Interlude 1
Dulu,
masa kecilku cukup beruntung.
Ayahku
seorang pengusaha. Perusahaan yang didirikannya berkembang lancar dan cukup
sukses.
Keluarga
kami memiliki tabungan yang cukup. Aku dibesarkan di keluarga yang berada oleh
ibuku yang seorang ibu rumah tangga.
Ayah yang
punya kelebihan uang secara finansial juga stabil secara mental, dan
hubungannya dengan ibu cukup baik.
Meski
sibuk hingga sering pulang larut malam di hari biasa, di akhir pekan dia selalu
mengajakku ke berbagai tempat.
Ayah adalah orang yang lembut. Dia selalu tersenyum ramah,
tapi sikapnya yang tegas penuh percaya diri membuat banyak orang menyukainya. Saat itu, matanya penuh semangat.
Aku sangat
menghormati ayah seperti itu.
Titik balik
terjadi saat aku naik ke kelas dua SMP.
Saat itu aku baru
saja menjadi starter di klub sepak bola, dan sedang menikmati masa-masa
menyenangkan di klub.
Aku tidak tahu
detailnya. Tapi faktanya, perusahaan ayah bangkrut.
Saat mendengar
berita itu, aku belum benar-benar memahami betapa seriusnya situasi ini.
Aku hanya
berpikir, “Berarti mulai sekarang uang akan lebih ketat ya.” Tapi seiring
berjalannya waktu, aku dipaksa memahami.
Kebangkrutan
perusahaan ayah membawa kehancuran fatal bagi keluarga ini.
Tabungan
habis. Ayah yang terlilit utang kehilangan keseimbangan mental.
Mata yang dulu
penuh semangat itu kini keruh. Dia melarikan diri dari realita dengan minum-minum setiap hari.
Ibu marah
besar pada ayah. Sejak dulu ibu memang mudah marah. Tapi dulu ayah punya cukup
kestabilan mental untuk menghadapinya dengan baik.
Sekarang
berbeda. Setiap kali aku pulang, ayah dan ibu selalu bertengkar.
Seringkali
bukan sekadar pertengkaran biasa. Piring yang pecah bukan hanya satu atau dua.
Rumah menjadi berantakan. Lama-kelamaan, aku jadi enggan pulang ke rumah.
Setelah
sekolah dan latihan klub selesai, aku lebih sering menendang bola di taman.
Aku ingin
mengurangi waktu di rumah sebanyak mungkin.
Hanya
tidur yang harus dilakukan di rumah. Sisanya, aku habiskan di luar menendang
bola.
Kedua
orang tua yang sedang kehilangan keseimbangan mental itu sama sekali tidak
peduli keberadaanku.
“Eh?
Bukankah ini Shirotori?”
Di
hari-hari ketika aku menendang bola sendirian di taman malam hari, aku secara
kebetulan bertemu dengan kelompok yankee yang dipimpin Hasegawa Kouya.
Mereka
terkenal buruk di sekolah, dan sebenarnya aku ingin sebisa mungkin tidak
berhubungan.
Tapi
karena aku sering menjadi penghubung antara siswa biasa dan mereka.
Di
lingkungan sekolah, kadang memang diperlukan komunikasi.
Siswa
biasa yang ketakutan sering memintaku tolong, dan aku sulit menolak.
Akhirnya
aku terpaksa menjadi penghubung, dan lama-kelamaan mereka juga mulai sering
menyapaku. Hasilnya, kesan pertamaku terhadap mereka sedikit berubah. Memang
mereka sering membuat masalah, tapi saat diajak bicara biasa, mereka bukan
orang jahat.
“…Masih latihan
sepak bola sampai malam segini. Kamu rajin ya.”
“Ajari kami juga
dong. Kami lagi bosan.”
“…Ya sudah.”
Aku mengiyakan
permintaan mereka. Lagipula aku tidak ada kegiatan lain, dan melawan orang
lebih baik untuk latihan.
Sejak itu, Kouya
dan yang lain sering datang ke taman malam hari.
Sementara itu,
keadaan rumah semakin memburuk. Waktu di luar menjadi pelarianku. Aku selalu
berdoa agar semuanya cepat berakhir. Dan doaku terkabul.
Pagi saat bangun,
ibu sudah tidak ada.
