NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 4 Chapter 1

Chapter 1

Palsu


Liburan musim panas yang menyenangkan telah usai, dan semester dua pun dimulai.

Panasnya musim panas masih terasa. Suhu tanggung yang membuatku bingung apakah harus menyalakan AC atau tidak ini justru menyiksa.

Beberapa guru bahkan ada yang mencoba bertahan hanya dengan kipas angin…… sambil memperhatikan teman-temanku yang lemas karena kepanasan, aku mengipasi wajah dengan penggaris plastik.

Akhirnya, guru Sejarah Dunia yang menyadari keadaan kami menyalakan AC sambil berkata, "Maaf, maaf. Panas, ya."

Bagus, aksi "kita kepanasan" sukses! Angin sejuk dari AC terasa sangat melegakan.

Ternyata ada gunanya aku sengaja mengipasi dengan penggaris sampai berisik begitu…… saat aku puas dengan pencapaianku, Uta yang duduk di kursi depan diagonal memberikan jempol secara diam-diam.

Uta tadi sempat berbisik "panas..." dan melakukan segala cara untuk mendinginkan diri. Ini adalah kemenangan berkat kerja sama tim kami!

Suara kapur yang beradu dengan papan tulis terdengar ritmis.

Guru Sejarah Dunia yang teliti menuliskan penjelasan yang rapi di papan tulis, dan kami pun menyalinnya ke buku catatan.

Guru ini biasanya menuliskan poin-poin utama di papan tulis lalu menghabiskan sisa waktu untuk menjelaskan. Saat aku sedang tekun menggerakkan pensil, tiba-tiba pundakku ditepuk.

Di sampingku, Hoshimiya menatapku dengan wajah menyesal.

"Maaf, boleh pinjam penghapus?"

Kepada Hoshimiya yang meminta dengan kedua tangan dirapatkan, aku menyerahkan penghapusnya.

Sambil memandangi profil wajah Hoshimiya yang sibuk menggosok buku catatannya dengan penghapus, aku diam-diam merasa sangat bahagia.

Saat memasuki semester dua, ada perombakan tempat duduk. Hasilnya, aku mendapatkan posisi dewa: baris kedua dari belakang di dekat jendela.

Apalagi, teman sebangkuku adalah Hoshimiya Hikari. Sebagai gantinya, aku jadi cukup jauh dari teman-teman yang lain.

Uta berada dua baris di depan diagonal, Tatsuya dan Reita duduk di baris tengah, dan Nanase berada di baris dekat koridor, benar-benar berlawanan arah denganku.

Meski begitu, selama di samping Hoshimiya, aku tidak punya keluhan.

Saat aku melamun memikirkan hal itu sambil memandangi profil wajahnya, Hoshimiya mendongak dan mata kami bertemu seolah dia menyadari tatapanku.

Mata Hoshimiya berkedip-kedip, dan entah mengapa pipinya memerah.

Saat aku berpikir dia lucu, dia malah melirikku dengan tatapan tidak puas.

"Perasaan macam apa itu?"

Saat aku memiringkan kepala dengan bingung, Hoshimiya mengerucutkan bibirnya lalu mencolek pinggangku.

"Jadi, perasaan macam apa itu sebenarnya!?"

Nyaris saja suara anehku menggema di ruang kelas yang hening……

Lalu Hoshimiya berbisik, "……terima kasih," sambil mengembalikan penghapusku.

Sambil membatin "sebenarnya tadi itu emosi apa...", aku mengembalikan pandangan ke papan tulis. Guru Sejarah Dunia menatap kami secara terang-terangan dengan wajah lelah.

Aku buru-buru membetulkan posisi dudukku. Setelah itu aku mendengarkan pelajaran dengan serius hingga bel berakhir.

Pelajaran Sejarah Dunia ternyata menarik kalau didengarkan dengan benar. Rasanya seperti membaca novel panjang yang megah.

Saat aku sedang merenggangkan tubuh yang kaku, Hoshimiya di sampingku menatap lekat.

"Ada apa?"

Saat aku bertanya, Hoshimiya mengedipkan matanya.

"……Tidak ada apa-apa, sih."

"Tadi pas pelajaran, kamu mencolek pinggangku, kan."

"Itu…… karena Natsuki-kun terus menatapku lekat-lekat……"

Hoshimiya memalingkan wajah, tapi telinganya memerah. Tidak peduli bagaimana pun dilihat, dia pasti sedang malu.

Akhir-akhir ini, reaksi Hoshimiya terasa sangat…… entahlah, sangat mudah ditebak.

"Seperti di malam saat bulan purnama terlihat."

Biasanya aku akan memperingatkan diriku sendiri agar tidak ke-GR-an, tapi karena aku sudah tahu perasaan Hoshimiya, aku tahu ini bukan sekadar salah paham. Hoshimiya pun mungkin tidak berniat menyembunyikannya terlalu dalam.

"Kelas hari ini akhirnya selesai juga, ya."

"Benar. Akhirnya suasana libur musim panas sudah hilang."

"Eh, aku masih belum bisa melupakannya. Aku ingin liburan musim panas terus……"

"Soal itu, aku juga sih."

"……Perjalanannya menyenangkan, ya. Aku ingin pergi lagi."

"Setuju. Mungkin liburan musim dingin nanti? Ski, atau mungkin pemandian air panas?"

"Wah, ski sepertinya seru! Tapi aku takut kalau jatuh nanti malah luka parah……"

"Ya, setidaknya aku bisa mengajarimu sedikit…… eh, maaf. Sepertinya tidak bisa ya."

"Hei, jangan menyerah begitu saja!"

Melihat kemampuan atletik Hoshimiya saat acara olahraga, sulit untuk mengatakan dengan mudah kalau akan baik-baik saja. Waktu kuliah dulu aku sesekali bermain ski, tapi aku tidak cukup ahli untuk mengajarinya.

"Natsuki-kun, hari ini mau ke mana?"

Hoshimiya bertanya seolah ingin mengganti topik.

"Sepulang sekolah, aku ada kerja paruh waktu."

"……Ja-jadi, kita pulang bareng sampai ke tempat kerjamu, mau?"

Mendengar ajakan Hoshimiya yang tampak tegang, aku terpaku.

"……Maaf, hari ini orang di tempat kerja kurang, jadi rencanaku mau langsung bergegas ke sana setelah sekolah selesai."

"Oh, begitu ya. Ya sudah, tidak apa-apa. Jangan dipikirkan."

Hoshimiya memberikan senyum basa-basi, dan keheningan canggung menyelimuti kami berdua.

……Aku tidak berbohong. Hari ini manajer toko memintaku untuk datang lebih cepat.

Namun, tentu saja dia juga bilang kalau sekolah tetap prioritas. Sebenarnya tidak masalah jika aku jalan menuju tempat kerja sambil mengobrol dengan Hoshimiya. Dengan kata lain, aku memang sengaja menolaknya.

Padahal itu ajakan dari Hoshimiya yang sangat kusukai…… ada apa denganku?

Dalam kondisi di mana aku belum bisa menata perasaanku sendiri, aku merasa sedikit takut untuk berduaan saja dengan Hoshimiya.

Hoshimiya…… dan Uta, keduanya terus mengajakku berduaan dengan aktif. Setiap kali itu terjadi, aku selalu mencari alasan untuk menghindar. Itu bukan karena aku punya rencana tertentu, melainkan tindakan refleks.

——Padahal aku sangat senang karena mereka berdua punya perasaan padaku.

Senang, tapi entah mengapa menakutkan. Emosi yang saling bertentangan itu berputar di dalam dadaku.

"Hah……"

Jam istirahat. Aku duduk di tangga luar di balik gedung sekolah yang sepi, lalu menghela napas.

Tempat ini gelap, lembap, dan sunyi senyap. Tempat seperti ini terasa sangat menenangkan.

Ya, ini adalah tempat di mana diriku yang sebelumnya sering makan siang sendirian. Sejak aku mengulang waktu, aku tidak pernah ke sini, tapi entah mengapa kakiku melangkah ke sini.

Saat aku sedang mengunyah roti yang kubeli di kantin, telingaku menangkap suara langkah kaki yang mendekat, lalu aku menoleh ke arahnya.

"Eh? Natsuki. Sedang apa di tempat seperti ini?"

Sosok yang menatapku dengan wajah polos itu adalah Serika.

"Seperti yang kau lihat, aku sedang makan."

"Di tempat seperti ini?"

"Sesekali aku memang ingin menyendiri."

Sambil menjawab begitu, sejujurnya aku tidak ingin dilihat oleh kenalanku.

Serika menggumam "Hmm," dengan nada tak tertarik, lalu menatap pepohonan di dekat situ dengan lekat.

"Kalau Serika sendiri, kenapa di sini?"

"Mencari kumbang badak, mungkin?"

"Hah?"

Anak ini sebenarnya sedang bicara apa?

"Kenapa harus kumbang badak?"

"Di pepohonan belakang sekolah, ada cukup banyak."

"Bukan itu maksudku, kenapa kau mencarinya?"

"Karena kalau menemukannya, rasanya menyenangkan."

……Ti-tidak bisa! Obrolan ini rasanya nyambung tapi tidak nyambung!

Akhir-akhir ini aku memang sudah cukup akrab dengan Serika, tapi aku tetap tidak bisa memahami jalan pikirannya.

"Tapi karena sekarang bulan September, jumlahnya jadi berkurang, ya. Sekilas lihat, tidak ada."

Serika berkeliaran di sekitar pepohonan dengan wajah yang tampak kesulitan.

Entah karena sudah bosan setelah tiga menit, Serika duduk di sampingku.

"……Hei, tempat ini sempit, tahu."

Tangga luar ini hanya selebar satu orang, jadi kakiku dan pinggangku benar-benar bersentuhan dengannya. Serika melihat ekspresiku yang canggung, lalu terkikik geli.

"Boleh aku naik satu anak tangga ke atas?"

Saat aku mengangguk sambil mengunyah roti, Serika naik satu tingkat dan duduk dengan posisi seolah menjepit tubuhku di antara kakinya. Di kiri dan kanan tubuhku ada kaki Serika yang ramping dan indah.

Oh? Saat aku mengangguk tanpa berpikir, bukankah ini…… jika aku menoleh ke belakang, aku bisa melihat celana dalamnya?

Serika adalah salah satu siswi di sekolah ini dengan rok paling pendek…… Tidak, tidak, Natsuki, tenanglah. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.

Saat aku terus memakan roti dengan pikiran kosong, kepalaku diusap dengan lembut.

"Wah, tatanan rambutmu masih rapi, ya."




"Sial, ya... sedikit. Jadi, jangan terlalu sering menyentuhnya."

Setiap pagi, aku memang selalu meratap di depan cermin. Ini adalah hasil dari penyesuaian yang sangat detail.

Namun, Serika mengabaikan kata-kataku dan malah seenaknya mengacak-acak rambutku hingga berdiri. Hei, hentikan itu.

"Ada masalah apa?"

Serika bertanya dengan nada bicara yang datar.

"……Tidak ada apa-apa, kok."

"Kalau tidak ada apa-apa, kamu tidak akan datang ke tempat seperti ini, kan? Aku pun begitu."

Kata-katanya yang seolah bisa membaca pikiranku membuatku kehilangan kata-kata untuk menyanggah.

"……Apakah Serika punya kekhawatiran?"

"Mana mungkin tidak ada. Apa jangan-jangan, kamu sedang meremehkanku?"

Setelah berkata begitu, Serika menatap ke langit. Ekspresinya terlihat seolah dia akan menangis.

"Aku pikir, Serika bisa melakukan segalanya dengan baik."

"Sama sekali tidak. Banyak hal yang tidak berjalan lancar. Bahkan kemarin pun……"

Serika menggelengkan kepalanya seolah ingin memotong ucapannya sendiri. Bahkan Serika yang selalu santai pun sepertinya menyimpan beban pikiran. Mungkin dia hanya jarang memperlihatkan emosinya saja.

"Kalau kamu sendiri bagaimana, Natsuki?"

"……Kalau dipaksa menjawab, aku muak dengan diriku sendiri yang tidak tegas."

Setelah mengucapkannya, baru kali ini aku benar-benar sadar.

Mungkin bisa dikatakan bahwa aku akhirnya berhasil mendefinisikan emosi keruh yang selama ini berputar-putar di dalam dada.

"Dengan Uta dan Hikari-chan?"

"……Apa-apaan itu, kamu sudah tahu semuanya?"

"Yah, aku bisa tahu kalau melihat sikapmu saat perjalanan wisata kemarin. Aku juga sudah dengar cerita dari Miori. Jadi?"

"……Jujur saja, aku tidak tahu harus berbuat apa."

"Kamu plin-plan ya. Itu masalah cowok populer."

Aku tahu ini masalah yang tergolong mewah. Aku memang ingin disukai oleh gadis-gadis, dan aku telah berusaha untuk itu. Jadi, situasi saat ini bisa dibilang sesuai dengan apa yang aku inginkan.

Namun, aku tidak terlalu memahami arti dari seseorang yang menaruh perasaan padaku. Karena seumur hidup, aku belum pernah disukai oleh gadis sebelumnya. Aku hanya menganggap perasaan orang lain berdasarkan bayanganku dari anime atau manga. Namun, ini adalah dunia nyata. Aku tidak bisa membiarkan kondisi ini berlarut-larut.

Setelah mereka berdua menyatakan perasaan mereka dengan jelas, aku harus memberikan jawaban.

Singkatnya, aku harus memilih salah satu dan menolak yang lainnya.

Memikirkan hal itu membuat perasaanku terasa berat.

Aku menyukai mereka berdua. Jadi, aku tidak ingin melihat wajah sedih mereka.

"Yah, aku mengerti. Menghadapi perasaan yang tidak bisa kita balas itu cukup menyakitkan bagi kita juga, kan?"

Serika bergumam dengan suara yang terdengar kesepian. Mungkin dia punya pengalaman serupa. Aku tahu dia populer di kalangan cowok berkat parasnya yang cantik dan sifatnya yang luwes bergaul dengan siapa saja.

"Lagipula, belum tentu kita bisa tetap berteman setelah menolak mereka."

"……Benarkah begitu?"

"Meskipun kita bilang ingin tetap berteman, kenyataannya tidak semudah itu. Hubungan jadi canggung, lama-lama jadi jarang bertemu, berhenti berkomunikasi, dan suatu saat bahkan tidak bertegur sapa lagi……"

Serika meletakkan dagunya di atas kepalaku. Wah, jarak kita benar-benar terlalu dekat secara alami. Inikah yang namanya seorang gyaru?

"Kalau dalam kasusmu, Natsuki, karena kita satu kelas dan satu grup, mungkin saja masih bisa baik-baik saja."

"……Seandainya aku memberikan jawaban dan mulai berpacaran dengan salah satu dari mereka, apakah pihak yang tidak terpilih masih mau berada di grup yang sama? Atau jangan-jangan, aku terlalu percaya diri?"

"Yah, kalau mereka bermesraan secara terang-terangan di depanmu, pasti menyakitkan, kan? Tapi kalau aku, aku akan mencoba menerima kenyataannya. Bagiku, grup pertemanan kita juga penting."

Tapi, entahlah…… lanjut Serika.

"Perasaan mereka berdua sepertinya cukup berat…… jadi aku tidak tahu."

Aku membayangkan hal itu terjadi. Aku tidak ingin grup kami saat ini berantakan.

"Begitu ya. Jadi Natsuki tidak ingin merusak hubungan yang sekarang?"

"……Yah, tentu saja, karena rasanya nyaman. Aku ingin selamanya berteman dengan kalian semua."

"Kamu ini, terlalu serius kalau soal teman, Natsuki."

"Bawel. Temanku kan tidak banyak."

"Lagipula, semuanya akan berjalan dengan sendirinya, kan? Ada pepatah yang bilang begitu."

"Eh…… apa tidak apa-apa kalau begitu?"

"Tidak apa-apa. Karena itu—Natsuki, sebaiknya jujurlah pada perasaanmu sendiri. Daripada memikirkan hal-hal yang tidak perlu, itu mungkin akan lebih baik bagi semua orang. Lagipula, pada akhirnya, hanya itu yang bisa kamu lakukan."

……Jujur pada perasaan sendiri, ya. Itu bagian yang paling sulit.

Saat ini berbagai emosi bercampur baur dengan rumit, bahkan aku pun tidak memahami perasaanku sendiri.

Apa yang sebenarnya ingin kulakukan? Apa yang ingin kupilih?

"Wajah suram seperti itu akan membuat semangatmu hilang, tahu. Ayo ceriakan dirimu."

Serika mengikuti irama lagu di pundakku dan mulai bernyanyi secara acak sebuah lagu yang tidak kukenal.

Melihat Serika yang santai, aku tersenyum getir namun merasa sedikit terhibur. Sejujurnya, saat ini hatiku justru merasa lebih tenang saat menghabiskan waktu bersama Serika atau Nanase daripada bersama Hikari atau Uta yang sangat kusukai.

"Pastikan tidak ada penyesalan, ya."

Saat bel akhir jam istirahat berbunyi, Serika mengatakan hal itu lalu pergi meninggalkanku.

Sepulang sekolah. Karena sudah terlanjur bicara begitu pada Hikari, aku segera meninggalkan sekolah dan berjalan menyusuri jalan pulang.

