Bab 9: Skill Cuci Otak di
Matamu
Di tengah penaklukan Labirin Besar Drefon
yang berjalan lancar, akhirnya tiba saatnya bagiku untuk memantapkan tekad.
Sehari
sebelum ulang tahun Lucretia. Di dalam tenda sebelum berangkat menaklukkan dungeon, aku sendirian mengeluarkan kotak cincin yang
kusimpan rapat-rapat di dasar ranselku.
Saat kubuka penutupnya, tampaklah
sebuah cincin bertahtakan permata biru tua kecil di dalamnya. Sambil merasa lega karena isinya aman,
dadaku terasa sesak karena menyadari momen penentuan sudah semakin dekat.
Bagaimana kalau aku ditolak?
Kecemasan itu terus membayangi pikiranku.
Tentu saja, aku menyadari perasaan suka dari Lucretia, tapi... tetap saja, aku
tidak bisa berhenti membayangkan skenario terburuk.
Aku berusaha keras menekan rasa takut yang
membuatku ingin melarikan diri. Tenang, kuatkan dirimu, Hugh...!
"Hyuuu-huuuu?"
"Uwaaa!?"
Aku tersentak hebat karena suara yang
tiba-tiba terdengar dari belakang. Saat aku menoleh dengan ragu, Lugh sedang
berdiri di sana dengan mata membelalak menatapku.
"Ah, maaf. Apa aku
mengejutkanmu...?"
"Ti-tidak. Maaf, aku saja yang
sedang melamun, jadi jangan dipikirkan..."
Ah, payah sekali. Aku malah
memperlihatkan sosok yang sangat tidak keren di depan gadis yang kusukai...!
"Anu, kau sedang apa?"
"I-itu, cuma sedang merapikan
barang sedikit."
"Hooo...?"
Lugh menatapku dengan tatapan curiga. Ta-tapi aku tidak berbohong.
Mengeluarkan kotak cincin dari ransel itu kan juga bagian dari merapikan
barang, ya kan?
"Semuanya sudah menunggu,
lho?"
"O-oke. Aku segera ke sana."
Aku memasukkan kotak cincin itu ke saku
belakang celanaku agar tersembunyi dari pandangan Lugh, lalu mengikutinya
keluar dari tenda.
Di depan
pintu masuk Labirin Besar, rekan-rekan yang akan menaklukkan dungeon bersamaku sudah berkumpul. Kedengarannya memang
megah, tapi intinya mereka adalah anggota grup yang biasa.
Penaklukan
dungeon ini dibagi menjadi empat tim oleh Alyssa-san
berdasarkan kemampuan masing-masing. Kami tergabung dalam Tim Pertama yang
bertujuan menaklukkan lapisan terdalam. Anggotanya adalah aku, Lugh, Lily,
Lecty, Idiot, serta Ryuu dan Tina sebagai pengawas. Total tujuh orang.
"Kau terlambat, Hugh. Apa yang kau
lakukan tadi?"
"Maaf, merapikan barang tadi memakan
waktu sedikit lebih lama..."
"Hooo? Baiklah, aku anggap saja begitu
ya," ujar Lily sambil tersenyum penuh arti. Karena aku sudah sering
berkonsultasi dengannya, dia pasti sudah menebak alasan sebenarnya kenapa aku
terlambat.
"Malah asyik bermesraan dengan
Lily lagi...!"
Lugh menggembungkan pipinya saat
melihat interaksiku dengan Lily. Rasa cemburunya memang imut, tapi tingkat
"kemesraan" kami biasanya jauh lebih tinggi daripada ini. Lily dan
Lecty hanya bisa menatap Lugh dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Anu, kalau begitu karena semua
anggota sudah lengkap, mari kita mulai rapatnya," ujar Ryuu sambil tertawa
kecut melihat tingkah kami.
"Melanjutkan
yang kemarin, hari ini kita akan masuk sedalam mungkin ke dalam dungeon. Dari sepuluh lantai di Labirin Besar Drefon,
mari kita targetkan sampai lantai enam. Dengan kemampuan kalian, seharusnya
kita bisa sampai di sana sore nanti tanpa masalah."
"Sampai
di sana sore hari, berarti kita akan berkemah di dalam dungeon ya?" tanya Lily.
"Iya.
Di lantai lima ada Safe Zone di mana monster tidak
akan mendekat. Kita akan berkemah di sana, lalu tergantung situasi, kita
tentukan target besok."
Tidak ada
penolakan terhadap rencana Ryuu, dan kami mulai melakukan pengecekan terakhir
pada barang bawaan. Karena malam ini kami akan bermalam di dalam dungeon, jika ada barang yang tertinggal, kami tidak
bisa kembali ke markas untuk mengambilnya. Untung saja tadi aku sudah mengambil
cincinnya.
Tepat saat kami hendak berangkat dengan
ransel di punggung masing-masing...
"Tunggu sebentar desu waaa~!"
Rosalie berlari menghampiri kami dari arah
markas. Di belakangnya tampak Alyssa-san dan Cicely-san.
"Fiuh, nyaris saja desu wa."
Rosalie berhenti di depan kami sambil
memegang lututnya untuk mengatur napas.
"Karena aku tidak bisa ikut dengan
kalian, setidaknya izinkan aku melepas keberangkatan kalian!"
Dalam penaklukan kali ini, Rosalie yang
secara teknis berstatus sebagai sandera bagi Pangeran Lucas ditempatkan di tim
lain (tim yang bertugas mengumpulkan pengalaman bertarung melawan monster di
dekat pintu masuk). Ini adalah keputusan politik karena jika terjadi sesuatu
padanya, hubungan dengan Gereja Shinjukyo bisa memburuk. Rosalie terlihat
kecewa, tapi apa boleh buat.
Lagipula, skill penyembuhannya dalam hal mengobati luka setara
dengan Lecty. Karena Lecty ikut dengan kami ke lapisan bawah, keberadaan
Rosalie di lapisan atas akan menjamin keselamatan murid-murid lain jika ada
yang terluka.
"Lecty, aku percayakan mereka padamu
ya!"
"Baik! Rosalie-san, tolong jaga
teman-teman sekelas juga ya."
