Bab 4: Peringkat Pertama Heroine yang Sepertinya Akan Tetap Bertahan Hidup Meski Terdampar di Pulau Tak Berpenghuni
Sehari sebelum latihan luar kampus dimulai,
aku menunggu kedatangan gadis-gadis itu di depan gerbang sekolah.
Karena aku keluar kamar sedikit lebih awal,
masih ada waktu luang sebelum jam yang dijanjikan. Saat sedang memikirkan cara
membunuh waktu, dari arah asrama putri, mereka terlihat berjalan kemari.
"Maaf membuat Anda menunggu, Hugh-sama!"
"Mohon maaf atas keterlambatan
kami."
"Tidak apa-apa, aku juga baru saja
sampai, jadi jangan dipikirkan."
Aku buru-buru menggelengkan kepala pada
Rosalie yang membungkuk hingga kuncir kembar merah mudanya bergoyang, serta
Cicely-san yang mengikuti di belakang. Akulah yang datang lebih awal dari
jadwal; mereka sebenarnya sudah tiba sepuluh menit sebelum waktunya. Malah aku
yang merasa tidak enak karena membuat mereka sungkan.
"Selamat pagi, Hugh-san."
"Selamat pagi, Lecty."
Lecty juga ikut bersama Rosalie dan Cicely-san. Karena anggota
sudah lengkap, kami segera naik ke kereta kuda yang telah disiapkan oleh
Ksatria Kerajaan. Tujuan kami adalah rumah sakit yang bersebelahan dengan
tempat latihan Ksatria Kerajaan.
"Syukurlah izin keluar sekolahnya
turun ya, Rosalie-san."
Di dalam kereta yang mulai melaju, Lecty
yang duduk di sampingku menyapa Rosalie di depannya. Rosalie tersenyum lembut
dan mengangguk.
"Iya. Aku sudah meminta pada
Alyssa-sensei sejak lama karena aku sangat ingin bertemu dengannya sebelum
berangkat latihan luar kampus. Baru kemarin izin dari Yang Mulia Lucas turun,
jadi akhirnya aku bisa menjenguknya. Terima kasih sudah menemani hari ini,
kalian berdua. Meskipun ada Cicely, sejujurnya aku sedikit gugup..."
Rosalie tertawa pahit, namun aku melihat
ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Sepertinya dia kurang tidur lagi...
Meskipun dia bilang "sedikit", kegugupannya pasti luar biasa. Wajar
saja, orang yang akan kami temui adalah sosok yang spesial bagi Rosalie dalam
berbagai arti.
"...Semoga Kakek baik-baik
saja."
Mantan Kardinal Gereja Shinjukyo, Malicious. Dia yang juga
merupakan orang tua angkat Rosalie kini ditahan di rumah sakit di bawah
pengawasan ksatria. Setelah terhempas ke dinding oleh Rosalie yang sempat
berubah menjadi monster, dia secara ajaib selamat berkat pengobatan Lecty.
"Sekali lagi terima kasih, Lecty.
Berkatmu Kakek yang luka parah bisa tertolong. Tak disangka beliau sampai jatuh
terguling dari tangga saat aku pingsan, sepertinya faktor usia memang tidak
bisa dilawan ya."
"Astaga," keluh Rosalie setengah
bercanda. Aku dan Lecty yang tahu kejadian sebenarnya hanya bisa melempar
senyum kecut.
Kebenaran tentang insiden di Katedral
tidak diberitahukan kepada Rosalie. Setelah berdiskusi dengan Pangeran Lucas,
kami menyimpulkan bahwa lebih baik dia tidak tahu kalau dirinya pernah berubah
menjadi monster. Karena itu, Rosalie masih tetap menyayangi Malicious sebagai
'Kakek'.
Perbuatan Malicious pada Rosalie jelas
tidak termaafkan. Sebagai orang yang tahu kebenarannya, perasaanku campur aduk.
Tapi, mungkin bagi Rosalie, tidak tahu kalau dirinya pernah dijadikan monster
adalah sebuah kebahagiaan...
Sekitar tiga puluh menit kemudian, kereta
tiba di rumah sakit tujuan. Karena prosedur sudah diurus sebelumnya, kami
diantar menuju kamar rawat Malicious tanpa hambatan.
"Anu..."
Di depan pintu kamar, Rosalie mendadak
kaku. Lecty dengan lembut menggenggam tangan kiri Rosalie dengan kedua
tangannya untuk menyemangati.
"Tidak apa-apa, Rosalie-san."
"...Iya. Terima kasih, Lecty."
Setelah ketegangannya mencair, Rosalie
mengetuk pintu tiga kali.
"Kakek, ini Rosalie. Aku masuk
ya."
Tanpa menunggu jawaban, Rosalie membuka
pintu. Di dalam kamar kecil itu, seorang pria tua yang duduk di atas ranjang
dekat jendela menatap ke arah kami dengan mata terbelalak.
Itu Malicious... kan?
Saking kurus dan tuanya, aku hampir
tidak mengenalinya. Belum genap sebulan sejak insiden di Katedral, tapi
wajahnya sudah berubah drastis.
"Syukurlah Kakek terlihat sehat.
Kakek terlihat sangat kurus, apa Kakek makan dengan benar? Jangan pilih-pilih
makanan ya!"
"Ro-Rosalie...? Aku... aku telah
melakukan hal yang tak termaafkan padamu!"
"Kakek!"
Rosalie buru-buru memeluk dan menahan
Malicious yang hampir jatuh dari ranjang karena berusaha menggapai tangan
Rosalie dengan tidak seimbang.
"Astaga, yang kuat dong!"
"Rosalie, apa kau benar-benar
Rosalie...?"
"Kakek bicara apa sih. Dilihat dari
mana pun aku adalah Rosalie Saint. Terlalu dini untuk jadi pikun, lho?"
"Ah, ini Rosalie yang asli. Syukurlah,
benar-benar syukurlah...!"
Malicious mengembuskan napas lega yang
seolah datang dari lubuk hatinya yang terdalam. Kemudian dia menatapku dan
Lecty.
"Kalianlah yang telah menyelamatkan
Rosalie, kan...? Terima kasih, sungguh, terima kasih banyak...!"
