NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 3 Chapter 5

Bab 5: Lily: "Aku Juga Bisa Melihat Kilauan Itu"


"Ibu...!"

Dini hari. Saat cahaya pucat mulai merembes dari celah tirai, menerangi kamar dengan remang-remang. Kesadaranku perlahan terbangun oleh suara gadis yang terdengar dari arah dadaku.

Saat aku menunduk, kulihat rambut emas yang sehalus benang sutra.

Lucretia sedang tidur sambil mencengkeram piamaku erat-erat, membenamkan wajahnya di dadaku. Namun tubuhnya gemetar, seolah-olah dia sedang menderita karena mimpi buruk.

Padahal biasanya, jika dia tidur bersamaku, dia tidak akan diganggu mimpi buruk...

Mungkin penyebabnya adalah kondisi mentalnya yang sedang tidak stabil.

Tujuan latihan luar kampus yang dimulai hari ini adalah wilayah Spen, tempat kelahiran ibunya. Lucretia, yang memiliki trauma mendalam atas kematian ibunya, wajar saja jika merasa tidak tenang.

...Untuk hal ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa.

"Tía..."

Setidaknya agar dia bisa tidur dengan tenang, aku memeluk tubuh mungilnya dengan lembut. Tak lama kemudian, gemetar di tubuh Lucretia mereda, dan perlahan terdengar napas tidurnya yang teratur.

Aku ingin membiarkannya tidur sedikit lebih lama, tapi...

Sayangnya, waktu berkumpul sudah dekat.

Karena lokasi latihan kelas 1-A lebih jauh dibandingkan kelas lain, kami harus berangkat pagi-pagi sekali. Di jam saat biasanya aku berlatih dengan Alyssa-san atau Idiot, kami sudah harus meninggalkan akademi.

Mengingat waktu yang dibutuhkan untuk bersiap-siap, ini sudah batasnya...

Sambil terus melirik jam dan bertahan hingga detik terakhir, aku mengguncang bahu Lucretia untuk membangunkannya.

"Tía, bangunlah. Sudah pagi."

"Ngh... Hugh, lima menit lagi."

"Klasik sekali ya. Maaf, aku juga sedikit kesiangan. Kita harus bangun sekarang atau waktunya akan gawat. Ayo, bangunlah."

"Uuuugh..."

Sambil mengerang malas, Lucretia menggeliat dan bangun terduduk.

Negligee off-shoulder yang ia kenakan membuat tali pundak kanannya melorot, tertahan dalam keseimbangan yang berbahaya. Ini terlalu merangsang di pagi hari...!

"Selamat pagi, Hugh... hoam."

Sambil menguap dalam kondisi seperti itu, Lucretia mengangkat tangan kanannya untuk meregangkan tubuh, yang membuat tali pundak kirinya juga ikut merosot dan—AAAAAAAH!

Secara refleks aku melemparkan selimut ke arah Lucretia. Benar-benar tidak boleh lengah sedikit pun!

"Kyaa!? A-apa-apaan, kenapa kau melempar selimut!?"

"Sudah, cepat ganti baju sana! Hari ini kalau terlambat bukan main-main!"

"Iya, iyaaa."

Lucretia turun dari ranjang dengan wajah cemberut. Di saat itulah, sepertinya dia baru sadar kalau baju tidurnya hampir melorot. Wajahnya memerah padam, dia segera menahan bagian dadanya dan bergegas lari ke ruang ganti sambil membawa baju ganti.

Astaga, aku jadi cemas memikirkan masa depan...

Selama latihan luar kampus nanti, kesempatan menginap di kamar pribadi seperti di asrama tidak akan banyak. Bisa saja kami harus berbagi kamar dengan murid laki-laki lain, atau tidur beramai-ramai di dalam tenda saat berkemah.

Aku harus benar-benar menjaga agar identitas asli Lugh—dan jenis kelaminnya yang sebenarnya—tidak terbongkar...

Kalau dalam kondisi darurat, aku terpaksa akan menggunakan skill "Brainwashing".

Sambil menetapkan tekad, aku pun berganti seragam dan melakukan pengecekan terakhir pada barang bawaan. Ransel yang dibagikan dari akademi telah diisi dengan baju ganti untuk beberapa hari, makanan darurat, dan kantong tidur untuk berkemah. Latihan kali ini sepertinya menjadikan penaklukan dungeon sebagai bonus, sementara tujuan utamanya adalah berbaris menempuh perjalanan jauh dengan memikul beban ini.

Saat mencoba menggendong ranselnya, beratnya tidak terlalu terasa. Sepertinya Lucretia atau Lily juga akan baik-baik saja. Aku punya ingatan samar dari dunia sebelumnya kalau tentara harus bertarung sambil memikul beban puluhan kilo, jika dibandingkan dengan itu, ini jauh lebih ringan. Mungkin karena tidak ada senjata berat atau amunisi di dalamnya.

Beberapa saat kemudian, Lugh yang sudah berganti seragam kembali ke kamar. Setelah memastikan barang bawaan kami berdua sekali lagi, kami meninggalkan kamar asrama.

Kami baru akan kembali ke sini sekitar sebulan lagi. Memikirkan itu, rasanya ada sedikit rasa kesepian...

"Aku berangkat."

Tanpa sadar aku mengucapkan salam pada kamar yang kosong.

Lugh kemudian tersenyum lembut dan menyahut "Aku berangkat" dengan cara yang sama sepertiku.

Kunci pintu, lalu keluar dari asrama.

Sinar matahari awal musim panas yang menyengat serta udara pagi jernih yang masih menyisakan sedikit rasa dingin menyelimuti kulit.

"Apa berat, Lugh?"

Sambil berjalan menuju titik kumpul, aku bertanya pada Lugh di sampingku. Beratnya sendiri memang tidak seberapa, tapi ukuran ransel itu terlihat jauh lebih besar dibandingkan punggung Lugh.