Dua Orang Suci kebanggaan kami saling
berjabat tangan. Melihat pemandangan itu, Alyssa-san tertawa kecil lalu
mendekat dan berbisik padaku.
"Aku titipkan dia padamu ya,
Nak—ssu."
"...Tentu saja."
Baik aku maupun Alyssa-san tidak
menyebutkan siapa "dia" yang dimaksud. Dia adalah orang yang paling
tidak boleh celaka—sama seperti atau bahkan lebih dari Rosalie—tapi karena
identitasnya disembunyikan, aku tidak bisa memberinya perlakuan istimewa. Tentu
saja, tanpa diminta Alyssa-san pun, aku berniat melindunginya meski harus
bertaruh nyawa.
Sementara itu, sang "Putri"
sendiri justru sedang menggembungkan pipinya menatapku dan Alyssa-san.
"Muuu... Kau bermesraan dengan
Alyssa-san juga."
"Nggak bermesraan, tahu!"
Melihat sang Putri yang cemburu, Alyssa-san
memasang senyum licik yang jahat. Sesaat kemudian, dia menarik tanganku dan
membenamkan wajahku ke pelindung dadanya yang keras.
"Pulanglah dengan selamat ya, Hugh kecil—ssu. Nanti kakak akan memanjakanmu
sepuasnya—ssu~"
"Sakit, sakit, sakiiit! Setidaknya
lepas dulu baju zirahnya!"
"Hyuuu-huuuu!"
"Ah, tidak, maksudku tadi itu cuma
salah bicara!"
"Itu bukan alasan, tahu!"
Lugh yang marah langsung menerjang ke
arahku. Lily dan Lecty pun ikut bergabung, membuat suasana menjadi sangat
ramai. Dari
kejauhan, Ryuu dan Tina menatap kami dengan ekspresi yang sangat rumit.
"(Aku sebenarnya tidak ingin
melihat Ayah yang seperti ini...)"
"(Benar juga ya...)"
Suara
mereka tidak terdengar karena aku tidak sedang menggunakan skill "Ninja",
tapi aku bisa merasakan aura kekecewaan yang terpancar kuat. Dalam situasi
begini, aku harus bagaimana!?
Setelah
entah bagaimana berhasil lepas dari "serangan" Alyssa-san, kami
berangkat menaklukkan dungeon dengan dilepas oleh Rosalie
dan yang lainnya.
"Mari kita sebisa mungkin menghindari
pertempuran saat bergerak. Lily-san, mohon bantuannya."
"Iya, serahkan padaku."
Skill Lily, "Strategist",
adalah kemampuan luar biasa yang secara otomatis mengidentifikasi kawan dan
lawan dalam radius 1.500 meter dan menampilkannya dalam sudut pandang dari atas
(bird's eye view). Namun, kekurangannya adalah pandangan
normal penggunanya tertutup selama skill aktif. Karena
berbahaya jika digunakan sambil bergerak, seseorang harus menggendongnya.
"Jadi, mohon bantuannya ya,
Hugh?"
"Serahkan padaku."
Daripada membiarkan Ryuu atau Idiot yang
melakukannya, dengan senang hati aku menerima tugas ini. Aku berlutut agar Lily
bisa naik ke punggungku. Dia menyandarkan tubuhnya padaku, menutupi punggungku.
Aroma manis buah persik tercium dari rambut cokelat kemerahannya yang terurai
di bahuku. Di punggungku, aku merasakan dua tonjolan kenyal yang menekan erat.
"Empuk?"
"Iya... eh!?"
Tanpa sadar aku mengangguk. Saat aku
mendongak, mataku bertemu dengan Lugh yang sedang berjongkok agar pandangan
kami sejajar, menatapku dengan tatapan tajam yang seolah berkata
"Jitooo—..." (menyelidik).
"Hugh mesum."
Lugh memalingkan wajah dengan kesal, lalu
berdiri dan berlari kecil menghampiri Lecty. Apa-apaan tadi itu...?
"Hari ini kau dicintai lebih dari
biasanya ya?" goda Lily.
"Bukannya aku justru sedang
dibenci...?"
"Kalau dia sudah tidak peduli, dia
tidak akan cemburu. Tapi yah, apakah dia benar-benar akan membencimu atau
tidak, itu tergantung tindakanmu setelah ini."
"...Benar juga."
Sambil memastikan keberadaan kotak cincin
di saku, aku berdiri menggendong Lily. Tiba-tiba...
"Lho?"
"Ada apa?" tanyaku pada Lily.
"Tidak, bukan hal besar, tapi rasanya
pandanganku jadi lebih tinggi dari sebelumnya. Apa kau bertambah tinggi
lagi?"
"Kalau dipikir-pikir, belakangan ini
seragamku terasa sedikit sempit."
Aku tidak menyadarinya sampai Lily
mengatakannya, tapi aku baru beberapa bulan menginjak usia lima belas tahun.
Aku sedang berada di masa pertumbuhan, dan mengingat tinggi badan Ayah,
sepertinya aku akan tumbuh lebih tinggi lagi.
"(Bahumu juga jadi lebih lebar ya.
Fufu, aku suka pria yang gagah, lho?)" bisik Lily di telingaku.
"Jangan berbisik di telingaku kalau
kau tidak mau kita berdua jatuh tersungkur."
Setelah
memperingatkan kejahilan Lily, kami mulai menelusuri dungeon
dengan Ryuu dan Idiot di barisan depan. Berkat "Strategist"
milik Lily, kami berhasil melewati sampai lantai tiga hampir tanpa pertempuran
sama sekali.
Namun, mulai lantai empat keadaannya
berubah. Lantai satu sampai tiga terasa seperti gua bawah tanah yang luas, tapi
mulai lantai empat, jalurnya menjadi lorong-lorong sempit yang
rumit—benar-benar seperti labirin bawah tanah. Meskipun kami punya peta rute
yang benar sehingga tidak akan tersesat, kami terpaksa melewati rute yang sudah
ditentukan, sehingga pertempuran dengan monster yang ada di jalur tersebut
tidak bisa dihindari.
Seekor
monster yang mirip Velociraptor muncul menghalangi
jalan kami. Jumlahnya empat ekor, tapi ada satu yang ukurannya dua kali lipat
lebih besar dari yang lain. Cakar depannya panjang dan tajam, dan di lehernya
terdapat rumbai seperti kadal leher rumbai (frilled lizard).
