Chapter 4
Kehidupan Sehari-hari yang Kembali
Meski masa
skorsingnya sudah selesai, Reita mulai kembali ke sekolah sejak keesokan
harinya.
Sebaliknya,
Hasegawa yang digantikan malah kena skorsing, tapi hanya satu hari lalu
kembali.
Katanya dia
sendiri yang mengakui dosanya ke guru. Seperti menyerahkan diri sendiri. Sepertinya
dia benar-benar menyesal.
Hanya satu hari
karena ada bantuan dari Miori.
Jujur,
aku tetap berpikir Miori terlalu baik hati. Menurutku bisa diskors lebih lama.
Aku memang tidak terlalu suka Hasegawa…
Karena keributan
seperti itu, sekitar satu minggu setelah semuanya kembali normal, perhatian
orang-orang masih ramai.
Tapi sekarang
sudah cukup tenang. Masih ada yang menyebarkan rumor tidak enak, tapi kami
memang kelompok yang selalu jadi pusat perhatian.
Kami juga
berusaha mengklarifikasi kesalahpahaman sedikit demi sedikit, jadi tidak ada
yang terang-terangan mengatai kami. Yah, isi hati mereka sebenarnya aku tidak
tahu.
Tapi setidaknya
di kelas, semua orang kelihatan lega karena Reita sudah kembali.
Reita
memang dari dulu populer. Berkat Miori yang memposting kebenarannya di SNS.
Awalnya
semua orang masih setengah percaya, tapi setelah kembali, Reita memulihkan
kepercayaan semua orang dengan tindakannya sendiri. Memang ahli di bagian ini.
Sementara
itu, di kelas sebelah, entah kenapa Miori dan Hasegawa jadi akrab dan sering
bersama, sehingga entah kenapa seluruh cewek di kelas itu mulai kompak. Benar-benar kenapa ya.
Tapi… memang khas
Miori.
Perlahan, Miori
mulai kembali seperti semula.
"Kalau
begitu, bisa kembali ke klub sepak bola?"
Saat istirahat
siang. Sambil berjalan pulang dari kantin bersama Reita, kami membahas itu.
"Entah
bagaimana. Aku benar-benar berterima kasih pada semua orang yang
memaafkanku."
Nada Reita penuh
kebahagiaan. Memang dia suka sepak bola ya.
"Baguslah. Soal uang juga sudah beres?"
"Sementara ini sih… Setelah bicara dengan ayah, dia
kembali bekerja. Entah kenapa, setelah aku cerita bahwa aku juga patah hati,
dia bilang tidak mau kalah dari anaknya dan mulai semangat lagi. Aku tidak mengerti, tapi sekarang
dia penuh semangat."
Reita
tersenyum pahit seolah sulit dimengerti.
"Tapi
aku juga tidak mau hanya mengandalkan ayah, jadi aku memutuskan mencari uang
untuk kebutuhanku sendiri. Aku
mulai kerja paruh waktu. Meski hanya masuk shift satu atau dua kali seminggu.
Prioritasku tetap klub."
Pasti ada banyak
pikiran, tapi sepertinya sementara ini berjalan lancar.
"Kamu kerja
di mana?"
"Aku
cari-cari, tapi tempat yang fleksibel susah didapat, jadi akhirnya aku ikut
rekomendasi Kouya ke sebuah karaoke. Tempat yang pernah kita datangi waktu
musim semi dulu."
"Ah, yang
itu ya. …Maksudnya, di sana kakak Hasegawa juga kerja?"
"Ya. Katanya
sering bikin pelanggan takut."
Wajar sih… Tidak
apa-apa? Pelanggannya tidak berkurang?
Seolah membaca keraguanku, Reita menambahkan.
"Karena
bisa membuat pelanggan yang bandel langsung diam, jadi dihargai."
"Pantas…"
Ada juga cara
pakai seperti itu ya. Seperti
bodyguard.
"Hubungan
dengan mereka akan dilanjutkan?"
"…Yah,
secukupnya saja. Sudah ada ikatan lagi, dan mereka bukan orang jahat. Ada yang
agak pemarah, tapi aku yakin bisa mengendalikan. Aku akan pastikan tidak
merepotkan klub."
Kepercayaan diri
yang penuh itu sangat cocok dengan Reita.
"Ah,
Natsuki-kun! Reita-kun!"
Begitu kembali ke
kelas, Hikari melihat kami dan melambai.
Di
sekitar kursi dekat jendela, teman-teman biasa sedang berkumpul dan mengobrol.
"Sedang
ngomong apa?"
Begitu
aku bertanya, Uta menjawab dengan penuh semangat.
"Soal
libur musim dingin yang sebentar lagi!"
Memang
benar, sudah pertengahan Desember. Libur musim dingin sejak tanggal 23 ya.
"Artinya
ujian akhir semester juga sebentar lagi."
"Ya ampun,
Tatsuya kenapa selalu mematahkan semangat!"
Uta mengamuk
dengan seluruh tubuhnya menghadapi pendapat Tatsuya yang tenang.
Uta juga sudah
kembali bersemangat, syukurlah. Beberapa waktu lalu dia seperti orang lain,
sangat diam.
"Karena aku
khawatir nilai kamu."
"Baru
sedikit naik sudah besar kepala~!"
Meski
Tatsuya menggoda, memang benar juga.
Sudah
menjadi siswa peringkat atas di angkatan.
Sementara
Uta, meski sudah keluar dari peringkat bawah, masih berkutat di kelompok bawah.
"Memang,
ujian akhir semester sudah minggu depan. Harus belajar ya."
Nanase
menatap kalender yang ditempel di dinding belakang kelas dengan wajah muram.
"Reita, kamu
baik-baik saja? Akhir-akhir ini banyak keributan, tapi…"
"Tidak perlu khawatir, aku sudah review dan preview.
Meski tidak, aku bisa dapat delapan puluh."
Memang benar. Dia memang jenius dasarnya.
"Natsuki… ah, kamu pasti tidak perlu khawatir.
Peringkat satu angkatan."
"Entahlah. Akhir-akhir ini aku agak bolos
belajar…"
Terus terang, aku
hanya latihan otot, kerja paruh waktu, dan latihan gitar.
Soalnya belajar…
tidak seru. Lagipula sudah paham.
"Yah, meski
begitu, peringkat satu digit pasti bisa."
"Eh? Tidak
percaya diri jadi juara? Kalau begitu kali ini aku yang ambil."
Nanase
menantang dengan nada sombong.
"Tapi
meski juara, tidak ada hadiah spesial sih."
"Tidak ada
semangatnya. Semangatlah sedikit."
Nanase
menepuk dadaku.
Yah, yang
paling dekat denganku memang Nanase. Selalu stabil di peringkat dua sampai
sembilan.
"…Eh,
aku juga akhir-akhir ini sudah review kok!"
Uta
manyun sambil bergumam.
Memang
benar, akhir-akhir ini aku jarang melihat Uta ribut karena lupa PR.
"Serius?"
"Aku yakin
tidak akan dapat nilai merah! Kalau merah kan tidak boleh ikut klub!"
Entah
bagaimana, semua orang sedang berkembang.
Uta yang
di awal musim semi bilang "Tempat yang tidak dimengerti itu tidak
dimengerti ya~" sekarang sudah rajin review… Paman terharu…
"…Ngomong-ngomong,
kenapa Hikari diam saja?"
Nanase
menyela dengan nada dingin, dan ada yang langsung gemetar ketakutan.
Tentu
saja Hoshimiya Hikari yang sedang meringkuk di sebelahku.
"Err,
bahasa… bahasa Jepang aku yakin!"
Hikari
buru-buru membela diri dengan panik, tapi memang benar juga.
"Kalau
calon novelis tidak yakin dengan bahasa Jepang, itu masalah. Mata pelajaran lain bagaimana?"
"Sejarah
dunia dan sejarah Jepang… selebihnya… sama sekali… tidak ada… sedikit
pun…"
"Hikari,
kamu… sadar nilai kamu turun?"
"Uu…"
Nanase
benar-benar sudah jadi mama Hikari.
Pemandangan yang
biasa, memang biasa.
Memang benar,
nilai Hikari turun drastis.
…Sejak mulai
pacaran denganku. Yah, begitulah.
"Haibara-kun.
Tanggung jawabmu mengatasi si bodoh warna ini. Ini tugasmu."
"Bukan,
bukan bodoh warna! Ada deadline novel juga… jadi agak kurang yakin. Ya. Mulai
hari ini aku belajar, pasti bisa!"
Hikari
mengangguk berkali-kali seolah meyakinkan diri sendiri.
"Kalau
begitu, yuk belajar bareng, Hikari."
Tapi
kalau alasan nilai turun karena aku yang masuk ke hidupnya, memang seharusnya
aku yang bertanggung jawab.
Aku tidak
boleh menghalangi mimpi Hikari.
"…Ya.
Tolong."
Hikari
juga mengerti situasi, jadi dia menunduk dengan wajah bersalah.
Begitulah,
selama sekitar lima hari sampai ujian akhir semester, aku dan Hikari memutuskan
belajar bersama.
*
Pulang
sekolah, aku bertemu Hikari.
"Ngomong-ngomong,
deadline novel tidak masalah kan?"
"Ya.
Baru saja kukirim, jadi sekarang harus fokus ujian."
Sepertinya
Hikari benar-benar menyesal setelah ceramah Nanase, sekarang dia kelihatan
bersemangat.
"Di
mana kita belajar…"
Aku
sempat berpikir ke perpustakaan, tapi karena harus mengajar Hikari, sebaiknya
tempat yang boleh agak berisik.
Hikari
mengajakku ke kedai kopi yang pernah kami datangi waktu musim panas.
Kedai
tersembunyi di gang Takasaki yang hanya diketahui orang tertentu.
"Selamat
datang."
"Halo,
Master."
Hikari
menyapa pria paruh baya yang sepertinya pemilik kedai, lalu duduk di kursi
dekat jendela tanpa dipandu.
Sudah
jadi pelanggan tetap sampai tidak perlu dipandu.
"Aku
biasa nulis novel di sini. Menurutku paling bisa konsentrasi."
Kopi di
sini enak, jadi aku juga suka. Mungkin setara dengan Males.
"Yuk, mulai
dari mana ya."
"Kamu juga
ada pelajaran sendiri kan? Kamu kerjakan dulu, kalau ada yang tidak dimengerti
aku tanya. Begitu saja boleh?"
"Baiklah."
Aku tidak
masalah, tapi Hikari pasti merasa sungkan kalau hanya manja. Dia hanya minta
bantuan minimal. Yah, itu lebih mudah, jadi aku mengangguk.
Sambil menunggu
kopi, Hikari sudah mengeluarkan buku catatan.
"…Boleh
tanya?"
"Apa?"
"Menurutmu,
kenapa nilai kamu turun?"
Hikari
"Uu…" dan memalingkan wajah malu.
"Saat
ujian tengah semester semester dua… deadline novel yang mau kukirim
berbarengan…"
Peringkat
Hikari di ujian tengah semester satu adalah 49, ujian akhir 67.
Dengan
total 240 siswa, itu peringkat atas. Tapi di ujian tengah semester dua turun ke
151, sangat drastis. Sedikit di atas Uta.
"Tapi
meski begitu, aku masih sempat belajar…"
"…Lalu
kenapa?"