Dia menundukkan kepala dalam-dalam,
membuatku dan Lecty saling pandang dengan bingung. Sepertinya dia baru tahu
kalau Rosalie selamat hari ini, tapi poin pentingnya bukan di situ. Aku
merasakan kasih sayang yang tulus dari Malicious kepada Rosalie. Sulit
dipercaya bahwa pria ini adalah orang yang sama yang begitu terobsesi pada
gelar Orang Suci sampai tega mengubah cucunya sendiri menjadi monster.
Seolah-olah pengaruh jahat yang merasukinya telah lenyap.
"Aku tidak terlalu mengerti, tapi
lihat ini! Seragam Akademi Kerajaan! Aku sudah resmi jadi murid di sana!"
"Ah, begitu ya... Baguslah, Rosalie."
Sambil meneteskan air mata, Malicious tersenyum pada Rosalie
seperti seorang kakek yang menyayangi cucunya. Saat aku melirik Cicely-san, dia
juga tampak bingung melihat interaksi mereka yang benar-benar seperti kakek dan
cucu kandung.
"Saya baru menjadi ksatria suci pendamping Rosalie-sama
setelah beliau diangkat menjadi Orang Suci. Saya belum pernah melihat hubungan
mereka saat masih tinggal bersama Malicious sebelumnya..." bisik
Cicely-san.
"Mungkin, inilah hubungan mereka yang sebenarnya,"
sahut Lecty pelan.
"Mungkin saja," aku setuju.
Meskipun pernah diperlakukan sangat buruk oleh Malicious,
Rosalie tidak pernah mencelanya. Mungkin karena ada fakta bahwa Malicious
pernah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, dan Rosalie menyadari ada
sesuatu yang tidak beres pada kakeknya waktu itu...
"Hugh, bisa bicara sebentar?"
Seseorang memanggil namaku dari balik pintu diikuti suara
ketukan. Saat menoleh, seorang ksatria mengintip dari lorong.
Seorang pria paruh baya bertubuh
kurus dengan rambut cokelat berantakan dan janggut yang tidak dicukur. Meskipun
terlihat lesu dan bungkuk, pria ini adalah pemegang skill
"Sword Master", ksatria terkuat di Kerajaan
Leese.
Wakil
Komandan Ksatria Kerajaan, Roan Ashblade. Dia memberi isyarat dengan tangannya
agar aku mendekat.
"Lecty, Cicely-san, aku keluar sebentar ya. Panggil saja kalau ada apa-apa."
Aku pamit pada mereka dan keluar dari kamar
rawat. Di lorong, Roan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku berlari kecil
untuk menyejajarkan langkah dengannya.
"Maaf mengganggu, Hugh."
"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong,
kenapa Roan-san ada di sini? Apa sedang ada latihan?"
"Bukan, hari ini aku jadi pesuruh Yang
Mulia. Biasanya aku menyuruh Alyssa, tapi dia menolak karena sedang
sibuk."
"Begitu ya..."
Alyssa-san memang sangat sibuk
mempersiapkan latihan luar kampus belakangan ini. Ditambah lagi, saat ini dia
seharusnya berada di kediaman Puridy untuk mengawal Lucretia. Dia pasti tidak
punya waktu untuk kemari.
Omong-omong, alasan Lucretia ada di
rumah Lily adalah karena kebaikan hati Lily padaku. Saat aku curhat ingin
membeli hadiah ulang tahun untuk TÃa, Lily bilang, "Serahkan soal TÃa
padaku," dan mengajaknya pergi. Saat ini kemungkinan besar TÃa sedang
sibuk melihat barang-barang dari pedagang langganan keluarga Puridy dengan
dalih persiapan latihan. Lily bilang dia akan memberi waktu sampai sore, jadi
setelah ini aku berencana mencari hadiah ditemani Lecty.
"Di sini saja cukup."
Roan berhenti di ruang diskusi pada lantai
yang sama. Suasananya sangat sunyi, hanya terdengar sayup-sayup teriakan
latihan dari Ksatria Kerajaan di gedung sebelah.
"Yang Mulia menyuruhku menyampaikan
hasil interogasi Malicious."
"Apa ada yang terungkap...?"
"Ya. Informasinya sedikit, tapi itu
tetaplah petunjuk. Pertama, soal obsesi aneh
Malicious pada gelar Orang Suci. Sepertinya itu sengaja diperkuat oleh
seseorang."
"...Sudah kuduga."
"Katanya sejak dulu
Malicious memang ragu pada ajaran Gereja Shinjukyo. Menurutnya Tuhan hanya
memberi skill, sisanya cuma ujian dan bencana. Baginya, hanya
Orang Suci yang benar-benar berusaha menyelamatkan manusia di kitab suci.
Baginya, hanya Orang Suci yang layak disembah."
"Yah, aku paham maksudnya, tapi itu jelas ajaran sesat
ya."
"Benar. Makanya dia hanya memendamnya sendiri dan tidak
pernah bergerak atau bicara pada siapa pun sebelumnya."
"Lalu... tiba-tiba itu berubah?"
"Pemicunya adalah seorang pria yang mendatangi Katedral.
Pria itu memakai jubah hitam bertudung, wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi
Malicious ingat betul sepasang mata merahnya."
"...Sama dengan pedagang yang keluar masuk kediaman Adipati
Lechery?"
"Sekarang pun belum jelas
dia pedagang atau bukan, tapi Yang Mulia yakin itu orang yang sama. Obat
monster itu juga diberikan oleh pria itu. Malicious percaya kalau itu adalah
obat untuk membangkitkan skill."
"Percaya, ya..."
Benar, sampai saat Rosalie
berubah menjadi monster, Malicious percaya sepenuhnya bahwa obat itu untuk
membangkitkan kekuatan. Jika dia
dibuat percaya melalui suatu kekuatan, maka skill apa yang
digunakan pria itu? Aku tidak menemukan skill seperti itu
dalam buku-buku yang kubaca bersama Lugh di perpustakaan. Apakah itu skill pengendali manusia yang belum pernah diketahui
sebelumnya?
"Ksatria sedang melacak keberadaannya,
tapi belum ada info berarti. Karena masalah ini sangat sensitif, kami tidak
bisa mencari secara besar-besaran, jadi harapan untuk menemukannya sangat
kecil."
"Lalu aku tetap menunggu
instruksi?"
