Chapter 1
Palsu
Liburan
musim panas yang menyenangkan telah usai, dan semester dua pun dimulai.
Panasnya musim
panas masih terasa. Suhu tanggung yang membuatku bingung apakah harus
menyalakan AC atau tidak ini justru menyiksa.
Beberapa guru
bahkan ada yang mencoba bertahan hanya dengan kipas angin…… sambil
memperhatikan teman-temanku yang lemas karena kepanasan, aku mengipasi wajah
dengan penggaris plastik.
Akhirnya, guru
Sejarah Dunia yang menyadari keadaan kami menyalakan AC sambil berkata,
"Maaf, maaf. Panas, ya."
Bagus, aksi
"kita kepanasan" sukses! Angin sejuk dari AC terasa sangat melegakan.
Ternyata ada
gunanya aku sengaja mengipasi dengan penggaris sampai berisik begitu…… saat aku
puas dengan pencapaianku, Uta yang duduk di kursi depan diagonal memberikan
jempol secara diam-diam.
Uta tadi
sempat berbisik "panas..." dan melakukan segala cara untuk
mendinginkan diri. Ini adalah kemenangan berkat kerja sama tim kami!
Suara
kapur yang beradu dengan papan tulis terdengar ritmis.
Guru Sejarah
Dunia yang teliti menuliskan penjelasan yang rapi di papan tulis, dan kami pun
menyalinnya ke buku catatan.
Guru ini biasanya
menuliskan poin-poin utama di papan tulis lalu menghabiskan sisa waktu untuk
menjelaskan. Saat aku sedang tekun menggerakkan pensil, tiba-tiba pundakku
ditepuk.
Di sampingku,
Hoshimiya menatapku dengan wajah menyesal.
"Maaf, boleh
pinjam penghapus?"
Kepada Hoshimiya
yang meminta dengan kedua tangan dirapatkan, aku menyerahkan penghapusnya.
Sambil memandangi
profil wajah Hoshimiya yang sibuk menggosok buku catatannya dengan penghapus,
aku diam-diam merasa sangat bahagia.
Saat memasuki
semester dua, ada perombakan tempat duduk. Hasilnya, aku mendapatkan posisi
dewa: baris kedua dari belakang di dekat jendela.
Apalagi, teman
sebangkuku adalah Hoshimiya Hikari. Sebagai gantinya, aku jadi cukup jauh dari
teman-teman yang lain.
Uta berada dua
baris di depan diagonal, Tatsuya dan Reita duduk di baris tengah, dan Nanase
berada di baris dekat koridor, benar-benar berlawanan arah denganku.
Meski begitu,
selama di samping Hoshimiya, aku tidak punya keluhan.
Saat aku melamun
memikirkan hal itu sambil memandangi profil wajahnya, Hoshimiya mendongak dan
mata kami bertemu seolah dia menyadari tatapanku.
Mata Hoshimiya
berkedip-kedip, dan entah mengapa pipinya memerah.
Saat aku berpikir
dia lucu, dia malah melirikku dengan tatapan tidak puas.
"Perasaan
macam apa itu?"
Saat aku
memiringkan kepala dengan bingung, Hoshimiya mengerucutkan bibirnya lalu
mencolek pinggangku.
"Jadi,
perasaan macam apa itu sebenarnya!?"
Nyaris saja suara
anehku menggema di ruang kelas yang hening……
Lalu Hoshimiya
berbisik, "……terima kasih," sambil mengembalikan penghapusku.
Sambil membatin
"sebenarnya tadi itu emosi apa...", aku mengembalikan pandangan ke
papan tulis. Guru Sejarah Dunia menatap kami secara terang-terangan dengan
wajah lelah.
Aku buru-buru
membetulkan posisi dudukku. Setelah itu aku mendengarkan pelajaran dengan serius hingga bel
berakhir.
Pelajaran Sejarah
Dunia ternyata menarik kalau didengarkan dengan benar. Rasanya seperti membaca
novel panjang yang megah.
Saat aku sedang
merenggangkan tubuh yang kaku, Hoshimiya di sampingku menatap lekat.
"Ada
apa?"
Saat aku
bertanya, Hoshimiya mengedipkan matanya.
"……Tidak ada
apa-apa, sih."
"Tadi pas
pelajaran, kamu mencolek pinggangku, kan."
"Itu…… karena Natsuki-kun terus menatapku
lekat-lekat……"
Hoshimiya memalingkan wajah, tapi telinganya memerah. Tidak peduli bagaimana pun dilihat, dia
pasti sedang malu.
Akhir-akhir ini, reaksi Hoshimiya terasa sangat…… entahlah,
sangat mudah ditebak.
"Seperti di
malam saat bulan purnama terlihat."
Biasanya aku akan
memperingatkan diriku sendiri agar tidak ke-GR-an, tapi karena aku sudah tahu
perasaan Hoshimiya, aku tahu ini bukan sekadar salah paham. Hoshimiya pun
mungkin tidak berniat menyembunyikannya terlalu dalam.
"Kelas hari
ini akhirnya selesai juga, ya."
"Benar.
Akhirnya suasana libur musim panas sudah hilang."
"Eh, aku
masih belum bisa melupakannya. Aku ingin liburan musim panas terus……"
"Soal itu, aku juga sih."
"……Perjalanannya
menyenangkan, ya. Aku ingin pergi lagi."
"Setuju.
Mungkin liburan musim dingin nanti? Ski, atau mungkin pemandian air
panas?"
"Wah, ski
sepertinya seru! Tapi aku takut kalau jatuh nanti malah luka parah……"
"Ya,
setidaknya aku bisa mengajarimu sedikit…… eh, maaf. Sepertinya tidak bisa
ya."
"Hei, jangan
menyerah begitu saja!"
Melihat kemampuan
atletik Hoshimiya saat acara olahraga, sulit untuk mengatakan dengan mudah
kalau akan baik-baik saja. Waktu kuliah dulu aku sesekali bermain ski, tapi aku
tidak cukup ahli untuk mengajarinya.
"Natsuki-kun,
hari ini mau ke mana?"
Hoshimiya
bertanya seolah ingin mengganti topik.
"Sepulang
sekolah, aku ada kerja paruh waktu."
"……Ja-jadi,
kita pulang bareng sampai ke tempat kerjamu, mau?"
Mendengar
ajakan Hoshimiya yang tampak tegang, aku terpaku.
"……Maaf,
hari ini orang di tempat kerja kurang, jadi rencanaku mau langsung bergegas ke
sana setelah sekolah selesai."
"Oh, begitu ya. Ya sudah, tidak apa-apa. Jangan
dipikirkan."
Hoshimiya memberikan senyum basa-basi, dan keheningan
canggung menyelimuti kami berdua.
……Aku tidak berbohong. Hari ini manajer toko memintaku untuk
datang lebih cepat.
Namun, tentu saja dia juga bilang kalau sekolah tetap
prioritas. Sebenarnya tidak masalah jika aku jalan menuju tempat kerja sambil
mengobrol dengan Hoshimiya. Dengan
kata lain, aku memang sengaja menolaknya.
Padahal itu
ajakan dari Hoshimiya yang sangat kusukai…… ada apa denganku?
Dalam kondisi di
mana aku belum bisa menata perasaanku sendiri, aku merasa sedikit takut untuk
berduaan saja dengan Hoshimiya.
Hoshimiya…… dan Uta, keduanya terus mengajakku berduaan
dengan aktif. Setiap kali itu
terjadi, aku selalu mencari alasan untuk menghindar. Itu bukan karena aku punya
rencana tertentu, melainkan tindakan refleks.
——Padahal aku
sangat senang karena mereka berdua punya perasaan padaku.
Senang, tapi
entah mengapa menakutkan. Emosi yang saling bertentangan itu berputar di dalam dadaku.
"Hah……"
Jam
istirahat. Aku duduk di tangga luar di balik gedung sekolah yang sepi, lalu
menghela napas.
Tempat
ini gelap, lembap, dan sunyi senyap. Tempat seperti ini terasa sangat
menenangkan.
Ya, ini
adalah tempat di mana diriku yang sebelumnya sering makan siang sendirian.
Sejak aku mengulang waktu, aku tidak pernah ke sini, tapi entah mengapa kakiku
melangkah ke sini.
Saat aku
sedang mengunyah roti yang kubeli di kantin, telingaku menangkap suara langkah
kaki yang mendekat, lalu aku menoleh ke arahnya.
"Eh?
Natsuki. Sedang apa di tempat seperti ini?"
Sosok
yang menatapku dengan wajah polos itu adalah Serika.
"Seperti
yang kau lihat, aku sedang makan."
"Di
tempat seperti ini?"
"Sesekali
aku memang ingin menyendiri."
Sambil
menjawab begitu, sejujurnya aku tidak ingin dilihat oleh kenalanku.
Serika
menggumam "Hmm," dengan nada tak tertarik, lalu menatap pepohonan di
dekat situ dengan lekat.
"Kalau
Serika sendiri, kenapa di sini?"
"Mencari
kumbang badak, mungkin?"
"Hah?"
Anak ini
sebenarnya sedang bicara apa?
"Kenapa
harus kumbang badak?"
"Di
pepohonan belakang sekolah, ada cukup banyak."
"Bukan itu
maksudku, kenapa kau mencarinya?"
"Karena
kalau menemukannya, rasanya menyenangkan."
……Ti-tidak
bisa! Obrolan ini rasanya nyambung tapi tidak nyambung!
Akhir-akhir
ini aku memang sudah cukup akrab dengan Serika, tapi aku tetap tidak bisa
memahami jalan pikirannya.
"Tapi
karena sekarang bulan September, jumlahnya jadi berkurang, ya. Sekilas lihat,
tidak ada."
Serika
berkeliaran di sekitar pepohonan dengan wajah yang tampak kesulitan.
Entah karena
sudah bosan setelah tiga menit, Serika duduk di sampingku.
"……Hei,
tempat ini sempit, tahu."
Tangga luar ini
hanya selebar satu orang, jadi kakiku dan pinggangku benar-benar bersentuhan
dengannya. Serika melihat ekspresiku yang canggung, lalu terkikik geli.
"Boleh aku
naik satu anak tangga ke atas?"
Saat aku
mengangguk sambil mengunyah roti, Serika naik satu tingkat dan duduk dengan
posisi seolah menjepit tubuhku di antara kakinya. Di kiri dan kanan tubuhku ada
kaki Serika yang ramping dan indah.
Oh? Saat aku
mengangguk tanpa berpikir, bukankah ini…… jika aku menoleh ke belakang, aku
bisa melihat celana dalamnya?
Serika adalah
salah satu siswi di sekolah ini dengan rok paling pendek…… Tidak, tidak, Natsuki, tenanglah.
Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.
Saat aku
terus memakan roti dengan pikiran kosong, kepalaku diusap dengan lembut.
"Wah, tatanan rambutmu masih rapi, ya."
"Sial, ya...
sedikit. Jadi, jangan terlalu sering menyentuhnya."
Setiap
pagi, aku memang selalu meratap di depan cermin. Ini adalah hasil dari
penyesuaian yang sangat detail.
Namun,
Serika mengabaikan kata-kataku dan malah seenaknya mengacak-acak rambutku
hingga berdiri. Hei, hentikan
itu.
"Ada masalah
apa?"
Serika bertanya
dengan nada bicara yang datar.
"……Tidak ada
apa-apa, kok."
"Kalau
tidak ada apa-apa, kamu tidak akan datang ke tempat seperti ini, kan? Aku pun
begitu."
Kata-katanya yang
seolah bisa membaca pikiranku membuatku kehilangan kata-kata untuk menyanggah.
"……Apakah
Serika punya kekhawatiran?"
"Mana
mungkin tidak ada. Apa jangan-jangan, kamu sedang meremehkanku?"
Setelah
berkata begitu, Serika menatap ke langit. Ekspresinya terlihat seolah dia akan menangis.
"Aku pikir,
Serika bisa melakukan segalanya dengan baik."
"Sama sekali
tidak. Banyak hal yang tidak berjalan lancar. Bahkan kemarin pun……"
Serika
menggelengkan kepalanya seolah ingin memotong ucapannya sendiri. Bahkan Serika
yang selalu santai pun sepertinya menyimpan beban pikiran. Mungkin dia hanya
jarang memperlihatkan emosinya saja.
"Kalau kamu
sendiri bagaimana, Natsuki?"
"……Kalau
dipaksa menjawab, aku muak dengan diriku sendiri yang tidak tegas."
Setelah
mengucapkannya, baru kali ini aku benar-benar sadar.
Mungkin bisa
dikatakan bahwa aku akhirnya berhasil mendefinisikan emosi keruh yang selama
ini berputar-putar di dalam dada.
"Dengan
Uta dan Hikari-chan?"
"……Apa-apaan
itu, kamu sudah tahu semuanya?"
"Yah, aku
bisa tahu kalau melihat sikapmu saat perjalanan wisata kemarin. Aku juga sudah
dengar cerita dari Miori. Jadi?"
"……Jujur
saja, aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Kamu
plin-plan ya. Itu masalah cowok populer."
Aku tahu
ini masalah yang tergolong mewah. Aku memang ingin disukai oleh gadis-gadis,
dan aku telah berusaha untuk itu. Jadi, situasi saat ini bisa dibilang sesuai
dengan apa yang aku inginkan.
Namun,
aku tidak terlalu memahami arti dari seseorang yang menaruh perasaan padaku.
Karena seumur hidup, aku belum pernah disukai oleh gadis sebelumnya. Aku hanya
menganggap perasaan orang lain berdasarkan bayanganku dari anime atau manga.
Namun, ini adalah dunia nyata. Aku tidak bisa membiarkan kondisi ini
berlarut-larut.
Setelah mereka
berdua menyatakan perasaan mereka dengan jelas, aku harus memberikan jawaban.
Singkatnya, aku
harus memilih salah satu dan menolak yang lainnya.
Memikirkan hal
itu membuat perasaanku terasa berat.
Aku menyukai
mereka berdua. Jadi, aku tidak ingin melihat wajah sedih mereka.
"Yah, aku
mengerti. Menghadapi perasaan yang tidak bisa kita balas itu cukup menyakitkan
bagi kita juga, kan?"
Serika
bergumam dengan suara yang terdengar kesepian. Mungkin dia punya pengalaman serupa. Aku tahu dia
populer di kalangan cowok berkat parasnya yang cantik dan sifatnya yang luwes
bergaul dengan siapa saja.
"Lagipula,
belum tentu kita bisa tetap berteman setelah menolak mereka."
"……Benarkah
begitu?"
"Meskipun
kita bilang ingin tetap berteman, kenyataannya tidak semudah itu. Hubungan jadi
canggung, lama-lama jadi jarang bertemu, berhenti berkomunikasi, dan suatu saat
bahkan tidak bertegur sapa lagi……"
Serika meletakkan
dagunya di atas kepalaku. Wah, jarak kita benar-benar terlalu dekat secara
alami. Inikah yang namanya seorang gyaru?
"Kalau dalam
kasusmu, Natsuki, karena kita satu kelas dan satu grup, mungkin saja masih bisa
baik-baik saja."
"……Seandainya
aku memberikan jawaban dan mulai berpacaran dengan salah satu dari mereka,
apakah pihak yang tidak terpilih masih mau berada di grup yang sama? Atau
jangan-jangan, aku terlalu percaya diri?"
"Yah, kalau
mereka bermesraan secara terang-terangan di depanmu, pasti menyakitkan, kan?
Tapi kalau aku, aku akan mencoba menerima kenyataannya. Bagiku, grup pertemanan
kita juga penting."
Tapi, entahlah…… lanjut Serika.
"Perasaan
mereka berdua sepertinya cukup berat…… jadi aku tidak tahu."
Aku membayangkan
hal itu terjadi. Aku
tidak ingin grup kami saat ini berantakan.
"Begitu
ya. Jadi Natsuki tidak ingin merusak hubungan yang sekarang?"
"……Yah,
tentu saja, karena rasanya nyaman. Aku ingin selamanya berteman dengan kalian
semua."
"Kamu ini,
terlalu serius kalau soal teman, Natsuki."
"Bawel.
Temanku kan tidak banyak."
"Lagipula,
semuanya akan berjalan dengan sendirinya, kan? Ada pepatah yang bilang
begitu."
"Eh…… apa tidak apa-apa kalau begitu?"
"Tidak
apa-apa. Karena itu—Natsuki, sebaiknya jujurlah pada perasaanmu sendiri.
Daripada memikirkan hal-hal yang tidak perlu, itu mungkin akan lebih baik bagi
semua orang. Lagipula, pada akhirnya, hanya itu yang bisa kamu lakukan."
……Jujur pada
perasaan sendiri, ya. Itu bagian yang paling sulit.
Saat ini berbagai
emosi bercampur baur dengan rumit, bahkan aku pun tidak memahami perasaanku
sendiri.
Apa yang
sebenarnya ingin kulakukan? Apa yang ingin kupilih?
"Wajah suram
seperti itu akan membuat semangatmu hilang, tahu. Ayo ceriakan dirimu."
Serika mengikuti
irama lagu di pundakku dan mulai bernyanyi secara acak sebuah lagu yang tidak
kukenal.
Melihat Serika
yang santai, aku tersenyum getir namun merasa sedikit terhibur. Sejujurnya,
saat ini hatiku justru merasa lebih tenang saat menghabiskan waktu bersama
Serika atau Nanase daripada bersama Hikari atau Uta yang sangat kusukai.
"Pastikan
tidak ada penyesalan, ya."
Saat bel akhir
jam istirahat berbunyi, Serika mengatakan hal itu lalu pergi meninggalkanku.
*
Sepulang sekolah.
Karena sudah terlanjur bicara begitu pada Hikari, aku segera meninggalkan
sekolah dan berjalan menyusuri jalan pulang.
Dari earphone
yang kukenakan, mengalun musik band. Lagu rock yang intens dengan lirik yang
mendorong untuk terus maju. Itu adalah lagu MEMENTO milik BLUE ENCOUNT.
