NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 7 Chapter 1

Chapter 1

Insiden Kekerasan


"――Shirotori-kun melakukan tindak kekerasan, sehingga dijatuhi skorsing selama satu minggu."

Itu adalah pengumuman yang mengejutkan.

"…Ha?"

Aku butuh waktu beberapa saat untuk memahami arti kata-kata itu.

Karena kalimat tersebut terlalu jauh dari citra Reita yang aku kenal.

Ruang kelas langsung ramai. Rasa terkejut, rasa ingin tahu, kekecewaan, kekhawatiran… berbagai emosi menyebar ke seluruh kelas. Sementara itu, Hikari di sebelahku hanya terdiam dengan mata terbelalak.

Aku pun hampir dalam keadaan yang sama. Pasti Uta, Tatsuya, dan Nanase juga.

"Diam semua. Kita lanjutkan homeroom."

Guru wali kelas menyuruh dengan suara tegas yang mengandung amarah, lalu menenangkan keramaian.

Meski begitu, suasana kelas tetap gelisah.

"Apa… maksudnya ini…?"

Hikari bertanya dengan suara kecil, tapi aku hanya menggeleng.

"…Aku tidak tahu."

Aku benar-benar tidak punya petunjuk. Sampai-sampai aku masih sulit percaya dengan kata-kata guru.

Reita adalah orang yang lembut dan perhatian. Dia bukan tipe yang akan melakukan kekerasan pada orang lain. Aku bahkan tidak pernah melihatnya marah. Dia selalu tenang dan bertindak secara logis. Itulah Shirotori Reita yang aku kenal.

Reita seperti itu melakukan kekerasan?

Karena dia benar-benar dijatuhi skorsing, berarti ini bukan kesalahan.

Tapi pasti ada sesuatu di baliknya.

Video yang sedang beredar di Mynsta juga, Reita pasti tidak mengucapkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh.

Tiba-tiba, ingatanku kembali ke hari ketika Miori hilang.

Aku bertemu Reita di dalam hutan.

……Aku tahu Miori menyukaimu. Kalau kamu yang menemukannya, Miori pasti hanya akan melihatmu. Itu… tidak bisa kuterima. Miori harus aku yang selamatkan!

Reita saat itu memang terlihat aneh.

Meski hanya pura-pura, aku adalah pacar Miori. Menemukan Miori adalah tugasku…!

Reita yang biasa tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu.

Dalam situasi di mana bahkan nyawa Miori tidak jelas, dia tidak akan memprioritaskan kepentingannya sendiri.

――Kamu sekarang cuma bicara tentang dirimu sendiri.

Reita saat itu terlihat seperti orang yang terdesak.

Pandangannya yang biasanya luas jadi sempit, seolah dia orang lain.

Aku bicara dingin padanya karena kupikir itu bisa menyadarkannya. Lagipula, saat itu prioritas utamaku adalah menemukan Miori. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan Reita.

"…Ini karena aku, ya?"

Saat itu aku sudah sadar bahwa Reita juga hanyalah siswa SMA biasa, tapi kepalaku hanya penuh dengan Miori. Setelah Miori selamat, seharusnya aku lebih memperhatikan Reita.

"…Ada apa sebenarnya?"

Tatsuya mengangkat tangan dan bertanya.

"Maaf, aku tidak bisa menjelaskan detailnya."

Guru wali kelas menggeleng.

"Kenapa?"

"Karena aturannya begitu. Sebagai teman, wajar kalau kalian khawatir."

Guru itu secara tidak langsung mengatakan "kalau mau tahu, tanya langsung ke yang bersangkutan". Sebagai guru, itu sudah batas maksimal yang bisa dikatakannya. Tatsuya sepertinya mengerti maksud itu dan akhirnya diam.

Upacara pagi pun selesai, dan guru wali kelas keluar dari kelas.

Pada saat itu, keramaian yang jauh lebih besar dari biasanya langsung meledak.

Teman-teman biasa berkumpul di mejaku.

Tatsuya, Uta, Nanase, dan Hikari yang memang duduk di sebelahku. Tak satu pun dari mereka yang berwajah cerah.

Perhatian seluruh kelas tertuju pada kami. Jujur, ini tidak nyaman. Memang kami selalu menjadi kelompok yang mencolok, tapi tatapan kali ini berbeda kualitasnya.

"Jangan lihat ke sini. Ngomongin makan siang aja."

Tatsuya mengusir tatapan orang dengan gerakan tangan seperti mengusir anjing, dan suasana sedikit membaik.

Caranya terlalu kasar. Mengusir tatapan hanya dengan intimidasi, ini kayak komik battle.

"Oi Uta, ada balasan dari Reita?"

Tatsuya bertanya pada Uta.

Sepertinya dia mengirim chat ke Reita tepat setelah upacara selesai.

"…Belum. Bahkan belum dibaca."

Uta menatap layar LINE dengan wajah cemas.

"Aku memang merasa aneh karena nggak ada respons di grup… tapi skorsing?"

Hikari bergumam sambil menatap bangku Reita.

"…Ada apa sebenarnya?"

Di tengah keramaian sekitar, di antara kami justru jatuh keheningan.

Aku belum menceritakan video dari Yamano kepada yang lain.

Tapi pelajaran pertama tinggal tiga menit lagi.

Kalau aku bagikan informasi sekarang, kekacauan mereka hanya akan semakin parah.

Meski begini, kami tidak bisa membolos pelajaran. Itu hanya akan membuat kami semakin mencolok.

"Kita kumpul saat istirahat siang. Aku ingin mengatur informasi dulu."

Semua mengangguk mendengar kata-kataku.

…Biasanya, di saat seperti ini Reita yang akan merangkum semuanya.

Dengan suasana yang berbeda dari biasanya, aku melewati pelajaran pagi.

Padahal aku memang tidak benar-benar mendengarkan pelajaran, tapi hari ini waktu terasa sangat lambat.

Akhirnya istirahat siang tiba, tapi kalau kami berkumpul di kelas pasti semakin mencolok. Aku mengirim LINE dan menentukan tempat kumpul. Kali ini aku pilih pojok kantin. Tujuannya memang berbagi informasi, tapi kami juga perlu makan siang. Apa pun situasinya, perut harus diisi.

Dalam perjalanan ke kantin, aku mengamati sekitar dengan sembunyi-sembunyi.

Memang ada tatapan yang berbeda dari biasanya. Suasananya juga agak ramai. Tapi tidak separah di kelas. Begitu melewati koridor kelas satu, tatapan itu hilang.

…Ya sudahlah. Reita kan tokoh sentral di angkatan. Bahkan kalau ada yang tidak kenal Reita, mendengar siswa satu angkatan kena skorsing karena kekerasan pasti menarik perhatian.

Wajar kalau aku yang dekat dengan Reita juga ikut menjadi pusat perhatian.

Aku membeli tiket di mesin dan menerima donburi yakitori dari ibu kantin.

Aku duduk lebih dulu di tempat yang sudah ditentukan di LINE.

Tak lama kemudian, Hikari, Uta, Nanase, dan Tatsuya datang bergantian.

"Nanti Miorin dan Seri juga datang katanya."

Uta yang duduk di sebelah kananku berkata sambil melihat ponsel.

Sepertinya dia sedang kontak dengan dua orang dari kelas sebelah.

"Kalau gitu, makan dulu baru ngobrol."

Tatsuya berkata dengan wajah tidak senang, lalu mulai makan katsudon porsi besar.

Hari ini aku, Tatsuya, dan Uta makan di kantin, sementara Nanase dan Hikari membawa bekal.

Di kantin memang lebih banyak siswa kelas dua dan tiga. Makanya kami tidak terlalu mendapat perhatian.

Di antara siswa kelas satu, topik Reita memang sedang panas, tapi di angkatan atas sepertinya tidak terlalu.

Itu sedikit melegakan karena tatapan tidak enak yang kurasakan seharian ini berkurang.

"……"

Seperti yang Tatsuya bilang, aku fokus makan.

Tidak ada yang bicara berlebihan. Ini pertama kalinya aku makan tanpa merasakan rasa apa pun.

Pada saat aku selesai makan donburi yakitori, Miori dan Serika muncul di pintu masuk kantin.

"Miorin, Seri, ke sini!"

Uta melambai besar dan memberitahu posisi kami.

"Semua orang…"

Miori mendekat dengan wajah cemas.

Senyum yang kukira sudah kembali itu, hilang lagi.

Fakta itu terasa menyedihkan. Mungkin Miori merasa bertanggung jawab.

"Insiden kekerasan Reita-kun… benar?"

Semua saling pandang mendengar pertanyaan Miori.