Kelihatannya cukup kuat...
"Apa
perlu aku bakar dengan 'Pyrokinesis'?"
"Jangan, daya hancur 'Pyrokinesis' Hugh-san terlalu kuat untuk lorong sempit
begini..." cegah Ryuu.
"Ah... benar juga."
"Maaf ya," Ryuu
memasang wajah menyesal. Padahal dia
tidak perlu minta maaf, tapi sepertinya ke depannya pun kesempatan memakai "Pyrokinesis" akan sedikit. Gara-gara spesifikasi skill "Brainwashing"
yang membuat semua skill tiruan menjadi Lv. Max, daya
hancurnya yang terlalu tinggi justru jadi masalah.
"Kalau begitu, biarkan si leher
rumbai itu menjadi urusan si Idiot Hoartness ini. Tidak keberatan, kan?"
"Iya, kami serahkan padamu,
Idiot-san."
...Dua orang ini, sejak kemarin
suasananya sedikit tegang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya
mereka sedang bertengkar. Nanti aku akan coba tanya mereka baik-baik.
Pertempuran
berjalan lancar karena Idiot menangani si pemimpin leher rumbai itu. Meskipun raptor berukuran besar (sekitar dua meter) dan lincah,
di lorong sempit hal itu justru merugikan mereka. Mengingat latihan dengan
Alyssa-san, aku berhasil mengalahkan monster dengan kekuatanku sendiri untuk
pertama kalinya... tapi seiring dengan rasa puas, aku meringis karena sensasi
yang tertinggal di tangan. Sepertinya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan
sensasi pedang yang membelah daging.
Setelah menghela napas dan memeriksa
sekitar, monster lainnya sudah tumbang. Idiot juga telah menghabisi si leher
rumbai; tubuh raksasanya jatuh berdebam ke tanah hingga membuat pijakan kami
sedikit bergetar. Ternyata monster itu jauh lebih berat dari kelihatannya.
"Hugh-san, apa Anda
terluka!?"
Lecty yang memegang tongkat kayu
berlari menghampiriku.
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana
denganmu, Lecty?"
Total
monster ada empat. Idiot
menangani si pemimpin, sementara tiga raptor sisanya
ditangani olehku, Ryuu, dan Lecty. Tina
bertugas sebagai pendukung dari belakang sambil melindungi Lily dan Lugh
(putri).
Lecty
menjawab pertanyaanku dengan senyum ceria sambil memperlihatkan tongkat kayunya
yang berlumuran darah. Di pipinya terciprat darah yang sepertinya milik si raptor. Ya... senyumnya memang imut, tapi terlihat
sedikit mengerikan.
Aku
mencoba memalingkan muka dari raptor yang
kepalanya hancur bersimbah darah di belakang Lecty. Aku menyeka darah di pipi
Lecty dengan ujung bajuku, yang membuatnya merona merah, "A-ah, terima
kasih banyak...".
Skill "Saint" milik Lecty
mencakup "Physical Enhancement" dan "Staff Arts". Kemampuan bertarung murninya
jauh di atasku yang sekarang. Menghadapi monster, Lecty tidak perlu menahan
diri dan bisa mengeluarkan keberaniannya yang luar biasa.
...Aku juga harus berjuang agar tidak
kalah. Aku ingin
menunjukkan sisi kerenku sebelum menyatakan cinta.
Penaklukan dungeon setelah itu pun berjalan lancar. Kami maju
sambil menyingkirkan monster yang muncul di depan kami, dan akhirnya mencapai
lantai enam yang menjadi target. Setelah mengeksplorasi sedikit, kami kembali
ke lantai lima untuk berkemah di Safe Zone, tempat di
mana monster tidak akan mendekat.
Safe Zone ini ternyata adalah ruangan yang sangat
luas. Di sana terdapat lubang raksasa yang menembus jauh sampai ke bagian atas dungeon. Area aman tersebut berada di tepi jurang
sepanjang lubang besar itu. Jika mendongak ke atas, kami bisa melihat langit
yang mulai berwarna jingga senja, sementara di bawah sana terbentang kegelapan
yang entah seberapa dalam.
"Itu
sarang Naga Hitam Drefon... Katanya Drefon keluar masuk dungeon melalui lubang ini," ujar Lily.
"Jalan setapak naga ya..."
Diameter lubangnya sepertinya lebih
dari seratus meter. Jika naga itu terbang dengan merentangkan sayap memenuhi
lubang ini, berarti Naga Hitam Drefon ukurannya luar biasa besar. Bagaimana
nenek moyang Lugh bisa membantai monster seperti itu?
Setelah
melihat-lihat lubang raksasa itu, kami mulai bersiap berkemah. Kami mendirikan
tenda portabel dan berbagi tugas menyiapkan makanan. Meski tidak sekokoh
perkemahan di markas besar, tempat ini sudah lebih dari cukup untuk bermalam di
dalam dungeon.
Tak lama kemudian, langit yang terlihat
dari lubang raksasa pun berubah gelap. Selesai makan malam, masing-masing
anggota menghabiskan waktu luang mereka. Di saat itulah, aku memantapkan tekad
dan menyapa Lugh... maksudku Lucretia, yang sedang mengobrol dengan Lily dan
Lecty.
"TÃa, bisa bicara sebentar...?
Anu, ada hal yang ingin kukatakan berdua saja."
"I-iya."
TÃa mengangguk dengan raut wajah yang
sedikit tegang, lalu berdiri setelah dibisiki sesuatu oleh Lily dan Lecty. Kami
berjalan bersama menuju tepi jurang yang jauh dari tenda. Aku merasa Lily dan
yang lain sedang mengintai dari balik tenda, tapi karena jarak kami sudah lima
puluh meter, mereka tidak akan bisa menguping.
Cahaya bulan yang masuk dari lubang
raksasa membuat rambut perak TÃa berkilau indah. Pipinya yang terlihat merona merah
sepertinya bukan sekadar perasaanku saja.
"Anu... apa yang mau
dibicarakan...?"
"A-ah. Itu..."
