NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 1

Episode 1 “Karena Tak Terucap”


Aku menginginkan tempat untuk pulang.

 

Di rumah itu, aku ingin ada seseorang yang tersenyum dan menyambutku dengan ucapan “Selamat datang”.

 

Adakah orang yang pernah memikirkan hal seperti itu?

 

Yah, kurasa tidak sedikit. Meskipun alasannya mungkin berbeda-beda bagi setiap orang.

 

Nogi Meguru.

 

Itu namaku.

 

Umurku, bulan Juni tahun ini akan menginjak 18 tahun.

 

Ibu meninggal sebelum aku bisa mengingatnya. Ayah bekerja di luar kota, dan aku sudah menumpang di rumah adik perempuan ayahku—rumah Bibi—selama lebih dari 10 tahun.

 

Bukan berarti aku tidak betah tinggal di rumah itu. Bibi selalu pulang larut malam, dan putri tunggalnya yang merupakan kakak sepupuku, memperlakukanku seperti keluarga kandungnya sendiri.

 

—Meskipun begitu,

 

Aku ingin keluar dari rumah Bibi. Aku mulai memikirkan hal itu saat baru masuk SMP.

Alasannya ada banyak, tapi aku merasa tidak bisa terus merepotkan orang-orang ini lebih dari ini— begitulah pikirku.

 

Tapi, bagi anak SMP hal itu tidaklah mungkin. Uang sakuku bukanlah jumlah yang besar untuk bisa hidup sendiri, dan kalau aku meminta bantuan Ayah, sudah jelas dia akan menyuruhku menyerah.

 

Maka, aku baru bisa bergerak ketika aku sudah bisa bekerja paruh waktu, yaitu saat SMA.

 

Dan begitulah, aku masuk SMA dan hampir dua tahun telah berlalu. Rencanaku sudah mendekati akhir.

 

Aku berdiri di tengah ruangan, lalu melihat sekeliling.

 

Ruangan yang hampa.

 

Di dapur hanya ada kulkas. Beberapa barang elektronik sedikit bekas pemberian (yang disebut barang lungsuran). Di ruang tamu ada meja rendah kecil dan televisi. Di kamar tidur ada satu kasur dan dua rak buku, serta satu kamar kosong.

 

2LDK, sebuah kamar apartemen berumur 35 tahun.

 

Ini adalah rumahku yang sesungguhnya, kubeli dengan uang yang kumpulkan mati-matian dari kerja paruh waktu selama dua tahun.

 

“Tidak ada apa-apa, ya...”

 

Gumamku pelan.

Yah, tinggal ditambah saja nanti. Di rumah Bibi, aku menyewa satu kamar berukuran sekitar enam tikar tatami, dan semua barang yang ada di sana sudah kupindahkan ke sini, hanya ini.

 

Tapi tetap saja, kalau melihat ruangan ini, siapa pun pasti akan berpikir ini adalah ‘ruangan yang kosong melompong’.

 

Setelah selesai memindahkan barang ke rumah baru, aku menyadari lampu notifikasi ponselku yang kutaruh di atas konter dapur berkedip, lalu aku mengambilnya. Panggilan masuk dari Ayah.

 

“Apa kamu sudah selesai pindahannya?”

 

“Ya, lagipula hampir tidak ada barang yang perlu diangkut.”

 

“Tapi kamu dapat kulkas dan lainnya, kan? Apa benar kamu bisa memindahkannya tanpa menyewa jasa pindahan?”

 

“Kalau cuma segitu, aku bisa melakukannya sendiri dengan mudah.”

 

“...Begitu ya. Kamu sudah melatih fisikmu rupanya.”

 

Yah, membawa kulkas ke lantai empat apartemen tanpa lift memang lumayan berat, tapi saat aku mengambil kerja paruh waktu jangka pendek di jasa pindahan, aku pernah mengangkut barang yang jauh lebih parah.

 

Waktu itu aku harus mengangkut sebuah piano besar menggunakan tangga darurat sampai lantai 27 di tengah musim panas karena tidak muat di lift, aku benar-benar berpikir aku akan mati. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bekerja di jasa pindahan.

 

“Pada akhirnya, aku belum pernah bertemu dengan Paman sekalipun, tapi Ayah tidak mengancamnya... kan?”