Hikari memerah
dan berkata dengan malu.
"Saat itu
baru mulai pacaran dengan Natsuki-kun… tanpa sadar aku terus memikirkan
Natsuki-kun, melihat riwayat chat Natsuki-kun, melempar ponsel ke tempat tidur…
lalu ambil lagi… pengulangan seperti itu, jadi tidak bisa konsentrasi
belajar…"
Memang
seperti dugaan, tapi mendengar langsung di depan mata sangat menghancurkan.
Pipiku panas.
Tanpa perlu dicek, pasti wajahku juga merah.
"Be-begitu ya…"
"Be-begitu ya…"
"……"
"……"
Aduh!
Kita bukan datang untuk mesra-mesraan!
Tujuan hari ini
adalah belajar! Bukan
kencan!
"Aku
mengerti. Aku mengerti. Situasi di mana nilai turun padahal seharusnya naik,
aku tidak bisa bilang ke Papa. Tapi aku serakah… aku ingin kejar mimpi,
belajar, dan cinta, semuanya. Aku tidak mau melepaskan apa pun. Makanya masalah ini harus
diselesaikan…"
Hikari menarik
napas dalam lalu berbicara dengan wajah serius.
"…Tadashi-san
bilang apa saat lihat hasil ujian tengah semester?"
"Tidak
bilang apa-apa. Untuk sekarang. Tapi kalau dua kali berturut-turut, pasti akan
bilang. Meski tidak bilang… aku sendiri tidak mau jadi orang yang tidak bisa
menepati janji."
Makanya harus
berusaha, Hikari mengulang sekali lagi.
Seolah
meyakinkan diri sendiri.
Memang
pasti berat. Menyeimbangkan novel dan belajar, ditambah urusan pacaran
denganku. Kalau dipikir begitu, aku merasa bersalah karena memberi beban
ekstra…
"Maaf…"
"Bukan salah
Natsuki-kun…! Ini salahku yang terlalu senang! Aku yang serius bilang hal
memalukan seperti ini, ahaha…"
Hikari mengipas
wajahnya dengan panik sambil membela diri.
…Jujur,
aku tidak bisa bilang tidak senang.
Karena Hikari
memikirkanku sampai segitunya.
"Aku juga…
saat memikirkan Hikari terus, ada saat aku tidak bisa konsentrasi
belajar."
"Be-begitu?
Natsuki-kun juga?"
"Ya. Tapi
nilaiku masih peringkat satu. Makanya yuk cari bersama. Cara mengatasi
PR."
Tapi karena
pacarku bilang dia akan berusaha menghadapi PR.
Maka tugas pacar adalah mendukungnya.
*
Meski
begitu, tidak mungkin langsung menemukan strategi spesifik, jadi kami mulai
dengan mengerjakan.
Aku mengerjakan
pelajaranku sendiri sambil memperhatikan Hikari.
Awalnya dia
kelihatan konsentrasi, tapi setelah satu jam, jelas sekali konsentrasinya mulai
buyar. Begitu
mendongak, mataku bertemu dengan Hikari.
"Ada
yang tidak dimengerti?"
"Sekarang
belum, tapi konsentrasiku mulai buyar…"
Hikari
mengangkat kedua tangan tinggi dan meregangkan tubuh besar-besaran.
Bagian
yang seharusnya tidak boleh dilihat jadi terlalu menonjol, aku buru-buru
memalingkan muka.
"Saat
seperti ini, Natsuki-kun biasanya bagaimana?"
"Hmm,
istirahat dulu? Dengar musik, lihat LINE… ah, tapi kalau ambil komik dari rak,
tidak akan berhenti, jadi jangan. Bisa sampai pagi sambil baca semua
volume."
"Ah, aku
mengerti. Kalau aku, novel, tapi tanpa sadar sudah selesai baca sampai
habis."
Memang.
Konsentrasi tadi sangat mengesankan. Hikari tipe yang sangat fokus. Apalagi pada hal yang diminati, pasti
semakin kuat.
Saat aku sedang
berpikir begitu, Hikari malah menatapku dengan wajah melongo.
"Ada apa?"
"Hmm… replenishment?"
"Replenishment? …Apa?"
"Komponen
Natsuki-kun."
Setelah
mengatakan itu, Hikari malu sendiri dan menutup wajahnya.
Err…
kalau malu, jangan bilang dong? Aku juga kena damage lho? Kita datang untuk belajar! Bukan kencan!
"Ma-maaf…
aku melamun…"
Kalau itu hasil
melamun, berarti itu isi hatinya ya?
…Sudahlah. Jangan
dipikir terlalu dalam. Terlalu kuat efeknya.
"Ba-baik! Istirahat selesai!"
Hikari buru-buru mengumumkan lalu menggenggam pensil mekanik
lagi.
Sekarang sedang mengerjakan matematika. Mata pelajaran yang
paling dibenci Hikari.
Bahasa Jepang tentu mahir, sejarah juga lumayan, Inggris
juga tidak terlalu susah.
Tapi matematika
dan fisika seperti mata pelajaran sains benar-benar nol besar.
Di kelas dua
nanti Hikari pasti pilih jurusan sastra, tapi dasarnya tetap harus dikuasai.
Kalau tidak salah, di ujian masuk universitas, meski jurusan sastra tetap ada
matematika wajib.
Aku masuk jurusan
sains, jadi tidak terlalu tahu detail, tapi semakin banyak mata pelajaran yang
dikuasai semakin baik. Lagipula tujuan sekarang adalah menaikkan nilai.
"Gnunuuu…"
Hikari memegang
kepala sambil meringis, jadi aku menyapa.
"Mau
kujelaskan?"
"Masih…
sebentar lagi aku pasti paham…!"
Akhirnya Hikari
menyerah dan bilang "Err, ini…" sambil menunjukkan buku pelajaran dan
menunjuk bagian yang dia macet… tapi tiba-tiba berhenti bicara.
"Boleh…
duduk di sebelah? Lebih mudah dengar."
Aku berpikir
sebentar. Lebih mudah dengar di sebelah. Memang benar. Karena tujuannya
mengajar, tidak ada salahnya menciptakan situasi paling nyaman.
Ya, logikanya
benar. Bukan karena aku senang Hikari di sebelah. Jadi tidak ada masalah. Aku bergeser sedikit dan menepuk
tempat di sebelahku.
"Ayo
sini."
…Aku ini
norak ya?
Kalau
dipikir lagi, "Ayo sini" itu kalimat yang hanya boleh diucapkan cowok
ganteng. Maaf karena kege-eran. Aku yang sedang down sendiri, Hikari duduk di
sebelah dengan "Yosh" sambil sedikit menyenggol.
Lengan
kami sedikit bersentuhan. Aku sangat sadar dengan bagian itu.
…Eh,
bukankah agak terlalu dekat?
Meski di
sebelah, seharusnya bisa agak menjaga jarak… ah, karena mau bertanya.
Saat aku
sedang panik dalam hati, Hikari menunjuk soal dengan pensil mekanik.
"Soal
nomor dua, meski lihat jawabannya, aku tidak mengerti kenapa jadi begitu."
"Ah,
ini karena ada perhitungan tengah yang tidak terlihat. Err, ini—"
Menghadapi
masalah klasik buku pelajaran 'Penjelasan tapi rumus tengah dihilangkan', aku
jelaskan soal dari awal pada Hikari yang tersesat. Karena keterbatasan halaman, tolong jangan seperti
ini.
"——Begitu.
Sudah paham?"
Begitu selesai
menjelaskan dan melihat wajah Hikari, entah kenapa dia bukan menatap buku
catatan, melainkan menatapku.
"Ah…"
Hidung kami
hampir bersentuhan, dan mata kami bertemu tepat.
Wajahnya yang
indah seperti karya seni tanpa cela, aku tanpa sadar terpikat.
"Ma-maaf…!
Err, terima kasih!"
Sementara itu,
Hikari buru-buru memalingkan muka sambil bicara.
Gerakannya imut,
tapi… benar-benar mendengarkan penjelasanku tadi?
"…Hikari?"
Begitu aku
melirik dengan tatapan hangat, Hikari bilang "Ma-maaf…" sambil minta
maaf.
"Aku tanpa
sadar… melihat wajah Natsuki-kun…"
Hikari menepuk
pipinya sendiri seolah memberi semangat.
"Kalau
aku mengganggu konsentrasimu, besok dan seterusnya kita berhenti belajar
bareng."
Seharusnya
aku bilang dingin, tapi Hikari malah menggeleng.
"…Menurutku,
lebih bisa konsentrasi kalau bersama."
Benarkah? Aku
hampir ingin bertanya.
"Karena
lebih tenang kalau kamu di samping…"
…Artinya,
saat aku tidak di samping, dia merasa tidak tenang.
Kalau
dipikir lagi dari tindakanku, memang banyak sekali contohnya.
Kalau karena
ketidaktenangan itu dia tidak bisa konsentrasi belajar… berarti salahku?
"Maaf."
"Bukan salah
Natsuki-kun…! Ini
salahku yang terlalu senang…!"
Hikari
menggeleng keras sambil membela diri.
…Jujur,
aku tidak bisa bilang tidak senang.
Karena Hikari
memikirkanku sampai segitunya.
"Aku juga…
ada saat aku terus memikirkan Hikari sampai tidak bisa konsentrasi
belajar."
"Be-begitu?
Natsuki-kun juga?"
"Ya. Tapi
nilaiku masih peringkat satu. Makanya yuk cari bersama. Cara mengatasi
PR."
Tapi karena
pacarku bilang dia akan berusaha menghadapi PR.
Maka tugas pacar adalah mendukungnya.
Jika menjawab dengan jujur, Hikari akan sedikit menyipitkan
matanya yang tampak mengantuk itu.
"……Aku
tidak menyangkal kalau itu memang merepotkan."
"Ugh……
Mungkin itu memang agak merepotkan sih……"
Saat aku sengaja menyuarakan apa yang biasanya hanya
kupendam dalam hati, Hikari malah tertawa.
Kemudian, dia melepaskan genggaman tangan kami dengan
lembut. Dia kembali mengambil pensil mekaniknya.
"—Rasanya,
aku jadi bersemangat untuk berjuang."
Sesuai dengan
perkataannya yang penuh tekad, Hikari menunjukkan konsentrasi yang luar biasa.
Hal itu tidak
hanya terjadi hari ini, tapi juga keesokan harinya. Hal yang sama terus
berlanjut hingga hari-hari berikutnya.
Tampaknya begitu
tombol fokusnya menyala, sifatnya yang gigih akan bertahan untuk beberapa
waktu.
Pada akhirnya,
momen bermesraan dengan kedok belajar bersama hanya terjadi di hari pertama.
Sisanya kami benar-benar murni belajar.
Tapi ya…… bagiku
bisa menghabiskan waktu bersama Hikari saja sudah membuatku bahagia.
Hikari terus mempertahankan konsentrasi tingginya itu hingga
ujian akhir semester dimulai.
Tingkat kesulitannya bisa dibilang standar. Bagiku, hasilnya hampir mendekati
sempurna.
Mungkin karena
aku terus-menerus menemaninya belajar, kemampuanku sendiri secara tidak sengaja
ikut meningkat.
"Bagaimana
hasilnya?"
