NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V1 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4 

Kamp Belajar Dua Malam Tiga Hari

"Kalau begitu, aku pergi belanja dulu ya. Tolong titip rumah."


"Iya. Aku akan bersih-bersih dan merapikan ruangan sambil menunggumu."


Hari Jumat di minggu yang sama setelah kunjungan ke panti asuhan——


Sepulang sekolah, aku bersiap menuju supermarket terdekat setelah dilepas oleh Aoi-san. Jika mengikuti rutinitas biasanya, jadwal belanjaku adalah hari Senin dan Kamis. Alasan kenapa aku pergi belanja sekarang adalah karena mulai hari ini, Eiji dan Izumi akan menginap selama tiga hari dua malam.


Stok bahan makanan untuk dua orang masih cukup, tapi kalau untuk empat orang, jelas tidak akan tahan sampai hari Senin. Jadi, selagi Aoi-san membereskan rumah, aku memutuskan untuk belanja darurat.


"Hati-hati di jalan ya."


"Iya. Nanti kalau sudah keluar dari supermarket, aku kabari."


"Sip. Selamat jalan!"


"Aku pergi dulu."


Dilepas oleh Aoi-san di depan pintu, aku pun melangkah meninggalkan rumah. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, dan Aoi-san terus melambaikan tangannya di depan rumah sampai aku berbelok di sudut jalan. Aku pun membalas lambaiannya setiap kali menoleh.


"......Rasanya kok jadi mirip kehidupan pengantin baru ya."


Seolah-olah aku ini suami yang berangkat kerja dan dilepas oleh istri dengan penuh kasih sayang.


——Tidak, tidak! Kenapa tiba-tiba aku jadi baper begini!


Aku menyentil diriku sendiri sambil membatin.


"Tapi, punya seseorang untuk diucapkan 'Aku pergi dulu'... ternyata rasanya menyenangkan juga ya."


Sambil berjalan menuju supermarket, aku merenungkan hal itu. 


Saat awal mulai hidup sendiri, rasa bebas dari keluarga dan antusiasme hidup mandiri memang mendominasi, tapi aku baru tahu kalau perasaan itu hanya sementara. Sejujurnya, bohong kalau aku bilang aku tidak merasa kesepian.


Namun, sejak tinggal bersama Aoi-san, perasaan itu hilang. Di tengah hari-hari yang sibuk, tiba-tiba muncul momen-momen yang menenangkan. Menonton TV bersama setelah makan, saling mengecek jadwal esok hari sebelum tidur—bahkan saat kami melakukan hal yang berbeda, berada di ruang yang sama membuatku sadar bahwa aku tidak sendirian. Ternyata, kehadiran seseorang di samping kita bisa memberikan rasa puas yang luar biasa.


"Mungkin justru aku yang terbantu dengan tinggal bersama ini..."


Yah, pembicaraanku jadi melantur sedikit.


Alasan kenapa mereka berdua sampai menginap berawal dari jam istirahat siang tadi.



"Mulai hari ini, kita adakan kamp belajar persiapan ujian selama tiga hari dua malam!"


Di jam istirahat, Izumi memanggil kami ke atap sekolah dan mendeklarasikan hal itu dengan suara lantang. Aku benar-benar lupa kalau ujian akhir semester ada di minggu terakhir bulan Juni. Tak terasa, tinggal sepuluh hari lagi.


"Sudah musim ujian ya... Aku sampai lupa karena sibuk membantu memulihkan nama baik Aoi-san."


"Aku juga saking senangnya melihat Aoi-san mulai akrab dengan yang lain, rasanya aku jadi terlalu 'repot' mengurusnya. Tapi kurasa sekarang sudah waktunya kita serius belajar, kalau tidak bisa gawat!" 


Mengingat hasil ujian sebelumnya yang hampir semuanya merah, sebenarnya ini sudah agak terlambat. Ternyata sulit ya melakukan banyak hal secara bersamaan.


"Jadi, sepulang sekolah nanti kita kumpul di rumah Akira-kun, oke?"


"Iya. Tolong bantuannya ya."


"Oke ♪ Aku pulang dulu untuk ambil perlengkapan menginap, mungkin jam tujuh aku sampai."


"Aku juga akan datang sekitar jam segitu," tambah Eiji.


"Semuanya, terima kasih," ucap Aoi-san sambil membungkuk sopan.


Begitulah, tiba-tiba saja diputuskan untuk mengadakan kamp belajar di rumahku.



Sesampainya di supermarket dekat rumah, aku mengambil keranjang belanja dan melangkah masuk. Bahan makanan untuk tiga hari dua malam untuk empat orang berarti aku harus menyetok dalam jumlah besar. Mengingat mereka berdua mau repot-repot mengadakan kamp belajar demi Aoi-san, rasanya tidak sopan kalau aku cuma menyajikan mi instan atau nasi kotak minimarket. Mengingat masa-masa saat aku masih sendiri, rasanya jadi nostalgia.


"Enaknya masak apa ya?"


Sambil memikirkan menu makan malam dan berkeliling toko, aku tersadar akan sesuatu. Ternyata meski sudah tinggal bersama selama hampir sebulan, aku belum tahu makanan kesukaan Aoi-san. Karena dia selalu melahap masakan buatanku dengan nikmat, aku jadi tidak pernah memikirkannya.


"Ternyata aku masih belum benar-benar mengenal Aoi-san ya..."


Tepat saat aku berniat menanyakan makanan kesukaannya nanti...


"Aaa! Akira-kun!"


"Uwooo!"


Seseorang memanggil namaku dengan suara keras dari belakang. Bukan memanggil sih, lebih tepatnya berteriak. Aku berbalik dengan bahu yang tersentak kaget, dan di sana ada Izumi yang sedang memegang keranjang belanja dengan pakaian santai.


"Izumi toh... jangan mengagetkan dong."


"Maaf, maaf. Aku nggak bermaksud mengagetkan kok."


"Benar-benar ya, Izumi selalu semangat di mana pun dan kapan pun."


