NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Rapat Strategi Bersama Teman yang Bisa Diandalkan

Awal minggu itu, riak keterkejutan melanda seisi kelas saat Aoi-san datang sekolah. Wajar saja, tiba-tiba muncul sosok kecantikan berambut hitam yang anggun dan tak dikenal, reaksi mereka tentu sangat heboh. 


Suasana kelas mendadak seperti kedatangan murid pindahan, namun begitu Izumi meneriakkan namanya dan memeluknya dengan antusiasme tinggi, barulah teman-teman sekelas menyadari bahwa sosok itu adalah Aoi-san.


Kelas tidak pernah seriuh ini sejak Izumi berteriak "Aku sayang kamu!" kepada Eiji di dalam kelas sesaat setelah masuk sekolah dulu. Terlepas dari itu, wajar jika semua orang kaget. Tidak ada yang menyangka bahwa si cantik berambut hitam yang anggun itu adalah Aoi-san yang dulunya gyaru berambut pirang.


Melihat perubahan Aoi-san, reaksi teman-teman sekelas pun beragam. Ada murid yang langsung mengajaknya bicara seperti Izumi, ada siswa laki-laki yang berbisik-bisik dari jauh dengan tatapan kagum bercampur sedikit rasa bersalah, dan ada juga yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Berkat Izumi—yang sangat didukung di kelas—menyapa Aoi-san, beberapa murid mulai menunjukkan reaksi positif, namun sebagian besar masih memandang Aoi-san dengan tatapan dingin. Ternyata, hanya dengan menghitamkan rambut tidak serta-merta mengubah pandangan semua orang. Aku sudah tahu hal itu, tapi setidaknya ini harus diperbaiki secara bertahap. 


Sambil memikirkan hal itu, beberapa hari kemudian sepulang sekolah...


"Eiji, Izumi, kalian mau minum apa?"


"Aku kopi saja."


"Aku mau teh yang diseduh pakai poci ya~ ♪"


"Di rumahku tidak ada poci, tahu..."


"Ya sudah, teh apa saja boleh."


Aku mengundang Eiji dan Izumi ke rumahku.


"Oke. Tunggu sebentar ya."


"Akira-kun, aku bantu ya," tawar Aoi-san.


"Terima kasih."


Aku memilih gelas di dapur dan menuangkan minuman untuk empat orang. Setelah membawanya ke ruang tamu bersama Aoi-san, kami duduk melingkari meja.


"Jadi, ada apa nih?" tanya Izumi sambil memegang gelas dengan kedua tangannya.


"Aku ingin berdiskusi dengan kalian berdua soal masa depan Aoi-san."


Tentu saja aku sudah mendapat persetujuan Aoi-san. Saat aku bilang di mal kalau aku 'ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi Aoi-san', itu adalah hal yang sangat mengejutkan baginya. 


Untuk berdiskusi dengan mereka berdua, aku merasa perlu bicara lagi dengan Aoi-san. Jika dia merasa itu merepotkan, aku tidak akan melakukan hal yang tidak perlu. Tapi jika dia tidak keberatan, aku ingin merundingkan langkah selanjutnya dengan mereka. Dan setelah bicara, Aoi-san mengangguk setuju.


Seperti yang dikatakan Eiji sebelumnya, aku memang tidak tahu isi hati Aoi-san yang sebenarnya. Aku tidak punya kemampuan untuk mengintip ke dalam hatinya, dan aku tidak cukup pandai bicara untuk memancing kejujurannya tanpa menyakitinya. Namun, ini adalah hasil dari usahaku berdialog dengannya. Jika Aoi-san mau menerimanya, kurasa inilah yang terbaik.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku ingin memperbaiki situasi Aoi-san. Aku sudah memikirkan apa yang harus dilakukan, dan aku ingin mendengar pendapat kalian."


"Baiklah. Coba ceritakan," dorong Eiji dengan ramah.


Aku melanjutkan penjelasanku.


"Secara garis besar, kurasa ada dua masalah. Pertama, kesan buruk dari siswa maupun guru terhadap Aoi-san. Melihat kehidupan sekolahnya selama ini, itu hal yang wajar... tapi aku ingin mereka tahu bahwa dia sebenarnya bukan anak nakal atau gyaru, melainkan gadis biasa yang rajin."


Jika kesalahpahaman itu luntur, jarak antara semua orang dengan Aoi-san pasti akan mengecil. 


Tentu saja, akan tetap ada orang yang tidak menyukainya, tapi mustahil untuk disukai semua orang. Setidaknya, jika orang yang memahami Aoi-san bertambah satu saja, itu sudah cukup.


"Begitu ya. Memang itu hal yang diperlukan agar Aoi-san bisa menikmati masa muda seperti orang normal.”


"Lalu, masalahnya adalah apa langkah konkret yang harus dilakukan untuk melunturkan kesalahpahaman itu."


