Bab 1: Begitu Ya, Mari Menjadi Petualang
Segera pada hari libur berikutnya, aku dan Idiot pergi meninggalkan akademi menuju Perserikatan Petualang (Adventurer Guild) yang ada di ibu kota.
"Maaf ya jadi merepotkanmu,
Idiot."
"Jangan dipikirkan, Hugh. Aku juga
merasa lebih tenang jika bersamamu."
Sore hari setelah aku mengobrol dengan Lily
di kantin, aku pergi menemui Alyssa-san untuk meminta izin melakukan aktivitas
petualang, dan di sana aku kebetulan bertemu dengan Idiot.
Ternyata Idiot juga sedang berusaha
mendapatkan izin melalui Alyssa-san. Karena tujuan kami sama, kami memutuskan
untuk mendaftar sebagai petualang bersama-sama.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu
jam dengan kereta kuda umum dari depan akademi, kami sampai di gedung cabang
ibu kota Perserikatan Petualang yang terletak tepat di sisi berlawanan dari
Akademi Kerajaan. Di puncak gedung bata tiga lantai itu, berkibar bendera
Perserikatan Petualang dengan lambang pedang dan tongkat yang bersilang di
depan sebuah perisai.
Suara benturan logam yang terdengar dari
kejauhan mungkin berasal dari bengkel-bengkel pandai besi di sekitar yang
sedang menempa senjata. Daerah ini tampaknya memiliki banyak toko perlengkapan
petualang, toko alat sihir, dan yang paling mencolok adalah banyaknya kedai
minuman. Suasananya sangat kontras dengan lingkungan Akademi Kerajaan yang
tenang dan teratur; di sini penuh dengan keriuhan.
Orang-orang yang lalu lalang pun memiliki
penampilan khas petualang. Ada pria besar yang memanggul pedang raksasa, hingga
wanita berjubah hijau yang membawa tongkat (karena di dunia ini tidak ada
"sihir" yang bisa dirapal semua orang, kemungkinan besar dia
menggunakan tongkat itu untuk menggebuk monster).
Di antara kerumunan itu, aku melihat
beberapa orang mengenakan seragam Akademi Kerajaan.
Karena wajah mereka asing, kemungkinan
mereka adalah senior kelas dua atau tiga. Ternyata, meskipun aku baru tahu,
cukup banyak murid akademi yang aktif sebagai petualang.
Bagian dalam gedung Perserikatan Petualang
ternyata jauh lebih bersih dan tenang dibandingkan di luar. Sepertinya tidak
ada kedai minuman yang menyatu di dalamnya. Pemandangan para staf yang bekerja
di balik konter dengan meja yang saling berhadapan mengingatkanku pada kantor
pelayanan sipil di dunia sebelumnya.
Di loket yang bertuliskan
"Pendaftaran", ada antrean sekitar lima orang. Aku dan Idiot pun ikut
mengantre di barisan paling belakang.
Di loket
tersebut, aku melihat alat sihir kristal untuk mendeteksi skill yang sama seperti saat ujian masuk. Untung saja
sebelumnya aku sudah mengganti skill-ku menjadi "Pyrokinesis". Selama beraktivitas sebagai
petualang, sepertinya lebih aman jika aku mengunci skill-ku pada "Pyrokinesis".
"Selanjutnya, silakan."
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit,
akhirnya giliran kami tiba. Atas dorongan Idiot, aku maju duluan untuk
mendaftar.
"Silakan
sentuh kristal ini. Nama dan
skill Anda akan muncul di dalamnya, mohon
konfirmasinya."
"Baik."
Prosedurnya
sama dengan ujian masuk. Saat aku menyentuh kristal atas instruksi petugas
wanita itu, namaku dan nama skill "Pyrokinesis" muncul. Bagus, skill "Brainwashing"
(Cuci Otak) bisa disembunyikan tanpa masalah.
"Hugh
Pnosis-san. Skill Anda adalah Pyrokinesis, ya.
Karena ini adalah skill tipe menyerang, peringkat
petualang Anda dimulai dari peringkat E. Apakah Anda memerlukan penjelasan
mengenai peringkat?"
"Tolong jelaskan."
"Baik.