"Duh, dipuji begitu pun aku nggak bakal kasih apa-apa lho ♪"


Dia bergaya imut dengan tanda peace di samping wajahnya, tapi dia salah besar. Aku tidak sedang memuji sepenuhnya, tahu.


"Kamu belanja juga?"


"Iya. Masak aku bertamu dengan tangan kosong?"


"Hah? Maksudnya kamu mau bawa ini ke rumahku?"


"Iya dong. Aku mau masakin buat kalian semua."


"Nggak perlu repot-repot begitu. Biar aku saja yang siapkan makanannya."


"Kalau gitu kita masak bareng saja! Kan lebih cepat dan lebih seru!"


Izumi tampaknya sangat menikmati ide ini. Semangatnya sudah membumbung tinggi, mirip seperti anjing yang kegirangan saat diajak jalan-jalan.


"Maaf ya, jadi merepotkan." 


"Ih, kan sudah dibilang jangan sungkan. Aku melakukannya karena mau kok!"


Sambil mengobrol begitu, aku dan Izumi berkeliling di dalam toko. Setelah selesai membayar di kasir, kami berjalan pulang menuju rumah dengan kantong belanja di tangan.


"Ngomong-ngomong, Akira-kun."


"Hm?"


"Sejauh mana hubunganmu dengan Aoi-san?"


"Hah!?"


Aku sempat berpikir apa yang tiba-tiba dia tanyakan, tapi wajah Izumi terlihat sangat serius. Tidak ada kesan sedang menggoda, ekspresinya seolah berkata, 'Aku benar-benar ingin memastikan hal ini.'


"Sejauh mana maksudmu... aku dan Aoi-san tidak punya hubungan seperti itu."


"Eh...?"


Izumi mengerutkan dahi, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan.


"Maksudmu, ciuman pun belum?"


"Mana mungkin aku melakukannya kalau tidak pacaran."


"Bohong, kan!? Mana ada laki-laki dan perempuan muda tinggal satu atap tapi tidak terjadi apa-apa!?"


Tolong, hentikan. Hatiku sakit karena aku sadar diri kalau aku ini pengecut yang sebenarnya berharap tapi tidak berani bertindak.


"Jangan-jangan, Akira-kun... eh? Begitu ya? Pantas saja kamu akrab sekali dengan Eiji-kun... Maaf ya, Eiji-kun itu milikku, jadi biarpun itu kamu, aku tidak bisa memberikannya."


"Tidak ada hal-hal berating dewasa seperti yang kamu bayangkan di kepalamu itu, titik."


Meski aku tidak mau dengar, gara-gara dia aku jadi membayangkannya sedikit, sialan.


"Tapi bukannya tidak punya niat terselubung, kan? Ada pepatah bilang 'membiarkan hidangan di depan mata adalah aib bagi laki-laki'. Aku pikir kamu menolong gadis yang kesulitan lalu berharap imbalan seperti, 'Kamu tahu kan maksudku?', gitu."


"Memangnya aku ini orang macam apa di matamu..."


Repot juga kalau dia mengharapkan perkembangan seperti di komik dewasa begitu. Meskipun aku sendiri juga sedikit sempat mengharapkannya.


"Tadi itu cuma bercanda, tapi aku memang penasaran dari dulu. Kenapa Akira-kun mau menolong Aoi-san?"


"Alasan orang menolong kan beda-beda."


"Lalu, apa alasanmu menolong Aoi-san?"


Dia tetap saja mendesak. 


Kalau sudah begini, Izumi memang merepotkan dan sulit dihadapi. Dia terlihat seperti tidak memikirkan apa-apa, tapi aslinya sangat tajam. Kalau aku menjawab asal-asalan, dia akan langsung tahu kalau aku berbohong dan terus menginterogasiku. Entah sudah berapa kali kebohonganku terbongkar olehnya.


Sebenarnya aku tidak berniat memberitahu siapa pun, tapi ini juga bukan sesuatu yang harus dirahasiakan.


"...Sosoknya tumpang tindih dengan cinta pertamaku."


"Cinta pertama?"


"Waktu TK, ada seorang anak perempuan yang selalu sendirian dan terlihat kesepian. Saat aku melihat Aoi-san di taman, setelah bertahun-tahun aku teringat lagi pada anak itu... makanya, aku tidak bisa membiarkannya."


"Heh. Ternyata Akira-kun punya masa lalu yang murni juga ya."


"Jangan bicara seolah-olah sekarang aku tidak murni lagi."


"Maaf, maaf. Terus, bagaimana kelanjutan dengan anak itu?"


"Pas mau masuk SD, aku pindah rumah karena ayahku dipindahtugaskan, dan sejak itu putus kontak. Akhirnya, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk anak yang kesepian itu. Padahal aku ingin membuatnya tersenyum, tapi aku tidak pernah berhasil membuatnya tersenyum sekalipun... Mungkin secara tidak sadar, aku menyesali hal itu."


"Begitu ya..."


Meski ingatannya sudah samar, aku memang masih ingat rasa penyesalan itu.


"Namanya siapa? Kalau tahu namanya, mungkin bisa dicari? Kejadian waktu TK berarti saat kamu dulu tinggal di kota ini, kan? Berarti ada kemungkinan dia masih tinggal di suatu tempat di kota ini."


"Namanya..."


Aku mencoba menggali ingatan lama. 


Aku tidak ingat nama lengkapnya, tapi kalau tidak salah marganya... Shinoda, mungkin? Yah, itu pun ingatan yang campur aduk, tidak menutup kemungkinan aku tertukar dengan orang lain.


"Aku sudah benar-benar melupakannya sampai baru-baru ini, dan karena itu kejadian waktu kecil, aku juga tidak ingat namanya."

Aku memilih untuk berbohong demi menutupi ketidakpastian itu.


"Kalau begitu tidak ada cara untuk mencarinya ya."


Meskipun begitu, di dalam hati aku berharap dia baik-baik saja di suatu tempat. Bukannya aku masih menyukainya sampai sekarang, tapi kalau ada keajaiban yang membuat kami bertemu kembali... 


