Bab 8: Mirai Shounen Lyuug (Lyuug si Anak Masa Depan)
Penaklukan dungeon akhirnya dimulai sehari setelah jamuan makan siang.
Sekitar sepuluh kilometer ke arah utara dari kota
Balread. Setelah menempuh perjalanan melewati pegunungan selama hampir setengah
hari, kami akhirnya sampai di pintu masuk Labirin Besar Drefon. Lubang besar
yang menganga di tengah tebing terjal itu seolah-olah sebuah labirin lapar yang
membuka mulutnya lebar-lebar menunggu kami masuk.
"Baiklah, mari kita mulai mendirikan tenda
dulu—ssu!"
Atas perintah Alyssa-san, kami mulai membangun
markas (base camp). Pekerjaan ini terasa lancar karena kami
sudah melakukannya berkali-kali selama perjalanan.
Penaklukan dungeon ini
direncanakan berlangsung selama lima hari dengan markas ini sebagai pusatnya.
Siang hari kami menjelajah dungeon, dan malam
hari kembali ke perkemahan untuk tidur. Siklus ini diulang selama lima hari,
kemudian kembali ke Balread untuk mengisi suplai dan istirahat, lalu
dilanjutkan lagi dengan penaklukan lima hari berikutnya.
Ziarah ke makam ibu Lucretia akan dilakukan setelah
penaklukan dungeon pertama selesai dan kami kembali ke Balread.
Katanya, saat itu jalanan yang longsor akibat hujan deras sudah pulih kembali.
Dan ulang tahun Lucretia pun akan jatuh di
tengah-tengah masa penaklukan dungeon pertama ini.
Entah itu saat berada di dalam labirin atau setelah kembali ke markas, begitu
hari berganti, aku akan langsung memberikan kado dan menyatakan perasaanku.
...Baiklah, aku pasti bisa!
Pembangunan markas selesai lebih cepat dari jadwal,
bahkan sebelum matahari mulai terbenam. Karena itu, Alyssa-san memberikan
sebuah usul.
"Gimana kalau sekarang kita coba masuk sebentar
ke dalam—ssu?"
Meskipun dalam jadwal penaklukan serius baru dimulai
besok, bisa mengetahui kondisi dalam dungeon sebelumnya
adalah hal yang patut disyukuri. Tidak ada penolakan dari murid, dan semua
petualang pendamping pun setuju dengan Alyssa-san.
Kami memutuskan untuk mengeksplorasi area sekitar
pintu masuk, lalu dengan peralatan lengkap kami melangkah masuk ke dalam dungeon.
Seketika itu juga, udara yang menyentuh kulit
berubah drastis menjadi dingin dan lembap. Lily secara refleks memeluk tubuhnya
sendiri.
"Dingin sekali ya... Rasanya seperti berada di
dalam gudang es."
"Seharusnya kita membawa jubah ya..."
Lecty menciutkan tubuhnya sambil meniup telapak tangannya.
Napas kami memang belum sampai mengeluarkan uap
putih, tapi memang cukup dingin untuk kulit jika hanya memakai seragam musim
panas. Jika lengah, bisa-basi kena flu.
"Selain dingin, bagian dalam dungeon ternyata cukup terang ya," ujar Rosalie
sambil melihat sekeliling.
Benar juga, langit-langit gua dan permukaan batu
terlihat sangat jelas. Tanpa membawa obor atau sumber cahaya lain pun,
pandangan kami tetap terjaga. Seolah-olah dungeon itu sendiri
yang memancarkan cahaya.
"Itu karena pengaruh lumut yang hidup di dalam dungeon," jawab Ryuu (si petualang). Dia mengusap
permukaan batu dengan telunjuknya, lalu menggeseknya dengan jempol dan
memperlihatkan ujung jarinya pada kami. Jarinya memancarkan cahaya redup.
"Dinding dungeon ditumbuhi
lumut yang akan bercahaya jika diberi rangsangan seperti ini. Tingkat cahayanya
berbeda-beda tiap dungeon, dan lumut yang lebih
terang dari ini biasanya dipanen untuk digunakan sebagai alat sihir
penerangan."
"Jadi itu bercahaya karena lumut ya?"
