NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 3 Chapter 9

Bab 9: Skill Cuci Otak di Matamu


 

Di tengah penaklukan Labirin Besar Drefon yang berjalan lancar, akhirnya tiba saatnya bagiku untuk memantapkan tekad.

Sehari sebelum ulang tahun Lucretia. Di dalam tenda sebelum berangkat menaklukkan dungeon, aku sendirian mengeluarkan kotak cincin yang kusimpan rapat-rapat di dasar ranselku.

Saat kubuka penutupnya, tampaklah sebuah cincin bertahtakan permata biru tua kecil di dalamnya. Sambil merasa lega karena isinya aman, dadaku terasa sesak karena menyadari momen penentuan sudah semakin dekat.

Bagaimana kalau aku ditolak?

Kecemasan itu terus membayangi pikiranku. Tentu saja, aku menyadari perasaan suka dari Lucretia, tapi... tetap saja, aku tidak bisa berhenti membayangkan skenario terburuk.

Aku berusaha keras menekan rasa takut yang membuatku ingin melarikan diri. Tenang, kuatkan dirimu, Hugh...!

"Hyuuu-huuuu?"

"Uwaaa!?"

Aku tersentak hebat karena suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang. Saat aku menoleh dengan ragu, Lugh sedang berdiri di sana dengan mata membelalak menatapku.

"Ah, maaf. Apa aku mengejutkanmu...?"

"Ti-tidak. Maaf, aku saja yang sedang melamun, jadi jangan dipikirkan..."

Ah, payah sekali. Aku malah memperlihatkan sosok yang sangat tidak keren di depan gadis yang kusukai...!

"Anu, kau sedang apa?"

"I-itu, cuma sedang merapikan barang sedikit."

"Hooo...?"

Lugh menatapku dengan tatapan curiga. Ta-tapi aku tidak berbohong. Mengeluarkan kotak cincin dari ransel itu kan juga bagian dari merapikan barang, ya kan?

"Semuanya sudah menunggu, lho?"

"O-oke. Aku segera ke sana."

Aku memasukkan kotak cincin itu ke saku belakang celanaku agar tersembunyi dari pandangan Lugh, lalu mengikutinya keluar dari tenda.

Di depan pintu masuk Labirin Besar, rekan-rekan yang akan menaklukkan dungeon bersamaku sudah berkumpul. Kedengarannya memang megah, tapi intinya mereka adalah anggota grup yang biasa.

Penaklukan dungeon ini dibagi menjadi empat tim oleh Alyssa-san berdasarkan kemampuan masing-masing. Kami tergabung dalam Tim Pertama yang bertujuan menaklukkan lapisan terdalam. Anggotanya adalah aku, Lugh, Lily, Lecty, Idiot, serta Ryuu dan Tina sebagai pengawas. Total tujuh orang.

"Kau terlambat, Hugh. Apa yang kau lakukan tadi?"

"Maaf, merapikan barang tadi memakan waktu sedikit lebih lama..."

"Hooo? Baiklah, aku anggap saja begitu ya," ujar Lily sambil tersenyum penuh arti. Karena aku sudah sering berkonsultasi dengannya, dia pasti sudah menebak alasan sebenarnya kenapa aku terlambat.

"Malah asyik bermesraan dengan Lily lagi...!"

Lugh menggembungkan pipinya saat melihat interaksiku dengan Lily. Rasa cemburunya memang imut, tapi tingkat "kemesraan" kami biasanya jauh lebih tinggi daripada ini. Lily dan Lecty hanya bisa menatap Lugh dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

"Anu, kalau begitu karena semua anggota sudah lengkap, mari kita mulai rapatnya," ujar Ryuu sambil tertawa kecut melihat tingkah kami.

"Melanjutkan yang kemarin, hari ini kita akan masuk sedalam mungkin ke dalam dungeon. Dari sepuluh lantai di Labirin Besar Drefon, mari kita targetkan sampai lantai enam. Dengan kemampuan kalian, seharusnya kita bisa sampai di sana sore nanti tanpa masalah."

"Sampai di sana sore hari, berarti kita akan berkemah di dalam dungeon ya?" tanya Lily.

"Iya. Di lantai lima ada Safe Zone di mana monster tidak akan mendekat. Kita akan berkemah di sana, lalu tergantung situasi, kita tentukan target besok."

Tidak ada penolakan terhadap rencana Ryuu, dan kami mulai melakukan pengecekan terakhir pada barang bawaan. Karena malam ini kami akan bermalam di dalam dungeon, jika ada barang yang tertinggal, kami tidak bisa kembali ke markas untuk mengambilnya. Untung saja tadi aku sudah mengambil cincinnya.

Tepat saat kami hendak berangkat dengan ransel di punggung masing-masing...

"Tunggu sebentar desu waaa~!"

Rosalie berlari menghampiri kami dari arah markas. Di belakangnya tampak Alyssa-san dan Cicely-san.

"Fiuh, nyaris saja desu wa."

Rosalie berhenti di depan kami sambil memegang lututnya untuk mengatur napas.

"Karena aku tidak bisa ikut dengan kalian, setidaknya izinkan aku melepas keberangkatan kalian!"

Dalam penaklukan kali ini, Rosalie yang secara teknis berstatus sebagai sandera bagi Pangeran Lucas ditempatkan di tim lain (tim yang bertugas mengumpulkan pengalaman bertarung melawan monster di dekat pintu masuk). Ini adalah keputusan politik karena jika terjadi sesuatu padanya, hubungan dengan Gereja Shinjukyo bisa memburuk. Rosalie terlihat kecewa, tapi apa boleh buat.

Lagipula, skill penyembuhannya dalam hal mengobati luka setara dengan Lecty. Karena Lecty ikut dengan kami ke lapisan bawah, keberadaan Rosalie di lapisan atas akan menjamin keselamatan murid-murid lain jika ada yang terluka.

"Lecty, aku percayakan mereka padamu ya!"

"Baik! Rosalie-san, tolong jaga teman-teman sekelas juga ya."