Aku tahu hal dramatis seperti itu tidak akan terjadi, tapi mau bagaimana lagi kalau aku membayangkannya.


Aku pernah dengar—cinta pertama bisa merusak laki-laki, tapi membuat perempuan tumbuh dewasa. Mengingat aku masih teringat anak itu sampai sekarang, mungkin pepatah itu ada benarnya.


"Tapi kalau begitu, yah... sayang sekali ya, tidak ada apa-apa antara kamu dan Aoi-san."


"Jangan bilang begitu dengan nada kecewa dong."


Aku sendiri juga merasa sedikit kecewa, tahu.


"Padahal menurutku Aoi-san juga tidak keberatan lho."


"Kalau pun memang begitu, aku tidak bisa melakukan apa-apa mengingat situasi Aoi-san sekarang. Kalau aku mendekatinya sekarang, rasanya seperti memanfaatkan kelemahannya. Aku tidak mau melakukan hal seperti itu."


"Ternyata Akira-kun itu pria budiman ya."


"Kata 'ternyata' itu tidak perlu."


Izumi tertawa geli, sepertinya dia memang sedang menunggu kesempatan untuk menyentilku.


"Kali ini, kamu harus benar-benar membuatnya tersenyum ya."


"Eh...?"


"Bukan sebagai pengganti anak itu, tapi aku tidak ingin Akira-kun merasakan penyesalan yang sama."


"Izumi, kamu..."


"Ah, itu Eiji-kun!"


Tanpa sadar, kami sudah hampir sampai di rumah. Aku melihat sosok Eiji yang melambaikan tangan ke arah kami dari persimpangan jalan terdekat.


"Ternyata kalian berdua barengan ya."


"Iya, tidak sengaja bertemu di supermarket tadi."


"Izumi, rumahnya sudah dekat, tapi sini biar aku bawakan barangnya."


Begitu Eiji mengatakan itu sambil menerima kantong belanja Izumi...


"Makasih ya. Aku cinta kamu!"


"Aku juga cinta kamu."


Mungkin karena kami baru saja membicarakan soal asmara... biasanya aku tidak peduli, tapi kali ini aku merasa sedikit iri. Sambil memperhatikan mereka dari belakang, aku diam-diam menyelam ke dunia imajinasi.


Aoi-san: "Akira-kun, aku cinta kamu."

Aku: "Aku juga cinta kamu."


Nuwaaaa! Gak boleh, gak boleh! Baru membayangkannya saja sudah membuatku merinding kegelian! Apa mereka benar-benar melakukan hal seperti ini di dunia nyata? 


Seandainya pun aku punya pacar, rasanya aku tidak akan pernah sanggup mengatakannya langsung di depan wajahnya. 


Oh iya, soal kenapa lawan bicaranya di imajinasiku adalah Aoi-san, tolong jangan dibahas.


"Akira, wajahmu merah, ada apa?"


"Berisik! Jangan pedulikan aku, dasar bacouple!"


"Terserah sih, tapi kamu baru saja melewati depan rumah kita."


Sambil merenungi betapa buruknya caraku melampiaskan kekesalan tadi, tak terasa kami sudah sampai di rumah. Dengan perasaan malu, aku berbalik arah dan masuk ke rumah bersama mereka, disambut oleh Aoi-san.


"Selamat datang kembali."


"Aku pulang. Kebetulan tadi ketemu mereka berdua di jalan."


"Permisi! Aku datang!"


Begitu masuk, Izumi langsung memeluk Aoi-san dan mereka bercanda sambil menuju ruang tamu.


"Mereka berdua sepertinya sudah akrab sekali ya."


"Iya. Meski tipenya beda, sepertinya mereka cocok," jawab Eiji.


"Syukurlah kalau begitu."


Jujur, aku tidak menyangka mereka bisa seakrab ini. Meski mereka bertolak belakang dalam banyak hal, mungkin ada sesuatu yang membuat mereka saling tertarik.


"Melihat mereka berdua, entah kenapa aku jadi teringat matahari dan bulan."


"Matahari dan bulan?"


"Kalau Izumi yang sangat ceria itu matahari, maka Aoi-san yang tenang dan pendiam adalah bulan. Seperti bulan yang bersinar karena pantulan cahaya matahari, berkat keceriaan Izumi, Aoi-san juga jadi jauh lebih cerah."


"Begitu ya. Tapi menurutku, matahari bagi Aoi-san itu bukan Izumi."


"Kenapa?"


Aku bertanya, tapi Eiji hanya diam dan masuk ke ruang tamu.


"Kebiasaan deh, selalu ngomong yang penuh teka-teki..."


Paling-paling kalau ditanya lebih lanjut dia tidak akan menjawab. Aku menyusul yang lain ke ruang tamu dan membawa bahan makanan ke dapur.


"Oke, kita siapkan makan malam dulu. Belajarnya nanti saja setelah makan dan mandi."


"Setuju. Ayo kita masak bareng!"


Izumi mengeluarkan celemek pribadinya dari tas dan mulai bersiap dengan penuh semangat. Di sampingnya, Aoi-san tampak memasang wajah cemas.


"Izumi-san... aku tidak terlalu pandai memasak..."


"Oh ya? Tenang saja, ayo masak bareng aku."


"Boleh saja barengan, tapi dapurku tidak cukup luas untuk dikerjakan empat orang sekaligus lho."


"Kami akan buat masakan yang tidak pakai api kok, jadi bisa dikerjakan di meja. Meski kompornya penuh, masih banyak cara lain. Urusan masak yang ribet seperti rebus-rebus atau panggang-panggang, aku serahkan ke Akira-kun ya."


"Siap. Kalau begitu Eiji, bantu aku ya."


"Oke."


Begitulah, kami membagi tugas menjadi dua kelompok dan mulai memasak.



"Aah... kenyang sekali."


"Kamu makannya kebanyakan tahu..."


Setelah makan malam, Izumi terkapar di sofa sambil mengelus perutnya yang tampak kekenyangan.