Aku sering memakainya tanpa pikir panjang di kamar
asrama, tak menyangka kalau itu ternyata lumut. Tadinya kupikir itu bercahaya
karena bijih mineral yang menghasilkan listrik atau semacamnya.
"Banyak bahan yang bisa diambil dari dungeon digunakan untuk alat sihir. Misalnya, shower menghasilkan air panas dari kombinasi 'Batu
Sumber Air' yang menghasilkan air dan 'Rumput Penyimpan Panas'. Keduanya adalah
bahan yang bisa diambil dari dungeon di Kerajaan
Dwarf. Industri alat sihir di sana maju karena bahan-bahan seperti itu banyak
dihasilkan di dungeon lokal mereka, dan—"
"Iya, iya, sampai di situ saja!" Tina
menghentikan Ryuu yang bicaranya mulai makin cepat. Tina berkacak pinggang dan
menghela napas. "Kak Ryuu kalau sudah bicara soal alat sihir pasti
langsung nyerocos panjang lebar. Tuh, semuanya jadi bengong, kan?"
"Eh!? Ma-maaf ya semuanya..."
"Nggak kok, kami nggak merasa terganggu,"
sahutku.
Meskipun Lugh dan Rosalie terlihat agak
bosan, aku pribadi malah ingin mendengar lebih detail lagi. Wilayah di barat
laut benua dari arah Kerajaan Leese; aku juga pernah dengar kalau di Kerajaan
Dwarf riset dan pengembangan alat sihir paling mutakhir sedang berlangsung.
Kira-kira alat sihir seperti apa yang dibuat di
sana? Mungkin ada
alat sihir yang mirip barang elektronik di Jepang dulu. Kalau aku ganti skill menjadi "Inventionist",
mungkin aku bisa jadi kaya raya dari pengembangan alat sihir. Aku ingin
mengunjunginya setidaknya sekali seumur hidup.
"Kau suka alat sihir ya," ujar Lily.
"Iya, begitulah. Sejak dulu karena pengaruh
Ayah..." Ryuu menjawab dengan malu-malu saat disapa Lily.
Apa anak ini naksir Lily ya...? Aku sempat menatapnya dengan curiga, namun Ryuu
menyadarinya dan segera menggelengkan kepalanya dengan heboh.
"Ti-tidak, lebih penting dari itu! Sekarang monster bisa muncul dari mana saja. Mari
kita waspada!"
"Kak Ryuu kalau teriak keras begitu, monsternya
malah jadi datang lho~" seloroh Tina, membuat Ryuu bungkam dengan wajah
canggung.
Setelah berjalan beberapa lama, kami melewati lorong
sempit dan sampai di sebuah ruangan yang luas. Sebuah gua raksasa yang
berbentuk seperti kipas yang semakin melebar ke arah bawah. Kemungkinan besar
gua raksasa ini adalah jalan menuju bagian terdalam Labirin Besar Drefon.
Begitu memasuki gua raksasa tersebut, terdengar
suara erangan makhluk hidup entah dari mana. Makhluk-makhluk yang tinggal di
dalam dungeon semuanya adalah monster buas yang memusuhi
manusia.
"Murid-murid tolong mundur. Kali ini
biarkan kami yang menangani."
Lima petualang pendamping maju ke depan untuk
melindungi kami. Yang muncul adalah kadal yang panjangnya sekitar dua meter
dari kepala sampai ekor... monster yang terlihat seperti Velociraptor di buku ensiklopedia dunia lamaku.
Jumlahnya sekitar belasan ekor.
Idiot mencabut pedang di pinggangnya,
murid-murid lain pun menyiapkan senjata masing-masing. Namun, Alyssa-san hanya
melipat tangan dan bahkan tidak menyiapkan senjatanya, memilih untuk menjadi
penonton. Melihat dia tetap tenang padahal ada Lugh di sini, berarti
tingkat ancamannya tidak terlalu tinggi.
Aku pun tetap waspada dengan pedang di tangan
dan fokus untuk bisa menggunakan "Pyrokinesis"
kapan saja sambil memperhatikan cara bertarung para petualang.
Sesuai dugaan, cara bertarung mereka sangat
stabil. Meskipun kalah jumlah, masing-masing menggunakan skill atau senjata untuk menghabisi monster dengan
pasti. Di antara mereka, yang paling mencolok tentu saja Ryuu dan Tina.
