"Fuaaaaahhh...."
Aku terbangun dari tempat tidur sambil menguap lebar.
Namaku Lloyd de Saloum, pangeran ketujuh di kerajaan ini.
Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah penyihir miskin
yang sangat mencintai sihir. Namun, setelah bereinkarnasi, aku memanfaatkan
posisi ini sepenuhnya untuk meneliti sihir sepuas hati.
"Selamat pagi, Tuan Lloyd."
Telapak tanganku tiba-tiba terbuka lebar seperti mulut
yang berbicara.
Dia adalah seorang demon bernama Grimoire. Aku
biasa memanggilnya Grim.
Setelah berbagai kejadian, dia menjadi familierku dan
sekarang bersemayam di telapak tanganku.
"Pagi,
Grim. ...Hoammm."
"Anda
sepertinya masih mengantuk. Yah, kemarin Anda memang bekerja sangat keras,
sih."
"Ah,
aku terlalu asyik semalam. Gawat, gawat."
Sambil
menahan kantuk, aku mulai berganti pakaian. Saat itulah Grim mulai menggumamkan
sesuatu.
"Sial, padahal dia tidur nyenyak sekali, tapi
densitas mana bocah ini benar-benar tidak normal. Padahal aku selalu mencari
celah untuk mengambil alih tubuhnya, tapi karena Mana Barrier kokoh yang
selalu menyelimutinya, menyentuh permukaan kulitnya saja sudah susah payah. Tapi
lihat saja, suatu saat tubuh itu pasti akan menjadi milikku. Gehihihihi."
Sepertinya dia sedang tertawa, tapi suaranya terlalu
pelan sehingga tidak terdengar jelas.
Sebagai seorang demon, Grim tahu banyak hal
dan sangat berguna. Hanya saja, kebiasaannya tertawa mesum sesekali itu memang
agak menyebalkan.
Saat aku sedang sibuk memakai baju, terdengar suara
ketukan di pintu.
"Ya, silakan masuk."
Begitu aku mempersilakan, seorang gadis berpakaian
pelayan membuka pintu dengan tenang dan melangkah masuk.
Gadis dengan rambut dan mata berwarna ungu serta
kulit kecokelatan itu menatapku lekat-lekat dengan pandangan tertunduk.
Namanya Ren. Dia adalah pemilik kemampuan alami yang
disebut 'Si Terkutuk' dan dulunya anggota serikat pembunuh.
Namun, karena suatu keadaan aku menolong mereka, aku
malah diangkat menjadi bos serikat tersebut. Sejak saat itu, Ren menjadi sangat
dekat denganku.
Sekarang, anggota pembunuh lainnya bekerja di tempat
lain, tapi hanya dia yang tetap berada di sisiku sebagai pelayan.
"Lo... Tuan Muda, saya... datang."
"Kalau cuma berdua denganku, bicara seperti biasa
saja."
"Benarkah...?"
Setelah aku mengangguk, Ren celingukan memeriksa
sekeliling sebelum akhirnya benar-benar masuk ke kamar.
Kemudian, dia mengembuskan napas lega.
"Haaah, makasih ya, Lloyd. Pakai gaya bicara begitu
benar-benar bikin pundakku kaku."
Ren meregangkan tubuhnya lebar-lebar.
Sepertinya dia memang belum terbiasa bersikap
layaknya seorang pelayan formal.
"Daripada itu, ajarkan aku teknik pembunuh."
Alasan utama aku meminta Ren datang pagi-pagi buta memang
hanya satu.
Yaitu untuk mempelajari teknik pembunuh darinya.
Cara para pemilik kemampuan seperti mereka menggunakan
mana sangat unik, dan ada banyak hal yang bisa kupelajari dari sana.
"Um, oke. Kalau tidak salah, kemarin aku sudah
mengajarkan Mana Isolation, kan? Gimana? Sudah dapat triknya?"
"Ya, kurang lebih."
Aku memejamkan mata dan memusatkan kesadaran.
Mana Isolation adalah teknik untuk menutup pori-pori
mana di seluruh tubuh agar mana tidak bocor, sehingga keberadaan kita
benar-benar menghilang.
Ngomong-ngomong, itulah penyebab aku kurang tidur.
Aku berlatih teknik ini sampai larut malam.
Untuk menunjukkannya pada Ren, aku menutup seluruh
pori-pori manaku dan memutus alirannya.
"He-hebat, Lloyd! Kamu sudah bisa
melakukannya!?"
"Belum sempurna. Masih ada mana yang bocor dari
beberapa bagian tubuh. Aku masih belum bisa menandingimu."
"Tunggu, padahal baru semalam aku mengajarimu, lho!?
Aku saja butuh waktu setahun sampai bisa begini! ...Haaah, apa mungkin karena
Lloyd itu penyihir makanya pengendalian manamu sangat mahir? Aku jadi minder. Kalau begini terus, aku bakal langsung tersalip."
Ren menghela napas, tapi masih banyak hal lain yang harus
kupelajari darinya.
Aku tidak punya waktu untuk berdiam diri.
"Jadi, apa yang akan kamu ajarkan hari ini?"
"Hmm, benar juga. Kalau begitu, hari ini aku akan
mengajarkan teknik pengembangan dari Mana Isolation."
Ren berdehem untuk memulihkan semangatnya, lalu
menjulurkan tangan di depanku.
Seketika, mana yang menyelimuti tubuh Ren menghilang
total.
"Sekarang aku sedang melakukan Mana Isolation,
kamu mengerti kan?"
"Ya, luar biasa."
Berbeda denganku, tekniknya adalah Mana Isolation
sempurna yang tidak membocorkan mana sedikit pun.
Gerakannya cepat, lancar, dan terlihat sangat
berpengalaman.
Aku masih belum bisa melakukannya setingkat itu.
"Lalu dari kondisi ini, aku melepaskan mana di satu
bagian saja...!"
Seraya berkata begitu, Ren membuka pori-pori mana hanya
di telapak tangannya.
Heh, terampil sekali. Aku bisa merasakan mana di bagian
telapak tangannya menjadi sangat tinggi secara tidak wajar.
"Seperti dugaan, kamu langsung sadar ya, Lloyd.
Benar, dengan melepaskan mana di satu titik saat seluruh tubuh sedang dalam
kondisi tertutup, mana yang dihasilkan akan jauh lebih besar dari biasanya.
Bagi kami yang tidak bisa sihir, ini mungkin tidak terlalu berguna, tapi kalau
Lloyd, pasti bisa menguasainya, kan?"
Begitu ya. Logikanya sama seperti menyempitkan lubang
keluar air agar pancarannya menjadi lebih kuat.
Memang biasanya saat menggunakan sihir, aku hanya
mengumpulkan mana dalam jumlah besar di telapak tangan lalu menembakkannya.
Tapi jika aku memperkecil titik pelepasan untuk
meningkatkan output, penggunaan manaku akan menjadi jauh lebih efisien.
"Gimana? Informasi yang bagus, kan?"
"Ya, ini bisa digunakan untuk banyak hal. Terima
kasih, Ren."
Aku meraih tangan Ren dan mengangguk mantap.
Jika menggunakan ini, daya hancur sihir serangan
sederhana pun akan melonjak drastis, dan mungkin bisa digunakan untuk sihir
skala besar yang membutuhkan mana dalam jumlah masif.
Teknik memusatkan mana di dalam tubuh ke satu
titik... sebut saja ini Mana Concentration.
Namun, saat aku terus menggenggam tangannya, wajah
Ren entah kenapa mendadak memerah.
"A-Anu..."
"Ah, maaf. Aku terlalu senang."
"Enggak kok, aku nggak merasa keberatan. Cuma,
kalau... kalau kamu mau mengelus kepalaku sedikit, aku bakal senang.
Hehe..."
"Aku tidak keberatan, sih."
"Kalau begitu, anu..."
Aku meletakkan tangan di kepala yang disodorkan Ren, lalu
mengelusnya pelan.
Dia tampak sangat senang sambil tersenyum simpul.
"Lloyd memang hebat. Bisa langsung menguasai
teknik pembunuh kami. Tapi kalau begini, hal yang bisa kuajarkan akan segera
habis... supaya tidak terjadi, aku harus giat berlatih! Oke, semangat! Selama
aku tetap menjadi orang yang berguna bagi Lloyd, aku bisa terus berada di
sisinya! Kalau begitu, lama-lama Lloyd mungkin akan mulai sedikit
melirikku... ehehe."
Ren bergumam sendiri sambil meliukkan pinggangnya entah
karena alasan apa.
"Gehehee, Tuan Lloyd ternyata tidak bisa diremehkan
ya."
Melihat itu, Grim tertawa dengan suara yang terdengar
menjijikkan. Benar-benar membuat merinding.
"Tuan Lloyd, apa Anda sudah bangun?"
"Kyaa!"
Mendengar suara dari luar, Ren melonjak kaget dan
terburu-buru menjauh dariku.
"Permisi. ……Oh, ternyata Ren juga ada di sini. Datang lebih awal dariku,
dedikasi yang sangat patut dipuji."
Sosok
yang masuk adalah pelayan berambut perak, Sylpha.
Dia
adalah pengawal sekaligus pengasuhku, dan kemampuan pedangnya sangat luar
biasa.
"Kak
Sylpha……"
Omong-omong,
dia adalah seniornya Ren.
Melihat reaksi Ren, sepertinya Sylpha cukup menakutkan
baginya. Yah, Sylpha memang penganut didikan ala Spartan, sih.
Aku pun sering dibuat babak belur saat latihan pedang
bersamanya.
"Sarapan sudah siap, jadi harap segera ke sana. Ren
juga ikut."
"I-iya. ……Sampai nanti, Lloyd…… maksudku, Tuan Muda."
Ren berlari kecil mengikuti Sylpha.
Hari ini pun, hariku dimulai seperti biasa.
Setelah sarapan selesai, aku segera mengurung diri di
kamar untuk melatih Mana Concentration yang diajarkan Ren.
Aku menutup seluruh pori-pori mana lainnya dan hanya
membuka satu titik di telapak tangan.
Seberkas mana memanjang dari telapak tanganku yang
terbuka.
"Woah! Hebat sekali, Tuan Lloyd! Teknik yang
diajarkan gadis itu sudah bisa Anda lakukan!?"
"……Tidak, ini bocor lebih banyak dari yang kukira. Mana Concentration, ya? Ternyata cukup
sulit."
Sekilas
memang terlihat berhasil, tapi karena pori-pori mana di seluruh tubuhku belum
tertutup sempurna, mana masih merembes keluar dari sana.
Berbeda
dengan pengendalian sirkuit sihir yang bisa dipelajari lewat buku, pengendalian
mana halus seperti ini sangat bergantung pada waktu latihan dan konsentrasi.
Bagi
Ren dan kawan-kawannya yang sudah bersentuhan dengan kemampuan ini sejak kecil
mungkin mudah, tapi aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk teori…… alias
belajar sirkuit sihir.
Dan
tentu saja, Mana Concentration tingkat kesulitannya beberapa jenjang di
atas tahap awalnya, yaitu Mana Isolation.
Sepertinya
butuh waktu cukup lama untuk benar-benar menguasainya.
Begitu
aku menghentikan Mana Concentration, rasa lelah langsung menyerangku.
"Fuuuh,
cukup melelahkan juga. Tapi jika bisa menggunakan Mana Concentration ini
dengan baik, mungkin aku bisa menggunakan sihir skala besar sendirian."
Sihir
skala besar biasanya membutuhkan beberapa orang dan ritual rumit untuk
diaktifkan.
Dengan
sihir itu, memungkinkan untuk menggunakan sihir serangan tingkat strategis atau
memanggil summon kelas Dewa.
……Meskipun
di tahap sekarang masih sulit, jika bisa diaplikasikan ke sihir dengan baik,
pasti akan jadi lebih menarik.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, Grim mulai
bergumam sendiri.
"Tapi belakangan ini dia lebih gila lagi
meneliti sihir dibanding biasanya…… Ah! Benar juga, ini pasti gara-gara
kejadian saat berhadapan dengan kaum iblis tempo hari!?"
"Sihirnya hampir tidak mempan pada iblis. Dia
bisa menang pun karena kebetulan. Kalau bertarung normal mungkin dia tidak
kalah, tapi kemungkinan musuh kabur sangat tinggi."