"Iya ya~ Itu dia masalahnya~" 


Izumi memasang wajah serius.


"Aku punya satu ide, dan aku butuh bantuan Izumi."


"Aku? Apa, apa?"


"Izumi, kamu kan ketua kelas dan dipercaya semua orang. Jika kamu berinisiatif menjalin hubungan baik dengan Aoi-san, kesan orang di sekitarmu setidaknya akan berubah. Selama ini kamu sudah mencoba akrab dengannya, tapi mulai sekarang aku ingin kamu lebih sadar untuk menjadi jembatan antara dia dan yang lain. Hanya saja..."


"Hanya saja? Apa?"


"Ini ada risikonya buatmu. Bergantung pada sudut pandang orang, ketua kelas yang akrab dengan murid 'bermasalah' bisa dianggap buruk. Aku tidak bisa menjamin ini tidak akan berdampak negatif padamu."


Aku yakin Izumi tidak akan peduli, dan selama ini pun dia bertindak tanpa memedulikan hal itu. Namun, sebagai orang yang meminta tolong, kurasa aku harus menjelaskannya dengan benar.


"Haaa? Kalau cuma soal itu sih, jelas aku mau!" jawab Izumi seketika, seolah merasa tersinggung karena aku meragukannya.


"Aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan, tidak peduli apa kata orang lain. Alasanku terus mengajak Aoi-san bicara selama ini ya karena aku memang ingin akrab dengannya. Orang-orang yang berani melabeli orang lain sebagai anak nakal hanya dari penampilan tanpa mengenalnya lebih dulu, lebih baik 'pergi jauh-jauh' sana. Lagipula—"


Izumi menatap Aoi-san dengan senyuman lebar.


"Kita kan sudah berteman. Iya kan, Aoi-san? ♪"


Dibilang teman secara langsung seperti itu, Aoi-san mengusap rambutnya dengan malu-malu.


"Iya. Teman. Terima kasih."


"Hehehe~ ♪"


Meskipun begitu, dia membalas senyuman Izumi dengan mantap. 


Baguslah, Aoi-san... kalau begini sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Tapi sejujurnya, kurasa itu saja tidak cukup untuk menghilangkan kesalahpahaman terhadap Aoi-san. Terutama untuk para guru, kurasa cara yang sama dengan teman sekelas tidak akan mempan. Jika ada ide lain, aku ingin mendengarnya..."


Semua yang ada di sana pun terdiam untuk berpikir.


"Kalau begitu, kurasa kuncinya adalah prestasi akademik," ucap Eiji setelah beberapa saat sambil mengangguk yakin.


"Kurasa kesan teman sekelas, seperti yang dikatakan Akira, bisa membaik secara bertahap tergantung bantuan Izumi dan kami. Tapi kalau untuk mengubah kesan guru, kurasa cara yang paling mudah dimengerti adalah dengan menaikkan nilai akademik."


Begitu ya. Memang itu ide yang bagus.


Bagi guru, meski hasil ujian bukan segalanya, itu adalah salah satu elemen utama dalam menilai murid. Sebaik apa pun perilaku seseorang, jika nilainya buruk, dia tidak akan dianggap sebagai murid teladan, begitu pula sebaliknya. Jika perilakunya baik tapi nilainya hancur, dalam artian tertentu dia akan tetap dianggap sebagai murid yang bermasalah.


Aoi-san perlu memperbaiki keduanya: perilaku dan kemampuan akademik.


"Ngomong-ngomong Aoi-san, bagaimana hasil ujian tengah semestermu kemarin?"


"Anu......"


Saat ditanya, Aoi-san menggantungkan kalimatnya dengan canggung. Dari reaksinya saja aku sudah bisa menebak gambaran besarnya, tapi...


"Kecuali satu mata pelajaran, sisanya semua dapat nilai merah, jadi kelas remedialnya sangat berat......"


“”"Kecuali satu mata pelajaran......"””


Suara aku, Eiji, dan Izumi bersahutan menggema di ruang tamu.


Aoi-san tampak sangat malu sampai ingin menghilang, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. 


Begitu ya. Saat salah paham dibilang pacar di salon, atau saat insiden pakaian dalam kemarin, sepertinya Aoi-san punya kebiasaan menutupi wajah dengan tangan jika benar-benar merasa malu.


"Wajar saja karena kamu harus bolos sekolah untuk kerja paruh waktu demi membantu keluarga! Malah menurutku hebat kamu bisa meloloskan satu mata pelajaran dari nilai merah!"


"......Iya."


"Tenang saja, mulai sekarang kita berjuang bareng!"


Aku mencoba menghiburnya sekuat tenaga, tapi rasanya apa pun yang kukatakan malah jadi bumerang. Aku teringat saat tertangkap basah memegang cucian pakaian dalam milik Aoi-san. Sepertinya di saat-saat kritis begini, semakin aku mencoba menghibur, semakin banyak blunder yang keluar dari mulutku.


