihir di samping tempat tidur. Di dalam kegelapan, suhu tubuh Lugh yang terasa menembus baju tidur dan detak jantungnya yang berdegup kencang pastilah bukan sekadar imajinasiku.

Ini... apa aku bisa benar-benar tidur ya...

**

Entah bagaimana, aku berhasil tidur nyenyak dan pagi pun tiba. Aku bangun untuk berlatih bersama Alyssa-san, lalu meninggalkan kamar sambil diantar oleh pandangan Lugh yang menggembungkan pipinya dengan wajah merajuk.

Aku bisa menebak apa niat Lugh semalam, tapi... bukan berarti aku bisa menerimanya begitu saja. Ini bukan sekadar masalah kesiapanku. Lugh adalah Putri Ketujuh negeri ini, Lucretia von Leese, dan yang terpenting, dia adalah seorang gadis berusia lima belas tahun yang sedang berada di masa pubertas.

Meski usia asliku (secara mental) hampir empat puluh tahun, apa gunanya aku jika tidak bisa menginjak rem?

...Yah, walau aku sendiri ragu apakah rem ini akan terus berfungsi normal sampai lulus akademi. Kalau terus begini, rasanya cepat atau lambat akan terjadi fade phenomenon (rem blong). Aku harus bicara baik-baik dengan Lugh saat ada kesempatan nanti.

Kalau dipikir-pikir, aku bahkan belum menyatakan perasaan, jadi kurasa sudah saatnya aku menyampaikan perasaanku dengan jelas. Semoga saja ada momen yang tepat...

Sambil memikirkan hal itu, aku sampai di lahan kosong di belakang asrama pengajar yang biasa kami gunakan untuk latihan. Di sana sudah ada Alyssa-san dan Idiot.

"Haaaaah!"

"Terlalu lambat-ssu!"

Alyssa-san menangkis pedang kayu yang diayunkan, lalu menempelkan ujung pedang kayunya ke leher Idiot. Idiot yang kehilangan senjatanya mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Seperti yang diharapkan dari tangan kanan sang Sword Master. Tak disangka aku tidak bisa mencetak satu poin pun."


"Fufufu, tidak usah memuji begitu-ssu. Ngomong-ngomong, Tuan Muda Idiot, dilarang menyerang duluan-ssu. Jelas sekali berkah skill-mu menghilang di saat kamu beralih ke posisi menyerang-ssu."

"Apa...!? Mana mungkin... tidak, kalau dipikir-pikir, memang benar..."


Skill milik Idiot, "Guardian (Chevalier)", adalah skill kuat yang berfokus pada pertahanan dan mencakup "Physical Enhancement" serta "Swordsmanship". Jika dia bermain defensif, bahkan skill "Swordsmanship" level maksimal pun tidak bisa menembusnya.


Sebaliknya, saat dia menyerang, aura ancaman dari "Guardian" tidak terlalu terasa. Baik dalam latihan tanding denganku maupun barusan, Idiot selalu kalah saat terkena serangan balik ketika dia mencoba menyerang.


Begitu ya... "Guardian" hanya menunjukkan kekuatan sejatinya saat bertahan. Meski penggunaannya jadi sangat spesifik, efeknya luar biasa. Skill memang sesuatu yang mendalam.

"Kamu datang juga, Tuan Muda Hugh-ssu."

"Selamat pagi, Alyssa-san."

"Mu. Kamu terlambat, Hugh. Kami sudah mulai duluan."

"Maaf, aku ketiduran sedikit."

Sambil membungkuk meminta maaf pada mereka berdua, aku mengambil pedang kayu yang bersandar di pohon terdekat.

Idiot baru bergabung dalam latihan pagi kami dua hari yang lalu, tepat setelah dia kembali ke akademi setelah dua minggu absen untuk mengurus masalah keluarga Hoartness pasca insiden di Katedral. Katanya, Pangeran Lucas-lah yang menyarankannya untuk ikut.