"Dia bilang tidak suka bertarung, tapi saat
mencoba mencapai puncak sihir, konflik pasti akan terjadi. Dia mungkin berpikir
butuh kekuatan tempur yang tidak akan goyah meski lawannya iblis
sekalipun……!"
"Gehihi, ini pertanda bagus. Jika dia
mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi, aku akan merasa lebih puas saat
berhasil mengambil alih tubuhnya nanti."
"Jika punya kekuatan untuk membunuh iblis,
menguasai dunia iblis dan menjadi Raja Iblis pun bukan mustahil! ……Tuan Lloyd!
Kalau begitu, izinkan hamba yang rendah ini memberikan sebuah ide bagus!"
Tiba-tiba saja dia bersuara dengan nada riang.
Dasar makhluk dengan emosi tidak stabil.
"Mungkin Anda sudah tahu, tapi sebenarnya ada
cara untuk melawan demon atau kaum iblis. Holy Magic, yaitu
keajaiban Tuhan yang direproduksi dan dijalankan melalui sirkuit sihir."
"Jika yang memakainya adalah pendeta kroco sih
biasa saja, tapi kalau Tuan Lloyd yang menggunakan Holy Magic dengan
mana sebesar itu, kaum iblis macam apa pun pasti akan langsung jadi abu dalam
sekejap!"
──Holy
Magic, tentu saja aku tahu soal itu.
Sihir
yang meminjam keajaiban Tuhan ke dalam tubuh dan mengusir kejahatan dengan
cahaya suci.
Undead,
roh, demon, kaum iblis…… Holy Magic memiliki kekuatan besar
terhadap makhluk-makhluk supranatural tersebut, namun penggunaannya memiliki
batasan yang sangat ketat.
Yaitu, hanya bisa digunakan oleh mereka yang melayani
Tuhan.
Berdonasi ke gereja, bersih-bersih, berdoa, membaca kitab
suci dengan tekun, menyanyikan lagu pujian……
Hal itu harus dilakukan selama dua puluh atau tiga puluh
tahun, barulah utusan surga akan turun dan memberikan keajaiban kepada mereka
yang terpilih.
Singkatnya, jika kau diakui sebagai umat yang taat, kau
akan diberikan Holy Magic.
Sihir mengeluarkan kekuatan besar melalui batasan (restriction).
Holy Magic mungkin diberikan batasan kuat agar
mereka yang kekuatannya lemah pun bisa mengeluarkan kekuatan besar.
Karena itulah penggunanya sangat terbatas, dan mereka
dilarang menggunakannya sembarangan.
Jujur saja, aku sendiri belum pernah melihatnya secara
langsung.
"Biasanya butuh puluhan tahun untuk mempelajarinya,
tapi kalau disukai oleh utusan surga, kabarnya ada juga yang mendapatkannya
dalam waktu singkat."
"Kalau Tuan Lloyd, hamba yakin Anda pasti bisa
menguasainya dalam sekejap!"
"Aaah……
soal itu ya…… hmmm……"
Berbanding terbalik dengan Grim yang bicara
berapi-api, aku malah melipat tangan sambil mengerang.
"Ada apa, Tuan? Wajah Anda terlihat muram
begitu……"
"Sebenarnya, aku dilarang masuk ke gereja."
"Hah!?"
Grim mengeluarkan suara terperangah.
"Sekitar dua tahun lalu, aku pergi ke gereja
untuk mencoba mempelajari Holy Magic, tapi masa magangnya sangat
merepotkan."
"Kalau berhubungan dengan sihir sih oke, tapi
banyak sekali hal membosankan seperti bersih-bersih, berdoa, dan paduan
suara……"
"Jadi aku mencari cara singkat──spesifiknya, aku
mencari buku sihir Holy Magic dan mengobrak-abrik perpustakaan bawah
tanah gereja, lalu ketahuan."
"Se-serius, Tuan!?"
"Iya, waktu itu aku masih muda."
Aku mengangguk dalam-dalam sambil mengenang masa
lalu.
Waktu itu aku masih kurang berpengalaman sehingga
penyusupanku terdeteksi.
Kalau aku yang sekarang, mungkin bisa menyusup tanpa
ketahuan sama sekali, tapi……
"……Hamba harap ini tidak benar, tapi apa Tuan Lloyd
berniat untuk menyelinap dan mencuri lagi?"
"Tidak, tidak, tentu saja tidak. Lagipula waktu
itu aku sudah memastikan tidak ada buku sihir semacam itu di sana. Masuk lagi
pun tidak ada gunanya."
"Ternyata sudah Anda periksa habis-habisan
ya……"
Yah, mumpung di sana, ya sekalian lihat-lihat dong, itu
kan hal yang wajar.
Pada akhirnya, mungkin aku memang harus diberikan
kekuatan oleh utusan surga itu.
Tapi itu mungkin hanyalah sesuatu yang abstrak agar
orang-orang menjadi umat yang taat.
Cara sebenarnya pasti berbeda…… namun yang pasti, untuk
mempelajari Holy Magic, pergi ke gereja adalah hal yang wajib.
"Kalau
dipikir-pikir, sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Masalahnya pasti sudah
mereda, dan kalau aku datang lagi sekarang lalu meminta maaf, mungkin larangan
masuknya akan dicabut."
Atau mungkin mereka sudah lupa.
Ada kemungkinan aku bisa keluar masuk tanpa ditegur sama
sekali.
Dan asalkan aku bisa masuk ke gereja, mungkin aku bisa
merasakan secercah petunjuk tentang Holy Magic yang tidak bisa kurasakan
dua tahun lalu.
Dulu aku menundanya karena ada hal lain yang harus
dikerjakan, tapi…… ya, setelah dipikir-pikir, aku jadi ingin mencoba Holy
Magic lagi.
Selama ini aku hanya meneliti sistem sihir lain, sesekali
memperluas genre penelitian sepertinya menarik juga.
Lagipula aku ingin melihatnya, mengetahuinya, dan
menggunakannya.
"Baiklah,
mari mulai belajar Holy Magic dengan serius!"
Mempelajari
sistem sihir baru akan memberikan dampak pada sihir yang kugunakan sekarang,
dan pemahamanku tentang sihir pun akan semakin dalam.
Maka
dari itu, tujuan berikutnya adalah menguasai Holy Magic.
Untuk
mempelajari Holy Magic, aku harus pergi ke gereja.
Tapi
karena pernah dilarang masuk, kalau aku pergi sendirian kemungkinan besar akan
langsung diusir.
Dalam
situasi seperti ini, sebaiknya aku pergi bersama seseorang yang punya hubungan
dengan gereja.
Untungnya,
aku tahu orang yang tepat.
──Putri
keempat, Saria de Saloum.
Di
antara keluarga kerajaan, dialah yang memiliki hubungan paling erat dengan
gereja.
Bukan karena dia sangat religius, tapi Saria memiliki
bakat bermain musik yang luar biasa.
Seruling, harpa, trombon, biola, kastanyet……
Dia menguasai segala jenis alat musik, terutama piano
yang sudah dia mainkan di gereja sejak kecil dengan bakat jeniusnya.
Oleh karena itu, gereja sering mengandalkannya, bahkan
sampai mengadakan konser Saria saat upacara ekaristi.
Dan untungnya, besok kebetulan adalah hari upacara
ekaristi di gereja.
Jika aku ikut bersamanya, orang-orang gereja pasti tidak
akan tega mengusirku begitu saja.
Umu, rencana yang sempurna.
"……Hanya saja, Kak Saria itu kepribadiannya agak
sulit, ya."
"Hoho, jarang sekali Tuan Lloyd mengomentari
kepribadian orang lain. Memangnya dia orang yang seperti apa?"
"Singkatnya, dia tipe orang yang kalau sudah
konsentrasi tidak akan peduli dengan sekitarnya."
"Kalau ada waktu luang, dia pasti main musik, tidak
peduli meski orang lain merasa berisik. Dipanggil makan pun tidak datang. Hal
yang tidak ingin dia lakukan, sama sekali tidak akan dilakukan……"
"Yah, intinya dia orang yang sangat egois."
"……Tuan Lloyd, apa Anda sedang membicarakan diri
sendiri?"
Gumam Grim dengan nada jengah.
Apa sih maksudnya? Apa aku terlihat seperti orang
yang tidak tahu aturan seperti itu? Benar-benar tidak sopan.
Bagaimanapun, demi mempelajari Holy Magic, aku
tidak punya pilihan lain.
Aku memutuskan untuk menemui Saria.
Seperti yang kubilang, Saria selalu bermain musik jadi
kami jarang bertemu, tapi keberadaannya sangat mudah ditemukan.
Ke arah mana pun musik terdengar, di sanalah Saria
berada.
"Tapi kastel ini kan luas. Ada banyak suara, dan
kalau dia main di dalam ruangan, tidak akan terdengar kan?"
"Tenang saja, kalau konsentrasi pasti terdengar,
kok."
Mana Concentration.
Jika aku menutup seluruh mana di tubuh dan hanya
melepaskannya di satu bagian, bagian tersebut akan mengeluarkan mana yang lebih
kuat.
Bagian yang diselimuti mana kuat akan meningkat
fungsinya.
Artinya, jika di lengan maka kekuatan otot, jika di
kaki maka kecepatan, dan jika di telinga maka pendengaran.
Aku memusatkan mana hanya di telinga dan memfokuskan
kesadaranku.
Seketika, bukan hanya suara angin dan kicauan burung,
tapi suara para pelayan di kejauhan serta suara orang bersih-bersih pun
terdengar jelas.
Ah, di sebelah sana Ren sedang dimarahi Sylpha.
Di tengah kebisingan berbagai suara itu──Plink♪
Terdengar nada yang melompat merdu.
"──Ketemu. Di sebelah sana."
"Eh? Eh? Apa yang terdengar?"
Sepertinya Grim tidak dengar, tapi arah suaranya sudah
pasti dari paviliun di sisi utara kastel.
Semakin aku mendekati paviliun serba putih itu, suaranya
terdengar semakin jelas.
"Oh, sampai sini hamba juga bisa dengar. Hmm, hmm, ini melodi yang luar biasa."
"Heh, ternyata Grim mengerti musik juga
ya?"
"Waktu masih di dunia iblis, hamba juga penikmat
musik. Yah, soalnya orang yang bisa musik itu biasanya populer di kalangan
wanita. Gehihi."
"……Ternyata pengalamanmu banyak juga ya."
Apalagi hal-hal yang dia lakukan sama sekali tidak
terasa seperti demon.
Terasa seperti manusiawi atau bagaimana ya…… sudahlah,
aku pun melangkahkan kaki masuk ke dalam paviliun.
Begitu masuk, dinding dalamnya sepertinya sudah dilapisi
peredam suara, karena suara musik yang sangat keras langsung bergema.
"Suaranya dari bawah tanah ya."
"Umu, apa pintunya yang itu?"
Saat aku melongok ke bawah, aku melihat pintu besi
raksasa di bawah tangga spiral.
Begitu aku menuruni tangga dan membuka pintu, pintu itu
terbuka dengan suara berderit yang menyeramkan.
Di dalam ruangan yang penuh dengan alat musik berserakan,
ada seorang wanita yang sedang memainkan piano.
Rambut hitam pendek, ekspresi datar, kacamata
berbingkai hitam, dan tubuh yang ramping.
Rok pendek yang memudahkan gerak, serta baju atasan
longgar dengan tudung yang bisa menyembunyikan wajah kapan saja.
Wanita yang sekilas terlihat seperti orang biasa ini
adalah putri keempat, Saria de Saloum.
Saria sama sekali tidak melirik ke arahku, dia hanya
terus asyik memainkan pianonya.
Aku pun bersandar di dinding dekat pintu masuk.
"Lho, tidak menyapanya?"
"Iya, kalau aku memanggilnya saat dia sedang
konsentrasi, itu kan mengganggu."
Aku pun tidak suka kalau dipanggil saat sedang meneliti
sihir.
Tentu saja aku tidak memperlihatkannya, tapi karena aku
yang datang untuk meminta tolong, aku akan menunggu dengan tenang sampai dia
selesai.
"Untungnya, ada banyak hal yang bisa
kulakukan."
Mana Concentration, untuk hal
ini latihanku masih sangat kurang.