Aoi-san tampak meringkuk seolah ingin masuk ke dalam lubang jika ada....Serius, apa yang kulakukan semenit yang lalu?


"Tenang saja! Kalau soal belajar aku jagonya, nanti aku yang ajari!"


Izumi, nice assist!


Seolah menghancurkan atmosfer canggung itu, Izumi bersuara dengan penuh percaya diri. 


Benar juga. Meski Izumi terlihat seperti hanya punya modal semangat saja, sebenarnya dia pintar. Sejak SMP dia selalu masuk peringkat atas di ujian rutin, dia jadi ketua kelas bukan cuma karena modal tampang atau kepopuleran.


"Bukan cuma Izumi dan Aoi-san saja, bagaimana kalau kita semua belajar bareng? Kebetulan rumah Akira sangat cocok untuk tempat kumpul kita semua. Kurasa seru juga kalau kita mengadakan kamp belajar."


"Ide bagus! Belajar bareng sambil menginap sepertinya seru!"


Izumi menanggapi usul Eiji dengan antusias.


"Kalau rumahku boleh, aku akan menyediakan tempatnya."


"Ah, dan satu lagi——"


Tanpa membuang waktu, Izumi bertepuk tangan seolah baru saja mendapat ide.


"Kalau ingin memperbaiki kesan di mata guru, bagaimana kalau ikut kegiatan bakti sosial?"


"Bakti sosial?"


Itu usul yang tak terduga.


"Iya. Sebenarnya aku ikut kegiatan sukarelawan yang diadakan sekolah, tapi aku kesulitan karena jarang ada yang mau ikut. Kalau ikut ini, kurasa kesan guru terhadapmu akan sangat membaik."


Ah, aku ingat saat baru masuk sekolah dulu, guru pernah membicarakan hal itu di jam perwalian. Karena tidak tertarik, aku hanya mendengarkannya sambil lalu, tapi ternyata Izumi ikut ya. 


Aku sudah tahu kalau dia sangat suka menolong, tapi ternyata kadar suka menolongnya tidak terbatas pada orang terdekat saja. Apa dia di kehidupan sebelumnya adalah Nightingale atau Bunda Teresa?


"Sukarelawannya seperti apa?"


"Banyak hal. Ada bersih-bersih lingkungan, mengunjungi panti jompo, atau ke panti asuhan untuk menemani anak kecil bermain dan mengajari mereka belajar. Ada setiap hari Minggu, tapi karena sifatnya sukarela, kita bisa ikut saat tidak ada rencana saja."


Memang benar, ikut kegiatan bakti sosial sekolah adalah ide yang sangat bagus. Itu adalah tindakan yang sangat mencerminkan "murid teladan", dan para guru pasti akan terkejut jika Aoi-san ikut. Selain itu, berinteraksi dengan guru di luar jam pelajaran adalah cara tercepat agar mereka mengenal kepribadian asli seseorang.


"Tentu saja, kalau Aoi-san tertarik. Aku tidak akan memaksamu."


"Bukan paksaan kok. Karena Sabtu dan Minggu aku sudah tidak mengambil kerja paruh waktu, kurasa tidak masalah. Lagipula... kalau bersama kalian sepertinya akan seru, aku ingin mencoba ikut."


"Oke! Kalau begitu nanti kita berangkat bareng ya!"


Izumi meraih tangan Aoi-san dan mengayunkannya dengan gembira. Sepertinya dia murni senang karena temannya bertambah.


"Jadi untuk saat ini, rencananya adalah dipandu Izumi kita semua membantu meluruskan kesalahpahaman teman sekelas, sambil menyiapkan ujian dan ikut bakti sosial sekolah untuk memperbaiki kesan guru, bagaimana?"


"Setuju. Mari kita pakai rencana itu."


Jujur saja, saat memikirkannya sendiri aku sempat bingung harus bagaimana, tapi anehnya saat berempat begini rasanya segalanya bisa diatasi. Memang benar, teman yang bisa dipercaya adalah harta yang paling berharga.


"Lalu, apa masalah yang satu lagi?" tanya Eiji, seolah ingin mengingatkan kami yang sedang kegirangan.


Benar. Masalahnya bukan hanya itu saja, masih ada satu lagi. Malah ini masalah yang jauh lebih besar.


"Masalah yang satu lagi adalah tentang tempat tinggal Aoi-san."


Maksudnya, di mana Aoi-san akan tinggal setelah aku pindah sekolah nanti.


"Aku hanya bisa menampungnya di rumah ini sampai Maret tahun depan. Sampai saat itu, kita harus mengamankan tempat di mana Aoi-san bisa tinggal dengan tenang. Sejujurnya, menurutku ini masalah yang jauh lebih serius."