Keluarga Hoartness dijatuhi hukuman atas percobaan penculikan Lecty; dua pertiga wilayah mereka disita, dan gelar mereka diturunkan dari Marquess menjadi Baron. Reputasi mereka hancur total—sebuah luka fatal di masyarakat bangsawan yang menjunjung tinggi kehormatan.


Idiot, yang diserahi jabatan kepala keluarga menggantikan ayahnya yang dihukum tahanan rumah, harus membangun kembali keluarga Hoartness yang di ambang kehancuran. Namun, sebagai murid yang baru masuk akademi, pilihan yang dimilikinya terbatas.

Saran Pangeran Lucas adalah agar Idiot meraih prestasi militer melalui pedang. Secara konkret, itu berarti mendampingi tugas Ksatria Kerajaan untuk membasmi monster atau kriminal, serta menjadi petualang untuk menaklukkan dungeon. Intinya, terus mencetak prestasi adalah jalan pintas untuk memulihkan nama baik keluarga Hoartness.


Pangeran Lucas benar-benar cerdik; dia langsung menarik Idiot ke dalam kendalinya (Ksatria Kerajaan) tanpa celah sedikit pun.

Latihan yang kini beranggotakan tiga orang ini menjadi lebih praktis sesuai kebijakan Alyssa-san. Seperti dugaan, latihan selama satu bulan tidak cukup untuk mengejar perbedaan kemampuan antara aku dan Idiot. Malah, dengan melihat ayunan pedangnya dari dekat, aku semakin sadar akan jarak di antara kami.

Aku masih kurang dalam usaha dan tekad. Meski begitu...!

Latihan berakhir saat aku berusaha keras bertahan. Hari ini pun, aku tetap tidak bisa mengambil satu poin pun, baik dari Alyssa-san maupun Idiot.

"Hugh, apakah kamu sudah berlatih pedang sejak kecil?" tanya Idiot saat kami berjalan beriringan kembali ke asrama setelah berpisah dengan Alyssa-san.

"Tidak. Aku hanya belajar sedikit dari ayahku saat di rumah. Ayahku lebih suka memanah daripada pedang, jadi aku hanya diajari dasar-dasarnya saja."

"Fumu. Kalau begitu, cara mengajar Nona Swift memang hebat. Untuk seseorang yang baru mulai belajar pedang secara serius setelah duel denganku, kemampuan pedangmu tidak buruk."

"Benarkah? Aku sendiri tidak merasakannya... Buktinya aku belum bisa mencetak poin dari Alyssa-san."

"Apa yang kau katakan? Lawannya adalah Alyssa Swift yang dijuluki tangan kanan Sword Master. Dia bukan lawan yang bisa dikalahkan dengan mudah. Dia adalah salah satu dari lima orang terkuat di kerajaan ini."

"Jadi dia sehebat itu ya."

"Sampai-sampai aku heran mengapa orang sebesar itu ditugaskan dari korps ksatria ke akademi."

...Sepertinya kakak iparku itu ternyata sangat protektif. Mengirim orang seperti itu ke akademi sama saja dengan mengumumkan bahwa ada "orang penting bagi Pangeran Lucas" di sana, tapi entahlah. Mungkin sudah terlambat untuk mencemaskan hal itu.

Setelah berpisah sebentar dengan Idiot, aku kembali ke kamar untuk mandi, lalu menuju kantin bersama Lugh yang masih merajuk. Di kantin, kami bertemu lagi dengan Idiot dan sarapan di meja yang sama.

"Hugh, apa terjadi sesuatu dengan Lugh? Dia terlihat tidak senang."

"Ah... tidak. Bukannya terjadi sesuatu..."

Justru karena "tidak terjadi apa-apa" makanya dia kesal. Saat aku melirik Lugh, dia langsung membuang muka dengan bunyi "pui". Sepertinya dia tidak akan mengajakku bicara untuk sementara.