Tapi tidak ada yang menjawab. Artinya tidak ada yang tahu.

"Aku tidak tahu… tapi ada beberapa hal yang kuketahui. Makanya aku kumpulkan kalian semua."

Mendengar jawabanku, Serika berkata "Kalau begitu".

"Kita mulai dari sharing informasi dulu yuk."

Serika yang tetap tenang bahkan di saat seperti ini terasa sangat diandalkan.

"Pertama, tolong lihat video ini. Ada yang sudah tahu, tapi tetap."

Serika membagikan video yang sedang viral di Mynsta.

Video itu menampilkan sekelompok orang berpenampilan kasar yang berkumpul di gang sempit. Reita ada di tengah-tengah mereka. Sepertinya direkam secara sembunyi-sembunyi dari tempat tersembunyi.

Aku sempat bingung bagaimana membahas video ini, tapi ternyata Serika juga sudah tahu.

Mungkin dia mendapatkannya dari Yamano di waktu yang sama denganku.

Reita-san. Kabar pacar lo akhir-akhir ini gimana?

Kami putus. Dari awal kan aku memaksanya dengan ancaman. Nggak ada rasa rindu.

Dari video pendek yang hanya beberapa detik, percakapan itu terdengar jelas.

Karena diambil malam hari, videonya agak gelap, tapi jelas sekali orang yang terlihat adalah Reita.

Wajah, suara, postur tubuh, dan auranya… semuanya persis seperti Reita yang biasa.




Tapi isi ucapannya sangat berbeda dari Reita yang biasa.

"…Apa ini?"

Uta bergumam dengan wajah seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya.

"Cowok itu nggak mungkin berpikir seperti ini. Dia lagi mikirin apa sih?"

Tatsuya mengerutkan wajah dan bergumam dengan nada muak.

Aku juga setuju dengan Tatsuya. Pada hari Miori hilang, aku sempat bicara dengan Reita.

Reita saat itu memang aneh, tapi penyebabnya pasti perasaannya terhadap Miori.

Reita jelas menyukai Miori. Lagipula tidak ada fakta bahwa dia memaksa Miori pacaran, dan mustahil dia tidak punya rasa rindu. Reita di video ini jelas sedang berbohong.

"Miori. Ini benar?"

Serika bertanya langsung pada Miori. Pertanyaan yang terlalu blak-blakan hingga membuatku kaget.

Kekurangajaran seperti ini memang khas Serika. Yah, memang dia yang paling dekat dengan Miori.

"…Nggak mungkin benar."

Miori yang diam saja memutar ulang video itu berkali-kali, akhirnya menggeleng pelan.

"…Aku pacaran dengan Reita-kun atas kemauanku sendiri. Meski dengan syarat aku boleh tetap menyukai Natsuki… tapi ancaman? Itu nggak mungkin."

Miori berhenti bicara di situ. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Mungkin… Reita-kun menggambarkan hubungan pacar bersyarat itu sebagai 'ancaman'. Meski menurutku caranya terlalu buruk…"

"Sekarang video ini sedang menyebar di Mynsta, dan rumor buruk tentang Reita semakin meluas. Ditambah lagi skorsing karena kekerasan membuat orang semakin percaya. Alur ini sudah sulit dihentikan."

Begitu aku menjelaskan situasi, ekspresi semua orang semakin gelap.

"Video yang sangat dibuat-buat. Memang khas Shirotori-kun."

Nanase bergumam sambil menghela napas.

"Nanase…?"

"Pokoknya, menurutmu tidak aneh kalau video seperti ini bisa direkam? Sudah seperti rekaman tersembunyi… tapi kalau dipikir secara logis, mustahil tidak menyadari ada orang yang merekam dari jarak yang suaranya jelas terdengar seperti itu. Apalagi Shirotori-kun yang biasanya sangat waspada terhadap sekitar."

Memang benar. Aku juga berpikir begitu.

"Nanase ingin bilang ini semua rekayasa Reita sendiri?"

"Menurut mataku, hanya itu penjelasannya."

"Ta-tapi, kenapa Reita sampai melakukan hal seperti ini…"

Uta berhenti bicara di tengah kalimat dan langsung menutup mulutnya.

"…Kalau dipikir, satu-satunya kemungkinan adalah untuk menghapus sepenuhnya rumor buruk tentang Miori-chan. Meski kesalahpahaman sudah mulai hilang, rumor buruk masih beredar… Dengan video ini, Reita menggantinya dengan rumor buruk tentang dirinya sendiri. Dia mengubah persepsi orang bahwa Miori-chan adalah korban Reita-kun…"

Hikari bergumam seperti sedang mengatur pikirannya sendiri. Bukan seperti sedang berdiskusi, tapi lebih seperti berpikir dalam dunianya sendiri hingga tanpa sadar berbicara sendirian. Mirip dengan mode saat dia menulis novel.

"Pantas saja…"

Penjelasan Hikari masuk akal dengan tujuan Reita. Saat ini, ini teori paling kuat.

"Kenapa…"

Miori terdiam mendengar penjelasan Hikari.

"Meski tujuannya begitu, kenapa Reita harus pakai cara seperti ini?"

Uta bertanya dengan wajah masih belum yakin.

Artinya dia ingin tahu motifnya. Aku… punya dugaan.

"…Apa dia berniat menebus dosa? Reita."

Tanpa sadar, aku mengepalkan tangan.

Apa dia benar-benar berpikir bisa menyelamatkan Miori dengan cara mengorbankan dirinya seperti ini?

"Tenang dulu, Natsuki."

Suara berat Tatsuya menarikku kembali dari lautan pikiran.

"Kamu tahu sesuatu lagi, kan? Cerita."

Aku ragu sejenak.

Apakah boleh menceritakan percakapanku dengan Reita hari itu kepada orang lain?

Tapi situasinya sudah seperti ini. Tidak mungkin aku diam saja.

"…Hari saat mencari Miori, aku bertemu Reita."

Aku menceritakan semua percakapan yang kulakukan dengan Reita di tengah hujan kepada yang lain.

Aku bisa melihat wajah Miori semakin muram seiring ceritaku.

"Setelah itu, aku pergi mencari Miori. Jujur, aku terlalu khawatir pada Miori hingga tidak sempat memikirkan Reita. Tanpa sadar, aku mengira Reita kuat jadi pasti tidak apa-apa."

Begitu penjelasanku selesai, Serika melempar pertanyaan ke semua orang.

"Setelah itu, ada yang melihat Reita?"

Semua saling pandang. Tapi tidak ada yang bereaksi.

Suasana langsung hening. Istirahat siang sudah memasuki paruh kedua, dan kantin mulai sepi.

…Ini salahku.

Kalau saja aku lebih memperhatikan Reita, hal ini pasti tidak akan terjadi.

Aku seharusnya merasa aneh karena Reita tidak menghubungi sama sekali.

Setelah itu, aku tidak menghubunginya karena kupikir itu bentuk perhatian. Aku takut apa pun yang kukatakan justru akan memperburuk keadaan. Tapi sekarang, itu malah jadi bumerang.

"…Meski video itu rekayasa, insiden kekerasan pasti benar terjadi. Makanya dia diskors. Kita perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Seperti yang Nanase katakan. Tapi kami tidak punya informasi apa pun soal insiden kekerasan itu.

Di saat seperti ini, yang paling cepat adalah bertanya langsung ke orangnya, tapi kalau bisa, kami pasti sudah melakukannya.

"…Tadi juga nggak diangkat. Dasar cowok itu."

Tatsuya yang menelepon Reita sebagai usaha terakhir berkata sambil mematikan panggilan.

Dari awal kami memang sudah menduga karena tidak ada respons di grup chat. Sepertinya dia memang tidak berniat menghubungi kami. …Apakah dia sudah tidak mau bergaul dengan kami lagi?

"…Ini salahku. Karena aku yang membuat Reita-kun kacau…"

Miori bergumam dengan wajah putus asa. Serika memeluk bahunya.

"Jangan mikir begitu. Ini bukan salah Miori. Lagipula, sebenarnya tidak ada yang salah."

Serika menghibur Miori sambil melirikku.

"Natsuki juga bilang keras ke Reita karena mengira itu yang benar, kan?"

"Eh? A-ah… ya, saat itu memang kupikir begitu…"

"Kalau begitu, nggak perlu menyesal. Aku juga nggak menganggap Natsuki salah. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana cara membawa Reita kembali ke tengah kita. Benar kan?"

Serika dengan tegas menyederhanakan pembicaraan.

Tapi memang seperti yang Serika katakan. Tidak ada gunanya terus meratapi.

"Untuk itu, kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Reita-kun."