Saat
suasana hatiku berat, mendengarkan musik sedikit membantu.
Ini
adalah salah satu lagu dari playlist "Pembangkit Semangat"
yang dikirim Serika lewat RINE. Karena kami menggunakan aplikasi musik
yang sama, aku bisa langsung mendengarkannya hanya dengan sekali ketuk.
Selera
musikku mirip dengan Serika. Aku menyukai semua lagu yang ia rekomendasikan.
Aku tiba di
tempat kerja paruh waktuku di depan stasiun, kafe Mares, lalu membuka pintu
masuknya.
Suara
denting lonceng menandakan kehadiran pelanggan.
"Oh, sudah datang ya, Natsuki-chan."
Orang yang menoleh ke arahku adalah Kirishima-san, seniorku
di tempat kerja.
Akhir-akhir ini dia memanggilku dengan embel-embel
"-chan", tapi karena kedengarannya seperti untuk perempuan, aku ingin
dia berhenti melakukannya.
Di samping Kirishima-san, berdiri seorang remaja laki-laki
asing yang mengenakan seragam kerja.
Tubuhnya lebih pendek dan lebih kurus daripada Kirishima-san
yang memang tinggi untuk ukuran perempuan. Dia mengenakan kacamata bulat dengan
lensa tebal, memberikan kesan yang agak culun. Suasananya tampak gugup.
"Aku perkenalkan ya. Ini anak baru yang mulai masuk
dari kemarin, Shinohara-kun."
Ah, benar juga, aku sempat mendengar cerita bahwa akan ada
anak baru.
"Sa-salam kenal, saya Shinohara."
Shinohara-kun
menundukkan kepala. Aku pun buru-buru ikut menunduk dan memperkenalkan diri.
"Halo, saya
Harahara Natsuki."
"Shinohara-kun
juga akan di bagian dapur, jadi tolong ajari dia banyak hal ya,
Natsuki-chan."
Aku sendiri merasa masih anak baru…… tapi tunggu, apakah
sudah empat bulan berlalu?
Waktu berlalu begitu cepat. Hari-hari yang menyenangkan
berlalu dalam sekejap.
"Kalian
berdua, kenapa pakai bahasa formal? Kan satu sekolah dan satu angkatan?"
Aku terkejut
mendengar ucapan Kirishima-san yang tertawa cekikikan.
"Eh, benarkah?"
"Ah, iya…… kebetulan saya kelas 1-4 di Ryomei."
"Serius? Aku
kelas 1-2. Salam kenal ya."
Setelah
diingat-ingat, sepertinya aku memang pernah melihatnya.
"Tentu saja
saya tahu."
Aku memiringkan
kepala, tidak mengerti maksud perkataan Shinohara-kun.
"Tentu
saja?"
"Karena
Harahara-san itu terkenal."
Shinohara-kun
mengatakannya seolah itu adalah hal yang sangat wajar.
Begitu
ya. Ternyata aku terkenal…… tapi ini bukan dalam artian buruk, kan?
Yah,
berada di grup itu membuatku menarik perhatian, jadi mungkin tidak bisa
dihindari.
"Heh,
ternyata Natsuki-chan adalah selebriti sekolah?"
"……I-iya.
Dia ganteng, pintar belajar dan olahraga, dan sangat populer di kalangan cewek,
lho."
"Ah,
ternyata Natsuki-chan memang populer ya, heh~."
Mendengar
cerita Shinohara-kun, Kirishima-san tertawa geli seolah merasa sangat terhibur.
Aku tidak merasa
keberatan kalau dipuji, tapi Kirishima-san ini sepertinya sangat berniat
menggodaku…….
"Shinohara-kun,
boleh kupanggil begitu? Kita satu angkatan, jadi pakai bahasa santai saja,
ya?"
Aku bertanya
sambil berusaha mempertahankan nada bicara dan ekspresi yang ramah.
"Ah, iya…… kalau begitu, apakah boleh saya memanggil
Harahara-kun juga?"
"Oke. Eh,
pakai bahasa santai saja tidak apa-apa, lho."
"Ma-maaf,
saya merasa lebih tenang kalau pakai bahasa formal."
Begitu
ya. Tipe orang seperti itu rupanya.
Entah mengapa,
aku merasa akrab dengan suasananya. Ini aura penyendiri yang sama seperti
diriku yang dulu……!
"Hari ini,
Yui-no-chan masuk?"
"Nanase
seharusnya tidak ada jadwal hari ini."
"Kalau
begitu, hanya aku, Natsuki-chan, dan Shinohara-kun ya. Semangat!"
Kepada
Kirishima-san yang mengangkat tangannya dengan penuh semangat, Shinohara-kun
merespons dengan mengepalkan tangan dengan malu-malu.
"Baik,
kalau begitu aku ganti baju dulu."
Selama
kuliah dulu, aku punya cukup pengalaman mengajari orang baru.
Lagipula, karena
dia sudah mulai sejak kemarin, hal-hal dasar pasti sudah diajarkan oleh yang
lain.
Baiklah, mari
kita bekerja perlahan hari ini.
Aku menghabiskan
cukup banyak uang saat perjalanan wisata kemarin, jadi aku harus bekerja keras.
*
Hari ini adalah
hari yang langka di mana pelanggan datang dan pergi dengan cepat.
Shinohara-kun
tidak bisa dibilang cepat menangkap pelajaran, tapi aku menyukai sifatnya yang
serius dan bekerja dengan sepenuh hati. Meskipun aku sempat tertawa kecil
melihatnya berusaha mencatat semuanya.
"Akhirnya
selesai juga hari ini."
"Sa-saya
lelah sekali……"
"Haha,
karena belum terbiasa, wajar saja kalau lelah."
Aku menyapa
Shinohara-kun yang terkulai lemas di ruang istirahat sambil mengganti seragam
sekolah.
Tiba-tiba pintu
terbuka. Tanpa mempedulikan kami yang sedang berganti baju, Kirishima-san
berseru dengan ceria.
"Kalau
begitu, aku pulang dulu ya!"
"Semangat
sekali ya. Padahal ini sudah selesai kerja."
"Hehehe,
tahu ya? Pacarku datang menjemput~."
"Iya, iya. Aku sudah bosan mendengar cerita
bucinmu."
Setelah mengantar kepergian Kirishima-san yang memancarkan
aura kebahagiaan, aku dan Shinohara-kun menutup toko.
"Malam hari
sudah terasa cukup sejuk ya."
Waktu menunjukkan
pukul sepuluh malam. Langit sudah benar-benar gelap. Aku berjalan berdampingan
dengan Shinohara-kun di jalan menuju stasiun. Angin sepoi-sepoi terasa nyaman.
Cuaca mulai terasa lebih bersahabat. Aku merasakan datangnya musim gugur.
"I-iya,
ya."
Setelah jeda yang
cukup lama, jawaban itu muncul.
Pasti dia bingung
apakah perkataanku adalah gumaman sendiri atau ditujukan padanya, jadi setelah
berpikir keras, dia memutuskan untuk memberikan jawaban yang aman. Perasaan
itu, aku sangat paham……
Aku cukup
menyukai Shinohara-kun. Karena aku merasa ada kedekatan.
Tidak ada ruginya
memiliki hubungan baik dengan rekan kerja, dan aku akan senang jika kami bisa
berteman.
"……Ano.
Terima kasih banyak untuk hari ini."
Shinohara-kun
berkata dengan suara kecil, lalu menundukkan kepalanya.
"Tidak,
tidak, tidak perlu seserius itu."
"Tapi, saya
sudah banyak menyusahkan Harahara-kun……"
"Di awal memang wajar saja. Dulu waktu baru masuk, aku
juga sering menyusahkan Nanase dan Kirishima-san."
Setelah mengucapkannya, aku baru sadar bahwa sejujurnya
tidak ada ingatan seperti itu. Yah, ini karena aku memiliki "trik
terlarang" yaitu ingatan dari kehidupan keduaku yang penuh dengan
pengalaman kerja, jadi seharusnya dulu aku memang sering merepotkan.
"Benarkah begitu? Kirishima-san bilang, Harahara-kun
memang tidak banyak merepotkan, tapi karena kamu tidak biasa, jangan
membandingkan diri denganku……"
Jangan bicara sembarangan, Kirishima-san…… Sifatnya memang
masih saja cerewet.
Karena Shinohara-kun tampak semakin sedih jika aku terus
membahasnya, sebaiknya aku mengganti topik saja.
"Shinohara-kun
kenapa bekerja paruh waktu?"
"Karena butuh uang…… lagipula alat musik dan peralatan
itu mahal……"
"Alat musik?"
"Ah, saya…… sebenarnya anggota klub musik ringan.
Meskipun, tidak cocok sekali buat saya……"
Memang cukup tak terduga, tapi aku bingung harus bereaksi
bagaimana jika dia terus merendahkan diri sendiri.
Aku
mengerti psikologi orang yang sengaja menghina diri sendiri agar tidak
diremehkan orang lain, sih.
"Bagus dong, musik ringan. Kamu main instrumen
apa?"
"Bass. Tapi saya tidak terlalu ahli…… ah, kamu tahu
bass?"
"Tentu. Aku suka band rock. Itu kan yang bunyinya rendah, kan?"
Bass
adalah jantung dari sebuah band. Mungkin pemeran utamanya vokalis atau gitaris,
tapi suara rendah dari bass itulah yang memberikan kekuatan pada musik band,
serta menstabilkan ritme dan suasana lagu. Aku hanya bisa bermain gitar, tapi
aku selalu mengagumi pemain bass yang hebat. Mereka seperti pekerja profesional, ya.
"Be-begitu
ya. Kamu suka rock?"
"Yah,
lumayan. Akhir-akhir ini aku mengikuti band-band yang sedang populer."
Padahal bagiku
itu adalah band tujuh tahun yang lalu, jadi aku tahu semuanya bahkan tanpa
mengikutinya.
"……Saya juga
suka. Karena itu saya ingin membuat band."
Shinohara-kun
mengatakannya dengan suara yang tegas. Aku bisa merasakan bahwa itu adalah
perasaan jujurnya.
"Selama ini
saya selalu bermain bass sendirian, tapi di SMA ini saya memberanikan diri
masuk klub musik ringan. Sejujurnya, saya belum terlalu berbaur.
Hahaha……"
"Yah, yah…… eh, jumlah anggota klub musik ringannya ada
berapa?"
"Eh,
ehmm, sepertinya dua belas orang. Karena siswa kelas tiga sudah pensiun."
"Cukup banyak ya. Sepertinya bisa buat dua atau tiga
band."
"Saat ini ada dua band, satu band berisi empat siswa
kelas dua, dan satu lagi berisi tiga siswa kelas satu dan dua siswa kelas dua.
Yah, karena saya tidak punya teman…… saya tidak bisa membentuk band dan jadi
sisanya…… hahaha……"
Shinohara-kun terlihat benar-benar sedih. Suasananya jadi sulit sekali untuk dicairkan!
"Tapi,
bukankah tadi katanya dua belas? Berarti masih ada tiga orang sisa dong?
Kalau three-piece band……"
"Semua orang
melupakan keberadaan saya…… saya tidak tahu apakah dua orang sisanya itu mau
bergabung dengan saya atau tidak."
Sial!
Semua percakapannya mengarah ke hal yang negatif!
Apakah
tidak ada topik yang positif? Oh iya, Serika juga anggota klub yang sama.
"Kamu
kenal Hondo Serika?"
"Ah, iya…… dia adalah salah satu dari dua orang sisa
yang saya maksud tadi."
"Eh, begitu
ya. Bukannya Serika itu temanmu?"
"Kalau
Hondo-san, dia terlalu hebat sampai-sampai orang lain merasa minder. Kemampuan
dan motivasinya terlalu jauh berbeda dengan yang lain, jadi banyak orang yang
tidak mau bergabung dengannya. Meskipun awalnya dia populer."
Mendengar
kata-kata Shinohara-kun, aku teringat ekspresi Serika saat jam istirahat.
Mungkinkah alasan
dia hampir menangis itu berhubungan dengan klubnya?
"Apakah
Serika sehebat itu?"
"Penampilannya,
aransemen suaranya, semuanya berada di level yang berbeda. Meskipun kami
sama-sama 'sisa', saya merasa sangat tidak pantas bisa satu band dengan
Hondo-san…… itu tidak mungkin……"
Shinohara-kun
berkata sambil menunduk dengan nada mencela diri sendiri.
"Tapi, kamu tetap ingin membentuk band, kan?"
"Tentu saja ingin…… tapi bagi orang seperti saya, itu
sulit sekali."
"Tapi karena
kamu mulai bekerja demi alat musik dan peralatan, itu artinya kamu belum
menyerah, kan?"
Karena tebakanku
tepat sasaran, Shinohara-kun terdiam dengan ekspresi masam.
……Waktu kuliah
dulu, saat aku membeli gitar, perasaanku pasti sama seperti Shinohara-kun
sekarang.
Aku tidak punya
keberanian untuk mengajak orang lain bicara. Jadi, aku ingin diajak masuk band.
Tapi, mustahil masa depan yang diinginkan bisa datang jika hanya menunggu tanpa
punya teman.
Aku tidak
ingin dia menyesal seperti diriku. Tapi, aku sendiri tidak punya hak untuk
mengatakan "jangan sampai menyesal" kepada orang lain, padahal baru
saja Serika mengatakan hal yang sama padaku. Jadi, aku kehilangan kata-kata untuk
Shinohara-kun.
"……Kalau
begitu, sampai jumpa lagi."
"……I-iya.
Permisi."
Shinohara-kun
menundukkan kepala, lalu berlari melewati pintu tiket.
Penampilan
culunnya, sikapnya yang canggung, dan tutur katanya yang negatif, semuanya
terasa akrab.
Seolah-olah aku
sedang melihat diriku sendiri setelah gagal debut di SMA.
Saat menunggu
kereta di peron, hujan mulai turun.
Cuaca musim gugur memang mudah berubah. Padahal prakiraan
cuaca hari ini seharusnya cerah sepanjang hari.
Itu adalah hujan yang rintik-rintik, seolah menetes ke
tanah.
*
Tiga hari
kemudian. Hari Sabtu siang.
Karena Namika
sedang menonton DVD konser BUMP OF CHICKEN di ruang keluarga, aku pun ikut
menonton sambil berbaring di sofa, sampai tiba-tiba ponsel di saku celanaku
mengeluarkan suara notifikasi.
Ada notifikasi
yang muncul di layar kunci. Ternyata dari Uta di RINE.
‘Ne,
sekarang luang gak?’
Maaf, aku
tidak luang.
Aku
sedang menonton DVD konser BUMP, ada manga yang ingin kubaca, dan belakangan
ini aku sedang mulai mengeksplorasi film aksi luar negeri. Lagipula……
ada jalan-jalan, kan. Aku sangat sibuk!
Saat aku mengirim balasan ‘Sangat sibuk’, dia
membalas ‘Berarti luang, dong!’. Tidak masuk akal.
‘Latihan klub sudah selesai, rencananya mau karaoke sama
Miorin dan Seri, mau ikut?’
……Karaoke, ya?
Bukannya aku
tidak suka, tapi kenapa mereka mengajakku?
‘Seri
bilang dia mau dengar suara Natsu nyanyi!’
Begitu
ya. Sejujurnya, aku tidak merasa suara nyanyiku sebagus itu sampai harus
diharapkan.
‘Jangan
pasang ekspektasi tinggi-tinggi dong~’
‘Tenang aja! Soalnya suaramu beneran bagus banget!’
Yah…… lagipula tidak ada alasan untuk menolak, jadi ya
sudahlah.
Selera
musikku cocok dengan Serika, dan aku juga penasaran ingin mendengar dia
bernyanyi. Aku tidak tahu selera musik Miori. Aku mengirim stiker yang berarti ‘Oke!’,
lalu mengganti pakaian.
"Kakak mau
pergi ke mana?"
Namika
bertanya sambil mengunyah kerupuk.
"Oh, diajak
teman. Nanti aku hubungi lagi kalau mau pulang."
Namika kembali
menatap TV sambil menjawab dengan acuh tak acuh, "Iya~".
Aku keluar rumah
dan menuju stasiun.
Cuacanya sungguh
tidak bisa ditebak. Aku hanya bisa berdoa agar tidak turun hujan.
Aku harus makan
siang di suatu tempat. Sudah lama tidak makan di luar. Kalau begitu, ramen
adalah pilihannya!
Begitulah,
setelah mampir ke kedai ramen dan naik kereta sekitar satu jam.
Begitu melewati
pintu tiket stasiun, gadis yang berada tepat di depanku menyadariku.
"Ah, Natsu!
Di sini, di sini!"
Uta
melompat-lompat kegirangan sambil melambaikan tangan. Apakah dia anak kecil?
Aku harap dia berhenti melakukan itu karena roknya hampir tersingkap. Jangan
sampai pandanganku tertuju ke bawah!
Kalau rok Uta
sependek rok Serika, sudah pasti kain berbentuk segitiga itu terlihat dengan
jelas.
Di samping kanan
dan kirinya, ada Serika dan Miori yang mengenakan seragam Ryomei yang sama
seperti Uta.
"Maaf, apa
aku membuat kalian menunggu?"
"Hmm,
lumayan. Tadi sempat luang."
"Tunggu-tunggu,
Seri. Natsu datang karena kita panggil, lho!?"
Uta
buru-buru memprotes Serika yang terlalu jujur.
"Aku tahu.
Ayo pergi, karaoke. Aku
tidak sabar."
Serika
mulai berjalan sambil bersenandung. Dia terlalu santai.
Bahwa
Miori sudah berjalan di samping Serika, pasti karena dia sudah terbiasa dengan
sifatnya.
Mata kami
bertemu, dan kami saling tertawa. Kami pun berjalan beriringan.
Toko
karaoke itu terletak sekitar tiga menit berjalan kaki dari stasiun.
Serika
menyelesaikan pembayaran dengan sangat terampil, lalu kami diarahkan ke ruangan
besar yang sebenarnya terlalu luas untuk kami berempat.