Setelah seluruh
ujian selesai, aku bertanya kepada Hikari yang duduk di sebelahku.
Seketika itu
juga, Hikari menunjukkan senyuman yang sangat puas.
"Rasanya aku
bisa mengerjakannya dengan baik! Ini semua berkat Natsuki-kun!"
Teman-teman yang
lain pun mulai berkumpul satu per satu.
Melihat tidak ada
satu pun dari mereka yang berwajah muram membuatku bernapas lega.
"Sepertinya
tugasmu sudah selesai dengan baik ya," ucap Nanase sambil tersenyum ke
arahku.
"Yah, kita
tidak akan tahu sampai hasilnya keluar."
"Hikari
tidak akan menunjukkan ekspresi seperti itu kalau dia tidak benar-benar percaya
diri."
Begitu rupanya.
Tetap saja Nanase jauh lebih memahami Hikari daripada aku.
"Bagaimana
dengan hasil kalian sendiri?"
Saat aku melempar
pertanyaan itu, orang pertama yang menjawab dengan penuh percaya diri adalah
Uta.
"Sempurna!
Aku pasti tidak dapat nilai merah!"
"Kurasa
hanya Uta yang berani menganggap hal seperti itu sebagai kesempurnaan."
Reita mengedikkan
bahunya seraya melayangkan protes terhadap Uta yang sedang memasang wajah
jemawa.
"Kalau aku
sih seperti biasa. Bagaimana denganmu, Tatsuya?"
"Entahlah.
Aku tidak bisa bilang apa-apa sebelum hasilnya keluar."
"Ah! Kalau
Tatsu mengelak begini, itu artinya dia pasti bisa mengerjakannya dengan sangat
baik!"
"Berisik.
Bagaimana dengannmu sendiri, Natsuki?"
Dia benar-benar
mengalihkan pembicaraan dengan mencolok. Begitulah pikirku sambil tetap bersiap
menjawab pertanyaannya.
"Yah,
kemungkinan besar peringkat satu lagi."
"Untuk
kali ini, belum tentu begitu lho."
Nanase
menyunggingkan senyum penuh tantangan. Tampaknya kali ini dia benar-benar penuh
percaya diri.
"Aku
akan menantikan hasilnya."
Setelah
obrolan singkat itu, kami pun membubarkan diri hari itu.
Karena ini masa
ujian, sekolah memang selesai di siang hari. Namun mereka harus segera kembali
memulai kegiatan klub.
Nanase juga
berpamitan karena ada latihan piano. Akhirnya, hanya menyisakan aku dan Hikari
berdua saja.
Klub Sastra pada
dasarnya bukan klub yang memiliki frekuensi kegiatan yang tinggi. Jadi wajar
saja kalau tidak ada kegiatan di hari ujian berakhir.
Aku juga tidak
ada jadwal kerja paruh waktu hari ini. Latihan band bersama Serika dan yang
lain baru akan dimulai besok.
Dengan kata lain,
hari ini aku benar-benar bebas.
"Nah…… kalau begitu,"
Hikari
menatapku dengan mata yang berbinar-binar. Bukankah dia terlalu blak-blakan
dalam menunjukkan kode kalau dia sedang menunggu diajak pergi?
"Mau pergi
makan siang bersama?"
"Mau!"
Aku dan Hikari
pun mulai berjalan beriringan.
"~♪"
Hikari yang baru
saja terbebas dari jeratan ujian akhir semester tampak melompat-lompat kecil
sambil bersenandung.
"Suasana
hatimu bagus sekali ya."
"Tentu
saja, kan akhirnya bebas dari belajar!"
"Kalau kamu
mau menepati janji dengan Paman Isao, kamu harus tetap belajar secara konsisten
lho."
"Ih, aku
juga tahu kok, tapi setidaknya untuk hari ini saja kan tidak apa-apa."
Hikari
mengerucutkan bibirnya sambil mengeluh.
Apa yang
dikatakannya memang benar. Namun, gadis secantik Hikari yang sedang menampakkan
suasana hati seceria itu jelas mengundang perhatian.
Spesifiknya,
aku bisa merasakan banyak tatapan penuh rasa iri dan dengki yang tertuju
padaku. Sebaiknya kami segera pergi dari lingkungan sekolah.
*
Setelah
meninggalkan sekolah bersama Hikari, kami berjalan menuju stasiun.
Sempat
bingung memilih tempat makan siang, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke
McDonald's di depan stasiun.
Walaupun
sudah bebas dari ujian akhir semester, kami tidak memiliki kemampuan finansial
yang cukup untuk berfoya-foya. Bagaimanapun juga, kami masih berstatus sebagai
anak SMA.
Mengobrol
santai di McD terasa jauh lebih pas bagi kami.
Aku memesan paket Big Mac, sedangkan Hikari memesan paket
Bacon Lettuce Burger. Kami segera mengamankan tempat duduk untuk dua orang.
Mungkin karena ini siang hari di hari kerja, suasana di
dalam restoran terbilang cukup sepi. Tempat ini jadi sangat nyaman untuk
ditempati.
"Enak ya."
Melihat Hikari yang memakan burgernya dengan senyuman lebar
membuat sudut bibirku ikut terangkat tanpa sadar.
Burger
McD memang selalu menyajikan rasa lezat yang konsisten.
Saat
zaman kuliah dulu, aku bahkan pernah memiliki siklus rotasi makan siang di hari
kerja yang berputar di antara McD, Matsuya, kedai ramen, Hidakaya, lalu kembali
lagi ke McD. Semuanya dimulai dari McD dan diakhiri oleh McD.
Yah,
meski pada akhirnya aku berhenti karena mendadak hobi memasak sendiri sih.
"Ujian
sudah selesai, sebentar lagi libur musim dingin ya~"
Mendengar
ucapan Hikari, aku hanya menyahut, "Benar juga."
Hari ini
tanggal dua puluh Desember. Libur musim dingin baru akan dimulai tiga hari
lagi, tepatnya tanggal dua puluh tiga.
"……Itu
berarti, sebentar lagi Natal, kan?"
Mendengar
kata-kata Hikari, pikiranku mendadak kosong sepenuhnya.
Alasannya sangat
sederhana. Aku benar-benar melupakan eksistensi dari perayaan tersebut.
"Aku…… ingin
menghabiskan waktu bersama Natsuki-kun……"
Hikari
berucap dengan sangat menggemaskan. Dia mencuri-curi pandang ke arahku dengan
wajah yang merona merah.
Di sisi lain, aku
justru merasa syok. Aku
telah melupakan agenda masa muda yang super penting ini.
Kasus
Miori dan Reita, ditambah agenda belajar bersama Hikari yang terjadi secara
beruntun membuat fokusku terlalu tersedot ke sana. Aku sama sekali tidak
memperhatikan jadwal yang berada sedikit lebih jauh di depan.
'Kencan
bersama kekasih di hari Natal' memiliki kadar masa muda yang berada di
peringkat atas menurut definisiku sendiri.
Bagaimana mungkin
aku bisa menjalankan Rencana Masa Muda Pelangi kalau esensi dari acara
sepenting ini saja sampai terlupakan.
"Natsuki-kun……?"
Suara cemas
Hikari yang memanggil namaku seketika membuyarkan lamunan. Hal itu membuatku
buru-buru merespons.
"Ah, iya!
Aku juga tidak ada acara apa-apa kok, mari kita lewati bersama."
"Syukurlah,"
ucap Hikari sambil tersenyum lega.
Melihat
Hikari yang tampak begitu menantikannya, aku harus segera menyusun rencana
secepat mungkin.
"Natsuki-kun
punya keinginan untuk pergi ke suatu tempat?"
"Maaf…… aku
belum memikirkan apa-apa."
Saat aku menjawab dengan lesu, Hikari langsung menghiburku,
"Tidak perlu minta maaf kok."
Namun, apa yang
sebenarnya harus dilakukan saat kencan Natal?
Kalau bisa, aku
ingin melakukan sesuatu yang spesial dan berbeda dari kencan-kencan kami
biasanya.
Masalahnya,
sesuatu yang spesial itu apa?
Bahkan untuk
kencan biasa saja aku harus memeras otak setengah mati demi menyusun rencana.
Jadi kalau dituntut untuk membuat sesuatu yang spesial…… jujur saja, ini sangat
membingungkan.
Aku sangat ingin
membuat Hikari bahagia. Namun, poin pengalamanku sendiri masih terlampau minim.
"Aku juga
akan ikut memikirkannya ya."
Pembicaraan
mengenai Natal pun berakhir sampai di sana untuk saat ini.
Setelah
menghabiskan waktu dengan mengobrolkan hal-hal random lainnya, kami akhirnya
keluar dari McD.
Aku sempat
menawarkan untuk pergi belanja sebentar. Namun, karena Hikari tampaknya sudah
mulai mengantuk, kami memutuskan untuk pulang.
Yah, dia pasti
kelelahan setelah digempur materi pelajaran selama berhari-hari. Jadi mau
bagaimana lagi.
Masalah mendesak
yang ada di depan mata sekarang adalah rencana kencan Natal.
Hikari memang
bilang akan ikut memikirkannya. Namun, terus-menerus mengandalkannya tentu akan
membuat harga diriku sebagai seorang pria jatuh.
Walaupun masih
tersisa waktu empat hari, namun kenyataannya waktu kami tinggal empat
hari lagi.
Mengingat
perlunya melakukan reservasi tempat dan semacamnya, rasanya aku sudah berada di
ambang jalan buntu. Tempat-tempat untuk merayakan Natal pasti sudah penuh
dipesan sejak jauh-jauh hari.
Meratap pun tidak
ada gunanya, aku tidak punya pilihan selain memikirkannya dari sekarang. Di
saat-saat seperti ini, biasanya aku selalu mengandalkan Miori, tapi……
"……Tidak,
aku harus memikirkannya sendiri."
Ada hal-hal yang
tidak akan pernah berubah. Ada pula hal-hal yang akan terus berputar.
Dan di
antara semua itu, ada hal yang memang harus diubah. Kurasa, ini adalah salah satunya.
*
Hari terakhir
sebelum libur musim dingin. Dua puluh dua Desember.
Semua hasil ujian
telah dikembalikan. Papan peringkat nilai juga sudah dipajang di koridor
sekolah.
Hal pertama yang
langsung mencuri perhatianku tentu saja deretan nama yang berada di posisi
paling atas.
Peringkat 1 —
Natsuki Haibara
Peringkat 2 —
Yuino Nanase
Tampaknya aku
berhasil menang dengan selisih dua poin saja.
Ternyata posisiku
jauh lebih terancam dari yang kukira. Kalau saja kemampuanku tidak terasah
selama belajar bersama Hikari, sepertinya aku akan menelan kekalahan.
Nanase
menampakkan ekspresi frustrasi yang sangat kentara. Sebuah pemandangan yang
terbilang langka bagi dirinya.
"Ugh…… bunuh saja aku."
"Respons
macam apa itu, kamu seperti ksatria wanita dalam cerita fantasi saja……"
Mendengar respons spontanku, Nanase langsung memiringkan kepalanya dengan bingung. Kemudian dia bertanya, "Apa maksudnya itu?"