Dua Orang Suci kebanggaan kami saling berjabat tangan. Melihat pemandangan itu, Alyssa-san tertawa kecil lalu mendekat dan berbisik padaku.

"Aku titipkan dia padamu ya, Nak—ssu."

"...Tentu saja."

Baik aku maupun Alyssa-san tidak menyebutkan siapa "dia" yang dimaksud. Dia adalah orang yang paling tidak boleh celaka—sama seperti atau bahkan lebih dari Rosalie—tapi karena identitasnya disembunyikan, aku tidak bisa memberinya perlakuan istimewa. Tentu saja, tanpa diminta Alyssa-san pun, aku berniat melindunginya meski harus bertaruh nyawa.

Sementara itu, sang "Putri" sendiri justru sedang menggembungkan pipinya menatapku dan Alyssa-san.

"Muuu... Kau bermesraan dengan Alyssa-san juga."

"Nggak bermesraan, tahu!"

Melihat sang Putri yang cemburu, Alyssa-san memasang senyum licik yang jahat. Sesaat kemudian, dia menarik tanganku dan membenamkan wajahku ke pelindung dadanya yang keras.

"Pulanglah dengan selamat ya, Hugh kecil—ssu. Nanti kakak akan memanjakanmu sepuasnya—ssu~"

"Sakit, sakit, sakiiit! Setidaknya lepas dulu baju zirahnya!"

"Hyuuu-huuuu!"

"Ah, tidak, maksudku tadi itu cuma salah bicara!"

"Itu bukan alasan, tahu!"




Lugh yang marah langsung menerjang ke arahku. Lily dan Lecty pun ikut bergabung, membuat suasana menjadi sangat ramai. Dari kejauhan, Ryuu dan Tina menatap kami dengan ekspresi yang sangat rumit.

"(Aku sebenarnya tidak ingin melihat Ayah yang seperti ini...)"

"(Benar juga ya...)"

Suara mereka tidak terdengar karena aku tidak sedang menggunakan skill "Ninja", tapi aku bisa merasakan aura kekecewaan yang terpancar kuat. Dalam situasi begini, aku harus bagaimana!?

Setelah entah bagaimana berhasil lepas dari "serangan" Alyssa-san, kami berangkat menaklukkan dungeon dengan dilepas oleh Rosalie dan yang lainnya.

"Mari kita sebisa mungkin menghindari pertempuran saat bergerak. Lily-san, mohon bantuannya."

"Iya, serahkan padaku."

Skill Lily, "Strategist", adalah kemampuan luar biasa yang secara otomatis mengidentifikasi kawan dan lawan dalam radius 1.500 meter dan menampilkannya dalam sudut pandang dari atas (bird's eye view). Namun, kekurangannya adalah pandangan normal penggunanya tertutup selama skill aktif. Karena berbahaya jika digunakan sambil bergerak, seseorang harus menggendongnya.

"Jadi, mohon bantuannya ya, Hugh?"

"Serahkan padaku."

Daripada membiarkan Ryuu atau Idiot yang melakukannya, dengan senang hati aku menerima tugas ini. Aku berlutut agar Lily bisa naik ke punggungku. Dia menyandarkan tubuhnya padaku, menutupi punggungku. Aroma manis buah persik tercium dari rambut cokelat kemerahannya yang terurai di bahuku. Di punggungku, aku merasakan dua tonjolan kenyal yang menekan erat.

"Empuk?"

"Iya... eh!?"

Tanpa sadar aku mengangguk. Saat aku mendongak, mataku bertemu dengan Lugh yang sedang berjongkok agar pandangan kami sejajar, menatapku dengan tatapan tajam yang seolah berkata "Jitooo—..." (menyelidik).

"Hugh mesum."

Lugh memalingkan wajah dengan kesal, lalu berdiri dan berlari kecil menghampiri Lecty. Apa-apaan tadi itu...?

"Hari ini kau dicintai lebih dari biasanya ya?" goda Lily.

"Bukannya aku justru sedang dibenci...?"

"Kalau dia sudah tidak peduli, dia tidak akan cemburu. Tapi yah, apakah dia benar-benar akan membencimu atau tidak, itu tergantung tindakanmu setelah ini."

"...Benar juga."

Sambil memastikan keberadaan kotak cincin di saku, aku berdiri menggendong Lily. Tiba-tiba...

"Lho?"

"Ada apa?" tanyaku pada Lily.

"Tidak, bukan hal besar, tapi rasanya pandanganku jadi lebih tinggi dari sebelumnya. Apa kau bertambah tinggi lagi?"

"Kalau dipikir-pikir, belakangan ini seragamku terasa sedikit sempit."

Aku tidak menyadarinya sampai Lily mengatakannya, tapi aku baru beberapa bulan menginjak usia lima belas tahun. Aku sedang berada di masa pertumbuhan, dan mengingat tinggi badan Ayah, sepertinya aku akan tumbuh lebih tinggi lagi.

"(Bahumu juga jadi lebih lebar ya. Fufu, aku suka pria yang gagah, lho?)" bisik Lily di telingaku.

"Jangan berbisik di telingaku kalau kau tidak mau kita berdua jatuh tersungkur."

Setelah memperingatkan kejahilan Lily, kami mulai menelusuri dungeon dengan Ryuu dan Idiot di barisan depan. Berkat "Strategist" milik Lily, kami berhasil melewati sampai lantai tiga hampir tanpa pertempuran sama sekali.

Namun, mulai lantai empat keadaannya berubah. Lantai satu sampai tiga terasa seperti gua bawah tanah yang luas, tapi mulai lantai empat, jalurnya menjadi lorong-lorong sempit yang rumit—benar-benar seperti labirin bawah tanah. Meskipun kami punya peta rute yang benar sehingga tidak akan tersesat, kami terpaksa melewati rute yang sudah ditentukan, sehingga pertempuran dengan monster yang ada di jalur tersebut tidak bisa dihindari.