"Apa hari
ini tidak ada pelanggan lain?"
"Itu juga
salah satunya. Tapi aku bilang ingin ruangan yang luas. Rasanya lebih
nyaman."
Serika menjawab
pertanyaan Uta yang memiringkan kepalanya, sambil mengoperasikan mesin karaoke.
"Yah, lebih
baik luas daripada sempit, kan."
Miori bergumam,
tapi aku lebih suka yang sempit jadi aku tidak merasakannya.
Bahkan kalau
semakin sempit, aku justru merasa tenang. Karena aku merasa di situlah tempatku
berada…….
Posisi duduknya
adalah Serika dan Miori berhadapan di seberang meja, sementara Uta duduk di
sampingku.
……Kalau
dipikirkan dengan tenang, situasi ini sangat menegangkan. Karena hanya aku
laki-lakinya. Karaoke bersama perempuan adalah pemandangan yang dulu pernah
kuimpikan, tapi kenyataannya terasa agak canggung.
Sejujurnya, aku
berharap Tatsuya atau Reita ada di sini…….
Aku hanya bisa
memperhatikan Miori dan yang lainnya yang sedang sibuk memilih lagu.
"Baiklah,
aku yang pertama ya."
Miori
mengoperasikan mesin, lalu judul lagu muncul di layar besar.
Itu adalah lagu
dari grup idola yang sedang populer saat ini. Melodi dengan tempo cepat yang mudah
dinikmati. Itu pasti lagu
yang paling tepat untuk memeriahkan suasana karaoke. Kemudian Miori
mengeluarkan dua mikrofon.
"Aku ingin
menyanyikan lagu ini. Uta, mau ikut nyanyi?"
Uta yang sedang
bersemangat menjawab "Oke!", dan mereka berdua mulai bernyanyi
bersama.
Huu…… karena aku diperbolehkan diam saja saat orang lain
sedang menyanyi, aku merasa tenang…… lagipula Miori ternyata cukup hebat. Sejak dulu apa pun yang dia lakukan pasti
hebat, orang ini.
Serika
mengerang dengan wajah serius sambil menatap mesin karaoke. Ya, biarkan saja dia.
Saat lagu
berakhir, Miori menyalakan fungsi penilaian seolah baru teringat.
"Oh iya, ayo
kita adu skor. Yang
kalah traktir es krim ya."
Mendengar
Miori yang tertawa menantang, Uta menyilangkan tangan membentuk tanda silang
besar.
"Aku pasti
kalah, tidak mau! Aku
lewat!"
"Eh?
Tidak masalah, kan. Uta kan juga pintar menyanyi."
"Levelku
beda sama Natsu dan Seri! Lagipula, Miorin juga pasti tidak akan menang,
kan?"
"Ih,
kesal. Kalau dibilang begitu, aku malah jadi makin semangat."
Menanggapi
Miori yang menunjukkan sifat kompetitifnya, Serika berkata.
"Aku
tidak masalah. Bukannya kita bisa makan es krim gratis?"
"Ih,
ih, kesal! Jangan remehkan aku, sialan!"
Miori
yang tampak marah menerjang Serika dan mencoba mencolek pinggangnya.
"Eh, jangan, hentikan. Geli…… hmm……!"
Serika yang menggeliatkan tubuh dengan ekspresi yang jarang
terlihat panik itu terlihat lucu.
Saat aku memperhatikan mereka berdua, aku merasakan tatapan
Uta dari samping, jadi aku berpura-pura mengambil ponsel dan berpura-pura
melihat aplikasi musik. Aku tidak
melihat apa-apa, tahu?
"Kamu
bagaimana? Ikut tidak?"
"……Yah,
tidak masalah."
Karena jika aku
menolak ajakan Miori di saat seperti ini, dia akan ngambek.
Sejujurnya, aku
tidak merasa akan kalah. Berdasarkan suara nyanyian Miori tadi, kurasa
rata-rata skornya sekitar 80-an akhir.
Dia bukan lawan
yang sepadan bagi diriku yang sudah sering berlatih di karaoke sendirian.
Fufufu.
Aku yakin punya
lagu andalan yang bisa menembus skor 95. Tapi yah, lebih dari setengah lagunya
belum ada di zaman ini jadi aku tidak bisa menggunakannya. Itu adalah salah
satu kerugian dari time leap.
"Kalau
begitu, boleh aku duluan?"
Serika bertanya,
tapi sebelum aku sempat menjawab, lagunya sudah terdaftar.
Yang muncul di layar adalah lagu Missing You milik MY
FIRST STORY. Musik band yang bertenaga bergema di seluruh ruangan. Apa dia
serius ingin menyanyikan lagu rock yang keras dalam adu skor?
Secara umum, dikatakan bahwa lagu rock sulit untuk
mendapatkan skor tinggi karena banyak lagu yang sulit dinyanyikan.
Apa dia hanya
memprioritaskan lagu yang dia suka tanpa mempedulikan menang atau kalah…… atau
mungkin, dia merasa percaya diri?
Jawabannya segera
terjawab. Suara Serika yang sedikit rendah untuk ukuran perempuan, sangat cocok
dengan lagu vokalis pria yang memiliki suara high-tone yang luar biasa.
Bar nada yang muncul di bagian atas layar
terus berpindah tanpa meleset sedikit pun. Tidak, tunggu…… eh? Bukankah dia terlalu hebat?
"Seri
memang sering menjadi vokalis."
Uta berbisik ke
telingaku saat melihatku ternganga karena terkejut.
Hebat,
gitar vokalis, ya. Dia benar-benar bintang dari band rock.
Saat
mencapai klimaks lagu, volume suaranya naik satu tingkat, dan aku pun
merinding.
Miori
bertepuk tangan dengan antusias. Uta juga menggoyangkan tubuhnya mengikuti
tempo lagu.
Aku masih terpaku
karena terlalu terpesona.
Dan saat
lagu berakhir, skor pun ditampilkan di layar.
——Skornya
94. Sangat tinggi, tapi sejujurnya aku pikir skornya akan lebih dari itu.
Tapi,
skor karaoke tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menyanyi, kan.
"……Yah,
segini saja ya."
Serika
berkata seolah itu adalah hal yang wajar dengan wajah datarnya yang biasa.
Aku
spontan bertepuk tangan, tapi Serika menggelengkan kepala, "Tidak
hebat-hebat amat."
"Selanjutnya,
giliran Natsu."
Mendengar
ucapan Uta, aku baru teringat bahwa aku belum memilih lagu.
Karena terlalu
terhanyut oleh suara nyanyian Serika, aku sampai lupa kalau selanjutnya adalah
giliranku.
"Sial, aku
belum terpikir. Lagu apa ya yang bagus?"
"Kalau kamu
ragu, aku ingin kamu menyanyikan lagu kesukaanku~"
"Boleh
saja," jawabku.
Uta tertawa
senang sambil berkata, "Asik!"
Uta
mengoperasikan Denmoku (tablet karaoke), dan tak lama kemudian terdengar
bunyi bip.
Di layar besar,
muncul judul lagu city milik [Alexandros]. Itu adalah lagu yang juga
sangat kusukai sejak lama.
Lagu itu dimulai
dengan intro riff yang terasa lembut, lalu saat drum masuk, suasana lagu
berubah tajam seketika.
Tepat saat alunan
musik terasa stabil, gitar melodi mulai meraung.
Suara yang
beragam dan mendalam, seolah mewujudkan judul lagunya, adalah alasan mengapa
aku sangat menyukai lagu ini.
"Enak, ya. Lagipula, itu MV-nya, lho, mantap
banget."
Serika
bersiul kecil, dan Uta menimpali dengan, "Itu dia!"
"Ah,
ah—" aku mengeluarkan suara untuk pemanasan, lalu menyesuaikan jarak
dengan mikrofon dan mengatur volumenya.
――Sejak dulu aku
suka musik. Karena itu, aku pun jadi suka bernyanyi.
Meski aku tidak
punya satu pun teman untuk diajak mendengar nyanyianku, aku terus-menerus pergi
ke tempat karaoke sendirian.
Berkat itu, aku
jadi mahir mendapatkan skor tinggi di fitur penilaian. Ada beberapa trik untuk
mendapatkan skor tinggi secara stabil.
Misalnya, jangan
menambahkan aransemen apa pun, cukup sesuaikan nada, berikan intonasi yang
sedikit berlebihan di bagian tertentu, lalu tambahkan getaran suara (Vibrato)
berkali-kali untuk menambah poin.
Namun, semakin
sering aku berlatih, semakin terasa hampa. Aku sebenarnya tidak ingin mengejar skor yang
tinggi.
Aku hanya
ingin menyanyikan lagu kesukaanku dengan cara yang aku inginkan.
Sejak aku
mengingat fakta itu, rata-rata skorku memang turun, tapi aku tidak
menyesalinya.
Malahan, aku
merasa nyanyianku justru jadi lebih baik.
Aku mendapatkan
kepercayaan diri itu saat pergi karaoke bersama semua orang tempo hari.
Kurasa, jika aku
bernyanyi hanya demi mengejar skor, aku tidak akan pernah dipuji seperti itu.
Meski aku tidak
berlatih untuk dipuji, karena aku selalu sendirian, menyanyi di depan orang
lain terasa sangat menyenangkan. ――Karena itulah, aku memutuskan untuk
bernyanyi seperti biasa.
Saat aku mulai
bernyanyi, Miori membelalakkan matanya, "Eh...? Kamu sehebat itu?"
Uta di sebelahku
menggoyangkan bahunya dengan sangat gembira.
Dan
Serika――dia menatapku lekat-lekat dengan wajah yang anehnya serius.
Jujur
saja, menatapku sampai segitunya membuatku sulit untuk bernyanyi, lho?
Meski
berpikir demikian, entah bagaimana aku berhasil menyelesaikan lagunya.
Ada
keheningan sesaat setelah lagu berakhir, menunggu skor ditampilkan.
Akhirnya, skor yang muncul di layar adalah――93 poin.
"Waduh, aku
kalah dari Serika, ya."
"……Padahal,
aku tidak merasa menang sama sekali."
Serika
menggumamkan hal itu sambil memainkan ujung rambutnya.
Serika
yang tampak sedikit gelisah tidak seperti biasanya, melirikku sejenak, lalu
menunduk lagi, kemudian menatapku lagi dari bawah seolah sedang mengintip. Lalu, dia menyatakan.
"Aku rasa,
aku menyukai Natsuki."
Itu adalah
pernyataan bom yang luar biasa. Uta sampai berteriak histeris.
"E,
eeeeeeeeeeeeeeee!?"
"Salah. Aku
rasa, aku menyukai suara nyanyian Natsuki."
Berhenti bicara
yang salah seperti itu, parah banget!
Tidak, aku senang
sih, tapi!
Uta sampai jatuh
terjungkal dari sofa karena terlalu terkejut!
Miori sendiri
secara samar malah menjatuhkan gelas kosongnya. Kalau ada isinya, pasti sudah
jadi bencana besar.
Lalu, seolah
tidak terjadi apa-apa, Miori mengembalikan gelas itu ke tempatnya dan berdeham
pelan.
"A, apa…… untunglah……"
Uta menghela napas lega, tapi diperlakukan dengan reaksi
yang begitu jujur membuatku malu.
Sepertinya dia baru menyadarinya sendiri, dia menatapku
dengan tersentak, mata kami bertemu, dan wajahnya memerah padam.
"Aku
ingin dengar lagi, nyanyian Natsuki."
"Kalau itu
sih boleh saja. Lagipula, sudah kepalang karaokean."
"Sudah
dengar 'Playlist Pembangkit Semangat' yang kukirim? Coba nyanyikan lagu yang
itu."
"Itu isinya
ada sekitar tiga puluh lagu, lho?"
Aku sedang
mengobrol seperti itu dengan Serika, ketika aku teringat bahwa sebenarnya kami
sedang di tengah kompetisi adu skor.
"Sial,
ngomong-ngomong sekarang giliran Miori."
"Hmm, iya
juga ya. Ini Miori, mikrofonnya. Silakan nyanyi."
Miori yang
menerima mikrofon menatap kami dengan ekspresi penuh dendam.
"K-kalian
ini…… sudah tahu kalau aku tidak akan menang……"
"Ahaha,
makanya kan sudah kubilang jangan. Lagipula yang mengajak adu skor kan Miorin
sendiri?"
"Aku tahu!
Lagipula! Dilarang bicara logis! Kamu tinggal traktir saja, kan!?"
Miori mulai
menyanyikan lagu balada dengan setengah putus asa. Kenapa malah lagu putus
cinta?
Lalu, Miori kalah
dengan skor 87, dan setelah itu suasana berubah menjadi karaoke biasa.
Menyanyikan lagu
rock bersama Serika dan Uta, bernyanyi bersama lagu-lagu lama, Serika yang
bermain air guitar saat melodi tengah lagu, dan Uta yang menari dengan
penuh semangat, itu adalah waktu yang sangat menyenangkan.
Karena kami
bernyanyi sampai semua orang puas di paket free time, langit sudah gelap
saat kami keluar dari tempat karaoke.
Di
samping Miori yang sedang cemberut, Serika menikmati es krimnya dengan puas.
"Suaraku
jadi serak, nih~"
Uta, yang
bernyanyi paling bersemangat, meratap dengan suara yang parau.
Ya, wajar saja
kalau bernyanyi sekuat tenaga seperti itu. Yah, mungkin akan sembuh setelah
satu hari.
"……Menyenangkan,
ya, Natsu."
"Ah, iya,
menyenangkan."
Saat aku
menjawabnya dengan jujur, Uta melanjutkan dengan suara seraknya.
"……Entah
kenapa, sudah lama ya kita tidak jalan bareng seperti ini."
Ada sensasi
seperti punggungku yang membeku. Memang benar, sudah lama sejak terakhir kali
aku jalan bersama Uta.
Terakhir kali
adalah saat merayakan ulang tahunku di liburan musim panas, dan alasannya sudah
jelas, karena aku menghindari berduaan dengannya.
Tidak
mungkin Uta tidak menyadari gerak-gerikku yang sengaja seperti itu.
Angin
malam yang membuatku merasakan awal musim gugur terasa dingin di kulit. Hanya
mengenakan kemeja rasanya kurang cukup.
Hari
semakin pendek, dan di dalam pandangan yang mulai gelap, daun-daun yang gugur
dari pepohonan tertiup melewati kami.
"……Kalau
perasaanku ini menjadi beban buat Natsu, bilang ya?"
Suara yang seolah
akan menghilang itu tidak terdengar seperti suara Uta yang biasanya ceria.
Aku tidak pernah
terpikir sekalipun untuk menganggapnya beban.
"Aku memang
pernah bilang akan membuatmu berbalik arah, tapi aku tidak berniat menghalangi
kebahagiaan Natsu."
"……Aku
selalu mendapatkan semangat dari Uta, lho. Sungguh."
Saat aku
mengatakannya sambil menggelengkan kepala, Uta menunjukkan senyuman tipis.
Aku tidak bisa
membaca emosi yang tersimpan di balik ekspresi itu.
"……Maaf.
Mungkin aku sedang sedikit sedih saja. Ahaha, tidak seperti aku banget, ya."
Sebelum
aku sempat melontarkan kata-kata, Uta sudah memeluk punggung Miori yang
berjalan di depanku.
"Miorin!
Sampai kapan kamu mau cemberut terus!"
"Aduh! Eh,
Uta!? Dilarang tiba-tiba memeluk!"
"Ahahaha!
Tubuhmu sampai tersentak!"
Saat Miori
mengeluh dengan terkejut, Uta sudah kembali menjadi sosok yang selalu tertawa
seperti biasanya.
……Sepertinya ada
sesuatu yang harus kukatakan. Tapi, aku tidak bisa berkata apa-apa.
Gerak-gerikku
yang seolah menunda keputusan justru melukai Uta. Itu karena kesadaranku
sendiri yang dangkal.
Senyuman tipis
yang tampak sedih itu, jauh dari senyuman seperti matahari yang kucintai.
Namun, ada satu
hal yang pasti.
――Orang yang
membuat Sakura Uta menunjukkan ekspresi seperti itu, tak lain dan tak bukan
adalah aku.
Saat aku
berdiri mematung sambil melihat Uta dan Miori yang saling bercanda, Serika
mendorong punggungku.
"Ayo, jalan."
"Ah, iya…… maaf."
"……Uta,
pasti merasa cemas. Karena sepanjang liburan musim panas, dia melihat sendiri
Natsuki semakin dekat dengan Hikari-chan. Dia pasti takut kalau dirinya sudah
tidak punya kesempatan lagi."
Serika pasti
mendengarkan pembicaraan kami. Padahal seharusnya kami mengobrol dengan suara
yang cukup kecil.
"……Disukai
orang itu, sulit ya."
Saat ini, aku
tidak punya niat untuk membalas perkataan Serika.
*
Aku naik kereta
bersama Miori.
Karena kami
berasal dari daerah yang sama, akhirnya kami selalu berdua setelah berpisah
dengan yang lain.
Kereta tua
berguncang gata-goto, membawa kami lebih jauh ke pedalaman Gunma.
Di gerbong yang
sama, hanya ada orang mabuk yang tertidur lelap dan sepasang suami istri tua
dengan suasana yang tenang.
Di luar jendela
adalah kegelapan pekat, dan jika aku memicingkan mata, pemandangan sawah dan
hutan berlalu lalang.
Hanya lampu-lampu
rumah yang tersebar di sana-sini yang membuatku merasakan peradaban.
Saat aku melamun
menatap jendela, kepalaku ditepuk pelan.
"Napa? Kok
sedih?"
Tadi saat
berpisah dengan Uta dan Serika, aku berusaha sebisa mungkin bersikap biasa
saja, tapi aku tidak punya niat untuk melakukan itu di depan Miori.
Aku
bersyukur orang yang ada di sini sekarang adalah Miori. Jika orang lain, aku pasti akan merasa tersiksa.
