NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 3 Chapter 8

Bab 8: Mirai Shounen Lyuug (Lyuug si Anak Masa Depan)


 Penaklukan dungeon akhirnya dimulai sehari setelah jamuan makan siang.

Sekitar sepuluh kilometer ke arah utara dari kota Balread. Setelah menempuh perjalanan melewati pegunungan selama hampir setengah hari, kami akhirnya sampai di pintu masuk Labirin Besar Drefon. Lubang besar yang menganga di tengah tebing terjal itu seolah-olah sebuah labirin lapar yang membuka mulutnya lebar-lebar menunggu kami masuk.

"Baiklah, mari kita mulai mendirikan tenda dulu—ssu!"

Atas perintah Alyssa-san, kami mulai membangun markas (base camp). Pekerjaan ini terasa lancar karena kami sudah melakukannya berkali-kali selama perjalanan.

Penaklukan dungeon ini direncanakan berlangsung selama lima hari dengan markas ini sebagai pusatnya. Siang hari kami menjelajah dungeon, dan malam hari kembali ke perkemahan untuk tidur. Siklus ini diulang selama lima hari, kemudian kembali ke Balread untuk mengisi suplai dan istirahat, lalu dilanjutkan lagi dengan penaklukan lima hari berikutnya.

Ziarah ke makam ibu Lucretia akan dilakukan setelah penaklukan dungeon pertama selesai dan kami kembali ke Balread. Katanya, saat itu jalanan yang longsor akibat hujan deras sudah pulih kembali.

Dan ulang tahun Lucretia pun akan jatuh di tengah-tengah masa penaklukan dungeon pertama ini. Entah itu saat berada di dalam labirin atau setelah kembali ke markas, begitu hari berganti, aku akan langsung memberikan kado dan menyatakan perasaanku. ...Baiklah, aku pasti bisa!

Pembangunan markas selesai lebih cepat dari jadwal, bahkan sebelum matahari mulai terbenam. Karena itu, Alyssa-san memberikan sebuah usul.

"Gimana kalau sekarang kita coba masuk sebentar ke dalam—ssu?"

Meskipun dalam jadwal penaklukan serius baru dimulai besok, bisa mengetahui kondisi dalam dungeon sebelumnya adalah hal yang patut disyukuri. Tidak ada penolakan dari murid, dan semua petualang pendamping pun setuju dengan Alyssa-san.

Kami memutuskan untuk mengeksplorasi area sekitar pintu masuk, lalu dengan peralatan lengkap kami melangkah masuk ke dalam dungeon.

Seketika itu juga, udara yang menyentuh kulit berubah drastis menjadi dingin dan lembap. Lily secara refleks memeluk tubuhnya sendiri.

"Dingin sekali ya... Rasanya seperti berada di dalam gudang es."

"Seharusnya kita membawa jubah ya..." Lecty menciutkan tubuhnya sambil meniup telapak tangannya.

Napas kami memang belum sampai mengeluarkan uap putih, tapi memang cukup dingin untuk kulit jika hanya memakai seragam musim panas. Jika lengah, bisa-basi kena flu.

"Selain dingin, bagian dalam dungeon ternyata cukup terang ya," ujar Rosalie sambil melihat sekeliling.

Benar juga, langit-langit gua dan permukaan batu terlihat sangat jelas. Tanpa membawa obor atau sumber cahaya lain pun, pandangan kami tetap terjaga. Seolah-olah dungeon itu sendiri yang memancarkan cahaya.

"Itu karena pengaruh lumut yang hidup di dalam dungeon," jawab Ryuu (si petualang). Dia mengusap permukaan batu dengan telunjuknya, lalu menggeseknya dengan jempol dan memperlihatkan ujung jarinya pada kami. Jarinya memancarkan cahaya redup.

"Dinding dungeon ditumbuhi lumut yang akan bercahaya jika diberi rangsangan seperti ini. Tingkat cahayanya berbeda-beda tiap dungeon, dan lumut yang lebih terang dari ini biasanya dipanen untuk digunakan sebagai alat sihir penerangan."

"Jadi itu bercahaya karena lumut ya?"