Dari earphone yang kukenakan, mengalun musik band. Lagu rock yang intens dengan lirik yang mendorong untuk terus maju. Itu adalah lagu MEMENTO milik BLUE ENCOUNT.

Saat suasana hatiku berat, mendengarkan musik sedikit membantu.

Ini adalah salah satu lagu dari playlist "Pembangkit Semangat" yang dikirim Serika lewat RINE. Karena kami menggunakan aplikasi musik yang sama, aku bisa langsung mendengarkannya hanya dengan sekali ketuk.

Selera musikku mirip dengan Serika. Aku menyukai semua lagu yang ia rekomendasikan.

Aku tiba di tempat kerja paruh waktuku di depan stasiun, kafe Mares, lalu membuka pintu masuknya.

Suara denting lonceng menandakan kehadiran pelanggan.

"Oh, sudah datang ya, Natsuki-chan."

Orang yang menoleh ke arahku adalah Kirishima-san, seniorku di tempat kerja.

Akhir-akhir ini dia memanggilku dengan embel-embel "-chan", tapi karena kedengarannya seperti untuk perempuan, aku ingin dia berhenti melakukannya.

Di samping Kirishima-san, berdiri seorang remaja laki-laki asing yang mengenakan seragam kerja.

Tubuhnya lebih pendek dan lebih kurus daripada Kirishima-san yang memang tinggi untuk ukuran perempuan. Dia mengenakan kacamata bulat dengan lensa tebal, memberikan kesan yang agak culun. Suasananya tampak gugup.

"Aku perkenalkan ya. Ini anak baru yang mulai masuk dari kemarin, Shinohara-kun."

Ah, benar juga, aku sempat mendengar cerita bahwa akan ada anak baru.

"Sa-salam kenal, saya Shinohara."

Shinohara-kun menundukkan kepala. Aku pun buru-buru ikut menunduk dan memperkenalkan diri.

"Halo, saya Harahara Natsuki."

"Shinohara-kun juga akan di bagian dapur, jadi tolong ajari dia banyak hal ya, Natsuki-chan."

Aku sendiri merasa masih anak baru…… tapi tunggu, apakah sudah empat bulan berlalu?

Waktu berlalu begitu cepat. Hari-hari yang menyenangkan berlalu dalam sekejap.

"Kalian berdua, kenapa pakai bahasa formal? Kan satu sekolah dan satu angkatan?"

Aku terkejut mendengar ucapan Kirishima-san yang tertawa cekikikan.

"Eh, benarkah?"

"Ah, iya…… kebetulan saya kelas 1-4 di Ryomei."

"Serius? Aku kelas 1-2. Salam kenal ya."

Setelah diingat-ingat, sepertinya aku memang pernah melihatnya.

"Tentu saja saya tahu."

Aku memiringkan kepala, tidak mengerti maksud perkataan Shinohara-kun.

"Tentu saja?"

"Karena Harahara-san itu terkenal."

Shinohara-kun mengatakannya seolah itu adalah hal yang sangat wajar.

Begitu ya. Ternyata aku terkenal…… tapi ini bukan dalam artian buruk, kan?

Yah, berada di grup itu membuatku menarik perhatian, jadi mungkin tidak bisa dihindari.

"Heh, ternyata Natsuki-chan adalah selebriti sekolah?"

"……I-iya. Dia ganteng, pintar belajar dan olahraga, dan sangat populer di kalangan cewek, lho."

"Ah, ternyata Natsuki-chan memang populer ya, heh~."

Mendengar cerita Shinohara-kun, Kirishima-san tertawa geli seolah merasa sangat terhibur.

Aku tidak merasa keberatan kalau dipuji, tapi Kirishima-san ini sepertinya sangat berniat menggodaku…….

"Shinohara-kun, boleh kupanggil begitu? Kita satu angkatan, jadi pakai bahasa santai saja, ya?"

Aku bertanya sambil berusaha mempertahankan nada bicara dan ekspresi yang ramah.

"Ah, iya…… kalau begitu, apakah boleh saya memanggil Harahara-kun juga?"

"Oke. Eh, pakai bahasa santai saja tidak apa-apa, lho."

"Ma-maaf, saya merasa lebih tenang kalau pakai bahasa formal."

Begitu ya. Tipe orang seperti itu rupanya.

Entah mengapa, aku merasa akrab dengan suasananya. Ini aura penyendiri yang sama seperti diriku yang dulu……!

"Hari ini, Yui-no-chan masuk?"

"Nanase seharusnya tidak ada jadwal hari ini."

"Kalau begitu, hanya aku, Natsuki-chan, dan Shinohara-kun ya. Semangat!"

Kepada Kirishima-san yang mengangkat tangannya dengan penuh semangat, Shinohara-kun merespons dengan mengepalkan tangan dengan malu-malu.

"Baik, kalau begitu aku ganti baju dulu."

Selama kuliah dulu, aku punya cukup pengalaman mengajari orang baru.

Lagipula, karena dia sudah mulai sejak kemarin, hal-hal dasar pasti sudah diajarkan oleh yang lain.

Baiklah, mari kita bekerja perlahan hari ini.

Aku menghabiskan cukup banyak uang saat perjalanan wisata kemarin, jadi aku harus bekerja keras.

Hari ini adalah hari yang langka di mana pelanggan datang dan pergi dengan cepat.

Shinohara-kun tidak bisa dibilang cepat menangkap pelajaran, tapi aku menyukai sifatnya yang serius dan bekerja dengan sepenuh hati. Meskipun aku sempat tertawa kecil melihatnya berusaha mencatat semuanya.

"Akhirnya selesai juga hari ini."

"Sa-saya lelah sekali……"

"Haha, karena belum terbiasa, wajar saja kalau lelah."

Aku menyapa Shinohara-kun yang terkulai lemas di ruang istirahat sambil mengganti seragam sekolah.

Tiba-tiba pintu terbuka. Tanpa mempedulikan kami yang sedang berganti baju, Kirishima-san berseru dengan ceria.

"Kalau begitu, aku pulang dulu ya!"

"Semangat sekali ya. Padahal ini sudah selesai kerja."

"Hehehe, tahu ya? Pacarku datang menjemput."

"Iya, iya. Aku sudah bosan mendengar cerita bucinmu."

Setelah mengantar kepergian Kirishima-san yang memancarkan aura kebahagiaan, aku dan Shinohara-kun menutup toko.

"Malam hari sudah terasa cukup sejuk ya."

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Langit sudah benar-benar gelap. Aku berjalan berdampingan dengan Shinohara-kun di jalan menuju stasiun. Angin sepoi-sepoi terasa nyaman. Cuaca mulai terasa lebih bersahabat. Aku merasakan datangnya musim gugur.

"I-iya, ya."

Setelah jeda yang cukup lama, jawaban itu muncul.

Pasti dia bingung apakah perkataanku adalah gumaman sendiri atau ditujukan padanya, jadi setelah berpikir keras, dia memutuskan untuk memberikan jawaban yang aman. Perasaan itu, aku sangat paham……

Aku cukup menyukai Shinohara-kun. Karena aku merasa ada kedekatan.

Tidak ada ruginya memiliki hubungan baik dengan rekan kerja, dan aku akan senang jika kami bisa berteman.

"……Ano. Terima kasih banyak untuk hari ini."

Shinohara-kun berkata dengan suara kecil, lalu menundukkan kepalanya.

"Tidak, tidak, tidak perlu seserius itu."

"Tapi, saya sudah banyak menyusahkan Harahara-kun……"

"Di awal memang wajar saja. Dulu waktu baru masuk, aku juga sering menyusahkan Nanase dan Kirishima-san."

Setelah mengucapkannya, aku baru sadar bahwa sejujurnya tidak ada ingatan seperti itu. Yah, ini karena aku memiliki "trik terlarang" yaitu ingatan dari kehidupan keduaku yang penuh dengan pengalaman kerja, jadi seharusnya dulu aku memang sering merepotkan.

"Benarkah begitu? Kirishima-san bilang, Harahara-kun memang tidak banyak merepotkan, tapi karena kamu tidak biasa, jangan membandingkan diri denganku……"

Jangan bicara sembarangan, Kirishima-san…… Sifatnya memang masih saja cerewet.

Karena Shinohara-kun tampak semakin sedih jika aku terus membahasnya, sebaiknya aku mengganti topik saja.

"Shinohara-kun kenapa bekerja paruh waktu?"

"Karena butuh uang…… lagipula alat musik dan peralatan itu mahal……"

"Alat musik?"

"Ah, saya…… sebenarnya anggota klub musik ringan. Meskipun, tidak cocok sekali buat saya……"

Memang cukup tak terduga, tapi aku bingung harus bereaksi bagaimana jika dia terus merendahkan diri sendiri.

Aku mengerti psikologi orang yang sengaja menghina diri sendiri agar tidak diremehkan orang lain, sih.

"Bagus dong, musik ringan. Kamu main instrumen apa?"

"Bass. Tapi saya tidak terlalu ahli…… ah, kamu tahu bass?"

"Tentu. Aku suka band rock. Itu kan yang bunyinya rendah, kan?"

Bass adalah jantung dari sebuah band. Mungkin pemeran utamanya vokalis atau gitaris, tapi suara rendah dari bass itulah yang memberikan kekuatan pada musik band, serta menstabilkan ritme dan suasana lagu. Aku hanya bisa bermain gitar, tapi aku selalu mengagumi pemain bass yang hebat. Mereka seperti pekerja profesional, ya.

"Be-begitu ya. Kamu suka rock?"

"Yah, lumayan. Akhir-akhir ini aku mengikuti band-band yang sedang populer."

Padahal bagiku itu adalah band tujuh tahun yang lalu, jadi aku tahu semuanya bahkan tanpa mengikutinya.

"……Saya juga suka. Karena itu saya ingin membuat band."

Shinohara-kun mengatakannya dengan suara yang tegas. Aku bisa merasakan bahwa itu adalah perasaan jujurnya.

"Selama ini saya selalu bermain bass sendirian, tapi di SMA ini saya memberanikan diri masuk klub musik ringan. Sejujurnya, saya belum terlalu berbaur. Hahaha……"

"Yah, yah…… eh, jumlah anggota klub musik ringannya ada berapa?"

"Eh, ehmm, sepertinya dua belas orang. Karena siswa kelas tiga sudah pensiun."

"Cukup banyak ya. Sepertinya bisa buat dua atau tiga band."

"Saat ini ada dua band, satu band berisi empat siswa kelas dua, dan satu lagi berisi tiga siswa kelas satu dan dua siswa kelas dua. Yah, karena saya tidak punya teman…… saya tidak bisa membentuk band dan jadi sisanya…… hahaha……"

Shinohara-kun terlihat benar-benar sedih. Suasananya jadi sulit sekali untuk dicairkan!

"Tapi, bukankah tadi katanya dua belas? Berarti masih ada tiga orang sisa dong? Kalau three-piece band……"

"Semua orang melupakan keberadaan saya…… saya tidak tahu apakah dua orang sisanya itu mau bergabung dengan saya atau tidak."

Sial! Semua percakapannya mengarah ke hal yang negatif!

Apakah tidak ada topik yang positif? Oh iya, Serika juga anggota klub yang sama.

"Kamu kenal Hondo Serika?"

"Ah, iya…… dia adalah salah satu dari dua orang sisa yang saya maksud tadi."

"Eh, begitu ya. Bukannya Serika itu temanmu?"

"Kalau Hondo-san, dia terlalu hebat sampai-sampai orang lain merasa minder. Kemampuan dan motivasinya terlalu jauh berbeda dengan yang lain, jadi banyak orang yang tidak mau bergabung dengannya. Meskipun awalnya dia populer."

Mendengar kata-kata Shinohara-kun, aku teringat ekspresi Serika saat jam istirahat.

Mungkinkah alasan dia hampir menangis itu berhubungan dengan klubnya?

"Apakah Serika sehebat itu?"

"Penampilannya, aransemen suaranya, semuanya berada di level yang berbeda. Meskipun kami sama-sama 'sisa', saya merasa sangat tidak pantas bisa satu band dengan Hondo-san…… itu tidak mungkin……"

Shinohara-kun berkata sambil menunduk dengan nada mencela diri sendiri.

"Tapi, kamu tetap ingin membentuk band, kan?"

"Tentu saja ingin…… tapi bagi orang seperti saya, itu sulit sekali."

"Tapi karena kamu mulai bekerja demi alat musik dan peralatan, itu artinya kamu belum menyerah, kan?"

Karena tebakanku tepat sasaran, Shinohara-kun terdiam dengan ekspresi masam.

……Waktu kuliah dulu, saat aku membeli gitar, perasaanku pasti sama seperti Shinohara-kun sekarang.

Aku tidak punya keberanian untuk mengajak orang lain bicara. Jadi, aku ingin diajak masuk band. Tapi, mustahil masa depan yang diinginkan bisa datang jika hanya menunggu tanpa punya teman.

Aku tidak ingin dia menyesal seperti diriku. Tapi, aku sendiri tidak punya hak untuk mengatakan "jangan sampai menyesal" kepada orang lain, padahal baru saja Serika mengatakan hal yang sama padaku. Jadi, aku kehilangan kata-kata untuk Shinohara-kun.

"……Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

"……I-iya. Permisi."

Shinohara-kun menundukkan kepala, lalu berlari melewati pintu tiket.

Penampilan culunnya, sikapnya yang canggung, dan tutur katanya yang negatif, semuanya terasa akrab.

Seolah-olah aku sedang melihat diriku sendiri setelah gagal debut di SMA.

Saat menunggu kereta di peron, hujan mulai turun.

Cuaca musim gugur memang mudah berubah. Padahal prakiraan cuaca hari ini seharusnya cerah sepanjang hari.

Itu adalah hujan yang rintik-rintik, seolah menetes ke tanah.

Tiga hari kemudian. Hari Sabtu siang.

Karena Namika sedang menonton DVD konser BUMP OF CHICKEN di ruang keluarga, aku pun ikut menonton sambil berbaring di sofa, sampai tiba-tiba ponsel di saku celanaku mengeluarkan suara notifikasi.

Ada notifikasi yang muncul di layar kunci. Ternyata dari Uta di RINE.

‘Ne, sekarang luang gak?’

Maaf, aku tidak luang.

Aku sedang menonton DVD konser BUMP, ada manga yang ingin kubaca, dan belakangan ini aku sedang mulai mengeksplorasi film aksi luar negeri. Lagipula…… ada jalan-jalan, kan. Aku sangat sibuk!

Saat aku mengirim balasan ‘Sangat sibuk’, dia membalas ‘Berarti luang, dong!’. Tidak masuk akal.

‘Latihan klub sudah selesai, rencananya mau karaoke sama Miorin dan Seri, mau ikut?’

……Karaoke, ya?

Bukannya aku tidak suka, tapi kenapa mereka mengajakku?

‘Seri bilang dia mau dengar suara Natsu nyanyi!’

Begitu ya. Sejujurnya, aku tidak merasa suara nyanyiku sebagus itu sampai harus diharapkan.

‘Jangan pasang ekspektasi tinggi-tinggi dong~’

‘Tenang aja! Soalnya suaramu beneran bagus banget!’

Yah…… lagipula tidak ada alasan untuk menolak, jadi ya sudahlah.

Selera musikku cocok dengan Serika, dan aku juga penasaran ingin mendengar dia bernyanyi. Aku tidak tahu selera musik Miori. Aku mengirim stiker yang berarti ‘Oke!’, lalu mengganti pakaian.

"Kakak mau pergi ke mana?"

Namika bertanya sambil mengunyah kerupuk.

"Oh, diajak teman. Nanti aku hubungi lagi kalau mau pulang."

Namika kembali menatap TV sambil menjawab dengan acuh tak acuh, "Iya~".

Aku keluar rumah dan menuju stasiun.

Cuacanya sungguh tidak bisa ditebak. Aku hanya bisa berdoa agar tidak turun hujan.

Aku harus makan siang di suatu tempat. Sudah lama tidak makan di luar. Kalau begitu, ramen adalah pilihannya!

Begitulah, setelah mampir ke kedai ramen dan naik kereta sekitar satu jam.

Begitu melewati pintu tiket stasiun, gadis yang berada tepat di depanku menyadariku.

"Ah, Natsu! Di sini, di sini!"

Uta melompat-lompat kegirangan sambil melambaikan tangan. Apakah dia anak kecil? Aku harap dia berhenti melakukan itu karena roknya hampir tersingkap. Jangan sampai pandanganku tertuju ke bawah!

Kalau rok Uta sependek rok Serika, sudah pasti kain berbentuk segitiga itu terlihat dengan jelas.

Di samping kanan dan kirinya, ada Serika dan Miori yang mengenakan seragam Ryomei yang sama seperti Uta.

"Maaf, apa aku membuat kalian menunggu?"

"Hmm, lumayan. Tadi sempat luang."

"Tunggu-tunggu, Seri. Natsu datang karena kita panggil, lho!?"

Uta buru-buru memprotes Serika yang terlalu jujur.

"Aku tahu. Ayo pergi, karaoke. Aku tidak sabar."

Serika mulai berjalan sambil bersenandung. Dia terlalu santai.

Bahwa Miori sudah berjalan di samping Serika, pasti karena dia sudah terbiasa dengan sifatnya.

Mata kami bertemu, dan kami saling tertawa. Kami pun berjalan beriringan.

Toko karaoke itu terletak sekitar tiga menit berjalan kaki dari stasiun.