"Benar juga. Sebanyak apa pun uang yang kita punya, kita yang masih di bawah umur tidak bisa menyewa apartemen sendiri. Akhir-akhir ini warnet pun, tergantung tempatnya, punya batasan umur yang ketat." 


"Meskipun dia punya teman, rasanya tidak ada orang lain yang tinggal sendirian senyaman aku, kan? Tapi meminta tolong tinggal di rumah Izumi atau Eiji juga sulit. Kalaupun boleh, pasti ada orang tua yang membuat Aoi-san merasa sungkan dan tidak tenang. Dia butuh tempat yang benar-benar bisa dia sebut sebagai 'rumah'."


"Iya ya~"


Sama seperti Izumi yang memasang wajah sulit, kami semua pun memeras otak memikirkan solusinya.


Sekali lagi, aku tidak bisa tidak merasakan betapa ruginya menjadi seorang pelajar tanpa kehadiran orang tua. Bagi aku atau Eiji, lingkungan yang kami anggap "wajar" ternyata tidak sewajar itu bagi orang lain. Hambatan dalam menjalani hidup seperti ini tidak akan pernah terpikirkan olehku jika aku tidak bertemu dengan Aoi-san.


Kecemasan yang dirasakan Aoi-san di tengah badai ini pasti jauh di luar imajinasi kami. Mungkin... fakta bahwa dia bisa tersenyum seperti sekarang ini pun sudah merupakan sebuah keajaiban.


"Kurasa solusi terbaik adalah meminta bantuan keluarga Aoi-san." 


"Lho, kan justru karena dia nggak punya keluarga makanya ini jadi masalah," balasku refleks. Namun, Eiji menahanku dengan tangan, seolah sedang menasihatiku.


"Keluarga itu kan bukan cuma orang tua saja? Aoi-san, apa kamu punya saudara atau kakek-nenek?"


Benar juga, perkataan Eiji ada benarnya. Karena terlalu pusing memikirkan hal yang sulit, hal sesederhana itu sampai tidak terpikir olehku. Namun, saat aku menatap Aoi-san dengan penuh harap, ekspresinya justru mendung.


"Kurasa aku punya kerabat, tapi sejak dulu kami tidak pernah berinteraksi... Aku pernah bertemu nenek dari pihak ibu, tapi itu waktu aku masih kecil, jadi aku tidak tahu di mana rumahnya."


"Apa kamu tahu setidaknya di daerah mana beliau tinggal?"


Aoi-san menggelengkan kepalanya pelan.


"Setidaknya aku tahu itu bukan di kota ini."


"Begitu ya..."


Harapan kecil itu sirna dalam sekejap. Padahal aku berpikir, meski tidak ada orang tua, jika ada kerabat yang bisa menjadi wali atau tempat bernaung, pasti akan ada jalan keluarnya.


Tapi, tunggu sebentar—


"Mengetahui bahwa nenekmu masih ada saja sudah merupakan sebuah kemajuan. Meski sekarang kamu belum ingat di mana rumahnya, siapa tahu nanti ada pemicu yang membuatmu ingat. Tidak ada ruginya berusaha mencari," kataku, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri daripada sekadar menghibur Aoi-san.


Benar. Itu jauh lebih baik daripada tidak punya petunjuk sama sekali.


"Oke, sudah diputuskan. Pertama-tama, kita jalankan rencana untuk meluruskan kesalahpahaman tentang Aoi-san."


"Siap," sahut Eiji.


"Okee~ ♪"


"Semuanya, terima kasih," ucap Aoi-san sambil tersenyum.


Ekspresinya kini sudah jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali dia datang ke rumahku.



Mulai keesokan harinya, Izumi segera memimpin pergerakan untuk meluruskan kesalahpahaman terhadap Aoi-san. Meski kusebut "pergerakan", yang dilakukannya bukanlah hal yang muluk-muluk.


Misalnya, Izumi mengajak Aoi-san saat makan siang bareng teman-temannya, mengajaknya mampir saat pulang sekolah, atau memanggilnya saat pembagian kelompok di kelas.


Singkatnya, dia memulai dengan memperbanyak interaksi Aoi-san dengan teman sekelas.


Tentu saja awalnya teman-teman sekelas merasa bingung. Namun, berkat kemampuan komunikasi Izumi yang luar biasa (dan sedikit gila), perlahan-lahan kewaspadaan teman-teman mulai luntur, dan Aoi-san pun mulai bisa ikut dalam percakapan sedikit demi sedikit.


Aku dan Eiji, karena kami laki-laki, merasa tidak baik jika terlalu agresif mendekat karena takut terlihat tidak alami. Jadi, kami tetap bersikap biasa saja seperti kepada teman sekelas lainnya.


Ini adalah aktivitas yang sederhana, tapi anehnya sangat berhasil. 