 

“Hm? Tidak mungkin. Waktu kami bertemu sebelumnya, dia malah senang karena akhirnya aset buruknya terjual.”

 

“Aset buruk...”

 

“Dia tertipu investasi properti, seorang pegawai biasa yang tidak punya banyak tabungan nekat membeli apartemen bekas. Nyaris tidak ada penyewa yang masuk. Kalau tidak ditinggali sendiri, menahannya hanya akan membawa kerugian.”

 

“.......Kalau begitu syukurlah.”

 

Pria yang menjualnya jauh lebih murah dari harga pasaran apartemen bekas di sekitar sini adalah kakak laki-laki ibu—bagiku, dia adalah Paman.

 

Meskipun begitu, aku sama sekali belum pernah menemuinya sejak aku bisa mengingat.

 

Katanya dia hadir di pemakaman ibu, tapi aku tidak punya ingatan tentang itu, dan sejak lama dia tinggal di Fukuoka karena pekerjaan, sedangkan aku sejak lahir tinggal di Kanagawa, jadi pada dasarnya kami sama sekali tidak punya kesempatan untuk bertemu.

Aku tidak menanyakan detail kenapa Paman bisa punya apartemen bekas di Kanagawa, tapi dari perkataan Ayah barusan, aku kira-kira sudah paham. Rupanya ada kisah semacam itu.

 

Aku ingin keluar dari rumah Bibi.

 

Saat kelas 3 SMP, aku tanpa sengaja berdiskusi dengan Ayah yang sedang pulang ke Jepang, lalu dia berkata, “Ngomong-ngomong, Naoshi-kun bilang dia punya rumah berlebih.”

 

Awalnya aku tidak sadar kalau itu adalah nama Paman, tapi karena aku pernah dengar ada kerabat dari pihak ibu yang tinggal di Fukuoka, aku langsung tahu siapa yang dimaksud setelah dijelaskan.

 

Tapi, saat itu aku membicarakan niatku untuk tinggal di apartemen sewa atau semacamnya. Pada titik itu, tidak ada setitik pun niat di benakku untuk membeli rumah.

 

Akan tetapi, bagaimana kalau aku mendengarkan detailnya? Jumlah yang ditawarkan padaku adalah jumlah yang sepertinya bisa kubeli kalau aku bekerja mati-matian.

 

Targetku pun secara natural berubah menjadi ‘Membeli rumah saat masih SMA’.

 

Sejak masuk SMA, aku mengumpulkan uang dari pekerjaan paruh waktu dengan gaji tinggi seperti di lokasi konstruksi dan pekerjaan teknik sipil.

 

Karena dengan pekerjaan paruh waktu biasa, sekeras apa pun aku berusaha, itu adalah jumlah yang tidak akan tercapai dalam tiga tahun.

 

Ada banyak batasan bagi anak di bawah umur untuk bekerja di tempat seperti itu, tapi aku bekerja sampai batas maksimal yang tidak melanggar hukum.

 

Jadwalnya maju hampir satu tahun, dan pada bulan Maret di kelas 2 SMA, aku akhirnya mendapatkan rumah impianku.

 

“Kalau begitu, kalau ada masalah hubungi aku,” kata Ayah sebelum telepon terputus.

 

Hampir bersamaan saat aku meletakkan ponsel, bel pintu berbunyi. Meskipun sudah direnovasi, ini adalah apartemen berusia 35 tahun, jadi tidak ada barang mewah seperti monitor interkom. Saat aku berjalan ke arah pintu masuk, yang berdiri di sana adalah—

 

“Aku datang untuk membantu~”

 

Yang datang adalah kakak sepupuku—Nogi Tamaki. Karena Bibi langsung bercerai setelah melahirkan Tamaki Onee-chan dan tidak pernah menikah lagi sejak itu, marga Onee-chan sama denganku, yaitu Nogi.

 

Sosoknya terbalut sweter yang lembut, dan kepribadiannya pun sama lembutnya.

 

Perempuan yang tersenyum santai ke arahku itu—adalah orang yang paling berharga bagiku.

 

“Shuu-kun, kamu pindahan di masa-masa seperti ini, apa ujianmu akan baik-baik saja~?”