Saat petualang lain bertarung dengan spektakuler
menggunakan tombak batu atau bola api, mereka berdua secara efisien
menumbangkan monster hanya dengan pedang dan busur tanpa menggunakan skill.
"Tina!"
"Oke!"
Kerja sama mereka luar biasa. Tina melepaskan anak
panah untuk menutupi titik buta Ryuu, dan terkadang Ryuu menjadi umpan untuk
menggiring monster ke jalur tembak Tina. Saat selesai, mereka berdua sendiri
telah menghabisi monster dua kali lebih banyak daripada tiga petualang lainnya.
Luar biasa, petualang peringkat B. Bisa sehebat ini
meski menghemat skill... Justru karena itulah,
gerakan mereka sangat bisa dijadikan referensi. Terutama Ryuu yang sepertinya
tidak menggunakan "Physical Enhancement".
Dia bertarung murni dengan kemampuan fisik aslinya dan sebilah pedang. Kalau
begitu, aku pun seharusnya bisa meniru itu.
"Kurasa ini cukup untuk demonstrasi—ssu. Mari
kembali—ssu!"
Setelah memastikan monster habis, kami kembali lewat
jalan yang sama atas perintah Alyssa-san. Kami berada di dalam dungeon sekitar tiga puluh menit. Fakta bahwa kami
langsung bertemu monster begitu masuk menunjukkan kalau tingkat pertemuan (encounter rate) di sini cukup tinggi. Penaklukan serius mulai besok sepertinya tidak
akan memberikan ruang untuk bersantai.
***
Kami kembali dari dungeon ke markas
dan menyelesaikan makan malam. Setelah matahari terbenam, kami melakukan
penjagaan api unggun secara bergiliran tiap tim, sama seperti saat berkemah di
perjalanan.
Berdasarkan hasil undian, tim kami mendapat giliran
kedua. Waktunya dari jam sepuluh sampai jam dua belas malam. Karena setelah
selesai kami bisa tidur sampai pagi, hasil undian ini cukup menguntungkan. Sambil menunggu giliran, aku berbaring di dalam
tenda sambil mengobrol santai dengan teman-teman setenda karena hari masih
terlalu sore untuk tidur.
Saat waktunya tiba, kami berganti tugas jaga.
"Hoam..." Ryuu
yang keluar tenda bersamaku menguap lebar. Memang ini jam-jam yang paling
membuat mengantuk. Sejak pagi mendaki gunung tanpa istirahat, lalu langsung
membangun tenda dan eksplorasi dungeon; kelelahan
pasti sudah mencapai puncaknya.
Aku sendiri pun merasa cukup mengantuk. Kalau
lengah sedikit bisa-bisa aku tertidur sambil duduk. Di antara mereka yang
berkumpul di api unggun, yang terlihat masih segar mungkin hanya Idiot dan
Lily. Lecty dan Rosalie sudah terlihat limbung seolah bisa tertidur kapan saja.
Benar saja, baru beberapa menit duduk
mengelilingi api, Rosalie menyerah pada rasa kantuk, dan tak lama kemudian
Lecty pun ikut tumbang. Cahaya api yang menari dan suara kayu yang sesekali
meletup memang ampuh memicu rasa kantuk; bahkan populer di situs video dunia
lamaku.
Saat aku pun mulai terkantuk-kantuk, aku
tersentak oleh guncangan di sampingku. Ternyata Ryuu yang duduk di sebelahku
sudah bersandar di bahuku. Merasa bukan tindakannya yang disengaja, Ryuu
bergumam "Ma-maaf ya."
"Mengantuk?"
"I-iya. Tapi nggak apa-apa. Aku
tahan..."
Meskipun berkata begitu, kelopak mata Ryuu
terlihat sangat berat, ia terangguk-angguk seolah mau jatuh. Ini sepertinya
sudah batasnya... Benar saja, tak lama kemudian Ryuu sudah menjadikan pahaku
sebagai bantal dan mulai mendengkur halus. Berkat itu aku jadi tidak bisa tidur
sembarangan, tapi yah, tidak apa-apa juga.
Yang masih terjaga tinggal aku, Lily, dan Idiot.