"Aku
tidak tahu apa skill-mu yang sebenarnya, tapi kau
tidak perlu menambah beban kerja sendiri. Persaingan takhta yang sesungguhnya
baru akan dimulai. Seandainya kau menemukan pria itu dengan skill-mu, Yang Mulia juga belum tentu punya waktu luang
untuk menanggapinya secara serius. Dan lagi..."
"Dan lagi?"
Roan terdiam sejenak, lalu menghela napas
panjang seolah merasa malas. Bayangannya di kaca jendela menunjukkan ekspresi
wajah yang sangat tidak nyaman.
"Rasanya menjijikkan. Aku tidak paham
apa tujuannya. Kenapa dia harus memanipulasi Malicious...?"
"...Sepertinya tujuannya bukan sekadar
mengubah Rosalie menjadi monster, ya."
Kalau cuma
itu tujuannya, caranya terlalu berbelit-belit. Jika dia punya skill untuk memanipulasi orang, dia bisa langsung
memanipulasi Rosalie untuk meminum obat itu tanpa harus lewat Malicious. Apakah
ada batasan pada skill-nya? Ataukah ada cara lain
yang lebih mudah? Ketidakjelasan motivasi inilah yang membuat Roan merasa tidak
nyaman. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada orang berbahaya yang tujuannya
tidak bisa dipahami...
"Yah, pokoknya selama kita tidak perlu
terlibat, itu lebih baik. Sepertinya
dia tidak berniat menghambat Yang Mulia secara langsung juga."
"Benar juga ya..."
Sejauh
ini, baik kasus Lechery maupun Malicious justru menguntungkan posisi Pangeran
Lucas dalam perebutan takhta. Namun, jika pria itu adalah orang yang sama
dengan penculik Lecty, aku tidak akan memaafkannya. Aku tidak akan mencarinya
secara aktif, tapi jika dia muncul di depanku, aku akan menggunakan "Brainwashing" untuk menangkapnya.
"Oh iya, aku hampir lupa menyampaikan
pesan dari Yang Mulia."
"Pesan?"
Apakah pesan itu sangat penting sampai
harus mengirim Roan-san kemari? Padahal rumah sakit ini dekat dengan istana dan
tempat latihan.
"Katanya: 'Mohon bantuannya mulai
besok'."
"Eh? Ah, iya tentu saja. Serahkan soal
Lugh selama latihan luar kampus padaku."
Aku tertegun mendengar pesan yang sudah
sangat jelas itu. Roan melihat wajahku, tertawa kecil, lalu beranjak pergi
sambil melambaikan tangan.
"Aku pulang ya. Sampai jumpa."
Apakah dia benar-benar datang hanya untuk
menyampaikan itu? Wakil Komandan Ksatria Kerajaan ternyata orang yang sangat
santai.
Saat aku kembali ke kamar rawat Malicious,
Lecty, Rosalie, dan Cicely-san sudah menunggu di luar.
"Pertemuannya sudah selesai?"
"Belum, aku dan Cicely akan bicara
sebentar lagi dengan Kakek. Coba bayangkan Hugh-sama, Kakek sampai hampir tidak
makan karena mengira aku sudah mati! Aku harus minta dokter untuk mengawasinya
agar beliau tidak mendadak pergi saat aku sedang latihan nanti."
Rosalie mengangkat bahu dengan nada
bercanda. Ekspresinya tampak jauh lebih lega. Meskipun Malicious terlihat
kurus, Rosalie sepertinya tenang setelah melihatnya baik-baik saja.
"Lecty dan Hugh-sama ada rencana
setelah ini, kan? Jadi mari kita berpisah di sini saja."
"Apa tidak apa-apa?"
"Iya. Terima kasih untuk hari ini,
Hugh-sama, Lecty. Tidak enak kalau aku menahan kalian terlalu lama, apalagi
mengganggu kencan kalian."
"Ro-Rosalie-san! Sudah kubilang
berkali-kali ini bukan kencan...!"
"Eh? Tapi bukankah setelah ini kalian
akan makan siang berdua lalu pergi keliling toko? Cicely, bukankah itu namanya
kencan?"
"Iya, kedengarannya memang kencan,
kok."
Mendengar pertanyaan Rosalie, Cicely-san menjawab sambil tertawa
kecil.
Yah, memang sulit untuk membantah kalau ini disebut kencan, tapi
rasanya ada sedikit ganjalan di hati jika menyebut "minta tolong ditemani
mencari kado ulang tahun untuk gadis lain" sebagai sebuah kencan.
"Rosalie, aku cuma minta bantuan Lecty untuk mencari kado
ulang tahun Lugh, kok."
"I-iya, benar sekali!"
"Fufu, baiklah, aku anggap begitu saja ya."
Padahal aku hanya menyatakan fakta, tapi Rosalie sepertinya
sudah terlanjur percaya kalau aku dan Lecty akan pergi berkencan. Sepertinya alasan mencari kado untuk Lugh
pun hanya dianggapnya sebagai kedok.
...Yah, kalau dipikir-pikir secara normal,
memang agak aneh mengajak gadis lain (Lecty) untuk mencari kado bagi teman
laki-laki (Lugh). Wajar saja kalau dia salah paham.
Rosalie kemudian berputar ke belakang
Lecty, meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu, lalu berbisik di
telinganya.
"(Aku mendukungmu, Lecty. Lily-san
memang lawan yang berat, tapi kalau Lecty, aku yakin kau pasti bisa meluluhkan
hati Hugh-sama.)"
"Feh...!?"
"Nanti ceritakan padaku ya kencannya
seperti apa. Selamat bersenang-senang!"
"Hyaa!?"
Lecty terdorong oleh Rosalie dan hampir
jatuh ke arahku. Saat aku buru-buru menangkap dan mendekapnya, wajah Lecty
sudah memerah padam dengan sudut mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Ma-ma-maafkan aku, Hugh-san!"
"Tidak, ini bukan salahmu, Lecty. Rosalie, tolong jangan
menggoda Lecty terus."
"Ini kan bentuk dukungan sesama
teman. Silakan nikmati waktu kalian berdua ya~!"
Rosalie melambaikan tangannya dengan
riang lalu masuk ke dalam kamar rawat Malicious. Cicely-san juga membungkuk
sopan kepada kami sebelum menyusul masuk. ...Astaga.