 

“Ini bukan hal yang harus dikebut belajar semalaman, kok.”

 

“Tentu saja, kamu kan muridku~. Anak pintar~, puk puk~”

 

Dia berjinjit, mengulurkan tangannya dan mengelus kepalaku. Dengan tangan kecilnya, dia mengacak-ngacak rambutku.

 

—Ah, aku menyukainya.

 

Entah harus bagaimana lagi, aku sangat menyukai orang ini. Aku memalingkan wajahku untuk menyembunyikan sudut bibirku yang menyunggingkan senyum.

 

Kapan aku menyadari perasaanku pada Onee-chan? Aku bahkan sudah tidak ingat lagi.

 

Dia adalah keluarga kesayanganku yang tinggal bersamaku, tetapi kami bisa menikah—saat aku mengetahui fakta itu, aku ingat betapa senangnya diriku sampai tidak bisa tidur.

 

Perbedaan usia kami mencapai enam tahun. Bagi seorang kakak dan adik, itu jarak yang lumayan jauh.

 

Tapi, perbedaan itu hanya akan terasa di awal saja. Saat kami sudah berusia 30-an nanti, tidak akan ada yang memedulikan jarak enam tahun.

 

Karena itu. Karena itu, aku—

 

“Eh, lho~? Su, sudah selesai semua~?!”

 

Onee-chan masuk ke dalam ruangan dan melongo kaget.

 

Kenyataannya, hampir tidak ada barang yang perlu diangkut. Dari rumah Onee-chan ke apartemen ini jaraknya cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

 

Aku menaruh barang-barang di kereta dorong yang kubeli di pusat perlengkapan rumah, dan selesai memindahkannya dalam beberapa kali bolak-balik.

 

Karena sedang masa ujian, sekolah selesai pada siang hari dan aku langsung memulai proses pindahan, tapi sekarang waktu sudah menunjukkan lewat pukul tujuh malam, batas di mana perut mulai merasa lapar.

 

“K-kulkas juga...!”

 

Onee-chan yang gemetar menahan keterkejutannya, mendekati kulkas dan tertawa, “Ah, stiker ini bikin nostalgia~, ini yang Shuu-kun tempel waktu kelas dua SD kan~.”

 

Kulkas ini aslinya ada di rumah Onee-chan. Mereka membeli yang baru beberapa tahun lalu, tapi karena lupa meminta toko elektronik untuk membuangnya, mereka membiarkannya saja dan menyimpannya di gudang. Kulkas itu tidak rusak, jadi mereka menyisihkannya karena siapa tahu suatu saat akan terpakai.

 

“Bagaimana cara kamu memindahkannya~? Padahal tidak ada lift...”

 

“Aku memanggulnya. Yah, aku kan terlatih.”

 

“Ooh~, boleh juga~.”

 

Onee-chan memencet-mencet otot lengan atasku, lalu tiba-tiba berseru, “Ah.”

 

“Oh iya, benar juga, aku membelikan hadiah pindahan rumah lho~.”

 

“...Padahal Onee-chan tidak perlu bawa apa-apa.”

 

“Tadaaa!!”

 

Sesuatu yang Onee-chan keluarkan dari tas belanja besarnya adalah—

 

“Da, daging...!?”

 

Ternyata daging. Dan lagi, daging merah raksasa yang kelihatannya lebih dari satu kilogram. Fakta bahwa dia tahu aku suka daging merah dan sengaja membelikannya alih-alih daging berlemak mahal, membuat dadaku terasa hangat.

 

“Kalau aku bawa perabotan nanti ruangan ini malah jadi penuh dengan seleraku, jadi mending bawa barang yang bisa dihabiskan saja~. Lagian dulu Shuu-kun pernah bilang ingin sekali makan daging~.”

 

“...Aku senang sekali. Tapi aku tidak punya wajan...”

 

“Aku sudah membawanya dari rumah!!”

 

“Ohh.”

 

Pantas saja bawaannya terlihat banyak sekali, ternyata dari dalam tas belanjanya terus bermunculan bahan makanan dan peralatan masak. Karena menggantikan Bibi yang selalu pulang larut malam, Onee-chan sangat pandai memasak.

