NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 2

Episode 2 “Karena Aku Tidak Menggunakannya”


Waktu istirahat kerja paruh waktu. Saat kulihat jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 19.00.

 

Karena sampai beberapa saat lalu aku terus bergerak mengangkut barang berat, tubuh di balik pakaian kerjaku dibanjiri keringat.

 

Saat aku membuka ritsleting untuk membiarkan angin masuk, embusan angin malam di bulan Maret terasa sangat menyejukkan.

 

Pekerjaan paruh waktu di lokasi konstruksi yang kumulai saat kelas 1 SMA ini, masih belum kutinggalkan meski sekarang aku sudah memiliki rumah. Malahan, aku bekerja lebih lama dibandingkan sebelumnya.

 

Sambil menatap langit gelap tanpa bintang dan menggigit roti manis yang empuk seperti spons, seorang pria paruh baya duduk di sebelahku. Dia adalah pria yang kadang-kadang kujumpai saat bekerja.

 

“Nogi-kun, akhir-akhir ini sering terlihat, ya. Padahal ini hari biasa, rajin sekali.”

 

“...Terima kasih.”

 

“Ada masalah, kah?”

 

“Tidak, bukan hal yang pantas untuk diceritakan, kok.”

“Yah, aku bahkan tidak pernah duduk di bangku SMP, jadi aku sama sekali tidak paham dengan permasalahan anak sekolah.”

 

“.........”

 

Pria yang tertawa merendahkan dirinya sendiri itu, mengisap rokok dengan sekaleng kopi di satu tangannya.

 

Kuingat dia pernah bercerita kalau dia harus menghidupi seorang istri dan empat orang anak. Dibandingkan denganku yang terus meratapi patah hati, dia jauh lebih dewasa.

 

Dan dengan orang seperti itulah, aku yang hanya anak SMA biasa ini bekerja berdampingan. Lokasi konstruksi memang selalu kekurangan tenaga kerja.

 

“Yah, jalani saja, nanti juga beres sendiri.”

 

“...Apa benar begitu, ya.”

 

“Hei Nogi-kun. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan mungkin aku tidak bisa memberikan solusi meski mendengarnya, tapi jangan pasang wajah seolah-olah hidupmu sudah berakhir begitu.”

 

“...Memangnya wajahku...”

 

“Kelihatan, kelihatan jelas. Dulu aku juga pernah berpikir hidupku benar-benar sudah tamat saat mantan pacarku kabur membawa semua uangku, tapi sekarang aku sudah menikah dan punya anak.”

 

“Itu, cerita kapan?”

“Hng, sekitar 30 tahun yang lalu, ya?”

 

“30... butuh waktu berapa lama untuk bangkit kembali?”

 

Mendengar pertanyaanku, pria itu menyeringai dan mengacungkan jarinya. Tiga jari.

 

“...Tiga tahun?”

 

“Tiga hari.”

 

“Tiga hari!?”

 

“Bukan, bukan begitu, soalnya banyak yang terjadi. Ada drama epik selama 72 jam...”

 

Seakan-akan untuk menghentikan pria yang baru saja ingin mulai bercerita, alarm tanda waktu istirahat selesai berbunyi. Aku memasukkan sisa rotiku ke dalam mulut dan berdiri.

 

“...Lain kali, tolong ceritakan lagi, ya.”

 

“Sip.”

 

Hanya saat aku menggerakkan tubuhkulah, aku tidak perlu memikirkan apa pun.

 

Karena itu, baik sepulang sekolah maupun akhir pekan, aku hampir selalu masuk bekerja sejak patah hati.

 

Aku hanya libur bekerja sehari dalam seminggu. Tidur lelap seperti orang mati, lalu kembali bekerja.

 

Sejak libur musim semi dimulai, aku mulai berkeliling ke dua lokasi kerja yang berbeda, sehingga aku menghabiskan lebih dari 12 jam sehari di tempat kerja paruh waktu.

 

Padahal aku sudah tidak punya alasan untuk menabung uang lagi.