"A-anu, Hugh-san..."
"Hmm? Ada apa, Lecty?"
"Te-terima kasih sudah
menangkapku. A-anu, bisakah Anda melepaskanku sekarang...?"
"Ah, maaf!"
Tanpa sadar aku terus mendekapnya
setelah menangkapnya tadi. Pantas saja sejak tadi tercium aroma manis yang
lembut seperti bunga kamomil.
Begitu aku melepaskannya, Lecty
meletakkan tangan di dadanya dan mengambil napas dalam-dalam berkali-kali. Setelah dia mulai tenang, kami memutuskan
untuk segera keluar dari rumah sakit.
"Ma-maafkan aku, Hugh-san. Gara-gara aku, Rosalie-san jadi
salah paham begitu...!"
Sambil berjalan, Lecty membungkuk berkali-kali dengan perasaan
bersalah yang tulus.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, Lecty. Wajar saja kalau dia
salah paham."
Lagi pula, aku tidak bisa menceritakan kebenaran pada Rosalie
yang tidak tahu identitas asli Lugh, jadi tidak ada yang bisa kujelaskan lebih
lanjut.
"Ta-tapi, kalau sampai ada rumor Hugh-san berkencan dengan
gadis sepertiku, bukankah reputasi Anda bisa tercoreng...?"
"Tercoreng?"
Reputasi apa yang dia maksud? Lecty ini terkadang punya rasa
rendah diri yang ekstrem sehingga dia mencemaskan hal yang aneh-aneh.
Reputasiku saja sebenarnya hampir tidak ada, dan seandainya pun berkencan
dengan Lecty dianggap noda bagi reputasiku, maka itu pasti "noda
kehormatan" atau semacamnya.
"Aku tidak terlalu paham, tapi kalau harga untuk berkencan
dengan Lecty cuma sekadar reputasi yang sedikit tergores, kurasa itu sangat
murah."
Bukan cuma Idiot, tapi hampir seluruh murid
laki-laki di kelas pasti rela mengorbankan reputasi mereka demi ini. Begitulah
daya tarik Lecty sebenarnya.
"Hau... Hugh-san ini licik
sekali."
Lecty menutupi wajahnya dengan kedua tangan
dan bergumam pelan. Aku memang sengaja memilih kata-kata agar dia lebih percaya
diri, tapi aku sedikit cemas apakah caraku ini benar.
Keluar dari rumah sakit, kami mulai mencari
tempat untuk makan siang.
"Lecty, ada sesuatu yang ingin kau
makan?"
"Ti-tidak ada yang khusus! Selama bisa dimakan dan tidak membuat perut
sakit, aku bisa makan apa saja!"
"Be-begitu ya."
Itu bukan karena dia sungkan padaku, tapi
sepertinya dia benar-benar tulus mengatakannya. Bagi Lecty yang kehilangan
orang tua dan tumbuh di kawasan kumuh, makanan mungkin hanyalah sarana untuk
menyambung hidup. Aku tidak bisa tidak merasa bersyukur dia bisa bertahan hidup
sampai sekarang.
Lengan dan kakinya yang saat awal masuk
sekolah terlihat sekurus ranting, kini setelah dua bulan mulai terlihat lebih
berisi. Wajahnya yang dulu kuyu juga sekarang sudah tidak terlihat tidak sehat
lagi.
"Hugh-san...?"
"Ah, maaf. Kalau begitu, mari kita
berjalan ke arah akademi sambil mencari kedai yang bagus."
"Baik!"
Jarak dari sini ke akademi cukup lumayan.
Pasti ada kedai bagus yang bisa kami temukan di jalan. Namun, baru beberapa
menit berjalan, aku mulai merasa bingung.
...Aku harus bicara apa dengan Lecty!?
Kalau diingat-ingat, apakah aku pernah
pergi berdua saja dengan Lecty? Sepertinya di setiap momen selalu ada Lily atau
Lugh bersama kami. Kesempatan kami berdua saja sangat sedikit; paling hanya
saat di UKS setelah latihan tanding antar kelas, dan saat insiden di Katedral
kemarin...
Tunggu, bukankah waktu itu Lecty
menciumku...?
Ini pertama kalinya kami bicara berdua saja
sejak saat itu. Begitu aku menyadarinya, jantungku mulai berdegup kencang.
Padahal tadi aku bisa bicara normal, tapi sekarang aku tidak tahu harus berkata
apa.
Te-tenang, Hugh. Tidak ada gunanya gugup. Mari cek keadaan Lecty di sampingku. Saat
aku menoleh, mataku langsung bertabrakan dengan mata ungunya yang jernih.
" "Ah." "
Kami spontan bersuara dan langsung
memalingkan wajah. Sepertinya Lecty juga sedang memperhatikanku. Karena sejak
tadi aku diam saja, dia pasti jadi merasa cemas...
Lecty sepertinya punya sifat yang mirip denganku. Jika dikategorikan, dia adalah tipe
introvert. Dia pasti tidak terlalu pandai memulai pembicaraan. Aku pun
sebenarnya selama ini sering mengandalkan Lugh atau Lily untuk mencairkan
suasana... Jika aku
memperlakukannya sama seperti mereka, maka keheningan seperti ini akan terus
terjadi. Mungkin di masa depan keheningan ini akan terasa nyaman, tapi untuk
sekarang, rasanya belum.
Aku memutar otak mencari topik pembicaraan.
Ah... benar juga. Aku belum berterima kasih padanya.
"Anu, terima kasih sudah mau
menemaniku hari ini ya, Lecty. Sangat membantu."
"Ti-tidak. Aku belum melakukan hal
yang pantas untuk dipuji... Dan juga, anu, apa benar-benar tidak apa-apa aku
yang menemani Anda...? Untuk mencari kado ulang tahun Lugh-san... Mengingat
kejadian dengan Rosalie-san tadi, aku memang menyanggupinya, tapi kurasa
Lily-chan lebih cocok untuk urusan seperti ini..."
"Ah... Yah, selera Lily memang tidak
perlu diragukan, tapi masalahnya ada di anggaran..."
"O-oh, begitu ya..."
Aku sudah sempat berkonsultasi dengan Lily
sebelumnya, tapi semua barang yang dia sarankan harganya jauh melampaui
anggaranku.