"Iya, tidak apa-apa kok!"

"Katakan saja kalau kau merasa lelah. Aku bisa membawakan dua atau tiga ransel sekaligus kalau cuma segini."

"Oke! Kalau aku lelah, aku akan minta Hugh menggendongku sekalian dengan ranselnya."

"Itu sih beda cerita ya."

Yah, kalau aku mengganti skill menjadi "Physical Enhancement", menggendongnya pun pasti mudah, tapi aku tidak boleh terlalu memanjakan Lugh. Bisa-bisa aku diceramahi Lily atau Alyssa-san.

"Cuma bercanda kok~" kata Lugh sambil tertawa riang. Sepertinya itu bukan sekadar tawa palsu...

Karena kami menuju wilayah Spen, Lugh mau tidak mau harus menghadapi kematian ibunya dan "Kutukan Drefon". Hatinya pasti tidak tenang. Tapi, jika aku terlalu mencemaskannya, itu juga tidak baik... Selama Lugh bersikap seperti biasa, aku juga akan berusaha bersikap normal.

Di tanah lapang dekat gerbang sekolah yang menjadi titik kumpul, hampir semua teman sekelas sudah berkumpul. Sosok Alyssa-san belum terlihat, dan masing-masing murid sedang asyik mengobrol dengan teman dekat mereka seperti saat di kelas.

Di tengah kerumunan itu...

"Sudah kubilang, cepat lepaskan Lecty!"

"Tidaaaaak mauuuu!"

Lily sedang berjuang keras mencoba menarik lepas Tina yang sedang memeluk Lecty dari belakang. Apa yang mereka lakukan, sih...

Lecty tampak kebingungan namun tidak melakukan perlawanan dan membiarkan Tina memeluknya. Yang bereaksi berlebihan justru Lily; dengan napas yang terengah-engah, dia berusaha sekuat tenaga menarik paksa Tina yang menempel erat pada Lecty.

"Hei Hugh. Siapa gadis yang mirip Lecty itu?"

"Itu Tina, seorang petualang. Ingat ceritaku saat aku dan Idiot pergi ke Perserikatan Petualang dan bertemu kenalan? Dia salah satunya."

"Hoo... Gadis yang imut ya?"

"Aku katakan dulu, tidak terjadi apa-apa di antara kami, ya?"

Aku langsung membantah sebelum dia mulai curiga. Sepertinya tanggapan cepatku berhasil, Lugh hanya menyahut "Ooh, begitu ya" dengan polos.

"Tapi, kenapa petualang itu memeluk Lecty?"

"Ah... kemarin terjadi beberapa hal."

Lugh tahu kalau aku pergi menemani Rosalie menjenguk Malicious bersama Lecty. Sambil merahasiakan soal mencari kado, aku menjelaskan secara singkat pada Lugh tentang pertemuan tak sengaja kami dengan Tina dan yang lainnya saat perjalanan pulang.

"Begitu ya, karena ibunya... Memang benar sih, mereka berdua mirip sekali. Kalau alasannya begitu, aku mungkin sedikit paham perasaannya."

Lugh yang juga kehilangan ibunya pasti merasakan hal yang sama dengan Tina, sama seperti Lecty...

Beberapa saat kemudian, Lily yang menyerah karena kelelahan berjalan ke arah kami dengan langkah gontai seperti zombi. Dia benar-benar tidak punya stamina ya...

"A-apa-apaan gadis itu...! Tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Lecty!"

"Tenanglah, Lily. Dia itu..."

Aku memberikan penjelasan yang sama pada Lily seperti yang kuberikan pada Lugh barusan. Setelah mendengar penjelasanku, Lily melipat tangan di dada dan mendengus tidak senang.

"Hmph, apa pun alasannya, itu tetap tidak sopan."

"Yah, benar juga sih..."

Meskipun begitu, Lecty sendiri tidak terlihat keberatan, malah sepertinya dia menerima kehadiran Tina. Saat ini pun dia masih dipeluk dari belakang tapi mereka berdua tampak mengobrol dengan seru.

Lily menatap pemandangan itu dengan pipi yang sedikit menggembung. Ini jangan-jangan...

"Lily, kau merasa kesepian ya karena Lecty direbut?"

Lugh menunjukkan hal yang sama dengan pikiranku sambil menutupi senyum nakalnya dengan telapak tangan kiri.

"Hah!? Bu-bukannya aku kesepian...! A-aku hanya sedang mengajarkan etika seorang wanita terhormat...?"

"Hoo~? Jadi kalau gadis itu adalah wanita terhormat yang kau akui, tidak apa-apa?"

"Bu-bukan begitu... Ish!"

Karena terpojok, Lily memalingkan wajah dengan pipi yang merona merah. Mereka berdua ini memang teman masa kecil ya. Ini pertama kalinya aku melihat Lily, yang biasanya menggoda orang, justru menjadi pihak yang digoda. Reaksi Lily yang seperti ini terasa segar dan sejujurnya, terlihat manis.

"...Apa lihat-lihat?"

"Tidak, bukan apa-apa."

Kalau kami sedang berdua, aku mungkin akan bilang kalau dia manis, tapi karena ada Lugh dan teman sekelas lainnya, lebih baik aku diam. Urusannya bisa jadi rumit, dan yang terpenting, aku juga malu.

"Selamat pagi, semuanya!"

Idiot berjalan menghampiri kami. Di belakangnya, Ryuu tampak mengekor dengan bahu menyempit seolah merasa sungkan. Melihat interaksi Lily dan yang lainnya tadi, aku bisa menebak apa yang ia rasakan.

"Selamat pagi, Idiot. Dan juga Lugh."

"Selamat pagi, Hugh-san. Semuanya juga. Sekali lagi, saya mohon maaf atas kelakuan adik saya..."

