Episode 1 “Karena Tak
Terucap”
Aku menginginkan tempat
untuk pulang.
Di rumah itu, aku ingin
ada seseorang yang tersenyum dan menyambutku dengan ucapan “Selamat datang”.
Adakah orang yang pernah
memikirkan hal seperti itu?
Yah, kurasa tidak sedikit.
Meskipun alasannya mungkin berbeda-beda bagi setiap orang.
Nogi Meguru.
Itu namaku.
Umurku, bulan Juni tahun
ini akan menginjak 18 tahun.
Ibu meninggal sebelum aku
bisa mengingatnya. Ayah bekerja di luar kota, dan aku sudah menumpang di rumah
adik perempuan ayahku—rumah Bibi—selama lebih dari 10 tahun.
Bukan berarti aku tidak
betah tinggal di rumah itu. Bibi selalu pulang larut malam, dan putri
tunggalnya yang merupakan kakak sepupuku, memperlakukanku seperti keluarga
kandungnya sendiri.
—Meskipun begitu,
Aku ingin keluar dari
rumah Bibi. Aku mulai memikirkan hal itu saat baru masuk SMP.
Alasannya ada banyak, tapi
aku merasa tidak bisa terus merepotkan orang-orang ini lebih dari ini—
begitulah pikirku.
Tapi, bagi anak SMP hal
itu tidaklah mungkin. Uang sakuku bukanlah jumlah yang besar untuk bisa hidup
sendiri, dan kalau aku meminta bantuan Ayah, sudah jelas dia akan menyuruhku
menyerah.
Maka, aku baru bisa
bergerak ketika aku sudah bisa bekerja paruh waktu, yaitu saat SMA.
Dan begitulah, aku masuk
SMA dan hampir dua tahun telah berlalu. Rencanaku sudah mendekati akhir.
Aku berdiri di tengah
ruangan, lalu melihat sekeliling.
Ruangan yang hampa.
Di dapur hanya ada kulkas.
Beberapa barang elektronik sedikit bekas pemberian (yang disebut barang
lungsuran). Di ruang tamu ada meja rendah kecil dan televisi. Di kamar tidur
ada satu kasur dan dua rak buku, serta satu kamar kosong.
2LDK, sebuah kamar
apartemen berumur 35 tahun.
Ini adalah rumahku yang
sesungguhnya, kubeli dengan uang yang kumpulkan mati-matian dari kerja paruh
waktu selama dua tahun.
“Tidak ada apa-apa, ya...”
Gumamku pelan.
Yah, tinggal ditambah saja
nanti. Di rumah Bibi, aku menyewa satu kamar berukuran sekitar enam tikar
tatami, dan semua barang yang ada di sana sudah kupindahkan ke sini, hanya ini.
Tapi tetap saja, kalau
melihat ruangan ini, siapa pun pasti akan berpikir ini adalah ‘ruangan yang
kosong melompong’.
Setelah selesai
memindahkan barang ke rumah baru, aku menyadari lampu notifikasi ponselku yang
kutaruh di atas konter dapur berkedip, lalu aku mengambilnya. Panggilan masuk
dari Ayah.
“Apa kamu sudah selesai
pindahannya?”
“Ya, lagipula hampir tidak
ada barang yang perlu diangkut.”
“Tapi kamu dapat kulkas
dan lainnya, kan? Apa benar kamu bisa memindahkannya tanpa menyewa jasa
pindahan?”
“Kalau cuma segitu, aku
bisa melakukannya sendiri dengan mudah.”
“...Begitu ya. Kamu sudah
melatih fisikmu rupanya.”
Yah, membawa kulkas ke
lantai empat apartemen tanpa lift memang lumayan berat, tapi saat aku mengambil
kerja paruh waktu jangka pendek di jasa pindahan, aku pernah mengangkut barang
yang jauh lebih parah.
Waktu itu aku harus
mengangkut sebuah piano besar menggunakan tangga darurat sampai lantai 27 di
tengah musim panas karena tidak muat di lift, aku benar-benar berpikir aku akan
mati. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bekerja di jasa pindahan.
“Pada akhirnya, aku belum
pernah bertemu dengan Paman sekalipun, tapi Ayah tidak mengancamnya... kan?”