Aku tidak
menyangka ada orang yang benar-benar mengucapkan kalimat seperti itu di luar
konteks lelucon……
Setelah
itu, aku lanjut memeriksa deretan peringkat di bawahku. Perlu diingat bahwa
yang diumumkan di papan pengumuman ini hanya peringkat lima puluh besar saja.
Peringkat
12 — Miori Motomiya
Peringkat
15 — Tatsuya Nagiura
Peringkat
19 — Reita Shiratori
Peringkat
26 — Hikari Hoshimiya
Peringkat
35 — Serika Hondo
Peringkat
44 — Mei Shinohara
Kira-kira
begitulah peringkat teman-temanku.
Tatsuya,
bagaimanapun juga caramu melihatnya, kenaikan peringkatmu itu benar-benar
kelewatan.
Hikari
juga jika dibandingkan dengan ujian sebelumnya, dia sudah berhasil menyalip
sekitar seratus orang.
Dia
memang sempat bilang kalau bisa mengerjakannya dengan cukup baik. Namun, aku
tidak menyangka dia bisa menembus peringkat sekelas ini.
Rasanya
hal ini bukan hanya berkat agenda belajar bersama denganku saja. Dia pasti juga belajar mati-matian saat di
rumah.
"Yah,
hasilnya sesuai perkiraan."
"Ah! Itu
namaku! Namaku terpajang di sana!"
Reita
yang bergumam dengan sangat tenang dan Hikari yang sangat kegirangan terlihat
begitu kontras.
"Peringkat
lima belas, ya……"
Tatsuya
menggaruk kepalanya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Standar idealnya
tinggi juga ternyata.
Meskipun
tidak ada di tempat ini, nama Miori, Serika, dan Mei juga terpajang di sana.
Prestasi
akademik Miori memang sudah bagus sejak awal. Namun, ternyata Serika dan Mei
juga berhasil masuk peringkat atas.
Baguslah,
dengan begitu risiko kegiatan band dihentikan karena harus mengikuti kelas
remedial menjadi sangat rendah. Kalau si Yamano sih, entahlah.
"Semuanya
mendadak jadi pintar……"
Hanya Uta
yang namanya tidak terpajang di papan peringkat. Dia menunjukkan ekspresi wajah yang tampak rumit.
"Peringkat
seratus sebelas!"
Setelah itu,
barulah hasil milik Uta diketahui melalui lembar pemberitahuan yang dibagikan
oleh wali kelas.
Peringkatnya
memang lebih rendah dari yang lain, tapi masih di atas rata-rata. Tentu saja
dia juga aman dari ancaman nilai merah.
"Kamu sudah
berkembang ya, Uta."
"Tapi kalau
dibandingkan dengan Tatsu atau Hikarin, ini sih tidak ada apa-apanya~"
Di dalam
ruang kelas yang bising itu, aku mengobrol santai dengan Uta mengenai hal-hal
seperti itu.
Suasana
kelas yang secara keseluruhan terasa santai dan melayang ini kemungkinan besar
karena besok sudah mulai libur musim dingin.
"Sebentar
lagi Natal, ya."
Kata-kata itu
sepertinya terlontar begitu saja tanpa sengaja dari mulutnya.
Uta sempat
menunjukkan ekspresi seperti orang yang baru saja kecolongan sesaat. Namun, dia
langsung tertawa untuk mengalihkan keadaan.
"Tapi, kami
tentu saja harus tetap latihan klub! Rasanya ingin protes agar setidaknya
diberi libur saat Natal!"
Agar usahanya
untuk mengalihkan suasana tidak sia-sia, aku membalasnya dengan senyuman.
"Wah, itu
pasti berat. ——Semangat ya, aku mendukungmu."
Aku tahu betul
kalau saat ini Uta sedang membakar semangatnya untuk kegiatan klub.
Karena itulah aku
mengatakannya dengan tulus. "……Terima kasih ya," respons Uta
kemudian.
"Natsu
sendiri bagaimana? Mau kencan dengan Hikarin?"
"……Ah,
rencananya begitu."
Aku tidak berniat
untuk berbohong. Saat aku mengangguk jujur, Uta langsung menepuk punggungku
dengan keras.
"Kalau
begitu, Natsu juga harus semangat! Jangan sampai membuat dia kecewa!"
"Aku
mengerti kok. Aku juga sudah memikirkan rencananya sambil berdiskusi dengan
Hikari."
Meskipun tidak
bisa dibilang sempurna, aku cukup percaya diri dengan rencana ini.
……Aku sudah
membuang segala macam perasaan lain dan bersumpah untuk membuat Hikari bahagia.
Oleh karena itu,
walau belum terbiasa, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku. Aku akan
memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang kekasih dengan totalitas tanpa batas.
Agar dia bisa
berpikir bahwa keputusannya untuk menyukaiku adalah hal yang tepat.
*
Tanggal dua puluh
tiga Desember. Hari pertama libur musim dingin diisi dengan kegiatan band.
Mungkin karena
aku dan Mei bersikap agak gelisah, Serika menunjukkan ekspresi wajah yang agak
aneh. Maafkan kami.
"Mei,
bagaimana rencanamu saat Natal nanti?"
"Aku sudah
memikirkan banyak hal, tapi hari Natal pasti akan sangat ramai, kan? Berjalan
di tengah kerumunan orang bukan gaya kami, jadi kami memutuskan untuk bersantai
di rumahku saja."
"Ah, pilihan
seperti itu juga bagus."
"Benar, kan!
Aku juga sudah memesan pizza dan kue!"
Artinya, itu
adalah kencan di rumah dengan sedikit sentuhan kesan yang spesial.
Kencan di rumah
memang bagus karena kami bisa bermesraan sepuasnya tanpa perlu memedulikan
pandangan orang-orang di sekitar.
"Hee,
Shinohara-senpai…… berencana untuk melangkah sampai sejauh mana nih?"
Orang yang menyela pembicaraan dengan wajah jahil itu adalah
Yamano.
"Samp-Sampai
sejauh mana apa maksudmu……!? Aku tidak berniat melakukan hal yang aneh-aneh kok!"
"Hee, tidak
berniat melakukan apa-apa, ya…… Tapi kalau begitu, bukankah malah aneh?
Bagaimana kalau pihak perempuan sudah mengumpulkan keberanian untuk mendekat?
Senpai bisa-bisa dianggap sebagai pria payah lho?"
"I-Itu……"
Mei tampaknya
membayangkan situasi tersebut, wajahnya langsung memerah dan tubuhnya mendadak
kaku.
"Hahaha,
cuma bercanda kok. Setiap orang kan punya ritme hubungannya
masing-masing."
Merasakan kalau
dirinya sudah bercanda kelewatan, Yamano akhirnya menyudahi serangannya.
Sebagai gantinya,
kini pandangannya beralih ke arahku.
"Kalau
Senpai sendiri rencananya bagaimana? Besok? Atau lusa?"
"Besok.
Kalau lusa, sepertinya Hikari akan menghabiskan waktu bersama
keluarganya."
Dengan kata lain,
jika mengatakannya secara akurat, agenda kami adalah kencan di malam Natal.
"Rencananya?"
"Aku sudah
memikirkan berbagai opsi, dan akhirnya memutuskan untuk pergi melihat iluminasi
lampu."
Gunma Flower Park
mengadakan festival iluminasi lampu hias selama musim dingin berlangsung.
Sebenarnya ada
banyak tempat lain yang juga mengadakan festival serupa, tapi menurutku tempat
itu adalah yang terbesar di Prefektur Gunma. Yang terpenting, lokasinya sama
sekali tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Meskipun aksesnya
agak sulit karena berada di kaki gunung, tempat itu sangat layak untuk
dikunjungi. Saat masih kecil dulu, aku pernah ke sana bersama orang tuaku, dan
memori masa kecilku mengingat tempat itu sangat indah.
"Hee,
bagus juga! Sepertinya bakal sangat estetik dan cocok buat foto-foto!"
"Benar juga,
Hikari pasti suka hal-hal semacam itu."
"Tapi,
bukankah tempatnya agak jauh? Lagipula di sana pasti sangat dingin, kan?"
"Kalau
masalah dingin sih tidak bisa dihindari. Pergi ke mana pun pasti dingin. Kalau
tidak mau dingin, ya pilihan satu-satunya cuma mengurung diri di rumah."
"Nah, itu
juga salah satu alasan kenapa kami memilih kencan di rumah."
Yamano dan yang
lain saling menimpali pembicaraan.
"Memangnya
tidak boleh kalau sesekali pergi agak jauh di hari Natal?"
Lagipula, respons
Hikari saat aku mengusulkan tempat ini juga sangat bagus. Aku yakin reaksinya
waktu itu bukan kepura-puraan.
Aku juga sudah
memesan tempat untuk makan malam. Persiapan hadiah pun sudah beres.
Segala persiapan awal sudah diatur semaksimal mungkin. Sekarang, aku hanya tinggal
mengeksekusinya besok.
"Selamat
bersenang-senang ya."
"Sip.
Kalau kamu sendiri bagaimana, Serika?"
"Aku
mau latihan bersama Saya. Seperti biasa."
"Di
saat para Senpai sedang tenggelam dalam dunia percintaan, kemampuan bermain
musik kami akan melesat jauh!"
Merespons
ucapan Serika, Yamano memukul simbal light dengan sangat meriah.
"Maaf
ya. Sebagai gantinya, aku pasti akan ikut latihan dengan benar di tanggal dua
puluh lima nanti."
"Harus
janji lho ya? Aku tidak akan memaafkan kalau Senpai sampai kesiangan gara-gara
menghabiskan malam yang panas!"
Aku
langsung melayangkan sebuah pukulan karate ke arah Yamano yang terus membual
omong kosong agar dia diam.
"Mana
mungkin hubungan kami bisa maju secepat itu……"
Lagipula, kami
berdua bahkan belum pernah berciuman tahu!
Selain itu,
Hikari juga punya jam malam, jadi probabilitas untuk menghabiskan malam yang
panas itu adalah nol. Sama sekali tidak ada, tahu? Sayang sekali.
Eh, tapi bagiku
hal itu sama sekali tidak terasa disayangkan kok? Ini bukan sekadar bentuk
pembelaan diri ya.
"……Ngomong-ngomong,
ganti topik nih, semuanya sudah beres, kan?"
Yamano
melemparkan pertanyaan itu padaku. Meskipun dia tidak menyebutkan subjeknya
secara spesifik, tebakanku ini pasti mengenai masalah Miori dan Reita.
"Kalau
dilihat dari sudut pandang orang luar, informasinya terasa sangat simpang siur
dan membingungkan, tapi tahu-tahu masalahnya sudah selesai begitu saja. Entah
bagaimana, Miori-senpai dan Hasegawa-senpai sekarang juga jadi akrab."
"Aku sendiri
juga tidak tahu alasan kenapa mereka berdua bisa jadi seakrab itu, tapi yang
jelas semuanya sudah selesai."
Secara akurat,
aku tahu Reita masih memikul masalah yang belum sepenuhnya selesai.
Namun, rasanya
tidak ada urgensi untuk menceritakan hal tersebut kepada orang-orang di sekitar
kami.
"Sejak awal
aku memang merasa kalau kecocokan mereka berdua tidaklah buruk. Lagipula,
keduanya sama-sama tipe orang yang tidak suka sungkan."
Serika ikut
memberikan opininya mengenai hubungan Miori dan Hasegawa.