Tentu itu berkat kekuatan Izumi, tapi juga berkat usaha Aoi-san sendiri. Melihat Aoi-san yang aslinya pemalu mencoba untuk proaktif berbicara benar-benar menyentuh hatiku. Meski masih ada beberapa murid yang bersikap dingin, itu bukan masalah besar.


Seperti yang kupikirkan sebelumnya, tujuannya bukan untuk disukai semua orang, tapi cukup dengan menemukan sebanyak mungkin orang yang mau menjadi teman Aoi-san. Kalau ada satu hal yang merepotkan, itu adalah...


Banyak murid laki-laki yang mendengar rumor tentang "Si Cantik Berambut Hitam" tiba-tiba muncul di kelas kami, dan mereka selalu datang mengintip setiap jam istirahat. Bukannya aku cemburu, tapi... serius, mereka sangat mengganggu. Rasanya ingin kuusir semuanya, tapi karena Izumi sudah melakukannya mewakiliku, aku tidak perlu turun tangan. Lagipula kalau aku yang maju, urusannya bakal makin ribet.


Eiji tertawa geli melihatku yang tampak kesal sendiri.



Begitulah hari-hari kami berlalu, hingga tiba di hari Minggu...


"Di sinilah fasilitas yang akan kita kunjungi hari ini."


Aku, Aoi-san, dan Izumi mendatangi sebuah panti asuhan di dalam kota. Sehari setelah Izumi mengusulkan kegiatan bakti sosial, dia langsung melapor ke guru, dan jadilah kami di sini. Kecepatan gerak Izumi memang mencengangkan.


Di lokasi, ada guru pembimbing dan sekitar sepuluh siswa lainnya. Ternyata peminatnya lumayan banyak. Oh ya, Eiji tidak ikut karena ada urusan lain.


"Seperti yang kubilang di jalan tadi, di sini tinggal anak-anak mulai dari TK sampai SMP yang karena berbagai alasan tidak bisa tinggal bersama orang tua mereka. Kami rutin datang untuk membantu mereka belajar, menemani bermain, atau memberikan kado sumbangan saat Natal."


Menurut Izumi, panti seperti ini ada banyak di prefektur kami. Aku kaget mengetahui ternyata ada begitu banyak anak yang tidak bisa tinggal bersama orang tua, tapi mungkin memang banyak keluarga yang bermasalah di luar sana tanpa kita sadari.


Kenyataannya, Aoi-san pun berada dalam situasi yang mirip. Itulah kenapa aku sempat ragu—apakah membawa Aoi-san ke sini benar-benar pilihan yang tepat?


Saat Izumi memberitahu lokasinya, aku sempat berdiskusi apakah sebaiknya dibatalkan saja, tapi yang mengejutkan, justru Aoi-san sendirilah yang memilih tempat ini dari sekian banyak pilihan tempat kunjungan.


"Jadi, apa tugas kita hari ini? Mengajar atau menemani main?"


"Hari ini menemani main. Kadang pengurus panti membuatkan acara rekreasi, tapi hari ini sepertinya kita cuma perlu menemani anak-anak melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan sepuasnya."


Selagi kami mengobrol, guru memanggil kami dan mengarahkan kami ke sebuah ruang rekreasi yang cukup luas.


Begitu kami masuk ke dalam, anak-anak kecil langsung berlarian mengerubungi Izumi dan murid-murid lainnya.


"Halo semuanya, kangen tidak~? ♪"


Izumi mulai bercanda dengan anak-anak dengan semangat tinggi.


"Oke! Kalau begitu, ayo kita langsung main bareng!"


Dan begitulah, sesi menemani anak-anak dimulai.


Atas ajakan Izumi, aku mulai bermain petak umpet dengan anak-anak SD, sementara murid laki-laki lainnya bermain sepak bola dengan anak-anak SMP. Aoi-san, bersama murid perempuan lainnya, mulai menemani anak-anak TK.


Tiga puluh menit setelah mulai bermain...


"Izumi... aku... istirahat sebentar ya..."


Aku yang sudah kelelahan karena main petak umpet dengan kekuatan penuh, bicara pada Izumi sambil terengah-engah.


"Iya. Aku masih mau lanjut menemani mereka sebentar lagi."


"Oke. Kamu juga jangan dipaksakan ya."


Aku menjawab lalu keluar dari lingkaran permainan.


Jujur, aku meremehkan mereka hanya karena mereka anak SD. Stamina macam apa yang mereka punya itu? Tak terbatas sekali. 


Awalnya aku pikir main petak umpet dengan anak-anak itu perkara gampang, tapi seiring berjalannya waktu, perbedaan stamina kami terlihat jelas. Di paruh kedua, aku terus-terusan diincar saat sudah capek sampai hampir terus-terusan jadi "penjaga" dalam situasi yang mengenaskan. Bagi aku yang anak ekskul rumahan, menemani anak-anak yang sedang aktif-aktifnya ternyata tugas yang berat.