Gawat, jantungku rasanya mau melompat
keluar karena gugup...! Tenang, Hugh! Jangan sampai panik dan pikiranmu jadi
kosong, itu skenario terburuk. Aku meletakkan tangan di dada, mengambil napas
dalam-dalam berkali-kali, lalu mengalihkan pandangan. Tepat di atas lubang
raksasa itu, terlihat bulan yang bulat sempurna.
"Bu-bulannya sangat indah ya."
"Eh? Ah, iya."
Lucretia mengangguk dengan bingung.
Bodoh! Mana mungkin anekdot Natsume Soseki (kiasan "Aku mencintaimu"
dalam bahasa Jepang) dipahami di dunia lain begini! Jangankan di sini, di dunia lamaku pun
belum tentu anak umur lima belas tahun paham!
Di sampingku yang sedang memegang kepala
karena malu, Lucretia menjulurkan tangannya ke arah bulan. Sosoknya terlihat
sangat cantik, anggun, dan misterius, layaknya sebuah lukisan atau patung. Di
saat yang sama, rasa sayang yang tak tergantikan meluap dari hatiku.
Ah... aku benar-benar mencintai gadis ini.
Aku hanya perlu mengungkapkan perasaan ini dengan jujur apa adanya. Berkat
kesadaran itu, akhirnya aku berhasil mendapatkan kembali ketenanganku.
"TÃa, aku—"
Tepat di saat aku hendak mengatakan
"Aku menyukaimu", sesuatu terjadi.
—Gura, pijakan kami berguncang hebat.
"Kyaa!?"
"TÃa!"
Aku
menyambar tangan Lucretia yang linglung dan mendekapnya. Guncangan itu semakin
membesar disertai suara gemuruh bumi gogogogogogo, dan
kerikil mulai berjatuhan dari sekeliling kami.
Gempa bumi...!?
Di dunia ini guncangan memang sesekali
terjadi, tapi ini pertama kalinya aku merasakan guncangan sedahsyat ini. Kami
berada di atas tebing terjal. Tidak tahu kapan pijakan ini akan runtuh, dan
bongkahan batu bisa saja menghujani kami dari atas. Pokoknya kami harus segera
meninggalkan tempat ini...!
Tepat saat aku berniat menggendong TÃa
dan berlari, sekejap kemudian—
『—GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!』
Raungan
yang memekakkan telinga bergema di lubang raksasa itu, dan bishibishi! retakan besar menjalar di dinding dan
permukaan tanah.
Ah, gawat...
Bersamaan dengan kesadaran itu, aku
merasakan sensasi melayang yang tak terelakkan. Saat aku menyadari pijakan kami
telah runtuh, aku sudah terseret jatuh ke dalam lubang raksasa yang tak
terlihat dasarnya sambil memeluk erat TÃa.
◇
Sesaat setelah raungan yang
menggetarkan bumi itu bergema, keruntuhan lubang raksasa pun dimulai.
"Hugh, TÃa!"
Di depan mata Lily yang mengawasi Hugh
dan Lugh dari kejauhan, kedua orang yang terjebak dalam longsoran pijakan itu
terlempar ke udara sambil tetap berpelukan, lalu terseret masuk ke dasar lubang
yang gelap. Meski ia
berusaha menjulurkan tangan sekuat tenaga, tangannya tak sampai. Sosok Hugh dan
Lugh pun menghilang ditelan kegelapan.
"Bohong, ini tidak mungkin... Hugh,
TÃa...? Tidak, TIDAAAAAAAKKKKKKK!"
"Lily-chan!"
Lecty memeluk erat Lily yang hendak berlari
menyusul, mencoba menahan Lily yang meronta-ronta.
"Lepaskan, Lecty! Hugh, TÃa,
mereka...!"
"Tidak boleh! Kita harus segera lari
atau tempat ini juga akan runtuh!"
Retakan di tanah dan dinding batu yang
tercipta akibat raungan tadi sudah merambat hingga tepat di dekat posisi Lily
dan Lecty berada. Dan retakan itu terus melebar dengan cepat. Masalah waktu
saja sebelum tempat mereka berdiri ikut hancur.
Lecty
menggunakan kekuatan [Physical Enhancement] dari skill "Saint"
miliknya untuk menggendong Lily yang menangis histeris menjauhi retakan. Ia
menoleh sekali lagi, memastikan bahwa Hugh dan Lugh sudah tidak terlihat, lalu
menggigit bibirnya. Ia menahan sekuat tenaga keinginan untuk berteriak,
mengusap air mata yang terus mengalir, dan berlari.
(Hugh-san dan Lugh-san pasti baik-baik saja! Karena itu, aku...
aku harus melindungi Lily-chan!)
Dengan terus meyakinkan dirinya sendiri, ia menjaga hatinya agar
tidak hancur.
Di dekat
pintu keluar Safe Zone, Idiot tampak melambaikan tangan dengan
panik. Ia segera
berlari menghampiri mereka.
"Apa kalian selamat, Nona
Lecty!?"
"I-iya. Tapi..."
"Idiot! Hugh, TÃa, mereka
jatuh...!"
"...Kh. Jadi mereka terjebak
longsoran...!"
Melihat Lily yang setengah gila menangis
histeris, Idiot seolah memahami situasinya dan meringis. Ia mengertakkan gigi
dan mengepalkan kedua tangannya erat-repat, tampak berusaha keras menahan
emosinya sendiri.
"...Di sini juga berbahaya. Tidak tahu
kapan akan runtuh lagi. Nona Lecty, bisakah aku menitipkan Lily Puridy
padamu?"
"Baik...!"
"Mohon bantuannya. Mari kita
bergerak."
Dengan suara
yang dipaksakan tenang seolah menekan perasaannya sendiri, Idiot berbalik dan
memimpin jalan menuju pintu keluar Safe Zone. Lecty
menyusul di belakang sambil tetap menggendong Lily. Lily terus terisak dan
terengah-engah sambil menyeka air mata yang tak henti mengalir.
Di pintu
keluar Safe Zone, Ryuu dan Tina berdiri terpaku dengan wajah
pucat.
"Kak Lugh, bagaimana ini...? Hei, apa
yang harus kita lakukan!?"
"Kalaupun kau tanya begitu..."
Idiot berjalan mendekati mereka berdua
dengan langkah berat.
"Hei."