Saat kami melanjutkan makan dengan santai, tiba-tiba aku merasakan tatapan dari kejauhan. Karena aku tidak punya skill "Ninja", kupikir itu hanya perasaanku, tapi saat aku menoleh, ada sekelompok orang yang mengawasi kami.

Mereka adalah mantan pengikut Idiot, termasuk Anne, teman sekelas kami. Kalau diingat-ingat, Idiot dulu sering makan bersama mereka. Idiot pun tampaknya menyadari tatapan itu.

"Meskipun tidak makan bersama, bukankah sebaiknya kamu setidaknya menyapa mereka?"

"Lebih baik jangan. Jika aku bersama mereka, orang-orang akan mulai berspekulasi yang tidak-tidak."

"Begitu ya..."

Berita bahwa Pangeran Slay dan Marquess Hoartness mengabaikan perintah raja untuk menculik Lecty, dan bahwa Idiot-lah yang menghentikannya, sudah tersebar luas. Bagi para bangsawan yang dulu mendukung Pangeran Slay, Idiot adalah pengkhianat. Meski tidak ada yang menghujat secara terang-terangan, aku yang berada di dekatnya bisa merasakan hawa permusuhan itu.

Anne dan yang lainnya tulus mengagumi Idiot, jadi tatapan itu pasti karena rasa khawatir. Justru karena itulah, Idiot menjaga jarak dari mereka agar mereka tidak ikut terseret masalah.

Sebagai catatan, alasan Idiot ikut bersama kami bukan karena dia tidak peduli pada keselamatan kami, tapi karena di mata orang-orang, kami semua sudah dianggap sebagai "Grup Pangeran Lucas". Jadi sudah tidak ada gunanya lagi bersikap waspada sekarang.

Nah, setelah selesai sarapan, kami berjalan dari kantin menuju kelas—dan di tengah jalan:

"AKU TERLAMBAAATTTTTTTTTTTTTTT!!!!"

Seorang gadis berambut merah muda melompat keluar dari tikungan koridor. Secara refleks aku menghindar ke samping untuk melindungi Lugh, dan—

"Guhakk!?"

Gadis itu melewati sampingku dan menabrak Idiot tepat dari depan.

"Aduh, duh, duh..."

Gadis itu bangkit, dan yang bergoyang bersamaan dengan gerakannya adalah rambut merah muda yang melingkar spiral seperti bor (drill). Mengenakan seragam Akademi Kerajaan berwarna putih dengan garis biru, dia tidak lain adalah Sang Orang Suci yang dipilih oleh Gereja, Rosalie Saint.

"Ro-Rosalie!? Kenapa kamu terburu-buru begitu?"

"Ara, Lugh-sama! Juga Hugh-sama. Selamat pagi!"

Rosalie tersenyum manis ke arah kami, padahal dia masih dalam posisi terduduk di atas tubuh Idiot (posisi straddle). Rosalie baru pindah ke akademi kemarin. Karena berbagai alasan, dia dipindahkan ke sini dan mulai hari ini resmi menjadi anggota kelas 1-A bersama kami.

"Mohon tunggu, Rosalie-sama!"

Mendengar suara yang memanggil Rosalie, aku menoleh dan melihat seorang wanita dengan rambut short bob biru tua yang berkesan kuat sedang berlari ke arah kami. Dia adalah Cicely-san, ksatria suci yang bertugas sebagai pengawal Rosalie. Dia juga akan bekerja di akademi sebagai pengawal sekaligus asisten pengajar.

"Selamat pagi, Cicely-san."

"Ah, Hugh-sama dan Lugh-sama. Selamat pagi."

Cicely-san yang menyadari kehadiran kami berhenti dan membungkuk sopan. Dia orang yang santun dan lembut. Usianya sepertinya tidak jauh dari kami, dia pasti akan populer di kalangan murid laki-laki maupun perempuan.

"Ara Cicely, kamu lambat sekali. Kita harus segera menyelesaikan sarapan atau kita akan terlambat."

