Epilogue
Jumat tengah malam.
Aku menjatuhkan diri ke atas kasur *single
bed*-ku dan meregangkan tubuh lebar-lebar.
Rasanya seluruh rasa lelah di tubuhku
perlahan meluruh, sebuah sensasi yang sangat menyenangkan. Setelah mandi, aku
hanya mengeringkan rambut seadanya sebelum melakukan ritual "terjun ke
kasur" ini. Memang, ini adalah kenikmatan yang hakiki.
Aku meraih ponsel yang tadi sedang diisi
daya, lalu mengetuk layarnya. Ternyata sudah ada beberapa pesan yang menumpuk
di media sosial.
"Yuka kirim pesan terima kasih buat
yang tadi... Seira-san seperti biasa rajin banget ya kirim kabar. Padahal baru
saja ketemu tapi sudah kirim pesan lagi. Mizuho belakangan ini kelihatan kurang
semangat, dia nggak apa-apa kan ya?"
Kalau dipikir-pikir, sejak datang ke dunia
ini, orang-orang yang akrab denganku kebanyakan memang perempuan. Tentu saja
aku akrab dengan para senior di bar, tapi kami tidak sampai bertukar pesan
setiap saat.
Aku pun mengetik balasan dengan cepat.
Agak merasa bersalah juga mengirim pesan ke
Yuka jam segini, karena dia pasti sudah
tidur lelap. Saat melihat ada pesan dari Koumi, aku pun membukanya.
Ah, benar juga. Tadi dia sempat tanya
jadwalku buat besok dan sudah kujawab.
Ya, selain kerja di bar yang gajinya
lumayan besar, aku juga mulai ambil kerja sampingan sebagai guru les privat
karena harus memikirkan biaya kuliah dan lain-lain. Pekerjaan ini juga hasil
rekomendasi dari Kak Aika. Karena jadwalnya setiap hari Sabtu, berarti besok
adalah waktunya mengajar. Aku harus bangun sebelum siang.
"Muridnya anak SMA kelas dua,
kok," balasku.
Gadis yang kuajari itu tipe anak yang
sopan dan baik. Kesannya seperti nona muda dari keluarga terpandang. Hanya
saja, dia masih bersikap agak sungkan padaku, rasanya sedikit kesepian juga
sih. Yah, mungkin dia cuma gugup karena diajar oleh lawan jenis yang lebih tua.
Setelah menyelesaikan semua balasan, aku
menutup ponsel. Begitu lampu dimatikan dan aku memejamkan mata, rasa kantuk
langsung menyerang dengan cepat.
Sudah beberapa bulan berlalu sejak
kehidupanku di dunia ini dimulai. Ternyata meski rasio laki-laki dan perempuan
itu 1:5, entah bagaimana aku masih bisa bertahan hidup. Kak Aika pernah bilang
padaku untuk berhati-hati terhadap perempuan, tapi apa ada hal yang perlu
diwaspadai ya?
Memang sih, belakangan ini aku merasa
Seira-san agak terlalu royal mengeluarkan uang buatku. Mizuho juga, entah
kenapa belakangan ini dia sering membuang muka kalau berpapasan denganku. Apa
aku melakukan kesalahan ya? Terus Yuka, dia sering mendadak *stuttering* kayak
barang elektronik yang korslet, dan Koumi malah jadi agak terlalu protektif.
Semuanya orang baik, sih.
Jadi, ya... kayaknya aku bakal baik-baik
saja hidup di sini!
*Pilon*, kesadaranku perlahan naik ke
permukaan akibat suara notifikasi.
"Lho..."
Aku mengangkat tubuhku yang tadinya
tertelungkup di atas meja. Sepertinya aku ketiduran saat sedang mengerjakan
tugas kuliah. Dahiku yang bersentuhan langsung dengan meja terasa agak perih,
jadi aku mengusapnya pelan.
"Duh, payah banget... nggghhh!"
Aku meregangkan tubuh sekuat tenaga, lalu
mengecek jam dinding di kamar.
Waktu menunjukkan tepat jam satu dini
hari.
...Tadi kami sedang bahas apa ya? ...Ah,
benar! Guru les! Tadi aku sempat tanya kegiatannya buat besok, dan ternyata
Masato sedang kerja jadi guru les privat. Karena firasatku nggak enak, aku coba
pastikan apakah muridnya perempuan atau bukan... dan ternyata dugaanku
benar...!
Masato yang kesadaran akan manajemen
krisisnya setipis tisu itu mengajar les privat anak SMA!? N-nggak boleh, aku
nggak setuju! Murid perempuannya pasti sedang memikirkan hal-hal yang nggak
bener, aku yakin itu!
Mau menelepon sekarang rasanya sudah
terlalu malam... tapi kalau menunggu sampai besok, Masato pasti sudah berangkat
mengajar, kan?
"Uuuh, harus gimana ya..."
