NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 7 Epilog

Epilog

Akhir dan Awal Tahun


Sisa libur musim dingin kuhabiskan untuk latihan band dan kerja paruh waktu.

Aku memang sempat telepon dengan Hikari, tapi kami sulit menemukan waktu untuk bertemu.

Mulai tanggal 29, latihan band akhirnya libur. Aku pun menghabiskan waktu bersama keluarga.

Setelah membersihkan rumah besar-besaran pada tanggal 30, kami pergi ke rumah nenek pada tanggal 31.

Di keluarga kami, hanya saat akhir tahun, tahun baru, dan Obon saja kami berkumpul di rumah nenek.

Kerabat dekat berkumpul di sana, dan saat malam tiba, kami mengadakan pesta kecil.

Paman yang sudah mabuk menawarkan sake padaku, tapi tentu saja aku menolak. Aku tidak ingin mengingat rasa alkohol lagi.

Aku duduk menghangatkan tubuh di kotatsu sambil menonton acara Red and White Song Festival dan makan jeruk.

Setelah keluarga menyambut tahun baru bersama, aku mengecek ponsel. Pesan “Akemashite Omedetou” sudah bertebaran di LINE.

Aku membalas “Kotoshi mo yoroshiku~” ke grup teman-teman biasa, lalu masuk ke futon.

Ketika terbangun, jarum jam sudah menunjukkan siang. Rupanya aku tidur sampai siang hari.

Di ruang keluarga, nenek dan ayah sedang menonton acara lari estafet Tahun Baru.

“Jarang sekali Kakak tidur sampai segini.”

Nami berkata sambil makan zoni.

“Di akhir dan awal tahun, suasananya memang mengizinkan kita bermalas-malasan.”

“Apa itu, lucu banget.”

“Eh, Ibu ke mana?”

“Kayaknya pergi lihat matahari terbit dulu, lalu langsung ke hatsumoude.”

“…Lalu kenapa kamu tidak ikut?”

“Eh? Soalnya dingin. Males keluar rumah.”

Adikku itu berkata sambil tetap nyaman di dalam kotatsu.

Ibu terlalu memanjakan anak ini.

Padahal aku yang tidur sampai siang tidak berhak berkata apa-apa.

“Natsuki. Mau makan siang?”

Nenek yang sedang menonton estafet di kotatsu menawarkan.

“Boleh? Aku bantu ya.”

“Kamu sudah jadi anak yang baik sekali. Tapi duduk saja. Nenek kan sedang luang.”

“Ah! Nenek, aku juga mau makan!”

Nenek yang baik hati dan adik yang tidak tahu malu.

Hm, pemandangan ini sama sekali tidak berubah dari tujuh tahun mendatang…

5 Januari.

Libur akhir tahun yang santai sudah berakhir. Sekolah kembali dimulai.

Entah kenapa, suasana para siswa yang menuju sekolah terasa agak lesu.

Begitu masuk ke kelas satu-dua, aku langsung disapa.

“Selamat tahun baru! Natsuki-kun!”

Hikari menyapaku dengan penuh semangat.

“Ooh, selamat tahun baru. Rasanya sudah lama ya kita tidak ketemu.”

“Memang sudah sekitar satu minggu. Tahun ini juga tolong bantuannya ya.”

Reita bereaksi terhadap kata-kataku.

“Kuaah…”

“Kamu kelihatan sangat mengantuk, Tatsuya.”

“Ritme tidurku jadi kacau gara-gara libur tahun baru.”

Tatsuya berkata sambil menggaruk kepalanya kasar.

“Aku juga kurang tidur~ Kemarin buru-buru ngerjain PR.”

Uta terlihat lelah dan menelungkup di meja.

“Libur musim dingin ternyata lebih pendek dari yang dibayangkan. Harusnya PR dikerjakan lebih awal.”

“Natsuki memang siswa teladan ya~”

Suasana kelas pasca-libur musim dingin yang santai dan agak malas.

Entah kenapa, Nanase yang sedang melamun sambil menatap ke luar jendela menarik perhatianku.

Rambut hitam panjangnya yang berkilau melambai pelan ditiup angin.

…Ada apa ya dengannya?

“Hei, Natsuki-kun.”

Hikari yang duduk di sebelahku menarik lengan bajuku.

Dia ikut melihat ke arah Nanase sambil berbisik.

“Yui-chan akan ikut kompetisi piano.”

“…Begitu ya.”

Akhir-akhir ini aku memang mendengar dari Nanase bahwa dia sedang serius latihan piano.

“Aku dapat tiketnya. Mau nonton bareng?”

“Aku nggak tahu apa-apa soal piano, tapi kalau boleh begitu…”

“Tidak apa-apa. Aku sudah sering dengar dia main di dekatku, dan dia luar biasa.”

Hikari menatap Nanase dengan mata penuh kekaguman.

“Soalnya dulu Yui-chan pernah disebut sebagai ‘Anak Ajaib’.”

Musim terus berganti. Musim dingin yang kelabu pun mulai mengembalikan warnanya.

Tahun pertama di masa muda keduaku pun mulai mendekati akhir.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close