Aku sering memakainya tanpa pikir panjang di kamar asrama, tak menyangka kalau itu ternyata lumut. Tadinya kupikir itu bercahaya karena bijih mineral yang menghasilkan listrik atau semacamnya.

"Banyak bahan yang bisa diambil dari dungeon digunakan untuk alat sihir. Misalnya, shower menghasilkan air panas dari kombinasi 'Batu Sumber Air' yang menghasilkan air dan 'Rumput Penyimpan Panas'. Keduanya adalah bahan yang bisa diambil dari dungeon di Kerajaan Dwarf. Industri alat sihir di sana maju karena bahan-bahan seperti itu banyak dihasilkan di dungeon lokal mereka, dan—"

"Iya, iya, sampai di situ saja!" Tina menghentikan Ryuu yang bicaranya mulai makin cepat. Tina berkacak pinggang dan menghela napas. "Kak Ryuu kalau sudah bicara soal alat sihir pasti langsung nyerocos panjang lebar. Tuh, semuanya jadi bengong, kan?"

"Eh!? Ma-maaf ya semuanya..."

"Nggak kok, kami nggak merasa terganggu," sahutku.

Meskipun Lugh dan Rosalie terlihat agak bosan, aku pribadi malah ingin mendengar lebih detail lagi. Wilayah di barat laut benua dari arah Kerajaan Leese; aku juga pernah dengar kalau di Kerajaan Dwarf riset dan pengembangan alat sihir paling mutakhir sedang berlangsung.

Kira-kira alat sihir seperti apa yang dibuat di sana? Mungkin ada alat sihir yang mirip barang elektronik di Jepang dulu. Kalau aku ganti skill menjadi "Inventionist", mungkin aku bisa jadi kaya raya dari pengembangan alat sihir. Aku ingin mengunjunginya setidaknya sekali seumur hidup.

"Kau suka alat sihir ya," ujar Lily.

"Iya, begitulah. Sejak dulu karena pengaruh Ayah..." Ryuu menjawab dengan malu-malu saat disapa Lily.

Apa anak ini naksir Lily ya...? Aku sempat menatapnya dengan curiga, namun Ryuu menyadarinya dan segera menggelengkan kepalanya dengan heboh.

"Ti-tidak, lebih penting dari itu! Sekarang monster bisa muncul dari mana saja. Mari kita waspada!"

"Kak Ryuu kalau teriak keras begitu, monsternya malah jadi datang lho~" seloroh Tina, membuat Ryuu bungkam dengan wajah canggung.

Setelah berjalan beberapa lama, kami melewati lorong sempit dan sampai di sebuah ruangan yang luas. Sebuah gua raksasa yang berbentuk seperti kipas yang semakin melebar ke arah bawah. Kemungkinan besar gua raksasa ini adalah jalan menuju bagian terdalam Labirin Besar Drefon.

Begitu memasuki gua raksasa tersebut, terdengar suara erangan makhluk hidup entah dari mana. Makhluk-makhluk yang tinggal di dalam dungeon semuanya adalah monster buas yang memusuhi manusia.

"Murid-murid tolong mundur. Kali ini biarkan kami yang menangani."

Lima petualang pendamping maju ke depan untuk melindungi kami. Yang muncul adalah kadal yang panjangnya sekitar dua meter dari kepala sampai ekor... monster yang terlihat seperti Velociraptor di buku ensiklopedia dunia lamaku. Jumlahnya sekitar belasan ekor.

Idiot mencabut pedang di pinggangnya, murid-murid lain pun menyiapkan senjata masing-masing. Namun, Alyssa-san hanya melipat tangan dan bahkan tidak menyiapkan senjatanya, memilih untuk menjadi penonton. Melihat dia tetap tenang padahal ada Lugh di sini, berarti tingkat ancamannya tidak terlalu tinggi.

Aku pun tetap waspada dengan pedang di tangan dan fokus untuk bisa menggunakan "Pyrokinesis" kapan saja sambil memperhatikan cara bertarung para petualang.

Sesuai dugaan, cara bertarung mereka sangat stabil. Meskipun kalah jumlah, masing-masing menggunakan skill atau senjata untuk menghabisi monster dengan pasti. Di antara mereka, yang paling mencolok tentu saja Ryuu dan Tina.