Sambil mengatur napas, aku menjauh dan mencari tempat untuk istirahat. Lalu, mataku bertemu dengan Aoi-san yang sedang bermain rumah-rumahan dengan anak-anak TK. Menyadari keberadaanku, Aoi-san tersenyum dan melambai kecil.


"Main petak umpetnya sudah selesai?"


"A-ah, iya. Aku pikir mau coba main sama anak-anak yang lain juga."


Aku terlalu malu untuk mengaku kalau aku kalah telak soal stamina dari anak kecil.


"Begitu ya. Kalau begitu mau bergabung?"


"Boleh, aku ikut ya."


Aku duduk di antara Aoi-san dan anak-anak perempuan kecil itu. Seketika, semua mata anak-anak perempuan itu tertuju padaku. Mata bulat mereka menatapku lekat-lekat. Entah kenapa aku merasa terintimidasi...


"Nee, nee."


"Hm? Ada apa?"


Anak perempuan di sampingku menarik lengan bajuku sambil mendongak.


"Onii-chan ini pacarnya Onee-chan ini ya?"


"P-p-pacar—!?"


Apa-apaan anak ini, tiba-tiba sekali bicaranya!


Lalu, mata polos tanpa dosa itu menatapku seolah menuntut jawaban. Jangan-jangan semua anak ini menantikan jawabanku? Anak TK zaman sekarang... terlalu dewasa pemikirannya... Saat aku sedang gelagapan mencari jawaban...


"Kakak ini bukan pacarku, kok."


Aoi-san menjawab mewakiliku, membuatku bisa menghela napas lega. Tapi rasa lega itu hanya bertahan sekejap.


"Kalau begitu suaminya?"


Tanpa jeda, anak TK itu melontarkan pertanyaan yang lebih ekstrem lagi. Kalau bukan pacar berarti suami? Lompatan logikanya mengerikan sekali.


"B-bukan suaminya juga, sih..."


"Yah... padahal kalau pacar atau suami, kalian bisa jadi peran Ayah dan Ibu."


Seluruh anak TK itu tampak kecewa dan tertunduk lesu. 


Sebenarnya aku juga kecewa... biarpun memang bukan pacar, tapi Aoi-san menjawabnya cepat sekali tadi. Yah, kenyataannya memang bukan, jadi mau bagaimana lagi.


"Kakak ini memang bukan pacar atau suamiku, tapi dia adalah orang yang sangat berharga buatku... Jadi, kalau tidak keberatan, apa kami boleh jadi peran Ayah dan Ibu?"


"Boleh?"


Mendengar kata-kata Aoi-san, mata anak-anak TK itu kembali berbinar penuh harap.


"Tentu saja. Iya kan, Akira-kun?"


"O-oh. Tentu saja!"


"Horeee!"


Senyum tulus yang tidak berusaha disembunyikan itu sungguh menyejukkan hati. Aku mencamkan kata "orang yang sangat berharga" yang diucapkan Aoi-san tadi sambil bekerja keras memerankan sosok Ayah. 


Bukan pacar, bukan suami, apalagi keluarga. Tapi Aoi-san menyebutku sebagai "orang yang sangat berharga". Anehnya, hanya dengan itu, aku merasa sebutan atau status apa pun tidak jadi masalah lagi.


Awalnya kami cuma teman serumah yang terpaksa, tapi mungkin perlahan kami sudah mulai melangkah lebih dekat...


Setelah beberapa saat bermain dengan anak-anak TK, mataku tertuju pada sosok anak perempuan—mungkin kelas satu atau dua SD—yang duduk sendirian di sudut ruang rekreasi sambil menggambar.


"Anak itu... dari tadi sendirian terus," gumam Aoi-san yang ternyata juga memperhatikannya.


"Beberapa murid tadi mencoba mengajaknya bicara, tapi sepertinya dia tidak mau merespons siapa pun."


"Begitu ya..."


Apa dia anak yang sangat pemalu? Atau dia tipe yang suka menyendiri? Apa pun itu, di mataku sosoknya terlihat sangat kesepian.


"Aku akan ke sana sebentar."


"Aku ikut juga."


Namun, Aoi-san menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku akan pergi sendiri. Kalau dua orang anak SMA mendatanginya sekaligus, dia pasti akan merasa tertekan."


"Benar juga. Kamu benar."


"Maaf ya."


Aku mengantar kepergian Aoi-san menuju anak perempuan itu. Selama beberapa saat, sambil menemani anak TK bermain rumah-rumahan, aku mengawasi keadaan Aoi-san dan anak itu. Namun, seperti yang diduga, anak itu tidak merespons panggilan Aoi-san. Jangankan bicara, menatap mata Aoi-san saja dia tidak mau.


"...Ah, permisi."


Kebetulan ada seorang staf perempuan yang lewat, jadi aku memanggilnya.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Anak itu... apa dia selalu menghabiskan waktu sendirian?"