Meskipun aku
merasa sudah membuang topengku, hanya Miori orang yang bisa membuatku dengan
tenang menunjukkan kelemahanku.
"……Apa yang
harus kulakukan?"
Aku selalu kurang
berpikir. Karena itu, aku selalu salah.
"Aku tidak
tahu kamu bicara soal apa, tapi yang bisa kulakukan hanyalah memberi saran.
Yang menentukan tetap kamu."
Itu adalah
kata-kata yang seolah mendorong menjauh saat aku mencoba bersandar pada Miori.
"……Maaf, iya
juga ya."
Aku tidak
menganggapnya dingin. Justru aku menyukai sisi Miori yang seperti itu.
Pada diriku yang
terdiam, Miori melontarkan obrolan santai seperti biasanya.
"Tapi ya,
aku tidak menyangka nyanyianmu sehebat itu. Memang aku sudah dengar dari Uta,
tapi aku tetap terkejut. Padahal dulu, kamu sama sekali tidak punya bakat
seperti itu."
"……Karena
aku tidak punya teman, hobi saya adalah karaoke sendirian."
Aku tidak
berbohong. Perbedaannya hanya apakah itu cerita zaman SMP atau cerita masa
depan.
"Benar-benar,
banyak sekali hal yang tidak kuketahui. Padahal aku merasa sudah mengenalmu
dengan baik."
Miori bergumam
seperti itu, seolah melontarkannya.
Ekspresinya
terlihat sedikit kesepian, atau mungkin sedih.
……Miori adalah
satu-satunya orang yang mengetahui diriku di masa lalu. Wajar saja jika dia
memiliki kesan seperti itu terhadap diriku saat ini.
"Yah, waktu
zaman SMP, kita hampir tidak ada interaksi, sih."
Meski aku
menjawab begitu, aku jadi merasa sedikit takut.
Mungkin
saja Miori merasa ada yang aneh dengan diriku yang sekarang.
Walaupun
begitu, kupikir dia tidak akan sampai pada pemikiran yang tidak masuk akal
seperti time leap.
"Iya.
Jadi, ceritakan lebih banyak lagi. Tentang dirimu yang sekarang. Tentang apa
yang membuatmu khawatir juga."
Itu adalah
kata-kata yang menemaniku saat aku sedang waspada.
"……Kalau
kamu, kurasa kamu sudah tahu garis besarnya. Aku sekarang――"
Karena itu, aku
memutuskan untuk menceritakan perasaanku saat ini kepada Miori.
Selama ini, aku
selalu berkonsultasi tentang segala hal kepada Miori, tapi belakangan ini aku
jarang membicarakannya secara aktif.
Mungkin itu
karena aku tidak ingin menceritakan kepada orang lain betapa tidak tulusnya
perasaanku yang juga menyukai Hikari dan Uta.
Karena perasaan
seperti itu tidak mungkin dimaafkan.
Sampai sekarang,
aku secara aktif bergerak demi mengejar masa muda yang terbaik.
Apa yang harus
kulakukan sudah jelas. Ada
orang-orang yang ingin kujadikan teman, dan ada gadis yang kusukai.
Aku
membentuk grup pertemanan yang menyenangkan dan nyaman, lalu berusaha
menjadikan gadis yang kusukai sebagai kekasih.
Hari-hari
itu terasa memuaskan dan menyenangkan.
Tentu
saja, sampai sekarang pun aku menghabiskan hari-hari yang menyenangkan.
Namun,
sejak aku tidak memahami perasaanku sendiri, aku selalu tersesat.
Baik Hikari
maupun Uta, mereka menyukaiku. Itu adalah hal yang sangat membahagiakan.
Mengetahui
seseorang seperti diriku disukai, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari
itu.
Namun, ini adalah
pengalaman pertama dalam hidupku disukai oleh seorang gadis, dan aku tidak tahu
apa jawaban yang benarnya.
Apa yang kucari?
Sebenarnya, siapa
yang kusukai?
Bagaimana caranya
aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan tanpa kehilangan apa pun?
Setelah aku
selesai menceritakan semuanya, Miori mengangguk pelan lalu――tersenyum nakal.
"Populer
ya, Natsuki. Pamer, nih?"
"……Karena
kupikir akan dianggap begitu, makanya aku hanya bisa cerita padamu."
Saat aku menghela
napas, Miori membelai kepalaku sambil berkata, "Maaf, maaf."
Berhenti.
"Aku rasa,
sudah menjadi dirimu sendiri untuk merasa khawatir sampai sejauh itu dan
mencoba bersikap tulus."
Miori
berkata sambil tersenyum fufu.
"Entah
kenapa, ya. Kamu mungkin…… merasa takut, kan?"
Itu benar. Selama
ini aku selalu merasa takut akan sesuatu. Tapi, aku tidak tahu apa itu.
Kami turun di
stasiun tak berpenghuni di daerah kami, dan berjalan berdampingan di jalan
malam.
Angin yang
bertiup hyuu menyapu dedaunan gugur di bawah kaki kami.
"Kalau terus
ragu, perasaan mereka berdua mungkin akan menjauh, lho?"
"Iya,
ya……"
Lagipula, kondisi
di mana aku disukai oleh mereka berdua adalah sebuah keajaiban.
Malahan, mungkin
memang wajar jika hal itu terjadi. Lagipula, apa sebenarnya yang mereka sukai
dari orang sepertiku?
Aku sudah
berusaha untuk mengubah diriku sendiri. Aku ingin menjadi sosok yang disukai
orang lain.
Tapi pada
akhirnya, aku tidak bisa mencintai diriku sendiri, dan sekeras apa pun aku
berusaha, hanya kekuranganku saja yang terlihat.
Aku tidak bisa
memikirkan alasan mengapa dua gadis seimut itu memilih diriku.
"Yah, kalau
saat itu tiba, aku akan menyembuhkan luka patah hatimu."
Miori, yang
mencemaskanku dengan berkata "Ya namanya juga teman masa kecil," saat
ini adalah penyelamatku.
"……Kalau
kamu sendiri bagaimana? Mau menyatakan cinta pada Reita, kan?"
Rasa penasaranku
muncul tiba-tiba, setelah teringat kejadian di hari terakhir liburan musim
panas.
Saat aku sedang
bimbang, Miori sudah memantapkan tekadnya.
"Memang itu
rencananya."
Miori mendengus
bangga, fufun.
"Lagipula,
tanpa perlu khawatir, besok aku ada rencana kencan dengan Reita."
"Heh, lancar
ya. Rencananya mau menghabiskan waktu dengan apa?"
"Mencari
baju musim gugur. Aku berpikir untuk meminta Reita memilihkan pakaian."
"Cewek
memang suka ya memilih baju."
"Bukan hanya
cewek, tahu. Kamu
saja yang tidak tertarik dengan fashion."
Yah, itu
benar. Reita sering membaca majalah fashion, berpakaian modis, dan juga
membicarakan tren terbaru.
Dia pasti
akan dengan senang hati menemani Miori memilih baju.
"Lagipula,
kalau selera Reita aku bisa tenang, dan aku ingin memakai baju yang menurut
Reita lucu. ……Kalau menyerahkan padamu, sepertinya akan menjadi fashion
yang mematikan."
"Yah, kalau
Miori, pakai baju olahraga pun tidak masalah, kan?"
Saat aku menjawab
asal, pipiku dicubit. Itu, sakit sekali, tahu……
"Ngomong-ngomong,
aku juga harus membeli baju yang layak untuk dipakai di musim gugur……"
Selama ini aku
bertahan dengan baju pilihan Miori atau baju yang kubeli berdasarkan
pengetahuan instan dari majalah fashion, tapi sekarang waktunya membeli
yang baru.
Padahal di rumah
ada banyak baju yang tidak modis. Seperti baju yang ada tulisan bahasa Inggris
yang panjang-panjang itu.
"……Aku tidak
mau memilihkan lagi ya? Urus
dirimu sendiri."
Di dalam
kereta yang berguncang, kata-kata itu terdengar sangat berat.
Aku
adalah orang yang menyuruh Miori agar tidak terlalu sering bersamaku, demi
memikirkan Reita.
Aku tidak
merasa itu keputusan yang salah. Jika memikirkan situasi yang kuhadapi sendiri,
aku rasa tidak pantas jika terus berduaan dengan Miori.
Jadi,
seharusnya tidak ada yang aneh dengan pembicaraan ini.
……Hanya saja, aku merasa ada lubang besar yang menganga di dalam hatiku.
Hanya itu ceritanya.
*
Senin, awal minggu.
Aku melewatkan jam pelajaran dengan perasaan yang agak
melankolis, lalu tibalah saat pulang sekolah. Saat aku berniat untuk segera pulang, wali kelasku memanggilku.
"Haibara. Kamu sedang senggang, kan? Tidak
keberatan kalau membantu sebentar?"
"Tolong
jangan asumsikan kalau anak klub pulang sekolah itu selalu senggang... Tapi,
baiklah."
"Hahaha,
maaf, maaf. Aku ingin membawa barang ini ke gudang."
Wali
kelasku menunjuk dua buah kardus yang terlihat cukup berat.
"Apa
isinya?"
"Materi
pelajaran. Bekas pelajaran tambahan selama libur musim panas. Karena tidak akan
terpakai untuk sementara, aku ingin menyimpannya."
Ah, pelajaran
tambahan bagi mereka yang mendapat nilai merah saat ujian akhir semester.
Uta dan Tatsuya
berhasil lolos dari nilai merah, tapi sepertinya ada beberapa siswa yang
terkena.
Karena tidak ada
pilihan, aku dan wali kelas membagi tugas membawa satu kardus masing-masing.
Gudang
itu terletak di ujung lantai dua gedung sekolah, dekat ruang musik. Jaraknya
sedikit jauh dari kelas, tapi kupikir tidak akan terlalu melelahkan—meskipun
wali kelasku sendiri sudah terengah-engah sejak tadi.
"Hah, hah... Haibara, stamina kamu luar biasa,
ya."
"Latihan
otot dan lari adalah hobi saya."
Kami menaiki
tangga menuju lantai dua.
Saat melewati
depan ruang musik, terdengar suara gaduh dari ruang kelas di depannya.
"Itu Ruang
Musik II. Belakangan ini dipakai oleh klub musik ringan."
"Eh?
Bukankah klub musik ringan sudah punya ruang klub sendiri?"
"Seingatku,
kalau cuma punya satu ruang klub, mereka tidak bisa latihan kalau ada yang
pakai, atau semacam itulah."
"Begitu,
ya," gumamku sambil menanggapi, lalu berjalan melewati depan Ruang Musik
II itu.
Suara
yang terdengar adalah alunan gitar elektrik. Riff yang familier mulai
bergema.
—Intro Master
of Puppets milik Metallica. Bass yang berat berdentum secara ritmis,
membentuk melodi. Ritme yang presisi. Cara memetik dengan penekanan nada yang
jelas. Tekanan suara yang luar biasa. Itu adalah riff dengan ketebalan
suara yang membuat tubuhku bergetar saat mendengarnya. Dia mampu memainkan lagu
yang sulit ini dengan mahir.
"Aku
tidak begitu paham musik, tapi terdengar hebat sekali."
Langkahku
terhenti tanpa sadar, dan pandanganku tertuju ke ruangan sumber suara itu.
Keren
sekali. Apakah ada siswa SMA yang bisa bermain gitar seperti ini?
"Hm? Ada
apa, Haibara?"
Didorong oleh
rasa penasaran, aku meletakkan kardus di lantai dan membuka pintu Ruang Musik
II.
Di sana,
Serika sedang memegang gitar. Serika yang terus melakukan down-picking
bagai iblis tanpa menyadari pintu terbuka, langsung membelalak saat menoleh.
"......Eh?
Natsuki? Ada apa?"
Bersamaan dengan
kata-katanya, suara musik berhenti. Di sanalah aku baru sadar kembali.
"Tidak,
kupikir permainanmu hebat sekali, jadi aku tidak sengaja..."
Apa yang sedang
kulakukan? Meski penasaran, membuka pintu ruangan orang lain tanpa izin itu
tidak sopan.
"Benarkah?
Aku senang mendengarnya."
Serika tersenyum,
lalu memetik senar secara terbuka (open string).
Tangan itu mencengkeram Gibson Explorer yang berkilau hitam.
Saat aku sedang
memperhatikan Serika, wali kelasku memanggil.
"Oi,
Haibara. Tolong selesaikan dulu membereskan ini."
Aku menunduk
sambil berkata, "Maaf," kepada wali kelas yang tersenyum sedikit
canggung.
Entah
mengapa, otakku tidak bisa bekerja dengan baik.
Selama
aku menyimpan kardus-kardus itu di gudang di balik Ruang Musik II, suara gitar
yang dimainkan Serika terus terdengar. Seberapa banyak dia berlatih hingga bisa
mengeluarkan suara seperti itu?
"Wah,
maaf ya. Terima kasih
banyak."
Wali kelasku
mengajak bicara. Aku
memberikan jawaban basa-basi.
"Tidak,
ini bukan apa-apa. Lagipula saya anak klub pulang sekolah yang senggang."
"Haha,
bukannya tadi kamu bilang kebalikannya?"
Wali kelasku yang
menyeka keringat di lengannya tiba-tiba bertanya seolah penasaran.
"Haibara,
apa ada alasan kamu tidak masuk klub?"
"......Tidak,
tidak ada alasan khusus. Hanya saja, tidak ada alasan juga untuk masuk."
Saat aku menjawab
begitu, wali kelasku mengangguk berulang kali, "Begitu, ya."
"Tidak, aku
hanya bertanya karena penasaran. Hanya saja, aku pikir sayang sekali kamu yang
jago belajar dan olahraga tidak masuk klub. Kalau itu kamu, aku yakin kamu bisa
meraih hasil apa pun."
Wali kelasku
berkata, "Kalau begitu, terima kasih ya," lalu pergi.
...Penilaian yang
sangat tinggi, ya.
Kalau aku
benar-benar bisa meraih hasil apa pun, aku tidak akan menderita seperti ini.
Aku tahu berkat
keuntungan loop kedua, orang-orang di sekitarku melihatku sebagai sosok
yang superior. Namun, di situasi di mana keuntungan itu tidak bisa digunakan,
aku terus mengulangi kesalahan yang sama.
Saat
hendak pulang, aku melewati Ruang Musik II lagi dan membuka pintunya.
Serika
masih seperti tadi, terus berlatih gitar sendirian.
Ruang
Musik II yang strukturnya mirip kelas biasa itu menumpuk meja dan kursi di
bagian belakang, sementara di depan hanya ada kursi yang diduduki Serika, gitar
stand, dan amplifier.
"Kenapa
di Ruang Musik II?"
"Kalau
di ruang klub, anggota lain sedang latihan."
Serika
meletakkan gitarnya di stand sejenak, lalu mengambil botol minum dari
tasnya.
"Aku
tidak membentuk band, jadi aku tidak bisa bergabung di sana."
Ngomong-ngomong,
aku pernah mendengar tentang Serika dari Shinohara.
Dibandingkan
anggota klub musik ringan lainnya, tingkat kemampuan bermain Serika berbeda.
Katanya, karena motivasinya terlalu tinggi saat mencoba membentuk band, dia
akhirnya tidak bisa diikuti oleh orang lain dan menjadi "sisa".
Mendengar
permainannya tadi, aku bisa memahaminya.
Jelas, ini bukan level band anak SMA.
"......Aku
suka gitar Serika."
Saat aku
bergumam dengan tulus, Serika menatapku dengan ekspresi yang jarang—bingung.
"Terpesona"
itulah yang terjadi saat itu. Itu terasa sangat keren, sampai-sampai aku bisa
mengatakannya dengan jujur.
"Kamu suka
padaku?"
"Aku tidak
akan membuat salah ucap seperti itu."
"Yah,
padahal tidak seru. Tapi, terima kasih."
Serika
memalingkan wajah dengan acuh tak acuh sambil meneguk air dari botolnya.
Suara
tegukan air terdengar saat Serika minum. Keringat mengalir di lehernya. Dia
pasti berlatih dengan sangat serius. Meski tidak bisa membentuk band, dia terus
berlatih sendirian selama ini.
"Kenapa
Serika mulai bermain gitar?"
"Awalnya
biasa saja, karena kupikir itu keren."
...Aku juga sama.
Maksudku, kupikir hampir semua orang memulai karena alasan itu.
"Ayahku
mantan anak band, jadi saat di rumah, musik rock selalu diputar. Tumbuh
di lingkungan seperti itu, aku jadi mulai memainkan gitar yang ada di rumah
tanpa izin."
Sambil
bercerita, dia kembali memegang gitar di stand.
"Awalnya
sulit dan aku berkali-kali ingin menyerah. Tapi, sedikit demi sedikit aku jadi
bisa bermain, dan rasanya senang saat bisa mengeluarkan suara yang kuinginkan.
Itulah kenapa aku bisa terus berlanjut."
"......Aku
menyerah sebelum sampai di perasaan itu."
Seberapa banyak
pun aku berlatih, aku tidak bisa mengeluarkan suara seperti yang kubayangkan.
Aku tidak bisa
menggerakkan jariku dengan mahir seperti gitaris yang kukagumi.
Aku merasa kesal
dengan kenyataan yang jauh dari ideal.
Terlebih lagi,
ada banyak hobi lain yang lebih menyenangkan.
Jadi sebelum aku
sadar, gitar yang kubeli susah payah malah menjadi hiasan di kamar.
"Mau
coba?"
Serika
menyodorkan gitarnya.
"Ini
barang penting, kan?"
"Natsuki
bukan orang yang akan memperlakukannya dengan sembarangan. Ini."
Sambil
berkata begitu, Serika dengan paksa memasangkan strap gitar di leherku.
Aku
menyilangkan kaki kanan, menstabilkan posisi gitar, menyentuh senar dengan
tangan kiri, dan memegang pick dengan tangan kanan. Meski sudah lama
tidak melakukannya, terasa lebih familier daripada yang kubayangkan. Aku
melakukan stroke dengan tangan kanan.