Melihat Lugh yang membungkuk dalam-dalam, Lugh (putri) dan Lily hanya bisa memiringkan kepala kebingungan, "Siapa ya?".

Begitu aku memperkenalkan bahwa dia adalah petualang yang akan mengawal latihan luar kampus kali ini sekaligus kakak Tina, Lily mengangguk paham.

"Aku Lily Puridy. Sepertinya kau cukup kesulitan menghadapi adikmu ya."

"Ah, begitulah. Ahahaha..."

Tawa kering Ryuu menyiratkan ketegangan yang unik. Rasanya bukan sekadar rasa bersalah karena Tina, tapi dia terlihat sangat gugup di hadapan Lily secara khusus... Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja?

"Saya akan memperingatkannya dengan tegas nanti."

"Silakan lakukan itu."

Lily tidak menyalahkan Lugh lebih jauh, dia hanya menghela napas dan mundur. Pandangannya masih tertuju pada Tina yang masih menempel erat pada Lecty. Sepertinya, kehadiran Lecty bagi Lily jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

"Ngomong-ngomong, suasananya terasa mencekam, apa kalian tahu sesuatu?" tanya Idiot.

"Mencekam?"

Aku membeo karena tidak paham maksudnya. Idiot hanya menolehkan pandangannya ke sekeliling tanpa suara. Mengikuti arah matanya, aku melihat sekelompok orang dewasa berpakaian perjalanan dengan pedang di pinggang, berdiri mengawasi kami dari kejauhan.

Karena mereka berdiri tidak mencolok, aku tidak menyadarinya sampai sekarang. Jika diperhatikan baik-baik, jumlah mereka cukup banyak. Pantas saja Idiot menyebutnya mencekam.

"Petualangkah...?" gumam Lily.

"Bukan, seharusnya hanya ada lima petualang yang ikut, termasuk aku dan Tina."

"Tapi jelas itu lebih dari lima orang..."

Kuhitung cepat, ada sekitar belasan orang. Mungkin ada juga yang bersembunyi di posisi yang tidak terlihat oleh kami. Haruskah aku mengganti skill menjadi "Ninja"...? Tapi karena mereka tidak menunjukkan tanda-tanda menyerang, sepertinya mereka bukan musuh.

"Mungkinkah... Ksatria Kerajaan?" bisik Lugh (putri) pelan.

Ah, benar juga! Aku merasa mengenali beberapa wajah di sana. Wajah-wajah yang kulihat saat kasus Lechery dan Malicious.

Sepertinya mereka sadar kalau kami memperhatikan. Beberapa orang melambaikan tangan dengan ramah. Ternyata mereka tidak bersembunyi, hanya sedang bersiap di tepian.

"Umu, tidak salah lagi. Mereka wajah-wajah yang kulihat di tempat latihan ksatria."

"Ngomong-ngomong, Idiot kan ikut latihan Ksatria Kerajaan ya. Kau tahu kenapa mereka ada di sini?"

"Tidak... makanya aku bertanya pada kalian. Kupikir kalian dengar sesuatu dari Nona Alyssa atau Yang Mulia Lucas."

"Aku tidak dengar apa-apa..."

Aku melirik Lugh dan Lily yang kemarin bersama Alyssa-san, tapi mereka pun menggeleng. Sepertinya tidak ada yang diberitahu.

"Begitu ya... Meskipun jumlahnya sedikit, mereka yang ada di sana adalah para elit dengan kemampuan tingkat tinggi di korps ksatria. Aku penasaran apa urusan orang-orang hebat itu di Akademi Kerajaan. Tidak mungkin mereka datang hanya untuk mengawal kita, kan?"

"Benar juga..."

Aku refleks melirik Lugh (putri), tapi dia menggeleng kecil. Jika hanya Alyssa-san atau anggota ksatria yang sudah menyamar di akademi, itu wajar. Tapi mendatangkan lebih dari sepuluh elit sebagai pengawal tambahan terasa sangat tidak alami.

Untuk apa sebenarnya...?

Tiba-tiba, kejadian kemarin terlintas di benakku. Saat bertemu Wakil Komandan Roan di rumah sakit, dia bilang:

'Oh iya, aku hampir lupa menyampaikan pesan dari Yang Mulia. Katanya: "Mohon bantuannya mulai besok".'

...Aku mulai punya firasat yang sangat buruk soal ini.

"Semuanya berkumpul, para anak ayam!"

Suara lantang Alyssa-san membahana. Kami mengakhiri percakapan dan berkumpul di depan Alyssa-san. Lecty yang akhirnya terbebas dari Tina, serta Rosalie yang baru tiba di menit-menit terakhir sambil terengah-engah, bergabung di sini.

"Semua sudah lengkap ya—ssu. Baiklah, aku akan memperkenalkan para petualang yang akan mendampingi latihan luar kampus kali ini."

Alyssa-san memperkenalkan lima petualang yang berdiri di depan kami satu per satu. Selain Lugh dan Tina, tiga lainnya adalah petualang peringkat C yang sudah berpengalaman. Sepertinya mereka sudah sering mengambil permintaan ini setiap tahun, karena sapaan mereka terlihat sangat terbiasa.

Saat perkenalan Ryuu, terdengar sorakan dari murid perempuan, dan saat giliran Tina, murid laki-laki langsung riuh. Mereka seumuran dengan kami, Lugh sangat tampan, dan kecantikan Tina tidak kalah dari Lecty. Wajar jika mereka populer seketika.

Setelah perkenalan petualang selesai, Alyssa-san berdehem sekali.

"Lalu, satu orang lagi. Aku akan memperkenalkan teman merepotkan yang memaksa ingin ikut bersama kalian—ssu."

Wajah yang terlihat sangat terganggu itu pasti seperti ekspresi Alyssa-san sekarang. Sambil menepuk dahi dan menghela napas panjang yang sengaja diperlihatkan, Alyssa-san melirik ke arah pintu kereta kuda di belakangnya yang baru saja terbuka. Seorang pria muncul dari sana.