Aku mengangguk mendengar kata-kata Hikari.

Kami tidak akan tahu cara membawanya kembali kalau tidak tahu alasan dia menolak menghubungi kami.

"Sekarang, masing-masing kumpulkan informasi sebanyak mungkin."

Begitu aku mengatakan itu, bel akhir istirahat siang berbunyi.

Pelajaran sore dimulai.

Guru matematika Murakami dengan tenang menulis rumus di papan tulis.

Aku melihat ponsel di bawah meja. Jujur, aku tidak sedang mood untuk berkonsentrasi pada pelajaran.

Aku membuka lagi postingan video Reita di Mynsta.

Akun pengunggahnya anonim. Di profil hanya tertulis bahwa dia siswa Suzumei.

Ada cukup banyak follower yang sepertinya siswa Suzumei, dan karena video menyebar dari postingan ini, sepertinya akun ini sudah lama aktif. Tapi postingan lama sepertinya sudah dihapus, aku tidak menemukannya. Tidak ada informasi yang bisa dipakai untuk mengidentifikasi pemiliknya.

Kalau ini memang rekayasa Reita, berarti pemilik akun ini adalah kerjasamanya.

Seandainya bisa bicara dengan orang itu… tapi sepertinya sulit.

Reita punya jaringan pertemanan yang terlalu luas. Makanya keributan ini jadi besar.

"Bagaimanapun, Shirotori-kun baik-baik saja nggak ya?"

"Memangnya perlu dikhawatirin? Ini kan kasus kekerasan?"

"Yah, detailnya nggak jelas sih, tapi saat ini memang nggak ada pembelaan buat dia."

"Aku sih nggak percaya dia tipe seperti itu. Biasanya dia baik banget."

Di waktu istirahat antar pelajaran, aku mendengarkan percakapan sekitar. Memang banyak yang membicarakan Reita. Teman sekelas yang biasa berinteraksi dengannya tidak ada yang mencelanya. Tapi saat mendengar percakapan siswa dari kelas lain, suasananya memang berbeda.

"Sayang ya, Shirotori-kun padahal keren."

"Kekerasan itu kan barbar! Ahaha! Lagian bisa memengaruhi klub sepak bola juga kan?"

"Benar. Kasian klub sepak bola. Terseret satu orang idiot."

"Yah, aku sih dari awal sudah nggak suka sama dia. Mukanya curiga."

"Konon Motomiya-san juga dipukul biar nurut katanya?"

"Wah, gila banget. Nggak masuk akal~"

Ada juga kebohongan jahat yang sulit didengar, tapi kalau aku ikut campur pasti hanya akan memperburuk keadaan.

Bagaimanapun, aku tidak mendapatkan informasi baru di luar yang sudah kami punya.

Mari merangkum situasi. Rumor tentang Reita menyebar begini karena beberapa faktor.

Pertama, karena Shirotori Reita adalah tokoh sentral di angkatan ini.

Kedua, karena ini berhubungan dengan rumor tentang Miori yang sudah beredar sebelumnya.

Ketiga, karena ada video yang cukup kuat sebagai bukti untuk menjadikan Reita sebagai pihak jahat.

Keempat, karena ada fakta nyata berupa skorsing karena kekerasan.

Dengan semua ini terkumpul, wajar rumor menyebar begitu cepat.

Reputasi buruk Miori pasti langsung tergantikan dalam sekejap.

Kalau ini memang rekayasa Reita, sampai mana yang sesuai dengan rencananya?

Mustahil dia sengaja melakukan kekerasan juga…

Saat aku tenggelam dalam pikiran, Hikari yang duduk di sebelah menyenggol bahuku.

Ada apa? Begitu aku mendongak, Hikari sedang panik dan menggerakkan mulutnya tanpa suara.

Pada saat itu, aku merasakan kehadiran seseorang dari sisi berlawanan dengan Hikari. Aku buru-buru menyembunyikan ponsel di bawah meja. Guru Murakami lewat begitu saja seolah tidak melihat apa-apa.

Sepertinya sedang waktu mengerjakan soal, dan guru sedang memutari kelas untuk memeriksa.

Untung saja…

Begitu aku menghela napas lega, Hikari melirikku dengan tatapan seolah bilang "Kamu ngapain sih?".

Aku merasa bersalah karena membuatnya lebih panik…

Yah, di sekolah kami, ponsel boleh disita sampai tiga kali. Baru pada keempat kalinya ponsel akan dibatalkan kontraknya. Aku sudah dua kali kena sita saat pelajaran di masa lalu, jadi aku tahu. Waktu itu aku sedang farming game atau baca web novel. Pokoknya, fokuslah pada pelajaran.

Sore hari.

"Kalau begini terus nggak akan ada kemajuan. Kita langsung ke rumah Reita."

Yang mengatakan itu adalah Tatsuya. Memang sudah seharusnya. Aku juga berpikir begitu.

"Aku sih oke, tapi bagaimana dengan klub?"

"Tidak usah dipikirkan. Satu hari saja boleh libur."

Bagi Tatsuya yang sudah menjadi starter, melewatkan satu hari saja pasti berat.

Tapi dia menganggap situasi Reita sangat penting.

Setelah mengantar yang lain ke klub, aku berjalan mengikuti Tatsuya yang keluar kelas.

Tatsuya tiba-tiba bertanya seolah baru teringat.

"Oh ya, Hoshimiya tidak apa ditinggal?"

"Hari ini ada kegiatan klub sastra. Lagipula, lebih baik kita berdua saja kan?"

"…Ya, memang. Memang tidak enak kalau datang terlalu ramai."

Di grup chat yang kubuat saat istirahat siang — berisi aku, Tatsuya, Hikari, Uta, Nanase, Miori, dan Serika — aku sudah memberitahu bahwa aku dan Tatsuya akan ke rumah Reita. Serika dan Nanase yang seharusnya luang membalas 'Serahkan padamu' dan 'Tolong ya', sepertinya juga memikirkan hal yang sama.

"…Sebenarnya, aku punya sedikit dugaan."

Dalam perjalanan ke rumah Reita, Tatsuya yang tadinya diam tiba-tiba bicara.

"Dugaan?"

"Menurutmu, dia kelihatan seperti kehilangan jati dirinya sendiri, kan?"

"A-ah… Aku kira itu karena perasaannya terhadap Miori terlalu besar…"

"Itu juga benar sih… tapi mungkin ada alasan lain kenapa dia kehilangan keseimbangan mental. …Bukan cuma aku, Uta juga sepertinya sudah agak sadar."

Tatsuya berbicara dengan suara rendah dan datar, tapi sepertinya sedang menahan emosi yang rumit.

"Maksudmu apa?"

"Lebih baik lihat langsung. Nanti juga pasti paham."

Tatsuya hanya menjawab itu lalu kembali diam.

Meski aku agak lambat, aku tetap mengerti. Kalau katanya nanti paham, berarti penyebabnya ada di rumah Reita.

"…Ini dia."

Sekitar dua puluh menit berjalan kaki dari sekolah. Di bagian dalam kawasan perumahan, Tatsuya berhenti.

Itu sebuah apartemen empat lantai yang kelihatan sudah cukup tua. Jujur, tidak bisa dibilang bagus. Jadi Reita tinggal di sini? …Lumayan mengejutkan.

Naik ke lantai dua, di pintu pertama terpasang plang bertuliskan 'Shirotori'.

"…Yuk."

Tatsuya menarik napas dalam sebelum menekan bel.

Tatsuya kelihatan agak aneh. Apakah dia tegang?

Dari dalam terdengar suara berisik. Lalu pintu terbuka dengan keras.

"…Apa-apaan kalian? Kupikir kurir."

Yang muncul adalah pria paruh baya dengan kaos putih bernoda dan celana pendek. Tubuhnya gemuk, rambut acak-acakan. Kumisnya tidak terawat, dan secara keseluruhan kelihatan kumuh.

Lagipula, bau alkoholnya sangat menyengat hingga aku tanpa sadar mengerutkan wajah. Wajahnya juga memerah. Sepertinya dia sedang minum.

Secara usia, ini pasti ayah Reita, tapi jujur aku tidak bisa membayangkannya.

"…Lama tidak bertemu. Aku Nagiuura, teman Reita."

Tapi melihat sikap Tatsuya, pria ini memang ayah Reita.

"Ah…? Oh ya, aku ingat wajah kalian."

Begitu melihat wajah kami, dia menggaruk kepala dengan malas.

Sikap dan nada bicaranya yang kasar jelas menunjukkan dia tidak menyambut kami.

"Anak itu nggak ada. Cepat pulang."