Serika menyelesaikan pembayaran dengan sangat terampil, lalu kami diarahkan ke ruangan besar yang sebenarnya terlalu luas untuk kami berempat.

"Apa hari ini tidak ada pelanggan lain?"

"Itu juga salah satunya. Tapi aku bilang ingin ruangan yang luas. Rasanya lebih nyaman."

Serika menjawab pertanyaan Uta yang memiringkan kepalanya, sambil mengoperasikan mesin karaoke.

"Yah, lebih baik luas daripada sempit, kan."

Miori bergumam, tapi aku lebih suka yang sempit jadi aku tidak merasakannya.

Bahkan kalau semakin sempit, aku justru merasa tenang. Karena aku merasa di situlah tempatku berada…….

Posisi duduknya adalah Serika dan Miori berhadapan di seberang meja, sementara Uta duduk di sampingku.

……Kalau dipikirkan dengan tenang, situasi ini sangat menegangkan. Karena hanya aku laki-lakinya. Karaoke bersama perempuan adalah pemandangan yang dulu pernah kuimpikan, tapi kenyataannya terasa agak canggung.

Sejujurnya, aku berharap Tatsuya atau Reita ada di sini…….

Aku hanya bisa memperhatikan Miori dan yang lainnya yang sedang sibuk memilih lagu.

"Baiklah, aku yang pertama ya."

Miori mengoperasikan mesin, lalu judul lagu muncul di layar besar.

Itu adalah lagu dari grup idola yang sedang populer saat ini. Melodi dengan tempo cepat yang mudah dinikmati. Itu pasti lagu yang paling tepat untuk memeriahkan suasana karaoke. Kemudian Miori mengeluarkan dua mikrofon.

"Aku ingin menyanyikan lagu ini. Uta, mau ikut nyanyi?"

Uta yang sedang bersemangat menjawab "Oke!", dan mereka berdua mulai bernyanyi bersama.

Huu…… karena aku diperbolehkan diam saja saat orang lain sedang menyanyi, aku merasa tenang…… lagipula Miori ternyata cukup hebat. Sejak dulu apa pun yang dia lakukan pasti hebat, orang ini.

Serika mengerang dengan wajah serius sambil menatap mesin karaoke. Ya, biarkan saja dia.

Saat lagu berakhir, Miori menyalakan fungsi penilaian seolah baru teringat.

"Oh iya, ayo kita adu skor. Yang kalah traktir es krim ya."

Mendengar Miori yang tertawa menantang, Uta menyilangkan tangan membentuk tanda silang besar.

"Aku pasti kalah, tidak mau! Aku lewat!"

"Eh? Tidak masalah, kan. Uta kan juga pintar menyanyi."

"Levelku beda sama Natsu dan Seri! Lagipula, Miorin juga pasti tidak akan menang, kan?"

"Ih, kesal. Kalau dibilang begitu, aku malah jadi makin semangat."

Menanggapi Miori yang menunjukkan sifat kompetitifnya, Serika berkata.

"Aku tidak masalah. Bukannya kita bisa makan es krim gratis?"

"Ih, ih, kesal! Jangan remehkan aku, sialan!"

Miori yang tampak marah menerjang Serika dan mencoba mencolek pinggangnya.

"Eh, jangan, hentikan. Geli…… hmm……!"

Serika yang menggeliatkan tubuh dengan ekspresi yang jarang terlihat panik itu terlihat lucu.

Saat aku memperhatikan mereka berdua, aku merasakan tatapan Uta dari samping, jadi aku berpura-pura mengambil ponsel dan berpura-pura melihat aplikasi musik. Aku tidak melihat apa-apa, tahu?

"Kamu bagaimana? Ikut tidak?"

"……Yah, tidak masalah."

Karena jika aku menolak ajakan Miori di saat seperti ini, dia akan ngambek.

Sejujurnya, aku tidak merasa akan kalah. Berdasarkan suara nyanyian Miori tadi, kurasa rata-rata skornya sekitar 80-an akhir.

Dia bukan lawan yang sepadan bagi diriku yang sudah sering berlatih di karaoke sendirian. Fufufu.

Aku yakin punya lagu andalan yang bisa menembus skor 95. Tapi yah, lebih dari setengah lagunya belum ada di zaman ini jadi aku tidak bisa menggunakannya. Itu adalah salah satu kerugian dari time leap.

"Kalau begitu, boleh aku duluan?"

Serika bertanya, tapi sebelum aku sempat menjawab, lagunya sudah terdaftar.

Yang muncul di layar adalah lagu Missing You milik MY FIRST STORY. Musik band yang bertenaga bergema di seluruh ruangan. Apa dia serius ingin menyanyikan lagu rock yang keras dalam adu skor?

Secara umum, dikatakan bahwa lagu rock sulit untuk mendapatkan skor tinggi karena banyak lagu yang sulit dinyanyikan.

Apa dia hanya memprioritaskan lagu yang dia suka tanpa mempedulikan menang atau kalah…… atau mungkin, dia merasa percaya diri?

Jawabannya segera terjawab. Suara Serika yang sedikit rendah untuk ukuran perempuan, sangat cocok dengan lagu vokalis pria yang memiliki suara high-tone yang luar biasa.

Bar nada yang muncul di bagian atas layar terus berpindah tanpa meleset sedikit pun. Tidak, tunggu…… eh? Bukankah dia terlalu hebat?

"Seri memang sering menjadi vokalis."

Uta berbisik ke telingaku saat melihatku ternganga karena terkejut.

Hebat, gitar vokalis, ya. Dia benar-benar bintang dari band rock.

Saat mencapai klimaks lagu, volume suaranya naik satu tingkat, dan aku pun merinding.

Miori bertepuk tangan dengan antusias. Uta juga menggoyangkan tubuhnya mengikuti tempo lagu.

Aku masih terpaku karena terlalu terpesona.

Dan saat lagu berakhir, skor pun ditampilkan di layar.

——Skornya 94. Sangat tinggi, tapi sejujurnya aku pikir skornya akan lebih dari itu.

Tapi, skor karaoke tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menyanyi, kan.

"……Yah, segini saja ya."

Serika berkata seolah itu adalah hal yang wajar dengan wajah datarnya yang biasa.

Aku spontan bertepuk tangan, tapi Serika menggelengkan kepala, "Tidak hebat-hebat amat."

"Selanjutnya, giliran Natsu."

Mendengar ucapan Uta, aku baru teringat bahwa aku belum memilih lagu.

Karena terlalu terhanyut oleh suara nyanyian Serika, aku sampai lupa kalau selanjutnya adalah giliranku.

"Sial, aku belum terpikir. Lagu apa ya yang bagus?"

"Kalau kamu ragu, aku ingin kamu menyanyikan lagu kesukaanku~"

"Boleh saja," jawabku.

Uta tertawa senang sambil berkata, "Asik!"

Uta mengoperasikan Denmoku (tablet karaoke), dan tak lama kemudian terdengar bunyi bip.

Di layar besar, muncul judul lagu city milik [Alexandros]. Itu adalah lagu yang juga sangat kusukai sejak lama.

Lagu itu dimulai dengan intro riff yang terasa lembut, lalu saat drum masuk, suasana lagu berubah tajam seketika.

Tepat saat alunan musik terasa stabil, gitar melodi mulai meraung.

Suara yang beragam dan mendalam, seolah mewujudkan judul lagunya, adalah alasan mengapa aku sangat menyukai lagu ini.

"Enak, ya. Lagipula, itu MV-nya, lho, mantap banget."

Serika bersiul kecil, dan Uta menimpali dengan, "Itu dia!"

"Ah, ah—" aku mengeluarkan suara untuk pemanasan, lalu menyesuaikan jarak dengan mikrofon dan mengatur volumenya.

――Sejak dulu aku suka musik. Karena itu, aku pun jadi suka bernyanyi.

Meski aku tidak punya satu pun teman untuk diajak mendengar nyanyianku, aku terus-menerus pergi ke tempat karaoke sendirian.

Berkat itu, aku jadi mahir mendapatkan skor tinggi di fitur penilaian. Ada beberapa trik untuk mendapatkan skor tinggi secara stabil.

Misalnya, jangan menambahkan aransemen apa pun, cukup sesuaikan nada, berikan intonasi yang sedikit berlebihan di bagian tertentu, lalu tambahkan getaran suara (Vibrato) berkali-kali untuk menambah poin.

Namun, semakin sering aku berlatih, semakin terasa hampa. Aku sebenarnya tidak ingin mengejar skor yang tinggi.

Aku hanya ingin menyanyikan lagu kesukaanku dengan cara yang aku inginkan.

Sejak aku mengingat fakta itu, rata-rata skorku memang turun, tapi aku tidak menyesalinya.

Malahan, aku merasa nyanyianku justru jadi lebih baik.

Aku mendapatkan kepercayaan diri itu saat pergi karaoke bersama semua orang tempo hari.

Kurasa, jika aku bernyanyi hanya demi mengejar skor, aku tidak akan pernah dipuji seperti itu.

Meski aku tidak berlatih untuk dipuji, karena aku selalu sendirian, menyanyi di depan orang lain terasa sangat menyenangkan. ――Karena itulah, aku memutuskan untuk bernyanyi seperti biasa.

Saat aku mulai bernyanyi, Miori membelalakkan matanya, "Eh...? Kamu sehebat itu?"

Uta di sebelahku menggoyangkan bahunya dengan sangat gembira.

Dan Serika――dia menatapku lekat-lekat dengan wajah yang anehnya serius.

Jujur saja, menatapku sampai segitunya membuatku sulit untuk bernyanyi, lho?

Meski berpikir demikian, entah bagaimana aku berhasil menyelesaikan lagunya.

Ada keheningan sesaat setelah lagu berakhir, menunggu skor ditampilkan.

Akhirnya, skor yang muncul di layar adalah――93 poin.

"Waduh, aku kalah dari Serika, ya."

"……Padahal, aku tidak merasa menang sama sekali."

Serika menggumamkan hal itu sambil memainkan ujung rambutnya.

Serika yang tampak sedikit gelisah tidak seperti biasanya, melirikku sejenak, lalu menunduk lagi, kemudian menatapku lagi dari bawah seolah sedang mengintip. Lalu, dia menyatakan.

"Aku rasa, aku menyukai Natsuki."

Itu adalah pernyataan bom yang luar biasa. Uta sampai berteriak histeris.

"E, eeeeeeeeeeeeeeee!?"

"Salah. Aku rasa, aku menyukai suara nyanyian Natsuki."

Berhenti bicara yang salah seperti itu, parah banget!

Tidak, aku senang sih, tapi!

Uta sampai jatuh terjungkal dari sofa karena terlalu terkejut!

Miori sendiri secara samar malah menjatuhkan gelas kosongnya. Kalau ada isinya, pasti sudah jadi bencana besar.

Lalu, seolah tidak terjadi apa-apa, Miori mengembalikan gelas itu ke tempatnya dan berdeham pelan.

"A, apa…… untunglah……"

Uta menghela napas lega, tapi diperlakukan dengan reaksi yang begitu jujur membuatku malu.

Sepertinya dia baru menyadarinya sendiri, dia menatapku dengan tersentak, mata kami bertemu, dan wajahnya memerah padam.

"Aku ingin dengar lagi, nyanyian Natsuki."

"Kalau itu sih boleh saja. Lagipula, sudah kepalang karaokean."

"Sudah dengar 'Playlist Pembangkit Semangat' yang kukirim? Coba nyanyikan lagu yang itu."

"Itu isinya ada sekitar tiga puluh lagu, lho?"

Aku sedang mengobrol seperti itu dengan Serika, ketika aku teringat bahwa sebenarnya kami sedang di tengah kompetisi adu skor.

"Sial, ngomong-ngomong sekarang giliran Miori."

"Hmm, iya juga ya. Ini Miori, mikrofonnya. Silakan nyanyi."

Miori yang menerima mikrofon menatap kami dengan ekspresi penuh dendam.

"K-kalian ini…… sudah tahu kalau aku tidak akan menang……"

"Ahaha, makanya kan sudah kubilang jangan. Lagipula yang mengajak adu skor kan Miorin sendiri?"

"Aku tahu! Lagipula! Dilarang bicara logis! Kamu tinggal traktir saja, kan!?"

Miori mulai menyanyikan lagu balada dengan setengah putus asa. Kenapa malah lagu putus cinta?

Lalu, Miori kalah dengan skor 87, dan setelah itu suasana berubah menjadi karaoke biasa.

Menyanyikan lagu rock bersama Serika dan Uta, bernyanyi bersama lagu-lagu lama, Serika yang bermain air guitar saat melodi tengah lagu, dan Uta yang menari dengan penuh semangat, itu adalah waktu yang sangat menyenangkan.

Karena kami bernyanyi sampai semua orang puas di paket free time, langit sudah gelap saat kami keluar dari tempat karaoke.

Di samping Miori yang sedang cemberut, Serika menikmati es krimnya dengan puas.

"Suaraku jadi serak, nih~"

Uta, yang bernyanyi paling bersemangat, meratap dengan suara yang parau.

Ya, wajar saja kalau bernyanyi sekuat tenaga seperti itu. Yah, mungkin akan sembuh setelah satu hari.

"……Menyenangkan, ya, Natsu."

"Ah, iya, menyenangkan."

Saat aku menjawabnya dengan jujur, Uta melanjutkan dengan suara seraknya.

"……Entah kenapa, sudah lama ya kita tidak jalan bareng seperti ini."

Ada sensasi seperti punggungku yang membeku. Memang benar, sudah lama sejak terakhir kali aku jalan bersama Uta.

Terakhir kali adalah saat merayakan ulang tahunku di liburan musim panas, dan alasannya sudah jelas, karena aku menghindari berduaan dengannya.

Tidak mungkin Uta tidak menyadari gerak-gerikku yang sengaja seperti itu.

Angin malam yang membuatku merasakan awal musim gugur terasa dingin di kulit. Hanya mengenakan kemeja rasanya kurang cukup.

Hari semakin pendek, dan di dalam pandangan yang mulai gelap, daun-daun yang gugur dari pepohonan tertiup melewati kami.

"……Kalau perasaanku ini menjadi beban buat Natsu, bilang ya?"

Suara yang seolah akan menghilang itu tidak terdengar seperti suara Uta yang biasanya ceria.

Aku tidak pernah terpikir sekalipun untuk menganggapnya beban.

"Aku memang pernah bilang akan membuatmu berbalik arah, tapi aku tidak berniat menghalangi kebahagiaan Natsu."

"……Aku selalu mendapatkan semangat dari Uta, lho. Sungguh."

Saat aku mengatakannya sambil menggelengkan kepala, Uta menunjukkan senyuman tipis.

Aku tidak bisa membaca emosi yang tersimpan di balik ekspresi itu.

"……Maaf. Mungkin aku sedang sedikit sedih saja. Ahaha, tidak seperti aku banget, ya."

Sebelum aku sempat melontarkan kata-kata, Uta sudah memeluk punggung Miori yang berjalan di depanku.

"Miorin! Sampai kapan kamu mau cemberut terus!"

"Aduh! Eh, Uta!? Dilarang tiba-tiba memeluk!"

"Ahahaha! Tubuhmu sampai tersentak!"

Saat Miori mengeluh dengan terkejut, Uta sudah kembali menjadi sosok yang selalu tertawa seperti biasanya.

……Sepertinya ada sesuatu yang harus kukatakan. Tapi, aku tidak bisa berkata apa-apa.

Gerak-gerikku yang seolah menunda keputusan justru melukai Uta. Itu karena kesadaranku sendiri yang dangkal.

Senyuman tipis yang tampak sedih itu, jauh dari senyuman seperti matahari yang kucintai.

Namun, ada satu hal yang pasti.

――Orang yang membuat Sakura Uta menunjukkan ekspresi seperti itu, tak lain dan tak bukan adalah aku.

Saat aku berdiri mematung sambil melihat Uta dan Miori yang saling bercanda, Serika mendorong punggungku.

"Ayo, jalan."

"Ah, iya…… maaf."

"……Uta, pasti merasa cemas. Karena sepanjang liburan musim panas, dia melihat sendiri Natsuki semakin dekat dengan Hikari-chan. Dia pasti takut kalau dirinya sudah tidak punya kesempatan lagi."

Serika pasti mendengarkan pembicaraan kami. Padahal seharusnya kami mengobrol dengan suara yang cukup kecil.

"……Disukai orang itu, sulit ya."

Saat ini, aku tidak punya niat untuk membalas perkataan Serika.

Aku naik kereta bersama Miori.

Karena kami berasal dari daerah yang sama, akhirnya kami selalu berdua setelah berpisah dengan yang lain.

Kereta tua berguncang gata-goto, membawa kami lebih jauh ke pedalaman Gunma.

Di gerbong yang sama, hanya ada orang mabuk yang tertidur lelap dan sepasang suami istri tua dengan suasana yang tenang.

Di luar jendela adalah kegelapan pekat, dan jika aku memicingkan mata, pemandangan sawah dan hutan berlalu lalang.

Hanya lampu-lampu rumah yang tersebar di sana-sini yang membuatku merasakan peradaban.

Saat aku melamun menatap jendela, kepalaku ditepuk pelan.

"Napa? Kok sedih?"

Tadi saat berpisah dengan Uta dan Serika, aku berusaha sebisa mungkin bersikap biasa saja, tapi aku tidak punya niat untuk melakukan itu di depan Miori.