Aku segera memejamkan mata dan menutup mana di seluruh
tubuhku.
Jika aku membukanya di area yang lebih sempit, seharusnya
output yang dihasilkan bisa lebih tinggi lagi.
Hanya satu ujung jari, lepaskan mana…… ugh, ternyata
sulit sekali.
Tapi konsentrasi, konsentrasi.
Setelah jari telunjuk, lalu jari tengah, jari manis,
secepat dan selancar mungkin……
Seiring aku tenggelam dalam latihan, suara-suara yang
terdengar tadi tiba-tiba menghilang dan menjadi sunyi senyap.
Begitulah, untuk beberapa saat, aku pun tenggelam dalam
latihanku.
"……Tuan, Tuan Lloyd!"
Ada suara yang terdengar.
Merasakan sensasi geli di telapak tangan, aku perlahan
membuka mata, dan melihat Grim sedang berteriak.
"Tuan Lloyd! Akhirnya Anda bangun juga! Hamba sudah
memanggil berkali-kali!"
"……Ada apa, Grim? Aku kan sedang
konsentrasi."
"Tolong jangan pasang wajah kesal begitu. Tuan
Putri sudah memperhatikan kita dari tadi, lho."
Begitu aku mengalihkan pandangan, Saria yang duduk di
depan piano sedang menatapku lekat-lekat.
Ah, benar juga, aku kan tadi sedang menunggu Saria
selesai main musik. Aku benar-benar lupa.
"Ya, hai Kak Saria, sudah lama tidak bertemu
ya."
"Kamu itu……"
Saat aku menyapa, Saria tampak sedikit berpikir
sebelum akhirnya membuka suara.
"……Aku ingat. Kamu Rodeo, kan? Adikku."
"Lloyd, Kak."
"Oh, begitu ya."
Saria sepertinya sama sekali tidak peduli meski salah
menyebutkan namaku.
"Orang ini sampai tidak ingat nama adiknya
sendiri……"
"Kami baru bertemu beberapa kali, sih."
Karena aku masih kecil, aku memang jarang ikut
pertemuan keluarga besar.
Ada beberapa kakak yang baru kutemui beberapa kali
saja.
Begitu pun bagi mereka, jadi tidak heran kalau dia
tidak ingat namaku.
"Lalu, ada urusan apa denganku?"
Saria terus menatapku.
Seperti yang kubilang tadi, Saria itu sulit dan tidak
tertarik pada orang lain.
Tipe seperti ini akan merasa terganggu kalau aku banyak
bicara basi-basi.
Lebih baik aku langsung saja pada intinya.
"Kak Saria. Besok Kakak mau pergi ke gereja untuk
bermain musik, kan? Sebenarnya aku ingin Kakak mengajakku juga."
"Boleh."
"……Iya, aku tahu. Ini memang mendadak. Tapi
dengarkan dulu alasannya──eh, apa?"
"Kubilang, boleh. Ikut saja."
Jawab Saria dengan wajah datar.
"Te-terima kasih, Kak Saria!"
"Tidak usah dipikirkan."
Saria langsung memalingkan wajahnya.
Begitu ya. Mungkin maksudnya 'aku tidak peduli, lakukan
saja sesukamu'.
Meski agak di luar dugaan, tapi bagiku ini sangat
membantu.
"Lloyd, ya. Aku mulai ingat sedikit-sedikit.
Beberapa tahun lalu saat aku ke perpustakaan untuk mencari skor musik, ada anak
yang terus-menerus membaca buku sihir sendirian."
"Konsentrasi yang tidak menyadari kehadiran orang di
sebelahnya, aku ingat pernah merasa itu hebat padahal dia lebih muda dariku.
Dan itu tidak berubah."
"Seketika lebih──yah, ini kesempatan bagus.
Sepertinya Lloyd mulai tertarik pada musik, jadi mari kita jadikan dia pemusik
di masa depan. Anak ini punya bakat."
"Cahaya redup yang terlihat dari ujung jarinya tadi,
itu adalah 'Light Hand' yang terkadang diperlihatkan oleh komposer kelas
dunia."
"Memang agak telat untuk mulai bermusik, tapi
rintangan selevel itu pasti bisa dilewati dengan mudah."
"Di lingkungan ini hampir tidak ada pemusik yang
selevel denganku jadi membosankan, ya. Jika Lloyd yang sudah berbakat bermain
bersama denganku, pasti akan lahir lagu yang belum pernah ada sebelumnya……
fufufu, sepertinya akan menyenangkan."
Saria bergumam sendiri sambil menyeringai aneh.
Entah apa yang dia bicarakan, tapi yang penting
hambatan pertama sudah terlewati.
◇
Setelah kesepakatan tercapai, keesokan harinya aku pergi
menemui Saria.
Di sampingku, Ren dan Shiro ikut mendampingi.
"Aku sangat menantikan bertemu dengan kakaknya
Lloyd."
"On!"
Shiro seperti biasa ikut, tapi saat aku memberitahu
Sylpha akan ke gereja, dia malah menyuruh Ren untuk ikut menggantikannya.
Sylpha memang sedang sibuk belakangan ini.
Bagiku, Ren yang sudah tahu kekuatanku jauh lebih
santai untuk diajak pergi.
"Tapi jangan terlalu berharap banyak. Kamu kan
sudah bertemu beberapa kakakku yang lain. Seperti Kak Albert."
"Iya, orang yang sangat tampan itu, kan?"
Pangeran kedua, Albert de Saloum.
Baik penampilan maupun kepribadiannya sangat keren
dan ramah, dialah orang yang paling sering menjagaku.
Kalau tidak salah di sekitar sini adalah kamar
Albert──saat aku sedang berpikir begitu.
"Oh, apa kalian sedang membicarakan
diriku?"
"Wah!?"
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang yang
membuatku tersentak kaget.
Saat menoleh, di sana ada orang yang dimaksud, yaitu
Albert.
Albert tersenyum jahil melihat kami yang terkejut.
"Halo Lloyd, dan juga Ren."
"……Jangan mengejutkan kami begitu dong, Kak
Albert."
"Ha-halo!"
Ren buru-buru menundukkan kepala, sementara Albert
membalasnya dengan senyuman.
"Hahaha, jangan terlalu kaku begitu. Aku cuma
menyapa karena kebetulan melihat kalian lewat."
Meski begitu, menyapa tiba-tiba begini kan bikin kaget.
Padahal dia adalah kandidat terkuat pewaris takhta,
kuharap dia lebih sadar akan posisinya itu.
"Ngomong-ngomong,
kalian berdua mau ke mana?"
"Ke tempat Kak Saria. Kami mau pergi ke gereja
bersama."
"Gereja!?"
Tiba-tiba Albert berteriak keras. Sudah kubilang kan
jangan mengagetkan kami.
"Hmm……
aku paham sekarang, Lloyd. Alasanmu ke gereja adalah untuk
membangun koneksi, ya."
"Apa pun caranya, untuk menjadi raja kau harus
mendapatkan dukungan dari rakyat."
"Karena gereja punya banyak pengikut, membangun
hubungan pribadi sejak sekarang bukan langkah yang buruk……"
"Heh, meskipun kau bilang tidak tertarik menjadi
raja, ternyata kau sudah memikirkannya baik-baik. Itulah tangan kananku……
tidak, kalau aku lengah, malah aku yang akan dijadikan tangan kananmu
nanti."
Dan kemudian dia mulai bergumam sendiri lagi.
Apa kami sudah boleh pergi? Sepertinya sudah.
"Anu, karena kami sedang terburu-buru……"
"Oh, iya. Hati-hati di jalan. Kerjakan tugasmu
dengan baik, ya!"
Sambil berkata begitu, dia melepas kami dengan senyum
lebar.
Albert adalah salah satu dari sedikit orang yang
mendukung kesukaanku pada sihir.
Baguslah,
sepertinya dia juga mendukungku mempelajari Holy Magic. Aku akan
berusaha sebaik mungkin.
Waktu
pertemuan tiba, Saria sudah siap menunggu.
"Akhirnya
datang juga."
"Maaf
membuatmu menunggu, Kak Saria."
"On!"
"Wah,
anjing yang manis."
Saria mulai mengelus-elus bulu Shiro yang empuk.
Sepertinya dia suka anjing, meski ekspresinya datar tapi
dia terlihat sangat senang.
"Pe-perkenalkan. Nama saya Ren, pengikut Tuan Lloyd
sejak beberapa waktu lalu. Mohon bantuannya, Tuan Putri Saria."
Ren membungkuk hormat, namun Saria hanya meliriknya
sekilas.
"……Kamu, alat musik apa yang kamu kuasai?"
"Eh? Ti-tidak, saya tidak bisa main alat
musik……"
"Oh, begitu."
Dalam sekejap Saria kehilangan minat pada Ren.
Melihat perbedaan perlakuan yang drastis antara dirinya
dan Shiro, Ren hanya bisa melongo.
Lagipula kenapa menanyakan alat musik? Aku pun tidak bisa
main musik.
"Lloyd sih tidak apa-apa. Kamu punya tempat khusus
sendiri. Ayo berangkat."
Sambil berkata demikian dengan wajah datar, Saria
melangkah pergi.
Tunggu, tempat khusus apa maksudnya?
Sambil saling pandang dengan Ren, aku pun menyusul
Saria menuju gereja.
Gereja terletak di pusat kota, sekitar satu jam berjalan
kaki dari kastel.
Saat
sedang berjalan santai, Guild Petualang mulai terlihat.
"Ah,
gawat."
Sial. Seharusnya aku lewat jalan lain saja.
Pasalnya, saat ini aku membawa Ren yang dulunya pernah
menjadi buronan.
Aku memang sudah bernegosiasi dengan pihak Guild bahwa
aku yang akan mengawasinya, tapi aku tidak tahu bagaimana reaksi petualang
lainnya.
Jika terjadi sesuatu aku bisa mengatasinya, tapi aku
ingin menghindari keributan.
Saat aku sedang berpikir begitu, pintu Guild Petualang
terbuka.
Dua orang pria berwajah sangar keluar dan mata kami
saling bertemu. ……Firasat buruk.
"Tunggu sebentar, kalian para gadis
cantik."
Bahu Ren sedikit gemetar.
Haaah, dugaanku benar. Menjelaskannya pasti akan sangat
merepotkan.
Aku pun berdiri di depan mereka berdua.
"Anu, maaf, tapi Ren itu……"
"Hehehe, pelayan ini lumayan manis juga ya."
"……Hah?"
Suara konyol keluar dari mulutku. Apa-apaan sih orang
ini.
Melihatku yang bingung, pria-pria itu melanjutkan
kata-katanya.
"Kakak yang berwajah jutek itu juga kalau
diperhatikan manis juga."
"Gimana kalau main bareng kami saja? Tinggalkan saja
bocah ingusan ini."
……Ternyata cuma berandalan yang mau menggoda perempuan,
ya.
Sambil tertawa menjijikkan, pria itu memegang bahuku
untuk menyingkirkanku.
Seketika──hawa membunuh meluap dari belakangku.
"Ren, hentikan."
Aku memperingatkan Ren yang sudah bersiap mencabut
belatinya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tapi Sylpha bilang, kalau ada yang berniat melukai
Lloyd, aku boleh melakukan apa saja bahkan sampai membunuhnya……"
"Jangan membunuh dong."
Benar-benar berbahaya. Lagipula kalau bertarung di tempat
ramai begini kan bisa jadi masalah besar.
"Kalau melakukannya diam-diam sih tidak apa-apa.
Pokoknya jangan sampai mencolok."
"Baaiiklah."
"Berisik sekali kalian──"
Kepada pria-pria yang baru mau bicara itu, aku merapalkan
sihir angin, Wind Cutter.
Bilah angin berembus melewati pinggang mereka, dan
seketika, sluuup, celana mereka melorot memperlihatkan bagian bawah
tubuh mereka.
"A-apaaa!?"
Mereka panik mencoba menaikkan celananya, tapi karena
ikat pinggangnya sudah putus, celana itu langsung melorot lagi.
"Hei Abang-abang sekalian, apa kalian berniat
menggoda gadis-gadis dengan penampilan seperti itu?"
"Ug……
sial! Awas kau ya!"