Kamar ibu kosong.
Semua barangnya lenyap entah sejak kapan. Mustahil membawa semua barang
dalam satu malam.
Pasti sudah dipersiapkan sebelumnya. Begitulah, ibu
menghilang dan tidak bisa dihubungi lagi. Ayah hanya terus minum tanpa
mengatakan apa-apa.
Pertengkaran dan teriakan yang dulu begitu kubenci, lenyap
dalam semalam.
Ayah seolah menyerah pada segalanya dan menjual rumah yang
kami tempati.
Tempat
tinggal baru adalah apartemen tua di dekat situ. Karena rumah lama terlalu
besar untuk dua orang, aku tidak terlalu keberatan.
Dengan
hati-hati aku bertanya, “Mulai sekarang kita bagaimana?” Ayah menjawab, “Harus
cari kerja lagi.” Ironisnya, setelah ibu menghilang barulah ayah sadar akan
krisis ini.
Masalah utama
saat itu adalah kekurangan uang.
Sebagian besar
uang dari penjualan rumah habis untuk melunasi utang.
Biaya klub tidak
bisa dibayar, dan aku dipaksa keluar dari klub sepak bola.
Sejak beberapa
waktu lalu aku memang sudah merasakan ini akan terjadi. Seragam latihan dan sepatu sudah
usang. Tapi tidak ada yang dibelikan. Tidak ada uang untuk itu.
Meski
sudah tahu, tetap saja berat.
Aku
menyukai sepak bola. Aku sudah menjadi starter dan disebut sebagai ace tim.
Saat itu adalah masa paling menyenangkan, tapi jalur untuk melanjutkannya
dirampas begitu saja.
Banyak
yang ingin kukatakan.
Tapi
melihat ayah yang mulai bekerja sebagai buruh rendahan di perusahaan konstruksi
lokal, aku tidak bisa mengeluh.
Menendang bola
bersama Kouya di taman malam hari menjadi satu-satunya pelipur lara.
Setelah
keluar dari klub sepak bola, aku berhenti bergaul dengan teman-teman dekatku.
Saat itu, aku
merasa segalanya tidak penting.
Aku menyerah pada
segala sesuatu di dunia ini. Aku melarikan diri dari realita.
Aku
terbawa arus dan mulai bergaul dengan Kouya dan yang lain.
Rasanya
nyaman. Setidaknya lebih baik daripada menghabiskan malam di rumah.
Karena
sudah keluar dari klub sepak bola, aku tidak punya alasan lagi untuk
menghindari perkelahian. Saat ada konflik antar kelompok yankee, aku diajak
Kouya dan ikut serta begitu saja.
Apa pun
yang kulakukan, aku selalu menganggap diriku berbakat. Hanya dengan diajari
trik berkelahi oleh Kouya, aku langsung menjadi kuat.
Aku bisa
merasakan penilaian orang terhadapku di sekolah berubah.
Jelas sekali
mereka menjauhiku, tapi itu pun sudah tidak penting lagi. Aku tidak punya lagi
hal yang ingin dilakukan.
Di tengah
hari-hari seperti itu, selalu ada diriku yang objektif di sudut hati.
Meski melakukan
hal bodoh seperti ini, tidak apa-apa. Ini adalah realita, aku harus
menerimanya. Aku harus mulai lagi dari nol. Meski aku tahu itu, aku tetap
bergantung pada kenyamanan saat ini.
“Aku sudah
mengumpulkan sedikit uang. Kamu boleh kembali ke klub sepak bola.”
Suatu hari. Ayah
yang pulang larut malam tiba-tiba mengatakan itu.
Ayah yang
berhenti minum akhirnya benar-benar melihatku.
“Maaf sudah
membuatmu susah.”
Meski dikatakan
sekarang, aku malah bingung.
Sudah tidak ada
tempat untukku di klub sepak bola. Penilaian sekolah juga tidak bisa dibalik.
Aku sudah menjadi
bagian dari kelompok yankee, dan sepertinya aku hanya bisa menyerah dan
menjalani hari-hari seperti ini.
Kepada aku yang
tidak tahu harus bagaimana, Hasegawa Kouya berkata,
“――Ayo tanding. Kalau kamu kalah dariku, kembali ke klub sepak bola.”



Post a Comment