"Lily sendiri yang bilang kalau dia
tidak bisa membantu soal anggaran, jadi dia menyarankanku mengajakmu
saja."
"Ja-jadi begitu ya. (......Lily-chan,
apa kau sengaja melakukan ini agar aku dan Hugh-san bisa berdua saja...?)"
Ya, itu sangat mungkin.
Omong-omong,
agar bisa merespons situasi darurat saat bertemu Malicious tadi, aku sudah
mengganti skill-ku menjadi "Ninja".
Akibatnya, bisikan pelan Lecty tadi terdengar sangat jelas di telingaku. Lain
kali sepertinya aku harus memberitahunya kalau pendengaranku sedang diperkuat
agar dia lebih berhati-hati...
"Ngomong-ngomong, kado seperti apa
yang membuatmu senang kalau menerimanya saat ulang tahun?"
"Eh? A-aku? Anu, itu..."
Lecty menautkan kedua telunjuknya sambil
memerah, lalu menatapku dengan pandangan malu-malu dari bawah.
"Apapun kado dari Hugh-san, aku...
pasti akan sangat senang."
"O-oh. Begitu ya..."
Dikatakan begitu secara terang-terangan
membuatku jadi salah tingkah...
"Ma-maaf kalau jawabanku tidak
membantu. Ta-tapi, kurasa Lugh-san juga punya perasaan yang sama. Apapun
pemberian Hugh-san, dia pasti akan sangat bahagia!"
"...Iya. Aku harap begitu."
Sulit membayangkan Lucretia tidak senang
dengan pemberianku, kecuali kalau aku memberinya sesuatu yang sangat aneh.
Meski sedikit percaya diri, aku sadar betapa dia mencintaiku. Tapi justru
karena itulah aku merasa...
"Kalau bisa, aku ingin memberinya kado
yang paling membuatnya bahagia."
"...Cincin pertunangan?"
"Itu terlalu cepat, tahu!"
Aku spontan membalas gumaman pelan Lecty.
Sepertinya dia tidak bermaksud mengatakannya padaku, hanya pikiran yang tidak
sengaja lolos dari mulutnya. Lecty langsung membelalak dan menutupi mulutnya
dengan kedua tangan.
Tentu saja aku punya keinginan ke sana
suatu saat nanti, tapi kami masing-masing punya posisi, dan ada janji dengan
Pangeran Lucas juga. Lagi pula, aku harus menembaknya dulu secara resmi. Tanpa
menyatakan cinta, tidak ada yang bisa dimulai.
Tapi jika
dipikir-pikir, cincin mungkin bisa jadi pilihan? Di dunia lamaku, memberikan
cincin saat menyatakan cinta mungkin terasa terlalu berat dan bikin ilfeel, tapi di dunia ini mungkin itu pilihan yang
masuk akal. Perasaanku akan tersampaikan dengan sangat jelas, dan Lucretia
pasti akan sangat senang menerimanya.
"Lecty, menurutmu bagaimana kalau aku
memberinya cincin? Bukan cincin pertunangan, tapi
cincin biasa."
"Menurutku itu luar biasa! ...Ah,
tapi..."
"Tapi?"
"Apakah anggarannya cukup...?"
"Ah..."
Meskipun aku mendapat imbalan yang lumayan
dari Ryuu tadi, uangnya tetap tidak akan cukup untuk membeli cincin di toko
perhiasan khusus bangsawan. Jika melihat anggaran, aku hanya bisa mencari di
pasar loak atau pedagang kaki lima, tapi kualitasnya tidak terjamin; bisa saja
barang cacat, terkutuk, atau bahkan barang curian.
Aku tidak bisa memberikan barang seperti
itu pada Lucretia.
Sepertinya aku harus menggunakan
"kartu as" milikku.
"Lecty, bisakah kau menungguku di sini
sebentar?"
"Eh? Anu, ada apa...?"
"Anu..."
Meski kurasa aman, aku tetap waspada. Aku
mendekatkan wajahku ke telinga Lecty dan berbisik.
"Aku
akan mengganti skill-ku sebentar. Aku akan segera kembali."
"Hya-hyaii! Aku akan menunggu di
sini!"
Wajah Lecty memerah padam dan suaranya sedikit melengking.
Sepertinya aku terlalu dekat tadi.
Aku menjauh dari Lecty dan masuk
ke sebuah gang kecil di dekat sana. Setelah memastikan tidak ada orang, aku
mengambil cermin saku dari saku seragam dan membatalkan "Brainwashing".
"Batalkan 'Brainwashing'. Hugh Pnosis, skill-mu
adalah 'Appraisal' (Penilaian)."
Klik, aku merasakan sensasi skill yang berganti di dalam kepalaku.
[Skill:
Appraisal Lv. Max] ……Dapat
melihat keaslian dan kualitas dari segala jenis benda.
Aku
mencoba menggunakan skill tersebut pada cermin saku di
tanganku. Muncul informasi di pandanganku: Kualitas C, Kelangkaan D, Harga
wajar... sedikit lebih rendah dari harga belinya.
Begitu
ya, aku bahkan bisa melihat nama pembuatnya, nama pemilik sebelumnya, hingga
bahannya. Saat kasus Lechery dulu, ada bangsawan dengan skill "Appraisal"
yang bisa mengenali tulisan tangan; sepertinya dia melihat nama
"pembuat" tulisan tersebut. Benar-benar hebat, kalau aku tidak
memakai "Brainwashing" saat memalsukan dokumen dulu,
aku pasti sudah tertangkap...
Pokoknya, dengan ini aku bisa mencari
kado di pedagang kaki lima dengan tenang. Tepat saat aku hendak kembali ke
tempat Lecty...
"Kyaa!"
Terdengar teriakan pendek Lecty dari
arah jalan raya.
"Lecty!?"
Aku langsung melesat lari secepat kilat menuju arah suaranya. Begitu aku keluar dari gang kembali ke jalan raya, pemandangan yang menyambut mataku adalah...
—Pemandangan Lecty yang sedang dipeluk
erat-erat oleh Tina.
"Heh?"
