NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V1 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7 

Arti Menjadi Sandaran bagi Seseorang

Beberapa hari berlalu, dan semester satu kini hanya menyisakan satu minggu terakhir—


Berkat kerja keras selama satu setengah bulan untuk meluruskan kesalahpahaman tentang Aoi-san, dia sudah jauh lebih membaur dengan kelas dan tidak lagi terisolasi seperti dulu. Ini berkat usaha Aoi-san sendiri dan bantuan Izumi, tapi mungkin faktor waktu juga berpengaruh; kami bergerak sebelum lingkaran pertemanan di semester satu kelas satu SMA benar-benar tertutup rapat.


Mengenai kesan di mata guru, itu semua tergantung hasil ujian, dan sebentar lagi semua nilai mata pelajaran akan dibagikan. Memikirkan bahwa target awal kami hampir tercapai membuat jantungku berdebar sejak sekarang.


"Akira-kun, maaf menunggu lama."


"Ah, iya. Kerja bagus hari ini."


Suatu hari menjelang pengumuman hasil ujian itu, aku sedang menunggu di luar kedai kopi. Sepulang sekolah, Izumi mengajakku mampir ke tempat kerja Aoi-san. Karena tidak ada alasan untuk menolak, aku ikut saja, dan akhirnya berakhir menumpang di sana sampai jam operasional berakhir seperti sekarang.


Sekadar klarifikasi, ini bukan karena aku ingin melihat Aoi-san memakai seragam lagi. Bukan juga karena seragamnya tipe rok panjang kesukaanku, dan sama sekali bukan karena aku ingin menyusup ke dalam rok panjang itu. Secara teori, begitu ya.


"Ayo pulang."


"Iya."


Kami mulai berjalan berdampingan.


"Tak terasa sebentar lagi upacara penutupan semester."


"Iya ya. Rasanya... waktu berlalu begitu cepat."


"Benar-benar cepat."


Satu setengah bulan yang lalu, sebelum bertemu Aoi-san, aku tidak pernah menyangka akan menjalani kehidupan seperti ini. Rasanya seperti baru kemarin, tapi di saat yang sama terasa seperti sudah lama sekali. Benar-benar perasaan yang aneh.


"Libur musim panas nanti sepertinya bakal banyak rencana, semoga kita bisa menikmatinya."


"Semoga saja..."


Sambil mengobrol santai, kami melangkah menuju rumah. Tepat saat kami sudah dekat dengan rumah...


"Lho? Lampu rumah menyala...?"


Apa aku lupa mematikannya? Tidak, lagipula tadi pagi aku tidak menyalakan lampu sama sekali. Kalau begitu, mungkin Hiyori datang berkunjung.


Sambil berpikir begitu, aku masuk ke rumah dan menuju ruang tamu.


"Hiyori, kalau datang kabari dulu don—!?"


Langkahku terhenti, napasku tercekat melihat pemandangan di depanku.


"Akira, selamat datang di rumah."


Yang duduk di sofa bukan Hiyori, melainkan ibuku. Beliau melambaikan tangan ke arahku dengan senyuman yang sangat kukenali.


"Ibu... kenapa ke sini?"


Keringat dingin mulai mengalir di punggungku.


"Ibu cuma khawatir apa Akira baik-baik saja di sini, jadi Ibu datang menjenguk."


Khawatir katamu...? Baru sepuluh hari yang lalu Hiyori datang menjengukku. Perjanjiannya, Hiyori yang akan menangani orang tua kami. Seandainya Ibu tidak bisa dicegah untuk datang, harusnya Hiyori memberiku kabar. Fakta bahwa tidak ada kabar sama sekali... mungkinkah Hiyori membocorkan soal Aoi-san?


"Akira, ada apa?"


"A-ah, tidak... tidak ada apa-apa."


"Benarkah? Kalau begitu, Ibu akan sangat senang jika kamu memperkenalkan nona manis di sebelahmu itu."


Senyum tenang Ibu membuatku tidak bisa menebak apa yang beliau pikirkan.


...Tidak, Hiyori tidak mungkin mengkhianatiku. Meskipun lawannya adalah orang tua sendiri, Hiyori bukan tipe orang yang akan menarik kembali janji yang sudah dibuat. Kalau begitu, ini adalah variabel yang tidak terduga bahkan bagi Hiyori. 


Setidaknya, sebelum aku tahu alasan sebenarnya Ibu datang, aku tidak perlu menceritakan semuanya dengan jujur. Situasinya berbeda dengan saat Hiyori datang.


...Bagaimana ini? Sejauh mana Ibu tahu? Apa penjelasan yang paling tepat untuk situasi ini?


Kalau fakta bahwa aku tinggal serumah dengan Aoi-san terbongkar, masa depan kami akan hancur. Segala hal yang sudah kulakukan demi Aoi-san akan berakhir setengah jalan, dan Aoi-san akan kehilangan tempat bernaung lagi. Itu adalah hal yang harus kuhindari dengan cara apa pun.


Saat ini, asalkan fakta "tinggal serumah" tidak ketahuan, apa pun boleh. Kalau begitu, aku akan bertaruh habis-habisan—.


"D-dia pacarku!"