Ayah Reita berkata sambil mengupil, lalu hendak menutup pintu seenaknya.

Anak itu…? Panggilan itu juga mencurigakan, tapi sekarang bukan saatnya.

Dia sedang diskors, tapi tidak ada di rumah?

"Tu-tunggu sebentar…! Kalau begitu, Bapak tahu dia di mana!?"

Pertanyaanku sepertinya membuatnya kesal. Dia menatapku dengan wajah mengerikan.

"Emang aku tahu?! Cepat minggat! Kalau nggak mau dipukul!"

Suara keras yang terdengar sampai ke tetangga membuatku tanpa sadar mundur.

Ayah Reita mendengus melihatku yang tidak bisa berkata apa-apa, lalu benar-benar menutup pintu.

"…Tidak berubah ya. Malah semakin parah?"

Tatsuya menyipitkan mata. Sekarang aku mengerti apa maksudnya tadi.

Di lingkunganku tidak ada orang dewasa tipe seperti ini. Makanya aku jadi lebih terguncang.

"Ayo pergi. Reita sepertinya memang tidak di rumah. Tidak ada urusan lagi."

Aku mengikuti punggung Tatsuya dan menjauh dari pintu masuk.

Saat pintu tadi terbuka, aku sempat melihat sedikit ke dalam. Lorongnya penuh barang. Banyak botol alkohol berserakan, pakaian berantakan. Tidak terlihat seperti tempat tinggal yang layak.

"Pria tadi memang ayah Reita kan?"

"Ya. Mereka memang punya hubungan darah. Mengejutkan ya?"

"Yah, begitulah…"

Aku mengira Reita dibesarkan di keluarga yang cukup baik. Itu karena sikapnya yang elegan, pengetahuannya yang terlihat dari cara bicara, dan kepribadiannya yang selalu baik pada semua orang.

"Sekarang Reita terbentuk karena menjadikan ayahnya sebagai cermin buruk."

"…Pantas saja."

Kalau dipikir lagi, Reita memang jarang sekali membicarakan keluarganya dalam percakapan sehari-hari.

Bahkan, Reita memang jarang bicara tentang dirinya sendiri.

Dia lebih pandai mendengarkan, selalu menggali cerita orang lain.

Makanya, aku ternyata tidak mengenal Reita sebaik yang kukira.

"Hari semakin cepat gelap ya."

Tatsuya berhenti di depan vending machine yang berada tidak jauh dari rumah Reita.

"Mau minum yang hangat?"

Aku mendongak. Matahari hampir tenggelam di balik gunung.

Langit berwarna oranye yang indah.

Meski sudah cukup dingin, begitu matahari terbenam pasti akan semakin dingin.

"Sudah benar-benar musim dingin. Waktu berlalu cepat sekali."

Tatsuya mengembuskan napas putih sambil membeli lemon tea.

Aku seperti biasa membeli kopi kaleng, tapi begitu dipegang, kalengnya terlalu panas.

"Aduh…"

Sambil aku melempar-lemparkan kaleng untuk mendinginkannya, Tatsuya terus memasang wajah serius.

"Kamu pasti bisa membayangkan seperti apa lingkungan keluarga Reita."

"…Lalu bagaimana dengan ibunya? Dia anak tunggal kan?"

"Reita anak tunggal. Ibunya katanya menghilang. Dulu pernah dia cerita."

Menghilang. Aku mengerti artinya, tapi terasa tidak nyata. Tapi kalau tinggal bersama pria seperti itu, wajar kalau ingin kabur. Kalau begitu, kenapa dulu mereka menikah? …Ah, itu bukan urusanku sih.

"Aku pikir ini bukan hal yang perlu diceritakan ke semua orang."

Aku mengangguk untuk mengiyakan perhatian Tatsuya. Itu memang pertimbangan yang tepat.

"Intinya, kita sudah tahu dia tidak pulang ke rumah. Berarti salah satu penyebab Reita tertekan adalah situasi rumahnya. Sejak masuk SMA dia tidak pernah membahas keluarga, jadi kupikir keadaannya sudah membaik… tapi ayahnya malah semakin parah. Kalau dipikir lagi, akhir-akhir ini dia memang kelihatan tidak stabil."

Tatsuya berkata dengan wajah menyesal.

Aku membuka tutup kopi kaleng yang sudah kudinginkan dengan melempar-lempar.

Kopi dengan merek yang sama seperti biasa, tapi hari ini terasa sangat pahit.

"…Tapi, tidak pulang ke rumah saat sedang diskors itu berbahaya."

"Memang."

Kalau sampai ketahuan sekolah, skorsingnya bisa diperpanjang.

Dia pasti tidak mau pulang ke rumah itu, tapi risikonya terlalu besar.

Mungkin Reita sudah tidak peduli lagi dengan sekolah.

Kalau begitu, situasinya jadi semakin serius.

"Hari ini aku bolos klub jadi ada waktu. Mau cari dia?"

"Ada tempat yang mungkin dikunjungi Reita?"

"Nggak terlalu. Dia tipe yang bisa ada di mana saja."

…Memang benar juga.

Dia tidak punya hobi yang jelas.

Kami mencoba berkeliling ke taman dan fasilitas umum di sekitar rumah Reita bersama Tatsuya, tapi… Reita tidak ditemukan. Memang mustahil mencari tanpa petunjuk. Sementara itu, hari sudah benar-benar gelap.

"…Ya sudah. Hari ini bubar saja."

"Benar."

Dalam kegelapan seperti ini, mencari lagi juga tidak mungkin.

Saat itu, ponselku berdering. Ternyata dari Hikari.

Apakah dia khawatir dengan hasil kunjungan kami ke rumah Reita?

"Halo?"

'Ah, Natsuki-kun? Tatsuya-kun juga di sana?'

Hikari bertanya dengan cepat. Suaranya terdengar panik.

"Ya. Kami ke rumah Reita tapi dia tidak ada. Makanya——"

'——A-ada, Reita-kun ada.'

Hikari memotong ucapanku dengan cara yang jarang sekali dia lakukan.

Isinya terlalu mengejutkan hingga butuh beberapa detik untuk dipahami.

"Ap… apa? Dia di sana? Reita?"

Tatsuya yang tidak mendengar suara Hikari bereaksi dengan "Apa!?".

Wajar dia kaget. Cowok yang tidak kami temukan meski mencari lebih dari dua jam, malah ditemukan begitu saja oleh Hikari yang baru pulang dari klub.

'I-iya… Kebetulan aku melihatnya di jalan pulang, jadi aku mengikutinya diam-diam.'

"Mengikuti? …Kenapa? Kalau ketemu kan seharusnya disapa?"

'Aku memang mau menyapanya, tapi dia bersama orang-orang yang kelihatan berbahaya…'

Hikari jarang sekali terdengar ragu seperti ini. Pasti orang-orang yang bersamanya berpenampilan sangat menyeramkan.

Begitu terpikir, video Mynsta itu melintas di benakku.

"…Orang-orang yang bersamanya, apakah sama dengan yang di video itu?"

'Kalau dibilang begitu, memang mirip sih? Tapi gelap, jadi nggak terlalu jelas…'

"Hikari, sekarang kamu di mana? Kami akan ke sana sekarang."

'I-iya. Aku di dekat Exit Timur Stasiun Takasaki, sudah agak berjalan. Mereka menuju area sepi, jadi sulit mengikuti lebih jauh… Aku juga takut ketahuan.'

"Baik. Kalau begitu berhenti di situ saja. Lagipula kami butuh waktu untuk ke sana. Lebih baik kamu pulang duluan. Keselamatanmu yang paling penting."

Sudah malam. Kalau mereka menuju tempat sepi, terlalu berbahaya membiarkan Hikari terus mengikuti. Reita mungkin tidak apa, tapi orang-orang di sekitarnya tidak bisa dipercaya.

'…Lalu Natsuki-kun mau apa?'

"Aku dan Tatsuya akan mengejar. Tolong kasih tahu arahnya ya?"

"Ya. Hati-hati ya, mereka kelihatan seperti yankee."

Hikari mengirimkan lokasi melalui aplikasi peta.

'Dia berjalan menyusuri rel dari posisi ini' tambah pesan.

Lokasinya agak jauh dari tempat kami sekarang. Termasuk naik kereta, butuh sekitar tiga puluh menit.

"Di mana katanya?"

"Di dekat Stasiun Takasaki. Kebetulan dilihat."

"Begitu. Ayo buruan."

Sepertinya Tatsuya juga mengerti situasi dari percakapanku. Kami berdua langsung berlari.

Sesampainya di Stasiun Maebashi, kami naik kereta Jalur Ryomo menuju Stasiun Takasaki.