Aku bersyukur orang yang ada di sini sekarang adalah Miori. Jika orang lain, aku pasti akan merasa tersiksa.

Meskipun aku merasa sudah membuang topengku, hanya Miori orang yang bisa membuatku dengan tenang menunjukkan kelemahanku.

"……Apa yang harus kulakukan?"

Aku selalu kurang berpikir. Karena itu, aku selalu salah.

"Aku tidak tahu kamu bicara soal apa, tapi yang bisa kulakukan hanyalah memberi saran. Yang menentukan tetap kamu."

Itu adalah kata-kata yang seolah mendorong menjauh saat aku mencoba bersandar pada Miori.

"……Maaf, iya juga ya."

Aku tidak menganggapnya dingin. Justru aku menyukai sisi Miori yang seperti itu.

Pada diriku yang terdiam, Miori melontarkan obrolan santai seperti biasanya.

"Tapi ya, aku tidak menyangka nyanyianmu sehebat itu. Memang aku sudah dengar dari Uta, tapi aku tetap terkejut. Padahal dulu, kamu sama sekali tidak punya bakat seperti itu."

"……Karena aku tidak punya teman, hobi saya adalah karaoke sendirian."

Aku tidak berbohong. Perbedaannya hanya apakah itu cerita zaman SMP atau cerita masa depan.

"Benar-benar, banyak sekali hal yang tidak kuketahui. Padahal aku merasa sudah mengenalmu dengan baik."

Miori bergumam seperti itu, seolah melontarkannya.

Ekspresinya terlihat sedikit kesepian, atau mungkin sedih.

……Miori adalah satu-satunya orang yang mengetahui diriku di masa lalu. Wajar saja jika dia memiliki kesan seperti itu terhadap diriku saat ini.

"Yah, waktu zaman SMP, kita hampir tidak ada interaksi, sih."

Meski aku menjawab begitu, aku jadi merasa sedikit takut.

Mungkin saja Miori merasa ada yang aneh dengan diriku yang sekarang.

Walaupun begitu, kupikir dia tidak akan sampai pada pemikiran yang tidak masuk akal seperti time leap.

"Iya. Jadi, ceritakan lebih banyak lagi. Tentang dirimu yang sekarang. Tentang apa yang membuatmu khawatir juga."

Itu adalah kata-kata yang menemaniku saat aku sedang waspada.

"……Kalau kamu, kurasa kamu sudah tahu garis besarnya. Aku sekarang――"

Karena itu, aku memutuskan untuk menceritakan perasaanku saat ini kepada Miori.

Selama ini, aku selalu berkonsultasi tentang segala hal kepada Miori, tapi belakangan ini aku jarang membicarakannya secara aktif.

Mungkin itu karena aku tidak ingin menceritakan kepada orang lain betapa tidak tulusnya perasaanku yang juga menyukai Hikari dan Uta.

Karena perasaan seperti itu tidak mungkin dimaafkan.

Sampai sekarang, aku secara aktif bergerak demi mengejar masa muda yang terbaik.

Apa yang harus kulakukan sudah jelas. Ada orang-orang yang ingin kujadikan teman, dan ada gadis yang kusukai.

Aku membentuk grup pertemanan yang menyenangkan dan nyaman, lalu berusaha menjadikan gadis yang kusukai sebagai kekasih.

Hari-hari itu terasa memuaskan dan menyenangkan.

Tentu saja, sampai sekarang pun aku menghabiskan hari-hari yang menyenangkan.

Namun, sejak aku tidak memahami perasaanku sendiri, aku selalu tersesat.

Baik Hikari maupun Uta, mereka menyukaiku. Itu adalah hal yang sangat membahagiakan.

Mengetahui seseorang seperti diriku disukai, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari itu.

Namun, ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku disukai oleh seorang gadis, dan aku tidak tahu apa jawaban yang benarnya.

Apa yang kucari?

Sebenarnya, siapa yang kusukai?

Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan tanpa kehilangan apa pun?

Setelah aku selesai menceritakan semuanya, Miori mengangguk pelan lalu――tersenyum nakal.

"Populer ya, Natsuki. Pamer, nih?"

"……Karena kupikir akan dianggap begitu, makanya aku hanya bisa cerita padamu."

Saat aku menghela napas, Miori membelai kepalaku sambil berkata, "Maaf, maaf." Berhenti.

"Aku rasa, sudah menjadi dirimu sendiri untuk merasa khawatir sampai sejauh itu dan mencoba bersikap tulus."

Miori berkata sambil tersenyum fufu.

"Entah kenapa, ya. Kamu mungkin…… merasa takut, kan?"

Itu benar. Selama ini aku selalu merasa takut akan sesuatu. Tapi, aku tidak tahu apa itu.

Kami turun di stasiun tak berpenghuni di daerah kami, dan berjalan berdampingan di jalan malam.

Angin yang bertiup hyuu menyapu dedaunan gugur di bawah kaki kami.

"Kalau terus ragu, perasaan mereka berdua mungkin akan menjauh, lho?"

"Iya, ya……"

Lagipula, kondisi di mana aku disukai oleh mereka berdua adalah sebuah keajaiban.

Malahan, mungkin memang wajar jika hal itu terjadi. Lagipula, apa sebenarnya yang mereka sukai dari orang sepertiku?

Aku sudah berusaha untuk mengubah diriku sendiri. Aku ingin menjadi sosok yang disukai orang lain.

Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa mencintai diriku sendiri, dan sekeras apa pun aku berusaha, hanya kekuranganku saja yang terlihat.

Aku tidak bisa memikirkan alasan mengapa dua gadis seimut itu memilih diriku.

"Yah, kalau saat itu tiba, aku akan menyembuhkan luka patah hatimu."

Miori, yang mencemaskanku dengan berkata "Ya namanya juga teman masa kecil," saat ini adalah penyelamatku.

"……Kalau kamu sendiri bagaimana? Mau menyatakan cinta pada Reita, kan?"

Rasa penasaranku muncul tiba-tiba, setelah teringat kejadian di hari terakhir liburan musim panas.

Saat aku sedang bimbang, Miori sudah memantapkan tekadnya.

"Memang itu rencananya."

Miori mendengus bangga, fufun.

"Lagipula, tanpa perlu khawatir, besok aku ada rencana kencan dengan Reita."

"Heh, lancar ya. Rencananya mau menghabiskan waktu dengan apa?"

"Mencari baju musim gugur. Aku berpikir untuk meminta Reita memilihkan pakaian."

"Cewek memang suka ya memilih baju."

"Bukan hanya cewek, tahu. Kamu saja yang tidak tertarik dengan fashion."

Yah, itu benar. Reita sering membaca majalah fashion, berpakaian modis, dan juga membicarakan tren terbaru.

Dia pasti akan dengan senang hati menemani Miori memilih baju.

"Lagipula, kalau selera Reita aku bisa tenang, dan aku ingin memakai baju yang menurut Reita lucu. ……Kalau menyerahkan padamu, sepertinya akan menjadi fashion yang mematikan."

"Yah, kalau Miori, pakai baju olahraga pun tidak masalah, kan?"

Saat aku menjawab asal, pipiku dicubit. Itu, sakit sekali, tahu……

"Ngomong-ngomong, aku juga harus membeli baju yang layak untuk dipakai di musim gugur……"

Selama ini aku bertahan dengan baju pilihan Miori atau baju yang kubeli berdasarkan pengetahuan instan dari majalah fashion, tapi sekarang waktunya membeli yang baru.

Padahal di rumah ada banyak baju yang tidak modis. Seperti baju yang ada tulisan bahasa Inggris yang panjang-panjang itu.

"……Aku tidak mau memilihkan lagi ya? Urus dirimu sendiri."

Di dalam kereta yang berguncang, kata-kata itu terdengar sangat berat.

Aku adalah orang yang menyuruh Miori agar tidak terlalu sering bersamaku, demi memikirkan Reita.

Aku tidak merasa itu keputusan yang salah. Jika memikirkan situasi yang kuhadapi sendiri, aku rasa tidak pantas jika terus berduaan dengan Miori.

Jadi, seharusnya tidak ada yang aneh dengan pembicaraan ini.

……Hanya saja, aku merasa ada lubang besar yang menganga di dalam hatiku.




Hanya itu ceritanya.

Senin, awal minggu.

Aku melewatkan jam pelajaran dengan perasaan yang agak melankolis, lalu tibalah saat pulang sekolah. Saat aku berniat untuk segera pulang, wali kelasku memanggilku.

"Haibara. Kamu sedang senggang, kan? Tidak keberatan kalau membantu sebentar?"

"Tolong jangan asumsikan kalau anak klub pulang sekolah itu selalu senggang... Tapi, baiklah."

"Hahaha, maaf, maaf. Aku ingin membawa barang ini ke gudang."

Wali kelasku menunjuk dua buah kardus yang terlihat cukup berat.

"Apa isinya?"

"Materi pelajaran. Bekas pelajaran tambahan selama libur musim panas. Karena tidak akan terpakai untuk sementara, aku ingin menyimpannya."

Ah, pelajaran tambahan bagi mereka yang mendapat nilai merah saat ujian akhir semester.

Uta dan Tatsuya berhasil lolos dari nilai merah, tapi sepertinya ada beberapa siswa yang terkena.

Karena tidak ada pilihan, aku dan wali kelas membagi tugas membawa satu kardus masing-masing.

Gudang itu terletak di ujung lantai dua gedung sekolah, dekat ruang musik. Jaraknya sedikit jauh dari kelas, tapi kupikir tidak akan terlalu melelahkan—meskipun wali kelasku sendiri sudah terengah-engah sejak tadi.

"Hah, hah... Haibara, stamina kamu luar biasa, ya."

"Latihan otot dan lari adalah hobi saya."

Kami menaiki tangga menuju lantai dua.

Saat melewati depan ruang musik, terdengar suara gaduh dari ruang kelas di depannya.

"Itu Ruang Musik II. Belakangan ini dipakai oleh klub musik ringan."

"Eh? Bukankah klub musik ringan sudah punya ruang klub sendiri?"

"Seingatku, kalau cuma punya satu ruang klub, mereka tidak bisa latihan kalau ada yang pakai, atau semacam itulah."

"Begitu, ya," gumamku sambil menanggapi, lalu berjalan melewati depan Ruang Musik II itu.

Suara yang terdengar adalah alunan gitar elektrik. Riff yang familier mulai bergema.

—Intro Master of Puppets milik Metallica. Bass yang berat berdentum secara ritmis, membentuk melodi. Ritme yang presisi. Cara memetik dengan penekanan nada yang jelas. Tekanan suara yang luar biasa. Itu adalah riff dengan ketebalan suara yang membuat tubuhku bergetar saat mendengarnya. Dia mampu memainkan lagu yang sulit ini dengan mahir.

"Aku tidak begitu paham musik, tapi terdengar hebat sekali."

Langkahku terhenti tanpa sadar, dan pandanganku tertuju ke ruangan sumber suara itu.

Keren sekali. Apakah ada siswa SMA yang bisa bermain gitar seperti ini?

"Hm? Ada apa, Haibara?"

Didorong oleh rasa penasaran, aku meletakkan kardus di lantai dan membuka pintu Ruang Musik II.

Di sana, Serika sedang memegang gitar. Serika yang terus melakukan down-picking bagai iblis tanpa menyadari pintu terbuka, langsung membelalak saat menoleh.

"......Eh? Natsuki? Ada apa?"

Bersamaan dengan kata-katanya, suara musik berhenti. Di sanalah aku baru sadar kembali.

"Tidak, kupikir permainanmu hebat sekali, jadi aku tidak sengaja..."

Apa yang sedang kulakukan? Meski penasaran, membuka pintu ruangan orang lain tanpa izin itu tidak sopan.

"Benarkah? Aku senang mendengarnya."

Serika tersenyum, lalu memetik senar secara terbuka (open string).

Tangan itu mencengkeram Gibson Explorer yang berkilau hitam.

Saat aku sedang memperhatikan Serika, wali kelasku memanggil.

"Oi, Haibara. Tolong selesaikan dulu membereskan ini."

Aku menunduk sambil berkata, "Maaf," kepada wali kelas yang tersenyum sedikit canggung.

Entah mengapa, otakku tidak bisa bekerja dengan baik.

Selama aku menyimpan kardus-kardus itu di gudang di balik Ruang Musik II, suara gitar yang dimainkan Serika terus terdengar. Seberapa banyak dia berlatih hingga bisa mengeluarkan suara seperti itu?

"Wah, maaf ya. Terima kasih banyak."

Wali kelasku mengajak bicara. Aku memberikan jawaban basa-basi.

"Tidak, ini bukan apa-apa. Lagipula saya anak klub pulang sekolah yang senggang."

"Haha, bukannya tadi kamu bilang kebalikannya?"

Wali kelasku yang menyeka keringat di lengannya tiba-tiba bertanya seolah penasaran.

"Haibara, apa ada alasan kamu tidak masuk klub?"

"......Tidak, tidak ada alasan khusus. Hanya saja, tidak ada alasan juga untuk masuk."

Saat aku menjawab begitu, wali kelasku mengangguk berulang kali, "Begitu, ya."

"Tidak, aku hanya bertanya karena penasaran. Hanya saja, aku pikir sayang sekali kamu yang jago belajar dan olahraga tidak masuk klub. Kalau itu kamu, aku yakin kamu bisa meraih hasil apa pun."

Wali kelasku berkata, "Kalau begitu, terima kasih ya," lalu pergi.

...Penilaian yang sangat tinggi, ya.

Kalau aku benar-benar bisa meraih hasil apa pun, aku tidak akan menderita seperti ini.

Aku tahu berkat keuntungan loop kedua, orang-orang di sekitarku melihatku sebagai sosok yang superior. Namun, di situasi di mana keuntungan itu tidak bisa digunakan, aku terus mengulangi kesalahan yang sama.

Saat hendak pulang, aku melewati Ruang Musik II lagi dan membuka pintunya.

Serika masih seperti tadi, terus berlatih gitar sendirian.

Ruang Musik II yang strukturnya mirip kelas biasa itu menumpuk meja dan kursi di bagian belakang, sementara di depan hanya ada kursi yang diduduki Serika, gitar stand, dan amplifier.

"Kenapa di Ruang Musik II?"

"Kalau di ruang klub, anggota lain sedang latihan."

Serika meletakkan gitarnya di stand sejenak, lalu mengambil botol minum dari tasnya.

"Aku tidak membentuk band, jadi aku tidak bisa bergabung di sana."

Ngomong-ngomong, aku pernah mendengar tentang Serika dari Shinohara.

Dibandingkan anggota klub musik ringan lainnya, tingkat kemampuan bermain Serika berbeda. Katanya, karena motivasinya terlalu tinggi saat mencoba membentuk band, dia akhirnya tidak bisa diikuti oleh orang lain dan menjadi "sisa".

Mendengar permainannya tadi, aku bisa memahaminya.

Jelas, ini bukan level band anak SMA.

"......Aku suka gitar Serika."

Saat aku bergumam dengan tulus, Serika menatapku dengan ekspresi yang jarang—bingung.

"Terpesona" itulah yang terjadi saat itu. Itu terasa sangat keren, sampai-sampai aku bisa mengatakannya dengan jujur.

"Kamu suka padaku?"

"Aku tidak akan membuat salah ucap seperti itu."

"Yah, padahal tidak seru. Tapi, terima kasih."

Serika memalingkan wajah dengan acuh tak acuh sambil meneguk air dari botolnya.

Suara tegukan air terdengar saat Serika minum. Keringat mengalir di lehernya. Dia pasti berlatih dengan sangat serius. Meski tidak bisa membentuk band, dia terus berlatih sendirian selama ini.

"Kenapa Serika mulai bermain gitar?"

"Awalnya biasa saja, karena kupikir itu keren."

...Aku juga sama. Maksudku, kupikir hampir semua orang memulai karena alasan itu.

"Ayahku mantan anak band, jadi saat di rumah, musik rock selalu diputar. Tumbuh di lingkungan seperti itu, aku jadi mulai memainkan gitar yang ada di rumah tanpa izin."

Sambil bercerita, dia kembali memegang gitar di stand.

"Awalnya sulit dan aku berkali-kali ingin menyerah. Tapi, sedikit demi sedikit aku jadi bisa bermain, dan rasanya senang saat bisa mengeluarkan suara yang kuinginkan. Itulah kenapa aku bisa terus berlanjut."

"......Aku menyerah sebelum sampai di perasaan itu."

Seberapa banyak pun aku berlatih, aku tidak bisa mengeluarkan suara seperti yang kubayangkan.

Aku tidak bisa menggerakkan jariku dengan mahir seperti gitaris yang kukagumi.

Aku merasa kesal dengan kenyataan yang jauh dari ideal.

Terlebih lagi, ada banyak hobi lain yang lebih menyenangkan.

Jadi sebelum aku sadar, gitar yang kubeli susah payah malah menjadi hiasan di kamar.

"Mau coba?"

Serika menyodorkan gitarnya.

"Ini barang penting, kan?"

"Natsuki bukan orang yang akan memperlakukannya dengan sembarangan. Ini."

Sambil berkata begitu, Serika dengan paksa memasangkan strap gitar di leherku.

Aku menyilangkan kaki kanan, menstabilkan posisi gitar, menyentuh senar dengan tangan kiri, dan memegang pick dengan tangan kanan. Meski sudah lama tidak melakukannya, terasa lebih familier daripada yang kubayangkan. Aku melakukan stroke dengan tangan kanan.