Idiot mencengkeram kerah baju Ryuu yang
bahunya tersentak karena takut mendengar suara penuh amarah itu, lalu
membantingnya ke dinding di belakang. Idiot menatap tajam Lugh yang bernapas
kepayahan.
"Apakah ini juga bagian dari
rencanamu?"
"Ti-tidak... ini salah... Padahal di
buku harian tertulis kalau kebangkitan Naga Hitam seharusnya masih lama! Karena
itu kami... kami berniat melakukan sesuatu sebelum naganya bangkit!"
"Kau sengaja menggiring Hugh
kemari, kan? Dan inilah hasilnya!"
Mendengar kata-kata Idiot, Ryuu
menunduk lesu seolah-olah seluruh dunianya baru saja runtuh.
"Idiot-san, apa yang Anda lakukan!
Lepaskan Lugh-san!"
Lecty yang masih menggendong Lily
menyusul dan melerai mereka. Idiot menghela napas seolah berusaha mengendalikan
diri lalu melepaskan cengkeramannya, membuat Ryuu terduduk lemas di tanah.
"Kami hanya ingin... masa
depan..."
"Simpan penjelasanmu untuk nanti.
Sekarang, prioritas utama adalah kembali ke permukaan."
"Tu-tunggu, Idiot!"
Lily meronta dari dekapan Lecty dan setelah
terlepas, ia langsung memegang baju Idiot dengan rambut yang berantakan.
"Hugh dan TÃa jatuh! Kita harus segera
menolong mereka, sekarang juga!"
"Lily Puridy..."
"Aku mohon, Idiot!"
Sosok Lily yang menangis tersedu-sedu itu
sangat jauh dari citra wanita terhormat yang sempurna yang biasanya ia
tunjukkan.
Idiot pun
memiliki perasaan yang sama, ingin segera menolong Hugh dan Lugh sekarang juga.
Namun secara realistis, itu adalah tindakan bunuh diri. Di dasar lubang itu ada
sesuatu yang sanggup mengubah struktur dungeon hanya dengan
satu raungan. Tidak ada jaminan mereka berlima bisa menyelamatkan Hugh dan Lugh
lalu kembali dengan selamat.
(Aku pun kehilangan pertimbangan jernih
karena terguncang, tapi begitu pula mereka...)
Idiot menarik napas dalam-dalam, lalu
berlutut agar pandangannya sejajar dengan Lily.
"Kau
bisa mengetahui keselamatan Hugh dan Lugh dengan skill-mu. Kenapa kau
tidak memastikannya?"
"Mana mungkin aku berani melakukan hal
yang menakutkan itu!?"
Jangkauan
efektif skill "Strategist"
milik Lily adalah radius 1.500 meter. Meskipun
kedalaman lubang tidak pasti, kemungkinan besar masih dalam jangkauan. Dengan
menggunakan skill, keselamatan mereka berdua bisa dipastikan.
Tapi,
bagaimana jika ia menggunakan skill dan tidak ada
respons? Itu berarti segalanya sudah berakhir. Lily tidak ingin tahu kebenaran
yang menyakitkan itu, dan Idiot memahaminya. Justru karena itulah...
"Kalau begitu, kuatkan hatimu! Kau
adalah Lily Puridy, kan!?"
"...Kh!"
"Apa
yang harus kita lakukan sekarang!? Kita harus bertahan hidup dan melaporkan
kejadian ini! Terlepas dari apa pun pemilik raungan tadi, telah terjadi anomali
di dungeon ini. Jika monster kuat muncul di lapisan
terdalam, apa yang akan terjadi?"
"...Monster Parade."
Runtuhnya
ekosistem di dalam dungeon. Fenomena di mana
monster-monster penghuni terusir dari tempat tinggal mereka oleh kemunculan
individu yang jauh lebih kuat, lalu meluap keluar dungeon. Itulah
istilahnya.
Dengan kemunculan monster yang
raungannya sanggup menghancurkan daratan, seluruh monster di Labirin Besar
Drefon pasti sedang panik. Masalah waktu saja sebelum mereka yang kehilangan
tempat tinggal meluap keluar.
Raungan
itu pasti terdengar sampai ke luar lubang, tapi belum tentu mereka di luar
menyadari betapa serius situasinya. Mereka harus segera memberi tahu keadaan di
luar dan mempersiapkan penanganan terhadap Monster Parade.
Sebelum monster-monster itu menyerbu murid-mahasiswa Akademi Kerajaan di luar
atau kota Balread, segalanya akan terlambat.
"Kau pasti tahu apa yang harus kita
lakukan sekarang, Lily Puridy. —Dan yang terpenting."
Idiot berdiri dan menyatakan dengan penuh
percaya diri kepada semua orang di sana.
"Rival utamaku itu tidak mungkin mati
hanya karena kejadian seperti ini!"
Itu adalah kata-kata untuk menyemangati
semua orang, sekaligus kata-kata yang Idiot katakan untuk meyakinkan dirinya
sendiri.
(Aku percaya padamu, Hugh...!)
◇
Aku
merasakan sensasi tubuhku terlempar ke udara dan jatuh terus ke bawah. Di
tengah pandangan yang berputar seperti slow motion, aku
menjulurkan tangan ke saku dada.
Jatuh yang terasa abadi ini mungkin
sebenarnya hanya berlangsung sekejap. Jika kami menghantam dasar lubang, baik
aku maupun Lucretia tidak akan selamat. Tidak ada waktu untuk ragu...!
"Batalkan
[Brainwashing]! Skill-mu adalah [Levitate] (Melayang)!"
Aku
mengganti skill ke apa pun yang terlintas di kepala saat itu,
lalu mendekap erat tubuh Lucretia. Bersamaan dengan sensasi skill yang berganti, aku merasakan tubuhku seperti
dibalut bantal empuk dan mulai melayang.
Perlahan-lahan,
seperti biji dandelion yang tertiup angin, kami melayang di udara sambil turun
ke dasar lubang. Hanya dalam hitungan detik setelah itu kaki kami menyentuh
tanah. Aku merinding menyadari jika saja aku terlambat mengganti skill satu detik saja, kami pasti sudah mati jatuh.
Syukurlah... tapi ternyata belum
berakhir.
