NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V1 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Tinggal Serumah dengan Gyaru Penyendiri Kelas

Setiap remaja laki-laki yang sehat pasti setidaknya pernah sekali membayangkan rasanya tinggal bersama seorang gadis. Entah itu dengan gadis yang disukai, atau gadis yang dirumorkan paling cantik di sekolah. Lalu suatu hari tiba-tiba saja dia menjadi adik tiri tanpa hubungan darah karena orang tua yang menikah lagi, atau mungkin tinggal bersama kakak perempuan cantik dan kaya yang tinggal di sebelah rumah.


Itu adalah salah satu halaman fantasi bernama "masa muda", persis seperti di drama atau manga.


Bukan hal yang buruk, kok. Bagi anak laki-laki di masa pubertas, itu seperti ritual pendewasaan yang dialami semua orang.


Tentu saja, kalau ditanya apakah aku pernah punya fantasi semacam itu, jawabannya sudah pasti: pernah. Bahkan kalau digabung, jumlah jari tangan dan kakiku pun tidak akan cukup untuk menghitungnya. 


Pernah juga aku terlalu bersemangat memikirkan fantasi itu sampai tidak bisa tidur dan harus menyambut pagi hari; merasakan kekosongan yang luar biasa saat melihat sinar matahari yang cerah dan mendengar kicauan burung yang menyegarkan. Rasa hampa yang membuatmu ingin mati itu pasti dipahami oleh setiap siswa SMA yang normal.


Mari lupakan sejenak pengalaman pribadiku yang menyedihkan itu. 


Intinya, memang ada orang-orang di luar sana yang benar-benar mewujudkan impian tinggal bersama gadis yang sangat kita dambakan itu. Kepada mereka, aku ingin mengirimkan bom bersama dengan ucapan selamat. 

Meledaklah kalian, dasar para Riajuu. Semoga sial.


Sambil merasa iri pada laki-laki antah-berantah itu, aku sadar bahwa tinggal bersama seorang gadis adalah cerita mimpi yang mustahil terwujud bagi status pelajar, itulah kenapa hal itu sangat didambakan. Kalau pun terwujud, mungkin nanti saat sudah dewasa dan punya pacar.


Begitulah pikirku, tapi ternyata—


"Ini rumahku. Masuk saja, jangan sungkan."


"Permisi......"


Siapa sangka aku justru berakhir di posisi yang akan membuat orang lain iri.


"Pokoknya, mandi dulu saja. Anu, ini handuk...... dan ini baju rumahku, pakai saja kalau mau. Kamar mandinya keluar koridor lalu belok kiri. Pakai saja sampo atau apa pun yang ada di sana sesukamu."


Tidak mungkin aku membiarkannya terus-menerus basah kuyup.

Berpikir bahwa dia harus mandi dulu, aku menyerahkan barang-barang yang dibutuhkan kepada Soutome-san.


"Terima kasih......"


"Sama-sama. Santai saja ya~"


Aku melepas Soutome-san yang berjalan menuju kamar mandi dengan suara santai.


"......Eh, tunggu dulu, apa-apaan aku ini!?"


Suara teguran untuk diriku sendiri bergema di ruang tamu. 


Meskipun teman sekelas, tapi membawa gadis yang tidak akrab ke rumah itu benar-benar tidak beres. Walaupun aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, tapi kata-kata yang spontan keluar malah 'Mau ke rumahku?'. Aku sendiri kaget betapa beraninya aku melakukan hal itu.


"Padahal aku nggak menyangka dia bakal benar-benar ikut......"


Entah kenapa, kalau dipikir-pikir dari sudut pandang tertentu, semuanya terasa berjalan terlalu lancar.


Dulu aku pernah membaca di sebuah majalah. Katanya, kalau kamu mengajak gadis ke rumah dan dia bilang oke, berarti hal-hal 'anu' dan 'itu' juga kemungkinan besar bakal oke.


"......Nggak, nggak mungkin! Pasti nggak mungkin!"


Bahkan kalaupun iya, itu pasti semacam jebakan. Percaya pada pepatah "membiarkan makanan yang sudah tersaji adalah penghinaan bagi laki-laki", lalu setelah menikmatinya malah dituduh tidak ada persetujuan dan dilaporkan ke kantor polisi—cerita tentang orang-orang yang hidupnya hancur seperti itu bertebaran di mana-mana di internet. Kalau aku melakukan hal bodoh, tidak heran jika aku akan berakhir seperti itu.