Seketika ekspresi staf itu meredup.


"Iya. Dia sudah tiga bulan di sini, tapi keadaannya selalu seperti itu. Meskipun anak-anak lain atau kami para staf mengajaknya bicara, dia tidak mau menyahut... Kami pun bingung bagaimana cara mendekatinya."


Tiga bulan... waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi mungkin terlalu singkat untuk menghapus rasa sepi seorang anak kecil yang harus tinggal terpisah dari orang tuanya. Aku pun dulu saat SD selalu kesulitan beradaptasi di kelas baru setiap kali pindah sekolah.


"Anak-anak yang datang ke sini membawa berbagai macam masalah, jadi kami pun mencoba mengubah cara pendekatan kami sesuai pribadi masing-masing... Tapi anak itu sepertinya memang tipe yang agak sulit."


"Begitu ya..."


Hal ini membuatku merenungkan arti dari kegiatan sukarelawan ini. Menemani anak-anak bermain memang penting, tapi hal terbaik adalah bisa merangkul hati anak yang terluka seperti dia... Namun, bagi kami yang tidak punya pengetahuan medis atau psikologis, kami tidak tahu caranya. Meski paham perasaannya, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Hal itu terasa sedikit menyesakkan. Sambil memikirkan hal itu, aku kembali ke lingkaran anak-anak yang lain.



Beberapa jam kemudian, waktu kunjungan pun berakhir.


Di saat guru pembimbing dan murid-murid lainnya bersiap untuk pulang, aku mencari Aoi-san. Ternyata, dia masih duduk di samping anak perempuan tadi. Sepertinya dia terus menemaninya sejak tadi. 


Tanpa melakukan hal spesifik, Aoi-san hanya terus duduk diam di sampingnya sambil memperhatikan anak itu menggambar.


"Aoi-san, katanya sudah waktunya pulang."


"Iya. Aku mengerti."


Tepat saat Aoi-san hendak berdiri...


"Eh—?"


Gadis kecil itu mencengkeram ujung baju Aoi-san.


Aku dan Aoi-san tertegun, kehilangan kata-kata sambil menatapnya.


"......Jangan pergi."


Beberapa saat kemudian, gadis itu bergumam dengan suara pelan sambil menunduk. Bisikan itu begitu halus, hampir saja luput dari pendengaran.


“"......"”


Aku dan Aoi-san refleks saling berpandangan.


Aoi-san kemudian menggenggam lembut tangan gadis kecil itu dan berkata:


"Maaf ya. Hari ini sudah harus pulang. Tapi, Kakak janji pasti akan datang main lagi ke sini."


"......Benarkah?"


"Iya. Nanti pas Kakak datang, kamu mau kan menggambar bareng Kakak?"


"Eung. Mau."


"Terima kasih. Kalau begitu, janji ya."


Aoi-san tersenyum dan mengulurkan jari kelingkingnya. Gadis kecil itu pun melingkarkan kelingkingnya sendiri, melakukan janji kelingking. Kami akhirnya meninggalkan panti asuhan sambil diantar oleh pandangan para staf dan anak-anak lainnya.



Begitulah, partisipasi pertama Aoi-san dalam kegiatan sukarelawan berakhir dengan selamat. Karena kami dibubarkan di lokasi, aku dan Aoi-san berpisah dengan Izumi untuk menempuh perjalanan pulang. Di tengah semburat warna jingga matahari terbenam yang menyelimuti kota, aku berjalan sambil memikirkan gadis kecil tadi.


"Gadis tadi, sepertinya dia masih ingin berlama-lama dengan Aoi-san ya."


"Iya. Kurasa begitu," jawab Aoi-san dengan nada yang sangat yakin.


"Tadi aku dengar dari staf, katanya dia sudah tiga bulan di panti tapi tidak pernah bicara dengan siapa pun. Makanya, jujur aku kaget melihat dia bicara padamu atas kemauannya sendiri. Aoi-san, apa yang kamu bicarakan dengannya tadi?"


"Aku tidak membicarakan apa-apa."


"Eh?"


"Aku cuma duduk di sampingnya tanpa melakukan apa-apa."


Cuma duduk di sampingnya?... Hanya dengan begitu, gadis itu bisa membuka hatinya meski hanya sedikit?


Rasanya sulit dipercaya kalau gadis yang tidak merespons seberapa pun staf atau anak-anak lain mengajaknya bicara, malah merasa nyaman pada Aoi-san yang baru menemaninya setengah hari.


Di sampingku yang masih ragu, Aoi-san melanjutkan:


"Gadis itu... menurutku dia sangat mirip denganku waktu kecil."


"Mirip denganmu?"


Sepasang matanya saat bercerita seolah sedang menatap dirinya sendiri di masa lalu.