Rambut emas panjangnya yang indah sehalus sutra berkibar saat ia melangkah dengan gagah ke samping Alyssa-san. Melihat sosok yang mengenakan penutup mata hitam itu, seluruh teman sekelas menahan napas dan serentak berlutut dengan satu kaki sambil menundukkan kepala.

Aku dan Lugh (putri) sempat terpaku karena terkejut, namun Lily dengan cepat menarik tangan kami agar ikut mengambil posisi yang sama dengan murid lainnya.

Aku sempat menduganya, tapi dia benar-benar datang!

"Halo, salam kenal. Aku Lucas von Leese, Pangeran Ketiga Kerajaan Leese. Karena satu dan lain hal, aku akan ikut mendampingi latihan luar kampus kalian. Maaf jika kehadiranku membuat kalian sungkan, mohon bantuannya ya?"

Pangeran Lucas tersenyum ramah, menyapa dengan nada ringan seolah bicara pada teman lama. "Ayo, tepuk tangan—ssu," kata Alyssa-san dengan nada yang sangat malas, diikuti oleh tepukan tangan yang agak ragu-ragu dari teman-teman sekelas.

Mungkinkah Alyssa-san sendiri sebenarnya tidak tahu kalau Pangeran Lucas bakal ikut? Apapun alasannya, latihan luar kampus ini sudah diawali dengan kejutan besar sebelum berangkat.

Aku hanya merasakan kecemasan soal masa depan kami...


Meskipun terjadi anomali besar berupa ikutnya Pangeran Lucas, latihan luar kampus tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Pertama, kami naik ke kereta kuda yang telah disiapkan menuju area pelabuhan ibu kota. Karena wilayah Spen berada di seberang Danau Leese, selama tiga hari ke depan kami akan menempuh perjalanan dengan kapal.

"Benar-benar mengejutkan ya. Tak disangka Yang Mulia Lucas akan ikut!" seru Rosalie di dalam kereta yang mulai bergerak.

Di dalam kereta ada kami berenam seperti biasa: aku, Lugh (putri), Lily, Lecty, Idiot, dan Rosalie. Posisi duduknya adalah aku di tengah, Lugh di kiriku, dan Idiot di kananku. Di hadapan kami ada Lily (paling kiri dariku), Lecty di tengah, dan Rosalie di kanan. Pas, tiga laki-laki (atau yang terlihat laki-laki) dan tiga perempuan duduk berhadapan.

"Kalian semua juga tidak tahu, kan?" tanya Rosalie.

"...Iya, aku tidak diberitahu sepatah kata pun," jawab Lily sambil menopang dagu dengan siku kanan di bingkai jendela. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Lecty yang duduk di sampingnya. Lecty tampak memiringkan kepala, tapi terlihat sedikit senang dengan tindakan Lily.

"Hugh juga tidak diberitahu apa-apa, kan?"

"Iya, sama sekali tidak."

Meskipun Roan-san sempat memberi isyarat, aku tidak menyangka perkembangannya akan jadi seperti ini.

"Tapi, apakah ini aman? Pangeran Sleigh sudah jatuh, dan sekarang perebutan takhta adalah pertarungan satu lawan satu antara Yang Mulia Lucas dan Yang Mulia Brute. Di situasi dan waktu seperti ini, meninggalkan ibu kota selama hampir sebulan rasanya terlalu ceroboh," ujar Idiot.

"Bukan sekadar ceroboh lagi. Memang ada Ayahku di ibu kota, dan mungkin Wakil Komandan Roan juga tinggal karena tidak kulihat tadi... Tapi tetap saja, ini jelas memberikan celah bagi Pangeran Brute," tambah Lily.

"Benar juga ya..."

Bagi orang secerdik Pangeran Lucas, tindakan ini terasa sangat gegabah. Atau jangan-jangan, ini juga bagian dari rencananya? Sengaja memperlihatkan celah untuk memancing Pangeran Brute masuk ke dalam perangkap...?

"Yang lebih menjadi masalah adalah tujuannya ke wilayah Spen. Ini bisa membuat para bangsawan yang baru saja memberikan dukungan kembali menjauh," kata Idiot lagi.

"Apakah ada sesuatu di wilayah Spen?" tanya Rosalie penasaran.

"Ibu dari Yang Mulia Lucas berasal dari keluarga Drefon."

"...!"

Aku merasakan Lugh di sampingku menahan napas mendengar perkataan Idiot.

"Keluarga Drefon... begitu rupanya," gumam Rosalie. Sepertinya dia pun tahu soal keluarga Drefon, Naga Hitam, dan kutukannya.

"Kudengar masih banyak bangsawan yang enggan mendukung Yang Mulia Lucas karena alasan kutukan Drefon. Jika mereka serentak beralih mendukung Pangeran Brute, arah perebutan takhta bisa berbalik. Pangeran Brute pasti akan menggunakan ini sebagai bahan serangan. Aku harap Yang Mulia Lucas menyadari risiko ini..."

"Kita tidak akan tahu niat aslinya kalau tidak bertanya langsung padanya," kataku. Lagipula, berdiskusi di sini pun tidak akan memberikan jawaban pasti.

"Benar. Kalau begitu, aku serahkan padamu ya, Hugh," sahut Lily tiba-tiba.

"Hah? Aku yang tanya?"

"Tentu saja. Memangnya siapa lagi?"

"Umu. Jika itu kau, mungkin Yang Mulia Lucas akan menceritakan niat aslinya," tambah Idiot.

"Iya, iya, baiklah... tapi jangan terlalu berharap ya."

Kenapa aku selalu jadi orang yang harus menanyakan hal-hal sensitif begini pada calon kakak iparku, sih?

