NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 1 Epilog + Afterword

Epilogue


Jumat tengah malam.

 

Aku menjatuhkan diri ke atas kasur *single bed*-ku dan meregangkan tubuh lebar-lebar.

 

Rasanya seluruh rasa lelah di tubuhku perlahan meluruh, sebuah sensasi yang sangat menyenangkan. Setelah mandi, aku hanya mengeringkan rambut seadanya sebelum melakukan ritual "terjun ke kasur" ini. Memang, ini adalah kenikmatan yang hakiki.

 

Aku meraih ponsel yang tadi sedang diisi daya, lalu mengetuk layarnya. Ternyata sudah ada beberapa pesan yang menumpuk di media sosial.

 

"Yuka kirim pesan terima kasih buat yang tadi... Seira-san seperti biasa rajin banget ya kirim kabar. Padahal baru saja ketemu tapi sudah kirim pesan lagi. Mizuho belakangan ini kelihatan kurang semangat, dia nggak apa-apa kan ya?"

 

Kalau dipikir-pikir, sejak datang ke dunia ini, orang-orang yang akrab denganku kebanyakan memang perempuan. Tentu saja aku akrab dengan para senior di bar, tapi kami tidak sampai bertukar pesan setiap saat.

 

Aku pun mengetik balasan dengan cepat. Agak merasa bersalah juga mengirim pesan ke

 

Yuka jam segini, karena dia pasti sudah tidur lelap. Saat melihat ada pesan dari Koumi, aku pun membukanya.

 

Besok kamu ada jadwal mengajar les privat ya? Memangnya kamu kerja jadi guru les juga, Masato?

 

Eh, muridnya bukan perempuan, kan?

 

Ah, benar juga. Tadi dia sempat tanya jadwalku buat besok dan sudah kujawab.

 

Ya, selain kerja di bar yang gajinya lumayan besar, aku juga mulai ambil kerja sampingan sebagai guru les privat karena harus memikirkan biaya kuliah dan lain-lain. Pekerjaan ini juga hasil rekomendasi dari Kak Aika. Karena jadwalnya setiap hari Sabtu, berarti besok adalah waktunya mengajar. Aku harus bangun sebelum siang.

 

"Muridnya anak SMA kelas dua, kok," balasku.

 

Gadis yang kuajari itu tipe anak yang sopan dan baik. Kesannya seperti nona muda dari keluarga terpandang. Hanya saja, dia masih bersikap agak sungkan padaku, rasanya sedikit kesepian juga sih. Yah, mungkin dia cuma gugup karena diajar oleh lawan jenis yang lebih tua.

 

Setelah menyelesaikan semua balasan, aku menutup ponsel. Begitu lampu dimatikan dan aku memejamkan mata, rasa kantuk langsung menyerang dengan cepat.

 

Sudah beberapa bulan berlalu sejak kehidupanku di dunia ini dimulai. Ternyata meski rasio laki-laki dan perempuan itu 1:5, entah bagaimana aku masih bisa bertahan hidup. Kak Aika pernah bilang padaku untuk berhati-hati terhadap perempuan, tapi apa ada hal yang perlu diwaspadai ya?

 

Memang sih, belakangan ini aku merasa Seira-san agak terlalu royal mengeluarkan uang buatku. Mizuho juga, entah kenapa belakangan ini dia sering membuang muka kalau berpapasan denganku. Apa aku melakukan kesalahan ya? Terus Yuka, dia sering mendadak *stuttering* kayak barang elektronik yang korslet, dan Koumi malah jadi agak terlalu protektif. Semuanya orang baik, sih.

 

Jadi, ya... kayaknya aku bakal baik-baik saja hidup di sini!

 

 

*Pilon*, kesadaranku perlahan naik ke permukaan akibat suara notifikasi.

 

"Lho..."

 

Aku mengangkat tubuhku yang tadinya tertelungkup di atas meja. Sepertinya aku ketiduran saat sedang mengerjakan tugas kuliah. Dahiku yang bersentuhan langsung dengan meja terasa agak perih, jadi aku mengusapnya pelan.

 

"Duh, payah banget... nggghhh!"

 

Aku meregangkan tubuh sekuat tenaga, lalu mengecek jam dinding di kamar.

Waktu menunjukkan tepat jam satu dini hari.

 

...Ah, benar juga, aku terbangun karena notifikasi media sosial tadi. Begitu membuka ponsel yang tergeletak di meja, terpampang nama Masato di sana. Hanya melihat dua huruf itu saja sudah membuat dadaku sedikit berdebar. Mungkin dia baru saja selesai kerja part-time.

 

Masato》『Iya, anak SMA kelas dua.

 

...Tadi kami sedang bahas apa ya? ...Ah, benar! Guru les! Tadi aku sempat tanya kegiatannya buat besok, dan ternyata Masato sedang kerja jadi guru les privat. Karena firasatku nggak enak, aku coba pastikan apakah muridnya perempuan atau bukan... dan ternyata dugaanku benar...!

 

Masato yang kesadaran akan manajemen krisisnya setipis tisu itu mengajar les privat anak SMA!? N-nggak boleh, aku nggak setuju! Murid perempuannya pasti sedang memikirkan hal-hal yang nggak bener, aku yakin itu!

 

Mau menelepon sekarang rasanya sudah terlalu malam... tapi kalau menunggu sampai besok, Masato pasti sudah berangkat mengajar, kan?