"Waktu aku TK, kepribadianku sangat tertutup dan aku tidak punya satu pun teman. Saat itu hubungan orang tuaku sudah mulai memburuk, jadi mungkin karena itu hatiku yang masih kecil menanggung beban sendirian. Sama seperti anak itu, aku tidak menyahut meski diajak bicara dan selalu menyendiri di sudut kelas."


Mendengar ceritanya, Aoi-san saat itu memang persis seperti anak tadi.


"Tapi sebenarnya, aku merasa sangat kesepian. Aku ingin seseorang ada di sisiku. Aku ingin punya teman akrab seperti yang lain. Tapi, aku tidak bisa mengatakannya. Namun, di saat itulah..."


Aoi-san mengarahkan pandangannya pada matahari terbenam di ufuk jauh.


"Ada seorang anak laki-laki yang menyadari keberadaanku."


Ekspresinya tampak tenang, seolah sedang mengenang memori yang indah.


"Di saat semua orang mengabaikanku, hanya anak laki-laki itu yang mau berada di sisiku. Meskipun disebut berada di sisiku, dia tidak mengajakku mengobrol atau bermain bareng. Dia hanya melakukan hal yang dia sukai di sampingku. Tapi mungkin... dia ada di sana supaya aku tidak merasa sendirian."


Mendengar cerita itu, sebuah ingatan lama di dalam diriku terpanggil kembali. Aoi-san pun pasti merasakan hal yang sama dengan anak itu.


Cinta pertamaku, gadis yang selalu menyendiri di sudut ruangan. Seberapa sering pun aku mengajaknya bicara, dia tidak pernah menggubrisku. Baru setelah dia mulai sedikit bicara denganku, aku harus pindah karena tugas Ayah dan semuanya berakhir begitu saja. Ada penyesalan mendalam karena aku tidak bisa membuat gadis yang tampak kesepian itu tersenyum.


Tiba-tiba, aku teringat apa yang dikatakan Eiji di mal tempo hari.


——Akira adalah pria yang tidak akan ragu mengulurkan tangan di saat genting. 


Tidak, tidak, itu bukan hal yang luar biasa. Jika Eiji membicarakan kejadian saat itu, itu hanyalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang ingin akrab dengan gadis yang dia sukai, namun akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa—sebuah memori pahit bernama cinta pertama.


"Bagi orang di sekitar, mungkin itu pemandangan yang aneh. Tapi, bagiku hal itu saja sudah sangat membahagiakan. Makanya, aku hanya melakukan hal yang pernah dilakukan anak laki-laki itu kepadaku."


Singkatnya, karena Aoi-san pernah merasakan hal yang sama, dia bisa memahami perasaan anak itu. Dan karena dia memberikan apa yang dulu membuatnya bahagia, perasaan itu pun tersampaikan. Mungkin jika bukan Aoi-san, tidak akan ada yang bisa mendekati hati anak itu.


"Aoi-san dan anak laki-laki itu sama-sama orang yang baik ya," kataku tulus.


Mengingat situasi Aoi-san sekarang, harusnya dia tidak punya ruang untuk memikirkan orang lain. Itulah kenapa aku sempat ragu apakah membawa Aoi-san ke panti asuhan adalah ide bagus. 


Meski situasinya berbeda, aku merasa ada risiko tersendiri saat Aoi-san bertemu anak-anak dengan nasib yang mirip dengannya. Namun ternyata, Aoi-san justru bisa memedulikan anak itu. Dia terlalu baik.


"Kalau kami dianggap baik, berarti Akira-kun juga orang baik."


"Aku? Nggak lah, aku nggak sebaik itu."


"Tidak juga."


Mata Aoi-san tampak sedikit berkaca-kaca, mungkin karena pantulan cahaya matahari sore.


"Apa yang Akira-kun lakukan padaku juga sama, kan?"


"Apa yang kulakukan?"


"Di hari hujan itu, kamu menyapaku. Kamu mengajakku ke rumah tanpa menanyakan detail situasiku. Sampai sekarang pun kamu tetap bersamaku. Dibandingkan apa yang kami lakukan, Akira-kun jauh lebih baik."


Mendengar kalimat itu, ada sesuatu yang menyesak di dadaku.


Sejujurnya, aku selalu bimbang dengan apa yang kulakukan selama ini.


——Apakah pilihanku saat itu benar? 

——Apakah tidak ada cara lain yang lebih baik? 

——Bukankah orang lain akan lebih baik bagi Aoi-san daripada aku? 


Meski keraguan itu mungkin tidak akan hilang sepenuhnya, satu kalimat dari Aoi-san barusan membuat hatiku terasa jauh lebih tenang.


"......Ayo kita temui anak itu lagi nanti."


"Iya. Karena aku sudah berjanji."


Begitulah kami melanjutkan langkah menuju rumah.


Rasanya, warna matahari terbenam yang kulihat hari ini tampak jauh lebih indah daripada biasanya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close