Aku mencoba membayangkan diriku dibawa oleh polisi dan diinterogasi.


『Membawa siswi SMA ke rumah, beruntung banget kamu ya.』

『Nggak, saya nggak punya niat buruk kok.』

『Bohong. Kamu pasti kepikiran dikit, kan?』

『Ya, dikit sih......』

『TANGKAP☆』


Interogasi yang penuh pertanyaan menjebak itu sungguh menakutkan. Katanya sekarang ini, menyapa anak kecil yang tersesat saja bisa dilaporkan ke polisi.


Dunia ini terlalu kejam...... pikirku. Bahkan dengan niat baik pun bisa ditangkap, apalagi jika ditanya apakah niat mesumku benar-benar nol, aku tidak bisa menjawabnya dengan cepat. Jadi kurasa aku tidak akan punya dalih untuk meloloskan diri.


Selamat tinggal masa mudaku. Di kehidupan selanjutnya, semoga aku bisa melakukannya dengan lebih baik.


"......Jangan mikir yang aneh-aneh, mending bikin makan malam saja."


Mungkin berkat khayalan yang membabi buta tadi, aku justru jadi lebih tenang.


Sambil menghela napas untuk menenangkan diri, aku mulai memasak sambil berpikir. Lagipula, tipeku itu bukan gyaru pirang yang tidak ramah, melainkan perempuan cantik yang kalem dan anggun...... 


Eh, bukan itu maksudnya. Intinya, lebih masuk akal kalau aku menanyakan situasinya dulu, baru setelah itu memikirkan apa yang harus dilakukan.



Saat aku selesai memasak, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Di tengah suara hairdryer yang bergema sampai ke ruang tamu, aku membawa makan malam yang sudah jadi ke meja.


Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi katanya manusia bisa jadi putus asa kalau perutnya lapar. Mungkin jika dia sudah kenyang dan tenang, dia akan menceritakan satu atau dua hal tentang situasinya.


Yah, soal apakah aku bisa membantunya atau tidak, itu masalah lain.


Saat sedang berpikir begitu, tak lama kemudian Soutome-san kembali ke ruang tamu.


"Terima kasih atas mandinya."


"Ah, i-iya......"


Melihat Soutome-san yang baru selesai mandi, jantungku spontan berdegup kencang. Rambut panjangnya yang masih agak lembap, serta pipinya yang memerah karena suhu hangat setelah mandi.


Yang paling utama, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasakan "romansa laki-laki" dalam situasi ganjil di mana seorang gadis memakai baju rumah milik laki-laki. Apalagi yang dia pakai adalah baju rumahku sendiri, ini benar-benar luar biasa.


Kalau saja ini kemeja putih polos, pasti jauh lebih sempurna......!


"Ada apa?"


"Ah, nggak, bukan apa-apa!"


Agar isi kepalaku tidak ketahuan, aku membuang muka dan berpura-pura tenang.


Setelah menarik napas dalam-dalam untuk mengusir pikiran kotor, aku memasang senyum dan menyapanya.


"Kebetulan makan malamnya sudah siap, ayo kita makan bareng."


"Maaf ya. Untuk semuanya."


"Nggak usah dipikirkan."


Kami duduk berhadapan dan merapatkan tangan (berdoa), lalu Soutome-san mengambil sendok dan menyuapkannya ke mulut dengan perlahan.


"Enak......"


Saat menggumamkan hal itu, akhirnya aku bisa melihat semacam "nyawa" di wajahnya.


"Akamori-kun, kamu pintar memasak ya."


"Cuma nasi goreng biasa, kok."


Sambil mengobrol seperti itu, sebuah pikiran terlintas di benakku. Karena dia adalah sosok gyaru pirang penyendiri yang tidak pernah bicara dengan siapa pun di sekolah, aku mengira dia akan bersikap dingin dan membuat percakapan jadi canggung... tapi ternyata, kami bisa mengobrol dengan normal.


Apakah karena dia sudah merasa sedikit tenang setelah mandi dan makan malam?


Meski begitu, aku tidak tahu apakah Soutome-san mau menceritakan situasinya, tapi setidaknya sepertinya aku tidak perlu merasa tegang berlebihan.


Sebelum menanyakan urusannya, aku memutuskan untuk menceritakan situasiku dulu untuk melihat reaksinya.


"Sejak mulai hidup sendiri, kurasa kemampuan memasakku jadi sedikit lebih baik."


"Hidup sendiri?"