Saat petualang lain bertarung dengan spektakuler menggunakan tombak batu atau bola api, mereka berdua secara efisien menumbangkan monster hanya dengan pedang dan busur tanpa menggunakan skill.

"Tina!"

"Oke!"

Kerja sama mereka luar biasa. Tina melepaskan anak panah untuk menutupi titik buta Ryuu, dan terkadang Ryuu menjadi umpan untuk menggiring monster ke jalur tembak Tina. Saat selesai, mereka berdua sendiri telah menghabisi monster dua kali lebih banyak daripada tiga petualang lainnya.

Luar biasa, petualang peringkat B. Bisa sehebat ini meski menghemat skill... Justru karena itulah, gerakan mereka sangat bisa dijadikan referensi. Terutama Ryuu yang sepertinya tidak menggunakan "Physical Enhancement". Dia bertarung murni dengan kemampuan fisik aslinya dan sebilah pedang. Kalau begitu, aku pun seharusnya bisa meniru itu.

"Kurasa ini cukup untuk demonstrasi—ssu. Mari kembali—ssu!"

Setelah memastikan monster habis, kami kembali lewat jalan yang sama atas perintah Alyssa-san. Kami berada di dalam dungeon sekitar tiga puluh menit. Fakta bahwa kami langsung bertemu monster begitu masuk menunjukkan kalau tingkat pertemuan (encounter rate) di sini cukup tinggi. Penaklukan serius mulai besok sepertinya tidak akan memberikan ruang untuk bersantai.

 

***

Kami kembali dari dungeon ke markas dan menyelesaikan makan malam. Setelah matahari terbenam, kami melakukan penjagaan api unggun secara bergiliran tiap tim, sama seperti saat berkemah di perjalanan.

Berdasarkan hasil undian, tim kami mendapat giliran kedua. Waktunya dari jam sepuluh sampai jam dua belas malam. Karena setelah selesai kami bisa tidur sampai pagi, hasil undian ini cukup menguntungkan. Sambil menunggu giliran, aku berbaring di dalam tenda sambil mengobrol santai dengan teman-teman setenda karena hari masih terlalu sore untuk tidur.

Saat waktunya tiba, kami berganti tugas jaga.

"Hoam..." Ryuu yang keluar tenda bersamaku menguap lebar. Memang ini jam-jam yang paling membuat mengantuk. Sejak pagi mendaki gunung tanpa istirahat, lalu langsung membangun tenda dan eksplorasi dungeon; kelelahan pasti sudah mencapai puncaknya.

Aku sendiri pun merasa cukup mengantuk. Kalau lengah sedikit bisa-bisa aku tertidur sambil duduk. Di antara mereka yang berkumpul di api unggun, yang terlihat masih segar mungkin hanya Idiot dan Lily. Lecty dan Rosalie sudah terlihat limbung seolah bisa tertidur kapan saja.

Benar saja, baru beberapa menit duduk mengelilingi api, Rosalie menyerah pada rasa kantuk, dan tak lama kemudian Lecty pun ikut tumbang. Cahaya api yang menari dan suara kayu yang sesekali meletup memang ampuh memicu rasa kantuk; bahkan populer di situs video dunia lamaku.

Saat aku pun mulai terkantuk-kantuk, aku tersentak oleh guncangan di sampingku. Ternyata Ryuu yang duduk di sebelahku sudah bersandar di bahuku. Merasa bukan tindakannya yang disengaja, Ryuu bergumam "Ma-maaf ya."

"Mengantuk?"

"I-iya. Tapi nggak apa-apa. Aku tahan..."

Meskipun berkata begitu, kelopak mata Ryuu terlihat sangat berat, ia terangguk-angguk seolah mau jatuh. Ini sepertinya sudah batasnya... Benar saja, tak lama kemudian Ryuu sudah menjadikan pahaku sebagai bantal dan mulai mendengkur halus. Berkat itu aku jadi tidak bisa tidur sembarangan, tapi yah, tidak apa-apa juga.