Suara cempreng keluar dari mulutku
karena pemandangan yang tak terduga itu. Tina memeluk Lecty seolah-olah sedang
membenamkan wajahnya di dada Lecty, sementara Lecty yang dipeluk hanya bisa
menggerakkan tangannya dengan canggung di udara sambil mengerjapkan mata
ungunya. Ekspresinya penuh dengan kebingungan.
"Ko-kora! Apa yang kau lakukan,
Tina!?"
Dan di samping mereka, berdiri Lugh
dengan wajah pucat pasi. Dia tampak
bimbang antara ingin menarik paksa Tina dari Lecty atau tidak.
"Anu... ini sebenarnya situasi apa
ya...?"
"Ah! Itu... Hugh-san!? Anu, ini... maafkan adikku!"
Saat aku bertanya, Lugh menundukkan kepala
berkali-kali sambil meminta maaf sedalam-dalamnya.
"A-aku akan segera menariknya! Tina,
hentikan!"
"Tu-tunggu sebentar."
Yang menghentikan Lugh saat hendak menarik
paksa Tina justru Lecty sendiri, si korban pelukan. Dia mengusap punggung Tina
yang masih memeluknya dengan lembut. Kemudian dia membisikkan sesuatu di
telinga Tina, dan mereka berdua terus berpelukan selama beberapa saat.
Aku sama sekali tidak paham situasinya,
tapi entah kenapa aku merasa lebih baik tidak mengganggu mereka. Aku melirik
Lugh, dia menatap mereka dengan wajah yang seolah-olah ingin menangis.
...Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kemiripan wajah Lecty dan Tina?
Perasaan "mirip seseorang" yang
kurasakan saat pertama kali melihat Tina. Melihat mereka berpelukan begini, aku
baru sadar kalau "seseorang" itu adalah Lecty. Tina memang lebih
tinggi, dan warna rambutnya lebih pucat mendekati putih. Tapi struktur wajah dan ekspresi yang
mereka tunjukkan sesekali memang sangat mirip.
Saudara yang terpisah? Atau sepupu,
atau kerabat?
Kami menunggu sekitar tiga puluh detik.
Akhirnya, seolah sudah puas, Tina perlahan
melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata di sudut matanya, lalu memasang
senyum seolah ingin menutupi sesuatu.
"Maaf ya, habisnya kau terlalu imut
jadi aku tidak tahan ingin memelukmu."
Tina menjulurkan lidahnya dengan nakal,
membuat Lugh memegang kepalanya karena merasa malu. Alasannya sama sekali tidak
masuk akal, tapi kurasa akan kurang sopan jika aku mengoreknya lebih dalam...
"Anu, Hugh-san. Apa mereka kenalan
Anda?"
"Ah, iya. Ini Lugh dan Tina, mereka
petualang. Dulu mereka menolongku saat aku pergi ke Perserikatan Petualang
bersama Idiot. Aku tidak tahu mereka akan mengawal kelas mana, tapi mereka akan
ikut latihan luar kampus besok atas permintaan akademi."
"Begitu ya. Namaku Lecty. Mohon
bantuannya."
Lecty membungkuk sopan, dan Lugh buru-buru
membalas bungkukannya dengan gugup.
"Ka-kami juga mohon bantuannya!
Maafkan ketidaksopanan adikku tadi. Aku tidak tahu harus meminta maaf
bagaimana..."
"Ti-tidak apa-apa! Aku memang sedikit
kaget, tapi aku baik-baik saja. Aku merasa... bisa memahami perasaan
Tina-chan."
"Be-benarkah...?"
"Iya."
Lecty tersenyum lembut sambil menatap
Tina. Sementara itu, Tina memerah dan segera memalingkan wajahnya. Aku mengerti
sedikit kalau Tina punya rahasia tertentu dan Lecty menyadarinya.
"Memahami perasaan Tina" pasti berarti hal itu.
"Ngomong-ngomong,
kebetulan sekali ya bisa bertemu di tengah kota begini. Kalian sedang tidak ada
quest hari ini?"
"Iya.
Sebenarnya kami baru saja kembali dari Akademi Kerajaan. Kami baru selesai
rapat untuk besok dan memeriksa dungeon yang akan
kami kawal. Aku dan Tina ditugaskan mengawal kelas yang menuju 'Labirin Besar
Drefon'."
"Serius!? Itu kan kelas kami!"
"Sepertinya begitu."
Lugh menjawab dengan santai tanpa ekspresi
terkejut. Dia pasti sudah tahu dari daftar nama murid sebelumnya. Rasanya hanya
aku yang terlalu bersemangat sendiri, agak memalukan juga. Tapi bagaimanapun,
dikawal oleh orang yang sudah dikenal itu menenangkan.
"Mohon bantuannya mulai besok, Hugh-san."
"Aku juga mohon bantuannya. Tina,
mohon bantuannya juga ya."
"I-iya! Aku akan berjuang!"
Tina tampak tersipu malu sambil mengepalkan
kedua tangannya di depan dada. Aura santai dan tak acuh yang ia tunjukkan saat
pertama bertemu dulu sudah lenyap entah ke mana. Apa perasaanku saja, tapi dia
terlihat sangat tegang.
"Anu, Hugh-san. Kalau Hugh-san tidak
keberatan, bolehkah aku mengajak mereka makan siang bersama?"
"Eh? Ah, tentu saja boleh."
Aku langsung menyetujui usul Lecty. Aku juga memikirkan hal yang sama, dan
tidak ada alasan untuk menolak. Hanya saja, aku sedikit terkejut Lecty yang
mengusulkannya lebih dulu. Karena Lugh dan Tina pasti mendengar percakapan
kami, aku langsung bertanya "Bagaimana?" pada mereka.
Lugh dan Tina saling bertukar pandang,
lalu...
"Maaf, terima kasih atas ajakannya,
tapi..."
"Kami tadi baru saja makan sampai
kenyang sekali. Maaf ya, Hugh-san...
Lecty-san."
"Begitu ya. Kalau begitu tidak apa-apa."
Rasanya tidak enak memaksa orang yang sudah kenyang untuk
menemani makan. Ditambah lagi, mereka pasti lebih sibuk mempersiapkan latihan
luar kampus daripada kami para murid.
"Karena mulai besok kita akan bersama
untuk waktu yang lama, mari lakukan di lain kesempatan."
"Tentu saja. Nanti aku akan
perkenalkan kalian dengan teman sekelas yang lain juga."
