NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volu,e 4 Interlude I

Interlude 1


31 Agustus.

Hari terakhir liburan musim panas kuhabiskan dengan bermain bersama Yui-Yui dan Hikarin.

Liburan musim panas kali ini, berkat Natsu yang secara rutin mengadakan sesi belajar bersama, tugas-tugasku pun selesai—sesuatu yang sangat jarang terjadi padaku. Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan hari terakhir liburan musim panas yang begitu santai.

Aku benar-benar harus berterima kasih pada Natsu.

Setiap kali teringat Natsu, sudut bibirku tanpa sadar ingin melengkung membentuk senyum, dan aku buru-buru menahannya. Hampir saja aku menjadi orang aneh yang tersenyum sendirian.

"Wah, seru banget ya hari ini!"

"Iya, ya. Aku sampai membeli banyak sekali baju musim gugur."

"Menyenangkan sekali! Tapi kalau ingat besok sudah mulai sekolah, rasanya sedikit berat ya..."

Kami berkeliling toko baju di mal, lalu makan pasta dan pizza yang lezat di restoran Italia. Setelah itu, kami menonton film romansa yang sedang populer di bioskop.

Jadwal yang begitu padat seolah mengemas semua keseruan ke dalamnya, hingga aku merasa sedikit lelah. Namun, setelah bermain sebanyak ini, aku bisa mengakhiri liburan musim panas tanpa ada penyesalan.

Liburan musim panas di tahun pertama SMA ini adalah yang paling menyenangkan dari semua liburan yang pernah kujalani. Ada dua alasan untuk itu, salah satunya adalah karena aku mendapatkan teman-teman yang tak tergantikan.

Sejak dulu, aku punya banyak teman dan hampir tidak pernah menetap di satu kelompok tertentu. Jika sejak masuk SMA aku terus berada di kelompok ini, itu karena aku merasa begitu nyaman berada di antara mereka.

Tatsu adalah teman berharga yang sudah lama akrab denganku. Meski dia agak kasar dan pilihan katanya sering membuatku kesal, saat-saat krusial dia justru sangat baik.

Dia selalu berada di sisiku setiap kali aku merasa terpuruk.

Rei selalu memandang kami dari sudut pandang yang sedikit lebih objektif. Kadang aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi setiap kali kami mengeluarkan ide, dia selalu bisa merangkumnya dengan baik.

Aku rasa dia sangat cerdas secara alami. Meski aku agak ragu dengan rasa percaya dirinya yang terlalu berlebihan itu.

Yui-Yui selalu terlihat keren, tapi sesekali dia menunjukkan sisi imut yang membuatku iri. Dia memang licik, tapi sifat alaminya yang seperti itu benar-benar curang.

Mana mungkin aku tidak jatuh cinta padanya? Kalau Rei adalah sosok yang mengurus para pria, Yui-Yui terasa seperti sosok yang mengurus para wanita.

Sepertinya ada sisi yang dia tunjukkan pada Hikarin tapi belum dia perlihatkan padaku. Aku ingin sekali mendobrak tembok itu nantinya.

Hikarin adalah gadis yang paling dekat denganku sejak masuk SMA. Saat pertama kali melihatnya, dia begitu cantik seperti keajaiban.

Aku sampai berpikir gadis secantik idol seperti ini ternyata benar-benar ada. Apalagi sifatnya seperti malaikat.

Meski aku yakin dia pasti sedikit perhitungan, tidak diragukan lagi sifat dasarnya memang baik. Obrolan kami selalu mengalir dengan menyenangkan.

Sifat ceroboh yang sesekali dia tunjukkan itu lucu. Sungguh menyenangkan berada di dekatnya.

Dan Natsu adalah laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta.

Alasan kedua adalah karena ada Natsu. Natsu yang telah mengubah duniaku.

Aku jadi menantikan hari esok. Hal-hal sepele membuatku merasa senang.

Hanya melihatnya tertawa saja sudah memberiku energi. Namun, saat dia berbicara dengan gadis lain, aku merasa tidak suka.

"Hei, Uta-chan. Boleh kita bicara sebentar?"