 

—Meskipun begitu,

 

Karena aku tidak tahu cara lain untuk mengalihkan pikiran selain bekerja, aku terus bekerja tanpa memikirkan hal lain.

 

Aku menerima gaji yang diberikan secara tunai pada tanggal 25, dan mau tidak mau tersenyum kecut merasakan ketebalan amplop itu. Mungkin, jumlah ini dengan mudah melampaui rekor gaji terbanyakku saat liburan musim panas lalu.

 

Waktu libur musim panas, aku ada rencana bermain dengan teman-teman, dan aku juga belajar untuk persiapan ujian masuk universitas. Aku bahkan pergi menghadiri open campus.

 

Oleh karena itu, meskipun libur musim panas berlangsung lebih dari sebulan, aku tidak pernah bekerja penuh selama satu bulan kalender.

 

Tapi, bulan ini berbeda. Sepulang sekolah, setiap hari aku bekerja sampai pukul 22.00, batas waktu maksimal anak sekolah diizinkan bekerja. Sama halnya saat libur musim semi dimulai.

Pantas saja, kalau aku bekerja sebanyak itu, amplopnya akan setebal ini. Aku menjejalkan amplop tebal itu dengan sembarangan ke dalam sakuku, lalu berjalan menelusuri jalanan malam.

 

Lokasi kerja hari ini ada di pekerjaan perbaikan pipa air dekat distrik hiburan. Kota-kota yang usianya sudah cukup tua di mana pun biasanya sudah jauh melewati masa pakai pipa air, jadi pekerjaan semacam ini memang sering dilakukan.

 

Para pria dewasa yang bekerja bersamaku ribut membicarakan di mana mereka akan minum-minum dengan amplop gaji di tangan, tapi tentu saja aku tidak diajak. Wajar karena aku masih di bawah umur.

 

Aku menyapa beberapa orang yang kukenal, lalu berjalan lurus menuju stasiun.

 

Lampu neon yang terang benderang terlihat seperti dunia yang berbeda.

 

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 22.00. Waktu yang terlalu larut untuk anak SMA berjalan sendirian.

 

“...Hng?”

 

Saat aku melewati rute terpendek menuju stasiun, melewati jalanan yang dipenuhi club host, club malam, dan hotel cinta, tiba-tiba aku menoleh karena merasa melihat wajah yang kukenal.

 

Tidak mungkin ada kenalanku di tempat seperti ini. Mengingat jamnya juga, ini pasti perasaanku saja.

 

—Tapi, ternyata aku salah.

 

“...Himori?”

 

Himori Shuri. Siswi perempuan yang sudah sekelas denganku selama dua tahun.

 

Tingginya yang sedikit di atas rata-rata laki-laki, terlihat semakin tinggi karena sepatu hak yang dikenakannya. Tipe kecantikannya bukan imut, melainkan rupawan dengan proporsi tubuh idaman. Dia adalah sosok sentral di kelas yang ramah dan bersahabat dengan siapa saja.

 

Kenapa Himori ada di tempat seperti ini?

 

Keraguan itu berubah menjadi kepastian saat aku melihat pria yang berjalan di sebelahnya.

 

Hubunganku dengan Himori bukan berarti buruk, tapi kami tidak cukup dekat hingga aku berhak ikut campur perihal pergaulannya. Karena itu, kalau pria itu memang pacarnya, aku tidak berhak membicarakan perbedaan usia mereka—

 

—Setidaknya, begitulah niatku.

 

Namun tubuhku, kakiku, melangkah ke arah sana.

 

Setelah jarak kami cukup dekat agar suaraku terdengar, Himori akhirnya menyadariku.

 

“Eh, N-Nogi!? K-kenapa kamu ada di sini!?”

 

Bukan pada Himori, aku menatap pria itu.

 

—Mata yang merendahkan. Perut yang buncit. Jam tangan mewah yang memperlihatkan kekayaannya.

 

Aku langsung tahu bahwa pria itu bukan pacarnya, karena senyuman Himori jelas terlihat sangat canggung.

 

Di sekolah, saat dia bicara dengan siswa laki-laki mana pun, bahkan saat bicara dengan guru yang dibenci siswi perempuan sekalipun, dia tidak pernah menunjukkan wajah seperti ini. Kalau ini benar-benar pacarnya, aku akan meminta maaf nanti.