"Rosalie-sama, sulit bagi saya untuk mengatakannya, tapi sudah tidak ada waktu untuk sarapan. Di hari pertama pindah ini, Anda harus menyelesaikan prosedur administrasi terakhir di ruang guru..."

"Benarkah begitu!? Padahal aku sangat mendambakan makan di kantin sekolah! Sayang sekali..."

Bahu Rosalie merosot lemas. Melihat lingkaran hitam di bawah matanya, sepertinya semalam dia tidak bisa tidur nyenyak. Karena penyakit insomnia-nya seharusnya sudah membaik, mungkin dia hanya terlalu bersemangat menantikan kehidupan sekolah.

Namun di samping itu semua...

"Nona Rosalie...! Bisakah kamu segera menyingkir dari atasku!?"

"Ara, Idiot-sama. Mengapa Anda ada di tempat seperti itu?"

"Itu karena kamu yang menabrakku, kan!?"

Idiot, yang sejak tadi ditindih oleh Rosalie, akhirnya tidak tahan dan bersuara. Rosalie baru menyadari situasinya, berkata "Maafkan saya," lalu menyingkir dari atas Idiot.

"Astaga... Tak kusangka Orang Suci dari Gereja ternyata adalah gadis liar seperti ini... Sebaiknya kamu mencontoh sedikit keanggunan Nona Lecty."

"Ara, membandingkan dan mengotak-ngotakkan wanita itu sangat kuno, Idiot-sama. Lecty punya kelebihannya sendiri, dan aku pun punya kelebihanku sendiri."




"Kurasa sikap tidak bisa diam tidak bisa disebut sebagai kelebihan."

"Kakek memujiku, katanya 'Rosalie itu sangat ceria, melihatnya saja sudah membuat orang lain ikut bersemangat'. Itu adalah poin plusku yang luar biasa tahu!"

Idiot dan Rosalie saling melotot dengan sengit. Tampaknya sejak pertama kali bertemu saat insiden di Katedral, mereka berdua memang tidak pernah akur dan selalu bertengkar setiap kali berjumpa. Ini pertama kalinya aku menyaksikan pemandangan itu secara langsung, tapi suasananya tidak seburuk yang kudengar dari rumor.

"Bukankah masih ada urusan administrasi? Cepatlah pergi sana."

"Tidak perlu disuruh pun aku akan melakukannya. Lugh-sama, Hugh-sama, sampai jumpa nanti."

"Ah, sampai nanti."

Rosalie mendengus ke arah Idiot, membuang muka, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang guru. Lugh kemudian memanggil punggungnya yang menjauh.

"Ah, tunggu, Rosalie. Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau makan siang bersama?"

"Wah! Wah wah wah! Makan siang bersama teman di kantin sekolah! Benar-benar terasa seperti kehidupan sekolah yang sangat indah! Tentu saja, dengan senang hati, Lugh-sama!"

"Ehm! Kalau begitu, sampai nanti ya, Rosalie."

"Iya! Sampai jumpa nantiii~!"

Rosalie pergi menuju ruang guru sambil melambaikan tangannya dengan semangat ke arah kami.

Cicely-san membungkuk hormat kepada kami lalu buru-buru mengejar Rosalie.

Sepertinya mulai sekarang, keseharian kami akan menjadi semakin ramai.

"Baguslah kalau begitu, Lugh."

"Ehm! ...Ah, pui (membuang muka)."

Sepertinya butuh waktu sedikit lebih lama sampai suasana hatinya membaik...

**

"Sebenarnya, dia itu semacam sandera, ya."

Lily, yang duduk di hadapanku sambil menyantap makan siang, bergumam pelan sambil menatap Rosalie. Di meja yang agak jauh, Rosalie tampak asyik makan dikelilingi oleh Lugh, Lecty, serta teman sekelas lainnya seperti Anne dan Brown.

Kepindahan Rosalie ditentukan melalui negosiasi antara pihak Kuria Gereja Shinjukyo dan Pangeran Lucas.