"Habisnya makan bareng kalian seru banget, jadi kebablasan."


Tetap saja, makan tiga buah hamburg plus tambah nasi itu kebanyakan. Mungkin karena biasanya aku cuma masak untuk dua orang, aku jadi bingung menakar porsi untuk empat orang. 


Tadinya kupikir kalau sisa tinggal dibekukan saja, tapi ternyata aku memang masak terlalu banyak. Melihat itu, Izumi malah bilang, "Kalau berempat pasti habis kok!", jadi aku panggang semuanya... Alhasil, meja makan penuh dengan tumpukan hamburg yang mustahil dihabiskan. "Teror daging" itu sungguh mengerikan. Hasilnya, Izumi yang sok jagoan makan terlalu banyak sampai jadi begini.


"Izumi, kamu tidak apa-apa?"


"Iya... istirahat sebentar juga sembuh."


Izumi menjawab Eiji yang bertanya dengan cemas sambil tersenyum kecut. Dia mengingatkanku pada hamster yang kekenyangan sampai tidak bisa bergerak.


"Aku juga beli Sakuramochi untuk camilan malam, tapi sepertinya kita simpan buat besok saja."


"Sakuramochi!? Mau makan!"


Begitu mendengar kata Sakuramochi, Izumi langsung bangkit duduk. Matanya berbinar-binar seolah rasa sesak di perutnya tadi cuma bohong belaka.


...Serius, dia bercanda kan?


"Yang namanya kamp belajar itu harus ada camilan tengah malamnya kan, Aoi-san!"


"Eh? I-iya... mungkin?"


Jangan memberi pengaruh aneh pada Aoi-san dong. Dia itu polos, jadi bakal percaya apa saja.


"Izumi, kamu serius mau makan lagi?"


"Iya. Kita kan menginap tiga hari, harusnya tadi kita beli camilan juga di supermarket~"


Melihat wajahnya yang benar-benar menyesal, sepertinya dia tidak bercanda. Apa dia ini titisan dewa rakus? Aku sering dengar kalau bagi perempuan camilan manis itu masuk ke "perut cadangan", tapi tetap saja volume yang masuk ke perutnya tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya.


"Aha! Aoi-san, ayo kita ke minimarket beli camilan!"


"Boleh, ayo."


"Benarkah!? Horeee!"


Izumi berdiri tegak seolah sudah lupa kalau sedetik lalu dia mengeluh kekenyangan.


"Tunggu sebentar."


"Ada apa?"


Aku melirik jam, sudah lewat jam sembilan malam. Sudah larut, aku khawatir membiarkan dua orang gadis berjalan di luar sendirian. Lagipula, rasanya tidak tega membiarkan orang yang baru saja terkapar kekenyangan untuk pergi ke minimarket.


"Biar aku dan Eiji saja yang beli, kalian berdua mandi saja sana sambil menunggu."


"Beneran nih? Wah, Akira-kun peka banget ya, iya kan Aoi-san?"


"Iya. Akira-kun memang selalu baik."


"Heh~ Baiknya yang seperti apa tuh?"


Aduh, tolong bicarakan hal seperti itu saat aku tidak ada di tempat, dong. Dibicarakan langsung di depan mata begini membuatku malu setengah mati.


"Eh? A-anu, ya... dia selalu mendengarkan apa yang kuinginkan. Waktu masih tinggal dengan Ibu, perasaanku tidak pernah didengarkan seperti ini..."


““"......"””


Seketika kami bertiga kehilangan kata-kata. 


Aoi-san pasti tidak bermaksud apa-apa, tapi pengakuan tentang situasi keluarganya yang tak terduga ini membuat kami terdiam. Menghabiskan hari-hari tanpa bisa mengutarakan isi hati dan harus terus menahannya... kehidupan seperti apa itu? Tidak sulit bagi kami untuk membayangkannya.


"Kamu boleh kok mengutarakan perasaanmu, dan boleh lebih manja lagi! Terutama ke Akira-kun!"


"Kenapa harus 'terutama ke aku' pula!"


Izumi mencengkeram kedua bahu Aoi-san, lalu memutar tubuhnya agar menghadap ke arahku.


"Ayo! Coba katakan ke Akira-kun camilan apa yang ingin kamu makan!"


"E-eh, anu..."


Karena didesak oleh Izumi, Aoi-san tampak kebingungan dan ragu-ragu. Setelah mencuri-curi pandang ke arahku sejenak...


"Puding... aku mau makan puding..."


"Oke, siap."


Rasanya aku ingin memborong seluruh stok puding di toko sekarang juga.


"Oke! Kalau begitu, mari kita lanjutkan ceritanya sambil mandi bareng! ♪"


"M-mandi bareng?" tanya Aoi-san dengan bingung.


"Iya dong! Yang namanya girls' night itu ya mandi bareng!" ucap Izumi dengan nada yang sangat meyakinkan.


Kan sudah kubilang, jangan beri pengaruh aneh pada Aoi-san. Dia itu polos jadi bakal percaya saja, dan mandi bareng begitu kan membuatku iri, tahu. 


Di luar rasa iriku itu, sejak kapan kumpul-kumpul ini berubah jadi acara girls' night? 


Sambil protes dalam hati, tolong maklumi kalau anak SMA yang sehat sepertiku membayangkannya barang satu atau dua detik. Dua gadis cantik mandi di kamar mandiku, membayangkannya saja sudah membuat bahagia. Tapi tunggu... apa memang anak perempuan biasa mandi bareng begitu?


...Tiba-tiba aku membayangkan mandi bareng sesama laki-laki, dan seketika semangatku anjlok drastis. Harusnya aku tidak usah membayangkan hal yang tidak perlu.


"Kalau begitu, kami mandi dulu ya!"


"Iya, silakan."


"Akira-kun, kami duluan ya dalam berbagai arti~ ♪"


Aku tidak mau bertanya apa arti dari "berbagai arti" itu, tapi Izumi berjalan meninggalkan ruang tamu sambil menyeringai seolah berkata, 'Iri, kan?'... Sialan, tentu saja aku iri!