Soutome-san tampak terkejut dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Di dalam rumah ini memang hanya ada barang elektronik dan furnitur minimalis, sama sekali tidak terlihat seperti tempat tinggal untuk banyak orang. Melihat pemandangan itu, Soutome-san tampak paham dan kembali menatapku.


"Aku tinggal sendiri untuk sementara. Tepat setelah aku dinyatakan lulus masuk SMA, ayahku dipindahtugaskan. Ibu dan adik 

perempuanku sudah pindah duluan. Karena aku baru mau masuk SMA dan tidak mungkin langsung pindah sekolah, kami sepakat aku baru akan pindah saat naik ke kelas dua nanti."


"Begitu ya......"


"Jadi, kalau kamu tidak keberatan, aku ingin tahu."


Aku meletakkan sendok dan menatap Soutome-san.


"Kalau kamu tidak mau cerita, aku tidak akan memaksa, dan kalaupun kamu cerita, aku tidak berniat membocorkannya pada siapa pun. Toh aku juga akan segera pindah sekolah, jadi rahasiamu aman bersamaku. Soutome-san... apa maksudmu dengan 'tidak punya rumah'?"


Mendengar pertanyaanku, Soutome-san menunduk dan terdiam.


"Rumahku itu..."


Setelah beberapa saat, dia mulai bicara dengan suara pelan.


"Orang tuaku bercerai saat aku masih kecil, jadi aku hanya tinggal berdua dengan Ibu. Karena keluarga kami miskin, aku pikir setidaknya aku bisa membantu biaya hidup, jadi setelah masuk SMA aku sering bolos sekolah untuk kerja paruh waktu. Tapi... beberapa hari lalu saat aku pulang kerja, Ibu sudah tidak ada."


"Tidak ada? Apa ada surat atau semacamnya?"


"Tidak ada. Mungkin dia pergi bersama seorang pria. Sepertinya dia baru saja punya pacar beberapa waktu lalu."


Rasa pahit seakan menyebar di mulutku. Rasanya aku ingin memukul diriku sendiri yang tadi sempat punya fantasi tidak senonoh.


"Setelah itu, pemilik apartemen memberitahuku kalau uang sewa sudah menunggak lama. Karena tidak punya harapan untuk bisa membayar, aku keluar dari apartemen hanya dengan membawa barang-barang seadanya. Uangku juga makin menipis, dan gaji dari kerja paruh waktu baru cair beberapa lama lagi... makanya, terpaksa aku diam di taman."


Tidak masuk akal. Ini benar-benar keterlaluan.


Anaknya baru saja jadi siswi SMA, bahkan bekerja keras paruh waktu demi membantu keuangan keluarga, tapi dia malah pergi bersama pria? Bukan hanya sebagai orang tua, tapi sebagai manusia pun ini sangat keterlaluan sampai-sampai kepalaku terasa pening.


"Lalu, apa rencanamu sekarang?"


Aku tidak bisa menahan emosi yang bergejolak. Namun, aku berusaha sekuat tenaga tetap tenang saat bertanya.


"Aku tidak tahu... apa yang harus kulakukan."


Suaranya saat menjawab sambil menghela napas kecil itu sedikit bergetar.


"Kalau kamu tidak punya tempat tujuan, bagaimana kalau tinggal di sini saja untuk sementara?"


"Eh......?"


Setelah menatapku dengan wajah terkejut, Soutome-san menggelengkan kepalanya pelan.


"Bisa masuk ke rumah ini saja aku sudah sangat merepotkanmu, kalau lebih dari ini..."


Wajar saja dia menjawab begitu. Meskipun kami teman sekelas dan saling kenal, dan meskipun dia sedang kesulitan tempat tinggal, mana ada gadis yang mau langsung menerima ajakan tinggal bersama dari laki-laki yang hidup sendirian. Dia pasti merasa tidak enak, sungkan, dan yang paling utama, pasti merasa waspada.


"Sama sekali tidak merepotkan, kok."


Namun, melihat sosok Soutome-san yang kebingungan, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


Ini bukan urusanku, biarkan saja dia—

Mencampuri urusan keluarga orang lain itu gila—

Apa yang bisa dilakukan oleh anak SMA sepertiku—


Logikaku memahami semua itu. Namun, setelah mendengar nasib yang dialami Soutome-san, aku tetap merasa tidak bisa membiarkannya. Alasan kuat aku merasa demikian adalah... mungkin karena aku teringat pada gadis itu.