Memang benar, di antara kami semua, akulah yang paling mudah untuk bertanya langsung kepada Pangeran Lucas.

Kalau ada kesempatan saat kami sedang berdua, aku akan mencoba bertanya, meski mungkin hasilnya nihil...

Sambil mengobrolkan hal itu, kereta kuda memasuki kawasan pelabuhan ibu kota. Bahkan di dini hari begini, daerah ini sudah sangat hidup. Para nelayan yang menggantungkan hidup di Danau Leese, pedagang yang ikut lelang ikan, hingga petugas logistik transportasi air; pemandangan yang sangat kontras dengan ketenangan di sekitar akademi.

Kereta akhirnya berhenti di dekat sebuah kapal yang sedang bersandar di dermaga.

"Kapalnya besar sekali desu waaa—!"

Begitu turun dari kereta, Rosalie berseru kagum sambil menengadah menatap kapal itu. Oh, ini benar-benar...!

Wajar jika Rosalie berteriak. Yang bersandar di depan kami adalah sebuah kapal layar raksasa dengan panjang sekitar seratus meter. Lambung kapalnya berwarna putih dan biru muda, dengan hiasan emas di berbagai sisi.

"Ini... Prince of Leese milik keluarga kerajaan, kan...?"

"Kapal raksasa khusus bangsawan yang sering kudengar dalam rumor... Aku pun baru pertama kali melihatnya," gumam Idiot.

"Apa kita akan pergi naik kapal ini...?" tanyaku tak percaya.

Aku mencoba mencari kapal lain, tapi hanya kapal ini yang bersandar di dermaga. Atau jangan-jangan, dermaga ini memang khusus dibuat hanya untuk kapal ini.

Satu per satu kereta kuda tiba, dan teman-teman sekelas yang turun juga tampak terpana. Para petualang yang mendampingi kami pun menunjukkan reaksi serupa.

Terakhir, Pangeran Lucas dan Alyssa-san turun dari kereta yang paling belakang.

"Apakah semua sudah berkumpul? Karena aku ikut dalam latihan ini, aku telah menyiapkan kapal untuk perjalanan kita. Atas nama keluarga kerajaan Leese, aku menjanjikan perjalanan laut yang nyaman bagi kalian semua."

"Padahal seharusnya kalian merasakan pengalaman 'seru' di kapal pengangkut yang sempit dan pengap—ssu... Kalau begini sih namanya bukan latihan lagi—ssu," keluh Alyssa-san sambil menghela napas lesu.

Mengabaikan Alyssa-san yang bahunya merosot, teman-teman sekelas justru bersorak sorai untuk Pangeran Lucas. Yah, jika disuruh memilih antara menderita di kapal pengangkut barang atau menikmati kemewahan di kapal pesiar kerajaan, hasilnya sudah jelas.

Dipimpin oleh Pangeran Lucas, kami segera naik ke atas Prince of Leese. Pertama-tama, kami diantar menuju kamar penumpang. Kamar-kamarnya sederhana dengan dua tempat tidur khas pelaut, tapi memiliki kamar pribadi saja sudah merupakan kemewahan yang luar biasa. Berdasarkan pembagian kamar asrama, aku dan Lugh tentu saja ditempatkan di ruangan yang sama.

Apakah Pangeran Lucas sengaja ikut hanya untuk memastikan identitas asli Lugh tidak terbongkar? Tapi rasanya itu terlalu berlebihan... Dan lagi, menggunakan kapal resmi kerajaan berarti Pangeran Lucas berniat meninggalkan ibu kota secara terang-terangan dan terhormat. Dia sepertinya tidak berniat sembunyi-sembunyi dari Pangeran Brute.

Beberapa saat setelah kami menaruh barang, pemandangan di luar jendela mulai bergerak perlahan. Kapal telah berangkat.

Satu jam kemudian... Tak disangka, suasana di dalam kapal berubah menjadi pemandangan dari neraka.

"M-mual desu..."

Sambil berpegangan pada pagar kapal, Rosalie memuntahkan isi perutnya ke laut dengan suara "Orororo".

"Ugh. Ro-Rosalie-sama, kuatkan dirimu...!"

Wajah Cicely-san yang sedang mengusap punggung Rosalie juga pucat pasi, sesekali ia ikut membungkuk di pagar kapal bersama Rosalie.

Danau Leese yang sangat luas ini memang memiliki riak gelombang. Kapalnya sendiri tidak berguncang hebat, tapi sepertinya goyangan kecil yang konstan sudah cukup untuk memicu mabuk laut. Bukan hanya Rosalie dan Cicely-san, di sepanjang dek kapal, banyak teman sekelas yang tergeletak lemas.

"Li-Lily-chan, kau tidak apa-apa...?"

"Fu, fufu... Dunianya berputar-putar... Ah, Hugh-nya jadi ada tiga. Kalau begini, kalian bertiga bisa menemaniku sekaligus ya, fufufu..."

"Lily-chaaaaaan—!? [Heal]! [Cleanse]!"

Lily yang duduk sambil memeluk ember mulai berhalusinasi. Lecty berusaha keras mengobatinya, tapi aku sangsi apakah sihir penyembuhan mempan untuk mabuk laut...

Saat baru berangkat tadi, semua orang tampak ceria di dek sambil menikmati pemandangan pelabuhan yang menjauh. Namun sekarang, keadaannya jadi begini.

Aku dan Lugh duduk di area teduh di dek sambil memperhatikan kekacauan tersebut.

"Lugh, kau tidak mabuk laut?"

"Ehm! Hugh juga sepertinya baik-baik saja ya?"

"Iya, goyangan segini tidak masalah bagiku. Dulu di kampung halaman, aku sering memancing di danau seharian penuh di atas perahu. Mungkin aku sudah terbiasa dengan guncangannya."

"Hee, seru sekali. Aku juga ingin mencoba memancing."