Seekor monster yang mirip Velociraptor muncul menghalangi jalan kami. Jumlahnya empat ekor, tapi ada satu yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari yang lain. Cakar depannya panjang dan tajam, dan di lehernya terdapat rumbai seperti kadal leher rumbai (frilled lizard). Kelihatannya cukup kuat...

"Apa perlu aku bakar dengan 'Pyrokinesis'?"

"Jangan, daya hancur 'Pyrokinesis' Hugh-san terlalu kuat untuk lorong sempit begini..." cegah Ryuu.

"Ah... benar juga."

"Maaf ya," Ryuu memasang wajah menyesal. Padahal dia tidak perlu minta maaf, tapi sepertinya ke depannya pun kesempatan memakai "Pyrokinesis" akan sedikit. Gara-gara spesifikasi skill "Brainwashing" yang membuat semua skill tiruan menjadi Lv. Max, daya hancurnya yang terlalu tinggi justru jadi masalah.

"Kalau begitu, biarkan si leher rumbai itu menjadi urusan si Idiot Hoartness ini. Tidak keberatan, kan?"

"Iya, kami serahkan padamu, Idiot-san."

...Dua orang ini, sejak kemarin suasananya sedikit tegang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya mereka sedang bertengkar. Nanti aku akan coba tanya mereka baik-baik.

Pertempuran berjalan lancar karena Idiot menangani si pemimpin leher rumbai itu. Meskipun raptor berukuran besar (sekitar dua meter) dan lincah, di lorong sempit hal itu justru merugikan mereka. Mengingat latihan dengan Alyssa-san, aku berhasil mengalahkan monster dengan kekuatanku sendiri untuk pertama kalinya... tapi seiring dengan rasa puas, aku meringis karena sensasi yang tertinggal di tangan. Sepertinya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan sensasi pedang yang membelah daging.

Setelah menghela napas dan memeriksa sekitar, monster lainnya sudah tumbang. Idiot juga telah menghabisi si leher rumbai; tubuh raksasanya jatuh berdebam ke tanah hingga membuat pijakan kami sedikit bergetar. Ternyata monster itu jauh lebih berat dari kelihatannya.

"Hugh-san, apa Anda terluka!?"

Lecty yang memegang tongkat kayu berlari menghampiriku.

"Aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu, Lecty?"

Total monster ada empat. Idiot menangani si pemimpin, sementara tiga raptor sisanya ditangani olehku, Ryuu, dan Lecty. Tina bertugas sebagai pendukung dari belakang sambil melindungi Lily dan Lugh (putri).

Lecty menjawab pertanyaanku dengan senyum ceria sambil memperlihatkan tongkat kayunya yang berlumuran darah. Di pipinya terciprat darah yang sepertinya milik si raptor. Ya... senyumnya memang imut, tapi terlihat sedikit mengerikan.

Aku mencoba memalingkan muka dari raptor yang kepalanya hancur bersimbah darah di belakang Lecty. Aku menyeka darah di pipi Lecty dengan ujung bajuku, yang membuatnya merona merah, "A-ah, terima kasih banyak...".

Skill "Saint" milik Lecty mencakup "Physical Enhancement" dan "Staff Arts". Kemampuan bertarung murninya jauh di atasku yang sekarang. Menghadapi monster, Lecty tidak perlu menahan diri dan bisa mengeluarkan keberaniannya yang luar biasa.

...Aku juga harus berjuang agar tidak kalah. Aku ingin menunjukkan sisi kerenku sebelum menyatakan cinta.

Penaklukan dungeon setelah itu pun berjalan lancar. Kami maju sambil menyingkirkan monster yang muncul di depan kami, dan akhirnya mencapai lantai enam yang menjadi target. Setelah mengeksplorasi sedikit, kami kembali ke lantai lima untuk berkemah di Safe Zone, tempat di mana monster tidak akan mendekat.

Safe Zone ini ternyata adalah ruangan yang sangat luas. Di sana terdapat lubang raksasa yang menembus jauh sampai ke bagian atas dungeon. Area aman tersebut berada di tepi jurang sepanjang lubang besar itu. Jika mendongak ke atas, kami bisa melihat langit yang mulai berwarna jingga senja, sementara di bawah sana terbentang kegelapan yang entah seberapa dalam.

"Itu sarang Naga Hitam Drefon... Katanya Drefon keluar masuk dungeon melalui lubang ini," ujar Lily.

"Jalan setapak naga ya..."

Diameter lubangnya sepertinya lebih dari seratus meter. Jika naga itu terbang dengan merentangkan sayap memenuhi lubang ini, berarti Naga Hitam Drefon ukurannya luar biasa besar. Bagaimana nenek moyang Lugh bisa membantai monster seperti itu?

Setelah melihat-lihat lubang raksasa itu, kami mulai bersiap berkemah. Kami mendirikan tenda portabel dan berbagi tugas menyiapkan makanan. Meski tidak sekokoh perkemahan di markas besar, tempat ini sudah lebih dari cukup untuk bermalam di dalam dungeon.

Tak lama kemudian, langit yang terlihat dari lubang raksasa pun berubah gelap. Selesai makan malam, masing-masing anggota menghabiskan waktu luang mereka. Di saat itulah, aku memantapkan tekad dan menyapa Lugh... maksudku Lucretia, yang sedang mengobrol dengan Lily dan Lecty.

"Tía, bisa bicara sebentar...? Anu, ada hal yang ingin kukatakan berdua saja."

"I-iya."

Tía mengangguk dengan raut wajah yang sedikit tegang, lalu berdiri setelah dibisiki sesuatu oleh Lily dan Lecty. Kami berjalan bersama menuju tepi jurang yang jauh dari tenda. Aku merasa Lily dan yang lain sedang mengintai dari balik tenda, tapi karena jarak kami sudah lima puluh meter, mereka tidak akan bisa menguping.

Cahaya bulan yang masuk dari lubang raksasa membuat rambut perak Tía berkilau indah. Pipinya yang terlihat merona merah sepertinya bukan sekadar perasaanku saja.

"Anu... apa yang mau dibicarakan...?"

"A-ah. Itu..."