Jaran, suara senar terbuka bergema. Itu
nada yang menyenangkan. Rasanya suara basnya lebih tebal dan berat daripada
gitar Stratocaster milikku. Pembuatan suaranya juga mahir. Aku tidak
bisa menirunya.
Aku
memeriksa chord satu per satu.
"F-nya belum
kena. Jari telunjukmu kurang menekan."
"Berisik.
Aku sudah lama tidak main, tahu. Jariku belum bisa bergerak selancar itu."
Karena
Serika berkata begitu sambil menyeringai, aku membalasnya dengan cemberut.
Lagipula,
bahkan saat aku dulu sering memainkannya, barre chord saja sudah
meragukan—itu tidak usah dibahas.
"Tapi, kamu
bisa main, kan?"
"Kalau yang
gampang, ya lumayan."
Aku memainkan riff
yang tubuhku masih ingat sampai sekarang. Mulai dari senar enam fret pertama dan senar
lima fret ketiga.
Smells
Like Teen Spirit
milik Nirvana. Lagu yang pertama kali kulatih setelah punya gitar.
Meski
hanya terdiri dari power chord yang mudah, lagu itu luar biasa keren.
Saat aku menggenjreng chord-nya, Serika mulai bersenandung. Rasanya
menyenangkan seperti konser kecil.
"Menyenangkan,
ya."
Saat aku
mengatakannya, Serika menunjukkan ekspresi yang jarang terlihat.
"Aku
juga, senang."
Dia
terlihat begitu manis sampai-sampai aku terpesona.
Menyadari
tatapanku, Serika berdeham kecil.
"Ini
pertama kalinya aku melihat Serika tersenyum seperti itu."
"......Kalau
soal musik, aku jadi senang saja."
Serika
memerah sedikit dan menyentuh rambutnya sendiri.
Tanpa kusadari,
langit sudah gelap.
Saking
asyiknya, aku dan Serika bermain sampai tidak menyadarinya.
"Dari
dulu, aku selalu dibilang sebagai anak yang sulit dimengerti," gumam
Serika tiba-tiba saat ia menyimpan gitar ke dalam tas dan mulai bersiap untuk
pulang.
"Ekspresi
atau nada suaraku tidak banyak berubah, dan aku tahu aku adalah anak yang
aneh."
Memang
benar, Serika punya sisi seperti itu. Sulit untuk menangkap apa yang sedang dia
pikirkan. Ekspresi atau nada suaranya hanya berubah saat membicarakan musik.
Bahkan saat itu pun, perubahannya tidak besar.
Aku
bingung harus bereaksi bagaimana, jadi aku hanya diam.
Serika
juga pasti tidak ingin mendengar kata-kata seperti "tidak kok".
"Aku
kurang mahir mengekspresikan perasaanku," Serika bercerita dengan tenang,
seolah sedang memastikan sebuah fakta.
"Tapi, aku
ingin semua orang tahu. Perasaanku. Emosiku. Aku tidak ingin disebut sebagai
anak yang sulit dimengerti. Hanya suara gitar yang menjadi alat untuk
menyampaikan 'diriku'."
—Kalau musik,
kurasa aku bisa menyampaikan perasaanku kepada semua orang.
Suatu saat nanti,
aku ingin berdiri di panggung besar dan menyampaikan musikku kepada banyak
orang.
Karena itu aku
terus melakukannya, ujar Serika.
Profil wajahnya
yang menengadah ke langit seolah mengejar mimpi itu terlihat menyilaukan.
"Meski
sekarang sendirian, suatu saat nanti aku akan membentuk band hebat, dan
memainkan lagu yang kubuat sendiri."
"Tokyo
Dome?"
"Ya.
Aku akan mengirimkan tiketnya langsung ke Natsuki."
"Itu sangat
membantu. Karena untuk tiket band populer, kita hanya bisa berdoa pada
Tuhan."
Mendengar
permainan itu, aku jadi penggemar Serika.
Aku ingin
mendengar permainan Serika lagi. Aku ingin melihatnya berdiri di atas panggung.
"Semoga
impianmu terwujud, Serika."
"......Hei,
Natsuki."
Saat Serika
hendak mengatakan sesuatu, pintu Ruang Musik II terbuka.
Di sana berdiri
seorang pria bertubuh besar dengan kesan seperti batu karang. Dia lebih tinggi
dariku dan berbadan kekar. Kalau berkelahi, rasanya aku bisa mati dalam
sekejap. Tekanan auranya sangat kuat.
"Hondo."
Pria besar itu
berkata dengan singkat. Suaranya berat.
"Senior Iwano, ada perlu apa?"
"Tidak... aku membukanya karena mengira kamu sedang
latihan, tapi ternyata bersama pacarmu, ya. Maaf mengganggu."
Pria yang dipanggil Senior Iwano oleh Serika itu berbalik
dan menutup pintu.
Tiba-tiba muncul, lalu pergi dalam sekejap.
"Tadi kamu memanggilnya senior, berarti dia kakak
kelas, ya. Apa dia orang
klub musik ringan?"
"Ya. Senior
Kengo Iwano. Kelas dua. Dia jago main drum. Meski semua orang takut
padanya."
Yah, pasti bakal
takut sih... Aku saja sudah gemetar.
"......Ngomong-ngomong,
bukankah kamu seharusnya mengoreksinya tadi?"
Saat kutanya,
Serika memiringkan kepalanya.
"Soal
apa?"
"Tadi dia
salah paham mengira kita sedang bermesraan sebagai pacar."
"............Yah,
tidak masalah bagiku."
"Tapi bagi
aku masalah, lho. Setidaknya dalam posisiku sekarang."
"Senior
Iwano bukan tipe orang yang suka menyebarkan gosip ke orang lain, jadi tidak
apa-apa."
Memang
bisa dimengerti hanya dengan melihat penampilannya, tapi...
"......Ngomong-ngomong
tadi, bukankah tadi kamu sempat ingin mengatakan sesuatu?"
Mendengar
pertanyaanku, Serika tampak berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepala.
"Mm.
Sebentar, aku sedang memikirkannya baik-baik."
"Maksudnya?"
"Natsuki
tidak perlu khawatir. Tunggu saja dengan sabar."
"Kenapa
harus dengan sabar?!"
"Salah
ucap. Maksudku, tunggu dengan sabar."
"Itu malah
membuatku makin penasaran..."
"Masih
rahasia."
Serika menaruh
jari di depan mulutnya dan mengubah topik.
"Kamu pergi
ke Rockin' tahun ini, kan?"
"Serius?
Enaknya, aku belakangan ini tidak pergi ke konser."
"Festival
memang menyenangkan. Aku suka suasana kacau di mana berbagai jenis orang
bercampur. Tahun ini penampilannya sangat mencolok, dan itu luar biasa. Di hari
ketiga, ada kembang api di akhir—"
Selama perjalanan
pulang ke stasiun, kami terus mengobrol tentang musik.
Aku suka musik.
Terutama, aku suka rock.
Karena hal itulah
yang memberiku keberanian untuk menjalani hari esok, saat aku sedang
menghabiskan masa mudaku yang kelabu.
*
Itu terjadi saat
jam istirahat siang keesokan harinya.
Saat
sedang mengobrol dengan Tatsuya dan Reita di koridor, Serika memanggilku.
"Natsuki,
sebentar bisa?"
"Serika. Ada
apa?"
Saat aku
memiringkan kepala, Serika memancarkan aura bahwa dia ingin bicara berdua saja.
"Kalau
begitu Natsuki, kami kembali ke kelas dulu."
Reita
yang mengerti situasi membawa Tatsuya pergi, meninggalkan aku dan Serika di
koridor.
Ada keperluan
apa?
Jarang sekali
Serika memberikan pendahuluan seperti itu.
Saat aku sedang
berpikir, Serika bertanya dengan wajah datar seperti biasanya.
"Maukah kamu membentuk band bersamaku?"
Kirain mau bicara
apa, ternyata kata-kata yang terlalu mendadak.
"E-eh...?"
Aku? Band...?
Kenapa tiba-tiba?
Kemarin kami
memang bermain gitar bersama, tapi itu saja.
Kupikir salah
dengar. Tapi Serika menatapku lurus-lurus dan menyatakan.
"——Aku
serius. Mari kita ubah dunia ini dengan musik kita."
Aku terlalu
bingung sampai kata-kata tidak keluar.
Kita, mengubah
dunia, dengan musik...?
Memang benar aku
suka musik, dan ada saatnya aku ingin membentuk band.
Tapi, tetap saja
ini terlalu mendadak. Serika
memang sering membuat perkataan yang aneh, tapi kali ini terasa tidak ada
hubungannya. Seperti yang dia
katakan, dia serius, tidak ada suasana bercanda.
"Kenapa,
aku?"
"Karena aku
ingin melakukannya bersama Natsuki."
"Kenapa
ingin melakukannya bersama?"
"Alasannya
ya... ada banyak, sih."
Serika memilin
ujung rambutnya dan terdiam sejenak.
"Aku sudah
bilang di karaoke, aku suka suara nyanyian Natsuki. Aku ingin kamu menyanyikan
laguku."
"Maksudmu,
aku jadi vokalisnya? Padahal poin Serika lebih tinggi."
"Itu cuma
poin saja, ya. Aku hanya jago karaoke. Itu berbeda dengan Natsuki."
Aku pun sama. Aku
hanya sering pergi ke karaoke sendirian sampai aku jago.
Aku tidak begitu
percaya diri sampai menganggap nyanyianku bagus.
"......Aku
suka nyanyian Serika, kok."
"Bukan aku
tidak bisa. Tapi suara suaraku tidak sampai ke hati semua orang. Jadi Natsuki,
tolong bernyanyilah."
Aku tahu Serika
mengatakannya dengan serius. Aku senang dipuji.
Aku hampir saja
meraih tangannya yang terulur. Tapi aku menahan diri dan menggelengkan kepala.
"......Tidak,
bagiku itu mustahil."
"Kenapa?"
"Kenapa,
ya..."
"Apa ada
alasan kamu tidak mau melakukannya?"
"......Tidak,
aku punya kerja paruh waktu, harus belajar, dan kalau harus ikut klub di
semester dua, itu..."
Setelah
mengatakannya, aku baru sadar.
Aku sekarang
sedang mencari alasan untuk menolak.
Kenapa? Kenapa
aku mencari alasan untuk menolak?
Pasti karena
kalau tidak berusaha keras mencarinya, alasannya tidak ketemu.
Sebenarnya
seharusnya tidak ada alasan apa pun. Karena aku ingin membentuk band.
Aku ingin bermain musik bersama teman-teman yang bisa dipercaya. Alasan aku
berhenti bermain gitar adalah karena aku tidak punya teman band meski sudah
berusaha keras. Sekarang kesempatan itu datang, kenapa aku malah mencoba
menolak?
Melihatku yang bimbang, Serika melanjutkan seolah mendesak.
"Bukan itu
saja, kan. Aku pikir aku bisa memercayai Natsuki. Aku merasa Natsuki akan ikut
bersamaku meski aku berusaha dengan sungguh-sungguh. Selera musik kita,
perasaan kita terhadap musik, pasti kita mirip. Aku tahu, Natsuki. Sebenarnya
kamu ingin bermain musik, kan?"
Seperti kata
Serika.
Jadi mungkin, aku
hanya sedang ketakutan.
Ketakutan karena
harus berhubungan dengan orang asing kalau membentuk band, takut tidak
sebanding dengan kemampuan Serika, atau tidak percaya diri dengan suaraku
sendiri, semua kecemasan itu menguasai diriku.
Menolak itu
mudah, jalan yang gampang. Tapi, apa itu benar?
Apa dengan
menolak ajakan Serika, aku bisa mencapai masa muda terbaik?
Bukankah aku
bersumpah untuk menjalani masa muda tanpa penyesalan?
"Ayo kita
lakukan, Natsuki. Aku ingin bersama Natsuki."
Serika
berkata begitu sambil menyodorkan tangannya. Di ujung jarinya terlihat bekas
latihan.
Bayangan
yang melintas di benakku adalah pemandangan kemarin.
Sosok
Serika yang sedang bermain gitar di Ruang Musik II.
Aku terpesona
oleh suara itu. Aku pikir itu keren. Murni, aku mengaguminya.
Jalani tanpa
penyesalan, ya.
Belakangan ini
aku tidak tahu perasaanku sendiri. Tapi, hanya kali ini aku tahu.
"Terima
kasih, sudah mengajakku."
——Aku ingin
bermain musik bersama Serika.
Aku ingin jujur
pada perasaanku sendiri, aku berpikir begitu.
"Kalau
Serika tidak keberatan... bolehkah aku mencobanya?"
"Tentu
saja. Sangat disambut. Aku senang. Sangat."
Aku
menggenggam tangan Serika yang terulur. Pada saat itu, bel dimulainya pelajaran berbunyi.
"Kalau
begitu, detailnya nanti lagi ya."
Meski ekspresinya
tidak berubah, Serika tampak benar-benar senang.
Sambil menatap
punggung Serika yang kembali ke kelas dengan terburu-buru, aku juga berusaha
kembali ke kelasku sendiri.
Pada saat itu,
aku menyadari ada tatapan yang menusuk.
Saat aku menoleh,
ternyata aku diperhatikan oleh banyak sekali orang.
"A-apa...?"
Saat aku bingung,
gadis-gadis dari kelas sebelah mendekat.
"Itu,
Haibara-kun! Selamat!"
"E-eh...?"
"Jagalah Serika-chan baik-baik ya!"
"Eh? A-ah, iya..."
Gadis-gadis itu kembali ke kelas sambil berteriak
kegirangan.
A-apa-apaan ini...?
Memang benar kami jadi teman band, dan aku berniat
menjaganya, tapi.
......Di situlah, aku akhirnya memahami situasi secara
objektif.
"Mungkinkah, aku terlibat dalam masalah yang
merepotkan...?"
Hari itu. Rumor bahwa Serika menyatakan cinta padaku dan aku
menerimanya tersebar di seluruh sekolah.
*
"——Jadi,
Natsuki. Apa rumor itu benar?"
Setelah pulang
sekolah. Waktu setelah homeroom berakhir dan semua orang pergi ke klub
masing-masing.
Reita dan Tatsuya
mendekati mejaku dan melontarkan pertanyaan itu dengan suara pelan.
"Berapa
banyak yang menyebarkan rumor ini dalam beberapa jam saja..."
Karena
berada dalam kelompok ini sering menarik perhatian, tapi hari ini aku merasakan
tatapan yang lebih dari biasanya.
"Lagipula
sudah pasti itu bohong, kan. Kenapa kalian juga memercayainya?"
"Tidak,
karena ada orang yang bersikeras bilang Serika bilang 'Aku ingin bersama
Natsuki'..."
Itu... memang
benar!
Itu bukan
pembicaraan yang seharusnya di koridor...
"Sebenarnya,
kami juga tahu kalian bicara di jam istirahat siang."
Kata Tatsuya dan
Reita bergantian.
Nanase,
Hoshimiya, dan Uta juga mendekat.
Harusnya enam
orang biasa, tapi entah mengapa aku merasakan tekanan aneh dari para wanita.
Uta dan Hoshimiya
juga berekspresi biasa saja. Tidak tertawa atau marah. Emosinya tidak bisa
dibaca.
"Kebohongan,
kan?"
Menanggapi
konfirmasi Nanase, aku mengangguk, "Tentu saja."
"Tidak
mungkin benar, kan."
"Bagaimana,
ya. Hei, Uta-chan."
"Natsu
dan Seri baru saja kenal, tapi mereka terlihat saling mengerti, kan."
Uta dan Hoshimiya
mengangguk satu sama lain. Percakapan emosi macam apa itu?
Aku takut, tahu.
Yah, bagaimanapun
juga, kalau kujelaskan situasinya, mereka pasti akan mengerti.
Saat aku hendak
membuka mulut, kelas menjadi gaduh.
Tatapan semua
orang tertuju ke pintu masuk kelas. Di sana, penyebab rumor itu sedang menoleh
ke sana kemari.
Saat Serika
menemukan aku yang dikelilingi semua orang, dia melambaikan tangan kecil.
"——Ah,
Natsuki. Ayo."
Melihat keadaan
Serika, tatapan semua orang tertuju padaku.
"Natsu?"
"Natsuki-kun?"
"Haibara-kun...?"
Apa ini keringat
dingin...? Padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun...
Serika
memiringkan kepala melihatku yang tidak bergerak, lalu mendekat ke sini.
"Ada apa,
semuanya. Berkumpul seperti ini."
"......Seri
sendiri, kenapa datang memanggil Natsu?"
"Itu karena,
mulai hari ini dia adalah temanku."
"......Teman?"
Uta, bukan hanya Uta, semua orang membelalakkan mata dengan bingung.
Situasinya
cukup kacau, tapi kalau Serika datang, penjelasannya jadi lebih mudah.
"Aku
akan membentuk band bersama Serika."
Aku
menjelaskan kejadian dari pulang sekolah kemarin sampai istirahat siang kepada
semua orang secara garis besar.
"Begitu
rupanya. Apa, aku kaget."
Reita
berkata dengan ekspresi yang tidak terlalu terkejut.
"Yah,
Serika-chan memang selalu berbicara dengan cara yang membingungkan..."
Hoshimiya
memegang dadanya dan menghela napas pelan.
"Lagipula,
ini cerita yang sangat mendadak. Aku belum pernah mendengar cerita itu
sebelumnya?"
Entah
mengapa Nanase tampak tidak puas.
"Band,
ya! Bagus itu! Jadi begitu! Natsu yang bernyanyi!?"
Uta
membelalakkan matanya dengan cerah dan bertanya dengan suara yang penuh
semangat.
"Ya,
vokalis. Aku juga main gitar. Aku memimpin, dan Natsuki jadi
pendampingnya."
Dan Serika
menentukan peranku sesuka hati. Tidak, aku memang berpikir begitu, sih.