 

"Uuuh, harus gimana ya..."

 

Sejak jatuh cinta pada Masato, aku memang merasa bahagia, tapi jumlah hal yang bikin galau juga makin banyak. Salah satunya adalah banyaknya bayang-bayang perempuan di sekitar Masato! Aku akui Masato memang menarik dan itu salah satu kelebihannya, tapi orangnya sendiri beneran nggak peka sama sekali! Yah, gara-gara itu juga sih aku bisa akrab sama dia...

 

Dengan perasaan yang berkecamuk, aku merebahkan diri di kasur. Kalau mendengar ceritanya, sepertinya ada beberapa perempuan di sekitar Masato. Anak yang dia ajari basket sih masih SMP jadi nggak masalah... tapi kalau guru les anak SMA itu agak... Terus, dia juga nggak mau kasih tahu kerja part-time apa tiap Jumat malam...

 

Selain itu, meski mungkin nggak ada hubungannya dengan Masato, belakangan ini sahabatku, Mizuho, kelihatan kurang bersemangat. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat, kira-kira dia nggak apa-apa ya...

 

Aku menghela napas panjang, lalu memeluk erat bantal yang ada di dekatku. Sepertinya rivalku memang banyak. Tapi meski begitu, aku nggak berniat buat menyerah. Pasti, pokoknya pasti aku yang akan jadi nomor satu di hati Masato!




Kata Penutup


 

Dunia dengan nilai moral yang terbalik (*teiso gyakuten*), beneran punya daya tarik tersendiri ya...

 

Salam kenal. Nama saya Kotaro Mito. Terima kasih banyak karena sudah sudi membaca karya ini sampai selesai. Keseharian bersama para *heroine* yang imut, mempesona, dan sedikit "berat" perasaannya ini... apakah kalian menikmatinya?

 

Sekitar setengah tahun yang lalu, saat pertama kali melakukan rapat dengan editor penanggung jawab saya, **S-sensei**—sosok yang sudah berjuang bahu-membahu bersama saya demi mewujudkan proses pembukuan karya ini—hal pertama yang saya tanyakan padanya adalah:

 

"Anda masih waras, kan?"

 

Ya habisnya gimana, beneran deh. Mencoba membawa genre minor seperti *Teiso Gyakuten* (Pembalikan Nilai Moral) ke penerbit sebesar Dengeki Bunko, bagi saya itu terdengar gila. Sejujurnya, saat pertama kali menerima tawaran lewat email, saya sampai meragukan mata saya sendiri.

 

Namun, seiring berjalannya proses, S-sensei dan seluruh jajaran departemen editorial ternyata benar-benar serius. Setiap kali merasakan semangat mereka, saya pun merasa harus berjuang keras juga. Itulah yang saya rasakan selama enam bulan terakhir ini.

 

Awalnya, saat saya mulai menulis karya ini sebagai novel internet, niat saya murni hanya untuk "swasembada". Saya berpikir, "Belum ada nih novel genre *teiso gyakuten* yang kayak begini, mending tulis sendiri saja." Mungkin ada di antara kalian yang belum familier, tapi sebenarnya ada banyak sekali karya dengan genre ini yang diunggah di internet. Jika lewat karya ini kalian jadi tertarik dengan genre "Pembalikan Nilai Moral", mungkin tidak ada salahnya mencoba mencari karya lain yang sesuai selera kalian. Silahkan, coba celupkan kaki kalian ke dalam lubang tanpa dasar ini.

 

Secara pribadi, hal tersulit dalam proses pembukuan kali ini adalah menentukan judul. Kata "Teiso" (Kesucian) yang terlalu frontal mungkin bisa bikin pembaca merasa enggan. Namun di sisi lain, kalau tidak menyinggung genrenya sama sekali, akan sulit bagi pembaca untuk membayangkan isinya... Setelah melewati berbagai proses *trial and error*, akhirnya kami menetapkan judul ini. Saya akan sangat senang jika judul ini mudah dipahami, baik oleh pembaca setia sejak era novel internet maupun oleh pembaca baru.

 

Sebagai penutup, sekali lagi saya ingin menyampaikan rasa terima kasih.

 

Kepada editor penanggung jawab saya, S-sensei yang telah mencurahkan seluruh semangatnya untuk membukukan karya ini, serta seluruh jajaran departemen editorial yang telah menyambut dan berusaha menjadikannya lebih baik lagi. Terima kasih banyak.

 

Lalu kepada Jimmy-sensei yang telah menggambar ilustrasi yang sangat luar biasa indah.

Terima kasih tulus dari lubuk hati saya. Terutama ilustrasi Mizuho di bagian akhir! Bagus banget! Jenius! Ekspresi yang mencampurkan rasa senang dan sedih itu beneran tepat sasaran (dan seterusnya).

 

Dan yang paling utama, terima kasih kepada kalian semua yang telah sudi membeli buku ini.

 

Saya sangat berharap kita bisa bertemu kembali di volume kedua. Sampai jumpa lagi!

 

Sambil mati-matian menggerakkan tangan yang agak kena radang tendon gara-gara kebanyakan main Mahjong,


Kotaro Mito.


Previous Chapter | ToC 

1 comment

1 comment

  • Agus Dedi Prasetya
    Agus Dedi Prasetya
    10/5/26 14:02
    Jejak vol 1 epilog
    Reply
close