Gawat, jantungku rasanya mau melompat keluar karena gugup...! Tenang, Hugh! Jangan sampai panik dan pikiranmu jadi kosong, itu skenario terburuk. Aku meletakkan tangan di dada, mengambil napas dalam-dalam berkali-kali, lalu mengalihkan pandangan. Tepat di atas lubang raksasa itu, terlihat bulan yang bulat sempurna.

"Bu-bulannya sangat indah ya."

"Eh? Ah, iya."

Lucretia mengangguk dengan bingung. Bodoh! Mana mungkin anekdot Natsume Soseki (kiasan "Aku mencintaimu" dalam bahasa Jepang) dipahami di dunia lain begini! Jangankan di sini, di dunia lamaku pun belum tentu anak umur lima belas tahun paham!

Di sampingku yang sedang memegang kepala karena malu, Lucretia menjulurkan tangannya ke arah bulan. Sosoknya terlihat sangat cantik, anggun, dan misterius, layaknya sebuah lukisan atau patung. Di saat yang sama, rasa sayang yang tak tergantikan meluap dari hatiku.

Ah... aku benar-benar mencintai gadis ini. Aku hanya perlu mengungkapkan perasaan ini dengan jujur apa adanya. Berkat kesadaran itu, akhirnya aku berhasil mendapatkan kembali ketenanganku.

"Tía, aku—"

Tepat di saat aku hendak mengatakan "Aku menyukaimu", sesuatu terjadi.

Gura, pijakan kami berguncang hebat.

"Kyaa!?"

"Tía!"

Aku menyambar tangan Lucretia yang linglung dan mendekapnya. Guncangan itu semakin membesar disertai suara gemuruh bumi gogogogogogo, dan kerikil mulai berjatuhan dari sekeliling kami.

Gempa bumi...!?

Di dunia ini guncangan memang sesekali terjadi, tapi ini pertama kalinya aku merasakan guncangan sedahsyat ini. Kami berada di atas tebing terjal. Tidak tahu kapan pijakan ini akan runtuh, dan bongkahan batu bisa saja menghujani kami dari atas. Pokoknya kami harus segera meninggalkan tempat ini...!

Tepat saat aku berniat menggendong Tía dan berlari, sekejap kemudian—

—GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!

Raungan yang memekakkan telinga bergema di lubang raksasa itu, dan bishibishi! retakan besar menjalar di dinding dan permukaan tanah.

Ah, gawat...

Bersamaan dengan kesadaran itu, aku merasakan sensasi melayang yang tak terelakkan. Saat aku menyadari pijakan kami telah runtuh, aku sudah terseret jatuh ke dalam lubang raksasa yang tak terlihat dasarnya sambil memeluk erat Tía.

Sesaat setelah raungan yang menggetarkan bumi itu bergema, keruntuhan lubang raksasa pun dimulai.

"Hugh, Tía!"

Di depan mata Lily yang mengawasi Hugh dan Lugh dari kejauhan, kedua orang yang terjebak dalam longsoran pijakan itu terlempar ke udara sambil tetap berpelukan, lalu terseret masuk ke dasar lubang yang gelap. Meski ia berusaha menjulurkan tangan sekuat tenaga, tangannya tak sampai. Sosok Hugh dan Lugh pun menghilang ditelan kegelapan.

"Bohong, ini tidak mungkin... Hugh, Tía...? Tidak, TIDAAAAAAAKKKKKKK!"

"Lily-chan!"

Lecty memeluk erat Lily yang hendak berlari menyusul, mencoba menahan Lily yang meronta-ronta.

"Lepaskan, Lecty! Hugh, Tía, mereka...!"

"Tidak boleh! Kita harus segera lari atau tempat ini juga akan runtuh!"

Retakan di tanah dan dinding batu yang tercipta akibat raungan tadi sudah merambat hingga tepat di dekat posisi Lily dan Lecty berada. Dan retakan itu terus melebar dengan cepat. Masalah waktu saja sebelum tempat mereka berdiri ikut hancur.

Lecty menggunakan kekuatan [Physical Enhancement] dari skill "Saint" miliknya untuk menggendong Lily yang menangis histeris menjauhi retakan. Ia menoleh sekali lagi, memastikan bahwa Hugh dan Lugh sudah tidak terlihat, lalu menggigit bibirnya. Ia menahan sekuat tenaga keinginan untuk berteriak, mengusap air mata yang terus mengalir, dan berlari.

(Hugh-san dan Lugh-san pasti baik-baik saja! Karena itu, aku... aku harus melindungi Lily-chan!)

Dengan terus meyakinkan dirinya sendiri, ia menjaga hatinya agar tidak hancur.

Di dekat pintu keluar Safe Zone, Idiot tampak melambaikan tangan dengan panik. Ia segera berlari menghampiri mereka.

"Apa kalian selamat, Nona Lecty!?"

"I-iya. Tapi..."

"Idiot! Hugh, Tía, mereka jatuh...!"

"...Kh. Jadi mereka terjebak longsoran...!"

Melihat Lily yang setengah gila menangis histeris, Idiot seolah memahami situasinya dan meringis. Ia mengertakkan gigi dan mengepalkan kedua tangannya erat-repat, tampak berusaha keras menahan emosinya sendiri.

"...Di sini juga berbahaya. Tidak tahu kapan akan runtuh lagi. Nona Lecty, bisakah aku menitipkan Lily Puridy padamu?"

"Baik...!"

"Mohon bantuannya. Mari kita bergerak."

Dengan suara yang dipaksakan tenang seolah menekan perasaannya sendiri, Idiot berbalik dan memimpin jalan menuju pintu keluar Safe Zone. Lecty menyusul di belakang sambil tetap menggendong Lily. Lily terus terisak dan terengah-engah sambil menyeka air mata yang tak henti mengalir.

Di pintu keluar Safe Zone, Ryuu dan Tina berdiri terpaku dengan wajah pucat.

"Kak Lugh, bagaimana ini...? Hei, apa yang harus kita lakukan!?"

"Kalaupun kau tanya begitu..."

Idiot berjalan mendekati mereka berdua dengan langkah berat.