Hanya ini satu-satunya kemungkinan untuk mengecohnya. Skenario klasik anak laki-laki SMA yang sedang puber punya pacar, lalu memanfaatkan absennya orang tua untuk membawa pacarnya masuk ke rumah. Sebenarnya aku ingin mati saja kalau tertangkap basah oleh orang tua dalam situasi nyata seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan lain. Dibandingkan ketahuan tinggal serumah, ini jauh lebih mendingan.


Kumohon. Ibu boleh bilang apa saja padaku, asalkan Ibu percaya ini.


"Ya ampun, benarkah! Akira, syukurlah kalau begitu!"


"A-ah... iya, terima kasih."


Berbanding terbalik dengan rasa takutku, Ibu percaya begitu saja. Senyum ceria yang polos itu benar-benar khas Ibu.


"Akira kan sudah remaja, tidak aneh kalau punya pacar. Tapi wah~ Akira punya pacar ya. Ayo, jangan berdiri saja di sana, duduklah di sini dan perkenalkan dia pada Ibu."


"A-ah, iya..."


Ibu menepuk-nepuk sofa, memintaku duduk. Aku memberi isyarat mata pada Aoi-san, dan sepertinya dia paham situasinya lalu mengangguk kecil. Setelah memastikan itu, aku dan Aoi-san duduk berdampingan di depan Ibu.


"Boleh Ibu tahu namamu?"


"Iya. Nama saya Soutome Aoi."


"Aoi-san, ya. Ibu selalu berpikir suatu saat hari di mana Akira punya pacar akan datang, tapi Ibu tidak menyangka dia akan berkencan dengan gadis secantik ini. Rasanya Ibu sangat terharu."


Ibu tersenyum sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya, tampak benar-benar bahagia dari lubuk hati yang paling dalam.


...Melihatnya begitu bahagia, dadaku terasa sakit. Namun saat ini, aku meyakinkan diriku bahwa ada hal yang lebih prioritas daripada rasa bersalah, jadi aku pun mengikuti alur ceritanya.


"Kami satu kelas, Bu. Dari sana kami jadi akrab."


"Begitu ya. Sudah berapa lama kalian berpacaran?"


"Kira-kira sejak awal bulan lalu."


"Wah, berarti sedang masa-masa paling indah ya."


"Iya."


Rentetan pertanyaan Ibu tidak berhenti. Beliau melontarkan pertanyaan kepadaku dan Aoi-san secara bergantian.


"Terus, siapa yang menyatakan cinta duluan?"


"Eeto... ya, sepertinya aku."


"Memangnya kamu bilang apa waktu menembaknya?"


"Aduh, mana mungkin aku menceritakan hal seperti itu!"


"Eeeh, tidak apa-apa kan. Cerita sedikit dong."


"...Nggak mau. Tolong ya, jangan bahas obrolan cinta sama orang tua."


"Pelit sekali sih. Kalau begitu, bagaimana kalau Ibu tanya Aoi-san saja?"


Hah? Tunggu sebentar—.


"Aoi-san, bagian mana dari diri Akira yang kamu sukai?"


"Eh? Eeto..."


Aoi-san terlihat sangat kebingungan, matanya melirik ke sana kemari. Karena sifat dasarnya yang terlalu jujur, dia tidak pandai berbohong. Meskipun dia tahu situasi ini mengharuskannya berakting sebagai kekasih, dia bukan tipe orang yang cukup lihai untuk mengarang alasan dalam sekejap.


Meski begitu, di dalam hati aku berdoa agar dia mengatakan sesuatu yang aman untuk melewati situasi ini. Tidak perlu sebagai pacar, alasan suka sebagai teman pun tidak apa-apa.


"Semuanya... saya suka," jawabnya tiba-tiba.


Jawaban yang tak terduga. 


Tidak, bukankah ini malah terdengar lebih alami daripada menyebutkan hal yang spesifik? Daripada mengarang alasan yang dibuat-buat, mengatakannya secara menyeluruh malah terasa tidak mencurigakan. Aku memilih untuk tidak memikirkan kemungkinan bahwa dia bilang "semuanya" karena tidak ada satu pun bagian dariku yang dia sukai. 


Yah, ada kan orang yang bilang kalau sudah cinta ya suka semuanya. 


Entahlah.


"Saat dia menyapaku, nada suaranya selalu lembut. Saat mata kami bertemu, dia selalu tersenyum. Dia juga selalu mendengarkan perasaanku. Lalu, saat kami berjalan berdampingan, dia pasti berjalan di sisi jalan raya, dan dia selalu memasakkan makanan yang enak..."


Kupikir dia bilang "semuanya" hanya untuk menghindar, tapi ternyata Aoi-san mulai menyebutkannya satu per satu secara mendetail. 


Tunggu, apa dia berniat mengatakan semua yang benar-benar dia pikirkan?


"Bukan hanya itu saja. Dulu saya terisolasi di sekolah dan tidak punya teman, tapi berkat Akira-kun, saya bisa punya teman-teman yang hebat. Dia juga mengajariku dengan sabar karena saya bodoh dalam pelajaran... Kalau tidak ada Akira-kun, saya tidak tahu sekarang nasib saya akan bagaimana."