Kenangan masa TK yang baru saja kuingat tadi. Saat itu, aku menyukai seorang anak perempuan. Anak itu selalu sendirian di pojok kelas dengan wajah kesepian. Meski disapa, dia hampir tidak pernah menjawab. Sosoknya yang seperti itu sangat mengusik pikiranku... dan tanpa sadar aku jadi menyukainya.


Saat melihat Soutome-san di taman, sosoknya tumpang tindih dengan sosok kesepian gadis itu. Mungkin, aku masih merasa menyesal karena tidak bisa melakukan apa pun untuk gadis itu dulu.


"Aku tidak menuntut apa-apa meskipun kamu menginap di sini, dan aku tidak berniat melakukan hal aneh. Ada kamar kosong yang bisa kamu pakai sesukamu. Tentu saja, seperti yang kukatakan tadi, aku tidak akan menceritakan masalahmu pada siapa pun. Kita kan sesama teman, harus saling bantu kalau ada yang kesulitan, kan?"


Aku sadar bahwa aku sedang berusaha keras untuk menahannya agar tidak pergi. Tapi aku merasa jika aku membiarkannya sekarang, aku akan menyesal sama seperti saat itu.


"......Beneran nggak apa-apa?"


"Ya."


Kemudian, Soutome-san mengangguk pelan.


"Kalau begitu... bolehkah aku menumpang di sini untuk sementara?"


"Tentu saja."


Begitulah awal mula kehidupan tinggal bersama kami dimulai.


"Tapi, ada satu janji yang harus kamu penuhi."


"Janji?"


"Karena kamu tidak perlu bayar sewa atau listrik, jangan terlalu berlebihan dalam kerja paruh waktu. Aku ingin kamu sekolah dengan benar setiap hari. Biar urusan hidup aku yang atur, aku ingin kamu mendapatkan kembali kehidupan yang normal."


Soutome-san menunjukkan gestur seperti sedang berpikir.


"Baiklah...... terima kasih."


Dia mengucapkan kata-kata terima kasih itu dengan ekspresi wajah yang tampak merasa bersalah.


Wajah itu... untuk beberapa saat tidak bisa hilang dari ingatanku.



Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dari biasanya untuk menyiapkan sarapan. Sejak mulai hidup sendiri, aku jadi malas masak dan biasanya berangkat sekolah tanpa sarapan, tapi karena sekarang aku tinggal bersama Soutome-san, aku tidak punya alasan untuk malas-malasan lagi. Kalau aku sih tidak masalah, tapi rasanya kasihan kalau Soutome-san juga harus melewatkan sarapan.


"Sudah berapa lama ya aku tidak makan sarapan?"


Gumamku sambil mencicipi rasa sup miso.


Karena aku tidak tahu apakah Soutome-san tipe tim roti atau tim nasi, untuk sementara aku masak nasi saja. Lauknya ada sup miso dan telur mata sapi. Ada juga kinpira (tumis akar gobo) yang kubuat sebelumnya dan acar yang sudah kubeli. Semuanya menu sederhana, tapi aku meyakinkan diriku sendiri bahwa sarapan memang seharusnya begini. Aku membawanya ke meja dan menunggu Soutome-san, tapi dia tidak kunjung bangun.


"Soutome-san belum bangun juga ya?"


Aku melirik jam di ruang tamu, baru lewat jam tujuh sedikit. Masih ada banyak waktu, tapi biasanya dia bangun jam berapa ya?


"......Jangan-jangan."


Tiba-tiba sebuah pikiran buruk terlintas di kepalaku. Mungkinkah dia kena flu dan terkapar di tempat tidur?


Tadi malam, aku tidak tahu sudah berapa lama dia di taman, tapi melihat betapa basah kuyupnya dia, pasti dia sudah kehujanan cukup lama. Meski sudah menghangatkan diri di kamar mandi, tidak aneh jika dia demam. Karena khawatir, aku melangkah ke depan kamar tempat Soutome-san tidur dan memasang telinga.


Tidak ada suara dari dalam.


"Soutome-san?"

Aku mengetuk pintu pelan sambil memanggilnya, tapi tidak ada jawaban. Meski merasa tidak enak jika mengganggu tidurnya, aku perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam.


Ternyata Soutome-san masih tertidur lelap di atas tempat tidur. Saat aku mendekat untuk memeriksa wajahnya—memastikan dia tidak sakit—aku melihat wajah tidurnya yang tampak tenang. Kulitnya tidak pucat, dia tidak berkeringat, dan tidak terlihat sedang menderita.


"Syukurlah......"