"Hei."

Idiot mencengkeram kerah baju Ryuu yang bahunya tersentak karena takut mendengar suara penuh amarah itu, lalu membantingnya ke dinding di belakang. Idiot menatap tajam Lugh yang bernapas kepayahan.

"Apakah ini juga bagian dari rencanamu?"

"Ti-tidak... ini salah... Padahal di buku harian tertulis kalau kebangkitan Naga Hitam seharusnya masih lama! Karena itu kami... kami berniat melakukan sesuatu sebelum naganya bangkit!"

"Kau sengaja menggiring Hugh kemari, kan? Dan inilah hasilnya!"

Mendengar kata-kata Idiot, Ryuu menunduk lesu seolah-olah seluruh dunianya baru saja runtuh.

"Idiot-san, apa yang Anda lakukan! Lepaskan Lugh-san!"

Lecty yang masih menggendong Lily menyusul dan melerai mereka. Idiot menghela napas seolah berusaha mengendalikan diri lalu melepaskan cengkeramannya, membuat Ryuu terduduk lemas di tanah.

"Kami hanya ingin... masa depan..."

"Simpan penjelasanmu untuk nanti. Sekarang, prioritas utama adalah kembali ke permukaan."

"Tu-tunggu, Idiot!"

Lily meronta dari dekapan Lecty dan setelah terlepas, ia langsung memegang baju Idiot dengan rambut yang berantakan.

"Hugh dan Tía jatuh! Kita harus segera menolong mereka, sekarang juga!"

"Lily Puridy..."

"Aku mohon, Idiot!"

Sosok Lily yang menangis tersedu-sedu itu sangat jauh dari citra wanita terhormat yang sempurna yang biasanya ia tunjukkan.

Idiot pun memiliki perasaan yang sama, ingin segera menolong Hugh dan Lugh sekarang juga. Namun secara realistis, itu adalah tindakan bunuh diri. Di dasar lubang itu ada sesuatu yang sanggup mengubah struktur dungeon hanya dengan satu raungan. Tidak ada jaminan mereka berlima bisa menyelamatkan Hugh dan Lugh lalu kembali dengan selamat.

(Aku pun kehilangan pertimbangan jernih karena terguncang, tapi begitu pula mereka...)

Idiot menarik napas dalam-dalam, lalu berlutut agar pandangannya sejajar dengan Lily.

"Kau bisa mengetahui keselamatan Hugh dan Lugh dengan skill-mu. Kenapa kau tidak memastikannya?"

"Mana mungkin aku berani melakukan hal yang menakutkan itu!?"

Jangkauan efektif skill "Strategist" milik Lily adalah radius 1.500 meter. Meskipun kedalaman lubang tidak pasti, kemungkinan besar masih dalam jangkauan. Dengan menggunakan skill, keselamatan mereka berdua bisa dipastikan.

Tapi, bagaimana jika ia menggunakan skill dan tidak ada respons? Itu berarti segalanya sudah berakhir. Lily tidak ingin tahu kebenaran yang menyakitkan itu, dan Idiot memahaminya. Justru karena itulah...

"Kalau begitu, kuatkan hatimu! Kau adalah Lily Puridy, kan!?"

"...Kh!"

"Apa yang harus kita lakukan sekarang!? Kita harus bertahan hidup dan melaporkan kejadian ini! Terlepas dari apa pun pemilik raungan tadi, telah terjadi anomali di dungeon ini. Jika monster kuat muncul di lapisan terdalam, apa yang akan terjadi?"

"...Monster Parade."

Runtuhnya ekosistem di dalam dungeon. Fenomena di mana monster-monster penghuni terusir dari tempat tinggal mereka oleh kemunculan individu yang jauh lebih kuat, lalu meluap keluar dungeon. Itulah istilahnya.

Dengan kemunculan monster yang raungannya sanggup menghancurkan daratan, seluruh monster di Labirin Besar Drefon pasti sedang panik. Masalah waktu saja sebelum mereka yang kehilangan tempat tinggal meluap keluar.

Raungan itu pasti terdengar sampai ke luar lubang, tapi belum tentu mereka di luar menyadari betapa serius situasinya. Mereka harus segera memberi tahu keadaan di luar dan mempersiapkan penanganan terhadap Monster Parade. Sebelum monster-monster itu menyerbu murid-mahasiswa Akademi Kerajaan di luar atau kota Balread, segalanya akan terlambat.

"Kau pasti tahu apa yang harus kita lakukan sekarang, Lily Puridy. —Dan yang terpenting."

Idiot berdiri dan menyatakan dengan penuh percaya diri kepada semua orang di sana.

"Rival utamaku itu tidak mungkin mati hanya karena kejadian seperti ini!"

Itu adalah kata-kata untuk menyemangati semua orang, sekaligus kata-kata yang Idiot katakan untuk meyakinkan dirinya sendiri.

(Aku percaya padamu, Hugh...!)

Aku merasakan sensasi tubuhku terlempar ke udara dan jatuh terus ke bawah. Di tengah pandangan yang berputar seperti slow motion, aku menjulurkan tangan ke saku dada.

Jatuh yang terasa abadi ini mungkin sebenarnya hanya berlangsung sekejap. Jika kami menghantam dasar lubang, baik aku maupun Lucretia tidak akan selamat. Tidak ada waktu untuk ragu...!

"Batalkan [Brainwashing]! Skill-mu adalah [Levitate] (Melayang)!"

Aku mengganti skill ke apa pun yang terlintas di kepala saat itu, lalu mendekap erat tubuh Lucretia. Bersamaan dengan sensasi skill yang berganti, aku merasakan tubuhku seperti dibalut bantal empuk dan mulai melayang.

Perlahan-lahan, seperti biji dandelion yang tertiup angin, kami melayang di udara sambil turun ke dasar lubang. Hanya dalam hitungan detik setelah itu kaki kami menyentuh tanah. Aku merinding menyadari jika saja aku terlambat mengganti skill satu detik saja, kami pasti sudah mati jatuh.