Jaran, suara senar terbuka bergema. Itu nada yang menyenangkan. Rasanya suara basnya lebih tebal dan berat daripada gitar Stratocaster milikku. Pembuatan suaranya juga mahir. Aku tidak bisa menirunya.

Aku memeriksa chord satu per satu.

"F-nya belum kena. Jari telunjukmu kurang menekan."

"Berisik. Aku sudah lama tidak main, tahu. Jariku belum bisa bergerak selancar itu."

Karena Serika berkata begitu sambil menyeringai, aku membalasnya dengan cemberut.

Lagipula, bahkan saat aku dulu sering memainkannya, barre chord saja sudah meragukan—itu tidak usah dibahas.

"Tapi, kamu bisa main, kan?"

"Kalau yang gampang, ya lumayan."

Aku memainkan riff yang tubuhku masih ingat sampai sekarang. Mulai dari senar enam fret pertama dan senar lima fret ketiga.

Smells Like Teen Spirit milik Nirvana. Lagu yang pertama kali kulatih setelah punya gitar.

Meski hanya terdiri dari power chord yang mudah, lagu itu luar biasa keren. Saat aku menggenjreng chord-nya, Serika mulai bersenandung. Rasanya menyenangkan seperti konser kecil.

"Menyenangkan, ya."

Saat aku mengatakannya, Serika menunjukkan ekspresi yang jarang terlihat.

"Aku juga, senang."

Dia terlihat begitu manis sampai-sampai aku terpesona.

Menyadari tatapanku, Serika berdeham kecil.

"Ini pertama kalinya aku melihat Serika tersenyum seperti itu."

"......Kalau soal musik, aku jadi senang saja."

Serika memerah sedikit dan menyentuh rambutnya sendiri.

Tanpa kusadari, langit sudah gelap.

Saking asyiknya, aku dan Serika bermain sampai tidak menyadarinya.

"Dari dulu, aku selalu dibilang sebagai anak yang sulit dimengerti," gumam Serika tiba-tiba saat ia menyimpan gitar ke dalam tas dan mulai bersiap untuk pulang.

"Ekspresi atau nada suaraku tidak banyak berubah, dan aku tahu aku adalah anak yang aneh."

Memang benar, Serika punya sisi seperti itu. Sulit untuk menangkap apa yang sedang dia pikirkan. Ekspresi atau nada suaranya hanya berubah saat membicarakan musik. Bahkan saat itu pun, perubahannya tidak besar.

Aku bingung harus bereaksi bagaimana, jadi aku hanya diam.

Serika juga pasti tidak ingin mendengar kata-kata seperti "tidak kok".

"Aku kurang mahir mengekspresikan perasaanku," Serika bercerita dengan tenang, seolah sedang memastikan sebuah fakta.

"Tapi, aku ingin semua orang tahu. Perasaanku. Emosiku. Aku tidak ingin disebut sebagai anak yang sulit dimengerti. Hanya suara gitar yang menjadi alat untuk menyampaikan 'diriku'."

—Kalau musik, kurasa aku bisa menyampaikan perasaanku kepada semua orang.

Suatu saat nanti, aku ingin berdiri di panggung besar dan menyampaikan musikku kepada banyak orang.

Karena itu aku terus melakukannya, ujar Serika.

Profil wajahnya yang menengadah ke langit seolah mengejar mimpi itu terlihat menyilaukan.

"Meski sekarang sendirian, suatu saat nanti aku akan membentuk band hebat, dan memainkan lagu yang kubuat sendiri."

"Tokyo Dome?"

"Ya. Aku akan mengirimkan tiketnya langsung ke Natsuki."

"Itu sangat membantu. Karena untuk tiket band populer, kita hanya bisa berdoa pada Tuhan."

Mendengar permainan itu, aku jadi penggemar Serika.

Aku ingin mendengar permainan Serika lagi. Aku ingin melihatnya berdiri di atas panggung.

"Semoga impianmu terwujud, Serika."

"......Hei, Natsuki."

Saat Serika hendak mengatakan sesuatu, pintu Ruang Musik II terbuka.

Di sana berdiri seorang pria bertubuh besar dengan kesan seperti batu karang. Dia lebih tinggi dariku dan berbadan kekar. Kalau berkelahi, rasanya aku bisa mati dalam sekejap. Tekanan auranya sangat kuat.

"Hondo."

Pria besar itu berkata dengan singkat. Suaranya berat.

"Senior Iwano, ada perlu apa?"

"Tidak... aku membukanya karena mengira kamu sedang latihan, tapi ternyata bersama pacarmu, ya. Maaf mengganggu."

Pria yang dipanggil Senior Iwano oleh Serika itu berbalik dan menutup pintu.

Tiba-tiba muncul, lalu pergi dalam sekejap.

"Tadi kamu memanggilnya senior, berarti dia kakak kelas, ya. Apa dia orang klub musik ringan?"

"Ya. Senior Kengo Iwano. Kelas dua. Dia jago main drum. Meski semua orang takut padanya."

Yah, pasti bakal takut sih... Aku saja sudah gemetar.

"......Ngomong-ngomong, bukankah kamu seharusnya mengoreksinya tadi?"

Saat kutanya, Serika memiringkan kepalanya.

"Soal apa?"

"Tadi dia salah paham mengira kita sedang bermesraan sebagai pacar."

"............Yah, tidak masalah bagiku."

"Tapi bagi aku masalah, lho. Setidaknya dalam posisiku sekarang."

"Senior Iwano bukan tipe orang yang suka menyebarkan gosip ke orang lain, jadi tidak apa-apa."

Memang bisa dimengerti hanya dengan melihat penampilannya, tapi...

"......Ngomong-ngomong tadi, bukankah tadi kamu sempat ingin mengatakan sesuatu?"

Mendengar pertanyaanku, Serika tampak berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepala.

"Mm. Sebentar, aku sedang memikirkannya baik-baik."

"Maksudnya?"

"Natsuki tidak perlu khawatir. Tunggu saja dengan sabar."

"Kenapa harus dengan sabar?!"

"Salah ucap. Maksudku, tunggu dengan sabar."

"Itu malah membuatku makin penasaran..."

"Masih rahasia."

Serika menaruh jari di depan mulutnya dan mengubah topik.

"Kamu pergi ke Rockin' tahun ini, kan?"

"Serius? Enaknya, aku belakangan ini tidak pergi ke konser."

"Festival memang menyenangkan. Aku suka suasana kacau di mana berbagai jenis orang bercampur. Tahun ini penampilannya sangat mencolok, dan itu luar biasa. Di hari ketiga, ada kembang api di akhir—"

Selama perjalanan pulang ke stasiun, kami terus mengobrol tentang musik.

Aku suka musik. Terutama, aku suka rock.

Karena hal itulah yang memberiku keberanian untuk menjalani hari esok, saat aku sedang menghabiskan masa mudaku yang kelabu.

Itu terjadi saat jam istirahat siang keesokan harinya.

Saat sedang mengobrol dengan Tatsuya dan Reita di koridor, Serika memanggilku.

"Natsuki, sebentar bisa?"

"Serika. Ada apa?"

Saat aku memiringkan kepala, Serika memancarkan aura bahwa dia ingin bicara berdua saja.

"Kalau begitu Natsuki, kami kembali ke kelas dulu."

Reita yang mengerti situasi membawa Tatsuya pergi, meninggalkan aku dan Serika di koridor.

Ada keperluan apa?

Jarang sekali Serika memberikan pendahuluan seperti itu.

Saat aku sedang berpikir, Serika bertanya dengan wajah datar seperti biasanya.

"Maukah kamu membentuk band bersamaku?"

Kirain mau bicara apa, ternyata kata-kata yang terlalu mendadak.

"E-eh...?"

Aku? Band...? Kenapa tiba-tiba?

Kemarin kami memang bermain gitar bersama, tapi itu saja.

Kupikir salah dengar. Tapi Serika menatapku lurus-lurus dan menyatakan.

"——Aku serius. Mari kita ubah dunia ini dengan musik kita."

Aku terlalu bingung sampai kata-kata tidak keluar.

Kita, mengubah dunia, dengan musik...?

Memang benar aku suka musik, dan ada saatnya aku ingin membentuk band.

Tapi, tetap saja ini terlalu mendadak. Serika memang sering membuat perkataan yang aneh, tapi kali ini terasa tidak ada hubungannya. Seperti yang dia katakan, dia serius, tidak ada suasana bercanda.

"Kenapa, aku?"

"Karena aku ingin melakukannya bersama Natsuki."

"Kenapa ingin melakukannya bersama?"

"Alasannya ya... ada banyak, sih."

Serika memilin ujung rambutnya dan terdiam sejenak.

"Aku sudah bilang di karaoke, aku suka suara nyanyian Natsuki. Aku ingin kamu menyanyikan laguku."

"Maksudmu, aku jadi vokalisnya? Padahal poin Serika lebih tinggi."

"Itu cuma poin saja, ya. Aku hanya jago karaoke. Itu berbeda dengan Natsuki."

Aku pun sama. Aku hanya sering pergi ke karaoke sendirian sampai aku jago.

Aku tidak begitu percaya diri sampai menganggap nyanyianku bagus.

"......Aku suka nyanyian Serika, kok."

"Bukan aku tidak bisa. Tapi suara suaraku tidak sampai ke hati semua orang. Jadi Natsuki, tolong bernyanyilah."

Aku tahu Serika mengatakannya dengan serius. Aku senang dipuji.

Aku hampir saja meraih tangannya yang terulur. Tapi aku menahan diri dan menggelengkan kepala.

"......Tidak, bagiku itu mustahil."

"Kenapa?"

"Kenapa, ya..."

"Apa ada alasan kamu tidak mau melakukannya?"

"......Tidak, aku punya kerja paruh waktu, harus belajar, dan kalau harus ikut klub di semester dua, itu..."

Setelah mengatakannya, aku baru sadar.

Aku sekarang sedang mencari alasan untuk menolak.

Kenapa? Kenapa aku mencari alasan untuk menolak?

Pasti karena kalau tidak berusaha keras mencarinya, alasannya tidak ketemu.

Sebenarnya seharusnya tidak ada alasan apa pun. Karena aku ingin membentuk band. Aku ingin bermain musik bersama teman-teman yang bisa dipercaya. Alasan aku berhenti bermain gitar adalah karena aku tidak punya teman band meski sudah berusaha keras. Sekarang kesempatan itu datang, kenapa aku malah mencoba menolak?

Melihatku yang bimbang, Serika melanjutkan seolah mendesak.

"Bukan itu saja, kan. Aku pikir aku bisa memercayai Natsuki. Aku merasa Natsuki akan ikut bersamaku meski aku berusaha dengan sungguh-sungguh. Selera musik kita, perasaan kita terhadap musik, pasti kita mirip. Aku tahu, Natsuki. Sebenarnya kamu ingin bermain musik, kan?"

Seperti kata Serika.

Jadi mungkin, aku hanya sedang ketakutan.

Ketakutan karena harus berhubungan dengan orang asing kalau membentuk band, takut tidak sebanding dengan kemampuan Serika, atau tidak percaya diri dengan suaraku sendiri, semua kecemasan itu menguasai diriku.

Menolak itu mudah, jalan yang gampang. Tapi, apa itu benar?

Apa dengan menolak ajakan Serika, aku bisa mencapai masa muda terbaik?

Bukankah aku bersumpah untuk menjalani masa muda tanpa penyesalan?

"Ayo kita lakukan, Natsuki. Aku ingin bersama Natsuki."

Serika berkata begitu sambil menyodorkan tangannya. Di ujung jarinya terlihat bekas latihan.

Bayangan yang melintas di benakku adalah pemandangan kemarin.

Sosok Serika yang sedang bermain gitar di Ruang Musik II.

Aku terpesona oleh suara itu. Aku pikir itu keren. Murni, aku mengaguminya.

Jalani tanpa penyesalan, ya.

Belakangan ini aku tidak tahu perasaanku sendiri. Tapi, hanya kali ini aku tahu.

"Terima kasih, sudah mengajakku."

——Aku ingin bermain musik bersama Serika.

Aku ingin jujur pada perasaanku sendiri, aku berpikir begitu.

"Kalau Serika tidak keberatan... bolehkah aku mencobanya?"

"Tentu saja. Sangat disambut. Aku senang. Sangat."

Aku menggenggam tangan Serika yang terulur. Pada saat itu, bel dimulainya pelajaran berbunyi.

"Kalau begitu, detailnya nanti lagi ya."

Meski ekspresinya tidak berubah, Serika tampak benar-benar senang.

Sambil menatap punggung Serika yang kembali ke kelas dengan terburu-buru, aku juga berusaha kembali ke kelasku sendiri.

Pada saat itu, aku menyadari ada tatapan yang menusuk.

Saat aku menoleh, ternyata aku diperhatikan oleh banyak sekali orang.

"A-apa...?"

Saat aku bingung, gadis-gadis dari kelas sebelah mendekat.

"Itu, Haibara-kun! Selamat!"

"E-eh...?"

"Jagalah Serika-chan baik-baik ya!"

"Eh? A-ah, iya..."

Gadis-gadis itu kembali ke kelas sambil berteriak kegirangan.

A-apa-apaan ini...?

Memang benar kami jadi teman band, dan aku berniat menjaganya, tapi.

......Di situlah, aku akhirnya memahami situasi secara objektif.

"Mungkinkah, aku terlibat dalam masalah yang merepotkan...?"

Hari itu. Rumor bahwa Serika menyatakan cinta padaku dan aku menerimanya tersebar di seluruh sekolah.

"——Jadi, Natsuki. Apa rumor itu benar?"

Setelah pulang sekolah. Waktu setelah homeroom berakhir dan semua orang pergi ke klub masing-masing.

Reita dan Tatsuya mendekati mejaku dan melontarkan pertanyaan itu dengan suara pelan.

"Berapa banyak yang menyebarkan rumor ini dalam beberapa jam saja..."

Karena berada dalam kelompok ini sering menarik perhatian, tapi hari ini aku merasakan tatapan yang lebih dari biasanya.

"Lagipula sudah pasti itu bohong, kan. Kenapa kalian juga memercayainya?"

"Tidak, karena ada orang yang bersikeras bilang Serika bilang 'Aku ingin bersama Natsuki'..."

Itu... memang benar!

Itu bukan pembicaraan yang seharusnya di koridor...

"Sebenarnya, kami juga tahu kalian bicara di jam istirahat siang."

Kata Tatsuya dan Reita bergantian.

Nanase, Hoshimiya, dan Uta juga mendekat.

Harusnya enam orang biasa, tapi entah mengapa aku merasakan tekanan aneh dari para wanita.

Uta dan Hoshimiya juga berekspresi biasa saja. Tidak tertawa atau marah. Emosinya tidak bisa dibaca.

"Kebohongan, kan?"

Menanggapi konfirmasi Nanase, aku mengangguk, "Tentu saja."

"Tidak mungkin benar, kan."

"Bagaimana, ya. Hei, Uta-chan."

"Natsu dan Seri baru saja kenal, tapi mereka terlihat saling mengerti, kan."

Uta dan Hoshimiya mengangguk satu sama lain. Percakapan emosi macam apa itu?

Aku takut, tahu.

Yah, bagaimanapun juga, kalau kujelaskan situasinya, mereka pasti akan mengerti.

Saat aku hendak membuka mulut, kelas menjadi gaduh.

Tatapan semua orang tertuju ke pintu masuk kelas. Di sana, penyebab rumor itu sedang menoleh ke sana kemari.

Saat Serika menemukan aku yang dikelilingi semua orang, dia melambaikan tangan kecil.

"——Ah, Natsuki. Ayo."

Melihat keadaan Serika, tatapan semua orang tertuju padaku.

"Natsu?"

"Natsuki-kun?"

"Haibara-kun...?"

Apa ini keringat dingin...? Padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun...

Serika memiringkan kepala melihatku yang tidak bergerak, lalu mendekat ke sini.

"Ada apa, semuanya. Berkumpul seperti ini."

"......Seri sendiri, kenapa datang memanggil Natsu?"

"Itu karena, mulai hari ini dia adalah temanku."

"......Teman?" Uta, bukan hanya Uta, semua orang membelalakkan mata dengan bingung.

Situasinya cukup kacau, tapi kalau Serika datang, penjelasannya jadi lebih mudah.

"Aku akan membentuk band bersama Serika."

Aku menjelaskan kejadian dari pulang sekolah kemarin sampai istirahat siang kepada semua orang secara garis besar.

"Begitu rupanya. Apa, aku kaget."

Reita berkata dengan ekspresi yang tidak terlalu terkejut.

"Yah, Serika-chan memang selalu berbicara dengan cara yang membingungkan..."

Hoshimiya memegang dadanya dan menghela napas pelan.

"Lagipula, ini cerita yang sangat mendadak. Aku belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya?"

Entah mengapa Nanase tampak tidak puas.

"Band, ya! Bagus itu! Jadi begitu! Natsu yang bernyanyi!?"

Uta membelalakkan matanya dengan cerah dan bertanya dengan suara yang penuh semangat.

"Ya, vokalis. Aku juga main gitar. Aku memimpin, dan Natsuki jadi pendampingnya."

Dan Serika menentukan peranku sesuka hati. Tidak, aku memang berpikir begitu, sih.