Karena sudah malam, penumpang di kereta tidak banyak. Aku dan Tatsuya duduk berdampingan.

Meski hati gelisah, kereta tetap berjalan dengan kecepatan biasa. Aku menarik napas dalam untuk menenangkan diri.

"…Dia sedang bergaul dengan orang-orang berandalan ya?"

"Sepertinya begitu."

Aku mengangguk berdasarkan cerita Hikari, dan Tatsuya bergumam, "Memang sudah kuduga."

"Mungkin teman SMP-ku dulu. Dulu ada grup yankee yang cukup besar. Aku dengar mereka banyak yang masuk ke Kakiwari High… Ternyata masih berkumpul bersama."

SMA Kakiwari. Sekolah yang dekat dengan Suzumei tempat kami bersekolah, tapi levelnya sangat berbeda. Suzumei termasuk atas di prefektur, sementara Kakiwari selalu bersaing di dasar. Suasananya juga berbeda.

Artinya banyak yankee. Makanya siswa Suzumei sering menghindari mereka.

"Reita dulu dekat dengan mereka?"

Sulit kubayangkan… tapi tetap kutanyakan pada Tatsuya.

"Dulu sempat cukup dekat. Tapi seharusnya dia sudah memutuskan hubungan."

…Seharusnya sudah memutuskan, ya. Tapi kenyataannya, Reita sekarang bersama mereka.

Sambil memikirkan berbagai hal, kereta tiba di Stasiun Takasaki.

Kami langsung menuju lokasi yang dibagikan Hikari menggunakan navigasi.

"Ah, Natsuki-kun. Ke sini!"

Di sebuah gang sepi, terdengar suara Hikari.

Begitu aku menoleh, Hikari melambai besar dan berlari kecil ke arah kami.

"Hikari!? Bukannya aku suruh pulang?"

"A-aku tahu… tapi aku juga khawatir sama Reita-kun."

Kalau diperhatikan, Hikari sedang gemetar karena takut.

Tapi dia tetap di sini karena khawatir pada Reita.

"…Maaf."

"Nggak apa-apa. Aku tahu Natsuki-kun khawatir sama aku."

Aku meminta maaf karena tanpa sadar bicara agak keras tadi. Hikari menggeleng.

"Sepertinya mereka menjadikan bawah jembatan rel sebagai tempat nongkrong."

Dia bahkan sudah menemukan lokasi persisnya. Membantu sekali, tapi dia benar-benar nekat.

Aku menatap ke arah yang ditunjuk Hikari, tapi semuanya gelap gulita dan tidak terlihat apa-apa.

"…Ada suara tawa. Ayo pergi."

"Ta-Tatsuya?"

"Kamu juga dengar kan? Mereka di sana."

Bukan, aku sama sekali tidak mendengar apa-apa… Pendengarannya benar-benar setara binatang buas.

Aku mengikuti Tatsuya, dan perlahan suara obrolan serta tawa para pria semakin jelas terdengar.

Jujur, aku tidak terlalu bersemangat. Bahkan, begitu sampai di depan, aku agak takut. Sepanjang hidupku, aku tidak pernah punya kontak dengan orang-orang yang disebut yankee.

Yah, sebenarnya dengan orang biasa pun aku juga hampir tidak punya kontak…

Hikari bersembunyi di belakangku sambil mencengkeram lengan bajuku.

"…Hikari."

"Aku juga ikut. Reita-kun itu temanku."

"…Baiklah."

Akhirnya kami tiba di sebuah lapangan terbuka di bawah jembatan yang diterangi lampu, di mana sekelompok orang sedang berkumpul.

Jumlah mereka sekitar sepuluh orang. Usia mereka kira-kira sama dengan kami.

"…Hah? Siapa kalian?"

Hanya dari penampilan saja, aku sudah ingin menjauh.

Ada yang rambutnya dicat pirang, ada yang memakai anting di telinga, ada yang berpakaian mencolok, ada yang memakai seragam secara asal-asalan, ada yang memakai kalung dan rantai berkelontangan… Meski masih di bawah umur, ada yang dengan santai merokok. Itu tidak baik untuk kesehatan, sebaiknya dihentikan.

Dan di tengah-tengah mereka…

"…Reita."

Reita sedang bersandar di tiang sambil memasukkan kedua tangan ke saku.

Begitu melihatku, dia sedikit menyipitkan mata.

"Hah? Teman Reita? Kalau diperhatikan, mereka pakai seragam Suzumei."

Pria berambut pirang yang pertama kali melotot itu melonggarkan sikapnya dan bertanya pada Reita.

"Kalian nggak berubah ya."

Tatsuya mengembuskan napas pelan dan berkata dengan nada bosan.

"Hah? Maksudnya apa… eh, kamu Nagiuura!?"

Pria berambut pirang itu melihat Tatsuya dan berteriak kaget.

Karena gelap, dia baru mengenali wajah setelah mendekat.

"Apa!?" "Beneran?" "Lama nggak ketemu," reaksi yang lain juga kaget. Tapi sebagian ada yang bertanya "Siapa tuh?" sambil memiringkan kepala. Mereka pasti berasal dari SMP lain.

"Baru sadar sekarang?"

Tatsuya berkata dengan nada muak.

Tapi suasana hati Tatsuya jelas sedang buruk. Memang dia orang yang moodnya naik turun, tapi sikapnya yang tajam seperti ini mungkin baru sejak keributan pas awal masuk SMA.

"Ge-gelap jadi nggak kelihatan…"

Pria berambut pirang itu berkata dengan nada gugup pada Tatsuya. Dia kelihatan agak takut. Apa dulu pernah ada apa-apa dengan Tatsuya? Bagaimanapun, aku lega Tatsuya ada di sini.

Aku sendiri belum mengucapkan sepatah kata pun. Bagi seorang introvert, yankee adalah musuh alami…

Tapi karena Hikari ada di belakangku, aku tidak boleh menunjukkan sikap takut. Aku setidaknya berdiri dengan punggung tegak. Kalau terjadi apa-apa, aku yang akan melindungi Hikari!

Secara serius, dengan latihan otot yang kulakukan setiap hari, aku seharusnya cukup kuat kalau terjadi perkelahian. Tubuhku juga lumayan besar. Yah, meski aku tidak punya bakat berkelahi…

"…Nagiuura. Lama nggak ketemu."

Pria bertubuh besar yang duduk di atas peti kayu paling belakang mengeluarkan suara berat.

Rambut pendek hitam dan wajah dengan tatapan tajam. Otot-ototnya yang seperti baja terlihat bahkan dari balik baju.

Aurasinya sangat seperti bos. Dan ototnya jelas lebih besar dari ototku saat ini.

"Hasegawa-senpai."

Tatsuya memanggil pria itu dengan sebutan senior.

"Kenapa sekarang kalian bersama Reita?"

"…Pertanyaan itu seharusnya ditujukan langsung pada Shirotori, bukan padaku."

Mendengar jawaban pria itu, tatapan Tatsuya bergeser ke arah Reita.

"Memang benar… Reita. Kamu sedang apa? Bersama orang-orang seperti ini."

Tatsuya melotot tajam ke arah Reita. "Orang-orang seperti ini…?" Pria berambut pirang menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum pahit. Entah kenapa, dia kelihatan agak kasihan. Sepertinya bukan orang jahat.

"Seperti yang kamu lihat, aku sedang bermain dengan teman-teman SMP. Ada masalah?"

Reita menjawab dengan wajah datar seperti topeng.

Suaranya jelas tidak seperti biasanya. Dia sedang menolak kami.

"…Yah, sudahlah. Kalau begitu, kenapa kamu tidak membalas chat kami? Telepon juga tidak diangkat."

"Ah, maaf. Aku tidak sadar."

Reita menjawab dengan nada ringan. Kalimat yang jelas-jelas bohong itu terdengar sangat dibuat-buat.

"Kamu…!"

Tatsuya hampir maju dengan emosi.

"…Oi, mau berantem?"

Salah satu yankee yang berdiri di depan Reita mengepalkan tangan hingga berbunyi.

Alur ini berbahaya. Aku langsung memegang bahu Tatsuya.

"Tenang. Kita bukan datang untuk berkelahi."

"Bagaimana aku bisa tenang…!? Kamu dengar apa yang dia katakan tadi!?"

"Sudah, tenang. Hikari juga ada di sini."

Tatsuya yang sempat marah itu akhirnya diam setelah mendengarnya.

…Mungkin seharusnya aku menyuruh Hikari pulang tadi. Aku menghormati keinginannya, tapi…

Suasananya memang tegang, meski belum sampai baku hantam. Sebaiknya aku yang bicara.