Yang masih terjaga tinggal aku, Lily, dan Idiot. Idiot berdiri dan mulai mengayunkan pedangnya ringan dengan ekspresi yang sangat serius. Sambil mengagumi bagaimana dia bisa tetap fokus di jam begini...

"Hugh, Lily Puridy. Maaf, bolehkah aku titip tempat ini pada kalian?"

"Boleh saja, tapi kau mau ke mana?" tanya Lily.

"Mau melihat kondisi dungeon sebentar. Ada sesuatu yang sedikit mengganjal dipikiranku."

Idiot bilang akan segera kembali, lalu berjalan menuju pintu masuk dungeon sambil membawa pedangnya. Dungeon sebenarnya dijaga secara bergiliran oleh para petualang pendamping, jadi jika ada kejanggalan mereka pasti akan melapor... tapi yah, tidak perlu dilarang juga. Sehebat-hebatnya Idiot, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti masuk ke dungeon sendirian.

"Mungkin dia cuma mau memberi kita waktu berdua?" bisik Lily.

"Kurasa tidak mungkin..."

Saat aku menoleh ke arah Lily sambil menjawab, kulihat dia sedang membuka buku catatan tebal di atas pangkuannya dengan pena di tangan kanan. Apa dia belajar di tempat seperti ini? Tidak, rasanya bukan. Jangan-jangan... buku harian?

Menyadari tatapanku, Lily mendongak dan melihatku. Dia memakai kacamata berbingkai tipis.

"Cocok sekali kacamatanya," pujiku tanpa sadar. Bukannya aku penggila kacamata, tapi melihat gadis yang biasanya tidak berkacamata tiba-tiba memakainya itu memberikan sensasi "perbedaan" yang mendebarkan. Kacamata itu membuat kesan intelektual Lily makin menonjol dan memberikan aura kerapuhan yang anggun. Mata hijaunya di balik lensa terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.

"Fufu, terima kasih. Karena kau memujiku secara jujur, berarti pesonaku memang meluap-luap ya. Apa kali ini aku menang lagi?"

"Aku kan memang kalah terus darimu."

Aku tidak ingat pernah menang dalam kompetisi aneh dengannya sejak pertama kali melihatnya memakai gaun. Yah, itu bukti kalau Lily memang cantik, imut, dan mempesona. Mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah menang.

"Ngomong-ngomong, apa matamu bermasalah?"

Kelihatannya itu bukan kacamata gaya tanpa minus. Padahal selama ini dia tidak terlihat seperti orang yang rabun, dan saat di kelas pun dia tidak pernah memakainya.

"Iya. Tapi cuma sedikit sulit melihat tulisan saat malam hari saja. Tidak mengganggu aktivitas di siang hari atau keseharian. Makanya aku cuma memakainya saat menulis seperti ini di malam hari."

"Begitu ya."

Syukurlah kalau tidak mengganggu keseharian. Lily tersenyum senang melihatku yang mengembuskan napas lega. Dengan tambahan "sihir" kacamata, senyuman itu mencengkeram hatiku lebih kuat dari biasanya. Merasa berbahaya jika terus begini, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Buku itu... apakah buku harian?" tanyaku tentang buku di pangkuannya.

Lily mengangguk, menutup buku itu, dan memperlihatkannya padaku. Sampulnya berwarna ungu muda dengan sulaman pola bunga dari benang emas. Benar-benar buku harian yang cantik dan dibuat dengan teliti.

"Sampul yang indah, kan?"

"Iya, selera Lily memang luar biasa."

"Dipuji begitu pun, yang keluar cuma rasa cinta lho?"

"Itu sudah lebih dari cukup."

Barang-barang milik Lily mulai dari baju sampai pernak-pernik kecil semuanya modis. Soal fesyen, dia memang pakarnya. Aku jadi sedikit cemas apakah anting giok yang kubeli sebagai kado untuknya nanti akan dia sukai atau tidak...

"Tapi buku harian ya. Kalau aku pasti nggak bakal tahan lebih dari tiga hari."

"Aku pun baru mulai sekitar sebulan. Tapi aku berniat meneruskannya sampai aku jadi nenek-nenek nanti."