"Jujur saja,
bagaimana pandanganmu tentang mereka berdua, Serika?"
"Daripada
hubungan mereka buruk, tentu lebih baik kalau mereka akrab, kan?"
Benar juga sih.
Terlebih lagi, Serika tampaknya adalah tipe orang yang paling malas jika harus
berhadapan dengan suasana canggung di dalam kelas.
"Ternyata
Hondo-san bisa juga ya menyampaikan opini yang normal."
"Kamu tidak
sopan sekali ya?"
Aku langsung
melayangkan protes demi membela Mei yang tampaknya menyuarakan isi hatinya yang
paling jujur.
Serika tanpa
sepatah kata pun langsung menjepit kedua pelipis Mei dengan kedua kepalan
tangannya, lalu memutarnya dengan kuat.
"Sakit,
sakit! Aku menyerah!"
"Itu namanya
karma tahu~ Lagipula, Serika-senpai ini aslinya punya sisi yang sensitif
lho."
Menurutku ucapan
Yamano itu jelas-jelas sebuah kebohongan besar, tapi aku memilih untuk
menyimpannya dalam hati saja. Melihat jepitan tangan Serika tadi saja sudah
membuatku ikut merasa ngilu.
"Sudah, jangan bermain-main terus. Ayo kita mulai latihannya lagi."
Serika
bertepuk tangan beberapa kali dan mengumumkan hal tersebut.
Mei yang
masih merintih kesakitan sambil memegangi pelipisnya diabaikan begitu saja.
Sungguh kejam.
*
Dan
akhirnya, tanggal dua puluh empat Desember pun tiba. Malam Natal telah menyapa.
Malam
sebelumnya, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku jadi ingin mengejek diriku
sendiri yang bersikap persis seperti anak SD yang kegirangan sebelum pergi
karyawisata, tapi mau bagaimana lagi.
Rasa
antusias dan kecemasan bercampur menjadi satu di dalam dadaku. Singkatnya, aku
sedang merasa sangat gugup.
Padahal
belakangan ini aku sudah mulai terbiasa dan tidak segugup ini saat kencan
biasa, tapi bagaimanapun juga hari ini terasa berbeda. Aku tidak boleh sampai
gagal.
Rasanya
perutku mendadak jadi agak mulas……
Urusan
pakaian sudah kupersiapkan sejak jauh-jauh hari agar aku tidak perlu bingung
lagi di hari H. Karena agenda hari ini adalah berjalan-jalan di luar ruangan
untuk melihat iluminasi lampu, maka proteksi terhadap suhu dingin menjadi
prioritas utama. Aku terpaksa sedikit mengorbankan aspek modis.
Aku
memakai kaus Heattech sebagai pakaian dalam, lalu melapisinya dengan jaket down
coat tebal dan juga syal. Untuk saat ini rasanya memang agak gerah, tapi ini semua demi nanti.
Aku juga
memeriksa kembali barang bawaanku untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Ponsel, dompet, gantungan kunci,
baterai portabel, penghangat tangan elektrik, dan terakhir, hadiah Natal.
Sip,
semuanya aman. Sudah waktunya untuk berangkat.
"Ah, Kakak
mau pergi kencan ya?"
"Iya. Aku
tidak makan di rumah nanti malam, tolong sampaikan ke Ibu ya."
"Semangat
ya, Kak~! Sampaikan salamku untuk Hoshimiya-senpai!"
Berbekal dukungan
dari adik perempuanku, aku pun melangkah keluar dari rumah.
……Dingin sekali.
Napasku sampai memutih di udara.
Hanya bagian
wajah saja yang langsung terekspos udara luar, dan rasanya benar-benar membeku.
Kalau tidak salah, suhu tertinggi hari ini hanya enam derajat Celsius.
Suhu udara memang
diperkirakan akan turun drastis, namun untungnya prakiraan cuaca menunjukkan
kalau langit akan tetap cerah.
Waktu perjanjian
kami adalah jam satu siang, dan kami berdua sudah menyelesaikan makan siang di
rumah masing-masing. Sebuah pesan masuk dari Hikari tertera di ponselku, "Aku
sudah mau berangkat nih!"
Aku pun segera
mengetikkan balasan, "Aku juga baru saja keluar rumah."
Setelah sekitar
tiga puluh menit berada di dalam kereta yang bergoyang ritmis, aku melangkah
keluar dari pintu loket stasiun.
Ternyata Hikari
sudah berdiri menungguku di sana. Aku bahkan tidak perlu bersusah payah untuk
mencarinya.
Gadis tercantik
di stasiun ini yang paling sukses mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya,
tidak salah lagi, adalah Hikari Hoshimiya.
"Natsuki-kun!"
Begitu melihatku,
wajah Hikari langsung berbinar cerah. Dia kemudian berlari kecil menghampiriku.
Melihat
pergerakan Hikari, beberapa gerombolan pria di sekitar sana tampak membubarkan
diri. Tampaknya mereka tadinya sedang mencari celah untuk mendekatinya, namun
langsung mundur teratur begitu menyadari kalau dia sedang menunggu pasangannya.
Baguslah aku
datang sedikit lebih cepat dari waktu perjanjian.
"Kamu cepat
sekali datangnya, Hikari. Ini bahkan masih tiga puluh menit sebelum waktu
janjian kita."
"Soalnya aku
sudah tidak sabar! Aku sampai menghabiskan makan siang bersama Papa dalam waktu
lima belas menit saja tahu!"
Mendengar hal
itu, jujur saja aku merasa agak kasihan kepada Paman Isao……
Terlebih lagi,
jika beliau tahu kalau putrinya bersikap begitu demi pergi kencan denganku, aku
jadi ngeri sendiri karena berpotensi mendapat amukannya.
"Sudahlah,
tidak perlu memikirkan Papa."
"……Kalau
begitu, ayo kita pergi."
Aku dan Hikari
pun mulai berjalan beriringan.
"Kamu
kemarin bilang ada beberapa tempat yang ingin dikunjungi, kan?"
"Iya! Jadi
begini……"
Hikari
menyebutkan beberapa nama toko pakaian.
Semuanya sesuai
dengan daftar yang sudah dia sampaikan sebelumnya, jadi sepertinya rute
perjalanan yang sudah kurencanakan tidak akan menemui masalah.
"Seperti
dugaan, ramai sekali ya."
"Yah,
namanya juga malam Natal."
Ke mana pun
pandangan mata ini beralih, kanan maupun kiri, semuanya penuh oleh pasangan
kekasih. Jika pemandangan ini dilihat oleh diriku yang dulu, aku pasti akan
langsung merengut kesal, namun saat menyadari kalau sekarang aku adalah bagian
dari pemandangan ini, rasanya benar-benar campur aduk.
"……Mau
gandengan tangan?"
Aku mengangguk
merespons pertanyaan Hikari yang terdengar agak ragu-ragu itu, lalu menyambut
jemari tangannya.
"Natsuki-kun,
tanganmu dingin sekali ya."
"Katanya,
orang yang tangannya dingin itu punya hati yang hangat lho."
"Mitos macam
apa itu?"
Hikari tertawa
renyah mendengar ucapanku. Aku merasakan kelembutan tangannya di dalam
genggamanku, lalu mengeratkan remasannya.
Suhu tubuhnya
terasa hangat di kulitku. Maaf ya, tanganku yang dingin ini malah membuatmu
tidak nyaman……
Rencana kami
untuk siang hingga sore hari ini adalah berkeliling di pusat perbelanjaan di
sekitar stasiun.
Aku menjadwalkan
pukul empat sore sebagai waktu yang tepat untuk mulai bergerak menuju lokasi
iluminasi lampu.
Perjalanan ke
sana memakan waktu sekitar satu jam, jadi kami diperkirakan akan tiba di lokasi
sekitar pukul lima sore.
Di jam-jam
tersebut, kondisi di luar ruangan dipastikan sudah gelap gulita.
Melihat iluminasi
lampu di saat hari masih terang tentu saja tidak akan terasa indah, kan?
Lagipula, kalau
tidak salah jam operasional tempat itu dimulai sejak matahari terbenam hingga
pukul sembilan malam.
"Wah, baju
yang ini lucu sekali~"
"Mau dicoba
dulu? ……Ah, tapi antrean ruang ganti panjang sekali ya."
"Yah, namanya juga malam Natal, mau bagaimana
lagi."
Namun, intensitas keramaian di tempat ini memang luar biasa.
Berjalan beberapa langkah saja sudah membutuhkan perjuangan tersendiri.
Apakah melakukan window shopping di malam Natal
seperti ini sebenarnya adalah sebuah keputusan yang kurang tepat?
"Hal-hal
seperti ini pun bisa kita pelajari bersama-sama secara perlahan, kan?"
Hikari tampaknya
menyadari kalau aku sedang meratapi keputusanku. Dia langsung merapatkan
tubuhnya ke arahku seraya melemparkan senyuman manis.
"……Benar
juga ya. Kita berdua kan memang masih pemula dalam urusan percintaan."
Perasaanku
sedikit lebih tenang sekarang. Mendengar gumamanku, Hikari pun ikut mengangguk
setuju.
"Lagipula,
yang mengusulkan untuk pergi belanja sampai menjelang malam kan aku, jadi
Natsuki-kun tidak perlu merasa bersalah begitu. Tidak apa-apa kok. Walaupun
tidak berjalan sesuai rencana awal, yang penting kita tetap bersenang-senang,
kan?"
"……Kalau
begitu, bagaimana kalau kita ke kafe saja? Aku agak lelah juga."
"Aku juga
merasa sedikit lelah. Toko-toko yang tersisa kita kunjungi lain kali saja
ya."
Hikari
tersenyum kecut setelah mengatakan hal tersebut.
Jika
diriku yang memiliki stamina fisik yang kuat saja sudah mulai merasa lelah,
maka Hikari pasti merasakan keletihan yang jauh lebih besar.
Berjalan
di tengah kerumunan manusia ternyata menguras tenaga jauh lebih besar daripada
perkiraanku…… Aku terlalu fokus pada detail rencana yang kubuat sendiri,
sampai-sampai abai dalam memperhatikan kondisi fisik Hikari.
"Bagiku,
bisa menghabiskan waktu bersama Natsuki-kun saja sudah sangat menyenangkan
tahu?"
Di saat aku sibuk
menyalahkan diri sendiri, Hikari justru menunjukkan perhatian yang begitu besar
padaku. Dia benar-benar memperhatikanku.
Genggaman
tangannya di jemariku terasa sedikit lebih erat. Aku bisa merasakan kalau
kata-kata yang diucapkannya itu datang langsung dari lubuk hatinya yang paling
dalam.
"Jangan
terlalu membebani pikiranmu hanya karena ini malam Natal. Kalau bersikap
begitu, Natsuki-kun sendiri jadi tidak bisa menikmati kencannya, kan? Tanpa
perlu ada sesuatu yang spesial pun, melewatkan hari seperti biasa bersamamu
sudah membuatku sangat bahagia."
"Hikari……"
"……Hehe, apa
aku terlalu berlebihan dalam membaca pikiranmu ya?"
"Tidak
kok, aku sangat senang mendengarnya."
Hikari
terkadang bisa membaca isi hati orang lain dengan tingkat akurasi yang
menakutkan.