Dalam band rock, lagu yang memiliki dua bagian gitar akan membagi perannya. Biasanya lead guitar yang memainkan melodi utama, dan rhythm guitar yang berfokus pada pengiring. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih sulit secara mutlak, tapi yang pasti peran utama lagu adalah lead guitar.

"Artinya, kamu masuk klub musik ringan?"

Menerima pertanyaan Tatsuya yang tiba-tiba sadar, aku menatap Serika.

"Soal masuk klub nanti saja kita pikirkan. Untuk sekarang, aku ingin mencari anggota band dulu."

Memang benar, seperti kata Serika.

Klub musik ringan saat ini sudah memiliki dua band yang terbentuk, dan kudengar hanya tersisa sedikit orang di sana.

Daripada mencari anggota di klub musik ringan, mungkin lebih baik mencari di tempat lain.

"Jadi, belum ada anggota band yang pasti?"

"Belum. Soalnya, aku hanya ingin bermain bersama Natsuki."

Menanggapi pertanyaan Reita, Serika mengangguk mantap.

Tatsuya bersiul kecil. Sudut bibirnya sedikit miring.

Saat Serika memiringkan kepalanya dengan heran, Tatsuya hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Ah, bukan apa-apa."

"Ngomong-ngomong, Natsuki-kun, waktu perjalanan itu kamu sempat bilang bisa main gitar, kan?"

"Tidak bisa dibilang mahir sampai bisa langsung main, sih. Tapi, aku berencana untuk berlatih mulai sekarang."

"Bagus dong, terdengar menyenangkan. Semangat ya, Natsuki!"

Tatsuya tertawa kecil sambil menepuk-nepuk bahuku dengan keras.

"Kalau kalian berdua nanti konser, ajak-ajak aku, ya! Aku pasti datang untuk menonton!"

"Kamu terlalu bersemangat. Belum ada satu pun yang diputuskan, lho."

Saat aku menenangkan Uta yang sudah kegirangan, Reita mengambil alih pembicaraan.

"Yah, bagaimanapun, masalah rumor itu akan aku redam."

Reita memang bisa diandalkan. Tapi, apakah rumor bisa diredam semudah itu?

Meskipun aku merasa sedikit ragu, aku merasa jika itu Reita, dia pasti bisa melakukannya.

"Sudah waktunya kegiatan klub dimulai. Soal detailnya, kita bahas lagi besok ya."

Atas perintah Reita, kami bubar dan masing-masing pergi ke kegiatan klub mereka.

"Jadi... mulai hari ini kita harus bagaimana?"

Rutinitas yang biasanya tertata kini berantakan. Di tengah pusaran kecemasan, ada pula harapan yang membuncah.

Entah mengapa, pemandangan hari ini terlihat lebih bersinar dari biasanya.

"Untuk saat ini, kita lakukan rapat strategi dulu."

Aku pun pergi menuju Ruang Musik II bersama Serika yang tampak senang entah karena apa.

Ruang klub musik ringan sudah dikuasai oleh dua band tadi, jadi Serika biasanya menjadikan Ruang Musik II sebagai markasnya. Oh ya, ruang musik di sebelahnya digunakan oleh klub musik tiup (brass band). Berbeda dengan Ruang Musik II yang strukturnya hampir sama dengan kelas biasa, ruang musik itu memiliki struktur seperti aula dengan kedap suara yang sangat baik, sehingga permainan klub musik tiup hampir tidak terdengar. Sebenarnya, klub musik ringan pun pasti ingin memakai ruangan itu, ya.

"Kita punya tantangan pertama yang harus dilewati."

"Mencari anggota band, kan? Tergantung lagu apa yang ingin kita bawakan juga."

Dilihat dari selera Serika, dia pasti ingin membawakan musik rock yang keras.

Serika bertanggung jawab sebagai Lead Guitar, dan aku akan menjadi vokal merangkap Rhythm Guitar.

Jika begitu, secara umum...

"Berarti Bass dan Drum, ya."

Jantung dari sebuah band, yang juga disebut sebagai rhythm section.

Jika drum berperan membuat ritme dengan titik-titik ketukan, bass memiliki citra menjaga ritme dengan garis yang berkesinambungan.

Bass yang menopang low-end suara lagu dan drum yang menjaga tempo. Keduanya memainkan peran krusial dalam sebuah komposisi. Memang, tanpa dua instrumen ini, sensasi groove-nya akan terasa sangat berbeda.

"Yah, tidak ada salahnya kalau aku latihan bass dari nol."

Untuk drum, mungkin sulit jika harus merangkap dengan vokal, tapi aku tahu banyak band yang vokalisnya merangkap sebagai basis. Lagipula, itu kalau aku mampu melakukannya.

"Soal itu, kita pikirkan lagi kalau memang tidak ketemu. Natsuki juga suka gitar, kan?"

...Ya, itu instrumen pertama yang kubeli. Saat menonton konser band rock, perhatianku selalu tertuju pada gitarisnya. Aku menyukai suara gitar elektrik.

"Aku memang bisa main bass, tapi aku tetap lebih suka gitar."

Serika mengucapkannya dengan enteng.

Dia sudah jago gitar, ternyata bisa main bass juga?

Padahal meskipun terlihat mirip, bukankah seharusnya dibutuhkan teknik yang sangat berbeda? Benar-benar, Serika memang luar biasa.

"Jadi, ada rencana konkret?"

"Di klub musik ringan, ada seseorang yang kuinginkan untuk bergabung."

"Siapa? ...Ah, percuma juga bertanya, pasti aku tidak kenal."

"Tidak, kok. Kemarin kamu melihatnya. Senior Iwano kelas dua. Dia memainkan Drum dengan luar biasa."

Senior Iwano itu, si pria besar tadi? Dia orang yang sangat intimidatif...

Jujur saja, aku tidak begitu tertarik, atau lebih tepatnya—takut. Rasanya sulit untuk akrab dengannya.

Tapi, aku penasaran dengan kemampuan drum yang dipuji oleh Serika.

"Masalahnya, aku sudah pernah ditolak."

"Wah, gawat dong."

"Tapi, aku akan mencoba mengajaknya sekali lagi. Ada Natsuki juga, jadi aku merasa mungkin bisa berhasil."

"Kehadiranku tidak akan mengubah apa pun..."

"Tidak apa-apa. Sekali mencoba tidak ada salahnya. Hanya keberanian yang bisa mengubah dunia."

Serika berkata begitu sambil mengacungkan jempol.

"Aku akan membujuk Senior Iwano. Jadi Natsuki, carilah pemain bass."

"Memangnya kamu tidak punya calon untuk bass?"

"Aku hanya kenal orang yang sudah punya band. Bisa saja meminjam pemainnya, tapi aku ingin latihan dengan serius dan ingin band kita eksklusif. Aku ingin orang yang punya semangat."

Permintaan yang cukup sulit. Lagipula, aku tidak punya banyak teman.

Meskipun jauh lebih banyak dibanding hidup pertama, tapi dibandingkan Serika, lingkaran pergaulanku masih sempit. Aku tidak punya kandidat.

Seorang pemain bass yang semangat, sedang kosong, dan mau bergabung dengan kami.

"Oi, oi, dengan syarat sesempit itu, mana mungkin bisa ketemu dengan mudah—"

...Eh? Tunggu dulu.

Anak baru di tempat kerja paruh waktuku... Shinohara-kun, ya? Seingatku, dia bilang dia anak klub musik ringan, kan?

'Klub musik ringan, bagus dong. Kamu main instrumen apa?'

'Bass, sih. Meskipun tidak terlalu jago... eh, tahu instrumen bass, kan?'

——Ketemu! Pemain bass yang terbuang dan pas sekali untuk kita!

Dia bilang dia semangat, tapi karena tidak punya teman, dia tidak bisa membentuk band.

Bukankah itu orang yang tepat untuk kita? Shinohara-kun, syukurlah kamu penyendiri...

"T-tunggu, tenang dulu. Kalau Serika tidak mengajak, pasti ada alasannya..."

"Kenapa kamu bergumam sendiri?"

"Serika. Di klub musik ringan, ada Shinohara-kun, kan?"

Dia anak kelas satu yang sama-sama di klub musik ringan, pemain bass, dan tidak punya band untuk diajak main. Kenapa dia tidak masuk daftar kandidat?

Saat aku hendak melanjutkan, Serika mengerutkan kening.

"............Siapa? Itu."

Sedihnya, keberadaan Shinohara-kun bahkan tidak dikenali oleh Serika.

Ketika aku menceritakan tentang Shinohara-kun, Serika tampak sangat terkejut.

"Oh ya, seingatku memang ada orang yang namanya tidak kukenal sering berada di ruang klub...?"

"Itu, jangan sampai bilang begitu di depan orangnya, ya."

Bisa-bisa aku ikut terluka. Kenangan masa lalu itu melintas di benakku...

Apapun itu, kami memutuskan agar aku yang mengajaknya saat kami bekerja paruh waktu bersama nanti.

"Aku akan mengurus Senior Iwano, dan Natsuki mengurus Shinohara-kun, ya."

Rencana untuk anggota band setidaknya sudah punya arah. Sisanya, jalani saja dulu.

"Yah, hari ini sampai sini saja. Semoga anggotanya cepat lengkap."

"Ah, tunggu sebentar Serika."

Tepat sebelum kami berpisah setelah bersalaman kepalan tangan, aku berkata:

"——Bantu aku memilih gitar."

Ya, aku berlatih gitar itu saat masih kuliah.

Aku membeli Stratocaster kesayanganku di musim gugur tahun pertama kuliah.

Itu artinya, saat ini aku tidak punya gitar. Aku perlu membeli peralatan lengkap beserta aksesori pendukungnya.

"Tempat ini, aku sering ke sini."

Serika membawaku ke toko alat musik di Takasaki, satu stasiun jauhnya dari sekolah.

Kami masuk melalui pintu kayu tua, dan suasananya sangat berantakan. Alat musik tertumpuk di ruang yang sempit dan berantakan. Musik jazz mengalun sebagai latar belakang toko.

Serika melangkah tanpa ragu melewati kelompok siswa populer yang tampak seperti anak band, lalu menuju area gitar elektrik. Aku pun mengekor dengan ragu-ragu. Toko alat musik ini menyeramkan, ya...

"Kamu ingin yang seperti apa?"

"Dulu aku punya Fender Stratocaster."

"Bagus dong, Strat. Bagaimanapun, penampilan itu penting."

Jika bicara gitar elektrik standar, pilihannya mungkin Stratocaster, Telecaster, atau Les Paul. Ada juga Jaguar atau Jazzmaster, tapi jujur saja aku tidak tahu banyak tentang gitar. Lagipula, aku tidak begitu bisa membedakan perbedaan suaranya. Strat milikku dulu pun hanya karena pengaruh gitaris favoritku.

"Kenapa tidak coba tes main saja yang membuatmu merasa cocok saat melihatnya? Bagaimana dengan yang ini?"

Serika mengambil gitar berwarna merah di dekatnya dan meminta izin kepada staf toko untuk mencobanya.

Setelah memeriksa rasa senar dan bentuk bodinya, dia memainkan riff dengan semangat.

"Natsuki mau coba?"

Aku mencoba memegang gitar yang diberikan Serika.

Pas sekali di pelukan. Aku mencoba memetiknya sedikit.

Tidak buruk... tapi sensasi saat menggenggam neck-nya terasa agak aneh, ya?

Entah mengapa, suaranya juga terasa agak ringan.

Saat aku mengerutkan dahi, Serika memberiku gitar lain, tapi sensasinya juga masih terasa aneh. Padahal, aku sendiri tidak punya preferensi khusus...

"Natsuki, kamu punya bakat menjadi gitaris, ya."

Mendapatkan pujian yang entah mengapa tidak terdengar seperti pujian dari Serika, aku terus mencari gitar.

"Yah, mungkin akhirnya memang tetap Stratocaster. Tapi, harganya..."

Meskipun punya kerja paruh waktu, uang tabunganku sudah banyak terpakai untuk perjalanan liburan musim panas. Aku tidak bisa menyentuh gitar yang terlalu mahal. Namun, kalau terlalu murah, aku tidak tahu apakah bisa awet atau tidak.

Keragu-raguanku kembali muncul di saat seperti ini.

"Hmm... harganya pas, tapi mungkin yang ini kurang cocok untuk Natsuki."

Ada beberapa gitar yang sudah di-"filter" oleh Serika meski menurutku tampilan dan harganya oke.

Aku tidak tahu pasti, mungkin suaranya yang kurang bagus.

"Sudahlah, akhirnya pilih yang ini saja."

Setelah berdebat panjang, pilihannya jatuh pada Fender Stratocaster, sama seperti saat aku kuliah dulu.

Selain itu, aku juga membeli soft case, pick, amplifier, cable, dan tuner sesuai saran Serika. Harganya cukup menguras kantong.

"Kamu beli banyak juga, ya."

"Tabunganku langsung ludes."

Tapi aku tidak menyesal. Uang bisa dicari lagi.

"......Apa kamu benar-benar tidak menyesal? Membeli gitar sampai sejauh ini, padahal sudah terlambat."

"Tidak apa-apa. Sejujurnya, aku memang ingin sekali punya band. Jadi, aku senang kamu mengajakku."

Aku ingat perasaan antusias ini. Sama persis seperti saat aku baru mulai main basket.

Aku merasa bersemangat untuk melangkah ke dunia yang tidak kuketahui.

"Kalau begitu, sampai jumpa besok."

Kami berpisah di depan pintu keluar stasiun dengan Serika yang tinggal di sekitar stasiun Takasaki.

"Ya. Semangat, ya."

Serika bicara dengan nada datar seperti biasanya. Tapi, setelah bergaul dengannya, aku mulai paham kalau di dalam hatinya dia sedang bersemangat.

"Natsuki yang sekarang, kelihatan keren seperti anak band."

Ada satu kalimat itu sebelum dia pergi, dan saat aku menoleh, Serika sudah hilang.

Saat aku pulang ke rumah sambil menggendong gig bag gitar, Nanoka yang sedang makan mie instan sambil menonton acara ragam melihatku dengan wajah ketakutan, seolah melihat hantu.

"A-apa itu...? Kakak."

"Lihat saja, gitar dan peralatan lainnya."

"Bukan, kenapa tiba-tiba? Kakak tidak mungkin bisa main gitar, sudahlah hentikan saja."

"Jangan menolak mimpi orang lain sejak awal, dong."

Kakak tidak pernah mengajarimu menjadi anak seperti itu!

"Mau bikin band?"

"Yah, rencananya begitu."

"Hmm... eh! Jangan-jangan, mau konser di festival sekolah Suzunari!?"

Aku tidak kepikiran sampai ke sana. Wah, festival sekolah ya.

Seingatku, festival sekolah Suzunari diadakan akhir Oktober. Sekitar tanggal 25 atau 26.

Di panggung luar ruangan, biasanya memang ada konser dari klub musik ringan atau band sukarelawan.

Itu panggung yang sangat tepat sebagai target, tapi latihannya hanya tinggal satu bulan setengah. Sulit rasanya jika kami berpartisipasi dengan anggota yang bahkan belum lengkap.

"Aku ingin pergi ke festival sekolah Suzunari. Kalau Kakak konser, aku akan menonton."

"Untuk saat ini belum ada rencana itu, jadi jangan berharap banyak."

Nanoka bergumam, "Yah..." dengan kecewa lalu kembali menatap televisi.

Aku masuk ke kamar dan membuka barang-barang yang kubeli.

Menghubungkan gitar ke amplifier dengan kabel, lalu memetik senarnya.

Sambil menyetel nada gitar, aku mengatur volume amplifier.

Syukurlah tinggal di pedesaan. Halaman rumah yang luas dan rumah tetangga yang berjauhan membuatku tidak perlu terlalu khawatir soal kebisingan. Meskipun kalau aku main dengan suara keras, Nanoka pasti akan marah.

"Oke... wah, ternyata masih bisa main."

Aku memainkan beberapa frasa favorit yang masih kuingat.

Memang, jari-jariku belum bergerak lancar. Aku hanya perlu latihan untuk rehabilitasi.

Saat aku sedang asyik bermain, ponselku berbunyi.

Saat kuambil, ternyata ada panggilan masuk dari Hoshimiya Hikari di RINE.

"......Halo?"

'Ah, Natsuki-kun? Selamat malam.'

Mendengar suara Hoshimiya yang ceria membuat hatiku merasa sedikit bahagia.

'Tadi lagi apa?'

"Latihan gitar. Aku akan membentuk band."

Sambil menjawab, aku memetik senar gitar pelan. Suara dentuman yang lembut bergema.

'Wah, benarkah. Hebat ya. Ternyata kamu bisa main gitar.'

"Belum mahir, kok. Harus latihan lebih keras lagi mulai sekarang."

Lagi pula, menurutku Hoshimiya yang bisa menulis novel jauh lebih hebat dariku.

'Itu... Natsuki-kun, aku sama sekali tidak tahu tentang itu, lho.'

Suaranya terdengar sedikit marah.

Memang aku tidak menjelaskan pada siapa pun, tapi aku sendiri baru saja diajak dan langsung mengiyakannya.

'Aku tahu kamu suka rock. Tapi tiba-tiba membentuk band...'

"......Aku sendiri pun terkejut pada diriku. Tapi karena diajak Serika, aku jadi ingin mencobanya."