Peringkat petualang diklasifikasikan dari yang terendah G hingga A, dan
peringkat tertinggi adalah S. Peringkat akan naik dengan menyelesaikan
permintaan (quest) yang kami tempel di papan pengumuman. Setiap
permintaan memiliki tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan peringkat
petualang. Anda hanya bisa mengambil permintaan satu tingkat di atas atau di
bawah peringkat Anda. Misalnya, petualang peringkat E hanya bisa mengambil
permintaan tingkat F hingga D. Sampai di sini ada pertanyaan?"
"Emu... kalau begitu, berdasarkan apa
tingkat kesulitan sebuah permintaan ditentukan?"
"Tergantung
isi permintaan dan lokasinya. Misalnya, mengumpulkan tanaman obat; jika di
hutan dekat ibu kota, maka peringkatnya G, F, atau E. Jika tanaman itu hanya
tumbuh di dalam dungeon, maka akan diberikan
peringkat D hingga S sesuai tingkat kesulitan dungeon-nya. Dan untuk pembasmian monster di dalam dungeon, minimal adalah peringkat C ke atas."
"Begitu ya..."
Artinya
dengan peringkat E, aku belum bisa langsung mengambil permintaan untuk masuk ke
dungeon dan membasmi monster.
"Ada lagi yang kurang jelas?"
"Tidak, untuk sekarang
cukup."
"Kalau
begitu, ini dia. Ini adalah tanda pengenal (tag) petualang untuk
Hugh Pnosis-san. Mohon dikalungkan agar terlihat selama Anda
beraktivitas."
Aku
menerima sebuah lempengan logam kecil berwarna biru. Di permukaannya terukir
nama dan skill-ku.
"Warna
tag akan berubah seiring kenaikan peringkat, dari biru
ke merah, perunggu, perak, emas, dan untuk peringkat S akan diberikan tag khusus dari zamrud. Silakan berjuang untuk
mencapainya."
"Ah, iya. Saya akan
berusaha."
Mungkin
kalau aku menggunakan skill "Brainwashing",
tidak akan sulit untuk naik sampai peringkat S, tapi itu akan membuatku terlalu
mencolok. Lagipula aku tidak berniat menjadi petualang purna waktu; yang
penting aku bisa membeli hadiah ulang tahun untuk Lugh.
Aku
mengalungkan tag itu dan menyingkir dari loket. Sekarang giliran
Idiot.
"Nama Anda adalah Idiot...
Hoartness-san, ya."
Melihat nama yang muncul di kristal,
petugas wanita itu sempat ragu. Suaranya
terdengar oleh petualang di sekitar, dan seketika suasana menjadi riuh.
...Tampaknya reputasi buruk keluarga Hoartness sudah menyebar sampai ke
kalangan petualang. Wajar saja, karena banyak petualang yang juga berasal dari
kalangan bangsawan.
Idiot tidak
tampak terganggu dengan kegaduhan di sekitarnya. Dia hanya memberi isyarat
kepada petugas yang meminta maaf itu bahwa dia tidak keberatan. Setelah itu
semuanya berjalan lancar, dan dia berjalan menghampiriku dengan tag biru yang sama di lehernya.
"Maaf sudah memicu keributan."
"Eh, aku sih tidak apa-apa... tapi kau
sendiri tidak apa-apa?"
"Jangan khawatir, Hugh. Tidak akan ada
habisnya jika aku mempedulikan hal semacam ini satu per satu."
Jika itu Idiot yang dulu saat ujian masuk,
dia mungkin sudah meledak marah karena reaksi sekitar. Meskipun aku tidak tahu
apa yang dia rasakan di dalam hati, setidaknya dia sekarang punya ketenangan
untuk menjaga sikap di luar.
"Lebih baik kita segera melihat papan
permintaan. Kau ingin memberi hadiah ulang tahun untuk Lugh, kan? Mengingat
waktu sampai latihan luar kampus sangat singkat, kita harus mengambil
permintaan dengan imbalan setinggi mungkin."
"Benar juga. Semoga saja ada
permintaan yang cocok..."
Latihan luar kampus tinggal dua minggu
lagi. Sampai saat itu, hari yang bisa kugunakan untuk beraktivitas sebagai
petualang hanya dua hari termasuk hari ini. Alyssa-san sudah memperingatkan
bahwa aktivitas petualang bagi murid akademi hanya diizinkan pada hari libur,
dan pelanggaran bisa berujung pada pengeluaran dari sekolah.