Kemampuan
observasi dan analisisnya benar-benar luar biasa. Apakah ini adalah salah satu
bakat terpendam dari seseorang yang bercita-cita menjadi seorang novelis?
"……"
Seperti
yang sudah diduga, area kafe pun dipenuhi oleh pengunjung. Namun, untungnya
kami tidak perlu mengantre terlalu lama untuk bisa mendapatkan tempat duduk di
dalam.
Aku duduk
berhadapan dengan Hikari, lalu memesan secangkir kopi. Di sisi lain, Hikari
memesan menu parfait yang harganya sedikit lebih mahal sebagai bentuk self-reward.
"Aku
harus mengisi kembali energiku yang sudah terkuras!" ucapnya dengan wajah
yang berbinar-binar.
"Ngomong-ngomong
soal ujian kemarin, apa kamu sudah melaporkan hasilnya kepada Paman Isao?"
"Sudah.
Meskipun Papa tidak memujiku secara langsung, beliau bilang hasilnya lumayan
bagus."
Hikari
tersenyum kecut sambil menyuap parfait ke dalam mulutnya. Respons yang sangat
khas dari seorang Paman Isao.
"Natsuki-kun
kan selalu berhasil mempertahankan peringkat satu umum, apa Paman selalu
memujimu?"
"Ayahku
sedang dinas di luar kota dan jarang sekali pulang ke rumah."
"Ah, begitu
ya. Kalau Ibu?"
"Ibu awalnya
sering memujiku, tapi akhir-akhir ini respons beliau cuma sebatas 'oh, begitu'
saja."
"Eh~ Padahal
bisa terus mempertahankan peringkat satu itu adalah hal yang sangat hebat
lho."
"Katanya
kalau aku terlalu sering dipuji nanti malah besar kepala, jadi pujiannya
diberikan secukupnya saja."
"Hmm……
Aku agak mengerti sih alasannya."
"Bisa-bisanya kamu mengerti."
"Soalnya, biasanya Natsuki-kun terlihat seperti orang
yang punya tingkat kepercayaan diri yang rendah, tapi begitu dipuji, ekspresi
wajahmu langsung berubah jadi sok keren yang misterius."
Bukankah
penilaianmu itu terlalu sarkastis?
"Ugh…… Aku
tidak menyangka akan mendapat serangan verbal yang begitu telak dari kekasihku
sendiri……"
Melihatku yang tampak benar-benar lesu dan terpuruk, Hikari
langsung panik dan buru-buru meminta maaf.
"Ma-Maaf, maaf! Terkadang memang ada hal-hal yang
seharusnya tidak perlu diucapkan ya……"
"Itu sama
sekali bukan kalimat penenang tahu."
Menghadapi sikap
merajukku, Hikari menyendok parfait miliknya lalu mengulurkan sendok itu ke
arahku.
"Nah, ini
aku bagi parfait-nya. Jangan mengambek lagi ya?"
Membujuk orang
dewasa agar tidak merajuk dengan menggunakan parfait, dia pikir aku anak SD
apa……
"Aku tidak
akan termakan trik murahan seperti itu…… dasar kamu, idola sekolah gadungan
dengan tingkat kepercayaan diri maksimal……"
"Jangan
mengungkit lelucon lama itu lagi dong…… Aku benar-benar malu tahu……"
Meskipun wajahnya
sudah merona merah, dia tetap bersikeras mengarahkan sendoknya ke depanku.
Akhirnya, aku terpaksa membuka mulut dan memakan suapan parfait tersebut.
Hmm. Rasa
manisnya pas dan tidak berlebihan, sangat lezat.
Tapi tunggu dulu,
bukankah ini artinya kami baru saja melakukan ciuman tidak langsung?
Hikari sendiri
tampak bersikap biasa saja dan kembali menikmati parfait miliknya dengan lahap.
Meskipun ada kemungkinan kalau di dalam hatinya dia sedang merasa gugup namun
berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya dari pandanganku.
……Ah, ujung
telinganya terlihat sedikit memerah.
Sebaiknya aku
pura-pura tidak menyadarinya saja. Bagaimanapun juga, dia sedang berusaha keras
untuk bersikap tenang di depanku.
"……Ah. Gadis
yang ada di sebelah sana itu, bukankah itu Kanata-chan?"
Hikari
tiba-tiba bergumam sambil mengarahkan pandangannya ke luar jendela kafe.
Mengikuti
arah pandangannya, di balik kaca jendela kafe, aku bisa melihat Fujiwara dan
Hino sedang berjalan berdampingan di trotoar.
Fujiwara
tampak merapatkan tubuhnya sambil memeluk erat lengan Hino dengan kedua
tangannya. Wow, mereka berdua mesra sekali……
"Aku
memang sudah tahu kalau mereka berpacaran, tapi…… Lu-Luar biasa ya."
Wajah
Hikari tampak sedikit memerah saat memperhatikan interaksi sepasang kekasih di
luar sana dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ternyata
Kanata-chan kalau sedang berdua saja dengan Hino-kun bisa bersikap semanja itu
ya……"
"Cukup
mengejutkan ya. Padahal biasanya dia adalah sosok yang mandiri dan selalu
menjadi penengah di kelas."
Bahkan di depan
teman-teman yang lain, dia tidak jarang menceramahi Hino yang bersikap
malas-malasan.
"Apa
Natsuki-kun sudah tahu soal hal ini sebelumnya?"
"Aku pernah
tidak sengaja melihat mereka berdua sebelumnya."
Kalau tidak
salah, kejadiannya adalah saat festival Tanabata waktu itu.
Artinya, itu
adalah momen saat aku pergi bersama dengan Uta. Ternyata kejadian itu sudah
berlalu setengah tahun yang lalu ya. Rasanya agak bernostalgia.
"……Kamu
sedang menampilkan ekspresi wajah seperti sedang memikirkan gadis lain……"
Hikari menatapku
lekat-lekat tanpa berusaha menyembunyikan ekspresi ketidakpuasannya.
Bagaimana bisa
dia tahu? Apa dia punya kekuatan cenayang?
"……Bukan
begitu, maksudku, momen saat aku tidak sengaja melihat mereka dulu itu adalah
saat aku pergi ke festival Tanabata bersama Uta……"
Menyadari kalau
berbohong hanya akan memperburuk situasi, aku pun memutuskan untuk berterus
terang.
"Ah~ Momen
itu ya, momen di mana aku harus memendam perasaan yang benar-benar rumit
sendirian saat melihat kalian……"
"……Perasaan
rumit apa yang kamu maksud?"
"Melihat
anak laki-laki yang kamu sukai pergi ke festival Tanabata berduaan dengan
temanmu sendiri…… tentu saja rasanya benar-benar membuatku cemas setengah mati
tahu. Walaupun saat itu, aku masih enggan untuk mengakui perasaan ini secara
jujur."
Hikari menyesap
kopinya secara perlahan sambil menerawang jauh, seolah-olah sedang memutar
kembali memori masa lalu di dalam kepalanya.
"Natsuki-kun.
Jika menengok kembali ke masa itu, faktanya kamu pasti lebih menyukai Uta-chan
daripada aku, kan?"
……Bukankah
pertanyaanmu itu terlalu frontal? Aku sampai hampir menyemburkan kopi yang sedang kuminum.
"Mungkin…… memang begitu. Tapi saat itu adalah masa di mana aku sendiri
belum bisa menentukan pilihan dengan pasti."
Jika dipikirkan
kembali sekarang, kenyataan bahwa diriku yang sebenarnya menyukai Hikari namun
tetap menyetujui ajakan Uta untuk pergi berdua ke festival Tanabata,
menunjukkan kalau hatiku saat itu memang sedang goyah.
Padahal aku tahu
betul kalau tindakan seperti itu akan membuat orang-orang di sekitar menganggap
kami sebagai sepasang kekasih, dan Hikari pun pasti akan melihat hal tersebut.
"Namun,
setelah melewati masa musim panas hingga musim gugur, kamu menyadari kalau
perasaanmu padaku jauh lebih besar. Karena itulah, kamu akhirnya
memilihku."
Cara bicara
Hikari terdengar begitu datar, seolah-olah dia hanya sedang membacakan deretan
fakta yang tertulis di atas kertas.
Kenyataannya,
tidak ada satu pun dari perkataannya yang salah. Karena pada akhirnya, sosok
yang kupilih untuk menjadi kekasihku adalah Hikari Hoshimiya.
"Tapi
Natsuki-kun…… kamu baru menyadarinya sekarang, kan? Mengenai sebuah
perasaan besar yang sebenarnya sudah bersemayam di dalam hatimu sejak
awal."
Suasana di antara
kami mendadak berubah drastis. Atmosfer manis khas sepasang kekasih seketika
menguap, digantikan oleh keheningan yang terasa dingin dan mencekam.
Hikari
saat ini terlihat persis seperti sosok detektif jenius yang ada di dalam novel
misteri.
Sedangkan
posisiku saat ini tidak ubahnya seperti seorang pelaku kriminal yang seluruh
kedok kejahatannya baru saja dikuliti hingga tuntas.
"Sama halnya
denganku, atau bahkan mungkin lebih dari itu…… Natsuki-kun, sebenarnya kamu……
menyukai Miori-chan."
Menghadapi sebuah kalimat pernyataan yang dilontarkan dengan
penuh keyakinan seperti itu, aku tidak mampu membalasnya dengan kata-kata apa
pun.
Aku sudah
memantapkan hati untuk terus mempertahankan kebohongan ini sampai akhir. Namun
di sisi lain, aku juga ingin selalu bersikap jujur dan setia kepada Hikari.
Jika situasinya
sudah seperti ini, maka satu-satunya opsi yang bisa kuambil adalah memilih
untuk bungkam.
"……Aku
mengerti kok. Alasan kenapa kamu tidak bisa mengatakan apa pun."
Hikari tersenyum,
namun senyumannya kali ini menyiratkan rasa kesepian yang teramat dalam. Aku
sama sekali tidak berniat untuk membuat dia menunjukkan ekspresi wajah seperti
itu.
Saat aku
membiarkan ekspresi itu muncul di wajahnya, aku tahu kalau aku sudah gagal
sebagai seorang kekasih.
"Maaf ya……
hari ini aku sebenarnya tidak ada niatan untuk membahas masalah ini sampai
sejauh itu."
Aku sebenarnya sudah menyadarinya secara samar.
Mengingat kemampuan Hikari yang sangat sensitif dalam
membaca isi hati orang lain, membuat dia berada dalam kondisi secemas ini
adalah murni kesalahanku.
Jika bukan karena rasa percaya diri yang berlebihan, aku
tahu kalau sosok yang paling sering diperhatikan oleh Hikari adalah diriku.
Jika situasinya demikian, maka sangat tidak logis jika aku
berpikir kalau Hikari tidak akan menyadari isi hatiku yang sebenarnya.
Meskipun begitu, selama ini aku selalu berusaha bersikap
seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku selalu berdoa di dalam hati agar dia
tidak pernah menyadarinya.
"Aku hanya
ingin Natsuki-kun tahu satu hal."
"……Tahu
tentang apa?"
"Tentang
seberapa besar rasa sayangku kepada pria bernama Natsuki Haibara ini."