Sejak jatuh cinta pada Masato, aku memang
merasa bahagia, tapi jumlah hal yang bikin galau juga makin banyak. Salah
satunya adalah banyaknya bayang-bayang perempuan di sekitar Masato! Aku akui
Masato memang menarik dan itu salah satu kelebihannya, tapi orangnya sendiri
beneran nggak peka sama sekali! Yah, gara-gara itu juga sih aku bisa akrab sama
dia...
Dengan perasaan yang berkecamuk, aku
merebahkan diri di kasur. Kalau mendengar ceritanya, sepertinya ada beberapa
perempuan di sekitar Masato. Anak yang dia ajari basket sih masih SMP jadi
nggak masalah... tapi kalau guru les anak SMA itu agak... Terus, dia juga nggak
mau kasih tahu kerja part-time apa tiap Jumat malam...
Selain itu, meski mungkin nggak ada
hubungannya dengan Masato, belakangan ini sahabatku, Mizuho, kelihatan kurang
bersemangat. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat, kira-kira dia
nggak apa-apa ya...
Aku menghela napas panjang, lalu memeluk erat bantal yang ada di dekatku. Sepertinya rivalku memang banyak. Tapi meski begitu, aku nggak berniat buat menyerah. Pasti, pokoknya pasti aku yang akan jadi nomor satu di hati Masato!
Kata
Penutup
Dunia dengan nilai moral yang terbalik (*teiso
gyakuten*), beneran punya daya tarik tersendiri ya...
Salam kenal. Nama saya Kotaro Mito. Terima
kasih banyak karena sudah sudi membaca karya ini sampai selesai. Keseharian
bersama para *heroine* yang imut, mempesona, dan sedikit "berat"
perasaannya ini... apakah kalian menikmatinya?
Sekitar setengah tahun yang lalu, saat pertama
kali melakukan rapat dengan editor penanggung jawab saya, **S-sensei**—sosok
yang sudah berjuang bahu-membahu bersama saya demi mewujudkan proses pembukuan
karya ini—hal pertama yang saya tanyakan padanya adalah:
"Anda masih waras, kan?"
Ya habisnya gimana, beneran deh. Mencoba
membawa genre minor seperti *Teiso Gyakuten* (Pembalikan Nilai Moral) ke
penerbit sebesar Dengeki Bunko, bagi saya itu terdengar gila. Sejujurnya, saat
pertama kali menerima tawaran lewat email, saya sampai meragukan mata saya
sendiri.
Namun, seiring berjalannya proses, S-sensei
dan seluruh jajaran departemen editorial ternyata benar-benar serius. Setiap
kali merasakan semangat mereka, saya pun merasa harus berjuang keras juga.
Itulah yang saya rasakan selama enam bulan terakhir ini.
Awalnya, saat saya mulai menulis karya ini
sebagai novel internet, niat saya murni hanya untuk "swasembada".
Saya berpikir, "Belum ada nih novel genre *teiso gyakuten* yang kayak
begini, mending tulis sendiri saja." Mungkin ada di antara kalian yang
belum familier, tapi sebenarnya ada banyak sekali karya dengan genre ini yang
diunggah di internet. Jika lewat karya ini kalian jadi tertarik dengan genre
"Pembalikan Nilai Moral", mungkin tidak ada salahnya mencoba mencari
karya lain yang sesuai selera kalian. Silahkan, coba celupkan kaki kalian ke
dalam lubang tanpa dasar ini.
Secara pribadi, hal tersulit dalam proses
pembukuan kali ini adalah menentukan judul. Kata "Teiso" (Kesucian)
yang terlalu frontal mungkin bisa bikin pembaca merasa enggan. Namun di sisi
lain, kalau tidak menyinggung genrenya sama sekali, akan sulit bagi pembaca
untuk membayangkan isinya... Setelah melewati berbagai proses *trial and
error*, akhirnya kami menetapkan judul ini. Saya akan sangat senang jika judul
ini mudah dipahami, baik oleh pembaca setia sejak era novel internet maupun
oleh pembaca baru.
Sebagai penutup, sekali lagi saya ingin
menyampaikan rasa terima kasih.
Kepada editor penanggung jawab saya, S-sensei
yang telah mencurahkan seluruh semangatnya untuk membukukan karya ini, serta
seluruh jajaran departemen editorial yang telah menyambut dan berusaha
menjadikannya lebih baik lagi. Terima kasih banyak.
Lalu kepada Jimmy-sensei yang telah menggambar
ilustrasi yang sangat luar biasa indah.
Terima kasih tulus dari lubuk hati saya.
Terutama ilustrasi Mizuho di bagian akhir! Bagus banget! Jenius! Ekspresi yang
mencampurkan rasa senang dan sedih itu beneran tepat sasaran (dan seterusnya).
Dan yang paling utama, terima kasih kepada
kalian semua yang telah sudi membeli buku ini.
Saya sangat berharap kita bisa bertemu kembali
di volume kedua. Sampai jumpa lagi!
Sambil mati-matian menggerakkan tangan yang
agak kena radang tendon gara-gara kebanyakan main Mahjong,
Kotaro Mito.



1 comment