Saat hendak pulang, Hikarin menunjuk ke arah taman yang kami lewati.

Aku pun sebenarnya sudah samar-samar menyadarinya. Bahwa inilah inti permasalahan hari ini.

Kami duduk di bangku di bawah naungan pohon. Anak-anak kecil sedang bermain di bak pasir.

Dalam cuaca terik seperti ini, hebat sekali mereka sanggup bermain langsung di bawah sinar matahari.

Di balik bayang-bayang pohon di seberang, para ibu-ibu sedang berbincang sambil mengipasi diri.

Di tengah suara nyanyian tonggeret yang menggema, Yui-Yui membuka suara.

"Apa aku sebaiknya menyingkir dulu?"

"Tidak...... aku ingin Yui-no-chan tetap di sini. Tidak apa-apa, kan, Uta-chan?"

"......Un."

Tampaknya Hikarin sudah membulatkan tekadnya. Berbeda sekali dengan diriku yang meski terlihat ceria di permukaan, sebenarnya hanya terus merasa bimbang.

Aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Karena itulah aku bersikap ambigu, mengabaikannya, dan terus menundanya.

"——Aku, menyukai Natsuki-kun."

Hikarin menyatakan hal itu sambil menatap mataku dengan teguh.

Aku tahu. Aku sudah menyadarinya.

Tapi, aku tidak ingin dia mengucapkannya dengan kata-kata. Karena jika diucapkan, semuanya menjadi jelas.

Padahal aku sudah berpura-pura tidak melihat, tapi sekarang aku dipaksa untuk menyadarinya.

"Karena itu, aku harus meminta maaf pada Uta-chan. Kamu adalah orang yang lebih dulu menyukai Natsuki-kun, dan meskipun aku mengetahuinya...... aku tetap saja mengatakan hal ini setelahnya."

Saat aku hanya bisa menunduk diam, Hikarin melanjutkan dengan nada suara yang lembut.

"Maaf ya."

"......Bukan hal yang perlu Hikarin sesali, kok."

Aku berusaha keras mengeluarkan kata-kata itu.

"Menjadi jatuh cinta itu sesuatu yang tidak bisa dihindari, kan? Aku pun sama."

Tidak, itu salah. Nada suara yang suram seperti ini bukan diriku.

Aku harus menjawab dengan lebih ceria.

"Tapi, aku tidak akan kalah! Jadi, jangan merasa sungkan padaku, ya?"

Apa senyumku sudah terlihat alami? Apa suaraku terdengar cukup lantang?

Menghadapi diriku yang penuh kecemasan ini, Hikarin tersenyum kecil seolah merasa lega.




"......Un. Aku juga, tidak akan kalah."

"Kalau salah satu di antara kita menang, jangan ada dendam ya?"

"Un. Saat itu tiba, aku akan berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa."

Ini hanyalah janji mulut belaka. Mungkin, semuanya tidak akan berjalan semulus itu.

Aku merasa tidak yakin bisa terus melihat Natsu dan Hikarin berpacaran dari jarak dekat, dan kurasa Hikarin pun merasakan hal yang sama.

Jadi, ini hanyalah sebuah harapan. Kami berdua saling berdoa agar semuanya bisa baik-baik saja saat itu terjadi.

"......Apa pun yang terjadi, maukah kamu tetap menjadi temanku?"

Meski begitu, aku tetap menyukai Hikarin—Hoshimiya Hikari. Jika perasaan cinta ini disingkirkan, aku bahkan lebih menyukainya daripada Natsu.

Karena itulah, aku tidak ingin hubungan kami berakhir dengan kehilangan seorang teman hanya karena masalah asmara.

"......Un, janji."

Namun, karena aku tetap tidak bisa menyerah begitu saja pada Natsu, itulah mengapa kami membuat janji seperti ini.

Pasti Hikari pun merasakan hal yang sama denganku.

Sejujurnya, aku tidak pernah benar-benar percaya bahwa seseorang bisa memahami hati orang lain sepenuhnya.

Tapi, setidaknya untuk saat ini, aku ingin mempercayainya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close