"Rencana jangka panjang yang luar biasa ya."

"Nanti kalau sudah jadi nenek, aku akan membacanya kembali sambil dikelilingi oleh cucu-cucu kita."

"Cucu kita? Sudah dipastikan itu cucu dariku...?"

"Ara, apa aku boleh punya cucu dari pria lain?"

"...Maaf, membayangkannya saja sudah membuat otakku rasanya mau meledak."

"Fufu, itu cuma bercanda. Aku tidak berniat melestarikan keturunan dengan pria selain dirimu, dan aku akan mencintai cucu-cucu dari Tía maupun Lecty dengan setara. Mau sepuluh atau dua puluh orang pun tidak masalah."

"Itu namanya ledakan populasi, tahu..."

Entah berapa banyak anak yang akan... tidak, sebaiknya aku berhenti membayangkan hal itu. Rasanya terlalu nyata dalam berbagai arti.

"Aku merasa sangat bahagia sekarang. Ada kau, ada Lecty, dan Tía. Aku tidak pernah menyangka kehidupan akademi bisa seseru ini sebelum aku masuk ke sini."

"...Benar juga. Aku pun tidak pernah terpikir sampai aku mengikuti ujian masuk."

Malah, aku sempat berpikir untuk sengaja gagal dalam ujian karena takut skill "Brainwashing"-ku terbongkar.

"Aku tidak ingin melupakan momen ini selamanya. Aku ingin tetap mengingatnya meski sudah jadi nenek-nenek nanti. Itulah alasanku mulai menulis buku harian. Aku sudah tidak sabar membacanya kembali sambil dikelilingi cucu-cucu kita."

Lily memeluk buku hariannya dan tersenyum lembut ke arahku.

"Jadi, berjuanglah ya, Kakek?"

"I-iya..."

Melihat binar harapan di mata Lily, aku hanya bisa membalasnya dengan senyum kecut. Saat ini, aku bahkan belum melangkah satu kaki pun menuju masa depan yang ia bicarakan itu.

Aku mengusap rambut Ryuu yang sedang tidur berbantalkan pahaku. Rambut peraknya memantulkan cahaya api unggun, berkilau indah seolah-olah berubah menjadi emas.

***

Menjauh sendirian dari api unggun, Idiot melangkah menuju pintu masuk Labirin Besar Drefon.

Di dekat pintu masuk, para petualang yang mendampingi latihan luar kampus sedang asyik berpesta minuman keras dengan dalih berjaga. Setelah memastikan orang yang dicarinya tidak ada di sana, Idiot bertanya pada petualang yang sedang mabuk tentang keberadaannya, lalu menuju ke arah bebatuan yang jauh dari pintu masuk dungeon.

Setelah memutar melewati batu besar hingga keriuhan para petualang tidak lagi terdengar, ia menemukan sebuah tenda yang berdiri sendirian. Sosok yang ia cari sedang berada di depan tenda itu, memasukkan ranting kecil ke dalam api unggun.

"Ada apa malam-malam begini, Idiot-san?"

Seolah menyadari kehadiran Idiot yang mendekat, Ryuu bertanya tanpa menoleh ke belakang.

"Besok pagi kita mulai penaklukan dungeon. Lebih baik Anda segera istirahat."

"Ada hal yang ingin kuselesaikan sebelum istirahat."

"Hal yang ingin diselesaikan?"

"Umu."

Idiot yang berdiri tepat di belakang Ryuu mencabut pedang aslinya yang tersampir di pinggang, lalu—

—menebaskannya ke punggung Ryuu.

Darah memercik, mewarnai sekeliling dengan warna merah. Saat Idiot mengayunkan pedangnya dengan ringan untuk membersihkan sisa darah, percikan itu membentuk lengkungan di tanah.

"...Skill yang benar-benar konyol ya."

Yang tersisa di tangannya hanyalah kekosongan seolah baru saja menebas kabut. Tanpa merasakan perlawanan atau sensasi menebas daging sedikit pun, Idiot menatap jijik ke arah tubuh Ryuu yang terkapar.

"Kejam sekali ya, tiba-tiba menebas orang sampai mati begitu."