Sambil
memegangi celana dengan kedua tangan, mereka melontarkan kata-kata ancaman
murahan lalu lari tunggang langgang.
Ya ampun. Setidaknya mereka sudah pergi.
"Ahaha, luar biasa sekali!"
Saat aku sedang menghela napas lega, terdengar suara
tepuk tangan.
Orang yang bertepuk tangan itu adalah seorang gadis
berpakaian asing, Tao.
"Hao!
Sudah lama ya, Lloyd. Juga Ren dan Shiro."
Aku
melambai pada Tao yang menyapa dengan senyuman, Ren membungkuk sedikit, dan
Shiro menyahut dengan gonggongan.
Tao
adalah petualang yang kukenal sebelumnya, seorang ahli bela diri yang
menggunakan teknik tinju dari negeri asing.
Dia
bertarung dengan memanipulasi 'Qi' dalam tubuhnya, dan meski bertarung dengan
tangan kosong, kekuatan tempurnya setara dengan Sylpha.
"Kamu jahat juga ya. Kalau melihat, harusnya bantuin
dong."
"Oh, memangnya kamu butuh bantuan?"
Aku hanya bisa tersenyum kecut dan menggelengkan
kepala.
Tao pun tersenyum sambil berkata, "Benar
kan?"
"Ngomong-ngomong
Lloyd, siapa orang itu?"
"Ini Saria. Kakakku."
"Hmm, kalau diperhatikan suasananya mirip dengan
Lloyd ya. Salam kenal Saria. Aku Tao, seorang petualang!"
"Mu……"
Tao menarik paksa tangan Saria dan menjabatnya kuat-kuat.
Saria sepertinya agak kaget dengan jarak yang terlalu
dekat itu.
Guild Petualang adalah organisasi yang tidak terikat
dengan negara, karena itulah mereka tidak sungkan meski berhadapan dengan
bangsawan.
Yah, aku dan Saria juga bukan orang yang berpikiran
sempit soal hal itu, jadi tidak masalah.
"Tumben sekali kalian pergi bersama. Mau ke
mana?"
"Ke gereja. Saria mau mengadakan konser musik di
sana."
"Heh! Kelihatannya seru ya! Aku ingin ikut, tapi...
hmmm, aku juga ada urusan. Baru saja aku menerima quest. Membasmi Ghoul,
bagaimana kalau Lloyd ikut juga?"
"Ugh, aku ingin ikut... tapi karena sudah ada janji
duluan, mungkin lain kali saja."
"Baiklah, baiklah, quest-nya masih tersisa kok, jadi
kalau ada kesempatan ayo pergi bareng. Aku juga akan mampir ke gereja kalau
sempat. Jadi untuk hari ini, zaijian, sampai jumpa!"
Tao mengedipkan matanya, lalu melambai sambil berlari
kecil.
Sambil melepas kepergiannya, Saria bergumam pelan.
"Lloyd, terima kasih yang tadi. Sudah
menolongku."
"Eh? Ah, aku tidak melakukan sesuatu yang hebat,
kok."
"Tidak, itu luar biasa. Dalam keadaan darurat,
tadinya aku berniat melakukan sesuatu sebagai kakak, tapi..."
Saria mengangkat tas jinjingnya.
Tas itu memiliki sudut-sudut yang tampak sangat tajam.
Kalau terkena bagian yang vital, bisa mati rasanya.
Benar-benar benda yang berbahaya.
"Ngomong-ngomong,
yang tadi itu sihir angin, ya? Ternyata jauh berbeda dengan Holy Magic."
"!
Apa Kak Saria pernah melihat Holy Magic? Seperti apa rasanya!?"
Aku
langsung menyambar kata-katanya.
"Setahuku
hanya saat menyembuhkan orang terluka, tapi sepertinya ada banyak jenis
lainnya. Di gereja ada beberapa orang yang bisa menggunakannya, kalau kamu
sering ke sana, bukankah ada kesempatan untuk melihatnya?"
Ucap Saria dengan nada tidak tertarik.
Muuu, Saria sepertinya memang tidak terlalu berminat pada
sihir. Aku tidak bisa menggali informasi lebih dalam lagi darinya.
Sepertinya aku memang harus melihatnya sendiri secara
langsung.
Tapi setidaknya memang benar ada manusia yang bisa
menggunakan Holy Magic di gereja ini, dan pasti ada kesempatan untuk
menyaksikannya.
Sambil merasa berdebar penuh semangat, aku mempercepat
langkah menuju gereja.
Setelah berjalan beberapa saat, kami akhirnya sampai di
gereja.
"Wahhh, besar sekali ya."
Ren menengadah menatap gereja dan mengeluarkan suara
kagum.
"Ini cuma kantor cabang. Kantor pusat jauh lebih
besar lagi."
"Begitu... ya."
"Kalau sulit bicara formal, biasa saja tidak
apa-apa. Aku tidak peduli hal semacam itu."
Saria berkata begitu pada Ren sambil masuk ke dalam
gereja tanpa ragu.
Kemudian dia menyapa seorang suster yang sedang
berjalan di dekat sana.
"Aku datang."
"Ini kan Tuan Putri Saria, selamat datang! Eh,
anak-anak di sebelah itu...?"
"Pembawa barangku. Ada masalah?"
"Tidak! Sama sekali tidak! Silakan, Anda pasti
lelah. Mari masuk ke dalam."
Begitu dipelototi Saria, suster itu buru-buru
mempersilakan kami lewat.
Ooooh, benar-benar perlakuan VIP. Kami
diizinkan masuk dengan sangat mudah.
Keputusan meminta tolong pada Saria memang tepat.
"Kalau begitu Lloyd, aku harus menyiapkan keperluan
konser. Sampai nanti, ya."
"Iya, terima kasih Kak Saria."
Setelah berpamitan pada Saria, aku dan Ren menuju ke aula
gereja.
Di tengah jalan, Grim membuka suara.
"Anu, pertama-tama kita bicara pada pendeta di sini
untuk mencabut larangan masuk. Lalu kita berpura-pura jadi umat taat sambil
mencari tahu soal Holy Magic, dan setelah menguasainya, kita tinggal
cabut. Rencana yang sempurna, Tuan Lloyd!"
"Semoga saja semuanya berjalan lancar."
"Pasti aman, Tuan. Orang gereja itu biasanya ingin
mengumpulkan umat sebanyak mungkin. Apalagi Tuan Lloyd adalah bangsawan. Tidak
ada alasan bagi mereka untuk menolak. Meski dulu pernah bikin rusuh sedikit,
harusnya tidak masalah!"
"...Eh, tapi kalau dipikir-pikir, bukannya aneh ya
sampai dilarang masuk... ah tidak, mungkin hamba saja yang terlalu banyak
pikiran."
Benar juga, kalau cuma bikin rusuh sedikit harusnya tidak
apa-apa. Iya, kan.
Bagaimanapun, aku harus mencoba menghadapinya langsung.
Oh, itu dia pendetanya. Mari coba ajak bicara.
"Pak Pendetaaa, halo!"
Aku berlari mendekat sambil melambaikan tangan
lebar-lebar, dan pendeta itu sepertinya menyadari kehadiranku.
"Halo, anak yang ceria ya. Apa kalian berdua datang untuk
berdoa? ...Eh, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Iya,
saya Lloyd. Sudah lama tidak bertemu."
"Lloyd...
hah!? Ja-jangan-jangan, kamu adalah Lloyd de Saloum 'yang itu'!?"
Begitu
aku menyebutkan nama, pendeta itu mundur dengan kecepatan luar biasa.
Dia memegang salib di dadanya dan mulai gemetar.
"Tidak salah lagi! Kenapa anak iblis yang dua
tahun lalu tiba-tiba muncul dan menjatuhkan gereja damai ini ke dasar jurang
ketakutan ada di sini!?"
Tiba-tiba saja pendeta itu mengatakan hal yang tidak
masuk akal.
Tunggu dulu, disebut anak iblis itu keterlaluan
sekali.
"Wah... Lloyd, sebenarnya apa yang sudah kamu
lakukan...?"
"Tuan Lloyd, hamba rasa melakukan eksperimen
manusia, penyiksaan, atau pembunuhan itu agak keterlaluan, lho."
Mendengar itu, baik Ren maupun Grim langsung merasa
ngeri.
Oi, apa kepercayaannya padaku itu nol besar?
"Sangat tidak sopan, aku sama sekali tidak melakukan
hal semacam itu. ...Yah, waktu itu aku baru saja belajar sihir jadi aku belum
bisa menahan diri seperti sekarang..."
"Maksud
Anda, sekarang ini Anda merasa sudah menahan diri!?"
Malah Grim
yang kaget.
Aku
menahan diri, kan? ...Iya, kan?
"...Yah,
kalau Tuan Lloyd yang dulu lebih tidak bisa menahan diri dibanding sekarang,
hamba bisa memaklumi reaksi pendeta ini. Termasuk alasan larangan
masuknya."
Dia
malah memaklumi. Kejam sekali.
Kalau
diingat-ingat, waktu itu pengendalian sihirku memang belum sempurna, jadi aku
menghancurkan banyak hal.
Kaca patri, patung malaikat, lukisan besar... sepertinya
wajar saja kalau dia marah.
"Anu, Pak Pendeta? Bisakah Anda mendengarkan
saya dulu? Soal yang dulu itu, emm, saya minta maaf. Saya sudah
bertobat. Jika diperbolehkan, bolehkah saya datang ke sini lagi?"
Aku menunjukkan senyum terbaikku, tapi pendeta itu tidak
menyambut tanganku dan malah memelototiku.
"Tidak boleh! Bertobat katamu? Bicara sih gampang!
Mana mungkin kata-kata itu bisa dipercaya!"
"Kau sudah menghancurkan semua karya seni yang
kubangun dengan seluruh jiwa ragaku sampai berkeping-keping...!"
"Ah, ternyata dendam pribadi yang lebih dalam dari
dugaan."
Gumam Ren pelan.
Memang urusan pribadi, tapi karena itulah aku bisa
memahami kemarahan sang pendeta.
Siapa pun pasti marah kalau barang berharganya
dihancurkan.
"Tolonglah, bagaimana kalau..."
"Tidak boleh, tetap tidak boleh! Atas nama Tuhan,
aku tidak akan mengizinkanmu menjadi umat! Segera pergi dari taman Tuhan
ini!"
Muuu, sepertinya tidak ada celah untuk negosiasi.
Mau bagaimana lagi, aku harus memikirkan cara lain...
tepat saat aku berniat pergi.
"Pak Pendeta, bukankah sebaiknya Anda
memaafkannya?"
Bersamaan dengan suara semerdu denting lonceng, seorang
wanita berpakaian suster keluar dari pintu.
Sosok dengan rambut pirang panjang yang berkibar lembut,
dada yang berisi, dan senyum yang hangat itu terasa sangat familier bagiku.
"Isha!"
"Fufu, aku senang kamu masih ingat. Sudah lama ya,
Lloyd-kun."
Isha Hannibalk, seorang suster yang sudah lama mengabdi
di gereja.
Dia adalah orang yang memiliki rasa keadilan dan jiwa
kasih sayang layaknya Bunda Maria, dan dulu dialah yang selalu membelaku setiap
kali aku berbuat onar.
Setelah itu aku biasanya tetap dimarahi, sih... dia bukan
cuma baik, tapi juga tegas.
Di dalam gereja pun, suara nyanyiannya yang indah sangat
dihargai tinggi, bahkan ada yang bilang bahwa permainan piano Saria yang
diiringi nyanyiannya bisa membuat Tuhan sekalipun terpesona.
Isha menatap pendeta sambil meletakkan tangan di
dadanya.
"Bukankah Pak Pendeta selalu berkata; 'Manusia
adalah tempatnya salah. Namun jika dia bertobat dan ingin menebusnya, Tuhan
pasti akan memaafkan'. Bagaimana? Bukankah sebaiknya kita memberi Lloyd-kun
kesempatan untuk menebus kesalahannya?"
"Bicara memang mudah, Isha-kun..."
"Saya juga mohon! Lloyd itu, ya, terkadang memang
suka bertindak nekat, tapi itu semua selalu didasari oleh pemikiran yang
dalam!"
"Saya, dan juga teman-teman saya, telah diselamatkan
oleh Lloyd...!"
"On! On!"