"Mau coba sekarang?"

Tongkat pancing pasti tersedia di kapal kerajaan seperti ini. Saat aku hendak berdiri untuk meminjamnya dari awak kapal, Lugh menarik ujung lenganku.




"Nggak, sekarang nggak usah. Bukan itu... aku cuma berpikir kalau aku ingin memancing bersamamu di kampung halamanmu nanti. ...Boleh?"

"Mana mungkin nggak boleh. Ayo kita memancing. Pasti."

Aku tidak tahu kapan bisa membawa Lugh pulang ke kampung halamanku, tapi aku akan mewujudkan keinginan itu. Menghanyutkan perahu kecil di danau, lalu kami berdua menjulurkan kail. Menikmati waktu yang berlalu perlahan, dan meskipun tidak ada satu pun ikan yang didapat, kami pasti tetap bisa tertawa bersama. Hari-hari damai seperti itu, aku ingin menghabiskannya bersamamu selamanya.

......Tunggu. Bukankah ini kalimat yang sangat cocok untuk menyatakan cinta?

Sekarang kah? Apa sekarang momennya!?

"Ah, aku bisa melihatnya. Aku melihat cahaya, Lecty. Berkilau, ufu-fu."

"Lily-chan!? Sadarlah, Lily-chaaan!"

...Oke, bukan sekarang momennya. Lily sepertinya sudah benar-benar gawat. Aku tidak bisa terus menonton dengan santai, jadi aku dan Lugh segera menghampiri Lily. Aku memutuskan untuk menggendong Lily ala bridal style dan membawanya ke kamar.

Setelah membaringkannya di tempat tidur, Lecty terus memberikan [Heal] dan [Cleanse] secara bergantian sampai akhirnya terdengar napas tidur yang tenang. Sepertinya dia sudah stabil untuk sementara...

"Ah, akhirnya ketemu-ssu. Bisa bicara sebentar, Tuan Muda Hugh?"

Alyssa-san memanggil dari balik pintu yang masih terbuka. Menyerahkan urusan Lily kepada Lecty, aku dan Lugh keluar dari kamar.

"Ada apa?"

"Yang Mulia memanggil Tuan Muda Hugh-ssu. Katanya ada hal yang ingin dibicarakan mumpung sempat."

"Pangeran Lucas...? Baiklah."

Mungkinkah dia akan memberitahu alasannya ikut latihan luar kampus ini atas kemauannya sendiri? Kalau iya, itu bagus karena aku tidak perlu repot-repot mencari cara untuk bertanya.

"A-anu. Bolehkah aku... ikut juga?" Lugh bertanya pada Alyssa-san.

Alyssa-san melipat tangan dan memiringkan kepala, "Gimana ya-ssu..." Setelah berpikir sejenak, "Yah, karena nggak dilarang, kurasa boleh saja-ssu."

"Terima kasih, Alyssa-san!"

Pangeran Lucas pasti sudah menduga kalau Lugh akan ada di sampingku, dan jika ini pembicaraan yang tidak boleh didengar Lugh, dia pasti sudah menginstruksikan Alyssa-san untuk tidak membawanya. Karena tidak ada instruksi seperti itu, berarti Lugh boleh ikut hadir.

Atas panduan Alyssa-san, kami menuju bagian belakang kapal. Lorong menuju kamar khusus kerajaan tempat Pangeran Lucas berada dijaga ketat oleh para Ksatria Kerajaan yang kulihat di akademi. Kami melewati mereka, dan Alyssa-san mengetuk pintu mewah yang berada di ujung lorong.

"Yang Mulia, saya membawa Tuan Muda Hugh dan Tuan Muda Lugh-ssu."

"Masuklah."

Setelah mendapat jawaban, Alyssa-san membuka pintu. Karena ini ruangan khusus kerajaan, isinya jauh lebih luas dan mewah dibandingkan kamar kami. Interiornya megah dengan banyak lukisan tergantung di dinding, dan lantainya dilapisi karpet merah yang empuk. Dari jendela besar di bagian paling belakang kapal ini, kami bisa melihat jejak ombak yang ditinggalkan kapal dengan jelas.

Di sofa ruangan itu, Pangeran Lucas duduk dengan santai. Di sampingnya, Merry yang mengenakan baju pelayan sedang lahap memakan kue kering.

...Dia mirip tupai ya.

"Ya, kalian datang. Duduklah dulu, kalian berdua. Kue keringnya... masih tersisa sedikit."

"Kue ini sangat manis dan renyah, Merry rekomendasikan desu!"

"I-iya. Terima kasih, Merry-chan."

Lugh yang ditawari kue oleh Merry menjawab dengan senyum canggung. Kue yang seharusnya menumpuk di piring kini tinggal sisa enam buah. Akhirnya masing-masing dari kami mendapat tiga buah di piring kecil, lalu aku dan Lugh duduk di sofa di hadapan mereka. Sebelum masuk ke inti pembicaraan, aku membasahi tenggorokan dengan teh yang dibuatkan Alyssa-san, lalu memakan kuenya.

Hmm, memang benar manis dan renyah.

"Enak ya, Merry-chan."

"Favoritnya Merry desu!"

Merry membusungkan dada dengan bangga sambil mengunyah kue terakhir di tangannya. Lugh juga memasukkan kue ke mulutnya dan ikut mengunyah.

Mereka berdua benar-benar mirip ya. Pantas saja saat pertama bertemu, Lily sampai salah mengira Merry sebagai Lucretia. Meskipun Merry meniru gaya rambut dan riasannya, fakta bahwa teman masa kecil seperti Lily saja tidak bisa membedakan mereka itu sudah luar biasa. Apalagi sekarang warna rambut mereka mirip, antara perak dan abu-abu, mereka terlihat seperti kakak-adik.

Tingkat kemiripannya mungkin setara dengan Lecty dan Tina.