Ryuu yang terkapar tak bergerak itu justru memprotes Idiot dengan nada jengkel, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya.

"Bagaimana kalau ternyata tadi aku yang asli?"

"Kalau begitu, Tina yang sedang bersiap dengan busurnya di dalam tenda pasti sudah melepaskan tembakan peringatan."

"Begitu ya, ternyata ketahuan juga. Seperti yang diharapkan dari Idiot-san."

Ryuu berkata dengan nada yang entah kenapa terdengar senang. Sesaat kemudian, sosoknya yang terkapar meliuk terdistorsi lalu menghilang seperti meleleh. Bercak darah yang tadi memercik di sekeliling pun lenyap tanpa sisa setetes pun.

"Benar-benar jenis ilusi, ya."

"Benar sekali. Skill "Phantom" (Fantasi). Itulah skill yang dianugerahkan Tuhan padaku."

Menyadari sebuah hawa keberadaan, Idiot menoleh. Ryuu menampakkan dirinya dari balik bayangan pohon di semak-semak yang tadinya berada di belakang Idiot. Idiot tidak punya dasar untuk menentukan apakah sosok itu pun ilusi atau bukan. Ilusi yang diciptakan Ryuu sama sekali tidak bisa dibedakan dari aslinya jika tidak ditebas secara langsung.

Melihat Idiot yang kembali menyiapkan pedangnya, Ryuu mengangkat tangan tanda menyerah.

"Kali ini aku yang asli, kok. Walau aku tidak tahu apakah Anda akan percaya..."

"Tina pun terkadang meragukanku," desah Ryuu dengan letih. Di mata Idiot, sosok Ryuu saat ini entah kenapa tumpang tindih dengan sosok Hugh yang sering tampak terbebani oleh skill "Brainwashing"-nya.

"Tenang saja. Bagi orang yang sudah mengetahui keberadaan skill "Phantom", efek kekuatanku akan melemah. Idiot-san seharusnya sudah bisa membedakannya sekarang."

"Aku tidak cukup bodoh untuk langsung memercayai kata-katamu begitu saja."

"...Sayang sekali. Jadi, apa urusan Anda?"

"Jangan pura-pura bodoh. Kau sengaja memamerkan skill-mu saat kita berlatih tanding kemarin. Kau melakukannya agar aku mendatangimu ke sini, kan?"

"Analisis yang tepat."

"Jawablah beberapa pertanyaanku."

"Silakan, tidak masalah."

"Tanyakan apa saja," jawab Ryuu dengan tenang. Sepertinya dia sudah menduga niat Idiot datang kemari. Merasa agak tidak nyaman karena merasa sedang dipermainkan, Idiot mengarahkan ujung pedangnya ke arah Ryuu dan melontarkan pertanyaan.

"Waktu itu, kamukah yang menculik Nona Lecty?"

"...Begitu ya, ternyata itu yang Anda tanyakan. Bukan kenapa aku tidak membunuh Anda barusan."

"Kau tidak membantahnya."

"Iya, tidak akan. Analisis Anda benar."

"—Kh!"

Tepat saat Ryuu mengakuinya, Idiot menggunakan "Physical Enhancement" dari skill "Guardian (Chevalier)" dan melesat sekuat tenaga. Namun, tepat saat pedangnya hendak menebas Ryuu—

"Oke—, sampai di situ saja—ssu."

—Seseorang tiba-tiba menyela dari samping dan menangkis pedang Idiot dengan mudah.

"Apa...!?"

Secara refleks Idiot melompat mundur, matanya membelalak kaget saat mengenali sosok yang menginterupsinya. Seorang ksatria wanita dengan rambut ungu yang diikat ke samping, mengenakan zirah Ksatria Kerajaan.

Alyssa Swift menghela napas panjang sambil menyandarkan pedang di bahunya, tampak sangat jengkel.

"Seranganmu masih payah seperti biasanya ya—ssu, Tuan Muda Idiot. Kalau benar-benar berniat membunuh lawan, gunakan serangan balik (counter), bukankah itu yang selalu kukatakan—ssu?"