Tanah
dan batu berbagai ukuran menghujani kami dari atas. Tanpa sempat menarik napas,
aku segera menggendong Lucretia untuk melindunginya dan menendang tanah. Berkat
skill [Levitate], tubuhku
melambung ringan dan melompat jauh seolah terbang di permukaan bulan.
Namun, kecepatanku tidak seberapa.
Benturan keras dan rasa sakit yang luar biasa menghantam bahu kanan dan kaki
kiriku. Sambil berusaha keras mempertahankan kesadaran yang nyaris hilang, aku
berguling di tanah bersama Lucretia.
Sesaat kemudian, sebuah batu raksasa jatuh
tepat di tempat aku dan Lucretia mendarat tadi. Guncangan akibat benturan itu
membuat tanah bergetar, dan serpihan tajam menghujani punggungku. Karena kakiku
tidak bisa digerakkan, setidaknya aku menutupi tubuhnya dengan tubuhku sendiri.
Entah berapa lama waktu telah berlalu.
Runtuhnya lubang raksasa sepertinya sudah berhenti, dan tidak ada lagi benda
yang jatuh dari atas.
Apa kami berhasil selamat...?
Dengan sisa tenaga terakhir, aku menggeser
tubuhku agar tidak menindih Lucretia. Saat mencoba bangun, rasa sakit di bahu
kanan dan kaki kiriku begitu hebat hingga aku kembali tersungkur di tanah.
"Hugh...? Sadarlah, Hugh!"
Aku mendengar suara TÃa yang khawatir.
Sekeliling kami diselimuti kegelapan total. Dasar lubang ini sepertinya tidak
ditumbuhi lumut cahaya; hanya ada sedikit lumut yang menempel pada reruntuhan
dinding batu dari atas yang memberikan sedikit keremangan seperti langit malam
yang mendung.
"Ka-kau terluka...?"
"Tidak apa-apa, cuma luka
gores..."
Padahal aslinya sakit sekali. Saking
sakitnya, lengan kanan dan kaki kiriku sudah tidak bisa digerakkan sama sekali.
Karena gelap, aku tidak tahu berapa banyak darah yang keluar, tapi setidaknya
tulangku sepertinya tidak baik-baik saja.
Aku harus segera mengobatinya... Longsoran
memang sudah berhenti, tapi bisa saja runtuh lagi kapan saja. Monster juga
mungkin ada di dekat sini, kami harus segera pindah.
Aku takut
jika TÃa tahu soal skill "Brainwashing"-ku.
Tapi situasi ini bukan lagi saatnya untuk ragu. Saat aku hendak merogoh saku
dada untuk mengambil cermin demi mengganti skill menjadi "Saint", aku merasakan sesuatu yang aneh.
Lho...? Tangan kiriku tidak bisa menemukan
apa pun di sana...
"TÃa, bisakah kau mengambilkan cermin
dari saku dadaku...?"
"Cermin? I-iya. Baiklah."
Aku meminta TÃa mencari cerminnya. Aku
merasakan tangan mungil TÃa merogoh saku dadaku, sampai akhirnya ia bersuara
dengan nada bingung.
"Anu... seharusnya ada di saku
dada, kan?"
"Seharusnya begitu..."
Cermin lipat yang selalu kubawa di saku
dada seperti jimat pelindung. Benda yang seharusnya selalu ada di sana ternyata
sudah tidak ada.
Terakhir
kali aku memakainya adalah saat baru saja jatuh tadi, untuk mengganti skill ke [Levitate] demi
menahan benturan. Saat itu aku sangat panik memeluk TÃa sehingga aku sama
sekali tidak ingat apa yang kulakukan pada cermin itu setelah ganti skill.
Sepertinya terjatuh... Jika benar, sudah
pasti cermin itu tertimbun di bawah batu raksasa yang jatuh belakangan tadi.
Meskipun dicari pun, di kegelapan seperti ini aku tidak akan bisa melihat
bayanganku sendiri di cermin.
Aku mulai merasa panas di dalam tubuhku
perlahan menghilang. Rasa sakit di bahu kanan dan kaki kiriku pun entah kenapa
mulai mereda. Bukannya sembuh, tapi lebih seperti mati rasa karena bius.
Mungkin otakku mulai mematikan rasa sakit itu. Aku sudah kehilangan seluruh
sensasi di lengan kanan dan kaki kiri, benar-benar tidak bisa digerakkan.
"Hugh, kuatkan dirimu! Hugh!"
Di dalam kegelapan, samar-samar terlihat
siluet gadis yang sangat kucintai. Tetesan air yang jatuh di pipiku pasti
adalah air mata TÃa. Aku merasa sangat tidak berguna karena telah membuat gadis
yang kucintai menangis, sampai-sampai aku sendiri pun ingin menangis.
Bilang "aku baik-baik saja"
pun tidak akan bisa menenangkannya sekarang...
"TÃa, tinggalkan aku dan—"
"TIDAK MAU!"
Sebelum aku selesai memintanya lari, dia
sudah menolaknya mentah-mentah. ...Yah, kalau aku di posisinya pun pasti akan
bicara begitu.
Tidak ada jaminan TÃa bisa kembali ke
permukaan sendirian. Malah probabilitas dia diserang monster di tengah jalan
dan kehilangan nyawa jauh lebih tinggi. Tapi jika terus di sini, kami akan
terkubur hidup-hidup, jadi makanan monster, atau terinjak oleh pemilik raungan
tadi. Meskipun kemungkinannya kurang dari satu persen, bukankah seharusnya aku
bertaruh pada peluang TÃa bisa selamat jika ia meninggalkanku dan menuju
permukaan?
...Maaf, TÃa.
Aku benar-benar mencintaimu.
Karena itu, aku mohon.
Bencilah aku.
"Skill asliku yang sebenarnya adalah [Brainwashing] (Cuci Otak)."
Kemampuan
curang yang bisa mengganti skill sesuka hati
hanyalah efek samping. Inti aslinya adalah skill dominasi yang
seharusnya dibenci karena memaksa orang lain untuk patuh.
Sebuah kekuatan jahat yang sangat
mengerikan dan menjijikkan, yang bahkan tidak seharusnya diizinkan untuk ada.
Aku terus menyembunyikan hal itu darimu
selama ini.
Bahkan saat kau memelukku tanpa pertahanan,
atau saat kita tidur bersama di malam hari. Aku terus memiliki kekuatan
layaknya iblis ini, dan terus mendominasimu.