"Kami menantikannya. Kalau begitu,
kami permisi dulu."
Lugh pamit dan pergi bersama Tina ke
arah seberang.
"Sampai jumpa besok,
Tina-chan!"
Mendengar panggilan Lecty, Tina menoleh
dan melambaikan tangannya dengan malu-malu. Kami memperhatikan punggung mereka
sampai menghilang di tengah kerumunan ibu kota, lalu kami pun berbalik dan
mulai berjalan lagi.
Sejujurnya, aku tidak menyangka akan
bertemu Lugh dan Tina di tengah kota... Tapi yang paling mengejutkan adalah
saat Tina memeluk Lecty tadi. Dia bilang karena imut, tapi aku tahu itu bohong.
"Lecty, apa yang kau katakan pada
Tina saat dia memelukmu tadi?"
Karena
tadi aku baru saja mengganti skill dari "Ninja" ke "Appraisal",
aku tidak bisa mendengar bisikan Lecty. Saat aku bertanya, Lecty tampak sedikit
bingung.
"Anu, karena Tina-chan gemetaran,
aku bilang 'tidak apa-apa kok'. Aku tidak terlalu paham situasinya, tapi aku
merasa harus menenangkannya... Sepertinya Tina-chan melihat sosok ibunya
padaku. Sesaat sebelum dia memelukku, aku mendengar dia bergumam 'Ibu...'.
Mungkin ibu Tina-chan sudah..."
"............Sepertinya mereka
punya situasi yang cukup rumit."
Lugh bilang mereka kakak-adik beda ibu,
dan pasti ada alasan kenapa mereka menjadi petualang berdua saja jauh dari
orang tua. Jika tebakan Lecty benar, maka Lecty yang juga sudah kehilangan
orang tua pasti bisa memahami perasaan Tina.
Ngomong-ngomong, Lecty sebagai "Ibu", ya... Aku tidak
terlalu bisa membayangkannya, tapi karena Tina dan Lecty memang mirip, pasti
ibu Tina adalah orang yang cantik dan imut seperti Lecty.
Setelah berjalan beberapa saat, kami
memutuskan masuk ke sebuah kafe di pinggir jalan. Sepertinya ini cabang kedua
dari kafe yang pernah kukunjungi bersama Lugh dan Lily. Tata letaknya mirip,
menu minuman dan roti lapisnya juga sama.
"Lecty, sebagai ucapan terima kasih
karena sudah menemaniku, aku yang traktir ya. Pilih saja apa yang kau
mau."
"Tidak boleh, Hugh-san! Malah akulah yang harus traktir! Jangan sampai pilihan kadonya jadi terbatas
gara-gara ini!"
"Eh, tapi..."
Lecty kan tidak punya uang? Aku tidak
ingat pernah mendengar dia bekerja sambilan...
"Tidak apa-apa. Aku punya uang di
sini."
Lecty mengeluarkan kantong kain dari saku
roknya.
"Pinjam dari Lily?"
"Gaji di muka! Sebenarnya aku akan
bekerja sebagai pelayan di rumah Lily-chan saat libur musim panas nanti, dan
aku sudah menerima gajinya lebih awal!"
"Be-begitu ya..."
Dasar Lily,
dia pasti sengaja ingin memakaikan seragam pelayan (maid)
pada Lecty demi kesenangannya sendiri... Mungkin aku harus sering mampir saat
Lecty bekerja nanti... Bukan, bukan karena aku ingin melihat Lecty memakai baju
pelayan, tapi ada alasan yang benar.
Libur musim panas Akademi Kerajaan sangat
panjang, sekitar dua bulan. Di kasusku, kalau mau pulang kampung ke wilayah
Pnosis saja butuh waktu sebulan perjalanan kereta kuda. Liburan akan habis di
jalan saja. Jadi aku harus tetap tinggal di akademi, dan aku harus memikirkan
cara menghabiskan waktu selama dua bulan itu.
Berdiam diri di kamar asrama setiap hari
itu membosankan, dan hanya berdua saja dengan Lucretia itu agak berbahaya.
Bisa-bisa aku tidak hanya melewati satu batas, tapi dua atau tiga batas
sekaligus karena bosan. Jadi aku harus aktif keluar rumah. Karena itu, mampir
ke kediaman Puridy adalah hal yang wajar, dan fakta bahwa Lecty bekerja di sana
dengan seragam pelayan hanyalah kebetulan belaka, titik.
"Baiklah, kalau begitu aku terima
kebaikanmu."
"Iya! Silakan pilih apa pun yang Anda
suka!"
Atas desakan Lecty, aku memesan set roti
lapis dan minuman yang sama seperti sebelumnya, ditambah roti kroisan. Aku
sempat ragu apakah ini berlebihan, tapi melihat Lecty tersenyum senang saat
mendengar pesananku, sepertinya keputusanku benar.
Setelah
makan siang di area teras, kami berjalan kembali ke arah akademi sambil
melihat-lihat beberapa pedagang kaki lima yang menjual aksesori. Karena
pedagangnya adalah pengelana dari luar ibu kota, banyak aksesori yang asalnya
mencurigakan terjajar di sana. Kalau aku tidak mengganti skill menjadi "Appraisal",
aku pasti sudah tertipu membeli barang sampah...
Namun, harta karun memang biasanya
tersembunyi di tempat seperti itu. Di toko ketiga, aku akhirnya menemukan
cincin yang membuatku berteriak "Ini dia!" di dalam hati.
Kualitasnya
A, Kelangkaan C. Batu permata yang digunakan adalah Iolite. Warnanya sangat
mirip dengan warna mata Lucretia. Dan yang terpenting, harganya sangat bagus.
Harga aslinya hampir 30% lebih murah dari harga wajar yang ditampilkan oleh skill "Appraisal".
Saat kutanya alasannya, penjual bilang itu
adalah cincin buatan pengrajin muda yang masih magang. Karena nama pengrajinnya
belum terkenal dan batu Iolite yang digunakan kecil serta tidak terlalu
mencolok, barang itu sulit terjual.
"Kado untuk pacar cantikmu ya?"
"E-eh... iya. Yah, begitulah."
"Kalau begitu, demi pacarmu, akan
kuberi harga murah!"