Idiot berdiri dan mulai mengayunkan pedangnya ringan dengan ekspresi yang
sangat serius. Sambil mengagumi bagaimana dia bisa tetap fokus di jam begini...
"Hugh, Lily Puridy. Maaf, bolehkah aku
titip tempat ini pada kalian?"
"Boleh saja, tapi kau mau ke mana?" tanya
Lily.
"Mau melihat kondisi dungeon
sebentar. Ada sesuatu yang sedikit mengganjal dipikiranku."
Idiot bilang akan segera kembali, lalu berjalan
menuju pintu masuk dungeon sambil membawa pedangnya. Dungeon sebenarnya dijaga secara bergiliran oleh para
petualang pendamping, jadi jika ada kejanggalan mereka pasti akan melapor...
tapi yah, tidak perlu dilarang juga. Sehebat-hebatnya Idiot, dia tidak akan
melakukan hal bodoh seperti masuk ke dungeon sendirian.
"Mungkin dia cuma mau memberi kita waktu
berdua?" bisik Lily.
"Kurasa tidak mungkin..."
Saat aku menoleh ke arah Lily sambil menjawab,
kulihat dia sedang membuka buku catatan tebal di atas pangkuannya dengan pena
di tangan kanan. Apa dia belajar di tempat seperti ini? Tidak, rasanya bukan.
Jangan-jangan... buku harian?
Menyadari tatapanku, Lily mendongak dan melihatku.
Dia memakai kacamata berbingkai tipis.
"Cocok sekali kacamatanya," pujiku tanpa
sadar. Bukannya aku penggila kacamata, tapi melihat gadis yang biasanya tidak
berkacamata tiba-tiba memakainya itu memberikan sensasi "perbedaan"
yang mendebarkan. Kacamata itu membuat kesan intelektual Lily makin menonjol
dan memberikan aura kerapuhan yang anggun. Mata hijaunya di balik lensa
terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.
"Fufu, terima kasih. Karena kau memujiku secara
jujur, berarti pesonaku memang meluap-luap ya. Apa kali ini aku menang lagi?"
"Aku kan memang kalah terus darimu."
Aku tidak ingat pernah menang dalam kompetisi
aneh dengannya sejak pertama kali melihatnya memakai gaun. Yah, itu bukti kalau
Lily memang cantik, imut, dan mempesona. Mungkin seumur hidup aku tidak akan
pernah menang.
"Ngomong-ngomong, apa matamu bermasalah?"
Kelihatannya itu bukan kacamata gaya tanpa minus.
Padahal selama ini dia tidak terlihat seperti orang yang rabun, dan saat di
kelas pun dia tidak pernah memakainya.
"Iya. Tapi cuma sedikit sulit melihat tulisan
saat malam hari saja. Tidak mengganggu aktivitas di siang hari atau keseharian.
Makanya aku cuma memakainya saat menulis seperti ini di malam hari."
"Begitu ya."
Syukurlah kalau tidak mengganggu keseharian. Lily tersenyum senang melihatku yang
mengembuskan napas lega. Dengan tambahan "sihir" kacamata, senyuman
itu mencengkeram hatiku lebih kuat dari biasanya. Merasa berbahaya jika terus
begini, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Buku itu... apakah buku harian?"
tanyaku tentang buku di pangkuannya.
Lily mengangguk, menutup buku itu, dan
memperlihatkannya padaku. Sampulnya berwarna ungu muda dengan sulaman pola
bunga dari benang emas. Benar-benar buku harian yang cantik dan dibuat dengan
teliti.
"Sampul yang indah, kan?"
"Iya, selera Lily memang luar biasa."
"Dipuji begitu pun, yang keluar cuma rasa
cinta lho?"
"Itu sudah lebih dari cukup."
Barang-barang milik Lily mulai dari baju sampai
pernak-pernik kecil semuanya modis. Soal fesyen, dia memang pakarnya. Aku jadi
sedikit cemas apakah anting giok yang kubeli sebagai kado untuknya nanti akan
dia sukai atau tidak...
"Tapi buku harian ya. Kalau aku pasti nggak
bakal tahan lebih dari tiga hari."
"Aku pun baru mulai sekitar sebulan. Tapi aku
berniat meneruskannya sampai aku jadi nenek-nenek nanti."