Dalam band rock, lagu yang memiliki dua bagian gitar
akan membagi perannya. Biasanya lead guitar yang memainkan melodi utama,
dan rhythm guitar yang berfokus pada pengiring. Sulit untuk mengatakan
mana yang lebih sulit secara mutlak, tapi yang pasti peran utama lagu adalah lead
guitar.
"Artinya, kamu masuk klub musik ringan?"
Menerima pertanyaan Tatsuya yang tiba-tiba sadar, aku
menatap Serika.
"Soal masuk
klub nanti saja kita pikirkan. Untuk sekarang, aku ingin mencari anggota band
dulu."
Memang
benar, seperti kata Serika.
Klub
musik ringan saat ini sudah memiliki dua band yang terbentuk, dan kudengar
hanya tersisa sedikit orang di sana.
Daripada
mencari anggota di klub musik ringan, mungkin lebih baik mencari di tempat
lain.
"Jadi, belum ada anggota band yang pasti?"
"Belum. Soalnya, aku hanya ingin bermain bersama
Natsuki."
Menanggapi pertanyaan Reita, Serika mengangguk mantap.
Tatsuya bersiul kecil. Sudut bibirnya sedikit miring.
Saat Serika memiringkan kepalanya dengan heran, Tatsuya
hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Ah, bukan apa-apa."
"Ngomong-ngomong, Natsuki-kun, waktu perjalanan itu
kamu sempat bilang bisa main gitar, kan?"
"Tidak bisa dibilang mahir sampai bisa langsung main,
sih. Tapi, aku berencana
untuk berlatih mulai sekarang."
"Bagus
dong, terdengar menyenangkan. Semangat ya, Natsuki!"
Tatsuya
tertawa kecil sambil menepuk-nepuk bahuku dengan keras.
"Kalau
kalian berdua nanti konser, ajak-ajak aku, ya! Aku pasti datang untuk
menonton!"
"Kamu
terlalu bersemangat. Belum ada satu pun yang diputuskan, lho."
Saat aku
menenangkan Uta yang sudah kegirangan, Reita mengambil alih pembicaraan.
"Yah,
bagaimanapun, masalah rumor itu akan aku redam."
Reita memang bisa
diandalkan. Tapi, apakah rumor bisa diredam semudah itu?
Meskipun aku
merasa sedikit ragu, aku merasa jika itu Reita, dia pasti bisa melakukannya.
"Sudah
waktunya kegiatan klub dimulai. Soal detailnya, kita bahas lagi besok
ya."
Atas perintah
Reita, kami bubar dan masing-masing pergi ke kegiatan klub mereka.
"Jadi...
mulai hari ini kita harus bagaimana?"
Rutinitas yang
biasanya tertata kini berantakan. Di tengah pusaran kecemasan, ada pula harapan
yang membuncah.
Entah mengapa,
pemandangan hari ini terlihat lebih bersinar dari biasanya.
"Untuk saat
ini, kita lakukan rapat strategi dulu."
Aku pun pergi
menuju Ruang Musik II bersama Serika yang tampak senang entah karena apa.
Ruang klub musik
ringan sudah dikuasai oleh dua band tadi, jadi Serika biasanya menjadikan Ruang
Musik II sebagai markasnya. Oh ya, ruang musik di sebelahnya digunakan oleh
klub musik tiup (brass band). Berbeda dengan Ruang Musik II yang
strukturnya hampir sama dengan kelas biasa, ruang musik itu memiliki struktur
seperti aula dengan kedap suara yang sangat baik, sehingga permainan klub musik
tiup hampir tidak terdengar. Sebenarnya, klub musik ringan pun pasti ingin
memakai ruangan itu, ya.
"Kita punya
tantangan pertama yang harus dilewati."
"Mencari
anggota band, kan? Tergantung lagu apa yang ingin kita bawakan juga."
Dilihat dari
selera Serika, dia pasti ingin membawakan musik rock yang keras.
Serika
bertanggung jawab sebagai Lead Guitar, dan aku akan menjadi vokal
merangkap Rhythm Guitar.
Jika
begitu, secara umum...
"Berarti
Bass dan Drum, ya."
Jantung dari sebuah band, yang juga disebut sebagai rhythm
section.
Jika drum berperan membuat ritme dengan titik-titik ketukan,
bass memiliki citra menjaga ritme dengan garis yang berkesinambungan.
Bass yang menopang low-end
suara lagu dan drum yang menjaga tempo. Keduanya memainkan peran krusial dalam
sebuah komposisi. Memang, tanpa dua instrumen ini, sensasi groove-nya
akan terasa sangat berbeda.
"Yah,
tidak ada salahnya kalau aku latihan bass dari nol."
Untuk
drum, mungkin sulit jika harus merangkap dengan vokal, tapi aku tahu banyak
band yang vokalisnya merangkap sebagai basis. Lagipula, itu kalau aku mampu melakukannya.
"Soal itu,
kita pikirkan lagi kalau memang tidak ketemu. Natsuki juga suka gitar, kan?"
...Ya,
itu instrumen pertama yang kubeli. Saat menonton konser band rock, perhatianku selalu tertuju pada
gitarisnya. Aku menyukai suara gitar elektrik.
"Aku memang
bisa main bass, tapi aku tetap lebih suka gitar."
Serika
mengucapkannya dengan enteng.
Dia sudah jago
gitar, ternyata bisa main bass juga?
Padahal meskipun
terlihat mirip, bukankah seharusnya dibutuhkan teknik yang sangat berbeda? Benar-benar, Serika memang luar
biasa.
"Jadi,
ada rencana konkret?"
"Di
klub musik ringan, ada seseorang yang kuinginkan untuk bergabung."
"Siapa? ...Ah, percuma juga bertanya, pasti aku tidak
kenal."
"Tidak, kok.
Kemarin kamu melihatnya. Senior Iwano kelas dua. Dia memainkan Drum
dengan luar biasa."
Senior Iwano itu,
si pria besar tadi? Dia orang yang sangat intimidatif...
Jujur saja, aku
tidak begitu tertarik, atau lebih tepatnya—takut. Rasanya sulit untuk akrab
dengannya.
Tapi, aku
penasaran dengan kemampuan drum yang dipuji oleh Serika.
"Masalahnya,
aku sudah pernah ditolak."
"Wah, gawat
dong."
"Tapi, aku
akan mencoba mengajaknya sekali lagi. Ada Natsuki juga, jadi aku merasa mungkin
bisa berhasil."
"Kehadiranku
tidak akan mengubah apa pun..."
"Tidak
apa-apa. Sekali mencoba tidak ada salahnya. Hanya keberanian yang bisa mengubah
dunia."
Serika berkata
begitu sambil mengacungkan jempol.
"Aku akan
membujuk Senior Iwano. Jadi Natsuki, carilah pemain bass."
"Memangnya kamu tidak punya calon untuk bass?"
"Aku hanya kenal orang yang sudah punya band. Bisa saja
meminjam pemainnya, tapi aku ingin latihan dengan serius dan ingin band kita
eksklusif. Aku ingin orang yang
punya semangat."
Permintaan yang
cukup sulit. Lagipula, aku tidak punya banyak teman.
Meskipun jauh
lebih banyak dibanding hidup pertama, tapi dibandingkan Serika, lingkaran
pergaulanku masih sempit. Aku tidak punya kandidat.
Seorang
pemain bass yang semangat, sedang kosong, dan mau bergabung dengan kami.
"Oi, oi,
dengan syarat sesempit itu, mana mungkin bisa ketemu dengan mudah—"
...Eh? Tunggu
dulu.
Anak baru di
tempat kerja paruh waktuku... Shinohara-kun, ya? Seingatku, dia bilang dia anak
klub musik ringan, kan?
'Klub musik
ringan, bagus dong. Kamu main instrumen apa?'
'Bass, sih. Meskipun tidak terlalu jago... eh, tahu instrumen bass, kan?'
——Ketemu! Pemain bass
yang terbuang dan pas sekali untuk kita!
Dia bilang dia
semangat, tapi karena tidak punya teman, dia tidak bisa membentuk band.
Bukankah itu
orang yang tepat untuk kita? Shinohara-kun, syukurlah kamu penyendiri...
"T-tunggu,
tenang dulu. Kalau Serika tidak mengajak, pasti ada alasannya..."
"Kenapa
kamu bergumam sendiri?"
"Serika.
Di klub musik ringan, ada
Shinohara-kun, kan?"
Dia anak kelas
satu yang sama-sama di klub musik ringan, pemain bass, dan tidak punya
band untuk diajak main. Kenapa
dia tidak masuk daftar kandidat?
Saat aku
hendak melanjutkan, Serika mengerutkan kening.
"............Siapa?
Itu."
Sedihnya,
keberadaan Shinohara-kun bahkan tidak dikenali oleh Serika.
Ketika aku
menceritakan tentang Shinohara-kun, Serika tampak sangat terkejut.
"Oh ya,
seingatku memang ada orang yang namanya tidak kukenal sering berada di ruang
klub...?"
"Itu,
jangan sampai bilang begitu di depan orangnya, ya."
Bisa-bisa aku
ikut terluka. Kenangan masa lalu itu melintas di benakku...
Apapun itu, kami
memutuskan agar aku yang mengajaknya saat kami bekerja paruh waktu bersama
nanti.
"Aku akan
mengurus Senior Iwano, dan Natsuki mengurus Shinohara-kun, ya."
Rencana untuk
anggota band setidaknya sudah punya arah. Sisanya, jalani saja dulu.
"Yah, hari
ini sampai sini saja. Semoga anggotanya cepat lengkap."
"Ah, tunggu
sebentar Serika."
Tepat sebelum
kami berpisah setelah bersalaman kepalan tangan, aku berkata:
"——Bantu aku
memilih gitar."
Ya, aku berlatih
gitar itu saat masih kuliah.
Aku membeli
Stratocaster kesayanganku di musim gugur tahun pertama kuliah.
Itu artinya, saat
ini aku tidak punya gitar. Aku perlu membeli peralatan lengkap beserta aksesori
pendukungnya.
*
"Tempat
ini, aku sering ke sini."
Serika membawaku
ke toko alat musik di Takasaki, satu stasiun jauhnya dari sekolah.
Kami masuk
melalui pintu kayu tua, dan suasananya sangat berantakan. Alat musik tertumpuk di ruang yang
sempit dan berantakan. Musik jazz mengalun sebagai latar belakang toko.
Serika
melangkah tanpa ragu melewati kelompok siswa populer yang tampak seperti anak
band, lalu menuju area gitar elektrik. Aku pun mengekor dengan ragu-ragu. Toko
alat musik ini menyeramkan, ya...
"Kamu
ingin yang seperti apa?"
"Dulu
aku punya Fender Stratocaster."
"Bagus dong, Strat. Bagaimanapun, penampilan itu
penting."
Jika
bicara gitar elektrik standar, pilihannya mungkin Stratocaster, Telecaster,
atau Les Paul. Ada juga Jaguar atau Jazzmaster, tapi jujur saja aku tidak tahu
banyak tentang gitar. Lagipula, aku tidak begitu bisa membedakan perbedaan
suaranya. Strat milikku dulu pun hanya karena pengaruh gitaris favoritku.
"Kenapa
tidak coba tes main saja yang membuatmu merasa cocok saat melihatnya? Bagaimana
dengan yang ini?"
Serika
mengambil gitar berwarna merah di dekatnya dan meminta izin kepada staf toko
untuk mencobanya.
Setelah
memeriksa rasa senar dan bentuk bodinya, dia memainkan riff dengan
semangat.
"Natsuki
mau coba?"
Aku
mencoba memegang gitar yang diberikan Serika.
Pas sekali di
pelukan. Aku mencoba memetiknya sedikit.
Tidak buruk...
tapi sensasi saat menggenggam neck-nya terasa agak aneh, ya?
Entah mengapa,
suaranya juga terasa agak ringan.
Saat aku
mengerutkan dahi, Serika memberiku gitar lain, tapi sensasinya juga masih
terasa aneh. Padahal, aku sendiri tidak punya preferensi khusus...
"Natsuki,
kamu punya bakat menjadi gitaris, ya."
Mendapatkan
pujian yang entah mengapa tidak terdengar seperti pujian dari Serika, aku terus
mencari gitar.
"Yah,
mungkin akhirnya memang tetap Stratocaster. Tapi, harganya..."
Meskipun punya
kerja paruh waktu, uang tabunganku sudah banyak terpakai untuk perjalanan
liburan musim panas. Aku tidak bisa menyentuh gitar yang terlalu mahal. Namun,
kalau terlalu murah, aku tidak tahu apakah bisa awet atau tidak.
Keragu-raguanku
kembali muncul di saat seperti ini.
"Hmm...
harganya pas, tapi mungkin yang ini kurang cocok untuk Natsuki."
Ada beberapa
gitar yang sudah di-"filter" oleh Serika meski menurutku tampilan dan
harganya oke.
Aku tidak tahu
pasti, mungkin suaranya yang kurang bagus.
"Sudahlah,
akhirnya pilih yang ini saja."
Setelah berdebat
panjang, pilihannya jatuh pada Fender Stratocaster, sama seperti saat aku
kuliah dulu.
Selain itu, aku juga membeli soft case, pick, amplifier,
cable, dan tuner sesuai saran Serika. Harganya cukup menguras
kantong.
"Kamu beli banyak juga, ya."
"Tabunganku langsung ludes."
Tapi aku
tidak menyesal. Uang bisa dicari lagi.
"......Apa
kamu benar-benar tidak menyesal? Membeli gitar sampai sejauh ini, padahal sudah
terlambat."
"Tidak
apa-apa. Sejujurnya, aku memang ingin sekali punya band. Jadi, aku senang kamu
mengajakku."
Aku ingat
perasaan antusias ini. Sama persis seperti saat aku baru mulai main basket.
Aku merasa
bersemangat untuk melangkah ke dunia yang tidak kuketahui.
"Kalau
begitu, sampai jumpa besok."
Kami berpisah di
depan pintu keluar stasiun dengan Serika yang tinggal di sekitar stasiun
Takasaki.
"Ya.
Semangat, ya."
Serika
bicara dengan nada datar seperti biasanya. Tapi, setelah bergaul dengannya, aku
mulai paham kalau di dalam hatinya dia sedang bersemangat.
"Natsuki
yang sekarang, kelihatan keren seperti anak band."
Ada satu kalimat
itu sebelum dia pergi, dan saat aku menoleh, Serika sudah hilang.
*
Saat aku pulang
ke rumah sambil menggendong gig bag gitar, Nanoka yang sedang makan mie
instan sambil menonton acara ragam melihatku dengan wajah ketakutan, seolah
melihat hantu.
"A-apa
itu...? Kakak."
"Lihat saja,
gitar dan peralatan lainnya."
"Bukan,
kenapa tiba-tiba? Kakak tidak mungkin bisa main gitar, sudahlah hentikan
saja."
"Jangan
menolak mimpi orang lain sejak awal, dong."
Kakak tidak
pernah mengajarimu menjadi anak seperti itu!
"Mau bikin band?"
"Yah, rencananya begitu."
"Hmm... eh!
Jangan-jangan, mau konser di festival sekolah Suzunari!?"
Aku tidak
kepikiran sampai ke sana. Wah, festival sekolah ya.
Seingatku,
festival sekolah Suzunari diadakan akhir Oktober. Sekitar tanggal 25 atau 26.
Di panggung luar
ruangan, biasanya memang ada konser dari klub musik ringan atau band
sukarelawan.
Itu panggung yang
sangat tepat sebagai target, tapi latihannya hanya tinggal satu bulan setengah.
Sulit rasanya jika kami berpartisipasi dengan anggota yang bahkan belum
lengkap.
"Aku ingin
pergi ke festival sekolah Suzunari. Kalau Kakak konser, aku akan
menonton."
"Untuk saat
ini belum ada rencana itu, jadi jangan berharap banyak."
Nanoka bergumam,
"Yah..." dengan kecewa lalu kembali menatap televisi.
Aku masuk
ke kamar dan membuka barang-barang yang kubeli.
Menghubungkan
gitar ke amplifier dengan kabel, lalu memetik senarnya.
Sambil
menyetel nada gitar, aku mengatur volume amplifier.
Syukurlah
tinggal di pedesaan. Halaman rumah yang luas dan rumah tetangga yang berjauhan
membuatku tidak perlu terlalu khawatir soal kebisingan. Meskipun kalau aku main dengan suara keras, Nanoka
pasti akan marah.
"Oke... wah,
ternyata masih bisa main."
Aku memainkan
beberapa frasa favorit yang masih kuingat.
Memang,
jari-jariku belum bergerak lancar. Aku hanya perlu latihan untuk rehabilitasi.
Saat aku sedang
asyik bermain, ponselku berbunyi.
Saat kuambil,
ternyata ada panggilan masuk dari Hoshimiya Hikari di RINE.
"......Halo?"
'Ah,
Natsuki-kun? Selamat malam.'
Mendengar suara
Hoshimiya yang ceria membuat hatiku merasa sedikit bahagia.
'Tadi
lagi apa?'
"Latihan
gitar. Aku akan membentuk band."
Sambil
menjawab, aku memetik senar gitar pelan. Suara dentuman yang lembut bergema.
'Wah,
benarkah. Hebat ya. Ternyata kamu bisa main gitar.'
"Belum
mahir, kok. Harus latihan lebih keras lagi mulai sekarang."
Lagi pula,
menurutku Hoshimiya yang bisa menulis novel jauh lebih hebat dariku.
'Itu...
Natsuki-kun, aku sama sekali tidak tahu tentang itu, lho.'
Suaranya
terdengar sedikit marah.
Memang aku tidak
menjelaskan pada siapa pun, tapi aku sendiri baru saja diajak dan langsung
mengiyakannya.
'Aku tahu kamu
suka rock. Tapi tiba-tiba membentuk band...'
"......Aku
sendiri pun terkejut pada diriku. Tapi karena diajak Serika, aku jadi ingin
mencobanya."
Wajar
jika semua orang merasa ini mendadak. Memang benar begitu.