Reputasi Rosalie sebagai Orang Suci sempat jatuh ke titik terendah karena dipaksa mengobati orang sakit oleh Malicious. Pihak Gereja yang merasa sulit untuk membiarkan Rosalie tetap beraktivitas sebagai Orang Suci akhirnya menerima usulan Pangeran Lucas untuk menyembunyikannya di Akademi Kerajaan sampai situasinya mereda.

Kedengarannya bagus jika disebut "menyembunyikan" atau "melindungi", tapi... ya, ini tetap saja penyanderaan.

"Yah, orangnya sendiri sepertinya tidak keberatan, sih."

"...Aku sudah mendengar sedikit situasinya dari Lecty. Kalau butuh bantuan untuk menjaganya, bicaralah padaku kapan saja."

"Terima kasih, Lily."

"Lagipula... fufu. Melihat Lugh dan Lecty tampak senang, itu yang terpenting."

Melihat mereka berdua tertawa bersama Rosalie, Lily tersenyum lembut.

Aku bisa mengerti perasaan "dari sudut pandang orang tua" itu. Terutama Lecty, di awal masuk sekolah dulu, aku bahkan tidak bisa membayangkan dia berani meninggalkan sisi aku atau Lily untuk mengobrol seru dengan teman sekelas lainnya.

Rasanya sedikit kesepian, tapi sebagai teman, aku lebih merasa senang melihat pertumbuhan Lecty.

Lily pasti merasakan hal yang sama.

Sambil memikirkan itu, aku menatap Lecty, dan tiba-tiba mata kami bertemu.

Seketika, pipi Lecty merona merah dan dia langsung memalingkan wajah dariku.

Sejak hari insiden di Katedral—tepatnya sejak Lecty mencuri kecupanku—aku belum bisa mengobrol tatap muka dengannya secara normal.

Aku sepertinya sedang dihindari... Tentu saja, aku tahu ini bukan dalam arti buruk.

Aku pun sama, merasa terlalu malu untuk menyapanya duluan.

"Huuu~m."

"Apa?"

"Aku baru saja berpikir kalau suamiku ini pria yang berdosa."

"Kau ini..."

Tolong berhenti memanggilku "suami" di tempat ramai seperti ini.

Yah, karena perhatian semua orang tertuju pada Rosalie dan yang lainnya, kurasa tidak apa-apa...

"Aku sih tidak keberatan. Malah kalau Lecty, aku sangat setuju. Anak itu pun pasti tidak berpikir untuk memonopolimu sendirian."

"Mungkin Lecty begitu, tapi..."

Masalahnya adalah apa yang dipikirkan Lucretia. Mengatakan "Aku menyukaimu, menikahlah denganku, tapi omong-omong aku juga berencana mengambil dua istri lagi" itu rasanya terlalu tidak tahu diri. Jika Lucretia bilang ingin menikah dengan pria brengsek seperti itu, aku sendiri pasti akan berusaha sekuat tenaga mencegahnya. ...Padahal pria itu adalah aku sendiri.

"Kalau kau khawatir, kenapa tidak segera menyatakan perasaan dan bertanya padanya? Jika anak itu menolak, aku akan mundur dengan tenang."

Melihat betapa santainya Lily bicara, sepertinya dia yakin kalau Lucretia tidak akan menolak.

Menyatakan perasaan, ya...

"Bukannya aku tidak memikirkannya, tapi masalah waktunya itu, lho..."

Jika di dunia lamaku, waktu yang standar mungkin saat acara seperti Natal atau Valentine. Tapi seingatku, di dunia ini tidak ada acara yang setara dengan itu.

"Bukankah ada waktu yang tepat dalam waktu dekat?"

"Eh?"

"Bulan depan dia ulang tahun, tahu."

"Serius?"

"Iya. Pas sekali di tengah-tengah latihan luar kampus."

Latihan luar kampus adalah kegiatan sekolah yang dijadwalkan berlangsung selama sebulan mulai dua minggu lagi. Selama periode itu, kami akan meninggalkan akademi untuk berlatih tempur melawan monster di suatu dungeon.