Aku tidak
mampu menangkap esensi dari kalimatnya. Melihatku yang hanya bisa mengerjapkan
mata kebingungan, Hikari kembali mengulas sebuah senyuman tipis.
"Tidak
apa-apa kok jika kamu memiliki perasaan terhadap gadis lain. Karena status
sebagai kekasihmu saat ini adalah milikku. Aku tidak ada niatan sedikit pun
untuk melepaskan posisiku yang sekarang secara sukarela. ——Sebab, berada di
sisimu adalah kebahagiaan terbesarku."
Kata-kata yang
diucapkannya terdengar begitu kokoh dan penuh ketegasan.
Dia pasti sudah
merenungkan hal ini matang-matang sejak pertama kali menyadari isi hatiku yang
sebenarnya.
Kalimat tadi
adalah bentuk 'jawaban' yang berhasil disimpulkan oleh Hikari.
"Oleh karena
itu, untuk saat ini kamu tidak perlu merespons apa-apa. Aku hanya ingin
mendeklarasikan hal ini kepadamu."
Hikari
mengulurkan tangannya melewati meja pembatas, lalu mengetuk dadaku pelan dengan
kepalan tangannya.
"Tunggulah
aku —— sebab suatu hari nanti, aku akan memastikan kalau isi hatimu hanya akan
dipenuhi oleh diriku seorang."
……Aku benar-benar
dibuat bertekuk lutut olehnya.
Di saat yang
sama, aku juga merasa sangat payah karena tidak mampu mengendalikan perasaanku
sendiri dengan baik.
Sebesar apa pun
usaha rasionalitas untuk meredamnya, pada akhirnya perasaan jujur tidak akan
pernah bisa berbohong.
Karena itulah
pilihan terakhirku adalah dengan berbohong, namun kebohonganku justru berhasil
dikuliti habis. Baik oleh Reita, maupun oleh Hikari.
Meski begitu,
setidaknya aku harus memastikan kalau kebohongan ini tidak akan pernah
terbongkar oleh Miori.
"……Sudah
waktunya berangkat yuk. Kondisi di luar sepertinya sudah mulai gelap."
Merespons ajakan
Hikari, kami berdua pun segera melangkah keluar dari kafe.
Seluruh biaya
kafe ditanggung olehku. Hikari awalnya bersikeras untuk membayar bagiannya
sendiri, namun aku memaksanya dengan alasan agar dia membiarkanku bersikap
keren setidaknya untuk hari ini saja. Meskipun jika melihat kejadian tadi, aku
sama sekali tidak ada keren-kerennya sih……
Sore hari telah
tiba, kondisi di dalam stasiun menjadi jauh lebih padat oleh calon penumpang
saat kami berjalan menuju peron kereta.
Hikari kembali
cerewet dan mengobrolkan banyak hal random, seolah-olah ketegangan yang terjadi
di kafe tadi hanyalah sebuah ilusi belaka.
Aku tidak
memiliki kemampuan untuk melihat menembus emosi asli yang disembunyikan di
balik senyuman manis milik Hikari.
Di saat semua
orang di sekitarku memiliki kepekaan yang luar biasa, hanya aku seorang yang
selalu bersikap tidak peka. Bahkan setelah mendapat kesempatan untuk mengulang
kehidupan untuk kedua kalinya pun, esensi dasar dari diriku tetap tidak
mengalami perubahan.
Kami turun di
Stasiun Oogo, lalu melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus yang menuju ke
arah Gunma Flower Park. Mayoritas penumpang yang mengisi deretan kursi bus
adalah pasangan kekasih. Meskipun begitu, kondisinya tidak bisa dibilang sampai
penuh sesak.
Yah, wajar saja
sih karena jarang ada orang yang mau bersusah payah pergi ke tempat dengan
akses transportasi yang sulit seperti ini dengan menggunakan bus umum. Jika aku
memiliki akses kendaraan pribadi, aku pun pasti akan memilih untuk pergi ke
sana dengan menggunakan mobil.
Dulu aku memang
memiliki surat izin mengemudi. Namun karena statusku yang sekarang tidak
memilikinya, otomatis aku tidak bisa menyetir mobil……
"Sudah lama
sekali rasanya aku tidak naik bus seperti ini~"
Hikari tampak
menikmati setiap momen perjalanan kami. Seolah-olah segala bentuk
ketidaknyamanan ini adalah bumbu pelengkap yang membuat kencan kami terasa jauh
lebih berkesan.
Setelah sekitar
lima belas menit bus melaju membelah jalanan, kami pun akhirnya tiba di tujuan.
Kondisi di luar
ruangan sudah sepenuhnya gelap gulita. Hanya pendar cahaya dari deretan lampu
jalan saja yang menjadi sumber penerangan di sekitar sini.
Seiring
berjalannya waktu menuju malam, suhu udara di sekitar pun terasa turun dengan
sangat drastis. Area parkir kendaraan terlihat sudah hampir penuh terisi.
Ternyata
mayoritas pengunjung memang memilih untuk datang ke tempat ini dengan
menggunakan mobil pribadi. Sayup-sayup terdengar keluhan, "Dingin sekali
ya~" dari beberapa pengunjung di sekitar kami.
Setelah
menyelesaikan proses pembelian tiket masuk, aku menggandeng jemari tangan
Hikari lalu melangkah bersama memasuki area taman hias.
"Wahh……"
Pemandangan
pertama yang langsung tersaji di depan mata kami adalah pendar cahaya megah
dari ribuan lampu iluminasi hias yang berkerlap-kerlip dengan sangat indah.
Hikari spontan
berseru kagum melihat kemegahan tersebut, lalu menarik tanganku dengan
antusias, "Ayo cepat, kita ke sana!"
"……Kamu
tidak kedinginan?"
"Dingin sih,
tapi kalau bisa melihat pemandangan seindah ini, rasanya sangat sepadan."
"Aku bawa
penghangat tangan kok."
"Kalau
begitu, aku minta!"
Hikari merebut
penghangat tangan dari tanganku, lalu segera merobek bungkusnya.
Aku mengalihkan
pandangan dari Hikari yang sedang bersemangat, lalu mulai mengamati area
sekitar taman.
Pengunjung yang
datang memang lumayan banyak, namun karena area taman ini sangat luas,
suasananya sama sekali tidak terasa penuh sesak.
Mayoritas dari
mereka adalah pasangan kekasih, meski terkadang ada juga rombongan keluarga
yang lewat.
"Indah
sekali ya!"
Rute untuk
berkeliling sudah kupersiapkan sejak awal.
Sambil
menggandeng jemari tangan Hikari, kami mulai berjalan membelah pendar cahaya
iluminasi hias.
"Benar. ……Benar-benar indah."
Alunan musik latar yang modis terdengar mengalun, mengiringi
perubahan warna-warni lampu yang bergerak ritmis.
Jauh di lubuk hatiku, diriku yang dulu sempat berbisik, 'Ini
kan cuma sekadar lampu hias biasa?' namun sekarang aku bisa membantah
pemikiran itu dengan tegas.
Karena ada Hikari yang mendampingiku di sini, pemandangan
yang tersaji di depan mataku menjadi berkali-kali lipat lebih bersinar.
——Karena itulah,
aku bisa merasakan keindahan yang sesungguhnya.
"Hei,
Natsuki-kun."
Hikari menarik
tanganku yang berada di genggamannya seraya menyunggingkan senyuman terbaiknya.
Kami berdua
berjalan beriringan melewati sebuah lorong panjang yang dihiasi oleh formasi
lampu berbentuk gerbang.
"Aku
benar-benar merasa sangat bahagia saat ini!"
"Iya. Aku
juga bahagia."
Kami
saling bertukar senyum setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Tidak
lama kemudian, Hikari menghentikan langkah kakinya di titik tertinggi yang ada
di dalam area taman ini.
"Ayo kita
foto di sini!"
Dari titik ini,
seluruh hamparan lampu iluminasi yang menghiasi area taman memang bisa terlihat
dengan sangat jelas.
"Sebenarnya
aku sudah menyiapkan tongsis lho~" ucap Hikari sambil membongkar isi tas
jinjingnya.
Setelah
memasangkan ponselnya pada tongkat swafoto tersebut, Hikari langsung menarik
tubuhku agar merapat ke arahnya.
"Ayo,
senyum, senyum!"
Klik. Bunyi rana kamera terdengar
merdu.
Berlatarkan
gemerlap lampu iluminasi yang warna-warni, aku dan Hikari berhasil mengabadikan
senyuman kami dalam sebuah foto.
Hikari kemudian
menyodorkan ponselnya untuk memperlihatkan hasilnya padaku. Hasil jepretan foto
Hikari memang selalu terlihat sangat bagus.
"Wah,
hasilnya bagus sekali ya."
"Benar,
terlihat sangat indah. Hmm…… ini foto yang sangat bagus ya."
Hikari
mengangguk-angguk puas sambil terus menatap layar ponselnya.
Setelah itu, kami
kembali berjalan santai mengitari area taman sambil menikmati berbagai formasi
lampu iluminasi yang unik.
Rasanya aku ingin
terus menghentikan waktu dan menikmati momen-momen seperti ini selamanya.
Aku ingin terus
berada di sisi Hikari dan menikmati pemandangan yang fantastis ini bersamanya.
Namun, jarum jam
akan selalu bergerak maju tanpa pernah bisa dihentikan.
Fakta bahwa aku
bisa terlempar kembali ke masa tujuh tahun yang lalu adalah sebuah keajaiban
yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
Bagaimanapun
juga, hal itu bukanlah sesuatu yang bisa kukendalikan dengan kehendakku
sendiri.
Hingga akhirnya,
langkah kaki kami kembali membawa kami berdua ke area pintu masuk.
"……Seru
sekali ya."
Hikari melepaskan
genggaman tangan kami secara perlahan, seolah menyiratkan rasa enggan untuk
berpisah.
"Kalau
begitu…… kita pulang sekarang?"
"Hikari."
"A-Ada apa?"
Hanya dengan mendengar aku memanggil namanya saja sudah
cukup untuk membuat Hikari menunjukkan kepanikan yang sangat kentara.
"……Anu,
seperti yang kukatakan tadi, aku masih belum ada niatan untuk putus dari—"
Aku tidak sanggup
melihat ekspresi ketakutan yang terpancar dari wajah Hikari.
Aku ingin membuat
Hikari merasa tenang. Aku ingin menyampaikan perasaan ini kepadanya.
Fakta bahwa
Natsuki Haibara menyukai Hikari Hoshimiya adalah sebuah kebenaran yang tidak
akan pernah berubah, dan aku ingin dia memercayai hal itu.
"Mmpff……!?"
Oleh karena itu,
aku langsung menarik tubuh Hikari ke dalam pelukanku dan mengunci bibirnya.
Aku sama sekali
tidak memedulikan pandangan orang-orang di sekitar kami lagi. Saat ini,
satu-satunya sosok yang ada di dalam duniaku hanyalah Hikari.
Entah berapa
detik atau berapa puluh detik waktu telah berlalu, aku tidak tahu. Aku kemudian
melepaskan pagutan bibir kami perlahan, lalu menatap wajah Hikari dari jarak
yang sangat dekat. Hikari tampak menangis. Butiran air mata terlihat mengalir
deras membasahi kedua belah pipinya.
"—Aku
mencintaimu."