Mungkin,
melihat penampilan Serika secara langsung sangat berpengaruh.
Aku terpesona
oleh penampilan Serika. Aku
ingin bisa bermain gitar seperti dia.
'Jadi,
ceritanya mendadak?'
"Ya.
Tapi pada dasarnya, aku memang punya keinginan untuk main band."
'Hmm...
band rock, ya. Aku tidak begitu paham dunia itu.'
"Apa
Hoshimiya tidak begitu suka mendengarkan musik?"
'Hmm,
begitu ya. Biasanya, aku lebih sering membaca atau menulis novel.'
Bahkan di
saat seperti ini, dia pasti sedang menulis novel.
Di sela
suara Hoshimiya, sesekali terdengar bunyi ketukan keyboard.
"Kalau
tertarik, nanti aku kenalkan lagu-lagu rekomendasi."
'Benarkah? Kalau begitu, aku ingin coba dengar.'
Karena dia pemula di dunia rock, sebaiknya tidak
memberikan lagu yang terlalu keras.
Aku menulis daftar lagu favoritku yang bernada lembut...
sebanyak yang aku bisa ingat.
Setelah
kukirim daftar lagu lewat RINE, Hoshimiya langsung mendengarkannya.
'Wah, suaranya bergema banget ya...? Bagus, ya?'
"Tidak
perlu dipaksa memuji. Selera orang beda-beda."
Belum
tentu Hoshimiya suka dengan apa yang kusuka. Itu hal wajar.
'Aku tahu
itu... tapi, aku ingin menyukainya.'
"......Kenapa?"
Aku tidak
mengira dia begitu tertarik dengan rock.
Saat aku
sedang berpikir, Hoshimiya melanjutkan dengan suara yang tenang.
'Karena aku
ingin menyukai apa yang disukai Natsuki-kun.'
Napas seakan
terhenti. Untuk diriku yang seperti ini, apakah Hoshimiya benar-benar
memikirkannya?
'Karena
itu hal yang menyenangkan, kan? Jika bisa melihat hal yang sama dan merasakan kebahagiaan yang sama.'
"......Begitu
ya. Aku senang jika Hoshimiya menyukai rock."
'Bagiku, aku
senang saat Natsuki-kun membaca novel kesukaanku dan bilang itu menarik.
Rasanya senang bisa berbagi kesan. Jadi, aku pun ingin begitu.'
"Aku
senang mendengar perasaanmu, tapi tidak perlu dipaksakan."
'Ya, aku tahu.
Musik seperti ini tidak ada artinya kalau tidak tulus.'
Sambil
bicara begitu, sepertinya Hoshimiya tetap mendengarkan lagu yang
kurekomendasikan.
'......Ah, aku
suka yang ini. Lagu
"Hoshi ni Negai wo" dari Flumpool.'
"Itu bagus
ya. Kalau suka itu, ini juga rekomendasi dariku. Aku kirim lewat chat."
Untuk beberapa
saat, kami mengobrol tentang hal-hal kecil seperti itu.
'......Hei,
Natsuki-kun, lagu seperti apa yang akan kalian mainkan?'
"Entahlah,
belum tahu. Tapi karena itu Serika, pasti lagu yang kusuka."
Saat aku menjawab
dengan jujur, Hoshimiya bergumam dengan suara yang terlihat cemburu.
'......Kamu
sangat memercayai Serika-chan ya? Aku, sungguhan cemburu lho.'
T-tolong jangan
jujur seperti itu... aku harus bereaksi bagaimana?
Saat aku bingung
menghadapi kejujurannya, Hoshimiya melanjutkan, "Tapi."
'Jika itu yang
diputuskan Natsuki-kun, aku akan mendukungmu.'
"......Terima
kasih. Hoshimiya juga semangat ya. Sedang menulis karya baru, kan?"
'Ya.
Novel yang kemarin kuberikan padamu sudah kukirim ke kompetisi penulis baru,
tinggal menunggu hasil. Sambil menunggu, aku ingin membuat karya
selanjutnya. ...Nanti kalau sudah selesai, boleh minta tolong baca?'
"Tentu saja.
Aku menantikan karya baru Hoshimiya."
'Ahaha, senang
rasanya. Aku pun menantikan band kalian.'
"Anggotanya
saja belum lengkap, jangan naikkan ekspektasi terlalu tinggi begitu."
'Eh,
Natsuki-kun jadi pesimis ya. Harusnya kamu bilang "serahkan saja
padaku" biar kelihatan keren.'
"Argh...
benar juga ya. Aku introspeksi."
Kata-kata
Hoshimiya yang terdengar tulus belakangan ini selalu menembus hatiku.
Ya, benar... aku
memang selalu pesimis...
Lagipula aku
ragu-ragu, pengecut, dan tidak punya kepercayaan diri untuk bilang
"serahkan saja padaku". Pria yang menyedihkan.
Saat aku
merenung, terdengar suara tawa kecil dari telepon.
'Kamu sedang
sedih, ya? Lucu deh, Natsuki-kun.'
"Aku tidak
begitu senang dipanggil begitu... sebagai pria, aku ingin terlihat keren."
Lagipula, apa
artinya dipanggil "lucu" oleh seorang pria?
Aku tidak tahu
lagi.
"Sudah
waktunya lanjut latihan gitar lagi."
'Aku juga
harus mandi. Sampai di sini saja ya.'
"Ya.
Sampai jumpa besok."
'Ya.
——Aku dengan novel, Natsuki-kun dengan musik. Semangat ya!'
Kami sepakat
seperti itu, lalu mengakhiri panggilan.
Meskipun
yang kami tuju berbeda, kami saling terhubung.
Aku
melempar ponsel ke kasur dan kembali memegang gitar.
Aku ingin
jadi orang yang keren.
Setidaknya,
saat sedang memegang gitar ini.
Aku ingin
jadi orang yang kuat yang bisa bilang aku menyukaimu tanpa ragu, dengan penuh
percaya diri.
Hanya itu yang
kupikirkan saat itu.
*
Keesokan harinya.
Saat aku masuk ke kelas dengan menggendong gig bag gitar, semua tatapan
tertuju padaku.
Yah, aku tidak
pernah membawanya, jadi wajar jika menarik perhatian... tapi sejujurnya
memalukan.
"Cocok juga
ya, Natsu."
Orang pertama
yang menegurku adalah Uta.
"Begitu
ya?"
"Kamu sudah
terlihat seperti anak band."
"Dibilang
terlihat seperti anak band... entah kenapa tidak terdengar seperti
pujian..."
"Ahaha, itu
prasangka!"
Sambil mengobrol
dengan Uta, aku duduk di bangku.
"Boleh aku
lihat sebentar?"
Nanase yang
tahu-tahu sudah berada di sampingku menatap gig bag itu dengan penuh
rasa ingin tahu. Saat
aku mengangguk, Nanase mengeluarkan gitarnya dan mulai melihatnya dengan
saksama.
"Wah, keren
ya... ini selera Haibara-kun?"
"Yah, aku
minta saran dari Serika, tapi yang memutuskan akhirnya tetap aku."
"Aku
ingin melihat Natsu bermain gitar!"
"Boleh saja,
tapi tidak mungkin main di dalam kelas seperti ini. Lain kali ya."
Saat aku menjawab
sambil tertawa pahit, Uta menggembungkan pipinya dengan tidak puas.
"Semuanya,
selamat pagi."
Pada saat itu,
Hoshimiya masuk ke kelas.
Seperti biasa,
senyumnya yang bersinar menyapa semua orang.
Sambil membuat
suasana kelas jadi ceria, dia mendekat ke arahku. Karena bangkunya di
sebelahku.
"......Pagi,
Hikarin."
"......Ya.
Selamat pagi, Uta-chan."
Entah mengapa,
keduanya menyapa dengan nada yang sangat aneh.
Ada sedikit
perasaan tidak nyaman. Kukira hanya perasaanku saja, tapi rasanya benar-benar
berbeda dari biasanya.
Keheningan yang
canggung muncul, dan Nanase lah yang memecah suasana itu.
"Ngomong-ngomong,
hari ini ada tes kecil matematika, ya."
"Eh!? Yang
benar...?"
"Bukankah
Pak Murakami sudah bilang waktu lusa kemarin?"
"Sama sekali
tidak tahu... mungkin aku tadi tidur..."
"Aku tahu
karena duduk di sebelahmu, tapi Hoshimiya sering tidur saat pelajaran,
lho."
"Natsuki-kun
jangan membocorkan informasi yang tidak perlu! Aku hanya kebetulan sedang tidur
saat itu!"
Hoshimiya
berteriak, lalu melirik wajah Uta.
"Uta-chan,
sudah tahu?"
"Tentu saja!
Meskipun aku tidak belajar!"
"Berarti
sama saja dong dengan Hoshimiya... kalau hasil akhirnya..."
"Ada
perbedaan besar antara tahu tapi tidak melakukan, dan sama sekali tidak
tahu!"
"Apa
maksudmu!? Uta-chan! Hei!"
Entah mengapa,
Hoshimiya mulai menggelitik Uta yang membusungkan dada dengan penuh percaya
diri.
Apakah tadi itu
hanya perasaanku saja?
Uta dan Hoshimiya
bermain seperti biasa.
Saat itulah,
Reita dan Tatsuya muncul.
"Semangat
sekali ya pagi-pagi. Aku sudah kelelahan karena latihan pagi."
Reita
berkata sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk.
"Yo. Hei
Natsuki, ajari aku sebentar dong. Aku lagi mengulas bagian yang dibilang
penting sama si Murakami, tapi ada bagian yang kurang paham."
Dan
Tatsuya yang paling serius.
"Ini
di nomor 3 halaman 43, cara penyelesaiannya tidak sama dengan
perhitunganku—"
Tatsuya
membawa buku teks matematika ke tempatku dan mulai berbicara.
"Kami
juga..."
"I-iya...
ayo belajar."
Melihat
keadaan Tatsuya, Uta dan Hoshimiya saling berpandangan lalu kembali ke bangku
masing-masing.
Reita dan Nanase
memperhatikan saat aku menjelaskan soal kepada Tatsuya.
Dua orang ini
pasti menganggap tes kecil bukan masalah. Mereka bukan tipe yang lalai belajar.
"Orang bisa
berubah ya."
"Mereka
mencoba untuk berubah. Aku suka hal seperti itu."
Aku tidak begitu
paham arti kata-katanya, tapi mereka berdua tampak saling mengerti.
*
Tes kecil
matematika sepertinya semua orang berhasil melaluinya dengan selamat.
Setelah pulang
sekolah, ada panggilan dari Serika.
"Senior
Iwano bilang dia mau dengar ceritanya. Ayo kumpul."
Baru sehari
berlalu, tapi tampaknya pembicaraan sudah berjalan sejauh ini.
Segera setelah
aku menuju Ruang Musik II, Senior Iwano dan Serika sudah ada di sana.
Senior
Iwano sedang menatap ke luar jendela dengan tangan di saku, sementara Serika
sibuk menyetel gitarnya. Tidak
ada percakapan di antara mereka. Ugh, suasananya sulit untuk diajak bicara...
Namun, saat aku
membuka pintu, Senior Iwano menoleh ke arahku, dan Serika melambai padaku untuk
mendekat.
"Anak
ini yang bakal jadi vokalisnya? Menggantikan posisimu?"
"Yup. Dia
lebih jago dariku. Senior Iwano juga pasti tahu kalau sudah dengar."
Ternyata Serika
menggunakan bahasa santai bahkan kepada senior. Aku sempat merasa tegang
sejenak, tapi Senior Iwano tampaknya tidak peduli. Mungkin dia orang yang baik,
terlepas dari penampilannya yang garang.
Senior Iwano
menatapku. Meneliti, seolah sedang menjilat-jilat tubuhku dengan pandangannya.
"A-aku
Haibara Natsuki, siswa kelas satu."
"......Iwano
Kengo, kelas dua. Aku pemain Drum."
Saat aku
memperkenalkan diri, Senior Iwano pun membalas dengan biasa.
"......Yang
kau bawa itu gitar? Bisa
main?"
"Bisa,
kurang lebih. Meskipun tidak jago-jago amat..."
Tekanan dari
tatapannya luar biasa. Senior Iwano terus menatapku tanpa kata.
"......Aku
segera kembali."
Singkat, padat,
dan jelas. Senior Iwano keluar dari Ruang Musik II.
"A-apa
maksudnya itu...?"
"Dia bilang
dia mau ambil set drum dari ruang klub, jadi kita diminta coba latihan ringan
dulu."
"Hanya dari
satu kalimat itu, dia menyampaikan pesan sepanjang itu!?"
"Senior Iwano memang selalu bicara seadanya. Kamu akan
terbiasa kalau sudah sering bersamanya."
Menurutku, Serika sendiri juga termasuk orang yang irit
bicara.
Apakah karena mereka mirip, jadi bisa saling mengerti?
Apapun itu, sepertinya dia memang tertarik dengan band kami.
"Ayo,
Natsuki juga segera siapkan gitarmu. Kalau ada alat yang kurang, pakai punyaku saja. Efektor ini bisa
menghasilkan distorsi yang cukup enak, lho."
Saat aku bersiap
untuk sesi latihan atas dorongan Serika, Senior Iwano mengangkut set drumnya
sedikit demi sedikit. Terlihat cukup melelahkan. Snare drum, bass
drum, tom-tom, floor tom, hi-hat cymbal, crash cymbal, ride cymbal... Set
drum akustik yang biasa dipakai konser mulai tertata di Ruang Musik II.
Senior Iwano menyesuaikan posisi set, sementara aku dan
Serika melakukan sound check, mengatur volume amplifier, dan
melakukan tuning. Di tengah suara disonan yang tidak beraturan, Senior
Iwano mulai memukul drumnya.
Dia menandai ritme dengan hitungan tiga, lalu masuk ke irama
delapan ketukan (8-beat).
Serika menambahkan melodi dengan improvisasi.
Aku pun mengikuti dengan ragu menggunakan progresif kord
yang aman.
Di dalam
Ruang Musik II yang tadinya tenang, pusaran suara yang intens meluap.
Sebebas
apa pun Serika memainkan gitarnya, Senior Iwano tetap memukul ritme dengan
akurasi yang luar biasa.
Di saat yang
sama, suaranya sangat bertenaga. Benar-benar dentuman drum yang penuh daya dobrak.
Sesi improvisasi
seperti ini belum pernah kulakukan sebelumnya, dan ini terlalu sulit.
Bahkan saat aku
melakukan kesalahan, keduanya tidak peduli dan terus bermain.
Jujur saja, aku
sudah kewalahan hanya dengan mencoba mengikuti mereka.
"Natsuki,
bernyanyilah."
Tiba-tiba, Serika
berkata dengan singkat.
Seketika itu
juga, gitar Serika mengubah suasana lagu secara drastis.
Riff lagu yang
kukenal. Mengikutinya, Senior Iwano juga mengubah pola drumnya.
Aku tahu lagu ini. Taisetsu na Mono milik Road of
Major. Lagu favoritku.
Meminta orang tiba-tiba bernyanyi itu terlalu tidak masuk
akal, tapi tidak ada pilihan lain. Aku mulai bernyanyi tanpa mikrofon. Di
tengah tekanan suara gitar dan drum yang nyaris menenggelamkan suaraku, aku
memaksakan volume suaraku naik.
Aku segera sadar
masalah utamanya. Bernyanyi sambil memainkan gitar ternyata jauh lebih sulit
daripada yang kubayangkan. Progresif kordnya saja masih samar di ingatanku.
Tentu saja, langsung menggabungkan gitar dan vokal itu mustahil.
Begitu
aku menyerah dan melepaskan tangan dari gitar, Serika langsung menyesuaikan
diri. Dia memadukan bagian backing dan lead dengan sangat apik.
Teknik yang luar biasa.
Setidaknya
sekarang aku bisa fokus pada vokal, tapi tantangannya masih menumpuk. Berbeda
dengan karaoke yang ritmenya selalu presisi, pertunjukan langsung pasti ada
sedikit ketidakteraturan. Bernyanyi mengikuti itu sungguh sulit... Tapi
saat kupikir begitu, justru sebaliknya, instrumen mereka yang menyesuaikan
dengan nyanyianku. Oh, ternyata dalam pertunjukan langsung hal seperti ini bisa
dilakukan, ya. ...Apa ini, menarik sekali?
Rasanya mulai menyenangkan.
Setelah menyelesaikan Taisetsu na Mono dengan volume
suara maksimal, Senior Iwano melakukan drum fill, dan Serika memetik
senar terbuka sebelum meredamnya untuk mengakhiri lagu. Ruang Musik II seketika
diselimuti kesunyian.
Hanya suara napasku yang terengah-engah yang bergema.
"......Hondo tidak asal bicara ternyata, tapi permainan
gitarmu masih jauh."
Senior
Iwano memutar stik drumnya dan berdeham.
"Tapi,
potensi pengembangannya terasa, kan? Baik gitar maupun vokalnya. Aku suka suara
Natsuki. Meski high-tone voice-nya jernih, ada kekuatan khas anak
laki-laki, dan suaranya bergema dengan berat."
"Memang
benar, untuk lagu yang kau buat, suara anak ini mungkin lebih cocok."
"......Ya.
Untuk laguku, suaraku terlalu ringan. Yah, itu juga karena aku memang kurang
jago, sih."
"Hondo. Aku
mengerti apa yang ingin kau katakan. Tapi, apa kau yakin dengan keputusan
ini?"
Aku tidak bisa
mengikuti percakapan mereka.
Mungkin karena
sesama anak klub musik ringan, mereka punya sejarah panjang di balik interaksi
ini.
Menanggapi
pertanyaan tajam Senior Iwano, Serika mengangguk mantap.
"Tidak
apa-apa. Untuk musikku, aku tidak perlu menyanyi sendiri. Akhirnya aku sadar
akan hal itu."
Mendengar
kata-kata Serika yang seperti sudah membulatkan tekad, ingatan saat di tempat
karaoke tiba-tiba melintas di otakku.