Aku menghela napas lega. Lagipula, kalau dilihat lagi dari dekat begini, wajahnya benar-benar cantik. Fitur wajah yang tersusun di wajah mungilnya itu sangat seimbang. Bulu matanya yang panjang terlihat menonjol karena matanya terpejam, dan bibirnya sedikit kemerahan. Kulit putihnya mulus tanpa noda sedikit pun.


Kecantikan yang sangat kontras dengan rambut pirangnya yang diwarnai dan tampak rusak. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat wajah seorang gadis sedekat ini.


"Kalau cuma melihat wajah tidurnya begini, dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang gyaru."


"Nn......?"


"──!?"


Saat aku sedang terpana melihat wajah tidurnya, tiba-tiba Soutome-san terbangun.


Gawat—kalau dia mengira aku mengintipnya saat tidur, bisa berabe. Aku mencoba bersembunyi dengan refleks, tapi tentu saja tidak sempat.


"......Di mana?"


Soutome-san bangun terduduk, lalu melihat sekeliling dengan wajah masih mengantuk. Dengan ekspresi linglung dia memiringkan kepalanya, dan setelah beberapa saat, sepertinya dia baru menyadari keberadaanku.


"Akamori-kun...... Oh iya. Aku menginap di rumah Akamori-kun, ya."


"A-ah, iya. Sudah ingat?"


"Iya. Selamat pagi......"


"S-selamat pagi."


Soutome-san berkata begitu, tapi meski sudah duduk, dia terlihat seperti mau tidur lagi. Kepalanya terangguk-angguk lemas dengan mata terpejam, seolah hendak kembali ke dunia mimpi.


"Sarapannya sudah siap. Aku tunggu di ruang tamu ya, cuci muka dulu sana."


"Iya. Oke......"


Soutome-san merangkak bangun dari tempat tidur dan hendak keluar kamar.


"Aduh!"


Dahinya terbentur pintu dan dia memekik kecil.


"Nggak apa-apa......?"


"Mm. Nggak apa-apa."


Setelah menjawab begitu, dia berjalan menghilang ke arah wastafel sambil mengelus dahinya.


Begitu ya. Sepertinya Soutome-san tipe orang yang susah bangun pagi.



Tak lama kemudian, Soutome-san datang ke ruang tamu dengan wajah yang masih tampak mengantuk. Memang benar ya, melihat gadis memakai baju laki-laki itu benar-benar memanjakan mata.


"Selamat pagi. Ayo makan."


"Iya. Terima kasih."


Seperti tadi malam, kami duduk berhadapan dan merapatkan tangan.


"Selamat makan."


"Selamat makan."


Soutome-san mengambil sumpit dan mulai mencicipi sup misonya.


"Tadi aku nggak tahu kamu tim roti atau nasi, jadi aku buat nasi saja."


"Aku lebih suka nasi, kok."


"Syukurlah kalau begitu."


Setelah percakapan singkat itu, meja makan kembali diselimuti keheningan.


“"............"”


Duh...... canggung banget! Mau dia gyaru atau bukan, tetap saja canggung! 


Kemarin karena masih terbawa suasana saat mengajaknya pulang, kami bisa mengobrol normal. Tapi setelah berhadapan begini lagi, rasanya benar-benar canggung. Sepertinya Soutome-san juga merasakan hal yang sama, karena kami terus makan tanpa sepatah kata pun.


Yah, mau bagaimana lagi. 


Meski kami sudah saling tahu wajah masing-masing, tapi baru kemarin kami benar-benar bicara. Sejak tadi malam, aku terus bertanya-tanya pada diri sendiri, "Apa ini benar-benar tidak apa-apa?"


Oh iya, kamar yang dipakai Soutome-san adalah kamar adik perempuanku, jadi tentu saja dia tidur di tempat tidur adikku.


Dalam imajinasiku, tentu saja adegan tidur di ranjang yang sama dengan seorang gadis adalah hal yang lumrah. Tapi, untuk kalian semua para siswa SMP dan SMA yang punya khayalan serupa, ada satu hal yang ingin kusampaikan dengan lantang:


Realita tidak semanis itu, kawan!


Lagipula, mana mungkin aku punya keberanian untuk mengajak seorang gadis ke ranjang. Kalau aku punya keberanian sebesar itu, aku tidak akan sibuk berfantasi dan pasti sudah punya pacar dari dulu. Menyedihkan sekali.