Ren dan Shiro mendesak sang pendeta yang mulai goyah
dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mu, muu... jangan menatapku dengan mata
berbinar-binar begitu..."
"Kyuuun, kyuuun."
Melihat Shiro yang mendekat sambil merengek manja,
pendeta itu menghela napas panjang.
"……Baiklah, aku mengerti! Orang yang suka anjing
tidak mungkin orang jahat! Aku akan mencoba percaya!"
"Benarkah!"
"U, umu... ngomong-ngomong, siapa nama anjing
ini?"
"Namanya Shiro. Lucu, kan? Mau coba elus?"
"……Tolong, izinkan aku."
Ucap pendeta itu dengan tatapan yang melembut sambil
mulai mengelus Shiro.
"Ooh... bulu macam apa ini. Benar-benar kualitas
terbaik."
Wajahnya terlihat sangat bahagia. Kerja bagus, Shiro.
"Fufu, Lloyd-kun terlihat sangat gembira ya.
Melihatmu masuk bersama Saria tadi, tujuanmu pasti konser musik di upacara
ekaristi nanti kan. Dua tahun lalu, suara anak itu saat menyanyikan lagu pujian
meski dengan wajah enggan seolah-olah diridai Tuhan. Apalagi Lloyd-kun yang
sekarang sudah jauh lebih tumbuh dibanding saat itu...!"
"Aku selalu menanti dan yakin bahwa suatu saat kamu
akan menempuh jalan musik, dan akhirnya hari itu tiba. Tenang saja Lloyd-kun,
aku tidak akan membiarkanmu dilarang masuk lagi. Aku sendiri yang akan
mendidikmu menjadi penyanyi yang luar biasa. Dan jika Lloyd-kun yang sudah
terlatih berduet denganku, pasti akan lahir nyanyian yang belum pernah didengar
oleh siapa pun... ah, aku benar-benar tidak sabar!"
"Fufu, fufufufufu……"
Isha menggumamkan sesuatu.
Entah apa itu, tapi seperti biasa, aku hanya perlu
melakukan apa yang harus kulakukan. Iya, kan.
Setelah mendapat izin masuk secara resmi, aku pun
melangkah masuk ke dalam gereja mengikuti Isha.
Cahaya matahari yang menembus jendela kaca patri
menyinari lorong berkarpet merah, memantulkan berbagai macam warna yang indah.
"Terima kasih sudah membantuku bicara tadi,
Isha."
"Tidak perlu sungkan, hal kecil seperti ini
bukan masalah. Bagiku, Lloyd-kun sudah seperti adik sendiri. Lagi pula, kalau
mau berterima kasih, ucapkan juga pada gadis-gadis kecil itu."
"Benar juga. Terima kasih ya, Ren. Shiro juga."
"A-aku
sih, sebenarnya tidak..."
"On!"
Aku mengelus kepala Shiro yang memelukku dengan penuh
semangat.
Anak pintar, kerja bagus.
Ren melihat pemandangan itu dengan tatapan iri.
"Fufufu, kalian rukun sekali ya. Senang melihatnya."
Isha tersenyum lembut.
Rasanya agak memalukan, jadi aku memutuskan untuk
mengalihkan pembicaraan.
"Omong-omong, kita mau ke mana?"
"Tentu saja untuk persiapan upacara ekaristi. Kamu
mau membantu, kan?"
"T-tentu saja!"
Gawat, aku benar-benar lupa.
Meskipun bohong, aku sudah jadi jemaat sekarang, jadi
aku harus melakukan tugasku.
"Jawaban yang bagus. Kalau begitu, mari kita
bersihkan ruang ibadah bersama-sama."
"Baiklah……"
Akhirnya, aku pun ikut berbaur dengan yang lain untuk
membersihkan ruang ibadah.
Selama itu, banyak orang dari segala usia terus
berdatangan untuk berdoa tanpa henti.
Luar biasa juga ya, memikirkan sebanyak ini orang
yang percaya pada Tuhan. Bagiku, ini adalah hal yang sulit dipercayai.
"Lloyd, apa kamu percaya pada Tuhan?"
"Tidak, sama sekali tidak percaya."
"Benar, kan! Tuhan itu bohong! Berdoa pada Tuhan pun
tidak akan menolong apa-apa, tapi kenapa mereka rajin sekali datang berdoa?
Tidak habis pikir!"
Ren terlihat geram.
Mungkin karena masa kecilnya yang sulit akibat
kemampuannya, dia sepertinya punya sentimen pribadi terhadap Tuhan.
"Tenanglah, Ren. Jangan bicara keras-keras di tempat
seperti ini. Lagipula, orang-orang di sini pun tidak semuanya benar-benar
percaya pada Tuhan."
"Maksudnya?"
"Manusia butuh semacam pegangan hidup untuk terus
bertahan. Namun, orang yang memilikinya ternyata sangat sedikit. Bagi mereka,
Tuhan adalah idola yang praktis karena bisa didoakan kapan saja dan di mana
saja."
Singkatnya, semua orang ingin bersandar pada sesuatu.
Dengan begitu, hati mereka menjadi tenang dan bisa
terus melanjutkan hidup.
"……? Begitu ya."
Namun, Ren sepertinya tidak terlalu paham maksud
perkataanku dan hanya memiringkan kepalanya.
"Aduh, aduh, aku tidak bisa membiarkan ucapan
itu begitu saja, Lloyd-kun. Ucapan seperti itu adalah penghinaan
terhadap Tuhan."
"I-Isha!?"
Gawat, ketahuan.
Isha berbicara dengan lembut kepadaku yang langsung
bungkam karena panik.
"Memang benar Tuhan tidak menampakkan diri
dengan mudah. Tapi Beliau benar-benar ada. Setahun yang lalu, Beliau muncul di
hadapanku dan menganugerahkan Holy Magic. Sosok agung yang kulihat saat itu…… masih terbayang jelas di
benakku sampai sekarang."
"Ooh! Isha bisa pakai Holy Magic!? Kamu juga
melihat Tuhan!? Aku juga mau lihat!"
"Fufu, kalau Lloyd-kun jadi anak baik, mungkin suatu
saat nanti bisa bertemu juga."
Muu, aku malah diajak bercanda.
Tapi yang lebih penting adalah ucapannya tadi.
Seingatku, untuk menguasai Holy Magic, seseorang
harus melayani Tuhan sebagai jemaat dan diakui oleh "Utusan Surga".
Dilihat dari cara bicara Isha, sepertinya sosok itu
bukanlah sekadar kiasan.
Atau, ada kemungkinan dia hanya bicara asal karena
lawannya adalah anak-anak.
"Hmm, bagaimanapun juga, kalau tidak melihat Holy
Magic secara langsung, aku tidak bisa memulai apa pun. Bagaimana kalau aku
lepaskan Grim dan membiarkannya mengamuk? Mungkin para pendeta akan mengusirnya
dengan Holy Magic?"
"Tu-tunggu dulu, tolong ampuni hamba, Tuan
Lloyd!?"
"Bercanda, kok. Cuma bercanda."
Lagi pula, aku sudah pernah mencoba hal serupa dua tahun
lalu.
Aku pernah menggunakan sihir otonom yang bentuknya mirip
iblis untuk mengamuk sedikit di gereja, tapi orang-orang di sini hanya lari
ketakutan dan tidak mencoba melawan.
Pikirku, jemaat yang taat itu secara mental adalah
orang-orang baik.
Karena itulah, meskipun diserang, mereka tidak
langsung terpikir untuk bertarung.
Astaga, sayang sekali Holy Magic yang hebat
itu jadi terbuang percuma.
"……Tuan Lloyd, pantas saja Anda dilarang
masuk."
"Eh? Apa aku mengatakan sesuatu?"
"Anda bergumam tentang hal-hal berbahaya."
Waduh, sepertinya pikiranku terucap secara tidak
sengaja.
Hal seperti ini memang kadang terjadi. Refleksi,
refleksi.
"Isha."
Tiba-tiba, suara yang tegas menggema di ruang ibadah.
Saat aku menoleh ke arah suara, Saria ada di sana.
"Sudah waktunya untuk latihan bersama."
"Ah, sudah jam segini ya. Sampai nanti ya,
Lloyd-kun, Ren-chan. Sampai
jumpa lagi…… dan Lloyd-kun, hari ini mungkin kamu bisa melihat Holy Magic."
Isha mengedipkan matanya, lalu pergi berlari kecil.
Sore harinya, setelah bersih-bersih selesai, kami duduk
menunggu di ruang ibadah.
Karena konser akan segera dimulai, orang-orang yang
menunggu di sekitar kami pun semakin bertambah banyak.
"Tapi apa maksud perkataan Isha tadi ya? Katanya aku mungkin bisa melihat
Holy Magic sebentar lagi…… Aku lupa bertanya, apa Grim pernah melihat Holy
Magic?"
"Hanya
beberapa kali saja. Seingat hamba, nyanyian sepertinya menjadi kunci untuk
mengaktifkan Holy Magic."
"Heh, apa itu jenis sihir yang diaktifkan melalui
ritual?"
Metode untuk mengaktifkan sihir secara garis besar
terbagi menjadi "Sirkuit" dan "Ritual".
Sirkuit adalah metode menuliskan berbagai rumus ke dalam
mana dan mewujudkannya sebagai fenomena.
Sebaliknya, Ritual dilakukan melalui nyanyian, tarian,
atau doa oleh mereka yang memiliki mana tinggi.
Metode ini sudah ada sejak zaman kuno, contohnya adalah
tarian pemanggil hujan.
Saat ini Ritual lebih sering digunakan bersamaan dengan
Sirkuit, namun masih banyak sihir yang menyertakannya sebagai bagian inti.
"Kalau begitu, ada kemungkinan Holy Magic
bisa terlihat saat konser nanti. Grim, kamu tidak apa-apa?"
"Suster itu mananya tidak seberapa, jadi kalaupun
dia menyerang, tidak akan mempan padaku. Lagipula kecil kemungkinannya dia memakai Holy Magic
tipe serangan. ……Yah, seandainya pun digunakan, karena aku berada di dalam
tubuh Tuan Lloyd, sama sekali tidak ada masalah."
Holy
Magic katanya
sangat ampuh melawan demon, jadi aku sempat khawatir dia akan terpuruk,
tapi…… kalau dia bilang begitu, ya sudahlah.
"Baiklah, mari kita tunggu dengan antusias……
hm?"
Tiba-tiba, terdengar suara dari arah pintu masuk.
Ternyata itu adalah para petualang pria yang sempat
menggangguku di jalan tadi.
"Benar kan! Bocah itu ada di sini!"
"Pasang wajah tanpa dosa begitu, dasar bocah
menyebalkan. Masa bodoh dengan upacara ekaristi atau apa pun, akan
kuhancurkan semuanya sampai berantakan!"
Tunggu dulu, mau menghancurkan upacara ekaristi?
Padahal aku hampir saja bisa melihat Holy Magic,
apa-apaan mereka ini.
"……Mau bagaimana lagi. Sebaiknya penonton tak
diundang ini disuruh keluar saja."
Aku memutus aliran mana di seluruh tubuhku dan berdiri
perlahan.
Dengan menghilangkan keberadaanku melalui Mana
Isolation, aku berjalan menuju para pria itu.
"Lloyd……?"
"Sst," aku menempelkan jari telunjuk ke bibir,
memberi isyarat agar Ren diam.
Sepertinya tidak ada satu pun orang di sekitar yang
menyadari pergerakanku.
Aku terus berjalan ke arah pintu masuk, dan para pria itu
pun tidak melihat ke arahku.
Ibarat kerikil di pinggir jalan yang tidak dipedulikan
siapa pun, mereka tidak akan menyadariku jika tidak benar-benar memperhatikan
dengan seksama.
Aku melewati sisi mereka dan berdiri tepat di
belakang mereka.
Lalu, aku melepaskan mana di kedua telapak tanganku.
Seketika, kedua pria itu menghilang.
Aku kembali ke tempat duduk sambil tetap menyembunyikan
keberadaanku, lalu Ren berbisik padaku.
"……Yang
tadi itu, mungkinkah Spatial Transfer?"
"Iya, karena Jade sudah menunjukkan sirkuitnya
padaku. Jadi aku mencoba menganalisisnya."