"......Ayo ke minimarket."


"Ayo."


Sambil dibuat pusing oleh Izumi, kami pun melangkah keluar rumah demi membeli puding. Tidak ada maksud apa-apa, tapi sepulang nanti aku mau minta izin mandi duluan sebelum Eiji.



Setelah membeli camilan dan puding dalam jumlah besar di minimarket, kami berjalan pulang ke rumah dengan kantong belanja di tangan. Jalanan kompleks perumahan yang jauh dari jalan raya utama ini terasa agak remang-remang; aku merasa keputusan tidak membiarkan para gadis pergi sendirian adalah hal yang benar. Daerah ini memang tidak rawan kejahatan, tapi di zaman sekarang, lebih baik berhati-hati daripada menyesal. Sesampainya di rumah nanti, kami benar-benar harus mulai belajar.


"Sepertinya Aoi-san sangat mempercayaimu ya."


"Tolong deh, jangan kompak menjadikanku bahan godaan begitu."


Lama-lama aku malu juga, tahu.


"Aku tidak bermaksud menggoda, kok. Aku hanya penasaran seperti apa kehidupan kalian berdua selama ini."


"Kami baru sampai di tahap ini belakangan ini saja. Di awal-awal, karena aku salah paham mengiranya gyaru, suasananya canggung. Aoi-san juga sungkan, jadi kami tidak mengobrol lebih dari yang diperlukan. Hari ini pun, kalau bukan karena Izumi yang memancingnya, dia pasti tidak akan mengutarakan keinginannya."


"Wajar saja. Menyatukan dua orang asing untuk hidup bersama memang sulit."


"Kata-kata yang kamu ucapkan di mal waktu itu, belakangan ini baru benar-benar meresap di kepalaku, Eiji..."


Laki-laki dan perempuan pada dasarnya sulit saling memahami. Justru karena dia adalah orang yang berharga, komunikasi sangat diperlukan untuk menjaga hubungan itu. 


Mengenal seseorang justru membuat kita sadar betapa banyaknya hal yang belum kita ketahui tentangnya. Pemahaman tidak akan tercapai tanpa percakapan, dan ironisnya, begitu kita memahami sesuatu, hal yang tidak kita ketahui justru bertambah. Tapi jika kita malas berusaha, suatu saat kita tidak akan bisa bersama lagi. Apalagi jika pasangannya adalah lawan jenis.


"Tapi, melihat ini sepertinya kehidupan bersama kalian akan berjalan lancar."


"......Entahlah."


"Apa ada hal yang membuatmu cemas?"


Bukannya tidak ada. Malah, kecemasan itu ada banyak sekali.


"Jujur, sampai sekarang pun aku tidak tahu. Apakah keputusanku membawa Aoi-san pulang ke rumah waktu itu adalah keputusan yang benar?"


Di momen-momen tertentu, pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Rasanya seperti terus-menerus mengerjakan soal matematika yang tidak ada kunci jawabannya.


"Aku senang Aoi-san mempercayaiku. Aku juga lega jika aku bisa menjadi kekuatannya meski hanya sedikit. Tapi, aku tidak tahu apa isi hatinya yang sebenarnya. Terkadang aku berpikir, apakah ada cara lain yang lebih baik, atau apakah yang kulakukan ini sebenarnya cuma ikut campur yang tidak perlu?..."


"Begitu ya..."


"Tapi aku tidak bisa menanyakan hal itu padanya. Kalaupun kutanya, aku tahu dia pasti akan menjawab 'tidak kok'. Aku juga tidak akan bisa melihat apakah itu jawaban jujur atau bukan. Terkadang aku ragu apakah yang kulakukan ini benar. Kecemasan semacam itu... akan selalu ada."


“............”


Eiji terdiam sejenak. Saat aku menoleh ke arahnya, ekspresinya tidak terlihat, menyatu dengan kegelapan di sekitar kami.


"Menurutku, tidak masalah kalaupun itu hanya rasa 'ikut campur' atau bahkan jika itu sebuah kesalahan sekalipun."


"Eh...?"


Eiji mulai berbicara dengan nada suara tenang, seolah sedang memilih kata-kata dengan hati-hati.


"Terlepas dari itu semua, fakta bahwa Aoi-san telah ditolong oleh Akira tidak akan berubah."


"Apa... benar begitu?"


"Mungkin ada metode yang lebih baik, tapi kalau bicara soal kemungkinan, tidak akan ada habisnya. Apa yang Aoi-san rasakan hanya Aoi-san yang tahu, tapi saat dia bilang Akira itu orang yang baik, aku merasa tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Itu saja sudah cukup membuktikan bahwa tindakanmu mengulurkan tangan memiliki arti."


"......Begitu ya."


Mendengar kata-kata dari sahabatku, rasanya hatiku sedikit lebih cerah.


"Jika orang lain mendengar situasi kalian, mungkin akan ada yang bilang itu tidak benar, atau itu hanya kemunafikan, dan lain sebagainya. Tapi yang terpenting adalah perasaan orang yang menjalaninya. Lagipula, saat menolong orang yang benar-benar kesulitan, bersikap sedikit memaksa itu justru pas. Karena bagaimanapun juga, pihak lawan pasti akan merasa sungkan."


"Benar juga..."


"Selain itu, penting juga bagimu untuk mempercayai kata-kata Aoi-san. Aku paham perasaanmu yang cemas, tapi dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, dibutuhkan kekuatan untuk tidak mencoba membaca makna terselubung dan cukup mempercayai kata-kata yang dia berikan. Daripada mencemaskan hal yang tidak terlihat, lebih baik hargai apa yang ada di depan mata."


"......Kadang aku ragu apa kamu ini benar-benar anak SMA, Eiji."


"Aku anak SMA yang sama denganmu, kok. Hanya saja, aku punya pacar sedikit lebih awal darimu."