Lupakan soal nasibku. Jadi, saat keluargaku pindah, kami sepakat bahwa sesekali pasti akan ada anggota keluarga yang datang menjengukku. Karena itu, kasur untuk semua anggota keluarga dan barang-barang kebutuhan pokok tetap ditinggalkan di rumah ini. Aku tidak menyangka hal itu akan berguna dalam situasi seperti ini.


"Terima kasih atas makanannya. Akamori-kun, kamu tidak makan?"


"Ah, iya. Makan kok, makan."


Saking asyiknya berfantasi konyol, aku sampai lupa makan. Aku pun terburu-buru menyuap sarapanku, tapi karena rasa bersalah, aku bahkan tidak bisa merasakan rasanya.


"Setelah selesai sarapan, ayo bersiap ke sekolah. Karena kita tidak bisa berangkat bersama, aku akan berangkat lebih dulu. Soutome-san bisa berangkat pelan-pelan setelah ini."


"Tapi seragamku... masih basah karena hujan."


"Kalau itu, tadi malam sudah kucuci dan kumasukkan ke mesin pengering."


Aku berkata begitu sambil menunjuk ke sudut ruang tamu. Di sana, seragam Soutome-san yang sudah bersih tergantung rapi.


"Terima kasih... Akamori-kun, kamu bisa melakukan apa saja ya."


"Itu karena tuntutan lingkungan saja. Sampai SMP aku tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga, jadi awal-awal hidup sendiri itu berat sekali. Tapi manusia itu kalau sudah terdesak, ternyata bisa-bisa saja. Jadi, Soutome-san juga tidak perlu khawatir soal masa depan. Semuanya akan baik-baik saja."


"Iya. Semoga saja begitu."


Aku mencoba mengucapkannya dengan senyum untuk mengusir suasana berat. Soutome-san membalas dengan senyum tipis, meski terlihat masih agak kaku.


"Lalu, aku ingin memberikan ini."


Aku meletakkan kunci dengan gantungan di atas meja.


"Ini...?"


"Kunci cadangan rumah ini."


"Boleh?"


"Kita kan bakal tinggal bareng untuk sementara, jadi ini perlu, kan? Aku tidak bisa selalu ada di rumah untuk mengantar atau menyambutmu terus. Jadi, tolong kunci pintunya ya saat kamu berangkat sekolah nanti."


"Iya. Aku mengerti."


Saat menyerahkan kunci itu, barulah rasanya nyata kalau kami benar-benar akan tinggal bersama.


"Satu lagi, aku punya usul. Bagaimana kalau kita berhenti saling memanggil dengan nama keluarga?"


"Eh?"


"Kita kan akan tinggal serumah, rasanya aneh kalau terlalu formal seperti orang asing. Mungkin awalnya canggung, tapi kurasa lebih baik panggil nama saja. Jadi, panggil aku Akira saja."


"Iya, baiklah. Panggil aku Aoi juga tidak apa-apa."


Untuk memperpendek jarak, memulai dari formalitas seperti panggilan itu penting, kan? Setelah itu, kami pun mulai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.



SMA tempat kami bersekolah berjarak sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumah.


Salah satu kriteria utamaku saat memilih SMA adalah lokasinya yang dekat dengan rumah. Itu karena sejak kecil aku selalu mengikuti Ayah yang sering pindah tugas, dan aku melihat betapa Ayah menderita setiap kali harus menempuh perjalanan jauh ke kantor.


Saat di Tokyo, dia harus berdesakan di kereta penuh sesak selama lebih dari satu jam. Saat di daerah, dia harus menyetir selama tiga puluh menit. Di tempat lain, dia bahkan harus menyambung antara jalan kaki dan bus. Melihat itu semua, aku merasa menghabiskan waktu untuk perjalanan ke sekolah atau kantor adalah hal yang sia-sia.


Oleh karena itu, karena nilaiku juga mencukupi, aku langsung memilih SMA terdekat tanpa ragu. Kebahagiaan bisa tidur sampai menit terakhir pasti dipahami oleh setiap siswa SMA. 


Meski begitu, semenjak tinggal bersama Aoi-san, sepertinya aku tidak bisa sesantai itu lagi.


"Akira, selamat pagi."


Saat aku sudah sampai di sekolah dan duduk di bangku, seseorang menepuk bahuku sambil menyapa. Aku menoleh dan melihat wajah teman laki-laki yang sudah sangat kukenal.


"Yo, Eiji. Selamat pagi."