"Auu... habis desu, kuenya."

Merry yang sudah selesai makan tampak lesu. Sambil menaruh telunjuk kanan di bibir, matanya melirik ke sana kemari, lalu menatap piring kecil di depanku dengan penuh harap. Masih ada dua kue tersisa di piringku.

"Anu... mau makan?"

"Bo-boleh desu?"

"Iya, boleh."

Begitu aku menyodorkan kuenya, wajah Merry langsung berseri-seri.

"Terima kasih desu!"

Merry kembali lahap memakan kuenya. Ekspresinya tampak sangat bahagia. ...Sebenarnya aku masih ingin makan, tapi melihat wajah seperti itu, apa boleh buat. Anggap saja melihat ekspresi bahagianya sudah cukup bagiku.

Tiba-tiba, aku merasakan tatapan dari samping. Lugh sedang tersenyum lembut menatapku.

"Hugh sepertinya akan sangat memanjakan anak-anaknya nanti ya."

"Be-begitukah?"

"Iya. Aku rasa kau akan jadi ayah yang baik."

Aku tidak tahu apa maksud Lugh berkata seperti itu. Aku penasaran, tapi lebih baik tidak bertanya. ...Tolong seseorang sadar kalau "Kakak Ipar" di depan kami ini sedang memasang ekspresi yang sangat rumit.

"Ehem. Bisa kita mulai pembicaraan intinya?"

Pangeran Lucas berdehem secara sengaja dan bertanya pada kami. Setelah kami membetulkan posisi duduk, Pangeran Lucas mengangguk pelan dan mulai bicara.

"Kalian pasti penasaran kenapa aku memaksa ikut dalam latihan luar kampus kalian. Aku beritahu dulu, alasannya tidak terlalu besar."

Setelah pembukaan itu, Pangeran Lucas meminum tehnya sejenak.

"Hugh, apakah kau tahu kalau ibu kami berasal dari wilayah Spen?"

"...Iya, saya tahu."

Mendengar jawabanku, Lugh di sampingku membelalakkan mata biru tuanya. Aku bisa saja bilang tidak tahu, dan Lily pun tidak secara gamblang mengatakannya padaku. Tapi karena aku sudah menyadarinya, berbohong hanya akan membuatku merasa tidak enak. Aku tidak berniat menutup-nutupinya.

"Begitu ya. Informasi itu memang tidak disembunyikan secara ketat, jadi tidak aneh jika kau mendengarnya di suatu tempat. Melihat reaksimu, kau juga pasti sudah tahu sedikit banyak soal Kutukan Drefon?"

"Iya. Secara garis besar."

"Kalau begitu pembicaraannya jadi lebih cepat."

Pangeran Lucas tersenyum seolah beban bicaranya berkurang, tapi di sampingku, Lugh menunduk sambil meremas kedua tangannya di atas lutut. Apakah dia marah karena aku tahu rahasianya tapi diam saja...?

"Di tengah wabah penyakit yang disebut Kutukan Drefon yang menyebar di ibu kota, ibu kami meninggal karena penyakit lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan wabah tersebut. Hal itu jelas dari catatan dan kesaksian dokter istana saat itu. Tapi, perasaan manusia itu merepotkan. Ibu tidak diizinkan masuk ke pemakaman keluarga kerajaan."

Pangeran Lucas menceritakan bahwa jenazah ibunya dibawa keluar dari ibu kota menuju wilayah Spen. Sekarang, beliau dimakamkan di sebuah makam yang dibangun di tengah pegunungan wilayah Drefon.

"Jadi, tujuan Anda ikut latihan ini adalah..."

"Secara jujur, aku ingin berziarah ke makam Ibu. Kalian mungkin berpikir kenapa di saat perebutan takhta sedang memuncak begini, tapi justru sebaliknya, jika aku sudah menjadi Raja nanti, aku tidak akan bisa meninggalkan ibu kota semudah itu. Aku ingin menyapa Ibu selagi sempat."

Begitu ya...

Seperti yang dikhawatirkan Idiot di kereta tadi, tindakan ini memang berisiko memperburuk posisi Pangeran Lucas dan bisa dimanfaatkan oleh Pangeran Brute. Namun, meskipun tahu risikonya, Pangeran Lucas tetap ingin berziarah ke makam ibunya sebelum menjadi Raja... Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan di depan makam nanti, tapi aku bisa memahami perasaan ingin mengunjungi orang yang sudah tiada.

...Tapi, apakah benar-benar hanya itu tujuannya?

"Tentu saja aku tidak berniat meninggalkan ibu kota terlalu lama. Begitu selesai berziarah, aku berencana untuk segera kembali mendahului kalian."

Artinya saat pulang nanti dia akan naik kapal pengangkut ya. Sepertinya pemandangan dari neraka yang kulihat tadi akan terulang lagi. Pangeran Lucas dijadwalkan meninggalkan ibu kota selama kurang lebih setengah bulan. Katanya selama itu, Roan-san dan Marquess Puridy yang tinggal di ibu kota sudah cukup untuk mengawasi Pangeran Brute.

"Kau boleh menceritakan hal ini pada Nona Lily atau Tuan Muda Idiot. Mereka pasti penasaran."

"Baiklah."

"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"

"............Tidak ada."

Aku ragu sejenak, lalu menggeleng.

Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal. Jika tujuannya adalah berziarah, kenapa dia tidak memberitahu Lucretia sejak awal? Gadis di sampingku ini terus menunduk dengan wajah serius. Pangeran Lucas pasti bisa melihat ekspresinya. Jika dia memberitahu kalau tujuannya adalah berziarah dan sengaja memilih Labirin Besar Drefon demi itu, Lucretia tidak perlu merasa cemas sendirian.

...Entah ada alasan yang tidak bisa diberitahukan, atau memang ada tujuan lain selain ziarah. Apapun itu, tugas kuberarti tidak berubah. Berada di sisi Lucretia dan melindunginya. Cukup itu saja.

