NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 7 Interlude I

Interlude 1


Dulu, masa kecilku cukup beruntung.

Ayahku seorang pengusaha. Perusahaan yang didirikannya berkembang lancar dan cukup sukses.

Keluarga kami memiliki tabungan yang cukup. Aku dibesarkan di keluarga yang berada oleh ibuku yang seorang ibu rumah tangga.

Ayah yang punya kelebihan uang secara finansial juga stabil secara mental, dan hubungannya dengan ibu cukup baik.

Meski sibuk hingga sering pulang larut malam di hari biasa, di akhir pekan dia selalu mengajakku ke berbagai tempat.

Ayah adalah orang yang lembut. Dia selalu tersenyum ramah, tapi sikapnya yang tegas penuh percaya diri membuat banyak orang menyukainya. Saat itu, matanya penuh semangat.

Aku sangat menghormati ayah seperti itu.

Titik balik terjadi saat aku naik ke kelas dua SMP.

Saat itu aku baru saja menjadi starter di klub sepak bola, dan sedang menikmati masa-masa menyenangkan di klub.

Aku tidak tahu detailnya. Tapi faktanya, perusahaan ayah bangkrut.

Saat mendengar berita itu, aku belum benar-benar memahami betapa seriusnya situasi ini.

Aku hanya berpikir, “Berarti mulai sekarang uang akan lebih ketat ya.” Tapi seiring berjalannya waktu, aku dipaksa memahami.

Kebangkrutan perusahaan ayah membawa kehancuran fatal bagi keluarga ini.

Tabungan habis. Ayah yang terlilit utang kehilangan keseimbangan mental.

Mata yang dulu penuh semangat itu kini keruh. Dia melarikan diri dari realita dengan minum-minum setiap hari.

Ibu marah besar pada ayah. Sejak dulu ibu memang mudah marah. Tapi dulu ayah punya cukup kestabilan mental untuk menghadapinya dengan baik.

Sekarang berbeda. Setiap kali aku pulang, ayah dan ibu selalu bertengkar.

Seringkali bukan sekadar pertengkaran biasa. Piring yang pecah bukan hanya satu atau dua. Rumah menjadi berantakan. Lama-kelamaan, aku jadi enggan pulang ke rumah.

Setelah sekolah dan latihan klub selesai, aku lebih sering menendang bola di taman.

Aku ingin mengurangi waktu di rumah sebanyak mungkin.

Hanya tidur yang harus dilakukan di rumah. Sisanya, aku habiskan di luar menendang bola.

Kedua orang tua yang sedang kehilangan keseimbangan mental itu sama sekali tidak peduli keberadaanku.

“Eh? Bukankah ini Shirotori?”

Di hari-hari ketika aku menendang bola sendirian di taman malam hari, aku secara kebetulan bertemu dengan kelompok yankee yang dipimpin Hasegawa Kouya.

Mereka terkenal buruk di sekolah, dan sebenarnya aku ingin sebisa mungkin tidak berhubungan.

Tapi karena aku sering menjadi penghubung antara siswa biasa dan mereka.

Di lingkungan sekolah, kadang memang diperlukan komunikasi.

Siswa biasa yang ketakutan sering memintaku tolong, dan aku sulit menolak.

Akhirnya aku terpaksa menjadi penghubung, dan lama-kelamaan mereka juga mulai sering menyapaku. Hasilnya, kesan pertamaku terhadap mereka sedikit berubah. Memang mereka sering membuat masalah, tapi saat diajak bicara biasa, mereka bukan orang jahat.

“…Masih latihan sepak bola sampai malam segini. Kamu rajin ya.”

“Ajari kami juga dong. Kami lagi bosan.”

“…Ya sudah.”

Aku mengiyakan permintaan mereka. Lagipula aku tidak ada kegiatan lain, dan melawan orang lebih baik untuk latihan.

Sejak itu, Kouya dan yang lain sering datang ke taman malam hari.

Sementara itu, keadaan rumah semakin memburuk. Waktu di luar menjadi pelarianku. Aku selalu berdoa agar semuanya cepat berakhir. Dan doaku terkabul.

Pagi saat bangun, ibu sudah tidak ada.