"Rencana jangka panjang yang luar biasa
ya."
"Nanti kalau sudah jadi nenek, aku akan
membacanya kembali sambil dikelilingi oleh cucu-cucu kita."
"Cucu kita? Sudah dipastikan itu cucu
dariku...?"
"Ara, apa aku boleh punya cucu dari pria
lain?"
"...Maaf, membayangkannya saja sudah membuat
otakku rasanya mau meledak."
"Fufu, itu cuma bercanda. Aku tidak berniat
melestarikan keturunan dengan pria selain dirimu, dan aku akan mencintai
cucu-cucu dari TÃa maupun Lecty dengan setara. Mau sepuluh atau dua puluh orang
pun tidak masalah."
"Itu namanya ledakan populasi, tahu..."
Entah berapa banyak anak yang akan... tidak,
sebaiknya aku berhenti membayangkan hal itu. Rasanya terlalu nyata dalam
berbagai arti.
"Aku merasa sangat bahagia sekarang. Ada kau,
ada Lecty, dan TÃa. Aku tidak pernah menyangka kehidupan akademi bisa seseru
ini sebelum aku masuk ke sini."
"...Benar juga. Aku pun tidak pernah terpikir
sampai aku mengikuti ujian masuk."
Malah, aku sempat berpikir untuk sengaja gagal dalam
ujian karena takut skill "Brainwashing"-ku
terbongkar.
"Aku tidak ingin melupakan momen ini selamanya.
Aku ingin tetap mengingatnya meski sudah jadi nenek-nenek nanti. Itulah
alasanku mulai menulis buku harian. Aku sudah tidak sabar membacanya kembali
sambil dikelilingi cucu-cucu kita."
Lily memeluk buku hariannya dan tersenyum lembut ke
arahku.
"Jadi, berjuanglah ya, Kakek?"
"I-iya..."
Melihat binar harapan di mata Lily, aku hanya bisa
membalasnya dengan senyum kecut. Saat ini, aku bahkan belum melangkah satu kaki
pun menuju masa depan yang ia bicarakan itu.
Aku mengusap rambut Ryuu yang sedang tidur
berbantalkan pahaku. Rambut peraknya memantulkan cahaya api unggun, berkilau
indah seolah-olah berubah menjadi emas.
***
Menjauh sendirian dari api unggun, Idiot melangkah
menuju pintu masuk Labirin Besar Drefon.
Di dekat pintu masuk, para petualang yang
mendampingi latihan luar kampus sedang asyik berpesta minuman keras dengan
dalih berjaga. Setelah memastikan orang yang dicarinya tidak ada di sana, Idiot
bertanya pada petualang yang sedang mabuk tentang keberadaannya, lalu menuju ke
arah bebatuan yang jauh dari pintu masuk dungeon.
Setelah memutar melewati batu besar hingga keriuhan
para petualang tidak lagi terdengar, ia menemukan sebuah tenda yang berdiri
sendirian. Sosok yang ia cari sedang berada di depan tenda itu, memasukkan
ranting kecil ke dalam api unggun.
"Ada apa malam-malam begini, Idiot-san?"
Seolah menyadari kehadiran Idiot yang mendekat, Ryuu
bertanya tanpa menoleh ke belakang.
"Besok pagi kita mulai penaklukan dungeon. Lebih baik Anda segera istirahat."
"Ada hal yang ingin kuselesaikan sebelum
istirahat."
"Hal yang ingin diselesaikan?"
"Umu."
Idiot yang berdiri tepat di belakang Ryuu mencabut
pedang aslinya yang tersampir di pinggang, lalu—
—menebaskannya ke punggung Ryuu.
Darah memercik, mewarnai sekeliling dengan warna
merah. Saat Idiot mengayunkan pedangnya dengan ringan untuk membersihkan sisa
darah, percikan itu membentuk lengkungan di tanah.
"...Skill yang
benar-benar konyol ya."
Yang tersisa di tangannya hanyalah kekosongan
seolah baru saja menebas kabut. Tanpa merasakan perlawanan atau sensasi menebas
daging sedikit pun, Idiot menatap jijik ke arah tubuh Ryuu yang terkapar.
"Kejam sekali ya, tiba-tiba menebas orang
sampai mati begitu."