Kalau cuma gara-gara punya pacar bisa membuat pola pikir jadi sebijak ini, masalah perceraian di dunia ini pasti bakal punah.


"Yah, tapi terima kasih ya. Aku merasa sedikit lega."


"Tidak ada yang tahu mana jawaban yang paling benar. Daripada terlalu banyak berpikir dan menderita, lebih baik lakukan apa yang bisa dilakukan meski itu mungkin salah. Toh, kehidupan seperti ini tidak akan bertahan selamanya, kan?"


"Aku tahu."


Suara Eiji yang terdengar sedikit sedih tadi pasti bukan perasaanku saja. Karena baik aku maupun Eiji, kami sudah bisa melihat masa depan yang tidak lama lagi akan tiba.


"Nah, sudah sampai rumah. Cukup sampai di sini obrolan melankolisnya."


"Oke."


Memang benar, sahabat itu harta yang paling berharga. Ternyata aku tidak perlu memikul dan mencemaskan semuanya sendirian. Aku akan percaya pada kata-kata Aoi-san dan melakukan apa pun yang kubisa untuknya.


Sambil mengubah suasana hati, aku membuka pintu rumah.


"Aku pulang."


"Selamat datang kembali!"


Izumi yang baru selesai mandi menyambut kami seolah sudah tidak sabar menunggu. Dari belakangnya, Aoi-san juga muncul dari ruang tamu sambil mengintip ke arah kami.


"Selamat datang kembali."


"Aku pulang. Ini, pudingnya."


"Terima kasih... eh?"


Saat aku menyerahkan seluruh kantong belanja padanya, Aoi-san mengintip isinya dan mengeluarkan suara terkejut.


"Ini... semuanya?"


Wajar saja dia kaget. Di dalam kantong itu penuh sesak dengan puding sampai plastiknya hampir robek.


"Habisnya, begini... jenis puding itu kan banyak, ya? Aku bingung mana yang enak, jadi kupikir beli masing-masing dua buah untuk setiap jenis saja, tapi ternyata jadinya sebanyak itu."


Sebelum ke minimarket tadi aku berniat memborong karena terbawa suasana, dan meski aku pikir tidak mungkin benar-benar memborongnya... hasilnya malah jadi seperti ini.


"Jangan dipaksakan makannya ya."


"Nggak kok. Akan kumakan. Terima kasih."


Melihat Aoi-san tersenyum lebar, aku refleks memalingkan wajah. Aku jujur merasa senang dia bahagia karena hal sepele begini... tapi aku juga malu.


"Are-are~? Jangan-jangan Akira-kun malu ya karena diberi ucapan terima kasih?"


"Siapa yang malu!"


"Masa sih~? Wajahmu merah lhooo."


Izumi terus menggodaku dengan gigih.


"Sudah ah, camilannya juga sudah ada, ayo kita belajar!"


"Siap! Semua persiapannya sudah beres kok."


Aku menyusul mereka berdua yang membawa camilan kembali ke ruang tamu. Saat aku melirik ke meja untuk segera mulai belajar, bungkus Sakuramochi yang tadi sudah kosong melompong.


"......"


"Ada apa?"


"Tidak, bukan apa-apa."


Aku sudah lelah untuk protes.


"Ngomong-ngomong, siapa yang akan mengajari Aoi-san?" tanyaku sambil duduk melingkari meja.


Hampir saja aku lupa kalau tujuan utama kamp belajar ini adalah meningkatkan kemampuan akademik Aoi-san. Mengejar ketertinggalan di paruh pertama semester agar mendapat nilai bagus di ujian akhir, demi memperbaiki kesan para guru.


"Kita semua ajari dia saja. Sekalian jadi bahan ulasan buat kita juga kan?"


"Benar juga."


Akhirnya, kamp belajar pun dimulai. Kami memulai dari bagian paling awal buku cetak, alias halaman pertama. Untuk persiapan ujian akhir semester, harusnya kami cukup belajar materi yang diujikan saja, tapi karena Aoi-san sibuk kerja paruh waktu dan banyak bolos, kami harus mengulang dari nol agar dia bisa mengerjakan soal ujian nanti. 


Kami pun mengesampingkan pelajaran kami sendiri demi mengajari Aoi-san. Awalnya kukira akan sulit, tapi ternyata tidak sesusah itu. Sepertinya Aoi-san sebenarnya pintar, hanya saja dia tidak masuk kelas; dia bisa memahami apa yang kami ajarkan dengan baik. 


Meski memang karena diajari oleh tiga orang sekaligus, kemajuannya tetap di luar dugaan. Semakin aku mengenal Aoi-san, semakin aku terkejut dengan perbedaannya dari kesan awal dulu. Kalau begini, ujian akhir semester pasti lancar.


Setelah itu, kami terus mengajari Aoi-san sambil aku dan Eiji bergantian mandi dan istirahat. Tanpa terasa jarum jam sudah melewati tengah malam, dan kami terus belajar sampai lupa waktu.


"......Nghhh..."


Sepertinya mereka benar-benar kelelahan karena terlalu bersemangat.


Begitu jam menunjukkan pukul satu dini hari, Izumi menjadi orang pertama yang tumbang. Dia tertidur telungkup di meja, tapi anehnya, tangannya masih merogoh ke dalam bungkus camilan—sebuah bukti pertarungan sengit antara rasa lapar dan rasa kantuk. Pilih salah satu dong, mau makan atau mau tidur. Bahkan Izumi yang hebat pun sepertinya tidak sanggup makan sambil tidur.


"Sepertinya sudah waktunya kita sudahi.” 


"Setuju. Masih ada besok dan lusa.” 


"Iya. Terima kasih semuanya."


Aoi-san meletakkan pulpennya, lalu membungkuk sopan kepada Eiji dan Izumi yang sedang tertidur.


"Akira, aku dan Izumi sebaiknya tidur di mana?"


"Kasur orang tuaku kosong, pakai saja. Kamar tidurnya ada di ruangan paling ujung."


"Terima kasih. Kami pakai ya."


Eiji kemudian mengangkat Izumi dengan gaya bridal carry.