Jade, bos dari Assassin Guild, memiliki kemampuan Spatial
Transfer dan mengendalikannya dengan sirkuit sihir.
Karena aku telah menyerapnya dengan pedang pengisap mana
ini—yang mampu menyerap, menyimpan, dan menganalisis segala jenis mana—aku pun
jadi bisa menggunakan Spatial Transfer.
Meskipun masih jauh dari kendali sempurna dan aku tidak
tahu pasti ke mana mereka terlempar…… tapi dari rasanya, sepertinya ke
pinggiran kota.
"Hebat sekali, Lloyd! ……Haa, andai saja aku juga
bisa mengubah kemampuanku menjadi sirkuit sihir secepat itu."
Ren menghela napas.
Kemampuan Ren untuk menghasilkan racun bisa menjadi obat
jika dikendalikan dengan baik.
Aku terus menyemangatinya untuk belajar banyak hal, tapi
sepertinya dia cukup kesulitan.
Ren tidak mendapatkan pendidikan yang layak, jadi untuk
sementara aku membacakannya buku sihir tingkat dasar, meski aku ragu sejauh
mana dia memahaminya.
Mungkin akan lebih cepat jika aku menyalin sebagian
pengetahuanku dan menempelkannya langsung ke otaknya dengan sebuah sirkuit
sihir.
Hanya saja, jika aku melakukan itu, aku tidak tahu efek
apa yang akan menimpa subjeknya.
Yah, biarlah itu jadi pilihan terakhir.
"……Lloyd, apa kamu baru saja memikirkan sesuatu yang
menakutkan?"
Saat aku memikirkan hal itu, Ren menatapku dengan mata
ketakutan.
Sopan sekali. Aku kan masih seperti biasanya.
Nah, sekarang karena pengganggunya sudah diusir, aku bisa
menikmati pengalaman Holy Magic sepuasnya.
Upacara ekaristi dimulai, dan pendeta mulai merapalkan
doa-doa.
Jemaat lain menutup mata dan mengikuti doa tersebut.
Aku pun ikut memejamkan mata dan berpose seolah
sedang berdoa.
Waktu yang membosankan dan membuat kantuk itu
berakhir, lalu roti dan anggur dibawa ke meja.
Saat semua orang sedang menyantapnya, Isha dan Saria
masuk.
"Ah, itu Kak Isha."
"Kak Saria juga ada. Sepertinya konser akan
segera dimulai."
Kehadiran mereka berdua membuat orang-orang yang
tadinya asyik makan menjadi heboh.
"Yak! Ini yang ditunggu-tunggu!"
"Kami datang ke sini hanya demi mendengar
permainan musik Isha-chan dan Saria-chan!"
"Tunjukkan permainan yang hebat lagi hari ini
ya!"
Di tengah sorakan yang meriah, Isha membungkuk dengan
sopan.
Saria hanya melirik sekilas dan langsung menuju
piano.
Hanya sesaat, tapi rasanya mereka berdua sempat
mengirimkan pandangan ke arahku.
"Hadirin sekalian, hari ini kita akan mengadakan
konser rutin. Mohon perhatiannya."
Setelah salam berakhir dan Isha berdeham kecil, tidak ada
lagi satu orang pun yang bersuara.
──♪
Di dalam ruang ibadah yang sunyi, alunan piano yang indah
mengalir.
Bahkan saat musik mulai mengalun, aku hampir tidak
menyadarinya karena pembukaannya yang begitu halus dan indah.
──♪
Disusul dengan suara nyanyian.
Musik Saria memang hebat, tapi nyanyian Isha pun tidak
kalah saing.
Nyanyian dan musik mereka berdua melebur dengan sempurna,
menghasilkan harmoni yang luar biasa.
──♪
Permainan mereka begitu menggetarkan hati sampai-sampai
aku yang tidak tertarik pada nyanyian pun merasa merinding; tidak ada satu pun
orang yang lanjut makan.
──♪
Setetes air mata mengalir di pipi Ren.
Ada banyak orang lain yang juga menangis karena
terharu mendengar permainan mereka.
"Apa-apaan
ini…… gila…… ini benar-benar gila…… ugh."
Grim pun terdengar sengau karena terlalu terharu.
Ya, ini memang permainan musik yang luar biasa.
Tidak heran jika dikatakan bahwa Tuhan sekalipun akan
terpesona mendengarnya.
"Mu……"
Tiba-tiba, aku menyadari cahaya pucat menyelimuti tubuh
orang-orang.
Sepertinya luka-luka mereka mulai sembuh.
Sihir
sistem penyembuhan…… bukan, sedikit berbeda. Inikah Holy Magic?
Kalau
dipikir-pikir, orang-orang yang berkumpul di sini rasanya banyak sekali yang
terluka.
Saat
aku menajamkan penglihatanku dengan Mana Concentration, aku bisa melihat
mana yang memiliki efek penyembuhan tercurah dalam radius belasan meter dengan
Saria sebagai pusatnya.
Cahaya
ini, jika diperhatikan lebih dekat, adalah partikel yang terwujud secara fisik.
Jika
memusatkan kesadaran, aku bisa tahu bahwa ini seperti salju yang akan
menghilang dalam waktu tertentu, dan efek penyembuhannya hanya ada selama
partikel itu menempel di tubuh.
Namun
sirkuit ini…… sepertinya bukan sirkuit yang biasa digunakan.
Sirkuit
yang kulihat melalui aliran mana ditulis dalam bahasa sihir yang belum pernah
kulihat sebelumnya.
Pantas
saja aku yang dulu tidak menyadarinya.
Sirkuit
yang ditulis dalam bahasa sihir asing itu, ibaratnya sama seperti pola hiasan
pada karpet.
Konon, Holy
Magic bermula sejak zaman dahulu kala ketika Tuhan memberikan kekuatan
kepada manusia sekadar untuk bersenang-senang.
Jika
benar begitu, mungkin sirkuit ini ditulis dalam bahasa dari dunia yang berbeda
dengan dunia kita.
"……Hm, tatapan apa ini……?"
Dari suatu tempat, aku merasakan tatapan seseorang.
Tatapan ini tidak ada sebelum konser dimulai.
Dan ini bukan milik manusia yang ada di tempat ini.
Aku tidak akan menyadarinya jika tidak menggunakan Mana
Concentration.
Aku mencoba memperluas jangkauan pencarianku, tapi
masih belum tahu.
Di mana tepatnya……? Aku mencoba mengikuti jejak mana
yang bercampur sedikit dalam tatapan itu untuk menemukan sumbernya.
──Dan akhirnya, aku menemukannya.
Hmm, pemilik mana yang cukup tinggi ya. Tapi
di mana? Aku tidak tahu lokasinya.
Namun jika aku menggunakan sedikit mana yang bercampur
dalam tatapan itu sebagai penanda, sepertinya aku bisa melakukan Spatial
Transfer dengan mengikutinya.
Meskipun Spatial Transfer masih sulit
dikendalikan, tapi jika ada penandanya, aku bisa terbang ke sana.
"Maaf Ren, aku pergi sebentar."
"Eh? Lo-Lloyd?"
Aku meninggalkan Ren dan mengaktifkan sirkuit Spatial
Transfer.
Seketika pandanganku menjadi hitam pekat dan aku diliputi
sensasi melayang.
Aku sudah mencoba Spatial Transfer beberapa kali,
tapi aku masih belum terbiasa dengan sensasi ini.
……Terasa agak lama ya. Mungkinkah tempatnya sangat jauh?
Di tengah perjalanan, aku merasa seperti menerima
benturan yang kuat.
Sensasi seperti melompati anak tangga yang tinggi
sekaligus, atau seperti menembus suatu dinding.
Kira-kira apa yang barusan itu? Selagi
aku berpikir, sensasi melayang itu menghilang dan aku mendarat.
Sepertinya aku sudah sampai di tempat yang kutuju.
Saat membuka mata, di sana terbentang dunia yang
serba putih.
"……Di mana ini?"
Meskipun sudah sampai, aku tetap tidak tahu di mana ini.
"Tempat yang hawanya tidak enak ya. Ada suasana
yang tidak cocok dengan hamba."
Grim bergumam dengan nada tidak senang.
Tanahnya tertutup awan yang empuk, tidak ada
penghalang apa pun, hanya langit biru yang terbentang luas.
Bisa dibilang, ini adalah tempat di atas awan.
Ini sangat menarik perhatianku, tapi pertama-tama aku
harus mencari pemilik tatapan tadi.
Saat melihat sekeliling, aku menemukan seorang pemuda
yang memakai tunik sederhana.
"Hm-hm♪ Hm-hu-hu♪ Hm-huu♪ ……Nuhuhuhuhu, memang suara
Isha-tan adalah yang terbaik. Berpadu dengan musik Saria-tan,
benar-benar menjadi 'Lagu Dewa'……"
Pemuda itu menatap kolam di bawah kakinya sambil
menyeringai mesum.
Rambut emas yang panjang hingga ke pinggang, mata
biru, kulit putih; semua itu memiliki kesan transparan yang seolah bukan milik
dunia ini.
Hal yang patut dicatat adalah sayap di punggungnya
dan lingkaran cahaya yang melayang di atas kepalanya; sosoknya benar-benar
seperti malaikat.
"Permisi……"
"Ada apa? Aku sedang sibuk, seperti yang kau
lihat……"
Saat aku menyapa, pemuda itu mengangkat wajahnya
sambil mengeluh.
Lalu dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatapku
dari atas sampai bawah.
"Na-na-na-na-apa!? Apa kau ini manusia!?
Ba-bagaimana bisa ada manusia di Dunia Langit!?"
Lalu dia melompat mundur dengan panik.
"Dunia Langit? Dunia Langit itu maksudnya tempat
tinggal Tuhan dan para malaikat utusan-Nya yang sering diceritakan di gereja,
kan?"
"……Ehem, tepat sekali! Ini adalah Dunia Langit. Dan
aku adalah Malaikat Jiriel. Utusan Langit yang setia dari 64 Dewa Dunia
Langit."
Ooh, benar-benar malaikat ya.
Ternyata mereka benar-benar ada.
Yah, karena demon saja ada, jadi ini tidak aneh
sih.
"Wahai anak manusia, ini bukan tempat yang bisa
dimasuki manusia biasa. Dengan cara apa kau mendatangi wilayah suci ini?"
"Namamu Jiriel ya. Aku melakukan Spatial Transfer
dengan mengikuti jejak sedikit mana yang bercampur dalam tatapanmu."
"Spatial Transfer!? Aku tahu ada manusia yang
menggunakan kekuatan semacam itu, tapi ini adalah Dunia Langit yang ada di
dimensi berbeda dengan dunia manusia, tahu!? Seharusnya dinding dimensi tidak
bisa ditembus kecuali memiliki mana yang luar biasa besar…… tidak mungkin……!"
Jiriel mulai bergumam sendiri.
"Kalau dipikir-pikir, sensasi saat Spatial
Transfer tadi memang sedikit berbeda dari biasanya. Jadi itu tadi dinding
dimensi ya."
"Dinding dimensi itu aslinya tidak bisa ditembus
oleh manusia yang memiliki tubuh fisik biasa, Tuan. Kalau malaikat, demon,
atau roh yang tidak punya wujud fisik sih bisa, tapi kalau bukan, tubuh fisik
mereka akan hancur berantakan. Yah, kalau punya kepadatan mana setingkat Tuan
Lloyd, tidak heran sih kalau bisa bertahan."
"A-ada
mulut di telapak tangan!? ……Itu demon, kan? Siapa kau sebenarnya?"
"Ah
benar juga, aku belum memperkenalkan diri. Aku Lloyd de Saloum, pangeran
ketujuh Kerajaan Saloum dan seorang penyihir. Jiriel, aku datang ke sini karena
ada permintaan padamu sebagai malaikat. Tolong ajarkan aku Holy Magic."
Yah,
sebenarnya aku sampai ke sini murni karena kebetulan.
Namun,
menyimpulkan dari gumaman Jiriel dan perkataan Isha tadi, sepertinya fakta
bahwa malaikatlah yang memberikan Holy Magic bukanlah sekadar kiasan,
melainkan kenyataan.
Artinya,
jika aku diakui oleh Jiriel, aku pasti juga bisa menggunakan Holy Magic.