 

Aku memandangi sosok Onee-chan yang mulai memasak di dapur yang tidak dikenalnya.

 

Pemandangan yang biasa kulihat. Namun, ini bukan rumah Onee-chan, melainkan rumah yang baru kubeli.

 

—Tanpa mengatakan apa pun, aku hanya memandangi sosoknya. Onee-chan yang memasak sambil menggerakkan tubuhnya mengikuti irama itu, terlihat lebih senang dari biasanya.

 

Daging panggang, sedikit sayuran, dan nasi putih yang baru matang. Makan malam yang terlalu sederhana, tapi entah kenapa, terasa jauh lebih lezat dari biasanya. Apa karena rumahnya berbeda?

 

Dalam sekejap aku menghabiskan makananku, lalu menatap Onee-chan yang sedang menyeduhkan teh menggunakan poci kecil.

 

“Onee-chan.”

 

“Hm~?”

 

“Nanti kalau aku sudah berumur 18, di sini—“

 

Kata-kataku tercekat. Padahal aku sudah bertekad untuk mengatakannya di sini.

 

Tekadku sedikit kurang kuat, dan mulutku berhenti dalam keadaan terbuka.

 

—Aku ingin kita tinggal bersama di sini.

 

—Menikahlah denganku.

 

Kata-kata singkat seperti itu saja enggan keluar.

 

Padahal aku berniat mengatakannya hari ini, di sini, di tempat ini.

 

“Ah, perayaan ulang tahun ya~? Boleh, ayo kita rayakan~”

 

“Bu, bukan itu...”

 

“Bulan Juni, bulan Juni... Ah, iya juga. Aku lupa memberitahumu, tapi aku, dalam waktu dekat ini mau menikah lho~.”

 

“......Eh?”

Mendengar kata-kata itu, sejenak pikiranku berhenti berputar.

 

Menikah? Eh, aku, belum melamarnya—

 

J-jangan-jangan, dengan pria selain aku...!?

 

Cangkir teh kesayangan yang sudah kugunakan hampir 10 tahun itu berderak di dalam genggamanku.

 

“Orang dari kantorku, sebenarnya kami sudah menjalin hubungan dari lama... Lho, bukannya aku sudah cerita ke Shuu-kun, ya?”

 

“Eh, ...Ah, iya.”

 

“Rencananya kami mau menggelar upacara pernikahan bulan Juni, kamu wajib datang, ya? Janji lho~?”

 

Dia mengacungkan jari kelingking. Karena otakku hampir tidak bekerja sama sekali, aku mengulurkan tanganku, dan dia menautkan jari kelingkingnya erat-erat dengan milikku.

 

Ah, jari yang lembut dan hangat seperti biasa. Aku ingin terus menggenggamnya. —Saat aku memikirkan hal itu, jarinya dengan cepat terlepas. Seolah-olah melambangkan hubunganku dengan Onee-chan.

 

Jari kelingkingku yang membeku dalam posisi berjanji itu, terasa dingin seperti es.

 

“Kami baru akan mendaftarkan pernikahan kami sedikit lebih lama lagi, tapi karena harus mengurus rencana upacara, melihat-lihat rumah baru, dan sebagainya, ke depannya aku akan agak sulit untuk jadi guru les privatmu~...”

 

“I, iya.”

 

“Tapi, aku tidak akan berhenti mengajarimu sampai Shuu-kun lulus masuk universitas! Kamu tidak perlu khawatir soal itu, ya~?”

 

“.........Begitu rupanya.”

 

“Hng? Kamu kenapa?”

 

“...Tidak, tidak apa-apa. Sungguh, selamat ya. ...Aku pasti datang ke upacaranya.”

 

Onee-chan tersenyum lebar dengan bahagia.

 

Lupa memberitahunya. Ah, kalau mau membicarakan hal itu, aku pun sama.

 

Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku terus saja menunda untuk mengatakannya. Karena aku pikir, tanpa harus mengatakannya pun, perasaanku sudah tersampaikan.

 

Karena aku terus meyakini, bahwa kami saling menyukai.

 

—Hari itu, aku merasakan patah hati untuk pertama kalinya dalam hidupku.

 

Patah hati yang benar-benar telak tak tersisa.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close