"Selamat malam. Sampai jumpa besok."


"Yo. Selamat malam."


"Selamat malam."


Setelah mengantar mereka berdua, tinggallah aku dan Aoi-san di ruang tamu. Padahal biasanya kami memang hanya berdua, tapi entah kenapa ada atmosfer canggung yang mengalir di antara kami.


"Ayo kita bereskan sedikit lalu tidur."


"Iya. Tapi sebelum itu..."


"Hm? Ada apa?"


Aoi-san berjalan cepat menuju kulkas dan membuka pintunya. Dia mengeluarkan dua buah puding yang tadi kami beli.


"Kalau tidak keberatan, mau makan ini bersama sebelum tidur?"


"Tentu saja. Boleh."


"Terima kasih."


Sambil menyunggingkan senyum yang tampak bahagia, dia duduk di sampingku. Saat aku membuka tutupnya dan menyuapkan puding itu, rasa manis yang pas langsung menyebar di dalam mulut.


"Enak."


"Iya. Sudah lama tidak makan ini, ternyata enak ya."


"Sebenarnya aku juga sudah lama tidak makan puding."


"Oya?"


"Dulu saat hubungan orang tuaku masih baik, Ayah sering membelikan puding sepulang kerja. Aku sangat suka memakannya bertiga bersama keluarga setelah mandi."


Aoi-san memasang ekspresi nostalgia. Dia sedang mengenang kembali memori indah bersama orang tuanya.


"Maaf ya, malah membicarakan hal yang suram. Sebenarnya bukan itu yang ingin kukatakan, tapi... aku merasa bahagia karena bisa makan puding bersama seseorang lagi seperti ini. Anu, jadi... aku akan senang jika ke depannya kita bisa makan puding bersama lagi."


"Aoi-san..."


Aku merasa senang karena akulah "seseorang" yang dia maksud. Namun di saat yang sama, aku juga merasa sedih meratapi nasibnya. Jika dia menganggap waktu yang kami habiskan bersama ini sebagai sebuah kebahagiaan, maka...


"Tentu saja. Kalau perlu, ayo kita makan bersama setiap hari. Bukan cuma puding, beri tahu aku makanan apa lagi yang kamu suka. Mulai sekarang, ayo kita lakukan banyak hal yang menurutmu menyenangkan."


"Iya. Terima kasih."


Jika aku bisa melihat senyuman ini lagi, aku rela mendukungnya sebanyak apa pun. Aku benar-benar merasakannya dalam hati.


"Lalu, ada satu hal lagi..."


"Satu lagi?"


"Terima kasih sudah memikirkan banyak hal untukku," ucap Aoi-san dengan nada yang tiba-tiba menjadi formal.


"Tentang kamp belajar hari ini, juga soal berdiskusi dengan Izumi-san dan Eiji-kun agar aku bisa punya teman. Aku sudah lama ingin berterima kasih, tapi aku belum menemukan waktu yang tepat untuk bicara serius."


Mendengar kata-katanya, tak heran jika hatiku merasa sangat tersentuh.


"Waktu Ibu pergi aku sangat terpukul, aku tidak menyangka bisa menjalani hari-hari yang menyenangkan seperti ini. Ini semua berkat bantuan Akira-kun. Benar-benar terima kasih."


Melihat Aoi-san yang berbicara dengan senyum tenang, aku tersadar. Apa yang kulakukan selama ini ternyata tidak sia-sia dan tidak merepotkan baginya.


"Aku selalu dibantu oleh Akira-kun, aku ingin membalas budi... tapi aku tidak pandai memasak, dan hal yang bisa kulakukan hanya bersih-bersih rumah. Aku merasa tidak enak..."


"Itu sudah cukup. Yang terpenting bagiku adalah Aoi-san bisa menjalaninya dengan bahagia."


"Iya... tapi, kalau ada yang bisa kubantu, tolong katakan apa saja ya."


"Tentu. Terima kasih."


Begitulah malam pertama kamp belajar berlalu. Seperti kata Eiji, aku akan menghargai apa yang ada di depan mataku sekarang.



Kamp belajar pun berlanjut pada hari Sabtu dan Minggu. Kami belajar bersama, makan bersama, dan jalan-jalan santai di sekitar rumah untuk menyegarkan pikiran. 


Karena dilakukan bersama-sama, kami tidak malas-malasan seperti saat belajar sendiri, dan kemajuannya jauh lebih efektif dari dugaan. Artinya, kemampuan akademik Aoi-san meningkat drastis. Ketertinggalan materi selama setengah semester hampir bisa dikejar di hari terakhir. 


Tentu belum sepenuhnya tuntas, tapi masih ada waktu satu minggu lagi. Jika kami terus belajar dan mengadakan kamp lagi di akhir pekan depan tepat sebelum ujian, sepertinya akan sempat.


Dan pada malam hari ketiga, yang merupakan hari terakhir...


"Kalau begitu, kami pulang dulu ya."


"Seru banget! Akhir pekan depan kita lakukan lagi ya!"


Aku dan Aoi-san mengantar mereka berdua sampai ke depan pintu.


"Terima kasih banyak ya, kalian berdua."


"Nggak perlu makasih segala. Kan kita teman ♪" jawab Izumi ceria kepada Aoi-san.


"Sampai jumpa besok di sekolah ya."


"Iya. Ah, benar juga—"


Lalu, Izumi seolah baru mengingat sesuatu dan mulai mengobrak-abrik tasnya.


"Ini, Akira-kun."


Dia menyodorkan sebuah kantong kertas berwarna cokelat.


"Apa ini?"


"Aku membelinya karena merasa Akira-kun membutuhkannya sekarang, tapi aku hampir lupa memberikannya."


Sambil bertanya-tanya apa isinya, aku membuka kantong itu.


"Tunggu sebentar—!"


Begitu menyadari apa isinya, aku buru-buru memasukkannya kembali ke dalam kantong dengan panik.


"Akira-kun, isinya apa?"


"Ah, b-bukan apa-apa!"