“Hm? Tidak mungkin. Waktu
kami bertemu sebelumnya, dia malah senang karena akhirnya aset buruknya
terjual.”
“Aset buruk...”
“Dia tertipu investasi
properti, seorang pegawai biasa yang tidak punya banyak tabungan nekat membeli
apartemen bekas. Nyaris tidak ada penyewa yang masuk. Kalau tidak ditinggali
sendiri, menahannya hanya akan membawa kerugian.”
“.......Kalau begitu
syukurlah.”
Pria yang menjualnya jauh
lebih murah dari harga pasaran apartemen bekas di sekitar sini adalah kakak
laki-laki ibu—bagiku, dia adalah Paman.
Meskipun begitu, aku sama
sekali belum pernah menemuinya sejak aku bisa mengingat.
Katanya dia hadir di
pemakaman ibu, tapi aku tidak punya ingatan tentang itu, dan sejak lama dia
tinggal di Fukuoka karena pekerjaan, sedangkan aku sejak lahir tinggal di
Kanagawa, jadi pada dasarnya kami sama sekali tidak punya kesempatan untuk
bertemu.
Aku tidak menanyakan
detail kenapa Paman bisa punya apartemen bekas di Kanagawa, tapi dari perkataan
Ayah barusan, aku kira-kira sudah paham. Rupanya ada kisah semacam itu.
Aku ingin keluar dari
rumah Bibi.
Saat kelas 3 SMP, aku
tanpa sengaja berdiskusi dengan Ayah yang sedang pulang ke Jepang, lalu dia
berkata, “Ngomong-ngomong, Naoshi-kun bilang dia punya rumah berlebih.”
Awalnya aku tidak sadar
kalau itu adalah nama Paman, tapi karena aku pernah dengar ada kerabat dari
pihak ibu yang tinggal di Fukuoka, aku langsung tahu siapa yang dimaksud
setelah dijelaskan.
Tapi, saat itu aku
membicarakan niatku untuk tinggal di apartemen sewa atau semacamnya. Pada titik
itu, tidak ada setitik pun niat di benakku untuk membeli rumah.
Akan tetapi, bagaimana
kalau aku mendengarkan detailnya? Jumlah yang ditawarkan padaku adalah jumlah
yang sepertinya bisa kubeli kalau aku bekerja mati-matian.
Targetku pun secara
natural berubah menjadi ‘Membeli rumah saat masih SMA’.
Sejak masuk SMA, aku
mengumpulkan uang dari pekerjaan paruh waktu dengan gaji tinggi seperti di
lokasi konstruksi dan pekerjaan teknik sipil.
Karena dengan pekerjaan
paruh waktu biasa, sekeras apa pun aku berusaha, itu adalah jumlah yang tidak
akan tercapai dalam tiga tahun.
Ada banyak batasan bagi
anak di bawah umur untuk bekerja di tempat seperti itu, tapi aku bekerja sampai
batas maksimal yang tidak melanggar hukum.
Jadwalnya maju hampir satu
tahun, dan pada bulan Maret di kelas 2 SMA, aku akhirnya mendapatkan rumah
impianku.
“Kalau begitu, kalau ada
masalah hubungi aku,” kata Ayah sebelum telepon terputus.
Hampir bersamaan saat aku
meletakkan ponsel, bel pintu berbunyi. Meskipun sudah direnovasi, ini adalah
apartemen berusia 35 tahun, jadi tidak ada barang mewah seperti monitor
interkom. Saat aku berjalan ke arah pintu masuk, yang berdiri di sana adalah—
“Aku datang untuk
membantu~”
Yang datang adalah kakak
sepupuku—Nogi Tamaki. Karena Bibi langsung bercerai setelah melahirkan Tamaki Onee-chan
dan tidak pernah menikah lagi sejak itu, marga Onee-chan sama denganku, yaitu
Nogi.
Sosoknya terbalut sweter
yang lembut, dan kepribadiannya pun sama lembutnya.
Perempuan yang tersenyum
santai ke arahku itu—adalah orang yang paling berharga bagiku.
“Shuu-kun, kamu pindahan
di masa-masa seperti ini, apa ujianmu akan baik-baik saja~?”