Pada akhirnya,
dari sekian banyak kosakata yang ada, hanya kalimat itu yang berhasil kupilih
untuk mewakili seluruh perasaan yang membuncah di dalam dadaku.
"Aku sudah
bersumpah untuk membuatmu bahagia, dan aku tidak ada niatan sedikit pun untuk
mengingkari sumpah tersebut. Bahkan jika puluhan tahun harus berlalu setelah
ini—— selama kamu tetap bersedia untuk berada di sisiku, aku berjanji akan
selalu membuatmu bahagia."
Hanya kalimat
itulah yang bisa kuucapkan dengan seluruh kemampuanku saat ini. Karena
bagaimanapun juga, aku sama sekali tidak ingin menodai momen ini dengan
kebohongan.
"Terima kasih…… Natsuki-kun."
Hikari terus terisak sambil menyeka air mata di sudut matanya dengan tangan, lalu menyampaikan rasa terima kasihnya di sela-sela tangisnya yang sesenggukan.
"—Aku juga sangat mencintaimu."
Hikari langsung menghambur ke dalam pelukanku. Aku menyambut
tubuh ringannya, lalu melingkarkan kedua tanganku di punggungnya.
"……Kalau akhirnya membuatmu ketakutan begini,
seharusnya tadi kamu tidak perlu bertanya apa-apa."
"Ugh……
Habisnya, begitu tahu kalau analisisku ternyata benar, aku mendadak jadi sangat
takut……"
"Lalu, ke mana perginya Hikari yang baru saja membuat
deklarasi keren di kafe tadi?"
"I-Ini semua
salah Natsuki-kun tahu!? Lagipula kamu tiba-tiba saja jadi pendiam!"
Hikari
terus mengomel di dalam dekapan dadaku.
Kalau
dipikir-pikir, itu memang murni kesalahanku karena sempat tenggelam dalam
pikiran sendiri. Wajar saja jika Hikari yang sudah telanjur menggertak dengan
keren malah menjadi cemas.
Saat aku
sedang menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut untuk menenangkan, tiba-tiba saja
terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari arah sekitar kami.
Suara
tepuk tangan itu terdengar saling bersahutan tanpa henti.
Tanpa
kami sadari, kerumunan pasangan kekasih telah berkumpul dan mengelilingi kami
dari jarak jauh.
Bahkan
sayup-sayup terdengar suara sorakan gemas dari beberapa orang. Mereka semua menatap ke arah kami dengan
pandangan penuh rasa iri.
……Kami
benar-benar sudah berubah menjadi tontonan gratis di sini.
Aku bisa
merasakan wajahku mendadak menjadi sangat panas karena malu.
Hikari tampaknya
juga baru menyadari situasi memalukan yang sedang terjadi. Dia langsung
melepaskan diri dari pelukanku dengan kecepatan yang luar biasa.
"Ma-Maaf……
ini semua salahku."
Logika mengenai tempat dan situasi benar-benar sudah lenyap
dari kepalaku saat melakukan tindakan tadi.
Wajah Hikari saat ini sudah memerah padam menyerupai
kepiting rebus. Aku pun yakin kalau
wajahku saat ini tidak jauh berbeda dengannya.
Aku sama sekali
tidak menyesali tindakanku sendiri. Namun, rasa malu tetaplah rasa malu yang
tidak bisa dihindari begitu saja.
Meskipun ada
pepatah yang mengatakan kalau masa muda itu memang harus diwarnai dengan
hal-hal memalukan, tapi kurasa kejadian ini sudah melewati batas wajar.
"Ma-Maaf
sudah membuat keributan dan mengganggu kenyamanan kalian semua……"
Aku dan Hikari
membungkukkan badan berulang kali meminta maaf sambil berusaha menerobos keluar
dari kerumunan orang-orang tersebut.
Perhatian mereka
memang masih tertuju pada kami. Namun dengan kondisi lingkungan yang gelap
seperti ini, mereka pasti akan segera kehilangan jejak kami dalam beberapa
saat.
Di tengah cuaca
yang menusuk tulang ini, aku dan Hikari saling melempar senyum kecut sambil
mengibas-ngibaskan tangan ke arah wajah masing-masing yang memanas.
"Kejadian
tadi benar-benar resmi menjadi sejarah hitam dalam hidupku……"
"Tapi aku
sangat senang lho? ……Aku pasti akan mengingat kejadian ini seumur
hidupku."
Hikari dengan sengaja menyenggolkan bahunya ke tubuhku
hingga membuatku sedikit terhuyung ke samping.
"Kenapa ya,
setiap kali aku mencoba untuk bersikap keren, akhirannya selalu saja berantakan
seperti ini?"
"……Bukankah
hal itu sangat mencerminkan dirimu yang apa adanya? Sengaja membuat komedi di akhir cerita,
kan?"
"Sama
sekali tidak! Aku tidak pernah sengaja membuat lelucon di akhir cerita
tahu!?"
Mendengar
bantahan kerasku yang diucapkan dengan mata terbelalak, Hikari tidak mampu lagi
menahan tawanya hingga harus memegangi perutnya.
Setelah
puas tertawa, Hikari menatapku dengan ekspresi wajah yang tampak jauh lebih
lega dan segar.
"……Kalau
begitu, mari kita pulang sekarang?"
"Tentu. Aku
juga sudah memesan tempat untuk makan malam kita nanti."
*
Kami akhirnya
tiba kembali di Stasiun Takasaki. Tanpa membuang waktu, kami langsung melangkah
masuk ke dalam restoran yang sudah kupesan sebelumnya.
Toko ini adalah
tempat yang pernah kukunjungi di kehidupan pertamaku. Rasanya sangat lezat,
jadi aku masih mengingatnya dengan jelas.
"A-Anu,
sepertinya ini tempat yang agak mahal ya?"
"Tidak
apa-apa. Biar aku yang bayar."
"Benarkah?
Hebat, kamu memang sang Master Kerja Paruh Waktu."
"Julukan itu
tidak terlalu membuatku senang, tahu……"
Bagi anak SMA,
menu course di sini memang terbilang agak mahal, tapi sesekali tidak
apa-apalah. Lagipula aku juga bekerja paruh waktu, jadi bukannya aku tidak
punya uang.
Sebenarnya tempat
ini hanya menang di suasananya yang bagus, aslinya tidak semewah itu. Harga per
paket course paling-paling hanya berkisar beberapa ribu yen saja.
"Kalau nanti
aku sudah debut, aku akan mentraktir Natsuki-kun pakai uang royalti!"
"Kira-kira
itu bakal terwujud berapa tahun lagi, ya?"
"Ah, jahat
banget. Natsuki-kun tidak percaya pada kemampuanku ya."
Selagi kami
mengobrolkan hal seperti itu, hidangan pembuka berupa salad pun tiba.
"Kalau
begitu, mari kita makan."
"Iya.
Kelihatannya enak. Selamat makan~"
Hikari awalnya
tampak agak tegang. Namun, etika makannya benar-benar sempurna.
Apakah dia
dididik dengan keras oleh orang tuanya? Kalau dipikir-pikir, sebagai putri
seorang presiden direktur, dia pasti sudah terbiasa dengan restoran yang jauh
lebih mewah dari ini.
"……Natsuki-kun,
apa kamu sering datang ke tempat seperti ini?"
"Apa aku
terlihat seperti itu?"
"Habisnya,
kamu kelihatan sangat terbiasa."
"Hanya
sesekali datang bersama orang tua kok."
Aku
menyahut sambil mengedikkan bahu. Kenyataannya, aku tidak sesering itu datang
ke sini.
Restoran
seperti ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi jika harus didatangi
sendirian.
Sebagai
petarung solo yang tangguh, aku sebenarnya berani saja untuk masuk sendiri.
Tapi kalau terlalu sering kemari, dompetku bisa jebol.
Setelah
itu, waktunya kami fokus untuk menikmati makanan.
Kami
benar-benar memanjakan lidah dengan hidangan yang datang silih berganti.
Keputusanku memilih restoran ini sangat tepat. Rasanya benar-benar lezat.
"Fuu,
kenyangnya. Enak banget."
Hikari
berucap penuh kepuasan sambil mengelus perutnya.
……Apakah
sekarang waktu yang tepat? Sosok Miori di dalam benakku seolah mendesakku untuk
segera bergerak.
"Hikari, ini
hadiah Natal untukmu."
Aku mengeluarkan
sebuah bingkisan dari dalam tas, lalu menyerahkannya kepada Hikari.
"Eh? Terima
kasih…… Jadi kamu menyiapkannya untukku. Boleh kubuka sekarang?"
"Tentu
saja."
Begitu Hikari
membuka bingkisan itu, seuntai kalung langsung terlihat dari balik
pembungkusnya.
"Wahh……"
Rantai perak
membentuk lingkaran manis, dengan sebuah berlian yang memancarkan kilauan indah
di bagian tengahnya.
Desainnya memang
simpel. Namun, menurutku model minimalis seperti inilah yang paling cocok untuk
Hikari.
Lagipula, Hikari
lebih menyukai sesuatu yang terlihat anggun ketimbang sesuatu yang imut. Karena
itulah, aku yakin dia akan menyukai kalung ini.
……Meski begitu,
itu kan hanya tebakanku saja. Aku tetap tidak bisa mengetahui perasaan Hikari
yang sebenarnya.
"Terima
kasih banyak ya. Aku
akan menjaganya dengan baik!"
"Kamu suka?
Kalau tidak suka, jangan dipaksa untuk……"
"Apa pun
yang dipilihkan oleh Natsuki-kun, itu pasti menjadi hal yang paling
kusukai!"
Hikari menegaskan
hal itu dengan penuh keyakinan. Aku pun bisa bernapas lega sekarang.
Kali ini aku sama
sekali tidak meminta bantuan Miori. Aku benar-benar memilihnya murni
berdasarkan seleraku sendiri.
Padahal, tidak
ada hal yang paling tidak bisa kupercayai di dunia ini selain seleraku sendiri.
"Boleh
kupakai sekarang?"
Mendengar
pertanyaan dari Hikari, aku langsung mengangguk mantap, "Tentu saja."
Aku juga ingin
segera melihat Hikari mengenakan kalung pilihan dari tanganku sendiri.
Demi mendapatkan
kalung ini, aku sampai harus merenung lama di depan toko hingga membuat
pelayannya merasa heran. Jadi, kalung ini memiliki nilai sentimental yang cukup
besar bagiku.
"Bagaimana…… menurutmu?"
"Sangat cocok untukmu."
Hikari tertawa malu-malu sambil menggumamkan,
"Ehehe……"
"Tapi,
kalung ini…… pasti mahal sekali, kan?"
"Aku sudah
lupa berapa harganya."
"Bisa-bisanya
kamu berbohong sejelas itu…… Tapi, terima kasih banyak ya. Aku akan merawatnya
baik-baik."
Kenyataannya,
gaji hasil kerja paruh waktuku selama dua bulan langsung amblas begitu saja.
Aku sama sekali
tidak berniat untuk sengaja memilih barang yang mahal. Kebetulan saja barang
yang menurutku paling cocok untuk Hikari harganya setara dengan lima lembar
uang lima puluh ribu yen.
Namun, jika
nominal sebesar itu bisa menebus senyuman seindah ini, kurasa harganya
terhitung sangat murah.



Post a Comment