Wajar jika semua orang merasa ini mendadak. Memang benar begitu.

Mungkin, melihat penampilan Serika secara langsung sangat berpengaruh.

Aku terpesona oleh penampilan Serika. Aku ingin bisa bermain gitar seperti dia.

'Jadi, ceritanya mendadak?'

"Ya. Tapi pada dasarnya, aku memang punya keinginan untuk main band."

'Hmm... band rock, ya. Aku tidak begitu paham dunia itu.'

"Apa Hoshimiya tidak begitu suka mendengarkan musik?"

'Hmm, begitu ya. Biasanya, aku lebih sering membaca atau menulis novel.'

Bahkan di saat seperti ini, dia pasti sedang menulis novel.

Di sela suara Hoshimiya, sesekali terdengar bunyi ketukan keyboard.

"Kalau tertarik, nanti aku kenalkan lagu-lagu rekomendasi."

'Benarkah? Kalau begitu, aku ingin coba dengar.'

Karena dia pemula di dunia rock, sebaiknya tidak memberikan lagu yang terlalu keras.

Aku menulis daftar lagu favoritku yang bernada lembut... sebanyak yang aku bisa ingat.

Setelah kukirim daftar lagu lewat RINE, Hoshimiya langsung mendengarkannya.

'Wah, suaranya bergema banget ya...? Bagus, ya?'

"Tidak perlu dipaksa memuji. Selera orang beda-beda."

Belum tentu Hoshimiya suka dengan apa yang kusuka. Itu hal wajar.

'Aku tahu itu... tapi, aku ingin menyukainya.'

"......Kenapa?"

Aku tidak mengira dia begitu tertarik dengan rock.

Saat aku sedang berpikir, Hoshimiya melanjutkan dengan suara yang tenang.

'Karena aku ingin menyukai apa yang disukai Natsuki-kun.'

Napas seakan terhenti. Untuk diriku yang seperti ini, apakah Hoshimiya benar-benar memikirkannya?

'Karena itu hal yang menyenangkan, kan? Jika bisa melihat hal yang sama dan merasakan kebahagiaan yang sama.'

"......Begitu ya. Aku senang jika Hoshimiya menyukai rock."

'Bagiku, aku senang saat Natsuki-kun membaca novel kesukaanku dan bilang itu menarik. Rasanya senang bisa berbagi kesan. Jadi, aku pun ingin begitu.'

"Aku senang mendengar perasaanmu, tapi tidak perlu dipaksakan."

'Ya, aku tahu. Musik seperti ini tidak ada artinya kalau tidak tulus.'

Sambil bicara begitu, sepertinya Hoshimiya tetap mendengarkan lagu yang kurekomendasikan.

'......Ah, aku suka yang ini. Lagu "Hoshi ni Negai wo" dari Flumpool.'

"Itu bagus ya. Kalau suka itu, ini juga rekomendasi dariku. Aku kirim lewat chat."

Untuk beberapa saat, kami mengobrol tentang hal-hal kecil seperti itu.

'......Hei, Natsuki-kun, lagu seperti apa yang akan kalian mainkan?'

"Entahlah, belum tahu. Tapi karena itu Serika, pasti lagu yang kusuka."

Saat aku menjawab dengan jujur, Hoshimiya bergumam dengan suara yang terlihat cemburu.

'......Kamu sangat memercayai Serika-chan ya? Aku, sungguhan cemburu lho.'

T-tolong jangan jujur seperti itu... aku harus bereaksi bagaimana?

Saat aku bingung menghadapi kejujurannya, Hoshimiya melanjutkan, "Tapi."

'Jika itu yang diputuskan Natsuki-kun, aku akan mendukungmu.'

"......Terima kasih. Hoshimiya juga semangat ya. Sedang menulis karya baru, kan?"

'Ya. Novel yang kemarin kuberikan padamu sudah kukirim ke kompetisi penulis baru, tinggal menunggu hasil. Sambil menunggu, aku ingin membuat karya selanjutnya. ...Nanti kalau sudah selesai, boleh minta tolong baca?'

"Tentu saja. Aku menantikan karya baru Hoshimiya."

'Ahaha, senang rasanya. Aku pun menantikan band kalian.'

"Anggotanya saja belum lengkap, jangan naikkan ekspektasi terlalu tinggi begitu."

'Eh, Natsuki-kun jadi pesimis ya. Harusnya kamu bilang "serahkan saja padaku" biar kelihatan keren.'

"Argh... benar juga ya. Aku introspeksi."

Kata-kata Hoshimiya yang terdengar tulus belakangan ini selalu menembus hatiku.

Ya, benar... aku memang selalu pesimis...

Lagipula aku ragu-ragu, pengecut, dan tidak punya kepercayaan diri untuk bilang "serahkan saja padaku". Pria yang menyedihkan.

Saat aku merenung, terdengar suara tawa kecil dari telepon.

'Kamu sedang sedih, ya? Lucu deh, Natsuki-kun.'

"Aku tidak begitu senang dipanggil begitu... sebagai pria, aku ingin terlihat keren."

Lagipula, apa artinya dipanggil "lucu" oleh seorang pria?

Aku tidak tahu lagi.

"Sudah waktunya lanjut latihan gitar lagi."

'Aku juga harus mandi. Sampai di sini saja ya.'

"Ya. Sampai jumpa besok."

'Ya. ——Aku dengan novel, Natsuki-kun dengan musik. Semangat ya!'

Kami sepakat seperti itu, lalu mengakhiri panggilan.

Meskipun yang kami tuju berbeda, kami saling terhubung.

Aku melempar ponsel ke kasur dan kembali memegang gitar.

Aku ingin jadi orang yang keren.

Setidaknya, saat sedang memegang gitar ini.

Aku ingin jadi orang yang kuat yang bisa bilang aku menyukaimu tanpa ragu, dengan penuh percaya diri.

Hanya itu yang kupikirkan saat itu.

Keesokan harinya. Saat aku masuk ke kelas dengan menggendong gig bag gitar, semua tatapan tertuju padaku.

Yah, aku tidak pernah membawanya, jadi wajar jika menarik perhatian... tapi sejujurnya memalukan.

"Cocok juga ya, Natsu."

Orang pertama yang menegurku adalah Uta.

"Begitu ya?"

"Kamu sudah terlihat seperti anak band."

"Dibilang terlihat seperti anak band... entah kenapa tidak terdengar seperti pujian..."

"Ahaha, itu prasangka!"

Sambil mengobrol dengan Uta, aku duduk di bangku.

"Boleh aku lihat sebentar?"

Nanase yang tahu-tahu sudah berada di sampingku menatap gig bag itu dengan penuh rasa ingin tahu. Saat aku mengangguk, Nanase mengeluarkan gitarnya dan mulai melihatnya dengan saksama.

"Wah, keren ya... ini selera Haibara-kun?"

"Yah, aku minta saran dari Serika, tapi yang memutuskan akhirnya tetap aku."

"Aku ingin melihat Natsu bermain gitar!"

"Boleh saja, tapi tidak mungkin main di dalam kelas seperti ini. Lain kali ya."

Saat aku menjawab sambil tertawa pahit, Uta menggembungkan pipinya dengan tidak puas.

"Semuanya, selamat pagi."

Pada saat itu, Hoshimiya masuk ke kelas.

Seperti biasa, senyumnya yang bersinar menyapa semua orang.

Sambil membuat suasana kelas jadi ceria, dia mendekat ke arahku. Karena bangkunya di sebelahku.

"......Pagi, Hikarin."

"......Ya. Selamat pagi, Uta-chan."

Entah mengapa, keduanya menyapa dengan nada yang sangat aneh.

Ada sedikit perasaan tidak nyaman. Kukira hanya perasaanku saja, tapi rasanya benar-benar berbeda dari biasanya.

Keheningan yang canggung muncul, dan Nanase lah yang memecah suasana itu.

"Ngomong-ngomong, hari ini ada tes kecil matematika, ya."

"Eh!? Yang benar...?"

"Bukankah Pak Murakami sudah bilang waktu lusa kemarin?"

"Sama sekali tidak tahu... mungkin aku tadi tidur..."

"Aku tahu karena duduk di sebelahmu, tapi Hoshimiya sering tidur saat pelajaran, lho."

"Natsuki-kun jangan membocorkan informasi yang tidak perlu! Aku hanya kebetulan sedang tidur saat itu!"

Hoshimiya berteriak, lalu melirik wajah Uta.

"Uta-chan, sudah tahu?"

"Tentu saja! Meskipun aku tidak belajar!"

"Berarti sama saja dong dengan Hoshimiya... kalau hasil akhirnya..."

"Ada perbedaan besar antara tahu tapi tidak melakukan, dan sama sekali tidak tahu!"

"Apa maksudmu!? Uta-chan! Hei!"

Entah mengapa, Hoshimiya mulai menggelitik Uta yang membusungkan dada dengan penuh percaya diri.

Apakah tadi itu hanya perasaanku saja?

Uta dan Hoshimiya bermain seperti biasa.

Saat itulah, Reita dan Tatsuya muncul.

"Semangat sekali ya pagi-pagi. Aku sudah kelelahan karena latihan pagi."

Reita berkata sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk.

"Yo. Hei Natsuki, ajari aku sebentar dong. Aku lagi mengulas bagian yang dibilang penting sama si Murakami, tapi ada bagian yang kurang paham."

Dan Tatsuya yang paling serius.

"Ini di nomor 3 halaman 43, cara penyelesaiannya tidak sama dengan perhitunganku—"

Tatsuya membawa buku teks matematika ke tempatku dan mulai berbicara.

"Kami juga..."

"I-iya... ayo belajar."

Melihat keadaan Tatsuya, Uta dan Hoshimiya saling berpandangan lalu kembali ke bangku masing-masing.

Reita dan Nanase memperhatikan saat aku menjelaskan soal kepada Tatsuya.

Dua orang ini pasti menganggap tes kecil bukan masalah. Mereka bukan tipe yang lalai belajar.

"Orang bisa berubah ya."

"Mereka mencoba untuk berubah. Aku suka hal seperti itu."

Aku tidak begitu paham arti kata-katanya, tapi mereka berdua tampak saling mengerti.

Tes kecil matematika sepertinya semua orang berhasil melaluinya dengan selamat.

Setelah pulang sekolah, ada panggilan dari Serika.

"Senior Iwano bilang dia mau dengar ceritanya. Ayo kumpul."

Baru sehari berlalu, tapi tampaknya pembicaraan sudah berjalan sejauh ini.

Segera setelah aku menuju Ruang Musik II, Senior Iwano dan Serika sudah ada di sana.

Senior Iwano sedang menatap ke luar jendela dengan tangan di saku, sementara Serika sibuk menyetel gitarnya. Tidak ada percakapan di antara mereka. Ugh, suasananya sulit untuk diajak bicara...

Namun, saat aku membuka pintu, Senior Iwano menoleh ke arahku, dan Serika melambai padaku untuk mendekat.

"Anak ini yang bakal jadi vokalisnya? Menggantikan posisimu?"

"Yup. Dia lebih jago dariku. Senior Iwano juga pasti tahu kalau sudah dengar."

Ternyata Serika menggunakan bahasa santai bahkan kepada senior. Aku sempat merasa tegang sejenak, tapi Senior Iwano tampaknya tidak peduli. Mungkin dia orang yang baik, terlepas dari penampilannya yang garang.

Senior Iwano menatapku. Meneliti, seolah sedang menjilat-jilat tubuhku dengan pandangannya.

"A-aku Haibara Natsuki, siswa kelas satu."

"......Iwano Kengo, kelas dua. Aku pemain Drum."

Saat aku memperkenalkan diri, Senior Iwano pun membalas dengan biasa.

"......Yang kau bawa itu gitar? Bisa main?"

"Bisa, kurang lebih. Meskipun tidak jago-jago amat..."

Tekanan dari tatapannya luar biasa. Senior Iwano terus menatapku tanpa kata.

"......Aku segera kembali."

Singkat, padat, dan jelas. Senior Iwano keluar dari Ruang Musik II.

"A-apa maksudnya itu...?"

"Dia bilang dia mau ambil set drum dari ruang klub, jadi kita diminta coba latihan ringan dulu."

"Hanya dari satu kalimat itu, dia menyampaikan pesan sepanjang itu!?"

"Senior Iwano memang selalu bicara seadanya. Kamu akan terbiasa kalau sudah sering bersamanya."

Menurutku, Serika sendiri juga termasuk orang yang irit bicara.

Apakah karena mereka mirip, jadi bisa saling mengerti?

Apapun itu, sepertinya dia memang tertarik dengan band kami.

"Ayo, Natsuki juga segera siapkan gitarmu. Kalau ada alat yang kurang, pakai punyaku saja. Efektor ini bisa menghasilkan distorsi yang cukup enak, lho."

Saat aku bersiap untuk sesi latihan atas dorongan Serika, Senior Iwano mengangkut set drumnya sedikit demi sedikit. Terlihat cukup melelahkan. Snare drum, bass drum, tom-tom, floor tom, hi-hat cymbal, crash cymbal, ride cymbal... Set drum akustik yang biasa dipakai konser mulai tertata di Ruang Musik II.

Senior Iwano menyesuaikan posisi set, sementara aku dan Serika melakukan sound check, mengatur volume amplifier, dan melakukan tuning. Di tengah suara disonan yang tidak beraturan, Senior Iwano mulai memukul drumnya.

Dia menandai ritme dengan hitungan tiga, lalu masuk ke irama delapan ketukan (8-beat).

Serika menambahkan melodi dengan improvisasi.

Aku pun mengikuti dengan ragu menggunakan progresif kord yang aman.

Di dalam Ruang Musik II yang tadinya tenang, pusaran suara yang intens meluap.

Sebebas apa pun Serika memainkan gitarnya, Senior Iwano tetap memukul ritme dengan akurasi yang luar biasa.

Di saat yang sama, suaranya sangat bertenaga. Benar-benar dentuman drum yang penuh daya dobrak.

Sesi improvisasi seperti ini belum pernah kulakukan sebelumnya, dan ini terlalu sulit.

Bahkan saat aku melakukan kesalahan, keduanya tidak peduli dan terus bermain.

Jujur saja, aku sudah kewalahan hanya dengan mencoba mengikuti mereka.

"Natsuki, bernyanyilah."

Tiba-tiba, Serika berkata dengan singkat.

Seketika itu juga, gitar Serika mengubah suasana lagu secara drastis.

Riff lagu yang kukenal. Mengikutinya, Senior Iwano juga mengubah pola drumnya.

Aku tahu lagu ini. Taisetsu na Mono milik Road of Major. Lagu favoritku.

Meminta orang tiba-tiba bernyanyi itu terlalu tidak masuk akal, tapi tidak ada pilihan lain. Aku mulai bernyanyi tanpa mikrofon. Di tengah tekanan suara gitar dan drum yang nyaris menenggelamkan suaraku, aku memaksakan volume suaraku naik.

Aku segera sadar masalah utamanya. Bernyanyi sambil memainkan gitar ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Progresif kordnya saja masih samar di ingatanku. Tentu saja, langsung menggabungkan gitar dan vokal itu mustahil.

Begitu aku menyerah dan melepaskan tangan dari gitar, Serika langsung menyesuaikan diri. Dia memadukan bagian backing dan lead dengan sangat apik. Teknik yang luar biasa.

Setidaknya sekarang aku bisa fokus pada vokal, tapi tantangannya masih menumpuk. Berbeda dengan karaoke yang ritmenya selalu presisi, pertunjukan langsung pasti ada sedikit ketidakteraturan. Bernyanyi mengikuti itu sungguh sulit... Tapi saat kupikir begitu, justru sebaliknya, instrumen mereka yang menyesuaikan dengan nyanyianku. Oh, ternyata dalam pertunjukan langsung hal seperti ini bisa dilakukan, ya. ...Apa ini, menarik sekali?

Rasanya mulai menyenangkan.

Setelah menyelesaikan Taisetsu na Mono dengan volume suara maksimal, Senior Iwano melakukan drum fill, dan Serika memetik senar terbuka sebelum meredamnya untuk mengakhiri lagu. Ruang Musik II seketika diselimuti kesunyian.

Hanya suara napasku yang terengah-engah yang bergema.

"......Hondo tidak asal bicara ternyata, tapi permainan gitarmu masih jauh."

Senior Iwano memutar stik drumnya dan berdeham.

"Tapi, potensi pengembangannya terasa, kan? Baik gitar maupun vokalnya. Aku suka suara Natsuki. Meski high-tone voice-nya jernih, ada kekuatan khas anak laki-laki, dan suaranya bergema dengan berat."

"Memang benar, untuk lagu yang kau buat, suara anak ini mungkin lebih cocok."

"......Ya. Untuk laguku, suaraku terlalu ringan. Yah, itu juga karena aku memang kurang jago, sih."

"Hondo. Aku mengerti apa yang ingin kau katakan. Tapi, apa kau yakin dengan keputusan ini?"

Aku tidak bisa mengikuti percakapan mereka.

Mungkin karena sesama anak klub musik ringan, mereka punya sejarah panjang di balik interaksi ini.

Menanggapi pertanyaan tajam Senior Iwano, Serika mengangguk mantap.

"Tidak apa-apa. Untuk musikku, aku tidak perlu menyanyi sendiri. Akhirnya aku sadar akan hal itu."

Mendengar kata-kata Serika yang seperti sudah membulatkan tekad, ingatan saat di tempat karaoke tiba-tiba melintas di otakku.