Pemuda tampan dengan aura yang tenang ini bernama Sazarashi Eiji. Dia teman sejak SMP dan satu-satunya orang yang tahu masa laluku. Mungkin terdengar aneh kalau kubilang dia tahu masa laluku padahal kami berteman sejak SMP. Seperti yang sudah kuceritakan, Ayahku sering pindah tugas, dan ternyata aku pernah tinggal di kota ini sekali saat masih TK.


Waktu itu, aku dan Eiji satu TK dan sangat akrab sampai-sampai selalu main berdua. Saat aku kembali ke kota ini di pertengahan kelas satu SMP, kami bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Tapi dia tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tampan sampai aku tidak mengenalinya sebelum dia menyapaku duluan.


"Lho? Hari ini tidak bareng Izumi?"


"Bareng kok. Dia mampir ke ruang guru dulu sebentar untuk urusan pengurus kelas."


Izumi adalah ketua kelas di sini sekaligus pacar Eiji. Mereka sudah pacaran sejak SMP dan selalu berangkat sekolah berdua dengan mesra. Pasangan yang sudah terkenal sejak dulu ini tetap tidak malu-malu bermesraan di depan siswa lain bahkan setelah masuk SMA. Mereka benar-benar pasangan yang populer.


Tolong pikirkan juga perasaanku yang harus melihat kemesraan mereka dari jarak dekat setiap hari.


Nah, gadis macam apa pacar Eiji yang bernama Izumi itu?


"Eiji-kun, maaf ya membuatmu menunggu~ ♪"


Begitu suara ceria itu menggema, seorang gadis langsung memeluk Eiji. Gadis tipe imut dengan rambut pendek cokelat terang alami dan mata bulat yang menggemaskan. Sesuai penampilannya, gadis penuh pesona dengan energi tinggi ini adalah pacar Eiji, Izumi Asamiya.


"Selamat kembali. Terima kasih ya sudah mengurus tugas ketua kelas."


"Terima kasih kembali! Pacarku baik banget sih~ aku sayang kamu!"


"Aku juga sayang kamu."


Masih pagi buta, dan mereka sudah saling menyatakan cinta tanpa rasa malu di tengah kelas. Eiji mengelus kepala Izumi, dan Izumi menempel manja padanya. Karena sudah biasa, teman-teman sekelas tidak ada yang kaget dan hanya menatap mereka dengan senyuman hangat.


Terlepas dari itu, Izumi memang sangat enerjik, mungkin malah terlalu enerjik. Dia adalah mood maker di kelas, punya rasa tanggung jawab tinggi sampai mau jadi ketua kelas, dan jika ada teman yang kesulitan, dia akan langsung mengulurkan tangan tanpa peduli apakah masalah itu sanggup dia tangani atau tidak.


Sikap Izumi yang seperti itu membuatnya mendapat dukungan baik dari siswa maupun guru, menjadikannya sosok populer di kelas. Meskipun tipenya sangat bertolak belakang dengan Eiji yang tenang, entah kenapa mereka sangat cocok.


Dunia laki-laki dan perempuan memang sulit dimengerti.


"Ah, Akira-kun juga, selamat pagi!"


"Jangan menyapaku seolah baru ingat begitu, dong."


"Ngomong-ngomong soal ingat, oh iya, sepertinya hari ini dia masuk sekolah lho!"


Sesaat setelah Izumi memasang ekspresi seolah ada bola lampu yang menyala di kepalanya, pintu kelas terbuka dengan suara yang cukup keras. Seketika itu juga, teman-teman sekelas yang tadi asyik mengobrol langsung mengecilkan suara, dan atmosfer kelas berubah drastis. Semua mata tertuju ke satu arah.


Saat aku menoleh ke pintu masuk kelas, di sana berdiri sosok Aoi-san.


“"”......”"”


Tatapan dingin dari teman-teman sekelas tertuju pada Aoi-san dalam keheningan. Dari berbagai sudut kelas, terdengar bisik-bisik yang jauh dari kata ramah, seperti: "Tumben banget dia masuk sekolah," "Kapan terakhir kali dia datang ya?" atau "Malah aku sudah lupa kalau dia ada di kelas ini."


Tentu saja Aoi-san mendengarnya, tapi dia melangkah ke bangkunya tanpa terlihat peduli. Begitu dia duduk, teman-teman sekelas kembali mengobrol seolah tidak terjadi apa-apa. Reaksi ini menunjukkan dengan sangat jelas bagaimana posisi Aoi-san di dalam kelas.


Aku, Eiji, dan Izumi hanya memperhatikan pemandangan itu dalam diam.