Syukurlah... tapi ternyata belum berakhir.

Tanah dan batu berbagai ukuran menghujani kami dari atas. Tanpa sempat menarik napas, aku segera menggendong Lucretia untuk melindunginya dan menendang tanah. Berkat skill [Levitate], tubuhku melambung ringan dan melompat jauh seolah terbang di permukaan bulan.

Namun, kecepatanku tidak seberapa. Benturan keras dan rasa sakit yang luar biasa menghantam bahu kanan dan kaki kiriku. Sambil berusaha keras mempertahankan kesadaran yang nyaris hilang, aku berguling di tanah bersama Lucretia.

Sesaat kemudian, sebuah batu raksasa jatuh tepat di tempat aku dan Lucretia mendarat tadi. Guncangan akibat benturan itu membuat tanah bergetar, dan serpihan tajam menghujani punggungku. Karena kakiku tidak bisa digerakkan, setidaknya aku menutupi tubuhnya dengan tubuhku sendiri.

Entah berapa lama waktu telah berlalu. Runtuhnya lubang raksasa sepertinya sudah berhenti, dan tidak ada lagi benda yang jatuh dari atas.

Apa kami berhasil selamat...?

Dengan sisa tenaga terakhir, aku menggeser tubuhku agar tidak menindih Lucretia. Saat mencoba bangun, rasa sakit di bahu kanan dan kaki kiriku begitu hebat hingga aku kembali tersungkur di tanah.

"Hugh...? Sadarlah, Hugh!"

Aku mendengar suara Tía yang khawatir. Sekeliling kami diselimuti kegelapan total. Dasar lubang ini sepertinya tidak ditumbuhi lumut cahaya; hanya ada sedikit lumut yang menempel pada reruntuhan dinding batu dari atas yang memberikan sedikit keremangan seperti langit malam yang mendung.

"Ka-kau terluka...?"

"Tidak apa-apa, cuma luka gores..."

Padahal aslinya sakit sekali. Saking sakitnya, lengan kanan dan kaki kiriku sudah tidak bisa digerakkan sama sekali. Karena gelap, aku tidak tahu berapa banyak darah yang keluar, tapi setidaknya tulangku sepertinya tidak baik-baik saja.

Aku harus segera mengobatinya... Longsoran memang sudah berhenti, tapi bisa saja runtuh lagi kapan saja. Monster juga mungkin ada di dekat sini, kami harus segera pindah.

Aku takut jika Tía tahu soal skill "Brainwashing"-ku. Tapi situasi ini bukan lagi saatnya untuk ragu. Saat aku hendak merogoh saku dada untuk mengambil cermin demi mengganti skill menjadi "Saint", aku merasakan sesuatu yang aneh.

Lho...? Tangan kiriku tidak bisa menemukan apa pun di sana...

"Tía, bisakah kau mengambilkan cermin dari saku dadaku...?"

"Cermin? I-iya. Baiklah."

Aku meminta Tía mencari cerminnya. Aku merasakan tangan mungil Tía merogoh saku dadaku, sampai akhirnya ia bersuara dengan nada bingung.

"Anu... seharusnya ada di saku dada, kan?"

"Seharusnya begitu..."

Cermin lipat yang selalu kubawa di saku dada seperti jimat pelindung. Benda yang seharusnya selalu ada di sana ternyata sudah tidak ada.

Terakhir kali aku memakainya adalah saat baru saja jatuh tadi, untuk mengganti skill ke [Levitate] demi menahan benturan. Saat itu aku sangat panik memeluk Tía sehingga aku sama sekali tidak ingat apa yang kulakukan pada cermin itu setelah ganti skill.

Sepertinya terjatuh... Jika benar, sudah pasti cermin itu tertimbun di bawah batu raksasa yang jatuh belakangan tadi. Meskipun dicari pun, di kegelapan seperti ini aku tidak akan bisa melihat bayanganku sendiri di cermin.

Aku mulai merasa panas di dalam tubuhku perlahan menghilang. Rasa sakit di bahu kanan dan kaki kiriku pun entah kenapa mulai mereda. Bukannya sembuh, tapi lebih seperti mati rasa karena bius. Mungkin otakku mulai mematikan rasa sakit itu. Aku sudah kehilangan seluruh sensasi di lengan kanan dan kaki kiri, benar-benar tidak bisa digerakkan.

"Hugh, kuatkan dirimu! Hugh!"

Di dalam kegelapan, samar-samar terlihat siluet gadis yang sangat kucintai. Tetesan air yang jatuh di pipiku pasti adalah air mata Tía. Aku merasa sangat tidak berguna karena telah membuat gadis yang kucintai menangis, sampai-sampai aku sendiri pun ingin menangis.

Bilang "aku baik-baik saja" pun tidak akan bisa menenangkannya sekarang...

"Tía, tinggalkan aku dan—"

"TIDAK MAU!"

Sebelum aku selesai memintanya lari, dia sudah menolaknya mentah-mentah. ...Yah, kalau aku di posisinya pun pasti akan bicara begitu.

Tidak ada jaminan Tía bisa kembali ke permukaan sendirian. Malah probabilitas dia diserang monster di tengah jalan dan kehilangan nyawa jauh lebih tinggi. Tapi jika terus di sini, kami akan terkubur hidup-hidup, jadi makanan monster, atau terinjak oleh pemilik raungan tadi. Meskipun kemungkinannya kurang dari satu persen, bukankah seharusnya aku bertaruh pada peluang Tía bisa selamat jika ia meninggalkanku dan menuju permukaan?

...Maaf, Tía.

Aku benar-benar mencintaimu.

Karena itu, aku mohon.

Bencilah aku.

"Skill asliku yang sebenarnya adalah [Brainwashing] (Cuci Otak)."

Kemampuan curang yang bisa mengganti skill sesuka hati hanyalah efek samping. Inti aslinya adalah skill dominasi yang seharusnya dibenci karena memaksa orang lain untuk patuh.

Sebuah kekuatan jahat yang sangat mengerikan dan menjijikkan, yang bahkan tidak seharusnya diizinkan untuk ada.