Mempertimbangkan waktu untuk membeli
hadiah, aku ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin sebelum hari libur minggu
depan. Dengan begitu, pilihan hadiahnya pun akan lebih banyak.
Sambil
menerima tatapan tidak menyenangkan dari para petualang yang ada, kami menuju
papan pengumuman. Jika skill-ku saat ini adalah "Ninja", pendengaranku yang tajam pasti akan
menangkap gunjingan-gunjingan itu meskipun aku tidak mau.
Bahkan tanpa itu pun, samar-samar
terdengar suara yang meremehkan seperti "Cuma main-mainnya orang bangsawan
ya." Meskipun banyak petualang berasal dari bangsawan, mayoritas tetaplah
rakyat jelata. Sentimen terhadap kaum bangsawan sepertinya cukup keras di sini.
Benar kata Idiot, tidak ada habisnya
kalau dipedulikan.
Aku berpura-pura tidak dengar dan
melihat daftar permintaan. Berbeda dengan dugaanku, permintaan yang ditempel
berdasarkan peringkat ternyata sangat sedikit.
Dari permintaan peringkat F sampai D yang
bisa kami ambil, peringkat E malah kosong sama sekali.
Yang tersisa hanya peringkat F dan D.
Peringkat F imbalannya kecil dan isinya hanya seperti tukang serba guna;
membersihkan selokan atau mencari kucing hilang. Sedangkan peringkat D
lokasinya sangat jauh dan tidak mungkin selesai dalam sehari.
"Aku pernah dengar rumornya, tapi
tidak menyangka akan separah ini..."
"Rumor?"
"Ya.
Sejak dulu ada kabar bahwa jumlah petualang di ibu kota terlalu banyak
dibandingkan jumlah permintaannya. Di sekitar ibu kota hanya ada sedikit dungeon dan lokasinya jauh dari habitat tanaman obat
langka. Jumlah permintaan harian di sini konon hanya separuh dari perserikatan
di daerah. Padahal, populasi di ibu kota sangat besar, baik yang serius ingin
jadi petualang maupun yang menjadikannya pekerjaan sampingan."
"Ah...
begitu ya. Karena permintaannya kurang, petualang peringkat rendah jadi
menumpuk karena tidak bisa mengambil quest."
"Sepertinya begitu."
Idiot menghela napas sambil melihat para
petualang lain yang mengawasi kami dari jauh.
"Mereka pasti sedang menunggu
permintaan baru ditempelkan."
"Habisnya, permintaan yang ada
sekarang memang terlihat merepotkan, sih."
Peringkat F memakan waktu lama dengan gaji
kecil, sementara peringkat D imbalannya lumayan tapi memakan waktu berhari-hari
karena harus pergi jauh. Peringkat
E memang yang paling pas, makanya jadi rebutan sampai tidak tersisa.
"Bagaimana, Idiot? Mau coba cari kucing hilang dulu? Kurasa itu akan cepat selesai."
Kalau aku
ganti skill menjadi "Chaser"
(Pelacak), mungkin tidak sampai satu jam sudah selesai. Aku bisa beralasan
menemukannya secara tidak sengaja. Kalau untuk membersihkan selokan, apa aku
perlu ganti ke skill "Cleaner"?
Tapi rasanya itu bakal jadi skill tipe pembunuh
bayaran...
"Sepertinya tidak ada pilihan
lain."
Kami tidak tahu kapan permintaan peringkat
E akan muncul, dan akan merepotkan jika harus berebut dengan petualang lain
lalu terlibat masalah.
Tepat saat aku dan Idiot saling
mengangguk dan hendak mengambil kertas permintaan mencari kucing:
"Anu,
jika tidak keberatan, maukah kalian mengambil permintaan yang sama dengan
kami?"
Suara itu datang dari sepasang remaja,
laki-laki dan perempuan, yang seumuran dengan kami.
"Maaf karena menyapa tiba-tiba. Nama
saya Lugh, dan ini adik saya, Tina."