“Ini bukan hal yang harus
dikebut belajar semalaman, kok.”
“Tentu saja, kamu kan
muridku~. Anak pintar~, puk puk~”
Dia berjinjit, mengulurkan
tangannya dan mengelus kepalaku. Dengan tangan kecilnya, dia mengacak-ngacak
rambutku.
—Ah, aku menyukainya.
Entah harus bagaimana
lagi, aku sangat menyukai orang ini. Aku memalingkan wajahku untuk
menyembunyikan sudut bibirku yang menyunggingkan senyum.
Kapan aku menyadari
perasaanku pada Onee-chan? Aku bahkan sudah tidak ingat lagi.
Dia adalah keluarga
kesayanganku yang tinggal bersamaku, tetapi kami bisa menikah—saat aku
mengetahui fakta itu, aku ingat betapa senangnya diriku sampai tidak bisa
tidur.
Perbedaan usia kami
mencapai enam tahun. Bagi seorang kakak dan adik, itu jarak yang lumayan jauh.
Tapi, perbedaan itu hanya
akan terasa di awal saja. Saat kami sudah berusia 30-an nanti, tidak akan ada
yang memedulikan jarak enam tahun.
Karena itu. Karena itu,
aku—
“Eh, lho~? Su, sudah
selesai semua~?!”
Onee-chan masuk ke dalam
ruangan dan melongo kaget.
Kenyataannya, hampir tidak
ada barang yang perlu diangkut. Dari rumah Onee-chan ke apartemen ini jaraknya
cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki.
Aku menaruh barang-barang
di kereta dorong yang kubeli di pusat perlengkapan rumah, dan selesai
memindahkannya dalam beberapa kali bolak-balik.
Karena sedang masa ujian,
sekolah selesai pada siang hari dan aku langsung memulai proses pindahan, tapi
sekarang waktu sudah menunjukkan lewat pukul tujuh malam, batas di mana perut
mulai merasa lapar.
“K-kulkas juga...!”
Onee-chan yang gemetar
menahan keterkejutannya, mendekati kulkas dan tertawa, “Ah, stiker ini bikin
nostalgia~, ini yang Shuu-kun tempel waktu kelas dua SD kan~.”
Kulkas ini aslinya ada di
rumah Onee-chan. Mereka membeli yang baru beberapa tahun lalu, tapi karena lupa
meminta toko elektronik untuk membuangnya, mereka membiarkannya saja dan
menyimpannya di gudang. Kulkas itu tidak rusak, jadi mereka menyisihkannya
karena siapa tahu suatu saat akan terpakai.
“Bagaimana cara kamu
memindahkannya~? Padahal tidak ada lift...”
“Aku memanggulnya. Yah,
aku kan terlatih.”
“Ooh~, boleh juga~.”
Onee-chan memencet-mencet
otot lengan atasku, lalu tiba-tiba berseru, “Ah.”
“Oh iya, benar juga, aku
membelikan hadiah pindahan rumah lho~.”
“...Padahal Onee-chan
tidak perlu bawa apa-apa.”
“Tadaaa!!”
Sesuatu yang Onee-chan
keluarkan dari tas belanja besarnya adalah—
“Da, daging...!?”
Ternyata daging. Dan lagi,
daging merah raksasa yang kelihatannya lebih dari satu kilogram. Fakta bahwa
dia tahu aku suka daging merah dan sengaja membelikannya alih-alih daging
berlemak mahal, membuat dadaku terasa hangat.
“Kalau aku bawa perabotan
nanti ruangan ini malah jadi penuh dengan seleraku, jadi mending bawa barang
yang bisa dihabiskan saja~. Lagian dulu Shuu-kun pernah bilang ingin sekali
makan daging~.”
“...Aku senang sekali.
Tapi aku tidak punya wajan...”
“Aku sudah membawanya dari
rumah!!”
“Ohh.”
Pantas saja bawaannya
terlihat banyak sekali, ternyata dari dalam tas belanjanya terus bermunculan
bahan makanan dan peralatan masak. Karena menggantikan Bibi yang selalu pulang
larut malam, Onee-chan sangat pandai memasak.