Aku terus menyembunyikan hal itu darimu selama ini.

Bahkan saat kau memelukku tanpa pertahanan, atau saat kita tidur bersama di malam hari. Aku terus memiliki kekuatan layaknya iblis ini, dan terus mendominasimu.

"Semua perasaan yang Tía miliki padaku adalah palsu, itu semua hasil tanamanku dengan skill [Brainwashing]. Jadi, tinggalkan saja orang brengsek sepertiku ini dan—"

Kumohon, larilah. Aku ingin mengatakan itu.

Namun, tiba-tiba aroma manis bunga Kinmokusei menyelimutiku.

—Bibirku dibungkam oleh sebuah sentuhan lembut.

"Hugh bodoh! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menghina orang yang sangat kucintai lebih dari ini!"

"Tía............ maaf."

"Tidak apa-apa."

Sekali lagi, bibirku dibungkam.

Kehangatan Tía menyebar ke seluruh tubuhku, membuat indra yang tadinya mati rasa perlahan menjadi tajam kembali. Rasa sakit di bahu kanan dan kaki kiriku pun kembali terasa, tapi itu rasa sakit yang pas. Aku bisa merasakan bahwa aku masih hidup. Meski sakitnya minta ampun.

Perasaan yang meluap-luap tidak bisa lagi terbendung. Aku mengangkat lengan kiriku yang masih bisa bergerak karena ingin menyentuh Tía. Tía dengan lembut membungkus tangan kiriku dengan kedua tangannya, lalu menempelkannya ke pipinya dengan penuh kasih.

"Aku menyukaimu, Tía. Maaf aku tidak bisa mengatakannya sebelum keadaan jadi begini."

"Tidak... aku juga sangat, sangat menyayangi Hugh!"

Kami mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam di dada dalam bentuk kata-kata, saling mengonfirmasi. Aku bisa merasakan melalui tanganku bagaimana pipi Tía melunak karena tersenyum, membuat sudut bibirku pun ikut terangkat.

Ah, jika menjadi sebahagia ini, kenapa aku tidak mengatakannya lebih awal?

"Kau... tidak berniat lari sendirian, kan?"

"Muuu. Hugh sendiri yang berjanji akan pergi ke bulan bersamaku. Apa kau sudah lupa?"

"Tidak, aku tidak lupa, tapi..."

Aku tidak menyangka kalau akulah yang hampir "pergi ke bulan" duluan (mati)... Mungkin tidak buruk juga jika kami berdua pergi menyapa ibu Tía di bulan sana sekarang.

Tapi, masih terlalu dini untuk menyerah. Aku baru saja berhasil menyampaikan perasaanku pada Tía. Akan sangat mubazir jika aku mati di tempat seperti ini. Aku ingin menjadi lebih bahagia lagi bersama Tía. Menjadi keluarga, bahkan memiliki anak. Untuk itu, aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan.

"Tía, bisa bantu topang tubuhku? Aku sudah ganti skill ke [Levitate], jadi seharusnya tidak terlalu berat."

"Siap!"

Dengan bantuan skill dan tenaga Tía, entah bagaimana aku berhasil menegakkan tubuh. Lengan kanan dan kaki kiriku tetap tidak berguna dan memancarkan rasa sakit yang hebat. Namun, berkat [Levitate], tubuhku terasa ringan seolah berada di ruang hampa udara. Kalau mau, aku sendiri bisa saja melayang keluar dari lubang ini... tapi itu akan meninggalkan Tía, jadi jelas bukan pilihan.

Saat aku berdiri dan melihat sekeliling, kondisi sekitar mulai terlihat samar di tengah kegelapan. Berkat lumut yang bersinar redup seperti bintang, aku bisa memahami topografi tempat ini.

Dan, di arah pandangan kami... terdapat sebuah lubang horizontal raksasa yang memancarkan cahaya ungu dari bagian dalamnya. Aku tidak tahu apa arti cahaya yang terasa membawa aura jahat tersebut. Tapi, sepertinya tidak ada jalan lain.

Pilihannya hanya dua: tetap di sini atau maju. Kemungkinan besar di ujung lubang itulah pemilik raungan tadi berada.

"Ayo pergi."

"Iya."

Diam di sini pun tidak akan menyelesaikan masalah. Sambil dipapah oleh Tía, aku melangkah menuju lubang yang bercahaya itu. Jika di depan sana ada genangan air atau mineral yang bisa memantulkan cahaya, aku mungkin bisa mengganti skill-ku sebagai pengganti cermin. Sekarang aku hanya bisa bertaruh pada kemungkinan itu.

Setelah berjalan beberapa lama di dalam lubang tersebut, intensitas cahaya ungu semakin kuat, hingga akhirnya aku bisa melihat wajah Tía dengan jelas. Tía yang memapahku sepertinya menyadari tatapanku. Ia mendongak dan tersenyum lembut padaku. Menatap senyumnya yang murni dan tulus itu, aku bertanya dengan ragu.

"Anu... soal skill [Brainwashing] tadi, aku tidak berbohong. Apa kau tidak takut...?"

"Iya. Habisnya, aku sudah tahu, kok."

"............Hah?"

Otakku membeku mendengar jawaban yang tak terduga itu. Eh, sudah tahu!?

"Waktu Hugh dipanggil ke istana oleh Kakak Lucas, hari di mana aku pertama kali bertemu Hugh sebagai Lucretia. Saat aku kembali ke wujud Lugh dan menunggu Hugh, aku bertemu Kakak Lucas. Di sana Kakak Lucas memberitahuku kalau inti dari skill Hugh adalah skill yang mendominasi orang lain..."

"Tu-tunggu, tunggu sebentar! Itu kan kejadian sehari setelah upacara penerimaan siswa baru, kan!?"

Itu sudah berbulan-bulan yang lalu, bahkan baru tiga hari sejak kami pertama bertemu. Berarti Lucretia sudah tahu soal skill-ku jauh sebelum aku berterus terang pada Lily.