 

“Berapa?”

 

Aku bertanya pada pria itu, bukan Himori. Aku tahu percakapan tidak akan membuahkan hasil dengan Himori yang sedang panik.

 

“Lima puluh ribu yen di luar biaya hotel. Siapa kamu ini? Pacarnya? Temannya? Bisa tolong jangan mengganggu?”

 

“Itu bayar setelah selesai? Atau sebelumnya?”

 

“Sebelumnya, makanya kamu—“

 

“Dia ini anak SMA. Paham?”

“.........”

 

Saat aku menunjuk Himori, pria itu terdiam dan memalingkan wajahnya. Wajahnya menunjukkan bahwa dia menyadarinya.

 

Aku menarik keluar amplop yang sebelumnya kumasukkan sembarangan ke dalam saku, lalu menekannya ke tangan Himori tanpa mengecek isinya.

 

Entah berapa jumlahnya, tapi dari ketebalannya, pasti jauh lebih dari lima puluh ribu yen.

 

“Dasar, jangan jual dirimu dengan harga murah.”

 

“...Eh?”




“Hargailah tubuhmu sedikit. Uang itu tidak perlu dikembalikan juga tidak apa-apa.”

 

“Eh, tunggu, ...tunggu!”

 

Sambil mendesah berat, pria itu menjauh dari Himori. Jika ketahuan membeli siswi SMA dengan uang, yang akan repot dan kebingungan bukanlah diriku, melainkan pria itu. Kalau sampai menjadi masalah besar, ia bisa ditangkap polisi.

 

Jika pria itu sudah menjauh, tidak ada lagi yang perlu kukatakan.

 

Namun, kenyataan bahwa teman sekelasku, apalagi Himori, melakukan hal semacam ini, sejujurnya membuatku terkejut.

 

Tapi, aku tidak tahu apakah ini perbuatan pertamanya atau bukan, dan mungkin ada alasan mengapa dia sangat membutuhkan uang. Kalaupun dia memang sering melakukannya, tindakanku tadi benar-benar hanya campur tangan yang tidak perlu.

 

Hari ini aku menghentikannya karena kebetulan melihatnya, tapi untuk ke depannya aku tidak tahu. Aku bukan orang berhati mulia yang merasa harus menyelamatkan semua umat manusia, dan Himori juga bukan orang yang memiliki hubungan spesial denganku.

 

Karena urusanku sudah selesai, aku berniat meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba bahuku ditarik dengan kuat.

 

Aku menoleh ke belakang, tetapi kata-kata yang ingin kuucapkan sudah bulat.

“Tenang saja, aku tidak akan membocorkan ini ke siapa-siapa, kok.”

 

“Bu-bukan itu maksudku...!”

 

“Ada hal lain lagi?”

 

“.........Maaf.”

 

Kalau kamu punya niat untuk meminta maaf, dari awal jangan lakukan hal semacam ini. Aku mengatupkan bibirku yang hampir mengucapkan kata-kata itu.

 

Yang seharusnya mengatakan hal tersebut bukanlah diriku yang hanya sekadar teman sekelas. Melainkan keluarga atau seseorang yang memiliki hubungan lebih erat dengannya.

 

“Duluan, ya.”

 

Aku menepis tangannya yang menahanku, berbalik, dan mulai berjalan. Kali ini, langkahku tidak dihentikan lagi.

 

Tubuhku, terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya.

 

Tindakan menolong orang lain yang sangat egois, di mana aku hanya memikirkan diriku sendiri.

 

Meskipun begitu, sesuatu yang terasa berat dan menyesakkan di dalam hatiku rasanya sedikit berkurang.

 

Aku membeli kola di mesin penjual minuman otomatis yang tak sengaja tertangkap oleh mataku.

 

Aku membukanya saat itu juga, lalu mulai meminumnya.

 

Gelembung-gelembung sodanya meletup di dalam mulutku, tetapi,

—aku tidak merasakan rasa apa pun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close