Dalam kata-katanya, terselip semangat yang tidak seperti Aoi-san yang biasanya pendiam.


"Saya selalu terselamatkan oleh kebaikan Akira-kun. Saya sangat berterima kasih sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya sendiri tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa membalas apa pun. Saya hanya selalu merepotkannya..."


Aoi-san menyebutkan banyak hal yang dia sukai dariku. Namun, aku merasa perasaan sesungguhnya yang tersembunyi di balik itu semua terangkum dalam kalimat terakhirnya.


"Maafkan saya. Saya jadi bicara terlalu banyak..."


"Tidak apa-apa kok. Ibu bisa merasakan kalau Aoi-san sangat menghargai Akira."


Ibu menatap Aoi-san dengan ekspresi lembut.


"Mendengar cerita kalian berdua, Ibu jadi teringat saat Ibu dan Ayah pertama kali bertemu."


"Waktu bertemu Ayah?"


"Ayahmu juga, dulu waktu kami bertemu, dia sangat pemalu dan tidak pandai bergaul."


"Masa sih?"


Karena terlalu terkejut aku spontan bertanya balik, lalu Ibu mulai bercerita dengan nada nostalgia.


"Waktu Ibu masih jadi karyawan kantor, Ayahmu ditempatkan di divisi yang sama dengan Ibu sebagai karyawan baru. Sejak baru masuk, Ayahmu itu orangnya kaku dan tidak mau bergaul, jadi dia langsung terisolasi. Tapi karena dia bekerja dengan serius, sungguh-sungguh, dan kemampuannya tinggi, orang-orang di sekitarnya jadi iri. Pembimbingnya pun sampai pusing karena tidak tahu apa yang dipikirkan Ayahmu."


Mendengar cerita itu, aku masih belum bisa membayangkannya. Soalnya, aku sama sekali tidak punya kesan kalau Ayah itu sulit bergaul. Meski punya sisi serius dan tegas, menurutku Ayah itu orang yang punya kepedulian lebih dalam daripada Hiyori. Beliau bukan hanya peduli pada kami, tapi juga bertetangga dengan baik, dan sering pergi untuk urusan kantor. Kalau ada bawahan yang melakukan kesalahan di kantor, beliau adalah tipe orang yang tetap berangkat kerja meski hari libur demi membantu. 


Kalau memang payah bergaul, mana mungkin beliau bisa jadi kepala cabang di daerah? Rasanya seperti mendengar cerita tentang orang lain.


"Melihat Ayahmu yang seperti itu, Ibu tidak bisa membiarkannya saja, jadi Ibu menawarkan diri untuk menjadi pembimbingnya. Ibu pikir Ibu bisa menjadi jembatan antara dia dengan orang lain, dan ternyata setelah dicoba bicara, alasannya sederhana saja. Dia sulit bergaul karena sifat pemalunya yang parah. Setelah Ibu menengahi, perlahan-lahan dia mulai bisa bekerja sama dengan orang lain."


"Begitu ya ceritanya."


"Kalau kita bisa memahami seseorang, cara kita memperlakukannya pun akan berubah. Karena pada dasarnya dia memang orang yang bersungguh-sungguh, setelah kesalahpahamannya hilang, dia mulai dipercaya oleh orang sekitar dan diberi tanggung jawab besar. Sekarang, kalau Ayahmu membahas masa itu, dia selalu bilang 'Terima kasih untuk waktu itu' kepadaku. Tapi dulu, Ibu ingat setiap kali Ibu membantunya, dia hanya selalu minta maaf sambil bilang 'Maaf sudah merepotkan'."


Mendengar itu, aku pun merenung. Apa alasan yang membuat kata-kata Ayah berubah dari "Maaf" menjadi "Terima kasih"?


"Ini cuma cerita kenangan antara senior yang cerewet dan junior yang pemalu. Memang benar ada banyak kesulitan, tapi Ibu tidak pernah merasa direpotkan oleh Ayahmu. Ibu yakin, apa yang dilakukan Akira untuk Aoi-san juga sama."


"Tentu saja."


Saat aku menjawab begitu, Ibu mengangguk puas.


"Karena itulah, Aoi-san."


"Iya."


"Kamu tidak perlu merasa sudah merepotkan."


Ibu menatap Aoi-san dengan pandangan lembut seolah menasihatinya. Namun, Aoi-san tetap memasang ekspresi wajah yang tampak tidak enak hati.


"Ibu adalah orang tuamu, jadi Ibu hanya tahu sosok Akira sebagai seorang anak. Ibu tidak tahu wajah seperti apa yang kamu tunjukkan pada teman atau pacarmu. Tapi, jika apa yang kamu lakukan untuk Aoi-san itu benar, maka Ibu sebagai orang tua merasa bangga padamu."


Kata 'bangga' yang pertama kali diucapkan langsung oleh orang tuaku. Lebih dari sekadar malu, bagian dalam dadaku terasa panas.


"Lagipula, seseorang yang bisa berterima kasih dengan tulus atas niat baik orang lain, dan merasa sedih karena tidak bisa membalasnya... itu tandanya kamu juga orang yang sangat baik. Ibu benar-benar bersyukur Aoi-san menjadi pacar Akira."


"Ibu..."


"Tolong tetaplah berada di samping Akira ya, mulai sekarang dan seterusnya."


"......Terima kasih banyak."


Aoi-san mengucapkan terima kasih sambil menundukkan pandangannya. Baik aku maupun Ibu menyadari bahwa ekspresinya saat itu tampak mendung.



Setelah itu, kami menghabiskan waktu sambil menyantap makan malam yang sudah disiapkan Ibu. Aoi-san awalnya terlihat tegang, tapi perlahan-lahan dia mulai membuka diri. Ibu memang punya kemampuan komunikasi yang tinggi—meski tidak sehebat Izumi—jadi aku tidak terlalu khawatir, tapi aku bisa melihat Ibu bersikap sangat hati-hati dan perhatian saat berinteraksi dengannya.


Selesai makan dan mencuci piring, Ibu mulai bersiap-siap untuk pulang.


"Ibu, mau pulang sekarang?"


"Iya. Ibu memang berencana begitu, dan kereta terakhir juga masih ada."


"Begitu ya."


Meski aku yang bertanya, aku memang tidak bisa menahannya untuk tetap tinggal. Karena jika Ibu menginap, aku tidak mungkin membiarkan Aoi-san terus berada di rumah ini bersamanya.


"Akira, mumpung Ibu di sini, bisa antar Ibu sampai ke luar?"


"Ah, tentu saja."


"Aoi-san, sampai jumpa lagi ya."


"Iya. Terima kasih banyak, Tante."


Ibu melambaikan tangan dengan senyum cerah kepada Aoi-san lalu meninggalkan ruang tamu. Begitu kami keluar rumah, aku langsung bicara pada Ibu di depan pintu depan.


"Soal ini... tolong jangan beri tahu Ayah, ya?"


"Iya, tentu saja. Ibu tidak mungkin bilang kalau kamu sedang tinggal bersama dengan seorang gadis."


"Eh...?"


Aku yang tadi sudah merasa lega, seketika terpaku mendengar serangan mendadak itu.


"Tidak perlu disembunyikan. Ibu tidak marah, kok."


"......Apa Ibu dengar dari Hiyori?"


"Ternyata Hiyori juga tahu ya. Tapi, demi menjaga nama baik Hiyori, Ibu tegaskan dia tidak bilang apa-apa."


"Lalu, kenapa Ibu bisa tahu?"


"Sejak Hiyori menjengukmu, sikapnya agak aneh jadi Ibu penasaran. Makanya Ibu datang ke sini tanpa memberi tahu Hiyori maupun Ayahmu. Ayahmu sepertinya sama sekali tidak sadar."


Pantas saja Hiyori tidak memberiku kabar. Hiyori pun pasti tidak bisa mencegahnya. Maafkan aku karena sempat meragukanmu meski sesaat. 


Tapi tetap saja... menyadari keganjilan pada Hiyori yang selalu pasang muka tembok tanpa emosi... kurasa itulah hebatnya seorang ibu. Memang mustahil menyembunyikan sesuatu dari orang tua.


"Tapi, bagaimana Ibu tahu sampai ke tahap kami tinggal bersama?"


"Ibu berniat membersihkan kamarmu sebelum kamu pulang. Lalu Ibu melihat barang-barang pribadi Aoi-san di kamar Hiyori, ada sampo perempuan di kamar mandi, dan banyak jejak lain yang menunjukkan kalian tinggal bersama. Dari situ Ibu paham semuanya. Oh, jadi begitu, pikir Ibu."


Begitu ya... Hiyori saja bisa tahu hanya dari sehelai rambut.


"Aoi-san itu anak yang baik ya, tipe yang jarang ditemui zaman sekarang."


"Iya... aku benar-benar berpikir dia anak yang sangat baik."


"Tapi, Ibu juga merasa dia anak yang sangat rapuh," lanjut Ibu dengan ekspresi khawatir. 


"Ibu tidak akan tanya masalah apa yang dia hadapi. Tapi, alasan seorang gadis remaja harus menumpang di rumah orang lain... orang dewasa mana pun pasti bisa menebak garis besarnya. Aoi-san pasti sudah menjalani kehidupan yang jauh lebih berat dari yang kita bayangkan."


"Iya, sepertinya begitu..."


"Rasa bersalah karena merasa 'merepotkan' yang lebih kuat daripada rasa terima kasihnya itu pasti karena lingkungan tempat dia tumbuh. Tapi Akira, apa kamu benar-benar sadar apa yang sedang kamu lakukan?"


Tiba-tiba senyum Ibu menghilang.


"Menopang hidup seseorang itu sangat berat dan disertai tanggung jawab besar, tahu?"


Ibu adalah orang yang selalu ceria dan penuh tawa di depan keluarga. Melihat ekspresi serius yang pertama kali beliau tunjukkan, aku merasa seolah-olah tekadku sedang diuji. Untuk pertanyaan ini, aku merasa tidak boleh membohongi perasaanku sendiri.


"Aku sadar."


Aku tahu ini disertai tanggung jawab besar. Sejak hari itu, saat aku membawa Aoi-san pulang ke rumah.


"Meskipun begitu, aku ingin melakukan apa pun yang aku bisa untuknya."


Aku mengucapkannya dengan penuh ketulusan, seolah sedang menegaskan kembali keputusan itu pada diriku sendiri.


"Kalau kamu sudah punya tekad sejauh itu, Ibu tidak akan bicara apa-apa lagi. Ibu akan merahasiakannya dari Ayah, jadi berjuanglah."


"Terima kasih."


Ibu mengangguk sambil tersenyum lalu mulai berjalan pergi. Namun, setelah beberapa langkah, beliau berhenti dan menoleh.


"Omong-omong, apa kamu berniat pacaran dengan Aoi-san?"


"Eh... Ibu juga tahu kalau kami tidak pacaran?"


Ibu berbalik dan memasang senyum jahil.


"Tentu saja tahu kalau melihat Aoi-san. Ibu ini sudah jadi perempuan selama lebih dari 40 tahun, tahu. Perasaan Aoi-san terhadap Akira itu, dibandingkan cinta kepada kekasih, lebih terasa seperti perasaan kepada orang yang sangat berharga. Tentu saja, mungkin bukan cuma itu saja sih..."


Apakah itu insting wanita, atau sesuatu yang beliau rasakan karena sesama perempuan? Terlepas dari itu, cara bicaranya yang penuh makna membuatku penasaran.


"Kamu tidak ada niat untuk jadian?"


"......Bukan begitu, masalahnya bukan di situ."


"Begitu ya. Padahal Ibu yakin alasan Akira mengulurkan tangan adalah karena sesuatu yang lebih 'laki-laki', tapi ya sudahlah, Ibu tidak akan bertanya terus. Tapi, coba tanyakan pada hatimu sendiri. Setidaknya, jangan sampai kamu pura-pura tidak sadar lalu berakhir dengan penyesalan."


Ibu mengatakan itu sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya pergi. Aku terus menatap punggungnya sampai sosoknya menghilang ditelan kegelapan malam. Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar menandakan panggilan masuk. Saat kulihat layarnya, nama Hiyori tertera di sana.


"Halo."


『Mungkin Ibu sedang menuju ke sana sekarang.』


Suara Hiyori terdengar tenang, namun nadanya sedikit lebih cepat dari biasanya. Jarang sekali dia terdengar cemas seperti ini.


"Iya. Beliau baru saja pulang."


『Begitu. Karena sudah selarut ini Ibu belum pulang ke rumah, aku berpikir mungkin saja beliau ke sana. Apa semuanya baik-baik saja?』


"Ya. Ketahuan kalau aku tinggal bersama Aoi-san, tapi tidak masalah. Detailnya tanya saja pada Ibu nanti."


『Baiklah. Maaf ya, aku tidak bisa membantu banyak.』


"Jangan begitu. Aku senang kamu menelepon karena khawatir."


『Nanti aku telepon lagi.』


"Ah, tunggu sebentar."


『Apa?』


"Apa Izumi sudah menghubungimu?"


『Sudah. Aku juga sudah bicara soal kepindahanmu padanya.』


"Maaf ya... gara-gara urusanku, waktu untuk memberitahunya jadi tertunda."


『Jangan dipikirkan. Aku mengerti perasaan Akira kok.』


Hiyori mengatakan itu lalu memutus sambungan. Benar-benar adikku. Tetap saja, keluargaku ini terlalu tajam instingnya. Aku hanya bisa bersyukur karena berkat itulah masalah ini tidak menjadi runyam. 


Setelah itu, aku berdiri sejenak menikmati angin malam sambil memikirkan masa depan.


Aku sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pintu itu, Aoi-san telah mendengar seluruh percakapanku dengan Ibu.



"Dan ini adalah hasil tes terakhir yang dibagikan..."


Setelah pelajaran berakhir, kami berkerumun di meja Aoi-san sambil menahan napas. Hasil tes Aoi-san sejauh ini semuanya berhasil menghindari nilai merah. Meskipun tidak semua mata pelajaran mencapai nilai rata-rata kelas, skornya sangat mendekati. 


Walaupun kami sempat melakukan kamp belajar, meraih hasil seperti ini dalam waktu singkat adalah buah dari kerja keras Aoi-san sendiri. Dan sekarang tinggal satu hasil tes ini yang tersisa. Meski pelajaran lain aman, untuk benar-benar memperbaiki citra di mata para guru, akan lebih baik jika seluruh mata pelajaran bebas dari nilai merah.


"Aoi-san... bagaimana hasilnya?" tanya Izumi sambil menangkupkan tangan seperti sedang berdoa.


Aoi-san kemudian mengangkat kertas tesnya hingga menutupi separuh wajahnya.


"Ooooh...!"


Angka yang tertulis dengan tinta merah di sana adalah 63 poin──.


"Yaaaay!"


Izumi saking terharunya langsung berseru keras dan memeluk Aoi-san. Suaranya yang lantang membuat murid-murid di sekitar terkejut, tapi aku pun merasa ingin bersorak.


"Kamu berhasil, Aoi-san!"


"Terima kasih. Ini semua berkat kalian."


Aoi-san membalas pelukan Izumi dengan ekspresi lega yang luar biasa. Aku dan Eiji pun merasakan hal yang sama; kami menghela napas panjang karena merasa tenang.


"Aoi-san, kamu benar-benar sudah berjuang keras. Semoga ini mengubah pandangan para guru."


"Pasti berubah. Siswa yang hampir semua nilainya merah saat ujian tengah semester sekarang bisa dapat nilai begini, mereka tidak mungkin tidak sadar." 


Mendengar kata-kata meyakinkan Eiji, aku sangat berharap itu benar terjadi. Lalu Izumi, yang masih memeluk Aoi-san, mulai berbicara.


"Ngomong-ngomong soal kesan guru, katanya kepala panti asuhan yang kita kunjungi kemarin menghubungi guru pendamping untuk menyampaikan terima kasih pada Aoi-san, lho."


"Benarkah?"


"Aoi-san sering menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sana demi menepati janji pada anak perempuan itu, kan? Hal itu sampai ke telinga kepala panti, lalu beliau menelepon sekolah untuk berterima kasih."


"Begitu ya..."


Ternyata memang benar, perbuatan baik akan selalu terlihat oleh orang yang tepat.


"Dengan ini, target awal kita hampir semuanya tercapai, kan?"


"Benar juga."


Seperti kata Izumi, semuanya berjalan lancar... bahkan lebih baik dari bayanganku. Meskipun kami memang mengusahakannya, melihat hasilnya secara nyata memberikan kepuasan yang berbeda. 


Selama libur musim panas nanti, Izumi akan mengatur waktu bermain dengan teman-teman, dan kegiatan sukarelawan pun tetap ada setiap hari Minggu. Kekhawatiran soal rusaknya citra yang sudah dibangun akibat libur panjang pun sirna. Jika ada satu hal yang tersisa di semester satu ini, itu adalah satu hal saja.


Yaitu masalah tempat tinggal Aoi-san──


Hanya bagian ini yang belum kutemukan solusinya, tapi aku tidak boleh menyerah. Tugas selanjutnya adalah bagaimana mengumpulkan informasi tentang nenek Aoi-san, tapi untuk saat ini, mari kita rayakan keberhasilan ini.


"Pokoknya, dengan ini kita bebas dari kelas tambahan musim panas!"


"Tentu saja!"


"Kalau begitu, ayo kita adakan pesta perayaan!"


"Pesta lagi? Kan kemarin baru saja dari onsen."


"Yang itu kan pesta selesai ujian, kalau yang ini pesta hasil ujian!"


Izumi mengatakannya dengan wajah bangga yang lucu.


"Sepertinya Izumi cuma mau bikin keributan saja."


"Aku tidak membantah itu, tapi kita kan ingin merayakan keberhasilannya juga?"


Yah, aku setuju soal itu.


Jika kerja keras membuahkan hasil, sepantasnya kita memberi pujian. Membayangkan bahwa mungkin selama ini Aoi-san bahkan tidak pernah punya kesempatan seperti itu, aku pun merasa ingin merayakannya. Saking semangatnya, aku sempat terpikir untuk memborong semua stok puding di toko saat jalan pulang tadi.


"Kalau begitu sepulang sekolah hari ini, boleh di rumah Akira-kun?"


"Boleh. Kebetulan ada hal yang ingin kusampaikan kepada kalian semua, jadi waktunya pas."


"Sudah diputuskan ya! ♪"


Begitulah, sepulang sekolah nanti, pesta perayaan ronde kedua di rumahku resmi ditetapkan. Sambil menatap mereka bertiga yang kegirangan, aku mulai memikirkan apa yang harus kulakukan selama libur musim panas.



"Sekali lagi, selamat buat Aoi-san karena sudah bebas dari nilai merah!"


Suara Izumi menggema di ruang tamu rumahku sepulang sekolah, dibarengi dengan bunyi letusan cracker. Di atas meja sudah menumpuk camilan dan minuman yang kami beli di jalan tadi, tak lupa puding kesukaan Aoi-san.


"Semuanya, terima kasih."


"Dengan begini, kita bisa main sepuasnya pas libur musim panas nanti!"


"Iya..."


Apakah itu hanya perasaanku saja? Ekspresi Aoi-san saat menjawab terlihat sedikit mendung.


"Libur musim panas nanti kita ke mana ya~. Laut oke, kolam renang juga oke, tapi vila peristirahatan di pegunungan juga asyik. Kalau perlu, kita datangi semuanya saja. Toh waktunya banyak."


"Soal itu──"


Aku merasa agak tidak enak memotong pembicaraan Izumi yang kepalanya sudah penuh dengan rencana main.


"Libur musim panas nanti, selain bermain, ada satu hal yang ingin kulakukan."


"Apa itu?" Izumi memiringkan kepalanya.


"Memanfaatkan libur musim panas, aku ingin mencari nenek Aoi-san."


Begitu aku mengatakannya, baik Izumi maupun Eiji langsung menyimak kata-kataku dengan serius.


"Berkat bantuan Izumi, jarak dengan teman sekelas sudah terkikis. Partisipasi di kegiatan sukarelawan sekolah dan hasil tes yang bagus juga membuat masalah-masalah awal kita membaik. Kita boleh senang soal itu, tapi jangan lupakan satu masalah lagi, kan?"


Masalah itu tidak lain adalah masalah tempat tinggal Aoi-san. Selama ini kami menundanya karena tidak punya waktu luang yang panjang, tapi jika ingin mencari nenek Aoi-san, tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkan waktu libur musim panas yang relatif bebas ini.


"Tentu saja karena kita sama sekali tidak punya petunjuk, aku tahu ini tidak akan mudah. Justru karena itulah aku ingin menggunakan waktu luang ini untuk mencari titik terang."


"Begitu ya. Benar juga." Izumi seketika berubah menjadi serius. 


"Tapi, kalau dibilang 'mencari', kita harus mulai dari mana?"


"Nah, itu dia masalahnya..."


Aku merasa bersalah karena sudah mengusulkan tapi belum punya rencana matang. Keinginanku untuk bertindak jauh lebih besar daripada rencana konkret yang kupunya.


"Bagaimana kalau kita pergi main saja?" 


Tiba-tiba Eiji mencoba mengalihkan topik.


"Bukan begitu, maksudku sambil main kita cari petunjuk──"


"Maksudku, kita pergi main ke berbagai tempat justru untuk mencari petunjuk itu. Meski kita tidak tahu rumahnya di mana, hampir bisa dipastikan masih di dalam prefektur ini. Jadi sambil jalan-jalan, kita kelilingi semua kota dan desa. Dengan melihat berbagai pemandangan kota, mungkin ingatan Aoi-san akan terpicu dan dia bisa menemukan tempat yang pernah dia lihat."


"......Masuk akal."


Itu bukan ide yang buruk. Sama seperti aku yang sempat melupakan gadis cinta monyetku tapi langsung ingat saat bertemu Aoi-san, ada kemungkinan memori Aoi-san akan bangkit saat melihat pemandangan atau suasana masa lalu. Setidaknya, itu jauh lebih baik daripada cuma bingung tanpa melakukan apa-apa.


"Aoi-san, bagaimana menurutmu?"


Saat aku bertanya, Aoi-san mengangguk pelan.


"Terima kasih sudah memikirkan banyak hal untukku. Tapi, aku merasa tidak enak jika harus menghabiskan waktu libur kalian demi urusanku..."


"Tidak perlu merasa begitu!"


Suara Izumi mendahuluiku.


"Anggap saja sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Lagipula jangan sungkan begitu dong. Kita kan teman, sudah sewajarnya saling membantu. Ya kan, Akira-kun?"


"Mungkin cara bicaranya agak santai, tapi aku setuju soal jangan sungkan. Kami juga menikmati ini, dan yang terpenting karena kita teman, tidak perlu merasa tidak enak."


"Iya... terima kasih banyak."


Meski begitu, wajar saja jika Aoi-san tetap merasa sungkan. Senyuman yang ia tunjukkan saat mengatakannya masih menyisakan rasa bersalah, mirip seperti saat awal kami bertemu.


"Kalau sudah diputuskan, ayo segera buat rencana. Meski punya waktu satu bulan, waktu tidak akan cukup kalau kita cuma pergi asal-asalan. Pertama-tama, mari kita persempit kandidat lokasi berdasarkan ingatan Aoi-san."


"Benar."


Begitulah, kami mulai mencari kandidat lokasi dengan aplikasi peta di ponsel masing-masing. Musim panas ini pasti akan menjadi hari-hari yang sibuk namun bermakna.



Malam itu──


Setelah Eiji dan Izumi pulang, aku dan Aoi-san sudah selesai makan malam serta mandi, lalu bersantai di ruang tamu. Tanpa terasa jarum jam sudah melewati pukul sebelas, sudah cukup malam.


"Aoi-san, ayo kita tidur sekarang."


"Eh? Ah, iya..."


Aoi-san menggumamkan kata-katanya seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.


"Ada apa?"


"Tidak. Bukan apa-apa."


Ekspresi wajah Aoi-san saat mengatakannya tampak agak kaku. Seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin merasa tegang.


"Kalau ada sesuatu, aku mau mendengarkan."


"Tidak. Aku tidak apa-apa, terima kasih."


Aoi-san bangkit berdiri setelah mengatakan itu, lalu kami meninggalkan ruang tamu bersama-sama.


"Selamat malam."


"Iya. Selamat malam."


Kami berpisah di depan kamar masing-masing. Aku masuk ke kamarku dan langsung berbaring di tempat tidur.


Aoi-san tadi terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat, ada apa ya? Saat ada Eiji dan Izumi tadi dia terlihat biasa saja, jadi kurasa tidak terjadi sesuatu yang khusus. Kalau besok sikapnya masih aneh, sebaiknya aku bicara baik-baik dengannya.


Sambil berpikir begitu, rasa kantuk mulai menyerang, dan perlahan kesadaranku mulai tenggelam dan menjauh. Tepat saat aku diselimuti perasaan nyaman dan hampir terlelap...


"Nn...?"


Tiba-tiba, aku merasakan kehangatan yang aneh di punggungku. Sambil bertanya-tanya, aku membuka mata. Aku mencoba mengintip ke belakang punggungku, dan seketika napasku terhenti.


"A-Aoi-san...?"


Karena kegelapan menyelimuti ruangan, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi sosok yang ada di sana benar-benar Aoi-san. Dia berbaring di sampingku di atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya seolah sedang bersandar pada punggungku.


"Aoi-san... ada apa?"


"......"


Aoi-san tetap diam membisu.


Ada apa ini? Kenapa Aoi-san ada di tempat tidurku!? Pikiranku kacau balau dan aku tidak bisa memahami situasi yang mustahil ini. Ini sih namanya yobai (kunjungan malam)...


"Boleh kok..." gumam Aoi-san lirih.


Aku merasakan keteguhan niat yang tidak biasa dalam suara itu.


"Boleh... apanya?"


"Barang yang diberikan Izumi-san itu... boleh kamu gunakan."


"Apa—!?"


Itu artinya... dia memaksudkan tindakan yang dilakukan sepasang kekasih untuk membuktikan cinta mereka.


"Boleh, katanya..."


Aku tidak percaya Aoi-san bisa mengatakan hal seperti itu. 


Pasti ini mimpi. Aku berpikir ini pasti mimpi yang sangat nyata karena aku terlalu sering berfantasi seperti ini. Aku mencoba mencubit lenganku di balik selimut, namun rasa sakit yang tumpul membantah hal itu.


Ini serius...? Tapi, kenapa tiba-tiba?


"Karena, hanya ini yang bisa kuberikan sebagai balasannya."


Mendengar kata-kata itu, seketika aku merasa diriku menjadi sangat tenang. Aku mendudukkan tubuhku dan berbalik menghadap Aoi-san.


"Sudah kubilang kan, kamu tidak perlu memikirkan soal balasan?"


"......Apa aku kurang?"


Di bawah temaram cahaya bulan yang masuk sedikit ke ruangan, ekspresi Aoi-san tampak berkerut sedih. Meski begitu, aku tidak bisa menerimanya.


"Bukannya kurang. Aku ini laki-laki, jadi sejujurnya itu tawaran yang menarik dan bukannya aku tidak tertarik... Tapi, aku rasa tidak benar jika kamu menyerahkan tubuhmu hanya demi membalas budi."


"............"


"Aku senang kamu sampai merasa ingin melakukan sesuatu untukku sejauh itu, tapi aku ingin kamu lebih menghargai dirimu sendiri. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku mengulurkan tangan padamu bukan karena menginginkan imbalan. Perasaanmu saja sudah cukup membuatku bahagia."


"Iya..."


Aku senang jika Aoi-san melakukan sesuatu untukku. Aku juga mengerti perasaannya yang ingin membalas budi yang telah diterimanya. Namun, meskipun dia tidak melakukan hal seperti itu, aku sudah merasa mendapatkan balasan yang cukup.


Seandainya aku tidak mulai tinggal bersama Aoi-san, aku tidak akan pernah menyadari bahwa hidup sendirian itu sepi, dan aku tidak akan pernah merasa sebahagia ini karena bisa bersama seseorang. Karena aku pikir aku sudah terbiasa dengan perpisahan akibat sering pindah sekolah, aku yang sebelumnya tidak akan pernah membayangkan bahwa aku akan menjadi sangat tidak ingin berpisah dengan semua orang seperti sekarang.


Menyadari hal itu pastilah sebuah kebahagiaan, dan itu semua berkat kehadiran Aoi-san. Jadi, dia benar-benar tidak perlu berpikir untuk membalasnya dengan apa pun.


"Ayo, kembalilah ke kamarmu."


"Iya."


Aku mengantar Aoi-san keluar, memastikan dia masuk ke kamarnya sendiri, lalu aku kembali ke tempat tidur. Aku ingin sebisa mungkin mengurangi beban perasaan bersalah yang dipikul Aoi-san. Sambil memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk itu, aku pun kembali terlelap.



Keesokan harinya, sikap Aoi-san tampak tidak berbeda dari biasanya. Karena kejadian semalam, aku sempat khawatir jika kami berdua akan merasa canggung atau terlalu sadar akan kehadiran satu sama lain, tapi Aoi-san bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Melihat hal itu, aku pun bisa bernapas lega.


Hanya saja──ada hal yang kupikirkan di kemudian hari. Bahwa menolak kedatangan malam Aoi-san waktu itu, mungkin adalah sebuah kesalahan. Aku rasa itu adalah perwujudan tekad terbesar yang bisa dia tunjukkan. Namun, aku gagal menyadari tekad Aoi-san itu dan malah menolaknya demi menjaga harga diri. Tentu saja, meskipun aku menyadarinya, aku tetap tidak akan menerimanya, tapi setidaknya aku seharusnya bisa menerima perasaannya... setidaknya jika aku bisa mengutarakan perasaanku sendiri, hasilnya pasti akan berbeda.


Padahal Eiji sudah sering memperingatkanku bahwa "semakin penting suatu hal, semakin perlu untuk dibicarakan," tapi tanpa sadar aku merasa sudah memahami Aoi-san dan mulai mengabaikan hal itu. 


Aku benci fakta bahwa aku selalu baru menyadarinya saat semuanya sudah terlambat.


Beberapa hari kemudian, pada hari upacara penutupan semester──seperti biasa, aku berangkat ke sekolah lebih awal dari Aoi-san dan menunggunya datang, namun Aoi-san tidak pernah muncul di sekolah.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close