Kalau
sudah begitu, aku tidak perlu lagi melakukan pekerjaan gereja yang merepotkan
itu.
"……Begitu
ya, jadi kau sengaja datang ke Dunia Langit demi mempelajari Holy Magic.
Memang benar aku bisa menganugerahkan Holy Magic kepada manusia. Tapi
itu hanya untuk orang yang aku akui. Mana mungkin aku memberikan Holy Magic
kepada manusia yang tiba-tiba menerobos masuk ke Dunia Langit, apalagi membawa demon
di tubuhnya! Untuk saat ini aku akan mengampuni nyawamu. Segera
kembalilah ke dunia manusia!"
Sepertinya tidak akan semudah itu.
Meski begitu, aku pun tidak bisa mundur begitu saja.
"Apa yang harus kulakukan supaya kau
mengakuiku?"
"Kau ini anak laki-laki yang keras kepala sekali ya!
Baiklah kalau begitu, sesuai hukum Dunia Langit, aku akan menyingkirkanmu
dengan kekerasan!"
Cahaya yang menyilaukan mulai berkumpul pada Jiriel.
Detik berikutnya, Jiriel telah mengenakan pedang,
perisai, dan baju zirah dari cahaya.
"Ooh!
Inikah Holy Magic!?"
"Benar
sekali, Holy Magic; Light Armor. Perlengkapan para Dewa yang
menembus iblis dan memantulkan kegelapan. Aku tidak akan segan meski lawanku
manusia."
Hawa itu, sepertinya bukan sihir pemanggilan.
Dia mewujudkan mana menjadi perlengkapan perang.
Melihat sihir penyembuhan tadi dan yang ini, sepertinya Holy
Magic memang banyak yang berupa perwujudan mana secara fisik.
Sepertinya banyak hal yang bisa dilakukan jika aku bisa
mengaplikasikannya dengan baik.
"Kalau begitu, jika aku menang, ajarkan aku cara
menggunakan Holy Magic ya."
"Bukannya takut, kau malah menunjukkan ekspresi
gembira begitu.... Jangan-jangan kau benar-benar anak iblis? Cih, Tuhan,
berilah hamba perlindungan-Mu...!"
Bersamaan dengan kalimat doa, Jiriel menerjang ke
arahku.
"Haaaaaaaa!"
Melihat Jiriel yang mengayunkan pedang cahayanya, Grim
malah tertawa mengejek.
"Heh, gerakan apa itu! Lambat sekali seperti lalat
yang sedang hinggap! Benar kan, Tuan Lloyd!"
Memang, gerakannya lambat.
Bahkan dalam kondisi normal pun, aku bisa menang dengan
sangat mudah.
Aku mencabut Absorb Sword yang tersampir di
pinggangku.
Pedang sihir ini mampu menyerap, menyimpan, hingga
menganalisis segala jenis mana.
Jika pedang cahaya Jiriel adalah salah satu jenis sihir,
seharusnya aku bisa menganalisis sirkuitnya jika menangkisnya dengan Absorb
Sword.
Saat aku menahan tebasan itu—Giiinn! Suara dentuman tajam terdengar dan percikan api berterbangan.
"Yosshhaaa! Dengan ini kita dapat sirkuit
sekaligus pedang cahayanya, Tuan!"
Seharusnya memang begitu, tapi ada sesuatu yang aneh.
Sama sekali tidak ada tanda-tanda pedang itu terserap
meski waktu terus berlalu.
"……Begitu ya. Karena pedang yang diwujudkan ini
dihitung sebagai benda nyata, maka tidak bisa diserap oleh Absorb Sword."
"Apa yang kau gumamkan sendirian! Haaahhh!"
Aku menangkis tebasan yang masuk dan melompat jauh ke
belakang.
Absorb
Sword adalah
pedang sihir yang berharga.
Aku
tidak boleh merusaknya hanya karena beradu pedang dengan sembarangan.
Karena
itu, benda ini kusegel dulu. Aku mengembalikan Absorb Sword ke dalam
sarungnya.
"Apa? Sudah menyerah?"
"Mana mungkin, ini baru saja dimulai, tahu?"
Pedang cahaya itu, jika aku bisa membuatnya sendiri pasti
akan sangat praktis.
Tidak semahal Absorb Sword, dan jika bisa
dikeluarkan kapan saja, fungsinya akan sangat beragam.
Mumpung lawan juga sedang bersemangat, lebih baik aku
melakukan berbagai tes di sini.
"Ah, benar juga. Grim, tadi kamu bilang malaikat
tidak punya wujud fisik, kan. Antara kamu dan Jiriel, siapa yang lebih
tangguh?"
"Hmm, yah mungkin seimbang... tidak, hamba
sepertinya sedikit lebih unggul. ……Mungkin."
Begitu ya, intinya kalian seimbang.
Kalau begitu, dia tidak akan mati meski aku
menghantamnya dengan sihir dengan level kekuatan yang sama.
"Sekarang giliranku. Blazing Fireball."
Aku mengaktifkan sihir api tingkat tinggi, Blazing
Fireball. Api yang tercipta langsung kulemparkan ke arah Jiriel.
"Guh!? Sihir api!? Uoooooh!"
Bola api besar melesat terbang, namun Jiriel
menahannya dengan pedang cahaya dan berhasil melenyapkannya.
Hmm, meskipun cahayanya tampak sedikit meredup,
sepertinya pedang cahaya itu bisa menahan sihir tingkat tinggi dengan normal.
"Hah, hah.... Sihir yang lumayan juga. Ternyata
kau memang punya modal untuk menginjakkan kaki di Dunia Langit. Tapi hanya selevel itu tidak akan bisa mematahkan Light Armor
ini!"
"Baguslah kalau begitu. Kalau begitu
selanjutnya.... Inferno Fangs."
Kali ini aku mengaktifkan sihir api tingkat tertinggi
di atas yang tadi, Inferno Fangs. Aku memadatkan api raksasa yang
tercipta menggunakan sirkuit sihir agar lebih mudah ditangkis dengan pedang,
lalu menembakkannya pada Jiriel.
"Nuguuh!? Ke-kekuatan ini! Benar-benar berbeda
dari yang tadi.... Guaaahhh!?"
Jiriel mencoba menahannya dengan pedang cahaya, namun
dia kalah telak oleh tekanan serta kecepatannya hingga terpental.
Pedang
cahayanya pun patah dan hancur berkeping-keping.
Aduh,
ternyata lebih rapuh dari dugaanku.
Jadi pedang itu tidak kuat menahan sihir tingkat
tertinggi....
"Guh.... B-boleh juga.... Tapi sebagai utusan
Tuhan, aku tidak boleh menyerah di tempat seperti ini! Tidak masalah berapa
kali pun Light Armor ini patah!"
Tadi dia bilang tidak akan patah.... Tapi yasudahlah.
Begitu Jiriel merapalkan sesuatu, pedang cahaya yang
tadi kupatahkan mulai beregenerasi.
Melihatnya beregenerasi alih-alih menciptakan yang
baru, mungkinkah dia hanya bisa mengeluarkan satu pedang saja?
Namun fakta bahwa itu bisa dibuat berulang kali
berarti senjata ini bisa digunakan sebagai senjata sekali pakai.
Benar-benar senjata yang bisa dibuang tanpa rasa
bersalah ya. Bagus juga.
"……Kenapa kau memasang wajah gembira
begitu?"
"Tentu saja karena ini menyenangkan. Ayo Jiriel,
tunjukkan padaku lebih banyak lagi Holy Magic lainnya."
Sifat dari pedang cahaya itu pun belum sepenuhnya
terungkap.
Aku ingin melihat kemampuan perisai dan zirahnya, dan aku
juga penasaran apakah dia bisa membuat senjata lain.
Setelah itu selesai, aku juga ingin melihat Holy Magic
jenis lain.
Aku tidak sabar. Rasanya berdebar. Jika
aku merasa begitu, wajar saja kalau sudut bibirku sedikit terangkat, kan.
"A-Anak iblis...!"
Tuduhan yang cukup kejam, tapi aku tidak peduli.
"Ayo, kita lanjutkan."
Setelah menggumamkan itu, aku pun melanjutkan
pertarunganku dengan Jiriel.
◇
"Zeh-zeh.... Mo-monster...!"
Entah sudah berapa lama kami bertarung, Jiriel
terengah-engah sambil berlutut.
"Lho, sudah selesai? Ayo lanjut lagi."
"A-aku
sudah sampai batas.... Mau kau rebus atau kau bakar, terserah kau
saja...."
Begitu
ya. Padahal aku bahkan belum menghancurkan peralatan yang dibuat dari Light
Armor itu sampai sepuluh kali.
Kepadatan
mananya tidak seberapa tinggi, dan konsumsinya pun terlihat sangat irit.
Apa
memang para malaikat memiliki mana yang sedikit?
"Bagi
eksistensi yang tidak punya wujud fisik seperti kami, menggunakan mana akan
membuat kekuatan kami melemah. Karena itulah kami para Demon
mengumpulkan mana dari sekeliling agar lebih mudah menggunakan sihir, tapi para
malaikat sepertinya payah dalam hal itu," jelas Grim.
"Begitu
ya, kalau dipikir-pikir Light Armor memang bukan jenis sihir yang
memancarkan mana secara terus-menerus."
Mewujudkan senjata pun hanya perlu dilakukan sekali di
awal. Begitu juga dengan penyembuhan, hanya berupa partikel cahaya yang diberi
sifat pemulihan. Meski arahnya berbeda, keduanya termasuk kategori
sihir dengan konsumsi mana yang rendah.
"Ngomong-ngomong Jiriel, bukankah tubuhmu jadi
transparan?"
Tubuh Jiriel yang terkapar tampak perlahan-lahan
memudar.
"……Sudah kubilang ini batasnya. Sepertinya aku
menggunakan terlalu banyak mana. Meski begitu, aku tidak menyesal karena sudah
bertarung sekuat tenaga. Silakan melangkahi mayatku……"
"Eh! Kamu mau mati?"
Itu gawat. Aku baru melihat secercah kecil dari Holy
Magic. Masih belum cukup sama sekali.
"Benar, kalau aku memberinya mana……"
Aku bergegas menghampiri Jiriel, mengulurkan tangan, dan
menyuntikkan mana ke dalam tubuhnya. Seketika, tubuh Jiriel yang memudar
kembali menjadi padat seperti semula.
"Ke-kenapa kau menolongku……?"
"Kenapa, ya…… menolong
orang yang sekarat itu kan hal yang wajar."
Lagipula kalau Jiriel mati, aku tidak bisa
mempelajari Holy Magic.
"Menolong orang sekarat itu wajar, ya. ……Heh,
padahal aku tadi berniat membunuhmu."
Jiriel menyunggingkan senyum setelah mendengar
jawabanku. Entah apa yang menurutnya lucu.
"……Aku kalah. Lloyd, kan? Akan kuanugerahkan Holy
Magic padamu."
"Benarkah!?"
"Ya, tapi untuk itu kita perlu melakukan kontrak.
Berikan tanganmu."
Begitu aku mengulurkan tangan sesuai instruksinya, Jiriel
menyeringai licik.
"Hehehe, bocah bernama Lloyd ini punya mana tinggi
yang tidak masuk akal bagi manusia, gelar pangeran, dan wajah polos yang manis.
Ini kesempatan bagus bagiku untuk turun ke dunia bawah. Sebagai malaikat, aku
tidak bisa turun dari Dunia Langit, tapi jika aku berpura-pura melakukan
kontrak dan merasuki tubuh Lloyd, aku bisa beraktivitas di dunia bawah! Apalagi
dia sudah dirasuki Demon! Jika terjadi sesuatu, aku tinggal menyalahkan
si Demon itu saja. Tidak ada tubuh lain yang sefungsional ini! Aku sudah
bosan hidup di Dunia Langit. Kalau ke dunia bawah, aku bisa bertemu Isha-tan,
Saria-tan, dan banyak waifu idaman lainnya. Nuhuhuhu…… selama ini aku hanya
bisa melihat dari jauh, tapi sekarang aku bisa merasakan hembusan napas mereka
dari dekat, bahkan mungkin bisa memegang tangan mereka…… hehe, hehehe."