"Nona Alyssa!? Kenapa... kenapa Anda ada di sini...!?"

"Kenapa? Aku sudah di sini sejak tadi lho—ssu. Di belakangmu."

"Tidak mungkin... jangan-jangan...!"

Idiot sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan Alyssa sampai detik ini. Jika demikian, apakah ini ilusi ciptaan Ryuu? ...Tidak, ilusi tidak mungkin bisa menangkis pedang. Maka, jawabannya hanya satu. Keberadaan Alyssa telah disembunyikan oleh "Phantom" milik Ryuu.

"Kau berkhianat, Alyssa Swift!!"

"Seharusnya kita bahas dulu definisi pengkhianatan itu apa ya—ssu. Aku tidak pernah merasa menjadi sekutu Tuan Muda Idiot, lho. Aku adalah ksatria yang bersumpah setia kepada Yang Mulia Lucas—ssu."

"Yang Mulia Lucas...!?"

"Semua ini demi Yang Mulia Lucas—ssu. Jadi, mari kita letakkan pedang dan bicara baik-baik—ssu."

Melihat Alyssa yang mencoba menenangkannya, Idiot justru kembali bersiap dengan pedangnya tanpa melonggarkan kewaspadaan. Ia melirik ke belakang, Tina yang baru keluar dari tenda tampak melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya. Apakah itu tanda mereka tidak berniat menyerang, atau itu pun hanya "Phantom" milik Ryuu?

Melihat kewaspadaan Idiot yang semakin tinggi, Alyssa mengangkat bahu dan menyarungkan pedangnya.

"Untuk saat ini, kami tidak punya niat menyerang—ssu. Kalau mau, aku bisa saja membunuh Tuan Muda Idiot kapan saja tadi."

"............"

Idiot tidak bisa membantah kata-kata Alyssa. Faktanya, ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Alyssa sampai saat ia hendak menebas Ryuu. Jika Alyssa benar-benar menyerangnya saat itu, Idiot pasti sudah tewas tanpa mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

Idiot mengalihkan pandangannya dari Alyssa kembali ke Ryuu, lalu bertanya sekali lagi.

"Kenapa kau menculik Nona Lecty?"

"Karena itu perlu dilakukan."

"Perlu!? Melukai Nona Lecty itu perlu!?"

"...Mengenai fakta bahwa Malicious melukai Lecty-san, itu di luar perkiraanku. Aku minta maaf soal itu. Entah Anda percaya atau tidak, jika Malicious benar-benar berniat mengambil nyawa Lecty-san, aku pasti akan menghentikannya."

"Hmph, entahlah. Bukankah kau kaki tangan Malicious?"

"Bukan, aku hanya berpura-pura menjadi kaki tangannya. Aku perlu membawa Lecty-san ke bawah tanah Katedral, jadi aku menggunakan "Phantom" untuk menyusup ke dalam pasukan pribadi Malicious. Aku jugalah yang membantu Cicely-san melarikan diri lewat jalan bawah tanah dan memberikan informasi palsu bahwa Malicious mengincar skill "Saint" demi tujuan tertentu."

Idiot tidak tahu apakah kata-kata Ryuu itu jujur atau tidak. Namun, jika itu benar, berarti Ryuu-lah yang membantu Cicely melarikan diri dari bawah tanah Katedral hingga sampai ke hutan tempat kompetisi antar kelas diadakan. Idiot ingat betul luka Cicely saat itu sangat parah. Kalau dipikir-pikir memang tidak wajar; sangat sulit membayangkan orang dengan luka seperti itu bisa berjalan selama lebih dari satu jam perjalanan kereta kuda.

Menyusup ke pasukan Malicious, menolong Cicely, memberikan informasi palsu, dan menculik Lecty. Apa tujuannya melakukan cara yang begitu rumit dan berputar-putar ini?

"...Apa tujuan sebenarnya?" tanya Idiot dengan bingung.

Ryuu menjawab dengan santai:

"Agar Orang Suci Rosalie bisa diselamatkan oleh Hugh-san dan Lecty-san."

"Nona Rosalie...?"