Ryuu yang terkapar tak bergerak itu justru
memprotes Idiot dengan nada jengkel, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada
tubuhnya.
"Bagaimana kalau ternyata tadi aku yang
asli?"
"Kalau begitu, Tina yang sedang bersiap dengan
busurnya di dalam tenda pasti sudah melepaskan tembakan peringatan."
"Begitu ya, ternyata ketahuan juga. Seperti yang diharapkan dari Idiot-san."
Ryuu berkata dengan nada yang entah kenapa
terdengar senang. Sesaat kemudian, sosoknya yang terkapar meliuk terdistorsi
lalu menghilang seperti meleleh. Bercak darah yang tadi memercik di sekeliling
pun lenyap tanpa sisa setetes pun.
"Benar-benar jenis ilusi, ya."
"Benar sekali. Skill "Phantom" (Fantasi). Itulah skill yang dianugerahkan Tuhan padaku."
Menyadari sebuah hawa keberadaan, Idiot menoleh.
Ryuu menampakkan dirinya dari balik bayangan pohon di semak-semak yang tadinya
berada di belakang Idiot. Idiot tidak punya dasar untuk menentukan apakah sosok
itu pun ilusi atau bukan. Ilusi yang diciptakan Ryuu sama sekali tidak bisa
dibedakan dari aslinya jika tidak ditebas secara langsung.
Melihat Idiot yang kembali menyiapkan pedangnya,
Ryuu mengangkat tangan tanda menyerah.
"Kali ini aku yang asli, kok. Walau aku tidak
tahu apakah Anda akan percaya..."
"Tina pun terkadang meragukanku," desah
Ryuu dengan letih. Di mata Idiot, sosok Ryuu saat ini entah kenapa tumpang
tindih dengan sosok Hugh yang sering tampak terbebani oleh skill "Brainwashing"-nya.
"Tenang saja. Bagi orang yang sudah mengetahui
keberadaan skill "Phantom",
efek kekuatanku akan melemah. Idiot-san seharusnya sudah bisa membedakannya
sekarang."
"Aku tidak cukup bodoh untuk langsung
memercayai kata-katamu begitu saja."
"...Sayang sekali. Jadi, apa urusan Anda?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kau sengaja memamerkan
skill-mu saat kita berlatih tanding kemarin. Kau
melakukannya agar aku mendatangimu ke sini, kan?"
"Analisis yang tepat."
"Jawablah beberapa pertanyaanku."
"Silakan, tidak masalah."
"Tanyakan apa saja," jawab Ryuu dengan
tenang. Sepertinya dia sudah menduga niat Idiot datang kemari. Merasa agak tidak
nyaman karena merasa sedang dipermainkan, Idiot mengarahkan ujung pedangnya ke
arah Ryuu dan melontarkan pertanyaan.
"Waktu itu, kamukah yang menculik Nona Lecty?"
"...Begitu ya, ternyata itu yang Anda tanyakan. Bukan kenapa aku
tidak membunuh Anda barusan."
"Kau tidak membantahnya."
"Iya, tidak akan. Analisis Anda benar."
"—Kh!"
Tepat saat Ryuu mengakuinya, Idiot menggunakan "Physical
Enhancement" dari skill "Guardian (Chevalier)" dan melesat sekuat
tenaga. Namun, tepat saat pedangnya hendak menebas Ryuu—
"Oke—, sampai di situ saja—ssu."
—Seseorang tiba-tiba menyela dari samping dan
menangkis pedang Idiot dengan mudah.
"Apa...!?"
Secara refleks Idiot melompat mundur, matanya
membelalak kaget saat mengenali sosok yang menginterupsinya. Seorang ksatria
wanita dengan rambut ungu yang diikat ke samping, mengenakan zirah Ksatria
Kerajaan.
Alyssa Swift menghela napas panjang sambil
menyandarkan pedang di bahunya, tampak sangat jengkel.
"Seranganmu masih payah seperti biasanya
ya—ssu, Tuan Muda Idiot. Kalau benar-benar berniat membunuh lawan, gunakan
serangan balik (counter), bukankah itu yang selalu
kukatakan—ssu?"
"Nona Alyssa!? Kenapa... kenapa Anda ada di
sini...!?"