"Hanya itu pembicaraannya. Maaf ya sudah memanggilmu jauh-jauh."

"Tidak apa-apa. Kalau begitu kami permisi dulu. Ayo, Lugh."

"I-iya..."

Lugh mengangguk pelan dan bangkit dari sofa mengikutiku.

Setelah itu, waktu berlalu dengan cepat karena kami disibukkan dengan makan siang dan membantu tugas-tugas di kapal sebagai bagian dari latihan. Sore hari pun tiba, dan kapal bersandar di pelabuhan transit. Untuk makan malam, Pangeran Lucas mengadakan pesta prasmanan mewah di dek depan kapal. Saat itu, Lily, Rosalie, dan teman-teman sekelas lainnya yang tadi mabuk laut sudah mulai pulih dan mulai menikmati makanan masing-masing.

Di tengah keriuhan itu, aku menemukan Lugh sendirian di dek belakang, berlawanan arah dengan lokasi pesta. Dia berdiri di dekat pagar kapal sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah bulan yang menggantung di langit malam.

Katanya jiwa orang yang sudah meninggal pergi ke bulan ya...

Aku datang untuk mencarinya karena dia tiba-tiba menghilang dari pesta, tapi aku bingung harus menyapanya bagaimana. Sejak bicara dengan Pangeran Lucas tadi, Lugh sepertinya sedikit menjaga jarak dariku. Saat makan siang maupun saat membantu tugas kapal, dia selalu bergerak menjauh dariku. Mungkin dia benar-benar marah karena aku tahu soal Kutukan Drefon tapi diam saja. Jika iya, aku ingin meminta maaf...

Yah, tidak ada gunanya terus ragu. Aku melangkah mendekat dengan sengaja agar langkah kakiku terdengar, lalu berdiri di sampingnya. Lugh menarik tangannya yang tadi menjulur ke arah bulan, lalu menatapku dengan mata terbelalak karena terkejut. Namun sesaat kemudian, dia memasang senyum getir.

"Kalau kau sedekat itu, kau bisa tertular kutukan, lho?"

Lugh mungkin bermaksud mengatakannya sebagai candaan. Tapi suaranya bergetar, dan senyumnya terlihat perih. Aku merasa kalimat itu mungkin adalah kata-kata yang pernah benar-benar dikatakan seseorang kepadanya. Memikirkan itu, aku tidak bisa menahan instingku lagi.

Aku memegang bahunya, lalu memeluknya erat-erat.

"Kya!? Hyu-Hugh...?" Lugh menatapku dengan bingung.

"Apa kau tidak takut kutukan...?"

"Kita selalu tidur menempel setiap malam, buat apa takut sekarang?"

"Ah, benar juga ya."

Lugh bergumam dengan wajah bengong, lalu tubuhnya yang tadi tegang mulai rileks. Sepertinya dia baru menyadari hal yang sederhana itu. Dia mungkin terlalu banyak berpikir sampai pandangannya menyempit.

"Dibandingkan kutukan, aku jauh lebih takut jika kau menghindariku. Maaf ya soal kutukan itu. Maaf aku diam saja meskipun aku sudah tahu."

"Nggak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku... aku selalu takut kalau Hugh tahu soal keluarga Drefon dan kutukan itu, Hugh akan membenciku."

"Mana mungkin aku membencimu."

"Ehm...!"

Tangan Lugh melingkar di punggungku. Kami saling mendekap erat-erat seolah ingin mengunci tubuh masing-masing. Aku merasakan suhu tubuh dan detak jantung Lugh. Angin malam yang dingin menyentuh pipiku yang terasa panas, rasanya nyaman. Sekitar satu menit kami menempel seperti itu, lalu kami melepaskan dekapan dan saling tersipu malu.

"Hei, Hugh. Maukah kau... ikut berziarah ke makam Ibu bersamaku nanti?"

"Tentu saja."

Karena budaya dupa tidak ada di dunia ini, setidaknya aku ingin menangkupkan tangan di depan makamnya. Aku pun ingin menyapa ibunya.

"Terima kasih, Hugh. Anu... sebenarnya, selain ke Ibu yang ada di bulan, aku juga ingin mengenalkan Hugh ke Ibu yang ada di makam. Aku ingin bilang kalau Hugh adalah orang yang sangat berharga bagiku!"

"A-ah."

"Makanya, aku... soal Hugh itu—"

"Stop!"

"Fugyuu!?"

Aku buru-buru membungkam mulut Lugh yang sepertinya sudah bertekad ingin mengatakan sesuatu. A-bahaya sekali. Untung saja aku mengganti skill menjadi "Ninja" saat mencarinya tadi. Berkat itu, aku menyadari ada beberapa orang yang mengintai kami dari balik bayangan.

"(Dari sini nggak kedengeran mereka ngomong apa desu wa...!)"

"(Ja-jangan mendorong, Nona Rosalie! Kalau maju lagi nanti ketahuan Hugh...)"

"—Kyaa!?"

"—Ghuakh!?"

Rosalie dan Idiot yang bersembunyi di balik bayangan kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di dek kapal. Apa yang dilakukan orang-orang ini... Yah, mungkin mereka datang untuk mencari kami karena khawatir. Lily dan yang lainnya mungkin juga cemas.

"Mari kita kembali, Lugh?"

"Iya... (...Muuu, padahal tinggal sedikit lagi)."

Lugh mengangguk sambil menggembungkan pipinya dan bergumam pelan. Berkat skill "Ninja", gumamannya terdengar jelas di telingaku. ...Aku tahu apa yang ia maksud dengan "tinggal sedikit lagi". Justru karena itulah aku merasa lega. Karena kalimat sambungannya, aku ingin akulah yang mengatakannya lebih dulu kepadanya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close