Kamar ibu kosong. Semua barangnya lenyap entah sejak kapan. Mustahil membawa semua barang dalam satu malam.

Pasti sudah dipersiapkan sebelumnya. Begitulah, ibu menghilang dan tidak bisa dihubungi lagi. Ayah hanya terus minum tanpa mengatakan apa-apa.

Pertengkaran dan teriakan yang dulu begitu kubenci, lenyap dalam semalam.

Ayah seolah menyerah pada segalanya dan menjual rumah yang kami tempati.

Tempat tinggal baru adalah apartemen tua di dekat situ. Karena rumah lama terlalu besar untuk dua orang, aku tidak terlalu keberatan.

Dengan hati-hati aku bertanya, “Mulai sekarang kita bagaimana?” Ayah menjawab, “Harus cari kerja lagi.” Ironisnya, setelah ibu menghilang barulah ayah sadar akan krisis ini.

Masalah utama saat itu adalah kekurangan uang.

Sebagian besar uang dari penjualan rumah habis untuk melunasi utang.

Biaya klub tidak bisa dibayar, dan aku dipaksa keluar dari klub sepak bola.

Sejak beberapa waktu lalu aku memang sudah merasakan ini akan terjadi. Seragam latihan dan sepatu sudah usang. Tapi tidak ada yang dibelikan. Tidak ada uang untuk itu.

Meski sudah tahu, tetap saja berat.

Aku menyukai sepak bola. Aku sudah menjadi starter dan disebut sebagai ace tim. Saat itu adalah masa paling menyenangkan, tapi jalur untuk melanjutkannya dirampas begitu saja.

Banyak yang ingin kukatakan.

Tapi melihat ayah yang mulai bekerja sebagai buruh rendahan di perusahaan konstruksi lokal, aku tidak bisa mengeluh.

Menendang bola bersama Kouya di taman malam hari menjadi satu-satunya pelipur lara.

Setelah keluar dari klub sepak bola, aku berhenti bergaul dengan teman-teman dekatku.

Saat itu, aku merasa segalanya tidak penting.

Aku menyerah pada segala sesuatu di dunia ini. Aku melarikan diri dari realita.

Aku terbawa arus dan mulai bergaul dengan Kouya dan yang lain.

Rasanya nyaman. Setidaknya lebih baik daripada menghabiskan malam di rumah.

Karena sudah keluar dari klub sepak bola, aku tidak punya alasan lagi untuk menghindari perkelahian. Saat ada konflik antar kelompok yankee, aku diajak Kouya dan ikut serta begitu saja.

Apa pun yang kulakukan, aku selalu menganggap diriku berbakat. Hanya dengan diajari trik berkelahi oleh Kouya, aku langsung menjadi kuat.

Aku bisa merasakan penilaian orang terhadapku di sekolah berubah.

Jelas sekali mereka menjauhiku, tapi itu pun sudah tidak penting lagi. Aku tidak punya lagi hal yang ingin dilakukan.

Di tengah hari-hari seperti itu, selalu ada diriku yang objektif di sudut hati.

Meski melakukan hal bodoh seperti ini, tidak apa-apa. Ini adalah realita, aku harus menerimanya. Aku harus mulai lagi dari nol. Meski aku tahu itu, aku tetap bergantung pada kenyamanan saat ini.

“Aku sudah mengumpulkan sedikit uang. Kamu boleh kembali ke klub sepak bola.”

Suatu hari. Ayah yang pulang larut malam tiba-tiba mengatakan itu.

Ayah yang berhenti minum akhirnya benar-benar melihatku.

“Maaf sudah membuatmu susah.”

Meski dikatakan sekarang, aku malah bingung.

Sudah tidak ada tempat untukku di klub sepak bola. Penilaian sekolah juga tidak bisa dibalik.

Aku sudah menjadi bagian dari kelompok yankee, dan sepertinya aku hanya bisa menyerah dan menjalani hari-hari seperti ini.

Kepada aku yang tidak tahu harus bagaimana, Hasegawa Kouya berkata,

“――Ayo tanding. Kalau kamu kalah dariku, kembali ke klub sepak bola.”



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close