"Coba pikirkan. Seandainya waktu itu Cicely-san tidak berhasil sampai ke lokasi kompetisi. Seandainya Lecty-san tidak diculik ke bawah tanah Katedral. Apa yang akan terjadi pada Orang Suci Rosalie?"

"—Kh!"

Jika Cicely tidak sampai ke lokasi kompetisi, mereka tidak akan tahu bahaya yang mengancam Rosalie. Jika Lecty tidak diculik, mereka tidak akan menyerbu ke bawah tanah Katedral. Rosalie yang terkurung di bawah tanah Katedral dipaksa meminum obat monster oleh Malicious. Dia berhasil diselamatkan oleh Hugh dan Lecty karena mereka berada di sana, tapi jika mereka tidak ada di tempat itu...

"Nona Rosalie pasti sudah tewas tanpa kita ketahui... ya."

Ikatan yang mereka miliki dengan Rosalie sekarang hanya ada karena fakta bahwa Rosalie berhasil selamat saat itu. Jika Rosalie mati saat itu, setidaknya bagi Idiot, dia hanya akan dikenal sebagai "Mantan Orang Suci yang hilang".

Merasakan hawa dingin merayapi punggungnya, Idiot melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya.

"Dengan skill-mu, kau seharusnya bisa menyelamatkan Nona Rosalie dengan cara yang lebih mudah. Kenapa kau tidak melakukannya?"

"...Benar, dengan skill-ku aku bisa saja menyelamatkan Rosalie-san. Faktanya, aku berniat melakukannya jika Hugh-san tidak sempat datang. Tapi, untuk memutus kegilaan Malicious dan menempatkan Rosalie-san di bawah perlindungan Yang Mulia Lucas, Hugh-san-lah yang harus menyelamatkan Rosalie-san."

"...Jadi kondisi sekarang adalah hasil yang ideal bagimu?"

Rosalie kini berada di bawah perlindungan Pangeran Ketiga Lucas dengan dalih sebagai sandera. Hal itu terjadi sebagian besar berkat peran Hugh. Tindakan Hugh memberikan alasan bagi Pangeran Lucas untuk mengintervensi masalah internal Gereja Shinjukyo. Jika Ryuu—bukan Hugh—yang menyelamatkan Rosalie, setidaknya saat ini mereka tidak akan bisa berinteraksi dengan Rosalie sebagai teman sekolah.

"Jadi itu sebabnya waktu itu Nona Alyssa menghalangi Hugh dengan cara yang tidak alami...?"

"Iya habisnya—ssu, Tuan Muda Hugh itu suka sekali langsung melesat pergi begitu saja. Kalau dia melakukan itu, dia bisa berpapasan dengan Tuan Muda Ryuu dan urusannya jadi rumit—ssu. Waktu itu aku benar-benar tegang lho—ssu," ujar Alyssa sambil mengangkat bahu dengan nada bercanda.

"Sepertinya sudah waktunya menyarungkan pedangmu—ssu. Setidaknya mereka bukan musuh—ssu. Mataku menjamin bahwa dia tidak berbohong—ssu."

Mata Alyssa bersinar redup di kegelapan malam. Itu adalah manifestasi dari skill yang ia miliki.

"...Ryuu, masih ada hal yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa itu?"

"Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau tahu rahasia Hugh?"

Tindakan Ryuu sejauh ini hanya bisa dijelaskan jika ia sudah mengetahui rahasia skill "Brainwashing" milik Hugh. Terlebih lagi, ia seolah sudah memprediksi kejadian yang akan datang. Seolah-olah, ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Ryuu melangkah mendekati Idiot dan berkata:

"Jawabannya hanya satu. Itu karena aku adalah Ryuu Pnosis."

"Ryuu... Pnosis?"

Tepat di ujung pedang yang disiapkan Idiot, Ryuu mendekat tanpa rasa takut sedikit pun. Ia berhenti saat ujung pedang itu nyaris menyentuh kulit lehernya.

"Idiot-san. Aku mohon, jadilah sekutu kami."

Dengan tatapan mata yang sangat serius, ia memohon:

"Demi mengubah masa depan yang terkutuk itu, aku membutuhkan kekuatan sang Guru...!"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close