"Reita. Setelah berpisah denganku hari itu… apa yang sebenarnya terjadi?"

Suasana langsung membeku seperti es.

Entah berapa detik atau puluhan detik berlalu, akhirnya Reita membuka mulut.

"Maaf… Tidak ada yang perlu kuceritakan pada kalian."

Ternyata dia tetap tidak mau memberitahu apa pun.

"Apakah… kamu berniat tidak kembali ke sekolah meski skorsing sudah selesai?"

Reita tidak menjawab pertanyaanku. Diamnya itu sudah menjadi jawaban.

"Reita-kun… Apa tujuanmu menyebarkan video seperti itu?"

Hikari yang tadinya bersembunyi di belakangku bertanya dengan ekspresi tegas.

"…Maksudnya apa ya?"

"Tidak perlu berpura-pura. Kami semua tahu itu bukan kata-kata yang berasal dari hatimu."

Reita terdiam mendengar kata-kata Hikari yang penuh keyakinan.

"Apaan sih, sudah ketahuan."

Pria berambut pirang itu berkata dengan nada kecewa.

"Toshiya. Tolong diam."

Pria berambut pirang yang dipanggil Toshiya itu langsung ketakutan saat dilotot Reita. "Ma-maaf…"

Dari reaksinya, sudah pasti video itu adalah rekayasa Reita.

Kalau diperhatikan, pria berambut pirang ini yang ada di video bersama Reita.

"…Kamu mengorbankan dirimu sendiri untuk menyelamatkan Miori-chan?"

Ekspresi Hikari sangat serius saat bertanya. Dia jelas sedang marah pada Reita.

Tapi tangannya yang mencengkeram lengan bajuku masih gemetar. Dia sedang berusaha menyembunyikan ketakutannya.

"…Karena tindakanku yang semaunya itu melukai Miori. Ini setidaknya bentuk penebusan dosaku."

Reita memalingkan wajah dari Hikari.

"Kamu pikir dengan mengorbankan dirimu, Miori-chan akan senang?"

"Setidaknya ini lebih baik daripada reputasi buruknya terus melekat. Miori masih harus terus bersekolah. Meski reputasiku yang buruk menggantikannya, itu sudah tidak ada hubungannya denganku."

"Karena kamu memang tidak berniat kembali ke sekolah?"

"…Benar. Aku juga tidak akan bertemu kalian lagi."

Aku merasa tertekan oleh mata Reita yang gelap seolah telah menyerah pada segala sesuatu di dunia ini.

"…Ceritakanlah. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"

Tatsuya juga bertanya mengikuti pertanyaanku.

"Intinya, apa yang terjadi? Insiden kekerasan itu apa maksudnya?"

"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya berkelahi dan ditangkap polisi."

Reita tetap tanpa ekspresi. Senyum lembutnya yang biasa sama sekali tidak terlihat.

"Kami tanya alasan kenapa itu terjadi!"

"Seperti yang sudah kukatakan tadi, tidak ada yang perlu kuceritakan pada kalian."

"Dasar… Kalau terus begini, kami akan paksa bawa kamu pulang!"

Tatsuya mengabaikan tahananku dan melangkah maju.

Tapi pria bertubuh besar itu langsung menghalanginya.

"…Nagiuura. Kalau kamu berniat menyentuh temanku, aku yang akan melawanmu."

Tekanan dari pria yang tingginya lebih dari dua meter itu membuat bahkan Tatsuya mundur selangkah. Tadi dia duduk di atas peti kayu jadi tidak terlihat jelas, tapi sekarang dia terlihat jauh lebih besar.

"Teman, katamu? …Padahal dulu kamu sudah memutuskan hubungan."

"Menurutku, tidak ada yang namanya memutuskan hubungan. Apa pun jalan yang diambil, teman tetap teman."

Menghadapi Tatsuya yang memprovokasi, Hasegawa-senpai tetap tenang.

Dia menatap Tatsuya dari atas dengan penuh percaya diri.

"Maaf, tapi tolong pulang."

Di tengah suasana yang siap meledak, Reita berbicara dengan suara dingin seperti es.

"…Aku sudah tidak bisa kembali ke tempat kalian. Aku tidak punya hak untuk itu."

Ini benar-benar penolakan total.

Begitu ditolak sepenuhnya seperti ini, aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Kalau begitu——selamat tinggal."

Reita dan yang lain meninggalkan kami yang hanya bisa berdiri diam, lalu berjalan pergi ke tempat lain.

Kata perpisahan itu pasti berarti dia tidak ingin bertemu kami lagi.

"Brengsek…"

Tatsuya mengepalkan tangan sambil menahan amarah.

Secara hasil, untung Hikari ikut.

Kalau Hikari tidak ada, Tatsuya mungkin tidak bisa menahan diri dan bakal berkelahi.

Aku tidak mau kami semua ikut kena skorsing.

"Dari sikapnya, sepertinya dia tidak berniat kembali."

Hikari menatap ke arah Reita pergi dengan ekspresi rumit.

"Ada apa sih sama dia. Tiba-tiba banget, aku nggak ngerti apa-apa…"

"…Seharusnya kita bagaimana ya…"

Jujur, aku benar-benar bingung.

Kita harus menyusun rencana.

Hari itu, setelah menenangkan Tatsuya yang sedang marah, kami memutuskan pulang dengan tenang.

Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Libur.

Hari ini tidak ada kerja paruh waktu maupun latihan band. Libur total.

Begitu bangun, udara di kamar sudah sangat dingin. Sulit sekali keluar dari selimut. Di saat seperti ini, aku harus menyalakan pemanas ruangan dulu sebelum keluar dari selimut.

Untung hari ini libur, jadi aku punya waktu untuk melakukannya.

Biasanya di hari biasa, aku keluar sambil menggigil kedinginan. Soalnya takut terlambat.

Minggu depan katanya suhu akan turun lagi. Sudah mengerikan dari sekarang…

Aku memang tidak suka dingin. Panas sih lumayan tahan. Aku lebih suka musim panas daripada musim dingin. Kalau Ibu mendengar ini, dia pasti bilang dengan bangga, "Pasti karena Ibu memberimu nama Natsuki."

Aku hampir tergoda untuk tetap meringkuk di selimut, tapi ruangan sudah mulai hangat. Aku memberanikan diri dan keluar dari selimut. Aku tidak boleh malas latihan harian. Kalau bolos satu hari saja, impian tubuh ideal akan semakin jauh. Otot harus dibangun setiap hari dengan tekun.

Setelah push-up, sit-up, dan squat, aku lari keliling rumah. Setelah berkeringat cukup, aku mandi dan beristirahat. Aku menyeduh kopi lalu kembali ke kamar. Ponsel yang kulempar di atas tempat tidur sedang menyala. Ada notifikasi LINE dari Miori.

Miori: Kemarin gimana?

Aku bingung harus membalas apa.

Bagaimana cara menjelaskannya? Jawaban yang salah bisa melukai Miori. Susah sekali.

Aku sempat melarikan diri dari realita dengan menyelesaikan rutinitas harian, tapi sekarang langsung ditarik kembali.

Saat aku sedang murung, Miori menelepon.

"…Halo."

Pagi. …Kalau sudah dibaca, balas dong.

"Aku sedang mikir mau balas apa. Susah jelasinnya."

Makanya aku telepon. Kamu lagi luang kan?

"Siapa yang luang. Aku ada latihan otot. Kamu sendiri nggak ada klub?"

Siang nanti. Pagi ini lapangan dipakai klub basket cowok dan badminton.

Miori berhenti bicara, lalu menghela napas.

Reita-kun sedang dalam situasi seperti ini, tapi aku sebagai pihak yang terlibat malah santai latihan klub. Tapi… aku sudah merepotkan semua orang, jadi aku nggak bisa libur lagi.

Memang benar, Miori seharusnya sudah libur klub hampir satu minggu. Bahkan salah satunya adalah tanpa izin dan sempat hilang. Pasti anggota klub sangat khawatir.

"…Kamu baik-baik saja?"

Baru saja kupikir dia sudah pulih, tapi sekarang ini terjadi berturut-turut. Pasti Miori merasa ini semua salahnya. Beban pikirannya pasti sangat berat.

Aku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir.

Nada suaranya terdengar seperti sedang berusaha agar aku tidak khawatir.

Aku selalu bisa melihat melalui sikap kuat Miori. Tapi aku pura-pura tidak tahu.

Jadi, kemarin gimana?

Miori bertanya dengan nada mendesak.

Miori yang tidak tenang seperti ini jarang sekali terjadi.

"…Ngomong-ngomong, kamu sudah coba hubungi Reita?"