Penjualnya salah paham mengira Lecty adalah
pacarku, tapi rasanya aneh kalau aku mengoreksinya sekarang, jadi aku diamkan
saja. Secara teknis ini bahkan bukan kado untuk pacar, tapi tidak ada gunanya
menjelaskan panjang lebar pada penjual. Penjual itu memberiku diskon lagi 20%
dari harga pajangan, alias setengah dari harga wajar. Anggaranku sangat cukup
untuk membelinya. Malah aku jadi cemas apakah ini tidak terlalu murah, tapi di
saat itulah jiwa dagang si penjual muncul.
"Oh iya, ada juga anting dan kalung
dari pengrajin yang sama. Kalau mau, lihat-lihat saja dulu."
Aku sempat
waspada mengira ini teknik upselling, tapi
sepertinya bukan itu tujuannya. Kalung dan anting yang ditunjukkan berkualitas
A tapi kelangkaannya E. Sepertinya dibuat dari batu permata bernilai rendah
yang banyak beredar di pasar, sehingga harga wajarnya memang murah. Kalungnya
memakai batu Amethyst (kecubung), sedangkan antingnya Giok (Jade)...
"Ini
aksesori yang dibuat pengrajin itu untuk latihan. Karena hasilnya sangat bagus
jadi aku beli, tapi ternyata sulit laku. Penduduk ibu kota tidak akan melirik
barang kalau tidak pakai permata mewah yang mencolok. Tapi kau punya mata yang
tajam, Nak. Kau tahu nilai barang ini, kan? Apa kau punya skill tipe 'Appraisal'?"
"Anu... ya, begitulah."
Tak disangka
dia bisa menebak skill-ku, insting pedagang memang
mengerikan... Aku
sempat tegang mengira dia punya skill untuk
mendeteksi skill orang lain.
"Bagaimana, Nak? Mau sekalian
ambil anting dan kalung ini sebagai satu set dengan cincin tadi? Tentu akan
kuberi harga set lebih murah lagi. Bagaimana dengan harga segini?"
Harga yang ditawarkan pedagang itu
tepat berada di batas anggaranku. Jika kubeli, uangku tidak akan bersisa sama
sekali, dompetku akan kembali kosong melompong. Sebenarnya aku bisa menolak dan
hanya membeli cincinnya saja agar uangku tersisa setengah, yang bisa kugunakan
untuk kencan dengan Lucretia setelah pulang latihan luar kampus nanti. Demi
masa depan, lebih baik aku menyisakan uang.
...Setidaknya itulah yang akan
kupikirkan seandainya batu permata pada kalung dan anting itu bukan Amethyst
dan Giok. Kebetulan yang seolah sudah direncanakan ini membuatku merasa ini
adalah takdir atau semacamnya.
"Baiklah. Aku ambil
semuanya."
"Sekalian tolong siapkan kotaknya
masing-masing," kataku sambil menyerahkan kantong uang yang berisi seluruh
hartaku. Penjual itu berseru "Terima kasih!" lalu menyiapkan kotak
khusus untuk cincin, kalung, dan anting tersebut.
"Kau beruntung dapat pacar yang
baik, Dek," kata penjual itu pada Lecty.
"E-eh... iya," jawab Lecty
sambil tersenyum kecut dan agak bingung. Karena reaksinya berbeda dari yang
diharapkan, si penjual tampak heran dan menatapku dengan curiga. Sebaiknya aku
segera pergi sebelum dia bertanya macam-macam.
"Terima kasih. Ayo pergi,
Lecty."
"I-iya!"
Membawa tiga kotak kecil, aku dan Lecty
meninggalkan pedagang itu dan berjalan pulang menuju akademi. Setelah berjalan sebentar, kami memutuskan
untuk mampir di taman yang kebetulan kami lewati. Kami duduk di bangku di bawah
bayangan pohon untuk menghindari terik matahari awal musim panas. Beristirahat
sejenak di sini sebelum kembali ke sekolah rasanya masih cukup waktu sampai
senja tiba.
"Syukurlah sudah dapat kado yang indah ya, Hugh-san."
"Ini berkat Lecty mau menemaniku.
Terima kasih ya."
"Ti-tidak, aku hanya ikut berjalan
bersamamu saja..."
Lecty merendah, tapi kalau aku sendirian,
aku pasti masih bingung memilih dan mencarinya sampai malam. Berkat Lecty, aku
terpikir memberikan cincin, dan di pasar tadi aku menemukan barang yang bagus.
"Fufu. Hari ini aku sangat senang bisa
jalan-jalan bersama Hugh-san."
Tadinya aku cemas akan jadi seperti apa
jika hanya berdua saja, tapi seiring berjalannya waktu, ketegangan kami berdua
mencair. Sekarang kami bisa mengobrol dengan alami. Keheningan yang terjadi
sesekali pun sekarang terasa nyaman, bukan lagi canggung. Aku senang jika Lecty
merasakan hal yang sama.
"Ngomong-ngomong, tadi selain cincin
Anda juga membeli aksesori lain, apakah itu juga kado?"
"Eh? Ah, iya. Begitulah."
Kalung Amethyst dan anting Giok. Itu memang
kado, tapi bukan untuk Lucretia. Meski kedengarannya dangkal, aku berniat
memberikan kalung Amethyst untuk Lecty, dan anting Giok untuk Lily. Aku ingin
mereka memakai pemberian dariku. Perasaan ini mungkin yang disebut keinginan
untuk memiliki. Aku
sadar aku serakah, dan aku merasa diriku ini pria yang brengsek. Tapi di saat
yang sama, ada bagian dari diriku yang benar-benar tidak ingin menyerahkan
Lecty dan Lily kepada orang lain.
Kado ini adalah pernyataan tekadku
bahwa akulah yang akan membuat Lecty dan Lily bahagia. ...Tapi, aku akan
memberikannya setelah pulang dari latihan luar kampus nanti. Meskipun aku tidak
tahu apakah ini akan membawa hubungan kami "melampaui ciuman" atau
tidak, seseorang pernah bilang padaku kalau yang pertama itu adalah yang
terbaik.
"Semoga Lugh-san senang menerimanya ya."
"Iya."
Untuk saat ini, memberikan kado ulang tahun dan menyatakan cinta pada Lucretia adalah prioritas utamaku.



Post a Comment