Namun, sepertinya itu bukan latihan tempur yang terlalu berat; rasanya lebih seperti karyawisata.

Karyawisata dikombinasikan dengan ulang tahun—itu adalah waktu yang sempurna untuk menyatakan perasaan.

Tapi, ada satu masalah.

"Bagaimana ini, hadiah ulang tahunnya..."

"Aku bisa memberimu saran kalau kau mau pergi memilihnya."

"Bukan, masalahnya jauh sebelum itu. ...Aku tidak punya uang."

Sekitar tiga bulan lalu, uang saku yang diberikan Ayah untuk perjalanan bolak-balik antara wilayah Pnosis dan ibu kota adalah seluruh hartaku. Aku sudah berhemat menggunakan uang sisa perjalanan pulang yang tidak terpakai, tapi akhirnya uang itu habis juga.

Selama tinggal di Akademi Kerajaan, biaya sekolah, asrama, dan makan semuanya gratis. Karena itulah, saat mengirim surat pemberitahuan kelulusan ke rumah, aku merasa tidak enak untuk meminta kiriman uang. Aku tidak mau menulis "Tolong kirimkan uang untuk bermain dengan gadis yang kusukai". Aku pun tidak bisa memikirkan alasan lain...

Lagipula, keluarga Pnosis itu bangsawan miskin.

Mereka pasti tidak punya kelebihan uang untuk dikirimkan. Sulit untuk mengandalkan keluarga dalam hal finansial.

"Apa kau tidak menerima gaji dari Yang Mulia Lucas?"

"Aku kan tidak benar-benar bekerja untuknya."

Baik dalam urusan Lily, maupun urusan Lecty dan Rosalie, akulah yang meminta kerja sama. Pangeran Lucas tidak pernah sekalipun memberiku perintah, dan tidak masuk akal bagiku yang sudah dibantu untuk meminta gaji.

"Tapi sebagai hasilnya, Yang Mulia Lucas menjadi lebih dekat dengan takhta berkat kerjamu, jadi menurutku kau pantas mendapatkan imbalan yang setimpal."

"Tetap saja, alasannya itu... Mana mungkin aku bisa minta, 'Aku ingin memberi hadiah ulang tahun dan menembak adikmu, jadi tolong beri aku imbalan atas kerjaku selama ini'."

"Rasanya tidak perlu mengatakannya sejujur itu, sih... Yah, aku mengerti kenapa kau sulit mengandalkan Yang Mulia Lucas. Kalau kau hanya kesulitan uang, aku tidak keberatan menafkahimu, lho..."

"Memberi hadiah dan menembak gadis menggunakan uang dari wanita lain itu... pria sampah sekali..."

Lagipula, bagaimana jadinya kalau aku dinafkhahi Lily...

Saat masih bekerja di dunia sebelumnya, aku selalu berpikir ingin punya pacar kaya dan menjadi "pria simpanan" yang dipelihara, tapi saat kesempatannya benar-benar muncul di depan mata, aku malah ragu.

Justru karena aku mulai menyadari perasaanku pada Lily, aku tidak ingin memperlihatkan sisi diriku yang tidak berguna.

"Aku harus mencari pekerjaan di suatu tempat..."

"Kalau begitu, aku tahu tempat kerja yang bagus."

"Benarkah!?"

"Iya. Salah satu pelayan yang sudah lama bekerja di keluarga bangsawan ternama sedang cedera pinggang dan harus istirahat. Sepertinya mereka mencari orang yang mau bekerja sebagai pelayan untuk jangka pendek."

"Begitu ya, kerja sampingan pelayan..."

Jika pelayan di keluarga ternama, gajinya pasti lumayan. Pekerjaannya mungkin berat, tapi aku bisa mengatasinya jika aku mengganti skill-ku menjadi "Pelayan".

"Jadi, keluarga bangsawan mana yang sedang mencari pelayan itu?"