Aku memandangi sosok Onee-chan
yang mulai memasak di dapur yang tidak dikenalnya.
Pemandangan yang biasa
kulihat. Namun, ini bukan rumah Onee-chan, melainkan rumah yang baru kubeli.
—Tanpa mengatakan apa pun,
aku hanya memandangi sosoknya. Onee-chan yang memasak sambil menggerakkan
tubuhnya mengikuti irama itu, terlihat lebih senang dari biasanya.
Daging panggang, sedikit
sayuran, dan nasi putih yang baru matang. Makan malam yang terlalu sederhana,
tapi entah kenapa, terasa jauh lebih lezat dari biasanya. Apa karena rumahnya
berbeda?
Dalam sekejap aku
menghabiskan makananku, lalu menatap Onee-chan yang sedang menyeduhkan teh
menggunakan poci kecil.
“Onee-chan.”
“Hm~?”
“Nanti kalau aku sudah
berumur 18, di sini—“
Kata-kataku tercekat.
Padahal aku sudah bertekad untuk mengatakannya di sini.
Tekadku sedikit kurang
kuat, dan mulutku berhenti dalam keadaan terbuka.
—Aku ingin kita tinggal
bersama di sini.
—Menikahlah denganku.
Kata-kata singkat seperti
itu saja enggan keluar.
Padahal aku berniat
mengatakannya hari ini, di sini, di tempat ini.
“Ah, perayaan ulang tahun
ya~? Boleh, ayo kita rayakan~”
“Bu, bukan itu...”
“Bulan Juni, bulan Juni...
Ah, iya juga. Aku lupa memberitahumu, tapi aku, dalam waktu dekat ini mau
menikah lho~.”
“......Eh?”
Mendengar kata-kata itu,
sejenak pikiranku berhenti berputar.
Menikah? Eh, aku, belum
melamarnya—
J-jangan-jangan, dengan
pria selain aku...!?
Cangkir teh kesayangan
yang sudah kugunakan hampir 10 tahun itu berderak di dalam genggamanku.
“Orang dari kantorku,
sebenarnya kami sudah menjalin hubungan dari lama... Lho, bukannya aku sudah
cerita ke Shuu-kun, ya?”
“Eh, ...Ah, iya.”
“Rencananya kami mau
menggelar upacara pernikahan bulan Juni, kamu wajib datang, ya? Janji lho~?”
Dia mengacungkan jari
kelingking. Karena otakku hampir tidak bekerja sama sekali, aku mengulurkan
tanganku, dan dia menautkan jari kelingkingnya erat-erat dengan milikku.
Ah, jari yang lembut dan
hangat seperti biasa. Aku ingin terus menggenggamnya. —Saat aku memikirkan hal
itu, jarinya dengan cepat terlepas. Seolah-olah melambangkan hubunganku dengan Onee-chan.
Jari kelingkingku yang
membeku dalam posisi berjanji itu, terasa dingin seperti es.
“Kami baru akan
mendaftarkan pernikahan kami sedikit lebih lama lagi, tapi karena harus
mengurus rencana upacara, melihat-lihat rumah baru, dan sebagainya, ke depannya
aku akan agak sulit untuk jadi guru les privatmu~...”
“I, iya.”
“Tapi, aku tidak akan
berhenti mengajarimu sampai Shuu-kun lulus masuk universitas! Kamu tidak perlu
khawatir soal itu, ya~?”
“.........Begitu rupanya.”
“Hng? Kamu kenapa?”
“...Tidak, tidak apa-apa.
Sungguh, selamat ya. ...Aku pasti datang ke upacaranya.”
Onee-chan tersenyum lebar
dengan bahagia.
Lupa memberitahunya. Ah,
kalau mau membicarakan hal itu, aku pun sama.
Aku tidak bisa mengatakan
bahwa aku menyukainya. Aku terus saja menunda untuk mengatakannya. Karena aku
pikir, tanpa harus mengatakannya pun, perasaanku sudah tersampaikan.
Karena aku terus meyakini,
bahwa kami saling menyukai.
—Hari itu, aku merasakan
patah hati untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Patah hati yang
benar-benar telak tak tersisa.



Post a Comment