Remaja laki-laki jangkung berambut cokelat
tua dengan mata hijau tua itu memperkenalkan dirinya, lalu memperkenalkan gadis
di sampingnya. Mereka mengenakan pakaian ringan khas petualang, bukan seragam
sekolah, jadi sepertinya mereka bukan murid Akademi Kerajaan.
"Halo halo! Salam kenal ya!"
Gadis bernama Tina itu mendekat dengan
tangan terulur mengajak bersalaman. Saat aku menyambutnya, Tina menggenggam
tanganku dengan kedua tangannya lalu mendekatkan wajahnya dengan tiba-tiba.
Rambutnya
berwarna putih kebiruan (shira-ai) yang
berkilau diikat setengah ke atas (half-up). Wajahnya
sangat cantik dan halus seperti patung dewi. Kecantikannya entah kenapa
mengingatkanku pada seseorang yang kukenal. Mata besarnya yang berwarna ungu
gelap menatap tajam ke dalam mataku.
"E-anu...?"
"Matamu, tidak sakit?"
"Mata? Tidak, tidak sakit
tuh...?"
"Begitu ya! Syukurlah!"
Tampaknya dia puas dengan jawabanku. Tina
tersenyum ceria, melepaskan tanganku, dan menjauh. Apa-apaan tadi itu...?
"Hei, jangan membuat mereka bingung,
Tina. Maaf ya, adikku tiba-tiba sekali."
"Ehehe, maaf yaaa~"
"Bukan, itu tidak masalah,
tapi..."
Aku dan
Idiot tertegun melihat tag petualang yang mereka
kalungkan. Warnanya perak. Menurut penjelasan petugas tadi, perak artinya tiga
tingkat di atas biru kami; mereka adalah petualang peringkat B.
Kenapa petualang peringkat B menyapa kami?
...Ah,
omong-omong aku belum memperkenalkan diri.
"Aku Hugh. Hugh Pnosis. Dan ini..."
"Aku Idiot Hoartness. Salam kenal."
"Salam kenal. Hugh-san, Idiot-san."
"Salam kenal juga~"
Mendengar nama keluarga Hoartness, mereka berdua sama sekali
tidak menunjukkan reaksi negatif. Apakah mereka tidak tahu, atau justru sudah
tahu makanya menyapa kami? Mereka tidak terlihat seperti orang jahat, tapi
tujuannya masih belum jelas.
"Karena tidak enak bicara sambil berdiri, bagaimana kalau
kita duduk dulu?"
Kami memutuskan untuk mengikuti saran Lugh.
Kami pindah ke sebuah kafe di dekat perserikatan dan duduk berhadapan di meja
untuk empat orang. Lugh memesan es teh untuk kami semua.
"Ibu kota memang bagus ya. Gedung Perserikatannya tenang dan
bersih, bahkan ada kafe keren seperti ini di dekatnya. Hal yang tidak
terbayangkan di perserikatan daerah."
"Fumu. Artinya, kalian baru saja
datang dari daerah ke ibu kota?"
"Iya. Kami menerima permintaan dari
Akademi Kerajaan. Kalian berdua juga akan ikut latihan luar kampus dua minggu
lagi, kan? Setiap tahun, pihak akademi memang merekrut petualang melalui
perserikatan untuk mendampingi latihan tersebut."
"Jadi karena itulah kalian menyapa
kami?"
"Ah tidak, alasannya bukan hanya
itu."
Lugh mengeluarkan selembar kertas dari
sakunya. Itu adalah bukti penerimaan permintaan dari perserikatan. Di sana
tertera permintaan peringkat B untuk membasmi monster yang muncul di hutan
dekat ibu kota dan menyelidiki penyebab kemunculannya.
"Sekitar dua minggu lalu, tepat saat
kompetisi antar kelas di akademi berlangsung, katanya tiba-tiba muncul monster
di sana. Kami pikir karena kalian adalah murid akademi, mungkin kalian punya
informasi yang berguna, makanya kami menyapa kalian."
"Begitu ya, jadi itu
alasannya..."
"Iya, apakah kalian tahu
sesuatu?"
Mendengar pertanyaan Lugh, aku dan Idiot
saling pandang. Jangankan tahu, kamilah orang yang berada paling dekat saat
monster itu muncul. Lebih tepatnya, aku masuk belakangan, tapi Idiot-lah yang
pertama kali bertemu dan bertarung dengan monster itu di hutan.