Aku menyembunyikannya di balik punggung agar tidak diintip oleh Aoi-san. Isinya adalah produk karet alias kontrasepsi yang biasa digunakan pasangan saat ingin "melakukannya".


"Sedia payung sebelum hujan, kan!" seru Izumi.


"Guh..."


Izumi mengedipkan sebelah mata sambil mengacungkan jempol kanannya dengan mantap. Rasanya ingin sekali aku memprotes atau membalas perkataannya... tapi di depan Aoi-san, aku tidak boleh bereaksi berlebihan agar tidak memancing kecurigaan. Aku pun menelan kembali kata-kata yang sudah sampai di ujung tenggorokan.


"Dah dadah~ ♪"


Begitulah, kamp belajar kami berakhir dengan godaan dari Izumi. Untuk sementara, barang ini akan kusimpan jauh-jauh di bagian dalam lemari.



Setelah itu, aku dan Aoi-san terus melanjutkan belajar ujian setiap malam hanya berdua. Karena sudah mendekati hari H, Aoi-san izin libur dari kerja paruh waktunya di kafe untuk fokus belajar.


Rutinitas kami adalah: sepulang sekolah, Aoi-san belajar sendiri sementara aku memasak makan malam. Setelah makan dan mandi selesai, aku akan mengajarinya bagian-bagian yang tidak dia mengerti. Hari-hari seperti itu terus berlanjut hingga suatu malam, dua hari sebelum periode ujian dimulai.


Aku terbangun tengah malam karena ingin ke toilet. Saat itu, aku melihat pintu kamar Hiyori yang digunakan Aoi-san sedikit terbuka, dan cahaya lampu merembes dari sana.


"Aoi-san... apa dia masih belajar sampai jam segini?"


Padahal tadi kami sudah belajar bersama sampai lewat tengah malam, dan aku sudah menyuruhnya tidur... Ternyata dia masih lanjut terus setelah itu.


Setelah dari toilet, aku melangkah ke ruang tamu. Jarum jam dinding menunjukkan waktu sudah lewat pukul dua pagi. Aku berniat membawakannya sesuatu, jadi aku mengambil teh dari kulkas dan menuangkannya ke dalam dua gelas. Aku meletakkannya di nampan bersama cokelat yang kubeli sebagai stok, lalu meninggalkan ruang tamu.


Aku berdiri di depan kamar Aoi-san, mengetuk pelan, lalu membuka pintunya.


"Semangat ya. Boleh aku ganggu sebentar?"


"Maaf ya. Apa aku membangunkanmu?"


Aoi-san menghentikan tangannya, tampak sedikit terkejut.


"Nggak kok, aku bangun karena mau ke toilet terus lihat lampunya masih menyala."


"Begitu ya."


"Tadinya aku takut mengganggu, tapi karena kamu kerja keras sampai larut, ini aku bawakan sesuatu. Mau minum teh sebentar untuk istirahat? Aku juga bawa cokelat kalau-kalau kamu lapar."


"Terima kasih. Kebetulan aku memang baru mau istirahat."


"Kalau begitu, boleh aku temani sebentar?"


"Iya, tentu saja."


Aoi-san meletakkan pulpennya di meja dan mempersilakanku duduk di sampingnya. Aku meletakkan nampan di meja lalu duduk di sebelahnya.


"Bagaimana progres belajarnya?"


"Lumayan lancar. Karena semuanya sudah meluangkan waktu untuk mengajariku, aku juga ingin melakukan yang terbaik sebentar mampu. Meski mungkin belum bisa langsung dapat nilai bagus."


"Begitu ya..."


Dari ekspresi Aoi-san saat mengatakannya, terlihat tekad yang kuat. Aoi-san adalah tipe orang yang tidak punya banyak ambisi. Kurasa dia bukan tipe yang akan memaksakan diri belajar hanya demi mendapat nilai bagus. Alasan dia berjuang sekeras ini pasti karena keinginan besar untuk membalas budi baik kami. Sepertinya aku sudah mulai bisa memahaminya.


"Tapi, ada bagian yang aku belum paham."


Aku melirik buku cetak dan catatan yang terbuka di atas meja.


"Matematika ya? Ada berapa soal?"


"Dua... atau tiga soal."


"Kalau begitu, biar aku ajari sekarang."


"Jangan... aku jadi tidak enak merepotkanmu."


"Sudahlah, jangan sungkan. Kamu sudah hebat belajar sampai larut begini, tapi kalau terlalu malam nanti malah berpengaruh ke besok. Selesaikan bagian yang tidak kamu mengerti, lalu kita tidur setelah ini."


Mendengar usulku, Aoi-san mengangguk pelan meski masih merasa sungkan.


"Terima kasih. Kalau begitu, tolong ya?"


"Tentu. Mari kita lihat..."


Tepat saat aku hendak mengintip buku cetaknya...


"Ah..." gumam Aoi-san pelan.


"Hm? Ada apa?"


Sambil bertanya, aku menoleh dan langsung menyadari alasan Aoi-san bergumam. Di sana, wajah Aoi-san yang tampak terkejut dengan pipi yang merona merah berada sangat dekat dengan wajahku.


"M-maaf!"


Sepertinya karena aku terlalu fokus ingin melihat isi buku cetak, wajahku jadi terlalu dekat dengannya. Kalau tadi aku menoleh dengan gerakan cepat, mungkin kecelakaan (ciuman) sudah terjadi. Sayang sekali—eh, maksudku berbahaya. Aku buru-buru menarik diri dan menjauhkan wajah.


"Nggak apa-apa kok. Aku yang... maaf ya."


Melihat sosoknya yang malu dan gugup membuat dadaku terasa sesak. Gawat, gawat. Sekarang ini waktunya belajar, bukan waktunya baper. Aku meminum teh dan memakan cokelat untuk mengalihkan perasaan.


"Oke, ayo kita mulai!"


"Iya."


Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berdoa agar semua kerja keras ini membuahkan hasil yang baik. Dan begitulah, malam pun semakin larut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close