Sudah berkali-kali chat dan telepon, tapi tidak diangkat.

Kalau dia bahkan tidak merespons Miori, berarti tekadnya sudah bulat.

Kata 'selamat tinggal' itu ditujukan untuk kami semua.

"Intinya, kami menemukan Reita. Dia bersama kelompok yankee dari Kakiwari High."

Aku menjelaskan apa yang terjadi kemarin.

Setelah penjelasanku selesai, Miori diam cukup lama.

Memang ini salahku…

Akhirnya Miori bergumam dengan suara tertahan.

…Karena aku yang membuat Reita-kun kacau, lalu menolaknya. Dia pasti terluka, tapi aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri hingga tidak sempat memikirkannya…

Kepada Miori yang sedang disiksa rasa bersalah, aku berkata.

"…Ini salahku. Aku yang bertengkar dengan dia yang sedang dalam keadaan itu dan membuatnya semakin terpojok."

Saat itu aku hanya memikirkan Miori hingga tidak bisa berpikir jernih. Pada akhirnya, aku memang tidak berubah dari dulu. Karena tidak melihat sekitar, aku malah melukai teman.

Penyebab pertengkaran itu adalah aku.

Tapi Miori menyangkal. Dia bersikeras ini semua salahnya.

"…Setidaknya, Reita pasti tidak berpikir begitu."

Justru sebaliknya. Reita juga merasa bersalah pada Miori. Dia menganggap dirinya adalah akar penyebab reputasi buruk Miori.

"Dia bilang ini penebusan dosa. Makanya dia melakukan hal seperti ini."

Penebusan dosa…

Masih ada beberapa hal yang belum kami mengerti.

Aku ingin bicara langsung dengan Reita-kun. Aku ingin meminta maaf dengan benar.

Miori bilang dia tidak mau berpisah seperti ini. Suaranya sudah mulai terisak.

…Meski mungkin Reita-kun sudah tidak menginginkannya lagi.

Entah kenapa, aku merasa ada lubang besar di dada.

Dulu pun pernah ada saat hubungan di sekitar kami hampir hancur.

Tapi dulu aku tidak merasakan seperti ini pasti karena Reita selalu ada di samping.

Karena Reita mendukung dari bawah, tindakanku bisa berujung pada penyelesaian.

Reita yang selalu mengawasi kami yang sedang bertingkah bodoh dari posisi selangkah di belakang, Reita yang terlihat paling dewasa secara mental… Aku tidak pernah membayangkan dia akan menjauh dari kami. ——Bagi Haibara Natsuki, Shirotori Reita adalah 'ideal'.

Tapi itu hanya citra yang aku paksa-padukan padanya.

Aku tidak benar-benar mengenal Shirotori Reita. Aku baru menyadarinya beberapa hari ini.

……

"……"

Keheningan berlanjut.

Kami sudah membagikan semua informasi yang ada. Karena tidak ada strategi yang bisa memecahkan situasi ini, tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Tentu saja suasananya juga tidak pas untuk obrolan ringan yang tidak ada hubungannya.

…Terima kasih. Aku mau siap-siap klub dulu.

Setelah keheningan lebih dari sepuluh menit, Miori mengatakan itu lalu menutup telepon.

Tanpa sadar, kopi yang baru kuseduh sudah benar-benar dingin. Tidak apa-apa, aku minum kopi hangat sambil menata pikiran yang berantakan.

Tujuanku saat ini adalah membawa Reita kembali ke tengah kami.

Untuk itu, aku harus tahu alasan dia menjauh dari kami dan menyelesaikannya.

Putus dengan orang yang benar-benar disukai, bertengkar dengan teman, dan tidak punya tempat di rumah — situasi seperti itu pasti sangat berat secara mental. Belum lagi insiden kekerasan yang detailnya belum kami tahu… Dari kepribadian Reita, aku bisa membayangkan dia sedang menyalahkan dirinya sendiri.

"Tapi tetap saja…"

Apakah Reita berniat tidak kembali ke sekolah dan hidup bersama yankee-yankee itu?

…Kalau benar, itu terlalu menyia-nyiakan diri.

Apakah dia rela meninggalkan teman sekolah, teman klub sepak bola, masa depan, semuanya?

Apakah dia sudah terpojok hingga tidak bisa berpikir secara logis lagi?

"…Kenapa, Reita? Kalau kamu tidak cerita, kalau kamu tidak minta tolong, aku nggak akan tahu."

Gumamanku pelan menghilang ke udara.

Pikiran yang berputar-putar tanpa arah.

Dari suasana kemarin, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan waktu.

Saat aku sedang merapikan pikiran sambil menatap langit-langit, notifikasi ponsel berbunyi.

Dari Tatsuya.

Tatsuya: Malam ini luang? Mau ngobrol soal Reita. Natsuki: Luang. Oke.

Hari ini memang tidak ada janji dengan Hikari.

Suasananya juga tidak pas untuk mengajak bermain.

Tatsuya: Waktu dan tempat pasti nanti aku kirim. Uta ikut.

Mungkin sedang istirahat klub. Aku membalas stiker 'OK' pada chat Tatsuya yang singkat itu, tapi setelahnya tidak ada tanda dibaca.

Tidak ada yang harus dilakukan, tapi aku gelisah. Tanpa sadar aku membuka chat dengan Reita. Chat yang kukirim setelah tahu dia diskors masih belum dibaca sampai sekarang.

Untuk mengalihkan perasaan, aku latihan gitar, dan hari pun beranjak malam.

Karena kurang konsentrasi, permainanku tidak terlalu bagus, tapi tidak apa.

Aku melihat jam. Masih satu jam sebelum janji. Sebaiknya aku berangkat sekarang.

Begitu membuka pintu depan, langit sudah gelap gulita. Angin dingin menyapu kulit. Hari ini juga sangat dingin, tapi aku sudah memakai mantel dan syal lengkap. Bahkan aku memakai Heat Tech di dalam, jadi agak kepanasan. Mungkin aku berlebihan…

Sambil berkeringat sia-sia, aku naik kereta dan tiba di Stasiun Maebashi.

Begitu masuk ke restoran keluarga yang ditentukan, Tatsuya dan Uta sudah menunggu.

"Natsuki, ke sini!"

Uta dan Tatsuya duduk berhadapan di meja.

Aku berpikir sebentar lalu duduk di sisi Tatsuya.

Yah, secara ukuran tubuh sebenarnya lebih lega di sisi Uta, tapi sepertinya lebih aman duduk di sisi Tatsuya… Akhir-akhir ini aku sering memikirkan hal-hal kecil seperti ini.

Tatsuya memberikan tablet pesan ke aku.

"Makan dulu sambil ngobrol. Kami sudah pesan."

Aku memilih set rice cheese hamburger dan memesannya. Aku bukan tipe yang suka minum jus, tapi aku pesan drink bar juga. Semacam jaminan kalau lama di restoran keluarga. Yah, memang kami belum tentu lama, tapi tetap saja.

"Jadi, mau ngomong apa?"

"Kupikir kalian pasti banyak yang ingin ditanyakan."

"…Benar. Ternyata aku tidak mengenal Reita sebaik yang kukira."

Dalam perjalanan ke sini, aku sudah merapikan pikiran.

Yang kusadari adalah bahwa aku tidak benar-benar mengenal manusia bernama Shirotori Reita.

Karena hanya Tatsuya dan Uta yang satu SMP dengannya, aku ingin mendengar hal-hal yang mungkin hanya mereka berdua yang tahu.

Setelah Reita pergi kemarin, sudah malam jadi kami tidak sempat mendengar detailnya.

Tatsuya pasti mengerti itu, makanya dia mengatur pertemuan hari ini.

"…Kami belum pernah cerita ke yang lain, tapi dulu Reita sempat liar."

Uta mulai bicara sambil mengaduk-aduk melon soda dengan sedotan.

"Mungkin kelas dua sampai kelas tiga SMP. Tiba-tiba sering bolos, bergaul dengan grup yankee terkenal di sekolah, semua orang takut dan menjauh."

"…Yang kemarin itu kelompoknya?"

Aku memastikan pada Tatsuya.

"Ya. Ada beberapa yang nggak aku kenal, tapi sebagian besar dari grup yankee Mizumi dulu."

Aku mengingat kembali orang-orang kemarin.

Di Suzumei juga ada yang sok yankee, tapi mereka hanya pecundang di sekolah unggulan. Berbeda sekali dengan yankee dari Kakiwari yang terkenal buruk.

Jujur, aku benar-benar takut. Kalau Tatsuya tidak ada, aku mungkin sudah kabur.

Sulit dipercaya Reita sekarang bersama orang-orang seperti itu.