Aku paham kenapa Pangeran Lucas memberitahu Tía. Jika dipikir-pikir, mana mungkin dia membiarkan adik kesayangannya berada di samping orang dengan skill berbahaya tanpa tindakan pencegahan apa pun. Tapi tetap saja, "Kurang ajar juga Kakak Ipar satu itu!", batinku.

"Tía... apa yang kau pikirkan saat mendengar itu?"

"Hmm... aku tahu Hugh adalah orang yang serius dan jujur, jadi kupikir tidak apa-apa kalau tidak dipikirkan pusing-pusing."

"Tidak, kumohon, punyalah sedikit rasa waspada..."

Alasan Tía tidak menunjukkan gelagat tahu soal skill [Brainwashing]-ku ternyata bukan karena dia merahasiakannya, tapi karena dia benar-benar tidak peduli... Benar-benar deh, apa yang akan dia lakukan jika aku adalah tipe orang yang menggunakan skill tersebut demi kepentingan pribadi?

"Fufu, justru sifatmu yang seperti itu yang kusuka," Tía mencubit pipiku sambil tersenyum, mengabaikan kekhawatiranku.

...Yah, selama Tía menerimanya, kurasa itu sudah cukup.

Kami terus maju menyusuri gua. Untungnya kami tidak bertemu monster di jalan, tapi kami juga tidak menemukan genangan air atau mineral yang bisa menggantikan cermin. Entah sudah berapa jauh kami berjalan. Saat aku menoleh ke belakang, terlihat jejak darah yang memanjang di jalur yang kami lewati. Itu pasti darah dari bahu kanan dan kaki kiriku. Pantas saja kesadaranku mulai kabur sejak tadi.

"...Maaf, Tía. Biarkan aku istirahat sebentar."

"Iya."

Tía mengangguk kecil dan menuntunku ke arah dinding batu gua. Aku menyandarkan punggungku ke batu yang kasar dan langsung terduduk lemas.

"Hugh!"

Aku ingin bilang pada Tía bahwa aku baik-baik saja, tapi sepertinya sekuat apa pun aku menahan ekspresi, itu hanya akan terlihat seperti memaksakan diri. Setelah duduk, aku baru menyadari sesuatu. Mungkin, aku tidak akan bisa berdiri lagi.

Dushin.

Getaran berat yang seolah-olah sesuatu sedang menginjak bumi terasa dari kejauhan.

"A-apa itu... kyaa!"

Aku menyambar tangan Tía yang hendak memeriksa dan menariknya mendekat.

"Hyu-Hugh!?"

"Diamlah..."

Getaran itu kembali terasa tanpa jeda. Getaran itu mendekat dengan interval yang teratur, seolah-olah sesuatu sedang berjalan kemari. Akhirnya, sebuah bayangan raksasa muncul dari kegelapan gua. Siluetnya adalah seekor naga dengan sepasang sayap yang luar biasa besar.

Apakah Naga Hitam Drefon yang seharusnya sudah dibasmi dulu telah bangkit kembali...?

Apapun itu, bayangan raksasa itu terus mendekat. Jika kami menahan napas di sini, apakah dia akan lewat begitu saja? Jika penglihatan dan penciuman naga lebih buruk dari manusia, mungkin ada kesempatan... tidak.

Rasanya naga itu datang kemari karena terpancing oleh bau darahku. Dia pasti sedang lapar.

"...Tía."

"Tidak mau."

Padahal aku belum mengatakan apa-apa, tapi Tía sudah melingkarkan tangannya di leherku dan memelukku erat. Seandainya aku bisa memakai skill [Brainwashing], aku akan menyuruhnya lari sendirian... tapi aku sudah tidak punya tenaga lagi bahkan untuk melawan dekapan Tía.

Apakah kami akan mati bersama di sini? Mungkin itu bukan akhir yang buruk. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kuselesaikan.

Aku merogoh saku belakang celanaku dengan tangan kiri dan mengeluarkan kotak cincin yang kusimpan di sana. Saat aku membuka kotaknya, mata biru tua Tía membelalak.

"Hugh, ini..."

"Selamat ulang tahun, Tía. Dan juga—"

Maukah kau menjadi pacarku? Tadinya aku ingin bilang begitu. Tapi, jika ini adalah saat terakhir kami...


"—Maukah kau menikah denganku?"


"MAU!"

Tía mengangguk kuat-kuat lalu kami bertukar kecupan. Momen manis dan bahagia yang seolah melelehkan segalanya itu tidak berlangsung selamanya. Saat aku membuka mata, seekor naga raksasa yang tertutup sisik hitam pekat telah mengarahkan wajahnya tepat ke arah kami.




Setelah melepaskan tautan bibir, Tía menatapku dengan mata biru tuanya yang besar dan berkaca-kaca. Matanya yang basah itu memantulkan bayanganku layaknya sebuah cermin.

"Batalkan [Brainwashing]."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, dan aku merasakan sensasi perpindahan kekuatan yang nyata. Dengan tangan kiri, aku mendekap Tía lebih erat ke pelukanku, lalu mataku beradu dengan sang Naga Hitam.

"Skill: [Brainwashing]!"

Aku berteriak sekuat tenaga yang tersisa. Di atas kepala Naga Hitam itu muncul tulisan: [Sedang Dicuci Otak].

Rahang naga yang tadi hendak melahap kami berhenti bergerak tepat di depan mata.

...Aku tidak peduli apakah Naga Hitam ini adalah Drefon atau individu lain. Satu hal yang pasti, makhluk ini hanya mengganggu kemesraanku dengan Tía.

"Enyahlah, Naga Hitam."

Naga Hitam itu menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh tanah, seolah-olah sedang bersujud menyembahku. Kemudian, tubuhnya perlahan berubah menjadi partikel cahaya dan mulai menghilang.

Tadinya aku berniat menyuruhnya kembali ke sarangnya saja, tapi............ yah, sudahlah.

Sambil menahan sedikit rasa sakit di belakang mataku, aku memeluk erat tubuh Tía. Untuk saat ini, aku hanya ingin merasakan kehangatan ini saja.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close