"Kenapa? Aku sudah di sini sejak tadi lho—ssu.
Di belakangmu."
"Tidak mungkin... jangan-jangan...!"
Idiot sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan
Alyssa sampai detik ini. Jika demikian, apakah ini ilusi ciptaan Ryuu?
...Tidak, ilusi tidak mungkin bisa menangkis pedang. Maka, jawabannya hanya
satu. Keberadaan Alyssa telah disembunyikan oleh "Phantom"
milik Ryuu.
"Kau berkhianat, Alyssa Swift!!"
"Seharusnya kita bahas dulu definisi
pengkhianatan itu apa ya—ssu. Aku tidak pernah merasa menjadi sekutu Tuan Muda
Idiot, lho. Aku adalah ksatria yang bersumpah setia kepada Yang Mulia
Lucas—ssu."
"Yang Mulia Lucas...!?"
"Semua ini demi Yang Mulia Lucas—ssu. Jadi,
mari kita letakkan pedang dan bicara baik-baik—ssu."
Melihat Alyssa yang mencoba menenangkannya, Idiot
justru kembali bersiap dengan pedangnya tanpa melonggarkan kewaspadaan. Ia melirik ke belakang, Tina yang baru keluar
dari tenda tampak melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya. Apakah itu
tanda mereka tidak berniat menyerang, atau itu pun hanya "Phantom" milik Ryuu?
Melihat kewaspadaan Idiot yang semakin tinggi,
Alyssa mengangkat bahu dan menyarungkan pedangnya.
"Untuk saat ini, kami tidak punya niat
menyerang—ssu. Kalau mau, aku bisa saja membunuh Tuan Muda Idiot kapan saja
tadi."
"............"
Idiot tidak bisa membantah kata-kata Alyssa.
Faktanya, ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Alyssa sampai saat ia
hendak menebas Ryuu. Jika Alyssa benar-benar menyerangnya saat itu, Idiot pasti
sudah tewas tanpa mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
Idiot mengalihkan pandangannya dari Alyssa kembali
ke Ryuu, lalu bertanya sekali lagi.
"Kenapa kau menculik Nona Lecty?"
"Karena itu perlu dilakukan."
"Perlu!? Melukai Nona Lecty itu perlu!?"
"...Mengenai fakta bahwa Malicious melukai
Lecty-san, itu di luar perkiraanku. Aku minta maaf soal itu. Entah Anda percaya
atau tidak, jika Malicious benar-benar berniat mengambil nyawa Lecty-san, aku
pasti akan menghentikannya."
"Hmph, entahlah. Bukankah kau kaki tangan
Malicious?"
"Bukan, aku hanya berpura-pura menjadi kaki
tangannya. Aku perlu membawa Lecty-san ke bawah tanah Katedral, jadi aku
menggunakan "Phantom" untuk menyusup ke dalam pasukan
pribadi Malicious. Aku jugalah yang membantu Cicely-san melarikan diri lewat
jalan bawah tanah dan memberikan informasi palsu bahwa Malicious mengincar skill "Saint"
demi tujuan tertentu."
Idiot tidak tahu apakah kata-kata Ryuu itu jujur
atau tidak. Namun, jika itu benar, berarti Ryuu-lah yang membantu Cicely
melarikan diri dari bawah tanah Katedral hingga sampai ke hutan tempat
kompetisi antar kelas diadakan. Idiot ingat betul luka Cicely saat itu sangat
parah. Kalau dipikir-pikir memang tidak wajar; sangat sulit membayangkan orang
dengan luka seperti itu bisa berjalan selama lebih dari satu jam perjalanan
kereta kuda.
Menyusup ke pasukan Malicious, menolong Cicely,
memberikan informasi palsu, dan menculik Lecty. Apa tujuannya melakukan cara
yang begitu rumit dan berputar-putar ini?
"...Apa tujuan sebenarnya?" tanya Idiot
dengan bingung.
Ryuu menjawab dengan santai:
"Agar Orang Suci Rosalie bisa diselamatkan oleh
Hugh-san dan Lecty-san."
"Nona Rosalie...?"
"Coba pikirkan. Seandainya waktu itu Cicely-san
tidak berhasil sampai ke lokasi kompetisi. Seandainya Lecty-san tidak diculik
ke bawah tanah Katedral. Apa yang akan terjadi pada Orang Suci Rosalie?"