"Semua
perasaan yang TÃa miliki padaku adalah palsu, itu semua hasil tanamanku dengan skill [Brainwashing].
Jadi, tinggalkan saja orang brengsek sepertiku ini dan—"
Kumohon,
larilah. Aku ingin
mengatakan itu.
Namun,
tiba-tiba aroma manis bunga Kinmokusei
menyelimutiku.
—Bibirku dibungkam oleh sebuah sentuhan
lembut.
"Hugh bodoh! Aku tidak akan
memaafkanmu jika kau menghina orang yang sangat kucintai lebih dari ini!"
"TÃa............ maaf."
"Tidak apa-apa."
Sekali lagi, bibirku dibungkam.
Kehangatan TÃa menyebar ke seluruh tubuhku,
membuat indra yang tadinya mati rasa perlahan menjadi tajam kembali. Rasa sakit
di bahu kanan dan kaki kiriku pun kembali terasa, tapi itu rasa sakit yang pas.
Aku bisa merasakan bahwa aku masih hidup. Meski sakitnya minta ampun.
Perasaan yang meluap-luap tidak bisa
lagi terbendung. Aku mengangkat lengan kiriku yang masih bisa bergerak karena
ingin menyentuh TÃa. TÃa dengan lembut membungkus tangan kiriku dengan kedua
tangannya, lalu menempelkannya ke pipinya dengan penuh kasih.
"Aku menyukaimu, TÃa. Maaf aku
tidak bisa mengatakannya sebelum keadaan jadi begini."
"Tidak... aku juga sangat, sangat
menyayangi Hugh!"
Kami mengungkapkan perasaan yang selama
ini terpendam di dada dalam bentuk kata-kata, saling mengonfirmasi. Aku bisa
merasakan melalui tanganku bagaimana pipi TÃa melunak karena tersenyum, membuat
sudut bibirku pun ikut terangkat.
Ah, jika menjadi sebahagia ini, kenapa
aku tidak mengatakannya lebih awal?
"Kau... tidak berniat lari
sendirian, kan?"
"Muuu. Hugh sendiri yang berjanji
akan pergi ke bulan bersamaku. Apa kau sudah lupa?"
"Tidak, aku tidak lupa,
tapi..."
Aku tidak menyangka kalau akulah yang
hampir "pergi ke bulan" duluan (mati)... Mungkin tidak buruk juga
jika kami berdua pergi menyapa ibu TÃa di bulan sana sekarang.
Tapi, masih terlalu dini untuk menyerah.
Aku baru saja berhasil menyampaikan perasaanku pada TÃa. Akan sangat mubazir
jika aku mati di tempat seperti ini. Aku ingin menjadi lebih bahagia lagi
bersama TÃa. Menjadi keluarga, bahkan memiliki anak. Untuk itu, aku harus
berjuang sampai titik darah penghabisan.
"TÃa,
bisa bantu topang tubuhku? Aku
sudah ganti skill ke [Levitate], jadi
seharusnya tidak terlalu berat."
"Siap!"
Dengan
bantuan skill dan tenaga TÃa, entah bagaimana aku berhasil
menegakkan tubuh. Lengan kanan dan kaki kiriku tetap tidak berguna dan
memancarkan rasa sakit yang hebat. Namun, berkat [Levitate], tubuhku
terasa ringan seolah berada di ruang hampa udara. Kalau mau, aku sendiri bisa
saja melayang keluar dari lubang ini... tapi itu akan meninggalkan TÃa, jadi
jelas bukan pilihan.
Saat aku berdiri dan melihat
sekeliling, kondisi sekitar mulai terlihat samar di tengah kegelapan. Berkat
lumut yang bersinar redup seperti bintang, aku bisa memahami topografi tempat
ini.
Dan, di arah pandangan kami... terdapat
sebuah lubang horizontal raksasa yang memancarkan cahaya ungu dari bagian
dalamnya. Aku tidak tahu apa arti cahaya yang terasa membawa aura jahat
tersebut. Tapi,
sepertinya tidak ada jalan lain.
Pilihannya hanya dua: tetap di sini atau
maju. Kemungkinan besar di ujung lubang itulah pemilik raungan tadi berada.
"Ayo pergi."
"Iya."
Diam di sini
pun tidak akan menyelesaikan masalah. Sambil dipapah oleh TÃa, aku melangkah
menuju lubang yang bercahaya itu. Jika di depan sana ada genangan air atau
mineral yang bisa memantulkan cahaya, aku mungkin bisa mengganti skill-ku sebagai pengganti cermin. Sekarang aku hanya
bisa bertaruh pada kemungkinan itu.
Setelah berjalan beberapa lama di dalam
lubang tersebut, intensitas cahaya ungu semakin kuat, hingga akhirnya aku bisa
melihat wajah TÃa dengan jelas. TÃa yang memapahku sepertinya menyadari
tatapanku. Ia mendongak dan tersenyum lembut padaku. Menatap senyumnya yang
murni dan tulus itu, aku bertanya dengan ragu.
"Anu...
soal skill [Brainwashing] tadi,
aku tidak berbohong. Apa kau
tidak takut...?"
"Iya. Habisnya, aku sudah tahu,
kok."
"............Hah?"
Otakku membeku mendengar jawaban yang tak
terduga itu. Eh, sudah tahu!?
"Waktu
Hugh dipanggil ke istana oleh Kakak Lucas, hari di mana aku pertama kali
bertemu Hugh sebagai Lucretia. Saat aku kembali ke wujud Lugh dan menunggu
Hugh, aku bertemu Kakak Lucas. Di sana Kakak Lucas memberitahuku kalau inti
dari skill Hugh adalah skill yang
mendominasi orang lain..."
"Tu-tunggu, tunggu sebentar! Itu kan
kejadian sehari setelah upacara penerimaan siswa baru, kan!?"
Itu sudah
berbulan-bulan yang lalu, bahkan baru tiga hari sejak kami pertama bertemu.
Berarti Lucretia sudah tahu soal skill-ku jauh
sebelum aku berterus terang pada Lily.