"Keluarga Puridy."

"Itu kan rumahmu!"

Bukannya tidak boleh, tapi rasanya sulit diandalkan.

Bagaimanapun juga, majikanku nantinya adalah Marquess Puridy... Karena alasannya adalah "itu", rasanya sama canggungnya dengan mengandalkan keluargaku sendiri atau Pangeran Lucas.

"Maaf, Lily. Kali ini aku lewatkan saja."

"Yah, sayang sekali. Padahal aku ingin melihatmu memakai seragam pelayan pria (butler)."

Lily menopang dagu sambil menghela napas, lalu melihat ke arahku sambil mengeluarkan tawa "Fuhihi" yang agak aneh.


"Tolong hentikan delusi liarmu, Nona."

Sudah lama aku tidak mendengar tawa "Fuhihi" dari Lily...

"Aku akan mencoba mencari pekerjaan biasa saja, seperti di dapur rumah makan atau kuli bangunan."

"Ditolak. Aku sudah memikirkan ini sejak lama, tapi kesadaranmu sebagai bangsawan itu terlalu rendah. Tolong lebih pedulilah pada pandangan orang. Meskipun kau bangsawan miskin dari desa terpencil, jika seorang bangsawan bekerja di tempat seperti itu, orang-orang di sekitar akan merasa terintimidasi."

"Ah, ternyata begitu ya."

"Memang begitu. Kau pasti tidak ingin membuat orang-orang di sekitarmu merasa tidak nyaman, kan?"

"Ya, benar juga..."

Perbedaan status antara bangsawan dan rakyat jelata tidaklah dangkal; tidak bisa diselesaikan hanya dengan kalimat "aku tidak keberatan jadi kau jangan keberatan juga".

Mungkin berbeda dengan di kampung halamanku yang jarak antara penguasa dan rakyatnya sangat dekat, tapi di ibu kota, aku dituntut berperilaku selayaknya bangsawan.

Bekerja sambil menyembunyikan identitas pun bisa saja dilakukan, tapi jika memicu masalah yang tidak perlu, urusannya akan merepotkan. Rasanya agak mengekang karena tidak bisa bebas mencari kerja sampingan, tapi apa boleh buat.

"Kalau pekerjaan yang bisa dilakukan bangsawan, mari kita lihat. Guru privat bangsawan... maaf, lupakan."

"Hei, jangan memalingkan wajah."

"Ehem. Kalau begitu, bagaimana dengan menjadi petualang?"

Lily berdehem untuk menutupi kecanggungannya dan memberikan saran baru. Aku sempat ingin mendesaknya soal saran yang dia tarik tadi, tapi ya sudahlah.

"Jika menjadi petualang, ada juga orang dari kalangan bangsawan, jadi kau tidak perlu terlalu mempedulikan pandangan sekitar."

Karena bangsawan di Kerajaan Leese umumnya menganut sistem hak waris anak sulung, tidak sedikit anak laki-laki kedua atau ketiga yang keluar dari rumah saat dewasa untuk menjadi petualang. Terutama anak laki-laki bangsawan yang sejak kecil sudah dilatih ilmu bela diri, mereka biasanya disambut baik sebagai tenaga siap pakai.

"Apakah murid sekolah sepertiku bisa jadi petualang?"

"Iya, selama kau mendapat izin, tidak apa-apa. Kurasa jika kau meminta bantuan Alyssa-sensei, dia akan mengurus prosedurnya."

"Petualang, ya... tidak buruk juga."

Aku memang sudah tertarik sejak kecil.

Itu adalah pekerjaan klasik di dunia fantasi, dan petualangan adalah impian laki-laki. Jika saja dulu aku bukan budak korporat, aku mungkin lebih memilih menjadi petualang daripada mengejar hidup santai (slow life).

Aku tidak berniat menjadi petualang sungguhan mulai sekarang, tapi sepertinya bagus untuk sekadar mencari uang saku.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close