"Sudah lama ya Aoi-san tidak masuk."


"Aku sempat khawatir karena dia absen terus. Syukurlah dia datang~" Izumi bergumam lega.


"Aku mau menyapanya sebentar ya!"


"Iya, silakan."


"Aoi-saaann! Selamaatt paaagiii~ ♪"


Izumi menyapa Aoi-san tanpa mempedulikan tatapan teman-teman sekelas lainnya.


Di kelas ini, hanya Izumi yang tidak mengabaikan Aoi-san. Mungkin itu karena tanggung jawabnya sebagai ketua kelas, tapi lebih dari itu, sifatnya yang suka membantu memang sangat dominan. Tidak heran dia mencalonkan diri jadi ketua kelas; dia memang punya bakat alami untuk mengurusi orang lain. Namun, soal apakah Aoi-san menerima sikap Izumi yang terlalu santai itu, itu masalah lain.


"......Pagi."


Aoi-san hanya membalas sepatah kata, dan tetap bersikap dingin meskipun Izumi terus mengajaknya bicara. Sosoknya kembali menjadi gyaru pirang penyendiri yang seolah-olah percakapan normal di rumahku kemarin hanyalah sebuah mimpi.


"Hari ini kamu masuk sekolah ya. Apa kabar? Sehat!?"


"......Biasa saja."


"Begitu ya! Biasa saja itu yang terbaik!"


Mental Izumi benar-benar kuat karena dia tetap tersenyum meski diperlakukan seperti itu.


Sambil memperhatikan pemandangan yang sudah biasa ini, tiba-tiba pikiran tentang masa depan terlintas di kepalaku. Karena dia tinggal di rumahku, kebutuhan hidupnya untuk saat ini pasti aman. 


Setidaknya sampai aku pindah sekolah nanti, Aoi-san tidak akan bingung mencari tempat berteduh. Masalah uang pun, jika aku mengatur uang saku dari orang tuaku dengan baik, harusnya cukup untuk kami berdua. Aoi-san juga bekerja paruh waktu, jadi suatu saat dia pasti akan punya tabungan sendiri.


Tapi—apa yang akan terjadi setelah aku pindah sekolah? Memang bagus kalau dia sudah menemukan tempat tinggal baru sebelum itu, tapi bagaimana kalau belum?


Dia akan kehilangan tempat tinggal lagi, dan di sekolah pun dia tidak punya tempat untuk bernaung. Kali ini, mungkin tidak akan ada lagi orang yang mau mengulurkan tangan padanya. 


Setidaknya dengan kondisinya yang sekarang, kurasa tidak akan ada yang mau membantu Aoi-san. Seberapa keras pun Izumi mencoba membantu, tidak akan mudah bagi teman-teman sekelas untuk menerima Aoi-san. Setidaknya, selama Aoi-san sendiri tidak mencoba untuk mendekati mereka.


Hal yang sama juga berlaku untuk para guru, bukan hanya teman sekelas. Seorang gyaru pirang yang sering bolos; tentu saja penilaian guru terhadapnya sangat buruk.


"Kamu perhatian sekali ya pada Aoi-san yang baru masuk sekolah hari ini?"


Tanpa sadar, rupanya aku terus-menerus memperhatikan Aoi-san. Mendengar pertanyaan Eiji, aku buru-buru membuang muka.


"Ah, nggak... bukan begitu kok."


"Lalu, kalau bukan begitu, kenapa?"


"Aoi-san itu... satu SMP dengan kita, kan?"


"Iya, benar."


"Aku sama sekali nggak pernah berinteraksi dengannya, dan karena aku pindahan di tengah kelas satu SMP, aku nggak terlalu tahu. Apa dia memang seperti itu sejak SMP?"


"Aku dan Izumi nggak pernah sekelas dengannya jadi nggak tahu detailnya, tapi sepertinya dia mulai jadi gyaru sejak masuk SMA. Kalau soal dia yang sering sendirian, katanya sih memang sudah begitu sejak dulu."


"Begitu ya......"


Aku menjawab dengan lesu, lalu sekali lagi menatap ke arah Aoi-san.


"......Yah, kalau kamu ada masalah, aku akan bantu sebisaku."


"Aku nggak ada masalah apa-apa kok, tapi terima kasih ya."


Tepat setelah aku menjawab Eiji, bel tanda pelajaran dimulai berbunyi.


Sepanjang pelajaran, aku terus memikirkan apa yang harus kulakukan mulai sekarang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close