"—Kh!"
Jika Cicely tidak sampai ke lokasi kompetisi, mereka
tidak akan tahu bahaya yang mengancam Rosalie. Jika Lecty tidak diculik, mereka
tidak akan menyerbu ke bawah tanah Katedral. Rosalie yang terkurung di bawah
tanah Katedral dipaksa meminum obat monster oleh Malicious. Dia berhasil
diselamatkan oleh Hugh dan Lecty karena mereka berada di sana, tapi jika mereka
tidak ada di tempat itu...
"Nona Rosalie pasti sudah tewas tanpa kita
ketahui... ya."
Ikatan yang mereka miliki dengan Rosalie sekarang
hanya ada karena fakta bahwa Rosalie berhasil selamat saat itu. Jika Rosalie
mati saat itu, setidaknya bagi Idiot, dia hanya akan dikenal sebagai
"Mantan Orang Suci yang hilang".
Merasakan hawa dingin merayapi punggungnya, Idiot
melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya.
"Dengan skill-mu, kau
seharusnya bisa menyelamatkan Nona Rosalie dengan cara yang lebih mudah. Kenapa
kau tidak melakukannya?"
"...Benar, dengan skill-ku aku bisa
saja menyelamatkan Rosalie-san. Faktanya, aku berniat melakukannya jika
Hugh-san tidak sempat datang. Tapi, untuk memutus kegilaan Malicious dan
menempatkan Rosalie-san di bawah perlindungan Yang Mulia Lucas, Hugh-san-lah
yang harus menyelamatkan Rosalie-san."
"...Jadi kondisi sekarang adalah hasil yang
ideal bagimu?"
Rosalie kini berada di bawah perlindungan Pangeran
Ketiga Lucas dengan dalih sebagai sandera. Hal itu terjadi sebagian besar
berkat peran Hugh. Tindakan Hugh memberikan alasan bagi Pangeran Lucas untuk
mengintervensi masalah internal Gereja Shinjukyo. Jika Ryuu—bukan Hugh—yang
menyelamatkan Rosalie, setidaknya saat ini mereka tidak akan bisa berinteraksi
dengan Rosalie sebagai teman sekolah.
"Jadi itu sebabnya waktu itu Nona Alyssa
menghalangi Hugh dengan cara yang tidak alami...?"
"Iya habisnya—ssu, Tuan Muda Hugh itu suka
sekali langsung melesat pergi begitu saja. Kalau dia melakukan itu, dia bisa
berpapasan dengan Tuan Muda Ryuu dan urusannya jadi rumit—ssu. Waktu itu aku
benar-benar tegang lho—ssu," ujar Alyssa sambil mengangkat bahu dengan
nada bercanda.
"Sepertinya sudah waktunya menyarungkan
pedangmu—ssu. Setidaknya mereka bukan musuh—ssu. Mataku menjamin bahwa dia
tidak berbohong—ssu."
Mata Alyssa bersinar redup di kegelapan malam. Itu
adalah manifestasi dari skill yang ia
miliki.
"...Ryuu, masih ada hal yang ingin kutanyakan
padamu."
"Apa itu?"
"Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau tahu
rahasia Hugh?"
Tindakan Ryuu sejauh ini hanya bisa dijelaskan jika
ia sudah mengetahui rahasia skill "Brainwashing" milik Hugh. Terlebih lagi, ia
seolah sudah memprediksi kejadian yang akan datang. Seolah-olah, ia tahu apa
yang akan terjadi di masa depan.
Ryuu melangkah mendekati Idiot dan berkata:
"Jawabannya hanya satu. Itu karena aku adalah
Ryuu Pnosis."
"Ryuu... Pnosis?"
Tepat di ujung pedang yang disiapkan Idiot, Ryuu
mendekat tanpa rasa takut sedikit pun. Ia berhenti saat ujung pedang itu nyaris
menyentuh kulit lehernya.
"Idiot-san. Aku mohon, jadilah sekutu
kami."
Dengan tatapan mata yang sangat serius, ia memohon:
"Demi mengubah masa depan yang terkutuk itu,
aku membutuhkan kekuatan sang Guru...!"



Post a Comment