Jiriel
menempelkan tangannya sambil berkomat-kamit sendiri. Rasanya agak menjijikkan,
tapi demi belajar Holy Magic, apa boleh buat. Saat bersentuhan, cahaya
menyilaukan menyelimuti sekitar.
"Uooooooo!
Zamanku telah tibaaaaaaa!"
Bersamaan
dengan teriakan Jiriel, aku merasakan sesuatu merasuk ke dalam diriku. Dan──
Saat membuka mata, sebuah mulut menempel di telapak tangan kiriku. Susunan
giginya sangat rapi dan putih berkilau. Sepertinya kontrak berhasil
diselesaikan tanpa kendali.
"TAPI
KENAPA JADI BEGINIIIIIIII!?"
Namun
entah kenapa, Jiriel malah berteriak histeris.
"Ada apa Jiriel? Kontraknya berhasil, kan."
"Mustahil……
aku pasti sudah merasukinya. Tapi kenapa aku malah berakhir di
telapak tangan kiri!?"
Dia mulai meracau sendiri seolah tidak mendengar
perkataanku.
"Gyahahaha! Hei malaikat sialan, sepertinya
rencanamu meleset ya! Seperti yang kau lihat, kepadatan mana bocah ini tidak
normal! Level rendah sepertimu cuma mentok sampai lapisan kulit telapak tangan
saja!"
"……Begitu ya. Aku sempat heran kenapa ada Demon
di tubuh manusia, ternyata nasibmu sama denganku. Ugh, bahkan aku yang seorang
malaikat tidak bisa mengambil alih kendali, malah berakhir menjadi familiar
seperti Demon ini…… Tapi aku tidak akan menyerah. Suatu saat aku akan
merebut tubuh ini dan menikmati surga dunia bawah sepuasnya!"
"Cih, mimpi saja kau. Tubuh ini akan jadi
milikku!"
"Apa kau bilang, Demon ampas!?"
"Apa, malaikat brengsek!?"
Grim dan Jiriel tiba-tiba mulai bertengkar hebat. Entah
apa yang mereka ributkan.
Suasananya sangat berisik, tapi karena aku sudah
mendapatkan Holy Magic, sebaiknya aku kembali ke gereja.
◇
"Wah! Selamat datang kembali, Lloyd!"
Ren terlonjak kaget melihat kemunculanku yang tiba-tiba.
Aku kembali menggunakan Spatial Transfer
dengan mana milik Ren sebagai penandanya.
Bagi orang yang sudah lama menghabiskan waktu
bersamaku, melacak keberadaannya adalah hal mudah.
"Apa konsernya sudah selesai?"
"Iya, jadi aku sendirian menunggumu di sini."
Karena sepertinya tidak ada orang lain, aku melepaskan Mana
Isolation.
"Lagipula aku kaget kamu tiba-tiba menghilang. Tadi
pergi ke mana?"
"Ada urusan sebentar. Saria dan yang lainnya ke
mana?"
"Sepertinya sedang beres-beres. Katanya sebentar
lagi akan kembali ke sini……"
"Apa!? Aku bisa bertemu Saria-tan!?"
Jiriel tiba-tiba mencoba berteriak, tapi aku langsung
mengepalkan tinjuku untuk membungkamnya.
"Eh? Tadi ada suara sesuatu?"
"Entahlah, aku tidak dengar apa-apa."
"……Muu, mungkin cuma halusinasi?"
Bahaya, bahaya. Untungnya aku sempat menggunakan Silence
untuk menutup suaranya, tapi aku tidak menyangka dia akan bicara tiba-tiba. Aku
lupa memperingatkannya.
"……Jiriel, aku sedang menyamar sebagai bocah biasa
yang cuma suka sihir. Tentu saja, aku tidak boleh ketahuan memiliki malaikat
sebagai familiar. Hindari ucapan atau tindakan yang tidak perlu."
"……! ……!"
Karena suaranya kubungkam, aku tidak dengar dia bicara
apa, tapi sepertinya dia mengerti.
"Gihihi, Tuan Lloyd, biarkan hamba yang mengajari
pendatang baru ini berbagai hal. Tenang saja, waktu di dunia iblis dulu, hamba
dipercaya penuh untuk melatih anggota baru karena sifat hamba yang telaten.
Hamba akan mendidik malaikat ini menjadi familiar yang mumpuni."
"Aku serahkan padamu."
"……! ……! ……!"
Terdengar sesuatu seperti protes, tapi abaikan saja lah. Biarkan Grim yang mengurus sisanya.
"Maaf
membuat menunggu, Lloyd-kun, Ren-chan, Shiro-chan."
"Ayo
cepat pulang."
Tak
lama kemudian, Isha dan Saria yang sudah selesai bersiap-siap pulang pun
muncul. Seketika, Jiriel tampak sangat bersemangat dan mulai bergerak-gerak di
telapak tanganku, tapi aku membiarkannya saja.
"Kalian
berdua hebat, permainannya sangat bagus."
"Benarkah?
Biasa saja ah."
"Fufu, Saria ini memang tidak jujur ya. Di saat
seperti ini harusnya kamu bilang terima kasih dengan tulus. Terima kasih ya Lloyd-kun. Aku
senang mendengarnya."
"Iya,
iya…… makasih, Lloyd."
Isha tersenyum cerah sementara Saria tersenyum malu-malu.
Melihat itu, semangat Jiriel sepertinya mencapai puncaknya. Dia sampai gemetar
hebat. Menjijikkan sekali kau, Jiriel.
"? Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Ahahaha……"
Saat kami keluar dari gereja hari sudah gelap, aku pun
kembali ke kastel bersama Saria.
"Terima kasih untuk hari ini, Saria."
"Hm, sampai jumpa."
Setelah berpisah dengan Saria dan kembali ke kamarku,
Sylpha menyambutku.
"Selamat datang kembali, Tuan Lloyd."
"Aku pulang, Sylpha."
"Kerja bagus untuk Ren juga. Tolong berikan
laporannya nanti ya. Mari
kita siapkan makan malam."
"Baik.
……Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Muda."
Ren
membungkuk hormat padaku lalu keluar ruangan bersama Sylpha. Fuuuh, banyak hal
terjadi hari ini tapi hasilnya sangat memuaskan.
"Nah,
mari kita coba Holy Magic ini!"
Selama perjalanan pulang tadi aku sudah gatal ingin
bereksperimen. Aku melepaskan dinding udara yang membungkus Jiriel.
"Sudah tenang, Jiriel?"
"Hamba mohon maaf karena telah bersikap tidak
sopan tadi, Tuan Lloyd. Jika ada perintah, katakan saja tanpa ragu."
Eh, kenapa kepribadiannya berubah drastis begini? Malah
jadi menakutkan.
"Hebat juga kamu Grim, bisa membuatnya patuh sampai
begini."
"Hehe, serahkan saja pada hamba. ……Tadinya hamba mau
bilang begitu, tapi sebenarnya dia tiba-tiba jadi penurut setelah melihat Tuan
Lloyd bicara akrab dengan tuan putri dan si suster tadi. Dia benar-benar aneh."
Sepertinya Grim pun tidak habis pikir.
"Hamba terlambat menyadari kehebatan Anda, Tuan
Lloyd. Anda adalah majikan yang pantas menerima kesetiaan hamba! Karena sudah
melakukan kontrak, seharusnya Anda sudah bisa menggunakan Holy Magic
tanpa masalah. Silakan dicoba."
"O-oh, oke……"
Entah apa alasannya, tapi syukurlah kalau dia jadi
penurut. Tidak perlu terlalu dipikirkan.
"Hehehe, siapa sangka bocah ini bukan cuma kenal
Saria-tan tapi juga Isha-tan. Ditambah lagi pelayan seperti Ren-tan dan
Sylpha-tan juga sangat cantik! Idaman! Di tubuh ini, kesempatan untuk mendekati
gadis-gadis cantik pasti sangat banyak! Bukan cuma jabat tangan, pelukan pun
mungkin saja terjadi……! Nuhuhuhu, luar biasa! Demi bisa bersentuhan dengan
gadis cantik, aku akan memberikan kesetiaan sebanyak apa pun!"
Abaikan saja Jiriel yang tertawa menjijikkan itu, mari
segera mulai eksperimen Holy Magic. Sihir pada dasarnya bisa digunakan
dengan membaca buku sihir, tapi jika terus dipelajari dan dipahami lebih dalam,
kita bisa mencapai level yang lebih tinggi.
Misalnya sihir api yang paling sederhana, Fireball.
Itu saja memiliki banyak buku sihir dari tingkat dasar sampai tinggi.
Dengan memperdalam pemahaman, level Fireball
akan meningkat.
Tentu saja sihir yang lebih tinggi lagi memiliki
lebih banyak buku referensi.
Tapi karena tidak ada buku tentang Holy Magic,
aku tidak tahu sirkuitnya meski dibilang sudah bisa menggunakannya.
"Syarat penggunaan Holy Magic adalah kami
para malaikat mengukir sirkuit pada jiwa, dan melalui nyanyian atau cara lain,
kami membangun Mana Path dengan kalian. Sirkuitnya
sudah terukir, dan karena aku ada di sini, Mana Path-nya pun sudah
terhubung. Nah Tuan Lloyd, cobalah bertanya dengan kuat pada jiwa Anda sendiri.
Maka dengan
sendirinya cara menggunakan Holy Magic akan terlihat."
"Bertanya
pada jiwa, ya."
Antara
percaya dan tidak, aku mencoba memusatkan kesadaran, dan tiba-tiba saja banyak
karakter sihir muncul di dalam kepalaku. Ini adalah…… sirkuit Holy Magic.
Aku
bisa memahami cara menggunakannya melalui insting tubuhku.
"Heh, jadi begini cara pakainya. Rasanya terlalu
praktis sampai aku merasa rugi."
"Apa maksudnya?"
"Proses memahami sihir baru itu juga bagian yang
menyenangkan, tahu."
Karena kalau aku menggunakannya tanpa paham logikanya,
kegembiraannya jadi berkurang setengah. Sayang sekali.
"Dasar orang gila. Kalau sudah bisa ya sudah,
harusnya tidak usah mikir logikanya segala. Merasa rugi karena itu…… seberapa tergila-gila kamu pada
sihir?"
"Hmm,
sungguh rasa ingin tahu yang luar biasa, serta ambisi yang tinggi. Dulu aku
pernah memberikan Holy Magic pada Paus, tapi anak ini tidak kalah
darinya."
Mereka
berdua bergumam sendiri, tapi yang lebih penting adalah Holy Magic.
Aku
mengikuti instingku dan mengaktifkan sirkuitnya. Holy Magic; Light
Armor.
Cahaya
menyilaukan berkumpul di tanganku dan membentuk pedang cahaya.
Aku
berhasil mengeluarkannya, tapi……
"O-oi
oi, pedangnya tidak berhenti membesar!?"
Pedang
cahaya itu terus tumbuh semakin besar dan panjang.
"Light
Armor akan semakin kuat seiring banyaknya mana yang diserap dari pengguna.
Ini adalah hasil dari mana Tuan Lloyd yang luar biasa. Mengagumkan."
"Jangan
malah memuji! Kalau begini terus ruangannya bisa hancur!"
Benar kata Grim, ini gawat. Merasa dalam bahaya, aku
segera merombak sirkuitnya. Aku menyisipkan sirkuit pembatas pada pedang cahaya
itu untuk menahan agar tidak membesar lebih jauh.
"Be-berhenti……?"
"Iya, nyaris saja aku dimarahi Sylpha."
Tepat sebelum menghantam dinding, pertumbuhan pedang
cahaya itu berhenti.
Tapi pedang ini benar-benar megah ya. Bagian bilahnya
sangat besar, dan bagian gagangnya pun penuh gerigi tajam. Seingatku pedang milik Jiriel
tadi jauh lebih sederhana.
"Ooh……
sungguh agung, mengingatkan pada delapan sayap Malaikat Agung. Light Armor
mewujudkan bentuk kekuatan penggunanya. Jadi ini adalah pedang Tuan Lloyd……! Luar
biasa!"
"Bentuk apa ini, mengerikan sekali. Malah kelihatan
seperti rahang Naga Kegelapan. Mana bocah ini memang tidak ada
habisnya……!"
Mereka berdua meributkan sesuatu, tapi setidaknya kamarku
tidak hancur.
◇



Post a Comment