Karena itu sangat bertolak belakang dengan citra Reita yang kumiliki.

"Dia kan tipe yang bisa dekat dengan siapa saja. Dia juga jadi penghubung antara grup yankee dan siswa biasa yang takut pada mereka. Tapi dia tetap menjaga jarak. Saat itu tidak ada yang menyangka Reita akan bergaul dengan yankee… termasuk aku."

Tatsuya seolah membaca pikiranku yang sulit percaya.

"Saat itu, apa yang terjadi?"

"Aku dengar ada masalah keluarga. Ibunya kabur, ayahnya liar, sulit melanjutkan sepak bola karena uang… situasi seperti itu membuatnya tertekan mental."

Nanti aku ceritain, tambah Tatsuya.

…Cerita yang berat. Aku bahkan ragu untuk menyela.

Aku bisa membayangkan. Betapa mengerikannya situasi itu. Tapi sebagai orang yang meski menjalani masa muda abu-abu tapi keluarganya cukup baik, aku rasa tidak bisa benar-benar memahami perasaan Reita.

"Saat itu Reita berubah banget. Dia jarang tersenyum."

Uta menatap jauh seolah mengingat masa lalu.

"…Reita kemarin juga seperti itu. Wajah dingin, hanya menolak kami."

"Kalau begitu… apa yang membuat Reita kembali seperti dulu?"

Aku bertanya. Kalau tahu itu, mungkin ada petunjuk.

"…Aku nggak tahu. Tiba-tiba dia seperti melepaskan beban dan kembali normal. Dia juga memutus hubungan dengan grup yankee. Pasti ada masalah keluarga, dan kami juga tidak terlalu mendalami."

Tatsuya menghela napas.

"Hanya itu yang Reita ceritakan saat itu."

"…Pantas saja."

Meski dekat, tetap ada batas. Sulit sekali membahas masalah keluarga.

Ternyata Tatsuya juga punya kepekaan.

"…Kamu sedang mikir hal yang nggak sopan kan?"

Tatsuya melirikku tajam. Ka-kenapa tahu…!?

Aku bersiul pura-pura sambil mengalihkan pembicaraan, tapi Uta bergumam tanpa peduli.

"Dulu kami senang kalau Reita bisa kembali seperti semula."

Setelah itu, masa ketika Reita liar sepertinya dianggap black history dan tidak ada yang membahasnya lagi.

Yah, kalau tahu sedikit saja masalah keluarganya, memang sulit dibahas.

"Lagipula," Tatsuya melanjutkan.

"Dia memang dari dulu tipe yang suka menyimpan rahasia. Dia pandai mendengarkan orang lain, tapi jarang sekali bicara tentang dirinya sendiri."

"Ah, memang Reita seperti itu ya…"

Uta mengangguk berkali-kali dengan wajah setuju.

"Sekarang pun sama. Karena dia tidak mau cerita, kami jadi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu buat apa kami disebut teman? Atau bagi dia, kami ini tidak penting?"

Aku setuju dengan apa yang Tatsuya katakan sambil marah.

Hubungan di mana seseorang tidak mau meminta bantuan saat sedang kesulitan, sulit disebut sebagai pertemanan yang sebenarnya.

Mungkin bagi Reita, orang-orang yang sekarang bersamanya itulah teman sejatinya.

Mungkin dia dulu bersama kami hanya karena kebetulan satu kelas.

"…Kalau memang begitu, itu sedih sekali."

Uta bergumam pelan.

Aku menyukai Reita.

Aku senang bermain bersama Reita.

Hanya dengan berada di dekatnya, aku merasa nyaman.

Meski hanya obrolan sehari-hari yang tidak penting, dunia terasa berwarna pelangi.

Bagi aku, Reita adalah teman yang berharga. Perasaan itu tidak berubah, meski dia sudah menolak kami.

"…Tapi Tatsuya juga tipe yang jarang cerita ke orang lain, lho."

"Ugh…"

Tatsuya memegang dada seolah terkena serangan mendengar tatapan Uta.

Memang ada beberapa hal yang bisa kuingat. Dia juga tipe yang suka memikirkan segala sesuatu sendirian.

Makanan malam tiba, jadi kami istirahat sejenak untuk makan.

Setelah selesai makan dan beristirahat, aku bertanya tentang hal yang mengganggu pikiranku sejak kemarin.

"Tatsuya. Kemarin kamu memanggilnya Hasegawa-senpai, kan?"

"Hm? Senior satu tingkat di atas. Sejak SMP Mizumi, Hasegawa-senpai sudah jadi pemimpin kelompok mereka."

"…Apakah dia ada hubungan dengan Hasegawa di kelas sebelah?"

Tatsuya dan Uta saling pandang sebelum menjawab bersamaan, "Kakaknya" dan "Kakak cowoknya".

…Karena nama keluarganya sama, aku memang sempat menduga. Begitu rupanya.

Tatsuya memiringkan kepala, seolah tidak mengerti maksud pertanyaanku.

"Ada apa dengan itu?"

"Bukan, soalnya Hasegawa terlibat dalam rumor tentang Miori. Kupikir mungkin ada hubungannya."

"…Memang benar juga."

Tatsuya menyesap cola lalu berkata dengan nada mengerti.

"Anak itu juga sedang libur karena alasan kesehatan. Setelah ketahuan dia yang memperbesar rumor Miori, reputasinya jelek banget. Mungkin dia sedang tertekan mental…"

Uta berkata dengan wajah khawatir.

Begitu ya. Aku memang kurang tahu situasi kelas lain.

Hasegawa memang orang yang menyebarkan rumor buruk tentang Miori, tapi ada bagian yang bisa dimaklumi.

Karena inti dari rumor itu memang benar adanya.

"Aku punya kontaknya, nanti aku coba tanya."

Uta mengeluarkan ponsel dari tas dan berkata sambil mengoperasikan layar.

"Kamu dekat sama Hasegawa?"

Menghadapi pertanyaan Tatsuya, Uta tersenyum pahit.

"Nggak terlalu… Apalagi dia nggak dekat sama Miori."

Meski begitu, dia tetap mau menghubungi karena ingin Reita kembali, bukan?

"Caranya nanya susah… Kalau terlalu mendesak juga nggak enak…"

Uta bergumam sambil mengerutkan wajah dan terus mengoperasikan ponsel.

"Yah, kakaknya pasti tahu Reita sedang bersama mereka."

"Kalau begitu, mungkin kita bisa tahu keberadaan Reita."

Saat aku dan Tatsuya sedang membahas itu, "Eh!?" terdengar suara kaget dari Uta.

Uta menatap layar ponselnya dengan mata terbelalak.

"Chatnya sudah dibalas… Katanya 'Ada yang ingin kubicarakan'."

Kami hanya berharap sedikit, tapi ini di luar dugaan.

"Dari caranya bicara, sepertinya mau ketemu langsung, bukan lewat LINE?"

"Sepertinya begitu…" Uta mengangguk dengan wajah bingung.

"Apa yang ingin Hasegawa bicarakan dengan kita?"

Tatsuya menyilangkan tangan sambil bergumam, tapi tidak peduli berapa lama dipikir, jawabannya tidak akan keluar.

Bagaimanapun, kami sedang butuh informasi. Tidak ada alasan untuk menolak.

Kami memutuskan bertemu Hasegawa besok dan menentukan waktu serta tempatnya.

"Maaf, besok aku ada pertandingan latihan jadi nggak bisa ikut. Kalian saja. Lagipula dia pasti nggak mau bicara dengan terlalu banyak orang. Aku yang nggak dekat dengannya sebaiknya tidak ikut."

"Aku juga sebenarnya nggak terlalu dekat…"

"Kalau pakai alasan itu, aku bahkan belum pernah bicara dengannya…"

Kami bertukar pandang dengan ekspresi canggung.

Kami memang ingin informasi, tapi suasananya pasti akan awkward…

"Sebenarnya, lebih baik aku tidak ikut. 'Ada yang ingin kubicarakan' itu ditujukan untuk Uta. Tatsuya yang satu SMP mungkin masih oke, tapi kalau aku yang belum pernah bicara ikut, Hasegawa pasti tidak nyaman."

"Aku sudah bilang Natsuki ikut."

"Kenapa!?"

"'Baiklah' katanya."

"Hasegawa juga setuju gitu?!"

"Yah, kan tiga orang lebih tidak canggung…"

Uta tertawa sambil mengalihkan pembicaraan.

Kalau Uta sampai segini tidak bersemangat, berarti hubungan mereka memang sangat canggung…

Akhirnya, hanya aku dan Uta yang akan bertemu Hasegawa.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close