Seingatku, Ksatria Kerajaan juga sedang
menyelidiki hutan itu. Karena aku belum bertemu Pangeran Lucas, aku tidak tahu
detailnya, tapi permintaan yang diterima Lugh dan Tina kemungkinan besar
berbeda jalur dengan Ksatria Kerajaan.
Nama pemesan di surat bukti itu tertulis
"Kerajaan Leese". Tidak jelas siapa tepatnya di kerajaan ini yang
memesan... Aku
harus berhati-hati dengan informasi yang kuberikan.
"Kami memang sempat bertarung
dengan monster di hutan itu. Kami tidak tahu penyebabnya, tapi kami bisa
memberitahu ciri-ciri monsternya."
"Benarkah? Itu sangat membantu, tolong
beritahu kami."
Aku dan Idiot pun menjelaskan ciri-ciri
monster yang kami temui kepada Lugh dan Tina. Beruang, kelinci, rubah... kalau
diingat lagi, monster-monster yang kami lawan jenisnya bermacam-macam namun
memiliki ciri khas hewan liar yang memang menghuni hutan itu.
Setelah mendengar penjelasan kami, Lugh
melipat tangan dan menyentuhkan kepalan tangannya ke bibir sambil berpikir.
"Di dungeon memang ada banyak jenis monster, tapi jarang
sekali ada yang jenisnya seberagam itu di satu tempat. Lagi pula, munculnya
monster yang seharusnya hanya ada di dungeon ke dalam
hutan saja sudah merupakan situasi yang tidak normal... Tina, bagaimana
menurutmu?"
"Uuum,
kurasa kita tidak akan tahu sampai kita pergi ke lokasinya langsung~ Kalau
memang ada dungeon yang belum ditemukan di hutan itu dan
monsternya meluap keluar, mungkin saja ada 'bos besar' yang lahir di
dalamnya."
"Bos besar?"
"Itu
sebutan untuk bos dungeon~ Ekosistem di dalam dungeon itu biasanya tertutup, jadi monster jarang
sekali keluar. Ta-pi,
kadang-kadang lahir monster yang sangat kuat di antara mereka. Jika monster itu
merusak keseimbangan ekosistem, maka akan terjadi ledakan jumlah monster atau
migrasi besar-besaran karena monster lain terdesak."
"Begitu
ya. Makanya monster-monster itu keluar dari dungeon."
"Yup yup! Tina rasa mungkin saja kali
ini begitu, nya!"
"Karena permintaan kali ini adalah
penyelidikan penyebab kemunculan monster, kami akan sangat terbantu jika kalian
berdua yang sudah bertarung langsung di lokasi mau ikut mendampingi kami. Kami
menjanjikan imbalan yang setara atau lebih tinggi dari permintaan peringkat D.
Bagaimana?"
"Begitu ya... Bagaimana menurutmu,
Idiot?"
"Umu, boleh saja. Aku, Idiot
Hoartness, akan memberikan bantuan kepada kalian!"
"Ahaha. Terima kasih, Idiot-san."
Lugh hanya tertawa menanggapi sikap sombong
Idiot. Tina pun entah kenapa tersenyum ramah. Mereka berdua berjiwa besar
sekali...
Terlepas dari itu, bisa mendapatkan imbalan
setara peringkat D hanya dengan mendampingi penyelidikan adalah keuntungan
besar. Dengan uang itu, aku bisa memilih hadiah ulang tahun yang layak untuk
Lugh.
Omong-omong, sedang apa Lugh sekarang ya?
Tadinya kupikir dia akan memaksa ikut, tapi ternyata dia malah melepas
keberangkatanku dengan santai sambil berkata, "Maaf ya, aku ada janji
dengan Lily dan yang lain!"
Kalau dengan Lily, berarti Lecty juga pasti
ikut. Aku sudah minta Alyssa-san untuk melanjutkan tugas pengawalan, jadi
selama ada Lily dan Lecty di sisinya, seharusnya tidak ada yang perlu
dikhawatirkan.
...Tapi, entah kenapa aku merasa ada
sesuatu yang mengganjal di dada. Semoga saja tidak terjadi apa-apa...
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment