Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Dari Gyaru Berambut Pirang Menjadi Gadis Anggun Berambut Hitam
Hari berikutnya, Sabtu——
Aku dan Aoi-san pergi ke pusat perbelanjaan terdekat. Ini adalah salah satu dari dua fasilitas komersial skala besar yang ada di kota ini. Di dalamnya terdapat bioskop hingga pemandian air panas, tempat yang bisa dinikmati oleh semua kalangan usia. Karena itu, saat akhir pekan tiba, tempat ini dipenuhi banyak orang; saat ini pun gedung tersebut sesak oleh keluarga dan para pelajar.
Yah, begitulah tipikal kota pinggiran yang tidak punya tempat hiburan lain.
"Kita lihat-lihat baju dulu saja ya. Kamu pasti merasa tidak tenang kalau terus-terusan memakai seragam."
"Iya."
Aku dan Aoi-san pun melangkah ke toko pakaian wanita terdekat.
Sudah sewajarnya, karena ini toko khusus wanita, tidak ada sosok laki-laki lain selain aku. Seharusnya aku memilih toko seperti ZU atau UNIKLO yang menyediakan pakaian laki-laki dan perempuan sekaligus. Sambil merasa kikuk karena berada di "wilayah asing", aku berkeliling toko dengan perasaan agak malu.
Aoi-san tampak ragu memilih mana yang akan diambil.
"Ada yang kurang sreg?"
"Nggak, bukan begitu, cuma aku jadi bingung mau pilih yang mana."
"Begitu ya. Pilih pelan-pelan saja."
"Menurut Akira-kun, baju mana yang cocok untukku?"
"Eh, jangan tanya seleraku, pilih saja yang kamu suka, Aoi-san."
"Tapi... karena kamu yang membayarnya, aku akan terbantu kalau Akira-kun yang memilihkan."
Serius? Tugas berat ini malah jatuh ke tanganku.
Jujur saja, aku tidak terlalu paham soal selera berpakaian wanita. Lagipula, bukan cuma aku, kurasa kebanyakan laki-laki juga buta soal ini. Tapi, aku pernah sesekali berfantasi, 'Kalau nanti punya pacar, aku ingin dia pakai baju seperti ini saat kencan~' sambil melihat-lihat koordinasi pakaian ideal di internet.
Kalau boleh jujur soal idealismeku, pilihannya cuma satu: Gaya Feminin Kalem.
Bawahannya bukan rok mini, melainkan rok panjang yang anggun, lalu atasan dengan warna yang serasi. Untuk musim sekarang, kemeja atau blus berwarna cerah sepertinya cocok. Apalagi kalau rok lipit (pleated skirt), itu sudah yang terbaik. Aku bisa betah memandangi gadis yang memakai rok lipit sambil membayangkan menyusuri setiap lipatannya dengan jari selamanya.
Ada yang paham perasaanku, tidak?
Yah, lupakan soal preferensi anehku itu, masalahnya aku tidak tahu baju apa yang disukai seorang gyaru...
"Apa sebaiknya baju yang agak mencolok?"
"Eh? Baju mencolok? Kenapa?"
Dia malah balik bertanya. Bukankah gyaru identik dengan baju pamer pusar atau rok mini? Apa zaman sekarang sudah beda?
Istilah gyaru itu sendiri gayanya berubah-ubah tergantung zaman. Katanya dulu yang umum adalah 'Kuro-gyaru' yang kulitnya sengaja dibuat gelap di salon pencokelat kulit. Lalu muncul kebalikannya, 'Shiro-gyaru' yang sangat menjaga kecantikan dan kulit putih mereka. Lupakan soal perdebatan hitam-putih seperti main othello itu; kenapa aku bisa tahu detail? Itu karena semalam sebelum tidur aku mencarinya di internet karena bingung cara menghadapi seorang gyaru.
"Aku lebih suka pakaian yang agak tenang, sih."
"Gaya kalem juga tidak apa-apa?"
"Iya."
Oalah, ternyata dia penganut aliran ketiga: Gyaru Feminin Kalem.
Baguslah. Kalau begitu, aku kembali mengedarkan pandangan ke seluruh toko mencari yang sesuai bayangan. Kemudian, mataku tertuju pada sebuah maneken yang dipajang.
"Aoi-san, bagaimana kalau kombinasi yang ini?"
Maneken itu memakai kardigan merah muda pucat dengan bawahan rok panjang putih. Sederhana, warnanya tidak terlalu mencolok, dan memancarkan kesan anggun yang kuat. Mungkin agak konyol memilih setelan yang dipakai maneken, tapi daripada mengandalkan seleraku yang payah, lebih aman mempercayai selera penata busana di toko ini.
"Kalau begitu, aku pilih ini. Aku coba dulu ya."
"Oke. Aku tunggu di sekitar pintu masuk toko."
"Iya. Tunggu ya."
Aku melepas kepergian Aoi-san ke ruang ganti, lalu duduk di bangku yang ada di lorong depan toko. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku bisa berakhir berduaan dengan Aoi-san di mal ini?
Alasannya kembali ke kejadian tadi malam——
*
"Hari ini dingin ya..."
Hujan yang turun sejak siang hari semakin deras saat jam pulang sekolah, dan ketika malam tiba, suaranya yang menghantam jendela bergema di dalam ruangan.
Awal Juni memang secara kalender sudah masuk awal musim panas, tapi kalau hujan begini, hawa dingin tetap terasa menusuk. Saking dinginnya, aku sampai harus mengeluarkan baju rumah yang agak tebal.
"Aoi-san, baju rumah yang kemarin pasti kedinginan..."
Meskipun baju yang kuberikan padanya berlengan panjang, tapi bahannya tipis untuk musim panas.
Sambil memilah baju rumah tebal dari lemariku untuk dia pakai, aku merenung. Aoi-san bilang dia hanya membawa barang seperlunya saat keluar dari rumah, tapi kurasa itu benar-benar barang minimalis. Karena dia tidak punya tujuan, barang yang bisa dibawa pasti terbatas. Selama di rumah pun dia selalu memakai baju rumahku, jadi kemungkinan besar dia tidak membawa baju pergi. Mengingat ke depannya, tidak mungkin dia tidak punya baju sendiri. Bukan cuma baju, sebagai perempuan, pasti ada banyak barang kebutuhan hidup lainnya yang dia perlukan.
Sambil memikirkan hal itu, aku kembali ke ruang tamu membawa baju ganti.
"Aoi-san, hari ini dingin, pakailah ini setelah mandi."
"Bolehkah? Terima kasih."
Saat kuserahkan baju itu, Aoi-san meletakkannya di atas lutut sambil berterima kasih. Seperti biasa, ekspresinya saat berterima kasih selalu tampak seperti merasa bersalah.
"Ngomong-ngomong, Aoi-san."
"Kenapa?"
"Besok ada rencana?"
"Nggak, besok aku nggak ada acara apa-apa. Biasanya hari Sabtu dan Minggu aku kerja paruh waktu, tapi mulai sekarang aku minta jadwalnya diubah jadi sepulang sekolah di hari kerja saja. Kan aku sudah janji sama Akira-kun untuk rajin sekolah."
"Begitu ya. Kalau begitu, mau pergi belanja bareng?"
"Eh?"
Saat aku mengusulkan itu, Aoi-san terdiam kaget. Pipinya merona merah seolah sedang malu, dan dia langsung menundukkan kepala.
"Aku nggak memaksa, kok..."
Apa aku salah bicara?
"Nggak, bukan nggak mau. Cuma... ini pertama kalinya aku pergi jalan-jalan sama laki-laki."
"......HAH!?"
Seketika itu juga, aku menyadari alasan kenapa dia malu. Jangan-jangan Aoi-san mengira aku sedang mengajaknya kencan!?
"B-bukan begitu! Maksudku bukan ke arah sana! Aku cuma berpikir kita perlu beli barang-barang yang kamu butuhkan selama tinggal di rumahku. Barang kebutuhan sehari-hari, pakaian, dan hal-hal lain yang perlu ada, kan? Kalau kamu pergi belanja sendirian dan bawaannya berat kan repot, jadi aku berniat bantu membawakan barangnya!"
Sambil memberi penjelasan panjang lebar dengan gerakan tangan, sebuah pikiran terlintas.
Bukankah hal seperti itu biasanya disebut orang-orang sebagai 'kencan belanja'?
"Oh, begitu. Aku tadi cuma agak kaget."
"Iya, aku juga kurang jelas penjelasannya... maaf ya."
"Nggak apa-apa. Aku juga minta maaf karena sudah salah paham."
Suasana canggung yang sulit dilukiskan dengan kata-kata pun menyelimuti kami.
"”......”"
Tetap saja canggung! Bukan cuma Aoi-san, wajahku pun mulai terasa panas!
"Aku senang kamu mengajakku, tapi aku tidak punya banyak uang simpanan. Gaji paruh waktuku baru cair akhir bulan ini, jadi sampai saat itu aku tidak bisa pakai uang."
"Tenang saja. Soal uang biar aku yang bayar."
"Tapi, itu nggak enak..."
"Dari dulu aku punya uang tabungan yang kusimpan untuk keadaan darurat dan nggak pernah kupakai. Kalau bukan momen seperti ini, uang itu cuma bakal mengendap saja. Untuk membuat kehidupan kita berdua lebih nyaman, aku nggak keberatan memakainya."
"......Terima kasih."
Aoi-san selalu memasang ekspresi seperti orang yang terbebani setiap kali mengucapkan terima kasih. Mengingat situasinya, mungkin itu wajar. Tapi, melihat wajahnya yang seperti itu membuat dadaku sedikit sesak.
*
Begitulah ceritanya kenapa sekarang aku sedang belanja bareng Aoi-san, tapi...
Setelah kulihat-lihat lagi sekeliling, orangnya terlalu banyak, ya. Kalau kami terlalu santai, bisa-bisa kami berpapasan dengan teman sekelas. Dengan keramaian seperti ini, tidak heran jika ada satu atau dua orang kenalan di dalam mal, dan kalau kami terlihat, urusannya pasti jadi panjang.
Aku dan Aoi-san hanyalah teman sekelas yang tidak pernah berinteraksi secara pribadi sama sekali. Jika kami terlihat sedang berduaan, orang-orang mungkin akan mengira kami pacaran diam-diam. Bagi anak SMA, gosip tentang siapa pacaran dengan siapa adalah bahan pembicaraan yang paling empuk.
Tidak... bukan sekadar dicurigai punya hubungan asmara saja. Mungkin aku juga akan kena rumor buruk yang sama seperti Aoi-san.
Aku tidak peduli orang mau bilang apa tentangku, tapi aku harus menghindari situasi di mana rahasia Aoi-san atau fakta bahwa kami tinggal serumah terbongkar karena hal ini. Sebaiknya kami segera menyelesaikan urusan dan pulang.
"Maaf menunggu."
Saat aku sedang tenggelam dalam pikiran, Aoi-san yang sudah selesai mencoba baju datang menghampiri.
"Ah, iya. Cepat juga—"
"G-gimana menurutmu?"
Begitu aku mendongak karena dipanggil, aku refleks menahan napas. Melihat Aoi-san memakai baju biasa (privat) untuk pertama kalinya, ternyata dia jauh lebih cantik dari bayanganku.
Meskipun aku sendiri yang memilihkan setelannya, tapi ini benar-benar cocok sekali untuknya. Yah, aku kan cuma memilih setelan maneken, jadi yang hebat sebenarnya adalah selera pelayan toko yang memadukannya, tapi pilihanku juga sudah sangat good job.
Ternyata kesan seorang gadis bisa berubah drastis ya antara memakai seragam dan baju biasa.
Pada dasarnya ini sudah sempurna, tapi ada satu hal yang mengusikku...
"Nggak cocok, ya?"
Mungkin karena aku melamun saking terpana melihatnya, Aoi-san bertanya dengan nada cemas.
"Nggak, cocok banget kok."
"Benarkah? Syukurlah."
"Kita beli yang ini, lalu mari cari beberapa pasang lagi."
"Nggak mau, aku nggak bisa kalau dibelikan sebanyak itu..."
"Nggak usah dipikirkan."
"Tapi..."
Sepertinya Aoi-san tetap tidak akan merasa tenang.
"Begini saja, kamu bisa kembalikan uangnya nanti kalau kamu sudah punya kelapangan, oke?"
Aku yakin ke depannya Aoi-san akan terus memasang wajah seperti ini setiap kali aku mengeluarkan uang. Rasa bersalah karena 'merepotkan' lebih besar di hatinya daripada rasa syukur.
Itulah kenapa saat berterima kasih pun dia tidak tersenyum, melainkan selalu terlihat sungkan. Jadi, aku ingin mengusulkan cara agar dia tidak terlalu merasa terbebani.
"Bisa kamu cicil sedikit demi sedikit dari gaji paruh waktumu, atau nanti saja kalau kamu sudah mulai bekerja sungguhan. Sampai saat itu, anggap saja aku yang menalangi dulu, jadi kamu tinggal bayar kalau sudah sanggup."
"Beneran nggak apa-apa?"
"Tentu saja."
"Terima kasih. Kalau begitu, aku terima kebaikanmu ya."
Ekspresi yang dia tunjukkan saat mengatakannya masih terlihat kaku.
"Ayo, kita lihat yang lain lagi."
"Iya."
Meskipun begitu, aku merasa senang karena untuk pertama kalinya dia memperlihatkan senyumnya.
Setelah itu, kami berkeliling toko sekali lagi, membeli beberapa potong pakaian, lalu meninggalkan toko tersebut. Kami mendatangi apotek dan toko pernak-pernik untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari yang akan digunakan Aoi-san. Saat semua barang yang diperlukan sudah terbeli, tak terasa sudah satu setengah jam berlalu sejak kami tiba di mal.
"Aoi-san, ada lagi yang mau dibeli?"
"Kurasa sudah cukup... ah."
Aoi-san menunjukkan ekspresi terkejut seolah baru teringat sesuatu.
"Hmm? Ada apa?"
"Enggak. Enggak apa-apa kok."
Mulutnya bilang tidak apa-apa, tapi wajahnya jelas-jelas menunjukkan kalau dia lupa membeli sesuatu.
"Boleh kok. Mumpung di sini, aku temani."
"Benar-benar tidak apa-apa."
Entah kenapa dia terlihat gugup, malu, dan terus menolak. Aku tidak tahu apa yang membuatnya malu... tapi ya sudahlah, kalau dia bilang begitu.
"Akira-kun sendiri, apa ada tempat lain yang ingin dikunjungi?"
"Sebenarnya ada. Terakhir, mau menemaniku sebentar?"
"Iya. Tentu saja."
Aku mengajak Aoi-san berjalan sebentar di dalam mal, dan kami segera sampai di tempat tujuan.
"Tempat ini... salon kecantikan?"
Saat melihat Aoi-san memakai baju biasa tadi, aku tidak bisa berhenti memperhatikan rambut pirangnya. Karena warnanya pirang dan dibiarkan panjang sekali, terlihat jelas kalau rambutnya rusak. Selain itu, sepertinya sudah lama sejak terakhir kali diwarnai; bagian pangkal rambutnya sudah menghitam, menciptakan efek "puding" yang kontras.
Karena bajunya sudah bergaya kalem, aku ingin bilang warna rambut hitam akan lebih cocok, tapi itu hak Aoi-san. Namun, meski tetap ingin pirang pun, kurasa akan lebih cantik kalau warnanya diratakan.
"Mumpung sudah beli baju baru, ayo buat rambutmu jadi cantik juga."
"Jangan. Itu bakal makan biaya lagi."
"Nggak usah sungkan."
Aku mendorong punggung Aoi-san yang masih ragu dan setengah memaksanya masuk ke dalam salon.
"Selamat datang."
Mungkin karena jam makan siang, salon sedang agak sepi. Seorang penata rambut yang sedang senggang langsung menyadari kehadiran kami dan menyambut... tapi kenapa ya, semua penata rambut laki-laki itu tampan-tampan?
Apa mereka hanya mempekerjakan orang tampan, atau memang hanya orang tampan yang bercita-cita jadi penata rambut? Kalau yang pertama, aku curiga ada poin "skor wajah" dalam kriteria perekrutannya.
"Permisi. Kami tidak reservasi, apakah bisa?"
"Ya, bisa kok. Untuk berdua?"
"Saya tidak, tolong layani gadis ini saja."
"Baiklah. Kalau begitu, Nona, silakan lewat sini."
"Eh......"
Saat penata rambut itu hendak mengarahkan ke kursi, Aoi-san memekik dan menghentikan langkahnya.
"Aoi-san, ada apa?"
"Anu, itu......"
Aoi-san mencoba bicara tapi kata-katanya tertahan. Setelah beberapa saat, dia bicara dengan mantap seolah sudah membulatkan tekad.
"Maaf. Saya bukan pacarnya......"
“"......Hah?"”
TLN : Konteksnya “Nona” disini maksudnya Aoi dipanggil “Kanojo-san”
Aoi-san membungkuk meminta maaf. Aku dan penata rambut itu hanya bisa bengong dengan tanda tanya di kepala.
"Anu, Aoi-san... Maksudnya bukan 'pacar saya', tapi itu cuma sebutan umum untuk pelanggan perempuan."
"Eh!? Begitu ya? Aduh... aku salah paham."
Dia benar-benar malu; dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tapi tidak bisa menyembunyikan telinganya yang memerah.
"Andaikata benar begitu pun, kurasa tidak perlu dikoreksi, kok."
"Aku pikir kalau ditanya harus dijawab jujur... Lagipula, ini pertama kalinya aku ke tempat seperti ini."
Rajin banget sih! seruku dalam hati sambil merasa heran.
Apa ya... perasaan polos atau kurang pergaulan ini. Ini bukan keganjilan yang baru kurasakan sekarang, tapi sesuatu yang sudah terlintas di benakku sejak hari pertama dia datang ke rumah.
Penampilan dan perilakunya dari luar memang membuat siapa pun percaya kalau dia adalah seorang gyaru atau anak nakal. Tapi setelah bicara langsung begini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasakan kesenjangan antara penampilan dan kepribadiannya. Fakta bahwa dia bekerja paruh waktu demi keluarga juga mengejutkan.
Apakah ini sosok asli Aoi-san? Atau tunggu, dia benar-benar belum pernah ke salon?
"Lalu biasanya bagaimana?"
"Ibuku yang memotongnya. Warna pirang ini juga bukan hobiku, tapi karena Ibu mengajak mewarnai rambut bareng-bareng. Aku tidak menyangka warnanya bakal jadi seterang ini..."
Sudah SMA tapi rambut masih dipotong orang tua?
Aku hampir saja berpikiran negatif tapi segera tertahan, dan akhirnya aku memahami keganjilan yang kurasakan selama ini.
"Boleh aku tanya satu hal?"
"Iya. Apa?"
"Jangan-jangan Aoi-san... kamu bukan gyaru, ya?"
"Aku gyaru? Kenapa?"
Aoi-san memiringkan kepala dengan ekspresi heran.
Fix. Jadi, Aoi-san bukanlah seorang gyaru ataupun anak nakal.
Mengingat urusan keluarganya, masuk akal jika dia bolos sekolah untuk bekerja paruh waktu. Rambut dipotong ibu mungkin karena keterbatasan biaya, dan rambut pirang itu pun karena selera ibunya, bukan keinginan Aoi-san sendiri.
Jika filter itu dihilangkan, Aoi-san hanyalah gadis biasa yang sangat berbakti pada ibunya.
"Baiklah. Saya merasa terhormat bisa menangani debut salon Anda. Silakan."
Penata rambut itu memahami situasi Aoi-san yang tampak salah tingkah dan dengan ramah mengarahkannya ke kursi. Tidak cuma wajah, sifatnya pun tampan. Luar biasa.
"Mau model seperti apa?"
"Anu, bagaimana ya......"
Lagi-lagi Aoi-san kebingungan karena tidak terbiasa. Sekarang setelah tahu dia bukan anak nakal, reaksinya itu malah terlihat menggemaskan. Lalu, lewat pantulan cermin, matanya menatapku seolah memohon, "Gimana nih...?"
"Tolong buat jadi cantik saja, terserah Anda."
"Baiklah. Ini saatnya saya menunjukkan kemampuan saya."
Setelah aku menjawab mewakilinya, penata rambut itu segera mulai bersiap. Aku memperhatikannya sebentar, lalu duduk di kursi tunggu sambil berpikir.
Aku—tidak, kami semua—pasti selama ini sudah salah paham tentang Aoi-san. Selama ini kami menganggapnya gyaru atau anak nakal, padahal aslinya dia adalah gadis lembut yang rendah hati dan sangat menyayangi keluarganya.
Hanya karena penampilan mencolok dan sering bolos, kami percaya pada apa yang terlihat dan menjaga jarak. Sementara Aoi-san, karena sifatnya yang pemalu, tidak bisa meluruskan kesalahpahaman itu. ...Meski itu sesuatu yang tidak terelakkan, rasanya sangat disayangkan.
Jika lingkungan di sekitar Aoi-san normal, situasinya pasti akan berbeda. Berandai-andai tidak akan mengubah masa lalu.
"Tapi, masa depan pasti bisa diubah, kan..." gumamku sendiri sambil merapikan pikiran.
Rasanya, aku sudah tahu apa yang bisa kulakukan.
"Maaf sudah menunggu lama."
"Ah, iya!"
Sepertinya aku sudah melamun cukup lama. Tersadar karena panggilan si penata rambut, aku pun melangkah menghampiri Aoi-san.
"Oooohh......"
Perubahan penampilannya begitu drastis sampai-sampai aku refleks mengeluarkan suara aneh.
"A-apa terlihat aneh......?"
Aoi-san melirik reaksiku melalui pantulan cermin sambil mengerutkan lehernya karena malu. Di sana, berdirilah sosok kecantikan rambut hitam yang kalem—sosok yang bisa dibilang sebagai idealismeku.
Rambut pirangnya telah dicat menjadi hitam alami, dan ujung rambutnya yang tadi berantakan kini terpotong rapi. Penata rambutnya pasti bekerja sangat keras; rambut itu memancarkan kilau yang sehat, seolah tidak pernah rusak karena cat pirang sebelumnya. Kerja profesional memang luar biasa. Kalau aku tidak tahu situasinya, aku pasti sudah berteriak, "Siapa ini!?"
Perubahannya benar-benar terlalu dramatis.
"Sama sekali tidak aneh. Menurutku bagus banget."
"Benarkah? Kamu tidak bohong?"
"Aku tidak akan berbohong soal ini."
"Kalau begitu, syukurlah......"
Melihatnya menghela napas lega dengan warna rambut dan pakaian yang tenang, kata "gadis cantik berambut hitam yang anggun" terasa sangat pas untuknya. Tanpa berlebihan, aku merasa seolah baru saja melihat sosok asli Aoi-san.
"Kalau begitu, ayo jalan."
"Iya."
Kami menyelesaikan pembayaran, berterima kasih kepada penata rambut, lalu meninggalkan salon. Mulai sekarang, aku juga mau potong rambut di sini saja.
Saat keluar dari salon dan melirik jam, waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Biasanya jam segini adalah waktu puncak kunjungan, dan area mal jauh lebih sesak dibandingkan saat kami masuk salon tadi.
"Ayo pulang sekarang."
"Iya. Barang yang kurang bisa kita beli lagi lain kali, kan?"
"Atau kalau ada yang bisa dibeli lewat toko online juga boleh."
"Oh iya, benar juga."
Sebenarnya aku ingin makan siang dulu sebelum pulang, tapi di sisi lain, sangat berbahaya berlama-lama di tengah keramaian seperti ini. Aku ingin pulang sebelum berpapasan dengan seseorang. Namun, tepat saat kami mulai berjalan menuju pintu keluar...
"Aaa! Akira-kun sedang kencan sama perempuan—!"
Suara ceria yang sangat kukenal menusuk telingaku, membuat langkahku terhenti seolah membeku. Suaranya begitu keras sampai tidak mungkin itu hanya halusinasi, tapi kumohon, tolonglah biarkan ini hanya halusinasi.
Sambil berkeringat dingin aku menoleh, dan harapanku hancur saat melihat wajah yang sudah sangat familier. Di sana berdiri sang pelaku yang berteriak tadi, Izumi, dan di sampingnya ada Eiji.
"Kenapa kalian ada di sini......"
Rasa panik, heran, sesal, dan putus asa... berbagai emosi negatif sekaligus menyerbu benakku.
"Ini kan tempat kencan standar bagi para pasangan. Tidak aneh kalau kami ada di sini."
"Akira-kun, kalau punya pacar secantik ini harusnya bilang-bilang dong. Jahat sekali sih~ ♪"
Eiji tersenyum tenang seperti biasanya, sementara Izumi menyenggol pinggangku dengan sikutnya sambil memasang senyum menggoda. Rasanya lumayan sakit, tapi aku bahkan tidak punya energi untuk mengaduh. Setelah merasa puas menyenggolku, Izumi berdiri di depan Aoi-san dan mengulurkan tangan.
"Salam kenal! Aku Asamiya Izumi, teman sekelas Akira-kun. Dan ini Sazarashi Eiji-kun, sahabat Akira-kun sekaligus pacarku. Kalau boleh, aku senang sekali kalau bisa tahu namamu!"
Lho? Jangan-jangan Izumi tidak sadar kalau ini Aoi-san? Aku sempat merasa lega sejenak, tapi Izumi segera mengerutkan alisnya.
"Eh? Tunggu sebentar. Sepertinya aku pernah melihatmu di mana ya......"
Kumohon! Jangan sampai sadar! Kalau dia tidak tahu ini Aoi-san, aku masih bisa mengarang alasa—
"Kamu mengubah warna rambutmu ya. Menurutku kamu memang lebih cocok berambut hitam."
"Eh? Jangan-jangan...... Aoi-san? Ini Aoi-san, kan!?"
"......Iya."
Tamat sudah...... Rasanya semua sudah berakhir......
"Wah! Kaget banget! Kamu jadi cantik sekali sampai aku tidak mengenali~ ♪ Tapi menurutku penampilanmu sekarang jauh lebih oke! Gimana ya bilangnya, seperti gadis cantik tipe protagonis! Aura pahlawan wanitanya kuat banget!"
Berlawanan dengan Izumi yang mengacungkan jempol sambil mengedipkan mata, perasaanku justru sangat buruk.
"Terus, kenapa kalian berdua bisa barengan di sini?"
Tolong. Jangan tanya itu. Kumohon abaikan saja kami.
Meski aku berdoa begitu, mana mungkin mereka membiarkan kami lewat begitu saja.
"Cerita detailnya kita dengar pelan-pelan saja ya. Mari kita masuk ke kafe dulu."
"......Ah. Baiklah."
Atas desakan Eiji, kami pindah ke sebuah kafe di dalam mal. Perasaanku saat itu persis seperti tersangka yang diminta datang untuk pemeriksaan sukarela.
Setelah pindah ke kafe, kami memesan minuman dan duduk di kursi bagian dalam. Sebenarnya aku merasa tidak sanggup menelan apa pun, jadi aku tidak berniat memesan, tapi Izumi memaksaku memesan menu baru dan memintaku memberikan testimoni, jadilah aku memesan minuman mewah yang tidak kupahami.
Entah passion apalah ccino? Aku bahkan tidak tahu itu bahasa apa. Jangan pakai aku sebagai kelinci percobaan, dong. Aku tidak bisa merasakan rasanya, jadi dipesan apa pun sama saja, sialan.
Di meja untuk empat orang, aku dan Aoi-san duduk berdampingan, sementara di depan kami ada Eiji dan Izumi. Eiji dengan senyum kalemnya, dan Izumi yang tampak sangat penasaran sampai-sampai mencondongkan tubuhnya ke meja. Dia terlihat begitu bersemangat sampai aku ingin menegurnya, "Apa kamu anak anjing yang tidak sabar menunggu makanan?"
Saat aku menghela napas yang sangat panjang, Eiji berkata menenangkan.
"Tenang saja, kami tidak akan memakanmu, kok."
"Iya......"
Membayangkan interogasi akan segera dimulai membuat hatiku terasa sangat berat. Namun... sampai mana aku harus bercerita? Karena sudah ketahuan, kalau aku berbohong pun pasti suatu saat akan terbongkar juga.
Kalau dipikir-pikir, fakta bahwa orang pertama yang memergoki kami adalah mereka berdua mungkin merupakan sebuah keberuntungan di tengah kemalangan. Setidaknya, dibandingkan ketahuan oleh orang lain dan gosip menyebar di luar kendaliku, situasi di mana dua teman baik ini mendengarkan ceritaku jauh lebih melegakan.
Hanya saja, jika aku harus bercerita, aku juga harus menyertakan urusan pribadi Aoi-san.
"......"
Aku melirik keadaan Aoi-san.
Tentu saja, dia tampak sangat cemas. Bahkan jika aku bisa mengelak di sini, dia pasti akan terus dihantui ketakutan setiap kali kami hampir ketahuan. Dia sudah cukup cemas dengan masa depannya yang tidak pasti, aku tidak mau menambah beban pikirannya.
Kalau begitu, memiliki lebih banyak sekutu akan lebih baik. Dua orang ini pasti tidak akan berniat buruk setelah mengetahui situasinya.
"Aoi-san, bolehkah aku menceritakan semuanya kepada mereka?"
"Eh......?"
Wajar jika dia terkejut. Namun, aku terus menjelaskan dengan lembut agar dia mengerti.
"Aku sangat akrab dengan mereka, jadi aku tahu betul mereka orang seperti apa. Mereka tidak akan menyebarkan rahasia kita sembarangan. Aku menjamin itu. Selain itu, jika mereka mau membantu, aku yakin ke depannya akan banyak hal yang terbantu."
Aoi-san menundukkan pandangannya, seolah sedang berpikir. Setelah beberapa saat, dia menatap mataku dan mengangguk pelan.
"Kalau menurut Akira-kun itu baik, aku tidak keberatan."
"Terima kasih."
Setelah memastikan kesediaan Aoi-san, aku berhadapan dengan mereka berdua.
"Tolong jangan beritahu siapa pun tentang apa yang akan kukatakan ini."
"Paham."
"Aku juga paham!"
"Lalu, jika memungkinkan, aku ingin kalian berdua membantu."
"Bisa membantu atau tidak tergantung isinya, tapi aku berjanji tidak akan membocorkannya."
"Aku juga oke. Kamu bisa mempercayaiku!"
Mempercayai kata-kata mereka, aku mulai menjelaskan situasinya perlahan-lahan.
Tentang bagaimana aku bertemu Aoi-san di taman saat malam hujan beberapa hari lalu. Tentang ibunya yang menghilang bersama seorang pria, dan karena uang sewa tidak dibayar, dia terpaksa meninggalkan apartemen dan kehilangan tempat tinggal. Tentang bagaimana dia tidak punya tempat tujuan hingga mulai tinggal bersamaku.
Aku juga menjelaskan bahwa dia sering bolos sekolah untuk membantu ekonomi keluarga, dan rambut pirang itu bukan pilihannya. Aoi-san bukanlah anak nakal atau gyaru, melainkan gadis biasa yang sedikit pemalu.
Saat aku selesai menjelaskan semuanya, es di dalam minumanku sudah mencair sepenuhnya.
"Begitu ya."
Eiji menunjukkan ekspresi yang rumit, lebih dari sekadar terkejut.
"Aku kaget karena alasannya ternyata berbeda dari yang kubayangkan."
"Berbeda? Maksudnya apa?"
"Ah, bukan apa-apa. Jadi, Akira, apa rencanamu selanjutnya?"
Karena sudah menceritakan semuanya, aku tahu pertanyaan ini akan muncul. Dan rencanaku sudah bulat.
"Aku ingin memperbaiki situasi Aoi-san sebelum aku naik ke kelas dua."
Mengucapkan keinginan itu membuatku semakin yakin bahwa itulah yang harus kulakukan.
"Aku ingin menyelesaikan masalah tempat tinggalnya, rumornya di sekolah, dan semua itu. Aku belum memikirkan cara spesifiknya, tapi aku ingin membantunya."
"Akira-kun......"
Aoi-san bergumam pelan di sampingku.
"Bagi kalian, mungkin terdengar aneh aku melakukan sejauh ini untuk orang yang baru saja tinggal bersamaku dan baru benar-benar mengobrol kemarin. Meskipun ada kesalahpahaman, mungkin kalian pikir aku tidak punya kewajiban untuk membantunya sejauh ini. Tapi, aku sudah memutuskan."
Aku sadar aku sedang melakukan hal yang tidak seperti diriku biasanya. Aku benci keributan, dan aku tidak cukup sombong untuk merasa bisa menjadi pahlawan bagi orang lain. Tapi saat mengetahui seluruh situasi Aoi-san, hatiku tergerak untuk membantunya bahkan sebelum aku sempat berpikir.
Tentu saja, fakta bahwa aku melihat bayangan cinta pertamaku pada diri Aoi-san adalah salah satu alasannya, tapi perasaanku jujur. Alasan untuk ingin menolong seseorang... bukankah itu saja sudah cukup?
"Tolong. Maukah kalian bekerja sama?"
"Tentu saja, jika situasinya seperti itu, aku akan membantu."
Saat aku menundukkan kepala, Eiji langsung menjawab tanpa ragu.
"Beneran nggak apa-apa?"
"Iya. Sifat nggak bisa membiarkan orang lain itu sangat mirip denganmu, Akira."
"Mirip denganku? Eh, masa sih?"
Aku merasa tidak pernah seperti itu. Tapi Eiji hanya tersenyum penuh arti.
"Aku tidak punya hobi menolong semua orang yang kesulitan seperti Izumi, tapi..."
"Kadang kita memang tidak sadar tentang diri sendiri. Kamu memang tidak akan sembarangan mengulurkan tangan secara setengah-setengah, tapi kamu adalah pria yang tidak akan ragu menolong di saat genting."
Pernahkah aku melakukan hal seperti itu sebelumnya? Aku tidak ingat, tapi jika Eiji bilang begitu, mungkin memang pernah terjadi.
Lebih tepatnya, memoriku sedikit kabur karena terlalu sering pindah sekolah sejak kecil. Ingatanku sering tercampur-campur; misalnya aku salah mengira kejadian di sekolah lama terjadi di sekolah baru, atau tertukarnya nama orang dan lokasi rumah. Mungkin Eiji melihat sisi diriku yang itu saat kami di TK dulu.
Yah, asalkan dia mau membantu, tidak masalah.
"Kalau Izumi... eh?"
Saat aku menoleh ke arah Izumi, ternyata dia sudah menangis sesenggukan. Tangisannya sangat serius sampai aku sedikit merasa ngeri.
"Aku juga bakal bantu...... huhu......"
Aku senang dia setuju, tapi aku belum pernah melihat Izumi menangis sehebat ini.
Mungkin dia menangis karena merasa iba dengan nasib Aoi-san, tapi rasanya dia agak berlebihan... Meski begitu, dalam hati aku merasa senang karena dia peduli dengan tulus.
"Tapi, bolehkah aku menanyakan satu hal?"
Eiji bertanya sambil menyodorkan sapu tangan kepada Izumi.
"Apa itu?"
"Kenapa kamu menetapkan batas waktu sampai kenaikan kelas dua?"
"Itu..."
Sebenarnya, aku belum memberitahu Eiji dan yang lainnya soal rencana kepindahanku.
Alasannya? Karena memikirkan perpisahan dengan mereka berdua saja sudah membuatku berat hati untuk mengucapkannya. Aku tahu suatu saat harus mengatakannya, tapi kalau bisa, aku tidak ingin pindah sekolah. Aku merasa jika aku mengucapkannya, aku akan terjebak dalam rasa takut bahwa aku harus menerima kenyataan perpisahan ini.
Aku pikir aku sudah terbiasa dengan urusan pindah sekolah... tapi khusus untuk mereka berdua, aku tidak ingin berpisah. Namun, sepertinya ini waktu yang tepat untuk berterus terang.
"Aku... akan pindah sekolah saat naik ke kelas dua nanti."
“"Pindah sekolah?"”
Suara terkejut mereka berdua berbarengan.
"Ayahku dipindahtugaskan lagi. Sejak musim semi ini, Ibu dan adikku, Hiyori, sudah pindah duluan. Karena aku sudah terlanjur diterima di SMA ini, aku masuk dulu di sini, tapi rencananya aku akan pindah saat kenaikan kelas dua. Jadi, waktu yang kupunya hanya sampai Maret tahun depan."
"Hiyori-chan sudah tidak ada di sini!?"
Izumi yang paling pertama berteriak kaget.
"Iya. Berbeda denganku yang menunggu waktu yang pas, Hiyori pindah lebih awal saat masuk kelas 3 SMP agar dia bisa lebih fokus mempersiapkan ujian masuk SMA di tempat baru nanti."
"Jahat banget... padahal kamu bisa memberitahu kami lebih awal."
Dari reaksinya, bisa terlihat kalau Izumi dan adikku, Hiyori, sangat akrab. Hiyori satu tingkat di bawah kami, dan Izumi bukan sekadar seniornya di SMP, tapi mereka juga sering main bareng secara pribadi. Hubungan mereka bahkan lebih akrab daripada hubunganku dengan Izumi.
Malah sebenarnya, Izumi lebih dulu kenal Hiyori daripada aku; Izumi sering main ke rumah hanya untuk bertemu Hiyori. Aku benar-benar kaget saat tahu belakangan kalau dia ternyata pacarnya Eiji.
"Hiyori tidak cerita padamu itu sepenuhnya salahku. Aku yang memintanya jangan bilang-bilang karena aku sendiri belum bicara pada Eiji dan yang lain. Dia hanya mencoba pengertian padaku."
"Begitu ya..."
"Maaf ya menyampaikannya dengan cara begini, tapi tolong tetaplah berteman baik dengan Hiyori seperti biasanya."
"Iya, tentu saja."
Izumi tampak lesu, bahunya merosot karena syok.
"Tapi ya sudahlah... itu sangat disayangkan."
Eiji memejamkan mata seolah menyayangkan perpisahan yang akan datang, sambil tetap menenangkan Izumi.
"Kurasa itu saja ceritanya. Untuk rencana spesifiknya, biarkan aku berkonsultasi lagi dengan kalian dalam waktu dekat."
"Oke. Kami selalu siap kapan saja. Kabari kami kalau pikiran kalian sudah bulat."
"Sip. Ayo Aoi-san, kita pulang."
"Iya. Ah, tapi..."
Aoi-san bergumam seolah teringat sesuatu.
"Ada tempat yang ingin kudatangi sebentar, jadi Akira-kun pulanglah duluan."
"Tempat yang ingin didatangi?"
Oh iya, tadi dia sempat menunjukkan reaksi seperti lupa membeli sesuatu. Sepertinya dia memutuskan untuk membelinya sekarang.
"Aku temani saja."
"N-nggak apa-apa kok..."
"Tapi kalau beli sesuatu nanti bawaannya berat, kan?"
"Anu... itu..."
Aoi-san menunduk dan bicara dengan nada ragu yang canggung. Ada apa sih? Apa dia mau beli sesuatu yang membuatku tidak boleh ikut?
"Aku tahu! Kalau begitu Aoi-san, ayo pergi belanja bersamaku!"
Entah kenapa, Izumi mengajukan diri. Dia langsung berdiri dengan semangat, seolah tangisannya tadi hanya bohong belaka. Aku pikir Aoi-san akan menolak, tapi...
"......Boleh?"
"Tentu sajaaa ♪"
Serius?
"Oke, kalau begitu untuk hari ini kencannya selesai sampai di sini! Eiji-kun, sampai jumpa lagi! Aku sayang kamu! ♪"
"Aku juga sayang kamu. Hati-hati di jalan."
Aoi-san ditarik tangannya oleh Izumi, lalu mereka berdua buru-buru meninggalkan kafe. Kini tersisa dua laki-laki di kafe tersebut, menciptakan suasana yang agak aneh.
"Kenapa ya..."
"Mungkin itu tempat yang sulit dikunjungi bareng laki-laki."
"Tempat macam apa itu?"
"Menanyakannya itu tidak sopan, tahu."
...Yah, sudahlah. Aku sempat khawatir membiarkannya sendiri, tapi kalau bersama Izumi, aku merasa tenang. Tapi omong-omong...
"Kalian ini... beneran berani ya bilang 'sayang kamu' di tempat umum."
"Iya. Tidak ada hubungannya tempat dengan pengungkapan rasa sayang antar kekasih, kan?"
"Nggak gitu juga, kurasa kalian harus lebih tahu tempat sedikit..."
Aku sih sudah terbiasa, tapi bagi orang di sekitar, yang mendengar justru yang merasa malu. Tuh, lihat ibu-ibu di kursi sebelah sampai kaget dan menyemburkan tehnya.
"Lagipula kalau sudah pacaran, bukannya harusnya sudah saling mengerti meski tanpa kata-kata?"
"Mungkin ada pasangan yang begitu. Tapi bagiku, pada dasarnya manusia, terutama laki-laki dan perempuan, tidak akan pernah bisa benar-benar saling memahami. Itulah kenapa aku merasa sangat penting untuk mengungkapkan apa yang kita pikirkan lewat kata-kata."
"Kedengarannya agak dingin ya... Apa maksudnya?"
Aku bertanya bermaksud sedikit menyindir, tapi Eiji menjawab dengan wajah serius.
"Maksudnya, mustahil memahami satu sama lain tanpa kata-kata. Bahkan keluarga saja tidak selalu paham satu sama lain, apalagi orang asing yang berbeda jenis kelamin. Berharap pacarmu 'peka' tanpa kamu bicara itu hal yang mustahil."
"Yah... aku mengerti maksudmu, tapi apa memang begitu ya?"
"Begitulah adanya. Faktanya, Akira, kamu sama sekali tidak tahu apa yang ingin dibeli Aoi-san. Tapi itu bukan karena kamu tidak mau tahu. Sebaliknya, kamu sudah mencoba untuk mengerti tapi tetap tidak tahu, itulah kenapa kurasa berbicara itu sangat penting."
Eiji menambahkan, "Yah, soal apakah pihak lawan mau bicara atau tidak, itu masalah lain."
"Kedengarannya jadi seperti obrolan filosofis..."
Tapi, mungkin itu benar.
Aku mengusulkan tinggal bersama demi kebaikan Aoi-san. Namun, aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan di dalam hatinya. Mungkin dia senang, mungkin dia bersyukur. Atau mungkin sebenarnya dia terpaksa karena tidak punya pilihan lain.
Kemungkinan bahwa ini hanyalah pemaksaan niat baik pun tidak nol. Seperti kata Eiji, aku tidak tahu apa isi kepala Aoi-san.
"Tentu saja, tidak semua hal harus dibicarakan. Sikap berusaha peka terhadap perasaan lawan itu penting, dan kepedulian untuk membiarkan seseorang tenang tanpa bertanya pun penting. Tapi, jangan sampai tertukar antara 'peduli' dan 'sungkan'. Kalau kamu ingin terus bersama orang yang berharga bagimu, hal-hal yang perlu dibahas ya harus dibicarakan."
"Begitu ya."
Entah kenapa, aku merasa paham tapi juga tidak paham. Memang beda ya kalau yang bicara itu orang yang sudah punya pacar.
"Makanya Akira, kurasa penting bagimu untuk tidak merasa seolah sudah memahami perasaan Aoi-san sendirian. Karena kalian baru saja mulai bicara belakangan ini, komunikasi dengan Aoi-san tidak boleh putus."
"Benar juga."
"Terutama Aoi-san itu tipe yang tidak mau mengutarakan isi hati yang sebenarnya, jadi kamu harus pintar-pintar menghadapinya."
"Nada bicaramu seolah-olah kamu sudah lama kenal Aoi-san saja."
"Aku lebih tahu tentang dia dibanding kamu yang sudah lama meninggalkan kota ini, kan?"
Yah, benar juga sih.
Eiji menghabiskan sisa kopi di gelasnya lalu berdiri.
"Ayo pulang."
"......Ah, iya."
Aku mengikuti Eiji keluar dari kafe. Terlepas dari semuanya, aku lega karena mereka berdua mau membantu. Apapun yang terjadi, aku harus memperbaiki lingkungan hidup Aoi-san sebelum aku pindah sekolah. Sekali lagi, aku berjanji dalam hati.
*
Sore harinya——
Aku yang pulang lebih dulu tidak punya kegiatan khusus, jadi aku mulai menyiapkan makan malam. Aku melirik jam dinding di ruang tamu, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.
"Aoi-san, jam berapa ya dia pulang?"
Dia tidak sendirian di mal, dan hari juga masih cukup terang, sebenarnya bukan waktu yang perlu dikhawatirkan... tapi karena tidak ada kabar, aku jadi sedikit cemas.
Aku sempat terpikir untuk mengirim pesan menanyakan jam pulangnya. Tapi, kalau Aoi-san sedang menikmati waktunya bersama Izumi, aku merasa tidak enak jika mengganggu. Berkali-kali aku mengambil ponsel lalu mengurungkan niat, begitu terus berulang kali.
"Apa begini rasanya perasaan pacar yang khawatir menunggu kepulangan pasangannya yang tinggal serumah?..."
Aku segera tersadar dari lamunan itu.
Aku kan bukan pacarnya, jadi aku tidak punya hak untuk mengatur-atur Aoi-san. Meski tinggal bersama, apa ini yang namanya terlalu protektif?...
"Gawat! Hamburg-nya mau gosong!"
Saat aku lengah dari penggorengan, bau gosong sedikit tercium di dapur. Tepat ketika aku buru-buru membalik daging hamburg itu...
"Aku pulang."
Terdengar suara pintu depan terbuka, disusul suara yang sudah kukenal sampai ke dapur. Dengan bunyi langkah sandal yang terburu-buru, Aoi-san muncul di ruang tamu dengan wajah agak panik.
"Selamat datang."
"Maafkan aku. Aku pulang terlambat..."
Begitu kami bertatap mata, Aoi-san langsung membungkukkan kepala. Dilihat dari napasnya yang memburu, sepertinya dia lari saat pulang.
"Aku tidak keberatan, kok."
"Setelah belanja dengan Izumi-san, kami pergi makan siang, lalu keasyikan mengobrol sampai lupa waktu... aku berniat pulang lebih awal, tapi, maafkan aku."
"Nggak, beneran nggak apa-apa."
Seberapa sering pun aku bilang tidak apa-apa, Aoi-san terus mengucapkan kata maaf. Sosoknya itu terlihat seolah-olah dia sedang ketakutan.
"Tapi, kalau aku pulang terlambat, Ibu biasanya akan sangat marah..."
Mendengar kata-kata itu, sebuah pikiran buruk melintas di kepalaku. Mungkinkah ini hal yang dianggap lumrah di keluarga Aoi-san?
Lingkungan di mana dia akan dimarahi habis-habis jika terlambat pulang atau tidak memberi kabar. Keluarga normal pun mungkin begitu, tapi ibu Aoi-san pasti punya cara marah yang membuat Aoi-san merasa terintimidasi. Mungkin di sana ada emosi negatif lain selain sekadar rasa khawatir. Mengingat dia adalah orang tua yang tega menelantarkan anaknya, mau tidak mau aku berpikir begitu.
"Maafkan aku..."
"Aoi-san..."
Aku menatap Aoi-san yang tampak menciut, seperti anak kecil yang dimarahi secara tidak adil. Tiba-tiba, kata-kata Eiji di kafe tadi terngiang di kepalaku.
Jangan sampai tertukar antara 'peduli' dan 'sungkan'——
Kalau kamu ingin terus bersama orang yang berharga bagimu, hal-hal yang perlu dibahas ya harus dibicarakan——
Kalau begitu, mungkin aku tidak boleh hanya sekadar bilang 'tidak apa-apa' di bibir saja. Aku harus mengutarakan apa yang kupikirkan sekarang, dan harus mendengarkan apa yang dipikirkan Aoi-san.
"Aoi-san, mari kita bicara sebentar."
"Iya......"
Aku mematikan api kompor gas, lalu mempersilakan Aoi-san untuk duduk di sofa ruang tamu. Kami duduk berdampingan, dan aku mulai berbicara padanya dengan nada selembut mungkin.
"Aoi-san, apa main bareng Izumi tadi menyenangkan?"
"Eh......?"
Aoi-san sepertinya tidak menyangka akan ditanya seperti itu. Dia sempat terdiam karena terkejut, sebelum akhirnya membuka suara perlahan.
"......Iya. Menyenangkan."
"Kalau boleh, maukah kamu cerita bagian mana yang paling menyenangkan?"
Aoi-san mengangguk pelan, lalu mulai bercerita sambil sesekali melirik reaksiku.
"Aku... sampai sekarang hampir tidak pernah pergi main dengan siapa pun. Ibuku sangat disiplin, jadi di hari libur pun aku selalu di rumah. Makanya, saat Akira-kun dan Izumi-san mengajakku ke berbagai tempat dan mengobrol denganku, rasanya sangat seru sampai aku lupa waktu......"
"Kalau begitu, kamu tidak perlu merasa bersalah hanya karena pulang terlambat."
"Tapi......"
Tetap saja Aoi-san menggantung kalimatnya seolah masih menyalahkan diri sendiri. Agar tidak membantah perasaannya begitu saja, aku menerima alasannya terlebih dahulu sebelum membalas.
"Aku mengerti rasanya merasa tidak enak pada orang lain. Tapi, saat mendengar kalau kamu menghabiskan waktu dengan menyenangkan, aku bukannya marah, malah justru merasa senang."
"Senang?"
Aku mengangguk perlahan untuk meyakinkannya.
"Aku juga pernah mengalaminya. Waktu yang menyenangkan itu rasanya berlalu dalam sekejap. Apalagi kalau sedang main bareng teman akrab. Waktu kecil dulu, padahal aku tahu harus segera pulang, tapi malah keasyikan sampai telat dan akhirnya dimarahi orang tua."
Aku menceritakan bahwa hal itu dialami siapa saja, berharap Aoi-san tidak terlalu membebani pikirannya.
"Tapi sekarang aku sadar. Orang tuaku marah bukan karena benci, tapi karena mereka hanya khawatir. Tentu saja, siapa yang tidak khawatir kalau anggota keluarga tercintanya belum pulang tanpa kabar."
Tentu saja saat itu aku sama sekali tidak paham. Baru setelah hidup sendiri dan merenungkan kembali soal keluarga, aku mulai mengerti.
"Kondisi setiap rumah berbeda-beda, jadi aku tidak tahu apa yang dipikirkan ibumu. Tapi, setidaknya bagiku, aku senang kamu bisa bersenang-senang sampai lupa waktu. Aku memang khawatir karena tidak tahu jam berapa kamu pulang, tapi aku tidak marah. Kalau kamu tetap merasa tidak enak, mulai lain kali beri kabar saja lewat pesan. Dengan begitu, aku bisa menunggumu dengan tenang."
Apakah pesanku tersampaikan dengan baik?
Sambil aku merasa was-was, Aoi-san mengangguk kecil.
"Aku mengerti. Mulai sekarang aku akan memberi kabar dengan benar."
"Sip. Aku juga akan memberitahumu kalau aku pulang telat."
Aku tidak terlalu percaya diri apakah penjelasanku tadi cukup bagus. Namun, ekspresi Aoi-san tampak sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Terlepas dari itu, aku lega kamu dan Izumi bisa akrab."
"Akrab...... apa kami sudah akrab ya. Aku memang merasa sangat senang, tapi karena aku payah dalam mengobrol, aku takut Izumi-san merasa bosan."
"Tidak mungkin. Kalau kamu merasa senang, Izumi pasti juga menikmatinya."
"Kalau benar begitu, aku senang sekali. Rasanya...... aku iri pada Akira-kun yang berteman dengan Izumi-san dan Eiji-kun."
Rasanya, itu adalah isi hati terjujur yang pertama kali ditunjukkan Aoi-san. Karena itu, aku merasa tidak boleh membiarkan kata-katanya berlalu begitu saja.
"Bicara apa sih. Kamu dan Izumi kan sudah berteman."
"Mana mungkin...... orang sepertiku jadi temannya......"
"Kalau sudah main bareng seharian, itu namanya sudah berteman. Setidaknya, Izumi pasti menganggap begitu. Mulai besok, bersiap-siaplah karena dia pasti akan lebih sering mengganggumu di kelas."
Aku mengatakannya dengan nada bercanda, meski aku tahu itulah yang akan terjadi. Tapi masa depan seperti itu pasti akan membawa dampak baik bagi Aoi-san.
"Teman...... aku akan sangat bahagia jika dia menganggapku begitu," gumam Aoi-san dengan wajah agak tersipu. Ekspresi itu adalah senyum terbaik yang pernah dia tunjukkan padaku sejauh ini.
"Oke! Kalau begitu, pembahasan ini selesai!"
Aku bertepuk tangan untuk mencairkan suasana yang sempat haru.
"Iya."
"Makan malamnya sebentar lagi siap."
"Ah, aku juga mau bantu."
Saat aku berdiri dari sofa, Aoi-san segera mengekor di belakangku. Aku hampir saja bilang "istirahat saja," tapi aku menelan kembali kata-kata itu. Pasti ini adalah cara Aoi-san agar suasana canggung tidak berlanjut. Jika begitu, lebih baik aku menerima bantuannya demi kenyamanan kami berdua.
"Terima kasih. Kalau begitu, tolong siapkan alat makannya ya? Karena hari ini menunya hamburg, pakai piring yang agak lebar saja."
"Siap. Pantas saja tercium aroma daging panggang. Tapi...... kok sepertinya agak bau gosong ya?"
"Eh?"
Aku tersentak. Memang aku sudah mematikan api kompor, tapi dagingnya masih berada di atas wajan. Meski api mati, wajan tetap panas karena sisa panas yang tertinggal...... saat aku buru-buru membalik dagingnya, warnanya memang belum hitam legam, tapi jelas-jelas gosong karena terlalu lama dipanggang.
"Gawat......"
Kedua sisi hamburg-nya jadi agak gosong. Benar-benar kesalahan pemula yang konyol.
"Fufu~"
"Eh? Kamu barusan tertawa?"
"Maaf. Soalnya aku pikir Akira-kun itu tipe orang yang serba bisa, jadi saat melihatmu melakukan kesalahan yang 'imut' begini, rasanya lucu. Maaf ya, padahal aku sendiri tidak bisa masak sama sekali."
Melihat Aoi-san tertawa kecil, aku pun jadi ikut merasa lucu.
"Mana ada orang yang serba bisa. Kegagalan begini masih mending, awal-awal aku hidup sendiri itu lebih tragis. Tiap masak rasanya selalu beda, pernah salah memasukkan garam dan gula, bahkan sup misonya pernah sangat asin sampai tidak bisa diminum. Tiap gagal aku cari di internet, baru deh sekarang lumayan bisa."
"Benarkah?"
"Iya. Kalau cuma masak sih masih mending, tapi urusan cuci baju aku pernah lupa masukkan pelembut, terus waktu pakai penyedot debu aku tidak tahu cara melepas kantong kertasnya. Karena kupaksa, isinya malah tumpah berhamburan di kamar. Entah sudah berapa kali aku kesal sendiri dan akhirnya malah tidur saking jengkelnya."
Kalau sudah begini, semuanya jadi bahan tawa.
Saat aku menceritakannya dengan gaya melucu, Aoi-san menutupi mulutnya dan mulai tertawa terbahak-bahak.
"Lupakan soal kisah kegagalanku, sekarang hamburg ini mau dikemanakan... apa perlu aku masak lauk lain lagi?"
"Segini sih tidak apa-apa kok. Ayo makan."
"Tapi, kurasa rasanya tidak akan terlalu enak."
"Kalau memang begitu, ini pasti akan jadi kenangan yang indah."
Kenangan yang indah, ya?
Kegagalan yang kalau dilakukan sendirian ingin membuatku memegangi kepala, ternyata jika dilakukan berdua bisa menjadi bahan tawa suatu hari nanti. Memikirkan hal itu, aku merasa bahwa tidak sendirian adalah sebuah kebahagiaan.
"Aku tidak menjamin rasanya, ya."
Akhirnya kami menyantap makan malam dengan lauk hamburg yang agak gosong itu. Sesuai dugaan, rasanya memang tidak terlalu enak, tapi makan malam sambil menertawakan kegagalan terasa lebih mengenyangkan daripada biasanya.
Setelah selesai makan malam, kami mandi dan beristirahat sejenak. Aoi-san sepertinya benar-benar menikmati waktunya bersama Izumi, dia menceritakan banyak hal padaku. Tentang makan siang bersama, lalu karena ingin makan yang manis-manis mereka mampir ke kafe lagi, hingga dia tersenyum kecut saat bercerita betapa mereka merasa tidak enak pada pelayan toko karena nongkrong selama tiga jam hanya dengan memesan teh dan kue.
Aku mendengarkan kata-kata Aoi-san yang bercerita dengan riang tentang kejadian hari ini. Saat sedang asyik mengobrol, tak terasa jarum jam sudah mendekati angka dua belas. Kan sudah kubilang? Waktu yang menyenangkan itu berlalu dengan cepat.
"Besok juga masih libur, tapi sebaiknya kita tidur sekarang."
"Iya. Benar juga. Ah......"
Aoi-san mengeluarkan suara seolah teringat sesuatu.
"Ada apa?"
"Anu...... sebelum tidur, bolehkah aku mencuci baju sebentar?"
"Boleh saja, tapi ini sudah larut, kenapa tidak besok saja?"
"Itu sih iya, tapi......"
Dia menggantungkan kalimatnya sambil tampak gelisah dan salah tingkah. Sial, gerakan kecil begitu saja terlihat imut.
"Yah, tidak apa-apa sih, ayo cuci baju dulu baru tidur."
"Aku bisa sendiri kok, Akira-kun tidur duluan saja."
"Begitu? Ya sudah, aku duluan ya."
"Iya. Selamat tidur."
"Ya. Selamat tidur."
Aku meninggalkan ruang tamu menuju kamar dan berbaring di tempat tidur. Saat memejamkan mata, tiba-tiba rasa bahagia meluap di hatiku. Baru beberapa hari tinggal bersama, tapi ini pertama kalinya aku melihat Aoi-san sebegitu cerewetnya.
Mungkin karena lawan bicaranya adalah Izumi yang merupakan bongkahan kemampuan komunikasi berjalan, tapi Aoi-san yang biasanya menjaga jarak dengan orang lain kini bisa bilang kalau menghabiskan waktu bersama teman itu menyenangkan.
Aku merasa tulus bahagia mendengarnya. Awalnya saat ketahuan Izumi dan Eiji aku merasa seperti kiamat, tapi sekarang aku benar-benar bersyukur mereka berdualah yang tahu. Mungkin ini yang namanya berkah di balik musibah?
Karena merasa senang, aku jadi sulit tidur. Tiga puluh menit kemudian, saat aku masih terjaga, mesin cuci mengeluarkan bunyi elektronik tanda selesai mencuci... namun...
"Aoi-san sedang apa ya?..."
Sudah ditunggu lama, tapi tidak ada tanda-tanda Aoi-san mengeluarkan cuciannya. Karena penasaran, aku bangkit dari tempat tidur dan kembali ke ruang tamu. Ternyata Aoi-san tertidur lelap di sofa dengan napas yang teratur.
"Pasti dia kelelahan setelah main seharian sampai tidak kuat melek."
Sambil tersenyum melihat sosoknya yang polos itu, aku pergi ke ruang cuci untuk memindahkan cucian ke mesin pengering mewakilinya.
Begitu aku membuka tutup mesin cuci, di dalamnya ada baju-baju yang baru saja kami beli hari ini. Oalah, ternyata Aoi-san tipe orang yang harus mencuci baju baru sebelum dipakai. Hal-hal seperti ini memang tergantung masing-masing orang atau kebiasaan di rumahnya, sih. Sambil memindahkan cucian ke keranjang...
"I-ini kan......!"
Tanganku refleks terhenti saat melihat sesuatu yang tidak terduga. Di sana, terselip di antara pakaian dan berada di dalam jaring cuci, ada pakaian dalam wanita. Seketika itu juga aku paham segalanya. Alasan kenapa Aoi-san bilang "kapan-kapan saja" saat kutanya barang apalagi yang perlu dibeli.
Alasan kenapa dia menolak ditemani aku tapi langsung setuju saat Izumi menawarkan diri. Alasan kenapa dia menyuruhku tidur duluan meskipun aku menawarkan bantuan mencuci. Semua kain warna-warni merah muda dan kuning yang terlihat masih gres itu adalah buktinya.
"......Aku harus pura-pura tidak lihat dan kembali ke kamar."
Aku tidak boleh sampai ketahuan Aoi-san sedang memegang ini. Kalau terlihat, aku pasti akan dianggap pria berbahaya yang menggeledah pakaian dalam gadis yang tinggal serumah dengannya di tengah malam. Lebih baik menjauh daripada celaka.
Namun, saat aku berpikir begitu, semuanya sudah terlambat.
"Akira-kun......"
Begitu merasakan kehadirannya, namaku dipanggil. Aku menoleh, dan di sana berdirilah Aoi-san dengan wajah merah padam. Dia memasang ekspresi yang sulit digambarkan dengan kata-kata, sementara bahunya gemetar hebat.
"B-bukan, ini salah paham! Sumpah, aku sama sekali nggak pegang itu karena niat mesum, tapi karena kamu ketiduran, jadi aku pikir mau bantuin jemur! Lagipula benar juga ya, pas kamu datang ke sini kan barangmu cuma sedikit, pakaian dalam juga pasti nggak punya banyak cadangan jadi harus beli baru, kan!
Iya, seleramu bagus kok!"
Apa-apaan 'seleramu bagus'?!
Kenapa di saat panik begini, mulutku malah kelepasan mengatakan hal yang seharusnya tidak diucapkan! Gara-gara aku sok menunjukkan pengertian yang tidak perlu, wajah Aoi-san sampai memerah sampai ke telinga dan dia menutupi mukanya dengan tangan.
"K-kalau begitu... sisanya kuserahkan padamu ya."
Percuma saja, mau bicara apa pun sekarang rasanya sudah sia-sia.
Sambil memasang senyum kecut, aku kembali ke kamar dan menelungkupkan badanku di bawah selimut. Rasa malu, gugup, dan rasa bersalah membuatku semakin tidak bisa tidur dibandingkan tadi.
Sebagai informasi, berawal dari insiden ini, beberapa peraturan akhirnya ditetapkan di antara aku dan Aoi-san:
Keranjang cucian dipisah, dan masing-masing mencuci pakaiannya sendiri.
Saling memberi kabar jika salah satu dari kami akan pulang terlambat.
Karena Aoi-san tidak bisa memasak, atas permintaannya sendiri, urusan bersih-bersih rumah diserahkan sepenuhnya kepadanya.
Selain itu, kami sepakat untuk ke depannya tidak perlu sungkan membicarakan apa pun selama tinggal bersama. Setidaknya, ada gunanya juga aku tidak sengaja melihat pakaian dalam itu.
...Tolong, anggap saja ada gunanya. Sumpah, itu benar-benar pemandangan yang indah.
Sekali lagi, aku menyadari bahwa tinggal bersama itu ternyata sulit.





Post a Comment