'Seri
juga sering jadi vokalis, kok.'
Mungkin
di band yang dia bentuk selama ini, dia selalu jadi gitaris sekaligus vokalis.
Serika
yang seperti itu kini mendengar suaraku dan memintaku menjadi vokalis.
Aku baru
menyadari betapa berat arti kata-kata itu. Vokalis adalah wajah dari sebuah
band. Sehebat apa pun Serika bermain, jika aku bernyanyi dengan buruk, itu akan
menjatuhkan nilai lagunya.
Aku
senang dia berharap padaku.
Tapi,
bisakah aku benar-benar melakukannya?
...Jangan
ragu, Natsuki. Bukankah kau
memutuskan untuk melakukannya karena kau memang ingin?
Kalau sekarang
payah, ya tinggal jadi lebih jago.
Vokal
atau gitar, aku hanya perlu berlatih sekuat tenaga. Kalau tidak, aku tidak akan
bisa mengikuti Serika.
"Ayo
lakukan, Senior Iwano. Lagipula, aku suka permainan drum senior."
Mengakhiri
pembicaraan, Serika mengajak Senior Iwano dengan nada bicara seperti biasanya.
Senior
Iwano terdiam dan menatap ke luar jendela. Langit sudah diwarnai cahaya
matahari terbenam.
...Tadi
Serika bilang dia pernah ditolak sekali. Apakah ada alasan yang membuat Senior
Iwano tidak bisa bergabung?
Setidaknya
selama sesi tadi, dia tampak senang saat memukul drum.
Bahkan
untukku yang baru bertemu dengannya, hal itu sangat terlihat. Senior Iwano dan
Serika sama-sama irit bicara dan sulit ditebak ekspresinya, tapi suara
instrumen mereka berbicara dengan sangat fasih mengenai emosi mereka.
"Senior Iwano. Aku juga, ingin bermain bersama
Senior."
Jujur saja, sebelum bermain bersama tadi, aku tidak
berpikiran begitu. Kesan sulit didekati masih mendominasi. Tapi sekarang
berbeda. Karena aku tahu dia adalah orang yang memukul drum dengan penuh
semangat seperti itu.
"......Kalau
kita bermain bersama, hanya sampai tahun ini saja. Setelah itu tidak bisa
lanjut."
"Tidak
apa-apa. Target kita adalah festival sekolah."
...Begitukah?
Padahal itu informasi baru bagiku.
Festival sekolah
tinggal satu setengah bulan lagi, apakah itu mungkin?
Melihatku
yang ternganga, Serika memiringkan kepalanya dengan heran.
"Memangnya
belum kuberitahu? Kita akan konser di festival sekolah nanti."
"Padahal
tinggal satu setengah bulan lagi, lho?"
"Kalau
anggotanya lengkap, pasti bisa teratasi."
Aku menangkap
maksud tersiratnya, yaitu 'kalau berlatih sampai mati'.
"Natsuki
juga ingin, kan? Ini kesempatan buat pamer keren di depan gadis yang kau sukai,
lho."
"......Ya,
kalau kita bisa membuat suasana ramai dengan lagu kita, pasti bakal keren
sih."
Pemandangan itu
pasti sangat mendekati masa muda penuh warna yang kuincar.
Meskipun, tingkat
kesulitannya jauh di atas rintangan yang pernah kuhadapi sebelumnya.
Ini bukan di
manga atau anime. Di festival sekolah nyata, konser band SMA yang sangat ramai
dan sukses itu jarang terjadi. Masalahnya ada pada kualitas penonton yang tidak
terbiasa menonton konser, masalah perangkat akustik panggung, dan tentu saja
kualitas band itu sendiri.
"......"
Selama kami
bicara seperti itu, Senior Iwano tetap bungkam.
"Kenapa
kalaupun mau dilakukan, hanya sampai tahun ini?"
"......Tidak
seperti kalian, aku kelas dua. Tahun depan aku harus fokus belajar untuk ujian
masuk universitas."
Menanggapi
pertanyaanku, jawaban itu terlontar pelan.
Itu memang benar.
Semester tiga kelas dua sering disebut sebagai 'semester nol' bagi kelas tiga.
Kalau mau masuk universitas bagus, melakukan kegiatan band setelah tahun depan
memang sulit.
"Senior
Iwano mengincar fakultas kedokteran."
...Begitu ya.
Kalau begitu, memang tidak bisa dicapai dengan belajar setengah hati.
"Nilainya
pun peringkat satu di kelas dua, lho. Padahal kelihatannya begitu, kan?"
"Apa
maksudmu dengan 'kelihatannya begitu'. Dari sudut pandang mana pun, aku ini
serius, bukan?"
Senior Iwano
membela diri dengan wajah cemberut menanggapi Serika yang kelewat blak-blakan.
Jujur saja, aku
tidak bisa setuju dengan keduanya, jadi aku hanya menyunggingkan senyum
basa-basi untuk mencairkan suasana.
Tetap saja,
kedokteran ya. Passing grade sekolah ini memang salah satu yang
tertinggi di provinsi, tapi bukan yang teratas. Siswa yang bisa masuk
kedokteran bisa dihitung jari. Bisa dibayangkan betapa sulitnya itu.
"......Kedua
orang tuaku adalah dokter."
Alasan
yang berat pun terungkap.
"Aku
juga harus menjadi dokter. Jadi aku tidak boleh tersandung hanya karena ujian
masuk. Tapi otakku bukan tipe yang jenius. Melakukan dua hal sekaligus secara
setengah-setengah tidak akan berhasil."
"......Tapi,
senior ingin melakukannya, kan? Makanya wajah senior terlihat sesakit
itu."
Serika
menunjukkannya dengan lugas, tapi... bagiku, wajah Senior Iwano tampak seperti
biasanya, selalu cemberut. Apakah orang-orang yang akrab dengannya bisa melihat
perubahan sekecil itu?
"Aku merasa
sudah terlambat. Setelah kakak kelas lulus dan band lamaku bubar, tidak ada
yang mengajakku bergabung. Mungkin karena mereka bisa melihat kondisiku dan
mencoba menjaga perasaanku?"
"Tidak, sama
sekali tidak. Semua orang cuma takut saja sama senior. Terutama anak kelas
satu, reputasi senior buruk lho. Awalnya aku juga begitu, tapi setelah
mendengar drum senior, pemikiranku berubah."
Mendengar ucapan
Serika yang terlalu jujur, Senior Iwano tertegun sampai-sampai suara efek
'Jreng!' seolah terdengar di atas kepalanya. Melihatnya terkejut separah itu,
aku jadi yakin bahwa perubahan ekspresinya memang terlihat jelas bagi orang
lain.
Mungkin itu
informasi yang lebih baik tidak diketahui oleh yang bersangkutan, ya...?
Berdeham pelan
untuk mengubah suasana, Senior Iwano berkata.
"Aku
menyukai gitarmu, dan lagu-lagu yang kau buat. Aku tertarik dengan jalan yang
kau tempuh."
Justru karena
itu, lanjutnya.
"Aku takut
kalau aku membentuk band denganmu, aku akan terus terbawa arus. Aku takut aku
akan menyerah mengejar kedokteran dan malah terjun ke dunia musik. Itu...
menakutkan bagiku."
"Senior,
tumben sekali bicaranya panjang lebar?"
"......Karena
ini perasaan jujurku. Kalau bisa, aku tidak ingin menunjukkan kelemahan seperti
ini."
Keheningan
membentang di antara Serika dan Senior Iwano.
"——Kalau
begitu, sampai festival sekolah saja."
Tak lama
kemudian, Serika memproklamirkan seolah membulatkan tekad.
"Sekitar
satu setengah bulan lagi dari sekarang? Ayo kita lakukan dengan
sungguh-sungguh. Sampai penyesalan pun menghilang. Kita buat penampilan terbaik
di panggung festival sekolah, lalu akhiri semuanya."
"Kenapa
sampai segitunya... kenapa harus aku? Masih banyak pemain drum lain, kan? Kalau
tidak terbatas di sekolah ini saja, kemampuan Hondo pasti bisa menemukan banyak
pemain yang lebih jago dariku."
"Aku
mengajakmu karena aku terpesona dengan drum milik senior. Tidak masalah kalau hanya sementara. Bahkan
dalam waktu singkat pun, aku ingin bermain bersama... Senior Iwano, dan Natsuki
yang ada di sini."
Kalimat itu penuh
gairah, seolah pengakuan cinta.
Aku jadi
paham betapa seriusnya Serika terhadap musik.
"......Mengerti.
Sampai festival sekolah, ya."
Seolah
sudah membulatkan tekad, Senior Iwano mengangguk.
Serika
memasang senyum penuh kepuasan dan mengangkat kedua tangannya.
Saat aku
masih bingung, Serika mengerutkan kening dengan tidak puas.
"Apa yang kau lakukan? Ayo, high-five."
"H-high-five...?" kataku sambil mengangkat tangan.
Serika langsung menepukkan
tangannya dengan kuat. Suaranya terdengar nyaring. Lalu, dia berputar-putar
seperti sedang berdansa.
Tampaknya dia
sangat senang.
"Terus? Vokal, gitar, dan drum sudah
lengkap... bagaimana dengan bass?"
"Aku
hanya ingin bermain dengan kalian berdua. Sisanya belum ada rencana. Tapi katanya Natsuki
punya kenalan pemain bass. ...Itu kan pembicaraannya?"
"Ya, tapi
itu cuma rencana untuk mengajak, jadi jangan berharap terlalu tinggi."
"Sekadar
mengingatkan, kalau mau tampil di festival sekolah, harus siswa sini."
"Itu tidak
masalah. Tapi senior tahu tidak? Namanya Shinohara-kun."
Meski sudah
menduga jawabannya, aku tetap bertanya. Seperti dugaanku, Senior Iwano hanya
memiringkan kepala dengan wajah cemberut.
"......Siapa
itu? Dia anak klub musik ringan?"
Hahaha, aku
tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan untuk saat ini.
*
Tiga hari
kemudian. Hari kerja yang panjang berakhir, dan hari Sabtu pun tiba.
Saat aku sedang
bekerja paruh waktu di Kafe Males, bel tanda pelanggan masuk berbunyi.
"Selamat
datang!"
Nanase yang
bertugas di bagian depan merespons, dan aku yang bertugas di dapur melihat ke
arah pintu dari balik meja kasir.
"Halo,
Yuino."
Di sana berdiri
Serika dengan pakaian kasual. Biasanya rambut panjangnya yang cokelat diikat side-tail
ke kanan, dengan baju rajut yang sedikit terbuka di bahu dan rok mini yang
sangat pendek. Aku jadi bingung harus melihat ke mana.
"Oh?
Bukannya Serika? Apa ada urusan dengan Haibara-kun?"
"Hmm,
bisa dibilang begitu, bisa juga tidak."
"......?
Aku tidak paham, tapi silakan duduk ke sana ya."
Mengikuti
Nanase dari belakang, Serika menoleh ke kiri dan kanan sampai menemukanku, lalu
melambai kecil. Tolong
hentikan gerakan imut yang biasa saja itu. Licik sekali wanita ini...
"......Eh? I-itu Hondo-san. Dia datang ke kafe ini ya."
Shinohara-kun
yang sedang mencuci piring di sampingku tampak terkejut.
Sambil
memperhatikan kondisi Shinohara-kun, aku melihat jam. Sudah lewat jam
dua belas siang.
Shift-ku dan Shinohara-kun akan segera berakhir. Aku sengaja
memanggil Serika di waktu itu. Aku
sadar, untuk merekrut orang, karisma Serika jelas sangat dibutuhkan.
"......O-oh
ya, Haibara-kun. Akhir-akhir ini kalau ke sekolah, kamu selalu menggendong
gitar, ya?"
"Eh, rumah
kelas kita jauh, kok bisa tahu?"
Jujur saja,
memanggul gitar yang bahkan belum jago-jago amat itu memalukan sekali.
Kalau sudah jago,
aku bisa lebih percaya diri, jadi aku ingin cepat mahir...
"Anak-anak
perempuan di kelas membicarakannya, dan aku sendiri juga melihatnya. Apa
mungkin, masuk klub musik ringan?"
"......Mungkin
saja masuk, tapi sampai saat ini aku belum tahu."
Kalau anggota
band sudah lengkap, tidak masuk klub pun tidak masalah.
"Bisa main
gitar?"
"Sedikit.
Tapi, belum jago kok."
"T-tapi itu
hebat. Kamu bisa
belajar, olahraga, dan main gitar juga ya."
Shinohara-kun
menatapku dengan tatapan yang semakin terlihat seperti pemujaan, dan itu
menakutkan.
Bagaimana caranya
supaya penilaiannya terhadapku turun, ya?
"Aku tidak
sekeren itu. Reputasiku dilebih-lebihkan, jadi seram sendiri."
"B-bahkan,
kamu rendah hati... sama seperti rumornya..."
S-sial! Apa pun
yang kukatakan, semuanya diartikan ke arah yang positif!
Saat aku sudah
menyerah untuk menjatuhkan reputasiku sendiri, jarum jam menunjuk ke atas.
"Yo,
anak-anak. Ganti shift. Kerja bagus."
Mitsuno-san,
ketua shift paruh waktu, muncul dari ruang istirahat dan menepuk bahu
kami.
"Kerja
bagus."
"T-terima
kasih banyak... maaf ya..."
"Oh, kerja
bagus. Kenapa minta maaf? Shinohara memang lucu, ya."
Saat kami kembali
ke ruang istirahat untuk berganti pakaian, Shinohara-kun masih terus
menundukkan kepala.
"Shinohara-kun,
setelah ini ada waktu sebentar?"
"E-eh!?
Maaf! Apa aku melakukan kesalahan...?"
Aku mencoba
bertanya selembut mungkin, tapi dia malah jadi sangat waspada.
"Bukan,
bukan begitu. Aku cuma mau tanya, maukah kamu bergabung dengan band kami?"
"A... begitu ya. Syukurlah... eh? Eh? B-band? Bersama
kalian?"
"Iya. Anggotanya aku, Serika di sana, dan Senior Iwano
dari klub musik ringan."
Setelah kujelaskan singkat, Shinohara-kun tertegun dengan
mata terbelalak.
"E-EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!?!"
Lalu, dia
berteriak dengan suara aneh yang belum pernah kudengar sebelumnya.
*
Kami
berdua duduk di depan kursi empat orang yang sudah diduduki Serika.
Menyadari
keberadaan kami, Serika melepas earphone-nya.
"Lagi
dengerin musik?"
"Yggdrasil-nya
Bump. Album legendaris yang wajib didengar seluruh umat manusia."
"Aku
tahu. Apa pun yang didengar, ujung-ujungnya pasti balik ke lagu itu."
Nanase
datang membawakan minuman untuk kami saat pembicaraan kami sedang asyik.
Aku memesan kopi
hitam, dan Shinohara-kun memesan caffe latte.
"Rapat
band?"
"Lebih
tepatnya, perekrutan Shinohara-kun."
Shinohara-kun
yang tadinya kaku karena gugup tiba-tiba tersentak.
"Ngomong-ngomong,
Shinohara-kun juga anak klub musik ringan ya."
"Iya. Memang
benar, rasanya pernah lihat beberapa kali di ruang klub... mungkin?"
"Oi,
setidaknya yakinlah saat bicara begitu."
Mendengar
kata-kata Serika yang seperti biasa tidak punya kepekaan, aku buru-buru
menimpali.
"T-tidak...
maaf, keberadaanku kurang terlihat..."
Hahaha,
Shinohara-kun tertawa getir. M-matanya kosong!
"Kami lagi
cari pemain bass yang pas."
Serika bicara
blak-blakan. Oi, jangan pakai kata sifat yang aneh-aneh!
"Siswa di
sini, tidak ikut band lain, dan berpengalaman main bass."
"......Kalau
syarat itu, memang cocok sih. Karena aku cuma orang buangan di klub musik...
hahaha..."
Aku ingin dia
berhenti mengejek diri sendiri terus, karena responnya jadi susah!
Aku teringat
diriku yang dulu, saat aku mengatakan sesuatu, orang-orang di sekitar hanya
tertawa getir.
Ternyata perasaan
mereka dulu seperti ini ya... melakukan ejekan diri berlebihan itu tidak baik,
lho.
"Shinohara-kun...
ya? Kalau tidak keberatan, mau masuk band kami? Baru terbentuk, belum ada
namanya sih. Kami berencana untuk konser di festival sekolah."
"Terima
kasih sudah mengajakku, tapi... apa boleh aku bergabung? Aku tidak terlalu
jago. Jujur saja, bukankah level permainanku tidak sebanding dengan
Hondo-san...?"
"Aku paham
kekhawatiranmu, tapi aku juga di posisi yang sama. Ayo berjuang bersama."
"Haibara-kun
itu jenius... sebentar lagi pasti aku bakal ditinggal..."
"Oi,
tidak begitu dan jangan terlalu negatif."
"M-maaf...
ini memang sifat asliku... hahaha..."
Hanya di sekitar
Shinohara-kun, atmosfer terasa suram.
Melihatnya
seperti itu, Serika berkata dengan nada bicara santai.
"Coba saja
dulu, tidak mau? Kalau memang tertarik, coba dulu baru dipikirkan."
Benar juga.
Mencoba dulu sepertinya pilihan terbaik bagi kedua belah pihak.
Setelah menatap
ke sana kemari dengan gelisah, Shinohara-kun tiba-tiba menghabiskan caffe
latte-nya dalam satu tegukan.
"——A-aku
mau! Bolehkan? Kalau memang aku yang dicari!"
Karena jawabannya
yang tiba-tiba keras, pelanggan di sekitar menoleh ke arah kami.
Aku
tersenyum dan mengiyakan, sementara Serika memberikan jempol tanpa kata.
Vokal,
gitar, bass, drum. Dengan begini anggota band akhirnya lengkap.
Anggota
yang terkumpul benar-benar punya karakteristik yang kuat. Meski cemas, perasaan
antusias justru lebih besar.



Post a Comment