Aku paham
kenapa Pangeran Lucas memberitahu TÃa. Jika dipikir-pikir, mana mungkin dia
membiarkan adik kesayangannya berada di samping orang dengan skill berbahaya tanpa tindakan pencegahan apa pun. Tapi
tetap saja, "Kurang ajar juga Kakak Ipar satu itu!", batinku.
"TÃa... apa yang kau pikirkan saat
mendengar itu?"
"Hmm... aku tahu Hugh adalah orang
yang serius dan jujur, jadi kupikir tidak apa-apa kalau tidak dipikirkan
pusing-pusing."
"Tidak, kumohon, punyalah sedikit rasa
waspada..."
Alasan TÃa
tidak menunjukkan gelagat tahu soal skill [Brainwashing]-ku ternyata bukan karena dia
merahasiakannya, tapi karena dia benar-benar tidak peduli... Benar-benar deh,
apa yang akan dia lakukan jika aku adalah tipe orang yang menggunakan skill tersebut demi kepentingan pribadi?
"Fufu, justru sifatmu yang seperti itu
yang kusuka," TÃa mencubit pipiku sambil tersenyum, mengabaikan
kekhawatiranku.
...Yah, selama TÃa menerimanya, kurasa itu
sudah cukup.
Kami terus maju menyusuri gua. Untungnya
kami tidak bertemu monster di jalan, tapi kami juga tidak menemukan genangan
air atau mineral yang bisa menggantikan cermin. Entah sudah berapa jauh kami
berjalan. Saat aku menoleh ke belakang, terlihat jejak darah yang memanjang di
jalur yang kami lewati. Itu pasti darah dari bahu kanan dan kaki kiriku. Pantas
saja kesadaranku mulai kabur sejak tadi.
"...Maaf, TÃa. Biarkan aku istirahat
sebentar."
"Iya."
TÃa mengangguk kecil dan menuntunku ke arah
dinding batu gua. Aku
menyandarkan punggungku ke batu yang kasar dan langsung terduduk lemas.
"Hugh!"
Aku ingin bilang pada TÃa bahwa aku
baik-baik saja, tapi sepertinya sekuat apa pun aku menahan ekspresi, itu hanya
akan terlihat seperti memaksakan diri. Setelah duduk, aku baru menyadari
sesuatu. Mungkin, aku tidak akan bisa berdiri lagi.
—Dushin.
Getaran berat yang seolah-olah sesuatu
sedang menginjak bumi terasa dari kejauhan.
"A-apa itu... kyaa!"
Aku menyambar tangan TÃa yang hendak
memeriksa dan menariknya mendekat.
"Hyu-Hugh!?"
"Diamlah..."
Getaran itu kembali terasa tanpa jeda.
Getaran itu mendekat dengan interval yang teratur, seolah-olah sesuatu sedang
berjalan kemari. Akhirnya, sebuah bayangan raksasa muncul dari kegelapan gua.
Siluetnya adalah seekor naga dengan sepasang sayap yang luar biasa besar.
Apakah Naga Hitam Drefon yang seharusnya
sudah dibasmi dulu telah bangkit kembali...?
Apapun itu, bayangan raksasa itu terus
mendekat. Jika kami menahan napas di sini, apakah dia akan lewat begitu saja?
Jika penglihatan dan penciuman naga lebih buruk dari manusia, mungkin ada
kesempatan... tidak.
Rasanya naga itu datang kemari karena
terpancing oleh bau darahku. Dia pasti sedang lapar.
"...TÃa."
"Tidak mau."
Padahal aku
belum mengatakan apa-apa, tapi TÃa sudah melingkarkan tangannya di leherku dan
memelukku erat. Seandainya aku bisa memakai skill [Brainwashing], aku akan menyuruhnya lari sendirian...
tapi aku sudah tidak punya tenaga lagi bahkan untuk melawan dekapan TÃa.
Apakah kami akan mati bersama di sini? Mungkin itu bukan akhir yang buruk.
Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kuselesaikan.
Aku merogoh saku belakang celanaku
dengan tangan kiri dan mengeluarkan kotak cincin yang kusimpan di sana. Saat
aku membuka kotaknya, mata biru tua TÃa membelalak.
"Hugh, ini..."
"Selamat ulang tahun, TÃa. Dan
juga—"
Maukah
kau menjadi pacarku? Tadinya
aku ingin bilang begitu. Tapi, jika
ini adalah saat terakhir kami...
"—Maukah kau menikah denganku?"
"MAU!"
TÃa mengangguk kuat-kuat lalu kami bertukar
kecupan. Momen manis dan bahagia yang seolah melelehkan segalanya itu tidak
berlangsung selamanya. Saat aku membuka mata, seekor naga raksasa yang tertutup
sisik hitam pekat telah mengarahkan wajahnya tepat ke arah kami.
Setelah melepaskan tautan bibir, TÃa
menatapku dengan mata biru tuanya yang besar dan berkaca-kaca. Matanya yang
basah itu memantulkan bayanganku layaknya sebuah cermin.
"Batalkan
[Brainwashing]."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari
mulutku, dan aku merasakan sensasi perpindahan kekuatan yang nyata. Dengan
tangan kiri, aku mendekap TÃa lebih erat ke pelukanku, lalu mataku beradu
dengan sang Naga Hitam.
"Skill:
[Brainwashing]!"
Aku
berteriak sekuat tenaga yang tersisa. Di atas kepala Naga Hitam itu muncul
tulisan: [Sedang Dicuci Otak].
Rahang naga yang tadi hendak melahap
kami berhenti bergerak tepat di depan mata.
...Aku tidak peduli apakah Naga Hitam
ini adalah Drefon atau individu lain. Satu hal yang pasti, makhluk ini hanya
mengganggu kemesraanku dengan TÃa.
"Enyahlah, Naga Hitam."
Naga Hitam itu menundukkan kepalanya
dalam-dalam hingga menyentuh tanah, seolah-olah sedang bersujud menyembahku.
Kemudian, tubuhnya perlahan berubah menjadi partikel cahaya dan mulai
menghilang.
Tadinya aku berniat menyuruhnya kembali ke
sarangnya saja, tapi............ yah, sudahlah.
Sambil menahan sedikit rasa sakit di
belakang mataku, aku memeluk erat tubuh TÃa. Untuk saat ini, aku hanya ingin
merasakan kehangatan ini saja.



Post a Comment