'Seri juga sering jadi vokalis, kok.'

Mungkin di band yang dia bentuk selama ini, dia selalu jadi gitaris sekaligus vokalis.

Serika yang seperti itu kini mendengar suaraku dan memintaku menjadi vokalis.

Aku baru menyadari betapa berat arti kata-kata itu. Vokalis adalah wajah dari sebuah band. Sehebat apa pun Serika bermain, jika aku bernyanyi dengan buruk, itu akan menjatuhkan nilai lagunya.

Aku senang dia berharap padaku.

Tapi, bisakah aku benar-benar melakukannya?

...Jangan ragu, Natsuki. Bukankah kau memutuskan untuk melakukannya karena kau memang ingin?

Kalau sekarang payah, ya tinggal jadi lebih jago.

Vokal atau gitar, aku hanya perlu berlatih sekuat tenaga. Kalau tidak, aku tidak akan bisa mengikuti Serika.

"Ayo lakukan, Senior Iwano. Lagipula, aku suka permainan drum senior."

Mengakhiri pembicaraan, Serika mengajak Senior Iwano dengan nada bicara seperti biasanya.

Senior Iwano terdiam dan menatap ke luar jendela. Langit sudah diwarnai cahaya matahari terbenam.

...Tadi Serika bilang dia pernah ditolak sekali. Apakah ada alasan yang membuat Senior Iwano tidak bisa bergabung?

Setidaknya selama sesi tadi, dia tampak senang saat memukul drum.

Bahkan untukku yang baru bertemu dengannya, hal itu sangat terlihat. Senior Iwano dan Serika sama-sama irit bicara dan sulit ditebak ekspresinya, tapi suara instrumen mereka berbicara dengan sangat fasih mengenai emosi mereka.

"Senior Iwano. Aku juga, ingin bermain bersama Senior."

Jujur saja, sebelum bermain bersama tadi, aku tidak berpikiran begitu. Kesan sulit didekati masih mendominasi. Tapi sekarang berbeda. Karena aku tahu dia adalah orang yang memukul drum dengan penuh semangat seperti itu.

"......Kalau kita bermain bersama, hanya sampai tahun ini saja. Setelah itu tidak bisa lanjut."

"Tidak apa-apa. Target kita adalah festival sekolah."

...Begitukah? Padahal itu informasi baru bagiku.

Festival sekolah tinggal satu setengah bulan lagi, apakah itu mungkin?

Melihatku yang ternganga, Serika memiringkan kepalanya dengan heran.

"Memangnya belum kuberitahu? Kita akan konser di festival sekolah nanti."

"Padahal tinggal satu setengah bulan lagi, lho?"

"Kalau anggotanya lengkap, pasti bisa teratasi."

Aku menangkap maksud tersiratnya, yaitu 'kalau berlatih sampai mati'.

"Natsuki juga ingin, kan? Ini kesempatan buat pamer keren di depan gadis yang kau sukai, lho."

"......Ya, kalau kita bisa membuat suasana ramai dengan lagu kita, pasti bakal keren sih."

Pemandangan itu pasti sangat mendekati masa muda penuh warna yang kuincar.

Meskipun, tingkat kesulitannya jauh di atas rintangan yang pernah kuhadapi sebelumnya.

Ini bukan di manga atau anime. Di festival sekolah nyata, konser band SMA yang sangat ramai dan sukses itu jarang terjadi. Masalahnya ada pada kualitas penonton yang tidak terbiasa menonton konser, masalah perangkat akustik panggung, dan tentu saja kualitas band itu sendiri.

"......"

Selama kami bicara seperti itu, Senior Iwano tetap bungkam.

"Kenapa kalaupun mau dilakukan, hanya sampai tahun ini?"

"......Tidak seperti kalian, aku kelas dua. Tahun depan aku harus fokus belajar untuk ujian masuk universitas."

Menanggapi pertanyaanku, jawaban itu terlontar pelan.

Itu memang benar. Semester tiga kelas dua sering disebut sebagai 'semester nol' bagi kelas tiga. Kalau mau masuk universitas bagus, melakukan kegiatan band setelah tahun depan memang sulit.

"Senior Iwano mengincar fakultas kedokteran."

...Begitu ya. Kalau begitu, memang tidak bisa dicapai dengan belajar setengah hati.

"Nilainya pun peringkat satu di kelas dua, lho. Padahal kelihatannya begitu, kan?"

"Apa maksudmu dengan 'kelihatannya begitu'. Dari sudut pandang mana pun, aku ini serius, bukan?"

Senior Iwano membela diri dengan wajah cemberut menanggapi Serika yang kelewat blak-blakan.

Jujur saja, aku tidak bisa setuju dengan keduanya, jadi aku hanya menyunggingkan senyum basa-basi untuk mencairkan suasana.

Tetap saja, kedokteran ya. Passing grade sekolah ini memang salah satu yang tertinggi di provinsi, tapi bukan yang teratas. Siswa yang bisa masuk kedokteran bisa dihitung jari. Bisa dibayangkan betapa sulitnya itu.

"......Kedua orang tuaku adalah dokter."

Alasan yang berat pun terungkap.

"Aku juga harus menjadi dokter. Jadi aku tidak boleh tersandung hanya karena ujian masuk. Tapi otakku bukan tipe yang jenius. Melakukan dua hal sekaligus secara setengah-setengah tidak akan berhasil."

"......Tapi, senior ingin melakukannya, kan? Makanya wajah senior terlihat sesakit itu."

Serika menunjukkannya dengan lugas, tapi... bagiku, wajah Senior Iwano tampak seperti biasanya, selalu cemberut. Apakah orang-orang yang akrab dengannya bisa melihat perubahan sekecil itu?

"Aku merasa sudah terlambat. Setelah kakak kelas lulus dan band lamaku bubar, tidak ada yang mengajakku bergabung. Mungkin karena mereka bisa melihat kondisiku dan mencoba menjaga perasaanku?"

"Tidak, sama sekali tidak. Semua orang cuma takut saja sama senior. Terutama anak kelas satu, reputasi senior buruk lho. Awalnya aku juga begitu, tapi setelah mendengar drum senior, pemikiranku berubah."

Mendengar ucapan Serika yang terlalu jujur, Senior Iwano tertegun sampai-sampai suara efek 'Jreng!' seolah terdengar di atas kepalanya. Melihatnya terkejut separah itu, aku jadi yakin bahwa perubahan ekspresinya memang terlihat jelas bagi orang lain.

Mungkin itu informasi yang lebih baik tidak diketahui oleh yang bersangkutan, ya...?

Berdeham pelan untuk mengubah suasana, Senior Iwano berkata.

"Aku menyukai gitarmu, dan lagu-lagu yang kau buat. Aku tertarik dengan jalan yang kau tempuh."

Justru karena itu, lanjutnya.

"Aku takut kalau aku membentuk band denganmu, aku akan terus terbawa arus. Aku takut aku akan menyerah mengejar kedokteran dan malah terjun ke dunia musik. Itu... menakutkan bagiku."

"Senior, tumben sekali bicaranya panjang lebar?"

"......Karena ini perasaan jujurku. Kalau bisa, aku tidak ingin menunjukkan kelemahan seperti ini."

Keheningan membentang di antara Serika dan Senior Iwano.

"——Kalau begitu, sampai festival sekolah saja."

Tak lama kemudian, Serika memproklamirkan seolah membulatkan tekad.

"Sekitar satu setengah bulan lagi dari sekarang? Ayo kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Sampai penyesalan pun menghilang. Kita buat penampilan terbaik di panggung festival sekolah, lalu akhiri semuanya."

"Kenapa sampai segitunya... kenapa harus aku? Masih banyak pemain drum lain, kan? Kalau tidak terbatas di sekolah ini saja, kemampuan Hondo pasti bisa menemukan banyak pemain yang lebih jago dariku."

"Aku mengajakmu karena aku terpesona dengan drum milik senior. Tidak masalah kalau hanya sementara. Bahkan dalam waktu singkat pun, aku ingin bermain bersama... Senior Iwano, dan Natsuki yang ada di sini."

Kalimat itu penuh gairah, seolah pengakuan cinta.

Aku jadi paham betapa seriusnya Serika terhadap musik.

"......Mengerti. Sampai festival sekolah, ya."

Seolah sudah membulatkan tekad, Senior Iwano mengangguk.

Serika memasang senyum penuh kepuasan dan mengangkat kedua tangannya.

Saat aku masih bingung, Serika mengerutkan kening dengan tidak puas.

"Apa yang kau lakukan? Ayo, high-five."

"H-high-five...?" kataku sambil mengangkat tangan. Serika langsung menepukkan tangannya dengan kuat. Suaranya terdengar nyaring. Lalu, dia berputar-putar seperti sedang berdansa.

Tampaknya dia sangat senang.

"Terus? Vokal, gitar, dan drum sudah lengkap... bagaimana dengan bass?"

"Aku hanya ingin bermain dengan kalian berdua. Sisanya belum ada rencana. Tapi katanya Natsuki punya kenalan pemain bass. ...Itu kan pembicaraannya?"

"Ya, tapi itu cuma rencana untuk mengajak, jadi jangan berharap terlalu tinggi."

"Sekadar mengingatkan, kalau mau tampil di festival sekolah, harus siswa sini."

"Itu tidak masalah. Tapi senior tahu tidak? Namanya Shinohara-kun."

Meski sudah menduga jawabannya, aku tetap bertanya. Seperti dugaanku, Senior Iwano hanya memiringkan kepala dengan wajah cemberut.

"......Siapa itu? Dia anak klub musik ringan?"

Hahaha, aku tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan untuk saat ini.

Tiga hari kemudian. Hari kerja yang panjang berakhir, dan hari Sabtu pun tiba.

Saat aku sedang bekerja paruh waktu di Kafe Males, bel tanda pelanggan masuk berbunyi.

"Selamat datang!"

Nanase yang bertugas di bagian depan merespons, dan aku yang bertugas di dapur melihat ke arah pintu dari balik meja kasir.

"Halo, Yuino."

Di sana berdiri Serika dengan pakaian kasual. Biasanya rambut panjangnya yang cokelat diikat side-tail ke kanan, dengan baju rajut yang sedikit terbuka di bahu dan rok mini yang sangat pendek. Aku jadi bingung harus melihat ke mana.

"Oh? Bukannya Serika? Apa ada urusan dengan Haibara-kun?"

"Hmm, bisa dibilang begitu, bisa juga tidak."

"......? Aku tidak paham, tapi silakan duduk ke sana ya."

Mengikuti Nanase dari belakang, Serika menoleh ke kiri dan kanan sampai menemukanku, lalu melambai kecil. Tolong hentikan gerakan imut yang biasa saja itu. Licik sekali wanita ini...

"......Eh? I-itu Hondo-san. Dia datang ke kafe ini ya."

Shinohara-kun yang sedang mencuci piring di sampingku tampak terkejut.

Sambil memperhatikan kondisi Shinohara-kun, aku melihat jam. Sudah lewat jam dua belas siang.

Shift-ku dan Shinohara-kun akan segera berakhir. Aku sengaja memanggil Serika di waktu itu. Aku sadar, untuk merekrut orang, karisma Serika jelas sangat dibutuhkan.

"......O-oh ya, Haibara-kun. Akhir-akhir ini kalau ke sekolah, kamu selalu menggendong gitar, ya?"

"Eh, rumah kelas kita jauh, kok bisa tahu?"

Jujur saja, memanggul gitar yang bahkan belum jago-jago amat itu memalukan sekali.

Kalau sudah jago, aku bisa lebih percaya diri, jadi aku ingin cepat mahir...

"Anak-anak perempuan di kelas membicarakannya, dan aku sendiri juga melihatnya. Apa mungkin, masuk klub musik ringan?"

"......Mungkin saja masuk, tapi sampai saat ini aku belum tahu."

Kalau anggota band sudah lengkap, tidak masuk klub pun tidak masalah.

"Bisa main gitar?"

"Sedikit. Tapi, belum jago kok."

"T-tapi itu hebat. Kamu bisa belajar, olahraga, dan main gitar juga ya."

Shinohara-kun menatapku dengan tatapan yang semakin terlihat seperti pemujaan, dan itu menakutkan.

Bagaimana caranya supaya penilaiannya terhadapku turun, ya?

"Aku tidak sekeren itu. Reputasiku dilebih-lebihkan, jadi seram sendiri."

"B-bahkan, kamu rendah hati... sama seperti rumornya..."

S-sial! Apa pun yang kukatakan, semuanya diartikan ke arah yang positif!

Saat aku sudah menyerah untuk menjatuhkan reputasiku sendiri, jarum jam menunjuk ke atas.

"Yo, anak-anak. Ganti shift. Kerja bagus."

Mitsuno-san, ketua shift paruh waktu, muncul dari ruang istirahat dan menepuk bahu kami.

"Kerja bagus."

"T-terima kasih banyak... maaf ya..."

"Oh, kerja bagus. Kenapa minta maaf? Shinohara memang lucu, ya."

Saat kami kembali ke ruang istirahat untuk berganti pakaian, Shinohara-kun masih terus menundukkan kepala.

"Shinohara-kun, setelah ini ada waktu sebentar?"

"E-eh!? Maaf! Apa aku melakukan kesalahan...?"

Aku mencoba bertanya selembut mungkin, tapi dia malah jadi sangat waspada.

"Bukan, bukan begitu. Aku cuma mau tanya, maukah kamu bergabung dengan band kami?"

"A... begitu ya. Syukurlah... eh? Eh? B-band? Bersama kalian?"

"Iya. Anggotanya aku, Serika di sana, dan Senior Iwano dari klub musik ringan."

Setelah kujelaskan singkat, Shinohara-kun tertegun dengan mata terbelalak.

"E-EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!?!"

Lalu, dia berteriak dengan suara aneh yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Kami berdua duduk di depan kursi empat orang yang sudah diduduki Serika.

Menyadari keberadaan kami, Serika melepas earphone-nya.

"Lagi dengerin musik?"

"Yggdrasil-nya Bump. Album legendaris yang wajib didengar seluruh umat manusia."

"Aku tahu. Apa pun yang didengar, ujung-ujungnya pasti balik ke lagu itu."

Nanase datang membawakan minuman untuk kami saat pembicaraan kami sedang asyik.

Aku memesan kopi hitam, dan Shinohara-kun memesan caffe latte.

"Rapat band?"

"Lebih tepatnya, perekrutan Shinohara-kun."

Shinohara-kun yang tadinya kaku karena gugup tiba-tiba tersentak.

"Ngomong-ngomong, Shinohara-kun juga anak klub musik ringan ya."

"Iya. Memang benar, rasanya pernah lihat beberapa kali di ruang klub... mungkin?"

"Oi, setidaknya yakinlah saat bicara begitu."

Mendengar kata-kata Serika yang seperti biasa tidak punya kepekaan, aku buru-buru menimpali.

"T-tidak... maaf, keberadaanku kurang terlihat..."

Hahaha, Shinohara-kun tertawa getir. M-matanya kosong!

"Kami lagi cari pemain bass yang pas."

Serika bicara blak-blakan. Oi, jangan pakai kata sifat yang aneh-aneh!

"Siswa di sini, tidak ikut band lain, dan berpengalaman main bass."

"......Kalau syarat itu, memang cocok sih. Karena aku cuma orang buangan di klub musik... hahaha..."

Aku ingin dia berhenti mengejek diri sendiri terus, karena responnya jadi susah!

Aku teringat diriku yang dulu, saat aku mengatakan sesuatu, orang-orang di sekitar hanya tertawa getir.

Ternyata perasaan mereka dulu seperti ini ya... melakukan ejekan diri berlebihan itu tidak baik, lho.

"Shinohara-kun... ya? Kalau tidak keberatan, mau masuk band kami? Baru terbentuk, belum ada namanya sih. Kami berencana untuk konser di festival sekolah."

"Terima kasih sudah mengajakku, tapi... apa boleh aku bergabung? Aku tidak terlalu jago. Jujur saja, bukankah level permainanku tidak sebanding dengan Hondo-san...?"

"Aku paham kekhawatiranmu, tapi aku juga di posisi yang sama. Ayo berjuang bersama."

"Haibara-kun itu jenius... sebentar lagi pasti aku bakal ditinggal..."

"Oi, tidak begitu dan jangan terlalu negatif."

"M-maaf... ini memang sifat asliku... hahaha..."

Hanya di sekitar Shinohara-kun, atmosfer terasa suram.

Melihatnya seperti itu, Serika berkata dengan nada bicara santai.

"Coba saja dulu, tidak mau? Kalau memang tertarik, coba dulu baru dipikirkan."

Benar juga. Mencoba dulu sepertinya pilihan terbaik bagi kedua belah pihak.

Setelah menatap ke sana kemari dengan gelisah, Shinohara-kun tiba-tiba menghabiskan caffe latte-nya dalam satu tegukan.

"——A-aku mau! Bolehkan? Kalau memang aku yang dicari!"

Karena jawabannya yang tiba-tiba keras, pelanggan di sekitar menoleh ke arah kami.

Aku tersenyum dan mengiyakan, sementara Serika memberikan jempol tanpa kata.

Vokal, gitar, bass, drum. Dengan begini anggota band akhirnya lengkap.

Anggota yang terkumpul benar-benar punya karakteristik yang kuat. Meski cemas, perasaan antusias justru lebih besar.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close